Anda di halaman 1dari 202

PENULISAN BUKU AJAR 2011

MATERI KULIAH MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR (331G5403) PROGRAM STUDI: KETEKNIKAN PERTANIAN

OLEH: SUHARDI NIP. 19710810 200501 1 003

Dibiayai oleh dana DIPA BLU Universitas Hasanuddin tahun 2011 sesuai SK Rektor Unhas Nomor : 20875 /H4.2/KU.10/2011 Tanggal 29 November 2011

LEMBAGA KAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LKPP) UNIVERSITAS HASANUDDIN 2011

ii

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT., karena atas ijinnya sehingga buku ajar Mata Kuliah Manajemen Sumber Daya Air dapat kami selesaikan. Pembuatan buku ajar ini dimaksudkan untuk meningkatkan gairah belajar mahasiswa dan aktivitas belajar mandiri mahasiswa menjadi terprogram dan semakin intensif sehingga efektivitas pembelajaran dapat tercapai. Materi buku ajar ini lebih tekankan pada pengangkatan kondisi terkini dalam pengelolaan sumber daya air. Hal ini dianggap lebih tepat mengingat semakin peliknya persoalan sumber daya air akibat pemenuhan kebutuhan sosial dengan jumlah penduduk yang meningkat. Peningkatan jumlah penduduk mendorong meningkatnya ragam kebutuhan yang berkaitan dengan sumber daya air, yang sudah barang tentu akan meningkat pula, baik dalam tataran kuantitas maupun kualitas. Penyelesaian persoalan sumber daya air telah dilakukan oleh semua pihak, namun dianggap belum optimal. Persoalan belum optimalnya bukan karena sarana dan prasarana yang kurang memadai, tetapi karena pengelolaan sumber daya di lakukan secara sektoral dan parsial. Suatu cara yang dianggap handal dalam hal ini adalah pengelolaan dilakukan secara terpadu, penyeluruh dan berwawasan lingkungan. Solusi tersebut kami coba angkat dalam buku ajar ini, dimana materi tersebut secara umum diambil dari beberapa buku sebagai referensi utama seperti: Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu (Kodoatie dan Sjarief, 2008), Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases (Grigg, 1996), UndangUndang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Water Resources Systems Analysis (Karamouz, et al., 2003) dan Water Resources Systems Planning and Management (Jain dan Singh, 2003), Integrated Water Resources Management in Practice: Better Water Management for Development (Lenton dan Muller, 2009), dan lain-lain. Semoga buku ajar ini dapat mengantarkan mahasiswa yang memprogramkan mata kuliah Manajemen Sumber Daya Air dalam belajar mandiri dengan lebih efektif. Kritikan terhadap isi dari buku ajar ini yang sifatnya membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di mana yang akan datang.

Makassar, 7 Desember 2011 Penulis,

Suhardi

iii

DAFTAR ISI Halaman Sampul Kata Pengantar Daftar Isi Glosarium ............................................................................................. .............................................................................................. i ii iii v 1 9 11 13 24 26 27 29 40 42 43 44 63 65 66 68 77

.......................................................................................................... ........................................................................................................ ...................................................................................... ...............

BAB 1 Pendahuluan

BAB 2 Pembelajaran 1 (Air dan Fungsinya dalam Sistem Alam) I. II. III.

Pendahuluan ............................................................................ Uraian Materi ............................................................................ Penutup ................................................................................... ...................................................

BAB 3 Pembelajaran 2 (Sumber Daya Air) I. II. III.

Pendahuluan ............................................................................. Uraian Materi ............................................................................. Penutup ...................................................................................... ........................

BAB 4 Pembelajaran 3 (Sistem dan Infrastruktur Keairan) I. II. III.

Pendahuluan ........................................................................... Uraian Materi ........................................................................... Penutup ...................................................................................

BAB 5 Pembelajaran 4 (Fungsi Air dalam Sistem Sosial) ............................ I. II. III. Pendahuluan ........................................................................... Uraian Materi ........................................................................... Penutup ...................................................................................

BAB 6 Pembelajaran 5 (Kondisi dan Tantangan dalam Manajemen Sumber Daya Air) ............................................................................................. I. II. III. Pendahuluan .......................................................................... Uraian Materi .......................................................................... Penutup ...................................................................................

79 81 83 95

BAB 7 Pembelajaran 6 (Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya Air Secara Berkelanjutan) ..................................................................................... I. II. III.

97

Pendahuluan ........................................................................... 99 Uraian Materi ........................................................................... 101 Penutup .................................................................................... 114

iv

BAB 8 Pembelajaran 7 (Penilaian terhadap Pengelolaan Sumber Daya Air) ...................................................................................................... 116 I. II. III. Pendahuluan ........................................................................... 117 Uraian Materi ........................................................................... 118 Penutup .................................................................................... 128 .............. 130

BAB 9 Pembelajaran 8 (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu) I. II. III.

Pendahuluan ........................................................................... 131 Uraian Materi ........................................................................... 133 Penutup ................................................................................... 153

BAB 10 Pembelajaran 9 (Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Undang-Undang Sumber Daya Air) ................................................... 155 I. II. III. Pendahuluan ........................................................................... 156 Uraian Materi ........................................................................... 157 Penutup ................................................................................... 172

BAB 11 Pembelajaran 10 (Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Kerangka Otonomi Daerah) .................................................................................. 174 I. II. III. Penutup Daftar Pustaka Pendahuluan .......................................................................... 176 Uraian Materi .......................................................................... 178 Penutup .................................................................................. 189 ...................................................................................................... 191 ............................................................................................ 182

Glosarium No. 1 Arti semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah termasuk dalam pengertian ini air permukaan, airtanah, air hujan, dan air laut ang berada di darat (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain air adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber-sumber air baik yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini air yang terdapat di laut (UU No. 11 Tahun 1974). Air permukaan semua air yang terdapat pada permukaan tanah Airtanah air yang terdapat dalam tapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain: Airtanah ialah sejumlah air di bawah permukaan bumi yang dapat dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase atau dengan pemompaan. Dapat juga disebut aliran yang secara alami mengalir ke permukaan melalui pancaran atau rembesan (Bouwer, 1978; Freeze dan Cherry. 1979; Kodoatie, 1996). Undang-undang Sumber Daya Air mendefinisikan airtanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. Akuifer suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang permeable baik yang terkonsolidasi (lempung, misalnya) maupun yang tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi jenuh air dan mempunyai suatu besaran konduktivitas hidraulik (K) sehingga dapat membawa air (atau air dapat diambil) dalam jumlah (kuantitas) yang ekonomis Akuifer artesis confined aquifer di mana ketinggian hidrauliknya (potensiometric surface) lebih tinggi dari pada muka tanah. Oleh karena itu apabila pada akuifer ini dilakukan pengeboran maka akan timbul pancaran air (spring), karena air yang keluar dari pengeboran ini berusaha mencapai ketinggian hidraulik tersebut. Akuifer semi akuifer yang jenuh air (saturated) yang dibatasi hanya tak tertekan lapisan bawahnya yang merupakan aquitard. Pada (semi bagian atasnya ada lapisan pembatas yang unconfined mempunyai konduktivitas hidraulik lebih kecil dari pada aquifer) konduktivitas hidraulik dari akuifer. Akuifer ini juga mempunyai muka air tanah yang terletak pada lapisan pembatas tersebut. Air Istilah

2 3

vi

No. 7

10

11

12

13

Arti akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas berupa aquitard (semi kedap air) dan lapisan bawahnya merupakan aquiclude. Pada lapisan pembatas di bagian atasnya karena bersifat aquitard masih ada air yang mengalir ke akuifer tersebut (influx) walaupun konduktivitas hidrauliknya jauh lebih kecil dibandingkan konduktivitas hidraulik akuifer. Tekanan airnya pada akuifer lebih besar dari tekanan atmosfir. Akuifer tak akuifer jenuh air (saturated). Lapisan pembatas di bagian bawahnya merupakan aquiclude. Pada bagian tertekan (unconfined atasnya ada lapisan pembatas yang mempunyai aquifer) konduktivitas hidraulik lebih kecil dari pada konduktivitas hidraulik dari akuifer. Akuifer ini juga mempunyai muka airtanah yang terletak pada lapisan pembatas tersebut. akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas Akuifer dan bawahnya merupakan aquiclude (kedap air) dan tertekan (confined tekanan airnya lebih besar dari tekanan atmosfir. Pada lapisan pembatasnya tidak ada air yang mengalir (no aquifer) flux). suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan Aquiclude (lapisan kedap geologi yang kedap air (impermeabte) dengan nilai konduktivitas hidraulik yang sangat kecil sehingga air) tidak memungkinkan air melewatinya. Dapat dikatakan juga merupakan lapisan pembatas atas dan bawah suatu akuifer tertekan. Aquitard (semi formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang permeable dengan nilai konduktivitas hidraulik yang impervious kecil namun masih memungkinkan air melewati lapisan layer) ini walaupun dengan gerakan yang lambat. Dapat dikatakan juga merupakan lapisan pembatas atas dan bawah suatu semi confined aquifer. Bangunan Bangunan, pengendali tingkah laku air akibat alam hidrautik/air atau buatan untuk suatu tujuan tertentu, misalnya untuk menanggulangan kekurangan air di waktu musim kemarau dan kelebihan air di waktu musim penghujan, meninggikan permukaan air, mengatur debit air.dan mengalirkan air. Contoh: waduk atau bendungan, kolam air, bendung, pintu air, terjunan, gorong-gorong. Banjir ada 2 peristiwa: pertama peristiwa banjir/genangan yang terjadi pada daerah yung biasanya tidat terjadi banjir dan kedua peristiwa banjir terjadi karena limpasan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh alur ,sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas pengaliran sungai yang ada. Peristiwa banjir sendiri tidak menjadi permasalahan, apabila tidak mengganggu aktivitas atau kepentingan

Istilah Akuifer semi tertekan (semi confined/leaky aquifer)

vii

No.

14

15

16

17

18

19

20

21

22

Arti manusia dan permasalahan ini timbul setelah manusia melakukan kegiatan pada daerah dataran banjir. Maka perlu adanya pengaturan daerah dataran banjir untuk mengurangi kerugian akibat banjir (flood plain management). Bantaran daerah yang terletak pada kedua sisi dan di sepanjang sungai alur sungai, dimana terletak antara tepi palung alur sungai sampai pada kaki tanggul sebelah dalam. Bendung atau suatu bangunan melintang sungai yang dibangun Weir untuk meninggikan muka air sungai dan dialirkan ke saluran (induk) untuk berbagi kepentingan (irigasi, air minum). Cara non- program-program atau aktivitas-aktivitas yang tidat membutuhkan fasilitas-fasilitas yang dibangun. struktural untuk pengelolaan air Cara struktural fasilitas yang dibangun untuk pengendalian aliran air dan kualitasnya. untuk pengelolaan air Cekungan suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, airtanah tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. Daerah aliran suatu wilayah daratan yang merupakan suatu sungai kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan Daerah suatu lahan yang merupakan suatu dataran rendah, dataran banjir karena kondisi topografinya pada waktu-waktu tertentu dapat tergenang oleh banjir yang terjadi. Daerah Wilayah yang dilindungi dan dipelihara untuk konservasi/lind mencegah kerusakan atau kemunduran berat atau ung kemusnahan, karena misalnya akibat perkembangan ekonomi atau sosial atau fisik; daerah yang memuat sekelompok bangunan dengan bentuk arsitektur atau latar belakang sejarah yang berarti atau penting, yang oleh pemerintah dilindungi dan dipelihara untuk mencegah kerusakan atau kemusnahan. Daerah retensi rendah yang dimanfaatkan untuk menampung air banjir sementara waktu dan dilepaskan pada wakru banjir mulai surut.

Istilah

viii

No. 23

24

25 26

27 28 29 30 31

32

33

34 35

36

37 38

Arti lahan yang dibatasi oleh garis sempadan dengan kaki tanggul sebelah luar atau garis sempadan dengan tebing untuk sungai yang tidak bertanggul. Daya air potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat atau pun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya. Daya rusak air daya air yang dapat merugikan kehidupan. Garis garis batas luar pengaman sungai dihitung kira-kira 5 sempadan meter (dapat diambil dengan ketentuan lain) dari luar kaki tanggul, untuk sungai yang mempunyai tanggul dan dengan ketentuan tersendiri yang tak ada tanggul. Hak guna air hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. Hak guna hak untuk memperoleh dan memakai air. pakai air Hak guna hak untuk memperoleh dan mengusahakan air. usaha air Hidrogeologi suatu studi dari interaksi antara kerja kerangka batuan dan airtanah. upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan Konservasi sumber daya keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai air untuk memenuhi keburuhan makhluk hidup baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. Operasi kegiatan pengaturan, pengalokasian, serta penyediaan air dan sumber air unfuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air. Pemeliharaan kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air. Pemerintah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang Daerah lain sebagai badan eksekutif daerah. Pemerintah disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Pusat Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. Pendayagunaa upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, n sumber daya pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. air Pengelola SD institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan air pengelolaan sumber daya air. praktek dari pengelolaan sumber daya air ke dalam Pengelolaan industri keairan. Industri keairan terdiri atas organisasi industri pelayanan sumberdaya air (diantaranya suplai air keairan bersih, air limbah, pengendalian banjir, PLTA, rekreasi, navigasi, lingkungan), peraturan-peraturan dan organisasi pendukung

Istilah Daerah sempadan

ix

No. 39

40

41

42

43

44

45

46

47

48 49

50

Istilah Arti upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan Pengelolaan sumber daya mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan air pengendalian daya rusak air. Pengendalian merupakan kegiatan perencanaan, pelaksanaan banjir pekerjaan pengendalian banjir, eksploitasi dan pemeliharaan, yang pada dasarnya untuk mengendalikan banjir, pengaturan penggunaan daerah dataran banjir dan mengurangi atau mencegah adanya bahaya/kerugian akibat banjir. Pengendalian upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan daya rusak air memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabtan oleh daya rusak air. Perencanaan suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, Pola memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi pengelolaan sumber daya sumber daya air pendayagunaan sumber daya air, dan pengendarian daya rusak air. air bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang Prasarana sumber daya kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak langsung. air hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu Rencana yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan pengelolaan sumber daya sumber daya air. air Sistem tata merupakan susunan tata letak sumber air, termasuk pengairan bangunan pemanfaatan yang sesuai ketentuan teknik pembinaan di suatu wilalah. Sumber air tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, maupun di bawah permukaan tanah. Sumber daya air, sumber air, dan daya air yang terkandung di air dalamnya. Waduk atau dibangun untuk menampung air pada periode Dam atau kelebihan air (musim hujan) dan dipakai pada waktu kekurangan air (musim kemarau) untuk berbagai Reservoir kepentingan, misalnya air minum, pariwisata, pengendalian banjir dll. Wilayah kesatuan wilayah pengerolaan Sumber Daya Air dalam sungai satu atau lebih daerah aliran sungai (DAS) dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2 (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain: wilayah sungai: merupakan kesatuan wilayah system tata pengairan sebagai suatu pengembangan wilayah sungai yang dapat terdiri dari satu atau lebih

No. 51

Istilah Sistem

Arti daerah aliran sungai. Sehimpunan unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau menyusun skema atau tatacara melakukan sesuatu kegiatan pemrosesan untuk mencapai suatu tujuan dan hal ini dilakukan dengan mengolah data dan/atau energy dan/atau benda (barang) di dalam jangka waktu tertentu guna menghasilkan informasi dan/atau energy dan/atau barang (benda).

BAB 1. Pendahuluan A. Profil lulusan Program Studi Profil lulusan Program Studi Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin yaitu Bermoral, kreatif-adaptif, berpengetahuan berbasis sains dan teknologi, profesional, pembelajar sepanjang hayat dan inovatif dalam bidang keteknikan pertanian. B. Kompetensi lulusan Kompetensi lulusan program studi Keteknikan Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin terdiri atas kompetensi utama, pendukung dan lainnya yang disajikan dalam table berikut:
KELOMPOK KOMPETENSI 1 NO. 2 1 2 3 4 RUMUSAN KOMPETENSI 3

Kemampuan dalam penguasaan sains dasar (Fisika, Matematika dan Sistem Biologis) Kemampuan dalam mengembangkan pengetahuan dasar ilmu keteknikan Kemampuan dalam mengembangkan dan mengaplikasikan ilmu dan teknologi pertanian Kemampuan dalam mengukur, menghitung, menganalisa dan menginterpretasikan data Kemampuan dalam rancang-bangun proses dan alat/mesin pertanian, baik untuk kegiatan pra-panen maupun pasca panen serta pengolahan pangan Kemampuan dalam menggunakan dan menjalankan peralatan keteknikan modern Kemampuan dalam memecahkan persoalan-persoalan dalam bidang keteknikan pertanian Kemampuan dalam penguasaan ICT Kemampuan berkomunikasi secara efektif, termasuk dalam Bahasa Inggris Kemampuan dalam bekerjasama dan menyesuaikan diri dengan di lingkungan kerjanya Kemampuan untuk mengembangkan diri dan berfikir logis analitis Kemampuan dalam manajerial dan wirausaha Kemampuan untuk menjunjung tinggi norma, tata-nilai, moral,

KOMPETENSI UTAMA

6 7 8 9 KOMPETENSI PENDUKUNG 10 11 12 KOMPETENSI

13

KELOMPOK KOMPETENSI 1 LAINNYA

NO. 2

RUMUSAN KOMPETENSI 3

14

agama, etika dan tanggung jawab profesional Kemampuan bekerja dan mengembangkan kreatifitas berdasarkan nilai budaya bahari

3 C. Analisis kebutuhan pembelajaran

PETA KOGNITIF

Siklus Hidrologi

Sistem dan Infarstruktur Keairan mendukung tentang

Mendukung

tentang MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR Tentang

Otonomi Daerah

Manajemen Sumber daya Air Terpadu Tentan Dalam dengan Manajemen SD Air Berkelanjutan dengan Penilaian Manajemen Sumber Daya Air

dengan

Ekonomi

dengan

Undang-undang Sumber daya air

dengan

Mata kuliah manajemen sumber daya air merupakan mata kuliah yang baru disajikan secara efektif pada semester akhir 2010/2011 yaitu ketika kurikulum 2007 efektif diberlakukan. Mengingat mata kuliah ini baru disajikan, maka sudah barang tentu belum tersedia acuan yang jelas sebagai refensi utama dalam pelaksanaan perkuliahan. Karena kondisi ini, maka dalam proses pembelajaran menggunakan banyak literature yang sudah barang tentu sulit untuk diadakan seluruhnya oleh mahasiswa. Masalah sering muncul bagi mahasiswa ketika proses belajar mengajar berlangsung terutama dalam bentuk diskusi. Pada saat diskusi, tidak jarang

mahasiswa sulit memberikan argumen yang dapat diterima rekannya, hal ini disebabkan karena referensi mereka tidak semuanya sama. Di samping itu, perlu dilakukan pengembangan mata kuliah berdasarkan pada kondisi senyatanya yang ada di masyarakat Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air seperti pemanfaatan airtanah untuk berbagai keperluan, dimana buku teks yang ada selama ini jarang yang mengulas tentang hal tersebut. Demikian halnya dengan contoh-contoh kasus, dalam buku teks yang ada pada umumnya di luar konteks Sulawesi Selatan bahkan pada umumnya contoh diambil dari luar negeri, karena buku teks pada umumnya diterbikan di luar negeri. Pengenalan peraturan perundangan yang mengatur tentang pengelolaan sumbedaya air yang berlaku di Indonesia perlu dikenalkan ke mahasiswa. Karena tidak jarang mahasiswa menganggap bahwa peraturan perundangan tentang pengelolaan sumber daya air di Indonesia belum ada karena tidak jelasnya implementasi aturan yang ada dalam pengelolaan sumber daya air. Disampin itu, dengan permodelan, maka perlu penambahan materi tentang kemajuan teknologi permodelan dalam

pengelolaan sumber daya air. Permasalahan yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air cukup banyak membuat mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti perkuliahan ini. Pada saat pertama kali mata kuliah ini disajikan, seluruh mahasiswa minat studi Teknik Tanah dan Air memprogramkannya meskipun mata kuliah tersebut statusnya pilihan. Jumlah peserta mata kuliah pada saat itu sebanyak 22 mahasiswa. Namun karena mata kuliah ini membutuhkan tingkat pemahaman yang tinggi dan memerlukan pengalaman, sehingga untuk memenuhi kedua hal tersebut dalam waktu yang singkat maka dibutuhkan suatu bahan ajar sistematis yang bisa menghantarkan mahasiswa untuk belajar secara mandiri. Harapan dari pengadaan

modul adalah agar prosentase mahasiswa yang lulus A bisa meningkat. Selama ini, nilai peserta mata kuliah ini pada umumnya adalah B dan B+ dengan jumlah mahasiswa yang mendapatkan nilai tersebut secara berturut-turut adalah 7 dan 6 mahasiswa dari 22 peserta mata kuliah. Sedangkan yang mendapatkan nilai A hanya 3 atau (13,6%) mahasiswa dari 22 mahasiswa dan nilai E tidak ada. Penilaian umumnya dipengaruhi oleh beberapa aspek seperti: (1) kemampuan Kognitif berupa kemampuan menganalisis persoalan sumber daya air dan bagaimana mencari solusinya serta menghitung dan mengolah data; (2) kemampuan motorik (Skill) berupa kemampuan mengolah data dengan perangkat lunak olah data menggunakan komputer; dan (3) Soft Skill yang meliputi kemampuan kerja kelompok dan bekerjasama, mampu mengemukakan argumentasi dan etika yang baik. Pengalaman pada tahun sebelumnya, kurangnya mahasiswa yang mendapat nilai yang bagus (A atau A-) karena kemampuan kognitif dan soft skill yang kurang. Karena proses pembelajaran yang singkat, maka kemampuan soft skill dalam hal ini sharing dalam informasi sangat dibutuhkan disamping kemampuan analisis yang tinggi. Oleh karena itu, keberadaan MODUL PEMBELAJARAN MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR diharapkan dapat meningkatkan meningkatkan gairah belajar mahasiswa secara mandiri sehingga proses belajar mengajar berjalan lebih efisien dan efektif.

D. Garis-garis Besar Rencana Pembelajaran


MINGGU SASARAN MATERI STRATEGI KE PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN - Kesepakatan dalam perkuliah dan proses 1. Kontrak kuliah penilaian 2.Penjelasan - Materi untuk umum tentang seluruh materi perkuliah pertemuan secara umum 2. Mampu menjelaskan tentang kejadian air dan fungsinya dalam system alam - Siklus hidrologi - Interaksi antara airtanah dengan air permukaan - Model hubungan hujan dan run-off. KRITERIA PENILAIAN - Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2) BOBOT NILAI (%)

Kuliah/ Diskusi

2,3

Kuliah/Diskusi

- Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2) - Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2) - Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2) - Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2)

- Pengertian dan 3. Mampu definisi dalam menjelaskan sumber daya air beberapa - Potensi air pengertian yang berkaitan dengan sumber daya air 4. Mampu menjelaskan sistem dan infrastruktur keairan - Batas teknis hidrologi - Komponen sumber daya air - Sistem pengendalian bencana

Kuliah/diskusi/ studi kasus

5,6

Kuliah/diskusi/ studi kasus

10

5. Mampu - Kebutuhan dan menjelaskan konsumsi air tentang fungsi air - Kebutuhan air dalam system untuk pedesaan dan perkotaan social - Kebutuhan air untuk industry, dst. 6. Mampu - Permasalahan menjelaskan dalam tentang kondisi manajemen dan tantangan - Trend dalam dalam supply dan manajemen demand sumber daya air - Sumber daya air Indonesia dan internasional

Kuliah/Diskusi/ studi kasus

- Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) Kuliah/ Diskusi/ - Tingkat studi kasus analisis (2)

MINGGU SASARAN MATERI STRATEGI KE PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN 8. Mampu membuat pendekatan perencanaan berkelanjutan untuk sumber daya air - Pendekatan regional untuk manajemen air - Perencanaan DAS - System supply air - Perencanaan dan manajemen land use, dll - Pengetahuan dasar dalam sumber daya air - Analisis Penilaian Sumber Daya Air - Indikator pengelolaan sumber daya air - Pengelolaan SDA Terpadu - Enabling Environmental - Peran institusi dan pelaku - Instrumeninstrumen manajemen

KRITERIA PENILAIAN - Keaktifan (1) - Kerajinan (1) - Dokumentasi (3) - Keterampilan/ kreatifitas(5) - Kerja sama (5)

BOBOT NILAI (%)

9-10

Kuliah/Belajar mandiri

10

11

9. Mampu melakukan penilaian terhadap pengelolaan sumber daya air

Kuliah/Diskusi/ studi kasus

- Teknik presentasi (5) - Bahan presentasi (5) - Teknik menjawab (7) - Manajemen waktu (3)

10

12

13-14

10. Mampu menjelaskan pengelolaan sumber daya air terpadu dan mengetahui institusi serta perannya dan istrumeninstrumen dalam manajemen 11. Mampu menjelaskan tentang pengelolaan sumber daya air berdasarkan undang-undang SDA

Kuliah/Diskusi/ studi kasus

- Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (2)

15

12. Mampu menjelaskan pengelolaan sumber daya air dalam kerangka otonomi daerah

- Dasar legalitas - Asas dan cara - Tiga pilar pengelolaan - Kerangka Undang-undang - Aspek Pengelolaan Pengelolaan SDA Menurut UU SDA - Kewenangan bidang sumber daya air - Hak, Kewajiban dan Peran Masyarakat - Pembagian kewenangan dan Peran dalam Pengelolaan SDA

Diskusi kelompok/ prentasi/ studi kasus

- Keaktifan (2) - Cara mengemukak an pendapat (2) - Tingkat analisis (3) - Kekompakan kelompok (3)

10

Kuliah/Diskusi/ studi kasus

- Keaktifan (1) - Cara mengemukak an pendapat (1) - Tingkat analisis (3)

MINGGU SASARAN MATERI STRATEGI KE PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN PEMBELAJARAN 16 10. Penguasaan materi - Soal ujian UJI KOMPETENSI

KRITERIA PENILAIAN - Logika berpikir (5) - Tingkat ketepatan (5) - Struktur jawaban (2) - Kejujuran (3)

BOBOT NILAI (%)

15

SESI/PERTEMUAN KE-1 (Pertama) AIR DAN FUNGSINYA DALAM SISTEM ALAM Sasaran Pembelajaran:
Mahasiswa mampu menjelaskan proses kejadian air dalam setiap phase/elemen dalam siklus hidrologi Mahasiswa mampu membuat batas sistem dalam siklus hidrologi Mahasiswa mampu merancang skema model dari elemen siklus hidrologi

Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi membahas tentang proses kejadian air dalam setiap phase/tahapan siklus hidrologi. Untuk mempermudah pemahaman dalam sistem hidrologi, maka dijelaskan dengan menggunakan pendekatan neraca air dan model sederhana. Penerapan neraca air dalam model dengan melalui model tangki untuk setiap tahapan siklus hidrologi terutama pada aliran air terjadi di daratan, mulai dari hujan, run-off, infiltrasi, interflow, base flow.

I. Bahan Bacaan: 1. Jemar, M.K., 1987. Water Resources and Water Management. Amsterdam: Elsevier. 2. Karamouz M., F. Szidarovszky dan B.Zahraie. 2003. Water resources systems analysis Florida:CRC Press LLC 3. Sosrodarsono, S. dan Takeda, 1993. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita. II. Bacaan Tambahan: 1. Anderson, M.P. and W.W. Woessner, 1992. Applied Groundwater Modelling. Simulation of Flow and Advective Transport. San Diego: Academic Press Inc. 2. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 3. Biswas, A.K. 1996. Water Resources. Environmental Planning, Management, and Development. New York: McGraw-Hill. 4. Black, P.E. 1996. Watershed Hydrology . Edisi ke-2. New York: Ann Arbor Press, Inc.

10

III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana proses kejadian air 2. Bagaimana sistem aliran air dalam setiap phase dalam siklus hidrologi. IV. Lain-lain: 1. Buatlah suatu sistem sederhana dari suatu phase dalam siklus hidrologi.

11

Bab 2. Pembelajaran 1 (Air dan Fungsinya dalam Sistem Alam) I. Pendahuluan Proses kejadian air pada suatu tempat penting untuk diketahui mahasiswa, karena menjadi dasar dalam melakukan suatu pengelolaan agar keberadaan air pada tempat tersebut bisa berkelanjutan. Tanpa pengetahuan tentang proses kejadian air, maka mahasiswa tidak dapat mengetahui pengaruh setiap pengelolaan air terhadap keberadaan air, baik secara kuantitas maupun kualitas. Demikian halnya dengan pengetahuan tentang fungsi air dalam sistem alam sangat penting, karena dengan pengetahuan ini mahasiswa dapat mengetahui dampak pengelolaan yang salah terhadap perubahan sistem. Disamping itu, dengan pengetahuan tentang sistem keairan, maka mahasiswa dapat melakukan suatu metode pengelolaan secara terstruktur sehingga bisa lebih efisien dan efektif. Dengan pengetahuan sistem, mahasiswa dapat membatasi sistem dan melakukan tindakan pengelolaan secara fokus sesuai dengan kebutuhan yang mendesak. Dalam materi ini akan dibahas tentang: siklus hidrologi , neraca air, interaksi antara airtanah dan air permukaan serta pemodelan hidrologi. Dalam siklus hidrologi akan dibahas tentang proses kejadian air dalam setiap phase/elemen, sehingga mahasiswa dapat mengetahui proses kejadian air dalam setiap phase tersebut. Sedangkan dalam pemodelan hidrologi, dibahas tentang sistem untuk setiap phase/elemen dalam sisklus hidrologi sehingga mahasiswa dapat membatasi sistem dan merancang model secara sederhana dengan mengaplikasikan persamaan neraca air. Karena mata kuliah ini merupakan mata kuliah semester akhir dan sifatnya lanjutan, maka diharapkan seperta mata kuliah ini pernah mengambil mata kuliah hidrologi teknik. 1. Sasaran Pembelajaran Mahasiswa mampu menjelaskan proses kejadian air dalam setiap phase/elemen dalam siklus hidrologi
Mahasiswa mampu membuat batas sistem dalam siklus hidrologi Mahasiswa mampu merancang skema model dari elemen siklus hidrologi

12

2. Sumber/Referensi

Jemar, M.K., 1987. Water Resources and Water Management. Amsterdam: Elsevier. Karamouz M., F. Szidarovszky dan B.Zahraie. 2003. Water resources systems analysis Florida:CRC Press LLC Sosrodarsono, S. dan Takeda, 1993. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: PT Pradnya Paramita.
3. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan tentang siklus hisrologi dan prosesnya hingga mendefinisikan sistem dan model konseptual. 2. Melakukan latihan-latihan di kelas 3. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 4. Melakukan diskusi.

13

II. Uraian Materi


A. Siklus hidrologi

Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km3 air: 97,5% adalah air laut, 1,75% berbentuk es dan 0,73% berada di daratan sebagai air sungai, air danau, airtanah dan sebagainya. Hanya 0,001% berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengulangi terus menerus sirkulasi (terjadi penguapan, presipitasi dan pengaliran keluar (outflow)). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan. Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan oleh tumbuh-tumbuhan dimana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah. Sebagian air hujan yang tiba ke permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah (inflitrasi). Bagian lain yang merupakan kelebihan akan mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerah-daerah yang rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut. Tidak semua butir air yang mengalir akan tiba ke laut. Dalam perjalanan ke laut sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air yang masuk ke dalam tanah keluar kembali segera ke sungai-sungai (disebut aliran intra: interflow). Tetapi sebagian besar akan tersimpan sebagai airtanah (groundwater) yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama ke permukaan tanah di daerah-daerah yang rendah (disebut groundwater runoff: limpasan air tanah). Jadi sungai itu mengumpulkan 3 jenis limpasan, yakni (1) limpasan permukaan (surface runoff), (2) aliran intra (interflow) dan (3) limpasan airtanah (groundwater runoff) yang akhirnya akan mengalir ke laut. Singkatnya ialah: uap dari laut dihembus ke atas daratan (kecuali bagian yang telah jatuh sebagai presipitasi ke laut), jatuh ke daratan sebagai presipitasi (sebagian jatuh langsung ke sungai-sungai dan mengalir langsung ke laut). Sebagian dari hujan atau salju yang jatuh di daratan menguap dan meningkatkan kadar uap di atas daratan. Bagian yang lain mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut. Seperti telah dikemukakan di atas, sirkulasi yang kontinu antara air

14

laut dan air daratan berlangsung terus. Sirkulasi air ini disebut siklus hidrologi (hydrological cycle). Tetapi sirkulasi air ini tidak merata, karena kita melihat perbedaan besar presipitasi dari tahun ke tahun, dari musim ke musim yang berikut dan juga dari wilayah ke wilayah yang lain. Sirkulasi air ini dipengaruhi oleh kondisi meteorologi (suhu, tekanan atmosfir, angin dan lain-lain) dan kondisi topografi; kondisi meteorologi adalah faktor-faktor yang menentukan. Air permukaan tanah dan airtanah yang dibutuhkan untuk kehidupan dan produksi adalah air yang terdapat dalam proses sirkulasi ini. Jadi, jika sirkulasi ini tidak merata (hal mana memang terjadi demikian), maka akan terjadi bermacammacam kesulitan. Jika terjadi sirkulasi yang lebih, seperti banjir, maka harus diadakan pengendalian banjir.

Gbr. 1-1 Siklus Hidrologi (Sosrodarsono dan Takeda, 1993).


Keterangan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Awan dan uap air di udara Hujan Hujan es Salju Limpasan permukaan Perkolasi Alat ukur salju Alat ukur hujan Sumur pengamatan 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Airtanah Presipitasi Salju yang mencair Lain-lain Intersepsi Evaporasi hujan yang sedang jatuh Evapotrasi Transpirasi Awan dan uap air 19 20 21 22 23 24 25 Evaporasi Evaporasi dari tanah Evaporasi dari sungaisungai dan danau-danau. Evaporasi dari laut. Pengamatan debit Pengamatan kwalitas air Pengamatan evaporasi

15

Jika terjadi sirkulasi yang kurang, maka kekurangan air ini harus ditambah dalam suatu usaha pemanfaatan air. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka berkembanglah ilmu Hidrologi, yakni ilmu yang mempelajari sirkulasi air itu. Jadi dapat dikatakan, Hidrologi adalah ilmu untuk mempelajari: a. presipitasi (precipitation) b. evaporasi dan transpirasi (evaporation) c. aliran permukaan (surface stream flow) dan d. airtanah (groundwater) B. Siklus hidrologi dan neraca air (kesetimbangan air) Secara sederhana hubungan antara komponen dalam siklus hidrologi sebagai berikut:

Gambar 1.2. Skema Sirkulasi Air (Sosrodarsono dan Takeda, 1993). Dalam proses sirkulasi air, penjelasan mengenai hubungan antara aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) di suatu daerah untuk suatu periode tertentu disebut neraca air (water balance). Umumnya terdapat hubungan keseimbangan sebagai berikut: P=D+E+G+M dimana: P D E G M = presipitasi = debit = evapotranspirasi = penambahan (supply ) air tanah = penambahan kadar kelembaban tanah (moisture content).

16

Jika perhitungan neraca air itu diadakan pada suatu daerah tertentu yang terbatas, maka aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) dari D dan G kirakira akan berbeda. Persamaan neraca air menjadi: P = (D2 dimana: D1 = Air permukaan dari bagian hulu yang mengalir ke dalam daerah yang ditinjau. D2 = Air permukaan yang mengalir keluar dari daerah yang ditinjau ke bagian hilir. G1 = Air tanah yang mengalir dari bagian hulu ke dalam daerah yang ditinjau. G2 = Air tanah yang mengalir keluar dari daerah yang ditinjau ke bagian hilir. H = Perubahan/variasi muka air tanah rata-rata daerah yang ditinjau. Pa = Laju menahan udara rata-rata (mean air holding rate) di bagian lapisan variasi air tanah. Dalam persamaan ini, P, D1, D2 dan H dapat diukur, G1 and G2 dapat dihitung dengan menggunakan pengukuran variasi muka air tanah. M dan Pa adalah hargaharga yang diperoleh dari profil tanah pada titik-titik tertentu yang dipilih di daerah pengaliran. Dalam perhitungan neraca air yang dipergunakan untuk irigasi, variasi kuantitatif berdasarkan faktor-faktor alamiah seperti presipitasi, pembekuan, evaporasi, transpirasi, aliran keluar (outflow) air permukaan tanah, airtanah dan lainlain, beserta faktor-faktor buatan (artificial factors) seperti pengambilan air untuk irigasi, drainasi air kelebihan, jenis dan cara penanaman dan lain-lain harus diperinci dengan jelas.
C. Interaksi antara airtanah dengan air permukaan

D1) + E + (G2

G1) + H.Pa + M

Limpasan (run-off) adalah proses hidrologi distribusi curah hujan pada permukaan bumi, yang berlangsung dalam sistem litosfer dan hidrosfer. Sistem ini terdiri dari alam (morfologi, geologi, tanah, vegetatif) dan elemen anthropogenetic (perkotaan, pedesaan dan lainnya, tanggul, waduk, drainase dan jaringan saluran air limbah, dll). Output dari sistem ini tergantung pada masukan, yang ditandai dengan:
(a) data meteorologi data, khususnya distribusi curah hujan;

(b) data data klimatologi, atau pasokan energi surya, dan pada keadaan yang sebenarnya dari sistem ini, yang tergantung pada fungsi sebelumnya (tingkat kejenuhan) dan faktor anthropogenetic (kegiatan pengelolaan air). Dalam kondisi alami terganggu, arus permukaan dapat dicirikan oleh faktorfaktor meteorologi dan klimatologi. Limpasan permukaan sama dengan curah hujan

17

dikurangi intersepsi, simpanan berupa depresi dan detensi yang akan berubah menjadi infiltrasi dan evaporasi. Rasio dari limpasan permukaan dan total kehilangan yang berupa resapan (recharge) dan penguapan tidak berubah bila keadaan dari unsur-unsur dan pasokan energi ke dalam sistem tetap konstan. Untuk alasan praktis rasio ini dianggap stabil dalam kasus curah hujan tunggal. Hipotesis tersebut mengarah pada persamaan sederhana berikut untuk masing-masing elemen i: Qsi = Pgi
k=

(Ii + Di) = Pi

(Rgi + Ei)

(m3)

Qsi R gi + Ei

dan untuk total luasan:


Qs = 1000. Ci .Pi .Ai
i =1 n

(m3 )

dimana: Qs = aliran permukaan keluar (m3) Gg = Resapan airanah/lengas tanah (m3) Pi = Hujan pada elemen ke-i (mm) Ci = Koefisien run-off pada suatu elemen Ai = luas suatu elemen (km2) Penyederhanaan ini mengabaikan distribusi waktu dari data masukan mengubah dan keadaan dari sistem limpasan. Koefisien limpasan yang sebenarnya

tidak stabil. Hal ini tidak hanya merupakan fungsi dari kekasaran kawasan drainase r (yang berubah, misalnya: karena musim), bentuk dan kemiringan, kondisi geologi g tetapi juga merupakan fungsi dari kondisi tanah: C= (r, i, g, sf)

Faktor r, i, dan g adalah relatif stabil dan hampir independen terhadap kondisi cuaca. Faktor sf tergantung pada salju dan kejenuhan tanah. Hal ini menentukan limpasan aktual dalam situasi hidrologi yang spesifik. Limpasan tahunan total dapat ditentukan berdasarkan input data iklim (klimatologi). Data pada sisi kiri dari persamaan kesetimbangan hidrologi yang sederhana yaitu curah hujan P dan limpasan permukaan Qs P Qs = Gg + E dapat diukur dengan mudah dan tepat. Hal ini merupakan kebanyakan kasus yang diukur dalam jangka panjang dan sistematis, dan juga dianalisis secara statistik.

