Anda di halaman 1dari 102

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH

KONSEP WILAYAH DAN PERWILAYAHAN


BAGIAN 1

Mangapa Kajian Wilayah

a. Pandangan Teoritis 1. 2. 3. Perubahan paradigma keilmuan, dari mono disiplin menjadi multidisiplin ilmu Sulitnya menyelesaikan masalah hanya dengan satu pandangan disiplin ilmu Ilmu wilayah adalah ilmu yang memadukan berbagai dimensi keilmuan, khususnya sosial dan lingkungan (fisik)

b. Pandangan Praktis (aplikasi untuk pembangunan) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pertumbuhan dan pemerataan pembangunan (growth with equity) diseluruh wilayah Menyeimbangkan pertumbuhan Mengurangi kesenjangan Mengarahkan kegiatan pembangunan sesuai potensi, permasalahan, dan prioritasnya Mengembangkan keterkaitan sosial ekonomi antar wilayah (pusatpinggiran, desa-kota) Mengelola sumberdaya local Partisipasi masyarakat dalam pembangunan Pengembangan wilayah khusus (wilayah tertinggal, rawan bencana, terisolir, perbatasan, dll) Konfigurasi geografis Indonesia

ILMU WILAYAH

Ilmu yang mempelajari tentang wilayah (region) dengan pendekatan sistem ( integrated dan comprehensif) serta bekerja dengan interdisipliner.

Ilmu wilayah memberikan pola dan kerangka spasial kepada ilmu-ilmu sosial dan fisik yang telah ada guna mengusahakan tercapainya keseimbangan sosio spasial (spatial equilibrium) di wilayah yang bersangkutan dengan memperhitungkan dimensi waktu (dinamik).

Sifat ilmu wilayah: Multidimensional (sektoral dan regional), integrated (terpadu), komprehensif (menyeluruh), interdisipliner.

LINGKUP KAJIAN ILMU WILAYAH


Mengkaji variasi wilayah dengan fokus sumberdaya dan hasil-hasil pembangunan. Contoh: dikotomi wilayah (kota-desa, industri-pertanian, pusatpinggiran, wilayah maju-terkebelakang), kesenjangan wilayah. a. Lingkup Substantif 1. Ekonomi, mengkaji faktor-faktor ekonomi yang mempengaruhi perkembangan suatu wilayah (pendayagunaan resource, investasi, dan lain-lain). 2. Social dan cultur, mengkaji tentang partisipasi, institusi, pemerataan, kesejahteraan, dan lain-lain. 3. Resource Manajement, berkaitan dengan isu pengelolaan lingkungan dan sumberdaya, seperti: carrying capacity dan sustainable development.

4. Spatial Organization, berhubungan dengan perspektif keruangan dalam mengkaji wilayah, seperti tata ruang kegiatan, proses, dan dinamika struktur ruang.

b. Lingkup Wilayah (Spasial), unit entitas sub nasional, mulai dengan unit propinsi, kabupaten hingga kecamatan. Selain itu juga wilayah dalam pengertian sistem ekologis, seperti DAS dan kawasan fungsional lainnya.

c. Lingkup Waktu, mempertimbangkan perkembangan antar waktu (dinamika wilayah) dan prediktif.

KEDUDUKAN ILMU WILAYAH DALAM GEOGRAFI

Geografi the study of the earths surface as the space within which the human population lives (Johnston, 1981).

Ada kesamaan objek (fokus) kajian antara geografi dan ilmu wilayah. Ilmu wilayah menggunakan 3 pendekatan geografi, yaitu analisis keruangan, analisis ekologi, dan analisis komplek wilayah. Selengkapnya dapat dilihat pada diagram berikut.

Gambar 2. Geografi dan Kajian Dinamika Wilayah


KEGIATAN MANUSIA (ekonomi, sosial, budaya, politik,dll)

STUDI DINAMIKA WILAYAH

ORGANISASI KERUANGAN

GEOGRAFI The study of the earths surface as the space within which the human population lives (Johnston, 1987)

HUBUNGAN MANUSIA LINGKUNGAN

LINGKUNGA N ALAM (tanah, batuan,air, udara, flora dan fauna)

ANALISA KERUANGAN (lokasi, jarak,ruang, aksesibilitas, dan interaksi keruangan)

ANALISA EKOLOGI (ekosistem)

ANALISA KOMPLEKS WILAYAH (analisa intraregional)

TEKNIK atau ALAT DASAR (Basic tools) : Kartografi Penginderaan jauh Lain-lain : Statistik Modelling

Sistem informasi geografi. Pengelolaan DAS. Pengembanga n sumberdaya terpadu. Bencana (baik alam maupun non alam). Kerjasama regional. Lokasi kegiatan (industri,pariwi sata,pertokoan ,perkantoran,d sb). Perencanaan pengembanga n wilayah,perkot aan,perdesaa,d ll.

WILAYAH (REGION)
Pandangan Terhadap Wilayah a. Pandangan Subjektif. Wilayah merupakan sarana untuk mencapai tujuan; hanya berupa buah pikiran; suatu model untuk membantu mempelajari (bagian) permukaan bumi. . Regions are a simple generalization of the human mind (Lzard) b. Pandangan Objektif. Wilayah adalah nyata ada, merujuk pada bagian permukaan bumi; wilayah alamiah (natural regions). Apa itu Wilayah ? Wilayah : Ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya, yang dibatasi oleh lingkup pengamatan tertentu. Ruang : wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk hidup lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. Kesatuan Geografis : dimensi geometri (ukuran) dan referensi geografis, dengan mengacu kepada wujud fisik wilayah. Unsur Terkait : unsur-unsur di dalam wilayah meliputi komponen alam (fisik dan biotik), komponen manusia (sosial, ekonomi, budaya), komponen buatan (hasil cipta manusia, teknologi). Wilayah sebagai sistem, dengan subsistem di dalamnya (Socio System dan Natural System/ecosystem). Dibatasi oleh lingkup pengamatan tertentu : 1.Homogenitas,

2.Heterogenitas, 3.Administrasi/Politik Kawasan Daearah : wilayah dengan fungsi tertentu : wilayah dalam batas kewenangan pemerintah

Wilayah terkait dengan pembangunan dan kepentingan administrasi. Oleh karena itu wilayah didefinisikan Sub Nasional (propinsi, kabupaten, kecamatan, desa), di atas rumah tangga (komunitas). Tergantung Hirarki (Tingkatan).

PENDEKATAN MENGENAL WILAYAH


A. Pendekatan Landscape Natural Landscape Cultural Landscpe

B. Pendekatan Lingkungan Lingkungan Alam (Biogeofisik) Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan

C. Pendekatan Sumberdaya Sumberdaya Alam Sumberdaya Manusia Sumberdaya Buatan (Teknologi)

WILAYAH SEBAGAI SISTEM


Pendekatan sistem sangat tepat dalam mengkaji wilayah, dengan segala komponen di dalamnya. Menuju Spatial Equilibrium. Pendekatan sistem terdiri dari : 1. Sistem Input, Proses, dan Output 2. Terdiri dari beberapa subsistem yang terhubungkan secara intergratif. Dua subsistem utama adalah subsistem social (Social System) dan Ekosistem, sebagai dwi tunggal. Dalam Social system terdiri dari ekonomi, politik, Sosial, dan kultur. 3. Integrated dan Komprehensif.

Kajian Wilayah ..examination of a things parts to find out their essential features spatial /regional analysis (Bruce Mitchell, 1998) : Location and distribution of phenomena interaction of phenomena between places and regions spatial / regional structure arragement, and organization spatial processes.

Gambar lewat
PIRAMIDA LANDSCAPE WILAYAH (KUNCI PEMAHAMAN)

KONSEPSI WILAYAH
NO 1
TIPOLOGI KONSEPSI WILAYAH

JENIS 1.Homogenoitas (Homogeneous region / formal region / uniform region 2.Heterogenitas (Functional region/organic region/nodal region)

DEFINISI - KRITERIA

KETERANGAN/CONTOH

Keseragaman dari Identifikasi batas terluar, properti (unsur/kriteria) dengan mengenali core yang ada dalam region (memiliki derajad wilayah baik sendiri deferensiasi yang tertinggi) maupun gabungan Pola interaksi dan Ide sentralitas dan interdependensi antar fungsional (ada wilayah inti sub sistem (sub area), =nodal dan hinterlandnya. dengan tekanan pada kegiatan manusia 2 Berdasarkan Klasifikasi wilayah Pertimbangan : size Rank / berdasarkan urutan atau (ukuran), form (bentuk), Hirarki orde wilayah yang function (fungsi) membentuk satu Contoh : RT,RW, Dusun, kesatuan Desa,Kec, Kab, Prop. 3 Berdasarkan 1.Single Topic Wilayah yang Wilayah curah hujan Kategori Region (Wilayah eksistensinya Wilayah geologi (jumlah bertopik tunggal) didasarkan pada satu kriteria) macam topik/kriteria saja 2.Combined Topic Wilayah yang Wilayah iklim (gabungan Region (Wilayah eksistensinya dari cuarah hujan, bertopik gabungan) didasarkan pada temperatur, tekanan udara, gabungan (lebih dari angin) satu) macam kriteria (topik masih sama) 3.Multiple Topic Wilayah yang Wilayah pertanian Region (Wilayah eksistensinya (gabungan dari topik fisik = bertopik banyak) mendasarkan pada tanah, hidrologi dan topik beberapa topik yang tanaman) berbeda satu sama lain Wilayah ekonomi 4.Total Region Delimitasi wilayah Contoh : wilayah (wilayah total) menggunakan semua administrasi desa, unsur wilayah. Bersifat kecamatan, kabupaten, klasik, kesatuan politik, propinsi (administrasi) sebagai dasar 5.Compage Region Tidak mendasarkan Semacam wilayah pada banyak sedikitnya perencanaan, Misalnya topik, tetapi aktivitas wilayah miskin, wilayah manusia yang menonjol bencana,dll Keterangan : Pemanfaatan konsep-konsep tersebut, dapat tunggal dan kombinasi, tergantung kepada jenis kegiatan, lingkup usaha, masalah, cakupan wilayah, dan tujuan program yang dirancang.

Berdasarkan Tipe

PEWILAYAHAN Usaha untuk membagi-bagi permukaan bumi atau bagian permukaan bumi tertentu untuk tujuan tertentu pula. Pembagiannya dapat mendasarkan pada kriteria-kriteria tertentu, seperti administrasi, fisik, ekonomi, sosial, geografis dan sebagainya. Secara teknik, berkaitan dengan proses penentuan batas daerah yang bentuknya tergantung pada tujuan pengelompokan, kriteria yang digunakan dan ketersediaan data. Tujuan umum pewilayahan untuk mempermudah penganalisaan serta memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan yang ada pada kelompokkelompok wilayah tersebut. Terkait dengan pembangunan, tujuan pewilayahan di Indonesia adalah : 1. Menyebarkan pembangunan dan menghindari pemusatan

pembangunan yang berlebihan pada wilayah tertentu. 2. Keserasian dan koordinasi antar kegiatan pembangunan (sektoral di daerah) 3. Arahan kegiatan pembangunan (prioritas wilayah)

METODE PEWILAYAHAN 1. Penyamarataan Wilayah (Regional Generalization) Usaha menggolongkan wilayah kedalam bagian-bagian tertentu, dengan cara menonjolkan karakter-karakter tertentu. Unsur-unsur yang kurang/tidak penting dan tidak relevan dihilangkan. Tujuannya menonjolkan sifat tertentu yang dominan dari suatu wilayah. Memperhatikan skala peta dan tujuan pewilayahan. Dapat menggunakan cara-cara delimitasi kuantitatif dan kualitatif. Sebagian besar menggunakan metode kualitatif

2. Klasifikasi Wilayah (Regional Classification) Usaha menggolongkan wilayah secara sistematis ke dalam bagian-bagian tertentu (klasifikasi) berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Semua unsur, kriteria, individu diperhitungkan dalam proses klasifikasi. Tujuannya mencari deferensiasi (perbedaan) antar bagian-bagian wilayah. Dapat menggunakan cara-cara delimitasi kuantitatif dan kualitatif. Sebagian besar menggunakan metode kuantitatif (statistik).

VARIABEL PEWILAYAHAN Berdasarkan Jumlah Variabel / Kriteria 1. Single Variable (variable tunggal) 2. Multiple Variabel (variable banyak).Lihat bagian kategori wilayah Berdasarkan Teknik Penentuan Batas (delimitasi) 1. Kualitatif (deskriptif,interpretasi foto udara) 2. Kuantitatif (Thiesen polygon, Raillys law = Law of retail gravitation, computer, statistik) Penentuan Batas Tidak ada satupun daerah yang memiliki karakteristik yang sama identik. Sehingga sulit ada batas yang tegas antar wilayah. Yang terpenting adalah wilayah inti (core region) yang memiliki deferensiasi tinggi, sedangkan batas antar wilayah, lebih kepada zone peralihan (zone transition) dimana deferensiasinya paling rendah.

PLANNING REGION AND PROGRAMME REGION KRITERIA Interdependensi ANALISIS Functional Region Nodal Region Similarity (Kesamaan) Polarized Region Uniform Region Formal Region Homogeneous Region Zonal Region Programme Region PERENCANAAN Planning Region

SWP (SUB WILAYAH PEMBANGUNAN) Prinsip Menciptakan integrasi, melalui keterkaitan dan ketergantungan Tujuan 1. Memperkuat kesatuan atau integrasi (ekonomi) negara atau wilayah secara utuh 2. Efisiensi pertumbuhan (prinsip growth centers) 3. Menyebaratakan pembangunan dan menghindarkan pemusatan kegiatan (kesenjangan) 4. Menjamin keserasian dan koordinasi antar berbagai kegiatan pembangunan

Komponen 1. Model Sistem Integrasi 2. Inti (pusat) wilayah dan wilayah pengaruhnya (hinterland) 3. Penentuan batas SWP 4. Basis Ekonomi SWP PENENTUAN SWP 1. Deskripsikan Sistem Keterkaitan, Ketergantungan, dan Pola Pergerakan Dalam Suatu Wilayah Wilayah Homogen (Variabel Fisik Wilayah) Dapat Dijadikan Dasar 2. Tetapkan Inti / Pusat Wilayah Dan Wilayah Pengaruhnya 3. Penentuan Batas 4. Penilaian Basis Ekonomi

Instrumen : Pemetaan / Gis

GAMBAR LEWAT

SPATIAL LINKAGE ANALYSIS


PATTERNS OF PHYSICAL, ECONOMIC, SOCIAL AND

ORGANIZATIONAL INTERACTIONS AMONG SETTLEMENTS AND RURAL AREAS SURROUNDING THEM MAJOR LINKAGES IN SPATIAL DEVELOPMENT : 1. PHYSICAL LINKAGES : ROAD, RIVER TRANSPORT,

RAILROAD, ECOLOGICAL INTERDEPENDENCES 2. ECONOMIC LINKAGES : MARKETT PATTERNS, FLOWS OF RAW MATERIALS, PRODUCTION LINKAGES, CONSUMPTION AND SHOPPING PATTERNS, INCOME FLOWS 3. POPULATION MOVEMENT : TEMPORAL AND PERMANENT MOVEMENT (MIGRATION) 4. TECHNOLOGICAL INTERDEPENDENCY, LINKAGES : TECHNOLOGY SYSTEM, IRRIGATION

TELECOMMUNICATION SYSTEM 5. SOCIAL INTERACTION LINKAGES : VISITING PATTERN, RITUAL AND RELIGIUS ACTIVITIES 6. SERVICE DELIVERY LINKAGES : ENERGY FLOWS AND NETWORKS, CREDIT AND FINANCIAL NETWORKS, EDUCATION HEALTH SERVICE DELIVERY SYSTEMS

