Anda di halaman 1dari 45

ASKEP AMPUTASI A. Pengertian Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh. B.

Etiologi Indikasi utama bedah amputasi adalah karena : 1. Iskemia karena penyakit reskularisasi perifer, biasanya pada orang tua, seperti klien dengan artherosklerosis, Diabetes Mellitus. 2. Trauma amputasi, bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, thermal injury seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets disease dan kelainan kongenital. C. Patofisiologi Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh, dengan dua metode : 1. Metode terbuka (guillotine amputasi). Metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang. Bentuknya benarbenar terbuka dan dipasang drainage agar luka bersih, dan luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi. 2. Metode tertutup (flap amputasi) Pada metode ini, kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada daerah yang diamputasi. 3. Tidak semua amputasi dioperasi dengan terencana, klasifikasi yang lain adalah karena trauma amputasi. D. Tingkatan Amputasi 1. Ekstremitas atas Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. 3. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu : a. Amputasi dibawah lutut (below knee amputation). Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb. b. Amputasi diatas lutut Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer. 3. Nekrosis. Pada keadaan nekrosis biasanya dilakukan dulu terapi konservatif, bila tidak berhasil dilakukan reamputasi dengan level yang lebih tinggi. 4. Kontraktur. Kontraktur sendi dapat dicegah dengan mengatur letak stump amputasi serta melakukan latihan sedini mungkin. Terjadinya kontraktur sendi karena sendi terlalu lama diistirahatkan atau tidak di gerakkan. 5. Neuroma. Terjadi pada ujung-ujung saraf yang dipotong terlalu rendah sehingga melengket dengan kulit ujung stump. Hal ini dapat dicegah dengan memotong saraf lebih proximal dari stump sehingga tertanam di dalam otot.

6. Phantom sensation. Hampir selalu terjadi dimana penderita merasakan masih utuhnya ekstremitas tersebut disertai rasa nyeri. Hal ini dapat diatasi dengan obat-obatan, stimulasi terhadap saraf dan juga dengan cara kombinasi. E. Penatalaksanaan Amputasi Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi. Ada 2 cara perawatan post amputasi yaitu : 1. Rigid dressing Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempattempat tulang yang menonjol. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah 7 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 3 minggu, setelah stump sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawat yang terampil, therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik. 2. Soft dressing Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur. F. Dampak Masalah Terhadap Sistem Tubuh. Adapun pengaruhnya meliputi : 1. Kecepatan metabolism Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. 2. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan

rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan diuresis. 3. Sistem respirasi a. Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. b. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. c. Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. 4. Sistem Kardiovaskuler a. Peningkatan denyut nadi Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. b. Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. c. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. 5. Sistem Muskuloskeletal a. Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. b. Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. c. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. d. Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. 6. Sistem Pencernaan a. Anoreksia

Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. b. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. 7. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan : - Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. - Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. 8. Sistem integument Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini dibiarkan akan terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. G. Diagnosa Keperawatan Untuk klien dengan amputasi diagnosa keperawatan yang lazim terjadi adalah : 1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh. 2. Gangguan konsep diri ; body image berhubungan dengan perubahan fisik. 3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot. 4. Gangguan pemenuhan ADL; personal hygiene kurang berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri. 5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama. 6. Potensial kontraktur berhubungan dengan immobilisasi. 7. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka. H. Perencanaan 1. Gangguan mobilisasi fisik berhubungan dengan kehilangan anggota tubuh. a. Tujuan : Jangka Panjang : Mobilisasi fisik terpenuhi. Jangka Pendek : - Klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lainnya yang masih ada. - Klien dapat merubah posisi dari posisi tidur ke posisi duduk. - ROM, tonus dan kekuatan otot terpelihara. - Klien dapat melakukan ambulasi. b. Intervensi : 1.) Kaji ketidakmampuan bergerak klien yang diakibatkan oleh prosedur pengobatan dan catat persepsi klien terhadap immobilisasi. Rasional : Dengan mengetahui derajat ketidakmampuan bergerak klien dan persepsi klien terhadap immobilisasi akan dapat menemukan aktivitas mana saja yang perlu dilakukan. 2.) Latih klien untuk menggerakkan anggota badan yang masih ada.

Rasional : Pergerakan dapat meningkatkan aliran darah ke otot, memelihara pergerakan sendi dan mencegah kontraktur, atropi. 3.) Tingkatkan ambulasi klien seperti mengajarkan menggunakan tongkat dan kursi roda. Rasional : Dengan ambulasi demikian klien dapat mengenal dan menggunakan alat-alat yang perlu digunakan oleh klien dan juga untuk memenuhi aktivitas klien. 4.) Ganti posisi klien setiap 3 4 jam secara periodik Rasional : Pergantian posisi setiap 3 4 jam dapat mencegah terjadinya kontraktur. 5.) Bantu klien mengganti posisi dari tidur ke duduk dan turun dari tempat tidur. Rasional : Membantu klien untuk meningkatkan kemampuan dalam duduk dan turun dari tempat tidur. 2. Gangguan konsep diri ; body image berhubungan dengan perubahan fisik. a. Tujuan : Jangka Panjang : Klien dapat menerima keadaan fisiknya. Jangka Pendek : - Klien dapat meningkatkan body image dan harga dirinya. - Klien dapat berperan serta aktif selama rehabilitasi dan self care. 3. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan otot. a. Tujuan : Jangka Panjang : Nyeri berkurang atau hilang Jangka Pendek : - Ekspresi wajah klien tidak meringis kesakitan - Klien menyatakan nyerinya berkurang - Klien mampu beraktivitas tanpa mengeluh nyeri. b. Intervensi : 1.) Tinggikan posisi stump Rasional : Posisi stump lebih tinggi akan meningkatkan aliran balik vena, mengurangi edema dan nyeri. 2.) Evaluasi derajat nyeri, catat lokasi, karakteristik dan intensitasnya, catat perubahan tanda-tanda vital dan emosi. Rasional : Merupakan intervensi monitoring yang efektif. Tingkat kegelisahan mempengaruhi persepsi reaksi nyeri. 3.) Berikan teknik penanganan stress seperti relaksasi, latihan nafas dalam atau massase dan distraksi. Rasional : Distraksi untuk mengalihkan perhatian klien terhadap nyeri karena perhatian klien dialihkan pada hal-hal lain, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan pada otot yang menurunkan rangsang nyeri pada saraf-saraf nyeri. 4.) Kolaborasi pemberian analgetik Rasional : Analgetik dapat meningkatkan ambang nyeri pada pusat nyeri di otak atau dapat membloking rangsang nyeri sehingga tidak sampai ke susunan saraf pusat.

4. Gangguan pemenuhan ADL; personal hygiene kurang berhubungan dengan kurangnya kemampuan dalam merawat diri. a. Tujuan : Jangka Panjang : Klien dapat melakukan perawatan diri secara mandiri. Jangka Pendek : - Tubuh, mulut dan gigi bersih serta tidak berbau. - Kuku pendek dan bersih. - Rambut bersih dan rapih - Pakaian, tempat tidur dan meja klien bersih dan rapih. - Klien mengatakan merasa nyaman. b. Intervensi : 1.) Bantu klien dalam hal mandi dan gosok gigi dengan cara mendekatkan alat-alat mandi, dan menyediakan air di pinggirnya, jika klien mampu. Rasional : Dengan menyediakan air dan mendekatkan alat-alat mandi maka akan mendorong kemandirian klien dalam hal perawatan dan melakukan aktivitas. 2.) Bantu klien dalam mencuci rambut dan potong kuku. Rasional : Dengan membantu klien dalam mencuci rambut dan memotong kuku maka kebersihan rambut dan kuku terpenuhi. 3.) Anjurkan klien untuk senantiasa merapikan rambut dan mengganti pakaiannya setiap hari. Rasional : Dengan membersihkan dan merapihkan lingkungan akan memberikan rasa nyaman klien. 5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring yang lama. a. Tujuan : Jangka Panjang : Klien dapat sembuh tanpa komplikasi seperti infeksi. Jangka Pendek : - Kulit bersih dan kelembaban cukup. - Kulit tidak berwarna merah. - Kulit pada bokong tidak terasa ngilu. b. Intervensi : 1.) Kerjasama dengan keluarga untuk selalu menyediakan sabun mandi saat mandi. Rasional : Sabun mengandung antiseptik yang dapat menghilangkan kuman dan kotoran pada kulit sehingga kulit bersih dan tetap lembab. 2.) Pelihara kebersihan dan kerapihan alat tenun setiap hari. Rasional : Alat tenun yang bersih dan rapih mengurangi resiko kerusakan kulit dan mencegah masuknya mikroorganisme. 3.) Anjurkan pada klien untuk merubah posisi tidurnya setiap 3 4 jam sekali Rasional : Untuk mencegah penekanan yang terlalu lama yang dapat menyebabkan iritasi. 6. Resiko tinggi terhadap kontraktur berhubungan dengan immobilisasi. a. Tujuan : Jangka Panjang : Kontraktur tidak terjadi. Jangka Pendek : - Klien dapat melakukan latihan rentang gerak. - Setiap persendian dapat digerakkan dengan baik.

- Tidak terjadi tanda-tanda kontraktur seperti kaku pada persendian. b. Intervensi : 1.) Pertahankan peningkatan kontinyu dari puntung selama 24 48 jam sesuai pesanan. Jangan menekuk lutut, tempat tidur atau menempatkan bantal dibawah sisa tungkai, tinggikan kaku tempat tidur melalui blok untuk meninggikan puntung. Rasional : Peninggian menurunkan edema dan menurunkan resiko kontraktur fleksi dari panggul. 2.) Tempatkan klien pada posisi telungkup selama 30 menit 3 4 kali setiap hari setelah periode yang ditentukan dari peninggian kontinyu. Rasional : Otot normalnya berkontraksi waktu dipotong. Posisi telungkup membantu mempertahankan tungkai sisa pada ekstensi penuh. 3.) Tempatkan rol trokanter disamping paha untuk mempertahankan tungkai adduksi. Rasional : Kontraktur adduksi dapat terjadi karena otot fleksor lebih kuat dari pada otot ekstensor. 4.) Mulai latihan rentang gerak pada puntung 2 3 kali sehari mulai pada hari pertama pasca operasi. Konsul terapist fisik untuk latihan yang tepat. Rasional : Latihan rentang gerak membantu mempertahankan fleksibilitas dan tonus otot. 7. Potensial infeksi berhubungan dengan adanya luka yang terbuka. a. Tujuan : Jangka Panjang : Infeksi tidak terjadi Jangka Pendek : - Luka bersih dan kering - Daerah sekitar luka tidak kemerahan dan tidak bengkak. - Tanda-tanda vital normal - Nilai leukosit normal (5000 10.000/mm3) b. Intervensi : 1.) Observasi keadaan luka Rasional : Untuk memonitor bila ada tanda-tanda infeksi sehingga akan cepat ditanggulangi. 2.) Gunakan teknik aseptik dan antiseptik dalam melakukan setiap tindakan keperawatan Rasional : Tehnik aseptik dan antiseptik untuk mencegah pertumbuhan atau membunuh kuman sehingga infeksi tidak terjadi. 3.) Ganti balutan 2 kali sehari dengan alat yang steril. Rasional : Mengganti balutan untuk menjaga agar luka tetap bersih dan dengan menggunakan peralatan yang steril agar luka tidak terkontaminasi oleh kuman dari luar. 4.) Monitor LED Rasional : Memonitor LED untuk mengetahui adanya leukositosis yang merupakan tanda-tanda infeksi. 5.) Monitor tanda-tanda vital Rasional : Peningkatan suhu tubuh, denyut nadi, frekuensi dan penurunan tekanan darah merupakan salah satu terjadinya infeksi

A.

B.

C. a.

b.

c.

a. b.

ASKEP GANGGUAN MUSKULOSKLETAL PADA KLIEN AMPUTASI Definisi Amputasi berasal dari kata amputare yang kurang lebih diartikan pancung. Amputasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan bagian tubuh sebagian atau seluruh bagian ekstremitas. Tindakan ini merupakan tindakan yang dilakukan dalam kondisi pilihan terakhir manakala masalah organ yang terjadi pada ekstremitas sudah tidak mungkin dapat diperbaiki dengan menggunakan teknik lain, atau manakala kondisi organ dapat membahayakan keselamatan tubuh klien secara utuh atau merusak organ tubuh yang lain seperti dapat menimbulkan komplikasi infeksi. Kegiatan amputasi merupakan tindakan yang melibatkan beberapa sistem tubuh seperti sistem integumen, sistem persyarafan, sistem muskuloskeletal dan sisten cardiovaskuler. Labih lanjut ia dapat menimbulkan madsalah psikologis bagi klien atau keluarga berupa penurunan citra diri dan penurunan produktifitas. Etiologi Sebab-sebab dilakukannya amputasi adalah sebagai berikut : 1. Fraktur multiple organ tubuh yang tidak mungkin dapat diperbaiki. 2. Kehancuran jaringan kulit yang tidak mungkin diperbaiki. 3. Gangguan vaskuler/sirkulasi pada ekstremitas yang berat. 4. Infeksi yang berat atau beresiko tinggi menyebar ke anggota tubuh lainnya. 5. Adanya tumor pada organ yang tidak mungkin diterapi secara konservatif. 6. Deformitas organ. Klasifikasi 1. Berdasarkan pelaksanaan amputasi, dibedakan menjadi : Amputasi Selektif/Terencana Amputasi jenis ini dilakukan pada penyakit yang terdiagnosis dan mendapat penanganan yang baik serta terpantau secara terus-menerus. Amputasi dilakukan sebagai salah satu tindakan alternatif terakhir. Amputasi akibat trauma Merupakan amputasi yang terjadi sebagai akibat trauma dan tidak direncanakan. Kegiatan tim kesehatan adalah memperbaiki kondisi lokasi amputasi serta memperbaiki kondisi umum klien. Amputasi darurat Kegiatan amputasi dilakukan secara darurat oleh tim kesehatan. Biasanya merupakan tindakan yang memerlukan kerja yang cepat seperti pada trauma dengan patah tulang multiple dan kerusakan/kehilangan kulit yang luas. 2. Jenis amputasi yang dikenal adalah : Amputasi terbuka. Amputasi terbuka dilakukan pada kondisi infeksi yang berat dimana pemotongan pada tulang dan otot pada tingkat yang sama. Amputasi tertutup. Amputasi tertutup dilakukan dalam kondisi yang lebih memungkinkan dimana dibuat skaif kulit untuk menutup luka yang dibuat dengan memotong kurang lebih 5 sentimeter dibawah potongan otot dan tulang. Setelah dilakukan tindakan pemotongan, maka kegiatan selanjutnya meliputi perawatan luka operasi/mencegah terjadinya infeksi, menjaga kekuatan otot/mencegah kontraktur, mempertahankan intaks jaringan, dan persiapan untuk penggunaan protese ( mungkin ).

