Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM OPERASI TEKNIK KIMIA I Kesetimbangan Uap Cair

Kelompok III ASLANDI KHAIRUNNISA TAUFIK (1207036420) (1207021228) (1207021286)

Tanggal praktikum

: 17 September 2013

Tanggal pemasukkan laporan : 20 September 2013

LABORATORIUM INSTRUKSIONAL DASAR PROSES & OPERASI PABRIK JURUSAN TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS RIAU 2013

Abstrak

Data kesetimbangan uap cair merupakan data termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom-kolom distilasi. Data kesetimbangan uap cair dapat diperoleh melalui eksperiment dan pengukuran. Pada suatu suhu tertentu, zat tertentu memiliki suatu tekanan parsial yang merupakan titik kesetimbangan dinamis gas zat tersebut dengan bentuk cair atau padatnya. Titik ini adalah tekanan uap tersebut pada suhu tersebut. Adapun tujuan dari percobaan ini adalah menentukan komposisi uap cair pada kondisi setimbang dan membandingkan data percobaan dengan persamaan Raoult. Dalam percobaan ini komposisi umpan yang digunakan adalah 15%, 25%, 35%, 45%, 55%. Berdasarkan percobaan diperoleh bahwa semakin besar komposisi umpan maka temperatur kesetimbangan semakin menurun.

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Tinjauan Pustaka dan Teori

A. Kesetimbangan Kesetimbangan mengandung pengertian bahwa suatu keadaan dimana tidak terjadi perubahan sifat makroskopis dari sistem terhadap waktu.Untuk material dalam jumlah tertentu hal tersebut dapat diartikan tidak ada perubahan sifat material tersebut dengan waktu, Keadaan setimbang sebenarnya tidak pernah tercapai. Suatu proses berlangsunng karena dad gaya penggerak dan selalu menuju ketitik kesetimbangan. Gaya ini merupakan selisish antara potensial pada keadaan seketika dan keadaan setimbang. Semakin dekat keadaan sisitem dengan tititk kesetimbangan, semakinkecil gaya penggerak proses semakin kecil pula laju proses dan akhirnya ssama dengan 0 bila titik kesetimbangan sudah tecapai. Jadi titik kesetimbangan hanya bisa tercapai secara teoritis dalam waktu yang tak terhingga. pada prakteknya didalam pekerjaan ilmiah suatu kesetimbangan dianggap tercapai bila tidak ada lagi perubahan sifat/keadaan seperti yang ditunjukkkan oleh alat pengukur yang digunakan. Di dalam masalah rekayasa kesetimbangan bilamana sifat yang ditunjukkan oleh praktek sama dengan sifat yang dihitung berdasarkan metoda yana menggunakan anggapan kesetimbangan. Contoh komposisi pada pelat distilasi dibanding dengan komposisi pelat teoritis. Seperti pada kesetimbangan umumnya, kesetimbangan uap cair dapat ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan) pada suatu waktu tertentu. Saat kesetimbangan model ini, kecepatan antara molekul-molekul campuran yang membentuk fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya membentuk cairan kembali. Data kesetimbangan uap cair merupakan data termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom-kolom distilasi. Contoh nyata penggunaan data termodinamika kesetimbangan uapcair dalam berbagai metoda perancangan kolom distilasi packed column dan try column. Percobaan langsung yang betul-betul lengkap baru dapat diperoleh dari serangkaian metoda pengukuran, selain itu percobaan langsung seperti itu memerlukan waktu yang banyak dan biaya yang besar. Sehingga cara yang umum ditempuh adalah mengukur data tersebut pada

beberapa kondisi kemudian meringkasnya dalam bentuk model-model matematik yang relatif mudah diterapkan dalam perhitungan-perhitungan komputer. Salah satu contoh aplikasi dari percobaan kesetimbangan uap cair ini adalah pembuatan tabung gas LPG. Proses pembuatan tabung gas LPG ini menggunakan prinsip distilasi, yaitu tekanan uap dalam tabung bila semakin besar akan mengubah gas di dalam tabung menjadi cair. Prinsip distilasi yang digunakan sangat penting dipelajari oleh mahasiswa.