18

Data penguapan E dan Gg resapan airtanah yang berada pada sisi kanan persamaan sulit diukur, sehingga tidak ditindaklanjuti secara sistematis. Penguapan dan resapan airtanah dituliskan pada sisi kiri persamaan berikut: E = f1 (P Qs) Gg = f2 (P Qs) (mm, m3) (mm, m3)

Penguapan maksimum yang mungkin yang merupakan selisih pengukuran jangka panjang dari curah hujan dan limpasan permukaan: Em = P - Qs (mm, m3)

Dalam kasus ini Gg = 0, tidak ada resapan airtanahthe. Fenomena ini terjadi di daerah gurun, di mana semua air infiltrasi menguap. Hal ini dapat digambarkan secara grafis berupa garis lurus dengan sudut 45 0 (Gambar 1.3)

Gambar 1.3. Karakteristik Regional limpasan permukaan: E adalah evaporation, ET1 adalah evaporativitas (evaporativity ) , P adalah total hujan, Gg adalah resapan airtanah, dan Qs adalah limpasan permukaan (surface water runoff) (Jemar, 1987). D. Skema Model Hidrologi Pembatasan secara teoritis dapat dilakukan ketika perbedaan curah hujan dan limpasan permukaan mengisi airtanah tanpa penguapan. Kasus ini secara grafis diilustrasikan oleh sumbu horisontal. Nilai-nilai praktis dari fungsi f1 bermigrasi antara dua tahap pembatasan. Hal ini juga dibatasi oleh nilai penguapan potensial ET1 hubungannya dengan pasokan energi surya di daerah tersebut. Kurva f1 dan f2

19

menunjukkan pengaruh rata-rata dari input data dari sistem limpasan yang relevan dan bisa, karena itu, dapat digunakan sebagai karakteristik regional untuk penilaian limpasan airtanah dan penguapan. Sistem yang terdiri dari curah hujan/proses limpasan dapat dimodelkan secara fisik atau matematika. Berdasarkan model tangki (Tank Model) yang merupakan model matematika yang disusun oleh SWAWARA (1974) adalah merupakan proses hidrolik. Model ini mewakili daerah tangkapan dengan seperangkat tank, disusun secara vertikal dalam satu baris. Jumlah tank, pengelompokan dan konfigurasi tergantung pada karakteristik DAS. Pengalaman menunjukkan bahwa dua sistem dasar berikut cocok untuk setiap kasus praktis: (a) empat tangki yang disusun secara vertikal untuk daerah lembab (humid), (b) beberapa baris dari empat tangki yang disusun secara vertikal untuk daerah semi kering (semi-arid) dan kering (arid).

Gambar 1.4. Pemisahan komponen limpasan, berdasarkan prinsip-prinsip fisik dari model matematis dari proses limpasan menurut SUGAWAHA (1974): q1 adalah limpasan permukaan, q2 adalah permukaan tanah, q3 adalah aliran menengah (intermediate outflow) (di atas muka airtanah), q4 adalah limpasan airtanah untuk jangka pendek dan Q5 adalah penundaan aliran airtanah dalam jangka panjang sebelum masuk ke dalam sungai, z1 adalah infiltrasi, z2, z3 adalah perkolasi menjadi airtanah, z4 adalah perkolasi dalam (deep percolation). h1, h2 dan h3 adalah tinggi permukaan air masing-masing untuk curah hujan rendah, sedang dan tinggi (Jemar, 1987).

20

Tangki dilengkapi dengan pengeluaran di sisi samping dan dasar tangki. Aliran yang keluar dari sisi samping mensimulasikan komponen-komponen selanjutnya dari limpasan permukaan (Gambar 1,4): - tangki paling atas, limpasan permukaan dan limpasan permukaan tanah, mencapai saluran dalam waktu satu sampai tiga hari, - tangki kedua merupakan limpasan aliran antara, mencapai saluran dalam waktu seminggu. - tangki ketiga dan keempat limpasan air tanah, mencapai saluran dalam satu bulan, atau dalam waktu satu tahun. Tangki atas umumnya memiliki dua outlet pada sisinya, sementara tangki yang lain hanya dilengkapi dengan satu outlet saja pada sisinya. Outlet pada sisi bawah pada semua tangki mensimulasikan infiltrasi atau, dalam kasus tangki keempat, mensimulasikan perkolasi. Aliran keluar dari outlet hanya dinyatakan oleh hubungan linear atau kuadrat pada sejumlah simpanan (storage): qk = dimana: qk = aliran keluar dari oulet -1 k = koefisien outlet (s ) Xk = jumlah simpanan (m3) (m3.s-1)
k

. Xk = fk(t)

(m3.s-1)

Hubungan kuadrat sederhana berikut ini digunakan setiap kali hubungan linier tidak memberikan hasil yang memuaskan: qk =
k

. Xk2 = f k(t)

(m3.s-1)

Kondisi non-linier dari data luaran adalah konsekuensi dari penyederhanaan hasil parsial:
Q = q k = k .X k
k =1 k =1 k k

(m3 .s 1 )

Curah hujan yang rendah, tidak dapat mengisi tangki hingga outlet pertama, sehingga tidak menghasilkan limpasan dalam bentuk apapun. Banjir dalam waktu singkat (pendek) dengan peningkatan debit yang tajam dapat dimodelkan lebih tepat dengan menggunakan outlet sisi yang lebih dalam pada tangki atas. Kejenuhan lapisan tanah dapat dinyatakan oleh sebuah pembatasan terhadap arus bawah. Penguapan menghasilkan penurunan jumlah simpanan pada tangki pertama. Jumlah

21

tangki, perlengkapan dan pengaturannya mewakili perilaku pada daerah tangkapan air. Pengaturan ini harus dikalibrasi untuk mendapatkan hubungan antara input dan output yang diinginkan terhadap data yang dikumpulkan. Daerah tangkapan di daerah semi-kering dan kering harus dibagi ke dalam zona dan diwakili oleh beberapa baris tangki yang dikelompokkan secara vertikal. Penguapan pada periode tanpa curah hujan harus dimodelkan dengan ruang tanpa outlet di tangki atas. Deformasi debit pada sungai dapat dimodelkan dengan menggunakan tangki yang serupa. Model Tangki ini dapat dikembangkan untuk seri data limpasan atau untuk melengkapi data yang hilang dengan simulasi. Tindakan yang paling penting untuk mencapai akurasi yang diperlukan adalah penilaian presipitasi rata-rata: fluktuasi wilayah curah hujan yang tinggi, baik di daerah tangkapan air yang kecil dan besar.

Gambar 1,5. Skema representasi dari komponen model siklus hidrologi dalam bentuk grid persegi panjang: model penguapan dan intersepsi pada kanopi, model pencairan salju (berlapis) dan aliran permukaan (overland flow) ( (dua dimensi), model aliran sungai dan operasi reservoir, model infiltrasi pada zona perakaran dan resapan (berlapis, aliran tak jenuh satu dimensi untuk setiap elemen grid), model airtanah (berlapis, simpanan dan aliran jenuh) (Jemar, 1987).

22

Sejatinya, model matematika dari curah hujan/proses limpasan dapat diturunkan dari persamaan yang menggambarkan substansi fisik dari proses hidrologi (Gambar 1.5, 1.6) dan kesetimbangan hidrologi. Input data untuk model, termasuk data curah hujan, daerah tangkapan dan karakteristik meteorologi, sedangkan output data berupa tutupan lahan dan debit airtanah, yaitu data masukan untuk proses erosi (Gambar 1.7). Simulasi model matematika membutuhkan informasi rinci tentang sejumlah koefisien (Gambar 1.6), yang sangat jarang tersedia dalam bentuk yang benar sesuai dengan dikebutuhan. Model ini deterministik, tetapi pendekatan stokastik harus disesuaikan agar dapat berfungsi dengan handal.

Gambar 1.6. Model Matematika Siklus Hidrologi. Output proses limpasan dari input berupa model proses erosi. SGE adalah erosi lembar/selokan, CHE adalah erosi saluran, RI adalah resapan/infiltrasi, Ar, Ai, Aa, Af, AP adalah faktor anthropogenetic (Jemar, 1987).

23

Gambar 1.7. Diagram alir proses erosi. Curah hujan dan limpasan, output dari sistem adalah limpasan, yang merupakan input dari sistem erosi. Output: aliran sedimen, sedimen endapan dan kualitas air (Jemar, 1987).

24

III. Penutup 1. Rangkuman Siklus hidrologi merupakan suatu proses perpindahan air dari suatu phase/elemen atau tempat ke tempat yang lain, atau juga merubahan wujud air dari cair menjadi gas atau padat, dari air permukaan menjadi airtanah dan selanjutnya akan keluar sebagai air permukaan kembali dan pada akhirnya ke laut, baik langsung atau melalui sungai dimana sebelumnya keluar sebagai mata air. Dalam sistem hidrologi, dapat digunakan neraca air sebagai dasar untuk menganalisis. Dalam neraca air, dikatakan bahwa jumlah air yang masuk dan keluar dari sustu sistem yang ditinjau selalu sama dengan jumlah yang tersimpan dalam sistem tersebut. Dasar ini, maka dikembangkan suatu model tangki, dimana sistem yang ditinjau dianalogikan sebagai tangki. Jumlah air yang tertampung dalam tangki merupakan selisih antara yang masuk dengan yang keluar. Jumlah tangki dapat dibuat sedemikan banyak tergantung pada seberapa banyak sub-sistem atau phase/elemen yang kita tinjau. 2. Tugas dan Latihan 1. Mengacu pada Gambar 1.2, buatkan: a. Batas sistem airtanah b. Buatlah skema model (konseptual model) untuk aliran airtanah 3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa dapat menjelaskan deskripsi tentang proses kejadian air dari setiap phase/elemen siklus hidrologi 2. Mahasiswa dapat membuat model koseptual dari setiap phase/elemen siklus hidrologi

25

4. Sumber/Referensi tambahan Anderson, M.P. and W.W. Woessner, 1992. Applied Groundwater Modelling. Simulation of Flow and Advective Transport. San Diego: Academic Press Inc. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Biswas, A.K. 1996. Water Resources. Environmental Planning, Management, and Development. New York: McGraw-Hill. Black, P.E. 1996. Watershed Hydrology . Edisi ke-2. New York: Ann Arbor Press, Inc. 5. Kegiatan Belajar 1. Mahasiswa telah membaca materi yang akan dibahas. 2. Menjelaskan kembali materi secara garis besar 3. Memberikan tes/latihan kepada mahasiswa 4. Melakukan tanya jawab atau diskusi 6. Tes Formatif/Evaluasi Kegiatan Pembelaran Carilah data klimatologi selama 1 (satu) tahun, kemudian buatlah sistem airtanah dan modelkan untuk mengetahui berapa besar airtanah yang tertahan dalam sistem airtanah tersebut. 7. Kunci Jawaban

26

SESI/PERTEMUAN KE-2 (Kedua) SUMBER DAYA AIR Sasaran Pembelajaran: 1. Masiswa mampu memahami beberapa pengertian yang berhubungan dengan sumber daya air. 2. Mahasiswa dapat memahami pentingnya pengelolaan sumber daya air mengingat jumlah air relative tetap secara global.

Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi ini menjelaskan beberapa definisi yang berkaitan dengan sumberdaya air, potensi air baik dunia maupun di Indonesia. Istilah-istilah ini diambil dari beberapa sumber dan dilakukan pengelompokkan untuk lebih memudahkan dalam pencarian istilah yang diinginkan. Potensi air dijelaskan bahwa secara global jumlah air di dunia relative sama hanya berubah karena pergeseran tempat/ruang dan waktu dalam durasi yang singkat. Disamping itu, dijelaskan pula tentang akibat peningkatan jumlah penduduk terhadap kebutuhan air sehingga pengelolaan sangat penting agar kebutuhan air dari tahun ke tahun selalu meningkat dapat terpenuhi baik kuantitas maupun kualitas.

I. Bahan Bacaan: 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 3. Undang-undang Nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 4. Undang-undang Nomor 11 tahun 1974 tentang Pengairan II. Bacaan Tambahan: 1. Mohammad Karamouz, Ferenc Szidarovszky, Banafsheh Zahraie. 2003. Water resources systems analysis. Florida: CRC Press LLC, 2. Jain, S.K. dan V.P. Singh, 2003. Water Resources Systems Planning and Management. Amsterdam: Elsevier. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana potensi air di dunia dan di Indonesia? 2. Mengapa perlu di lakukan pengelolaan sumber daya air? IV. Lain-lain: 1. Lakukan survey tentang pasokan (potensi) dan kebutuhan air di Makassar. 2. Lakukan analisis, apakah potensi sumber daya air di Makassar masih bisa memenuhi kebutuhan masyarakat pada tahun 2025?

27

Bab 3. Pembelajaran 2 (Sumber Daya Air)


I. Pendahuluan Air sebagai sumber kehidupan harus dijamin keberadaannya baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Air sebagai sumber daya alam dan merupakan bagian dari suatu ekosistem, maka keberadaannya dalam suatu tempat dan waktu tertentu dipengaruhi oleh berbagai hal, berbagai kepentingan dan berbagai tujuan. Dengan demikian, air merupakan sumber daya yang potensial, baik secara ekonomi maupun secara politis. Untuk itu, maka perlu pemahaman yang baik tentang sumber daya air, agar dalam pengelolaannya tidak terjadi konflik kepentingan. Harapannya adalah pemanfaatan sumber daya air tidak menyebabkan hilangnya daripada keberadaan sumber dan daya air yang baik. Dalam materi ini, dijelaskan mulai pengertian yang berkaitan dengan sumber daya air, hingga pada potensi sumber daya air. Pemberian pemahaman kepada mahasiswa tentang potensi diharapkan agar mahasiswa dapat menjadi sebagai pelaku yang peduli terhadap keberlangsungan sumber daya air agar kebutuhan air baik secara kuantitas maupun kualitas tetap dapat terpenuhi. 1. Sasaran Pembelajaran

1. Masiswa mampu memahami beberapa pengertian yang berhubungan dengan sumber daya air. 2. Mahasiswa dapat memahami pentingnya pengelolaan sumber daya air mengingat jumlah air relative tetap secara global.
2. Sumber/Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 3. UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 4. UU No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan
3. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan istilah yang berhubungan sumber daya air hingga pada potensi air di dunia dan di Indonesia.

28

2. Dosen menjelaskan dampak peningkatan jumlah penduduk terhadap pemenuhan kebutuhan air, dimana jumlahnya relative tetap 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi.

29

II. Uraian Materi A. Pengertian dan definisi dalam sumber daya air Beberapa definisi yang berkenaan dengan pengelolaan sumber daya sebagai berikut: a. Pengertian secara umum: 1. Air adarah semua air yang terdapat pada, di atas maupun di bawah permukaan tanah termasuk dalam pengertian ini air permukaan, airtanah, air hujan, dan air laut ang berada di darat (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain air adalah semua air yang terdapat di dalam dan atau berasal dari sumber-sumber air baik yang terdapat di atas maupun di bawah permukaan tanah, tidak termasuk dalam pengertian ini air yang terdapat di laut (UU No. 11 Tahun 1974). 2. Cara non-struktural untuk pengelolaan air adalah program-program atau aktivitasaktivitas yang tidat membutuhkan fasilitas-fasilitas yang dibangun. 3. Cara struktural untuk pengelolaan air adalah fasilitas yang dibangun untuk pengendalian aliran air dan kualitasnya. 4. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang berfungsi menampung, menyimpan, dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain: Daerah Aliran sungai: adalah suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah, dimana semua air hujan yang jatuh ke daerah ini akan mengalir melalui sungai dan anak sungai yang bersangkutan Definisi lain yaitu suatu daerah tertentu yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa sehingga merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya yang melalui daerah tersebut dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari air hujan dan sumber-sumber air lainnya yang penyimpanannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukumhukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut; daerah sekitar sungai, meliputi punggung bukit atau gunung yang merupakan tempat sumber air dan semua curahan air hujan yang mengalir ke sungai, sampai daerah dataran dan muara sungai (Ditjen Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah, 2002). Ada air

30

yang menyebut dengan Daerah Pengaliran Sungai (DPS), Daerah Tangkapan Air (DTA). Dalam istiiah bahasa lnggeris juga ada beberapa macam istilah yaitu Catchment Area, Watershed, dll. Dalam Kamus Istilah Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah (Ditjen Tata Ruang dan Pengembangan Wilayah, 2002) disebutkan bahwa daerah tangkapan adalah cakupan pengaturan suatu sistem aliran sungai (ilmu hidrologi dan geologi); daerah di antara pegunungan yang menampung dan mengalirkan curahan hujan ke sungai, termasuk anak sungainya. 5. Daya air adalah potensi yang terkandung dalam air dan/atau pada sumber air yang dapat memberikan manfaat atau pun kerugian bagi kehidupan dan penghidupan manusia serta lingkungannya. 6. Daya rusak air adalah daya air yang dapat merugikan kehidupan. 7. Hak guna air adalah hak untuk memperoleh dan memakai atau mengusahakan air untuk berbagai keperluan. 8. Hak guna pakai air adalah hak untuk memperoleh dan memakai air. 9. Hak guna usaha air adalah hak untuk memperoleh dan mengusahakan air. 10. Konservasi sumber daya air adalah upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan keadaan, sifat, dan fungsi sumber daya air agar selalu tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk memenuhi keburuhan makhluk hidup baik pada waktu sekarang maupun yang akan datang. 11. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada, di atas, maupun di bawah permukaan tanah. 12. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya. b. Pengertian yang berkenaan dengan air permukaan 1. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah. 2. Banjir ada 2 peristiwa: pertama peristiwa banjir/genangan yang terjadi pada daerah yung biasanya tidat terjadi banjir dan kedua peristiwa banjir terjadi karena limpasan air banjir dari sungai karena debit banjir tidak mampu dialirkan oleh alur ,sungai atau debit banjir lebih besar dari kapasitas pengaliran sungai yang ada. Peristiwa banjir sendiri tidak menjadi permasalahan, apabila tidak mengganggu aktivitas atau kepentingan manusia dan permasalahan ini timbul setelah manusia melakukan kegiatan pada daerah dataran banjir. Maka perlu adanya pengaturan

31

daerah dataran banjir untuk mengurangi kerugian akibat banjir (flood plain management). c. Pengertian yang berkenaan dengan airtanah 1. Airtanah adalah air yang terdapat dalam tapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain: Airtanah ialah sejumlah air di bawah permukaan bumi yang dapat dikumpulkan dengan sumur-sumur, terowongan atau sistem drainase atau dengan pemompaan. Dapat juga disebut aliran yang secara alami mengalir ke permukaan melalui pancaran atau rembesan. Undang-undang Sumber Daya Air mendefinisikan airtanah sebagai air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah permukaan tanah. 2. Akuifer adalah suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang permeable baik yang terkonsolidasi (lempung, misalnya) maupun yang tidak terkonsolidasi (pasir) dengan kondisi jenuh air dan mempunyai suatu besaran konduktivitas hidraulik (K) sehingga dapat membawa air (atau air dapat diambil) dalam jumlah (kuantitas) yang ekonomis. 3. Akuifer artesis (artesian aquifer) adalah confined aquifer di mana ketinggian hidrauliknya (potensiometric surface) lebih tinggi dari pada muka tanah. Oleh karena itu apabila pada akuifer ini dilakukan pengeboran maka akan timbul pancaran air (spring), karena air yang keluar dari pengeboran ini berusaha mencapai ketinggian hidraulik tersebut. 4. Akuifer semi tak tertekan (semi unconfined aquifer) adalah akuifer yang jenuh air (saturated) yang dibatasi hanya lapisan bawahnya yang merupakan aquitard. Pada bagian atasnya ada lapisan pembatas yang mempunyai konduktivitas hidraulik lebih kecil dari pada konduktivitas hidraulik dari akuifer. Akuifer ini juga mempunyai muka air tanah yang terletak pada lapisan pembatas tersebut. 5. Akuifer semi tertekan (semi confined/leaky aquifer) adalah akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas berupa aquitard (semi kedap air) dan lapisan bawahnya merupakan aquiclude. Pada lapisan pembatas di bagian atasnya karena bersifat aquitard masih ada air yang mengalir ke akuifer tersebut (influx) walaupun konduktivitas hidrauliknya jauh lebih kecil dibandingkan konduktivitas hidraulik akuifer. Tekanan airnya pada akuifer lebih besar dari tekanan atmosfir. 6. Akuifer tak tertekan (unconfined aquifer ) adalah akuifer jenuh air (saturated). Lapisan pembatas di bagian bawahnya merupakan aquiclude. Pada bagian

32

atasnya ada lapisan pembatas yang mempunyai konduktivitas hidraulik lebih kecil dari pada konduktivitas hidraulik dari akuifer. Akuifer ini juga mempunyai muka airtanah yang terletak pada lapisan pembatas tersebut. 7. Akuifer tertekan (confined aquifer) adalah akuifer yang jenuh air yang dibatasi oleh lapisan atas dan bawahnya merupakan aquiclude (kedap air) dan tekanan airnya lebih besar dari tekanan atmosfir. Pada lapisan pembatasnya tidak ada air yang mengalir (no flux). 8. Aquiclude (lapisan kedap air) ialah suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang kedap air (impermeabte) dengan nilai konduktivitas hidraulik yang sangat kecil sehingga tidak memungkinkan air melewatinya. Dapat dikatakan juga merupakan lapisan pembatas atas dan bawah suatu akuifer tertekan. 9. Aquitard (semi impervious layer) adalah suatu lapisan, formasi, atau kelompok formasi satuan geologi yang permeable dengan nilai konduktivitas hidraulik yang kecil namun masih memungkinkan air melewati lapisan ini walaupun dengan gerakan yang lambat. Dapat dikatakan juga merupakan lapisan pembatas atas dan bawah suatu semi confined aquifer. 10. Cekungan airtanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis, tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air tanah berlangsung. 11. Hidrogeologi dalam bahasa Inggeris tertulis hydrogeology . Bila merujuk struktur bahasa Inggeris maka tulisan hydrogeology dapat diurai rnenjadi: geology merupakan kata benda dan hydro merupakan kata sifat yang berarti mengenai air sehingga dapat diartikan menjadi geologi air (the geology of water). Secara definitif dapat dikatakan merupakan suatu studi dari interaksi antara kerja kerangka batuan dan airtanah. Dalam prosesnya, studi ini menyangkut aspekaspek fisika dan kimia yang terjadi di dekat atau di bawah permukaan tanah. Termasuk di dalamnya adalah transportasi massa, material, reaksi kimia, perubahan temperatur, perubahan topographi dan lainnya. Proses ini terjadi dalam skala waktu harian (daily, time scale). Gerakan air di dalam tanah melalui sela-sela dari kerangka batuan dikenal juga dengan istilah aliran airtanah (groundwoter flow) (Toth, 1990; Kodoatie, 1996; 2008). d. Pengertian yang berkairan dengan bangunan air

33

1. Bangunan hidrautik/air: Bangunan, pengendali tingkah laku air akibat alam atau buatan untuk suatu tujuan tertentu, misalnya untuk menanggulangan

kekurangan air di waktu musim kemarau dan kelebihan air di waktu musim penghujan, meninggikan permukaan air, mengatur debit air.dan mengalirkan air. Contoh: waduk atau bendungan, kolam air, gorong-gorong. 2. Bantaran sungai adalah daerah yang terletak pada kedua sisi dan di sepanjang alur sungai, dimana terletak antara tepi palung alur sungai sampai pada kaki tanggul sebelah dalam. 3. Bendung atau Weir adalah suatu bangunan melintang sungai yang dibangun untuk meninggikan muka air sungai dan dialirkan ke saluran (induk) untuk berbagi kepentingan (irigasi, air minum). 4. Daerah dataran banjir: merupakan suatu lahan yang merupakan suatu dataran rendah, karena kondisi topografinya pada waktu-waktu tertentu dapat tergenang oleh banjir yang terjadi. 5. Daerah konservasi/lindung: Wilayah yang dilindungi dan dipelihara untuk mencegah kerusakan atau kemunduran berat atau kemusnahan, karena misalnya akibat perkembangan ekonomi atau sosial atau fisik; daerah yang memuat sekelompok bangunan dengan bentuk arsitektur atau latar belakang sejarah yang berarti atau penting, yang oleh pemerintah dilindungi dan dipelihara untuk mencegah kerusakan atau kemusnahan. 6. Daerah retensi: daerah rendah yang dimanfaatkan untuk menampung air banjir sementara waktu dan dilepaskan pada wakru banjir mulai surut. 7. Daerah sempadan: lahan yang dibatasi oleh garis sempadan dengan kaki tanggul sebelah luar atau garis sempadan dengan tebing untuk sungai yang tidak bertanggul. 8. Garis sempadan: garis batas luar pengaman sungai dihitung kira-kira 5 meter (dapat diambil dengan ketentuan lain) dari luar kaki tanggul, untuk sungai yang mempunyai tanggul dan dengan ketentuan tersendiri yang tak ada tanggul. 9. Prasarana sumber daya air adalah bangunan air beserta bangunan lain yang menunjang kegiatan pengelolaan sumber daya air, baik langsung maupun tidak langsung. bendung, pintu air, terjunan,

34

10. Waduk atau Dam atau Reservoir: dibangun untuk menampung air pada periode kelebihan air (musim hujan) dan dipakai pada waktu kekurangan air (musim kemarau) untuk berbagai kepentingan, misalnya air minum, pariwisata, pengendalian banjir dll. 11. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengerolaan Sumber Daya Air dalam satu atau lebih daerah aliran sungai (DAS) dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari atau sama dengan 2.000 km2 (UU No. 7 Tahun 2004). Definisi lain: wilayah sungai: merupakan kesatuan wilayah system tata pengairan sebagai suatu pengembangan wilayah sungai yang dapat terdiri dari satu atau lebih daerah aliran sungai. e. Pengertian yang berkairan dengan Pengelolaan/Pengelola 1. Operasi adalah kegiatan pengaturan, pengalokasian, serta penyediaan air dan sumber air unfuk mengoptimalkan pemanfaatan prasarana sumber daya air. 2. Pemeliharaan adalah kegiatan untuk merawat sumber air dan prasarana sumber daya air yang ditujukan untuk menjamin kelestarian fungsi sumber air dan prasarana sumber daya air. 3. Pemerintah Daerah adalah kepala daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. 4. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas Presiden beserta para menteri. 5. Pendayagunaan sumber daya air adalah upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan, pengembangan, dan pengusahaan sumber daya air secara optimal agar berhasil guna dan berdaya guna. 6. Pengelola sumber daya air adalah institusi yang diberi wewenang untuk melaksanakan pengelolaan sumber daya air. 7. Pengelolaan industri keairan adalah praktek dari pengelolaan sumber daya air ke dalam industri keairan. Industri keairan terdiri atas organisasi pelayanan sumberdaya air (diantaranya suplai air bersih, air limbah, pengendalian banjir, PLTA, rekreasi, navigasi, lingkungan), peraturan-peraturan dan organisasi pendukung (Grigg, 1996). 8. Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air.

35

9. Pengendalian

banjir:

secara

umum

merupakan

kegiatan

perencanaan,

pelaksanaan pekerjaan pengendalian banjir, eksploitasi dan pemeliharaan, yang pada dasarnya untuk mengendalikan banjir, pengaturan penggunaan daerah dataran banjir dan mengurangi atau mencegah adanya bahaya/kerugian akibat banjir. 10. Pengendalian daya rusak air adalah upaya untuk mencegah, menanggulangi, dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan yang disebabtan oleh daya rusak air. 11. Perencanaan adalah suatu proses kegiatan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan secara terkoordinasi dan terarah dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan sumber daya air. 12. Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air pendayagunaan sumber daya air, dan pengendarian daya rusak air. 13. Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan pengelolaan sumber daya air. 14. Sistem tata pengairan: merupakan susunan tata letak sumber air, termasuk bangunan pemanfaatan yang sesuai ketentuan teknik pembinaan di suatu wilalah. B. Potensi air di dunia Secara garis besar total volume air yang ada yaitu air asin dan air tawar di dunia adalah 1.385.984.610 km3, terdiri atas (UNESCO, 1978 dalam Chow dkk., 1988):

36

Tabel 2.1. Jumlah air di dunia (UNESCO, 1978 dalam Chow dkk., 1988)

Air tawar dari es di Kutub dan es lainnya serta salju memberikan distribusi yang paling besar yaitu 69,553% (68,581% + 0,972%). Bila dilihat keseimbangan jumlah air tawar yang ada, maka airtanah memberikan distribusi yang cukup penting karena jumlahnya mencapai 30,061% dari seluruh air tawar yang ada. Sedangkan jumlah air tawar di tanah dangkal (soil moisture), danau, rawa/payau, sungai dan air biologi hanya 0,349%. Bila dibandingkan jumlah air tawar tersebul terhadap air tanah maka besarnya hanya 0.0116 atau 1,116% dari airtanah. Jumlah air tawar di sungai 0,006% atau kurang lebih l/5010 dari airtanah. Jumlah air di tanah dangkal (soil moisture) danau, rawal payau, sungai dan air biologi adalah 0,0151% dan ini hanya kurang lebih 9/1000 dari airtanah.

Gambar 2.1. Persentase perbandingan airtanah dalam dan air permukaan (Kodoatie dan Sjarief, 2008)

37

Secara global dari luas area di luar air laut, maka air biologi ataupun air udara mempunyai luas yang paling besar yaitu 510 juta km2, disusul air sungai sebesar 148,8 juta km2, air tanah luasnya 134,8 juta km2. Bila dilihat jumlah air tawar yang ada di luar es kutub maka jumlah airtanah menempati posisi teratas yaitu 95,68% dari semua air tawar yang ada di permukaan, disusul dengan es lainnya dan salju di luar es kutub, kemudian air di danau. Jumlah Air sungai walaupun arealnya lebih besar hanya 0,02%. Total jumlah air tawar yang ada di luar es kutub adalah 11.005.710 juta km3. Karena kecepatan aliran airtanah yang relatif sangat kecil dibandingkan dengan aliran permukaan, maka dalam keseimbangan air tahunan global aliran airtanah yang menuju ke laut jauh lebih kecil yaitu hanya 2200 km3/thn dibandingkan dengan air permukaan 44.700 km3/thn (Chow dkk., 1988). Hal ini ditunjukkan dalam Tabel berikut: Tabel 2.2. Keseimbangan air tahunan global (sumber: UNESCO, 1978 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008)

Di kota-kota besar di Indonesia pemanfaatan air tanah sudah berlangsung lama baik untuk industri, perhotelan dan kebutuhan penduduk. Yang harus diperhatikan bahwa volume airtanah di suatu daerah mempunyai kapasitas yang terbatas, sehingga pengelolaan airtanah harus memperhatikan prinsip-plinsip keseimbangan air yang ada. Bilamana suatu confined aquifer diambil airnya secafa bebas (tidak teraur) sehingga kondisi akuifer tersebut berubah dari kondisi jenuh air menjadi tidak jenuh air maka karakteristik akuifer tersebut akan berubah dan tidak akan kembali seperti semula walaupun kondisi tak jenuh air dikembalikari lagi menjadi kondisi jenuh air. Ini berarti perubahan suatu kondisi alam akan mempengaruhi sifat-sifat dari suatu bagian alam tersebut yang tidak dapat kembali lagi ke bentuk kondisi semula. Di samping itu, pengelolaan sumber airtanah yang tidak teratur akan

38

rnenimbulkan permasalahan seperti intrusi air laut, kontaminasi airtanah dan lainlain. Oleh karena itu sebelum memanfaatkan airtanah, perlu dilakukan kajian rentang kapasitas akuifer yang akan dieksploitasi. Hasil kajian harus dapat menunjukkan berapa besar safe yield dari akuifer tersebut. Selama kuantitas pengambilan airtanah berada di bawah ambang safe yield maka airtanah dapat dieksplotasi secara kontinyu dan berkelanjutan. C. Potensi Air di Indonesia Besar curah hujan per tahun, aliran permukaan, aliran mantap dan pemanfaatan air di beberapa pulau-pulau besar di lndonesia ditunjukkan dalam Tabel 2.3. Sumber air di Indonesia dari curah hujan (Dept. PU. 1994 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008)

Catalan: aliran mantap adalah air yang tertampung dalam waduk, danau, sungai air yang masuk ke dalam tanah dll.

Perbandingan aliran mantap sebagai sumber ketersediaan air dan kebutuhan air ditunjukkan dalam Gambar berikut:

39

Gambar 2.2. Ketersediaan air dan ketrutuhan air (Dept. PU, 1994; Kodoatie dan Suripin, 2000 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008) Keseimbangan air yaitu antara potensi dan kebutuhan ditunjukkan dalam Gambar berikut:

Gambar 2.3. Keseimbangan air (potensi dan kebutuhan) di Indonesia (Dept. PU, 1994; Kodoatie dan Suripin,2000 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008)

40

III. Penutup 1. Rangkuman Istilah dan definisi yang berkaitan dengan sumber daya air membantu mahasiswa dalam memahami hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Baik tentang sumber air, baik permukaan maupun airtanah. Demikian

halnya dengan pengelolaan sumber daya air dan pihak pengelola misalnya pemerintah. Bangunan atau ruang yang berkaitan dengan sumber daya air misalnya daerah konservasi atau daerah lindung dan lain sebagainya. Dengan dasar

pemahaman ini, maka secara tidak langsung mahasiswa dapat paham bahwa dalam pengelolaan sumber daya air perlu secara terintegrasi dan komprehensif dengan melibatkan semua sektor dan bukannya mendahulukan melakukan tindakan pengelolaan secara sektoral. Hal ini ditunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya air sudah diatur dalam suatu Undang-undang yaitu UU No. 7 tahun 2004 tentang sumber daya air. Potensi sumber daya air secara global adalah konstan, namun di lain pihak pengguna dalam hal ini manusia di dunia ini cenderung bertambah sehingga menyebabkan peningkatan permintaan. Atas dasar tersebut, maka perlu suatu pengelolaan yang bijak, yang dapat memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengaibakan pemenuhan kebuuhan untuk generasi berikutnya. 2. Tugas dan Latihan 1. Jelaskan hubungan antara jumlah penduduk dengan kebutuhan air, apakah merupakan hubungan linier atau dalam bentuk hubungan yang lain. 2. Bagaimana potensi sumber daya air di Makassar? Dan lakukan analisis apakah potensi tersebut masih memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan air penduduk Makassar pada tahun 2025? 3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa dapat menjelaskan beberapa definisi tentang sumber daya air.

41

2. Mahasiswa dapat menjelaskan potensi sumber daya air dan melakukan analisis untuk memprediksi kemampuan potensi sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan air penduduk pada suatu tempat/kota. 4. Sumber/Referensi 1. UU No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 2. UU No. 11 tahun 1974 tentang Pengairan 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 5. Strategi Pembelajaran
1. Dosen menjelaskan istilah yang berhubungan sumber daya air hingga pada potensi air di dunia dan di Indonesia. 2. Dosen menjelaskan dampak peningkatan jumlah penduduk terhadap pemenuhan kebutuhan air, dimana jumlahnya relative tetap 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi.

42

SESI/PERTEMUAN KE-3 (Ketiga) SISTEM DAN INFRASTRUKTUR KEAIRAN Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi sistem dari sumber daya air 2. Mahasiswa mengetahui komponen sumber daya air sebagai infrastruktur keairan, alami dan buatan dari sumber daya air 3. Mahasiswa mampu merancang sistem infrastruktur keairan untuk mengendalikan daya rusak air.

Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi ini membahas tentang batasan sistem keairan, dimana batas sistem keairan berbeda dengan batas administrative, namun lebih pada batas hidrologis. Sehingga dalam pengelolaannya, batas sistem adalah hidrologis sumberdaya air yaitu cekungan airanah (CAT), Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). Komponen sumber daya air sebagai infrastruktur keairan juga dibahas, baik secara alami maupun buatan. Demikian halnya dengan metode pengendalian daya rusak dari sumber daya air keairan dibahas dengan beberapa contoh, terutama pengendalian banjir yang merupakan bencana yang selalu dating setiap musim hujan tiba. I. Bahan Bacaan: 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
3. Suhardi, 2008. Model Pengelolaan Airbumi untuk Irigasi dengan Operasi Pompa Tunggal dan Ganda: Kasus Sub DAS Data, Kabupaten Wajo, Provisi Sulawesi Selatan. (Disertasi). Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, IPB.

II. Bacaan Tambahan: 1. Asawa, G.L., 2008. Irrigation and Water Resources Engineering. New Delhi: NewAge International (P) Ltd. 2. Karamouz, M., F. Szidarovszky dan B. Zahraie. 2003. Water resources systems analysis. Florida: CRC Press LLC. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: 1. Bagaimana batasan sistem daripada sistem keairan 2. Apa saja komponen daripada sumber daya air sebagai infrastruktur keairan. 3. Bagaimana pengendalian daya rudak daripada sumberdaya air IV. Lain-lain: Lakukan studi lapangan pada suatu sistem keiran, dan buatlah batasan sistem dan sub sistem keairan tersebut. Bab 4. Pembelajaran 3

43

(Sistem dan Infrastruktur Keairan) I. Pendahuluan Mengidentifikasi sistem dalam suatu kegiatan perlu agar dalam kegiatan tersebut menjadi fokus sehingga setiap kegiatan lebih efektif dan efisien. Demikian halnya dalam pengembangan infrastruktur keairan, sistem perlu diketahui agar dalam pelaksanaannya dapat mempertimbangkan seluruh aspek yang mempengaruhi dan dipengari oleh pembangunan infrastruktur tersebut. Dalam sistem keairan, batas teknis hidrologi merupakan merupakan batas sistem. Dalam materi ini, komponen sumberdaya air, termasuk komponen alami dan buatan dan beberapa sistem dalam pengendalian daya rusak air. 1. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu mengidentifikasi sistem dari sumber daya air 2. Mahasiswa mengetahui komponen sumber daya air sebagai infrastruktur keairan, alami dan buatan dari sumber daya air 3. Mahasiswa mampu merancang sistem infrastruktur keairan untuk mengendalikan daya rusak air. 2. Sumber/Referensi 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
3. Suhardi, 2008. Model Pengelolaan Airbumi untuk Irigasi dengan Operasi Pompa Tunggal dan Ganda: Kasus Sub DAS Data, Kabupaten Wajo, Provisi Sulawesi Selatan. (Disertasi). Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, IPB.

3. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan sistem dalam keairan dan infrastruktur keairan baik alami maupun buatan 2. Dosen menjelaskan daya rusak daripada sumberdaya air dan bagaimana metode pengendaliannya. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah. 5. Melakukan diskusi.

44

II. Uraian Materi A. Batas Teknis Hidrologi Ada tiga wilayah/daerah teknis atau hidrologis Pengelolaan Sumber Daya Air yaitu: cekungan air tanah (CAT), daerah aliran sungai (DAS) dan wilayah sungai (WS). Secara administratif untuk pemerintahan wilayah Indonesia dibagi beberapa wilayah adminsitratif dengan herarki seperti berikut: nasional, provinsi,

kabupaten/kota, kecamatan, kelurahan dan atau desa. Perbedaan batas teknis dan batas administrasi ditunjukkan berikut ini.