7. POLITICAL, LINKAGES :

ADMINISTRATIVE GOVERNMENT

AND

ORGANIZATIONAL FLOWS AND

BUDGET

STRUCTURAL RELATIONSHIPS

GAMBAR LEWAT

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH

PENDEKATAN WILAYAH DALAM PEMBANGUNAN


BAGIAN II

PENDEKATAN PENGEMBANGAN WILAYAH PENDAHULUAN Mekanisme perencanaan pembangunan nasional berjalan melalui dua pendekatan utama, yaitu pembangunan sektoral dan regional. Hasil dua pendekatan tersebut diharapkan dapat menciptakan landasan yang kuat bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas dasar kekuatan sendiri dan mewujudkan masyarakat adil makmur berdasarkan pancasila. Kenyataannya, upaya menciptakan keselarasan dan keserasian dua strategi tersebut merupakan hal pelik, bahkan terkadang cenderung kontradiktif dan dikotomis. Dalam perkembangannya pendekatan pertama (sektoral) nampak lebih menonjol dan semakin menguat dibanding pendekatan kedua (regional), hal ini dapat dilihat dari orientasi pembangunan yang secara tegas meletakkan aspek pertumbuhan ekonomi (economic growth) sektoral sebagai cara untuk mencapai tujuan pembangunan. Disamping telah memberikan hasil yang memuaskan (dilihat dari indikator ekonomi) seperti pertumbuhan ekonomi tinggi, pendapatan perkapita naik, namun orientasi tersebut ternyata telah menimbulkan beberapa masalah, salah satu diantaranya adalah tidak meratanya distribusi kegiatan dan hasil pembangunan, sehingga beberapa agenda permasalahan pembangunan, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial-ekonomi, ketimpangan antar wilayah (kota desa, pusat daerah), sering digunakan sebagai contoh produk model pembangunan (sektoral) yang lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut dapat dimengerti karena untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi serta efisiensi, pembangunan diutamakan pada kegiatan-kegiatan yang paling produktif, terutama kegiatan ekspor produksi primer seperti pertambangan, kehutanan, dan perkebunan. Sementara itu untuk mengadakan barang-barang konsumsi dan mengurangi ketergantungan impor, dikembangkan industry substitusi impor, yang dikembangkan di kota-kota besar. Akibatnya tingkat pembangunan ekonomi yang tinggi hanya terjadi pada wilayah-wilayah yang memiliki kekayaan sumber alam serta kota-kota besar. Dari sinilah persoalan ketimpangan wilayah sebagai agenda utama pembangunan regional berawal dan terus berkembang. Gunawan Sumodiningrat (1995) mencatat tiga bentuk ketimpangan pembangunan, yaitu ketidakmerataan antar golongan penduduk, ketidakmerataan antar sektor dan ketidakmerataan antar wilayah. Ketidakmerataan antar golongan penduduk terlihat dari masih banyaknya penduduk miskin, baik di perkotaan maupun perdesaan, meskipun relatif menurun, namun penurunan tertsebut tidak sebanding dengan peningkatan hasil pembangunan yang dinikmati oleh golongan masyarakat yang tidak miskin. Spektrum ketimpangan antar golongan penduduk juga meluas pada dimensi pribumi dan non pribumi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tampaknya hanya dapat dinikmati oleh sebagian kecil lapisan masyarakat Indonesia, sedangkan sebagian besar masyarakat masih hidup dalam suasana kemiskinan. Ketidakmerataan pembangunan antar sektor dan antar wilayah muncul secara nyata dalam beberapa bentuk dualisme, yaitu antara sektor pertanian yang semakin menurun peran dan produktivitasnya, namun menampung tenaga kerja yang cukup banyak dan sektor industri yang cenderung capital intensive dengan daya serap tenaga kerja rendah namun kontribusinya semakin meningkat. Demikian pula halnya dengan sektor jasa dan perdagangan yang semakin jauh meninggalkan sektor pertanian. Lebih lanjut ketidakmerataan aspek demografis dan sumberdaya alam serta kebijakan pemerintah telah memberikan andil yang cukup besar dalam ketimpanagan wilayah. Dikotomi Jawa (pusat) dan luar Jawa (pinggiran), Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan Kawasan Barat Indonesia (KBI), antara perdesaan dan perkotaan adalah kasus

nyata pembangunan wilayah Indonesia. Fakta-fakta tersebut merupakan suatu contoh adanya masalah pembangunan dilihat dalam dimensi ruang (wilayah). Strategi pembangunan yang hanya mendasarkan pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan aspek distribusi (pemerataan), perluasan kesempatan kerja, penghapusan kemiskinan serta aspek wilayah, walaupun pada tahap awalnya berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun akhirnya akan mengalami berbagai masalah tersebut. Untuk mengatasi masalah tersebut tentunya diperlukan kebijaksanaan yang menangani masalah ruang, dalam hal ini adalah kebijaksanaan pengembangan wilayah. Kebijaksanaan ini berkenaan dengan lokasi di mana pembangunan ekonomi dilakukan. Wilayah nasional tidak homogen, dan kegiatan pembangunan tidak terjadi pada tiap bagian wilayah dengan merata. Peranan perencanaan wilayah adalah untuk menghubungkan kegiatan yang terpisah-pisah untuk mencapai tujuan pembangunan nasional (Friedmann, 1966 : 5).

PERENCANAAN PENGEMBANGAN WILAYAH DAN PERANANNYA Pengembangan wilayah berkenaan dengan dimensi spasial (ruang) dari kegiatan pembangunan. Didasari pemikiran bahwa kegiatan ekonomi terdistribusi dalam ruang yang tidak homogen, oleh karena lokasi mempunyai potensi dan nilai relatif terhadap lokasi lainnya, maka kegiatan yang bertujuan ekonomi maupun sosial akan tersebar sesuai dengan potensi dan relatif lokasi yang mendukungnya (Luthfi, 1994). Begitu pula kesejahteraan penduduk akan tergantung pada sumberdaya dan aksesibilitasnya terhadap suatu lokasi, dimana ekonomi terikat (Richardson, 1981 : 270). Usaha-usaha untuk mengkaitkan kegiatan ekonomi sektor industri dengan sektor pertanian, atau pengkaitan beberapa jenis industri akan sulit tercapai tanpa memperhatikan aspek ruang, karena masing-masing terpisah oleh jarak geografis. Oleh karena itu arti pembangunan juga perlu diberi perspektif baru sebagai upaya pengorganisasian ruang (Luthfi, 1994). Untuk tujuan ini maka pendekatan pengembangan wilayah yang menyangkut aspek tata ruang mendapatkan peranannya. Pendekatan melalui pengembangan wilayah ini mempunyai beberapa keuntungan, Pertama, akan didasari pengenalan yang lebih baik atas penduduk dan budaya pada berbagai wilayah, serta pengenalan atas potensi unik daerah. Sehingga memudahkan untuk melaksanakan pembangunan daerah yang sesuai dengan potensi, kapasitas serta problem khusus daerah tersebut. Dengan pengembangan wilayah ini dapat diharapkan kemungkinan lebih baik untuk memperbaiki keseimbangan sosial ekonomi antar wilayah (Friedmann, 1979 : 38).

Alasan politis diterapkannya perencanaan pengembangan wilayah antara lain adalah bahwa pembangunan nasional yang terlalu bersifat sektoral dan tidak mempertimbangkan faktor-faktor lokasi, atau bagaimana penjalaran pertumbuhan tersebut dalam ruang ekonomi. Tindakan mengabaikan dimensi tata ruang, ditambah dengan hanya menekankan pemikiran jangka pendek, akan memberikan kontribusi tetrhadap semakin tajamnya kesenjangan antar wilayah (Miller, 1989 : 8). Pengembangan wilayah merupakan perangkat yang melengkapi atau bagian integral dari pembangunan nasional. Pembangunan wilayah diarahkan untuk mengembangkan daerah dan menyerasikan laju pertumbuhan antar daerah, antar desa dan kota, antar sektor serta pembukaan dan percepatan pembangunan Kawasan Timur Indonesia, daerah terpencil, daerah minus, daerah kritis, daerah perbatasan, dan daerah terbelakang lainnya, yang disesuaikan dengan prioritas dan potensi daerah bersangkutan sehingga terwujud pola pembangunan yang merupakan perwujudan Wawasan Nusantara (GBHN, 1993). Selanjutnya tujuan dan prinsip pendekatan dalam pengembangan wilayah juga tidak terlepas dari tujuan dan prinsip pembangunan nasional. Hal ini berarti setiap kegiatan pembangunan di daerah harus mempertimbangkan kondisi dan situasi regional (aspek kewilayahan) disamping pertimbangan-pertimbangan yang bersifat sektoral. Kebijaksanaan pembangunan regional di Indonesia paling tidak mempunyai empat tujuan utama (Tojiman S, 1981) yaitu : 1. Meningkatkan kseimbangan dan keserasian antara pembangunan antar sektoral dan pembangunan regional, dengan meletakkan berbagai pembangunan sektoral pada wilayah-wilayah tertentu sesuai dengan potensi dan prioritasnya. 2. Meningkatkan keseimbangan dan keharmonisan serta pemerataan pertumbuhan antar wilayah. 3. Meningkatkan partisipasi masyarakat local dalam pembangunan. 4. Meningkatkan keserasian hubungan antara pusat-pusat wilayah dengan hinterlandnya dan antara kota dan desa.

Pada dua dasawarsa terakhir, perencanaan regional di Indonesia semakin menunjukkan aura respectability (pancaran kehormatan), seiring semakin kompleksnya tantangan dan masalah pembangunan dan adanya keyakinan bahwa pendekatan kewilayahan merupakan jawaban yang paling tepat untuk mengatasi ketimpangan hasil-hasil pelaksanaan pembangunan, khususnya ketimpangan antar wilayah. Dengan demikian pembangunan regional diharapkan dapat muncul sebagai salah satu alternatif paradigma pembangunan yang berfungsi sebagai balance terhadap penarapan pola kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi yang dianut oleh para pemegang kebijakan ekonomi orde baru. Pada dasawarsa ini pula kebijakan regional menunjukkan perannya, hal ini didukung oleh semakin maraknya kebijakan yang berorientasi pada wilayah semacam otonomi wilayah, desentralisasi, regionalisasi, penyusunan tata ruang wilayah, pembangunan kawasan terpadu dan lain-lain.

ANALISIS KEBIJAKAN PEMBANGUNAN REGIONAL Pada hakekatnya daerah merupakan bagian integral yang tak terpisahkan dari pembangunan nasional, oleh karena itu dalam rangka menjamin agar pelaksanaan pembangunan nasional dapat berjalan serasi dan seimbang, maka perlu diusahakan keselarasan antara pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. Hal ini berarti setiap kegiatan pembangunan di daerah harus mempertimbangkan kondisi dan situasi regional (aspek kewilayahan) disamping pertimbangan-pertimbangan yang bersifat sektoral. Kebijaksanaan pembangunan regional di Indonesia paling tidak mempunyai empat tujuan utama (Bappenas, 1993) yaitu : 1. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian antara pembangunan sektoral dan pembangunan regional, dengan meletakkan berbagai pembangunan sektoral pada wilayah-wilayah tertentu sesuai dengan potensi dan prioritasnya. 2. Meningkatkan keseimbangan dan keharmonisan serta pemerataan pertumbuhan antar wilayah. 3. Meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam pembangunan. 4. Meningkatkan keserasian hubungan antara pusat-pusat wilayah dengan hinterlandnya dan antara kota dan desa. Pertanyaan yang tentunya menarik untuk dikedepankan adalah bagaimana problematika pembangunan dipahami dalam kontek atau pendekatan pembangunan wilayah (regional development) dan sejauh mana model pembangunan wilayah di

Indonesia mampu mengatasinya. Selanjutnya analisis teoritis dan fakta digunakan untuk menjelaskannya.

Untuk memahami pelaksanaan pembangunan regional di Indonesia maka perlu dipahami dasar pemikiran dan konsep yang digunakan, khususnya konsep pusat-pusat pertumbuhan (growth centers) serta bagaimana wujud pelaksanaannya. Dalam konsep pembangunan wilayah (regional development) yang selama ini kita terapkan, tampak jelas bahwa strategi pembangunan nasional lebih menganut model Growth centers yang lebih cenderung berorientasi pada pertumbuhan ekonomi. Asumsi dasar adalah terjadinya mekanisme trickle down effect, yaitu adanya proses difusi atau proses penebaran hasil dan proses pembangunan ke pusat-pusat pertumbuhan yang lebih rendah dan wilayah hinterlandnya. Dalam model growth centers, pembangunan berlangsung dalam suatu equilibrium matrix lokasi yang terdiri dari beberapa pusat-pusat pertumbuhan (growth centers) dan daerah penyangga-pinggiran (hinterland). Langkah awal dimulai dengan membangun pusat atau kutub pertumbuhan lebih dahulu (dengan industrialisasi). Pertumbuhan ekonomi dimulai dan mencapai puncaknya pada sejumlah pusat-pusat. Apabila langkah ini berhasil, maka tindakan kedua adalah proses penjalaran atau penetesan keberhasilan itu ke wilayah-wilayah hinterland di sekitarnya. Mekanisme efek tebar berjalan melalui proses membangun keterkaitan (linkages development) leading industries pada pusat-pusat pertumbuhan, baik keterkaitan ke depan (forward linkages) dan ke belakang (backward linkages). Model seperti inilah yang oleh Dean K. Forbes (1986) disebut sebagai model pembangunan non-marxis. Pada model seperti ini pada kenyataannya tidak jelas mekanisme penetesannya bahkan cenderung mengakselerasikan proses industrialisasi dan urbanisasi serta telah menimbulkan terkonsentrasinya pembangunan di pusatpusat pertumbuhan (dalam kasus Indonesia : Jawa, Sumatera, Bali = Kawasan Barat

Indonesia). Dengan demikian bukan trickle down effect yang terjadi, melainkan keadaan sebaliknya yaitu backwash and polarization effect, dimana terjadi penyedotan (aliran) potensi sumberdaya wilayah hinterland oleh pusat-pusat pertumbuhan ; sehingga pada akhirnya akan semakin memperluas kesenjangan dengan wilayah-wilayah pinggiran. Studi yang dilakukan M.J. Titus tentang arus migrasi (1978) dan Mubyarto (1989) tentang pengaliran modal menyebutkan bahwa ciri model pembangunan tersebut di dunia, ketiga adalah terciptanya mekanisme penyedotan sumberdaya (capital dan tenaga kerja) dari wilayah pinggiran menuju wilayah pusat. Selanjutnya dengan jelas disebutkan bahwa ketimpangan pembangunan antar wilayah Indonesia terjadi bukan hanya karena faktor kemiskinan sumberdaya wilayah, tetapi juga akibat pola hubungan yang tidak seimbang antara pusat kota dan daerah. Kegagalan untuk mewujudkan efek tetesan, oleh Friedman (1975) disinyalir akibat tidak bekerjasamanya mekanisme pasar secara proporsional, oleh karena itu timbullah upaya untuk merencanakan pusat-pusat pertumbuhan di dalam kerangka pengembangan wilayah yang terkendali. Meskipun terlalu dini untuk mengatakan kebijaksanaan pembangunan regional di Indonesia gagal, namun analisis fakta menunjukkan bahwa pendekatan seperti ini kurang berhasil diterapkan di Indonesia. Kesenjangan antar wilayah nyatanya tetap menyolok, meski intervensi pemerintah sudah banyak dilakukan. Ini terutama terjadi akibat modal (kapital) yang diharapkan bisa mengalir ke pinggiran, lebih banyak tertahan di pusat atau wilayah lain yang secara ekonomi lebih menguntungkan, bahkan seringkali mengalir ke pusat. Beberapa hasil studi berikut menngambarkan belum berhasilnya kebijakan pembangunan regional yang diterapkan di Indonesia, diantaranya ditandai dengan semakin exist-nya problem ketimpangan wilayah (regional inequity) dalam tingkat pertumbuhan dan perkembangan antar daerah dan dalam tingkat pendapatan dan kemakmuran, terjadi pula sistem keruangan yang benar-benar terkutub dengan pusat kota mendominasi suatu jaringan perkotaan yang terbelakang.