D. 1.

2.

a. b. E. 1.

2.

3. a.

b.

c. 4. a.

Berdasarkan pada gambaran prosedur tindakan pada klien yang mengalami amputasi maka perawat memberikan asuhan keperawatan pada klien sesuai dengan kompetensinya. Tingkatan Amputasi Ekstremitas atas Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau kiri. Hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi, berpakaian dan aktivitas yang lainnya yang melibatkan tangan. Ekstremitas bawah Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya. Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas ini dibagi menjadi dua letak amputasi yaitu : Amputasi dibawah lutut (below knee amputation). Ada 2 metode pada amputasi jenis ini yaitu amputasi pada nonischemic limb dan inschemic limb. Amputasi diatas lutut Amputasi ini memegang angka penyembuhan tertinggi pada pasien dengan penyakit vaskuler perifer. Dampak Atau Masalah Terhadap Sistem Tubuh Adapun pengaruhnya meliputi : Kecepatan metabolisme Jika seseorang dalam keadaan immobilisasi maka akan menyebabkan penekanan pada fungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga menurunkan kecepatan metabolisme basal. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih besar dari anabolisme, maka akan mengubah tekanan osmotik koloid plasma, hal ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler ke luar keruang interstitial pada bagian tubuh yang rendah sehingga menyebabkan oedema. Immobilitas menyebabkan sumber stressor bagi klien sehingga menyebabkan kecemasan yang akan memberikan rangsangan ke hypotalamus posterior untuk menghambat pengeluaran ADH, sehingga terjadi peningkatan diuresis. Sistem respirasi Penurunan kapasitas paru Pada klien immobilisasi dalam posisi baring terlentang, maka kontraksi otot intercosta relatif kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi maksimal dan ekspirasi paksa. Perubahan perfusi setempat Dalam posisi tidur terlentang, pada sirkulasi pulmonal terjadi perbedaan rasio ventilasi dengan perfusi setempat, jika secara mendadak maka akan terjadi peningkatan metabolisme (karena latihan atau infeksi) terjadi hipoksia. Mekanisme batuk tidak efektif Akibat immobilisasi terjadi penurunan kerja siliaris saluran pernafasan sehingga sekresi mukus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan mengganggu gerakan siliaris normal. Sistem Kardiovaskuler Peningkatan denyut nadi

b. c.

5. a.

b. c. d. 6. a.

b.

7.

a. b. 8.

Terjadi sebagai manifestasi klinik pengaruh faktor metabolik, endokrin dan mekanisme pada keadaan yang menghasilkan adrenergik sering dijumpai pada pasien dengan immobilisasi. Penurunan cardiac reserve Dibawah pengaruh adrenergik denyut jantung meningkat, hal ini mengakibatkan waktu pengisian diastolik memendek dan penurunan isi sekuncup. Orthostatik Hipotensi Pada keadaan immobilisasi terjadi perubahan sirkulasi perifer, dimana anterior dan venula tungkai berkontraksi tidak adekuat, vasodilatasi lebih panjang dari pada vasokontriksi sehingga darah banyak berkumpul di ekstremitas bawah, volume darah yang bersirkulasi menurun, jumlah darah ke ventrikel saat diastolik tidak cukup untuk memenuhi perfusi ke otak dan tekanan darah menurun, akibatnya klien merasakan pusing pada saat bangun tidur serta dapat juga merasakan pingsan. Sistem Muskuloskeletal Penurunan kekuatan otot Dengan adanya immobilisasi dan gangguan sistem vaskuler memungkinkan suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan, demikian pula dengan pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot. Atropi otot Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan fungsi persarafan. Hal ini menyebabkan terjadinya atropi dan paralisis otot. Kontraktur sendi Kombinasi dari adanya atropi dan penurunan kekuatan otot serta adanya keterbatasan gerak. Osteoporosis Terjadi penurunan metabolisme kalsium. Hal ini menurunkan persenyawaan organik dan anorganik sehingga massa tulang menipis dan tulang menjadi keropos. Sistem Pencernaan Anoreksia Akibat penurunan dari sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi sekresi kelenjar pencernaan dan mempengaruhi perubahan sekresi serta penurunan kebutuhan kalori yang menyebabkan menurunnya nafsu makan. Konstipasi Meningkatnya jumlah adrenergik akan menghambat pristaltik usus dan spincter anus menjadi kontriksi sehingga reabsorbsi cairan meningkat dalam colon, menjadikan faeces lebih keras dan orang sulit buang air besar. Sistem perkemihan Dalam kondisi tidur terlentang, renal pelvis ureter dan kandung kencing berada dalam keadaan sejajar, sehingga aliran urine harus melawan gaya gravitasi, pelvis renal banyak menahan urine sehingga dapat menyebabkan: Akumulasi endapan urine di renal pelvis akan mudah membentuk batu ginjal. Tertahannya urine pada ginjal akan menyebabkan berkembang biaknya kuman dan dapat menyebabkan ISK. Sistem integument Tirah baring yang lama, maka tubuh bagian bawah seperti punggung dan bokong akan tertekan sehingga akan menyebabkan penurunan suplai darah dan nutrisi ke jaringan. Jika hal ini

F. 1. 2. 3. G. 1. a. b. c. d. e. f. g. 2. 3. a. 1) 2) 3)

4) 5)

6) 7) b. 1) 2)

dibiarkan akan terjadi ischemia, hyperemis dan akan normal kembali jika tekanan dihilangkan dan kulit dimasase untuk meningkatkan suplai darah. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan tergantung pada kondisi dasar perlunya amputasi dan digunakan untuk menentukan tingkat yang terjadi untuk amputasi Foto rontgen : mengidentifikasi abnormalitas tulang CT Scan : mengidentifikasi lesi neoplastik, asteomelis, pembentukan hematoma. Aggiografi dan pemeriksaan aliran darah : mengevaluasi perubahan sirkulasi/perfusi jaringan dan membantu memperkira kan potensial penyembuhan jaringan setelah amputasi. Indikasi dan Kontraindikasi Indikasi Rekuren lokal dari tumor primer high grade tana tanda metastasis. Keterlibatan vaskuler utama. Keterlibatan saraf utama. Kontaminasi jaringan lunak yang luas saat eksisi dengan perdarahan yang banyak. Fraktur patologis. Infeksi. Sarkoma high grade Kontra Indikasi Kondisi umum yang buruk, sarkoma dengan metastasis (relatif) Tehnik Operasi Amputasi Atas Lutut Pasien terlentang. Kulit ditandai dengan marker untuk garis insisi dan pemotongan tulang diatas lutut. Garis insisi berbentuk mulut ikan dengan puncak pada sisi medial dan lateral paha. Batas osteotomi juga ditandai sebelum insisi. Dilakukan diseksi dan pemotongan kulit, fasia superfisal (tan jaringan subkutan secara vertikal dari tepi insisi. Kemudian bergerak miring sesuai arch garis insisi menuju puncak irisan sampai tulang.Pembuluh darah besar diligasi . Nervus ditarik keluar dari jaringan sekitarnya kira-kira 2 cm, diligasi dua kali dengan benang monofilamen nonabsorbable dan dipotong dengan pisau serta dibiarkan masuk kembali ke jaringan sekitarnya. Kauter digunakan untuk membuka periosteum, kemudian dilakukan osteotomi dengan gergaji Gigh, dan tepi tulang di kikir untuk menghilangkan tepi tajam. Dilakukan myodesis dua lapis dengan menjahitkan otot-otot menutupi ujung tulang. Quadriseps dan hamstring dijahitkan satu sama lain untuk menutupi tulang. Adduktor ditendodesis dengan otot di ujung femur. Tahap ini penting agar kekuatan dan kestabilan femur tetap terjaga. Subkutis dan kulit ditutup lapos demi lapis dan dipasang drain. Dilakukan balutan ketat dan dipasang sarung stump diujung stump Amputasi Bawah Lutut Pasien terlentang Kulit ditandai dengan marker untuk garis insisi dan pemotongan tulang dibawah lutut. Garis insisi berbentuk mulut ikan dengan puncak pada sisi medial dan lateral paha. Batas osteotomi juga ditandai sebelum insisi. Semakin panjang stump yang ditinggalkan, semakin baik hasil fungsionalnya

3)

4) 5) 6) 7) H. 1.

2. I. 1.

2.

Dilakukan diseksi dan pemotongan kulit, fasia superfisal dan jaringan subkutan secara vertikal dari tepi insisi. Kemudian bergerak miring sesuai arch garis insisi menuju puncak irisan sampai tulang.Pembuluh darah besar diligasi . Nervus ditarik keluar dari jaringan sekitarnya kira-kira 2 cm, diligasi dua kali dengan benang monofilamen nonabsorbable dan dipotong dengan pisau Bertadibiarkan masuk kembali ke jaringan sekitarnya. Kauter digunakan untuk membuka periosteum, kemudian dilakukan osteotomi dengan gergaji Gigli, dan tepi tulang di kikir untuk menghilangkan tepi tajam. . Minimal 5 cm tibia diperlukan untuk fungsi dan pemasangan prostesis. Fibula selalu dipotong lebih pendek dari tibia. Dilakukan myodesis dua lapis dengan menjahitkan otot-otot menutupi ujung tulang. Subkutis dan kulit ditutup lapos demi lapis dan dipasang drain. Dilakukan balutan ketat dan dipasang sarung stump diujung stump Komplikasi Perdarahan Bila hemostasis tidak baik, dapat terjadi perdarahan di daerah operasi. Pada insisional biopsi tumor, mudah terjadi perdarahan. Bila perdarahan merembes dan tidak dapat dijahit (jaringan rapuh), dilakukan penekanan dan balut tekan diatas titik perdarahan Infeksi Infeksi dapat muncul bila tehnik aseptik tidak dilaksanakan dengan tepat, atau sudah ada infeksi di daerah yang di biopsi Penatalaksanaan Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan berfungsi. Ada dua cara perawatan post amputasi yaitu : Amputasi rigid dressing Yaitu dengan menggunakan plaster of paris yang dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang harus direncanakan apakah penderita harus immobilisasi atau tidak. Bila tidak diperlukan pemasangan segera dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang menonjol. Keuntungan cara ini bisa mencegah oedema, mengurangi nyeri dan mempercepat posisi berdiri. Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi segera, mobilisasi setelah 7 10 hari post operasi setelah luka sembuh, setelah 2 3 minggu, setelah stump sembuh dan mature. Namun untuk mobilisasi dengan rigid dressing ini dipertimbangkan juga faktor usia, kekuatan, kecerdasan penderita, tersedianya perawat yang terampil, therapist dan prosthetist serta kerelaan dan kemauan dokter bedah untuk melakukan supervisi program perawatan. Rigid dressing dibuka pada hari ke 7 10 post operasi untuk melihat luka operasi atau bila ditemukan cast yang kendor atau tanda-tanda infeksi lokal atau sistemik. Soft dressing Yaitu bila ujung stump dirawat secara konvensional, maka digunakan pembalut steril yang rapi dan semua tulang yang menonjol dipasang bantalan yang cukup. Harus diperhatikan penggunaan elastik verban jangan sampai menyebabkan konstriksi pada stump. Ujung stump dielevasi dengan meninggikan kaki tempat tidur, melakukan elevasi dengan mengganjal bantal pada stump tidak baik sebab akan menyebabkan fleksi kontraktur. Biasanya luka diganti balutan dan drain dicabut setelah 48 jam. Ujung stump ditekan sedikit dengan soft dressing dan pasien diizinkan secepat mungkin untuk berdiri setelah kondisinya mengizinkan. Biasanya jahitan dibuka pada hari ke 10 14 post operasi. Pada amputasi diatas lutut, penderita diperingatkan untuk tidak meletakkan bantal dibawah stump, hal ini perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya kontraktur.

BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN MASALAH MUSKULUSKELETAL AMPUTASI Kegiatan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu pada tahap preoperatif, tahap intra operatif, dan pada tahap postoperatif. A. Preoperatif Pada tahap praoperatif, tindakan keperawatan lebih ditekankan pada upaya untuk mempersiapkan kondisi fisik dan psikolgis klien dalam menghadapi kegiatan operasi. Pada tahap ini, perawat melakukan pengkajian yang erkaitan dengan kondisi fisik, khususnya yang berkaitan erat dengan kesiapan tubuh untuk menjalani operasi. 1. Pengkajian a. Pengkajian Riwayat Kesehatan Perawat memfokuskan pada riwayat penyakit terdahulu yang mungkin dapat mempengaruhi resiko pembedahan seperti adanya penyakit diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit ginjal dan penyakit paru. Perawat juga mengkaji riwayat penggunaan rokok dan obatobatan. b. Pengkajian Fisik Pengkajian fisik dilaksanakan untuk meninjau secara umum kondisi tubuh klien secara utuh untuk kesiapan dilaksanakannya tindakan operasi manakala tindakan amputasi merupakan tindakan terencana/selektif, dan untuk mempersiapkan kondisi tubuh sebaik mungkin manakala merupakan trauma/ tindakan darurat. Kondisi fisik yang harus dikaji meliputi : SISTEM TUBUH KEGIATAN Integumen : Mengkaji kondisi umum kulit untuk meninjau tingkat Kulit secara umum. hidrasi. Lokasi amputasi Lokasi amputasi mungkin mengalami keradangan akut atau kondisi semakin buruk, perdarahan atau kerusakan progesif. Kaji kondisi jaringan diatas lokasi amputasi terhadap terjadinya stasis vena atau gangguan venus return. Sistem Cardiovaskuler : Mengkaji tingkat aktivitas harian yang dapat dilakukan pada Cardiac reserve klien sebelum operasi sebagai salah satu indikator fungsi Pembuluh darah jantung. Mengkaji kemungkinan atherosklerosis melalui penilaian terhadap elastisitas pembuluh darah. Sistem Respirasi Mengkaji kemampuan suplai oksigen dengan menilai adanya sianosis, riwayat gangguan nafas. Sistem Urinari Mengkaji jumlah urine 24 jam. Menkaji adanya perubahan warna, BJ urine. Cairan dan elektrolit Mengkaji tingkat hidrasi. Memonitor intake dan output cairan. Sistem Neurologis Mengkaji tingkat kesadaran klien. Mengkaji sistem persyarafan, khususnya sistem motorik dan sensorik daerah yang akan diamputasi. Sistem Mukuloskeletal Mengkaji kemampuan otot kontralateral.

c.

d.

2. a. 1) 2) 3) 1) 2)

Pengkajian Psikologis, Sosial, Spiritual Disamping pengkajian secara fisik perawat melakukan pengkajian pada kondisi psikologis ( respon emosi ) klien yaitu adanya kemungkinan terjadi kecemasan pada klien melalui penilaian klien terhadap amputasi yang akan dilakukan, penerimaan klien pada amputasi dan dampak amputasi terhadap gaya hidup. Kaji juga tingkat kecemasan akibat operasi itu sendiri. Disamping itu juga dilakukan pengkajian yang mengarah pada antisipasi terhadap nyeri yang mungkin timbul. Perawat melakukan pengkajian pada gambaran diri klien dengan memperhatikan tingkatr persepsi klien terhadap dirinya, menilai gambaran ideal diri klien dengan meninjau persepsi klien terhadap perilaku yang telah dilaksanakan dan dibandingkan dengan standar yang dibuat oleh klien sendiri, pandangan klien terhadap rendah diri antisipasif, gangguan penampilan peran dan gangguan identitas. Adanya gangguan konsep diri antisipasif harus diperhatikan secara seksama dan bersamasama dengan klien melakukan pemilihan tujuan tindakan dan pemilihan koping konstruktif. Adanya masalah kesehatan yang timbul secara umum seperti terjadinya gangguan fungsi jantung dan sebagainya perlu didiskusikan dengan klien setelah klien benar-benar siap untuk menjalani operasi amputasi itu sendiri. Kesadaran yang penuh pada diri klien untuk berusaha berbuat yang terbaik bagi kesehatan dirinya, sehingga memungkinkan bagi perawat untuk melakukan tindakan intervensi dalam mengatasi masalah umum pada saat pre operatif. Asuhan keperawatan pada klien preoperatif secara umum tidak dibahas pada makalah ini. Laboratorik Tindakan pengkajian dilakukan juga dengan penilaian secara laboratorik atau melalui pemeriksaan penunjang lain secara rutin dilakukan pada klien yang akan dioperasi yang meliputi penilaian terhadap fungsi paru, fungsi ginjal, fungsi hepar dan fungsi jantung. Diagnosa Keperawatan dan Perencanaan Dari pengkajian yang telah dilakukan, maka diagnosa keperawatan yang dapat timbul antara lain : Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kegiatan perioperatif. Karakteristik penentu : Mengungkapkan rasa tajut akan pembedahan. Menyatakan kurang pemahaman. Meminta informasi. Tujuan : Kecemasan pada klien berkurang. Kriteria evaluasi : Sedikit melaporkan tentang gugup atau cemas. Mengungkapkan pemahaman tentang operasi. INTERVENSI RASIONAL Memberikan bantuan secara fisik Secara psikologis meningkatkan rasa aman dan psikologis, memberikan dan meningkatkan rasa saling percaya. dukungan moral. Meningkatkan/memperbaiki pengetahuan/ Menerangkan prosedur operasi persepsi klien. dengan sebaik-baiknya. Meningkatkan rasa aman dan memungkinkan Mengatur waktu khusus dengan klien melakukan komunikasi secara lebih

klien untuk berdiskusi tentang terbuka dan lebih akurat. kecemasan klien. b. Berduka yang antisipasi (anticipated griefing) berhubungan dengan kehilangan akibat amputasi. Karakteristik penentu : 1) Mengungkapkan rasa takut kehilangan kemandirian. 2) Takut kecacatan. 3) Rendah diri, menarik diri. Tujuan : Klien mampu mendemontrasikan kesadaran akan dampak pembedahan pada citra diri. Kriteria evaluasi : 1) Mengungkapkan perasaan bebas, tidak takut. 2) Menyatakan perlunya membuat penilaian akan gaya hidup yang baru. INTERVENSI RASIONAL Anjurkan klien untuk mengekspresikan Mengurangi rasa tertekan dalam diri perasaan tentang dampak pembedahan klien, menghindarkan depresi, pada gaya hidup. meningkatkan dukungan mental. Berikan informasi yang adekuat dan rasional tentang alasan pemilihan tindakan pemilihan amputasi. Membantu klien mengapai penerimaan terhadap kondisinya melalui teknik rasionalisasi.

Berikan informasi bahwa amputasi Meningkatkan dukungan mental. merupakan tindakan untuk memperbaiki kondisi klien dan merupakan langkah awal untuk menghindari ketidakmampuan atau kondisi yang lebih parah. Fasilitasi untuk bertemu dengan orang dengan amputasi yang telah berhasil dalam penerimaan terhadap situasi amputasi. Strategi untuk meningkatkan adaptasi terhadap perubahan citra diri.

1) a) b) c) 2) a)

Selain masalah diatas, maka terdapat beberapa tindakan keperawatan preoperatif antara lain : Mengatasi nyeri Menganjurkan klien untuk menggunakan teknik dalam mengatsi nyeri. Menginformasikan tersdianya obat untuk mengatasi nyeri. Menerangkan pada klien bahwa klien akan merasakan adanya kaki untuk beberapa waktu lamanya, sensasi ini membantu dalam menggunakan kaki protese atau ketika belajar mengenakan kaki protese. Mengupayakan pengubahan posisi tubuh efektif Menganjurkan klien untuk mengubah posisi sendiri setiap 1 2 jam untuk mencegah kontraktur.

b) c) 3) a) b) c) d) B.

C. 1.

2. a

Membantu klien mempertahankan kekuatan otot kaki ( yang sehat ), perut dan dada sebagai persiapan untuk penggunaan alat penyangga/kruk. Mengajarkan klien untuk menggunakan alat bantu ambulasi preoperasi, untuk membantu meningkatkan kemampuan mobilitas posoperasi, memprtahankan fungsi dan kemampuan dari organ tubuh lain. Mempersiapkan kebutuhan untuk penyembuhan Mengklarifikasi rencana pembedahan yang akan dilaksanakan kepada tim bedah. Meyakinkan bahwa klien mendapatkan protese/alat bantu ( karena tidak semua klien yang mengalami operasi amputasi mendapatkan protese seperti pada penyakit DM, penyakit jantung, CVA, infeksi, dan penyakit vaskuler perifer, luka yang terbuka ). Semangati klien dalam persiapan mental dan fisik dalam penggunaan protese. Ajarkan tindakan-tindakan rutin postoperatif : batuk, nafas dalam. Intra Operatif Pada masa ini perawat berusaha untuk tetap mempertahankan kondisi terbaik klie. Tujuan utama dari manajemen (asuhan) perawatan saat ini adalah untuk menciptakan kondisi opyimal klien dan menghindari komplikasi pembedahan. Perawat berperan untuk tetap mempertahankan kondisi hidrasi cairan, pemasukan oksigen yang adekuat dan mempertahankan kepatenan jalan nafas, pencegahan injuri selama operasi dan dimasa pemulihan kesadaran. Khusus untuktindakan perawatan luka, perawat membuat catatan tentang prosedur operasi yang dilakukan dan kondisi luka, posisi jahitan dan pemasangan drainage. Hal ini berguna untuk perawatan luka selanjutnya dimasa postoperatif. Post Operatif Pengkajian Pada masa post operatif, perawat harus berusaha untuk mempertahankan tanda-tanda vital, karena pada amputasi, khususnya amputasi ekstremitas bawah diatas lutut merupakan tindakan yang mengancam jiwa. Perawat melakukan pengkajian tanda-tanda vital selama klien belum sadar secara rutin dan tetap mempertahankan kepatenan jalas nafas, mempertahankan oksigenisasi jaringan, memenuhi kebutuhan cairan darah yang hilang selama operasi dan mencegah injuri. Daerah luka diperhatikan secara khusus untuk mengidentifikasi adanya perdarahan masif atau kemungkinan balutan yang basah, terlepas atau terlalu ketat. Selang drainase benar-benar tertutup. Kaji kemungkinan saluran drain tersumbat oleh clot darah. Awal masa postoperatif, perawat lebih memfokuskan tindakan perawatan secara umum yaitu menstabilkan kondisi klien dan mempertahankan kondisi optimum klien. Perawat bertanggungjawab dalam pemenuhan kebutuhan dasar klien, khususnya yang dapat menyebabkan gangguan atau mengancam kehidupan klien. Berikutnya fokus perawatan lebih ditekankan pada peningkatan kemampuan klien untuk membentuk pola hidup yang baru serta mempercepat penyembuhan luka. Tindakan keperawatan yang lain adalah mengatasi adanya nyeri yang dapat timbul pada klien seperti nyeri Panthom Limb dimana klien merasakan seolah-olah nyeri terjadi pada daerah yang sudah hilang akibat amputasi. Kondisi ini dapat menimbulkan adanya depresi pada klien karena membuat klien seolah-olah merasa tidak sehat akal karena merasakan nyeri pada daerah yang sudah hilang. Dalam masalah ini perawat harus membantu klien mengidentifikasi nyeri dan menyatakan bahwa apa yang dirasakan oleh klien benar adanya. Diagnosa keperawatan dan Perencanaan : Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan insisi bedah sekunder terhadap amputasi

1) 2) 1) 2)

Karakteristik penentu : Menyatakan nyeri. Merintih, meringis. Tujuan : nyeri hilang / berkurang. Kriteria evaluasi : Menyatakan nyeri hilang. Ekspresi wajah rileks. INTERVENSI Evaluasi nyeri : berasal dari sensasi panthom limb atau dari luka insisi. Bila terjadi nyeri panthom limb

RASIONAL Sensasi panthom limb memerlukan waktu yang lama untuk sembuh daripada nyeri akibat insisi. Klien sering bingung membedakan nyeri insisi dengan nyeri panthom limb. Untuk menghilangkan nyeri

Beri analgesik ( kolaboratif ).

Ajarkan klien memberikan tekanan Mengurangi nyeri akibat nyeri panthom limb lembut dengan menempatkan puntung pada handuk dan menarik handuk dengan berlahan. b 1) 2) 3) 1) 2) Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan citra tubuh sekunder terhadap amputasi Karakteristik penentu : Menyatakan berduka tentang kehilangan bagian tubuh. Mengungkapkan negatif tentang tubuhnya. Depresi. Tujuan : Mendemontrasikan penerimaan diri pada situasi yang baru. Kriteria evaluasi : Menyatakan penerimaan terhadap penerimaan diri. Membuat rencana untuk melanjutkan gaya hidup. INTERVENSI RASIONAL Validasi masalah yang dialami Meninjau perkembangan klien. klien. Libatkan klien dalam melakukan perawatan diri yang langsung menggunakan putung : - Perawatan luka. - Mandi. - Menggunakan pakaian. Berikan dukungan moral. Hadirkan orang yang pernah amputasi yang telah menerima diri. Mendorong antisipasi meningkatkan adaptasi pada perubahan citra tubuh.