B. Kriteria Kesetimbangan. Secara umum untuk sistem kesetimbangan dapat dinyatakan dengan energi Gibbs : ( dGt )T,P = 0 .....( 1 ) Hubungan energi Gibbs dan energi potensial untuk masing-masing fasa : D ( nG ) = - ( nS ) dT + ( nV ) dP + ( i dn i ) ( 2 ) D ( nG ) = - ( nS ) dT + ( nV ) dP + ( i dn i ) ............( 3 ) dan menunjukkkan masing-masing fasa. Persamaan ( 2 ) dan ( 3 ) disubtitusikan ke persamaan ( 1 ) maka diperoleh : ( dGt )T,P = ( i dn i ) + ( i dn i ) = 0 ...( 4 ) Neraca massa komponen I pada kedua fasa : dn i = - dni .......( 5 ) Sehingga persamaan ( 4 ) berubah menjadi : i = i ....( 6 ) Dari persamaan ( 6 ) dapat disimpulkan bahwa pada kondisi kesetimbangan potensial kimia komponen i di fasa 1 sama dengan potensial kimia komponen i di fasa 2. Hubungan potensial komponen i dengan fugasitas dinyatakan persamaan berikut : di = RT.dln fi ..( 7 ) Jika diintegralkan maka diperoleh : i = RT.ln fi + i .( 8 ) i adalah konstanta yang hanya tergantung komponen pada temperatur. Karena temperatur semua fasa adalah sama, maka persamaan ( 8 ) dapat disubtitusikan ke persamaan ( 6 ) menjadi : fi = fi .( 9 )

Dari persamaan tersebut dapat disimpulkan pula bahwa pada saat kesetimbangan dengan T,P sama, maka fugasitas untuk masing-masing komponen pada semua fasa adalah sama.

C. Kesetimbangan Uap Cair Untuk suatu sistem uap cair yang berada pada kesetimbangan, fugasitas komponen I adalah sama untuk fasa uap dan fasa cairnya : fiV = fil .( 10 ) Fugasitas komponen I pada fasa uap dinyatakan : fiV = iV . yi . P ...( 11 ) Sedangkan fugasitas komponen I pada fasa cair dinyatakan : fil = il . xi . P .( 12 ) Persamaan ( 1 ) dan ( 2 ) disubtitusikan ke persamaan ( 10 ) diperoleh : iV . yi = il . xi . P .( 13 ) Jika fasa uap dianggap gas ideal, maka iV = 1 dan fasa cair dianggap larutan ideal, maka il dapat dinyatakan : il
fi xf f i i i .( 14 ) x i P x iP P
l l l

Pada tekanan rendah berlaku persamaan : fil = fisat ...( 15 ) Karena fasa uap dianggap ideal, maka persamaan ( 15 ) menjadi : fil = Pisat ..( 16 ) Pisat adalah tekanan uap murni komponen i pada temperatur sistem. Jika persamaan ( 16 ) disubtitusikan ke persamaan ( 14 ) diperoleh : il
Pi P
sat

..( 17 )

Persamaan ( 17 ) disubtitusikan ke persamaan ( 13 ) diperoleh :


yi x iPi P
sat

.( 18 )

Persamaan ( 18 ) ini dikenal Hukum Raoult. Untuk menentukan tekanan uap murni i dapat didekati dengan persamaan Antoine yaitu :

LnPsat A

B ..( 19 ) TC

Untuk memprediksikan tekanan uap etanol :


Ln P sat 18,9119 3803 ,98 ..( 20 ) T 41,68

Untuk memprediksikan tekanan uap air :