Gambar 3.1. Ilustrasi DAS, CAT, WS dan wilayah administratif kabupaten/kota (Kodoatie dan Sjarief, 2008). 1. Daerah Aliran Sungai Sebagai Satu Kerangka Kerja Untuk aliran permukaan daerah aliran sungai merupakan satu kesatuan sistem sumber daya air. Sesuai dengan definisinya rnaka daerah aliran sungai (DAS)merupakan suatu kesatuan wilayah tata air yang terbentuk secara alamiah, dimana air akan mengalir melalui sungai dan anak sungai yang bersangkutan yang terletak di dalam wilayah DAS tersebut. Secara alami sesuai hukum gravitasi, air

45

mengalir dari hulu ke hilir, dari gunung (daerah yang tinggi) menuju ke laut (daerah yang lebih rendah). Beberapa komponen, fungsi dan sistem sumber daya air ditunjukkan dalam Gambar 3.2.

Gambar 3.2. Daerah Aliran Sungai merupakan daerah kesatuan sistem infrastruktur keairan (Kodoatie dan Sjarief, 2008) Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa dalam suatu DAS banyak komponen, sistem dan fungsi/peran terkait dengan sumber daya air. Oleh karena itu pengelolaan sumber daya air harus dilihat secara utuh dalam satu kesatuan minimal dalam suatu daerah aliran sungai. Karena pada prinsipnya sistem sumber daya air mempakan sebuah kombinasi dari fasilitas pengendalian air dan elemen lingkungan yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan pengelolaan air dan membutuhkan suatu sistem keputusan yang memerlukan kajian menyeluruh. Pada hakekatnya definisi ini sulit diimplementasikan karena mencakup banyak dimensi, banyak aspek, melibatkan semua pihak dan saling tergantung. 2. Wilayah Sungai Satu wilayah sungai (WS) terdiri atas beberapa DAS. Berikut ini ditunjukkan contoh wilayah sungai.

46

Gambar 3.3. WS Pemali Comal dan WS Jratunseluna di Jawa Tengah (PIPWS Jratunseluna, 2001 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008) 3. Cekungan Air Tanah Cekungan air tanah (CAT) atau groundwater basin terdiri atas akuifer tertekan (confined aquifer) dan akuifer bebas (unconfined aquifer). CAT juga dapat disebutkan merupakan gabungan dari beberapa akuifer. Berikut dalam Gambar 3.4 ditunjukkan konfigurasi beberapa akuifer.

Gambar 3.4. Potongan melintang beberapa akuifer (Todd, 1995 dalam Suhardi, 2008)

47

B. Komponen Sumber Daya Air Sumber Daya Air tidak termasuk komponen infrastruktur, namun bagian-bagian dari pengelolaan sumber daya air bisa dikategorikan sebagai infrastruktur keairan, misalnya sistem air bersih, irigasi, drainase, pengendalian banjir, dan lain-lain. 1. Komponen Alami Sumber Komponen alami dari sumber daya air dapat disebutkan antara lain: sungai, muara/estuari, rawa, danau, daerah retensi, pantai, airtanah, mata air, air terjun, dan lain-lain. Masing-masing komponen terbentuk secara alami akibat dari sifat air yang mengalir dari hulu ke hilir dengan sistem gravitasi. Alam telah membentuk komponen tersebut secara seimbang sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Karena sifat air yang dinamis maka keseimbangan alam dari komponen tersebut juga tergantung dari proses aliran air. Secara alami ada yang sudah stabil, ada yang berubah bentuk, dan ada yang hilang. Hal tersebut dipengaruhi oleh banyak hal antara lain siklus hidrologi, kondisi geologi, kondisi wilayah dan kehidupan yang ada baik itu, hewan, tumbuh-tumbuhan dan aktifitas manusia. 2. Komponen buatan/artifisial Sumber Daya Air Komponen artifisial sumber daya air merupakan bangunan air yang dibuat oleh manusia untuk suatu tujuan tertentu. Komponen-komponen itu antara lain meliputi: Waduk: bangunan penyimpan air. Waduk sebagai bangunan utama memiliki bangunan penunjang lainnya seperti: bangunan pelimpah (spinway) yang berfungsi untuk melimpahkan kelebihan air di dalam waduk, bangunan pengambilan (intake) berfungsi untuk pengambilan air dari waduk, pipa pesat berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga air, dan lain-lain. Waduk dari segi konstruksinya juga ada bermacam-macam, misalnya: waduk tipe urugan, waduk beton, dan lain-lain.Nama lain waduk antara lain dam, reservoir. Embung: merupakan waduk-waduk kecil luasnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan waduk (bisa seukuran lapangan sepak bola atau lebih). Bendung (weir): berfungsi untuk membendung aliran sehingga ada perbedaan ketinggian di hulu dan hilir bendung. Checkdam, sabo dam (bangunan pengendali sedimen). Sistem drainase berfungsi untuk membuang air: baik di perkotaan (urban) maupun di pedesaan (rural).

48

Sistem irigasi berfungsi untuk mengairi areal irigasi terdiri atas: bangunan pengambilan, saluran induk, saluran sekunder, saluran tersier, bangunan bagi, bangunan sadap, bangunan ukur, daerah irigasi dan lain-lain. Jaringan air bersih (umumnya dikelola oleh PDAM) terdiri dari sumber, conveyor, tampungan air baku, water treatment plant (WTP), tampungan air bersih, jaringan transmisi, jaringan distribusi, komponen-komponen untuk keperIuan pengguna air bersih, dan lain-lain. Talang. Siphon. Tanggul pengendali banjir. Saluran pintu air. Sistem pengendali banjir. Sistem buangan limbah cair. Dan lain-lain Komponen-komponen tersebut dapat disebut sebagai infrastruktur keairan. Beberapa diantaranya dari infrastruktur keairan diuraikan sebagai berikut: C. Sistem Pengendalian Banjir 1. Penyebab Banjir Banjir dan genangan yang terjadi akibat tindakan manusia dan oleh alam di suatu lokasi diakibatkan antara lain oleh sebab-sebab berikut ini (Kodoatie dan Sugiyanto, 2002 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008): Perubahan tata guna lahan (land-use) di daerah aliran sungai (DAS). Pembuangan sampah. Erosi dan sedimentasi. Kawasan kumuh di sepanjang sungai/drainase. Perencanaan sistem pengendalian banjir tidak tepat. Curah hujan. Pengaruh fisiografi/geofisik sungai. Kapasitas sungai dan drainase yang tidak memadai. Pengaruh air pasang. Penurunan tanah dan rob (genangan akibat pasang air laut). Drainase lahan.

49

Bendung dan bangunan air. Kerusakan bangunan pengendali banjir. Ada 4 strategi dasar untuk pengelolaan daerah banjir yang meliputi (Grigg, 1996): 1. Modifikasi kerentanan dan kerugian banjir (penentuan zona atau pengaturan tata guna lahan). 2. Pengaturan peningkatan kapasitas alam untuk dijaga kelestariannya seperti penghijauan. 3. Modifikasi dampak banjir dengan penggunaan teknik mitigasi seperti asuransi, penghindaran . banjir (flood proofing). 4. Modifikasi banjir yang terjadi (pengurangan) dengan bangunan pengontrol (waduk) atau perbaikan sungai 2. Penyebab banjir paling dominan Perubahan tata guna lahan rnerupakan penyebab utarna banjir dibandingkan dengan yang lainnya. Sebagai contoh, apabila suatu hutan yang berada dalam suatu daerah aliran sungai diubah menjadi pemukiman, maka debit puncak sungai akan meningkat antara 6 sampai 20 kali. Angka 6 dan angka 20 ini tergantung dari jenis hutan dan jenis pemukiman. Demikian pula untuk perubahan yang lainnya maka akan terjadi peningkatan debit puncak yang signifikan. Secara kuantitatif pengaruh perubahan tata guna lahan ditunjukkan dalarn Garnbar 3.5.

50

Gambar 3.5. Peningkatan debit puncak akibat perubahan tata guna lahan (Raudkivi, 1979; Subarkah, 1980; Schwab dkk., 1981; Loebis, 1984 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008) Perlu pula diketahui bahwa perubahan tata guna lahan memberikan kontribusi dominan kepada aliran permukaan (run-off). Hujan yang jatuh ke tanah airnya akan menjadi aliran permukaan di atas tanah dan sebagian meresap ke dalam tanah tergantung kondisi tanahnya. Suatu kawasan hutan bila diubah menjadi permukiman maka yang terjadi adalah bahwa hutan yang bisa menahan run-off cukup besar diganti menjadi pemukiman dengan resistensi run-off yang kecil. Akibatnya ada peningkatan aliran permukaan tanah yang menuju sungai dan hal ini berakibat adanya peningkatan debit sungai yang besar. Apabila kondisi tanahnya relatif tetap, air yang meresap ke dalam tanah akan relatif tetap. Sudah sering ada pernyataan bahwa "apabila hutan digunduli atau menjadi kawasan permukiman resapannya hilang terjadilah banjir". Pernyataan ini kurang tepat, seharusnya yang perIu disampaikan adalah "apabila hutan digunduli atau menjadi kawasan pemukiman maka run-off (aliran permukaan) akan meningkat

51

signifikan dan terjadilah banjir". Resapan yang masuk ke dalam tanah relatif tetap karena jenis tanahnya tidak berubah. Namun kuantitas resapan menjadi kecil karena di atas tanah yang bisa meresap air berubah menjadi bangunan permanen yang yang kedap air. Hubungan antara run-off dan resapan mempunyaiperbedaan tingkat besaran (order of magnitude) yang besar. Bila yang dibicarakan adalah run-off, maka kecepatan air berkisar dari 0,1 - 1 m/detik bahkan bisa mencapai lebih dari 10 m/detik tergantung dari kemiringan lahan, tinggi aliran dan penutup lahan. Bila yang dibicarakan adalah resapan, maka kecepatan air yang meresap ke dalam tanah tergantung dari jenis tanah. Bila jenis tanah lempung (clay), kecepatan aliran (konduktifitas hidraulik) sangat kecil berkisar antara 1/1.000.000.000.000 sampai 1/1000.000.000 m/detik (10-12 sampai 10-9 m/detik), sedangkan bila jenis tanah lanau (silt) maka kecepatan aliran berkisar antara 1/100.000.000 - 1/10.000 m/detik (10-8 sampai 10-4 m/detik). Bila jenis pasir maka kecepatan aliran berkisar antara 1/100.000- 1/100 m/detik(10-5 sampai 10-2 m/detik). Faktor penutup lahan vegetasi cukup signifikan dalam pengurangan ataupun peningkatan aliran permukaan. Hutan yang lebat mempunyai tingkat penutup lahan yang tinggi, sehingga apabila hujan turun ke wilayah hutan tersebut, faktor penutup lahan ini akan memperlambat kecepatan aliran permukaan, bahkan bisa terjadi kecepatannya mendekati nol. Ketika suatu kawasan hutan berubah menjadi pemukiman, maka penutup lahan kawasan ini akan berubah menjadi penutup lahan yang tidak mempunyai resistensi untuk menahan aliran. Yang terjadi ketika hujan turun, kecepatan air akan meningkat sangat tajam di atas lahan ini. Namun resapan air yang masuk ke dalam tanah relatif tetap kecuali lahannya berubah. Kuantitas totalnya berubah karena tergantung dari luasan penutup lahan. Umumnya untuk mengurangi banjir atau genangan yang terjadi dilakukan perbaikan penampang sungai sering disebut dengan istilah populer normalisasi. Perbaikan sungai yang dilakukan umumnya dengan melebarkan sungai atau memperdalam (pengerukan) sungai. Sesungguhnya istilah normalisasi kurang tepat, karena sebenamya sungai (alami) sudah normal lalu mengapa harus dinormalkan. Secara alami sungai hampir selalu merubah kondisi fisiknya sesuai dengan perubahan yang terjadi di sungai.

52

Sebagai contoh perubahan debit sungai akan diikuti dengan perubahan morfologi sungai. Pengertian ini lebih dominan meluruskan sungai, melebarkan atau memperdalam penampang, agar aliran air lebih cepat dan kapasitas sungai menampung air lebih besar. Pelebaran sungai tergantung dari tata guna lahan di sekitamya. Apabila sudah dipadati penduduk maka persoalan menonjol yang terjadi adalah pembebasan tanah. Semakin padat penduduk dan semakin strategis lokasinya, biaya pembebasan akan semakin mahal. Dalam kondisi ini untuk melebarkan menjadi dua kali lebar semula akan sangat mahal dan menghadapi persoalan pembebasan tanah yang cukup sulit dipecahkan. Di samping itu perIu diperhatikan ketersediaan air di DAS untuk cadangan air di musim kemarau. Memperbesar kapasitas sungai berarti memperkecil air yang tertahan di DAS. Pelebaran atau pengerukan sungai hampir linear dengan debit. Bila sungai dilebarkan menjadi dua kali, maka debitnya meningkat dua sampai empat kali. Demikian pula bila sungai diperdalam dua kali maka debit pada awalnya juga menjadi dua sampai empat kali dari debit semula, namun karena ada sedimentasi maka kedalaman sungai ada kemungkinan akan kembali seperti semula, bahkan bila laju sedimentasi besar luas penampang sungai akan menjadi lebih keciI. Uraian tersebut diilustrasikan dalam Gambar 3.6.

a) diperlebar dua kali (debit hanya naik menjadi 2 sampai 4 kali debit semula)

53

b) dikeruk (diperdalam) dua kali, kedalaman akan ada kecenderungan kembali kedalaman semula akibat sedimentasi

Gambar 3.6. Contoh sederhana proses perbaikan sungai (Kodoatie dan Sjarief, 2008)

Sebagai catatan dalam upaya memperdalam atau melebarkan sungai perIu dikaji stabilitas sungai. Dalam kaitan upaya untuk stabilitas sungai, para ahli teknik sungai dianjurkan oleh Simons dan Senturk (1992) agar tidak berupaya mengembangkan sungai lurus. 3. Metode Pengendalian Banjir Pada prinsipnya ada 2 metode pengendalian banjir yaitu metode struktur dan metode non-struktur. Pada masa lalu metode struktur lebih diutamakan dibandingkan dengan metode non-struktur. Namun saat ini banyak negara maju mengubah pola pengendalian banjir dengan lebih dulu mengutamakan metode non-struktur lalu baru metode struktur. Contoh dalam Gambar 3.6 menunjukkan bahwa dengan kondisi tata guna lahan yang sudah padat (adanya bangunan untuk pemukiman, industri dan lain-lain) perbaikan sungai akan memberikan pengaruh maksimal dua hingga empat kali lipat saja, itupun bila proses pelebaran ataupun pengerukan sebesar dua kali lipatnya bisa berjalan lancar. PerIu diperhatikan pelebaran sungai/drainase harus dipertahankan sampai ke lokasi sungai paling hilir (di muara) artinya kajian morfologi sungai perlu dilakukan secara menyeluruh. Bilamana dilakukan pelebaran namun pada lokasi tertentuk di bagian hilir tidak dapat dilebarkan maka akan terjadi penyempitan aIur sungai (bottleneck). Hal ini

54

akan menyebabkan daerah hulu yang sudah dilebarkan akan kembali ke posisi lebar semua. Di samping itu setelah dilebarkan potensi kembali ke lebar sungai semula cukup besar akibat sedimentasi dan morphologi sungai yang belum stabil, demikian pula kedalaman sungai yang dikeruk menjadi dua kali akan kembali ke kedalaman semula akibat besarnya sedimentasi. Oleh karena itu ke depan metode non-struktur harus dikedepankan lebih dahulu karena pengaruh perubahan tataguna lahan mengkontribusi debit puncak di sungai mencapai 5 sampai 35 kali debit semula. Metode struktur yang hanya memberikan penurunan/reduksi debit jauh lebih kecil dibandingkan peningkatan debit akibat perubahan tata guna lahan atau degradasi lingkungan. Istilah populer yang dipakai adalah flood control toward flood management (Hadimuljono, 2005). Flood management berarti melakukan tindakan pengelolaan yang menyeluruh yaitu gabungan antara metode non-struktur dan metode struktur. Flood control lebih dominan pada pembangunan fisik (atau dikenal dengan metode struktur). Hal ini sebenarnya wajar apabila sebelumnya telah dilakukan kajian pengelolaan banjir secara menyeluruh dengan salah satu rekomendasi adalah melakukan flood control. Untuk lebih jelasnya metode tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

55

Tabel 3.1. Metode pengendalian banjir (Grigg, 1996; Kodoatie dan Sugiyanto, 2002; Hadimuljono, 2005 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008)

Apabila perubahan tata guna lahan sudah bisa dipastikan sampai ke masa yang akan datang, maka dapat diketahui debit rencana yang pasti melalui sungai tersebut. Bilamana hal ini terjadi maka perbaikan sungai dengan metode struktur dapat dilakukan. Departemen PU membuat suatu ketentuan kebijakan tentang debit sungai akibat dampak perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai tersebut yaitu dengan menyatakan bahwa DAS boleh dikembangkan/dirubah fungsi lahannya dengan delta Q zero policy atau Q=0 (Lee, 2002; Kemur, 2004; Hadimuljono, 2005 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008). Arti kebijakan ini adalah bila suatu lahan di DAS berubah maka debit sebelum dan sesudah lahan berubah harus tetap sama. Misalnya, suatu lahan hutan diubah menjadi pemukiman maka debit yang di suatu titik sungai harus tetap sama. Hal ini dapat dilakukan dengan cara kompensasi yaitu pada lahan pemukiman harus disisakan lahan untuk penahan run-off akibat perubahan misal dengan cara pembuatan sumur resapan, penanaman rumput atau semak-semak (tanaman) yang lebat dan rendah, pembuatan embung, pembuatan tanggul-tanggul kecil dalam sistem drainase dan lain-lain.

56

Salah satu ciri kerusakan DAS dapat dilihat dari besamya ratio antara debit maksimum dan debit minimum. Semakin besar rationya dapat dikatakan DAS semakin rusak. Di lapangan hal ini terjadi pada waktu musim hujan debit sangat besar bahkan bisa meluap namun sebaliknya pada waktu musim kemarau debit sangat kecil bahkan mendekati nol. Hal ini berarti bahwa pada waktu hujan, aliran permukaan tinggi karena tidak ada yang menahan laju run-off namun pada musim kemarau karena tidak ada air yang tertahan di DAS, tidak ada aliran di sungai. Oleh karena itu secara substansi salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam pengelolaan air adalah dengan membuat penghalang aliran permukaan (run-off) DAS sebesar-besamya. D. Sistem Drainase Air hujan yang jatuh di suatu daerah perlu dialirkan atau dibuang agar tidak terjadi genangan atau banjir. Caranya yaitu dengan pembuatan saluran yang dapat menampung air hujan yang mengalir di permukaan tanah tersebut. Sistem saluran di atas selanjutnya dialirkan ke sistem yang lebih besar. Sistem yang terkecil juga dihubungkan dengan saluran rumah tangga dan sistem bangunan infrastruktur lainnya. Sehingga apabila cukup banyak limbah cair yang berada dalam saluran tersebut perlu diolah (treatment). Selurnh proses ini disebut sistem drainase. Persamaan dasarnya sama untuk pengendalian banjir. Drainase pada prinsipnya terbagi atas 2 (dua) macam yaitu: drainase untuk daerah perkotaan dan drainase untuk daerah pertanian. Pada perencanaan dan pengembangan sistem drainase kota perlu kombinasi antara perkembangan perkotaan, daerah rural dan daerah aliran sungai (DAS). Untuk pengembangan suatu wilayah baru di perkotaan, perancangannya harus disesuaikan dengan sistem drainase alami yang sudah ada maupun yang telah dibuat. Sesuai dengan prinsip sebagai jalur pembuangan maka pada waktu hujan, air yang mengalir di permukaan diusahakan secepatnya dibuang agar tidak

menimbulkan genangan-genangan yang dapat mengganggu aktivitas di perkotaan dan bahkan dapat menimbulkan kerugian sosial ekonomi terntama yang menyangkut aspek-asperk kesehatan lingkungan pemukiman kota. Namun bagi pengembangan sumber daya air, perlu diperhatikan pula daerah resapan yang bisa difungsikan, sehingga air hujan tidak terbuang percuma ke laut karena merupakan sumber air yang dipakai pada musim kemarau.

57

Ukuran dan kapasiras saluran sistem drainase semakin ke hilir semakin besar, karena semakin luas daerah alirannya. 1. Fungsi Drainase Fungsi dari drainase adalah: Membebaskan suatu wilayah (terutama yang padat pemukiman) dari genangan air atau banjir. Apabila air dapat mengalir dengan lancar maka drainase juga berfungsi memperkecil resiko kesehatan lingkungan; bebas dari malaria (nyamuk) dan penyakit lainnya. Drainase juga dipakai untuk pembuangan air rumah tangga. Semua sistem aliran pembuangan rumah dialirkan menuju sistem drainase. Dalam menentukan dimensi sistem drainase, intensitas hujan dengan periode ulang tertentu di suatu sistem jaringan drainase dipakai sebagai dasar analisis perhitungan karena kuantitasnya jauh lebih besar dibandingkan aliran dari rumah tangga atau domestik lainnya. Di daerah perkotaan dengan permukiman yang padat pelaksanaan konstruksi maupun pemeliharaan sistem drainase sering kali mengalami berbagai kendala antara lain: Kurangnya lahan untuk pengembangan sistem drainase karena sudah berfungsi untuk tata guna lahan tertentu yang permanen. Pemeliharaan saluran juga mengalami kesulitan karena bagian atas sudah ditutup oleh bangunan. Sampah terutama sampah domestik banyak menumpuk di saluran sehingga mengakibatkan pengurangan kapasitas dan penyumbatan saluran. Pemahaman masyarakat bahwa sungai (drainase) sebagai tempat buangan sudah menjadi budaya yang sulit untuk dihilangkan. Akibat sampah, sedimentasi, atau tersumbatnya saluran maka perlu dilakukan pemeliharaan secara kontinyu. Kenyataan di hampir seluruh kota di Indonesia dana untuk pemeliharaan sangat terbatas. Sistem drainase sering tidak berfungsi optimal akibat adanya pembangunan infrastruktur lainnya yang tidak terpadu dan tidak melihat keberadaan sistem drainase sepelii jalan, kabel telkom, pipa PDAM.

58

Secara estetika, drainase tidak merupakan infrastruktur yang bisa dilihat keindahannya karena fungsinya sebagai pembuangan air dari semua sumber. Umumnya drainase di perkotaan kumuh dan berbau tak sedap. 2. Sistem Jaringan Drainase Sistem jaringan drainase di dalam wilayah kota dibagi atas 2 bagian yaitu: drainase major dan drainase minor. Konfigurasi sistem drainase secara umum seperti gambar berikut ini.

Gambar 3.7. Konfigurasi sistem drainase perkotaan (Grigg, 1996, Kodoatie dan Sjarief, 2008)
E. Sistem Aliran Air Tanah Aliran air tanah atau hidrogeologi merupakan perpaduan antara ilmu geologi dan ilmu hidrolika di mana kajiannya menitikberatkan pada gerakan/aliran air di dalam tanah secara hidrolik. Gabungan dua kata hidro dan geologi menunjukkan secara implisit pengertian geologi dari air. Atau dengan kata lain adalah merupakan suatu studi tentang interaksi antara kerangka sistem batuan dan atau dengan

59

airtanah. Dari sudut pandang hidrolika maka istilah gerakan aliran dalam tanah dikenal dengan hidrolika dalam media porous, karena airtanah mengalir di antara atau di sela-sela butiran tanah yang sekaligus sebagai media. Pengetahuan tentang hidrogeologi ini penting bagi manusia, karena fungsi dan kegunaannya meliputi tiga aspek (Toth, 1990): Aspek sebagai salah satu sumber alam yang dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan bagi umat manusia. Aspek bagian dari hidrologi di dalam tanah yang mempengaruhi keseimbangan siklus hidrologi global Aspek sebagai anggota/agen dari geologi. Lebih lanjut Toth (1990) mengatakan bahwa hidrogeologi merupakan atau termasuk disiplin ilmu yang (relatip) masih muda dan masih terus berkembang secara pesat sekali. Pada saat ini, secara umum pengembangannya masih dalam batas-batas dasar (basic), sehingga bilamana seseorang mencoba untuk mendalami dan mempelajari ilmu ini dapat sekaligus mengembangkannya serta dapat dikaitkan dengan kondisi dan situasi setempat. Oleh karena itu manfaat dan keuntungan lainnya dalam mempelajari ilmu hidrogeologi ini dapat dilihat dari 3 (tiga) sudut pandang, yaitu: Dari sudut pandang keilmuan bersifat menantang karena: Merupakan sesuatu yang pasti sehingga dibutuhkan spesialisasi Menjadi sesuatu yang menarik, karena dalam mempelajarinya bersifat luwes dan harus sekaligus menguasai teori dan praktek. Cakupannya cukup luas sehingga membutuhkan pengertian disiplin ilmu yang lain. Dari sudut pandang professionalisme memberikan kepuasan karena: Menawarkan kesempatan yang bervariasi Bila seseorang dalam mempelajarinya tidak menyukai hal tentang masalah kontaminasi airtanah bisa beralih ke bagian hidrogeologi yang lainnya misalnya hanya persoalan-persoalan hidroliknya saja. Menawarkan keamanan dan pengembangan profesi yang kontinyu. Memberikan penghasilan yang baik.

60

Dari sudut pandang pengembangan individual merupakan pelajaran yang kontinyu karena: Harus berinteraksi dengan ilmu yang lain seperti sosiologi, geografi, sejarah dan lain-lain. Menawarkan kesempatan untuk melakukan perjalananjauh Menawarkan hubungan dengan berbagai orang/masyarakat Membuat hidup menarik dalam kaitannya dengan aneka peristiwa Prinsip-prinsip dasar hidrogeologi meliputi (Toth, 1984): hukum kekekalan yang dipakai, proses dan kejadian yang berhubungan dengan bagaimana aliran air terjadi, gerakan aliran air dalam tanah, distribusinya, unsur kimia yang ada dalam airtanah, serta dampak lingkungan dari aliran dalam tanah. Hal yang cukup penting adalah bahwa gerakan aliran dalam tanah hamper selalu mengikuti prinsip gerakan aliran laminer (Rajaratnam, 1989). Sehingga dalam hal ini dari ilmu hidrolika pengertian tentang aliran laminer akan lebih dominan dibandingkan dengan aliran turbulen. Hal ini penting dikemukakan karena merupakan suatu batas (boundary) pengkajian dalam menganalisis gerakan aliran dalam tanah ini. Biasanya turbulensi hanya terjadi di sekitar sumur bilamana pengambilan air tanah memakai sumur pompa baik itu sumur dangkal maupun dalam. Hal di atas merupakan salah satu phenomenom yang menunjukkan bahwa hidrogeologi juga dikenal dengan sebutan hidrolika media porous. Sumber Resapan dan Potensi Airtanah Sumber resapan penting hubungannya dengan kegiatan memprediksi besarnya potensi airtanah. Sumber resapan dapat diprediksi berdasarkan pada data kontur muka airtanah. Dari kontur muka airtanah, maka jejaring aliran (flownet) dapat digambarkan dengan menggunakan Surfer 8. Berikut contoh jejaring aliran airtanah pada sub DAS Data Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan.

61

Gambar 3.8 Jejaring aliran airtanah dalam sistem DAS (Sumber: P2AT Sul-Sel, 2006; Suhardi, 2008) Berdasarkan pada Gambar 3.8., maka diduga bahwa sumber resapan berasal dari sisi barat DAS ke arah timur. Potensi airtanah dapat diduga bilamana diketahui gradien hidraulik dan luas penampang akuifer. Gradien hidraulik merupakan selisih antara muka airtanah tertinggi dengan muka airtanah terendah dibagi dengan jarak antara kedua titik. Berdasarkan pada jejaring aliran, muka airtanah tertinggi pada DAS adalah tersebut adalah 32 m dan terendah adalah 8 m dpl dan jarak antara kedua titik tersebut rata-rata 4.000 m (Gambar 16). Luas penampang aliran diduga melalui interpretasi peta litologi. Berdasarkan hasil interpretasi peta litologi, diperoleh bahwa tebal akifer adalah 15 meter. Lebar penampang aliran diperoleh berdasarkan pada peta jejaring aliran yang

menunjukkan bahwa airtanah mengalir dari Barat ke Timur sehingga lebar aliran sama dengan panjang DAS yaitu 10.000 m, sedangkan panjang aliran sama dengan lebar DAS yaitu 4.000 m, karena DAS berhulu di Utara dan hilirnya pada sisi Selatan. Berdasarkan pada tebal dan lebar aliran tersebut, maka luas penampang aliran diperoleh sebesar 150.000 m2.

62

Dengan

demikian,

maka

gradien

hidraulik

adalah

24/4000

0,006.

Berdasarkan persamaan Darcys, maka debit airtanah dalam DAS dapat dihitung dengan persamaan:

Q = K .i. A
Q = 16,13 x (24/4.000) x (15 x 10.000) Q = 14.517 m3/hari 168,02 l/dt.
Y=24 m 100 m dpl Permukaan tanah X=4000 m

32 m dpl Muka airtanah 4000 m

15 m dpl 8 m dpl

Gambar 3.9. Gradien aliran airtanah (Suhardi, 2008)

63

III. Penutup 1. Rangkuman

Batas sistem keairan berbeda dengan batas administrative, namun lebih pada batas hidrologis. Sehingga dalam pengelolaannya, batas sistem adalah hidrologis sumberdaya air yaitu cekungan airanah (CAT), Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Wilayah Sungai (WS). Komponen sumber daya air terdiri atas komponen alami dan komponen buatan. Sementara sistem pengendalian bencana akibat sumber daya air seperti banjir dilakukan dengan terlebih dahulu dilakukan identifikasi terhadap penyebab banjir kemudian dilakukan perumusan teknik pengendaliannya. Demikian hal dengan sistem drainase dilakukan dilakukan perancangan sesuai dengan fungsinya, kemudian dilakukan desain jaringan drainase dengan pertimbangan beberapa aspek. Sistem airtanah yang menjadi fokus adalah sumber aliran dan potensinya. Kedua hal ini relative rumit jika dilakukan pada air permukaan, karena obyeknya tidak kelihatan dan sulit terdeteksi. Pendekatan dengan model sering dilakukan untuk mempermudah pekerjaan meski hasilnya kurang eksak.
2. Tugas dan Latihan

Kepada mahasiswa diharuskan melakukan studi lapangan pada suatu sistem keairan kemudian membuat batasan sistem dan sub sistem keairan tersebut.
3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa dapat mendesain suatu sisem 2. Mahasiswa dapat merumuskan suatu formulasi penyelesaian masalah dalam sumber daya air. 4. Sumber/Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
3. Suhardi, 2008. Model Pengelolaan Airbumi untuk Irigasi dengan Operasi Pompa Tunggal dan Ganda: Kasus Sub DAS Data, Kabupaten Wajo, Provisi Sulawesi Selatan. (Disertasi). Bogor: Sekolah Pasca Sarjana, IPB. 5. Strategi Pembelajaran

1. Dosen menjelaskan sistem dalam keairan dan infrastruktur keairan baik alami maupun buatan

64

2. Dosen menjelaskan daya rusak daripada sumberdaya air dan bagaimana metode pengendaliannya. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah. 5. Melakukan diskusi.

65

SESI/PERTEMUAN KE-4 (Keempat) FUNGSI AIR DALAM SISTEM SOSIAL Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mengetahui bentuk-bentuk pengembangan sumber daya air 2. Mahasiswa mampu menganalisis kebutuhan air untuk setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya air.

Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi membahas tentang bentuk-bentuk pengembangan sumber daya air, diantaranya adalah pemanfaatan sumber daya air dan pengaturan air. Beberapa pemanfaatan sumber daya air juga dibahas, dan lebih detail hubungannya dengan kebutuhan untuk irigasi. Pemanfaatan dalam bentuk lain juga dibahas hingga teknik memperkirakan kebutuhan air untuk kegiatan bersangkutan. Demikian halnya dengan pengaturan air yang dimaksudkan agar sumber daya air tidak menyebabkan petaka, baik berupa pengelolaan ketika air berlebih maupun ketika air dalam keadaan langka, dan juga yang kenaan dengan masalah kualitas air.

I. Bahan Bacaan: 1. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 3. Triatmodjo, B., 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset. II. Bacaan Tambahan: 1. Asawa, G.L., 2008. Irrigation and Water Resources Engineering. New Delhi: NewAge International (P) Ltd. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana bentuk daripada pengembangan sumber daya air. 2. Bagaimana metode untuk mengetahui kebutuhan air dalam suatu kegiatan dalam kehidupan sosial. IV. Lain-lain: Lakukan studi tentang kebutuhan air di kota Makassar dengan mengaplikan seluruh persamaan pendekatan yang ada. Jika ada kegiatan yang belum termasuk dalam materi ini, lakukan pendekatan lain dan sebutkan dasar penggunaan metode yang anda gunakan.

66

Bab 5. Pembelajaran 4 (Fungsi Air dalam Sistem Sosial) I. Pendahuluan Pemanfaatan sumberdaya air meliputi penyediaan air untuk kebutuhan air bersih, irigasi, pembangkit listrik tenaga air, perikanan, peternakan, pemeliharaan sungai (pengenceran polusi), dan lalu lintas air. Berbagai kebutuhan air tersebut harus dapat dilayani oleh air yang tersedia yang bisa berupa air permukaan ataupun air tanah. Perlu diingat bahwa ketersediaan air merupakan fungsi waktu, yang melimpah/berlebih pada musim penghujan dan berkurang pada musim kemarau. Untuk itu perlu dipelajari ketersediaan air dengan keandalan tertentu untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Pada musirn penghujan keberadaan air berlebih dalam bentuk banjir yang sering dapat menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Kegiatan pengendalian banjir, drainase, pembuangan limbah, termasuk dalam pengaturan sumber daya air sehingga kelebihan air tersebut tidak menimbulkan bencana.
1. Sasaran Pembelajaran Setelah mengikuti materi ini, mahasiswa diharapkan mampu: a. Menjelaskan fungsi air dalam kehidupan sosial b. Menjelaskan metode pengembangan sumber daya air. 2. Sumber/Referensi

1. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 3. Sosrodarsono, S., dan K. Takeda, 1993. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: Pradnya Paramita.

4. Triatmodjo, B., 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset.


3. Strategi Pembelajaran:

1. Dosen menjelaskan tentang fungsi air dalam kehidupan sosial termasuk dalam hal ini adalah bentuk pemanfaatan dan pengaturan air. 2. Dosen menjelaskan beberapa persamaan pendekatan untuk mengetahui besar kebutuhan air untuk beberapa bentuk pemanfaatan air. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas

67

4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam penggunaan persamaan pendekatan dalam menghitung kebutuhan air.

68

II. Uraian Materi

Pengembangan sumberdaya air dapat dikerompokkan dalam dua kegiatan yaitu pemanfaatan dan pengaturan air (Gambar 4.1). Untuk dapat melaksanakan kedua kegiatan tersebut diperlukan konsep, perancangan, perencanaan,

pembangunan dan pengoperasian fasilitas-fasilitas pendukungnya. Pengembangan sumberdaya air merupakan cabang dari ilmu teknik sipil, yang didukung oleh ilmuilmu lainnya seperti ilmu ekonomi, politik, geologi, elektro, mesin, kimia, biologi, lingkungan, dan sosial.

Gambar 4.1. Kegiatan pengembangan sumberdaya air (Triatmodjo, 2008). Kedua jenis kegiatan saling berkaitan. Di satu sisi, pada musim penghujan air berlimpah sehingga harus secepatnya dibuang ke laut supaya tidak menimbulkan banjir. Di sisi lain, pada musim kemarau ketersediaan air berkurang untuk dapat memenuhi kebutuhan air yang relatif tetap dan bahkan meningkat. Untuk itu perlu

69

dilakukan

pengelolaan

sumberdaya

air

yang

efisien

dan

efektif,

dengan

memperhatikan dampak negatif banjir dan kekeringan. Hal ini mengingat bahwa dengan bertambahnya jumlah penduduk kebutuhan air semakin meningkat, sementara ketersediaan air semakin berkurang. Pengelolaan sumberdaya air tersebut membutuhkan berbagai fasilitas, seperti bendungan/waduk untuk menampung kelebihan air di musim hujan dan

memanfaatkannya di musim kemarau, bangunan irigasi seperti bendung, saluran irigasi dan drainase serta sarana pendukung lainnya, sistem jaringan perpipaan untuk melayani kebutuhan air bersih, fasilitas pembangkit listrik tenaga air seperti bendungan, saluran/terowong pembawa, surge tank, penstock, tailrace, dsb. A. Ketersediaan Air Ketersediaan air adalah jumlah air (debit) yang diperkirakan terus menerus ada di suatu lokasi (bendung atau bangunan air lainnya) di sungai dengan jumlah tertentu dan dalam jangka waktu (periode) tertentu. Air yang tersedia tersebut dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperli air baku yang rneliputi air domestik (air minum dan rumah tangga) dan non domestik (perdagangan, perkantoran) dan industri, pemeliharaan sungai, peternakan, perikanan, irigasi dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Pada PLTA, air hanya dilewatkan untuk memutar turbin dan setelah itu dapat digunakan untuk keperluan lainnya. Dengan kata lain PLTA tidak mengkonsumsi air, sedang untuk keperluan yang lain air dikonsumsi sehingga mengurangi air yang tersedia. Untuk pemanfaatan air, perlu diketahui informasi ketersediaan air andalan (debit, hujan). Debit andalan adalah debit minimum sungai dengan besaran tertentu yang mempunyai kemungkinan terpenuhi yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan. Untuk keperluan irigasi, debit minimum sungai untuk kemungkinan terpenuhi ditetapkan 80%, sedang untuk keperluan air baku biasanya ditetapkan 90%. Misalnya debit andalan 80% adalah 3 m3/d , artinya kemungkinan terjadinya debit sebesar 3 m3/d atau B. Kebutuhan Air 1. Kebutuhan Air Irigasi Kebutuhan air irigasi sebagian besar dicukupi dari air permukaan. Kebutuhan air irigasi dipengaruhi berbagai faktor seperti klimatologi, kondisi tanah, koefisien lebih adalah 80% dari waktu pencatatan data; atau dengan kata lain 20% kejadian debit adalah kurang dari 3 m3/d.

70

tanaman, pola tanam, pasokan air yang diberikan, luas daerah irigasi, efisiensi irigasi, penggunaan kembali air drainase untuk irigasi, sistem golongan, jadwal tanam dan lain-lain. Berbagai kondisi lapangan yang berhubungan dengan kebutuhan air untuk pertanian bervariasi terhadap waktu dan ruang seperti dinyatakan dalam faktor- faktor berikut: 1. Jenis dan varitas tanaman. 2. Variasi koefisien tanaman, tergantung pada jenis dan tahap pertumbuhan dari tanaman. 3. Kapan dimulainya persiapan pengoiahan lahan (golongan). 4. Jadwal tanam yang dipakai oleh petani, termasuk di dalamnya pasok air sehubungan dengan persiapan lahan, pembibitan dan pemupukan. 5. Status sistem irigasi dan efisiensi irigasinya. 6. Jenis tanah dan faktor agro-klimatologi. Kebutuhan air irigasi dihitung dengan persamaan:

KAI =
dengan : KAI Etc IR WLR P Re IE A

(Etc + IR + WLR + P Re ) xA
IE

= kebutuhan air irigasi, (l/d), = kebutuhan air konsumtif, (mm/hari), = kebutuhan air irigasi ditingkat persawahan, (mm/hari), = kebutuhan air untuk mengganti lapisan air, (mm/hari), = perkolasi, (mm/hari) = hujan efektif, (mm/hari), = efisiensi irigasi, (%), = luas areal irigasi, (ha).