Hendra Asmara (1975) menggarisbawahi bahwa ada periode 1988-1971 terdapat ketimpangan antar wilayah di Indonesia, terutama dalam kaitannya dengan sumberdaya alam, tingkat produktivitas perkapita, kualitas tenaga kerja dan efisiensi penggunaan sumberdaya dan organisasi. Pratilla (1981) menunjukkan adanya konsentrasi aset-aset pembangunan pada WPU-B, baik dalam aspek sumberdaya manusia, Produk Domestik Regional Bruto (PDBR) maupun PDBR per kapita, dimana wilayah ini memberikan sumbangan lebih dari 40% dari pendapatan nasional. Moeljarto Tjokrowinoto (1995) mengungkapkan bahwa hal ini merupakan konsekuensi logis orientasi pertumbuhan yang cenderung mengarahkan alokasi sumberdaya pada wilayah-wilayah pusat pertumbuhan maka disamping keberhasilan pembangunan maka tampak adanya regional inequity atau ketimpangan regional yang cukup memprihatinkan. Selanjutnya hal ini tercermin dari timpangnya pembiayaan pembangunan (dana INPRES, DAU, dan DAK), produk domestik regional bruto (PRDB), pendapatan perkapita, proporsi penduduk miskin, indeks mutu hidup (IMH), atau physical quality of life index (PQLI) antar propinsi (Biro Pusat Statistik dan Budhy Tjahjati Soegijoko, (1992). Selain itu juga terjadi kesenjangan sektoral (dicerminkan oleh tidak seimbangnya indek nilai tukar) antara sektor pertanian dan nonpertanian dan antara daerah perdesaan dan perkotaan. Dengan demikian secara tidak sadar telah terjadi proses pengkutuban hasil-hasil pembangunan (polarized development process) pada wilayah tertentu dan marginalisasi di wilayah lain. Dengan menggunakan indikator kesenjangan pendapatan per kapita, penyebaran dan konsentrasi industri, investasi, kemiskinan dan pendidikan, Cornelis Lay (1993) dengan jelas mengemukakan bahwa keterbelakangan dan ketimpangan antar wilayah exist di Indonesia. Bahkan beberapa indikator mengkonfirmasikan adanya kecenderungan untuk terus memburuk. Lebih lanjut, perbandingan antar wilayah menunjukkan bahwa secara umum daerah-daerah di Kawasan Barat Indonesia (KBI) memiliki penampilan yang lebih meyakinkan dalam hal tingkat kemajuannya, sementara wilayah-wilayah di Kawasan Timur Indonesia (KTI) lebih mewakili performance keterbelakangan. Perbandingan antara kedua wilayah tersebut

mengindikasikan terjadinya kesenjangan yang cukup tajam. Bahkan, ketimpangan yang sama juga terjadi dalam satu wilayah yang sama. Menguatnya terminology pembangunan KBI (sebagian wilayah yang diuntungkan) dan KTI (wilayah yang kurang beruntung) akhir-akhir ini menjadi indikator penjelas adanya ketimpangan antar wilayah. Apabila tidak segera diantisipasi dengan cepat maka tidak hanya akan menimbulkan kerawanan sosial dan ekonomi tetapi juga politik, terutama pada aspek integrasi nasional dan hamkamnas. Dalam konteks situasi seperti ini beberapa program pembangunan yang berdimensi pemerataan akan sulit diharapkan keberhasilannya selama orientasi (model) pembangunan dan faktor serta mekanisme ketimpangan itu tidak diubah. Artinya harus ada perubahan atau penyesuaian pembangunan pada tingkat makro. Jika selama ini pengembangan wilayah-wilayah pusat terus dilaksanakan, sudah saatnya pengembangan wilayah pinggiran dengan lebih serius. Adanya kenyataan diatas mendorong upaya-upaya untuk mencari paradigma pengembangan kawasan alternatif yang lebih fungsional dan mampu merespon pertumbuhan ekonomi dan mewujudkan pemerataan. Ditetapkannya Undang-Undang No 24 tahun 1992 tentang Penataan Ruang (UUPR) yang menjadi dasar bagi perumusan Strategi Nasional Pembangunan Tata Ruang Nasional (SNPTR) dan Perencanaan Tata Ruang Wilayah pada tingkat yang lebih rendah belum memberikan hasil yang optimal, hal ini nampak dari banyaknya konflik kepentingan terhadap ruang yang terjadi. Meskipun demikian dukungan aspek kelembagaan atau perundang-undangan dan beberapa kebijakan lain yang bernuansa regional semacam Program Pengembangan Wilayah (PPW) atau Provincial Development Programme (PDP), Program Pengembangan Kawasan Terpadu (PKT), diharapkan akan semakin mampu menyentuh akar permasalahan.

RESTRUKTURISASI STRATEGI PEMBANGUNAN Masa depan pembangunan nasional maupun regional dalam pembangunan Indonesia dalam konteks otonomi daerah tergantung tidak saja pada tekad politik dan keberanian pemerintah tapi juga pemahaman yang tepat terhadap pembangunan regional. Pelaksanaan pembangunan regional akan tersendat tanpa restrukturisasi kebijakan dan strategi pembangunan. Hal ini dilaksanakan untuk menangkal berbagai macam kesenjangan dan ketidakmerataan yang muncul sebagai akibat pelaksanaan pembangunan, langkah-langkah restrukturisasi penting antara lain (Mutaali, 1997) : 1. Restrukturisasi Alokasi Dana Pembangunan Baik dana APBN maupun APBD ataupun dana swasta lainnya secara proporsional. Anggaran DAU dan DAK yang sering memunculkan kontroversi dan tidakpuasan bagi daerah terus diperbaiki dan harus tetap ditingkatkan sebagai keputusan politik dalam alokasi anggaran dan pemerataan pembangunan, khususnya lebih diutamakan untuk mengatasi daerah-daerah hinterland yang miskin dan sulit berkembang serta mengeliminir kesenjangan wilayah. Hal ini juga harus diimbangi pola perimbangan keuangan pusat dan daerah yang lebih baik. 2. Restrukturisasi Spasial Kebijaksanaan penting yang harus dilakukan guna meningkatkan efektifitas pembangunan regional dan mengurangi kesenjangan antar wilayah adalah diberikannya penekanan pada mekanisme penyebaran modal atau aset pembangunan secara geografis dan proporsional. Selain itu fokus kebijaksanaan diarahkan pada upaya-upaya mengkoordinasikan berbagai kegiatan perencanaan pembangunan lokal pada sejumlah daerah terpilih sesuai dengan potensi dan permasalahan. Dalam konteks pembangunan regional Indonesia, perlu diciptakan pola hubungan antar wilayah yang seimbang dan menekankan aspek pemerataan dan

keseimbangan terutama pada KTI dan KBI, antara Jawa dan luar Jawa, Perkotaan dan Perdesaan, Pusat dan Pinggiran dan seterusnya, serta berpihak kepada daerah-daerah miskin. Beberapa policy tentang pengembangan kawasan andalan, pengembangan segitiga pertumbuhan, pengembangan prasarana dan kebijakan insentif di beberapa daerah terbelakang perlu direalisasikan lebih nyata. Selain itu juga perlu membangun jalinan keterkaitan antar wilayah (Rondinelli, 1983). 3. Restrukturisasi Sektoral Dilakukan terutama untuk mengatasi berbagai kemungkinan berkembangnya kesenjangan sektoral, terutama antara industri dan pertanian, antara sektor formalmodern dan sektor informal-tradisional, dan seterusnya sehingga benar-benar mampu diciptakan keserasian dan keseimbangan antar sektor. Kebijakan dapat ditempuh baik dalam aspek perimbangan keuangan, investasi, program dan proyek pembangunan, kelembagaan, maupun aspek politis yang lain. 4. Restrukturisasi Kelembagaan Perlunya aspek perundang-undangan yang mengatur tentang pola hubungan dan tata kerja serta perimbangan pembangunan antar wilayah, baik dalam perencanaan maupun pelaksanaan. Selain itu perlu ditunjang adanya institusi perencanaan wilayah yang memadai baik secara kuantitas maupun kualitas. Perencanaan yang bersifat keruangan dan pembangunan wilayah perlu dilakukan karena kedua hal tersebut merupakan suatu cara untuk memecahkan permasalahan pembangunan yang mendasar. Permasalahan ini adalah bagaimana mengembangkan pertumbuhan ekonomi secara luas yang mengijinkan sebagian besar penduduk pedesaan dan wilayah-wilayah tertinggal untuk berpartisipasi lebih efektif dalam kegiatan produktif dan untuk mencapai keuntungan yang lebih besar dari proses pembangunan (Rondinelli, 1985). Namun langkah-langkah ini tidak akan sepenuhnya bermanfaat apabila tidak didukung oleh political will yang sungguhsungguh dari semua pihak yang terkait untuk mengatasi kesenjangan wilayah.

PENUTUP Menguatnya otonomi daerah dan pendekatan wilayah dalam pembangunan merupakan tantangan yang menarik bagi geograf, untuk mengerahkan seluruh kemampuannya bagi pengkajian yang lebih mendalam dan bermanfaat bagi ilmu dan masyarakat. Menurut Fawcett, penerapan ilmu geografik secara sistematik kepada kondisi-kondisi yang ada, memungkinkan kajian wilayah dapat dilakukan secara komprehensif dan memuaskan. Dengan kata lain kajian geografis akan turut menentukan keberhasilan suatu daerah dalam menjalankan pembangunan (otonomi) daerah dan masyarakatnya.

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH

ANALISIS WILAYAH
BAGIAN - III

SCOPE OF SPATIAL / REGIONAL ANALYSIS (bruce mitchell, 1998) Location and distribution of phenomena Interaction of phenomena between places and regions Spatial / regional structure arragement, and organization Spatial processes

Gambar : Faktor faktor pembentuk struktur wilayah

STRUKTUR WILAYAH

ADALAH HASIL KENAMPAKKAN INTERAKSI

MULTI FAKTOR

Economic Social Culture Politic geographic

Human process created reg.structure

Spatial/Regional Sructure (pattern of economic Activity)

Reciprocal relationship spatial form/regional structure influence a human process

Kenampakan : struktur ekonomi,struktur sosial,struktur pemanfaatan ruang.

KERANGKA DASAR ANALISIS WILAYAH TIPE WILAYAH : HOMOGEN DAN FUNGSIONAL 1. Wilayah Homogen Perbedaan dengan wilayah lain lebih penting daripada perbedaan di dalam wilayah Perbedaannya cukup signifikan Perbedaan dapat diuji secara empiris Kriteria untuk deleniasi sangat tergantung kepentingan dan tujuan analisis. Teknik analisis : Analisis faktor & indexing/scoring 2. Wilayah fungsi Dicirikan dengan perbedaan-perbedaan di dalam wilayah dan hubunganhubungan fungsional, yang sering diekspresikan dengan adanya aliran (flows), seperti transportasi, komunikasi,dst. Manusia membutuhkan ruang untuk aktivitasnya Lokasi Transportasi dan komunikasi Spesialisasi Pusat/node/center Teknik analisis : Gravity models % flow models single variabel atau\ multi variabel

STRUKTUR WILAYAH (PEMAHAMAN MAKNA DASAR) A. Komposisi Didasarkan pada kesamaan kriteria (intra region) Ekonomi Sosial Fisik (Pemanfaatan Ruang)

B. Jaringan Didasarkan pada keterkaitan antar wilayah (inter region) Center Pherypery Hirarki Keterkaitan Fungsional (struktur ruang)

ANALISIS REGIONAL ANALISIS INTER-REGIONAL Setiap satuan wilayah dianggap sebagai agregat utuh Analisis unsur-unsur wilayah dan bagian-bagian di dalam setiap wilayah, bukan the main concern Analisis lebih ditekankan pada interaksi dan interdependensi antar wilayah Disagregasi ruang dan unsur-unsur di dalam wilayah Analisis unsur-unsur wilayah dan bagian-bagian wilayah (sub-wilayah), merupakan the main concern Analisis interaksi dan interdependensi antar wilayah, hanya bersifat komplementer ANALISIS INTRA-REGIONAL

GEOGRAPHIC DATA MATRIX DAERAH DALAM ANGKA SISTEM INFORMASI GEOGRAFI HINCO Approach : 1. HUMAN aspect 2. INSTITUTIONAL aspect 3. NATURAL aspect 4. CAPITAL aspect 5. OTHER aspect HINCO approach (Avrom Bendavid-Val, 1991)

Analytical Rubric 1. Human aspect

Table Subjects
Population size and demographic characteristic;education;work experience,skills;income and wages;expenditure patterns;employment,unemployment,labor force participation;health;population subsets (e.g.minorities,rural,urban);productivity;housing;commutation;labor market areas. Regional and local governments;public revenue and expenditure patterns;social and municipal services;labor-to-capital ratios;business barriers, business institutions;institutional coordination;institutional participation,trade and labor organizations;cooperatives;economic activity mix characteristics;land ownership patterns. Land use patterns,mineral resources,soil types,water resources;topographic features;recreation assets;scenic assets,locational characteristics;historicsites;other heritage-related fentures;environmentally sensitive zones;hazard-prone zone. Infrastructure;land use potentials;transportation and communication;public investment;private investment;saving rate;external capital sources;housing stock;unutilized/under utilized structures;firm size;concentration ratio;gross product;capital-tooutput ratios;public-capital construction.

2. Institutional aspect

3. Natural aspect

4. Capital aspect

5. Other aspect

Development plans and planning at higher and lower level trade areas;special relationship with other areas,special information on major economic activities,problems, or potentials;results of surveys designed to obtain the views of the leadership or general public on development problems,potential, or desired directions;energy resources.

VARIABLE KOMPONEN WILAYAH (by Sunardi Djojosuharto)


S D POTEN SI L A H A C I R I W I L A Y A H S D M A N U S I A SOSBU D DEMOGRA FI Jumlah:kepadatan,j enis kelamin,usiakerja,m ata pencaharian,dst Pertanian;pertam bangan,industri,ja sa,dst. Kelembagaan;kes enian,agama,pen didikan N KEMAM PUAN LAHAN AIR Lereng, kedalaman, erosi,tekstu r,permeabili tas Air permukaan:curah hujan,evaporasi,tra nspirasui,infiltrasi. Airtanah:infiltrasi,p erkolasi,storage,ba IKLIM

SOSEK

SIFAT FUNGSI & SIFAT

Agrasis Industri dll

FUNGSI

Produksi Distribusi Pertukaran

ANALISIS INTRA-REGIONAL : Disagregasi ruang dan unsur-unsur di dalam wilayah Analisis unsur-unsur wilayah dan bagian-bagian wilayah (sub-wilayah), merupakan the main concern Analisis interaksi dan interdependensi antar wilayah, hanya bersifat komplementer Ecological Complex Analysis Pendekatan ekologi, memandang wilayah sebagai organism (relasi, tumbuh dan berkembang). Komponen dan sistem interaksi : 1. POPULATION 2. ENVIRONMENT 3. TECHNOLOGY 4. PATTERN OF CULTURE 5. ORGANIZATION Homoginity Analysis Perwilayahan Dengan Prinsip Homogenitas (Kesamaan Kriteria) Teknik Analisis : 1. KUALITATIF 2. KUANTITATIF (STATISTIK) 3. PEMETAAN (GIS) 4. CLUSTER ANALYSIS

GAMBAR TEKNIK ANALISIS INTRAREGIONAL DAN INTERREGIONAL TABEL 2

ANALISIS INTER-REGIONAL Setiap satuan wilayah dianggap sebagai agregat utuh Analisis unsur-unsur wilayah dan bagian-bagian di dalam setiap wilayah, bukan the main concern Analisis lebih ditekankan pada interaksi dan interdependensi antar wilayah

Functionality Analysis Untuk Penentuan Wilayah Pusat Dan Hinterlandnya Diidentifikasikan Dengan Jumlah Fungsi (Pelayanan) 1. Ekonomi 2. Sosial 3. Administrasi 4. Umum Menunjukkan Hirarki atau Tingkatan Wilayah Semakin Banyak Jumlah Fungsi, Semakin Tinggi Hirarki, Menjadi Pusat dan Radius Pengaruhnya Semakin Luas. Teknik Analisis : 1. Skalogram 2. Bisection 3. Sosiogram

Settlement Typology Analysis Untuk Mengidentifikasi Spesialisasi Fungsi Lingkungan Permukiman (Bisa Kota). Dicari Karakteristik Yang Dominan, Unik, Spesifik Variabel yang digunakan : 1. Struktur Ruang Kegiatan 2. Struktur Pekerjaan Settlement Juga Dapat Dianalisa Patternnya (Mengelompok-Menyebar) Pembangunan Infrastruktur

Rank Size Analysis Untuk Menentukan Sistem Kota-Kota (HIrarki) Termasuk Sebaran Indek Keutamaan (Index Of Primacy) Dari Kota-Kota (Kesenjangan) Variabel Yang Digunakan : 1. Jumlah Penduduk 2. PDRB (Modifikasi Menarik) Network Analysis Aspek Fungsional, Keterkaitan Antar Wilayah Konsep Aksesibilitas Dan Konektifitas Konsep Aksesibilitas Kemudahan (Jarak Fisik (Km), Cost,Time, Dan Sarana Prasarana). Konsep Konektifitas Rute Atau Links Posisi Strategis