Ln P sat 18,3036 3816 ,44 ..( 21 ) T 46 ,13

Seperti pada kesetimbangan umumnya, kesetimbangan uap cair dapat ditentukan ketika ada variabel yang tetap (konstan) pada suatu waktu tertentu. Saat kesetimbangan model ini, kecepatan antara molekul-molekul campuran yang membentuk fase uap sama dengan kecepatan molekul-molekulnya membentuk cairan kembali. Data kesetimbangan uap cair merupakan data termodinamika yang diperlukan dalam perancangan dan pengoperasian kolom-kolom distilasi. Contoh nyata penggunaan data termodinamika kesetimbangan uap cair dalam berbagai metoda perancangan kolom distilasi packed column dan try column. Percobaan langsung yang betulbetul lengkap baru dapat diperoleh dari serangkaian metoda pengukuran. Selain itu, percobaan langsung seperti itu memerlukan waktu yang banyak dan biaya yang besar. Sehingga cara yang umum ditempuh adalah mengukur data tersebut pada beberapa kondisi kemudian meringkasnya dalam bentuk model-model matematik yang relatif mudah diterapkan dalam perhitunganperhitungan komputer. Salah satu contoh dari kesetimbangan uap cair ini adalah pembuatan tabung gas LPG. Proses pembuatan tabung gas LPG ini menggunakan prinsip distilasi. Prinsip distilasi pada proses pembuatan tabung tersebut adalah tekanan uap dalam tabung bila semakin besar akan mengubah gas di dalam tabung tersebut menjadi cair.

Literatur Geankoplis, CJ.1983 Transport Process and Unit Operation 2 ed, pp. 828-831

Temperatur XA C F YA

Temperatur XA C F YA

100 98.1 95.2 83.2 82.0 81.0 80.1 79.1

212 208.5 203.4 181.7 179.6 177.8 176.2 174.3

0 0.02 0.050 0.400 0.500 0.600 0.700 0.800

0 0.192 0.377 0.746 0.771 0.794 0.822 0.858

91.8 87.3 84.7 78.3 78.2 78.1 78.2 78.3

197.2 189.2 184.5 173.0 172.8 172.7 172.8 173.0

0.100 0.200 0.300 0.900 0.940 0.960 0.980 1.00

0.527 0.656 0.713 0.912 0.942 0.959 0.978 1.00

1.2.Tujuan Praktikum Merangkai peralatan untuk percobaan kesetimbangan uap cair. Menggunakan alat Hand Refraktometer untuk mengukur konsentrasi etanol dalam campuran etanol-air. Membuat grafik komposisi uap (yD) dan cair (xw) versus temperature pada kondisi kesetimbangan. Menghitung konstanta kesetimbangan uap cair etanol-air hasil percobaan dan membandingkan dengan konstanta kesetimbangan uap cair etanol-air literatur.

BAB II METODOLOGI PERCOBAAN

2.1. Alat - Labu 100 ml - Labu Pendingin - Termometer - Pengambil sampel uap yang terkondensasi - Hand Refraktometer 2.2. Bahan - Etanol - Air 2.3 Prosedur Percobaan Sebelum percobaan KUC dimulai terlebih dahulu dilakukan pengukuran hubungan konsentrasi Etanol dengan Brix. a. Susun rangkaian peralatan KUC b. Isi labu 100 ml dengan 50 ml campuran etanol-air dengan komposisi tertentu c. Tutup labu tersebut dengan memasang rangkaian kondensor dengan pengambil sampel kondensat dan pengambil sampel cairan. d. Nyalakan ketel pemanas dan aliran air pendingin sekaligus e. Amati kenaikan suhu dan tunggu sampai kondisi setimbang pada temperatur tetap f. Ambil sejumlah sampel uap yang terkondensasi dan juga sampel cair dengan waktu yang bersamaan g. Analisa konsentrasi masing-masing sampel tersebut dengan Hand Refraktometer h. Ulangi percobaan tersebut dengan komposisi etanol yang berbeda

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Buat konsentrasi etanol 15 %,25 %, 35 %, 45 %, 55 % dengan volume 100ml dari 96 % etanol

V .N V .N 1 1 2 2
a. 15% V 15,62 ml 1 b. 25% V 26,04 ml 1 c. 35% V 36,46 ml 1 d. 45% V 46,87 ml 1 e. 55 % V 57,3 ml 1 Berdasarkan data diatas dengan konsentrasi yang semakin besar maka diperoleh volume yang semakin besar pula.karena konsentrasi dan volume berbanding lurus. Tabel dibawah ini adalah hasil pengukuran hubungan konsentrasi etanol dengan Brix sebelum percobaan kesetimbangan uap cair dimulai atau sebelum terkondensasi. Tabel 3.1 Hubungan antara konsentrasi Etanol dengan Brix