1.1 Kebutuhan air konsumtif Kebutuhan air untuk tanaman di lahan diartikan sebagai kebutuhan air konsumtif dengan memasukkan faktor koefisien tanaman (kc) dengan persamaan: Etc = Eto x kc dimana: Etc Eto kc = kebutuhan air konsumtif, (mm/hari), = evapotranspirasi, (mm/hari), = koefisien tanaman.

71

1.2. Kebutuhan air untuk penyiapan lahan Kebutuhan air pada waktu persiapan lahan dipengaruhi oleh factor-faktor antara lain waktu yang diperlukan untuk penyiapan lahan (t) dan lapisan air yang dibutuhkan untuk persiapan lahan (S). Penentuan kebutuhan air untuk irigasi selama penyiapan lahan perlu memperhatikan jenis tanaman, usia tanaman sampai dengan panen, pola tanam, efisiensi irigasi, lama penyinaran matahari dan lain-lain. Perhitungan kebutuhan air selama penyiapan lahan, digunakan metode yang dikembangkan oleh Van de Goor dan Zijlstra (Standard Perencanaan Irigasi Kp-01, 1996), yaitu persamaan sebagai berikut:

ek IR = M ek 1
Dimana: IR = kebutuhan air irigasi di tingkat persawahan, (mm/hari), M = kebutuhan air untuk mengganti kehilangan air akibat evaporasi dan perkolasi di sawah yang telah dijenuhkan = Eo+P (mm/hari), P = perkolasi, (mm/hari), Eo = evaporasi air terbuka (1,1 x Eto ), (mm/hari), k = M (t/S), e = koefisien 1.3. Kebutuhun air untuk mengganti lapisan air (WLR) Kebutuhan air untuk mengganti lapisan air ditetapkan berdasarkan Standar Perencanaan Irigasi 1986, KP-01. Besar kebutuhan air untuk penggantian lapisan air adalah 50 mm/bulan (atau 3,3 mm/hari selama bulan) selama sebulan dan dua bulan setelah transplantasi. 1.5. Perkolasi (P) Laju perkolasi sangat tergantung pada sifat tanah, dan sifat tanah umumnya tergantung pada kegiatan pemanfaatan lahan atau pengolahan tanah berkisar antara 1 - 3 mm/hari. Curah hujan efektif Curah hujan efektif adalah curah hujan andalan yang jatuh di suatu daerah dan digunakan tanaman untuk pertumbuhan. Curah hujan tersebut merupakan curah hujan wilayah yang harus diperkirakan dari titik pengamatan yang dinyatakan dalam milimeter (Sosrodarsono, 1980). Penentuan curah hujan efektif didasarkan atas

72

curah hujan bulanan yaitu menggunakan R80 yang berarti kemungkinan tidak terjadinya 20%. Besarnya curah hujan efektif untuk tanaman padi diambil 70% dari curah hujan minimum tengah bulanan dengan periode ulang 5 tahunan, dengan persamaan sebagai berikut:

Re = 0,7 x
dimana:

1 (R 80 ) 15

Re = curah hujan efektif, (mm/hari), R80 = curah hujan yang kemungkinan tidak terpenuhi sebesar 20%, (mm). R80 didapat dari urutan data dengan rumus:

m=
dimana:

n +1 5
rangking dari urutan terkecil, jumlah tahun pengamatan.

m = n =

Efisiensi irigasi (EI) Efisiensi irigasi merupakan faktor penentu utama dari unjuk kerja suatu sistem jaringan irigasi. Efisiensi irigasi terdiri atas efisiensi pengaliran yang pada umumnya terjadi di jaringan utama dan jaringan sekunder (dari bangunan pembagi sampai petak sawah). Efisiensi irigasi didasarkan asumsi bahwa sebagian dari jumlah air yang diambil akan hilang baik disaluran maupun di petak sawah. Kehilangan ini disebabkan oleh kegiatan eksploitasi, evaporasi dan rembesan. Kehilangan air akibat evaporasi dan rembesan pada umumnya relative kecil jika dibandingkan dengan kehilangan air akibat ekspioitasi, sehingga pemberian air di bangunan pengambilan harus lebih besar dari kebutuhan air disawah. Luas Areal Irigasi Luas areal irigasi adalah luas sawah yang akan diairi. Data ini dapat diperoleh dari Dinas pengairan berupa peta dan luasan daerah rigasi. 2. Kebutuhan air non-irigasi 2.1. Kebutuhan air domestik Kebutuhan air domestik (rumah tangga) dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan kebutuhan air perkapita. Kriteria penentuan kebutuhan air domestik yang dikeluarkan oreh puslitbang pengairan Departemen Pekerjaan Umurn, menggunakan

73

parameter jumlah penduduk sebagai penentuan jumlah air yang dibutuhkan perkapita per hari. Adapun kriteria tersebut dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 3.1. Kriteria Penentuan Kebutuhan Air Domestik

Jumlah Penduduk

Domestik (l/kapita/hr)

Non Domestik (l/kapita/hr) 60 40 30 20 10 50 45 40 30 24

Kehilanir (l/kapita/hr)

> 1.000.000 500.000 1.000.000 100.000 - 500.000 20.000 - 100.000 < 20.000

150 135 120 105 82,5

2.2. Kebutuhan air untuk Perkantoran Kebutuhan air bersih untuk kantor ditetapkan 25 liter/pegawai/hari (Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU) yang merupakan rerata kebutuhan air untuk minum, wudhu, mencuci tangan, kaki, kakus dan lain sebagainya yang berhubungan dengan keperluan air di kantor. 2.3. Kebutuhan air untuk rumah sakit Kebutuhan air untuk rumah sakit dihitung berdasarkan jumlah tempat tidur. Menurut Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU, pemakaian air untuk fasilitas kesehatan adalah sebesar 250 liter/tempat tidur/hari. 2.4. Kebutuhan air untuk Pendidikan kebutuhan air bersih untuk siswa sekolah adalah sebesar 25 liter/siswa/hari (Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU). 2.5. Kebutuhan air untuk rumah peribadahan Kebutuhan air untuk peribadahan dihitung berdasarkan luas bangunan rumah ibadah (m2). Satuan pemakaian air menurut Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU, untuk rumah peribadahan ditentukan sebesar 50 liter/hari/m2. 2.6. Kebutuhan air untuk hotel Kebutuhan air bersih untuk sarana perhotelan/penginapan didasarkan pada kebutuhan untuk tiap tempat tidur dan data jumlah tempat tidur yang ada. Satuan

74

pemakaian air menurut Direktorat Teknik penyehatan, Dirjend cipta Karya DPU, untuk perhotelan ditentukan sebesar 200 liter/tempat ridur/hari. 2.7. Kebutuhan air untuk pemeIiharaan sungai/penggeIontoran Kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai/penggelontoran saluran diestimasi berdasarkan perkalian antara jumrah penduduk perkotaan dengan kebutuhan air untuk pemeliharaan/penggerontoran perkapita. Menurut IWRD, besar kebutuhan air untuk pemeliharaan sungai/saluran untuk saat ini adalah 330 liter/kapita/hari. Untuk tahun 2000 diperkirakan meningkat menjadi 360 liter/kapita/hari dan untuk tahun 2015 diperkirakan berkurang menjadi 300 liter/kapita/hari dengan pertimbangan bahwa pada tahun 2015 tersebut sudah semakin banyak penduduk yang mempunyai sistem pengolahan limbah. Proyeksi kebutuhan air per kapita untuk pemeliharaan sungai disajikan pada Tabel 4.2. Kebutuhan air untuk selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut:

Q f = 365 hari x
dimana:

q(f ) xP(n ) 1000

Qf = jumlah kebutuhan air untuk pemeliharaan/penggelontoran, (m3/th), qf = kebutuhan air untuk pemeliharaan/penggerontoran, (liter/kapita/hari), P(n) = jumlah penduduk kota, (kapita orang). Tabel 4.2. Kebutulian Air untuk pemeliharaan Sungai Proyeksi Tahun 1990 2000 2000 - 2015 2015 2020 2.8. Kebutuhan air untuk Peternakan Kebutulian air untuk ternak ditentukan sesuai dengan data yang digunakan oleh FIDP, sebagaimana diberikan dalam Tabel 4.3. Tabel 4.3. Kebutuhan Air untuk Ternak Jenis Ternak Sapi/kerbau/kuda Kambing / domba Babi Kebutuhan Air (liter/kepala/hari) 40,0 5,0 6,0 Kebutuhan Air 330 literlkapita/hari 360 liter/kapita/hari 300 liter/kapita/hari

75

Unggas

0,6

Kebutuhan air untuk ternak diestimasi dengan cara mengalikan jumlah ternak dengan tingkat kebutuhan air berdasarkan persamaan sebagai berikut:

Qt =
dimana:

365 (q(c / b / h )xP(c / b / h ) + q(s / g )xP(s / g ) + q(Pi)xP(Pi) + q(Po)xP(Po) ) 1000


= kebutuhan air untuk ternak, (m3/th), = kebutuhan air untuk sapi/kerbau/kuda, (liter/kepala/hari), = kebutuhan air untuk kambing/domba, (liter/kepala/hari), = kebutuhan air untuk babi, (liter/kepala/hari), = kebutuhan air untuk unggas, (liter/kepala/hari), = jumlah sapi/kerbau/kuda, (ekor), = jumlah karnbing/domba, (ekor), = jumlah babi, (ekor), = jumlah unggas, (ekor).

Qt q(c/b/h) q(s/g) q(Pi) q(Po) p(c/b/h) p(s/g) p(Pi) p(Po)

2.9. Kebutuhan air untuk industri Untuk memperkirakan kebutuhan air industri telah dikenal beberapa metode yang antara lain adalah: metode persamaan linier dan metode analisis penggunaan lahan. Metode persamaan linier dilakukan dengan menggunakan variable-variabel berupa hal-hal yang berkaitan erat dengan permintaan air seperti jumlah penduduk, sedangkan metode analisis penggunaan lahan dilakukan dengan memperhitungkan luas penggunaan lahan untuk industri sehingga dpat diperkirakan kebutuhan air untuk industry. Namun dari kenyataan yang ada dapat diketahui bahwa kebutuhan air untuk industri sulit untuk diperkirakan, mengingat hal tersebut sangat tergantung pada jenis industrinya, prosesnya ataupun teknologi yang digunakan. Analisis kebutuhan air untuk industry dapat dihitung dengan dua cara. Untuk wilayah yang data luas lahan rencana kawasan industrinya diketahui, kebutuhan industri dihitung dengan menggunakan metode penggunaan industri yaitu sebesar 0,4 liter/detik/ha. Untuk wilayah yang tidak diperoleh data penggunaan lahan industri, kebutuhan air industri dihitung dengan menggunakan metode persamaan linier. Standar yang digunakan adalah dari Direktorat Teknik Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU, yaitu kebutuhan air untuk industri sebesar 10% dari konsumsi air domestik. 2.10. Kebutuhan air untuk lain-lain

76

Kebutuhan lain-lain meliputi kebutuhan air untuk mengatasi kebakaran, taman dan penghijauan, serta kehilangan/kebocoran air. Menurut Direktorat Teknik

Penyehatan, Dirjend Cipta Karya DPU, kebutuhan air untuk umum, kehilangan air dan kebakaran diambil 45% dari kebutuhan air total domestik. Distribusi persentase kebutuhan sebagai berikut: 3% untuk umum berupa kebutuhan air untuk taman kota dan penghijauan, 28% untuk kehilangan air dan 14% untuk kebutuhan air pemadam kebakaran.

77

III. Penutup 1. Rangkuman Bentuk pengembangan sumber daya air terdiri atas pemanfaatan sumber daya air dan pengaturan air. Pemanfaatan sumber daya air harus

mempertimbangkan daripada ketersediaan air sebelum melakukan pemanfaatan air, untuk menghindari tidak terjadinya deficit air akibat karena penggunaan tersebut terlebih jika pemanfaatannya dalam bentuk usaha bisnis. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi benturan kepentingan terutama terhadap pemenuhan kebutuhan domestik. Karena ketersediaan air merupakan fungsi waktu, dimana pada waktu tertentu berlebih dan di waktu yang lain kurang, maka penggunaan sumber daya air perlu dengan tingkat kehandalan tertentu. Dengan demikian pemanfaatan sumber daya air untuk kepentingan sosial tertentu sudah mempertimbangkan kegagalan atau keberhasilannya dengan tingkat peluang tertentu. 2. Tugas dan Latihan Mahasiswa melakukan studi lapang tentang kebutuhan air di kota Makassar dengan mengaplikan seluruh persamaan pendekatan yang ada. Jika ada kegiatan yang belum termasuk dalam materi ini, lakukan pendekatan lain dan sebutkan dasar penggunaan metode yang anda gunakan. 3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa sudah mengetahui bentuk-bentuk pengembangan sumber daya air, baik pemanfaatan maupun 2. Mahasiswa mampu menganalisis kebutuhan air untuk setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya air. 4. Sumber/Referensi 1. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.

78

3.

Sosrodarsono, S., dan K. Takeda, 1993. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: Pradnya Paramita.

4. Triatmodjo, B., 2008. Hidrologi Terapan. Yogyakarta: Beta Offset. 5. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan tentang fungsi air dalam kehidupan sosial termasuk dalam hal ini adalah bentuk pemanfaatan dan pengaturan air. 2. Dosen menjelaskan beberapa persamaan pendekatan untuk mengetahui besar kebutuhan air untuk beberapa bentuk pemanfaatan air. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam penggunaan persamaan pendekatan dalam menghitung kebutuhan air.

79

SESI/PERTEMUAN KE-5 (Kelima) KONDISI DAN TANTANGAN DALAM MANAJEMEN SUMBER DAYA AIR Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah aktual yang berkaitan dengan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu memberikan argumentasi tentang batas sistem pengelolaan sumber daya air adalah batas alam bukan batas administrasi. 3. Mahasiswa mampu menganalisis proses kejadian bencana, penyebab dan kerugian yang ditimbulkan. Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Pada materi ini dijelaskan beberapa masalah aktual yang berkaitan dengan sumber daya air seperti krisis air dan banjir. Dijelaskan pula mengenai kondisi alamiah tentang sumber daya air, sehingga seyogya bahwa dalam pengelolaan sumber daya air, batas sistem fisik pengelolaan adalah batas hidrologi bukan batas administrasi. Hal ini banyak dianggap oleh para ahli selama ini bahwa salah satu penyebab kegagalan pengelolaan sumber daya air adalah karena batas sistem pengelolaannya adalah batas administrasi, sehingga rentan terjadinya konflik antara pemerintah daerah. Selanjunya juga dijelaskan tentang suatu mulai dari proses kejadian, penyebab hingga kerugian yang ditimbulkan. Dan terakhir adalah permasalah dalam manajemen/pengelolaan sumber daya air.

I. Bahan Bacaan: 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.

II. Bacaan Tambahan: 1. Lenton, R. dan M. Muller, 2009. Integrated water resources management in practice: better water management for development. UK,MPG Books Ltd. 2. Anonymous, 1993. Water resources management. Washington: THE WORLD BANK III. Pertanyaan Kunci/Tugas:

80

Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana kondisi aktual yang ada sekarang tentang sumber daya air dan pengelolaannya. 2. Mengapa batas alam dijadikan sebagai batas sistem dalam pengelolaan sumber daya air. 3. Bagaimana proses kejadian bencana akibat daya rusak air, penyebab dan cara penentuan besaran kerugian yang ditimbulkan. IV. Lain-lain: Lakukan analisis tentang bencana yang ada di daerah anda, baik berupa krisis air atau banjir, dan sebutkan penyebabnya dan perkiran berapa besaran nilai kerugian yang ditimbulkannya.

81

Bab 6. Pembelajaran 5 (Kondisi dan Tantangan dalam Manajemen Sumber Daya Air) I. Pendahuluan Secara umum, masalah krisis air merupakan akibat dari tindakan manusia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Manusia melakukan perubahan tata guna lahan untuk keperluan memenuhi nafkah dan tempat tinggal. Kerusakan lingkungan yang secara implisit menambah lajunya krisis air semakin dipercepat oleh pertumbuhan penduduk yang tinggi, baik secara alami maupun migrasi. Bencana banjir, longsor dan kekeringan yang sudah menjadi persoalan klasik sepanjang tahun merupakan bukti dari degradasi lingkungan dari waktu ke waktu cenderung meningkat. Banjir di Jakarta dan beberapa tempat di Sulawesi dewasa ini cenderung menjadi banjir bandang yang berlangsung cepat dengan daya rusak yang tinggi. Di Sumatra dan Kalimantan banjir menjadi bencana-merangkak dengan genangan yang relatif lama yang mengkhawatirkan adalah kualitas maupun kuantitas semua bencana di atas cenderung meningkat.
1. Sasaran Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu menjelaskan masalah aktual yang berkaitan dengan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu memberikan argument tentang batas sistem pengelolaan sumber daya air adalah batas alam bukan batas administrasi. 3. Mahasiswa mampu menganalisis proses kejadian bencana, penyebab dan kerugian yang ditimbulkan.
2. Sumber Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
3. Strategi Pembelajaran

82

1. Dosen menjelaskan tentang kondisi aktual tentang sumber daya air . 2. Dosen menjelaskan tentang dasar pengambilan batas alam sebagai batas sistem dalam pengelolaan sumber daya air. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam analisis mahasiswa terutama dalam menganalisis proses kejadian bencana, penyebab dan cara

memperkirakan besaran nilai kerugian yang ditimbulkan.

83

II. Uraian Materi A. Kompleksitas dan Masalah Aktual Fenomena otonomi daerah yang terkadang kurang dipandang sebagai suatu kesatuan kerja antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota berakibat pada kurangnya koordinasi pengelolaan sumber daya air yang pada hakekatnya mempercepat terjadinya krisis air di banyak wilayah. Hari Air sedunia diperingati setiap Tanggal 22 Maret. Tahun 2007 tema peringatan adalah coping with water scarcity (Mengatasi Kelangkaan Air atau untuk Indonesia bisa diartikan Keterpaduan Mengatasi Banjir dan Kelangkaan Air). Tema peringatan Tahun 2006 adalah water and culture (Air dan Budaya), Tahun 2005 mengambil tema Water for Life (Air untuk Kehidupan). Sedangkan tema Hari Air Sedunia Tahun 2001 mengambil tema yang

memprihatinkan yaitu Water and Disaster (Air dan Bencana). Tampaknya masalah air dan bencana yang ditimbulkannya sudah menjadi masalah dunia. Tidak hanya merupakan masalah di Indonesia saja. Saat ini, semuanya tampaknya menyadari bahwa akibat degradasi lingkungan yang parah, keberadaan air di suatu tempat tidak lagi seimbang. Air makin berkurang di musim kemarau dan sangat berlebih pada musim penghujan yang menimbulkan kerusakan yang sangat hebat. Hal ini sejalan dengan teori pakem yang menyebutkan bahwa bila salah satu dari tiga bencana tersebut meningkat, yang lain juga meningkat. Dengan kata lain, bila kekeringan meningkat maka banjir juga meningkat, longsor meningkat bahkan abrasi juga meningkat vice versa. Bahka tahun 2003 tema-tema peringatan sedunia untuk aspek lain juga berkaitan dengan air seperti Hari Lingkungan. Water - Two Billion People are Dying for It! dan Hari Bumi: Water for Life. Dari tema-tema di atas maka semua pihak wajib prihatin akan krisis air yang sudah dirasakan di Indonesia. Tema-tema di atas ingin mengajak semua pihak (stakeholders) baik individual dan bersama membantu upaya perlindungan yang merupakan salah satu sumber daya yang paling berharga di bumi ini. Persoalanpersoalan yang antara lain meliputi: dana terbatas dari pemerintah, peningkatan

84

penduduk yang terus berlangsung terutama di kota-kota besar, krisis ekonomi di era otonomi, euforia otonomi yang cenderung kebablasan dari kabupaten/kota menjadi beberapa penyebab terjadinya krisis air. Pelayanan air bersih belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan baik di kota maupun di desa. Drainase yang masih terkesan tambal sulam, tidak integrated menjadi suatu kesatuan sistem yang utuh terasa di banyak kota. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan daerah genangan banjir di kota-kota besar maupun di wilayah rural. Di awal Tahun 2002 banjir menyebabkan Jakarta lumpuh untuk beberapa lama, genangan maksimumnya ada yang mencapai 3 m. Bahkan banjir Tahun 2007 menyebabkan 70 sampai 80 persen wilayah Jakarta untuk beberapa hari tergenang. Bencana tersebut dapat dikategorikan sebagai bencana nasional. Oleh karena itu, perlu usaha-usaha pengelolaan sumber daya air yang terpadu dalam rangka untuk menaikkan aliran mantap sekaligus menurunkan banjir. Peningkatan aliran mantap juga untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan air dari penduduk yang bertambah. Sampah yang menumpuk di sungai menunjukkan bahwa sebagian besar dari masyarakat masih belum bisa menyadari pentingnya sungai yang bersih. Sungai terutama di kota-kota besar masih dianggap sebagai tempat pembuangan bukan suatu daerah untuk dinikmati kejernihannnya. Kesadaran bersih lingkungan masih belum disadari oleh masyarakat walaupun program kali bersih (plokasih) telah digulirkan. Bahkan sampah di sungai cenderung meningkat. 1. Keterbatasan Dana Krisis ekonomi menyebabkan dana untuk pembangunan berkurang, dana untuk pengelolaan sumber daya air berkurang. Pemeliharaan berkurang, maka sistem infrastruktur keairan juga mengalami penurunan baik kuantitas maupun kualitas. Penundaan pemeliharaan menyebabkan biaya pemeliharaan meningkat karena sifat dinamis dari air. 2. Koordinasi Karena ego sektoral, ego kepentingan dan ego mau menang sendiri maka koordinasi masih lemah hanya sebatas wacana. Struktur pendanaan APBN dan APBD juga menyebabkan sektoral lebih dominan dibandingkan konsep keterpaduan. B. Kondisi Alamiah sumber Daya Air

85

Di samping persoalan-persoalan yang masih dan terus berlangsung di atas juga harus disadari bahwa dari sisi siklus hidrologi dan sisi wilayah, air mengalir dari daerah atas ke bawah melalui berbagai situasi dan kondisi seperti ditunjukkan dalam gambar berikut ini.

Gambar 5.1. Ilustrasi batas daerah aliran sungai dan kabupaten/kota (Kodoatie dan Sjarief, 2008).

batas

administratif

Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa pada hakekatnya air tidak dibatasi oleh batas administrasi yaitu batas wilayah administrasi kabupaten/kota atau provinsi namun oleh batas daerah aliran sungainya (DAS). Di samping itu, sudah disebutkan bahwa: Air dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Keberadaan air dipengaruhi oleh perubahan tata guna lahan. Dengan kata lain perubahan tata guna lahan berpengaruh terhadap ketersediaan dan kebutuhan air. Sebagai contoh ketika suatu kawasan hutan berubah menjadi pemukiman maka kebutuhan air meningkat karena dipakai untuk penduduk di pemukiman tersebut namun ketersediaan air berkurang karena daerah resapan air berkurang. Ketika lahan berubah maka terjadi peningkatan debit aliran permukaan. Akibatnya di sebelah hilir mendapatkan debit yang berlebih dan dampaknya terjadi banjir. Lahan berubah rnenyebabkan terjadinya erosi lahan. Ketika lahan berubah maka terjadi peningkatan aliran permukaan dan air tidak dapat tertahan di DAS. Begitu

86

terjadi hujan semua mengalir menuju sungai sehingga bencana kekeringan meningkat di musim kemarau. Ketika debit meningkat, aliran sungai dengan debit yang besar akan membawa sedimen yang besar pula sehingga kapasitas sungai jadi berkurang dan terminal akhir perjalanan air di sungai yaitu di muara terjadi pendangkalan. Akibatnya di laut terjadi akresi di lokasi itu yang mempengaruhi longshore transport sediment di pantai. Dampak akresi pantai suatu lokasi adalah gerusan pantai yang dikenal dengan sebutan abrasi di tempat lainnya. C. Bencana: Kejadian, Penyebab dan Kerugiannya Di Indonesia persolaan pengelolaan sumber daya air masih belum dapat dilakukan secara terpadu. Pada musim hujan terladi banyak sekali bencana banjir, longsor dan kekeringan. Dari berbagai sumber, uraian tentang persoalan sumber daya air dijelaskan berikut ini (Kodoatie dan Sjarief, 2008). 1. Perkembangan tata ruang kota akibat urbanisasi yang tidak terkendali sehingga daya dukung lingkungan daerah perkotaan menjadi sangat berkurang, persoalan banjir dan kekeringan cenderung meningkat. 2. Sumber Daya Air dikelola oleh bermacam-macam institusi, antara iain: Dep. Energi dan Sumber Daya Mineral, Dep. Kim pras Wii (pU), pemerintah Kabupaten/Kota (akibat Otonomi Daerah), Departemen Kehutanan, Dinas PU, Dinas Kehutanan, Deparlemen Pertanian. Masing-masing berjalan menurut kebutuhan dan kepentingan tanpa koordinasi terpadu dan terintegrasi. 3. Konflik horizontal yaitu konflik antar penduduli akibat kurangnya/kelangkaan air. 4. Dalam era otonomi daerah muncul egoisme kedaerahan yang mengakibatkan tidak terpadunya pembangunan dikaitkan dengan potensi dan kebutuhan sumber daya air. D. Permasalahan dalam manajemen Sumber daya air merujuk pada eksploitasi air permukaan dan air tanah yang didefinisikan dalam unit pengelolaan air (misalnya: DAS). Karena pengisian dalam periode tahunan, maka unit/satuan yang sesuai adalah m3 per tahun (kering, basah, rata-rata) yang relevan dengan unit pengelolaan air. Interpretasi statis adalah jumlah air permukaan atau air tanah (m3) dalam suatu sumber daya air.

87

Tabel 5.1. Parameter Dasar terjadinya air dan faktor-faktor yang menentukan kemungkinan pemanfaatan air (Jermar, 1987).

Jumlah air yang dapat diambil/ditarik dari sumber daya air dalam suatu periode tertentu adalah penarikan air (m3.s -1, atau m3 per tahun). Penarikan/pengambilan air adalah masukan/input dari sistem pasokan air. Kuantitas air yang kembali ke sumber daya air setelah digunakan (dengan kualitas berubah) adalah arus balik. Hal ini sebagai bentuk output dari sistem pasokan dan drainase. Kualitas arus balik lebih rendah dibandingkan dengan kualitas penarikan karena proses penggunaan air. Persyaratan air yang diberikan adalah jumlah air yang diperlukan untuk kursus terganggu dari setiap proses alam atau teknologi. Ini termasuk konsumsi air (aliran konsumsi), yaitu perbedaan antara penarikan air dan aliran kembali netto, yang terdiri dari penggunaan konsumtif dan karena kehilangan (losses). Penggunaan air konsumtif merupakan bagian dari konsumsi air, termasuk yang dalam perjalanan proses produksi alam atau teknologi, menjadi bagian terpadu dari: (a) Produk tersebut, atau (b) hasil sampingan (by product) atau material berupa limbah.

88

Kehilangan air merupakan bagian dari kebutuhan air, konsumsi air, penarikan air atau sumber air dikembalikan ke dalam siklus hidrologi dalam bentuk rembesan, perkolasi, evaporasi, dan sebagainya. Kehilangan air dapat berupa: (a) produktif, hal ini sangat diperlukan, yaitu untuk proses produksi (misalnya: evapotranspirasi untuk produksi pertanian), atau (b) non-produktif, bagian dari yang: - Tak terelakkan, yaitu kerugian yang tidak dapat ditekan dengan cara rasional atau ekonomi, dan sisanya adalah; - Pemborosan, yakni air yang keluar dari sumber daya, sistem suplai atau proses produksi tanpa digunakan. Penggunaan konsumtif (aliran dikonsumsi) dapat dinyatakan dengan persamaan sederhana berikut: C = W (F B) dimana: C W = Konsumsi air = Penarikan/pengambilan air (m3.s -1)

(F - B) = Aliran kembali netto F B = Aliran kembali pada akhir dari sistem saluran air limbah = yang tidak diinginkan masuk ke sistem pembuangan limbah (drainase air tanah, mata air dll) Dari uraian terminologis di atas, maka hal ini juga berlaku bahwa:
C = U i + i
i =1 i =1 3 4

(m .s )
3 1

U1 U2 U3
1 2

= penggunaan konsumtif oleh sarana produksi tersebut (misalnya: buah-

buahan) = penggunaan konsumtif oleh produk sampingan (misalnya batang, cabang, daun) = penggunaan konsumtif oleh bahan limbah (misalnya: gulma) = kehilangan produksi (misalnya: evapotranspiration) ( p) = non-produktif berupa kehilangan yang tak terelakkan (misalnya pencucian, rembesan di pipa irigasi) ( i)

89

= non-produktif berupa kehilangan yang dapat dihindari yang disebabkan oleh keadaan dari sistem atau teknologi yang tidak memadai (misalnya: rembesan dan penguapan di saluran irigasi) ( e)

= non-produktif berupa pemborosan yang disebabkan oleh operasi yang salah ( w) Aliran kembali, kecuali untuk arus masuk yang tidak diinginkan ke dalam

sistem, yang digunakan dalam proses produksi dan kadang-kadang juga air yang diperlukan untuk mengencerkan air dari proses produksi dengan tujuan untuk mencapai kualitas air yang diinginkan dari air limbah sebelum kembali ke dalam sumber daya air dapat dinyatakan sebagai berikut: F = F1 (+F2) + B F F1 F2 B = aliran kembali (air limbah yang diencerkan) = air limbah dari proses produksi waste water from the production process = Pengenceran air = yang tidak diinginkan atau aliran yang sesekali masuk ke dalam sistem. Penggunaan konsumtif air pada produk, merupakan unsur utama daripada kebutuhan air. Kualitas produk tergantung pada teknologi, yang juga menentukan penggunaan konsumtif air pada masuk produk samping atau bahan/material sampah, dimana hal tersebut juga mempengaruhi produksi ekonomi. Ekonomi dari proses produksi, dari sudut pandang pengelolaan air, dapat ditingkatkan dengan mengurangi jumlah bahan limbah, atau dengan mengurangi ukuran/skala produksi, jika memungkinkan. Dari sudut pandang keseimbangan sumber daya air dan kesetimbangan kebutuhan yang merupakan masalah yang paling penting adalah perubahan dalam kualitas air dan juga tempat resapan aliran kembali dan kembali terjadi losses pada sumber daya air (Gambar 5.1). Akibatnya kehilangan dapat diklasifikasikan dengan cara berikut: (a) losses kembali, merupakan kehilangan karena air masuk kembali ke: - sumber daya air yang sama, dimana air diambil, r1. - sumber daya air yang lain dalam daerah tangkapan yang sama, r2. - sumber daya air di beberapa cekungan DAS/daerah tangkapan lainnya, r3. ( m3.s-1)

90

(b) losses yang bukan berupa losses kembali (evaporasi dan evapotranspirasi) yang hilang sumber daya yang relevan (badan air dan tanaman) dan memasuki atmosfer, n. Konsumsi air, didefinisikan sebagai perbedaan antara jumlah

penarikan/pengambilan dan aliran balik, sehingga dapat dinyatakan sebagai berikut:


C = U i + ri + n
i =1 i =1 3 3

(s -1.m 3 )

Definisi matematis terhadap konsumsi air bervariasi sesuai dengan neraca air dari sistem yang berbeda. Dari sudut pandang sumber daya air tertentu, konsumsi air (Cr) tidak mengandung losses kembali pertama - Kerugian kembali yang memasuki sumber daya air di mana air tersebut ditarik/diambil:
C r = U i + ri + n
i =1 i =2 3 3

(s -1.m 3 )

91

Gambar 5.2. Skema menjelaskan penggunaan air setelah pengalihan fisik selama proses industri atau biologis, yang berakibat pada produksi, disertai dengan menggunakan konsumtif dengan produk U1, produk sampingan U2 dan material/bahan limbah U3 maupun oleh kehilangan air 1-nt. Penggunaan produk tersebut, menyebabkan perubahan ke dalam limbah dan dekomposisi limbah dapat menyebabkan pemulihan air U x: Air limbah dari proses produksi serta limbah tercuci yang menyebabkan pencemaran air (Jermar, 1987). Dari sudut pandang daerah tangkapan (DAS), nilai konsumsi air (Cb) termasuk baik kehilangan (losses) kembali yang pertama maupun yang kedua, sehingga:
C b = U i + r3 + n
i =1 3

(m .s )
3 -1

Dari sudut pandang siklus hidrologi, air konsumsi (Cb) terbentuk hanya dengan penggunaan konsumtif, sehingga:

92

Cb = Ui
i =1

(m .s )
3 1

Penggunaan konsumtif adalah: (a) Jangka pendek (transien/tak tunak, berlangsung beberapa hari atau tahun) (b) Jangka panjang (juga dari sudut pandang waktu geologi (geological time)) atau berlangsung (stable chemical links). Oleh karena itu,

C c = U i .fi .t
i =1

1 ni

f1-3 t n

= variabel = waktu = koefisien, 1-3 adalah pengaruh waktu Proses umum disebutkan di atas tidak hanya terjadi dalam pasokan (supply ),

air perkotaan, pedesaan, industri dan pertanian, tetapi juga selama proses produksi alami fungsi biologis yang berbeda dan selama pengembangan materi selular. Bahan limbah dari proses alam dan teknologi, juga dibentuk oleh pemanfaatan produk, biasanya terurai dan akan ke badan air dan selanjutnya memasuki siklus hidrologi. Bagi perkembangan bahan seluler seperti kayu, gambut, batubara, minyak, dan lain-lain, mempengaruhi penggunaan konsumtif jangka panjang. Peningkatan kuantitas hasil secara teoritis terhadap bahan seluler dalam konsumsi semua sumber daya air yang tersedia di daerah tertentu, tetapi homeostasis ini, yaitu penguraian bahan seluler, batas-batas pengembangan yang tidak diinginkan. Persyaratan air dan konsumsi air dalam proses pertanian dan industri dapat dibedakan sebagai (a) minimum, (b) optimum, (c) tidak ekonomis. Kebutuhan air minimum atau konsumsi air minimum selama proses produksi tertentu dapat dicapai dalam kondisi khusus, misalnya di laboratorium. Teknologi penghematan air yang mencapai kebutuhan air minimum berbeda dari teknologi yang mencapai konsumsi air minimum, dan keduanya bisa sama dari sudut pandang total produksi.

93

Sebuah kebutuhan air optimum dan konsumsi air optimum dicapai ketika produk dari kualitas yang diinginkan adalah diproduksi di bawah kondisi usaha sosial total minimum, yang dilihat dari sudut pandang ekonomi nasional, dengan

menerapkan teknologi yang optimum. Kebutuhan air dan konsumsi air non-ekonomi ketika melebihi nilai optimum. Kehilangan air rendah dan konsumsi air optimum merupakan prasyarat yang sangat diperlukan bagi setiap teknologi industri yang efisien. Kebutuhan air rendah tergantung terutama pada tingkat resirkulasi. Sebuah kebijakan manajemen sumber daya air yang efisien didasarkan pada penurunan konsumsi air dan peningkatan kualitas air limbah. Berlaku bahwa, produktif, kehilangan (losses) bukan-kembali merupakan pra kondisi yang sangat diperlukan untuk efisiensi proses pertanian. Efisiensi pemanfaatan
1

air

dalam

bidang

pertanian

dapat

dikelompokkan,

pertama,

berdasarkan rasio dari evapotranspirasi produktif dan kehilangan non-produktif:


xe =

i2

dan, kedua, berdasarkan rasio penggunaan konsumtif dalam produk tersebut dan penggunaan konsumtif dari bahan selular lainnya:
xu = U1 U 2 + U3

e. Sumber daya air Indonesia dan internasional Secara garis besar total volume air yang ada yaitu air asin dan air tawar di dunia adalah 1.385.984.610 km3, terdiri atas (UNESCO, 1978 dalam Chow dkk., 1988):

94

Tabel 5.2. Jumlah air di dunia (Chow dkk., 1988 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008)

Air tawar dari es di Kutub dan es lainnya serta salju memberikan distribusi yang paling besar yaitu 69,553% (68,581% + 0,972%). Bila dilihat keseimbangan jumlah air tawar yang ada, maka airtanah memberikan distribusi yang cukup penting karena jumlahnya mencapai 30,061% dari seluruh air tawar yang ada. Sedangkan jumlah air tawar di tanah dangkal (soil moisture), danau, rawa/payau, sungai dan air biologi hanya 0,349%. Bila dibandingkan jumlah air tawar tersebul terhadap air tanah maka besarnya hanya 0.0116 atau 1,116% dari airtanah. Jumlah air tawar di sungai 0,006% atau kurang lebih l/5010 dari airtanah. Jumlah air di tanah dangkal (soil moisture) danau, rawal payau, sungai dan air biologi adalah 0,0151% dan ini hanya kurang lebih 9/1000 dari airtanah.

95

III. Penutup 1. Rangkuman

Persoalan sumber daya air yang banyak terjadi saat ini seperti krisis air dan banjir, secara umum penyebabnya adalah perilaku manusia itu sendiri. Tindakan manusia yang banyak menyebabkan masalah sumber daya air adalah perubahan fungsi lahan. Penyebab lain adalah kebijakan atau undang-undang yang kadang salah diinterpretasikan oleh pengambil kebijakan seperti kewenangan daerah yang akhir-akhir menjadi semakin besar dengan adanya undang-undang otonomi daerah. Dampak dari kebijakan tersebut adalah semakin sulitnya penerapan pengelolaan sumber daya air secara terpadu. Masalah lain adalah peningkatan jumlah penduduk yang sulit ditekan, dimana implikasinya pada peningkatan kebutuhan akan air. Di lain sisi, secara global dan rentang waktu yang lama jumlah air relative tetap.
2. Tugas dan Latihan

Mahasiswa melakukan studi lapangan kemudian menganalisis tentang bencana yang ada di daerah tempat studi, baik berupa krisis air atau banjir, dan sebutkan penyebabnya dan perkiran berapa besaran nilai kerugian yang ditimbulkannya.
3. Indikator Pencapaian

1. Mahasiswa dapat menjelaskan masalah aktual yang berkaitan dengan sumber daya air. 2. Mahasiswa dapat memberikan argument tentang batas sistem pengelolaan sumber daya air adalah batas alam bukan batas administrasi. 3. Mahasiswa mampu menganalisis proses kejadian bencana, penyebab dan kerugian yang ditimbulkan.
4. Sumber/Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
5. Strategi Pembelajaran

1. Dosen menjelaskan tentang kondisi aktual tentang sumber daya air . 2. Dosen menjelaskan tentang dasar pengambilan batas alam sebagai batas sistem dalam pengelolaan sumber daya air.

96

3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam analisis mahasiswa terutama dalam menganalisis proses kejadian bencana, penyebab dan cara

memperkirakan besaran nilai kerugian yang ditimbulkan.