Spatial Interaction Analysis Menunjukkan Relasi Interdependensi Antar Lokasi Dalam Hal Pergerakan Penduduk, Barang, Komoditas, Informasi, Dll. Teknik Analisis : 1. Analisis Gravitasi 2. Analisis Titik Henti Variabel Yang Digunakan : 1. Variabel Massa (Pergerakan), Penduduk, Barang, Komoditas, Ekonomi, Kesempatan Kerja,dll. 2. Variabel Jarak Regional Economic Analysis 1. Basis Ekonomi (Location Quotient=Lq) Menentukan Basis Ekonomi Dan Efek Pengganda Sektor Basis 2. Shift Share Analysis Economic Composition Analysis Menilai Kinerja Ekonomi Wilayah (Dinamik) 3. Input Output Regional Keterkaitan Produk, Forward Dan Backward Linkages, Multiplier Effect 4. Income And Product Account Kesenjangan Sosial Dan Regional Kesenjangan Sosial Antar Strata Masyarakat Indek Gini Kurva Lorenz Kesenjangan Regional Indek Wiliamson Economic Distance Kurva Lorenz

Statistic Compendium Pemanfaatan Teknik Statistik Untuk Analisis Regional Misalnya : Statistik Multivariate Analysis Untuk Menentukan Daya Saing Regional Tergantung Struktur Datanya Cross-Section Maupun Time-Series Table 1

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH DINAMIKA DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN WILAYAH


BAGIAN IV

DINAMIKA WILAYAH DALAM PERSPEKTIF GEOGRAFIS oleh : Djarot S. Widyatmoko PENDAHULUAN (Geography is about local variability within a general context R.J. Johnston, 1984) Dalam kurun waktu tiga dasawarsa belakangan ini kita menjadi saksi perubahan-perubahan yang begitu cepat di dunia ini. Kekhususan sifat suatu daerah atau tempat yang telah menjadi trademark selama berpuluh-puluh tahun banyak yang telah hilang atau paling tidak telah berubah bentuk. Pulau Bali yang saya tahu sekarang, sangat jauh berbeda dengan keadaan ketika saya melaksanakan KKL I dua puluh tahun yang lalu. Riau kepulauan yang dikenal dengan daerah penampungan manusia perahu dari Vietnam, kini merupakan kawasan unggulan bagi pengembangan industri dan pariwisata nasional. Lebih dekat lagi, seperti Desa Kasongan di Kabupaten Bantul : kini terkenal dengan industri kerajinan gerabahnya, daerah di sekitar Jalan Kaliurang, Condongcatur, Caturtunggal sudah berubah menjadi kawasan permukiman padat penduduk dan pelayanan yang mungkin lebih padat daripada beberapa daerah Kotamadya Yogyakarta sendiri. Dan tentunya masih banyak lagi. Pada kawasan tumbuh-cepat, seperti koridor Merak-Jakarta-Bandung atau koridor Surabaya-Malang, kecepatan perubahannya (the speed of change) mungkin tidak dihitung dalam tahun, melainkan dalam bulan. Perubahan-perubahan yang terjadi seperti yang ditunjukkan dalam contohcontoh di atas menunjukkam bahwa wilayah permukaan bumi merupakan organisme yang dinamis. Bentuk, sifat, dan kecepatan dari dinamikanya merupakan fungsi dari kekuatan-kekuatan yang bekerja baik yang berasal dari luar dan dari dalam wilayah itu sendiri, maupun yang berasal dari perpaduan kekuatan-kekuatan yang bersifat khas (unique) setempat dan yang bersifat umum (general). Dinamika wilayah memang proses in-situ atau setempat namun keberadaan proses merupakan hasil

perpaduan dari dua kekuatan tersebut. Fenomena industri kerajinan gerabah adalah ciri khas Kasongan, yang merupakan perpaduan dari inovasi lokal dalam teknik dan gaya gerabah yang disesuaikan dengan selera pasar (baik regional, nasional, maupun internasional). Namun, surut-berkembangnya indusri gerabah Kasongan tergantung pada elastisitas kemampuan pengrajin lokal terhadap inovasi baru akibat (perubahan) peningkatan mutu, selera, dan jumlah permintaan pasar. Perubahan permintaan pasar ini pada dasarnya merupakan respon terhadap perubahan-perubahan umum yang bersifat global, seperti perubahan perilaku ekonomi dunia, kemajuan teknologi, keterbukaan negara, dan sebagainya. Jadi, dinamika suatu tempat tidak dapat dipisahkan atau merupakan bagian integral dari dinamika yang terjadi di tempat lain. Bentuk saling ketergantungan antar tempat atau ruang ini ( interdependencies of places atau spatial interdependence) merupakan fenomena geografi yang kini banyak diminati geografiwan, terutama untuk menjawab perubahan-perubahan pola keruangan kegiatan manusia akibat kuatnya pengaruh arus globalisasi dan internasional. Seperti yang diungkapkan oleh Knox dan Marston (1998) : By studyng spatial interdependence, geographers are able to address diversity within the framework of a broader relationship ; to see the uniqueness of individual places and regions within the contexs of other places and regions (and, indeed, the whole globe); and to see how general relationships play out within particular setting.

MEMAHAMI DINAMIKA WILAYAH Konsep region atau wilayah memang masih merupakan perdebatan yang panjang dalam dunia akademisi, namun dalam konteks perkembangan wilayah (regional development) tampak terdapat konsesus yang menganggap wilayah sebagai bagian permukaan bumi dalam lingkup sub-nasional. Walaupun demikian, diskonsesus masih tetap saja muncul bila dikaitkan dengan persoalan perwilayahan (regionalization). Pada satu sisi wilayah diekspresikan melalui azas-azas persamaan (homogenity) dan di sisi lain disusun atas dasar azas-azas fungsionalitas (functionality). Artikel ini tidak akan membahas perbedaan-perbedaan tersebut, namun cukup dikatakan di sini bahwa kombinasi dari kedua azas tersebut bila diterapkan pada bagian permukaan bumi sub-nasional yang cukup luas akan melahirkan variasi keruangan (spatial variation). Variasi keruangan akan menimbulkan berbagai bentuk interaksi keruangan (spatial interaction) antar masing-masing tempat (individual places) dan tentunya interaksi keruangan menghasilkan bentuk-bentuk saling ketergantungan antar tempat (interdependency of places). Dengan analogi semacam ini jelas bahwa spatial interdependency merupakan pencerminan dari azas-azas geografi (khususnya spatial analysis) : location, distance, space, accessibility, dan spatial interaction. Pertanyaannya sekarang adalah apakah dinamika wilayah itu? Dan mengapa terjadi dinamika? Gambar 1 di bawah ini mungkin dapat digunakan sebagai landasan untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut. Wujud kompak dari suatu wilayah dapat berupa perkotaan, perdesaan, DAS (daerah aliran sungai), dan ad hock region (dapat berupa wilayah perencanaan, atau wilayah-wilayah khusus lainnya). Dinamika wilayah tentunya tidak diekspresikan dalam bentuk perpindahan lokasi suatu wilayah dari lokasi yang satu ke lokasi yang lain namun lebih merujuk pada perubahan unsurunsur wilayah (HINCO : Human-Institution-Natural-Capital-Other) yang disebabkan oleh adanya intervensi dari agen perubahan (agents of change) baik yang bersifat alami maupun buatan manusia, atau bahkan kombinasi keduanya. Seperti yang tampak dalam gambar 1 dinamika wilayah dibentuk oleh serangkaian perubahan yang

saling kait mengait antara perubahan-perubahan baik yang alami maupun bukan : iklim, bencana alam, ekonomi, demografi, politik, budaya, teknologi, sosial, baik dalam skala makro maupun mikro. Dampak pengaruh dari agen-agen perubahan tidak berarti akan menghasilkan respon yang sama terhadap semua wilayah namun oleh faktor-faktor lokal (local factors) suatu wilayah pengaruh tersebut dimodifikasi. Di samping itu, kekuatan pengaruh masing-masing agen perubahan juga tidak sama kuat dan kombinasi dari beberapa agen perubahan juga menghasilkan pengaruh yang berbeda pula. Kompleksitas hubungan dan pengaruh agen-agen perubahan ini tercermin dalam variasi dinamika yang dihasilkan. Sifat dari pengaruh agen perubahan terhadap wilayah tidak selalu searah, karena perubahan yang dihasilkan akan menimbulkan umpan balik terhadap dinamika wilayah itu sendiri (lihat gambar 1). Sehingga gerakan pengaruh-mempengaruhi ini bak spiral yang terus berputar baik ke atas maupun ke bawah. Ke atas berarti perubahan-perubahan yang terjadi dianggap membawa kemajuan, sedangkan ke bawah berarti sebaliknya. Memang tidak ada hal yang baru dalam analysis dinamika wilayah ini. Namun yang perlu mendapatkan perhatian kita adalah kecepatan dan skala perubahan yang terjadi akhir-akhir ini (terutama dalam dua dasawarsa terakhir) yang di luar kemampuan kita untuk mengantisipasinya. Saya tidak pernah mengira kalau kenaikan harga temped an tahu di pasar Demangan menjadi duakali lipat dipicu oleh pengambangan (floating) nilai mata uang Baht di Thailand sana. Tidak hanya skala, namun juga rentetan pengaruhnya. Siapa sangka kalau kemacetan impor jagung akan berpengaruh terhadap runtuhnya industri makanan jadi dan juga menurunkan derajat diet masyarakat. Kejadian yang saling kait-mengait dengan melibatkan variasi skala geografis dan skala pengambilan keputusan yang lebar menyebabkan analisis saling ketergantungan keruangan menjadi lebih cepat daripada sebelumnya. Walaupun tidak ada yang baru, namun entry point dari momentum analisis dinamika wilayah ini dipicu oleh teori sistem-dunia ( world-system) karya Emmanuel Wallerstein (1979). Dalam teori ini permukaan bumi tidak lagi dibagi menjadi dua wilayah dikotomi tetapi tiga wilayah yang saling berkaitan, yakni core, semiperiphery, dan periphery. Dengan mengikutsertakan wilayah semi-periphery ke

dalam sistem dunia, Wallerstein ingin menjelaskan sifat kedinamisan wilayah, yaitu tidak selamanya suatu wilayah terpaku pada satu posisi. Sejarah telah memberikan bukti timbul tenggelamnya peradaban manusia di suatu wilayah. Eropa Barat, Amerika Utara, dan Jepang adalah wilayah core dunia sekarang ini dan sebagian besar wilayah Afrika,Timur Tengah, dan Asia Tenggara adalah periphery, sedang negara-negara industri baru, seperti Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura adalah wilayah semi-periphery. Namun sejarah juga mengatakan bahwa wilayah-wilayah periphery sekarang ini dahulu pernah sebagai core dunia dan sebaliknya wilayah core yang sekarang ada, dahulu adalah periphery. Menurut Wallerstein, hubungan antara core-semi periphery-periphery adalah hubungan yang dinamis dalam arti bahwa masing-masing saling membutuhkan dan masing-masing ingin memperkuat posisi atau statusnya dengan memperkuat efektivitas wilayahnya dalam meningkatkan daya saing kemampuan domestik (Knox, 1994). Dalam menerangkan dinamika wilayah, teori sistem-dunia ternyata bukan satu-satunya pisau analisa. Di antaranya adalah globalisasi dan perubahan teknologi. Globalisasi adalah semakin meningkatnya ketertautan (interconnectedness) wilayahwilayah permukaan bumi melalui proses-proses perubahan baik ekonomi, lingkungan, politik, maupun budaya (Knox dan Marston, 1998). Gejala globalisasi dan internasionalisasi (ekonomi) akhir abad ke-20 ditandai dengan munculnya tiga wilayah yang mendominasi produksi dan perdagangan dunia : Amerika Utara, Masyarakat Ekonomi Eropa (MEE), serta Asia Timur dan Asia Tenggara (menguasai hampir 80 % ekspor dunia dan lebih dari 60 % produksi manufaktur dunia); deregulasi sistem keuangan dunia : mempermudah pergerakan investasi ke seluruh pelosok bumi (terutama di tiga wilayah di atas) baik melalui subtitusi-impor maupun foreign direct investment-FDI ; dan internasionalisasi proses produksi, terutama perusahaan multi nasional (transnasional Corporation-TNCs) : menyebabkan tata pembagian tenaga-kerja internasional baru (the new international division of laborNIDL).

Penganut teori gelombang-panjang (long-wave theory) mempercayai adanya pengaruh daur inovasi teknologi terhadap perkembangan ekonomi global. Sejak tahun 1780, telah terselesaikan empat gelombang-K (K-waves : K adalah inisial dari Kondratiev, seorang ekonom Rusia pencetus teori ini pada tahun 1920) dimana masing-masing gelombang memakan waktu sekitar 50 tahun. Setiap gelombang-K selalu berkaitan dengan difusi inovasi teknologi pokok dan hal tersebut berpengaruh pada bentuk dan sifat produksi, distribusi, dan organisasi (Golledge dan Stimson, 1997). Kita sekarang sedang berada pada era gelombang-K kelima yang baru pada tahap awal : era teknologi informasi TI, yang ditandai dengan kemajuan pesat pada teknologi transportasi dan telekomunikasi. Dampak utama dari gelombang terakhir ini adalah pengkerutan jarak (the shrinking of distance) geografis, berarti pula aliran (barang, orang, informasi) dan perubahan (baik produksi, distribusi, dan organisasi) menjadi lebih cepat. Proses globalisasi (ekonomi) dan perubahan teknologi (terutama di bidang transportasi dan telekomunikasi) lebih memperkuat dan membesar jaringan kota-kota di dunia (terutama kota-kota besar / metropolitan), dan yang lebih penting, terutama bagi geografiwan, adalah semakin kuatnya peranan kota sebagai agen perubahan wilayah. Namun, sifat hubungan antar kota ini tidak seimbang dan cenderung ekspoilatif, yaitu menguntungkan kota-kota dengan kekuatan kontrol yang besar. Sistem kota-kota dunia sekarang ini didominasi oleh kota dunia (world cities). Kota dunia adalah kota yang menjadi pusat kendali bisnis dunia, termasuk di dalamnya adalah pusat kekuatan ekonomi, budaya, dan politik yang menentukan bentuk dan arah globalisasi ekonomi dan budaya (Knox, 1997). Dewasa ini diyakini ada empat tingkat kota dunia. Paling atas terdapat tiga kota dunia, yang semuanya terdapat di wilayah core , yaitu New York, London, dan Tokyo. Di bawahnya adalah kota-kota dengan kekuatan dengan kontrol skala regional. Untuk wilayah Asia Timur dan Tenggara adalah Singapura, yang kemudian disusul oleh Hongkong dan Seoul, Osaka, dan Taipei di tingkat tiga. Untuk kota dunia tingkat ke-empat adalah ibukotaibukota negara namun telah mempunyai pengaruh pada skala regional (Jakarta

termasuk dalam kategori ini). Dengan struktur hirarki dan jaringan kota-kota semacam ini, maka sudah sewajarnya wilayah-wilayah yang mendapat kesempatan berkembang terlebih dahulu adalah wilayah-wilayah yang memiliki keterkaitan dengan kota-kota dunia. Dicken (1992) mengidentifikasikan wilayah yang paling dinamis di dunia pada saat ini terpusat di tiga kutub, yaitu wilayah MEE, Amerika Utara, dan wilayah Asia Timur dan Tenggara. Kerjasama-kerjasama regional yang menjadi trend perkembangan saat ini, seperti kerjasama segitiga antara IndonesiaMalaysia-Singapura, Indonesia-Malaysia-Thailand, dst. Sebenarnya merupakan implikasi dari perkembangan (ekonomi) global yang ditimbulkan oleh dinamika kotakota dunia. Segitiga pertumbuhan SIJORI : Singapura-Johor-Riau merupakan contoh nyata kerjasama regional yang mengangkat wilayah sekitar negara-kota Singapura masuk ke dalam jaringan global dengan Singapura sebagai jangkar dan motor penggerak nya. Pada tingkat nasional, wilayah-wilayah yang aktif berkembang sudah pasti dengan mudah dapat kita kenali, yaitu wilayah-wilayah di sekitar kota besar di Indonesia. Pada tingkat pertama, sudah pasti berada di wilayah sekitar Jakarta : JABOTABEK, bahkan telah meluas meliputi hampir separoh wilayah propinsi Jawa Barat, dengan koridor-koridor yang aktif berkembang, seperti Jakarta-Cirebon, Jakarta-Merak / Anyer, Jakarta-Bandung-Cianjur. Tingkat kedua adalah wilayah di sekitar Surabaya : GERBANGKERTOSUSILA, ditambah dengan koridor SurabayaMalang. Pada tingkat ketiga mungkin ditempati oleh wilayah di sekitar Medan dan Ujung Pandang, oleh karena kota-kota ini pusat perniagaan regional dan mempunyai jaringan internasional yang cukup kuat. Lalu, bagaimana dengan JOGLOSEMAR : Jogjakarta, Solo, dan Semarang ?

