Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

and fertilizer. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. SUHARTA DAN B. but limited by highly Al exchangeable. Siklus biologi. kapasitas tukar kation. and potential K. cation exchange capacity. Selanjutnya dikemukakan. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. 1. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. sifat fisik. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. dan sifat kimia tanahnya. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. bahan sedimen. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. For that reasons. dan K potensial yang lebih tinggi. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . Batuliat. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. Batupasir.H. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. Keywords : Forest. Kata kunci: Hutan. Bogor. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. Batuan sedimen masam. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. Acid sedimentary rocks. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Sifat fisik menunjukkan. Oleh karena itu. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. kejenuhan basa rendah. Claystone. pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. Biological cycles. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. physical and chemical properties of the soils. Sandstone. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam.

Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al.14 MD. 2003) sebagai Typic Kandiudults. 1995. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan. 1991). Fraga dan Salcedo (2004).44 HP. 1990). Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. mengurangi proses mineralisasi bahan organik. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal. Wu dan Tiessen (2002). dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. dan mengurangi run off atau bahaya erosi. Sedangkan analisis sifat fisik tanah.194 UY. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. Suwarna et al. Provinsi Riau.. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 .110 DD. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. (2004).61 EY. Acrudoxic Kandiudults. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor. Chen et al. dan Typic Hapludults (Tabel 1).24 UG. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian. Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting. penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. Location and information of seven pedons investigated Pedon HP. Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson.

0). warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah.N.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. f. g = granuler atau kersai. model PW 1130. pori air tersedia. f. ss/sp f. t. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. Typic Hapludults UY. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. susunan kation. Konsistensi : t = teguh.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N).5 YR 5/6) DD. P dan K potensial (HCl 25%). Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). Acrudoxic Kandiudults HP. so/po f-t. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). sb = coklat kuat. t. Typic Kandiudults HP. Tekstur : C = liat. ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. SUHARTA DAN B. ss/sp vf. sb = gumpal agak bersudut.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG.14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. so = tidak lekat. ydb = coklat tua kekuningan. t. Struktur : m = medium. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi. ry = kuning kemerahan.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. C-organik (Walkey and Black). HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. SL = lempung berpasir. s = lekat. f. gdb = coklat tua kekelabuan. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. f = gembur. t. by = kuning kecoklatan. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7.61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. ss = agak lekat. LS = pasir berlempung. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff. so/po f. kapasitas tukar kation. t. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O). p = plastis 3 . 1992). Dibandingkan dengan horizon A.H. pori total. vf = sangat halus. f = halus. pori drainase. SCL = lempung liat berpasir. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t. db = coklat tua. permeabilitas dan stabilitas agregat. berat isi. sp = agak plastis.5 YR 5/8) EY.

fragmen batuan. dan turmalin juga sangat sedikit. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. smektit. dan goetit. vermikulit. sedangkan tanah dari batuliat. Rf = Fragmen batuan. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. Lm = limonit. Terdapatnya mineral vermikulit. illit. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. Pada tanah berbahan induk batupasir. Or = ortoklas. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. Qz = kuarsa. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa.61 96 1 2 UG. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. Dengan demikian. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. Ze = zeolit. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. mineral lapukan. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. sp = sangat sedikit (<1%). kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit. tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Zr = zircon. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah.14 93 sp 5 HP. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Mk = muskovit. Sn = sanidin. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP. lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan.24 85 sp 6 MD. illit. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. 4 . Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. dan muskovit sangat sedikit. dan smektit. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. Tr = turmalin.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. Wm = mineral lapukan.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. sanidin. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7.

Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir). Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat.44 ++++ UG.H. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%. (+) = sangat sedikit Gambar1. ++ = cukup. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%.61 ++++ EY. SUHARTA DAN B.24 ++++ MD. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. +++ = banyak. Susunan mineral fraksi liat Table 4. diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan. 1969).110 +++ DD. + = sedikit. 5 . Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP.14 ++++ HP.N. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah.

Stab.39 2.0 45.14 rendah di lapisan atas karena 6 . Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah.14 HP.7 11.55 hingga 2. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi.46 2. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.2 23. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat.0 11.55 2.53 2.9 26.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.8 4.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi. 2004). kelembaban tanah.0 4.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi. Lapisan A = atas dan B = bawah.0 8.54 1.4 Permeabilitas cm jam-1 0. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume. Pedon HP.24 memperlihatkan hal sebaliknya.0 9.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah.54 di lapisan atas dan 1. Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik.0 19.5 3. PD = berat partikel (particle density). 28/2008 Tabel 5.09 2.65 1.0-28.14 dan EY.17 hingga 1.10 9.7 49.8 55. pori aerase berkisar antara 8.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.5 42.8 8.8 28.agr = stabilitas agregat (agregat stability). Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al.6 4.4 6.41 1. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1.60 2.65 untuk lapisan bawah..9 4. Pedon HP.14.7 12.2 RPT 52. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan. baik horizon A maupun B (Suharta et al. RPT = ruang pori total (total pore space). Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP. Sebagai perbandingan. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur.21 1.0 4.7 8.46 1. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang.46 di lapisan bawah.20 1. Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian. 1995).46 3.24 EY. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah. kimia dan biologi tanah. sedangkan pedon HP. kandungan liat.20 hingga 1. berat isi.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37.20 1.93 9. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%. susunan mineralogi liat.53 untuk lapisan atas dan 2. Sedangkan HP.24 dan EY.39 hingga 2.

1 . Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). pori air tersedia tergolong rendah. Tanah dengan permeabilitas lambat. kemantapan agregat tergolong agak stabil. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2.5 hingga 11. SUHARTA DAN B. Nilai permeabilitas yang lambat. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . baik pada horizon A maupun horizon B.9. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik.46 cm jam-1). karena air akan tersedia sepanjang tahun. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi. perakaran tanaman. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik. 7 .20 . Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah. kecuali pedon HP. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas. Khusus untuk pedon HP. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. Pada horizon B. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%). Hasil penetapan menunjukkan. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun.15 tahun). permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0.5.7 hingga 9.2%) untuk horizon A. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan.H. Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7. Khusus untuk pedon HP. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik.4 tergolong rendah sampai sedang.4 tergolong rendah. di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6.8%).44 tergolong sangat stabil. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah. atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini. Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B.0. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B.14. akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0.2 .N.14. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik.62 cm jam-1).10 3. kecuali EY.

4 0.5 4..7 2..14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD.2 0.6 0..3 5.44 Tanah dari bahan induk batupasir.6 4.2 4. 28/2008 Tabel 6. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP.2 0.2 1. mg kg-1 .6 0....7 0.4 0.2 0.1 4.. potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat .. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.6 1.8 0.4 4...6 0..2 0...4 0. organic-C... 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org.5 4.4 4.5 4.7 4..7 4.8 4.2 0.3 4.1 4.5 4.3 0..2 3.7 3.7 3.4 4.. soil reaction.3 5.6 4.3 0.4 4.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG.4 4.2 2. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY...3 4. Tekstur.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD. C-organik.7 0.1 0..0 4...232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat. P dan K potensial Table 6..7 1..6 4..1 HCl 25% K2O P2O5 . Texture.6 0....5 4.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO...3 4. reaksi tanah.3 4.4 1.2 4... 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir.4 3.9 0... % 4..2 4.7 0..61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY.4 0...4 4..3 1.6 4.2 0.7 4..4 4.2 4..4 4...3 4.6 4.. Pasir-H = Pasir halus 8 .5 4.2 0..8 0.2 0. % .

53 4.02 0.02 0.42 1.41 1.77 39.09 0.70 1.21 0.76 94.18 0.55 0.79 59.17 Bt2 0.90 14.13 23.04 0.03 0.40 2.81 1.04 0.05 9. kejenuhan basa.18 4.15 4.11 2.61 0.02 0.06 0.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.14 0.24 0.04 0.52 1.01 0.47 2.03 Bto4 0.54 3.02 0.85 1.03 Bto3 0.30 HP.43 10.41 13.37 10.31 0.20 0.14 BA 0.87 2.79 17.42 0.14 A 0.20 1.07 0.02 0.58 0.21 11.04 0.03 0.08 2.61 3.44 6. SUHARTA DAN B. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….09 0.67 4.81 12.14 0.03 0.05 15.29 0.24 0.19 24.31 1.14 1.04 8.70 1.82 0.02 0. kapasitas tukar kation.01 0.03 0.23 0.10 0.06 0.10 0.04 0.110 A 0.21 1.08 7.07 0.85 4.24 A 0.33 1.22 1.13 8.51 25. Acrudoxic Kandiudults 0.03 0.75 4.94 1.93 33.53 4.52 35.11 0.08 0.H.22 0.90 7.12 0. dan Al dapat tukar Table 7.02 0.87 2.32 2.37 0.61 1.01 0.67 0. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.08 0.05 0.07 26.12 0.01 0.63 14.18 0.43 13.22 0. Typic Kandiudults 0.02 0.16 8.55 20.27 19.16 20.01 0.02 0.05 1.07 0.035 0.85 2.24 6.10 0.19 17.80 1.38 23.06 0.33 11.04 0.50 7.01 0.22 6.99 1. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.27 16.01 2.07 2.05 0.02 0.06 0.42 3.16 1.18 0.68 3.49 14.81 HP.61 1.92 0.39 0.36 1.57 19.09 2.40 0...04 0.33 26.09 0.59 12.30 16.20 20.02 0.12 3.36 0.01 0.13 36.04 0.37 4.34 1.03 0.22 0.87 13.83 1.N.05 0. Typic Hapludults 1.02 0.04 0.10 0.68 0. Exchangeable cation.02 0.21 0.53 11.76 2.03 0.11 0.29 0.30 2.03 Bto2 0.03 0.30 7.55 0.85 4.58 5.04 0.81 1.03 Bto1 0.12 0.57 2. Kation dapat tukar.04 0.98 8.04 0.04 0.05 0.19 18.69 1.06 0.04 Bto5 MD.05 0.60 2.17 0.02 0.05 Bto1 0.02 0.94 11.71 32.25 1.01 0.16 9.30 Tanah dari bahan induk batuliat.94 7.73 1.96 65.28 10.70 3.kg ………………………….16 2.04 9 . cmol.23 7.03 0.63 0.76 0.11 1.02 0.24 0.03 0.63 13.47 0.21 0.75 17.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.23 0.95 3.21 DD.03 0.74 1.15 0.13 0.07 0.04 0.02 20.05 1.16 3.07 0.06 0.73 0.57 38.70 4.43 0.10 0.97 1.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.40 6.65 11.01 0.71 1.06 0.88 4.03 0.02 0.10 0.31 4.04 0.66 4.76 4.66 7.05 0.04 0.05 0.08 5.28 5.29 3.09 0.06 0.13 0.24 0.04 0.70 10.05 0. cation exchange capacity.92 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir. % cmol.41 4.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.02 0.27 0.kg % 4.12 7.21 EY.02 3.88 21.03 Bto3 UG.22 0.02 0.71 8.25 Bt1 0.13 0.10 0.65 12.56 0.47 0.14 0.37 0.92 1.29 1.32 0. base saturation.06 0.18 0.36 16.03 0.62 7.24 0.04 0.41 0.53 3.04 Bto2 0.07 0.31 0.54 1.07 0.06 0.64 17.12 30.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir.26 BC 0.17 UY.14 Bt3 0.02 0.

7.809 dengan R2=0.110. Mg.7. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi.179 dengan R2 = 0.0014 Corg +0. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. Reaksi tanah untuk pedon UY. Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. ketersediaan hara.4415). Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. Dengan Corganik. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0.. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat.. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. 37. 2002). sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi.0748 pasir + 64. Ponge et al. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. .9309 dengan R2 = 0.232 dan UG. dan macam gugus fungsional.2702 dengan R2 = 0. tergolong masam sampai sangat masam. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara.2943). Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan.7 hingga 5.0171 C-org + 0. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. korelasinya lebih rendah (K2O=0. Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat.4237). Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat. bahan induk tanah.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif. dan 41 tahun. maupun biologi tanah. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta. Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. praktek silvikultur. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. 2007).0528 liat +23. 1995). Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah. liat. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. besar dan arah lereng. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. Suharta et al. baik pada horizon A maupun B.0355). sedangkan pada horizon B antara 4. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir. DD. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. dan pengolahan tanah.1 hingga 4. aktivitas biologi. 16. dan 55% setelah penggunaan selama 8. 2007. kimia. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002).

Quideau et al.13 cmol.0061. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik.4968. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya.N.70 cmol. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1.H.20 hingga 4.19 dan 65. Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. kuarsa dengan sedikit smektit. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam.kg-1.24 dan UG. 11 . SUHARTA DAN B.194). KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah.53 cmol. dan tidak mempunyai sifat acric. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. satu pedon didominasi kaolinit.31 hingga 25. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan. (1999) mengemukakan. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0.50 (HP. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri.kg-1). Sedangkan tanah dari batuliat. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17. 2007). Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Dikemukakan selanjutnya. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. Quideau et al. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik.