97

SESI/PERTEMUAN KE-6 (Keenam) PENDEKATAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SECARA BERKELANJUTAN Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan keterkaitan diantara ketiga dalam manajemen sehinga dapat tercipta keberlanjutan sumber daya. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan mengapa Daerah Aliran Sungai (DAS) dijadikan sebagai unit pengelolaan sumber daya air khususnya air permukaan 3. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara penggunaan lahan terhadap hasil air. Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi menjelaskan tiga pengelolaan sumber daya alam sehingga dapat bekelanjutan. Ketiga pilar tersebut adalah aspek sosial, ekonomi dan lingkungan/teknis. Pengelolaan sumber daya air permukaan, DAS dijadikan sebagai batas sistem, karena setiap proses air permukaan batas DAS adalah merupakan batas dari semua proses air permukaan. Selanjutnya, kaitannya dengan penggunaan lahan, dijelaskan bahwa hasil air sangat erat hubungannya dengan tutupan lahan. Tutupan lahan yang baik dapat meregulasi air, sehingga kelangkaan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan dapat diminimalisasi.

I. Bahan Bacaan: 1. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 4. Setiawan, B. dan D.H. Rahmi., 2003. Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan, cetakan kedua, terjemahan: Mitchell, B., 1997. Resource and Environmental Management 1st Edition. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiy Press. II. Bacaan Tambahan: 1. Karamouz, M., F. Szidarovszky dan B. Zahraie. 2003. Water resources systems analysis. Florida: CRC Press LLC. 2. Jain, S.K. dan V.P. Singh, 2003. Water Resources Systems Planning and Management. Amsterdam: Elsevier. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda:

98

1. Bagaimana hubungan ketiga pilar pengelolaan sehingga sumber daya alam dapat berlangsung secara berkelanjutan 2. Bagaimana sifat DAS sehingga dijasikan sebagai batas sistem dalam pengelolaan sumber daya air permukaan. 3. Bagaimana hubungan antara tutupan lahan terhadap hasil air. IV. Lain-lain: Lakukan studi lapangan tentang suatu kegiatan pengelolaan sumber daya air, lalu analisis tentang tiga aspek sebagai pilar pengelolaan sumber daya air sehingga kegiatan tersebut berhasil atau gagal

99

Bab 7. Pembelajaran 6 (Pendekatan Pengelolaan Sumber Daya Air Secara Berkelanjutan) I. Pendahuluan Tantangan terbesar bagi pengelolaan sumber daya alam adalah menciptakan untuk selanjutnya mempertahankan pemenuhan kebutuhan hidup manusia dan keberlanjutan pemanfaatan dan keberadaan sumber daya alam. Dengan demikian, adalah juga merupakan keberlanjutan keberadaan dan layanan lingkungan (ecological services ) bagi kehidupan manusia. Keberlanjutan pemanfaatan dan pencagaran sumber daya alam didefinisikan sebagai suatu proses perubahan dimana kesinambungan pemanfaatan dan pencagaran sumber daya alam, arah investasi pemanfaatan sumber daya alam, dan perubahan kelembagaan yang berkaitan dengan pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam tersebut konsisten dengan sasaran pemanfaatan saat ini dan di masa yang akan dating (World Commission on Environment and Development, 1987) dalam bahasa yang lain, pembangunan yang terlanjutkan (sustainable development) adalah seperti yang telah dikenal secara luas melalui our common future, yaitu pembangunan dikatakan terlanjutkan apabila: development that meet the needs of the present without compromising the ability of future generations tomeet their own needs (Dieren, 1995 dalam Asdak, 2002). 1. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan keterkaitan diantara ketiga dalam

manajemen sehingga bisa tercipta keberlanjutan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan mengapa DAS dijadikan sebagai unit pengelolaan sumber daya air khususnya air permukaan. 3. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara penggunaan lahan terhadap hasil air. 2. Sumber/Referensid 1. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill.

100

3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 4. Setiawan, B. dan D.H. Rahmi., 2003. Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan, cetakan kedua, terjemahan: Mitchell, B., 1997. Resource and Environmental Management 1st Edition. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiy Press. 3. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan tentang keterkaitan tiga pilar pengelolaan sumber daya alam, sehingga sumber daya alam/air dapat berlangsung secara berkelanjutan. 2. Dosen menjelaskan tentang alasan DAS dijadikan sebagai Batas Sistem dalam pengelolaan sumber daya air permukaan. 3. Dosen menjelaskan hubungan antara tutupan lahan terhadap hasil air. 4. Melakukan latihan-latihan dengan studi kasus 5. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 6. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam bagaimana pendekatan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

101

II. Uraian Materi A. Tiga Pilar Pengelolaan Sumber daya air mempunyai fungsi sosial yang berarti kepentingan umum lebih diutamakan daripada kepentingan individu, lingkungan hidup yang berarti berarti bahwa sumber daya air menjadi bagian dari ekosistem sekaligus sebagai tempat kelangsungan hidup flora dan fauna, dan ekonomi yang berarti berarti bahwa sumber daya air dapat didayagunakan untuk menunjang kegiatan usaha yang

diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. B. Daerah Aliran Sungai sebagai Unit Pengelolaan Sumber Daya Air Permukaan Pengelolaan DAS diharapkan dapat memberikan kerangka kerja ke arah tercapainya pembangunan yang berkelanjutan tersebut. Filosofi pendekatan pengelolaan DAS pada dasarnya menyadari bahwa: 1. Kehidupan manusia di planet bumi ini akan selalu dipengaruhi, secara positif atau negatif, oleh adanya interaksi antara sumber daya air dengan sumber dayasumber daya alam lainnya, yang pada gilirannya, manusia akan mempengaruhi sumberdaya-sumberdaya alam tersebut melalui berbagai intensitas dan cara penggunaan atau pemanfaatan sumberdaya alam yang bersangkutan. 2. Dampak dari interaksi antara manusia dengan lingkungan hidupnya (sumberdaya alam) tidak mengikuti batas-batas politik. Sebagai contoh, aliran air besar (banjir) yang diakibatkan oleh aktivitas manusia di daerah hulu yang tidak ramah lingkungan akan tetap mengalir ke bawah tanpa memperdulikan batas-batas politis/administratif (batas negara) yang telah dibuat oleh manusia. Dengan demikian, suatu kegiatan pengelolaan lahan yang dilaksanakan di daerah hulu suatu propinsi/kabupaten atau Negara dapat memberikan pengaruh yang signifikan pada propinsi/kabupaten atau negara lain yang terletak di bawahnya. balam skala yang lebih kecil, pemanfaatan lahan oleh petani di daerah hulu suatu DAS/sub-DAS dapat mempengaruhi petani dan warga lainnya yang hidup di daerah hilir dari DAS/sub-DAS tersebut melalui daur hidrologi. 3. Oleh karena interaksi tersebut di atas dapat melampaui batas-batas politik, maka kegiatan pemanfaatan atau pengelolaan lahan yang dipandang baik oleh suatu kesatuan politik (negara, masyarakat, atau pemilik lahan) tidak selalu baik pula bagi kesatuan politik lainnya yang melihatnya dari sisi yang lebih luas karena

102

pemanfaatan lahan tersebut dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan di daerah hilir. Hal yang demikian ini oleh pakar ekonomi sering disebut dengan istilah "externalities". 4. Menyadari adanya hal yang bersitat "externalities" tersebut, maka pengelolaan sumberdaya alam dapat dikatakan baik apabila keseluruhan biaya dan keuntungan yang timbul oleh adanya kegiatan pengelolaan tersebut dapat ditanggung secara proporsional oleh para aktor (organisasi pemerintah, kelompok masyarakat, atau perseorangan) yang melaksanakan kegiatan pengelolaan sumberdaya alam (skala DAS) dan para aktor yang akan mendapatkan keuntungan dari adanya kegiatan tersebut. Pengelolaan DAS tidak selalu memberikan penyelesaian yang menyeluruh atas konflik-konflik yang timbul sebagai konsekuensi percepatan pertumbuhan ekonomi dengan usaha-usaha perlindungan lingkungan. Tetapi, ia dapat memberikan suatu kerangka kerja yang praktis dan logis serta menunjukkan mekanisme kerja yang jelas untuk penyelesaian permasalahan-permasalahan kompleks yang timbul oleh adanya kegiatan pembangunan yang menggunakan sumberdaya alam sebagai masukannya. Dalam pelaksanaannya, pengelolaan DAS akan bertumpu pada aktivitas-aktivitas yang berdimensi biofisik seperti pengendalian erosi, penghutanan kembali lahan-lahan kritis, serta berdimensi regulasi/kelembagaan seperti insentif dan peraturan-peraturan yang berkaitan dengan bidang ekonomi. Dimensi sosial dalam pengelolaan DAS lebih diarahkan pada pemahaman kondisi sosial-budaya setempat dan menggunakan kondisi tersebut sebagai pertimbangan untuk

merencanakan strategi aktivitas pengelolaan DAS yang berdaya guna tingggi serta efektif. Keseluruhan rangkaian kegiatan-kegiatan tersebut masih dalam kerangka kerja yang mengarah pada usaha-usaha tercapainya keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan manusia dengan kemampuan sumberdaya alam untuk mendukung kebutuhan manusia tersebut secara lestari. b.1. Konsep Pengelolaan DAS Kerangka pemikiran pengelolaan DAS dalam melibatkan tiga dimensi pendekatan analisis (standar) untuk pengelolaan DAS seperti dikemukakan oleh Hufschmidt (1986). Dengan kombinasi ketiga unsur utama tersebut diharapkan diperoleh gambaran yang menyeluruh tentang proses dan mekanisme pengelolaan DAS. Ketiga dimensi pendekatan analisis pengelolaan DAS tersebut adalah:

103

1. Pengelolaan DAS sebagai proses yang melibatkan langkah-langkah perencanaan dan pelaksanaan yang terpisah tetapi erat berkaitan. 2. Pengelolaan DAS sebagai sistem perencanaan pengelolaan dan , sebagai alat implementasi program pengelolaan DAS melalui kelembagaan yang relevan dan terkait. 3. Pengelolaan DAS sebagai serial aktivitas yang masing-masing berkaitan dan memerlukan perangkat pengelolaan yang spesifik. Untuk tercapainya pembangunan DAS yang berkelanjutan kegiatan pembangunan ekonomi dan perlindungan lingkungan harus diselaraskan. Dalam hal ini diperlukan penyatuan kedua sisi pandang tersebut secara realistis melalui penyesuaian kegiatan pengelolaan DAS dan konservasi daerah hulu ke dalam kenyataankenyataan ekonomi dan sosial. Inilah tantangan formulasi kebijakan yang harus dituntaskan apabila tujuan pembangunan yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan ingin diwujutkan. Untuk ilustrasi berikut ini dikemukakan contoh bagaimana penyelarasan sisi pandang sistem ekonomi dan sistem politik diwujutkan melalui konsep pengelolaan DAS yang komprehensif seperti dilaporkan oleh Brooks et al. (1994). Bangsa Polinesia yang tinggal di kepulauan Hawaii pada waktu itu telah mencoba menyelaraskan dua kepentingan yang seringkali berbenturan, yaitu sistem politik dan ekonomi ke dalam prinsip-prinsip yang umumnya berlaku dalam suatu daerah aliran sungai. Mereka mendefinisikan DAS sebagai wilayah pengelolaan yang membentang dari puncak-puncak pegunungan hingga ke daerah pantai dan bahkan ke lokasi terumbu karang (corar reefs) di luar batas alamiah suatu DAS. Kepala-kapala suku masing-masing mempunyai akses dan otoritas terhadap DAS yang berada di wilayahnya masingmasing. Mereka memandang masing-masing wilayah DAS tersebut sebagai satuan wilayah politik, ekonomi, dan lingkungan yang dapat menyediakan makanan, air, dan sumberdaya alam lainya bagi kelanjutan kehidupan warga yang tinggal di dalam witayah DAS tersebut. Mereka mengelola daerah hulu, terutama daerah dengan kemiringan lereng besar sebagai hutan dan mengusahakan tanaman pangan pada tempat-tempat yang dianggap tidak atau kurang rentan terhadap erosi dan tanah longsor. Mereka memanfaatkan saluransaluran irigasi untuk mengairi ladang-ladang tanaman pangan yang terletak di daerah hilir serta mengelola ladang pertanian sedemikian rupa sehingga tidak

104

mencemari ikan dan mahluk lain yang hidup dalam karang terumbu di lautan bebas. Mereka beranggapan bahwa pengelolaan sumberdaya alam dengan bijaksana dapat mencegah atau mengurangi terjadinya pencemaran dan erosi, dan dengan demikian, memberikan keuntungan sosial dan politis di daerah tersebut. Konsep pengelolaan DAS yang baik perlu didukung oleh kebijakan yang dirumuskan dengan baik pula. Dalam hal ini kebijakan yang berkaitan dengan pengelolaan DAS seharusnya mendorong dilaksanakannya praktek-praktek

pengelolaan lahan yang kondusif terhadap pencegahan degradasi tanah dan air. Harus selalu disadari bahwa biaya yang dikeluarkan untuk rehabilitasi DAS jauh lebih mahal daripada biaya yang dikeluarkan untuk usaha-usaha pencegahan dan perlindungan DAS. Sasaran dan prinsip-prinsip dalam pengelolaan DAS memberikan kerangka kerja bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan pembangunan dalam skala DAS yang melibatkan sumberdaya lahan dan air. Lebih jauh, kerangka kerja ini dapat membantu menyatukan atau menyelaraskan pengelolaan sumberdaya alam yang mempunyai dimensi biofisik dan sosial-ekonomi serta membantu menghindari timbulnya permasalahan-permasalahan lingkungan. Dalam konteks ini, praktekpraktek pengelolaan lahan dan konservasi tanah dan air merupakan "alat" dati kerangka kerja tersebut di atas. Praktek-praktek tersebut di atas meliputi aktivitas yang berdimensi keteknikan (pembuatan teras, saluran-saluran air) dan berdimensi non-keteknikan (perubahan tataguna lahan dan penutupan tajuk) yang diharapkan dapat mencapai sasaran dan tujuan dari pengelolaan DAS yang telah ditentukan. Uraian tersebut di atas mengisyaratkan bahwa pembangunan DAS dapat terlanjutkan apabila kebijakan-kebijakan yang melandasi tercapainya pembangunan yang berkelanjutan tersebut dapat dirumuskan mengikuti atau sesuai dengan prinsipprinsip pengelolaan DAS yang rasional sebagai berikut: 1. Mengenali hal-hal yang menjadi tuntutan mendasar untuk tercapainya usaha-saha penyelamatan lingkungan dan sumberdaya alam. 2. Memasukkan atau mempertimbangkan dalam kebijakan yang akan dibuat nilainilai jasa lingkungan yang saat ini belum atau tidak diperhitungkan secara komersial 3. Menyelaraskan atau rekonsiliasi atas konflik-konflik kepentingan yang bersumber dari penentuan batas-batas alamiah dan batas-batas politis/administratif.

105

4. Menciptakan

investasi

(sektor

swasta),

peraturan-peraturan

insentif,

dan

perpajakan yang mengkaitkan adanya interaksi antara aktivitas tataguna lahan di daerah hulu dan kemungkinan dampak yang ditimbulkannya di daerah hilir. Dengan kata lain, keuntungan yung diperoleh oleh kelompok masyarakat (petani, industri) di daerah hilir (karena berkurangnya sedimentasi) tidak boleh menjadi beban bagi masyarakat yang tinggal di daerah hulu (karena mereka harus mengorbankan sebagian tanah atau modal untuk melaksanakan kegiatan konservasi tanah dan air). Peraturan atau kebijakan yang akan dibuat harus mampu meratakan pembagian keuntungan dan biaya antara penduduk yang tinggal di daerah hulu dan mereka yang hidup di daerah hilir, antara lain, dalam bentuk subsidi silang. b.2. Pengelolaan DAS Sebagai Sistem Perencanaan Secara konseptual, pengelolaan DAS dipandang sebagai suatu sistem perencanaan dari: (1) aktivitas pengelolaan sumberdaya termasuk tataguna lahan, praktek pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya setempat, dan praktek pengelolaan sumberdaya di luar daerah kegiatan program atau proyek; (2) alat implementasi untuk menempatkan usaha-usaha pengelolaan DAS seefektif mungkin melalui elemen-elemen masyarakat dan perseorangan; dan (3) pengaturan organisasi dan kelembagaan di wilayah proyek dilaksanakan. Dua butir penting dapat diperoleh dari hasil penelaahan system pengelolaan DAS. Pertama, adanya perbedaan yang jelas antara aktivitas pengelolaan (hal-hal yang akan dilakukan) dan alat implementasi (bagaimana cara melakukannya). Para perencana pengelolaan DAS seringkali mengkosentrasikan pekerjaannya pada penyusunan formulasi alternatif kegiatan pengelolaan sumberdaya tanpa terlebih dahulu memformulasikan alat implementasi alternatif pada tingkat lebih detail termasuk penentuan siapa yang harus melakukan program pengelolaan sumberdaya tersebut serta bagaimana melaksanakan program yang telah dirumuskan di tingkat lapangan. Sehingga, hal tersebut di atas seringkali menyebabkan terabaikannya perumusan permasalahan pada tingkat penyusunan rencana pengelolaan DAS. Butir kedua: menyatakan bahwa pengaturan organisasi dan kelembagaan telah

diakomodir dalam lingkup sistem perencanaan. Hal ini dimaksudkan untuk lebih menegaskan lagi peranan penting kelembagaan dan organisasi dalam menentukan

106

berhasil atau gagalnya implementasi rencana program pengelolaan DAS karena kelembagaan dan organisasi keduanya merupakan perangkat politik. Hal yang lazim dijumpai dalam penjelolaan DAS di Indonesia adalah adanya fragmentasi kegiatan pengelolaan DAS antar departemen utama yang terkait dan lembaga bukan departemen lainnya. Konsekuensi dari hal tersebut di atas adalah adanya pembagian wewenang. Pelaksana pengelolaan DAS di daerah hulu melibatkan Departemen Kehutanan dan Departemen Pertanian, dan Departemen Dalam Negeri. Sementara di daerah tengah dan hilir Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah mempunyai wewenang mengelola daerah irigasi. Di daerah hilir (wilayah pantai) Departemen Kehutanan juga mempunyai wewenang mengelola hutan pantai selain Departemen Kelautan dan Perikanan yang bertanggungjawab terhadap aspek perikanan. Dengan demikian keterlibatan dan wewenang masingmasing departemen di seluruh wilayah DAS adalah saling mengisi. Namun demikian, pada setiap daerah tersebut dapat ditentukan departemen yang mempunyai tanggung-jawab lebih besar (leading agency). Beberapa departemen yang juga mempunyai kewenangan terhadap pengelolaan sumberdaya alam DAS dapat disebutkan, antara lain, Departemen Perindustrian, Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral, Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata, dan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Menjadi jelas bahwa pengelolaan DAS yang efektif selain memerlukan penegasan isu-isu atau permasalahan penting yang memerlukan penanganan segera juga pembagian wewenang pengelolaan. Dengan demikian, masalah mekanisme koordinasi kelembagaan dalam pelaksanaan program pengelolaan DAS menjadi salah satu kunci keberhasilan. Selain permasalahan kelembagaan dan wewenang pengelolaan sumberdaya, tidak kalah pentingnya adalah perumusan secara jelas permasalahan biogeofisik (kemerosotan sumberdaya hutan, tanah dan air) dan sosek (konflik pemanfaatan sumberdaya dan peningkatan pendapatan petani). Dalam konteks yang lebih luas dan untuk hasil keluaran yang bersifat fisik, pengelolaan DAS dapat dipandang sebagai sistem perencanaan yang menggunakan masukan pengelolaan bersama dengan masukan alamiah untuk menghasilkan keluaran yang berupa barang dan jasa serta kemungkinan konsekuensi terhadap sistem lingkungan di daerah dan di luar daerah aktivitas berlangsung (Gambar 6.1).

107

Dari sudut pandang ekonomi, sistem pengelolaan DAS seperti diuraikan di atas adalah merupakan suatu proses produksi ketika biaya yang diperlukan untuk pemakaian sumberdaya serta keuntungan ekonomi yang diperoleh dari hasil proses pengelolaan sumberdaya DAS yang bersangkutan. Tergantung pada sifat pengaruh kegiatan proyek terhadap sistem alam di daerah dan di luar daerah kegiatan proyek, maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu meningkatkan biaya ekonomi atau sebaliknya meningkatkan keuntungan ekonomi. Dengan demikian, Gambar 6.1 dapat dimanfaatkan untuk menunjukkan prinsip-prinsip analisis nisbah biaya-manfaat (B/C ratio analysis). Gambar 6.1 menunjukkan perbedaan antara efek yang diterima sistem alam baik di daerah berlangsungnya kegiatan pengelolaan maupun di luar daerah kegiatan. Sampai pada tingkat ketika pengelolaan DAS rnenurunkan dampak negatif terhadap tanah dan vegetasi, ia dapat dikatakan memberikan pengaruh positif dalam mempertahankan atau meningkatkan hasil pengelolaan sumberdaya di DAS yang menjadi kajian. Untuk terlanjutkannya pemanfaatan sumberdaya di tempat tersebut, sebagian besar keuntungan ekonomi oleh adanya perbaikan kondisi lingkungan di daerah kegiatan berlangsung seharusnya dikembalikan lagi ke daerah tersebut dalam bentuk usaha menjaga atau meningkatkan tingkat produktivitas dengan cara menerapkan praktek pengelolaan yang sesuai dengan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air. Untuk mengetahui pengaruh yang diterima oleh sistem alam di daerah hilir memerlukan analisis ekonomi dan biofisik yang lebih luas, termasuk dampak yang terjadi di luar batas fisik pengelolaan DAS (misalnya, wilayah perikanan di daerah pantai). Oleh karenanya, analisis yang harus dilaksanakan akan meliputi analisis dampak erosi terhadap lahan pertanian, jaringan jalan, perumahan dan sarana dan prasarana lain yang ada di sekitar kegiatan proyek dan laju sedimentasi di daerah hilir. Dengan demikian, sasaran atau tujuan pengelolaan DAS sesuai dengan tujuan yang telah dicanangkan, yaitu untuk memaksimalkan keuntungan sosial-ekonomis dari segala aktivitas tataguna lahan di daerah aliran sungai. Sasaran atau tujuan yang spesifik harus dikaitkan dengan karakteristik DAS (sosial, budaya, ekonomi, fisik, biologi) yang akan dikelola. Namun demikian, sasaran yang ingin dicapai pada umumnya adalah untuk meningkatkan atau memperbaiki keadaan DAS sehingga tingkat produktivitas di tempat tersebut tetap tinggi. Pada saat bersamaan, dampak

108

negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan pengelolaan tataguna lahan tersebut di daerah hilir dapat diperkecil.

Gambar 6.1 Sistem pengelolaan DAS dan keluaran yang dihasilkan (skema ini dapat dimanfaatkan untuk menggambarkan sistem dalam perencanaan, desain, instalasi, dan operasi), Asdak, 2002. . C. Perencanaan dan manajemen penggunaan lahan (land use) Kegiatan tataguna lahan yang bersifat mengubah bentang lahan dalam suatu DAS seringkali dapat mempengaruhi hasil air (water yield). Pada batas tertentu, kegiatan tersebut juga dapat mempengaruhi kondisi kualitas air. Pengaruh yang

109

sama juga dapat terjadi oleh aktivitas pembalakan hutan (forest logging) yang pada saat ini sedang gencar dilakukan oleh negara-negara tropis, terutama yang masih memiliki hutan alam yang cukup luas. Pembalakan hutan, perubahan dari satu jenis vegetasi hutan menjadi jenis vegetasi hutan lainnya, perladangan berpindah, atau perubahan tataguna lahan hutan menjadi areal pertanian atau padang rumput adalah contoh-contoh kegiatan yang sering dijumpai di negara berkembang. Terjadinya perubahan tataguna lahan dan jenis vegetasi tersebut, dalam skala besar dan bersifat permanen, dapat mempengaruhi besar-kecilnya hasil air. Kendatipun masih dalam perbedaan pendapat, pembabatan hutan biasanya mengacu pada hutan tropis) secara meluas dikhawatirkan dapat mempengaruhi distribusi dan pola curah hujan dan perubahan iklim lokal, regional dan bahkan global. D. Pengelolaan Vegetasi dan Hasil Air Kebanyakan persoalan sumberdaya air berkaitan dengan waktu dan

penyebaran aliran air. Kekeringan dan banjir adalah dua contoh klasik yang kontras tentang perilaku aliran air sebagai akibat perubahan kondisi tataguna lahan dan faktor meteorologi, terutama curah hujan. Penelaahan masalah sumberdaya air melibatkan berbagai macam pendekatan pengelolaan vegetasi dan usaha-usaha keteknikan lainnya. Sebagai contoh, waduk dapat menampung aliran air hujan ketika hujan deras berlangsung di daerah hulu, dan dengan demikian mengurangi kemungkinan terjadinya banjir di daerah hilir. Ia juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan aliran air selama musim kemarau sehingga dapat menambah debit aliran air untuk irigasi pada saat-saat yung krisis tersebut. Pengelolaan vegetasi di daerah hulu juga dapat menurunkan aliran sedimen yang masuk ke dalam waduk sehingga umur waduk dapat diperpanjang, dan dengan demikian mendukung kelangsungan pemanfaatan waduk. Tetapi, perencaan pengelolaan vegetasi, terutama dalam pemilihan jenis vegetasi untuk meningkatkan hasil air yang tidak tepat dapat memberikan hasil sebaliknya, yaitu menurunkan besarnya hasil air karena cadangan tanah di tempat berlangsungnya kegiatan tersebut berkurang oleh adanya proses evapotranspirasi vegetasi. Pengelolaan vegetasi, khususnya vegetasi hutan, dapat mempengaruhi waktu dan penyebaran aliran air. Beberapa pengelola DAS beranggapan bahwa hutan dapat dipandang sebagai pengatur aliran (streamflow regulator), artinya bahwa hutan dapat menyimpan air selama musim hujan dan melepaskannya pada musim

110

kemarau. Konsekuensi logis dari adanya anggapan seperti itu bahwa keberadaan hutan lalu dapat menghidupkan mata-mata air yang telah lama tidak mengalirkan air, keberadaan hutan dapat mencegah terjadinya banjir besar (flash-flood) dan kemudian menjadi kelihatan logis bahwa hilangnya areal hutan akan mengakibatkan terjadinya kekeringan atau bahkan dapat mengubah daerah yang sebelumnya tampak hijau dan subur menjadi daerah seperti padang pasir (desertification). Anggapan-anggapan tersebut di atas, pada banyak kasus, tidak sesuai dengan hasilhasil penelitian hidrologi hutan yang telah banyak dilakukan di daerah beriklim sedang (temperate zone) maupun di daerah tropis. Oleh karena itu, lebih didasarkan pada anggapan atau mitos daripada pada kenyataan, bahkan di negara yang sudah maju sekalipun. Namun demikian, harus diakui bahwa adanya anggapan tersebut telah mengilhami meluasnya gerakan konservasi air dan tanah di beberapa negara maju seperti Amerika serikat dan beberapa negara Eropa lainnya. Hasil penelitian yang dilakukan secara intensif di banyak Negara tentang pengaruh pengaturan jumlah dan komposisi vegetasi terhadap perilaku aliran air menunjukkan bahwa aliran air tahunan meningkat apabila vegetasi dihilangkan atau dikurangi dalam jumlah cukup besar. Secara umum, peningkatan aliran air disebabkan oleh penurunan penguapan air oleh vegetasi (transpiration), dan dengan demikian, aliran air permukaan maupun airtanah menjadi lebih besar. Dari keseluruhan curah hujan yang diterima oleh suatu masyarakat tumbuhan, bagian air yang diuapkan melalui vegetasi adalah cukup besar. Oleh karenanya, untuk meningkatkan jumlah aliran air dalam suatu DAS dengan cara menurunkan evapotranspirasi lazim dilakukan. Sebagai contoh, dari keseluruhan jumlah curah hujan tahunan, 85 95% air yang diterima diuapkan kembali atau dikonsumsi oleh berbagai tanaman dalam suatu DAS di daerah-daerah arid dan semi arid (Brooks et al., 1935). Artinya, aliran air yang tersedia hanya berkisar antara 5 15% dari jumlah air hujan yang diterima di daerah tersebut. Namun demikian, di daerah dengan curah hujan relatif besar jumlah air yang diuapkan kembali ke atmosfer umumnya tidak leblh dari 35%. Hasil penelitian jangka panjang dan dilakukan di berbagai penjuru dunia juga menunjukkan bahwa jumlah aliran air meningkat bila (Bosch dan Hewlett , I98Z; Hibberr, 1983 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008): 1. Hutan ditebang atau dikurangi dalam jumlah cukup besar.

111

2. Jenis vegetasi diubah dari tanaman yang berakar dalam menjadi tanaman berakar dangkal. 3. Vegetasi penutup tanah diganti dari tanaman dengan kapasitas intersepsi tinggi ke tanaman dengan tingkat intersepsi yang lebih rendah. Faktor-faktor lain yang berpengaruh terhadap besarnya perubahan air larian adalah tanah, iklim, dan persentase luas DAS semakin besar perubahan tataguna lahan, misalnya perubahan dari hutan menjadi ladang pertanian, semakin besar pula perubahan yang terjadi pada air larian. Respons aliran air diperkirakan akan lebih besar di wilayah dengan tanah yang dalam dan dengan curah hujan tahunan tinggi. Sementara respons perubahan aliran air tersebut rendah di daerah dengan iklim panas. Perubahan aliran air sebagai akibat perubahan vegetasi penutup tanah dapat dilihat pada Tabel 6.1. Dalam bentuk grafis, hubungan vegetasi-hasil air tersebut ditunjukkan oleh Gambar 6.2. Gambar tersebut menunjukkan bahwa dengan mengetahui besarnya luas penambahan atau pengurangan vegetasi hutan dapat diprakirakan besamya penurunan atau kenaikan hasil air yang terjadi. Tabel 6.1 Perubahan aliran air sebagai akibat perubahan vegetasi penutup tanah pada daerah selain daerah hutan berkabut (cloudforest) (Bosch dan Hewlett, 1982) Tipe vegetasi Kenaikan aliran air setiap pengurangan 10% dari vegetasi penutup tanah penutup tanah (mm) Terbesar Rata-rata Terkecil Pinus dan Ekaliptus 65 40 20 Vegetasi daun lebar 40 25 6 Tanaman semak 20 10 1

112

Gambar 6.2

Bentuk hubungan vegetasi-hasil air untuk beberapa jenis vegetasi (diadaptasi dari Bosch dan Hewlett, 1982).

Tabel 6.1 dan Gambar 6.2 menunjukkan bahwa hutan yang terletak di daerah berkabut merupakan perkecualian dari bentuk hubungan pengurangan vegetasi dan kenaikan aliran air. Hal ini disebabkan karena hutan yang terletak di daerah berkabut akan mempengaruhi jumlah curah hujan di daerah tersebut. Pengaruh hutan di daerah berkabut dalam hubungannya dengan curah hujan adalah melalui proses kondensasi. Ekern (1964) dari Hawaii melaporkan bahwa hutan Araucaria heterophylla, melalui proses kondensasi, mampu memberikan tambahan curah hujan tahunan kurang lebih 760 mm sebagai hasil proses kodensasi uap air yang terdapat dalam kabut. Hutan yang terletak di tempat-tempat terbentuknya kabut seperti di sepanjang pantai barat California, Amerika Serikat, dan beberapa tempat dengan ketinggian tertentu dapat membantu berlangsungnya proses kondensasi uap air yang terdapat dalam kabut tersebut. Hasil kondensasi uap air yang berlangsung melalui daun atau tajuk vegetasi tersebut kemudian dikenal sebagai air hujan. Sedangkan proses terjadinya hujan dengan cara tersebut disebut "occult" precipitation, atau sering juga dikenal sebagai horizontal precipitation.

113

Pemanfaatan Tabel 6.1 untuk memprakirakan besarnya perubahan aliran air sebagai akibat aktivitas penebangan atau penanaman hutan hanya dilakukan apabila di tempat tersebut belum atau tidak tersedia teknik lain yang lebih memadai untuk mengantisipasi perubahan aliran air oleh adanya perubahan vegetas hutan.

114

III. Penutup 1. Rangkuman Tiga pengelolaan sumber daya alam sehingga dapat bekelanjutan. Ketiga pilar tersebut adalah aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Ketiga pilar tersebut, harus terpenuhi secara bersama-sama, karena jika ada satu diantaranya yang tidak terpenuhi, maka sumber daya tersebut tidak bisa berkelanjutan. Pengelolaan sumber daya air permukaan, DAS dijadikan sebagai batas sistem, karena setiap proses air permukaan batas DAS adalah merupakan batas dari semua proses air permukaan. sistemnya. Jenis penggunaan lahan besar pengaruhnya terhadap hasil air. Tutupan lahan yang baik dapat meregulasi air, sehingga kelangkaan pada musim kemarau dan banjir pada musim hujan dapat diminimalisasi. 2. Tugas dan Latihan Lakukan studi lapangan tentang suatu kegiatan pengelolaan sumber daya air, lalu lakukan analisis tentang tiga aspek sebagai pilar pengelolaan sumber daya air sehingga kegiatan tersebut berhasil atau gagal. 3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa mampu menjelaskan keterkaitan diantara ketiga pilar dalam

manajemen sehingga dapat tercipta keberlanjutan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan mengapa DAS dijadikan sebagai unit pengelolaan sumber daya air khususnya air permukaan 3. Mahasiswa mampu menjelaskan hubungan antara penggunaan lahan terhadap hasil air. 4. Sumber/Referensi 1. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.

115

5. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan tentang keterkaitan tiga pilar pengelolaan sumber daya alam, sehingga sumber daya alam/air dapat berlangsung secara

berkelanjutan. 2. Dosen menjelaskan tentang alasan DAS dijadikan sebagai Batas Sistem dalam pengelolaan sumber daya air permukaan. 3. Dosen menjelaskan hubungan antara tutupan lahan terhadap hasil air. 4. Melakukan latihan-latihan dengan studi kasus 5. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 6. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam bagaimana pendekatan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.

116

SESI/PERTEMUAN KE-7 (Ketujuh) PENILAIAN TERHADAP PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu melakukan penilaian terhadap sumber daya air.

Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air, mulai dari perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengkoorinasian, pengendalian, pengawasan hingga penganggaran dan pembiayaan. Penilaian terhadap kegiatan pengelolaan dilakukan dengan beberapa indicator sebagai dasar dalam menarik kesimpulan bahwa kegiatan pengelolaan gagal atau berhasil.

I. Bahan Bacaan: 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. II. Bacaan Tambahan: 1. Karamouz, M., F. Szidarovszky dan B. Zahraie. 2003. Water resources systems analysis. Florida: CRC Press LLC. 2. Jain, S.K. dan V.P. Singh, 2003. Water Resources Systems Planning and Management. Amsterdam: Elsevier. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Jelaakan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Bagaimana mengukur tingkat keberhasilan pengelolaan sumber daya air, dengan menggunakan indicator-indikator pengelolaan. IV. Lain-lain: Lakukan kajian lapangan, berikan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan sumber daya air.

117

Bab 8. Pembelajaran 7 (Penilaian terhadap Pengelolaan Sumber Daya Air) I. PENDAHULUAN Aktifitas pengelolaan dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, operasi dan pemeliharaan serta evaluasi dan monitoring. Termasuk di dalamnya, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian, pengawasan, penganggaran dan keuangan. Oleh karena itu manajemen dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain: dapat berupa ilmu pengetahuan, berupa profesi atau keahlian, berupa sistem, pengaturan, proses, metode, seni, sekelompok orang atau beberapa grup dengan tujuan tertentu. Phase utama dan fungsi manajemen secara umum meliputi: Perencanaan (planning). Pengorganisasian (organising), Kepemimpinan (directing). Pengkoordinasian (coordinating). Pengendalian (controlling), Pengawasan

(supervising), Penganggaran (budgeting), Keuangan (financing). Dalam materi ini akan dibahas secara rinci tentang komponen dari pengelolaan.
1. Sasaran Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu menjelaskan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu melakukan penilaian terhadap sumber daya air.
2. Sumber/Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
3. Strategi Pembelajaran

1. Dosen menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air disertai dengan tahapannya. 2. Dosen menjelaskan bagaimana menilai suatu kegiatan pengelolaan sumber daya berdasarkan beberapa indikator. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi suatu daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam tentang bagaimana melakukan penilaian terhadap pengelolaan sumber daya air.

118

II. Uraian Materi A. Pengertian Pengelolaan Pengelolaan sama dengan manajemen. Manajemen merupakan suatu aktifitas, seni, cara, gaya, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian, dalam mengelola, mengendalikan kegiatan. Perencanaan Proses perencanaan umumnya melalui langkah-Iangkah: . Identifikasi masalah atau bisa juga identifikasi sasaran/tujuan yang ditargetkan. Pengumpulan data primer dan sekunder. Penentuan metode yang akan dipakai (kajian pustaka). Investigasi, analisis atau kajian. Penentuan solusi dengan berbagai altematif. Penentuan skala prioritas. Pemilihan altematif. Untuk kesuksesan suatu proses maka perlu ada suatu konsep strategi dan implementasi perencanaan yang jelas. Strategi perencanaan mengakomodasi rencana mendesak, rencana jangka pendek, rencana jangka menengah dan rencana jangka panjang. Strategi perencanaan ini melalui beberapa tingkatan (stage). Sedangkan implementasi perencanaan merupakan aplikasi atau aksi dari strategi. Salah satu contoh tingkatan perencanaan dapat dilihat berikut ini.