JOGLOSEMAR : WILAYAH APA ? Sesuai dengan keinginan kita untuk menggarap wilayah JOGLOSEMAR ini setelah penelitian terpadu di DAS Progo dianggap selesai, maka timbul dalam benak saya pertanyaan di atas. Tentunya pertanyaan ini hanya merupakan bagian kecil dari tugas kita untuk menjawabnya dalam penelitian-penelitian yang akan dilakukan nantinya. Akronim JOGLOSEMAR sebenarnya dengan jelas menunjuk pada tiga kota besar (bahkan dapat disebut tiga kota terbesar) di wilayah bagian tengah Pulau Jawa : Jogjakarta (atau Yogyakarta), Solo, dan Semarang. Oleh karena kedudukan geografis ketiga kota tersebut agak berdekatan dan berbentuk segitiga, maka orang sering mengidentitfikasikan wilayah di sekitar tiga kota ini sebagai Segitiga Pertumbuhan JOGLOSEMAR atau disingkat SP JOGLOSEMAR. Istilah SP ini memang marak digunakan dalam kurun lima tahun belakangan ini yang umumnya merujuk pada aspek pengembangan ekonomi wilayah yang ditimbulkan oleh linkages tiga kota utamanya. Kentalnya muatan ekonomi dalam memandang SP ini disebabkan kerjasama-kerjasama ekonomi sering dijadikan landasan pembentukan SP (Mutaali, 1997). Dalam artikel ini saya tidak akan membahas lebih jauh mengenai SP (karena sudah menjadi bagiannya Sdr. Lutfi Mutaali dan Sdr. Baiquini), namun cukup bagi saya untuk mengatakan bahwa konsep SP ini membawa konsekuensi yang berat namun sekaligus menarik bagi geografiwan untuk terlibat di dalamnya. Setidaknya ada tiga aspek yang menjadi tantangan geografiwan, yaitu konseptualisasi, deleniasi, dan kontribusi analisis. Sebagai konsep yang masih relatif baru, pengertian SP ini masih labil sehingga diperlukan manuver-manuver geografiwan untuk memperoleh klarifikasikan konsep yang applicable. Aspek kedua mungkin bagian yang paling sulit : bagaimana SP ini diberi batas keruangannya. Sebagaimana halnya dengan diskonsensus persoalan regionalization, deliniasi SP membutuhkan argumen-argumen yang secara teoritis dan praktis dapat dipertanggung-jawabkan. Dan untuk aspek yang terakhir diperlukan konsolidasi

pemikiran-pemikiran geografis untuk menjawab tantangan baru, yang mungkin relevan dengan pertanyaan : apa bentuk kontribusi geografiwan ? PENUTUP : KONTRIBUSI ANALISIS GEOGRAFIS Immanuel Kant (1724-1804) membagi ilmu pengetahuan menjadi dua : khusus dan umum. Khusus berarti mempelajari disiplin-disiplin tertentu, seperti fisika, kimia, biologi, dan sebagainya; sedang untuk yang umum hanya ada dua : mempelajari sesuatu dalam waktu adalah ilmu sejarah dan mempelajari sesuatu dalam ruang adalah ilmu geografi (Knox dan Marston, 1998). Jadi, memang sudah sejak lama pengertian tentang ruang mengakar dalam studi-studi geografis, bahkan secara ekstrim disebutkan bahwa kajian tentang ruang adalah domain ilmu geografi. Jika ruang geografis secara sempit dapat diartikan sebagai wilayah permukaan bumi, maka sudah sewajarnya bila geografiwan sangat berkepentingan dengan kajian dinamika wilayah. Lalu, bagaimana bentuk kontribusinya ? Sebagai ilmu pengetahuan yang bersifat umum geografi tidak mempunyai objek material khusus (Hinderink, 1981). Bahkan Johnston (1981) menyebutkannya sebagai the study of the earths suface as the space within which the human population lives. Konsekuensinya adalah bahwa segala fenomena yang ada dan atau terjadi di dalam wilayah dapat dijadikan objek kajian geografis. Sehingga tidak terlalu keliru bila ada yang beranggapan bahwa geography is what geographers do. Namun demikian, tidak berarti bahwa ilmu geografi tidak berciri. Seperti yang tampak dalam gambar 2 studi-studi geografis dikenal sebagai studi yang menaruh perhatian pada organisasi keruangan (spatial organization) baik lingkungan alamiah (natural environment) maupun kegiatan-kegiatan manusia (human activities). Di samping itu, studi-studi geografis juga sangat concern terhadap fenomena yang ditimbulkan oleh atau proses-proses yang berkaitan dengan hubungan antara manusia dengan lingkungannya (human environment relationship). Last but not least, studi geografi selalu dikenal dengan petanya baik sebagai alat analisis maupun sebagai hasil kajiannya. Kemajuan teknologi fotografi dan kedirgantaraan telah membawa studi geografi berkembang lebih jauh dengan menggunakan citra penginderaan jauh dalam mengkaji fenomena di permukaan bumi ini. Bahkan dalam era teknologi

informasi, geografiwan telah berhasil menyumbangkan karya emasnya bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan pembangunan dunia lewat geographic information system atau GIS. Dengan ciri-ciri di atas kontribusi nyata geografi terhadap studi dinamika wilayah, menurut hemat saya, terletak pada pendekatan-pendekatan atau hampiranhampirannnya (approaches) terhadap persoalan-persoalan wilayah (baik teoritis maupun terapan). Ada tiga pendekatan atau hampiran yang digunakan dalam studi geografis, yaitu keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah (Bintarto dan Surastopo, 1979 ; Hinderink, 1981). Analisa keruangan (baik pola maupun distribusi keruangan) merupakan pencerminan dari concern studi geografi terhadap organisasi keruangan. Dalam gambar 2 ditunjukkan bahwa ada lima konsep dasar yang digunakan dalam analisis keruangan, yakni lokasi, jarak, ruang, aksesibilitas, dan interaksi keruangan (Knox dan Marston, 1998). Analisa ekologi merupakan pencerminan concern studi geografi terhadap hubungan manusia dengan lingkungannya. Dalam analisa ekologi ini, teori ekosistem memegang peranan yang penting (Bintarto dan Surastopo, 1979). Sedangkan analisa kompleks wilayah yang merupakan paduan dari dua analisa tersebut sebelumnya sebenarnya merupakan kulminasi studi geografi terhadap persoalan-persoalan wilayah. Wilayah tidak lagi dilihat dan dihampiri secara sepenggal-sepenggal, namun sebagai entitas yang utuh, satu kesatuan. Analisa kompleks wilayah menjadi lebih penting kegunaannya dalam intra-regional analysis (Bendavid-Val, 1991). Dengan ketiga pendekatan di atas, respon geografiwan terhadap studi dinamika wilayah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu studi yang bersifat teoritis (theoretical) dan studi yang bersifat terapan (applied). Teoritis berarti berhubungan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya pengembangan teori-teori dalam ilmu geografi ; terapan berarti menjawab persoalan-persoalan di dalam wilayah untuk kegunaan-kegunaan praktis. Seperti yang tampak dalam gambar 1 bahwa persoalan-persoalan wilayah muncul ke permukaan sebagai akibat lanjutan dari perubahan-perubahan yang terjadi pada unsur-unsur wilayah. Penanganan persoalan-persoalan wilayah melalui pengembangan kebijakan-kebijakan dan

perencanaan akan menimbulkan persoalan-persoalan baru baik yang diharapkan maupun yang tidak, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kembali dinamika wilayah. Begitu seterusnya, sehingga sesungguhnya peranan geografiwan dalam mengkaji dinamika wilayah tak ada putusnya : selalu ada persoalan-persoalan baru yang membutuhkan kontribusi analisis geografis. Timbul pertanyaan : lalu, bagaimana prakteknya ? Ada dua hal pokok, menurut hemat saya, yang harus diperhatikan, yaitu lingkup kajian dan prosedur. Untuk menentukan lingkup kajian dinamika wilayah, saya merujuk pendapat Bendavid-Val (1991) seperti yang tercantum dalam Tabel 1 dan Tabel 2. Beliau mengembangkan suatu kerangka analisa dalam studi intraregional yang didasari oleh dua kajian pokok (lihat Tabel 1), yaitu kajian tentang economics characteristics of places and the interactions among them dan the overall environment in regional subareas, yang kemudian dijabarkan ke dalam lima belas butir analisis (lihat table 2) : (1) Basic statistical compendium; (2) incomes measures; (3) social accounts; (4) economic composition analysis; (5) natural resource assassement; (6) linkage investigations; (7) flow studies; (8) friction analysis; (9) extended commodity trade systems analysis; (10) economic base and accrual analysis; (11) input-output analysis; (12) rural-urban exchange analysis; (13) access studies; (14) functional analysis; (15) market center studies. Sedang untuk prosedur, saya merujuk pendapat Nossin (1982) seperti yang tercantum dalam Gambar 3. Walaupun sebenarnya gambar tersebut untuk menerangkan langkahlangkah yang perlu dalam suatu survey / penelitian untuk pembangunan, namun keenam langkah tersebut sesuai dengan kebutuhan dan bentuk penelitian geografis dalam studi dinamika wilayah. Ke enam langkah tersebut, menurut hemat saya, dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok studi yang sifat sequential, yaitu : pertama, kelompok studi yang berkaitan dengan pembentukan bank data yang bersifat komprehensif. Pada tahap ini, segala usaha dan perhatian dari masing-masing interest harus dicurahkan pada pembentukan sistem informasi wilayah yang terintegrasi. Dengan demikian, kedudukan dan peranan GIS dalam kajian dinamika wilayah dapat sebagai alat sekaligus tujuan analisis. Pada tahap kedua adalah

pemanfaatan sistem informasi wilayah untuk menganalisis persoalan-persoalan wilayah. Pada tahap ini tidak diperlukan integrasi masing-masing interest : mengkaji paling tidak lima belas topik penelitian seperti yang diusulkan oleh Avrom BendavidVal. Dan tahap terakhir adalah keikutsertaan geografiwan dalam menjawab persoalan-persoalan wilayah, terutama dalam intervensi kebijakan dan perencanaan. Pada tahap ini perlu adanya seleksi persoalan-persoalan wilayah : dipilih persoalanpersoalan yang benar-benar aktual dan krusial dan mempunyai dampak penting bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan wilayah yang dikaji. Usulan tiga tahapan tersebut menyiratkan bahwa penelitian dinamika wilayah sebaiknya dilakukan terpadu dengan melibatkan banyak minat. Di samping itu, penelitian dinamika wilayah tampaknya juga membutuhkan waktu cukup panjang, dan disertai dengan perencanaan yang cukup matang agar sasaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Bagaimana dengan SP-JOGLOSEMAR ? tentunya perlu kita pikirkan bersama.

REFERENSI Bendavid Val, A.1991. Regional and Local Economic Analysis For Practitioners. New York : Preager. Bintarto, R. dan Surastopo H. 1997. Metode Analisa Geografi. Jakarta : LP3ES. Golledge, R.G. dan Stimson, R.J. 1997. Spatial Behaviour : A Geographic Perspective. New York : The Guilford Press. Hinderink, J. 1981. Geography and the Study of Development. The Indonesian Journal of Geography. Vol. 11 (42) : 9-18. Johnston, R.J. (eds). 1981. The Dictionary of Human Geography. Oxford : Blackwell. Johnston, R.J. 1984. The World is Our Oyster. Transactions, Institute of British Geographers. Vol. 9 : 443-459. Knox, P.L. 1995. The World Cities and the Organization of Global Space. Dalam Johnston, R.J. et al. (editors). Geographies of Global Change : Remapping the world in the late twentieth century. Oxford : Blackwell. Knox, P.L. dan Agnew J. 1994. The Geography of The World Economy : An Introduction to Ekonomic Geography. Edisi kedua. London : Edward Arnold. Knox, P.L. dan Marston, S. A. 1998. Places and Regions in Global Context : Human Geography. New Jersey : Prentice Hall. Mutaali, Lutfhi. 1997. Tinjauan Geografis Segitiga Pertumbuhan Dalam Pembangunan Wilayah. BEM Fakultas Geografi-UGM, Yogyakarta.

Gambar 1.Proses Dinamika Wilayah


PENGAMBILAN KEPUTUSAN (politik,sosial,e konomi:publik, perusahaan,ke lompok, perorangan) AGEN PERUBAHAN Alam (iklim,bencana ,

TAHAPAN PERKEMBANGAN WILAYAH Pada dasarnya perkembangan wilayah tidak akan berlangsung secara serentak dan bersamaan dengan intensitas yang sama, namun melalui tahapan-tahapan atau gradasi. Teori tahapan ini pada dasarnya adalah kelanjutan dari pertumbuhan wilayah. Disamping dikaji faktor-faktor penentu perkembangan wilayah, kemajuan suatu wilayah juga dapat diidentifikasi dari tahapan perkembangan. Teori tahapan ini sering juga disebut teori transformasi sektor, hal ini disebabkan perkembangan wilayah biasanya memiliki keterkaitan yang erat dengan perubahan atau pergeseran sektor. Berikut penjelasannya. 1. Teori Pentahapan Perspektif Klasik Pertumbuhan ekonomi wilayah selalu diikuti relokasi sumberdaya dan transformasi ekonomi. Hal ini bisa dilihat dari variabel struktur ekonomi, tenaga kerja, dan pergeseran sektoral. James Stuart dan Adam Smith menjelaskan 3 tahapan, yaitu : 1) Tahap dominasi pertanian, yang menentukan perkembangan dan distribusi penduduk, memunculkan sektor pendukung 2) Kegiatan ekonomi beragam, khususnya jasa dan perdagangan, yang mendukung pertanian 3) Industrialisasi, untuk peningkatan produktivitas dan memenuhi kebutuhan. Khusus sektor perdagangan Smith, menekankan adanya inter dan intra region. Dalam bahasa sekarang, hal di atas sering disebut Transformasi Sektoral. Friedrich List (1844), mengungkap tentang lima tahap perkembangan wilayah (masyarakat) yaitu : 1) Kehidupan masyarakat primitif 2) Perkebunan 3) Pertanian 4) Pertanian dan manufaktur

5) Pertanian dan perdagangan Hildebrand (1864) berdasarkan hubungan pertukaran ada (1) barter, (2) ekonomi uang, (3) ekonomi kredit. Bucker (1893) berdasarkan transaksi ekonomi: ekonomi rumah tangga (konsumsi dan produksi terbatas), ekonomi kota (produksi umum), dan ekonomi nasional (produksi dan distribusi). Gras (1922) mendasarkan pada ekonomi spasial, mengelompokkan dalam lima tahapan, yaitu (1) ekonomi nomaden, (2) ekonomi perdesaan, (3) ekonomi perkotaan, (4) ekonomi nasional, (5) ekonomi global. Sebelumnya tokoh sosialis terkemuka Karl Marx, membagi tiga lembaga ekonomi, yaitu feodalisme, kapitalisme, dan sosialisme. Secara sederhana berdasarkan beberapa tahapan tersebut di atas, suatu wilayah dapat dinilai tingkat perkembangannya, tentunya dengan mendasarkan variabel penilainya. Intinya apakah masih pada tahap awal perkembangan, proses, atau tahapan lanjutan.

2. Teori Tahap Tinggal Landas Perlu dijelaskan tersendiri karena Indonesia beberapa periode yang lalu kental dengan pentahapan ini (mafia Barkeley, wijojo Nitisastro Cs arsitek pembangunan Indonesia). Pencetusnya adalah WW Rostow (1960), yang mengelompokkan tahapan pembangunan dalam lima tahap: 1) Masyarakat Tradisional, berciri statis dan didominasi kegiatan pertanian (subsistem). 2) Masa Persiapan, dicirikan adanya perubahan kekakuan tradisional dimana telah terjadi mobilitas sosial, geografi, pekerjaan. Selain itu fungsi produksi pertanian dan industri telah berkembang meskipun lambat. 3) Masa Tinggal Landas, dicirikan adanya investasi mencapai 10 % dari pendapatan wilayah, muncul kegiatan manufaktur leading and propulsive industry, butuh modal skala besar, ada kerangka kerja yang jelas (sosial, politik, kelembagaan). 4) Masa Pendewasaan, dicirikan investasi meningkat hingga 20 % dari pendapatan wilayah, efisiensi sektor unggulan (spesialisasi), penduduk dan pendapatan perkapita meningkat. 5) Konsumsi Masyarakat Tinggi, dicirikan sektor unggulan bergerak ke barang konsumsi dan jasa, pola konsumsi dan produk non basic membesar, pendapatan tinggi. Perkembangan tidak mesti sulit, tetapi bis ameloncat.