KONSENTRASI ETANOL

BRIX

15 25 35 45 55

2 3 4,9 6 7

kurva hubungan konsentrasi etanol dengan Brix


8 7 6 5 Brix 4 3 2 1 0 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 Konsentrasi etanol kurva hubungan konsentrasi etanol dengan Brix Linear (kurva hubungan konsentrasi etanol dengan Brix ) y = 13x + 0.03 R = 0.9867

Gambar 3.1 Kurva Standar hubungan antara konsentrasi Etanol dengan Brix Pada kurva hubungan konsentrasi etanol dengan Brix diperoleh y=13x + 0,03 dengan R2= 0,9867 sehingga nilai konsentrasi etanol fasa cair dalam bentuk persen (%) dapat dicari. Tabel dibawah ini adalah data pengamatan percobaan kesetimbangan uap cair (KUC) setelah etanol dalam fasa cair terkondensasi. Sampel fasa cair yang terkondensasi diambil dan diukur konsentrasinya dengan alat Brix dan kemudian diubah dalam bentuk % sehingga diperoleh data sebagai berikut: Tabel 3.2 Data Percobaan
Komposisi etanol (% volume) 15 25 35 45 55 Temperatur Kesetimbangan (C) 96 93 89 85 81 Kosentrasi Cairan (Brix ) Fraksi massa Etanol fasa cair(Xw) 0.083 0.119 0.211 0.271 0.302 Fraksi massa Etanol fasa Uap(Yd) 0.16 0.207 0.315 0.349 0.333

1,4 2 3,5 4,5 5

2. Memprediksi Tekanan Etanol Satuan T (suhu) adalah K karena satuan Psat = mmHg, sehingga suhu dalam C diubah dengan (C + 273)
Ln P sat 18,9119 3803.98 T 41.68

a. 960 C

3690 K Psat 1468,35 mmHg

b. 930 C 3660 K Psat 1316,72 mmHg

c. 890 C
d. 850 C

3620 K Psat 1137,85 mmHg


3580 K Psat 979,36 mmHg

e. 81.0 C

3540 K Psat 838,74 mmHg

Tabel 3.3 Data Percobaan dan data Literatur

Data Percobaan Komposisi etanol (% volume) 15 25 35 45 55 Temperatur Kesetimbangan (C) 96 93 89 85 81 Fraksi massa Etanol fasa cair(Xw) 0.083 0.119 0.211 0.271 0.302 Fraksi massa Etanol fasa Uap(Yd) 0.16 0.207 0.315 0.349 Temperatur Kesetimbang an (C)

Data Literatur Fraksi massa Etanol fasa cair(Xw) Fraksi massa Etanol fasa Uap(Yd)

98.1 95.2 91.8 84.7 0.333 81

0.02 0.05 0.1 0.3 0.6

0.192 0.377 0.527 0.713 0.794

Tabel 3.3 berisikan tentang informasi data percobaan yang kita lakukan dan juga data yang ada dari literatur. Dimana tabel ini dapat kita lihat bahwa adanya hubungan yang berbanding lurus antara komposisi etanol dengan harga Xw dan Yd. Semakin besar kompisisi umpan, maka nilai Xw dan Yd juga akan semakin besar. Namun semakin besar nilai Xw dan Yd maka temperatur kesetimbangan akan turun.

Komposisi Xw dan Yd Percobaan terhadap Temperatur Kesetimbangan


98 96 94 Temperatur (C) 92 90 88 86 84 82 80 0 0.1 0.2 Fraksi Xw dan Yd 0.3 0.4 Komposisi Cair (Xw) Komposisi Uap (Yd)

Gambar 3.2 Komposisi Uap (Yd) dan Cair (Xw) Percobaan terhadap Temperatur Kesetimbangan Dari gambar 3.2 dapat kita lihat bahwa grafiknya turun dengan kenaikan nilai fraksi Xw dan Yd. Dapat kita lihat juga bahwa adanya hubungan yang berbanding terbalik antara nilai fraksi Xw dan Yd dengan Temperatur Kesetimbangannya. Dimana pada saat suhu temperatur kesetimbangan semakin tinggi, nilai fraksi Xw dan Yd makin kecil dan begitu juga dengan sebaliknya. Dari gambar 3.2 juga dapat kita lihat bahwa nilai Fraksi uap (Yd) lebih besar dari Fraksi cair (Xw) pada suhu yang sama.