119

Gambar 7.1. Tingkatan perencanaan, (Grigg, 1988; Kodoatie dan Sjarief, 2008) Pengorganisasian (organising) Organize berarti mengatur. Sehingga pengorganisasian merupakan pengaturan dalam pembagian kerja, tugas, hak dan kewajiban semua orang yang masuk dalam suatu kesatuan/kelompok. Pembagiannya didasarkan atas berbagai hal misalnya dari tingkat pendidikan, lamanya bertugas, keahlian dan ketrampilan yang dimiliki dan lainnya. Dalam hampir semua kegiatan diperlukan suatu organisasi yang bisa berdasarkan atas struktur/strata ataupun fungsi. Kepemimpinan (directing) Lebih dominan ke aspek-aspek leadership, yaitu proses kepemimpinan, pembimbingan, pembinaan, pengarahan, motivator, reward and punishment, konselor, dan pelatihan. Para pemimpin (direktur) perlu menguasai aspek-aspek tersebut dalam upaya mensukseskan kepemimpinan kepada staffnya. Dengan kepemimpinan yang baik maka tujuan dari kegiatan dapat tercapai dengan sukses. Beberapa karakter dari kepemimpinan yang baik antara lain demokratis, transparan, jujur, berkemauan keras, mau bekerja keras, akuntabilitas, berwibawa. Pengkoordinasian (coordinating) Koordinasi adalah upaya bagaimana mengorganisasi sumber daya manusia (SDM) agar ikut terlibat, mengambil bagian atau dapat beperan serta dengan baik sebagian maupun menyeluruh dari suatu kegiatan sehingga dapat dipastikan SDM dapat bekerja secara tepat dan benar. Situasi dan kondisi yang baik dan kondusif dapat menciptakan kerjasama yang baik dan terpadu antar bagian. Di sinilah koordinasi sangat berperan sehingga terjadi keseimbangan harmoni antara hak dan kewajiban dari SDM ataupun antar bagian dari sistem organisasi yang ada. Koordinasi bisa bersifat horizontal yaitu antar bagian yang mempunyai kedudukan setara maupun vertikal yaitu antar suatu bagian dengan bagian di atasnya atau di bawahnya sesuai dengan struktur yang ada. Pengendalian (controlling) Pengendalian merupakan upaya kontrol, pengawasan, evaluasi dan monitoring tehadap SDM, organisasi, hasil kegiatan dari bagian-bagian ataupun dari seluruh kegiatan yang ada. Manfaat dari pengendalian ini dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dari sisi-sisi waktu, ruang (space), biaya dan sekaligus untuk peningkatan kegiatan baik secara kuantitas maupun kualitas. Pengendalian ini juga berfungsi

120

sebagai alat untuk mengetahui bagaimana kegiatan atau bagian dari kegiatan itu bekerja. Penyimpangan atau kesalahan dapat segera diketahui dan diperbaiki. Pengendalian ini juga berfungsi untuk menekan kerugian sekecil mungkin. Pengawasan (supervising) Pengawasan dilakuan untuk memastikan SDM berkerja dengan benar sesuai dengan fungsi, tugas dan kewenangannya. Pengawasan juga berfungsi untuk memastikan suatu proses sudah berjalan dengan semestinya. Di samping itu pengawasan juga berfungsi untuk mengetahui suatu kerja atau kegiatan sudah dilakukan dengan benar. Penganggaran (budgeting) Dalam kegiatan pembangunan, penganggaran menjadi suatu bagian terpenting untuk suksesnya maksud dan tujuan dari kegiatan tersebut. Demikian halnya untuk pengelolaan sumber daya air, penganggaran juga menjadi salah satu faktor utama suksesnya suatu proses pembangunan mulai dari, studi, perencanaan, konstruksi, operasi dan pemeliharaan infrastruktur keairan maupun peningkatan sistem yang ada. Penentuan anggaran yang terrencana dan tersistem sekaligus merupakan salah satu alat manajemen. Karena dalam penganggaran unsur biaya yang dikeluarkan (expenditure) dan unsur pendapatan (revenue) harus menjadi satu kesatuan kajian yang utuh, sehingga perencanaan penganggaran sekaligus merupakan bagian yang penting bahkan yang utama dalam manajemen. Pengelolaan anggaran secara menyeluruh merupakan penghubung dari proses-proses perencanaan (planning), operasional, pemeliharaan, pemanfaatan sampai pada proses kontrol, evaluasi dan monitoring. Laporan anggaran yang lengkap harus meliputi kriteria-kriteria antara lain sebagai pendukung kebijakan, petunjuk operasional, dan sebagai alat mediator dalam berkomunikasi (City of Fort Collins, 1986 dalam Grigg, 1988). Finansial. Awal dari perencanaan finansial adalah proses penganggaran. Ketika tugas, pokok dan fungsi dari tiap-tiap kegiatan institusi sudah teridentifikasi, langkahlangkah selanjutnya adalah merencanakan program program kerja, perhitungan biaya dan manfaat, analisis resiko dan kesuksesan program (Grigg, 1988). Secara umum di dalam perencanaan finansial ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan yaitu (Government Finance Research Centre, l981): analisis

121

biaya, analisis kemampuan membayar (ability-to-pay analysis), analisis pendapatan (revenue analysis), analisis sensitivitas, analisis dampak sekunder (Gambar 9.2). Aspek-aspek finansial meliputi aspek-aspek pembiayaan, penganggaran, pendapatan dan biaya, penilaian. Dengan kata lain aspek finansial sudah harus mencakup keseluruhan manajemen namun dalam batas finansial saja. Untuk pengelolaan sumber daya air aspek finansial sering menjadi kendala utama dalam susksesnya pengelolaan. Keterbatasan dana menjadi salah factor kunci kegagalan dari pengelolaan sumber daya air.

Gambar 7.2. Langkah-Iangkah penting dalam perencanaan finansial (Grigg, 1996; Kodoatie dan Sjarief, 2008) B. Analisis Penilaian Sumber Daya Air. Dasar Pengetahuan Sumber Daya Air. Analisis Penilaian Sumber Daya Air. Permodelan Dalam Pengelolaan Sumber Daya air Terpadu. Indikator Pengelolaan Sumber Daya Air. Analisis secara terpadu dan komprehensif perlu dilakukan di suatu kawasan regional dalam kaitannya dengan pemahaman, kebutuhan dan pemanfaatan sumber daya air oleh para-pihak. Analisis meliputi kuantitas dan kualitas baik untuk air permukaan maupun airtanah. Pertimbangan-pertimbangan analisis yang diperlukan antara meliputi: Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini berkaitan erat dengan keseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air.

122

Air

bisa

menjadi

penyebab

konflik

tatkala

kebutuhan

air

melampaui

ketersediannya. Perubahan tata-guna lahan akibat pertumbuhan penduduk dan ekonomi. Pemahaman keseimbangan antara air untuk kehidupan dan air sebagai sumber daya. Keseimbangan antara keberianjutan ekologi, ekonomi dan sosial. Air merupakan kebutuhan semua pihak. Dengan kata lain dalam pengelolaan sumber daya air maka semua pihak harus melibatkan atau dilibatkan baik secara langsung maupun tidak langsung. Air mengikuti batas wilayah daerah alirannya: untuk aliran permukaan air mengikuti daerah aliran sungai (DAS) dan untuk air tanah air mengikuti daerah aliran airtanah atau cekungan air tanah/CAT (groundwater basin). DAS dan CAT masuk dalam wilayah sungai (WS). Suatu wilayah provinsi atau kabupatenlkota mengikuti batas wilayah administrasi. Batas-batas DAS, CAT, WS dan batas administrasi umumnya tidak sama. Sumber daya air dan sumber daya-sumber daya lainnya (misalnya lahan) membentuk sumber daya alamoDengan kata lain sumber daya air merupakan bagian dari sumber daya alamoKondisi sumber daya air saling tergantung dan dipengaruhi oleh sumber . daya yang lain. Otonomi daerah memberikan pengaruh yang besar terhadap sumber daya air. Termasuk di dalarnnya adalah tuntutan reformasi, perubahan paradigma dari top-down menjadi bottom-up approach. Sumber daya air merupakan multi sektor, multi disiplin dan sangat kompleks. Perpaduan dalam sistem alam maupun dalam sitem manusia. Pemahaman bahwa sumber daya air bersifat kontinyu sehingga analisisnya juga harus secara kontinyu (dengan segala konsekuensinya). Sesuai dengan UU Sumber Daya Air, aspek-aspek pengelolaan yang harus dianalisis meliputi: Konservasi sumber daya air untuk keberlanjutan sumber daya air yang ada: Perlindungan dan pelestarian sumber air. Pengawetan air. Pengelolaan kualitas air. Pengendalian pencemaran air.

123

Pendayagunaan sumber daya air untuk dapat melakukan: Penatagunaan sumber daya air. Penyediaan sumber daya air. Penggunaan sumber daya air. Pengembangan sumber daya air. Pengusahaan sumber daya air.

Pengendalian daya rusak air yang diarahkan pada kegiatan: pencegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Sistem informasi sumber daya air untuk dapat secara kontinyu mendapatkan data yang up-todate mengingat sistem sumber daya air adalah sistem yang kontinyu dari hulu ke hilir, dati waktu ke waktu.

Pemberdayaan masyarakat.

1. Dasar Pengetahuan Sumber Daya Air Pengetahuan dasar (knowledge base) sangat penting untuk analisis sumber daya air. Ilmu-ilmu dasar keairan seperti mekanika fluida, hidrolika, hidrologi, geologi, geografi, topografi, fisika dan kimia merupakan instrumen ilmu-ilmu dasar dalam sumber daya air. Pengembangan ilmu-ilmu dasar ini yang antara lain meliputi: hidrogeologi, rekayasa pantai, rekayasa sungai, erosi dan sedimentasi, irigasi, mekanika tanah (geologi teknik), bangunan air, waduk, rekayasa rawa, rekayasa lingkungan, teknik pertanian, teknologi hutan, drainase, pengendalian banjir merupakan ilmu-ilmu teknis untuk pengelolaan sumber daya air. Di samping itu perlu juga pengetahuan dan ilmu-ilmu non-teknis (non rekayasa) yang antara lain meliputi ilmu-ilmu: sosial, budaya, ekonorni, hukum, lingkungan, manajemen, kehutanan yang merupakan ilmu-ilmu lain yang penting dalam pengelolaan sumber daya air. Ilmu-ilmu tersebut saling melengkapi, saling tergantung dan saling member konstribusi yang penting dalam pengelolaan sumber daya air. Kerjasama dan kemitraan yang harmoni mutlak diperlukan. Pembagian tugas dan fungsi untuk masing-masing aspek keilmuan juga mutlak diperlukan. Salah satu hal yang penting dalam pengetahuan dasar ini adalah keakuratan data yang berkelanjutan. Para pembuat kebijakan harus memaharni pentingnya data yang akurat sehingga bisa dibentuk institusi representatif yang bertanggung jawab terhadap data termasuk tersedianya dana kontinyu dan sumber daya manusia.

124

Saat ini yang terjadi adalah masing-masing instansi mempunyai data sendirisendiri yang berbeda walaupun wilayah (arealnya) sama. Sebagai contoh data tentang luas daerah irigasi dari dinas penanian tidak sama dengan data dari dinas pengairan padahal lokasinya sama. Penentuan data prioritas didasarkan atas isu terkini, terutama tentang bencana-bencana yang terjadi terkait dengan sumber daya air. Hal ini perlu dibuat mengingat keterbatasan dana dan tidak adanya dukungan politis untuk kompilasi data dasar yang akurat. Prioritas membutuhkan kunci pokok dari persoalan dan tafsiran resiko dan kerugian untuk meningkatkan dukungan politik dan sumber daya lainnya. Karena banyak institusi yang mempunyai data sendiri-sendiri seseuai dengan tugas pokok dan fungsinya, maka dalam pencapain pengetahuan dasar diperlukan suatu bentuk format data yang standar, mudah disesuaikan dan mudah untuk diakses. Kolaborasi sektor-silang sangat penting untuk mendapatkan pengetahuan dasar yang dibutuhkan dalam pendekatan pengelolaan sumber daya air terpadu. Kendali mutu (quality assurance) merupakan salah satu alat yang penting dalam aplikasi dari pengetahuan dasar terutama untuk kondisi lintas batas dimana dibutuhkan kesepakatan dan kesepahaman dalam berbagai hal. 2. Analisis Penilaian Sumber Daya Air Analisis sumber daya air pada umumnya dipakai sebagai dasar pembangunan infrastruktur. Analisis sumber daya air mempunyai tujuan yang cukup luas dan beragam untuk kepentingan pengelolaan sumber daya air mengingat demikian kompleksnya persoalan yang dihadapi. Analisis-analisisnya antara lain meliputi: Supply-Demand assessment: mengetahui keseimbangan antara ketersediaan sumber daya air dan kebutuhan akan air. Hal ini juga dipakai dalam upayaupaya pencarian sumber dana untuk pengelolaan sumber daya air. Environmental Impact Assessment: bertujuan untuk mengetahui dampak suatu kegiatan mulai dari pra, saat dan pasca konstruksi. Dampak tersebut dikaitkan dengan kelestarian sumber daya air, aspek sosial, aspek ekonomi, aspek instititusi dan hukum serta aspek teknisteknis. Social Impact Assessment: kajian ini dipakai untuk mengetahui dampak dari suatu kegiatan terhadap masyarakat baik secara lokal, regional maupun cakupan wilayah yang lebih luas.

125

Risk or Vulnerability Assessment: analisis ini bertujuan untuk mengetahui resiko dan kerentanan dari semua pihak akibat terkena bencana misalnya banjir, longsor atau kekeringan. Analisis sumber daya air kadang dilakukan melewati langkah-Iangkah mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Di dalam proses pembangunan biasanya langkah-Iangkahnya meliputi: pra studi kelayakan, studi kelayakan, detail desain, implementasi, operasi dan pemeliharaan. Dasar analisis sumber daya air disarankan untuk melalui langkah-Iangkah tersebut. Untuk proyek dengan skala besar dan jangka panjang maka tiap langkahnya harus dilakukan secara lebih detail mengikuti peraturan, standar, norma dan pedoman yang berlaku secara multi dimensi, multi sektor dan keterlibatan semua pihak. Persoalan-persoalan yang akan terjadi dapat diprediksi secara lebih awal berikut solusinya. 3. Permodelan dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu Salah satu alat untuk permodelan adalah Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System/DSS). Alat ini menjadi populer karena kemajuan komputer sangat cepat, baik dari proses, kapasitas maupun perangkat lunaknya. Untuk persoalan yang sangat kompleks seperti pengelolaan sumber daya air maka alat DSS dapat berperan sangat strategis. DSS merujuk pada penggunaan komputer untuk mengembangkan dan menunjukkan informasi dalam peningkatan proses keputusan. Sistem ini tidak hanya memroses data namun juga menganalisis, dan memanfaatkan penggunaan model yang terkait. Dengan kata lain, sistem ini merupakan sistem yang mengatur dan mengorganisasikan proses, analisis dan pengantaran informasi yang dibutuhkan untuk pembuatan keputusan (Grigg, 1988). Bagian-bagian penting dari sistem pendukung keputusan diilustrasikan dalam gambar berikut:

126

Gambar 7.3. Alur sistem pendukung keputusan (Grigg, 1996; Kodoatie dan Sjarief, 2008).

Multi-tujuan dari DSS menjadikan pemakai untuk menyatu-padukan data dalam 5 fase, dimana setiap data membutuhkan konsultasi dengan para-pihak yang potensial: 1. Identifikasi isu: identifikasi isu, informasi yang memadai, identifikasi parapihak yang mempunyai posisi kunci. 2. Definisi opsi-opsi manajemen: mengidentifikasi opsi pengelolaan sumber daya air dan lahan yang potensial. Penetapan kriteria keputusan - penegasan criteria untuk dipilih sebagai salah satu opsi. 3. Perolehan dan kompilasi data: sebagai input dalam DSS. 4. Proses pendukung keputusan-menganalisis informasi yang tersusun oleh parapihak Hal yang penting dalam penggunaan DSS adalah harus bersifat transparan, sehingga tak ada yang disembunyikan dibalik proses analisisnya. Pembuatan model input dan output yang tersedia harus dapat diakses dan dilihat masyarakat. Perlu ada upaya fasilitasi peningkatan dalam permodelan proyek-proyek masa depan dan

127

memastikan bahwa pekerjaan masa depan bergantung pada riset masa lalu. Peningkatkan pemahaman dari grup mayoritas yang terlibat langsung terhadap proses permodelan akan memberikan dampak positif terhadap peningkatan riset. 4. lndikator Pengelolaan Sumber Daya Air Indikator dapat dipakai untuk menganalisis dan membandingkan: Variasi ruang dan waktu dalam siklus hidrologi air, dan membandingkan ketersediaan dan pemakaian air. Pemakaian air yang efisien. Efisiensi dan efektifitas pengantaran air, jumlah keluarga pengkonsumsi air, .luas daerah irigasi yang harus dilayani. Kualitas air. Kuantitas air di suatu lokasi. Penampilan penyedia air. Penampilan pemaka iair. Pengalaman dari pemakaian alat-alat indikator ini menunjukkan bahwa: Walaupun pembagian perwakilan indikator cenderung lebih mudah, namun biasanya sulit untuk mendapatkan data yang konsisten, reliabel, berarti dan dapat dipertanggung-jawabkan dalam upaya penggambaran penampilan .kegiatan dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Walaupun indikator-indikator yang sederhana mungkin gagal untuk merefleksikan variasi-variasi yang penting, mereka dapat menjadi alat yang cukup penting untuk menciptakan kesadaran, perhatian dan kemauan politik Indikator dipakai dalam cluster (inti pusat) karena sebagai kombinasi indikator akan lebih baik dalam menjelaskan keseluruhan proses pengelolaan sumber daya air terpadu. Kombinasi yang tepat umumnya bergantung pada keadaanlokal. Apabila indikator dipakai untuk membandingkan beberapa daerah yang berbeda, sangatlah penting jika elemen data dari indikator didefinisikan secara tepat. Nilai dari indikator atau indeks perlu selalu ditinjau secara periodik.

128

III. Penutup 3. Rangkuman

Kegiatan-kegiatan

dalam

pengelolaan

sumber

daya

air,

mulai

dari

perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengkoorinasian, pengendalian, pengawasan hingga penganggaran dan pembiayaan. Penilaian terhadap kegiatan pengelolaan dilakukan dengan beberapa indicator sebagai dasar dalam menarik kesimpulan bahwa kegiatan pengelolaan gagal atau berhasil. Analsis terhadap penilaian sumber daya air meliputi: analisis supply-demand, penilaian terhadap dampak lingkungan, penilaian terhadap dampak sosial dan analisis kerentanan dan resiko. Dalam pengambilan keputusan dengan banyak pertimbangan tersebut, maka dilakukan dengan melalui model diantaranya adalah Decision Support System (DSS). Beberapa indicator yang sering dipakai sebagai alat untuk menganalisis dan membandingkan adalah: membandingkan antara ketersediaan dan kebutuhan dengan variasi ruang dan waktu dalam siklus hidrologi, pemakaian air yang efisien, efisiensi dan efektifitas pengantaran air, kualitas dan kuantitas air, penampilan penyedia dan pemakai air.
4. Tugas dan Latihan

Lakukan kajian lapangan, berikan penilaian terhadap kegiatan pengelolaan sumber daya air.
5. Indikator Pencapaian

1. Mahasiswa mampu menjelaskan kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu melakukan penilaian terhadap sumber daya air berdasarkan pada beberapa indikator.
6. Sumber/Referensi

1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi.
7. Strategi Pembelajaran

1. Dosen menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan dalam pengelolaan sumber daya air disertai dengan tahapannya.

129

2. Dosen menjelaskan bagaimana menilai suatu kegiatan pengelolaan sumber daya berdasarkan beberapa indikator. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi suatu daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam tentang bagaimana melakukan penilaian terhadap pengelolaan sumber daya air.

130

SESI/PERTEMUAN KE-8 (Kedelapan) PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR TERPADU Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara terpadu. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan mendasar antara pengelolaan secara terpadu dengan pengelolaan secara menyeluruh. Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi menjelaskan tentang alasan mengapa pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara Terpadu, Menyeluruh dan Berwawasan Lingkungan. Beberapa substansi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air tepadu, meliputi: kritisnya pengelolaan sumber daya air, hal-hal yang menyebabkan air perlu dikelola, persoalan dan tantangan masa depan, ketergantungan pengelolaan dengan banyak hal, Prinsip Dublin dan aplikasinya sebagai pemecahan masalah, dan perubahan paradigma. I. Bahan Bacaan: 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Global Water Partnership (GWP), 2001. Integrated Water Resources Management. Stockholm: GWP Box. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 4. Lenton, R. dan M. Muller, 2009. Integrated water resources management in practice: better water management for development. UK,MPG Books Ltd. II. Bacaan Tambahan: 1. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Mengapa pengelolaan secara terpadu perlu dilakukan? 2. Apa perbedaan mendasar antara pengelolaan sumber air terpadu dengan menyeluruh. IV. Lain-lain: Lakukan studi kasus tentang pengelolaan sumber daya air, apakah dilakukan secara terpadu dan menyeluruh sehingga kegiatan pengelolaan berhasil atau gagal.

131

Bab 9. Pembelajaran 8 (Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu) I. Pendahuluan Berbagai persoalan tentang sumber daya air yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitasnya harus menyadarkan semua pihak bahwa persoalan air perlu dilakukan dengan tindakan yang tepat sehingga menghasilkan solusi yang optimal. Dengan kata lain diperlukan Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, Menyeluruh dan Berwawasan Lingkungan. Secara umum kerangka dan isi materi ini yang merupakan prinsip-prinsip pengelolaan sumber daya air diambil dari Kodoatie dan Sjarief, 2008. Beberapa substansi yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air tepadu, meliputi: kritisnya pengelolaan sumber daya air, hal-hal yang menyebabkan air perlu dikelola, persoalan dan tantangan masa depan, ketergantungan pengelolaan dengan banyak hal, Prinsip Dublin dan aplikasinya sebagai pemecahan masalah, dan perubahan paradigma. 1. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara terpadu. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan mendasar antara pengelolaan secara terpadu dengan pengelolaan secara menyeluruh. 2. Sumber/Referensi 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Global Water Partnership (GWP), 2001. Integrated Water Resources Management. Stockholm: GWP Box. 3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 4. Lenton, R. dan M. Muller, 2009. Integrated water resources management in practice: better water management for development. UK,MPG Books Ltd. 3. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan pentingnya dilakukan pengelolaan sumber daya air secara terpadu.

132

2. Dosen menjelaskan prinsip dasar pengelolaan sumber daya alam secara terpadu dan secara menyeluruh. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas dengan mengangkat studi kasus 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi untuk mempertajam pemahaman mahasiswa serta memberi latihan dalam berargumentasi.

133

II. Uraian Materi A. Kilasan Manajemen Sumber Daya Air Technical Advisory Committee (TAC), Global Water Partnership (GWP) (2001) memberikan panduan uraian, ringkasan tentang konsep Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. KTT Bumi (Earth Summit) yang diselenggarakan pada Bulan Juni 1992 di Rio de Janeiro mencetuskan Deklarasi Rio yang menyatakan bahwa

pembangunan nasional suatu negara dalam bentuk semua model apapun harus memasukkan dimensi lingkungan secara terpadu dan menyeluruh. Deklarasi ini dikenal dengan Agenda 21 Global yang oleh Indonesia diikuti dengan Agenda 21lndonesia. Inti dari agenda ini adalahmodel pembangunan berkelanjutan yang memadukan antara dimensi-dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Uraian tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu bersumber utama dari GWP (2001), Deklarasi Rio dan dari referensi-referensi lainnya, yang disadur dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008. a.1 Kritisnya pengelolaan sumber daya air Karena pertumbuhan penduduk maka kebutuhan pokok maupun sekunder akan meningkat. Aktifitas dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut akan juga meningkat baik dalam dimensi-dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Akibatnya terjadi eksploitasi alam yang berlebihan, perubahan tata guna lahan yang tak terkendali dan menurunnya daya dukung lingkungan. Multi-player effect dari aktifitas tersebut pada hakekatnya menimbulkan kecenderungan peningkatan bencana baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Sudah banyak disebutkan oleh para pakar bahwa ada paradoks antara penduduk dan air yaitu pertumbuhan penduduk yang meningkat mengakibatkan pengurangan ketersediaan air. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan sumber daya air terpadu sebagai solusi sekaligus pencegahan dan penyelesaian konflik. Gambar berikut ini menunjukkan uraian tersebut.

134

Gambar 8.1. Pengaruh pertumbuhan penduduk dan ketersediaan air (Kodoatie dan Sjarief, 2008).

ekonomi

terhadap

Dengan melihat Gambar 8.1 dapat diketahui bahwa pengelolaan sumber daya air pada kondisi air yang kritis akan menimbulkan berbagai macam konflik.Konflik utama yang terjadi adalah pada saat ketersediaan air tidak dapat memenuhi kebutuhan. Perebutan air akan menjadi pemicu konflik di antara stakeholders, yang pada waktu yang sama akan berusaha memenuhi kebutuhan air dengan ketersediaan yang jauh lebih kecil. Konflik lainnya adalah konflik yang berkaitan dengan perubahan tata guna lahan. Sebagai contoh: suatu lahan hutan dianggap oleh pengembang merupakan daerah idle yang harus dikembangkan untuk meningkatkan nilai ekonomi dari lahan tersebut. Lahan hutan akhirnya diubah menjadi lahan yang potensial secara ekonomi misal sebagai lahan industri. Secara ekonomi mernang lahan tersebut berkembang dan menjadi pusat pemikat aktifitas lainnya. Ketika lahan hutan sudah menjadi kawasan industri memang ada multi player effects dari perubahan ini, di antaranya terjadi peningkatan harga jual tanah yang berlipat, sistem infrastruktur yang terbangun lebih baik dan nyaman, timbulnya pemukiman baru yang berarti ada perubahan tata guna lahan.

135

Di sinilah letak terjadinya konflik kepentingan. Secara ekonomi perubahan tata guna lahan cukup atraktif. Namun biasanya yang terjadi, peningkatan ekonomi akibat perubahan lahan ini tidak dibarengi dengan kajian lingkungan atau sosial yang seimbang. Akibatnya sudah dapat dipastikan terjadi peningkatan banjir di wilayah hilirnya dan pengurangan daya tampung air akibat lahan resapan hilang. Oleh karena itu oleh pemerintah yang berfungsi sebagai enabler harus membuat ramburambu tentang perubahan tata guna lahan. Biasanya peraturannya sudah ada, tetapi aplikasi dari peraturan belum dilaksanakan. Oleh karena itu perlu dilakukan peningkatanlaw enforcement yang secara kontinyu. Dari uraian tersebut maka adalah sangat wajar bila John F. Kennedy menyatakan bahwa: Anyone who solves the problems of water deserves not one Nobel Prize but two one for science and the other for peace. a.2 Hal-hal substansi yang menyebabkan air perlu dikelola Dibandingkan sumber daya alam yang lain, air mempunyai ciri khas dan unik yang menyebabkan air menjadi spesial untuk dikelola. Hal-hal yang menyebabkan air perlu dikelola meliputi (GWP, 2001 dengan eIaborasi berdasarkan sumbersumber lainnya, diantaranya Hamengku Buwono X, 2002 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008): 1. Kondisi kebutuhan pangan dan air (sumberdaya alam). 2. Kondisi kebutuhan air dan tanah (sumberdaya alam). 3. Batas administrasi wilayah berbeda dengan batas teknis (DAS). 4. Perubahan tataguna lahan akan berpengaruh besar terhadap sumber daya air baik secara kuantitas maupun kualitas. 5. Tiap tata guna lahan membutuhkan air namun juga akan memberikan dampak keberadaan air di tata guna yang lain. Perubahan tata guna lahan memberikan dampak yang besar terhadap keberadaan air di lahan tersebut. 6. Recovery kerusakan tata guna lahan dan tata air yang terjadi umumnya akan sulit mengembalikan sampai sarna seperti semula. 7. Tiap kehidupan dan semua sektor sosial, budaya, ekonomi serta lingkungan bergantung air. 8. Kita tinggal dalam dan dengan siklus hidrologi artinya air secara terus menerus diisi ulang (renewable source), dipakai, dikembalikan dan dipakai lagi. Oleh karena itu kita semua bergantung satu sama lain.

136

9. Dalam kaitan dengan sumber daya air, kita hampir semuanya tinggal di hilir. Kita saling bergantung dan saling mempengaruhi. 10. lnfrastruktur keairan: alami dan buatan manusia. 11. Sistem infrastruktur keairan terikat dan saling bergantung dengan infrastruktur lainnya. 12. Tuntutan reformasi: demokrasi, transparansi, akuntabilitas. 13. Otonomi Daerah: munculnya egosentris kedaerahan, bahwa daerah saya bisa saya eksploitasi sesukanya. Konflik muncul akibat perbedaan batas teknis dan adminstrasi. 14. Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. 15. Globalisasi. 16. Keterbatasan dana. 17. Degradasi lingkungan yang parah. 18. Lemahnya penegakkan hukum (perlu law enforcement). 19. Krisis kepercayaan. 20. Krisis kebudayaan. a.3 Persoalan dan tantangan masa depan Air sebagai salah satu sumber kehidupan mempunyai berbagai macam fungsi. Di sisi lain, air juga merupakan bagian dari sumber daya alam. Dari kedua hal tersebut maka diperlukan suatu pengelolaan sumber daya air terpadu yang memberikan jaminan keberlanjutan air. Uraian tersebut ditunjukkan dalam gambar berikut ini.

Gambar 8.2. Kebutuhan pengelolaan terpadu untuk pencapaian keseimbangan fungsi dan peran air (Kodoatie dan Sjarief, 2008).

137

a.4 Saling ketergantunga pengelolaan dengan banyak hal Secara menyeluruh sumber daya air tergantung dari banyak hal yang memerlukan perpaduan baik dalam sistem alam maupun dalam sistem kehidupan. Perpaduan itu antara lain (GWP, 200l dengan modifikasi oleh Kodoatie dan sjarief, 2008): Perpaduan dalam sistem alam: antara pemakaian tanah dan air, antara permukaan air dan air tanah, antara jumlah dan kualitas air, antara hulu dan hilir, antara air tawar dan air asin, antara penyebab dan penerima dampak. Perpaduan pengelolaan untuk pencapaian keseimbangan ideal dalam sistem alam dan dalam sistem kehidupan (sistem manusia) langkah-langkah: pengutamaan air dalam sistem ekonomi, pengutamaan air dalam sistem sosial, pengutamaan air dalam sistem lingkungan, kepastian koordinasi antar sektorsektor, kepastian adanya kerjasama antara pengelolaan sektor umum dan pribadi, pengikut-sertaan semua stakeholders karena: water is eve,y one's business! a.5 Prinsip Dublin dan aplikasinya sebagai pemecahan masalah Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan (the United Nations conference on Environment and Development - UNCED) atau yang dikenal dengan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) yang diselenggarakan pada Bulan Juni 1992 di Rio de Janeiro. Konferensi ini menghasilkan Agenda 21 Global atau Agenda Rio 21 yang merupakan program kerja besar untuk Abad 20 sampai dengan Abad 21 yang mewujudkan hubungan kemitraan global yang bertujuan terciptanya keserasian antara dua kebutuhan penting, yaitu lingkungan yang bermutu tinggi dan perkembangan serta pertumbuhan ekonomi yang sehat bagi seluruh penduduk dunia. Berdasarkan agenda ini empat pesan yang sederhana namun ampuh dikembangkan Tahun 1992 di Dublin untuk visi-ke-aksi minenium, yaitu: Air tawar adalah terbatas dan sumber yang lemah, sangat penting untuk mempertahankan kehidupan, pengembangan dan lingkungan yaitu satu sumber dikelola secara holistik. Pengembangan dan pengelolaan air harus didasari dalam pendekatan partisipatif, melibatkan pemakai, perencana dan penentu kebijakan dalam semua tingkatan yaitu mengelolaair dengan manusia dan dekat dengan manusia.

138

Perempuan mempunyai peran sentral dalam ketentuan, pengelolaan dan perlindungan air yaitu mengikutsertakan perempuan seluruhnya. Air memiliki nilai ekonomi dalam setiap pemakaian kompetitifnya dan harus dipahami sebagai benda ekonomi: Merupakankebutuhandasar,distribusiair sampainilai tertinggi. Mengarahkanpada penentuan harga penuh untuk mendorongpemakaian rasional dan harga pemulihan (recovery cost). Prinsip Dublin bertujuan kepada pengelolaan air yang bijaksana dengan fokus pada kemiskinan. Sebagaimana sering diungkapkan bahwa pengelolaan yang buruk hampir selalu memberikan dampak buruk bagi yang tidak mampu (miskin): Poor water management hurts the poor most! a.6 Perubahan paradigma Saat ini telah terjadi perubahan paradigma yang cukup mendasar dari pola pembangunan. Paradigma baru ini adalah perubahan-perubahan: Dari pengelolaan air sektoral ke sektor silang. Pengelolaan sumber daya air terpadu yang mengutamakan dialog. Dari top-down to bottom-up approach. Yang demokratis, transparan dan akuntabilitas. Dari sentralisasi ke desentralisasi (otonomi daerah). Albertson (1999) mengembangkan suatu konsep pengembangan desa untuk pembangunan berkelanjutan yang disebut "Village Earth Model for Sustainable Village-Based Development". Salah satu prinsip dasarnya adalah perubahan pendekatan dari top-down to bottom-up approach dengan karakteristik-karakteristik dasar: Mendengarkan dan bertanya dulu, bukan not giving answer directly. Interaksi, diskusi dan penciptaan konsensus, bukan pemaksaan kehendak dari solusi top-down. pemecahan masalah bersama-sama dengan prinsip kemitraan (partnership), bukan pemaksaan perbaikan technicany correct. Partisipasi aktif dalam pembuat keputusan, bukan pasif dan (kemudian) memakai saran dari luar. Berbagi kebersamaan untuk mendapatkan teknologi tepat guna, bukan technology transfer.

139

Pemakaian pengetahuan/ilmu lokal dan ilmiah beriringan (simultan), bukan suatu pemakaian yang exclusive. Belajar yang saling menguntungkan, bukan we know what is best. Kontrol internal, bukan eksternal. Penciptaan tim sukses, bukan controned by elites.

B. Definisi Pengelolaan sumber daya air terpadu Pengelolaan sumber daya air terpadu merupakan penanganan integral yang mengarahkan kita dari pengelolaan air sub-sektor ke sektor silang. Secara lebih spesifik pengelolaan sumber daya air terpadu didefinisikan sebagai suatu proses yang mempromosikan koordinasi pengembangan dan pengelolaan air, tanah dan sumber daya terkait dalam rangka tujuan untuk mengoptimalkan resultan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam sikap yang cocok/tepat tanpa mengganggu kestabilan dari ekosistem-ekosistem penting (GWP, 2001). Menurut Grigg (1996), pengelolaan sumber daya air didefinisikan sebagai aplikasi dari cara struktural dan non-struktural untuk mengendalikan sistem sumber daya air alam dan buatan manusia untuk kepentingan/manfaat manusia dan tujuantujuan lingkungan. Tindakan struktur (structural measures) untuk pengelolaan air adalah fasilitas-fasilitas terbangun (constructed facilities) yang digunakan untuk mengendalikan aliran dan kualitas air. Tindakan-Tindakan non struktur (nonstructural measures) untuk pengelolaan air adalah program-program atau aktifitasaktifitas yang tidak membutuhkan fasilitas-fasilitas terbangun. Grigg (1996) juga mendefinisikan beberapa hal tentang sumber daya air, meliputi: Sistem sumberdaya air adalah sebuah kombinasi dari fasilitas-fasilitas

pengendalian air dan elemen-elemen lingkungan yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan pengelolaan air. Sistem sumberdaya air alami adalah sekelompok elemen hidrologi dalam lingkungan alam yang tediri dari atmosfir, daerah aliran sungai, sungai-sungai, lahan basah, daerah banjir (flood plains), akuifer dan sistem aliran air tanah, danau, estuari, laut dan lautan.

140

Sistem sumberdaya air buatan manusia adalah sekelompok fasilitas yang dibangun yang dipakai sebagai pengendali aliran air baik secara kuantitas maupun kualitas. Sistem tata pengairan merupakan susunan tata letak sumber air, termasuk bangunan pemanfaatan yang sesuai ketentuan teknik pembinaan di suatu wilayah. Environmental Energy Study Institute Task Force (1991) mendefinisikan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) sebagai sebuah proses yang memenuhi kebutuhan saat ini tanpa membahayakan kemampuan kita untuk memenuhi kebutuhan yang akan datang. Sedangkan Center for Global Studies (1993) mendetinisikan pembangunan berkelanjutan menjadi beberapa: Suatu bentuk dari pertumbuhan cerdas yang memanfaatkan revolusi teknolgi tinggi dan restrukturisasi ekonomi untuk mengelola semua pertumbuhan ini dalam karakteristik/sifat yang lebih canggih . yang ramah ekologis. Tidak menghasilkan apa-apa sampai kita mempunyai sebuah jalan yang mengintegrasikan penuh the product, its by-product, and any by-product dari proses produksi rnasuk ke dalam sistem dengan sifat/karakter positif. Prinsip dasarnya adalah bahwa kita hidup dari aliran (flows) bukan dari penyediaan (stocks). Keterpaduan yang tepat dari lingkungan yang memperhatikan proses

pengembangan. Dalam dunia yang sempurna, sebuah pelayanan akhir seperti keamanan sosial harus/akan berkelanjutan. Dengan kata lain, ada sebuah pola yang melingkar dari pembaharuan yang kontinyu atau terus menerus. Melalui/lewat setiap generasi suatu tingkat populasi, satu kumpulan teknologi, dan sebuah ketersediaan lahan yang subur dan minyak dari fosil yang membuat semuanya melakukan sedikitnya apa yang sudah kita perbuat. C. Kerangka Konsepsional Pengelolaan sumber daya air memerlukan kerangka konsepsional, karena: Semua pihak menyadari bahwa rnasalah sumber daya air adalah kompleks. . Wilayah sumber daya air dapat berupa bagian dari pengembangan wilayah baik

141

perkotaan (urban) dan perdesaan (rural) serta dapat juga merupakan bagian regional administratif (pusat, provinsi, kabupatenlkota). Adanya relasi antara Rencana Tata Ruang wilayah (RTRW) dengan master plan sumber daya air. Adanya batas teknis (hidrologi), DAS dan daerah aliran air tanah (groundwater basin) yang pada kondisi wilayah tertentu bisa sarna ataupun berbeda dengan DAS. Batas teknis (hidrologi) bisa sarna ataupun berbeda dengan batas adrninistrasi, Pembagian sumber daya air menjadi aliran permukaan tanah dan air tanah. Untuk aliran permukaan pembagian bisa dilihat dari daerah aliran sungai (batas hidrologi) dan bisa dilihat batas adrninistrasi (provinsi, kabupaten/kota). Demikian pula untuk airtanah walaupun penentuan wilayahnya lebih sulit dibandingkan dengan aliran permukaan. Pengelolaan sumber daya air dapat dibagi dengan melihat alam (natural) atau buatan manusia (man-made). Sistem sumber daya air dapat dilihat sebagai bagian dari infrastruktur khususnya infrastruktur keairan. Pengelolaannya bisa dilihat dari fungsinya: irigasi, drainase, sumber air, dll. Pengelolaannya harus dipandang sebagai sesuatu yang integrated,

comprehensive and interdependency. John Muir (dalam Chesepeake Bay Program 1994) menyimpulkan saling ketergantungan (interdependency) sebagai .When we fly to pick out anything by itself, we find it hitched evelything else in the universe yang kira-kira artinya apabila kita mencoba memilih/mengambil satu hal saja, kita temui bahwa satu hal tersebut tertambat dan terikat pada semua hal. Global Water Partnership (GWP, 2001), menawarkan suatu konsep

keterpaduan yang menarik untuk Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Menurut GWP (2001), elemen-elemen penting dalam Manajemen Sumber Daya Air Terpadu dapat dikelompokkan dalam 3 elemen utama yaitu: The enabling environment adalah kerangka umum dari kebijakan nasional, legislasi, regulasi, finansial untuk pengelolaan SDA oleh stakeholders. Fungsinya merangkai dan membuat kebijakan, peraturan serta finansialnya. Sehingga dapat disebut sebagai rules of the games.