Meningkatkan status mental klien. Memfasilitasi penerimaan terhadap diri.

Resiko tinggi terhadap komplikasi : Infeksi, hemorragi, kontraktur, emboli lemak berhubungan dengan amputasi Karakteristik penentu : Terdapat tanda resiko infeksi, perdarahan berlebih, atau emboli lemak. Tujuan : tidak terjadi komplikasi. Kriteria evaluasi : tidak ada infeksi, hemorragi dan emboli lemak. INTERVENSI RASIONAL Infeksi Lakukan perawatan luka adekuat. Mencegah terjadinya infeksi. Perdarahan Pantau : Menghindari resiko kehilangan cairan dan -Masukan dan pengeluaran cairan. resiko terjadinya perdarahan pada daerah amputasi. - Tanda-tanda vital tiap 4 jam. Sebagai monitor status hemodinamik - Kondisi balutan tiap 4-8 jam. Indikator adanya perdaraham masif Emboli lemak Monitor pernafasan. Persiapkan oksigen Memantau tanda emboli lemak sedini mungkin Untuk mempercepat tindakan bila sewaktuwaktu dperlukan untuk tindakan yang cepat. Mengurangi kebutuhan oksigen jaringan atau memudahkan pernafasan.

1) a) b) 2) a) b) 3) a) b) 4) a) b) c)

Pertahankan posisi flower atau tetap tirah baring selama beberapa waktu Beberapa kegiatan keperawatan lain yang dilakukan adalah : Melakukan perawatan luka postoperasi Mengganti balutan dan melakukan inspeksi luka. Terangkan bahwa balutan mungkin akan digunakan hingga protese yang digunakan telah tepat dengan kondisi daerah amputasi (6 bulan 1 tahun). Membantu klien beradaptasi dengan perubahan citra diri Memberi dukungan psikologis. Memulai melakukan perawatan diri atau aktivitas dengan kondisi saat ini. Mencegah kontraktur Menganjurkan klien untuk melakukan gerakan aktif pada daerah amputasi segera setelah pembatasan gerak tidak diberlakukan lagi. Menerangkan bahwa gerakan pada organ yang diamputasi berguna untuk meningkatkan kekuatan untuk penggunaan protese, menghindari terjadinya kontraktur. Aktivitas perawatan diri Diskusikan ketersediaan protese ( dengan terapis fisik, ortotis ). Mengajari klien cara menggunakan dan melepas protese. Menyatakan bahwa klien idealnya mencari bantuan/superfisi dari tim rehabilitasi kesehatan selama penggunaan protese.

d) e) D.

A.

B.

Mendemontrasikan alat-alat bantu khusus. Mengajarkan cara mengkaji adanya gangguan kulit akibat penggunaan protese. Evaluasi Evaluasi adalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001). BAB PENUTUP Kesimpulan Asuhan keperawatan pada klien yang mengalami amputasi merupakan bentuk asuhan kompleks yang melibatkan aspek biologis, spiritual dan sosial dalam proporsi yang cukup besar ke seluruh aspek tersebut perlu benar-benar diperhatikan sebaik-baiknya. Tindakan amputasi merupakan bentuk operasi dengan resiko yang cukup besar bagi klien sehingga asuhan keperawatan perioperatif harus benar-benar adekuat untuk memcapai tingkat homeostatis maksimal tubuh. Manajemen keperawatan harus benar-benar ditegagkkan untuk membantu klien mencapai tingkat optimal dalam menghadapi perubahan fisik dan psikologis akibat amputasi. Saran Saran kelompok kami dengan adannya makalah ini, sebagai mahasiswa calon perawat. Diharapkan agar dapat mengerti asuhan keperawatan pada asien dengan gangguan system muskuluskeletal amputasi. Dan melakukan tindakan keperawatan dengan baik dan benar. Sehingga meminimalkan terjadinya mal praktek dan kesalahan dalam asuhan keperawatan yang dilakukan nantinya.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN BURSITIS A. KONSEP DASAR MEDIS BURSITIS 1. DEFINISI Bursitis adalah peradangan pada bursa yang disertai rasa nyeri. Bursa adalah kantong datar yang mengandung cairan sinovial , yang memudahkan pergerakan normal dari beberapa sendi pada otot dan mengurangi gesekan. Bursa terletak pada sisi yang mengalami gesekan, terutama di tempat dimana tendon atau otot melewati tulang. Dalam keadaan normal, sebuah bursa mengandung sangat sedikit cairan. Tetapi jika terluka, bursa akan meradang dan terisi oleh cairan. 2. ETIOLOGI Penyebab utama bursitis adalah cedera ringan berulang, biasanya berhubungan dengan kegiatan kerja. Pergeseran yang berulang-ulang dapat menyebabkan bursitis akibat gesekan (friction bursitis) dimana dinding bursa menebal dan dapat terjadi efusi pada bursa. Bursitis juga dapat berhubungan dengan jenis pekerjaan tertentu seperti prepatela bursitis pada lutut pembantu rumah tangga, dan alekranon bursitis pada pelajar. Peradangan disertai dengan peningkatan junlah cairan yang menyebabkan distensi ( pelembungan ) dapat menyebabkan dinding burse mengeras. Bagian tubuh yang biasanya terkena bursitis adalah bahu, siku, pinggul, panggul, lutut, jari kaki dan tumit. 3. KLASIFIKASI Berdasarkan waktu berapa lama telah terinfeksinya bursitis di klasifikasikan menjadi 2 jenis, yaitu bersitis akut dan bursitis kronis. a. Bursitis Akut Bursitis akut terjadi secara mendadak. Jika disentuh atau digerakkan, akan timbul nyeri di daerah yang meradang. Kulit diatas bursa tampak kemerahan dan membengkak. Bursitis akut yang disebabkan oleh suatu infeksi atau gout menyebabkan nyeri yang luar biasa dan daerah yang terkena tampak kemerahan dan teraba hangat. b. Bursitis Kronis Bursitis kronis merupakan akibat dari serangan bursitis akut sebelumnya atau karena cedera yang berulang. Pada akhirnya, dinding bursa akan menebal dan di dalamnya terkumpul endapan kalsium padat yang menyerupai kapur. Bursa yang telah mengalami kerusakan sangat peka terhadap peradangan tambahan. Nyeri menahun dan pembengkakan bisa membatasi pergerakan, sehingga otot mengalami penciutan (atrofi) dan menjadi lemah. Serangan bursitis kronis berlangsung selama beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering kambuh. Berdasarkan lokasi terjadinya bursitis di klasifikasi kan menjadi 6, yaitu: a. Bursitis Alekranon Radang bursa alekranon merupakan penyebab tersering nyeri periartikuler sikron. Penyebab utama bursitis adalah cedera ringan berulang, biasanya berhubungan dengan kegiatan kerja . Gambaran klinis gerakan sendi sedikit terbatas pada fleksi maksimal karena nyeri, bursitis trauma biasanya hanya nyeri ringan maupun dapat sangat bengkak, bursitis alekranon sering merupakan radang piogenik. Gejala dini berupa tanda radang akut dengan hipertemia, edema luas di sekitarnya tetapi tidak ada tanda arthritis. Penanganan pada bursistis alekranon akibat trauma atau idiopatik perlu perlindungan bursa terhadap iritasi dan tekanan bila perlu

dilakukan aspirasi dan beban tekan aspirasi harus dilakukan secara steril mengingat adanya infeksi bacterial. b. Bursitis Panggung / Bursitis Trokanter Bursitis trokanter sering di kelirukan dengan penyakit intra artikuler. Penyebab tersering nyeri panggul pada usia pertengahan dan lanjut. Gambaran klinis. Gambaran utama bursitis panggul adalah local yang meliputi trokanter mayor dan nyeri saat melakukan rotasi ekstrim dan abduksi panggul. Karena nyeri di bokong dan panggul sering berhubungan dengan penyakit tulang belakang daerah lumbal pada penyakit intra artikuler endorotasi maksimal akan menimbulkan nyeri tetapi pada bursitis tidak demikian. c. Bursitis Kaki Antara permukaan belakang tulang kalkaneus dan tendo Achilles biasanya terdapat bursa. Sering ditemukan juga bursa antara Achilles dan kulit. Perbedaan antara kedua bursitis ini dapat ditentukan karena bursitis retrokalkareus menonjol bilateral disamping tendon sedangkan bursitis rettendo Achilles menutup tendon tersebut. Penyebabnya adalah pembebanna yang berlebihan atau rangsangan alas kaki yang tidak cocok misalnya rangsangan pinggir belakang sepatu. d. Bursitis Prepatela Disebut juga lutut pembantu RT. Bursitis yang tidak terinfeksi bukanlah akibat tekanan tetapi akibat friksi tetap antara kulit dan patela. Penyakit ini terjadi pada penenun karpet dan buruh tambang. Pembengkakan terbatas akan berfluktuasi tetapi sendi itu normal. e. Bursitis Intrapatela Pembengkakan berada pada tempat yang lebih dangkal daripada ligamentum patela karena lebih ke distal. Terjadi pada orang yang berada berlutut lebih tegak daripada orang yang mengepel. f. Bursitis Iliopsous Nyeri pada lipat paha dan paha anterior. Nyeri yang paling khas adalah peningkatan nyeri yang tajam saat abduksi dan rotasi internal pada panggul. 4. PATOFISIOLOGI Bursitis trokanter dan tendinitis insersi aponeutosis otot gluteus di trokanter mayor sering dikelirukan dengan penyakit intra antrikuler. Tendinitis M. gluteus medsus dan M. gluteus minimus pada insersinya di dalam trokanter mayor adalah penyakit tersering panggul pada usia pertengahan dan lanjut. Inflamasi di daerah insersi otot tersebut biasanya juga meliputi burse trokanter yang terletak di sub cutan, dengan nyeri lokal di posterolateral prominensia ( menonjol di atas permukaan ) trokanter. Gejala utama bursitis dan tendinitis panggul ialah nyeri lokal yang meliputi trokanter mayor dan nyeri saat melakukan rotasi ekstrem atau abduksi panggul. Penderita mengeluh nyeri panggul, biasanya menjadi lebih hebat pada eksuserbasi dan beralih ke sisi lateral paha. Biasanya panggul teraba hangat dan kulit meliputi trokanter mayor terlihat kemerahan.Karena nyeri di bokong dan panggul keatas berhubungan dengan penyakit tulang belakang daerah lumbal. Penyakit degeneratif diskus invertebratalis dan iskias pada bursitis terdapat nyeri setempat pada palpasi burse, sedangkan gerak mengangkat tungkai yang lurus tidak menimbulkan nyeri, nyeri ini perlu pula dibedakan dengan penyakit intra artikuler endo rotasi maksimal akan menimbulkan nyeri tetapi pada bursitis tidak demikian pada penyakit sendi panggul perkusi di tumit dengan tungkai lurus akan meningkatkan nyeri tidak demi penanggulangan.Bersifat simptomatik dengan istirahat dan obat anti inflamasi. Nyeri biasanya menghilang dalam waktu 2 3 hari. 5. MANIFESTASI KLINIK

Gejala utama pada bursitis pada umumnya berupa pembengkakan lokal, panas, merah dan nyeri. Bursitis menyebabkan nyeri dan cenderung membatasi pergerakan, tetapi gejala yang khusus tergantung kepada lokasi bursa yang meradang. Jika bursa di bahu meradang, maka jika penderita mengangkat lengannya untuk memakai baju akan mengalami kesulitan dan merasakan nyeri. 6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan pemeriksaan fisik. Daerah di sekitar bursa terasa sakit jika diraba dan pergerakan sendi tertentu menimbulkan nyeri. Jika bursa tampak membengkak, bisa diambil contoh cairan dari bursa dan dilakukan pemeriksaan terhadap cairan untuk menentukan penyebab dari peradangan. 7. PENATALAKSANAAN a. Bursa yang terinfeksi harus dikeringkan dan diberikan antibiotik. b. Bursitis akut non-infeksius biasanya diobati dengan istirahat, dimana untuk sementara waktu sendi yang terkena tidak digerakkan dan diberikan obat peradangan non-steroid (misalnya indometasin, ibuprofen atau naproksen) Kadang diberikan obat pereda nyeri. Selain itu bisa disuntikkan campuran dari obat bius lokal dan kortikosteroid langsung ke dalam bursa. Penyuntikan ini mungkin perlu dilakukan lebih dari 1 kali. c. Pada bursitis yang berat diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) per-oral (ditelan) selama beberapa hari. Setelah nyeri mereda, dianjurkan untuk melakukan latihan khusus guna meningkatkan daya jangkau sendi. d. Bursitis kronis diobati dengan cara yang sama. e. Kadang endapan kalsium yang besar di bahu bisa dibuang melalui jarum atau melalui pembedahan. f. Kortikosteroid bisa disuntikkan langsung ke dalam sendi. g. Terapi fisik dilakukan untuk mengembalikan fungsi sendi. Latihan bisa membantu mengembalikan kekuatan otot dan daya jangkau sendi. 8. FAKTOR RESIKO a. Stres cedera (berlebihan) berulang-ulang. Hal ini dapat terjadi ketika berjalan, memanjat tangga, bersepeda, atau berdiri untuk jangka waktu yang panjang. b. Hip cedera. Cedera ke titik pinggul dapat terjadi ketika jatuh ke pinggul, pinggul bertemu di tepi meja, atau berbaring pada satu sisi tubuh untuk jangka waktu yang lama. c. Spine penyakit. Ini termasuk skoliosis, arthritis tulang belakang (bawah) lumbal, dan masalah tulang lainnya. d. Kaki panjang ketidaksetaraan. Ketika satu kaki lebih pendek dari yang lain oleh lebih dari satu inci atau lebih, hal itu mempengaruhi cara Anda berjalan dan dapat menyebabkan iritasi bursa pinggul. e. Rheumatoid arthritis. Hal ini membuat bursa semakin besar kemungkinan untuk menjadi meradang. f. Bedah Sebelumnya operasi. Sekitar panggul atau implan prostetik di pinggul dapat mengiritasi bursae dan menyebabkan radang kandung lendir. g. Tulang taji atau deposito kalsium. Ini dapat berkembang dalam tendon yang melekat pada trokanter mayor itu. Mereka dapat mengiritasi bursa dan menyebabkan peradangan. 9. KOMPLIKASI a. Terjadinya Bursitis kronis b. Terlalu banyak suntikan steroid selama waktu singkat dapat menyebabkan cedera pada tendon sekitarnya.