.. 2004. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi. 12 .. sedangkan dalam kondisi terbuka.10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar. Dalam kondisi hutan alami.73 0.08 0.08 0.04 0.. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.22 0.41 0.13 0.22 21 69 122 Bto 0. cmol.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al.42 20 170 62 Bto 0.07 0. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil.21 0..03 0. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan. Wu and Tiessen.02 0.13 0.24 A 0.82 20 200 Bt 0.61 EY. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg.55 0. Mg.110 A 2. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi.03 0. Tanah dari bahan induk batupasir. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi.17 1. % .44 A Bto A Bto 0.14 A 0. 2004. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah. Oleh karena itu..11 0.04 0. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu.03 0.232 A Bt 0.04 8 26 66 MD..15 0.32 0. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.kg-1 .37 0. kejenuhan basa. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah..194 A Bto 0. Typic Kandiudults HP.17 0.. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.81 0. kedua proses tersebut dominan. Driessen et al. dengan hilangnya tanaman penutup tanah. Typic Hapludults UY. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon .27 4 112 DD.20 0.. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun..24 0.67 0. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.. Tabel 8.04 0.. Acrudoxic Kandudults HP. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8). pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to.04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat.30 0.09 0.04 11 57 22 UG. 2002). Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi. Basa-basa dapat tukar (Ca. mg kg-1 .24 0.58 0. Khusus untuk K dari batuliat.05 0. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik. dan K) di horizon A. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik. Fraga and Salcedo.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.21 0. Demikian juga kejenuhan basa... Dalam keadaan terbuka dan berlereng.

2004) atau tanaman pangan (Ding et al. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. and N. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). Am. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. 2002). J. Tugu. 2004.R. V. Amarasiriwardena. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. FAO. J.S. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan.. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. Chen. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi.. In: Peat and Podzolic Soils. SUHARTA DAN B.. 1990. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. Guidelines for Soil Profile Description. Imhoff. 2. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. Buurman. G. 3. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). J. Salcedo. Novak. DAFTAR PUSTAKA Bram. and Permadhy. Driessen. 68:282-291. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. 1971. dan kimianya. Soil Sci. Soil sci.M.H. Am. P. 2004. Bogor. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir.. C. A. Plant and Soil 35:401-414. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management. P. Xu. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. 2002. Xing. 68:215-224.H. 1976. Am. Susceptibility to compaction. Soc. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. Pp 95-115.N. Soil Research Institute. E. J. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. Soil Sci. Ding. Z. D. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. Rome. Hunt.J.M. Fallow. and D.. Fraga. P. Dalam kondisi hutan alami. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. 1976. and B.. load support KESIMPULAN 1. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut.G. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. Mathers. Da Silva. FAO. S. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. Soc. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. 4.H. 66:421429. October 13-14. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan.P. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . and I. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). sifat fisik. 2004.

2003.B. R. China. Silitonga.A. Loughnan. Keys to Soil Taxonomy. 1951.A. Soil Sci. Soc. dasar Oxisol Barat. J. Ninth Edition. Jakarta. Soc. Geological Research and Development Centre. J. Sumatera. Loussot. dan B.. and N.H. Soil Sci. and S. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. N. Jawatan Meteorologi dan Geofisika.. 66:1648-1655. Soil Survey Laboratory Staff.A. 63:18801888. Studi kasus pada Sanggauledo. Am. Wood. Version 1. Kastowo. R. 1991. S. Soil Survey Staff. and H. Pupuk Suwarna. Smith and Fergusson. T. Geological map of the Solok Quadrangle. Sukardi. and P. 41. S. 2002. United States Department of Agriculture. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. Bandung. USDA. Soil Survey Laboratory Methods Manual.. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise. 1999. N. Budhitrisna. 2007. Washingthon DC. O.. Soc. Wu. Soil Sci. Suharta. Bandung. 1995. Soil Survey Investigation Report No.H. Suharta.000. Am.0. scale 1:250. J. Inc. Chevalier. Soc. Graham. and soil compressibility of Hapludox. Soil Sci. N. Quideau. 1969.C. R. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Ponge. 1995. Geological Research and Development Centre. Am.C. New York. Chadwick. Natural Resources Conservation Service. J. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. M. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties. F. Tiessen. P. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. Mangga. 28/2008 capacity.000. scale 1:250. 66:19962001. 2002. and H. J. 14 . Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. 1992. Am. Prasetyo. 68:17-24.F. American Elsevier Publishing Company. Santoso. Chemical Weathering of Silicate Minerals.

Penelitian dilakukan di Desa Bojong. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high. IPB. crop water availability in dryland still has a problem. the study of the relationship between water movement. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. water flux. IPB. rainfall. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. laju pergerakan air transient. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. Pergerakan air transient. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. Kemang Sub DIstrict. Soil pore characteristics. Kecamatan Kemang. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. Keywords : Water movement. rainfall. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. Bogor. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. HARIDJAJA1. 3. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. and water distribution. To optimize the crop water availability in dryland. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. and soil pores characteristics in the soils is required. hujan. Bogor. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. Pada saat hujan besar. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. climate data. Fluks aliran air. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. SOEDODO H. WAHJUNIE1. transient water movement. Fakultas Pertanian. IPB. Bogor District in 2006. dan iklim setiap hari. dan distribusi air. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. Kata kunci : Pergerakan air. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. 2. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. O. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. and peanuts that reflected soil management. Transient water movement. paddy. but it is unpredictable to cover crop water requirements.Water flux. dan kacang tanah. located at Bojong Village. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut.2. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans). Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. padi sawah. Up to now. Bogor. The data ISSN 1410 – 7244 15 . Karakteristik pori tanah.

BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. Begitu hujan berhenti. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. dan distribusi hujan. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. kebutuhan air tanaman. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al.. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. 1980).. dan dinamika kelembaban tanah. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. 1992. 2).. pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel. intensitas. 1980).. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. 1996). Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. kemampuan maksimum tanah meretensi air. Toor et al. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. Bodhinayake et al. serta 3). 2004). 1992). 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah... besarnya peresapan air (infiltrasi). Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. seperti distribusi pori. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. 2004). Desa Bojong. Berdasarkan uraian di atas. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. 1990). 1986). 2004). Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. kontinuitas pori. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1). maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. dan tortuositas pori (Hillel. Kecamatan Kemang. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. Adapun Perfect et al. Bagarello et al. pengaturan pola tanam. Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al.

90 9.. 5.12 27.16 1.. dan intensitas hujan periodik.26 3.15 3.72 9.58 40.. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.96 0.. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong... harian.01 6..92 43. dua tahun terakhir kangkung darat.. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.55 37. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor... pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1....97 26..05 59.20 23.41 32.21 14.38 9.34 2.47 14.54 23.57 4.22 12..96 0.88 1.35 2.81 27.58 22.36 35.10 85. Pengolahan tanah sedalam cangkul.33 2.13 11.44 43...74 19. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.80 24. SP 36.41 10. 1.42 37.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1..10 1. Blok 1.90 21...22 19. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat.14 1. ISA = indeks stabilitas agregat. dan 150 kg per hektar...78 40..76 19.52 3.35 57.78 39. maupun harian.88 29. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air.07 23.97 1.99 0.01 7. 200 kg.75 58.04 24. Tabel 2.39 22.53 16...84 17.85 47. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan.18 17.27 4.30 38.86 1. 2.53 7.. and 3 No.. kacang panjang. 1. 2.43 22.48 61.00 17.83 1.29 65.84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi.84 41. dan distribusi air tiap kedalaman tanah..22 RPDSC RPDC RPDL RPD .88 42. pengolahan tanah sedalam cangkul. Soil physics characteristics at block 1. RPT = ruang pori total.50 4.29 67.87 15.63 41.30 7.53 13.47 6.93 1.03 29.... Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1.81 18.75 4.88 22. Tabel 1.27 19.98 0.42 27. 13. RPAT = ruang pori air tersedia..41 3.19 6.02 6.46 20.79 14.50 22.52 14. 3.38 10. 3.18 25.06 ISA 42. RP = ruang pori 17 .95 64.40 3.43 18.06 2.34 27.45 43. terakhir padi sawah.95 31.00 DMR 1. terung.26 8.58 42. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan.35 3.41 37.76 1.57 5. oyong.. hujan dan iklim setiap hari.48 39.. RPDL = ruang pori drainase lambat.11 38.29 61.45 2.48 30... Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali.08 25. 2.69 1. Rotasi kacang tanah..53 10..94 58. 5.70 25.35 23.. terakhir kacang tanah..43 63.. 1. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m. RPDC = ruang pori drainase cepat.91 15.45 11. WAHJUNIE ET AL.02 1... 2.95 0..01 43..46 4.67 40..25 1.80 10.73 2.28 26.38 22...64 62.86 65.16 2.78 16.21 3..90 1.63 35.12 27..99 17... Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok.47 21.12 16.23 35. laju pergerakan air transient.46 15.... 2. 3.13 19.22 38.54 18... Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.00 1.02 0. 5.76 22...48 45.23 38.40 2.64 7.. singkong dan oyong..62 19. cabe.. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3.38 14.15 2..74 28.45 40..00 0.15 1.15 7.90 3.52 64..18 17. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1).99 41. % 4..91 22.65 9.37 28. 4.88 53..78 8.95 1.09 1. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo..02 66.13 25.75 67.42 17.07 3..76 64.11 4.76 2..43 13..42 32.80 2. 4..50 66.95 0.50 46.98 38.62 25..12 43.71 31.76 83. 2...48 1.13 15. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1.12 2.96 0.91 2..05 1.64 25.96 RPT % 61.15 8..... jagung.. 3.18 2..98 3.31 14.19 34.39 28. dan 3 Table 2.49 25.59 43.11 12..71 1.ENNI D. 4.68 33.27 1..94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol .12 13. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.

47 1.38 11.88 40.46 30.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet.....88 27...57 Ln(θ) + 8..46 48.93 Ln(θ) + 7.. % vol .72 1.54 43... tak jenuh..27 28..10 0. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh …….. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah....99 Ln(θ) + 7.87 12.. cm jam-1 ……..99 Ln (θ) + 7... Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET .... dan titik layu permanen pada lahan blok 1..28 44...42 38.03 44.18 31.. 1986). 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah..40 0.………….79 2.07 46...91 25..38 27..54 25. Tabel 3...86 0.46 0....87 12...92 28.39 40. kapasitas retensi air maksimum.waktu) .23 31. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman.79 2.. Pada lahan kering yang relatif datar.. (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann...90 46.. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya.. Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia.. 2.65 1....23 1.31 Ln(θ) + 7.. 1986).92 11...89 2.. dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm..32 Ln(θ) + 8..87 10.. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986). 2. 2003).67 25... unsaturated hydraulic conductivity...23 1.18 18 .38 12.00 27.65 Ln (θ) +7..92 11.. pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan....84 2.87 Ln(θ) + 8.92 12.92 11....….∆ S ... permanent wilting point at block 1.88 46.96 25.33 2.80 25. Konduktivitas hidrolik jenuh..39 Ln (θ) + 7..87 10.92 12.56 Ln(θ) + 8.97 45. 11. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.52 47.04 44.13 28..96 Ln (θ) + 7.32 0.87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen ...03 Ln (θ) + 7. Saturated..00 45.09 Ln (θ) + 7...38 10.31 Ln(θ) + 7. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol. maximum water retention capacity..38 12.54 25.……………...14 Ln(θ) + 7. (Shaxson and Barber..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 38.... dan 3 Table 3..38 11. dengan pendekatan neraca air (Wagenet..

89 0. dan 3 Figure 1.24 0. Pada kejadian hujan besar. sehingga fluks aliran air makin besar.63 2 Fluks (blok 2) = 0.0011 . Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0.04 CH 0.04 CH + + 0. Semakin besar jumlah hujan. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah. sehingga membasahi tanah secara berangsur.04 CH 7 7 X 10-4 CH .– 0. Untuk melihat perbedaan pergerakan air. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t).89 Fluks (blok 1) = 0. apabila tanah belum jenuh.0011 CH2 CH2 . sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0. Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar.63 pada lahan blok 2. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah.0. and 3 19 . dan 0. r2= 0. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1.88 0.04 CH ++ x 10-4 CH2 . laju pergerakan air transient. (2004). tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0. WAHJUNIE ET AL. r = 2 Fluks (blok 2) =--0. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda.20.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1. 2. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1. Menurut Sugita et al. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah. 3. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi.89 pada lahan blok 1. 2.88 pada lahan blok 3. dan 3 sama.ENNI D. 0. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm.20 0.24 + + 0.0013 CH2=. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum. Pada jumlah hujan rendah. 2. Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1. Pada kondisi ini. 0.0013 CH .63 0. r r = 3 Fluks (blok 3) =0. yang ditentukan dalam fluks aliran air. 2.

. Di antara ruang pori tersebut. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4).0.0...47 a (-) 1.19 a 0..48 c 0....17 a 7... 28/2008 berbeda-beda.. sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3. Berdasarkan analisis regresi berganda.. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata.06 y 0. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat. Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2.30 a 1.09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%). stabilitas pori........09 RPDSC + 0. ruang pori air mobil... secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif). ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2). Pori ..80 b (-) 0. 20 . konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1..86)...06 RPDC ..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.08 RP mikro.31 z (-) 0...01 RPAT. Water flux and rate of transient water movement at block 1. ruang pori drainase cepat. Semakin besar fluks aliran air.24 b (-) 0...73 x 5.. Pori + 0. R = 0....97 z 0. ruang pori air mobil.88).....66 a 1.. terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm)... Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1....02 St.50 x 8. 2.19 x 8.17 b 2... ruang pori air imobil..13 a 1...33 a (-) 0....07 b 0. 2. Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2)...33 b 0. and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 .14 b 0.25 c (-) 0...26 x 3...93 ..07 RP air mobil + 0.36 .. cm hari ... Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan.0.09 x 1.75 y 1...........25 RP air mobil + 0.. Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut.87 x 5. sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air.. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4)...26 b 2. 2. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air..0.86 (Fluks = -2.0. R = 0..22 y 1.. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh... tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2..01 St.28 y (-)0... dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.41 z (-) 0.. Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2. memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar. Tabel 4...27 RP air imobil + 0. stabilitas pori. (-) 0...09 y 1. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0.02 y 2..23 a 7...84 a 2.. Pada hari-hari tanpa hujan. dan 3 Table 4... Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm).88 (Ks = -14...06 RPDC ....85 x 3.37 x (-) 2..