Komposisi Xw dan Yd Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan


100 95 90 Temperatur (C) 85 80 75 70 65 60 0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 Komposisi cair Komposisi Uap (Yd)

Fraksi Xw dan Yd

Gambar 3.3 Komposisi Uap (Yd) dan Cair (Xw) Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan Dari Gambar 3.3 ini juga daoat kita ketahui bahwa semakin turun suhu temperatur kesetimbangannya maka nilai Fraksi cair dan uapnya akan semakin besar. Dan dapat kita lihat bahwa nilai fraksi ini semakin lama akan semakin naik dan menuju nilai yang paling besar yaitu 1. Nilai komposisi cair lebih kecil dari pada nilai komposisi uap pada temperatur kesetimbangan yang sama.

Komposisi Fasa cair terhadap temperatur Kesetimbangan


100 95 90

Temperatur (C)

85 80 75 70 65 60 0 0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 Fraksi Xw Xw Percobaan Xw Literatur

Gambar 3.4 Komposisi fasa cair Percobaan dan Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan

Dari gambar 3.4 dapat diketahui bahwa seiring dengan turunnya temperatur kesetimbangan, nilai komposisi fasa cair semakin meningkat. Nilai komposisi fasa cair (Xw) dari literatur menunjukkan semakin turun temperatur kesetimbangannya semakin besar kenaikan komposisi fasa cairnya, begitu juga dengan nilai komposisi fasa cair (Xw) dari percobaan. Akan tetapi, perbandingan nilai komposisi fasa cair dan percobaan sedikit berbeda dikarenakan nilainya ini sulit dicapai sempurna dalam percobaan ini karena kurangnya akurasi dari alat hand refraktometer.

Komposisi Fasa Uap terhadap temperatur Kesetimbangan


100 95 90 Temperatur (C) 85 80 75 70 65 60 0 0.2 0.4 Fraksi Yd 0.6 0.8 1 Yd Percobaan Yd Literatur

Gambar 3.5 Komposisi Fasa Uap Percobaan dan Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan

Berdasarkan gambar 3.5 terlihat bahwa nilai komposisi fasa uapnya semakin naik sampai ke nilai 1 seiring dengan turunnya suhu kesetimbangan larutan etanol-air. Nilai komposisi fasa uap ini juga berbanding terbalik dengan temperatur kesetimbangan, sehingga semakin tinggi suhu kesetimbangan maka akan semakin rendah nilai komposisi fasa uap. Hal ini sesuai dengan data yang didapatkan dari literatur. Nilai komposisi fasa uap percobaan sedikit tidak sesuai dengan data literatur karena alat yang digunakan kurang akurat.

Tabel 3.4 Perbandingan nilai Konstanta Kesetimbangan


Data Percobaan Temperatur Kesetimbangan (C) 96 93 89 85 81 K 1.93 1.73 1.5 1.29 1.1 Data Literatur Temperatur Kesetimbangan (C) K 9.6 7.54 5.27 2.38 1.32

98.1 95.2 91.8 84.7 81

Berdasarkan tabel 3.4 dapat diketahui bahwa nilai konstanta kesetimbangan semakin turun seiring dengan turunnya suhu kesetimbangan. Hal ini dapat dilihat dari tabel bahwa nilai kosntanta percobaan dan juga literatur semakin turun, walaupun nilai konstanta percobaan dan juga literatur berbeda. Dapat dikatakan bahwa nilai konstanta perbandingan berbanding lurus dengan suhu kesetimbangan.

Perbandingan Nilai K terhadap Temperatur Kesetimbangan


100 95 Temperatur (C) 90 85 80 75 70 65 60 0 2 4 6 8 10 Nilai Kosntanta Kesetimbangan K Percobaan K Literatur

Gambar 3.6 Perbandingan Nilai Kosntanta Kesetimbangan Percobaan dan Literatur terhadap Temperatur Kesetimbangan

Dari gambar 3.6 dapat dilihat bahwa nilai konstanta kesetimbangan pada percobaan dan literatur akan semakin tinggi seiring dengan naiknya suhu kesetimbangan. Hal ini dikarenakan suhu kesetimbangan berbanding lurus dengan nilai konstanta kesetimbangan. Contohnya saja pada suhu 81C nilai konstanta percobaan adalah 1,1 dan pada literatur adalah 1,32. Nilai konstanta kesetimbangan ini akan terus naik seiring dengan naiknya suhu kesetimbangan.