10. PENCEGAHAN Pencegahan ini bertujuan untuk menghindari perilaku dan aktivitas yang membuat peradangan pada bursa lebih buruk. a. Hindari aktivitas berulang yang menempatkan tekanan pada pinggul. b. Menurunkan berat badan jika perlu. c. Dapatkan sepatu memasukkan benar pas untuk kaki panjang perbedaan. d. Mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas dari otot-otot pinggul. B. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN BURSITIS 1. PENGKAJIAN a) Biodata b) Keluhan utama Nyeri, pembengkakan, panas, merah. c) Riwayat penyakit sekarang d) Riwayat penyakit dahulu. Apakah klien pernah menderita artitis rematoid, gout, apakah pernah cedera atau koma. e) Riwayat penyakit keluarga f) Pola mobilitas fisik g) Pola perawatan diri. Klien dalam pemenuhan perawatan diri (mandi, gosok gigi, mencuci rambut) mengalami keterbatasan karena nyeri tersebut. h) Konsep diri Klien dengan penyakit bursitis akut maupun kronis sering mengalami nyeri sehingga gambaran dirinya terganggu. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN a. Gangguan rasa nyaman (nyeri) b/d agen injury fisik. Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 3 x 24 jam nyeri berkurang atau hilang. Kriteria hasil: Klien mengatakan nyeri berkurang. Klien tampak dan mampu tidur atau istirahat dengan tepat. v Intervensi Keperawatan Kaji lokasi, intensitas dan derajat nyeri Rasional: Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan ke efektifan program. Berikan klien posisi yang nyaman. Rasional: Pada penyakit berat / eksaserbasi, tirah baring mungkin diperlukan untuk membatasi nyeri. Berikan kasur busa atau bantal air pada bagian yang nyeri. Rasional: Mengistirahatkan sendi-sendi yang sakit dan mempertahankan posisi netral. Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi. Rasional: Meningkatkan relaksasi / mengurangi tegangan otot. Kolaborasi pemberian aspirin. Rasional:

Aspirin bekerja sebagai anti dan efek analgetik ringan dalam mengurangi kekakuan dan meningkatkan mobilitas. b. Intoleransi b/d kelemahan atau keletihan. Tujuan: Klien dapat melakukan aktifitasnya setelah dilakukan tindakan keperawatan 3x 24 jam. Kriteria Hasil: Klien dapat melakukan aktifitas sehari-hari sesuai dengan tingkat kemampuan Klien dapat mengidentifikasikan faktor-faktor yang menurunkan toleriansi aktifitas v Intervensi Keperawatan Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidak mampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari Rasional: Klien menunjukkan kelemahannya berkurang dan dapat melakukan aktifitasnya Berikan lingkungan tenang dan periode istirahat tanpa gangguan Rasional: Menghemat energi untuk aktifitas Pertahankan istirahat tirah baring / duduk jika diperlukan Rasional: Istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi dan seluruh fase penyakit yang penting mencegah kelemhan Berikan lingkungan yang aman Rasional: Menghindari cedera akibat kecelakaan c. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan tindakan keperawatan b/d kurangnya informasi, kemungkinan dibuktikan oleh : Pertanyaan/meminta informasi, Mengungkapkan masalah, terjadinya komplikasi yang dapat dicegah. v Intervensi Keperawtan Kaji pengetahuan tentang proses tindakan terhadap penyakit Rasional: Mengidentifikasi area kekurangan pengetahuan / salah informasi dan memberikan kesempatan untuk memberikan informasi tambahan sesuai keperluan. Berikan penjelasan kepada klien bahwa penyakitnya memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Rasional: Proses penyakit dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk membaik. Bila gejala ada lebih lama dari 6 bulan. Sehingga memerlukan tindakan dan pengobatan khusus. Berikan penjelasan kepada klien tentang pencegahan penyakit bursitis Rasional: Mencegah terjadinya penyakit yang sama atau berulang jika klien telah sembuh. 3. IMPLEMENTASI Pelaksanaan rencana tindakan yang telah ditentukan dengan maksud agar kebutuhan pasien terpenuhi secara optimal. Langkah-langkah persiapan tindakan keperawatan adalah sebagai berikut : a. Memahami rencana perawatan yang telah ditentukan. b. Menyiapkan tenaga atau alat yang diperlukan.

c.

Menyiapkan lingkungan yang sesuai dengan tindakan yang dilakukan antara lain : langkah pelaksanaan, sikap yang meyakinkan, sistematika kerja yang tepat, pertimbangan hukum dan etika, bertanggung jawab dan bertanggung gugat, mencatat semua tindakan keperawatan yang telah ditentukan Implementasi / pelaksanaan pada diagnosa keperawatan penyakit Bursitis mengacu pada perencanaan yang sudah dibuat. 4. EVALUASI Tahap evaluasi adalah proses penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian ulang yang telah ditentukan. Tujuannya adalah menentukan kemampuan pasien dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan.

OSTEOMALASIA KONSEP DASAR MEDIS A. DEFINISI Osteomalasia adalah penyakit metabolisme tulang yang ditandai dengan tidak memadainya mineralisasi tulang. (kondisi serupa pada anak dinamakan rikets). Pada orang dewasa osteomalasia bersifat kronik dan deformitas skeletalnya tidak seberat pada anak karena pertumbuhan skeletal telah selesai. Pada pasien ini sejumlah besar osteroid atau remodeling tulang baru tidak mengalami kalsifikasi,diperiksakan bahwa efek primernya adalah kekurangan vitamin D aktif (kalsitrol). Yang memacu absorpsi kalsium dari traktus gastrointestinal dan memfasilitasi tulang. Pasokan kalsium dan fosfat dalam cairan eksternal rendah. Tanpa vitamin D yang mencukupi kalsium dan fosfat tidak dapat dimasukan ketempat kalsifikasi tulang. Sebagai akibat kegagalan mineralisasi. Terjadilah perlunakan dan perlemahan kerangka tubuh, menyebabkan nyeri tekan, pelengkungan tulang dan patah tulang patologik. B. PATOFISIOLOGI 1. ada berbagai kasus osteomalasia yang terjadi akibat gangguan umum metabolisme mineral. Factor resiko terjadinya osteomalasia meliputi kekurangan dalam diet, malabsorpsi, gastrektomi, GGK, terapi antikonvulsan berkepentingan dan kekurangn vitamin D (diet, sinar matahari). 2. tipe malnutrisi sering berhubungan dengan asupan kalsium yang jelek. Terutama akibat kemiskinan dan kurangnya pengetahuan mengenai nutrisi juga merupakan salah satu factor. 3. dapat terjadi sebagai akibat kegagalan absorpsi kalsium atau kehilangan kalsium berlebihan dari tubuh. Kelainan gastrointestinal dimana absorpsi lemak tidak memadai sering menimbulkan osteomalsia melalui kehilangan vitamin D dan kalsium. Kalsium dieksresikan melalui fases dalam kombinasi dengan asam lemak. Kelainan ini meliputi penyakit seliak, obstruksi traktus biliaris kronis,pankreatitis kronis dan reseksi usus halus. 4. gagal ginjal berat mengkibatkan asidosis. Kalsium yang tersedia dipergunakan untuk menetralkan asidosis, dan hormone paratiroid terus menyebabkan pelepasan dan hormone prtiroid terus menyebabkan pelepasan klasiun dari kalsium skelet sebagai usaha untuk mengembalikan pH fisiologi. selama pelepasan kalsium kelet terus menerus ini, terjadi fibrosis tulang dan kista tulang. Glomerulonefritis kronik, uropati obstruksi dan keracunan logam berat mengakibatkan kurangnya kadar fosfat serum dan demineralisasi tulang. 5. selain itu, penyakit hati dan ginjal dapat mengakibatkan kekurangan vitamin D, karena keduanya merupakan organ yang melakukan konversi vitamin D ke bentuk aktif. Akhirnya hiperparatiroidiseme mengakibatkan dekalsifikasi skelet dan artinya osteomalasia dengan peningkatan eksresi fosfat dalm urine. C. MANIFESTASI KLINIS 1. gejala yang paling sering dan paling mencemaskan pada osteomalasia adalah nyeri tulang dan nyeri tekan tulang. 2. sebagai akibat kekurngan kalsium, terjadi kelemahan otot. 3. klien akan mengalami cara jalan bebek atau pincang. 4. pada penyakit yang telah lanjut, tungkai menjadi melengkung. 5. vertebrata yang melunak mengalami kompresi, sehingga mengakibatkan pemendekan tinggi badan dan merusak bentuk toraks(kifosis) 6. sacrum terdorong ke bawah dan ke depan, dan pelvis tertekan ke lateral. Kedua deformitas tersebut menerangkan bentuk khas pelvis yang sering mengakibatkan perlunya dilakukan

seksio sesaria pada wanita hamil yang terkena penyakit ini.kelemahan dan ketidakseimbangan meningkatkan risiko jatuh dan fraktur. D. EVALUASI DIAGNOTIK 1. pada sinar x bila terlihat mineralisasi tulang secara umum. Pemeriksaan vetebrata memperlihatkan adanya patah tulang kompresi tanpa batas vetebrata yang jelas. 2. pemeriksaan lab memperlihatkan kadar kalsium dan fosfor yang rendah dan peningkatan moderat alkali fosfatase. Kalsium urine dan ekresi urine dan eksresi kreatinin rendah. Biopsy tulang menunjukkan peningkatan jumlah osteoid. E. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. PENATALAKSANAAN koreksi penyebab dasar osteomalasia bila memungkinkan. bila osteomalasia akibat kesalahan diet, maka perlu diberikan diet kaya protein dan kalsium dan vitamin D tinggi. suplemen vitamin D harus diresepkan, vitamin D akan meningkatkan konsentrasi kalsium dan fosfat dalam cairan ekstra sel sehingga tersedia ion kalsium fosfat untuk menetralisasi tulang bila disebabkan oleh malabsorpsi, penambahan dosis vitamin D selain suplemen kalsium biasanya diresepkan. pemajanan sinar matahari sebagai radiasi sinar ultraviolet untuk mentransformasi bahan kolesterol yang tersedia dikulit menjadi vitamin D dianjurkan. sering masalah skelet yang berhubungan dengan osteomalasia sembuh sendiri bila kekurangan nutrisi atau proses patologis yang mendasarinya telah ditangani secara adekuat. pemantauan jangka panjang klien diperlukan untuk meyakinkan stabilitasi atau kekambuhan osteomlasia. berbagai deformitas ortopedik persisten mungkin perlu ditangani dengan pembedahan.