2 . dan 3 Figure 2.21 CH 0.004 CH2.21 CH – . dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali.80 dθ/dt (blok 2) = 0. 2.ENNI D.2r ==0.12 0. dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol).2. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. Transient water movement on various amount of rainfall at block 1.0019 CH .23 0. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0.2.23 + + 0. 2. Semakin besar jumlah hujan. sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering.83. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu. dan 0. perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1.0.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2.004 CH r = 0. 2.002 CH r = 0. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2). 2. r 0. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. 1986).– 0. dengan koefisien korelasi masing-masing 0.002 CH2 . Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar.=r 0. WAHJUNIE ET AL.26 CH 0. and 3 21 .26 CH – . sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun). Dengan hujan yang lebih besar lagi.83 dθ dt (blok 1) = -1.80 3 dθ dt-1 (blok = -2. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah.0019 CH2 .80.0. 0. r =0.30 CH . Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.62. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum.30 CH 0.12 ++ 0. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu. Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.62 dθ/dt (blok 3) 3) = . kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar.

Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. ruang pori air tersedia. Pori. Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. 22 . poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3). dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air.0. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil. fluktuasi. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum. Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al. Pada potensial yang lebih tinggi.5 mm. di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya.04 RP air imobil + 0.03 RPAT . Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah).02 RP air mobil. (1985). Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air.04 RP mikro . 2. Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1. Namun pada hari-hari tanpa hujan. Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. R = 0.38 + 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient.04 RPDSC + 0. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. maksimum pada curah hujan paling rendah. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat). dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0.99).0. dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air.85 . 2. Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage. tanah makin lambat perubahan kadar airnya.99 (θ KL = . Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient. kadar Semakin air tanah. R = 0.93).5 mm. kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3). Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1. ruang pori air imobil.4 mm. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37. 1980).01 RP air imobil 19x10-4 St. aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi. sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air.93 (dθ dt-1 = -1. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar).0. Distribusi air dalam tanah Jumlah.0. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya.

Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah. and soil water content at block 1. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. Distribusi curah hujan. Fluks. fluks. Apabila kondisi ini sering terjadi. bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. fluks. flux. walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. 2. WAHJUNIE ET AL. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. dan 3 Figure 3. Rainfall distribution. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. Fluks. maka produksi tanaman dapat menurun. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. Menurut Allen et al.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. kadar air tanah lapisan bawah.ENNI D. Shaxson dan Barber (2003). (20-40) cm. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. fluks. (020) cm nyata paling kecil. sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . 1998). Fluks.. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). Pada seluruh lahan. 1986). pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. dan lapisan atas. fluks. (40-60) cm. (1998). dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). dan kadar air tanah pada lahan blok 1. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). 2.

25 18 100 0. Irrigation water requirement at blok 1. Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 .00 3.00 44 70 0.00 4. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0.11 81. and 3 Tabel 5.00 20.98 33 86 35.00 8 97 0. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min. ruang pori air imobil.00 58.38 30.00 9 100 0.99 34 89 2. 2.00 28 61 0.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro.33 116.65 46 65 0.39 4 100 1. dan 3 Figure 4.0.00 36 100 0.03 RPAT .00 47 72 0.38 + 1. lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2). 2.00 0. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min.89 56 74 0.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78.33 2 94 0.75 1 100 0.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1. ruang pori air tersedia.00 29 64 0.00 4.04 RP mikro . Pori.06 10. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min.48 4 90 6.0.52 3. 2.00 13. 2. R = 0.00 87 73 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.11 86. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.00 71 67 0.00 43 81 0.99).00 2 100 0. dan 3 Table 5. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.82 42. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1.01 RP air imobil 19x10-4 St. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air.34 30.00 0.

ENNI D. Pereira. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. (Gambar 4 dan Tabel 5). 1998. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. Rome. 2. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. and M. fluks aliran air makin besar . Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. L. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air.G. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. Smith. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. dan ruang pori mikro. KESIMPULAN 1. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2).S.. dan stabilitas pori. Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. diikuti oleh lahan blok 2. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. 2. dan terakhir pada lahan blok 3. Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. 25 . : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. Pada lahan bekas sawah. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. namun karena pergerakan airnya kurang lancar.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). Di samping itu. 3. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. dan ruang pori air imobil. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). Semakin besar jumlah hujan. 4. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. ruang pori air mobil. R. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. WAHJUNIE ET AL. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. Raes. FAO. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. terutama pada kedalaman (0-20) cm. kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. D. ruang pori air mobil. DAFTAR PUSTAKA Allen. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah.

org/DOCREP/006/ Y4690E00. Geoderma 70:83-324. E. Soil Sci.. Ghildyal. Kishii. 1992.J. In Proceedings of Groundwater Quality 2004. G. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model. 1985. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil. Heidelberg. Prihar. F. Dunn. and H. J.S. the 4th International Groundwater Quality Conference. English.K. Wagenet. Sharma. and S. Soil Sci. Cameron. In IRRI (1985).A. M. Hillel.. Hanks. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil. Wisconsin USA. New method for determining waterconducting macro.. dan S. Torr.. Soil Sci. and G. J. Subagyono. New York. Optimizing Soil Moisture for Plant Production. Kurnia.HTM. T.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. J. 2003. Agron. Academic Press. Edwards. dan A. R. B.H. G. 79. J. In IRRI (1985). 1992. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. Water and solute flux. 1980. Haryati. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field . 2004. Am. Painuli. In A. Sukop.S. Am. and D. Philippines. Soil Physics and Rice. Haszler. J. Am.J.M. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow.H. J. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. 68:760-769.. Soc. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. 696-701. Condron.E. lovino. 68:6673. U. Inc Madison. Owens. F. Am.) Methods of Soil Analysis. L. FAO Soils Bull. Ritsema. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems. 56:52-58.K. Soc. Soc. Soc. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. Soc. 1986. Elrick. Soc. International Rice Research Institut. Soil Sci. Inc.L. and L. B. M.. Perfect. T. Owens. Springer-Verlag.B. Am. 26 . Tala’ohu. July 2004. Soc. 1996.K. and G. Laguna. Fundamentals of Soil Physics. and L. D. 1985. http://www.J. J.P. M.. Pp 57-70. 28/2008 Bagarello. S.M. Dalam U. A. Dariah (Eds.C. W. De Datta. V.W.J.and mesoporosity from tension infiltrometer.saturated hydraulic conductivity. and C.J.B. Soc. D. Soil Sci. 2004. Soil Sci. W. Soc. Ashcroft. Shipitalo. K. Pp. Los Banos. Bodhinayake. Am. Xiao. Philippines. and L. R. W. Laguna. Soil Sci. Los banos. and K.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue. 68: 1429-1436. C. Barber. Edwards.. Soil Sci. Special issue.fao.J. Dekker. P. Am. Klute (Ed. Badan Litbang Pertanian. Rachman. and R.M. Am. held at Waterloo.S. 2004. Canada. Applied Soil Physics. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters. 1986. 54: 1530-1536 Stenhuis. 2004.Di. 56:52-58. W. Pp. Phillips. and R. Dick. 1990. W. Shaxson. Sur. Dick. 2004.C.. Effect of puddling on soil physical properties and processes..A.R. Am. 217-234.M. Departemen Pertanian. Sugita. H. Shipitalo. 2002. and M.S. Cheng Si.

458 ha dan di pantai timur seluas 179. enhance salt leaching horizontaly and vertically. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. pasang surut. memperbaiki kesuburan tanah. Aceh Barat. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. Bireun.139 ha. dan Aceh Timur.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. In the heavier rice soil. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. sisanya seluas 56. Nagan Raya. commonly used to grow peanut during dry seasons. 2003). Sawah tadah hujan terdapat seluas 127.190 ha diantaranya berada di pantai timur.090 ha. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 . Pencucian. 2004. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. salt accumulate closer to the soil surface. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. Aceh Utara. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. DAN M. Salinitas. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. tadah hujan. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. Kata kunci : Tsunami. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam. rusaknya sistem irigasi dan drainase. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. improve soil fertility.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. dan lebak) seluas 336. Leaching. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. 70. Nanggroe Aceh Darussalam. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. Indonesia. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. semi teknis. This includes avoid planting land that is still saline. and grow salt tolerant crops. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. Aceh Besar. Bogor. Salinity. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. 2. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat. Provinsi NAD dengan total luas 5. DEDDY ERFANDI1. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah. Keywords : Tsunami.559 ha. garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. desa.

2005). Selain pengambilan contoh tanah. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al.9 juta ha yang ada. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120.000 ton per musim tanam. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan.. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. maka dengan total luas sawah sebesar 336. 28 . 1997). Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. 1990). 1986. dan 12 bulan setelah tsunami. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi.000 ha. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. 9. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1.. Cornillon and Palloix. juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. diperkirakan terdapat sekitar 184. Selain lahan persawahan yang rusak. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah. 7. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4.2 t ha-1 per musim tanam. Aceh Jaya. jembatan. Slavich. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1. sistem sanitasi dan lainnya. dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah. 2005). dan Peuneung di Banda Aceh. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. jalan. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah.000 ha lahan kering dari total 1. Khusus untuk contoh lumpur. 1996. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi.4 juta t ha-1 per musim tanam. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. 1998). Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman..

dan 4. 13. C organik. dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. 3. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur. Sementara di Darussalam.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan.5. terutama dalam bentuk NaCl.5. sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. sulfat.5 untuk kandungan liat 25-30%.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami.5 km untuk transek Darussalam dan 1. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al. 2005). bikarbonat dan klorin (anion). kalsium (Ca). 1999).8 untuk kandungan liat 1025%. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. Nilai ECe. 2003). Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. EC (electrical conductivity). Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. 3. Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. pH. daya hantar listrik (DHL).. dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes.. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm). natrium (Na). Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). magnesium (Mg).6 untuk kandungan liat 30-45%. kombinasi basa-basa kation (K. 8. Mg). tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. berkadar garam tinggi. 2003. dan 5 km untuk transek Lhok Nga. 2. tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . Tingkat salinitas (ECe). dan mencemari air tanah (Cardon et al. nilai ESP. Berdasarkan hasil analisis tanah. kalium (K). Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran. Ca. 9. masing-masing 1. Franzen. 4. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5.5. Bogor untuk penetapan tekstur. 4. 2. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). merusak struktur tanah.ACHMAD RACHMAN ET AL. dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40.5. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. ESP. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah.

00 4.00 1. dS/m ESP (%) ESP. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.00 2. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .00 1.10 cm 15 10 .20 cm 20 0 . (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 4.50 4.00 2.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.20 cm 120 100 80 0 . Nilai EC.00 1.50 3. January 2005 .50 4.50 3.00 2. January 2005 45 40 35 30 0 .00 2.00 5.50 3.50 3.00 3.50 0 1. ESP.50 4.00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 3. % 25 20 15 10 5 0 1.50 3.50 3.20 cm 120 100 80 0 .00 5.00 4.50 2.00 4.20 cm 10 5 20 0 1. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.50 2.10 cm 15 10 . % 25 20 15 10 5 0 1.20 cm 20 0 .00 1.50 60 40 Na.00 4.EC tanah (dS m-1) EC tanah.00 4.00 1.50 3. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai. ESP. and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths.10 cm 10 .10 cm 10 .00 2.00 2.00 2.50 4.00 3.00 5.00 5.00 4.00 5.50 4. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.50 4.10 cm 10 . (km) Jarak dari pantai km Gambar 1.00 5.10 cm 10 .00 60 40 Na. Januari 2005 Figure 2. km Gambar 2.50 3.00 4. Nilai EC. Januari 2005 Figue 1. dS/m ESP (%) ESP.00 2.00 4. EC.00 2.50 4.00 0 1. EC. ESP. ESP. 28/2008 Jarak dari pantai.50 3.50 4.50 2.20 cm 10 5 20 0 1.00 1. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah.50 4.

4±0. kacangkacangan. lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. kecuali K yang rendah sampai sedang (0. dan HCO3-. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. Makin tinggi kandungan Na tanah. Rata-rata (n=20) nilai pH. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. kolam. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik.4). Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian. OH-. jagung. Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 .5±1. Pertumbuhan tanaman terhambat. Mg. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. makin mudah tanah terdispersi. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi.ACHMAD RACHMAN ET AL. Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. dimana tanaman padi. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. cekungan. lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. sumur-sumur. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. ECe. Menurut Emerson dan Bakker (1973). Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. mengganggu keseimbangan unsur hara. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). ESP.