BAB IV KESIMPULAN Kesetimbangan adalah suatu keadaan dimana tidak terjadi perubahan sifat makroskopis dari sistem terhadap waktu. Berdasarkan percobaan, dapat kami simpulkan bahwa semakin besar komposisi umpan maka temperatur kesetimbangan semakin

menurun begitu juga dengan konsentrasi etanol fasa cair pada kondisi setimbang meningkat maka sebaliknya konsentrasi etanol fasa uap pada kondisi setimbang menurun. Untuk mengukur konsentrasi etanol dalam campuran etanol-air digunakan alat Hand Refraktometer. Dari grafik komposisi uap (yD) dan cair (xw) versus temperature pada kondisi kesetimbangan maka diperoleh y=13x + 0,03 dengan R2= 0,9867 Dengan membandingkan konstanta kesetimbangan uap cair etanol-air hasil percobaan dan konstanta kesetimbangan uap cair etanol-air literatur didapatkan hasil yang tidak jauh berbeda.

LAMPIRAN

1. Konsentrasi etanol 15 %, 25 %, 35 %, 45 %, 55 % dengan volume 100 ml dari 96 % etanol

V .N V .N 1 1 2 2
A. V . N V . N 1 1 2 2 100x0.15= V x 0.96 15 V V = V . 0.96 = 15/0.96 = 15,62 ml E. V . N V . N 1 1 2 2 100 x 0,55= V . 0.96 55 V V = V . 0.96 = 55/0.96 = 57,3 ml

B. V . N V . N 1 1 2 2 100x0,25= V .0.96 25 V V2 = V . 0.96 = 25/0.96 = 26,04 ml

C. V . N V . N 1 1 2 2 100x0,35 =V2 . 0.96 35 V V2 = V.0.96 = 35/0.96 = 36,46 ml

D. V . N V . N 1 1 2 2 100 x0.45 = V .0.96 45 V V = V . 0.96 =45/0.96 = 46,87 ml

2. Konstanta kesetimbangan pada masing-masing T setimbang Dari hubungan konsentrasi etanol dengan Brix didapatkan persamaan linear y=13x + 0,03 X= y 0,03 13 Dimana : x = komposisi etanol y = konsentrasi etanol (Brix) maka dapat dicari nilai komposisi etanol pada 15% x = 1,4 0,03 13 = 0,105 Jadi, volume etanol = 50 ml x 0,105 = 5,27 ml Massa etanol = etanol x volume etanol 0,789 gr/cm3 x 5,27 ml = 4,16 gr Massa air = air x volume air = 1 gr/cm3 x (50 ml 5,27 ml) = 44,73 gr Xw = Massa etanol Massa etanol + massa air = 4,16 4,16 + 44,73 = 0,085 Perhitungan untuk Xw yang lainnya dilakukan seperti cara yang diatas sehingga didapatkan data pada tabel 3.2

Menghitung Yd

1)

Ln (Psat) = [ A -

] ] ]

T = 96 C + 273K = 369K

Psat = Exp [ 18.9119 = Exp [ 18.9119 = Exp [ 18.9119 11.62 ] = Exp [ 7,2903 ] P
sat

= 1466,02 mmHg Ptotal

Yd = Xw . Psat

Yd = 0,085 . 1466,02 760 = 0,164 Untuk nilai Yd yang lainnya dilakukan seperti cara yang ada diatas sehingga didapatkan datanya pada tabel 3.2 Konstanta Kesetimbangan Etanol

1) K

= = = 1,93

Untuk nilai K yang lainnya juga dilakukan seperti cara yang ada diatas sehingga didapatkan nilainya pada tabel 3.4

DAFTAR PUSTAKA

Hardjono, Ir. 1989. Operasi Teknik Kimia II. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik. Universitas Gajah Mada. Tim Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau 2011. Penuntun Praktikum Dasar-Dasar Proses I. Pekanbaru : Laboratorium Dasar Proses dan Operasi Pabrik Program Studi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Riau