3. Teori Transformasi Sektoral Dikemukakan pertama kali oleh Alan Fisher dengan mengenalkan sektor primer, sekunder, dan tersier. Menurutnya terdapat hubungan yang erat antara pertumbuhan ekonomi wilayah dengan perubahan sektoral dan transformasi penduduk (secara spasial). Perkembangan wilayah akan selalu diiringi (ditandai) dengan pergeseran peran atau dominasi dari (1) sektor primer, pertanian dan pertambangan, (2) sektor sekunder, manufaktur dan konstruksi, (3) sektor tersier, seperti perdagangan dan jasa. Perubahan ini tidak hanya dari struktur pendapatan regional, tetapi juga perubahan struktur tenaga kerja. Sebagai contoh pada tahapan industrialisasi (modifikasi dari Rostow), (1) non industrialisasi, jika sumbangan PDB sektor industri terhadap pendapatan nasional atau wilayah < 10%; (2) menuju industrialisasi, antara 10-20%; (3) semi industrialisasi, antara 20-30%, dan (4) industrialisasi penuh, jika PDB sektor industri mencapai lebih dari 30%. Kuznet, berdasarkan perubahan sektoral menemukan perkembangan wilayah melalui tahap : 1) Ekonomi subsistem yang swasembada 2) Spesialisasi pada kegiatan primer dan perdagangan antar wilayah 3) Introduksi kegiatan industri 4) Diversifikasi industrialisasi 5) Spesialisasi industri jasa Selain itu dikemukakan, wilayah disebut maju jika tingkat pengeluaran dan pendapatan tinggi, produktivitas tinggi, transformasi struktur ekonomi cepat, kecenderungan ekspor.

4. Teori Transformasi Spasial (Tinjauan Geografi) Aspek spasial atau keruangan, yang menjadi penciri geografi adalah wujud spasial dari ekonomi wilayah. Dengan kata lain transformasi sektoral akan berakibat kepada transformasi spasial. Transformasi spasial dapat dilihat dari perubahan landuse (konversi lahan), ciri-ciri kekotaan (kepadatan, kawasan terbangun, fasilitas, proporsi pekerja non pertanian), serta sistem kota-kota, dimana ada perubahan dari kota kecil-menengah-besar-metropolitan-mega urban. Kota besar (metropolitan), kota menengah (secondary city) dan kota kecil (small city). Atau core-semi perypheri-perypheri. Dari berbagai uraian di atas, belum terjelaskan tentang ttransformasi spasial (geografi) yang terjadi. Apakah perlu muncul tersendiri ataukah cukup implisit dalam uraian di atas. Sebagai misal teori pentahapan geografis. Berikan penjelasan, Geografis! tentang Tahapan Perkembangan Wilayah dalam Perspektif

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH

PERTUMBUHAN WILAYAH
BAGIAN V

TEORI PERTUMBUHAN WILAYAH Perencanaan pengembangan wilayah berkaitan erat dengan upaya peningkatan kinerja (intra regional) wilayah dan keseimbangan perkembangan antar wilayah (interregional). Untuk memahami secara lebih baik terhadap dua topik tersebut perlu diperbincangkan teori tentang pertumbuhan wilayah. Hakekat pembangunan nasional termasuk pengembangan wilayah adalah bagaimana memacu pertumbuhan wilayah, dan menyebarkannya (growth with equity) secara lebih merata sehingga dapat mensejahterakan masyarakat yang ada di dalamnya. Berikut akan dijelaskan beberapa teori pertumbuhan wilayah. 1. Teori Resources Endowment atau Resource Base Teori ini dikemukakan oleh Harver Perloff dan Lowdon Wingo, Jr. (1961) dalam tulisannya Natural resources Endowment and regional economic growth. Menerangkan perkembangan wilayah di Amerika yang berlangsung 3 tahap, yaitu : (1) tahap perkembangan pertanian (- 1840), daerah berkembang adalah wilayah pertanian dan pelabuhan (pusat); (2) tahap perkembangan pertambangan (1840-1950), besi dan batubara, memiliki forward linkages yang lebih luas dari sektor pertanian; (3) tahap perkembangan amenity resource atau service. Pertumbuhan wilayah sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumberdaya dan kemampuannya untuk memproduksinya, untuk keperluan ekonomi nasional dan ekspor. Dengan kata lain wilayah memiliki Comparative Advantages terhadap wilayah lain (spesialisasi). Kegiatan ekspor akan memperluas permintaan dan efek multiplier yang berpengaruh pada dinamika wilayah. Sumberdaya yang baik adalah : (1) mensupport produksi nasional, (2) memiliki efek backward and forward linkages yang luas, (3) efek multiplier, yaitu kemampuan meningkatkan permintaan produksi barang dan jasa wilayah. Permintaan merupakan fungsi dari jumlah penduduk, pendapatan, struktur produksi, pola perdagangan, dll.

2. Teori Export Base atau Economic Base Teori ini dikemukakan Douglass C. North tahun 1964, merupakan perluasan dari teori resources endowment. Teori ini mengatakan bahwa sektor ekspor berperan penting dalam pertumbuhan wilayah, karena sektor impor dapat memberikan kontribusi yang penting, tidak hanya kepada ekonomi wilayah tapi juga ekonomi nasional. Kalau teori pertama lebih berorientasi pada inward looking (strategi ke dalam), maka teori ekspor base mengandalkan pada kekuatan permintaan eksternal (outward looking). Wilayah dengan tingkat permintaan yang tinggi akan menarik investasi (modal) dan tenaga kerja. Kegiatan ekspor akan mempengaruhi keterkaitan ekonomi ke belakang (kegiatan produksi) dan ke depan pada sektor pelayanan (service). Dengan kata lain, kegiatan ekspor secara langsung meningkatkan pendapatan faktor-faktor produksi dan pendapatan wilayah. Syarat utama bagi pengembangan teori ini adalah sistem wilayah terbuka, ada aliran barang, modal, teknologi antar wilayah, dan antara wilayah dengan negara lain.

3. Teori Pertumbuhan Neoklasik Teori ini dikembangkan dan banyak dianut oleh ekonom regional dengan mengembangkan asumsi Neoklasik. Tokohnya adalah Harry W. Richradson (1973) dalam bukunya Regional Economic Growth. Teori ini mengatakan bahwa pertumbuhan wilayah tergantung tiga faktor yaitu tenaga kerja, ketersediaan modal (investasi), dan kemajuan teknologi (eksogen, terlepas dari faktor investasi dan tenaga kerja). Semakin besar kemampuan wilayah dalam penyediaan 3 faktor tersebut, semakin cepat pertumbuhan wilayah. Selain tiga faktor di atas, teori ini menekankan pentingnya perpindahan (mobilitas) faktor produksi, terutama tenaga kerja dan modal (investasi) antar wilayah, dan antar negara. Pola pergerakan ini memungkinkan terciptanya keseimbangan pertumbuhan antarwilayah (ingat paradigma keseimbangan regional-red). Sebagai entitesis dari teori Neoklasik-yang percaya adanya keseimbangan wilayah muncul teori ketidakseimbangan pertumbuhan wilayah, yang intinya tidak percaya pada mekanisme pasar, karena akan semakin memperburuk ketimpangan wilayah (ingat paradigma ketidakseimbangan regional-red). Mryrdall adalah tokohnya, melalui Teori Penyebab Kumulatif atau Cummulative Caution Theory yang mengungkapkan 2 kekuatan yang bekerja pada proses pertumbuhan wilayah, yaitu efek sebar (spread effect) yang bersifat positif, dan efek balik yang negatif (backwash effect). Efek kedua lebih besar disbanding yang pertama. Pertumbuhan output wilayah ditentukan oleh peningkatan produktifitas (merupakan output dari 3 faktor Neoklasik). Kuncinya adalah produktifitas, selanjutnya berpengaruh terhadap ekspor wilayah. Semakin tinggi produktivitas semakin berkembang, sehingga wilayah lain akan sulit bersaing. Pentingnya produktifitas ini juga digunakan untuk menjelaskan siklus kemiskinan, yang berawal dari (1) produktifitas rendah, (2) kemiskinan, (3) pendapatan rendah, (4) tabungan, (5) kekurangan modal (investasi), kembali ke no (1), dan seterusnya.

4. Teori Baru Pertumbuhan Wilayah Teori ini percaya pada kekuatan teknologi (sebagai faktor endogen) dan inovasi sebagai faktor dominan pertumbuhan wilayah (untuk meningkatkan produktifitas). Kuncinya adalah investasi dalam pengembangan sumberdaya manusia dan research and development. Teknologi tinggi dan inovasi yang didukung oleh sumberdaya manusia yang berkualitas dan riset dan pengembangan adalah syarat meningkatkan pertumbuhan wilayah. Pengalaman di negara lain (maju) menunjukkan bahwa semakin tinggi faktor di atas, maka perkembangan wilayah semakin cepat. Termasuk dalam lingkup teori ini adalah dimasukkannya variabel-variabel non ekonomi dalam Model Ekonomi Makro (baca : Sadono Sukirno, 1989), dimana dijelaskan bahwa : Output Regional = f (K, L, Q, Tr, T, So), dimana K adalah Kapital/Modal/Investasi, L=Tenaga Kerja, Q=Tanah (sumberdaya), Tr=Transportasi, T=Teknologi, So=Sosial Politik. Dari berbagai faktor di atas, dimanakah posisi variabel geografis, seperti lokasi, lokasi, jarak, ruang, aksesibilitas, site, situation, dan interaksi. Kenapa variabel ini tidak muncul secara eksplisit. Berikan penjelasan, tentang Variabel Geografis dan Perkembangan Wilayah ! (tugas).

5. Teori Pertumbuhan Wilayah Perspektif Geografi Pertumbuhan wilayah dipengaruhi oleh faktor internal wilayah (sumberdaya) dan faktor eksternal, khususnya hubungan wilayah tersebut dengan wilayahwilayah lain. a. Unsur Internal (Intarregional) in situ, terdiri dari unsur sumberdaya (alam, manusia, buatan), Historis, Lokasi (letak) site and situation, agen perubahan, pengambilan keputusan. b. Unsur Exsternal (Interregional) ex situ, terdiri dari interrelasi dengan wilayah lain (interaksi, interdependensi), posisi wilayah tersebut terhadap wilayah lain.

BAHAN AJAR ILMU WILAYAH

MODEL PEMBANGUNAN WILAYAH


BAGIAN VI

THREE MODELS OF REGIONAL DEVELOPMENT 1. Growth Poles Exchange Economy Development Through Concentrated investment Export From Growth Poles Aglomeration In Urban Center 2. Functional Integration Exchange Economy Development Through Dispersed Investment Linkages To Other Region Hirarki Dan Fungsi Pusat-pusat Sekunder 3. Decentalized Territoral Use Economy Development From Locally Dispersed Investment Selective Closure

Gambar

tabel

MODEL PEMBANGUNAN WILAYAH Dalam perspektif doktrin pengembangan wilayah muncul beberapa alternatif strategi. Dalam tulisan ini dibahas empat strategi, yaitu : (1) strategi kutub pertumbuhan (sebagai pendalaman pendekatan pembangunan dari atas development from above); (2) strategi agropolitan (sebagai pendalaman pendekatan pembangunan dari bawah development from below); (3) strategi pengembangan ruang terintegrasi, yang memadukan sektor perkotaan dan perdesaan; dan (4) strategi pengembangan kota-kota kecil (dalam perspektif dekonsentrasi planologis). Empat alternatif strategi tersebut mewakili beberapa aspek perdebatan pembangunan wilayah yang secara umum mengalir dalam lima pokok perdebatan dikotomis, antara lain : (1) perkotaanperdesaan; (2) industri pertanian; (3) sentralisasi-desentralisasi sampai otonomi; (4) pembangunan atas bawah; sampai (5) strategi pertumbuhan dan pemerataan. Secara lebih detil keempat strategi tersebut diuraikan pada bagian berikutnya. 1. MODEL KUTUB PERTUMBUHAN Growth poles atau kutub pertumbuhan pertama kali dipergunakan oleh Francois Perroux (1950). Dengan tesisnya : ..Pertumbuhan tidak terjadi di sembarang tempat dan juga tidak terjadi secara serentak, tetapi pertumbuhan terjadi pada titik-titik atau kutub-kutub pertumbuhan dengan intensitas yang berubah-ubah, lalu pertumbuhan itu menyebar sepanjang saluran yang beraneka ragam dan dengan pengaruh yang dinamis terhadap perekonomian wilayah. Pengertian kutub pertumbuhan yang dikemukakan oleh Perroux ini merupakan suatu konsep ekonomi, sehingga tidak memiliki dimensi ruang. Untuk menjelaskan pengertian tersebut, Perroux menciptakan suatu ruang abstrak atau ruang dalam pengertian ekonomi, ruang sebagai suatu kumpulan kekuatan ekonomi.

Pengertian Growth Pole yang terkait dengan ruang sebagai suatu kumpulan kekuatan ekonomi, yang didefinisikan oleh Perroux sebagai pusat (Focii) memiliki gaya sentrifugal yang memiliki kekuatan untuk mendorong dan gaya sentripetal yang memiliki kekuatan untuk menarik. Setiap pusat mempunyai daya tarik dan daya tolak dalam suatu medan daya tarik dan daya dorong bersama dengan pusat-pusat lainnya. Dengan pengertian ini berarti suatu Growth poles akan berperan memacu (menarik dan mendorong) perkembangan ekonomi di wilayah pengaruhnya. Dalam konteks pertumbuhan, Perroux menyatakan bahwa yang menjadi medan magnet adalah kegiatan industri. Menurutnya, untuk mencapai pertumbuhan yang mantap dan berimbang diperlukan konsentrasi investasi pada sektor-sektor tertentu yang unggul (leading sectors). Dalam perkembangan selanjutnya akan terjadi suatu proses seleksi alam sehingga suatu sektor akan makin penting, sementara sektor lainnya justru menghilang. Proses seleksi ini terkait dengan mekanisme pasar dan inovasi wirausahawan yang sangat penting dalam proses pembangunan (Hansen, 1981 : 19). Industri- industri dan kegiatankegiatan yang akan berkembang dan membentuk kutub pertumbuhan tersebut memiliki beberapa ciri sebagai Leading Industries dan Propulsive Industries, antara lain : Karakteristik Leading Industries : 1. Relatif baru, dinamis, dan mempunyai tingkat teknologi maju yang menginjeksikan iklim pertumbuhan ke dalam suatu daerah. 2. Permintaan terhadap produknya memiliki elastisitas pendapatan yang tinggi, produk tersebut biasanya dijual ke pasar-pasar nasional. 3. Mempunyai berbagai kaitan antar industri yang kuat dengan sektor-sektor lainnya (input dan output). Kaitan-kaitan ini dapat bersifat forward maupun backward. Karasteristik Propulsive Industries : 1. Relatif besar.