24. memperkuat batang tanaman.2) 22. dan kualitas bijinyapun kurang baik.8 (15.5 (4.4 (0.0 (1.69 6.3) 56.5) 11.9 (24.2) 14.2 (9.6) 0.5 (10. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat .3 42.2) 2.4) 16.1 di Aceh Barat.93 8. Aceh Jaya. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na ………….3 (10.11 38.6 (203) 2.1) 34.1 (2.8 7.4) 0.6 (1.2) 68.0 (24.8 26.7 (19.23 59.3) 5.0) 22.46 13.82 18.3) 1.2 (1.9) 8.3 (12.8 (0.1) 5.7 (17. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.1) 18.5 (4.4 (0.5 (21.2 42. 28/2008 Tabel 1.2 (0.8 12..0) 4.8) 16.8 (0.72 2.7 (0.25 15 .8) 0.7 (4.9 Tebal lumpur cm 10 .2 (0.7 (11.11 2.0 (1.84 Tabel 2.11 24.3 (0. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67.1) 7.3) 1.2 (19.9) 28.8) 23. rendah di Aceh Barat.5) 0. 52. Reaksi tanah umumnya masih masam. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.20 15 . 1990) menjadi 5.9 (17.6) 27.3) 23.4) 7.1) 16. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.3 (0.4) 7.5) 21.7) 9.93 4.0 (3.6) 19.3 47.0) 15.8 di Aceh Jaya dan 5.3) 8.1) 7.2 (3.9 (24.8) 25.3) 41.9 (8.1 (1.3 (31.5) 7.69 18.0 (5.1 (2.7) 5.80 C % 2.80 0.0) 4.9 (11.3 (4.4) 5. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.8 (4. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .9) 31.9 (34.5 (0.95 19. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.27 0.87 18.1) 2.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.3 (5.8) 4.3 (0.8 (1.5 (5.3 (17.2 (8.0 (5.2 (12.8 (7.2) 14.8) 31.5) 19.6) 145 (275) 2.6) 24.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).5 (12.8) 7.4) 43.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.54 2.0) 0. Aceh Jaya. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4.8) 5.0) 4.8) 4.3 (4.2) 7.5) 16. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.9) 15.4) 4.0 (17. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.3 (28.85 56.8 (48..22 2.36 13.5 (91.86 84.97 2.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.1 (8. dan meningkatkan kualitas buah.5 dS m-1.5) 13.0 (15.2) 14. % …. rata-rata di atas 5. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar.0) 5.8 6.19 80.0 (1.2 (12.8) 14. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.….2) 2.8) 7.6 (9.3) 5..7) 0.2 41.2 24.3 (10.57 26. cmolc kg-1 ………….1 (29. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.6) 6. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya. Dengan demikian.3 (18.9 (23.7) 0.1 (1.62 20. Mg dan Na tinggi.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.6 (9.0 (4.5 (1.3 (31.2) 5.1) 6.6 (31.2 (0.4) 7.1) 3.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.57 10.85 0.86 19.6 (1.9 (16.

Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6). C) Lhok Nga. B) Panteraja. Panteraja Pidie. B.000 3000 3. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah.000 4000 6.000 4000 4.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.000 1000 Cl (ppm) 2. B) Panteraja. C.000 2000 3. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1.000 6000 8. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1.ACHMAD RACHMAN ET AL.000 3000 4.000 1500 1. dan Peuneung Aceh Besar. baik secara horizontal maupun vertikal. and D) Peuneung. dan Oktober 2007. Gambar 4 A.000 10.000 4000 D 0 O 0 1000 1.400%) dari bulan September. Lhok Nga. Pidie. Banda Aceh Figure 4. Pidie.000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng. Pidie.000 2000 Cl (ppm ) 4. Banda Aceh 33 . Aceh Besar. Pidie. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah.000 Cl (ppm ) 2000 2. Aceh Besar. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. November 2005. C) Lhok Nga.500 2000 2. dan D) Peuneung. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat. A O 0 2. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram.

Pidie. C) Lhok Nga. B) Panteraja. Banda Aceh Figure 5.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. C) Lhok Nga. Aceh Besar. Dengan memasukkan angka ECa=1. dan D) Peuneung. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi. Pidie. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.26* ECa) – 0. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. khususnya sawah. 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5. 2) tindakan rehabilitasi. B) Panteraja. Pidie. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. di daerah bekas tsunami. adalah: 1) tindakan pencegahan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. (1989). Pidie. and D) Peuneung. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Aceh Besar.72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian.94 r2 = 0.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 .

ACHMAD RACHMAN ET AL. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. Aceh Besar. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. B) Panteraja. Aceh Besar. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . Pidie. B) Panteraja. dan D) Peuneung. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. Pidie. Banda Aceh Figure 6. Banda Aceh nang secara permanen. Pidie. C) Lhok Nga. and D) Peuneung. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. C) Lhok Nga. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Pidie. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

32 ± 0. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0.13 ± 0. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0. Phosphorus.0.54 ± 0. and Improved Technology + Rice Straw.60 ± 0. Sebaliknya. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village. Sedimen.28 dan 1.52 l detik-1. like nutrient and sediment conserving.09 l detik-1.89 ± 0.06 to 1. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season. but also providing an environmental services.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. Furthermore..23 sampai 3. menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al.15 l second-1. dan Perbaikan Teknologi + Jerami.15 to 0. hara terlarut (nitrogen.33 ± 0.32 ± 0. Farmer Practices + Rice Straw.15 l detik-1.20 sampai 1. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.60 ± 0.13.55 ± 1. 2007). baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan.07 to 0. There were no significantly different among treatments.13 .54 ± 0.521 kg ha-1 musim-1.23 and 3.31 ± 0.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil. meliputi Praktek Petani.52 l second-1. Potassium.33 ± 0.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji. both for sediment and nutrient deposited. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2.21 ± 0. Kalium. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. Perbaikan Teknologi.34 l detik-1. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0.38 ± 0. Nitrogen.28 to 1. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice. 0.10 ± 0. Praktek Petani + Jerami. yaitu antara 0.55 ± 1. yang bervariasi antara 7. The treatments included Farmer Practices.89 ± 0. dan 7. 1996. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan. varying between 7.10 ± 0.55 l detik-1.13. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah.07 dan 0. the Semarang District during the Wet Season 20032004.78 ± 0. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan.62 kg N. Bouman and Tuong. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian.20 kg P. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim. kawasan industri dan fasilitas jalan. Selanjutnya. 2001.13 and 0.06 l second-1.13 ± 0. Sediment. Secara statistik. Oleh sebab itu.25 to 13. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 .34 l second-1. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. In contrast. Sebaliknya. BPS. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1.38 ± 0. and from 7.55 l second-1. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.62 kg N. dan bervariasi mulai 2.78 ± 0.20 kg P. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi. Keywords : Discharge.31 ± 0. dan (4) pencemaran air. industri dan rumah tangga. dan pada stadia generatif antara 1.20 and 13. 0.06 dan 1.715 to 5. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit.09 l second-1.21 ± 0. Nitrogen. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004. Perlakuan yang diuji.20 . Improved Technology. sedangkan pada stadia generatif antara 1. yaitu antara 0.42 kg K ha-1 musim-1. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia. 1. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan.521 kg ha-1 season-1. Fosfor.15 dan 0.715 sampai 5. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan.25 .06 l detik-1.42 kg K ha-1 season-1. 2002).20 and 1. At generative stage was about 1. Sawah berteras was about 1.

Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. 2003.. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. Udawatta et al.. Selanjutnya. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. 2000. Sukristiyonubowo et al.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al.. Sukristiyonubowo. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau. 2006. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. Lal et al.14-1. Agus et al.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. kondisi kelembaban awal tanah. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1.. 1977. 2003.. 1990. Toan et al. 1998. IWMI. Visser et al. 2003. Lal et al. Filipina. 1970. (1976). 2005. Berkaitan dengan iklim. dan Douglas et al. 1998.. . 1994. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al. 1998. 2001. dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). 2003. Adachi. 1986. Aksoy and Kavvas. 1992. Namun demikian.. Secara spesifik. 1973... (1998) melaporkan bahwa jumlah. Kissel et al. Bhuiyan et al.. Sukristiyonubowo et al. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0. sifat kimia tanah. 2004).. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan.10 g kg-1 air (Bhuiyan. 2007 dan 2008). Lal. Sukristiyonubowo. 2004). 2000. Daniel et al. Bouman and Tuong. Sanchez. 2007). 2005. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan.. 1998. Tabal et al. 2007).. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull. 2003. Naphade and Ghildyal. 2002. 1971. Phomassack et al. Robichaud et al. Duque et al. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. Sukristiyonubowo. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman.. Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill). 1998). tipe penggunaan lahan. pengolahan tanah (tillage erosion). Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. intensitas. 2006. kecepatan infiltrasi. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. 2003. topografi lahan. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion). Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts).. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya. Cabangon et al. Kirchhof et al. Agus dan Sukristiyonubowo. 2003 dan 2004. Cabangon and Tuong. tanah. Sharma and De Datta. Kukal and Sidhu. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India. air (water erosion). sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. 1971. 2002.

Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. 2007). Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). 100 kg TSP. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova). Saluran air masuk pada teras paling atas. 41 . Urea diberikan dua kali. Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. 2008). Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet).140 mm (Sukristiyonubowo. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). berlainan ukuran. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar.5 for Windows. dan 100 kg KCl ha-1 musim-1.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. Kabupaten Semarang. Dua belas sawah berteras. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. 2007. Teras bersifat datar. Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2.44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Pada perlakuan FP. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP).

15 2. 42 . 28/2008 Tabel 1. komunikasi pribadi.070 2. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1. Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30. Tanggal tanam. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2.000 4. Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3...500 3.15 Takaran Urea TSP KCl .dan NH4+).64 2. pengembalian jerami. pengamatan diakhiri pada jam 17:30..240 1...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Date of planting.97 3.. dan kunjungan lapangan Tabel 2. the total amount of returned rice straw. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen. Pada saat pelumpuran. P (PO4-).300 5.780 1..500 5. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah.530 3.680 904 2..040 4..26 2. kg ha-1 musim-1 . dan K (K+) terlarut.48 2..

sedangkan kalium dengan flame photometer. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil. Pada stadia vegetatif. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. pengambilan contoh air irigasi.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter. Data yang dikumpulkan meliputi debit. Bogor. Pada stadia generatif. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. 12:00. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit. yaitu jam 08:00. kadar lumpur. Dalam makalah ini. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. fosfat (PO4-). Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. Unsur N. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. dan 16:00. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-.dan NH4+). P. Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. dan 16:00.000/t dimana. 12:00. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. dan konsentrasi N. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). yaitu pada jam 08:00. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1.000 43 . hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. P. Ammonium (N-NH4+). Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam.

15 l detik-1. mempermudah proses pelumpuran. Secara umum. Oleh karena itu. Bouman et al.06 liter detik-1.54 ± 0. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air.28 sampai 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. WMO (1994). pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.55 ± 1. Akibatnya. namun dapat meningkat hingga 650900 mm. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi.15 sampai 0. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1. Pada stadia vegetatif. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm.23 sampai 3.38 ± 0. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah.60 ± 0. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al.. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989). dengan cara memasukkan konsentrasi N. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. kebutuhan tanaman padi akan air. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi.33 ± 0.000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak. Selanjutnya. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. Alasan penggunaaan metode pengukuran. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif. 2004). P dan K sebagai ganti kadar lumpur.10 ± 0. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al. yaitu berkisar antara 0. Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. sawah memerlukan air yang paling banyak.55 l detik-1.

46 1.20 0.12 0.11 0.015 0.15 1.021 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.150 4.1.284 a .223 0.33 ± 0.17 0.330 ± 0.19 0.19 a 0.54 ± 0.78 0.05 b 0.015 0.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.170 0.015 0.021 0.521 a a a a a a a a 1.21 0.36 ± 0.34 dan 1.46 ± 0.068 3.045 0.173 0.229 2.11 a a a a a a a a a a a a 0.490 ± 0.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.06 1.30 0.46 0.010 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.021 0.27 a IT + RS 2.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.20 0.093 2.13 1.025 0.715 5.223 0.72 ± 1.237 0.220 0.1.783 1.06 a FP + RS 1.031 0.11 0.015 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah. konsentrasi sedimen.89 1.37 ± 0.25 0.35 ± 0.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.260 2.880 3.267 0.835 0.15 a Stadia generatif FP 1.10 liter detik-1.28 ± 0. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.280 0.1.012 0.026 . yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).220 0.14 0.313 0.025 0.306 0.012 0.09 0.237 0.608 a 0.310 ± 0.55 ±1.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.42 1.60 ± 0.23 a IT 2.150 + 565 a a + 1.15 a IT + RS 0.250 0.13 a IT + RS 0.38 ± 0.243 0.051 0.50 ± 0.237 + + + + 3.37 a FP + RS 0.015 0. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.31 ± 0. Average discharge.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.247 0. 45 .21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.021 0.45 ± 0.06 0.946 5.23 a IT + RS 1. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.57 ± 0.207 0.280 0.32 1.22 0.51 ± 0.52 0.580 3.28 a IT 0.870 a .021 0. Rata-rata debit.09 c 0.203 0.10 ± 0.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.243 0.17 1.38 0.303 ± ± ± ± 0.025 0.030 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1. sediment concentration.287 0.550 2.13 1.015 0. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.21 a IT 0.243 0. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.267 0.12 a IT + RS 1.021 0.015 0.50 ± 0.307 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.267 0.17 1.010 0.51 a FP + RS 0.35 0.55 a* FP + RS 2.24 3.177 0.84 ± 0.283 0.090 0.017 0.015 0.237 0.450 2.20 0. MH 2003-2004 Table 3.20 a FP + RS 1.237 + 655 a a + 1.283 0.020 0.05 a 0.36 0.774 a .53 a Sebelum tanam FP 1.273 0.07 0.14 1.31 1.19 0.79 ± 0. ukuran teras dan luas lahannya.34 0.28 a IT 1.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.39 ± 0.088 + + + + 2.51 0.39 a IT 1.420 ± 0.54 ± 0.10 + 686 a a + 1.27 0.

Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system).835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0.42 sampai 3. Selain itu. pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca . debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar.88 ± 1. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen.58 ± 1. Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan. 2004). Selama perioda pengukuran. Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2.870 kg ha-1. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya.3. Akibatnya. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari). Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sebaliknya. pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya. Pada saat pelumpuran. Namun. yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. yang diukur pada saluran air keluar utama. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion).260 sampai +2. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1).09 g l-1. lebih tinggi 2.70 . saat pelumpuran adalah yang paling tinggi. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah.13 g l-1.19 sampai 0. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3. Kadar lumpur larutan sedimen.49 ± 0. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1.. Sebaliknya. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3). Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah.31 ± 0.

MH 2003-2004 Figure 1. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi.250 1000 1. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1. Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk. oleh sampai 480 keluar. Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1. Sebaliknya. pada stadia lainnya (tanam. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate). Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1).250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 . MH 2003-2004 1250 1. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP.589 kg ha-1 musim-1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. dan lain sebagainya.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. penurunan kwalitas air. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008). MH 2003-2004 1250 1.000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. MH 2003-2004 1250 1. MH 2003-2004 1250 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1.

sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen.01 sampai 0.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0. Poss and Saragoni (1992). Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1. konsentrasi NO3.04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS). sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1. tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen.15 ± 0. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N. tergantung pada perlakuannya. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan.68 ± 0. Variasi konsentrasi nitrat (N03-). Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif.77 sampai 1. Konsentrasi PO4.34 ± 0. konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji. mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis). 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi. yaitu N03. - 48 . Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991).21 ± 0.02 sampai dengan 2.terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah. Meningkatnya konsentrasi NO3.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.56 sampai 1. kopi (Coffea arabica). Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen. amonium (NH4+). yang bervariasi dari 1.dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi. cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ).13 ± 0. Oleh sebab itu.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1.0 sampai 5. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1. yaitu antara 0. selain volume air irigasi dan larutan sedimen. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site). Diantara hara yang terlarut. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi.12 mg kg-1.04 mg kg-1.6. konsentrasi PO4. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.04 sampai 1.86 ± 0.pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya.04 sampai dengan 2. bervariasi antara 0. Seperti halnya pada air irigasi. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4).05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5). amonium (N-NH4+).dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan.dan N-NH4+ oleh air hujan.09 mg kg-1 (Tabel 5). fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5). Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah.80 ± 0. yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture). erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar.antara`0. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen. atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5.06 sampai 0. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif.

05 a 1..04 0.02 0.04 0.14 ± 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1..025 b 065 ± 0. Concentration of dissolved N.01 0..21 1..01 2.08 0.15 0.02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0.01 0.10 0.04 a 2..65 1.29 ± 0..09 0.05 0.04 0. 2007).20 ± ± ± ± 0..03 0.22 0. N-NH4+. P..012 0.59 1...045 0.30 0.01 0...79 ± 0.04 0. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras.025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.035 0.030 0.030 0..79 1.07 0.015 b 0..050 0.025 0..035 0.03 ± 1.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0...030 0. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull..025 b 0.025 b 0.dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen.05 0.020 0.86 1.07 0.36 0. P.58 1.78 1..08 0.01 0..12 0.. 1970..79 1..06 0.01 ± 1. Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-.00 0.72 1.04 b 1. faktor lain seperti debit. mg kg . Selanjutnya.. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS)...01 0..80 ± 004 a 1..65 1.... dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi.07 0.86 2.015 0..012 0....14 2...01 0.006 0. Konsentrasi N..46 ± 1.030 0.012 0.01 0.03 0.04 0..16 2.012 a 0.05 0.36 0. PO4.02 0...01 0. 49 .02 0..34 ± 0.04 0.035 0.19 1..010 0.. and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.006 0.98 1.025 b 0...065 0.86 1. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya...01 0. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007).34 1..15 ± 0. pemupukan..70 0.28 1..72 1.. MH 2003-2004 Table 4..006 0. 0.02 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.79 1..07 ± 1.025 b 0.08 0.021 0.15 ± 0.02 0.10 0.01 0.035 0.18 1.015 0..56 1.025 0.07 0.76 1..06 0.030 0.45 ± 0. dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 .030 0.04 2. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras.01 0.01 0.010 a a a a a a a a 1..04 0.015 0.01 0.....01 0.84 1.05 0.83 0.66 1.12 ± 0.015 a 0..02 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4. Sukristiyonubowo.77 1.45 ± 0.02 0..04 0.03 0..01 0.86 ± 0.01 0.055 0.59 1.47 0.67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0....030 0..04 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.09 0.... P.95 2.03 0.035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi..

67 1.01 0.54 1.04 0..03 0.10 0.. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.03 b 1.15 0. Konsentrasi N.43 0.10 0..01 0.03 0.85 0.05 0....06 0.13 0..07 0. mg kg-1 ... P.01 0.67 1..01 0.02 0.90 1.75 1....07 0.01 0.10 0.02 0.73 1.01 0...01 0.17 0..03 0. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03.05 0...04 0.58 0. P.47 1....JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.01 0.09 dan 1.31 1. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi.06 0.06 0.96 dan 8..31 0... 0.03 0..07 0...05 0.08 0. and K in suspended sediment during rice growth.03 0.68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.02 0..75 1.60 2.03 b 1..02 0.. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut.04 0. dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.02 0.01 0.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1.03 0.04 0. Seperti halnya pada pergerakan sedimen..03 0.54 1..90 kg N.30 1.03 0.62 ±0.02 0...02 0...02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.32 1.03 0.04 0.04 0.. N (NO3 + NH4+).01 0. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda. dan antara 3...03 b 1. Concentration of dissolved N.04 0.47 1.57 ± 0. P.21 1.02 0. 28/2008 Tabel 5.02 0..04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0.06 0...02 0.02 0...14 kg P.75 1.04 0.28 kg K ha-1 musim-1.80 1.34 0..03 0.80 0.10 1..04 0.03 0.99 1..01 0.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.75 1.02 0.. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar. atau negatif.05 0.02 0. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.70 1.06 0. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6)..73 1.01 0.03 0.02 0.03 0.14 dan 9...09 0...89 0.05 0.54 ± 0. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari)..09 0. 0.69 1.07 0. P.69 0.03 0..62 1.06 0..06 0. Akibatnya.04 0...97 0.02 0.03 0..06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.05 0.13 1....06 0.09 0. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4.12 0. Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif.56 1. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari).03 0. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .12 0..03 0.13 0..57 1.04 0...44 1..01 0.02 0..01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.11 1.60 1..05 0.29 1. MH 2003-2004 Table 5.05 0.04 0. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.85 1..03 0.10 1. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar..03 0.38 1.68 1.05 1.02 0..06 0.46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.57 ± 0.01 0.03 0.05 0.02 0.02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.

15 dan 0.96 19..03 19.30 2.. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.64 3..80 14.80 29.06 l detik-1..34 0.70 1.06 5..38 ± 0....030 0.050 0. 0.28 2.48 a a a a a a a a a a a a 0..80 1.144 0.92 4.50 6.33 ± 0..040 0.52 a 12.002 0.. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air.51 12.25 ... Incoming and outgoing dissolved N..80 6. dan pada stadia generatif berkisar antara 1.26 6.90 20.030 0..62 kg N.64 2..42 6.20 a 10.90 11.32 a a a a a a a a a a a a 13.282 0...80 2.050 0.37 13.20 a 4... setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1..070 0.402 0. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar.89 ± 0..40 1. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar.270 0.030 0.54 4. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi.....90 a a a a a a a a 16.57 0.13 4.46 15.70 22..126 0.080 0..12 1..10 4.70 8.64 0.42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti..192 0.090 0.60 12..54 ± 0.62 a 13.87 39....002 0.92 42.31 ± 0.80 10.090 0..36 0.50 9..002 0.46 0.78 49..20 .288 0.040 0.130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0.008 0.20 a 13.20 6.60 3.28 3.24 27.072 0..00 5.66 10..80 a 10.93 0....84 8..42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6)..90 1...06 1..060 0. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.030 0..13.52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.50 0.86 0.130 0..018 0.030 0.. MH 2003-2004 Table 6.270 0. debit larutan sedimen adalah lebih kecil.458 0....196 0.060 0.60 b 25..58 36..13 .80 2.010 0.05 12. 0.180 0. yaitu antara 0...51 0.10 9.....14 9.22 0.40 11.55 l detik-1.256 0. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K ...30 36..41 0.58 5....090 0.00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0. N..62 a a a a a a a a a a a a 0. Dibandingkan dengan debit air irigasi.62 2....23 sampai 3.33 0.20 sampai 1..010 0.018 0.060 0....76 12.48 3.08 1.36 a a a a 0.50 12..68 b 4.00 9.20 22.003 0.52 b 0..28 sampai 1...38 1.020 0. KESIMPULAN 1...90 1.422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.98 8.060 0...55 0..30 6.30 1.60 ± 0.090 0..42 7.76 31. yaitu 51 .07 a 7. berkisar mulai 2..030 0.20 kg P dan 7.87 1.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.56 ab 9.10 ± 0.68 15.30 a 23..186 0..96 8.86 9...58 b* 1..040 0.13.126 0.144 0.50 ab 29..55 ± 1.16 4.162 0..90 9..96 44..24 6.18 0.20 a 0..90 19.040 0.15 l detik-1.20 0.99 28.31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22. P.33 1.56 3. kg ha-1 musim-1 .25 11.0.34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.74 7.030 0.90 2.002 0..145 0. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0..

and Penning de Vries. 1992. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata. Paper presented at the International Workshop on constrains.06 sampai 1. Rekomendasi pemupukan N. Water management in relation to crop production: case study on rice. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen. and H.012 sampai 0.2013.715 sampai 5.70-3. DAFTAR PUSTAKA Adachi. 1994.. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah. Moody. Pp 146-151. E.M. Bangkok.52 l detik-1. Outlook Agriculture.). fosfor.25-13.. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model. Departemen Pertanian.13-0. and D. 2. May 31-June 3.. R.).R. and R. and Sukristiyonubowo.20 kg P. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. C. S.T. Water. 21:293-299..13 ± 0. F.62 kg N.32 ± 0. A. S.09 l detik-1. Agricultural Water Management 37:241-253. T. Ramakrisna.42 kg K ha-1 musim-1. Sattar. Sebaliknya.E. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth. Agricultural Water Management 31:165-184.J. and C. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. Tabuchi. G. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. Bhuiyan. Pp 135-149. F.58 ± 1. 1998. Wet seeded rice: water use efficiency.207 ± 0.A. Anbumozhi. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Valentin. 1994. Valentin. Aksoy. A.. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed. palawijo dan sayur. K. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. F. Journal of Environmental Quality 7:203-208.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. Sukristiyonubowo. E. 1990.I.W.09 g l-1. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran.42 sampai 3.. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. and Rego. 19 p. Burwell. BIMAS.P. 2007. Alberts. Integrated catchment management for land 52 . 64:247271.. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. productivity and constraints to wider adoption. 2003. 28/2008 antara 0.L. water regime and fertigation level. 0. dan 7. opportunities. Maglinoa. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2. Vadari.R. T. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran. S.13 g l-1. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0. 286 hlm.I. and innovations for wet seeded rice. 1978. Effect of rice-soil puddling on water percolation. V.. Yamaji.07 dan 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Agus. Bhuiyan. S. Pada stadia generatif bervariasi dari 1. Agus.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Anonim. 1977. Bhagat. and T. Kavvas.21 ± 0. Departemen Pertanian.78 ± 0.. In Wani. 2003. Catena. Anonim. 280 hlm. Watung. and K. M. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia.I.88 ± 1. Schuman. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. Bercocok tanam padi.L.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata.490 ± 0.F.E. lebih tinggi sebesar 2. (Eds..E. A. (Eds. 2005. In: Maglinao. selain sebagai tempat memproduksi beras. R. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Tabbal. hara terlarut (nitrogen. 1996. Pp 186-193. H. Bhuiyan.

T. Valentine. S. In: Wani. Syers. T. IBSRAM-Thailand proceedings. A. and soil loss.P. C.J. 1998. Tuong..S. CABI Publishing in Association with IBSRAM.. 53 . D. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. Maglinoa. and T. and E. R.... Lemunyon. Biro Pusat Statistik. E. T. 2004.P..W.. 2000.R. R. R. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems.S. P618. Santos. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics.. Datta.. S.A.. D. (Eds. Priyono. Visperas. Sidhu. S. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion. Doctorate Thesis. Datta. 1998. Principles and Practises of Rics Production. 1976. Quita. In: Penning de Vries.).P. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. S. Adisarwanto. Agricultural Water Management. J. Sharpley.K. Phommassack. Daniels. and Biswas. BPS. A.J.. In Kanwar. Naphade. Hashyim. C. and A. Utomo.R. Cabangon. Soil and Tillage Research 56:37-50. 1971. 1998. Bains.R. Dacanay.. Lal... Water facts.P.. 203 p. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation.M.D. Tuong. B. A.P. C. Ramakrisna. Thonglatsamy.S. King.A. and Rego. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. Cabangon. Pp. Abdullah. S.) field. Richardson. So. R. Duque Sr. and Rego. Journal of Environmental Quality 5:288-293. MSEC-Lao PDR Annual Report. 2005. (Eds. Kissel.F. 1989. Phillipines. Pp 163-178.M. 57:11-31.. Monitoring of weather. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines.V. Ghildyal. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. 1998. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177. In Wani. IWMI (International Water Management Institute). Bhumbla. 2003. N. Chaplot. and N. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek. J. 207-222. J. and J. F. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon. 2001.)..B. 2000. A.)..V. T. MSEC-Philippines Annual Report..W. Kirchhof.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman. Caughlan. T. de Rouw. T.C. De Datta.M.J. IRRI. A. 2002. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. Peng.P. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice. Lal. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. and J.. (Eds. Tiongco. Logan. Bains. G.P. and Biswas. and H. F. L. and B.L.S. Bhumbla.T. Pp 510-517.P. B. (Eds.J.L. Kukal.N. C. R. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. CD-Rom (one CD).J.. de Guzman. Jr.R. K. C. N. W. R. Maglinoa. A. Ilao. Ramakrisna. A. runoff. IWMI Brochure. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. S. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. 2003. Soil Erosion at Multiple Scale. N. Ghildyal.S.). 1981. P. and T..E.. S. Marchand. and Kerr. Tuong. Sihavong. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L.H. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops.. Castaneda.S. 1991. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. B. Pp 499-509 In Kanwar. Burnett.O..P. T... and T. and J. 2004.J. K. S. Miller.P. C. and V. B. and R.D.). 1998. D. S. Agricultural Water Management 49:11-30. Carpina.M. G. Agus. T. F. Chanthavongsa. ion uptake and rice growth. Demyttenaere. 1971.K. Soil and Tillage Research 56: 105-116. P. J. and T. (Eds..A.D. El-Swaify.S. Statistik Indonesia. Journal of Environmental Quality 27:251257.A.E.R. 2002. Douglas. Los Banos.M.B. Zuzel. Soil and Tillage Research 78:1-8. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman. A.