142

Peran-Peran Institusi (institutional roles) merupakan fungsi dari berbagai tingkatan administrasi dan stakeholders. Perannya mendefinisikan para pelaku. Alat-alat manajemen (management instruments) merupakan instrument

operasional untuk regulasi yang efektip, monitoring dan penegakkan hukum yang memungkinkan pengambil keputusan untuk membuat pilihan yang informatif diantara aksi-aksi alternatif. Pilihan-pilihan ini harus berdasarkan kebijakan yang telah disetujui, sumberdaya yang tersedia, dampak lingkungan dan konsekuensi sosial dan budaya. Ketiga komponen tersebut sangat tergantung adanya kesadaran populis dan kemauan dari semua pihak untuk bertindak dengan sikap yang tepat. Pemerintah sebagai yang membolehkan atau memungkinkan (enabler) dan fasilitator (bukan pemerintah sebagai manajer top-down), dibantu stakeholders yang lain mempunyai fungsi dan peran antara lain: Merumuskan kebijakan air nasional. Menjadikan atau membuat legislasi sumber daya air. Membuat norma, standard, pedornan, manual. Memastikan pernisahan pengaturan dan fungsi-fungsi ketentuan pelayanan. Mendorong dan mengatur sektor swasta ataupun lokal. Mendorong dan mengatur sumber daya air air antar daerah (lintas batas). Mendorong diadakannya dialog dengan negara tetangga. Mengkondisikan bahwa water is every one's business. Dalam peran institusi, semua pihak dalam semua tingkat dan semua sektor (seluruh stakeholders) harus berpartisipasi, berbicara, berdialog dan berkomunikasi satu sama lain untuk dapat: Memusatkan koordinasi di level tertinggi sampai ke level yang terendah mulai pusat, provinsi, kabupaten/kota. Membuat badan koordinasi di level wilayah teknis (wilayah sungai ataupun daerah aliran sungai). Mengkoordinasikan kabupaten/kota ). Memindahkan tanggung jawab di tingkat lebih rendah. Mengembangkan sumber daya manusia dan kapasitas institusi. di tingkat wilayah adrninistrasi (pusat, provinsi,

143

Alat-alat pengelolaan dibutuhkan oleh pengelola air untuk bekerja dengan maksud dan tujuan diantaranya meliputi (GWP, 2001): a. Penafsiran sumber daya air: Jaringan koleksi data dan teknik penilaian. Teknik-teknik analisis dampak lingkungan. Instrumen pengelolaan resiko, rnisalnya untuk banjir dan kekeringan.

b. Komunikasi dan informasi: Peningkatan kesadaran suatu gerakan air. Inforrnasikan partisipasi para-pihak.

c. Resolusi konflik dan alokasi: Alokasi lewat instrumen pasar. Alokasi berdasarkan evaluasi biaya manfaat. Instrumen untuk penyelesaian konflik: hulu melawan hilir, sektor melawan sektor, manusia melawan alam. d. Instrumen pengaturan (3 tipe): Kontrol langsung yaitu dengan pengaturan, standar, pedornan, norma sebagai contoh: perencanaan tata guna lahan yang sesuai dengan rencana tata ruang wilayah (RTRW) di mana RTRW sudah disahkan menjadi peraturan daerah, pengaturan utilitas, dsb. Instrumen ekonorni yaitu dengan penentuan harga, tarif, subsidi, barang berharga, pembayaran, pasar, pajak, dsb., dengan tiga prinsip dasar: prinsip "pemakai membayar" (user pays principle), prinsip "pelaku polusi membayar" (polluter pays principle), dan prinsip "subsidi pelaku yang baik, denda pelaku yang buruk" (subsidise the good, tax the bad). Pengkondisian untuk mendorong pengaturan diri sendiri dengan titik kontrol transparan sebagai contoh pemberian label pada produk, kesadaran untuk tidak membuang sampah di sebarang tempat, dsb. e. Teknologi: Riset dan pengembangan. Petunjuk penilaian teknologi. Petunjuk pemilihan teknologi. Pernilihan teknologi tepat guna.

144

f. Finansial: Investasi dalam pengelolaan sumber daya air oleh semua para pihak. Pembiayaan untuk pemeliharaan. Pengembalian manfaat untuk masyarakat. Dilihat dari cakupan permasalahan pengelolaan sumber daya air, Grigg dan Fontane (2000) menyatakan bahwa permasalahan yang dihadapi adalah sangat kompleks. Kompleksitas dapat dari berbagai sudut yang dikelompokkan menjadi 4, meliputi: 1. Ketergantungan, 2. Driving force dan persoalan, 3. Pembagian perhatian, dan 4. Sistem infrastruktur keairan. Masing-masing kelompok menyangkut multiaspek. Solusinya juga mencakup multi aspek dengan sasaran akhir adalah sebagai pendukung sistem ekonomi, sosial di dalam lingkungan yang harmoni. Oleh karena itu diperlukan suatu pengelolaan sumber daya air terpadu, menyeluruh dan berwawasan lingkungan dengan segitiga keseimbangan dan skenario manajemen sumber daya air terpadu seperti dijelaskan dalam Gambar 8.3.

Gambar 8.3 Segitiga keseimbangan sosial, ekonomi dan ekosistem untuk PSDA Terpadu dan Berkelanjutan (GWP, 2001 dalam Kodoatie dan Sjarief, 2008) Detail dari komponen-komponen konseptual yang diusulkan oleh GWP (2001) dalam Kodoatie dan Sjarief (2008) sebagai berikut: 1. Enabling Environmental Enabling environment dapat diterjemahkan sebagai suatu pengkondisian yang memungkinan terjadi. Dalam hal pengelolaan sumber daya air, maka pengertian enabling environment adalah hal-hal utama atau substansi-substansi pokok yang membuat pengelolaan dilakukan dengan cara-cara, strategi dan langkah-Iangkah ideal yang tepat sehingga tercapai tujuan pengelolaan yang optimal. Menurut GWP

145

(2001), ada tiga hal substansi di dalam pengkondisian itu, yaitu: kebijakan, kerangka kerja legislatif dan finansial. Uraian tentang ketiga hal tersebut ditunjukkan berikut ini dengan referensi utama diambil dari GWP (2001), Swiss Centre of Hydrogeology (2003), UU No. 7 Tahun 2004 dan referensi-referensi lainnya. Kebijakan Kebijakan tentang pengelolaan sumber daya air harus mengarahkan pada aspek-aspek konservasi, perlindungan dan pemanfaatan sumber daya air. Secara lebih pesifik untuk Indonesia maka kebijakan PSDA sesuai dengan UU Sumber Daya Air adalah konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan

pengendalian daya rusak air. Oleh karena itu kebijakan yang diciptakan harus diarahkan pada tujuan dalam ketiga aspek utama tersebut. Kebijakan ditetapkan oleh pemerintah yang dapat dimengerti oleh semua lapisan masyarakat. Hal ini merupakan suatu usaha yang sangat sulit karena pada hakekatnya membuat kebijakan yang bisa diterima semua pihak, yang dapat dilaksanakan secara terpadu dan yang menguntungkan semua lapisan masyarakat adalah merupakan pekerjaan yang sangat sulit dan kompleks. Salah satu dasar pemikiran seperti yang telah disebutkan dalam uraian ebelumnya adalah bahwa air merupakan salah satu sumber kehidupan dan bagian dari sumber daya alam. Artinya air mutlak dibutuhkan untuk berbagai aktifitas dan sekaligus merupakan sumber yang pada saat dan lokasi tertentu keberadaannya tidak seperti yang diharapkan. Di daerah tertentu ada yang kekurangan air yang berlebih sehingga menimbulkan bencana banjir dan longsor. Konsep dasamya adalah bagaimana bisa diperoleh keseimbangan antara ketersedian dan kebutuhan yang berkelanjutan. Kebijakan yang baik harus dapat menanggulangi inter-relasi dan persoalan yang sulit dalam Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. Secara makro hal-hal yang perlu diakomodir dalam penentuan kebijakan diantaranya: Sumber Daya Air harus dilihat dari aspek-aspek lingkungan, ekonomi dan sosial. Stakeholder yang berperan sebagai pengelola sumber daya air yang meliputi penyedia pelayanan (service provider), pengatur (regulator), perencana (planner), organisasi pendukung (support organizations), pemakai (user) (Grigg, 1996).

146

Perhatian terhadap keberlanjutan sumber daya air dan isu-isu lingkungan dalam proses pembangunan mulai dari: studi, perencanaan, pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan. Dampak sosial dalam pengembangan sumber daya air. Pemenuhan kuantitas dan kualitas yang tetap untuk air permukaan dan airtanah. Keterkaitan kebijakan sumber daya air dengan kebijakan ekosistem yang lain. Kebutuhan biaya untuk pengelolaan sumber daya air. Kerangka Kerja Legislatif Pengertian kerangka kerja legislatif secara implisit adalah bahwa kebijakan tentang sumber daya air yang diterjemahkan dalam aspek hukum. Dengan kata lain perlu ada peraturan perundangan tentang sumber daya air yang dipakai sebagai acuan hukum. Dalam hal ini Indonesia saat ini telah memiliki UU tentang air yaitu UU No.7 Tentang Sumber Daya Air. UU yang baru ini bertujuan untuk: Memastikan dan meyakinkan bahwa Sumber Daya Air adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa dan dapat memberikan manfaat untuk mewujudkan

kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia dalam segala bidang. Antisipasi terhadap keseimbangan ketersediaan air yang cenderung menurun .dan kebutuhan air yang semakin meningkat. Mengimplementasikan PSDA dengan keseimbangan harmoni dari fungsi-fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi. Dapat melakukan PSDA yang terpadu antar wilayah, antar sektor, dan antar generasl. Dapat melibatkan peran masyarakat dengan semangat demokratisasi,

akuntabilitas, desentralisasi, dan keterbukaan dengan dasar bahwa air dibutuhkan oleh semua pihak atau water is every one's business. Pengganti UU No. 11 Tahun l974 tentang Pengairan yang sudah tidak sesuai dengan dinamika, pengembangan dan pembangunan segala bidang. Setelah UU tentang Sumber Daya Air berlaku maka perlu dibuat peraturan perundangan pada tingkatllevel di bawah UU ini, seperti: Peraturan Pemerintah (PP), Peraturan Presiden (PerPres), Peraturan Daerah (Perda) Provinsi, Perda

Kabupaten/Kota. Kerangka legislatif ini berperan sebagai rambu-rambu yang harus dipatuhi oleh semua pihak karena:

147

Air sebagai salah satu sumber kehidupan bersifat multi guna sekaligus berpotensi menimbulkan konflik. Peraturan dan penmdangan tentang sumber daya air dapat berfungsi untuk dasar dan kerangka kerja pengelolaan yang terpadu. Air perlu dikelola oleh semua pihak. Dalam kerangka legislatif perlu dijelaskan peran dari para pihak baik yang sinergi maupun yang kontra. Air diperlukan sepanjang hidup sehingga kerangka legislatif ini harus dapat meyakinkan eksistensi sumber daya air yang berkelanjutan. Perolehan air tidak boleh untuk spekulasi atau dibiarkan mengalir tanpa digunakan atau dibuang percuma (waste). Di tempat pemakaian akhir air masih dapat dirnanfaatkan dan secara sosial dapat diterima sisa pemakaian tersebut (conjunctive use). Artinya pembuangan akhir air tidak menimbulkan masalah sosial di bagian hilirnya akibat pemanfaatan di bagian hulu misalnya tercemar, beracun dll. Air tidak boleh untuk pemakaian yang salah, pernakaiannya harus cukup beralasan dibandingkan dengan pemakaian yang lainnya. Kunci utama untuk peraturan tentang air yang baik Oleliputi: Transparan terhadap alokasi dan hak penguasaan untuk mengurangi potensi kegelisahan sosial yang pada akhirnya bisa menimbulkan konflik sosial. Terbuka (transparan) dan demokratis dalam menetapkan suatu persyaratan sebelum hak-hak dan kewajiban atas sumber daya air diputuskan, dengan tujuan untuk menghindari konflik-konflik ekonomi, sosial ataupun politik bilamana terjadi perubahan. Akuntabilitas dalam pengembangan dan pengelolaan sumber daya air. Informasi yang cukup dan data memadai mengenai sumber daya air permukaan tanah dan airtanah. Penentuan suatu mekanisme yang memastikan bahwa alokasi air antara kebutuhan kompetitif cocok dengan pemanfaatan berkelanjutan. Akomodasi untuk hal-hal yang bersifat kekal. Walaupun beberapa sistem legal mengizinkan hak-hak yang bersifat kekal abadi, konsesi batas waktu cenderung dipilih untuk hak-hak kekal tersebut. Finansial Agar suatu pengelolaan dapat terimplementasi dengan baik dan benar maka salah faktor enabling environment yang penting adalah faktor tinansial. 2. Peran institusi dan pelaku

148

Untuk suatu pengelolaan (manajemen) dapat berjalan dengan baik maka perIu adanya fase utama dan fungsi manajemen, meliputi: Pengorganisasian (coordinating), (organising), Pengendalian Kepemimpinan (controlling), Perencanaan (planning), Pengkoordinasian (supenvising),

(directing), Pengawasan

Penganggaran (budgeting), dan Keuangan (financing). Ada juga yang melihat manajemen dari 6M yaitu: Man (sumber daya manusia); Money (finansial atau pendanaan); Material (bahan yang dibutuhkan dan dihasilkan); Method (metode yang dipakai); Machine (peralatan yang dipakai); dan Market (pemasaran). Penciptaan Kerangka Kerja Organisasi Untuk pengelolaan sumber daya air maka perlu ada organisasi. Organisasi ini memberikan kerangka kerja pengelolaan sumber daya air terpadu, menyeluruh dan berwawasan lingkungan. Dalam implementasi pengelolaan, hal yang tersulit adalah bagaimana semua pihak dapat melakukan koordinasi pengelolaan terutama dalam sistem skala yang cukup besar. Karena untuk dapat diaplikasikan secara sukses maka: diperlukan pengendali). perlu pemahaman dan kesepakatan bahwa pengelolaan sumber daya harus merupakan suatu proses yang jelas. pegelolaan harus sebagai promosi yang mengarah pada keberlanjutan dU. Peran, tanggung jawab dan manfaat dari organisasi atau institusi dalam sumber daya air bermacam-macam. Pada prinsipnya peran dari organisasi ini dapat dikelompokkan menjadi 6 group (Grigg, 1996), yaitu: Penyedia pelayanan: bisa pemerintah (institusi), bisa kemitraan pemerintah dengan stakeholders. Pengatur (fasilitator) umumnya unsur pemerintah. Perencana dapat dari pemerintah, konsultan, perguruan tinggi, LSM bahkan masyarakat tergantung dari jenis, kapasitas . dan volume kegiatan. Pelaksana. Organisasi pendukung misalnya Himpunan Ahli Teknik Hidraulik (HATHI), KNI ICID, PH, dU. Pemakai (user): semua stakeholders. banyak faktor pendukungnya (misalnya faktor-faktor sebagai

149

Persoalan-persoalan sumber daya air yang spesifik (unique) dapat dilihat dari isu-isu institusional. Setiap hal yang lokal maupun setiap jenis persoalan akan menonjolkan (memunculkan) isu-isu institusional yang berbeda. Namun demikian, kerangka kerja yang terpadu dan menyeluruh berlaku untuk semua persoalan dan dibutuhkan untuk menembus (memecahkan) kebingungan atau kekacauan yang timbul akibat struktur yang rumit (kompleks) dan ketidak fokusan yang ditemukan dalam persoalan-persoalan dengan skala besar (Grigg,1996). Salah satu model kerangka kerja pengelolaan yang terdiri dari 15 elemen dinyatakan oleh Grigg (1996) seperti diilustrasikan dalam gambar berikut ini.

Gambar 8.4 Lima belas (15) elemen model kerangka kerja untuk tindakan terorganisasi (Grigg, 1996; Kodoatie dan Sjarief, 2008) Manfaat dari kerangka kerja organisasi ini adalah antara lain untuk dapat terjalin kerjasama, pembagian tugas sesuai fungsi, hak dan kewenangan, terjadinya suatu hubungan kerja yang harmonis, dan untuk dapat melakukan pengelolaan yang efisien dan efektif. Peran Publik dan Swasta a. Reformasi Institusional Sektor Publik Ada beberapa elemen umum untuk reformasi khususnya dalam peningkatan efisiensi penyediaan pelayanan yang meliputi: Otonomi yang lebih besar dari pemerintah (pusat) ke daerah, pemberian kesempatan dari pihak swasta untuk peningkatan peran.

150

Komitmen yang kuat untuk mengawasi target-target penampilan (missal: penyambungan baru, pengurangan kebocoran, reliabilitas, kecepatan

pengumpulan dana). Perbaikan tarifuntuk meningkatkan pengembalian biaya (cost recoveIY). Motivasi dan pelatihan dari para pelakulpelaksana di lapangan, berorientasi pada kebutuhan pelanggan. Pelayanan sub-kontrak kepada sektor swasta (atau peningkatan kerjasama antara pemerintah dan swasta ) bila cara ini lebih layak dan efisien. Restmkturisasi organisasi untuk merefleksikan tujuan dan orientasi bam. b. Institusi Masyarakat Umum dan Organisasi komunitas Institusi dan organisasi ini diperlukan untuk hal-hal, antara lain: Advokasi dengan dasar proteksi lingkungan dan alamo Mempertinggi pengetahuan air untuk menyadarkan masyarakat pentingnya pengelolaan ketersediaan dan kebutuhan air yang berkelanjutan. Advokasi untuk yang lemah dan yang terpinggirkan. Mobilisasi masyarakat lokal supaya turut ikut serta dalam pengelolaan sumber daya air lokal dan pengiriman air. Pemegang peran kuat dalam pengelolaan airtanah (groundwater basin) maupun air permukaan. Dalam konteks urban, institusi dapat memainkan peranan penting dalam pembangunan dan pandangan tentang penyediaan air dan sistem sanitasi. Kolaborasi antar penyedia pelayanan dan organisasi masyarakat dapat

memperkuat rasa memiliki dari masyarakat umum dan membangun pengelolaan air dalam level atau jenjang komunitas. c. Wewenang Lokal Yuridiksi dan aktifitas yang yang terlalu luas dalam pengelolaan sumber daya air terpadu menyebabkan timbulnya kesulitan dalam generalisasi efektifitas. Oleh karena itu diperlukan hal-hal: Partisipasi aktif semua pihak dalam pembuatan keputusan dan keterlibatan dalam dialog nyata dengan pembuat keputusan sehingga cukup stabil dengan perubahanpemerintahan. Kemudahan akses publik kepada informasi dasar mengenai kualitas dari sumber daya air lokal dan masalah yang 'berhubungan dengan jaminan air jangka

151

panjang untuk masyarakat sangatlah penting. Hal ini juga untuk meningkatkan peran dan tanggung jawab masyarakat. Kepemimpinan lokal sangat dibutuhkan untuk mengawali proses berkelanjutan pengelolaan sumber daya air dalam masyarakat. Perencanaan jangka panjang perlu dilakukan dengan kegiatan yang nyata untuk mempertahankan kepentingan dari para-pihak. Perubahan terhadap aturan daerah adalah efektif jika dihubungkan dengan perubahan nyata dalam peran dan tanggung jawab organisasi pemerintah restnl. Para-pihak berbasis inisiatif dapat memainkan peran yang penting dalam menembus kendala-kendala politis pada aktivitas pengelolaan sumber air terpadu di daerah urban. d. Peran Sektor Swasta Bentuk peran sektor swasta yang membantu pemerintah dikenal atau diwujudkan dengan istilah kemitraan atau kerjasama. Beberapa macam bentuk kemitraan antara lain meliputi (Direktorat Bina Tata Perkotaan dan Perdesaan, DitJen Cipta Karya, Dep. PD, 1999): Kontrak Pelayanan (Service Contract). Kontrak Kelola (Management Contract). Kontrak Sewa (Lease Contract). Kontrak Bangun: Kontrak Bangun, Kelola, Alih Milik (Build. Operate, and Transfer Contract). Kontrak Bangun, Alih Milik (Build PIan Transfer Contract). Kontrak Bangun, Alih Milik, dan Kelola (Build, Transfer. and Operate Contract). Kontrak Bangun, Sewa, dan Alih Milik (Build. Lease, and Transfer Contract). Kontrak Bangun, Milik, dan Kelola (Build, Own, and Operate Contract). Kontrak Rehabilitasi, Milik, dan Operasi (Rehabilitate. Own, and Operate Contract). Kontrak Rehabilitasi, Kelola, dan Alih Milik (Rehabilitate, Operate and Transfer Contract). Kontrak Kembang/Bangun, Kelola, dan Alih Milik (Develop/Build Operate and Transfer Contract). Kontrak Tambah dan Kelola (Add and Operate Contract).

152

Kontrak Konsesi (Concession Contract). Joint ventures in operating companies.

153

III. Penutup 1. Rangkuman Pengelolaan sumber daya terpadu adalah suatu proses yang mempromosikan koordinasi pengembangan dan pengelolaan air, tanah dan sumber daya yang terkait dalam rangka bertujuan untuk mengoptimalkan resultan ekonomi dan kesejahteraan sosial dalam tindakan yang tepat tanpa mengganggu kestabilan dari ekosistemekosistem penting. Pengelolaan sumber daya air harus dilakukan secara Terpadu, Menyeluruh dan Berwawasan Lingkungan. Hal ini menjadi keharusan karena saat ini pengelolaan sumber daya air sudah dalam kondisi kritis, akibat pertumbuhan penduduk yang semakin meningkat. Akibatnya adalah aktifitas manusia dalam rangka pemenuhan kebutuhannya juga meningkat, baik dalam dimensi ekonomi, sosial dan lingkunga. Dalam kondisi demikian maka rawan terjadinya konflik. Untuk itu, maka air harus dikelola dengan baik. Pengelolaan sumber daya harus dilakukan secara terpadu dengan dasar: (1) air merupakan salah satu sumber kehidupan dengan

berbagaimacam fungsi; dan (2) air merupakan bagian dari sumber daya alam. Dengan pengelolaan secara terpadu, maka keberlanjutan sumber daya air lebih terjamin. 2. Tugas dan Latihan Lakukan studi kasus tentang pengelolaan sumber daya air, apakah dilakukan secara terpadu dan menyeluruh sehingga kegiatan pengelolaan berhasil atau gagal. 3. Indikator Pencapaian 1. Mahasiswa mampu menjelaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air secara terpadu. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan perbedaan mendasar antara pengelolaan secara terpadu dengan pengelolaan secara menyeluruh. 4. Sumber/Referensi 1. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. 2. Global Water Partnership (GWP), 2001. Integrated Water Resources Management. Stockholm: GWP Box.

154

3. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. 4. Lenton, R. dan M. Muller, 2009. Integrated water resources management in practice: better water management for development. UK,MPG Books Ltd. 5. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan pentingnya dilakukan pengelolaan sumber daya air secara terpadu. 2. Dosen menjelaskan prinsip dasar pengelolaan sumber daya alam secara terpadu dan secara menyeluruh. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas dengan mengangkat studi kasus 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi untuk mempertajam pemahaman mahasiswa serta memberi latihan dalam berargumentasi.

155

SESI/PERTEMUAN KE-9 (Kesembilan) PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BERDASARKAN UNDANG-UNDANG SUMBER DAYA AIR Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam menunjang keberlanjutan Sumber Daya Air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan aturan-aturan dalam pengelolaan sumber daya air. Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi ini secara umum memuat tentang aturan pengelolaan sumbur daya air menurut undang-undang. Hal ini secara umum berdasarkan pada Undang-undang Sumber Daya Air No. 7 tahun 2004. Dalam materi ini dibahas mulai dari dasar mengapa undang-undang ini dibuat berdasarkan pada aspek Legalitas, Yuridis dan Rekayasa. Selanjutnya dalam materi ini juga dibahas tentang asas dan cara pengelolaan sumber daya air, pilar pengelolaan sumber daya air agar berkelanjutan, serta kerangka undang-undang Sumber Daya Air itu sendiri. Beberapa aspek pengelolaan juga dibahas dalam materi ini, berdasarkan pada aturan dalam undang-undang Sumber Daya Air. Bahasan terakhir adalah pola dan rencana pengelolaan sumber daya air. Semua bahasan pada akhirnya berujung pada keberlanjutan sumber daya air. I. Bahan Bacaan: 1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. 2. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air II. Bacaan Tambahan: 1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 2. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006 tentang Irigasi 4. van Koppen, B., M. Giordano dan J. Butterworth, 2007. Community-based Water Law and Water Resource Management Reform in Developing Countries. London: UK, Biddles Ltd. III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam menunjang keberlanjutan Sumber Daya Air di Indonesia. 2. Bagaimana Undang-undang Sumber Daya Air dalam mengatur pengelolaan sumber daya air. IV. Lain-lain: Lakukan studi lapangan dan buatlah analisis tentang pengeloaan sumber daya air hubungannya dengan penerapan aturan dalam UU Sumber Daya Air.

156

Bab 10. Pembelajaran 9 (Pengelolaan Sumber Daya Air Berdasarkan Undang-ndang Sumber Daya Air) I. Pendahuluan UU Sumber Daya Air telah berlaku dengan disahkannya UU No.7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai pengganti UU No. 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Menurut UU SD Air dua komponen utama sumber daya air adalah air permukaan (surface water) dan airtanah (groundwater). Untuk pengelolaan air permukaan, wilayah sungai merupakan konsep dasarnya. Definisinya adalah suatu kesatuan sumber daya air yang dapat merupakan satu atau lebih daerah aliran sungai (DAS). Sedangkan untuk pengelolaan airtanah, cekungan air tanah (CAT) atau groundwater basin sebagai acuannya. Pada prinsipnya ada beberapa hal substansi yang sama dengan pengelolaan sumber daya air terpadu seperti yang telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya. 1. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam menunjang keberlanjutan Sumber Daya Air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan aturan-aturan dalam pengelolaan sumber daya air. 2. Sumber/Referensi 1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. 2. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. Strategi Pembelajaran
1. Dosen menjelaskan tentang Undang-undang Sumber Daya Air, mulai dari dasar keberadaan undang tersebut, kerangka undang-undang hingga hal-hal pokok yang diatur termasuk aspek yang pengelolaan. 2. Dosen juga menjelaskan peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam keberlanjutan Sumber Daya air. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas dengan mengangkat studi kasus 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah 5. Melakukan diskusi untuk mempertajam pemahaman mahasiswa serta memberi latihan dalam berargumentasi.

157

II. Uraian Materi Beberapa hal substansi dalam UU No.7 Tahun 2004 sebagai berikut: A. Dasar legalitas Ada tiga dasar legaIitas, yaitu filosofis, yuridis dan rekayasa (Dep. Kimpraswil, 2004) sebagai betikut: 1. Filosofis SDA karunia Tuhan untuk masyarakat Keseimbangan ketersediaan air yang cenderung menurun dan kebutuhan air yang semakin meningkat. PerIu Pengelolaan SDA dengan keseimbangan fungsi sosial, lingkungan hidup dan ekonomi. Pengelolaan SDA terpadu antar wilayah, antar sektor, dan antar generasi. PerIu peran masyarakat semangat demokratisasi, desentralisasi, dan keterbukaan. 2. Yuridis . Aspek yuridis mengacu kepada pasal-pasal dalam UUD 1945 Hasil Amandemen sesuai yang disebutkan dalam "Mengingat" yaitu: Pasal 5 Ayat (1), Pasal18, Pasal18A, Pasal20 Ayat (2), Pasal22 hurufD Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), Pasal 33 Ayat (3) dan Ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Hasil Amandemen. Yang terkait secara substansi dengan tujuan Pengelolaan Sumber Daya Air. Pasal18: substansi otonomi Pasal 18A: tentang kewenangan pemerintah dan pemanfaatan sumber daya air. Pasal 33 Ayat (3): Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalanmya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besar kemakmuran Rakyat. 3. Rekayasa: Air sebagai sumber kehidupan masyarakat secara alami keberadaannya bersifat dinamis mengalir ke tempat yang lebih rendah tanpa mengenal batas wilayah adnlinistrasi.

158

Keberadaan air mengikuti siklus hidrologis yang erat hubungannya dengan kondisi cuaca pada suatu daerah sehingga menyebabkan ketersediaan air tidak merata dalam setiap waktu dan setiap wilayah. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk dan meningkatnya kegiatan masyarakat mengakibatkan perubahan fungsi lingkungan yang berdampak negatif terhadap kelestarian sumber daya air dan meningkatnya daya rusak air. Hal tersebut menuntut Pengelolaan Sumber Daya Air yang utuh dari hulu sampai ke hilir dengan basis wilayah sungai dalam satu Pola Pengelolaan Sumber Daya Air tanpa dipengaruhi oleh batas-batas wilayah administrasi yang dilaluinya. Pengaturan kewenangan dan tanggungjawab Pengelolaan Sumber Daya Air oleh Pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupatenlkota didasarkan pada keberadaan wilayah sungai yang bersangkutan, yaitu: wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan atau wilayah sungai strategis nasional menjadi kewenangan Pemerintah. wilayah sungai lintas kabupatenlkota menjadi kewenangan pemerintah provinsi. wilayah sungai yang secara utuh berada pada satu wilayah kabupaten/kota menjadi kewenangan pemerintah kabupaten/kota. Air dalam siklus hidrologis dapat berupa air yang berada di udara berupa uap air dan hujan di daratan berupa salju dan air permukaan di sungai, saluran, waduk, danau, rawa, dan air laut serta air tanah. Air laut mempunyai karakteristik yang berbeda dan memerlukan adanya penanganan serta pengaturan tersendiri, sedangkan untuk air laut yang berada di darat tunduk pada pengaturan dalam undang-undang ini. Pemanfaatan air laut di darat untuk keperluan pengusahaan, baik melalui rekayasa teknis maupun alami akibat pengaruh pasang surut, perlu memperhatikan fungsi lingkungan hidup dan harus mendapat izin dari Pemerintah atau pemerintah daerah sesuai dengan wewenangnya, serta berdasarkan prosedur dan standar perizinan menurut pedoman teknik dan administrasi yang telah ditetapkan.

159

B. Asas dan Cara Pengelolaan Sumber Daya Air Asas kelestarian, keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas. Kelestarian berarti: pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan dengan menjaga kelestarian fungsi sumber daya air secara berkelanjutan. Keseimbangan berarti: keseimbangan antara fungsi sosial, fungsi lingkungan hidup, dan fungsi ekonomi. Kemanfaatan Umum berarti: pengelolaan sumber daya air dilaksanakan untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan umum secara efektif dan efislen. Keterpaduan dan Keserasian berarti: pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan secara terpadu dalam mewujudkan keserasian untuk berbagai kepentingan dengan memperhatikan sifat alami air yang dinamis. Keadilan berarti: pengelolaan sumber daya air dilakukan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat di wilayah tanah air sehingga setiap warga Negara berhak memperoleh kesempatan yang sarna untuk berperan dan menikmati hasilnya secara nyata. Asas Kemandirian berarti: pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan keunggulan sumber daya setempat. Asas Transparansi dan Akuntabilitas berarti: pengelolaan SD Air dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat (Pasal 3 dan

Penjelasannnya). Secara menyeluruh mencakup semua bidang pengelolaan yang meliputi konservasi, pendayagunaan, dan pengendalian daya rusak air, serta meliputi satu sistem wilayah pengelolaan secara utuh yang mencakup semua proses perencanaan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi. Secara terpadu merupakan pengelolaan yang dilaksanakan dengan melibatkan semua pemilik kepentingan antarsektor dan antarwilayah administrasi. Berwawasan lingkungan hidup adalah pengelolaan yang memperhatikan

keseimbangan ekosistem dan daya dukung lingkungan.

160

Berkelanjutan adalah pengelolaan sumber daya air yang tidak hanya ditujukan untuk kepentingan generasi sekarang tetapi juga termasuk untuk kepentingan generasi yang akan datang. C. Kerangka Undang-undang Sumber Daya Air UU Sumber Daya Air terdiri atas 18 Bab dengan 100 Pasal seperti ditunjukkan dalam Tabe berikut: Tabel 9.1 Jumlah bab dan pasal dalam Undang-undang Sumber Daya Air (Kodoatie dan Sjarief, 2008).

UU Sumber Daya Air disusun dengan pola seperti gambar berikut ini:

161

Gambar 9.1 Pola Susunan UU Sumber Daya Air (Kodoatie dan Sjarief, 2008). D. Aspek Pengelolaan SD Air Menurut UU SD Air Ada 3 aspek utama dan 2 aspek pendukung dalam pengelolaan sumber daya air seperti ditunjukkan dalam Gambar 9.1, yaitu: Konservasi Sumber Daya Air. Pendayagunaan Sumber Daya Air. Pengendalian Daya Rusak Air. Sistem Informasi Sumber Daya Air. Pemberdayaan masyarakat. Secara skematis kegiatan pola pengelolaan sumber daya air ditunjukkan dalam gambar berikut ini:

162

Gambar 10.2. Aspek Pengelolaan Sumber Daya Air (Kodoatie dan Sjarief, 2008). d.1 Konservasi Sumber Daya Air Kegiatannya, dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai dan menjadi acuan dalam perencanaan tata ruang meliputi: perlindungan dan pelestarian sumber air. pengawetan air. pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air. Tujuannya menjaga kelangsungan: keberadaan sumber daya air yaitu terjaganya keberlanjutan keberadaan air dan sumber air, termasuk potensi yang terkandung di dalamnya.

163

daya dukung sumber daya air: kemampuan sumber daya air untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. daya tampung air dan sumber air: kemampuan air dan sumber air untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.

1. Perlindungan dan Pelestarian Perlindungan dan pelestarian sumber air ditujukan untuk melindungi dan melestarikan sumber air beserta lingkungan keberadaannya terhadap kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh daya alam, termasuk kekeringan dan yang disebabkan oleh tindakan manusia. Upaya perlindungan dan pelestarian sumber air dijadikan dasar dalam penatagunaan lahan dan dilakukan melalui: pemeliharaan kelangsungan fungsi resapan air dan daerah tangkapan air . pengendalian pemanfaatan sumber air, dapat berupa: pemanfaatan sebagian atau seluruh sumber air tertentu melalui perizinan pelarangan untuk memanfaatkan sebagian atau seluruh sumber air tertentu. pengisian air pada sumber air, antara lain: pemindahan aliran air dari satu daerah aliran sungai ke daerah aliran sungai lainnya, misalnya dengan sudetan, interkoneksi, suplesi, danlatau imbuhan air tanah. pengaturan prasarana dan sarana sanitasi meliputi prasarana dan sarana air limbah dan persampahan. perlindungan sumber air dalam hubungannya dengan kegiatan pembangunandan pemanfaatan lahan pada sumber air. pengendalian pengolahan tanah di daerah hulu. pengaturan daerah sempadan sumber air. rehabilitasi hutan dan lahan. pelestarian hutan lindung, kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam Perlindungan dan pelestarian sumber air dilaksanakan secara vegetative dan/atau sipil teknis melalui pendekatan sosial, ekonomi, dan budaya. Pelaksanaan secara vegetatif merupakan upaya perlindungan dan pelestarian yang dilakukan dengan atau melalui penanaman pepohonan atau tanaman yang sesuai pada daerah tangkapan air atau daerah sempadan sumber air.

164

Yang dimaksud dengan cara sipil teknis adalah upaya perlindungan dan pelestarian yang dilakukan melalui rekayasa teknis, seperti pembangunan bangunan penahan sedimen, pembuatan teras (sengkedan), danlatau perkuatan tebing sumber air. Yang dimaksud dengan melalui pendekatan sosial, budaya, dan ekonomi adalah bahwa pelaksanaan upaya perlindungan dan pelestarian sumber air dengan berbagai upaya tersebut harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat. 2. Pengawetan Air Pengawetan air ditujukan untuk memelihara keberadaan dan ketersediaan air atau kuantitas air, sesuai dengan fungsi dan manfaat, dilakukan dengan cara: menyimpan air yang berlebihan di saat hujan untuk dapat dimanfaatkan pada waktu diperlukan. menghemat air dengan pemakaian yang efisien dan efektif. mengendalikan penggunaan air tanah. 3. Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Pengelolaan kualitas dan pengendalian pencemaran air ditujukan untuk mempertahankan dan memulihkan kualitas air yang masuk dan yang ada pada sumber-sumber air. Pengelolaan Kualitas dilakukan dengan cara memperbaiki kualitas air pada sumber air antara lain dilakukan melalui upaya aerasi pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Pengendalian pencemaran dilakukan dengan cara mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air dan prasarana sumber daya air. Untuk mencegah masuknya pencemaran air pada sumber air misalnya dilakukan dengan cara tidak membuang sampah di sumber air, dan mengolah air limbah sebelum dialirkan ke sumber air. 4. Larangan Kegiatan yang Merusak Sumber Air Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang

mengakibatkan rusaknya sumber air dan prasarananya, mengganggu upaya pengawetan air, danlatau mengakibatkan pencemaran air. Yang dimaksud dengan rusaknya sumber air adalah berkurangnya daya tampung atau fungsi sumber air. 5. Pelaksanaan Konservasi Konservasi dilaksanakan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, daerah tangkapan air, kawasan suaka alam, kawasan

165

pelestarian alam, kawasan hutan, dan kawasan pantai. Pengaturan konservasi sumber daya air yang berada di dalam kawasan suaka alanl, kawasan pelestarian alam kawasan hutan, dan kawasan pantai diatur berdasarkan peraturan perundangundangan. d.2. Pendayagunaan Sumber Daya Air Secara skematis kegiatan pendayagunaan sumber daya air ditunjukkan dalam gambar berikut ini:

Gambar 9.3. Pendayagunaan Sumber Daya Air (Kodoatie dan Sjarief, 2008). Kegiatan pendayagunaan sumber daya air dengan mengacu pada pola pengelolaan sumber daya air yang ditetapkan pada setiap wilayah sungai. Kegiatan ini ditujukan untuk memanfaatkan sumber daya air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. Pendayagunaan sumber daya air dikecualikan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Pendayagunaan sumber daya air diselenggarakan secara terpadu dan adil, baik antar sektor, antar wilayah maupun antar kelompok masyarakat dengan mendorong pola kerja sarna. Pendayagunaan sumber daya air didasarkan pada keterkaitan antara air hujan, air permukaan, dan air tanah dengan mengutamakan pendayagunaan air permukaan. Yang dimaksud dengan keterkaitan antara air hujan, air permukaan dan air tanah adalah keadaan yang sesuai dengan daur hidrologi yang merupakan satu kesatuan sistem (conjunctive use).

166

Pendayagunaan sumber daya air dilakukan dengan mengutamakan fungsi sosial untuk mewujudkan keadilan dengan memperhatikan prinsip pemanfaat air membayar biaya jasa pengelolaan sumber daya air dan dengan melibatkan peran masyarakat. Yang dimaksud dengan prinsip pemanfaat membayar biaya jasa pengelolaan adalah penerima manfaat ikut menanggung biaya pengelolaan sumber daya air baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketentuan ini tidak diberlakukan kepada pengguna air untuk pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari dan pertanian rakyat. Setiap orang baik orang perseorangan maupun badan usaha berkewajiban menggunakan air sehemat mungkin. Kegiatan pendayagunaan sumber daya air meliputi: 1. Penatagunaan Sumber Daya Air Penatagunaan sumber daya air ditujukan untuk menetapkan zona

pemanfaatan sumber air dan peruntukan air pada sumber air. 2. Penyediaan Sumber Daya Air Penyediaan sumber daya air ditujukan untuk memenuhi kebutuhan air dan daya air serta memenuhi berbagai keperluan sesuai dengan kualitas dan kuantitas. 3. Penggunaan Sumber Daya Air Penggunaan sumber daya air ditujukan untuk pemanfaatan sumber daya air dan prasarananya sebagai media dan/atau materi. Yang dimaksud dengan penggunaan sebagai media misalnya pemanfaatan sungai unhlk transportasi dan amng jeram yang dimaksud dengan penggunaan sebagai materi misalnya pemanfaatan air untuk minum. rumah tangga, dan industri. 4. Pengembangan SDA Pengembangan sumber daya air pada wilayah sungai ditujukan untuk peningkatan kemanfaatan fungsi sumber daya air guna memenuhi kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian, industri, pariwisata, pertahanan,

pertambangan, ketenagaan, perhubungan, dan untuk berbagai keperluan lainnya. Yang dimaksud dengan pengembangan termasuk kegiatan pelaksanaan

konstruksi.