KONSEP DASAR KEPERAWATAN A. PENGKAJIAN 1. klien dengan osteomalasia biasanya mengeluh nyeri tulng namun pada punggung bawah dan ekstremitas disertai dengan nyeri tekan. 2. gambaran ketidaknyamanan tidak jelas. Klien mungkin datang dengan fraktur. Selama wawancara, informasi mengenai penyakit yang juga ada dan kebiasaan diet harus diperoleh. 3. pada pemeriksaan fisik didapatkan deformitas skelet.deformitas vetebrata dan deformitas lengkungan tulang panjang membuat penampakan klien menjadi tidak normal dan jalannya membebek.dapat terjadi kelemahan otot. Klien ini merasa tidak nyamn dengan penampilan mereka. B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Kurangnya pengetahuan mengenai proses penyakit dan program tindakan 2. Nyeri yang berhubungan dengan penekanan tulang dan kemungkinan fraktur 3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan tungkai melengkung, jalan bebek, deformitas vetebrata. C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI Tujuan Sasaran utama klien dengan osteomalasia dapat meliputi pengetahuan mengenai proses penyakit dan program tindakan, peredaan nyeri dan perbaikan konsep diri. Intervensi Keperawatan

Pemahaman Proses Penyakit dan Program Tindakan 1. Berikan pendidikan pada klien yang difokuskan pada penyebab osteomalasia dan pendekatan untuk mengontrolnya. 2. Berikan informasi mengenai sumber kalsium dan vitamin D 3. kaji keamanan penggunaan suplemen. Karena vitamin D dosis tinggi sangat toksik dan meningkatkan risiko hiperkalsemia, maka perlu ditekankan pentingnya pemantauan kadar kalsium serum. 4. dorong aktivitas diluar rumah untuk memanjakan kulit pada sinar ultraviolet matahari, yang diperlukan untuk memproduksi vitamin D dalam tubuh. Meredakan Nyeri 1. anjurkan klien agar tidak melakukan perubahan posisi yang sering sebab dapat mengurangi ketidaknyamanan karena imobilitas. 2. berikan bantuan harus dilakukan dengan cara yang sangat lembut ketika klien ingin mengubah posisi. Karena klien mengalami nyeri tekan skelet. 3. berikan kasur busa yang padat dan bantal lembut, berikan dukungan tubuh dan memberi kenyamanan pada deformitas yang ada. 4. alihkan perhatian klien dengan melakukan aktivitas diversional dan pemusatan pada pembicaraan, nonton televisi dan kegiatan santai lainnya, dapat menukarkan persepsi nyeri pasien 5. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik, mengurangi ketidaknyamanan. 6. pantau respon klien terhadap terapi, ketidaknyamanan skelet akan berkurang. Memperbaiki konsep diri 1. bila telah terbentuk hubungan yang saling percaya dengan perawat yang ada, klien merasa berani untuk mendiskusikan setiap perubahan pada citra diri dan metoda untuk menghadapi adanya perubahan tadi. 2. klien didorong untuk mengenali dan menggunakan kekuatan yang dimilikinya dan dimasukkan dalam perencanaan asuhan, sebagai partisipasi yang aktif dapat memperbaiki control diri dan meningkatkan perasaan harga diri. 3. interaksi dengan keluarga dan sahabat perlu didorong. 4. interaksi social dapat membantu memberikan rasa diterima tanpa memperhatikan perubahan fisik yang terjadi D. EVALUASi Hasil yang diharapkan 1. menjelaskan proses penyakit dan program penanganannya. a. menerangkan factor spesifik yang berperan dalam proses penyakit b. mengkomumsi kalsium dan vitamin D sesuai jumlah terapeutik c. pemanasan terhadap sinar matahari d. selalu memantau kadar kalsium serum sepanjang program terapi e. selalu menepati perjanjian kesehatan tindak lanjut 2. mengalami peredaan nyeri a. melaporkan perasaan nyaman b. melaporkan peredaan nyeri pada tulang 3. menganjurkan peningkatan konsep diri a. menunjukan kepercayaan diri mengenai kemampuannya b. meningkatkan tingkat aktivitasnya c. meningkatkan interaksi social

AIDS TINJAUAN TEORITIS 2.1 Definisi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV. Pengertian AIDS menurut beberapa ahli antara lain: 1. AIDS adalah infeksi oportunistik yang menyerang seseorang dimana mengalami penurunan sistem imun yang mendasar ( sel T berjumlah 200 atau kurang )dan memiliki antibodi positif terhadap HIV. (Doenges, 1999) 2. AIDS adalah suatu kumpulan kondisi klinis tertentu yang merupakan hasil akhir dari infeksi oleh HIV. (Sylvia, 2005) 2.2 Etiologi HIV yang dahulu disebut virus limfotrofik sel T manusia tipe III (HTLV-III) atau virus limfadenapati (LAV), adalah suatu retrovirus manusia sitopatik dari famili lentivirus. Retrovirus mengubah asam ribonukleatnya (RNA) menjadi asam deoksiribonukleat (DNA) setelah masuk ke dalam sel pejamu. HIV -1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Genom HIV mengode sembilan protein yang esensial untuk setiap aspek siklus hidup virus. Dari segi struktur genomik, virus-virus memiliki perbedaan yaitu bahwa protein HIV-1, Vpu, yang membantu pelepasan virus, tampaknya diganti oleh protein Vpx pada HIV-2. Vpx meningkatkan infektivitas (daya tular) dan mungkin merupakan duplikasi dari protein lain, Vpr. Vpr diperkirakan meningkatkan transkripsi virus. HIV-2, yang pertama kali diketahui dalam serum dari para perempuan Afrika barat (warga senegal) pada tahun 1985, menyebabkan penyakit klinis tetapi tampaknya kurang patogenik dibandingkan dengan HIV1 (Sylvia, 2005) 2.3 Cara Penularan Cara penularan AIDS ( Arif, 2000 )antara lain sebagai berikut : 1. Hubungan seksual, dengan risiko penularan 0,1-1% tiap hubungan seksual 2. Melalui darah, yaitu: a. Transfusi darah yang mengandung HIV, risiko penularan 90-98% b. Tertusuk jarum yang mengandung HIV, risiko penularan 0,03% c. Terpapar mukosa yang mengandung HIV,risiko penularan 0,0051% 3. Transmisi dari ibu ke anak a. Selama kehamilan b. Saat persalinan, risiko penularan 50% c. Melalui air susu ibu(ASI)14% 2.4 Manifestasi Klinis Gambaran klinis infeksi HIV dapat disebabkan HIV-nya sendiri (sindrom retroviral akut, demensia HIV), infeksi ofortunistik, atau kanker yang terkait AIDS. Perjalanan penyakit HIV dibagi dalam tahap-tahap berdasarkan keadaan klinis dan jumlah CD4.( Arif Mansjoer, 2000 ) 1. Infeksi retroviral akut Frekuensi gelaja infeksi retroviral akut sekitar 50-90%. Gambaran klinis menunjukkan demam, pembesaran kelenjar, hepatoplemagali, nyeri tenggorokan, mialgia, rash seperti morbili, ulkus pada mukokutan, diare, leukopenia, dan limfosit atipik. Sebagian pasien mengalami gangguan neorologi seperti mrningitis asepik, sindrom Gillain Barre, atau psikosis akut. Sindrom ini biasanya sembuh sendiri tanpa pengobatan.

2. Masa asimtomatik Pada masa ini pasien tidak menunjukkan jegala,tetapi dapat terjadi limfadenopati umum. Penurunan jumlah CD4 terjadi bertahap, disebut juga masa jendela (window period). 3. Masa gejala dini Pada masa ini julah CD4 berkisar antar 100-300. Gejala yang timbul adalah akibat infeksi pneumonia bakterial, kandidosis vagina, sariawan, herped zoster, leukoplakia, ITP, dan tuberkolosis paru. Masa ini dulu disebut AIDS Related Complex(ARC) 4. Masa gejala lanjut Pada masa ini jumlah CD4 dibawah 200. Penurunan daya tahan ini menyebabkan risiko tinggi rendahnya infeksi oportunistik berat atau keganasan. 2.5 Patofisiologi Penyakit AIDS disebabkan oleh Virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan antara 10 minggu sampai 10 tahun. Diperkirakan sekitar 50% orang yang terinfeksi HIV akan menunjukan gejala AIDS dalam 5 tahun pertama, dan mencapai 70% dalam sepuluh tahun akan mendapat AIDS. Berbeda dengan virus lain yang menyerang sel target dalam waktu singkat, virus HIVmenyerang sel target dalam jangka waktu lama. Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya. Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit.Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker. Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi. Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya

kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang. Setelah virus HIVmasuk ke dalam tubuh dibutuhkan waktu selama 3-6 bulan sebelum titer antibodi terhadap HIVpositif. Fase ini disebut periode jendela (window period). Setelah itu penyakit seakan berhenti berkembang selama lebih kurang 1-20 bulan, namun apabila diperiksa titer antibodinya terhadap HIV tetap positif (fase ini disebut fase laten) Beberapa tahun kemudian baru timbul gambaran klinik AIDS yang lengkap (merupakan sindrom/kumpulan gejala). Perjalanan penyakit infeksi HIVsampai menjadi AIDS membutuhkan waktu sedikitnya 26 bulan, bahkan ada yang lebih dari 10 tahun setelah diketahui HIV positif. (Heri : 2012) 2.7 Komplikasi Adapun komplikasi kien dengan HIV/AIDS (Arif Mansjoer, 2000 ) antara lain : 1. Pneumonia pneumocystis (PCP) 2. Tuberculosis (TBC) 3. Esofagitis 4. Diare 5. Toksoplasmositis 6. Leukoensefalopati multifocal prigesif 7. Sarcoma Kaposi 8. Kanker getah bening 9. Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV) 2.8 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS (Arif Mansjoer, 2000) adalah 1. Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik dan kanker yang terkait dengan AIDS. 2. Telusuri perilaku berisiko yang memmungkinkan penularan. 3. Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi oportunistik dan kanker terkait. Jangan lupa perubahan kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan funduskopi. 4. Dalam pemeriksaan penunjang dicari jumlah limfosot total, antibodi HIV, dan pemeriksaan Rontgen. Bila hasil pemeriksaan antibodi positif maka dilakukan pemeriksaan jumlah CD4, protein purufied derivative (PPD), serologi toksoplasma, serologi sitomegalovirus, serologi PMS, hepatitis, dan pap smear. Sedangkan pada pemeriksaan follow up diperiksa jumlah CD4. Bila >500 maka pemeriksaan diulang tiap 6 bulan. Sedangkan bila jumlahnya 200-500 maka diulang tiap 3-6 bulan, dan bila <200 diberikan profilaksi pneumonia pneumocystis carinii. Pemberian profilaksi INH tidak tergantung pada jumlah CD4. Perlu juga dilakukan pemeriksaan viral load untuk mengetahui awal pemberian obat antiretroviral dan memantau hasil pengobatan. Bila tidak tersedia peralatan untuk pemeriksaan CD4 (mikroskop fluoresensi atau flowcytometer) untuk kasus AIDS dapat digunakan rumus CD4 = (1/3 x jumlah limfosit total)-8. 2.9 Penatalaksanaan 1. Medis Apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka terapinya yaitu (Endah Istiqomah : 2009) : a. Pengendalian Infeksi Opurtunistik

Bertujuan menghilangkan,mengendalikan, dan pemulihan infeksi opurtunistik, nasokomial, atau sepsis. Tidakan pengendalian infeksi yang aman untuk mencegah kontaminasi bakteri dan komplikasi penyebab sepsis harus dipertahankan bagi pasien dilingkungan perawatan kritis. b. Terapi AZT (Azidotimidin) Disetujui FDA (1987) untuk penggunaan obat antiviral AZT yang efektif terhadap AIDS, obat ini menghambat replikasi antiviral Human Immunodeficiency Virus (HIV) dengan menghambat enzim pembalik traskriptase. AZT tersedia untuk pasien AIDS yang jumlah sel T4 nya <>3 . Sekarang, AZT tersedia untuk pasien dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV) positif asimptomatik dan sel T4 > 500 mm3 c. Terapi Antiviral Baru Beberapa antiviral baru yang meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi virus / memutuskan rantai reproduksi virus pada prosesnya. Obat-obat ini adalah : Didanosine Ribavirin Diedoxycytidine Recombinant CD 4 dapat larut d. Vaksin dan Rekonstruksi Virus Upaya rekonstruksi imun dan vaksin dengan agen tersebut seperti interferon, maka perawat unit khusus perawatan kritis dapat menggunakan keahlian dibidang proses keperawatan dan penelitian untuk menunjang pemahaman dan keberhasilan terapi AIDS. 2. Diet Penatalaksanaan diet untuk penderita AIDS (UGI:2012) adalah a. Tujuan Umum Diet Penyakit HIV/AIDS adalah: 1) Memberikan intervensi gizi secara cepat dengan mempertimbangkan seluruh aspek dukungan gizi pada semua tahap dini penyakit infeksi HIV. 2) Mencapai dan mempertahankan berat badan secara komposisi tubuh yang diharapkan, terutama jaringan otot (Lean Body Mass). 3) Memenuhi kebutuhan energy dan semua zat gizi. 4) Mendorong perilaku sehat dalam menerapkan diet, olahraga dan relaksasi. b. Tujuan Khusus Diet Penyakit HIV/AIDS adalah: 1) Mengatasi gejala diare, intoleransi laktosa, mual dan muntah. 2) Meningkatkan kemampuan untuk memusatkan perhatian, yang terlihat pada: pasien dapat membedakan antara gejala anoreksia, perasaan kenyang, perubahan indra pengecap dan kesulitan menelan. 3) Mencapai dan mempertahankan berat badan normal. 4) Mencegah penurunan berat badan yang berlebihan (terutama jaringan otot). 5) Memberikan kebebasan pasien untuk memilih makanan yang adekuat sesuai dengan kemampuan makan dan jenis terapi yang diberikan. c. Syarat-syarat Diet HIV/AIDS adalah: 1) Energi tinggi. Pada perhitungan kebutuhan energi, diperhatikan faktor stres, aktivitas fisik, dan kenaikan suhu tubuh. Tambahkan energi sebanyak 13% untuk setiap kenaikan Suhu 1C. 2) Protein tinggi, yaitu 1,1 1,5 g/kg BB untuk memelihara dan mengganti jaringan sel tubuh yang rusak. Pemberian protein disesuaikan bila ada kelainan ginjal dan hati. 3) Lemak cukup, yaitu 10 25 % dari kebutuhan energy total. Jenis lemak disesuaikan dengan toleransi pasien. Apabila ada malabsorpsi lemak, digunakan lemak dengan ikatan