184 p. Catena. 54 . Sanchez. Journal of Environmental Quality. and S. 169p.R. 2003. WMO (World Meteorological Organisation). Stroosnijder. MSECVietnam Annual Report. 2006. R. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice. In Wani. A. Agriculture Ecosystems and Environment. Taball. Data acquisition and processing. analysis.A. 64: 1-22.. Hlm 225-245. Bhuiyan. 1989.. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Burwell. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils. Ghent.M.. Ghent University. Toan. Sukristiyonubowo.E. Sibayan. Fertilizer Research 33(2):123-133. S. V. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD)..D. and Rego.R. T. Maglinoa. S. Faculty of Bioscience Engineering. 1970. 2005. Phai. Uexkull. Physical properties and processes of puddled rice soils. Agus. 2004. 2006. and M.K.M. (Eds.. E. In Maglinao. Guide to hydrological practices.).L. G. H.. 5:139-178. 735 p.I. Pp. D. Gabriels. R.J. Visser. (Eds. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia.. Agricultural Water Management. Puddling tropical rice soils: 1.168. Watung.R. Fifth ed. C. Advance Soil Science. Sattar. Leaching of nitrate. Yuqian.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. forecasting and other applications. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. measurements and modelling. Badan Litbang Pertanian. case study in the Philippines.J. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. F. Phien. De Datta. A. T. Belgium. Sharma. Growth and nutritional aspects. F. PhD thesis.F. Saragoni. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. USA. S. In The International Potash Institute (Eds. 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Pp. Garrett. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry. P. and W.P. 1973.. Operational Hydrology Report No. Wagenbrenner. Udawatta. 117:39-48. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. and F. 2007. Vadari. Bouman.K. and J.). T. Schuman.. 4:366-369.).T. Agus. Poss. 151-164. P. Verloo. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. Krstansky.. Nguyen. 56:93-112. and J.W. R. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport.E. Ramakrisna. T. L.A. Lao PDR on 14-17 December 2004.E. 413-416. Valentin. WMONo.W. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Nutrient losses by wind and water. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems. and R. Soil Science 115:303-308. Sukristiyonubowo. T. Chardon.B. and Penning de Vries. 686.A. 2002. Catena. A.R. D. Motavalli. and L. Lillybridge. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition). P. and H. Sukristiyonubowo. 1994.J. and M. Sukristiyonubowo. CD-Rom (one CD). CD-Rom (one CD). Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. P. 1992.R. 2008. 1986. D. Robichaud. 2003.P.D. WMO-No. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). L.P. 67: 56-67. B.H.29. 1974. Departemen Pertanian.

IPB. 1990. and Al were not significant. 69. MASJKUR1 DAN A. In kaolinitic soils. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. 69. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). 1998). Pada tanah kaolinitik. Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. clay content. 46. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. clay content. Kaolinitic.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. exchangeable Ca. sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. Phosphorus uptake. Cadd. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. kadar liat. Fe. Fedd. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. Bogor. Serapan fosfor. Cornforth et al. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. 1990). applied as superphosphate (SP-36). exchangeable Ca. dan 115 kg P2O5 ha-1. sedangkan pH tanah. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. 2002). The experiments used completely randomized block design with four replications. Tan. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. Namun demikian. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. kadar liat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. P uptake response with P fertilizer was not significant. Padi sawah Keywords : Soil properties. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. 23. Kaolinitik. sedang dan tinggi. Smektitik. and Al were not significant. 2. medium. Fedd. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. while the correlation of pH. Newman and Hayes. 46. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. Bogor. Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. In smectitic soils. while the correlation of pH. Smectitic. Cadd. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. sedangkan pH tanah. Thus. In kaolinitic soils. and high P content variabilities. ISSN 1410 – 7244 55 . 1990. Departemen Statistika. Fe. 23. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah.

dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. 46. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. 28/2008 pulau utama. dan 8). dan 3). Fe dan Mn dapat ditukar. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7)..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Contoh tanah dikering-udarakan. 200. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. Purworejo 2 (P sedang). P dan K HCl 25%. besi oksida bebas. dihaluskan. pH (H2O dan KCl). dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. N total. Mn. Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. 2005). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. Adapun fraksi Al-P. 7. Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. 100. Purworejo 2 (P sedang). K. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. 23. dan diayak dengan saringan 2 mm. Mg. Kedungrejo (P tinggi). Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. 1999). HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. P Bray 1. 56 . kandungan bahan organik (C organik. Fe. fraksi Ca-P. dan Na dapat ditukar. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. Ca. 69. Cu. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). dan Zn dapat ditukar (DTPA). 2. Fatmawati. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. 150. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. C/N rasio).

82 3.57 3.7 4. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….5 65.1 5.1 5.39 1.….24 0.82 0.13 11. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.2 5.67 0.51 1.01 3.….2 1.0 5.14 0.73 2.38 1.05 0.2 5.09 0.01 0..0 2. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.77 0.14 0.3 5.81 0. ….25 2.2 2.38 2.46 2.10 2.15 0.26 12. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….45 0.1 5.0 3.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.63 0.2 3.01 0.73 0.11 0.97 0.1 4.…………… me 100g-1 ………. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.4 1.0 4.1 5.31 2.5 25.46 1.0 4.67 1.14 0.01 0.53 1.2 81.84 3.31 1.68 0.2 3.32 0.08 0.05 2.0 4.19 3.5 1.4 74.81 0.45 9.70 0.01 3.01 0.97 0.2 1.3 0.07 0.2 5.95 3.65 0.24 9.81 2.01 0.3 1.…. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.30 0.5) H2O KCl 5.02 0.15 0.62 0.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .0 83. me 100g-1 ….1 4.67 0.22 1.6 1.1 4.4 16.29 12.6 1.97 1.0 3.38 12.9 21.01 0.8 1.88 2.37 11.58 3.0 4.6 3.3 11.6 1.12 0.89 0.65 1.1 1. mg kg-1 …….65 0.02 0.01 0.07 0.6 1.02 0.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.7 26.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.0 4.6 12.55 0.56 0.69 1.0 11.77 0.2 1. ….44 3.13 0.69 1.46 2.79 13.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .48 0.7 2.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.96 12.….49 1.12 0..04 0..0 4.11 0.Tabel 1.01 0.0 4.2 1.66 2.9 11.13 0. g 100g-1 .80 2.38 1. g 100g-1 ….34 1.09 0.50 10.02 0.6 1.65 0.14 1.09 0.45 3.7 24.4 1.67 2.31 0.09 0.59 1.97 1.4 4.53 11.73 0.14 0.01 0.0 9.5 15.0 3.2 5.4 1.0 1.09 0.73 0.8 5.4 2.1 5.52 11.2 4..0 4.57 1.6 2.

65 41.25 24.00 0.8 12.44 0.00 0.30 0.00 0.11 0.58 Tabel 2.00 0.39 123.99 41.86 1.11 0.02 0.3 7.0 42.50 5.92 16.4 1.42 0.07 21.63 41.67 130.57 21.00 0.80 105.36 16.04 135.0 10.11 0.5 5.37 22.2 37.5 4.77 35.09 15.6 4.3 2. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.6 14.52 1.3 3.3 10.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. me 100g-1 ………………….2 6.04 0.39 1.40 0.39 1.38 59.00 0.00 0.7 5.8 2.35 49.31 0.68 44.26 35.4 7.45 1.13 0.94 14.5 2.2 33.11 0. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.47 56.95 38.0 9.52 51.32 23.03 0.69 0.5 5.09 0.08 0.95 101.2 7.36 5.16 43.33 0.5 6.37 1.0 2.4 0.00 0.12 0.4 4.02 0.3 7.29 KB % 116.11 0.1 9.08 0.1 5.50 51.67 1.48 14.2 12.4 12.00 0.6 6.73 35.00 0.9 2.5 12.02 0.32 40.03 115.3 21.4 2.6 2.0 2.26 0.02 0.0 4.46 1.96 14.62 0.02 0.87 1.08 15.78 135.2 5.55 101.00 0.45 0.46 98.75 44.30 0.7 3.10 24.37 1.25 117.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.20 0.10 14.08 0.14 7.71 22.4 6.46 1.02 0.17 14.3 6.4 9.80 0.4 7.00 0.65 42.68 14.36 14.02 54.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi . 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.6 14.2 34.18 0.11 6.1 2.6 2.64 43.4 4.53 1.13 0.32 50.50 42.3 6.55 127.00 0.2 6.86 55.1 6.0 2.6 7.42 0.57 13.11 0.70 0.76 1.54 40.5 7.40 0.13 0.3 5.51 1.23 1.38 0.47 0.3 14.73 6.15 1.4 2.4 35. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….

KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej.Tabel 3. Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. 59 . MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Dobermann and Fairhurst (2000). Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983).

Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer . Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.60 Tabel 4. Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5.

. MASJKUR DAN A.. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1. 2004) Figure 1.M. 2004) Figure 2.. Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al. 2004) Gambar 2. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al.. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. 2004) 61 .

447 Tabel 8.490 F 0.363 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.89b 2.344 0.343 0.05 62 .908 4.0 2.5 1.33a 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. 0.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3.875 10.77a 2. 28/2008 4.186 0.761 0.0 2.227 1. 0.0 1.52a 2.798 9. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.0 3. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.78a 2. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.99a 1. 0.615 Sig.70a 3. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.5 3. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.35a 3.51a 1.558 1.579 16.112 0.292 0.50a 1.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.089 Tabel 7. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6.07a 2.09a 2.599 0.939 Sig.463 2.213 F 1.77a 1.05a 2.0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.639 F 1.62a 2.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.10a 3.449 1.54a 2.290 0.5 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.741 0.89a 3.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.228 Tabel 9.746 Sig.0 4.030 3. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.189 5.5 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.033 5.99a*) 1.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.

42. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8.202 0.75 hingga 3. P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4.756 0. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P.241 Sig.183 0. 150. MASJKUR DAN A. Tabel 10.646 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11.143 1. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13).762 F 1.M.053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. 11. dan 10.000 0.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.328E-02 F Sig. 11.147 15.60 hingga 10.512 0.355 0. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.682 Tabel 11. smektitik Demangan dan Tirtobinangun. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.866 63 .161 4. 12. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4. Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun.339 0. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4. 0.774E-02 9. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).550 9. Kedungrejo (P tinggi). dan 13).119 5. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4.451 0.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2.47. dan 250 kg SP-36 ha-1.

75a 8.10 ** Nyata pada α= 0. sehingga pH meningkat.99a 8.39b 9.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….38 0.55 -0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14.84** 0.701 F Sig.07 0.75** 0.99a 2.. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik.83a 2.27a 8. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.92b 10.13 Cadd -0. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah.13 0. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.16 0.835 8.313 0.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.15 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.01 * Nyata pada α= 0. 8.60* 0. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.711 0. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.91a 2.52 -0.61a 10.42b 7. 28/2008 Tabel 12.06 Liat -0. Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.46a 2.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.03 C -0.54 -0. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya.71* -0. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+).397 0.64* 0.18 -0.37a 2.278 0. serta (c) macam dan kandungan bahan organik.77** -0.75**). 11. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14. terutama bahan organik mudah dilapuk.51tn) (Tabel 14).55 Ser-P -0.16 0.51 -0.29 0. kg P ha-1 ……………….13 -0.47b 8.52 Aldd 0.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7.05 64 .32 -0.409 40. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .49 -0.61* -0.33 0.36a 3.53 0.68* -0. Selama dekomposisi bahan organik.928 0. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al.000 0.60a 8.72** 0.70a 11.83b 8. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31.41 Fedd -0.757 Tabel 13.75** 0. N-organik diamonifikasi.77** -0.