2. Tingkat dominasinya tinggi, yaitu kebalikan dari tingkat ketergantungan industri lain terhadap industri tersebut. 3. Menimbulkan dorongan-dorongan yang nyata kepada lingkungannya. 4. Mempunyai kemampuan berinovasi yang tinggi. Termasuk dalam suatu industri yang sedang bertumbuh dengan cepat. Implikasi spasial dari konsep kutub pertumbuhan diperkenalkan oleh Boudeville (1966) yang mendefinisikan kutub pertumbuhan regional sebagai aglomerasi geografis sekelompok industri propulsive ekspansi yang berlokasi di suatu daerah perkotaan yang mengalami dan mendorong

perkembangan kegiatan ekonomi lebih lanjut ke seluruh wilayah pengaruhnya. Melalui efek kumulatif. Kemampuan suatu industri untuk menyebarkan pertumbuhan tersebut tergantung pada multiplier effect yang berhubungan dengan faktor-faktor input-output antar industri, misalnya efek ganda dari tenaga kerja dan output pendapatan. Dalam kutub pertumbuhan terdapat kecenderungan terkonsentrasinya kegiatan ekonomi pada titik tertentu karena adanya faktor saling keterkaitan dan ketergantungan aglomerasi (Munir, 1984 : 38). Konsentrasi dan kesalingketerkaitan merupakan faktor penting dalam setiap pusat pertumbuhan karena melalui faktor ini ongkos produksi, termasuk transportasi pada kegiatankegiatan industri dapat diturunkan (aspek kesamaan bahan dan pasar). Ada tiga keuntungan aglomerasi, yaitu : Skala ekonomi (scale economies), Localization economies dan Urbanization economies. Hal ini berarti bahwa jika kegiatan ekonomi (industri) yang saling berkaitan dikonsentrasikan pada suatu tempat tertentu, maka pertumbuhan ekonomi dari daerah yang bersangkutan akan dapat ditingkatkan dibandingkan kalau industri tersebar dan terpencar ke seluruh pelosok wilayah. Pengembangan wilayah melalui konsep ini secara nyata akan terlihat dari perkembangan kota-kota sebagai kutub pertumbuhan-kutub pertumbuhan suatu wilayah. Kota-kota pusat pertumbuhan tersebut memiliki tingkat kemajuan berbeda dan saling berinteraksi sehingga pada kondisi ideal dapat membentuk

suatu pola kota yang hirarkis. Dari hirarki kota ini diharapkan dapat terjadi proses penyebaran kemajuan antar kota di wilayah tersebut yang pada dasarnya berlangsung dalam beberapa cara, yaitu (Munir, 1984 : 39) : 1. Perluasan kegiatan ekonomi ke wilayah pasar yang baru yaitu dari pusat terbesar kepada yang kecil; 2. Perpindahan kegiatan berupa rendah dari pusat yang besar ke pusat yang lebih kecil karena meningkatnya upah di kota (pusat) yang lebih besar; 3. Memberikan alternatif lokasi yang lebih baik untuk kegiatan industri yang mempunyai wilayah pasar dan kebutuhan prasarana yang berbeda sehingga operasinya lebih efisien; 4. Dorongan investasi dari wirausahawan yang disebarkan melalui hirarki. Friedman memperkaya konsep Growth Poles ini dengan mengemukakan konsep Center -Periphery (pusat-pinggiran). Pengembangan wilayah menurut konsep Friedman akan melahirkan kota utama dan wilayah sekitarnya yang menjadi inti (Core) dari sistem kota-kota nasional dan pinggiran ( periphery) yang berada di luar serta bergantung pada inti. Perkembangan disebarkan dari inti ke pinggiran melalui pertukaran penduduk, barang, dan jasa. Kota sebagai inti berpengaruh atas wilayah pinggirannya. Hubungan antara core atau pusat pertumbuhan dengan Periphery dilukiskan dengan dua efek. Menurut, Myrdall (1957), pertama efek sebar Spread Effect dan efek serap balik Backwash Effect. Spread Effect terjadi apabila ekspansi kegiatan ekonomi pada Core membutuhkan input bahan baku dari daerah sekitarnya (mekanisme inputoutput). Sebaliknya Backwash Effect terjadi jika industri propulsive tertentu, cenderung hanya akan menarik modal dari daerah sekitarnya sehingga output akan lebih tinggi. Menurutnya, Backwash Effect akan menjadi lebih kuat dari Spread Effect yang ditandai dengan adannya penyerapan ekonomi wilayah sekitarnya ke pusat-pusat pertumbuhan wilayah tersebut, yang berakibat kesenjangan wilayah.

Hirscman (1958) mengungkapkan pertumbuhan ekonomi pada pusat pertumbuhan akan berpengaruh pada daerah belakangnya melalui efek polarisasi atau polarization Effect dan efek penetasan ke bawah (Trickling Down Effect). Polarization effect tersebut diperkuat dengan adanya pemusatan investasi pada pusat pertumbuhan, sedangkan Trickling Down Effect dapat tumbuh dengan cara meningkatnya daya tarik wilayah sekitarnya. Hirschman lebih optimis, sehingga Trickling Down Effect lebih besar disbanding Polarization Effect. Kuncinya adalah komplementaritas. POSITIP : GROWTH POLE 1. Konsep kutub pertumbuhan memmberikan peluang untuk mendekatkan dua cabang penting dalam analisis regional yaitu analisis mengenai pertumbuhan ekonomi regional dan analisis struktur ruang regional. 2. Konsep kutub pertumbuhan memberikan kemungkinan pemakaian dan pengembangan teknik-teknik analisis seperti analisis input-output, analisis aglomerasi, dan sebagainya. 3. Konsep kutub pertumbuhan ini dapat digunakan sebagai alat strategi intervensi oleh pemerintah dalam menetapkan kebijaksanaan-kebijaksanaan investasi bagi pembangunan daerah. NEGATIP : GROWTH POLE 1. Kerangka permasalahan dikembangkan dalam setting masyarakat industri dan cenderung tidak melihat problem spesifik wilayah, khususnya wilayah perdesaan yang didominasi sektor pertanian. 2. Dalam hubungan pusat-pinggiran, efek balik (backwash effect) sering bekerja lebih cepat daripada efek pemancaran (spread effect), sehingga kesenjangan wilayah semakin melebar. Kondisi ini terjadi karena (a) kurang jelasnya hirarki kota-kota; (b) wilayah pinggiran tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan sumberdayanya (Firman, 1989 : 14-18).

3. Rendahnya kapasitas

penyerapan tenaga kerja karena industri yang

dikembangkan di pusat-pusat pertumbuhan merupakan industri padat modal, sehingga kenaikan dalam kapasitas produksi tidak menciptakan kesempatan kerja yang seimbang. 4. Konsep ini tidak mempertimbangkan hubungan dualisme sektoral, antara sektor informal-formal atau perkotaan-perdesaan dalam pengembangan wilayah. 2. MODEL DECENTRALIZED TERRITORIAL (Strategi Agropolitan) : Muncul sebagai respon kegagalan development from above, seperti kutub pertumbuhan. Menurut strategi ini pengertian pembangunan tidak hanya kemajuan ekonomi yang sentralistik, tetapi memberikan kesempatan bagi individu-individu, kelompok-kelompok sosial dan organisasi masyarakat untuk memobilisasi kemampuan dan sumberdaya lokal bagi kemajuannya. Pendekatan ini menitikberatkan pada upaya untuk menciptakan dorongan bagi pembangunan dinamis di wilayah-wilayah (pedesaan) yang relative terbelakang. Dengan demikian strategi ini lebih berpihak kepada daerah perdesaan. Pembangunan di suatu wilayah harus berdasarkan pada mobilisasi sumberdaya alam, sumberdaya manusia, dan institusi lokal yang berkembang di wilayah tersebut. Alas an munculnya strategi agropolitan atau tipe-tipe pembangunan dari bawah antara lain : Kegagalan startegi development from above, yang berakibat pada ketimpangan wilayah, karena terkonsentrasi pada program pembangunan skala besar (large scale); Kondisi fisik dan sosial ekonomi internal merupakan kunci sukses penerapan strategi pembangunan.

Konsep pembangunan hendaknya berasal dari masyarakat itu sendiri dengan mempertimbangkan sumberdaya lokal dan partisipasi.

Sistem ekonomi lokal harus berperan dalam memnbentuk pola interaksi ekonomi antar wilayah. Sehingga dapat meningkatkan nilai tambah ( value added).

Agropolitan

merupakan

pendekatan

pengembangan

wilayah

yang

menitikberatkan pada upaya untuk menciptakan dorongan bagi pembangunan dinamis di wilayah-wilayah pedesaan dan wilayah ynag relatif terbelakang. Dalam pendekatan agropolitan upaya untuk memercepat pembangunan di perdesaan dlakukan dengan memasukkan kegiatan non primer seperti industri, perdagangan, jasa dan lain-lain, yang menunjang perkembangan sektor pertanian. Hal ini berarti bahwa agropolitan adalah suatu wilayah pertanian yang struktur perekonomiannya tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian. Sektor non pertanian yang dikembangkan ialah sektor industri yang memliki linkages secara langsung, yaitu menghasilkan alat pertanian dan mengolah hasil pertanian (agroindustri). Untuk menunjang pemasaran, dikembangkan pula pemasaran, dikembangkan pula sektor perdagangan dan jasa. Dalam konteks ruang (Friedmann, 1976 : 37), perlu ditentukan satuan-satuan ruang yang lebih besar dari unit desa sebagai dasar bagi pembangunan desa yang progresif. Dan menata perencanaan dan pembangunan atas dasar wilayah (territorial). TUJUAN AGROPOLITAN 1. Mengubah wilayah perdesaan dengan memperkenalkan kegiatan-kegiatan non primer dan gaya hidup kota (urbanism life) yang telah disesuaikan dengan lingkungan pedesaan. Mobilitas penduduk ke kota menjadi berkurang dan terjadi akumulasi modal di pedesaan.

2. Membentuk ruang sosial-ekonomi dan politik antar desa sehingga membentuk kesatuan ruang yang lebih luas yang dinamakan distrik agropolitan (agropolitan district); 3. Menyeimbangkan pendapatan desa dan kota dengan memperbanyak kesempatan kerja produktif dan memadukan kegiatan-kegiatan pertanian dengan kegiatan non pertanian; 4. Menggunakan tenaga kerja secara efektif dengan memanfaatkan sumberdaya alam termasuk peningkatan hasil pertanian, peningkatan industri yang berkaitan dengan pertanian (agroindustri), memperluas pemberian jasa-jasa untuk perdesaan dan pembangunan sarana dan prasarana; 5. Merangkai distrik agropolitan menjadi jaringan regional, dengan cara membangun dan memperbaiki sarana untuk menciptakan hubungan antar wilayah agropolitan dan antara wilayah agropolitan dengan kota-kota yang lebih besar; 6. Memberikan otonomi pada aparat pemerintah di wilayah agropolitan sehingga mereka dapat merencanakan pembangunan berdasarkan sumberdaya wilayahnya sendiri. 7. Memperbaiki sistem keuangan termasuk memperbaiki nilai tukar barang-barang antara desa dan kota sehingga tercipta kesesuaian harga yang saling menguntungkan.

KUNCI STRATEGI AGROPOLITAN 1. Wilayah agropolitan tersebut harus merupakan wilayah tertutup. Hal ini terkait dengan kebijaksanaan untuk memanfaatkan sumberdaya lokal dan melawan sistem perdagangan bebas dan mekanisme pasar yang eksploitatif. Melalui perusahaan-perusahaan multinasional. Ekspresi kemampuan masyarakat untuk mengembangkan wilayah dengan kemampuannya sendiri (self reliance);

2. Mengarahkan pemanfaatan sumberdaya untuk kepentingan wilayah tersebut sehingga terjadi akumulasi perkembangan di dalam wilayah itu sendiri; 3. Aksesibilitas penduduk yang sama terhadap kekuatan sosial dan faktor produksi. Basis untuk akumulasi kekuatan sosial ini diantaranya ialah aset produktif dari faktor produksi seperti tanah, air, dan alat produksi lainnya, sumberdaya finansial, informasi, pengetahuan dan keterampilan, organisasi sosial-politik.

Pemerintah memainkan beberapa peranan yang penting. Pertama, bertindak sebagai pelindung terhadap kekuatan-kekuatan ekonomi dari luar wilayah yang bersifat menghisap kekayaan ekonomi wilayah yang bersangkutan (local economic). Kedua, berperan di dalam mengkoordinasikan kebijaksanaan-kebijaksanaan nasional untuk pertumbuhan struktural dan pertumbuhan, dan mengembangkan proyekproyek yang bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan ekonomi wilayah agropolitan. Ketiga, mendukung wilayah agropolitan untuk merealisasikan proyekproyek pembangunan berdasarkan sumberdayanya. Keempat, menjaga supaya perubahan-perubahan kemajuan tidak merusak sistem sosial yang ada di masyarakat wilayah agropolitan. Kelima, menyebarkan kemajuan dengan mengalirkan kelebihan sumberdaya di suatu bagian wilayah ke bagian wilayah lainnya yang relatif kekurangan (Friedmann, 1979 : 203). KRITIK STRATEGI AGROPOLITAN Pemutusan hubungan antara sektor perkotaan dengan perdesaan, karena khawatir akan terjadinya eksploitasi (tidak melihat segi positif perkotaan). Sistem wilayah tertutup hampir mustahil dilakukan. Dikaitkan dengan kewenangan daerah, pendekatan ini menyarankan otonomi daerah yang seluas-luasnya oleh masyarakat setempat sulit diterapkan.

3. MODEL

INTEGRASI

SPASIAL

(FUNCTIONAL

SPATIAL

INTEGRATION) Strategi integrasi spasial merupakan jalan tengah antara pendekatan sentralisasi yang menekankan pertumbuhan pada wilayah perkotaan (metropolitan) dan desentralisasi yang menekankan penyebaran investasi dan sumberdaya pembangunan pada kota-kota kecil dan pedesaan. Dengan argument ini Rondinelli menganjurkan pembentukan sistem spasial yang mengintegrasikan pembangunan perkotaan dan pedesaan. Hal ini dilakukan dengan menciptakan suatu jaringan produksi, distribusi dan pertukaran yang mantap mulai dari desakota kecil-kota menengah-kota besar (metropolitan). Pendekatan alternatif ini didasari pemikiran bahwa dengan adanya integrasi sistem pusat-pusat pertumbuhan yang berjenjang dan berbeda karakteristik fungsionalnya, maka pusat-pusat tersebut akan dapat memacu penyebaran pembangunan wilayah (Rondinelli, 1983 : 4). Pendekatannya adalah memacu perkembangan sektor pertanian yang diintegrasikan dengan sektor industri pendukungnya. Berdasarkan asumsi tersebut, sasaran dari strategi ini adalah meningkatkan produksi pertanian, memperluas lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan bagi sebagian besar penduduk, terutama penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan. Dengan perhatian utama pada sektor pertanian, maka pendekatan ini juga menjelaskan pentingnya transformasi pola pertanian subsistem menjadi pertanian komersialisasi dalam pengembangan wilayah. Peningkatan produktivitas harus diikuti oleh pengembangan sektor industri yang seimbang sehingga kelebihan tenaga kerja sektor pertanian dapat tertampung. Aktivitas pengolahan dan distribusi produk pertanian harus mantap dan industri harus dikembangkan untuk menghasilkan input-output produksi yang berharga murah bagi petani. Pada tahap selanjutnya dikembangkan berbagai prasarana dan sarana untuk memenuhi

kebutuhan dasar (basic needs) penduduk pedesaan seperti sarana kesehatan dan pendidikan. Untuk mendukung perkembangan pertanian sehingga nilai komersial produk pertanian meningkat di pedesaan, maka permukiman-permukiman harus membentuk suatu sistem yang terintegrasi sehingga pelayanan sarana dan prasarana dapat berlokasi secara efisien dan penduduk perdesaan memiliki akses yang baik terhadap sarana tersebut, sehingga mampu diakses oleh semua lapisan masyarakat perdesaan. Tanpa akses terhadap pusat-pusat pasar, yang terintegrasi maka penduduk pedesaan (petani) akan mengalami kesulitan di dalam pemasaran hasil pertanian, sulit mendapatkan input-output produksi, modernisasi pola-pola pertanian, penyesuaian produk terhadap selera pasar (konsumen) dan mendapatkan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup di pedesaan (Rondinelli, 1983 : 5). SISTEM PERMUKIMAN YANG TERINTEGRASI DAN HIRARKIS Menurut Brian Berry dalam Rondinelli (1983) seiring dengan pertumbuhan ekonomi suatu wilayah maka pusat-pusat (central places yaitu permukimanpermukiman yang juga melayani penduduk di sekitarnya) akan menyebar dan membentuk suatu sistem yang terintegrasi. Pusat-pusat yang diarahkan berdasarkan pendekatan ini haruslah merupakan pusat-pusat yang terintegrasi secara hirarki. Dengan demikian perlu diciptakan suatu sistem yang dapat mengintegrasikan pusatpusat pelayanan, perdagangan dan produksi yang berhirarki. Adanya integrasi ini akan memberikan berbagai manfaat baik bagi pemerintah maupun bagi penduduk di sekitar pusat tersebut. Fisher dan Rusthon (dalam Rondinelli, 1983 : 5-6) mengemukakan barbagai manfaat tersebut yaitu : 1. Efisien bagi konsumen karena berbagai kebutuhan dapat dipenuhi dalam satu kali pepergian (trip) keluar dari desanya.