rantai sedang (Medium Chain Triglyceride/MCT). Minyak ikan (asam lemak omega 3) diberikan bersama minyak MCT dapat memperbaiki fungsi kekebalan. 4) Vitamin dan Mineral tinggi, yaitu 1 kali (150%) Angka Kecukupan Gizi yang di anjurkan (AKG), terutama vitamin A, B12, C, E, Folat, Kalsium, Magnesium, Seng dan Selenium. Bila perlu dapat ditambahkan vitamin berupa suplemen, tapi megadosis harus dihindari karena dapat menekan kekebalan tubuh. 5) Serat cukup; gunakan serat yang mudah cerna. 6) Cairan cukup, sesuai dengan keadaan pasien. Pada pasien dengan gangguan fungsi menelan, pemberian cairan harus hati-hati dan diberikan bertahap dengan konsistensi yang sesuai. Konsistensi cairan dapat berupa cairan kental (thick fluid), semi kental (semi thick fluid) dan cair (thin fluid). 7) Elektrolit. Kehilangan elektrolit melalui muntah dan diare perlu diganti (natrium, kalium dan klorida). 8) Bentuk makanan dimodifikasi sesuai dengan keadaan pasien. Hal ini sebaiknya dilakukan dengan cara pendekatan perorangan, dengan melihat kondisi dan toleransi pasien. Apabila terjadi penurunan berat badan yang cepat, maka dianjurkan pemberian makanan melalui pipa atau sonde sebagai makanan utama atau makanan selingan. 9) Makanan diberikan dalam porsi kecil dan sering. 10) Hindari makanan yang merangsang pencernaan baik secara mekanik, termik, maupun kimia. d. Jenis Diet dan Indikasi Pemberian Diet AIDS diberikan pada pasien akut setelah terkena infeksi HIV, yaitu kepada pasien dengan: 1) Infeksi HIV positif tanpa gejala. 2) Infeksi HIV dengan gejala (misalnya panas lama, batuk, diare, kesulitan menelan, sariawan dan pembesaran kelenjar getah bening). 3) Infeksi HIV dengan gangguan saraf. 4) Infeksi HIV dengan TBC. 5) Infeksi HIV dengan kanker dan HIV Wasting Syndrome. Makanan untuk pasien AIDS dapat diberikan melalui tiga cara, yaitu secara oral, enteral(sonde) dan parental(infus). Asupan makanan secara oral sebaiknya dievaluasi secara rutin. Bila tidak mencukupi, dianjurkan pemberian makanan enteral atau parental sebagai tambahan atau sebagai makanan utama. Ada tiga macam diet AIDS yaitu Diet AIDS I, II dan III. 1) Diet AIDS I Diet AIDS I diberikan kepada pasien infeksi HIV akut, dengangejala panas tinggi, sariawan, kesulitan menelan, sesak nafas berat, diare akut, kesadaran menurun, atau segera setelah pasien dapat diberi makan.Makanan berupa cairan dan bubur susu, diberikan selama beberapa hari sesuai dengan keadaan pasien, dalam porsi kecil setiap 3 jam. Bila ada kesulitan menelan, makanan diberikan dalam bentuk sonde atau dalam bentuk kombinasi makanan cair dan makanan sonde. Makanan sonde dapat dibuat sendiri atau menggunakan makanan enteral komersial energi dan protein tinggi. Makanan ini cukup energi, zat besi, tiamin dan vitamin C. bila dibutuhkan lebih banyak energy dapat ditambahkan glukosa polimer (misalnya polyjoule). 2) Diet AIDS II Diet AIDS II diberikan sebagai perpindahan Diet AIDS I setelah tahap akut teratasi. Makanan diberikan dalam bentuk saring atau cincang setiap 3 jam. Makanan ini rendah nilai gizinya dan membosankan. Untuk memenuhi kebutuhan energy dan zat gizinya, diberikan makanan enteral atau sonde sebagai tambahan atau sebagai makanan utama.

3) Diet AIDS III Diet AIDS III diberikan sebagai perpindahan dari Diet AIDS II atau kepada pasien dengan infeksi HIV tanpa gejala. Bentuk makanan lunak atau biasa, diberikan dalam porsi kecil dan sering. Diet ini tinggi energy, protein, vitamin dan mineral. Apabila kemampuan makan melalui mulut terbatas dan masih terjadi penurunan berat badan, maka dianjurkan pemberian makanan sonde sebagai makanan tambahan atau makanan utama. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN 3.1 Pengkajian Keperawatan Pengkajian keperawatan untuk penderita AIDS (Doenges, 1999) adalah 1. Aktivitas / istirahat. Mudah lelah, berkurangnya toleransi terhadap aktivitas biasanya, malaise 2. Sirkulasi. Takikardia , perubahan TD postural, pucat dan sianosis. 3. Integritas ego. Alopesia , lesi cacat, menurunnya berat badan, putus asa, depresi, marah, menangis. 4. Elimiinasi. Feses encer, diare pekat yang sering, nyeri tekanan abdominal, abses rektal. 5. Makanan / cairan. Disfagia, bising usus, turgor kulit buruk, lesi pada rongga mulut, kesehatan gigi / gusi yang buruk, dan edema. 6. Neurosensori. Pusing, kesemutan pada ekstremitas, konsentrasi buruk, apatis, dan respon melambat. 7. Nyeri / kenyamanan. Sakit kepala, nyeri pada pleuritis, pembengkakan pada sendi, penurunan rentang gerak, dan gerak otot melindungi pada bagian yang sakit. 8. Pernafasan. Batuk, Produktif / non produktif, takipnea, distres pernafasan. 3.2 Diagnosa, Intervensi dan Rasional Tindakan Keperawatan. Diagnosa, intervensi dan rasional tindakan keperawatan (Doenges, 1999) adalah 1. Diagnosis Keperawatan : nyeri berhubungan dengan inflamasi/ kerusakan jaringan ditandai dengan keluhan nyeri, perubahan denyut nadi, kejang otot, ataksia, lemah otot dan gelisah. Hasil yang diharapkan : keluhan hilang, menunjukkan ekspresi wajah rileks,dapat tidur atau beristirahat secara adekuat. INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi, Mengindikasikan kebutuhan untuk intensitas, frekuensi dan waktu. intervensi dan juga tanda-tanda Tandai gejala nonverbal misalnya perkembangan komplikasi. gelisah, takikardia, meringis. Instruksikan pasien untuk Meningkatkan relaksasi dan perasaan menggunakan visualisasi atau sehat. imajinasi, relaksasi progresif, teknik nafas dalam. Dorong pengungkapan perasaan Dapat mengurangi ansietas dan rasa sakit, sehingga persepsi akan intensitas rasa

Berikan analgesik atau antipiretik narkotik. Gunakan ADP (analgesic yang dikontrol pasien) untuk memberikan analgesia 24 jam. Lakukan tindakan paliatif misal pengubahan posisi, masase, rentang gerak pada sendi yang sakit. 2.

sakit. M,emberikan penurunan nyeri/tidak nyaman, mengurangi demam. Obat yang dikontrol pasien berdasar waktu 24 jam dapat mempertahankan kadar analgesia darah tetap stabil, mencegah kekurangan atau kelebihan obat-obatan. Meningkatkan relaksasi atau menurunkan tegangan otot.

Diagnosis keperawatan : perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh dihubungkan dengan gangguan intestinal ditandai dengan penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, kejang perut, bising usus hiperaktif, keengganan untuk makan, peradangan rongga bukal. Hasil yang harapkan : mempertahankan berat badan atau memperlihatkan peningkatan berat badan yang mengacu pada tujuan yang diinginkan, mendemostrasikan keseimbangan nitrogen po;sitif, bebas dari tanda-tanda malnutrisi dan menunjukkan perbaikan tingkat energy. INTERIVENSI KEPERAWATAN RASIONAL Kaji kemampuan untuk mengunyah, Lesi mulut, tenggorok dan perasakan dan menelan. esophagus dapat menyebabkan disfagia, penurunan kemampuan pasien untuk mengolah makanan dan mengurangi keinginan untuk makan. Auskultasi bising usus Hopermotilitas saluran intestinal umum terjadi dan dihubungkan dengan muntah dan diare, yang dapat mempengaruhi pilihan diet atau cara makan. Rencanakan diet dengan orang terdekat, jika Melibatkan orang terdekat dalam memungkinakan sarankan makanan dari rencana member perasaan rumah. Sediakan makanan yang sedikit control lingkungan dan mungkin tapi sering berupa makanan padat meningkatkan pemasukan. nutrisi, tidak bersifat asam dan juga Memenuhi kebutuhan akan minuman dengan pilihan yang disukai makanan nonistitusional pasien. Dorong konsumsi makanan mungkin juga meningkatkan berkalori tinggi yang dapat merangsang pemasukan. nafsu makan Batasi makanan yang menyebabkan mual Rasa sakit pada mulut atau atau muntah. Hindari menghidangkan ketakutan akan mengiritasi lesi makanan yang panas dan yang susah pada mulut mungkin akan untuk ditelan menyebabakan pasien enggan untuk makan. Tindakan ini akan berguna untuk meningkatakan

Tinjau ulang pemerikasaan laboratorium, misal BUN, Glukosa, fungsi hepar, elektrolit, protein, dan albumin. Berikan obat anti emetic misalnya metoklopramid. 3.

pemasukan makanan. Mengindikasikan status nutrisi dan fungsi organ, dan mengidentifikasi kebutuhan pengganti. Mengurangi insiden muntah dan meningkatkan fungsi gaster

Diagnosa keperawatan : resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare berat Hasil yang diharapkan : mempertahankan hidrasi dibuktikan oleh membrane mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda-tanda vital baik, keluaran urine adekuat secara pribadi. INTERVESI KEPERAWATAN RASIONAL Pantau pemasukan oral dan pemasukan Mempertahankan keseimbangan cairan, cairan sedikitnya 2.500 ml/hari. mengurangi rasa haus dan melembabkan membrane mukosa. Buat cairan mudah diberikan pada pasien; Meningkatkan pemasukan cairan gunakan cairan yang mudah tertentu mungkin terlalu ditoleransi oleh pasien dan yang menimbulkan nyeri untuk menggantikan elektrolit yang dikomsumsi karena lesi pada mulut. dibutuhkan, misalnya Gatorade. Kaji turgor kulit, membrane mukosa dan Indicator tidak langsung dari status rasa haus. cairan. Hilangakan makanan yang potensial Mungkin dapat mengurangi diare menyebabkan diare, yakni yang pedas, berkadar lemak tinggi, kacang, kubis, susu. Mengatur kecepatan atau konsentrasi makanan yang diberikan berselang jika dibutuhkan Nerikan obat-obatan anti diare misalnya Menurunkan jumlah dan keenceran ddifenoksilat (lomotil), loperamid feses, mungkin mengurangi kejang Imodium, paregoric. usus dan peristaltis. 4. Diagnosa keperawatan : resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses infeksi dan ketidak seimbangan muskuler (melemahnya otot-otot pernafasan) Hasil yang diharapkan: mempertahankan pola nafas efektif dan tidak mengalami sesak nafas. INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL Auskultasi bunyi nafas, tandai daerah Memperkirakan adanya perkembangan paru yang mengalami penurunan, atau komplikasi atau infeksi pernafasan, kehilangan ventilasi, dan munculnya misalnya pneumoni, bunyi adventisius. Misalnya krekels, mengi, ronki. Catat kecepatan pernafasan, sianosis, Takipnea, sianosis, tidak dapat peningkatan kerja pernafasan dan beristirahat, dan peningkatan munculnya dispnea, ansietas nafas, menuncukkan kesulitan pernafasan dan adanya kebutuhan

Tinggikan kepala tempat tidur. Usahakan pasien untuk berbalik, batuk, menarik nafas sesuai kebutuhan. Berikan tambahan O2 Yng dilembabkan melalui cara yang sesuai misalnya kanula, masker, inkubasi atau ventilasi mekanis 5.

untuk meningkatkan pengawasan atau intervensi medis Meningkatkan fungsi pernafasan yang optimal dan mengurangi aspirasi atau infeksi yang ditimbulkan karena atelektasis. Mempertahankan oksigenasi efektif untuk mencegah atau memperbaiki krisis pernafasan

Diagnose keperawatan : Intoleransi aktovitas berhubungan dengan penurunan produksi metabolisme ditandai dengan kekurangan energy yang tidak berubah atau berlebihan, ketidakmampuan untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari, kelesuan, dan ketidakseimbangan kemampuan untuk berkonsentrasi. Hasil yang diharapkan : melaporkan peningkatan energy, berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan dalam tingkat kemampuannya. INTERVENSI KEPERAWATAN RASIONAL Kaji pola tidur dan catat perunahan dalam Berbagai factor dapat meningkatkan proses berpikir atau berperilaku kelelahan, termasuk kurang tidur, tekanan emosi, dan efeksamping obat-obatan Rencanakan perawatan untuk Periode istirahat yang sering sangat yang menyediakan fase istirahat. Atur dibutuhkan dalam memperbaiki atau aktifitas pada waktu pasien sangat menghemat energi. Perencanaan berenergi akan membuat pasien menjadi aktif saat energy lebih tinggi, sehingga dapat memperbaiki perasaan sehat dan control diri. Dorong pasien untuk melakukan apapun Memungkinkan penghematan energy, yang mungkin, misalnya perawatan peningkatan stamina, dan diri, duduk dikursi, berjalan, pergi mengijinkan pasien untuk lebih aktif makan tanpa menyebabkan kepenatan dan rasa frustasi. Pantau respon psikologis terhadap Toleransi bervariasi tergantung pada aktifitas, misal perubahan TD, status proses penyakit, status nutrisi, frekuensi pernafasan atau jantung keseimbangan cairan, dan tipe penyakit. Rujuk pada terapi fisik atau okupasi Latihan setiap hari terprogram dan aktifitas yang membantu pasien mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan tonus otot 4.1 Simpulan 1. AIDS adalah sekumpulan gejala dan infeksi atau sindrom yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.

2. 3. 4. a. b. c. d. 5.

6. 7.

8.

9. a. b. c. d. e.

Etiologi AIDS disebabkan oleh virus HIV-1 dan HIV-2 adalah lentivirus sitopatik, dengan HIV-1 menjadi penyebab utama AIDS diseluruh dunia. Cara penularan AIDS yaitu melalui hubungan seksual, melalui darah ( transfuse darah, penggunaan jarum suntik dan terpapar mukosa yang mengandung AIDS), transmisi dari ibu ke anak yang mengidap AIDS. Manifestasi klinis AIDS yaitu Infeksi retroviral akut : gambaran klinis menunjukkan demam, pembesaran kelenjar, hepatoplemagali, nyeri tenggorokan, mialgia, rash seperti morbili, ulkus pada mukokutan, diare, leukopenia, dan limfosit atipik. Masa asimfomatik : pada masa ini pasien tidak menunjukkan jegala,tetapi dapat terjadi limfadenopati umum. penurunan jumlah cd4 terjadi bertahap, disebut juga masa jendela (window period). Masa gejala dini : gejala yang timbul adalah akibat infeksi pneumonia bakterial, kandidosis vagina, sariawan, herped zoster, leukoplakia, itp, dan tuberkolosis paru. Masa gejala akut : pada masa ini jumlah cd 4 dibawah 200. penurunan daya tahan ini menyebabkan risiko tinggi rendahnya infeksi oportunistik berat atau keganasan. Patofisiologis AIDS yaitu disebabkan oleh virus HIV. Masa inkubasi AIDS diperkirakan 10 minggu -10 tahun. Virus menempel pada limfosit T penolong atau CD4 dan menghancurkannya sehingga terjadi kelemahan system kekebalan tubuh. HIV juga menyebabkan gangguan limfosit B sehingga menyebabkan produksi antibody meningkat tapi antibody yang dihasilkan tidak banyak membantu infeksi yang disebabkan HIV. Pemeriksaan diagnostic untuk penderita AIDS yaitu dengan memeriksa jumlah limfosit, antibody HIV dan pemeriksaan rotgen. Komplikasi kien dengan HIV/AIDS antara lain Pneumonia pneumocystis (PCP) , Tuberculosis (TBC), Esofagitis, Diare, Toksoplasmositis, Leukoensefalopati multifocal prigesif, Sarcoma Kaposi, Kanker getah bening, Kanker leher rahim (pada wanita yang terkena HIV). Penatalaksanaan medis untuk penderita AIDS yaitu dengan pengendalian infeksi oportunistik, terapi AZT, terapi antiviral baru, vaksin dan rekonstruksi baru, sedangkan penatalaksanaan dietnya yaitu dengan member makanan untuk pasien AIDS, dapat diberikan melalui tiga cara, yaitu secara oral, enteral(sonde) dan parental(infus), jenis diet aids ada 3 yaitu diet I,diet II, diet III. Diagnosa untuk AIDS adalah Nyeri berhubungan dengan inflamasi/ kerusakan jaringan ditandai dengan keluhan nyeri, perubahan denyut nadi, kejang otot, ataksia, lemah otot dan gelisah. Perubahan nutrisi yang kurang dari kebutuhan tubuh dihubungkan dengan gangguan intestinal ditandai dengan penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, kejang perut, bising usus hiperaktif, keengganan untuk makan, peradangan rongga bukal. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan diare berat Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan proses infeksi dan ketidak seimbangan muskuler (melemahnya otot-otot pernafasan) Intoleransi aktovitas berhubungan dengan penurunan produksi metabolisme ditandai dengan kekurangan energy yang tidak berubah atau berlebihan, ketidakmampuan untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari, kelesuan, dan ketidakseimbangan kemampuan untuk berkonsentrasi.

Macam/Jenis Gangguan Pada Tulang Dan Sendi Tulang Manusia - Pengertian / Arti Definisi Penyakit Manusia memiliki tulang dan sendi (sistem gerak) yang memiliki banyak fungsi untuk menunjang kehidupan manusia. Tanpa kondisi fit tulang dan sendi, manusia akan kesulitan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Berikut ini adalah beberaa bentuk kelainan / gangguan tulang dan sendi pada orang dari organisasi.org. A. Kelainan / Gangguan Pada Tulang Belakang / Spinal Manusia 1. Kiposis / Kyphosis Kiposis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke depan yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok 2. Lordosis Lordosis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke belakang yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok ke belakang. 3. Skoliosis / Scoliosis / Skeliosis Skoliosis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke samping baik kiri atau kanan yang membuat penderita bungkuk ke samping. 4. Sublubrikasi Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang belakang pada bagian leher yang menyebabkan kepala penderita gangguan tersebut berubah arah ke kiri atau ke kanan. B. Kelainan / Gangguan Pada Sendi Manusia 1. Keseleo / Terkilir / Sprained Terkilir atau keseleo adalah gangguan sendi akibat gerakan pada sendi yang tidak biasa, dipaksakan atau bergerak secara tiba-tiba. Umumnya kesleo bisa menyebabkan rasa yang sangat sakit dan bengkak pada bagian yang keseleo. 2. Dislokasi / Dislocation Dislokasi adalah gangguan pada sendi seseorang di mana terjadi pergeseran dari kedudukan awal. 3. Artritis / Arthritis Artritis adalah radang sendi yang memberikan rasa sakit dan terkadang terjadi perubahan posisi tulang. Salah satu contoh artritis yang terkenal adalah rematik. 4. Ankilosis / Ankylosis Ankilosis adalah gangguan pada sendi di menyababkan sendi tidak dapat digerakkan di mana ujung-ujung antar tulang serasa bersatu. C. Kelainan/Gangguan Retak Tulang / Patah Tulang / Fraktura / Fracture Fraktura tulang adalah ratak tulang atau patah tulang yang umumnya terjadi akibat benturan, kelebihan beban, tekanan, dan lain sebagainya. Fraktura tulang sederhana yaitu keretakan tulang yang tidak melukai organ-organ yang ada di sekelilingnya. Fraktura kompleks adalah keretakan tulang yang menyebabkan luka pada organ di sekitarnya. D. Kelainan / Gangguan Fisiologik 1. Mikrosefalus / Microcephalus Mikrosefalus adalah kelainan pertumbuhan terkorak kepala yang menyebabkan kepala penderita terlihat lebih kecil dari normal. 2. Osteoporosis Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang rapuh. keropos dan mudah patah. Umumnya osteoporisis disebabkan oleh hormon jantan / betina yang kurang sempurna atau akibat kekurangan asupan kalsium untuk tulang.

3. Rakitis / Rachitis / Rakhitis Rakitis adalah penyakit tulang yang terjadi akibat kurang vitamin D sehingga umumnya menyebabkan bentuk tulang kaki bengkok membentuk huruf O atau X. Macam-macam Penyakit pada Tulang dan Sendi a) Kekurangan Vitamin D Vitamin D (kalsiferol) adalah vitamin yang diperlukan untuk kalsifikasi (penulangan) pada tulang. Pada mamalia, vitamin D dapat disintesis oleh tubuh dari pro vitamin D dengan bantuan ultraviolet. Kekurangan vitamin D dapat terjadi jika tubuh tidak menerima sinar matahari yang cukup. Kekurangan vitamin D pada anak-anak menyebabkan rakhitis, biasanya terlihat pada pertumbuhannya yang terganggu dan kaki berbentuk O atau X. Pada orang dewasa kekurangan vitamin D dan zat kapur menyebabkan penyakit yang disebut osteomalasi.

b) Kecelakaan Gangguan pada tulang dapat berupa memar dan fraktura seperti berikut ini: 1. Memar Gangguan ini merupakan robeknya selaput sendi. Bila sobeknya selaput sendi diikuti lepasnya ujung tulang dari sendi disebut urai sendi. 2. Fraktura atau patah tulang dibedakan sebagai berikut: a. Patah tulang tertutup, bila tulang yang patah tidak merobek kulit. b. Patah tulang terbuka, bila tulang yang patah merobek kulit dan mencuat keluar. c. Fisura , bila tulang hanya retak. c) kebiasaan yang salah Kebiasaan duduk yang salah atau kebiasaan membawa beban disatu sisi tubuh saja dapat menyebabkan kelainan pada tulang seperti berikut ini:

1) Lordosis Lordosis adalah suatu gangguan pada tulang belakang di mana tulang belakang melengkung ke belakang yang mengakibatkan penderita menjadi terlihat bongkok ke belakang.

2) Kifosis Adalah jika tulang punggung dan tungging terlalu bengkok kebelakang. Kelainan ini dapat terjadi karena kebiasaan menulis yang terlalu membungkuk yang dilakukan selama bertahun tahun.

3) Skoliosis Skoliosis adalah jika ruas-ruas tulang belakang bengkok ke samping. Kelainan ini dapat terjadi

jika seseorang sering membebani salah satu sisi tulang belakang, dan kebiasaan ini dilakukan selama bertahun-tahun.

d) Nekrosa Nekrosa terjadi bila selaput tulang (periosteum) rusak sehingga bagian tulang tidak memperoleh makanan, lalu mati dan mengering. e) Gangguan persendian Macam gangguan pada persendian antara lain dislokasi, ankilosis, artritis, dan terkilir. 1) Dislokasi Dislokasi disebabkan bergesernya sendi dari kedudukan semula karena jaringan gantungnya (ligamentum) sobek. 2) Ankilosis Ankilosis adalah suatu keadaan persendian yang tidak dapat digerakkan karena seolah - olah menyatu.

3) Terkilir Terkilir adalah tertariknya ligamentum ke posisi yang tidak sesuai, tetapi sendi tidak bergeser. Terkilir dapat terjadi karena gerakan tiba-tiba atau gerakan yang jarang dan sulit dilakukan. 4) Artritis Artrisis adalah peradangan yang_terjadi pada sendi. Artrisis dapat dibedakan menjadi empat sebagai berikut: a. Artritis Gout Gout terjadi karena adanya timbunan asam urat pada sendi-sendi kecil terutama jari - jari tangan. Sebagai akibatnya ruas jari-jari membesar. b. Osteoartritis Osteoartritis adalah menipisnya tulang rawan sehingga mengalami degenerasi. Akibatnya, terjadi gangguan pada saat sendi digerakkan.

c. Artritis eskudatif Artrisis eskudatif adalah terisinya rongga sendi oleh cairan yang disebut getah radang. Penyakit ini terjadi karena serangan kuman. d. Artritis sika Artrisis sika adalah berkurangnya minyak sendi yang menyebabkan rasa nyeri saat tulang digerakkan. f) Serangan Kuman pada Sendi 1) Infeksi gonorhoe dan sifilis dapat menyerang persendian sehingga sendi menjadi kaku. 2) Layuh sendi adalah keadaan tidak bertenaga pada sendi yang disebabkan layuhnya tulang akibat infeksi sifilis ketika bayi dalam kandungan. g) Osteoporosis Yaitu suatu penyakit yang menyebabkan tingkat kepadatan tulang menurun.Osteoporosis menggerogoti kekuatan tulang, sehingga kekuataannya berkurang drastis, juga tulang cortical menipis dan secara eseluruhan tulang akan mudah patah. Penyakit ini mengintai orang yang sudah lanjut dan wanita yang memasuki masa menopause.

h) Rickets Rickets sering dialami oleh anak yang sedang tumbuh. Formasi tulang pada penderita rickets abnormal, yaitu terjadi penumpukan kalsium di dalam tulang karena terlalu banyak mengonsumsi susu berkalsium atau akibat radiasi sinar matahari.

i) Osteomyelitis Infeksi ini menyerang tulang dan diakibatkan oleh bacterimia atau sepsis, yang menyebar dan mengurangi kekuatan tulang. j) Sublubrikasi Sublubrikasi adalah kelainan pada tulang belakang pada bagian leher yang menyebabkan kepala penderita gangguan tersebut berubah arah ke kiri atau ke kanan. k) Artritis / Arthritis Artritis adalah radang sendi yang memberikan rasa sakit dan terkadang terjadi perubahan posisi tulang. Salah satu contoh artritis yang terkenal adalah rematik. l) Ankilosis / Ankylosis Ankilosis adalah gangguan pada sendi di menyababkan sendi tidak dapat digerakkan di mana ujung-ujung antar tulang serasa bersatu.

m) Mikrosefalus / Microcephalus Mikrosefalus adalah kelainan pertumbuhan terkorak kepala yang menyebabkan kepala penderita terlihat lebih kecil dari normal.

n) Osteomalacia Penyakit ini mengakibatkan tulang menjadi lunglai diakibatkan kekurangan vitamin D atau kesalahan metabolisme di dalam tubuh. Sama halnya dengan Osteoporosis, osteomalacia juga berpotensi membuat tulang cepat patah. HLA-B27 antigen HLA-B27 adalah tes darah untuk mencari protein yang ditemukan pada permukaan sel-sel darah putih. Protein ini disebut antigen leukosit manusia B27 (HLA-B27). Antigen leukosit manusia (HLAs) adalah protein yang membantu sistem kekebalan tubuh membedakan antara sel sendiri dan, zat berbahaya asing.