167

5. Pengusahaan Sumber Daya Air Pengusahaan sumber daya air diselenggarakan dengan memperhatikan fungsi sosial dan kelestarian lingkungan hidup. Pengusahaan sumber daya air permukaan yang meliputi satu wilayah sungai hanya dapat dilaksanakan oleh badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air atau kerja sarna antara badan usaha milik negara dengan badan usaha milik daerah. Yang dimaksud dengan pengusahaan sumber daya air permukaan yang meliputi satu wilayah sungai adalah pengusahaan pada seluruh sistem sumber daya air yang ada dalam wilayah sungai yang bersangkutan mulai dari hulu sampai hilir sungai atau sumber air yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan badan usaha milik negara atau badan usaha milik daerah di bidang pengelolaan sumber daya air adalah badan usaha yang secara khusus dibentuk oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dalam rangka pengelolaan sumber daya air wilayah sungai. d.3. Pengendalian Daya Rusak Air Kegiatan pengendalian daya rusak air terdiri atas Pencegahan,

Penanggulangan dan Pemulihan. Pengendalian daya rusak air dilakukan secara menyeluruh yang mencakup upaya peneegahan, penanggulangan, dan pemulihan. Yang dimaksud dengan daya rusak air adalah daya air yang menimbulkan kerusakan dan/atau bencana, yang antara lain berupa : banjir erosi dan sedimentasi tanah longsor . banjir lahar dingin tanah ambles . perubahan sifat dan kandungan kimiawi, biologi, dan fisika air terancam punahnya jenis tumbuhan dan/atau satwa . wabah penyakit intrusi dan/atau perembesan. Pengendalian daya rusak air diutamakan pada upaya peneegahan melalui pereneanaan pengendalian daya rusak air yang disusun seeara terpadu dan menyeluruh dalam pola pengelolaan sumber daya air.

168

Pengendalian daya rusak air diselenggarakan dengan melibatkan masyarakat. Pengendalian daya rusak air menjadi tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, serta pengelola sumber daya air wilayah sungai dan masyarakat. Larangan usaha mengakibatkan terjadinya daya rusak air: Setiap orang atau badan usaha dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan terjadinya daya rusak air. 1. Cara Pencegahan Pencegahan dilakukan baik melalui kegiatan fisik dan/atau nonfisik maupun melalui penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai. Yang dimaksud dengan kegiatan fisik adalah pembangunan sarana dan prasarana serta upaya lainnya dalam rangka pencegahan kerusakan/ bencana yang diakibatkan oleh daya rusak air, sedangkan kegiatan nonfisik adalah kegiatan penyusunan dan/atau penerapan piranti lunak yang meliputi antara lain pengaturan, pembinaan, pengawasan, dan pengendalian. Yang dimaksud dengan penyeimbangan hulu dan hilir wilayah sungai adalah penyelarasan antara upaya kegiatan konservasi di bagian hulu dengan pendayagunaan di daerah hilir. Pencegahan lebih diutamakan pada kegiatan non fisik. Pilihan kegiatan ditentukan oleh pengelola sumber daya air yang

bersangkutan. 2. Cara Penanggulangan Penanggulangan daya rusak air dilakukan dengan mitigasi bencana. Mitigasi bencana adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat meringankan penderitaan akibat bencana, misalnya penyediaan fasilitas pengungsian dan penambalan darurat tanggul bobol. Penanggulangan dilakukan secara terpadu oleh instansi-instansi terkait dan masyarakat melalui suatu badan koordinasi penanggulangan bencana pada tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Penanggulangan bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional menjadi tanggungjawab Pemerintah. Bencana akibat daya rusak air yang berskala nasional ditetapkan dengan keputusan presiden. Dalam keadaan yang membahayakan, gubemur dan/atau bupati/walikota berwenang mengambil tindakan darurat guna keperluan penanggulangan

169

daya rusak air. Keadaan yang membahayakan merupakan keadaan air yang luar biasa yang melampaui batas rencana sehingga jika tidak diambil tindakan darurat diperkirakan dapat menjadi bencana yang lebih besar terhadap keselamatan umum. 3. Pemulihan Akbat Daya Rusak Air Pemulihan akibat daya rusak air dilakukan dengan memulihkan kembali fungsi lingkungan hidup dan sistem prasarana sumber daya air. Pemulihan menjadi tanggung jawab Pemerintah, Pemerintah Daerah, pengelola sumber daya air, dan masyarakat. 4. Pengendalian Air Permukaan dan Air Tanah Pengendalian daya rusak air dilakukan pada sungai, danau, waduk, rawa, cekungan air tanah, sistem irigasi, air hujan, dan air laut yang berada di darat. d.4 Sistem Informasi Sumber Daya Air Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan pengelolaan sistem informasi sumber daya air .sesuai dengan kewenangannya. Informasi sumber daya air meliputi informasi mengenai kondisi hidrologis, hidrometeorologis, hidrogeologis, kebijakan sumber daya air, prasarana sumber daya air, teknologi sumber daya air, lingkungan pada sumber daya air dan sekitarnya, serta kegiatan sosial ekonorni budaya masyarakat yang terkait dengan sumber daya air. Informasi kondisi hidrologis rnisalnya tentang curah hujan, debit sungai, dan tinggi muka air pada sumber air. Informasi kondisi hidrometeorologis rnisalnya tentang temperatur udara, kecepatan angin dan kelembaban udara. Informasi kondisi hidrogeologis mencakup cekungan airtanah misalnya potensi airtanah dan kondisi akuifer atau lapisan pembawa air. d.5 Pemberdayaan Masyarakat Pemerintah dan Pemerintah Daerah menyelenggarakan pemberdayaan para pemilik kepentingan (stakeholders di bidang sumber daya air) dan kelembagaan sumber daya air secara terencana dan sistematis untuk meningkatkan kinerja Pengelolaan Sumber Daya Air. Pemberdayaan dilaksanakan pada kegiatan perencanaan, pelaksanaan

konstruksi, pengawasan, operasi dan pemeliharaan sumber daya air dengan melibatkan peran masyarakat. Kelompok masyarakat adalah organisasi

170

kemasyarakatan yang memiliki aktivitas di bidang sumber daya air misalnya masyarakat Subak dan kelompok masyarakat petani pemakai air. Kelompok masyarakat atas prakarsa sendiri dapat melaksanakan upaya pemberdayaan untuk kepentingan masing-masing dengan berpedoman pada tujuan pemberdayaan. Pemberdayaan diselenggarakan dalam bentuk pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta pendampingan. E. Pola dan Rencana Pengelolaan Sumber Daya Air Pengelolaan sumber daya air adalah upaya merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi penyelenggaraan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Pola pengelolaan sumber daya air adalah kerangka dasar dalam merencanakan, melaksanakan, memantau, dan mengevaluasi kegiatan konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, dan pengendalian daya rusak air. Prinsip penyusunan dan penetapan Pola pengelolaan sumber daya air adalah keterpaduan antara air permukaan dan air tanah, serta keseimbangan antara upaya konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air. Keterpaduan antara air permukaan dan air tanah merupakan keterpaduan dalam pengelolaannya yang diselenggarakan dengan memperhatikan wewenang dan tanggung jawab masing-masing instansi sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya. Pola pengelolaan sumber daya air dilakukan di wilayah sungai. Rencana pengelolaan sumber daya air adalah hasil perencanaan secara menyeluruh dan terpadu yang diperlukan untuk menyelenggarakan penge lolaan sumber daya air. Penyusunan pola pengelolaan sumber daya air di wilayah sungai adalah: Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas negara dan wilayah sungai strategis nasional disusun dengan memperhatikan kebijakan nasional sumber daya air dan kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi dan/atau kabupaten/kota yang bersangkutan. Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas provinsi disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat provinsi yang terkait.

171

Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai lintas kabupaten/kota disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota terkait. Pola pengelolaan sumber daya air wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota disusun dengan memperhatikan kebijakan pengelolaan sumber daya air di tingkat kabupaten/kota yang bersangkutan. Muatan pola pengelolaan sumber daya air adalah: tujuan pengelolaan sumber daya air. dasar pertimbangan melakukan pengelolaan sumber daya air. beberapa skenario pengelolaan sumber daya air. altematif pilihan strategi pengelolaan sumber daya air untuk setiap scenario pengelolaan sumber daya air. langkah operasional untuk melaksanakan strategi pengelolaan sumber daya air.

172

III. Penutup 1. Rangkuman Dalam Undang-undang Sumber Daya Air No. 7 tahun 2004, pengelolaan sumber daya air dilakukan dengan: (1) dasar legalitas yang terdiri dari: filosofis, yuridis dan rekayasan; (2) asas dan cara seperti: kemanfaatan umum, keterpaduan dan kelestarian, keseimbangan, keadilan, kemandirian,

keserasian,

transparansi dan akuntabilitas, menyeluruh, terpadu dan berwawasan lingkungan hidup, dan berkelanjutan. Sumber daya air mempunyai tiga fungsi yaitu sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Ketiga fungsi tersebut sebagai pilar dalam pengelolaan sumber daya air berkelanjutan. Dalam pengelolaan sumber daya air, ada 3 aspek utama dan 2 aspek pendukung yaitu: konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, sistem informasi sumber daya air dan pemberdayaan masyarakat. 2. Tugas dan Latihan Lakukan studi lapangan dan buatlah analisis tentang pengeloaan sumber daya air hubungannya dengan penerapan aturan dalam UU Sumber Daya Air.
3. Indikator Pencapaian

1.

Mahasiswa mampu menjelaskan peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam menunjang keberlanjutan Sumber Daya Air.

2.

Mahasiswa mampu menjelaskan aturan-aturan dalam pengelolaan sumber daya air.

4. Sumber/Referensi

1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu. 2. Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 5. Strategi Pembelajaran 1. Dosen menjelaskan tentang Undang-undang Sumber Daya Air, mulai dari dasar keberadaan undang tersebut, kerangka undang-undang hingga hal-hal pokok yang diatur termasuk aspek yang pengelolaan. 2. Dosen juga menjelaskan peran Undang-undang Sumber Daya Air dalam keberlanjutan Sumber Daya air. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas dengan mengangkat studi kasus 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi daerah

173

5. Melakukan diskusi untuk mempertajam pemahaman mahasiswa serta memberi latihan dalam berargumentasi.

174

SESI/PERTEMUAN KE-10 (Kesepuluh) PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DALAM KERANGKA OTONOMI DAERAH Sasaran Pembelajaran: 1. Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana peran dan dampak otonomi daerah terhadap sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan kewenangan setiap strata pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya air 3. Mahasiswa mampu merumuskan bentuk penyelesaian konflik antar sektor sebagai dampak daripada otonomi daerah. Pokok Bahasan: Deskripsi Singkat: Materi ini membahas tentang peran dan dampak daripada otonomi daerah terhadap sumber daya air. Undang-undang tentang otonomi daerah pada perinsipnya tidak berbenturan terhadap Undang-undang yang lain dan bukan merupakan penyebab daripada terjadinya banyak permasalahan akhir-akhir ini termasuk masalah sumber daya air yang disinyalir oleh banyak pihak. Demikian halnya dengan peran dari setiap strata pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya air agar tidak terjadi benturan kepentingan antar sektor, karena setiap pengelola punya kewenangan tersendiri. Penyelesaian konflik juga dalam pengelolaan juga dibahas dengan materi berupa koordinasi antar semua pihak. Dengan demikian, diharapkan agar mahasiswa nantinya dapat membuat suatu rumusan dalam penyelesaian konflik yang selama ini disinyalir sebagai dampak otonomi daerah.

I. Bahan Bacaan: 1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara pemerintah, pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 3. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah II. Bacaan Tambahan: 1. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air III. Pertanyaan Kunci/Tugas: Ketika Anda membaca bahan bacaan berikut, gunakan pertanyaan-pertanyaan berikut ini untuk memandu Anda: 1. Bagaimana peran peran Otonomi Daerah dalam menunjang keberlanjutan Sumber Daya Air di Indonesia. 2. Bagaimana peran setiap strata pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya air 3. Bagaimana mengelola sumberdaya air agar tidak terjadi konflik dalam suasana otonomi daerah.

175

IV. Lain-lain: Angkatlah sebuah kasus pengelolaan sumber daya air, dan lakukan analisis tentang kasus tersebut hubungannya dengan otonomi daerah terutama dalam hal pengelolaan.

176

Bab 11. Pembelajaran 10 (Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Kerangka Otonomi Daerah) I. Pendahuluan Keterkaitan PSDA (PSDA) dengan otonomi Daerah pada hakekatnya merupakan pembagian peran (role sharing) dan pembagian kewenangan dari Pemerintah, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Dalam materi ini akan dibahas tentang pengelolaan Sumber Daya Air berdasarkan UU No. 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air, UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan pp No. 38 tihun 2007 Tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara pemerintah, pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah

Kabupaten/Kota serta PerMen PU No. 11A/PRT/M/2006 Tentang Kriteria Dan penetapan wilayah Sungai, kewenangan PSDA, dan lain-lain. 1. Sasaran Pembelajaran 1. Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana peran dan dampak otonomi daerah terhadap sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan kewenangan setiap strata pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya air 3. Mahasiswa mampu merumuskan bentuk penyelesaian konflik antar sektor sebagai dampak daripada otonomi daerah. 2. Sumber/Referensi 1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara pemerintah, pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 3. UU No. 7 Tahun 2004. Tentang Sumber Daya Air 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 3. Straegi Pembelajaran: 1. Dosen menjelaskan tentang pengelolaan sumber daya dalam era otonomi daerah. 2. Dosen menjelaskan beberapa contoh dalam penyelesaian konflik. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas

177

4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi suatu daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam tentang peran otonomi daerah dalam pengelolaan sumber daya air.

178

II. Uraian Materi A. Kewenangan Bidang Sumber Daya Air PSDA dilaksanakan oleh Pemerintah dan pemerintah Daerah sesuai dengan wewenanang dan tanggung jawabnya berdasarkan penetapan Wilayah sungai (WS). Wilayah sungai meliputi: WS lintas Negara, WS lintas provinsi, WS strategis nasional, WS lintas kabupaten/kota, dan WS dalam satu kabupaten/kota. Pengelolaan air permukaan didasarkan pada wirayah sungai dan pengelolaan air tanah didasarkan pada cekungan air tanah (CAT). Wilayah sungai meliputi wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota, wilayah sungai lintas kabupaten/kota, wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis nasional. Penetapan wilayah sungai didasarkan pada pertimbangan dan kriteria: efektivitas PSDA: o PSDA pada wilayah tersebut memenuhi kebutuhan konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sunrber.daya air o dan/atau keberadaan prasarana sumber daya air yang menghubungkan DAS yang satu dengan DAS yang lain. efisiensi PSDA; tercukupinya hak setiap orang untuk mendapatkan air guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif. Penetapan wilayah sungai strategis nasional selain pertimbangan dan kriteria penetapan WS juga dinilai berdasarkan 4 (empat) parameter/aspek: 1. Potensi sumber daya air pada wS dibandingkan dengan potensi sumber daya air pada provinsi lebih besar atau sana dengan 20%. 2. banyaknya sektor yang terkait dengan sumber daya air pada WS Paling kurang 16 sektor dan jumlah penduduk dalarn WS paling kurang 30% dari jumlah penduduk pada provinsi. 3. Besarnya dampak terhadap pembangunan nasional: Sosial Tenaga kerja pada lapangan kerja yang terpengaruh oleh sumber daya air paling kurang 30% dari seluruh tenaga kerja di tingkat provinsi.

179

WS yang terdapat pada pulau kecil atau gugusan pulau kecil yang berbatasan dengan wilayah negara lain.

Lingkungan hidup: Terancamnya keanekaragaman hayati yang spesifik pada sumber air yang langka dan perlu dilindungi atau yang merupakan konvensi intelnasional. Perbandingan antara debit air sungai maksimum dengan debit air sungai minimum rata-rata tahunan sungai utama melebihi 75. Perbandingan antara kebutuhan dan ketersediaan air pada wilayah sungai yang bersangkutan melampaui angka 1,5 (satu koma lima) Seringnya timbul kejadian penyakit terkait dengan air yang

mengakibatkan kematian/cacat tetap dalam jumlah besar. Ekonomi: Terdapat paling kurang 1 (satu) daerah irigasi yang luasnya lebih besar atau sama dengan 10.000 ha. Nilai produksi industri terkait dengan sumber daya air pada WS paling kurang 20% dari nilai produksi industri di tingkat provinsi. produksi pembangkit listrik tenaga air pada WS yang bersangkutan terkoneksi atau merupakan bagian dari jaringan listrik lintas provinsi. 4. besarnya dampak negatif akibat daya rusak air terhadap pertumbuhan ekonomi yaitu tingkat kerugian ekonomi yang diakibatkan paling kurang 1% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) tingkat provinsi. CAT meliputi CAT dalam satu kabupaten/kota, CAT lintas kabupaten/kota, CAT lintas provinsi, dan CAT lintas negara.

Berdasarkan hal tersebut maka kewenangan PSDA adalah sebagai berikut. 1. Kewenangan Pemerintah Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah meliputi: Menetapkan kebijakan nasional sumber daya air. Menetapkan pola PSDA pada WS lintas provinsi, WS lintas negara dan WS strategis nasional. Menetapkan rencana PSDA pada WS lintas provinsi, WS lintas negara, dan WS strategis nasional

180

Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air provinsi, WS lintas negara, dan WS strategis nasional. Melaksanakan PSDA pada WS lintas provinsi, WS lintas negara, dan WS strategis nasional. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada WS lintas provinsi, WS lintas negara, dan WS strategis nasional. Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, peruntukan, penggunaan. dan pengusahaan airtanah pada CAT lintas provinsi dan CAT lintas negara. Membentuk Dewan Sumber Daya Air Nasional, Dewan Sumber Daya Air WS lintas provinsi, dan Dewan Sumber Daya Air WS strategis nasional. Memfasilitasi penyelesaian sengketa antar provinsi dalam PSDA. Menetapkan norma, standar, kriteria, dan pedoman PSDA. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan PSDA pada WS lintas provinsi, WS lintas negara, dan WS strategis nasional. Memberikan bantuan teknis dalam PSDA kepada pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. 2. Wewenang Pemerintah Provinsi Wewenang dan tanggung jawab pemerintah provinsi meliputi: Menetapkan kebijakan PSDA di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya. Menetapkan pola PSDA pada WS lintas kabupaten/kota. Menetapkan rencana PSDA pada WS lintas kabupaten/kota dengan

memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada WS lintas kabupaten/kota. Melaksanakan PSDA pada WS lintas kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan provinsi sekitarnya. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air pada WS lintas

kabupaten/kota.

181

Mengatur, menetapkan, dan memberi rekomendasi teknis atas penyediaan, pengambilan, peruntukan, penggunaan dan pengusahaan air tanah pada CAT lintas kabupaterVkota. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat provinsi dan atau pada WS lintas kabupaten/kota. Memfasilitasi penyelesaian sengketa antar kabupaten/kota dalam PSDA Membantu kabupaten/kota pada wilayahnya dalam memenuhi kebutuhan pokok masyarakat atas air. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan PSDA pada WS lintas kabupaten/kota. Memberikan bantuan teknis dalam PSDA kepada pemerintah kabupaten/kota. 3. Wewenang Pemerintah Kabupaten/kota Wewenang dan tanggung jawab pemerintah kabupaten/kota meliputi: Menetapkan kebijakan PSDA di wilayahnya berdasarkan kebijakan nasional sumber daya air dan kebijakan PSDA provinsi dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. Menetaptan pola PSDA pada WS dalam satu kabupaten/kota. Menetapkan rencana PSDA pada WS dalam safu kabupaten/kota dengan memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. Menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada WS dalam satu kabupaten/kota. Melaksanakan PSDA pada WS dalam satu kabupaten/kota dengan

memperhatikan kepentingan kabupaten/kota sekitarnya. Mengatur, menetapkan, dan memberi izin penyediaan, peruntukan,

penggunaan, dan pengusahaan airtanah di wilayahnya serta sumber daya air pada WS dalam satu kabupaten/kota. Membentuk dewan sumber daya air atau dengan nama lain di tingkat kabupaten/kota dan/atau pada WS dalam satu kab/kota. Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di wilayahnya. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air pada WS dalam satu kabupaten/kota.

182

4.Wewenang Pemerintahan Desa Wewenang dan tanggung jawab pemerintah desa atau yang disebut dengan nama lain meliputi: Mengelola sumber daya air di wilayah desa yang belum dilaksanakan oleh masyarakat dari/atau pemerintahan di atasnya dengan mempertimbangkan asas kemanfaatan umum. Menjaga efektivitas, efisiensi, kualitas, dan ketertiban pelaksanaan pengelolaan sumber daya air yang menjadi kewenangannya. Memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari warga desa atas air sesuai dengan ketersediaan air yang ada. Memperhatikan kepentingan desa lain dalam melaksanakan PSDA di wilayahnya. 5. Sebagian Wewenang Pemerintah oleh Pemerintah Daerah Sebagian wewenang Pemerintah dalam PSDA dapat diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 6. Wewenang Pemerintah Daerah Secara Herarki Dalam hal Pemerintah Daerah belum dapat melaksanakan sebagian

wewenangnya, Pemerintah Daerah dapat menyerahkan wewenang tersebut kepada pemerintah di atasnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pelaksanaan sebagian wewenang PSDA oleh Pemerintah Daerah wajib diambil oleh pemerintah di atasnya dalam hal: Pemerintah Daerah tidak melaksanakan sebagian wewenang pengelolaan sumber daya air sehingga dapat membahayakan kepentingan umum misalnya: tidak terurusnya kawasan lindung sumber air terutama pada daerah hulu sumber air tingkat pencemaran yang terus meningkat di sumber air galian golongan c di sungai yang tidak terkendali sehingga mengancam kerusakan pada pondasi jembatan, tanggul sungai atau bangunan prasarana umum lainnya di sumber air atau tanah longsor yang diperkilakan dapat mengancam aktivitas perekonomian masyarakat secara luas. Adanya sengketa antar provinsi atau antar kabupaten/kota. Penyelesaian sengketa dapat dilakukan melalui: mediasi, peringatan, fasilitasi, dan/atau pengambilalihan kewenangan.

183

b. Hak, Kewajiban Dan Peran Masyarakat 1. Hak Dalam pelaksanaan PSDA, masyarakat berhak untuk: Memperoleh informasi yang berkaitan dengan PSDA. Memperoleh penggantian yang layak atas kerugian yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan PSDA. Memperoleh manfaat atas PSDA. Menyatakan keberatan terhadap rencana PSDA yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat. Mengajukan laporan dan pengaduan kepada pihak berwenang atas kerugian yang menimpa dirinya yang berkaitan dengan penyelenggaraan PSDA. Mengajukan gugatan kepada pengadilan terhadap berbagai masalah sumber daya air yang merugikan kehidupannya. 2. Kewajiban dan Peran Pemegang Hak Guna Dalam menggunakan hak guna air, masyarakat pemegang hak guna air berkewajiban memperhatikan kepentingan umum yang diwujudkan melalui perannya dalam konsevasi sumber daya air serta perlindungan dan pengamanan prasarana sumber daya air. 3. Peran Masyarakat Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap PSDA.

c. Pembiayaan 1. Uraian Biaya dan Penganggaran Pembiayaan PSDA ditetapkan berdasarkan kebutuhan nyata PSDA. Yang dimaksud dengan kebutuhan nyata adalah dana yang dibutuhkan semata-mata untuk membiayai PSDA agar pelaksanaannya dapat dilakukan secara wajar untuk menjamin keberlanjutan fungsi sumber daya air. Jenis pembiayaan PSDA meliputi: Biaya sistem informasi. Biaya perencanaan. Biaya pelaksanaan konstruksi. Yang dimaksud dengan biaya pelaksanaan konstruksi, termasuk di dalamnya biaya konservasi sumber daya air. Biaya operasi, Pemeliharaan

184

Biaya pemantauan, evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. Setiap jenis pembiayaan dimaksud mencakup tiga aspek PSDA yaitu konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air. Sumber dana untuk setiap jenis pembiayaan dapat berupa: Anggaran Pemerintah. Anggaran swasta. Hasil penerimaan biaya jasa PSDA. Hasil penerimaan biaya jasa PSDA diperoleh dari para penerima manfaat PSDA, baik untuk tujuan pengusahaan sumber daya air maupun untuk tujuan penggunaan sumber daya air yang wajib membayar. 2. Yang Membiayai Pembiayaan PSDA dibebankan kepada pemerintah, Pemerintah Daerah, BUMN/BUMD pengelola sumber daya air, koperasi, badan usaha lain dan perseorangan, baik secara sendiri-sendiri maupun dalam bentuk kerja sama badan usaha lain misalnya perseroan terbatas dan usaha dagang. Pembiayaan PSDA yang menjadi tanggung jawab pemerintah dan Pemerintah Daerah didasarkan pada kewenangan masing-masing dalam PSPA. Pembiayaan pelaksanaan konstruksi dan operasi dan pemeliharaan sistem irigasi diatur sebagai berikut: Pembiayaan pelaksanaan konstruksi, operasi dan pemeliharaan sistem irigasi primer dan sekunder menjadi tanggung jawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya dan dapat melibatkan peran serta masyarakat Petani. pembiayaan Pelaksanaan konstruksi sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah, kecuali bangunan sadap, saluran sepanjang 50 m dari bangunan sadap, dan boks tersier serta bangunan pelengkap tersier lainnya menjadi tanggung jawab Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. pembiayaan O dan P sistem irigasi tersier menjadi tanggung jawab petani, dan dapat dibantu Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. Dalam hal terdapat kepentingan mendesak untuk pendayagunaan sumber daya air pada WS lintas provinsi, lintas kabupaten/kota, dan strategis nasional, pembiayaan pengelolaannya ditetapkan bersama oleh Pemerintah dan

185

Pemerintah Daerah yang bersangkutan melalui pola kerja sama. Ketentuan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan yang dianggap sangat mendesak oleh daerah tetapi belum menjadi prioritas pada tingkat nasional untuk WS lintas provinsi dan strategis nasional, atau belum menjadi prioritas pada tingkat regional untuk WS lintas kabupaten/kota. 3. Pembiayaan Pengusahaan Oleh Stakeholders, Pembiayaan Sosial oleh Pemerintah Pembiayaan PSDA yang ditujukan untuk pengusahaan sumber daya air yang diselenggarakan oleh koperasi, badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air, badan usaha lain dan perseorangan ditanggung oleh masing-masing yang bersangkutan. Untuk pelayanan sosial, kesejahteraan, dan keselamatan umum, Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam batas-batas tertentu dapat memberikan bantuan biaya pengelolaan kepada badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air. Yang dimaksud dengan batas-batas tertentu adalah batasan terhadap lingkup pekerjaan untuk pelayanan sosial, kesejahteraan dan keselamatan umum yang dapat dibiayai oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah misalnya rehabilitasi tanggul dan sistem peringatan dini banjir. Sedangkan biaya pemeliharaan rutinnya tetap menjadi tanggung jawab badan usaha milik negara/badan usaha milik daerah pengelola sumber daya air yang bersangkutan. 4. Pengguna dan Biaya Jasa Pengguna sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa PSDA. Biaya jasa PSDA adalah biaya yang ditarik dari para penerima manfaat untuk melakukan pengelolaan agar sumber daya air dapat didayagunakan secara berkelanjutan. Pengguna sumber daya air selain menanggung biaya jasa PSDA. Penentuan besarnya biaya jasa PSDA didasarkan pada perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggung jawabkan. Perhitungan ekonomi rasional yang dapat dipertanggungjawabkan adalah perhitungan yang memperhatikan unsurunsur: o Biaya depresiasi investasi. o Bmortisasi dan bunga investasi.

186

o Operasi dan pemeliharaan. o Untuk pengembangan sumber daya air. Penentuan nilai satuan biaya jasa PSDA untuk setiap jenis penggunaan sumber daya air didasarkan pada pertimbangan kemampuan ekonomi kelompok pengguna dan volume penggunaan sumber daya air. Yang dimaksud dengan nilai satuan biaya jasa pengelolaan adalah besarnya biaya jasa pengelolaan untuk setiap unit pemanfaatan misalnya Rp per kWh dan Rp per m3. Kelompok pengguna misalnya: kelompok pengusaha industri rumah tangga, kelompok pengusaha industri pabrikan, dan kelompok pengusaha air dalam kemasan. Yang dimaksud dengan volume dalam volume penggunaan sumber daya air adalah jumlah penggunaan sumber daya air yang dihitung dengan satuan m3, atau satuan luas sumber air yang digunakan, atau satuan daya yang dihasilkan (kwh). Tingkat kemampuan ekonomi kelompok pengguna perlu dipertimbangkan dalam penentuan satuan biaya jasa pengelolaan mengingat adanya perbedaan jumlah penghasilan. Penentuan nilai satuan biaya jasa PSDA untuk jenis penggunaan non-usaha dikecualikan dari perhitungan ekonomi rasional. Yang dimaksud non-usaha (nonkomersial) adalah kegiatan yang dilakukan dengan tujuan tidak mencari keuntungan misalnya pertanian rakyat, rumah tangga, dan tempat ibadah. Pengelola sumber daya air berhak atas hasil penerimaan dana yang dipungut dari para pengguna jasa PSDA. Yang dimaksud dana dalam ayat ini adalah pungutan biaya jasa PSDA. Dana yang dipungut dari para pengguna sumber daya air dipergunakan untuk mendukung terselenggaranya kelangsungan PSDA pada WS yang bersangkutan. d. Koordinasi Keterpaduan PSDA mencakup kepentingan lintas sektoral dan lintas wilayah yang memerlukan keterpaduan tindak untuk menjaga kelangsungan fungsi dan manfaat air dan sumber air. PSDA dilakukan melalui koordinasi dengan mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah, dan para pemilik kepentingan dalam bidang sumber daya air.

187

d.1 Wadah Koordinasi Koordinasi dilakukan oleh suatu wadah koordinasi yang bernama dewan sumber daya air 10 atau dengan nama lain. Yang dimaksud dengan nama lain misalnya panitia tata pengaturan air provinsi dan panitia tata pengaturan air kabupaten/kota. Wadah koordinasi mempunyai tugas pokok menyusun dan merumuskan kebijakan serta strategi PSDA. Wadah koordinasi beranggotakan unsur pemerintah dan unsur non-pemerintah dalam jumlah yang seimbang atas dasar prinsip keterwakilan.Yang dimaksud dengan prinsip keterwakilan adalah terwakilinya kepentingan unsur-unsur yang terkait, misalnya sektor, wilayah, serta kelompok pengguna dan pengusaha sumber daya air. Kelompok pakar, asosiasi profesi, organisasi masyarakat dapat dilibatkan sebagai nara sumber. Yang dimaksud dengan seimbang adalah jumlah anggota yang proporsional antara unsur pemerintah dan unsur non-pemerintah. Susunan organisasi dan tata kerja wadah koordinasi diatur lebih lanjut dengan keputusan presiden. d.2 Kegiatan Koordinasi Koordinasi pada tingkat nasional dilakukan oleh Dewan Sumber Daya Air Nasional yang dibenuk oleh Pemerintah dan pada tingkat provinsi dilakukan oleh wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air provinsi atau dengan nama lain yang dibentuk oleh pemerintah provinsi. Untuk pelaksanaan koordinasi pada tingkat kabupaten/kota dapat dibentuk wadah koordinasi dengan nama dewan sumber daya air kabupaten/kota atau dengan nama lain oleh pemerintah kabupaten/kota. Wadah koordinasi pada WS dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan PSDA pada WS yang bersangkutan. Hubungan kerja antar wadah koordinasi tingkat nasional, provinsi, kabupater/kota dan WS bersifat konsultatif dan koordinatif. Pedoman mengenai pembentukan wadah koordinasi pada tingkat provinsi, kabupaten/kota, dan WS diatur lebih lanjut dengan keputusan menteri yang membidangi sumber daya air.

188

e. Pembagian Kewenangan dan Pembagian Peran dalam PSDA Pemerintah sebagai enabler dalam PSDA pada prinsipnya mempunyai tugastugas yang meliputi: pengaturan, pembinaan, pelayanan (termasuk O&P),

pengawasan & pengendalian dan pembiayaan. Untuk PSDA dalam otonomi daerah perlu pembagian kewenangan antara Pemerintah (Pusat) dan Pemerintah Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota). Pembagian kewenangan ini pada hakekatnya agar masing-masing pemerintah dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara jelas dan benar.

189

III. Penutup 1. Rangkuman

Pembagian peran dalam pengelolaan sumber daya air dalam tataran pelaku (pemerintah) telah diatur dalam Undang-undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air, Undang-undang No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan peraturan pemerintah No. 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan antara pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah

Kabupaten/Kota. Pengaturan ini dimaksudkan agar dalam pengelolaan tidak terjadi saling tumpang tindih pengelolaan, namun diantara para pelaku senantiasa melakukan koordinasi. Disamping itu, telah diatur pula tentang hak dan kewajiban dan peran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air. Demikian halnya dengan pembiayaan telah diatur mulai pelaksanaan konstruksi, operasi dari biaya sistem informasi, perencanaan, dan pemeliharaan hingga pada kegiatan

pemantauan, evaluasi dan pemberdayaan masyarakat. Keselurhan biaya dimaksud mencakup tiga aspek yaitu: konservasi sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air dan pengendalian daya rusak air. Pembagian kewenangan pada hakekatnya agar masing-masing pemerintah dapat menjalankan tugas dan fungsinya secara jelas dan benar.
2. Tugas dan Latihan

Angkatlah sebuah kasus pengelolaan sumber daya air, dan lakukan analisis tentang kasus tersebut hubungannya dengan otonomi daerah terutama dalam hal pengelolaan.
3. Indikator Pencapaian

1. Mahasiswa mampu menjelaskan bagaimana peran dan dampak otonomi daerah terhadap sumber daya air. 2. Mahasiswa mampu menjelaskan kewenangan setiap strata pemerintahan dalam pengelolaan sumber daya air 3. Mahasiswa mampu merumuskan bentuk penyelesaian konflik antar sektor sebagai dampak daripada otonomi daerah.

190

4. Sumber/Referensi

1. Kodoatie dan Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara pemerintah, pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota 3. UU No. 7 Tahun 2004. Tentang Sumber Daya Air 4. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
5. Strategi Pembelajaran

1. Dosen menjelaskan tentang pengelolaan sumber daya dalam era otonomi daerah. 2. Dosen menjelaskan beberapa contoh dalam penyelesaian konflik. 3. Melakukan latihan-latihan di kelas 4. Memberikan tugas perorangan untuk kasus yang sesuai dengan kondisi suatu daerah 5. Melakukan diskusi, untuk lebih mempertajam tentang peran otonomi daerah dalam pengelolaan sumber daya air.

191

PENUTUP Pengelolaan sumber daya air seyogyanya dilakukan secara terpadu,

penyeluruh dan berwawasan lingkungan. Untuk itu, pelaku pengelola sumber daya air harus dibekali dengan pengetahuan yang komplit. Pengelola sumber daya air harus berpikir sistem dan tidak berpikir sektoral. Segala tindakannya harus mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan individu atau golongan. Pengetahuan dasar yang harus dimiliki oleh pelaku/pengelola adalah pengetahuan tentang perilaku air di bumi ini. Pengelolaan sumber daya alam harus berdasarkan pada siklus hidrologi. Pertimbangan ekonomi sangat penting, agar tidak timbul kerugian pengelolaan sumber daya air teruma dalam kegiatan pengusahaan air. Demikian halnya dengan dampak pengelolaan sumber daya air harus dipertimbangkan, jangan sampai dalam pengelolaan sumber daya air akan merusak suatu ekosistem. Jika ketiga hal ini terpenuhi,maka dalam pengelolaan sumber daya air akan berkelanjutan. Di Negara kita, Republik Indonesia sudah ada undang-undang yang mengatur tentang sumber daya air, termasuk dalam hal ini pengelolaannya. Undang-undang tersebut sudah mengatur segala aspek dalam pengelolaan sumber daya air. Namun, kenyataannya masih banyak persoalan yang timbul dalam pengelolaan sumber daya air. Hal ini menunjukkan bahwa tidak cukup dengan sebuah aturan, tapi yang terpenting adalah kesadaran para pengelola sumber daya air dan kekonsistenan para penegak hukum dalam menangani para pelanggar hukum. Undang-undang tentang pemerintahan daerah tidak jarang dianggap sebagai penyebab timbulnya masalah dalam pengelolaan sumber daya alam termasuk sumber daya air. Dalam hal ini, undang-undang ini mendorong terjadinya pengelolaan sumber daya alam secara sektoral. Namun jika dilihat dari aturan yang ada, tidak semestinya terjadi ego sektoral, karena sudah diatur hak dan kewenangan serta peran dari setiap stakeholder. Sebagai kata penutup, semoga kita semua sadar bahwa air adalah hak asasi semua orang yang memiliki fungsi sosial yang tinggi dan harus dilestarikan. Semoga pengelolaan yang kita lakukan dapat memenuhi kebutuhan akan air dimasa kini baik secara kuantitas maupun kualitas dan tidak mengorbankan kepentingan generasi kita kemudian. Semoga buku ajar ini dapat menjadi pengantar untuk bangkitnya kesadaran kita mengenai hal tersebut.

192

DAFTAR PUSTAKA Anonymous, 1993. Water resources management. Washington: THE WORLD BANK Asawa, G.L., 2008. Irrigation and Water Resources Engineering. New Delhi: NewAge International (P) Ltd. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran sungai. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Grigg, N.S., 1996. Water Resources Management: Principles, Regulation, and Cases. New York: McGraw-Hill. Jain, S.K. dan V.P. Singh, 2003. Water Resources Systems Planning and Management. Amsterdam: Elsevier. Jermar, M.K. 1987. Water Resources and Water Management. New York: Elsevier Science Pub. Co. Karamouz, M., F. Szidarovszky dan B. Zahraie. 2003. Water resources systems analysis. Florida: CRC Press LLC. Kodoatie, R.J. dan R. Sjarief, 2008. Pengelolaan Sumber Daya Air Terpadu, edisi revisi. Yogyakarta: Andi. Lenton, R. dan M. Muller, 2009. Integrated water resources management in practice: better water management for development. UK,MPG Books Ltd.UndangPeraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2006 tentang Irigasi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 tahun 2007 Tentang Pembagian urusan Pemerintahan Antara pemerintah, pemerintahan Daerah Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota Setiawan, B. dan D.H. Rahmi., 2003. Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan, cetakan kedua, terjemahan: Mitchell, B., 1997. Resource and Environmental Management 1st Edition. Yogyakarta: Gadjah Mada Universiy Press. Sosrodarsono, S., dan K. Takeda, 1993. Hidrologi untuk Pengairan. Jakarta: Pradnya Paramita. Todd, D.K. 1995. Groundwater Hydrology. Edisi ke-2. Singapore: John Wiley & Sons. Triatmodjo, B., 2008. Hidrologi Terapan, Cetakan Pertama. Yogyakarta: Beta Offset. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah van Koppen, B., M. Giordano dan J. Butterworth, 2007. Community-based Water Law and Water Resource Management Reform in Developing Countries. London: UK,Biddles Ltd.