2. Mengurangi jumlah transportasi yang dibutuhkan untuk melayani pergerakan antar desa karena masyarakat sudah mengenal berbagai alternatif jalur hubungan (link) sehingga dapat diketahui jalur dimanfaatkan secara optimal; 3. Mengurangi panjang jalan yang memerlukan peningkatan karena jalur yang paling penting bagi setiap desa diketahui sehingga dapat ditentukan prioritas pengembangan jaringan jalan; 4. Dengan keuntungan aglomerasi, biaya penyediaan berbagai kebutuhan pelayanan bagi fasilitas-fasilitas akan dapat dikurangi karena biaya tersebut akan ditanggung secara bersama; 5. Karena berbagai fasilitas tersebut berada di lokasi yang sama maka upaya untuk memonitoring berbagai aktifitas di pusat tersebut menjadi lebih mudah; 6. Memudahkan interaksi antar individu termasuk pertukaran informasi yang akan berguna dalam proses modernisasi; 7. Lokasi-lokasi yang memiliki keunggulan akan dapat berkembang secara spontan sebagai respon terhadap kebutuhan wilayah belakangnya (hinterland). Dalam aktualisasinya pengembangan pusat-pusat tersebut merupakan pengembangan sistem permukiman, sehingga pendekatan ini memberikan perhatian utama pada penataan sistem permukiman sehingga terintegrasi dalam ruang. Suatu sistem permukiman yang terintegrasi akan memberikan akses yang potensial bagi penduduk di seluruh wilayah terhadap pasar yang beragam, berbagai fasilitas perkotaan dan input yang berguna bagi pengembangan pertanian. Penyebaran konsentrasi investasi di permukiman yang mempunyai ukuran dan karakteristik yang berbeda merupakan salah satu elemen penting dalam pendekatan ini. Penyebaran investasi di permukiman-permukiman yang berjenjang ini menurut Rondinelli dan Ruddle akan memberikan manfaat yakni (Rondinelli, 1983 : 7-8) : hubungan yang paling penting dan kemampuan pemenuhan kebutuhan fasilitas transportasi yang terbatas dapat

1. Dengan adanya efek pemancaran (speed effect) dan skala ekonomi (economic of scale), pusat-pusat diharapkan dapat berperan dalam menyebarkan kemajuan bagi penduduk di sekitarnya (daerah hinterland); 2. Menata ekonomi pedesaan melalui mekanisme ekonomi (penawaran dan permintaan), sistem administrasi, dan sistem pelayanan sehingga kesempatan kerja dapat tercipta dan semakin beragam; 3. Menciptakan iklim yang kondusif bagi lahirnya individu-individu yang kreatif dan inovatif; 4. Investasi yang sudah ada dapat dimanfaatkan untuk tujuan wilayah dan menciptakan keunggulan komparatif lokasi dari pusat-pusat; 5. Meningkatkan permintaan berbagai fasilitas pelayanan dan infrastruktur baru sehingga pertumbuhan wilayah dapat terus dipacu. 6. Menciptakan interaksi (fisik-ekonomi) antar berbagai permukiman dan antara permukiman dengan wilayah belakangnya yang akan meningkatkan aksesibilitas tempat pusat; 7. Menarik aktivitas sosial-ekonomi yang berhubungan sehingga dapat membentuk pasar baru bagi berbagai komoditi wilayah. Dengan adanya hirarki dan spesialisasi fungsi masing-masing sistem permukiman di atas maka diharapkan terjadi keterkaitan yang dapat mendorong pertumbuhan sektor-sektor ekonomi dan pembukaan lapangan kerja terutama di sektor non pertanian. Dengan demikian arahan pengembangan pusat-pusat permukiman harus berada dalam kerangka pengembangan kegiatan sosial-ekonomi yang akan dikembangkan (berkembang) di suatu wilayah. Karena sektor ekonomi utama di daerah pedesaan adalah sektor pertanian, maka arahan pengembangan pusatpusat permukiman harus terkait dengan upaya pengembangan sektor pertanian dan sektor-sektor pendukung lainnya, seperti sektor industri.

MEMBANGUN POLA KETERKAITAN SPASIAL Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya keterkaitan spasial merupakan elemen kunci dari pendekatan integrasi spasial. Selain itu perkembangan pada suatu wilayah dipengaruhi oleh perkembangan dan perbedaan fungsi permukiman serta keterkaitan antar permukiman maupun antara wilayah pengaruhnya (pelayanannya). Kenyataan memperlihatkan bahwa suatu wilayah bukan hanya dibentuk oleh sistem permukiman yang terpisah dengan fungsi masing-masing, namun juga oleh jaringan dan interaksi sosial, ekonomi, dan fisik. Proses interaksi tersebut dimungkinkan oleh adanya keterkaitan antar permukiman. Dengan adanya keterkaitan spasial ini penduduk yang tinggal di wilayah pedesaan memiliki aksesibilitas terhadap berbagai pelayanan, fasilitas, infrastruktur, dan kegiatan perekonomian yang berlokasi di pusat-pusat desa, kota pasar (kecamatan), maupun pusat wilayah (regional). Melalui hubungan keterkaitan ini pula, diharapkan penduduk pedesaan dapat memperoleh input yang dibutuhkannya untuk meningkatkan produktifitas pertanian dan mendukung kegiatan pemasaran dari berbagai produk yang dihasilkan, terutama produk pertanian dan industri skala kecil (rumah tangga). Rondinelli, membedakan menjadi 7 keterkaitan (spatial linkages), yaitu : 1) Keterkaitan fisik (jaringan transportasi). 2) Keterkaitan ekonomi, keterkaitan produksi ke depan (forward linkages) dan ke belakang (backward linkages). 3) Keterkaitan penduduk (migrasi) dan tenaga kerja. 4) Keterkaitan teknologi. 5) Keterkaitan sosial. 6) Keterkaitan pelayanan sosial.

7) Keterkaitan administrasi, politik, dan kelembagaan. KUNCI DALAM STRATEGI INTEGRASI SPASIAL 1. Adanya hirarki dan keterkaitan (linkages) antar kelompok masyarakat atau organisasi yang berlokasi pada komunitas yang tersebar. 2. Terciptanya transformasi struktur tata ruang, organisasi, tingkah laku, kelembagaan sosial- ekonomi dan kultur sehingga elemen-elemen tersebut menjadi suatu instrument yang produktif dalam proses pertumbuhan dan perubahan. 3. Perbaikan sistem administrasi dan kepemihakan dari pemerintah terutama bagi wilayah-wilayah yang belum berkembang, serta koordinasi antar lembaga. KRITIK DAN KEGAGALAN STARTEGI INTEGRASI SPASIAL Pendekatan ini terlalu ideal sehingga jauh dari kenyataan. Pengembangan sektor secara serentak pada kenyataannya sulit dilakukan karena keterbatasan sumberdaya. Disamping kritik tersebut, sistem permukiman sebagai pembentuk integrasi spasial sering tidak dapat berjalan sebagaimana yang diinginkan. Kegagalan permukiman untuk mendukung terbentuknya integrasi spasial ini diantaranya disebabkan : 1. Jumlah pusat-pusat dan permukiman yang skalanya lebih kecil tidak memadai sehingga tidak terbentuk hirarki permukiman. Keadaan ini disebabkan oleh dua kondisi, yakni : a) Jumlah penduduk terlalu sedikit sehingga penyediaan prasarana menjadi tidak efisien;

b) Secara spasial letak (lokasi) permukiman-permukiman tersebut berjauhan pelayanan. 2. Distribusi fasilitas dan pelayanan diantara permukiman-permukiman tidak memadai, bahkan untuk fasilitas pelayanan dan infrastruktur dasar seperti kesehatan dan pendidikan. 3. Tidak terdapat keterkaitan (interaksi) antar pusat pemukiman maupun antar permukiman dengan wilayah pelayanannya. Untuk menciptakan suatu sistem permukiman (sistem keruangan) yang terintegrasi, terdapat berbagai instrument intervensi yang dapat dilakukan, antara lain: Pertama, pengembangan kapasitas pelayanan (fasilitas) dari pusat-pusat permukiman yang ada; kedua, pembentukan dan penguatan keterkaitan spasial antar pusat permukiman dan antara pusat permukiman tersebut dengan wilayah pelayanannya (belakang); ketiga, pengembangan wilayah belakang. 4. MODEL PENGEMBANGAN KOTA-KOTA KECIL (DEKONSENTRASI PLANOLOGIS) Strategi ini didasarkan anggapan bahwa di negara berkembang pengembangan dari atas, yang menitikberatkan pembangunan industri di kota besar (metropolitan), tidak akan dapat dijalarkan ke seluruh wilayah. Kota-kota ukuran sedang atau menengah tidak mampu menciptakan eksternal ekonomi yang dibutuhkan untuk menjalarkan pertumbuhan dari kota-kota besar (Hansen, 1981:318). Hal ini didukung fakta bahwa pertumbuhan kota-kota kecil dan sedang (20.000-100.000 jiwa) rendah, sebaliknya kota-kota besar makin tumbuh sehingga cenderung membentuk pola primate. Disamping itu pemusatan dan pembauran berbagai fungsi dan kegiatan perkotaan, baik fungsi primer maupun sekunder di pusat kota (kota induk) telah menyebabkan timbulnya berbagai macam permasalahan, diantaranya terjadi sehingga tidak dapat membentuk suatu sistem

pemusatan (tekanan) penduduk terutama akibat derasnya arus migrasi penduduk yang datang ke pusat kota. Dalam konteks ini pusat kota cenderung berkembang meluas menjadi metropolitan atau mega urban yang meraksasa dan seolah-olah meraup sumberdaya daerah di sekitarnya. Pengembangan kota-kota kecil dan kota sekunder adalah salah satu upaya dekonsentrasi planologis, yaitu mengembangkan pusat-pusat baru di dalam suatu wilayah kota besar atau metropolitan, dengan tujuan untuk meratakan perkembangan di dalam wilayah tersebut. Selanjutnya strategi ini tidak hanya berorientasi kepada pembangunan perdesaan saja tetapi juga menjalarkan inovasi dan pelayanan bagi aliran produksi pertanian dan industri ringan dari pedesaan ke kota kecil dan kota yang lebih besar, sehingga perluasan sistem kota-kota dikaitkan langsung dengan peningkatan kesejahteraan penduduk perdesaan sejak awal proses pembangunan. Secara teoritis bentuk pengembangan tersebut adalah upaya mengembangkan pusatpusat pertumbuhan baru dalam ruang. Konsep ini pada dasarnya merupakan pengembangan lebih lanjut daripada konsep Growth Poles. Dalam pengembangan kota-kota kecil dan pusat-pusat pertumbuhan yang baru terjadi proses integrasi antara sektor pertanian dan industri. Strategi ini diharapkan mampu mengembangkan kesempatan kerja yang luas (60-80%) untuk menahan penduduknya sendiri maupun penduduk di daerah belakangnya (hinterland) sehingga mereka tidak bermigrasi ke kota utama (urbanisasi dari bawah). Oleh karena itu pusat-pusat pertumbuhan baru paling tidak harus mempunyai unsur-unsur ( entitas) yang mampu mempengaruhi perkembangan kawasan ekonomi pengaruhnya. Umumnya unsur ini adalah kegiatan industri pendorong ( Propulsive Industry) yang dapat membangkitkan tumbuhnya berbagai kegiatan lain, seperti industri pelayanan, perdagangan, jasa dan sebagainya. Pengembangan dekonsentrasi planologis ada dua macam, yaitu pengembangan kota-kota baru dan pusat-pusat pertumbuhan baru. Pada prinsipnya, kedua macam pengembangan dekonsentrasi tersebut mempunyai tugas dan peranan yang sama, yaitu mengurangi beban kota utama. Pengembangan kota baru dibangun selengkapnya pada lahan yang masih kosong, sedangkan pengembangan pusat-pusat

pertumbuhan baru adalah pengembangan pusat-pusat yang sudah ada di sekitar kota utama (Hansen, 1972). Dalam konteks pembangunan wilayah kota sebagai suatu sistem wilayah, pengembangan kota-kota kecil di sekitar kota utama merupakan bentuk pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru dalam rangka memenuhi tingkat kebutuhan penduduknya dan mengurangi beban kota utama. Secara pragmatis, dekonsentrasi planologis dapat dikatakan sebagai upaya penyebaran satu atau beberapa fungsi dari kota inti ke kota-kota kecil di sekitarnya. Beberapa fungsi penting kota utama sengaja dipindah atau dikeluarkan serta ditempatkan di beberapa kota kecil di sekitarnya, misalnya relokasi industri ke daerah pinggiran kota. Selain itu ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dari strategi dekonsentrasi planologis, antara lain : 1. Memberikan kesempatan pertumbuhan bagi kota kecil 2. Mendorong lingkungan kehidupan kekotaan (urbanized) secara lebih merata 3. Mengurangi beban masalah kota besar 4. Menahan laju pertumbuhan-pertumbuhan kota-kota besar yang tidak terkendali 5. Menciptakan hubungan fungsional kota-kota yang lebih baik dalam sistem perkotaan. Untuk melaksanakan strategi ini, selain dilakukan pengembangan fasilitas pada kota kecil tersebut lebih penting lagi adalah pengembangan berbagai prasarana yang akan mendukung pengembangan pertanian, serta kebijaksanaan lain yang menguntungkan petani, seperti kebijaksanaan harga, pajak, bantuan kredit, dan sebagainya. Kebijaksanaan lain yang diperlukan adalah desentralisasi kewenangan yang memadai untuk pengambilan keputusan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lokal. Lebih lanjut strategi dekonsentrasi planologis ini bisa dijabarkan dan diperluas dalam bentuk counter magnet strategy, kota kecil, kota baru, kota satelit, dormitory town, dan sebagainya. Pada dasarnya konsep counter magnet asal mulanya diilhami oleh rencana pengembangan garden city.

Counter magnet strategy adalah pengembangan kota-kota kecil dan menengah untuk dapat menandingi perkembangan dari kota utama (primate city) agar lebih dapat mendifusikan aspek-aspek kota secara keruangan (Townroe, 1982). Strategi ini dalam operasionalnya di dukung oleh teori pengembangan wilayah seperti Konsep Kutub Pertumbuhan (The Conceps of Growth Poles ). Teori Ajang Pusat (The Theory of Central Places) dan lain sebagainya. Selain aspek spasial, strategi ini juga memiliki fokus pada pemecahan masalah-masalah pokok non spasial seperti kemiskinan, pengangguran, dan ketidakmerataan (inequality).

KESIMPULAN DAN KOMPARASI


ANALISIS KESESUAIAN PENDEKATAN PENGEMBANGAN WILAYAH TERHADAP KEBIJAKSANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

N O 1.

2. 3.

4. 5. 6.

7. 8.

KEBIJAKSANA AN PEMBANGUN AN NASIONAL Menitikberatkan pembangunan ekonomi dan terpenuhinya kebutuhan pokok Pemerataan dengan pertumbuhan Keseimbangan dan kesesuaian hubungan kotadesa Integrasi sistem ekonomi nasional Keseimbangan sektor Industri dan Pertanian Keterkaitan sektor modern dan tradisional sejak mula Pembangunan dari atas dan dari bawah Terbuka terhadap sistem pasar dunia, dan mengurangi ketergantungan secara bertahap

PENGEMBANG AN KUTUB PERTUMBUHA N Pembangunan ekonomi

PENGEMBANG AN AGROPOLITA N Pembangunan sosial

PENGEMBANG AN RUANG TERINTEGRAS I Pembangunan ekonomi

PENGEMBANG AN KOTAKOTA KECIL Pembangunan ekonomi, terpenuhinya kebutuhan pokok Pemerataan dahulu, baru pertumbuhan Keseimbangan kota-desa Mengarah kepada integrasi Pertanian dan Industri kecil Titik berat sektor tradisional, lokal Dari bawah Tidak mensyaratkan

Pertumbuhan dahulu Menitikberatkan pembangunan di kota Integrasi Titik berat pada industri Titik berat pada sektor modern Dari atas Secara tidak langsung mensyaratkan keterbukaan, ketergantungan yang besar

Pemerataan, dan tujuan sosial lain Pembangunan perdesaan Ketertutupan, keberdikarian distrik Titik berat pada pertanian Titik berat pada pertanian Dari bawah Pemutusan ketergantungan, dengan ketertutupan atau berdikari

Pertumbuhan dengan pemerataan Integrasi pembangunan kota dan desa Integrasi Keseimbangan industri dan pertanian Kaitan sektor modern dan tradisional Dari atas dari bawah dan

Tidak mensyaratkan