Kation Cadd.10tn) (Tabel 14). 65 . Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman. 2004).71*). sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman. Fedd. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8. urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P. Rendahnya bahan organik (< 2.61) (Tabel 14).29tn) . 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.pada tapak-tapak jerapan. Cadd (-0.: M – (OH)3 + COO.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. Haynes and Mokolobate.64*). Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. kalsium karbonat atau bahan organik.. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0.+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate. 1999). sehingga serapan P tanaman meningkat. MASJKUR DAN A. 0. (2) penggantian anion H2PO4.0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6.↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e. dan bahan organik (-0.5) dan ketersediaan fosfat optimum. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum). menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah. dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0.68*). dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al. Pada ¾ dari jerapan maksimum.60*).4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia.3-1. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. dan 0. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum). semakin meningkat pula serapan P padi sawah.5-7. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida).. 1999. mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --.33tn. sehingga melepaskan ion OH. 2001). sehingga dapat diserap oleh tanaman.2%).M. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P.07tn. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e.

Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.99** Liat 0.98**).39 -0. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0.10 -0. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. He et al. 1999).01 Cadd -0.30 0. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P.49 -0.99**).50 0.88** C -0.15 0. 1999..98** -0. 1999). Cadd. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15.81** 0.90**) dan Cadd (0. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman.. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat.98** Fedd -0. Namun demikian. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. 28/2008 Tabel 15.05 0.66* 0.40 -0. 1998. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 .05 0.17 -0.55 Aldd Ser-P -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.14tn).28 0. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe .72** -0.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.81**). tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Fedd.10 0. Killham. Peningkatan bahan organik sawah.20tn).90** 0. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan. sedangkan pH tanah. sedangkan pH tanah. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.94**). Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.30tn dan 0.49tn).95** 0.78** -0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. kadar liat. Cadd.20 -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. kadar liat. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe.88**). sehingga P tersedia relatif tidak berubah.94** -0. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah.

dan W.S.S. Mokolobate. Nutrient Disorders and Nutrient Management. Killham. A. Plenum Press. Nutr. 2004. De Cristofaro. Havlin. 7-38. Loeppert. J. crystal chemistry. Pusat Penelitian Tanah. SornSrivichai. Comparison of adsorption of phosphate. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. 2.. Herbillon (Eds. and P. 1990. International Rice Research Institute. M. Newman. Violante. Kyoto. and R.F. A.D. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification. Simanungkalit. Las. I. Metherell. dan R. H. Dobermann. Pp. Kyoto University Press. 1999. A. Soil Ecology. New York. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. and W. and A. J.K. Dalam F. UK. 12:155-167. R. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). K. I. and M. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. In M. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. Cambridge University Press. De Boodt. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. Brown. New Jersey. J. J. Hidayat. 2004. B.H. Fagi. Kyuma. Plenum Press. Soc. 2006. A. 39-56. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Soil Fertility and Fertilizers. 1997.M.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1. 157-166. Herbillon (Eds. Los Banos. and A. J. Los Banos. 1990. Agr. Clays Clay Miner. Bogor. S. Hartatik (Eds.Z. 1999. K. International Rice Research Institute.Am. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. A. kadar liat.E. Hartikainen. MASJKUR DAN A. J. and T.D. 2000. A.F. dan A. Subagyono. 48:493498. Assessing Fertilizer Requirements. J. Structure..B.C. Agus. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. B. Fedd. Haynes.J. Bogor. S. Simojoki.L. Balai Penelitian Tanah. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. and A. Philippines. Cornforth.B. Hayes. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide. dan E. Japan. M. Bogor. Prentice-Hall.B. Hardjowigeno. 2005. kimia.H. dan biologi lahan sawah. Mineralogi. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. fisika. Fairhurst. New York. Sifat Morfologi. Nelson. and A. Laguna. Philippines. S. tartrate.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Pp. Laguna. Cadd. 70:222-234. Paddy Soil Science. Hayes.H.. 1999. A.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. Adiningsih. Prasetyo. A. G. Kasno. Hayes. 2001. A. De Boodt. Beaton. Eur. Pp. 59:47-63. Adimihardja.S. He. K. Tanah Trop. Bogor. 1983.D. Soil Sci. 1999.H. Tisdale. Soil Sci. Pasandaran.. 1990. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania.M. Cycl. 2001. Johnson.H. Klasifikasi Kesesuaian Lahan.L. 67 . 47:226-233.L. In M. Kasno.H. Prasetyo. and M. An Introduction to Nutrient Management.M.

Soil Sci.J. 2005.. A. University of the Philippines. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. East Java). Hlm. 68 . Zaini. Dalam Z. P. Adiningsih. S. 170:716-725. Kheoruenromne. Philippines. K. A. dan J. 2002. 1998. S.S.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. and R. Los Banos. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Gilkes. Faculty of the Graduate School. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor. Kartaatmadja (Eds. Suddhiprakarn.). Gadjah Mada University Press. 1995. Trakoonyingcharoen. 28/2008 Rochayati. Yogyakarta. Sofyan. Dasar-dasar Kimia Tanah. 9-37. Tan. I.H. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. Soil Research Institute. 1978. Rochayati. dan S. Bogor. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols.

Fe3+. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. Key words : Oxalic acid. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts. 1. dan K tanaman di Vertisols. Ngawi (Typic Endoaquerts). IDRIS2. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. NH4+. Cilacap (Chromic Endoaquerts). NH4+. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. dan 4. and Fe3+ from NaCl. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. ISSN 1410 – 7244 69 . It’s availability for 1. Jagung. Na+. serapan N. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Departemen Pertanian. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. Soil available K. Serapan N. P. Oxalic acid significantly increased plant N. Kata kunci : Asam oksalat. and K Uptake. Direktur Perluasan Areal. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. Bogor. SABIHAM3. and K uptake.000.000. NH4+. and Fe3+ on Availability of Soil K. dan K Tanaman. 3. 375. Na+. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. The results showed that oxalic acid. Na+. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. Researches aimed to study the effect of oxalic acid. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. Fakultas Pertanian. and Maize Yield in Smectitic Soils D.000 ppm. RACHIM3. P dan K tanaman di Vertisols. 250. P. 125. P. Na+. Walaupun kadar K total tanah tinggi. NH4+. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. Fe3+. and 500 ppm. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. and Fe3+ on availability of soil K. and 4.A. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). and K uptake in Vertisols. while the second one was application of cations: without cation. Plant N. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. however. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. L.000. ulangan tiga kali. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Bogor. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. 125. P. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah.Pengaruh Asam Oksalat. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). NH4+. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. K tersedia. NH4+. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. S. IPB. 2. Bogor. yaitu: tanpa kation. P. 1. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. 2. NH4+. NH4+. K. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. 375. dan Blora (Haplustalf Tipik). dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. The soils are commonly high in total K content. D.000 ppm. dan K. Na+. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. Bogor. Na+. Ngawi (Endoaquert Tipik). Na+. The first factor was oxalic acid rates: 0. yaitu: 0. Fakultas Pertanian. Na+. 4. plant N. Tanah yang didominasi smektit plant growth. Maize. Na+. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. Na+. IPB. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. NH4+. P. DAN A. NH4Cl. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. Smectitic soils. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. and K uptake in Vertisols. Cilacap (Endoaquert Kromik). serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. NH4+. 250.000. P. Bogor. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. 2. NURSYAMSI1.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah. dan 500 ppm. NH4Cl.

Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. 1987). Sulawesi (Sulsel. Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. dan Gorontalo). mikroklin. Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Mn. 1992). dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat.. kapasitas tukar kation. hitam (Vertisols). Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). 1994). Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K. 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Na+. Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. 1989) dan vermikulit (Douglas. Fe. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. 2000).12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. 2002. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. 1989) yang dominan di tanah tersebut. suhu. kelembaban. dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa.12 juta ha (Vertisols sekitar 2. muskovit. Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu.. Selain faktor tanah dan iklim. 1999). daya sangga.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 1987). Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al. Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. 1999). Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon.. seperti dari golongan smektit (Borchardt. 1993). Sulteng. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. 70 . Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. 1987). Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. Kilic et al. dan Jatim). dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. Jateng. K. yaitu lebih dari 2. 1997).

BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat.D. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. smektitik. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. NH4+. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah.000 ppm. iklim. Ngawi (B3). Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. (1982). 1. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2. berkapur. Bahan tanah dikering-udarakan. P. contoh tanah diambil sekitar 250 gram. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Na+. Ktdd. dan K.000. berkapur. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). L. NH4+. Na+. 1997). Kdd. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. yaitu: tanpa kation. sangat halus. smektitik. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). dan 4. Knudsen et al. isohipertermik Endoaquert Kromik. Faktor kedua adalah penambahan kation. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. isohipertermik Haplustalf Tipik. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali.000. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. serapan N. NH4+. dikeringudarakan. diayak dengan saringan 2 mm. (2007). Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. 2. ditumbuk. NH4Cl. smektitik. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. isohipertermik Endoaquert Tipik. semi aktif. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. campuran. berkapur. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). halus. P. Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. Cilacap (B2). Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. sangat halus. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah.) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. NA+. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. SERAPAN N. dan Blora (B4). yaitu: 0. dan Wood dan DeTurk (1940). isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . halus. NURSYAMSI ET AL. lalu tanah diaduk hingga homogen. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail.

41 42.35 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.06 0. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3..000 rpm dan supernatannya ditampung.555 5. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit.96 2. Takaran Na+.24 1..0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam.97 58 5.42 38..……..01 13.16 24.…………. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.………….01 0.56 3.03 > 100 0.….5) KCl 1 N (1:2.38 13. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5.36 0. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3. NH4+.10 13 148 187 5.000 5.95 0.82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS. Teflon bomb . Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.19 H2O (1:2...12 0.88 1.00 0. 28/2008 Tabel 2.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3.01 6.. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5. Rate of Na+. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.04 33..97 9.22 0.36 0.01 1.72 1.11 0. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml.47 4.12 11 548 134 10.00 0.36 4.06 0.21 10. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik …………..03 56.11 10 222 41 34.97 92 5.00 0.57 0.000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.………….00 0. NH4+.28 0.. lalu ditambahkan 20 ml 0.55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.12 9 178 30 0.000 5.13 0.98 > 100 0. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom. mg kg-1 …………….65 11.

Asam borat 2.28. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. ditumbuk. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. 0.11. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS. NH4+. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. Bahan tanah dikering-udarakan. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. diayak dengan saringan 2 mm. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. P. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. dan 500 ppm.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. Endoaquert Tipik. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols. NA+. yaitu : 0. Endoaquert Kromik. Dibandingkan dengan kontrol. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. 250. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0. Berbeda dengan di tanah Alfisols.D. 41. SERAPAN N. Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. dan Haplustalf Tipik. yakni 0. Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. 375. dan 0. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K). NURSYAMSI ET AL. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Analisis serapan N. : PENGARUH ASAM OKSALAT.12. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. 134. 125. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. yakni 30. Endoaquert Kromik. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. lalu tanah diaduk hingga homogen. P. Endoaquert Tipik. 0.

Pengaruh asam oksalat.88 b 16. Pengaruh asam oksalat. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al.13 a 13.50 bc 165..60 <1 56.00 b b b a 150.38 ab 165.88 menjadi 58. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.75 58. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5).000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl …………….50 a 149.38 67.50 b 64.000 2. Effect of oxalic acid.00 a 12.000 4. Na+. 74 .. wedge (w). sedangkan pada Vertisols nyata. Na+. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols).60 <1 27. 1998). sedangkan pada Vertisols nyata. Kdd. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13. NH4+.13 70. Tingkat 13.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.00 a a a a 62.13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27. Na+.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat.00 59. NH4+.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Kexch.13 mg kg-1 (412%). NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl.38 b 155. Tabel 5. dan crack (c). Kdd. NH4+. mg kg-1 ……………. 25.13 b 165. and Knon-exch.75 b 73.63 26.000 2. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan. 2007).75 b 16.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation.38 b 142. sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding.75 b 67. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i).63 b 33.. and Knon-exch. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.38 a 12. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5.25 c 152..50 70. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. NH4+.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3.75 b 38.. and Fe3+ on soil Ksol.25 b 58.00 a 161. Tabel 4.30 55. and Fe3+ on soil Ksol. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols. 1987).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.555 mg kg-1 (Tabel 3).75 menjadi 142.00 26. Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III.38 27. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols. Na+.30 1.000 4. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd.13 a 13. Effect of oxalic acid.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. Kexch. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5).000-5.

Effect of Na+. NURSYAMSI ET AL. NH4+. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. SERAPAN N. : PENGARUH ASAM OKSALAT. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. Hasil penelitian Nursyamsi et al. NH4+. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. Pengaruh pemberian Na+. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. 75 . Berdasarkan jumlah K yang dilepas. Pengaruh pemberian Na+. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). P. 24-31% dalam bentuk Kdd. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. Effect of Na+. NA+. NH4+. NH4+. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. Kirkman et al. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. NH4+.D. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.

asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.50 111. 229. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6).000 4. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.36 79.. Tabel 6.53 220. dan K tanaman.51 9.01 b 4.74 a 53.42 213. dan K tanaman pada Alfisols Table 6.63 a 51. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.53 ab 14.72 26. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8).31 56.79 a 58.67 a 17. Berbeda dengan dua kation sebelumnya. mg pot-1 ……………. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.61 283.000 233.67 b a b b c 81. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7). Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K …………. Effect of oxalic acid.21 26. 15.92 4.21 a 62. dan K tanaman.99 107. dan Endoaquert Tipik. P.10 <1 a a a a a 16.42 a 2.87 325.35 a a a a 7.55 381.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. dan K tanaman.71 55. Effect of oxalic acid.00 a 16. P. 105.60 27. Pada Vertisols.000 215. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.80 <1 50.50 a 30.42 192.28 27.64 b 56. Pengaruh asam oksalat. Na+ and Fe3+ on plant N. Endoaquert Kromik. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N. Na+ and Fe3+ on plant N.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.37 b 16.60 1.85 b 46. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut.71 b 18.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.70 20. P. P. 125. nyata menurunkan serapan P. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+.56ns b a b b c 24.74 24.84 a 333.81 a a a a 25. dan K tanaman pada Vertisols Table 7.98 b a b b b 6. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….77 b 8.00 233.21 b 1.15 a 9.59 81. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.74 a 130.04 92.37 23. Pengaruh asam oksalat.71 7.55 ab 51.81 a 17.20 1. asam oksalat juga nyata 76 .53 ab 15.99 a 16. P.04 a 15.43 a 242.08 a a a a meningkatkan serapan N.55 a 31.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258. mg pot-1 ………….000 2. Pada Alfisols. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.80 1.11 68. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.18 52.97 8.000 227.13 ab 4. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik. Tabel 7.88 109..09 334.70 < 1.32ns 9.55 a 9.15 7. P. P. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji.

5 t ha-1 biji kering.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik ………………………………….93 a 10. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).70 1.13 4.06 3. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N. Na+. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.75 c 11.77 a 6.92 a 1. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N.20 6. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia.89 c 8. Effect of oxalic acid. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.41ns 13.58 a 3. 2001).40 a a a a b 6.62 3.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.95 6.98 a 1. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+.04 3.30 1. g pot-1 ………………………………….62 b 1.09 3. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg.59 b 5. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner.98 a 4. Peranan asam oksalat.81 5. Na+. P. Pengaruh asam oksalat.. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols). Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.01 a 5. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8. 1997).000 4.20 b 8.44 b 11.0 (Kdd). (2001).29 b 3.42 b 4.D. NURSYAMSI ET AL.45 a 5. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4.10 a 4. P.40 b 5.83 ab 1. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al. NH4+.17 a a a a a 10. dan K tanaman.75 ab 5. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7. Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 . P.000 2.30 1.. NA+. SERAPAN N. DAN K TANAMAN Tabel 8. P.30 2.48 b 10.37 6.34 3.77ab 1.03 a 4.01 a a a a 4.73 a 3.28 5.25ns 14.09ns 4. serapan N.02 a 3.85 a a a a 4. 1.93 a 3.56 6. : PENGARUH ASAM OKSALAT.. NH4+. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan.45 3.

7 31.…. Pada Endoaquert kromik.9 87.8 109. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara.9 149. NH4+. P.2 me K 100g-1 (Dierolf et al. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. P. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9. meningkatkan serapan N dan K tanaman.9 * 148. Sementara itu pada Haplustalf Tipik.4 * 22. yaitu sebesar 156 kg K ha-1.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5. plant N. kritis K tanah untuk jagung 0. Pengaruh asam oksalat.3 27. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan.3 ** 92. Effect of oxalic acid.9 273..9 27. Na+.3 88. Perlakuan Na+. 28/2008 Tabel 9.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. persen hasil tanaman. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K …….9 * 47.4 6.7 23.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30.1 6. Pada Hapludalf Tipik. Na+.6 20. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun. Perlakuan Na+. NH4+.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. percentage of plant yield. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. and K uptake. asam oksalat takaran 1.8 59. 2001).000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1. dan K tanaman. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. and Fe3+ on soil available K. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.6 ** 22. NH4+. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%.. serapan N.9 19..1 21. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman.3 6. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk. NH4+.6 * 276. meningkatkan hasil biji kering.

3 24. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. NURSYAMSI ET AL. Effect of oxalic acid. 79 . Na+.. serta hasil biomas kering (11%).8 * 203.8 236.3 268.000 294 18. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. NH4+. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah.2 209.5 68.. NH4+.9 25. NH4+..1 225.3 69.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1. and Fe3+ on soil available K. dan K tanaman. Na+. Dengan demikian.9 * 883 988 ** 58.6 79.D.3 ** 454. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. meningkatkan serapan N. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N. Demikian pula pada Endoaquert Tipik.2 24. kebutuhan pupuk K.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1.0 300.…. meningkatkan serapan N dan P tanaman. percentage of plant yield. P. Selain aspek ketersediaan K tanah.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5. serapan N. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering. NA+. P. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya. serta hasil biomas kering jagung.4 * 43. 3+ Sementara itu.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. 1993). P. P. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering. plant N. Pengaruh asam oksalat. dan K tanaman. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. persen hasil tanaman.1 270. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K.2 593. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering.7 215. asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al.2 * 163.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. SERAPAN N. P.4 63. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.8 ** 209. P. DAN K TANAMAN Tabel 10. maka peran utama asam oksalat (1. : PENGARUH ASAM OKSALAT. dan K tanah.6 44. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji. and K uptake. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.

Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+).15-5. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. New York. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. Pp 27-64. and L. Jr.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Bolton. K.K. P dan K tanaman di Vertisols. Microbial ecology of the rhizosphere. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. yakni berkisar antara 3. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. J. Applications in Agricultural and Environmental Management. In Soil Microbial Ecology. H. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. P. Inc. International Potash Institute. 1993. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat. Asam oksalat. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. mikro (Fe3+). Fredrickson. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. P.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik.F. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik. 2. Na+.I.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. Sementara itu Fe3+ 5.. NH4+. peningkatan 2008). 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. Marcel Dekker. Perbaikan tanah 80 . M.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. P. 270 Madison Avenue. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati. 1987. dan Fe tanah. 1997). dan K tanaman di Vertisols. tanaman. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Potash Review No. 1/1987. Switzerland. Elliot. Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. 3. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit.

K. Ins. and K. and potassium. and D. I. 1996. potassium. Nursyamsi. Dhillon. Ghousikar C.L. Soil Science Society of America Madison. Kilic. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Proc. NA+.R. Part 2.. M. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www.000. 2002. Mutert. Sixth Edition. K. 1997. and J. 2000. 5. Smectites. 2nd ed. S. NH4+.. A. J. Dierolf. Cent. Bogor. 1994. 1987. Agronomy 9:403-429. A. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. 1992. Nursyamsi. 1989. Pp 635-674. Switzerland. S.P. and K.eseap. Pratt. 2007. 5/1987. L. 1982. Sparks. Agric.A. V. Res. No. Soil Science Society of America Madison. P. Wisconsin. J. sodium. J. In Page et al (Eds. Second Edition. Macgregor.. Derici.S.T. S. Kendre. and D.a review. Potash Review No. Vermiculites.N. dan A.) Growth and Yield. Contr. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Basker. Surapaneni.A. Douglas.D. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. 1999.F. Bogor. Marschner.org). K. New Jersey 07458. DAN K TANAMAN Borchardt.L. Ismail. Idris. Tr.R. Tokyo. Beaton. Mineral Nutrition of Higher Plants.K. I.W. SERAPAN N. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Upper Saddle River. In Minerals in Soil Environments. Prentice Hall. 1987. In Minerals in Soil Environments. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. Lithium. USA. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum. Academic Press.000. International Potash Institute. L. 1989. Second Edition. USA. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. J. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit.L. Fairhurst.A. 81 . Goulding. NURSYAMSI ET AL..) Method of Soil Analysis. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols). rubidium.L. P.. Second Edition. G. Nelson. : PENGARUH ASAM OKSALAT. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. D. Tisdale.A. Potassium fixation and release. Disertasi Fakultas Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Knudsen. Sabiham. Dhillon. Kirkman. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Saltali. Potassium in the soils of New Zealand. Publisher. SSSAJ 66:445-455. Fertilizer News 32(2):35-138. Rachim. In Methods of Soil Analysis. 1975. H. D. G. Lumbanraja. upland soil fertility management in Southeast Asia.P. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Soil Fertility and Fertilizers. Havlin. and E. Lithium. Pp 675-727. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. The affect of potassium on ammonium fixation. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Institut Pertanian Bogor. and W. Oldeman. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. D. of Agriculture and Forestry 23:673-678. 17. Evangelou. Skala 1:1. T. L. 2008. and cesium. Paterson dan P. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. D. An Agroclimatic Map of Java and Madura. T. 1999.W. sodium. Helmke. 2001. Sofyan. A. Wisconsin.D. Black (Vertisols). An Introduction to Nutrient Management. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. Harcourt Brace & Company.H. 1997.

Inc. K. 1998. Soil Sci. Pedosphere 3:269-276. S. Mineralogy of potassium in soils of Punjab. Marcel Dekker. Potash Review No. Proc. Switzerland.M. Third Edition Revised and Expanded. Am. Song.K. and E. De Turk. L. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.H.K. 5:152-161. 1940. International Potash Institute. 28/2008 Sidhu. Release of non-exchangeable soil K by organic acids. 1993. Haryana. 1987. 82 . Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. Principles of Soil Chemistry. P. Huang. and P. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. Wood.E. 6/1987. SSSAJ 52:383-390.S. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. New York. 1988. Soc. Tan..

if SST increases above 0. interaksi SST dengan DMI. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. SURMAINI DAN E. DMI.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. ISSN 1410 – 7244 83 . sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. Bogor. Berdasarkan data historis. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. Therefore.5 o C (indicate La-Niña event). 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3. In contrast. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. Onset of wet season. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. the wet season will start earlier with longer period. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. interacton of SSTA with DMI. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. but the magnitude of its impact varies with site. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. Keywords : ENSO.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. SST. Dipole mode Index (DMI).5 -0. pergeseran musim. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember).5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Awal musim hujan.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. Rainfall. SST. and interaction of SOI with DMI). aktivitas moonson. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. DMI. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. Climate extreme events. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. the occurence flood and drought in Indonesia. SOI. Southern Oscillation Index (SOI). SOI. SOI.4.4 zone. PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. Kata kunci : ENSO. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. climate/season anomaly. golakan lokal dan siklon tropis.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia. DMI. The study has been done through the following steps .

. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño. Chang et al. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji.cpc. 2004). data DMI (sumber: www. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005.jamstec.4 (sumber:www. dan SOI (sumber: www. 1999.gov). Batisti et al.. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi.noaa. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON).jp). Hendon. 2004. Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al.au). 2002. Rao et al. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). Aldrian dan Susanto. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. 84 . Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman. sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia. longpaddock. 2003. dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. interaksi ASST dengan DMI. 2003. 2004..4. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya. dan interaksi SOI dengan DMI. 2000. Boer and Faqih.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. SOI.. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. Departemen Pertanian. DMI. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3. Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM). Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah. 2001.qld. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal. Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. 28/2008 (Haylock and McBride. 2006). Boer dan Faqih. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. 2002).go. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. Rao.gov.

50-75%. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. AMJJ.05. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya. dan Mei-Juni. Selain itu. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim.E. Jawa. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. SOI. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. 25-50%. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. Apabila nilai slope lebih besar dari 0. 85 p= dimana : m n +1 . c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña). 3. dan 75100%. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. 4. Januari-Februari. DMI. SURMAINI DAN E. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). SOI. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%.

. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut.......... Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3...13 3.. Riau. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2)....38 2.. Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil. Pattimura (Maluku)... % .....JURNAL TANAH DAN IKLIM NO....51 2... Persentase nilai peluang (p< 0..... Ngablak (Jawa Tengah)...70% dan 6.. maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan.... Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai. 28/2008 Tabel 1.25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November). Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat)..25 2...70 6. namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%). maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal..05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1..4..... karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju.. Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi.... Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan.. 4.38%... hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian.. data anomali hujan semakin negatif.25 2....25 55. Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño).. Bagi Indonesia.31 2.. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC........ dan pantura Jawa Barat.. maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm. Percentage of regression probability value (p< 0...05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI ....4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0.....13 4..4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC........ Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok.. dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November). Batutangga (Kalimantan Selatan)......47 8.. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3...4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November).....13 4. sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung.. Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 ....13 4.13 11.. Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3..... Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau.19 7....

E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . SURMAINI DAN E. Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1.

Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0.5oC). 2006) skenario El-Niño. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5). Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. dan Normal. La-Niña. Jika anomali SST turun sampai di bawah -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.5oC-0. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. LaNiña (anomali SST < -0. Sebagai contoh. 1997. dan 2002. 2006) Figure 2. The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini. 1994. Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir. . 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas.5oC ).5oC) dan normal (anomali SST antara -0. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini.

383 R2 = 0.5 0.5 1.5 2.5 0.0 0.5 -1.0 1.88x + 55.235 R = 0.33x + 75.441 R2 = 0.0 -1.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.0 -2.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.5 -1.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.5 0.0 0.5 1.0 1.975 2 R = 0.0 -1.45x + 47.5 0.5 -1.0 1.0 1.59x + 21.441 R2 = 0.5 -1.5 2. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 -1.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 0.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.0 -1. SURMAINI DAN E.5 -1. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.5 1.5 2.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.574 -2.5 0.5 2.945 2 R = 0.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.0 1.0 0.5 -1.0 -1.5 0.0 0.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.5 Mei-Jun 1.5 Mei-Jun 1.5 2.0 -2.4 of some areas in Indonesia 89 .0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.0 1.0 -1.4x + 22.E.0 0. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.5 2.0 -0.0 y = -388.0 -2.33x + 75.6109 -2.0 1.

8 Peluang Terlampaui 0. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Jawa. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan.60 0. Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung.2 0.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1. menyebabkan penurunan curah hujan.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4.4. 28/2008 Pusakanegara 1.6 0.40 0. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0.6 0. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .80 0.4 0.8 0.20 0.00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0.2 0.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif. Riau dan pantura Jawa Barat. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam.4 0.4 0.6 Peluang Terlampaui 365 0. 2. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3.8 0.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim. serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi.Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah.