Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

1. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. and potential K.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. cation exchange capacity. Keywords : Forest. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. dan sifat kimia tanahnya. and fertilizer. Claystone. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Batuan sedimen masam. Selanjutnya dikemukakan. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. kejenuhan basa rendah. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. Sifat fisik menunjukkan. Acid sedimentary rocks. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Biological cycles. but limited by highly Al exchangeable. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. kapasitas tukar kation. Bogor. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. For that reasons. Oleh karena itu. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. Batupasir. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik.H. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. dan K potensial yang lebih tinggi. Batuliat. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Kata kunci: Hutan. bahan sedimen. Siklus biologi. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. physical and chemical properties of the soils. sifat fisik. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. Sandstone. SUHARTA DAN B. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya.

Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo.44 HP. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor.110 DD. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian. Acrudoxic Kandiudults. penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal.14 MD. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 . Suwarna et al. mengurangi proses mineralisasi bahan organik. 1990). 2003) sebagai Typic Kandiudults. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. Provinsi Riau.. 1991).232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). (2004). Sedangkan analisis sifat fisik tanah. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl. Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. Wu dan Tiessen (2002). Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. 1995.61 EY. dan mengurangi run off atau bahaya erosi.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al. dan Typic Hapludults (Tabel 1). Fraga dan Salcedo (2004).194 UY. Chen et al. dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. Location and information of seven pedons investigated Pedon HP.24 UG. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff.

61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. ry = kuning kemerahan. ss/sp vf. f. SCL = lempung liat berpasir. p = plastis 3 .5 YR 5/8) EY. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff.N. LS = pasir berlempung. Struktur : m = medium. so = tidak lekat. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7. Tekstur : C = liat. ydb = coklat tua kekuningan. Typic Kandiudults HP. kapasitas tukar kation. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. permeabilitas dan stabilitas agregat. warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah. sb = gumpal agak bersudut. f. t. berat isi. pori total. Typic Hapludults UY. so/po f. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam. 1992). model PW 1130. vf = sangat halus.H.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. Dibandingkan dengan horizon A. susunan kation. ss = agak lekat. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. P dan K potensial (HCl 25%). ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. pori air tersedia. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O). g = granuler atau kersai. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan. C-organik (Walkey and Black). f. t. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). sp = agak plastis.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t. so/po f-t. sb = coklat kuat. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. SUHARTA DAN B. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. f = gembur. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. Konsistensi : t = teguh. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. by = kuning kecoklatan. f = halus. SL = lempung berpasir. Acrudoxic Kandiudults HP. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel.5 YR 5/6) DD. ss/sp f. db = coklat tua.0).14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. t. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. t. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). gdb = coklat tua kekelabuan.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat. t. s = lekat. yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). pori drainase.

dan smektit. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. sedangkan tanah dari batuliat. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah. Pada tanah berbahan induk batupasir. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit.61 96 1 2 UG. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. fragmen batuan. Dengan demikian. Mk = muskovit.14 93 sp 5 HP. Qz = kuarsa. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. dan goetit. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit. vermikulit. Lm = limonit. Terdapatnya mineral vermikulit. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. Rf = Fragmen batuan. Sn = sanidin. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3.24 85 sp 6 MD. sp = sangat sedikit (<1%). Zr = zircon. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. sanidin. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. illit. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. Ze = zeolit. dan turmalin juga sangat sedikit. 4 . lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. Wm = mineral lapukan. Tr = turmalin. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. illit.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. smektit. mineral lapukan. Or = ortoklas.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan muskovit sangat sedikit.

Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1.61 ++++ EY. Susunan mineral fraksi liat Table 4. ++ = cukup.110 +++ DD. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%. 1969). Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. 5 .H.44 ++++ UG.14 ++++ HP. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%.24 ++++ MD.N. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit. diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. + = sedikit. SUHARTA DAN B. Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP. +++ = banyak.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan. dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir). Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%. (+) = sangat sedikit Gambar1. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%.

9 4.0 4.0 9.09 2.4 6.39 hingga 2. sedangkan pedon HP.4 Permeabilitas cm jam-1 0. RPT = ruang pori total (total pore space).agr = stabilitas agregat (agregat stability).14 HP.24 memperlihatkan hal sebaliknya. Lapisan A = atas dan B = bawah.46 di lapisan bawah.0 11.14.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).55 2.17 hingga 1.39 2.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi.8 4.8 8. Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. PD = berat partikel (particle density). Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2..14 dan EY.7 12.7 8.54 di lapisan atas dan 1.46 3.5 42. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang.46 1. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.54 1.7 11.14 rendah di lapisan atas karena 6 .46 2.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37. Stab.10 9.93 9.0 19.8 28. Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik.0 45.7 49. 28/2008 Tabel 5. Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.0 4.53 untuk lapisan atas dan 2.0-28.20 1.24 EY.20 1. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume.8 55. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Sebagai perbandingan. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP. Pedon HP. pori aerase berkisar antara 8. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik.21 1. kandungan liat. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%.65 untuk lapisan bawah. baik horizon A maupun B (Suharta et al.9 26..60 2. 1995). susunan mineralogi liat. kelembaban tanah. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi.6 4.41 1.2 23. 2004). Pedon HP.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi. berat isi.53 2. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi.55 hingga 2.20 hingga 1.24 dan EY. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan.0 8. kimia dan biologi tanah. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian.5 3. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.65 1. Sedangkan HP.2 RPT 52.

Tanah dengan permeabilitas lambat. C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas. kecuali EY. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B. 7 . Nilai permeabilitas yang lambat.14. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah. baik pada horizon A maupun horizon B. SUHARTA DAN B.2%) untuk horizon A. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%). Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8.10 3.4 tergolong rendah. Pada horizon B. Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering.44 tergolong sangat stabil. pori air tersedia tergolong rendah. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun.46 cm jam-1). Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2.62 cm jam-1).1 .2 . sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering.N.7 hingga 9.H. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7.9.5 hingga 11.8%). perakaran tanaman.20 . atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam. Khusus untuk pedon HP. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). kecuali pedon HP.4 tergolong rendah sampai sedang. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan.5. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi. Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah. Khusus untuk pedon HP. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah.14.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. Hasil penetapan menunjukkan.0. kemantapan agregat tergolong agak stabil. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B. karena air akan tersedia sepanjang tahun.15 tahun). Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah. akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik.

.7 1....7 0.2 0.2 4..3 5. soil reaction..7 4..3 5...2 0..5 4.2 4.3 4.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY.3 4.4 4.7 4.8 4.2 4....7 0.6 0.. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org..3 1.5 4. Tekstur.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD.6 1.5 4. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.4 4..4 0.7 3.2 3..2 4.2 0. P dan K potensial Table 6. 28/2008 Tabel 6.. reaksi tanah.. % 4..2 0.7 3..2 0..6 0..4 1... Pasir-H = Pasir halus 8 .7 4.1 0.5 4.5 4.6 4.3 4.4 3..6 0.2 0..4 0..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.2 2.6 4.. mg kg-1 .4 0.6 0.3 4. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP.4 4.2 0. % .4 4. Texture..3 0.9 0...14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD.4 4.8 0.3 0.2 1.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY...5 4.1 HCl 25% K2O P2O5 .....4 4.6 4.0 4.8 0.2 0.1 4..4 0.7 2.4 4.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar.6 4.3 4.44 Tanah dari bahan induk batupasir. C-organik... potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat ..1 4..7 0.4 4.6 4. organic-C. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir....

92 1. kapasitas tukar kation.87 2.01 2.01 0. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.05 0. SUHARTA DAN B.10 0.03 0.22 0.52 35.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.30 HP.18 0.02 0.kg ………………………….10 0.08 7.07 0.73 0.96 65.31 0.02 0.03 0.36 0.88 4.27 0.04 0.42 3.06 0.40 2.24 0.08 0.55 0.43 10.23 0.19 18.40 0.10 0.76 2.14 Bt3 0.24 0.04 Bto5 MD.47 0.03 0.31 4.13 23.67 0.04 0.27 16.32 2.04 0.04 0.94 7. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….23 0.06 0.18 0.06 0.93 33.70 3.53 3.07 0.22 6.31 0.20 0.03 0.94 1.07 2.H.N.24 6.16 2.02 0.70 1.90 14.09 0.14 BA 0.87 2.85 4.12 3.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.14 0.04 0.21 11.52 1.13 36.05 15.07 0.60 2.06 0.71 1.24 0.82 0.10 0.05 0.14 0.15 4.68 3.02 3.02 0.02 0.81 HP.04 0.13 0.14 1.17 UY.37 0.38 23.04 0.03 Bto1 0.04 0.05 0.74 1.04 0.98 8.85 1.79 17.16 1.57 2.71 8.02 0.37 4.04 0.29 1.33 1.21 DD.02 0.06 0.04 0.03 Bto2 0.01 0.05 Bto1 0.81 1.20 20.97 1.41 13.95 3.63 14.06 0.56 0.04 9 .70 1.03 0. Kation dapat tukar.06 0.14 A 0.47 2.05 0.75 17.02 0.02 0.04 0.05 0. base saturation.70 10.40 6.41 4.04 0.24 0.80 1.54 3.36 16.03 0.04 8.03 0.18 0.61 1.66 7.06 0.29 3.88 21.61 0.04 0.41 1.03 0.03 Bto3 UG.21 0.02 0.36 1.43 13.54 1.31 1.92 0.16 8.09 2.01 0.02 0.10 0.02 0.90 7.02 0.05 1.81 12.58 5.67 4.12 30.29 0.16 20.77 39.22 1.44 Tanah dari bahan induk batupasir. % cmol.04 0.59 12.15 0.42 0.06 0.07 0.25 1.. cation exchange capacity.76 4.61 3.05 9.07 26.09 0.87 13.01 0.63 0.02 0.110 A 0.08 0.99 1.49 14.19 17.01 0.28 10.61 1. Typic Kandiudults 0.53 11.05 0.33 11.05 0.20 1.85 4. dan Al dapat tukar Table 7.92 0.21 1.68 0.03 Bto4 0.65 11.24 0.28 5.17 Bt2 0.25 Bt1 0.65 12.10 0.14 0.83 1. Typic Hapludults 1.37 10.01 0.04 0.07 0.57 19.69 1.41 0.19 24.11 2.18 0.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.02 0.21 0.11 1.75 4.76 94. cmol.12 0.23 7.01 0.55 0.79 59.81 1.04 0.kg % 4.30 2.02 0.29 0.03 0.73 1.02 0.04 Bto2 0.30 16.07 0. Exchangeable cation.30 Tanah dari bahan induk batuliat.33 26.07 0.16 3.57 38.035 0.22 0.21 0. Acrudoxic Kandiudults 0.05 1.02 0.13 8.55 20.12 0.66 4.58 0.11 0.13 0.44 6.34 1.43 0.51 25.04 0.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.05 0.02 0.10 0.64 17.03 0.32 0.26 BC 0.16 9.42 1.02 20.03 Bto3 0.12 0.22 0.50 7.09 0.22 0.94 11.03 0.02 0.71 32.37 0.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.24 A 0.06 0.76 0.12 7.03 0.01 0.63 13.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.17 0.13 0.70 4.08 5.27 19.53 4.39 0.03 0.11 0.85 2..47 0.18 4.21 EY.53 4.62 7. kejenuhan basa.08 2.09 0.01 0.30 7.

0014 Corg +0. bahan induk tanah. Dengan Corganik. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. 2002).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. dan pengolahan tanah. kimia. dan macam gugus fungsional. 16. ketersediaan hara. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. Suharta et al. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. sedangkan pada horizon B antara 4. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta.110.7 hingga 5. 2007). Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. liat.4237).0171 C-org + 0. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman.7. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah.232 dan UG. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. tergolong masam sampai sangat masam. DD. Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation..809 dengan R2=0.2943). 37. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir.. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. maupun biologi tanah. . tetapi juga kualitasnya (Ponge et al.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. 1995). Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri.9309 dengan R2 = 0. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat.0528 liat +23. besar dan arah lereng. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat.7.4415). 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif.179 dengan R2 = 0. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. Mg. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. Reaksi tanah untuk pedon UY.0748 pasir + 64. dan 55% setelah penggunaan selama 8. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi. baik pada horizon A maupun B. dan 41 tahun.0355). Ponge et al. 2007. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002). kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir.1 hingga 4. aktivitas biologi. Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat.2702 dengan R2 = 0. praktek silvikultur. korelasinya lebih rendah (K2O=0.

53 cmol. Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam. (1999) mengemukakan.19 dan 65.24 dan UG. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri.31 hingga 25. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0.20 hingga 4. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan. (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah. karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya.H. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. satu pedon didominasi kaolinit. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. Quideau et al. SUHARTA DAN B. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B. dan tidak mempunyai sifat acric. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif. Perbedaan antara batupasir dan batuliat.0061.194). Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. Dikemukakan selanjutnya.kg-1). nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17.N.kg-1. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama.50 (HP.70 cmol.4968. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. 11 . kuarsa dengan sedikit smektit. KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4. 2007). Sedangkan tanah dari batuliat.13 cmol. Quideau et al.

20 0. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to. Mg. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah.. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi.42 20 170 62 Bto 0. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.04 0.41 0. Khusus untuk K dari batuliat. cmol. Wu and Tiessen.. Typic Kandiudults HP.04 0. dan K) di horizon A.07 0. 2004. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8..22 21 69 122 Bto 0. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8). Driessen et al. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu.27 4 112 DD. Tanah dari bahan induk batupasir.08 0. Tabel 8.. Acrudoxic Kandudults HP. 2002).24 0.. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik. pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya.04 8 26 66 MD.10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon ... Fraga and Salcedo. kejenuhan basa.17 1. dengan hilangnya tanaman penutup tanah.13 0.32 0.55 0. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah. mg kg-1 . Demikian juga kejenuhan basa.03 0.30 0.. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi. Basa-basa dapat tukar (Ca. % .67 0.24 0.04 11 57 22 UG. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir.08 0.. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.13 0. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun. sedangkan dalam kondisi terbuka.37 0.232 A Bt 0. Dalam kondisi hutan alami.03 0. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil.81 0.04 0.194 A Bto 0. Oleh karena itu.21 0.110 A 2.11 0. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.05 0.24 A 0. Dalam keadaan terbuka dan berlereng. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.02 0. 12 . kedua proses tersebut dominan.58 0.61 EY. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi.22 0.kg-1 .09 0.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al..44 A Bto A Bto 0.04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat.15 0. Typic Hapludults UY.82 20 200 Bt 0.17 0..21 0. 2004. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi.. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.73 0.. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik..03 0. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg.14 A 0.. Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi.

Buurman. 66:421429. A. Soil Research Institute. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. Dalam kondisi hutan alami. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). J. E. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen. 1990. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. 2002. Rome. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan.J. Fraga. Am. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. P. S. Driessen. In: Peat and Podzolic Soils. P.M. 2002). Chen. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. Tugu. Soc. Mathers. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. P. and D. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). Pp 95-115.R. Soil Sci. and Permadhy. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. Guidelines for Soil Profile Description.H.. Novak. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al. dan kimianya.G. Soil Sci. V. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. 2. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. Hunt. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. October 13-14. Bogor. 2004. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. Fallow. and I. 68:282-291.M. 1976. Imhoff. J. Salcedo. 2004. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. Soc. sifat fisik. C. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. load support KESIMPULAN 1.. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management.. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . Plant and Soil 35:401-414. D. DAFTAR PUSTAKA Bram. Xing.. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. SUHARTA DAN B. 4. 68:215-224. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. Soil sci. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. Susceptibility to compaction. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. 1976. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). FAO. and N. Da Silva.P.H. Am. Z. 2004. 3. J.S.N.. and B. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. Am. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. Xu.H.. Amarasiriwardena. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. G. 1971. Ding. J. FAO.

28/2008 capacity. United States Department of Agriculture. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. J. scale 1:250. 1995. 63:18801888. Soil Survey Laboratory Staff. Natural Resources Conservation Service. J. Santoso. Keys to Soil Taxonomy. Am. R. Chadwick. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. Wood. Soil Sci. Soil Survey Investigation Report No. Am. Washingthon DC. J. 66:1648-1655.F.0. Soil Survey Staff. Graham. 66:19962001. R. Version 1. Soil Sci. T. Suharta. N.000.H. Geological map of the Solok Quadrangle.. J. Sumatera. Soil Sci. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. F. and H. 2002. Loussot. M. and soil compressibility of Hapludox. Mangga. Sukardi. Soc. Soc.B.A. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties. Am. N. Chevalier. Bandung. R. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. and S. Tiessen. O. S. 2002. 1951. and H. Jakarta. Prasetyo. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise.. 1999. China. P. 1992. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan.C. 1995.A.C. Soc.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Inc. Soil Survey Laboratory Methods Manual. 14 .. dan B.A. scale 1:250. Ponge. American Elsevier Publishing Company. Bandung. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan. USDA. 68:17-24. Soc..000. Suharta. and N. S. Wu. 2003. Quideau. 2007. Geological Research and Development Centre. Loughnan. Silitonga. New York. Chemical Weathering of Silicate Minerals. N.H. Kastowo. J. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. Am. 1991. and P. Pupuk Suwarna. 41. 1969. Ninth Edition. Geological Research and Development Centre. Smith and Fergusson. Studi kasus pada Sanggauledo. Budhitrisna. dasar Oxisol Barat. Soil Sci. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea.

Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. Kemang Sub DIstrict. O. dan iklim setiap hari. Kecamatan Kemang. water flux. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. Soil pore characteristics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. Fakultas Pertanian. Up to now. transient water movement. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman.2. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. dan kacang tanah. rainfall. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. laju pergerakan air transient. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. IPB. To optimize the crop water availability in dryland. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. but it is unpredictable to cover crop water requirements. and peanuts that reflected soil management. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. IPB. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. dan distribusi air. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. Pada saat hujan besar.Water flux. 2. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. IPB.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans). Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. Keywords : Water movement. HARIDJAJA1. and water distribution. Bogor. paddy. Bogor. Fluks aliran air. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. Pergerakan air transient. The data ISSN 1410 – 7244 15 . padi sawah. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. Bogor District in 2006. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. crop water availability in dryland still has a problem. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. hujan. located at Bojong Village. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. climate data. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. Bogor. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. Karakteristik pori tanah. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. rainfall. 3. the study of the relationship between water movement. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high. WAHJUNIE1. and soil pores characteristics in the soils is required. Transient water movement. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. Kata kunci : Pergerakan air. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. SOEDODO H. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah.

1992). Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. Bagarello et al. pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. 2). Toor et al. Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. dan dinamika kelembaban tanah. 1986).. kontinuitas pori. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . Desa Bojong. Kecamatan Kemang. kebutuhan air tanaman. Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. 2004). 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al. Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. 2004). maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. 1980). Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. dan tortuositas pori (Hillel. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. pengaturan pola tanam. Adapun Perfect et al. dan distribusi hujan.. 1990). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1).. seperti distribusi pori. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. 2004). 1996). Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. 1980). maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. Berdasarkan uraian di atas. besarnya peresapan air (infiltrasi). dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah.. kemampuan maksimum tanah meretensi air. serta 3).. 1992. intensitas. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan.. Begitu hujan berhenti. Bodhinayake et al. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah.

1.. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong.85 47.71 31. terakhir padi sawah.90 21.12 16. and 3 No.54 23..47 6.19 34..12 2... Tabel 2.88 22.38 9.43 22..81 27.91 22.93 1.40 3.. RPDC = ruang pori drainase cepat..18 17.13 15.02 66..41 37. 2.88 53.46 20....88 1.16 1.50 46.96 0.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1..12 13.96 0.79 14. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan.23 38..43 18. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m.. 2.94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol .. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.63 35.02 6. ISA = indeks stabilitas agregat.74 28.19 6.58 40.01 43.99 17...18 17..35 2.00 1.48 45.15 2.22 19..22 RPDSC RPDC RPDL RPD . RPT = ruang pori total. RPAT = ruang pori air tersedia.62 25. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.06 2..42 37.98 0..48 61. 3.72 9.91 2.55 37. WAHJUNIE ET AL.39 22.97 26..30 38.91 15...97 1.26 3... Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.38 22.10 85.45 40. dan 150 kg per hektar. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1. 200 kg..18 25.71 1.. harian.52 64..76 1..69 1. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1).81 18.90 3. 2.05 1.95 31.14 1. dan distribusi air tiap kedalaman tanah. 3.95 0..88 29. terung.95 1.95 0.. RPDL = ruang pori drainase lambat.27 19.78 39. % 4.98 38.38 10.01 6.52 3.26 8. Tabel 1.11 12.41 32.22 12. 13. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan.92 43.15 7.44 43..45 43. 3..35 3. 4. Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok.40 2...35 23..84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi.96 RPT % 61. 2.83 1. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.....12 43.67 40.06 ISA 42..38 14. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3.88 42.80 24.. singkong dan oyong. RP = ruang pori 17 .07 3..15 3..46 4.68 33.53 13.99 0.35 57.31 14. Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali.75 67. 1.84 41. dua tahun terakhir kangkung darat.39 28.43 63.22 38...01 7. Soil physics characteristics at block 1. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor.02 1.42 27.00 DMR 1.12 27.03 29. 4. jagung.34 27...53 10.74 19.76 22. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.59 43.27 1. laju pergerakan air transient..23 35.78 40.09 1.52 14.16 2.28 26. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.64 62. 3..48 30..34 2. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.58 22.90 1.41 3.20 23.84 17.99 41. terakhir kacang tanah.76 2. 5.86 1. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air..73 2.50 22.ENNI D..45 11. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo...50 4. oyong.18 2.29 65..13 11....70 25.29 61.. kacang panjang.62 19.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.98 3.. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik. 5.08 25.10 1.47 14. dan 3 Table 2.53 16.65 9.54 18.13 19.15 1. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1..05 59.75 58.58 42..80 2..00 0.64 7.37 28.36 35.90 9..11 38.75 4.. pengolahan tanah sedalam cangkul.12 27.76 19.21 14.07 23.87 15..57 4.42 17.78 8.02 0.00 17..27 4. Rotasi kacang tanah.30 7.41 10.57 5.49 25...47 21. 2. 1..94 58.48 1.. hujan dan iklim setiap hari..78 16.42 32.63 41..53 7.29 67..48 39.86 65.50 66. SP 36..45 2..96 0.. 5. 2.33 2.76 83. dan intensitas hujan periodik.25 1.13 25. maupun harian.43 13.04 24.46 15.80 10. 4.21 3.64 25... cabe..95 64. Pengolahan tanah sedalam cangkul.76 64.15 8.11 4. Blok 1..

..... unsaturated hydraulic conductivity.96 25.23 1.10 0.31 Ln(θ) + 7.54 25...89 2..38 12. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah. 11.. % vol .39 40... 1986).. Pada lahan kering yang relatif datar. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan.28 44....72 1... dan 3 Table 3. cm jam-1 …….....99 Ln(θ) + 7.92 11..80 25.90 46.07 46. 1986).92 12... Tabel 3..46 48..38 10...46 0.97 45..99 Ln (θ) + 7.47 1. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah.87 10..00 27.42 38. 2003).65 1. kapasitas retensi air maksimum.. pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan..92 28.03 Ln (θ) + 7..31 Ln(θ) + 7. tak jenuh. Konduktivitas hidrolik jenuh. dan titik layu permanen pada lahan blok 1. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann. (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan.38 12.79 2..... dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm..38 27.13 28.54 43.39 Ln (θ) + 7. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman... and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh …….52 47. Saturated. (Shaxson and Barber.91 25.04 44..87 10.88 40...23 31.67 25.. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya.. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.87 12.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet.33 2.84 2.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET .88 46.32 0...03 44.88 27..waktu) ....56 Ln(θ) + 8.92 11..09 Ln (θ) + 7.86 0.87 12.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..38 11.00 45.... Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol. permanent wilting point at block 1..∆ S .23 1.96 Ln (θ) + 7.. 2.…………….27 28.79 2.93 Ln(θ) + 7.32 Ln(θ) + 8.87 Ln(θ) + 8..18 31.…. dengan pendekatan neraca air (Wagenet........18 18 .......87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen .57 Ln(θ) + 8...54 25..... 2..…………...40 0...14 Ln(θ) + 7.92 11..65 Ln (θ) +7... Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia.38 11. maximum water retention capacity.92 12.46 30. 38. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986)..

89 pada lahan blok 1. sehingga fluks aliran air makin besar.88 0. yang ditentukan dalam fluks aliran air. 2.0011 CH2 CH2 . Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1.– 0. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum.63 pada lahan blok 2. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah. dan 3 Figure 1.04 CH ++ x 10-4 CH2 . Pada kondisi ini. sehingga membasahi tanah secara berangsur.04 CH 0. 0. dan 3 sama.88 pada lahan blok 3. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1.04 CH 7 7 X 10-4 CH .04 CH + + 0.0011 .0. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah. 2. Pada kejadian hujan besar. Untuk melihat perbedaan pergerakan air.0013 CH . (2004). Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t).89 0. 2.24 + + 0. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0.63 0. and 3 19 . : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1.0013 CH2=. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0. apabila tanah belum jenuh.20. r2= 0. r = 2 Fluks (blok 2) =--0. Semakin besar jumlah hujan. tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0.24 0. Menurut Sugita et al. dan 0. Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1.89 Fluks (blok 1) = 0. laju pergerakan air transient. Pada jumlah hujan rendah.20 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm. WAHJUNIE ET AL. 0. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah. 3.63 2 Fluks (blok 2) = 0. r r = 3 Fluks (blok 3) =0. 2.ENNI D.

Pori + 0...86 (Fluks = -2.28 y (-)0.88)... memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar.. dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.....97 z 0.13 a 1.01 St.. Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2.84 a 2.. 20 .48 c 0.... stabilitas pori.0..08 RP mikro......06 RPDC .41 z (-) 0.... Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1... Di antara ruang pori tersebut.22 y 1..36 .06 RPDC .50 x 8.. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh. sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air. ruang pori drainase cepat... dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0.24 b (-) 0.. Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2. R = 0.... ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2)...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.37 x (-) 2.. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0.... sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3.07 b 0. cm hari . tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2.0.. Berdasarkan analisis regresi berganda. Tabel 4. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4).09 y 1..66 a 1.19 a 0.0. 2.....02 St... R = 0.26 x 3.0.07 RP air mobil + 0. ruang pori air mobil.86).19 x 8.. konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1......31 z (-) 0.. ruang pori air imobil. Semakin besar fluks aliran air. dan 3 Table 4.. Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2).. 2.02 y 2.09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%)..09 x 1.. stabilitas pori. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air... terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm).33 a (-) 0......17 a 7.80 b (-) 0. (-) 0..14 b 0...25 c (-) 0.01 RPAT.. Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm). Water flux and rate of transient water movement at block 1.73 x 5.. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata. 2...93 . Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan....47 a (-) 1...88 (Ks = -14. Pada hari-hari tanpa hujan.75 y 1. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat.. secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif).27 RP air imobil + 0...87 x 5...25 RP air mobil + 0.23 a 7. and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 .26 b 2. Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut....33 b 0...0.......30 a 1.85 x 3.17 b 2... ruang pori air mobil.09 RPDSC + 0. Pori ....06 y 0.. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4). 28/2008 berbeda-beda..

ENNI D. sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering. WAHJUNIE ET AL. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali.12 ++ 0.2.0. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0. 1986).002 CH2 . sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah.62.=r 0.004 CH2. 2.21 CH – . Dengan hujan yang lebih besar lagi. perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat.30 CH .– 0.80 dθ/dt (blok 2) = 0. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu.62 dθ/dt (blok 3) 3) = . Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu. dengan koefisien korelasi masing-masing 0. Transient water movement on various amount of rainfall at block 1.002 CH r = 0.26 CH 0.0019 CH .23 0. 2. 0. dan 0.0019 CH2 . Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar.12 0. 2.30 CH 0. Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. and 3 21 .21 CH 0. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2).80 3 dθ dt-1 (blok = -2. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun).0. 2. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum.23 + + 0. dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol). Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah.83 dθ dt (blok 1) = -1. dan 3 Figure 2.26 CH – . maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft. r =0.004 CH r = 0.2. r 0. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.83.2r ==0. Semakin besar jumlah hujan. 2 .80.

Pada potensial yang lebih tinggi. poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat. dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. (1985).0.04 RP air imobil + 0. di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan.38 + 1.85 . Distribusi air dalam tanah Jumlah. R = 0.04 RPDSC + 0. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat). Namun pada hari-hari tanpa hujan. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air. Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran.04 RP mikro . Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah.03 RPAT . dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya.0. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3).93). aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi. kadar Semakin air tanah. ruang pori air imobil. Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah). sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air. maksimum pada curah hujan paling rendah. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3).5 mm. Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al.99). Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat. 22 .0.99 (θ KL = . fluktuasi. 2. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68.0. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil. tanah makin lambat perubahan kadar airnya.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. 1980). Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1.01 RP air imobil 19x10-4 St. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). Pori. dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52. R = 0.5 mm. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum.93 (dθ dt-1 = -1. kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37. ruang pori air tersedia.02 RP air mobil. Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1.4 mm. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient. Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. 2. kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage.

Pada seluruh lahan. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. fluks. 1998). fluks. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). Shaxson dan Barber (2003). : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. dan lapisan atas. Fluks.. 1986). Menurut Allen et al. dan 3 Figure 3. (20-40) cm. Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). (1998). sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. (020) cm nyata paling kecil. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. and soil water content at block 1. walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. 2.ENNI D. Fluks. dan kadar air tanah pada lahan blok 1. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan. maka produksi tanaman dapat menurun. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. Distribusi curah hujan.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). fluks. Fluks. 2. dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. kadar air tanah lapisan bawah. (40-60) cm. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. Apabila kondisi ini sering terjadi. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. Rainfall distribution. WAHJUNIE ET AL. pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. fluks. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). flux.

82 42.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78. dan 3 Table 5.03 RPAT . R = 0.33 116.00 58.99 34 89 2. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air.01 RP air imobil 19x10-4 St. 2.00 20.00 8 97 0. ruang pori air imobil.34 30.00 44 70 0.98 33 86 35.00 71 67 0. Irrigation water requirement at blok 1.89 56 74 0.38 30. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage.99). Pori.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0.25 18 100 0.48 4 90 6. 2.0.04 RP mikro . Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 . lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2). tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min.00 0.00 4.39 4 100 1.65 46 65 0.00 9 100 0.00 36 100 0.00 2 100 0. ruang pori air tersedia. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min. 2. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4. dan 3 Figure 4. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.0.33 2 94 0.38 + 1.00 0. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1.00 87 73 0.00 43 81 0. 2.06 10.11 86.52 3.11 81.00 4. and 3 Tabel 5.00 28 61 0.00 47 72 0.00 29 64 0.00 3.75 1 100 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 13. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.

maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. 4. terutama pada kedalaman (0-20) cm. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. dan ruang pori air imobil. Smith. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. 25 . Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. 1998. namun karena pergerakan airnya kurang lancar. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. KESIMPULAN 1.G. 3.ENNI D. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1. ruang pori air mobil. L. Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. Rome. and M. R.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. 2. Semakin besar jumlah hujan. fluks aliran air makin besar . diikuti oleh lahan blok 2. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. 2. Pada lahan bekas sawah. (Gambar 4 dan Tabel 5). kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. dan ruang pori mikro.S. ruang pori air mobil. WAHJUNIE ET AL. dan terakhir pada lahan blok 3. dan stabilitas pori. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. Raes. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. FAO. DAFTAR PUSTAKA Allen. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering.. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. Di samping itu. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. D. Pereira. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah.

English. Soil Sci. G. K. and L. and K.C.. Am. Fundamentals of Soil Physics. U. Shipitalo. M. and H. 56:52-58. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. lovino. dan A.M. and R. Am. J. Klute (Ed. Soil Sci. New York.L. International Rice Research Institut. July 2004. Am. dan S. A.K. Rachman. and G. 217-234.R. Academic Press. Ghildyal. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil.. Condron. 68:6673. Prihar.S. 1985. http://www. Dalam U. Agron. 26 .M. Soc. Owens. W. Springer-Verlag.J. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model..org/DOCREP/006/ Y4690E00.. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil.E. Bodhinayake. and L.J. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow.. 56:52-58. Los Banos. New method for determining waterconducting macro. Wisconsin USA. J. Am.A. T. Dekker. 68: 1429-1436. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters. Cameron.J. Tala’ohu. Soil Sci. C. Geoderma 70:83-324. 696-701. Laguna. 2004. Pp.B. 2002. Heidelberg.Di. Soc. S.M. held at Waterloo. Hanks. J. In Proceedings of Groundwater Quality 2004. Pp 57-70. D. 1992.H. Painuli. 68:760-769.M. 1985. W.. 2003. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field . Edwards. P. and R. B. W. Soc. Water and solute flux. W.HTM. Wagenet. Shipitalo. Dick. Ashcroft. J.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 54: 1530-1536 Stenhuis.. B.S. Cheng Si. Am.P. and G. J.W. Soil Sci. In A. Soil Sci.S. Haryati. Dick. Soil Sci.K. Sugita. 2004. Inc. and D. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil. L. Am. 1986. Dariah (Eds. Badan Litbang Pertanian. Soc. Pp. Soc. E.B. Applied Soil Physics. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat.H.J.. Los banos. 1990. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. G. Soil Sci. Soc. Elrick. Edwards. Subagyono. 2004.A. W. Special issue. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems.saturated hydraulic conductivity. M.S. 1996. D. De Datta. 1986. M. In IRRI (1985). Am. Am. Sharma. 1992. and M. and S. Xiao.. Haszler. Optimizing Soil Moisture for Plant Production. Soc. Canada. Torr. 2004. FAO Soils Bull. and L. Sur.and mesoporosity from tension infiltrometer. Laguna. Am. Ritsema. 2004. Soil Physics and Rice. T. R. Dunn.fao. 1980. 79. J. Philippines. Soc.) Methods of Soil Analysis. Soc. and C. Sukop. J. Kishii. F. Hillel. R. Perfect. Shaxson. Kurnia. V. Barber. 28/2008 Bagarello.K. Phillips.J. Inc Madison. Effect of puddling on soil physical properties and processes..C. Owens.J. Soil Sci. H. In IRRI (1985). F. Departemen Pertanian. the 4th International Groundwater Quality Conference. Philippines.

semi teknis. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. Salinity. Bireun. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. desa.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1.139 ha. pasang surut. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. tadah hujan. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. dan Aceh Timur. rusaknya sistem irigasi dan drainase. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. Aceh Besar. Nanggroe Aceh Darussalam. Salinitas. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. Keywords : Tsunami. Pencucian. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. salt accumulate closer to the soil surface. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. improve soil fertility. Leaching.458 ha dan di pantai timur seluas 179. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. Bogor. and grow salt tolerant crops. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. enhance salt leaching horizontaly and vertically.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. 70. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. DEDDY ERFANDI1. This includes avoid planting land that is still saline. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. Indonesia.190 ha diantaranya berada di pantai timur. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. sisanya seluas 56. memperbaiki kesuburan tanah. Aceh Utara. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. dan lebak) seluas 336. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. In the heavier rice soil. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 . 2004. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah. Aceh Barat. Provinsi NAD dengan total luas 5. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. commonly used to grow peanut during dry seasons. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. Nagan Raya. 2003).090 ha. 2. Kata kunci : Tsunami.559 ha. DAN M.

. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. Khusus untuk contoh lumpur. 7. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis..000 ton per musim tanam. 9. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. 1986.000 ha lahan kering dari total 1. 1998). BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. dan 12 bulan setelah tsunami.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. 1990). maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. Slavich.000 ha.4 juta t ha-1 per musim tanam. diperkirakan terdapat sekitar 184. dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 1996.. Cornillon and Palloix. maka dengan total luas sawah sebesar 336. 2005). Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. jalan. dan Peuneung di Banda Aceh. juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. Selain pengambilan contoh tanah. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38).9 juta ha yang ada. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. Aceh Jaya. 2005). pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Selain lahan persawahan yang rusak.2 t ha-1 per musim tanam. Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. 28 . 1997). tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah. sistem sanitasi dan lainnya. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah. jembatan.

Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). Berdasarkan hasil analisis tanah. Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. sulfat.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan.. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. 2005). Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). dan 4. Mg). Bogor untuk penetapan tekstur. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm). nilai ESP. Franzen. berkadar garam tinggi.5. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. magnesium (Mg).ACHMAD RACHMAN ET AL. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur.5. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. 8. 2. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. 3. dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. 2003. dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes.5 untuk kandungan liat 25-30%. 4. kombinasi basa-basa kation (K. masing-masing 1.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. natrium (Na). sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. 2. Tingkat salinitas (ECe). terutama dalam bentuk NaCl. merusak struktur tanah. kalsium (Ca). Sementara di Darussalam. 2003). EC (electrical conductivity).5. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. kalium (K). C organik.. 3.6 untuk kandungan liat 30-45%. 4. bikarbonat dan klorin (anion). Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3. 9. tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. pH. Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. daya hantar listrik (DHL). tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran. Nilai ECe. dan mencemari air tanah (Cardon et al.8 untuk kandungan liat 1025%. 1999). 13. Ca. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40.5.5 km untuk transek Darussalam dan 1. dan 5 km untuk transek Lhok Nga. ESP. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al.

January 2005 45 40 35 30 0 .00 5. EC.50 3.50 2.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.50 3. Januari 2005 Figue 1.00 2. ESP.50 4.00 3. (km) Jarak dari pantai km Gambar 1.00 3.00 2.50 4.50 3.00 2.00 5. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah. Nilai EC. ESP.00 4.00 5.50 4. dS/m ESP (%) ESP.00 4.00 4.00 1.20 cm 10 5 20 0 1. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai.00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 2.10 cm 10 .20 cm 20 0 .50 4.00 2.50 4.10 cm 15 10 .00 4.50 0 1.00 1.50 3.50 4. ESP.50 3.10 cm 15 10 . km Gambar 2.10 cm 10 . dS/m ESP (%) ESP. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.20 cm 20 0 . % 25 20 15 10 5 0 1.00 60 40 Na.00 5.50 3. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .00 2.20 cm 120 100 80 0 . ESP.00 0 1. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 3.00 5.00 4.50 4. Januari 2005 Figure 2. EC.00 2.10 cm 10 .00 5.00 1.00 4.50 60 40 Na. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.00 4.00 2.00 1.50 3.50 3. Nilai EC.50 3.50 4.EC tanah (dS m-1) EC tanah. 28/2008 Jarak dari pantai.50 2.50 2.00 4.00 4.10 cm 10 . and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths.50 4.00 2.00 1. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.20 cm 10 5 20 0 1.00 1. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.20 cm 120 100 80 0 . January 2005 . % 25 20 15 10 5 0 1.

: DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah. Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. dan HCO3-. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1).ACHMAD RACHMAN ET AL. jagung. sumur-sumur. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian. kolam. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. cekungan. Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm. makin mudah tanah terdispersi. ESP. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. mengganggu keseimbangan unsur hara. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). Menurut Emerson dan Bakker (1973). Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. ECe. Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. Makin tinggi kandungan Na tanah. Pertumbuhan tanaman terhambat. dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. Mg. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. Rata-rata (n=20) nilai pH. kecuali K yang rendah sampai sedang (0.4±0.5±1. lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. dimana tanaman padi.4). Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. OH-. Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. kacangkacangan.

6 (31.0) 5.….5) 19.5 (21.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.3 (10.4) 43.7 (4.1 (2.97 2.2 (12.2) 68.1) 7.0 (1.80 C % 2.5 (10.7) 9.5) 21.5 (91.3 42.3) 1.80 0.2 42.69 6.1) 16. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.7) 0.0) 4.1 (1.84 Tabel 2.11 24.46 13.72 2.4 (0.7 (0.2) 2.3) 1.8) 7. Reaksi tanah umumnya masih masam.36 13.9 (16.2 (0.2 (9.0) 4.8 (7.2 41. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar.8) 4.4) 7.54 2.2) 5.8 (0.8) 23. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4.6 (1.3) 23.20 15 .1 (1.9) 28.85 0.6) 27.4) 7.2 (12. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.2) 2.4) 7.7 (19.2) 14.0) 22.3 (31. rata-rata di atas 5.0) 15.27 0.5) 0.2 (0.1) 5.7) 0.3 (10.0 (24.1) 7.2) 7. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na). Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.8 7.6) 145 (275) 2.57 10.5) 11.4) 16.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na ………….3) 5. dan meningkatkan kualitas buah.8 (4.8 (15. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.25 15 .9 (8.2 (8.0) 4.3 (4.8) 31.4 (0.6 (203) 2. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.86 19.1 (8.9 (17. % …..62 20. 52.82 18. memperkuat batang tanaman.8 (1.3 (28.1 (2.5 (4. 24.8 (0. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.0 (1.3) 5.5) 16.0 (1.5 (5.1) 34.9) 31.69 18.9 (24.1 (29.6) 24.19 80.1 di Aceh Barat.8) 14.9) 15.85 56.1) 18. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.3 (17.11 38.8) 0.5 (1.9) 8.8 di Aceh Jaya dan 5.1) 6.95 19.0 (17.8) 7.2) 22.3 (5.3 47. 1990) menjadi 5.3 (4.0 (3. 28/2008 Tabel 1.2 24.3 (0.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.3 (12.11 2. Aceh Jaya.7) 5.2) 14.9 Tebal lumpur cm 10 .8) 25. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.9 (24.3) 41.3 (18. Aceh Jaya.0) 0. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.6 (9.93 4.8 26..9 (11.5 (0. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat .5 (4.8) 5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Mg dan Na tinggi.8) 16.4) 0.5) 13.3 (0. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.3 (31.1) 3.93 8.23 59.8) 4. dan kualitas bijinyapun kurang baik.0 (4.3 (0.3) 56.22 2.5) 7.0 (15.6) 0.4) 5.2 (3.87 18. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67.2 (19. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.9 (34.2 (0.0 (5.5 dS m-1.6 (9.3) 8.0 (5.6) 19. rendah di Aceh Barat. Dengan demikian.8 (48.9 (23.8 12.7 (11.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.6) 6.2) 14.86 84.2 (1.7 (17.4) 4.1) 2. cmolc kg-1 ………….57 26.5 (12.6 (1.8 6.

000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1. Pidie. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah. C.000 10.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4. dan Oktober 2007. Panteraja Pidie. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1. Banda Aceh Figure 4. Pidie. baik secara horizontal maupun vertikal.000 1000 Cl (ppm) 2. Lhok Nga.000 1500 1.000 2000 3. Aceh Besar.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian.000 4000 D 0 O 0 1000 1. Gambar 4 A. B) Panteraja. and D) Peuneung. Pidie. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah.000 6000 8. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat.ACHMAD RACHMAN ET AL.500 2000 2. C) Lhok Nga. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram. B. B) Panteraja.000 4000 4. dan Peuneung Aceh Besar.000 4000 6. C) Lhok Nga. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.000 3000 4. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6). Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.000 2000 Cl (ppm ) 4. A O 0 2. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut.000 3000 3. Pidie. dan D) Peuneung. Banda Aceh 33 . Aceh Besar.400%) dari bulan September.000 Cl (ppm ) 2000 2. November 2005.

72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian. Pidie. Aceh Besar. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). B) Panteraja. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. Dengan memasukkan angka ECa=1. and D) Peuneung.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi.94 r2 = 0. dan D) Peuneung. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. C) Lhok Nga. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. B) Panteraja. Aceh Besar.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 .JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pidie. Pidie. Pidie. Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5. Banda Aceh Figure 5.26* ECa) – 0. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi. 2) tindakan rehabilitasi. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. khususnya sawah. C) Lhok Nga. (1989). di daerah bekas tsunami. adalah: 1) tindakan pencegahan.

Banda Aceh nang secara permanen. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. dan D) Peuneung. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. Aceh Besar. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . Banda Aceh Figure 6. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting. B) Panteraja. C) Lhok Nga. B) Panteraja. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. Pidie. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. C) Lhok Nga. Aceh Besar. and D) Peuneung. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. Pidie. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. Pidie. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.ACHMAD RACHMAN ET AL. Pidie.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

23 and 3. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi.31 ± 0.42 kg K ha-1 musim-1. yang bervariasi antara 7.13 . industri dan rumah tangga. dan bervariasi mulai 2.62 kg N.15 l second-1. Secara statistik. kawasan industri dan fasilitas jalan. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004. Selanjutnya. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2.06 l second-1.15 dan 0.60 ± 0.89 ± 0.07 to 0. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan.20 .13 ± 0.521 kg ha-1 musim-1.54 ± 0.33 ± 0.20 kg P.09 l detik-1. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Perbaikan Teknologi.06 l detik-1.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji.32 ± 0.521 kg ha-1 season-1. 2007). Potassium.20 sampai 1. BPS. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. sedangkan pada stadia generatif antara 1. Phosphorus.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2.06 dan 1.23 sampai 3. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan. but also providing an environmental services. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian.15 to 0. Nitrogen. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama.38 ± 0.20 and 13. Sawah berteras was about 1.13 and 0. Farmer Practices + Rice Straw. dan 7. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit.20 kg P. Bouman and Tuong. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1. Praktek Petani + Jerami.38 ± 0. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0. yaitu antara 0. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.07 dan 0.25 . Sediment.28 to 1. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season.34 l detik-1. Sebaliknya.10 ± 0. meliputi Praktek Petani. 2002). Nitrogen.33 ± 0.09 l second-1.. Fosfor. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil. Perlakuan yang diuji. dan (4) pencemaran air.13. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0.55 l detik-1.20 and 1.31 ± 0.715 to 5.78 ± 0.55 ± 1.34 l second-1.21 ± 0.78 ± 0.25 to 13.13 ± 0.60 ± 0. dan pada stadia generatif antara 1.52 l second-1. and Improved Technology + Rice Straw. menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al.55 ± 1.715 sampai 5. yaitu antara 0. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan.54 ± 0.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. 1. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. In contrast.42 kg K ha-1 season-1. and from 7.62 kg N. Oleh sebab itu. the Semarang District during the Wet Season 20032004. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 . Furthermore. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village. 0. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim. Sedimen. both for sediment and nutrient deposited.28 dan 1. Sebaliknya.52 l detik-1.15 l detik-1. 1996. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen. Kalium. At generative stage was about 1.32 ± 0.06 to 1.21 ± 0. Keywords : Discharge.55 l second-1. dan Perbaikan Teknologi + Jerami. hara terlarut (nitrogen.13. like nutrient and sediment conserving. 0. There were no significantly different among treatments. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice. Improved Technology.89 ± 0.10 ± 0.0. varying between 7. 2001. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk. The treatments included Farmer Practices.

Visser et al. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian.. intensitas. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion). Toan et al. 1992.. 2003. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan. (1976).. Sukristiyonubowo. Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut.10 g kg-1 air (Bhuiyan. . 1973.. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. Sharma and De Datta.. Sukristiyonubowo. 1998.. Sukristiyonubowo et al. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau. Selanjutnya. Lal et al. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya. 1971. Tabal et al.. 2003.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al. air (water erosion). 1977. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull. Lal. 2002. 2000. Sanchez. sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. 1971.14-1. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0. Udawatta et al. 2005. Sukristiyonubowo et al. 2005. Kukal and Sidhu. Cabangon and Tuong.. 2007).. 1970. sifat kimia tanah. 2003.. 2003. 2006. Naphade and Ghildyal. 1998). Bhuiyan et al. 2007 dan 2008). 1986. dan Douglas et al. Secara spesifik. Daniel et al. 2003 dan 2004. Adachi. 1998. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. tanah. 2007). kecepatan infiltrasi. Robichaud et al. kondisi kelembaban awal tanah. 1998. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami.. tipe penggunaan lahan. Phomassack et al. Aksoy and Kavvas.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sukristiyonubowo. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. 2000. Agus dan Sukristiyonubowo. Duque et al. 2002. 2003. Bouman and Tuong. Berkaitan dengan iklim.. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill). Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India. (1998) melaporkan bahwa jumlah. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. IWMI. 1990. 1994. 2004). Kirchhof et al. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts). Filipina. 2004). Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al. Kissel et al. topografi lahan.. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan. 2006. Lal et al. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. 2003. 2001. Namun demikian. Agus et al. 1998... pengolahan tanah (tillage erosion).. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. Cabangon et al.

Pada perlakuan FP. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. 2007). petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004.5 for Windows. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. berlainan ukuran. Teras bersifat datar. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet). Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. Kabupaten Semarang. 2007. Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova).SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. dan 100 kg KCl ha-1 musim-1.140 mm (Sukristiyonubowo. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. Urea diberikan dua kali. Saluran air masuk pada teras paling atas. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. 2008). Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. 100 kg TSP. dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). Dua belas sawah berteras. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST. 41 .44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo.

97 3..26 2. pengamatan diakhiri pada jam 17:30. 42 .. 28/2008 Tabel 1. komunikasi pribadi. Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3... 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen.500 5.000 4. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah.240 1. Tanggal tanam.. Pada saat pelumpuran. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30. dan K (K+) terlarut.780 1.64 2.680 904 2. dan kunjungan lapangan Tabel 2.530 3....15 2.. pengembalian jerami. Date of planting.500 3. the total amount of returned rice straw. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan.dan NH4+).040 4. kg ha-1 musim-1 .15 Takaran Urea TSP KCl . Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00.48 2. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2.070 2. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2.. P (PO4-).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.300 5.

SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. sedangkan kalium dengan flame photometer. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. 12:00. P. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil. dan 16:00.000 43 . Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. Data yang dikumpulkan meliputi debit. Pada stadia generatif. Pada stadia vegetatif. Ammonium (N-NH4+). yaitu jam 08:00. Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif. Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. dan konsentrasi N. P. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari.000/t dimana.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana.dan NH4+). nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter. hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). Unsur N. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. Bogor. dan 16:00. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. kadar lumpur. fosfat (PO4-). 12:00. yaitu pada jam 08:00. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. pengambilan contoh air irigasi. Dalam makalah ini. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium.

15 sampai 0. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008).55 ± 1. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak.54 ± 0. Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989). Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. Akibatnya.28 sampai 1. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm. 2004). mempermudah proses pelumpuran. WMO (1994).23 sampai 3. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al. P dan K sebagai ganti kadar lumpur. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. namun dapat meningkat hingga 650900 mm.000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. sawah memerlukan air yang paling banyak.15 l detik-1. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1.. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif.06 liter detik-1.33 ± 0.38 ± 0. Oleh karena itu. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. Bouman et al. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi.60 ± 0. Alasan penggunaaan metode pengukuran. Selanjutnya. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. Pada stadia vegetatif. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1.55 l detik-1. yaitu berkisar antara 0. Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al.10 ± 0. kebutuhan tanaman padi akan air. Secara umum. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi. dengan cara memasukkan konsentrasi N.

20 a FP + RS 1.06 a FP + RS 1.89 1.150 4.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.010 0.79 ± 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.025 0.05 b 0.608 a 0.273 0.250 0.260 2.031 0.880 3. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.015 0.450 2.30 0.46 1. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.490 ± 0.34 dan 1. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.284 a .946 5.46 ± 0.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.026 .39 ± 0.28 a IT 0.13 1.020 0.36 0.1.12 0.243 0.32 1.280 0.237 0.15 a IT + RS 0.42 1.173 0.50 ± 0.237 0.17 1.015 0.13 a IT + RS 0.267 0.243 0.36 ± 0.237 + + + + 3.53 a Sebelum tanam FP 1.223 0. sediment concentration.177 0.05 a 0.51 a FP + RS 0.12 a IT + RS 1.283 0.280 0.25 0. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.28 ± 0.1.330 ± 0.50 ± 0.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.78 0.15 1.243 0.21 a IT 0.229 2.06 1.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.870 a . Rata-rata debit.015 0.35 ± 0.52 0.021 0.093 2.287 0.20 0.13 1.60 ± 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.09 0.34 0.783 1.580 3.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.774 a .72 ± 1.27 0.021 0.025 0.07 0.025 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah.267 0.030 0. MH 2003-2004 Table 3.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.55 a* FP + RS 2.20 0.84 ± 0.33 ± 0.14 1.015 0.39 a IT 1.021 0.715 5.015 0.38 0.19 0.021 0. Average discharge.310 ± 0.307 0. 45 .068 3.51 ± 0.267 0.150 + 565 a a + 1. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).420 ± 0.088 + + + + 2.170 0.303 ± ± ± ± 0.521 a a a a a a a a 1. konsentrasi sedimen.015 0.35 0.31 ± 0.09 c 0.550 2.46 0.51 0.54 ± 0.54 ± 0.28 a IT 1.57 ± 0.23 a IT + RS 1. ukuran teras dan luas lahannya.045 0.20 0.012 0.10 + 686 a a + 1.22 0.015 0.223 0.19 a 0.11 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.17 0.021 0.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.021 0.203 0.23 a IT 2.247 0.21 0.14 0.55 ±1.237 + 655 a a + 1.17 1.090 0.31 1.220 0.15 a Stadia generatif FP 1.11 0.1.207 0.015 0.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.37 a FP + RS 0.11 a a a a a a a a a a a a 0.012 0.19 0.06 0.051 0.017 0.27 a IT + RS 2.45 ± 0.306 0.38 ± 0.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.835 0.313 0.10 liter detik-1.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.24 3. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.37 ± 0.283 0.220 0.10 ± 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.010 0. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.237 0.

saat pelumpuran adalah yang paling tinggi.19 sampai 0. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca .49 ± 0. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0.88 ± 1. yang diukur pada saluran air keluar utama. Selama perioda pengukuran. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.260 sampai +2.70 . maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1). persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. Akibatnya. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. 2004). yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1. Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3.13 g l-1. Sebaliknya. tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al. Namun. Pada saat pelumpuran. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil.42 sampai 3. Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system). Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. Sebaliknya. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya.3. Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya. Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan. lebih tinggi 2. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari).41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Selain itu. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam.09 g l-1. Kadar lumpur larutan sedimen. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari.870 kg ha-1. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi.31 ± 0. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3)..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah.58 ± 1. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream).

pada stadia lainnya (tanam. oleh sampai 480 keluar.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT. Sebaliknya.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi. penurunan kwalitas air.589 kg ha-1 musim-1. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1. Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. MH 2003-2004 1250 1. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran. MH 2003-2004 Figure 1. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008).000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate). MH 2003-2004 1250 1. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. MH 2003-2004 1250 1.250 1000 1. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 . dan lain sebagainya. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk. Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1). MH 2003-2004 1250 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS.

yang bervariasi dari 1. mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan.05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5). amonium (NH4+). yaitu antara 0.04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1. konsentrasi PO4.dan N-NH4+ oleh air hujan. Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site).dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi.34 ± 0. tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen. - 48 . Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991). bervariasi antara 0. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N. 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS). atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.antara`0. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis). yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture). konsentrasi NO3. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5).04 mg kg-1.56 sampai 1. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi.80 ± 0. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan.terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah.12 mg kg-1.01 sampai 0.13 ± 0.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. Seperti halnya pada air irigasi. Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah. Diantara hara yang terlarut. Poss and Saragoni (1992). konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi. sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1. Variasi konsentrasi nitrat (N03-). kopi (Coffea arabica). yaitu N03. cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ).pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya.21 ± 0. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4). Meningkatnya konsentrasi NO3.06 sampai 0.68 ± 0.77 sampai 1.04 sampai dengan 2. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1.02 sampai dengan 2.86 ± 0. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen. Oleh sebab itu. Konsentrasi PO4. Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif.6.04 sampai 1. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif. amonium (N-NH4+).0 sampai 5. tergantung pada perlakuannya.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar. sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji.15 ± 0. selain volume air irigasi dan larutan sedimen.09 mg kg-1 (Tabel 5).

86 1.05 0.65 1. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya. 49 . curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007). P.12 ± 0.01 0...07 0.03 0.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.01 0.04 2.76 1.95 2.04 0.01 0.021 0.86 2.04 0.16 2..006 0.01 0. MH 2003-2004 Table 4.02 0.006 0. dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 ..02 1.03 ± 1.09 0.035 0.015 0..04 0.02 0.01 0. 1970.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0..012 0.. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS)..36 0.01 2.030 0..72 1.02 0.01 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.025 b 0.58 1. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras..065 0. Concentration of dissolved N.36 0.45 ± 0.04 0.01 0.. and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.07 ± 1.015 0.01 0..02 0.. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi..34 1.70 0.46 ± 1....08 0.02 0. N-NH4+. mg kg ....86 1.77 1.83 0. faktor lain seperti debit.01 0..04 0......86 ± 0.035 0..06 0.66 1.01 0.dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen.025 b 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1..035 0.. P.....59 1.34 ± 0.07 0.07 0.59 1... P.045 0.030 0..03 0.055 0.04 0.01 0..08 0.56 1.02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0.025 0..80 ± 004 a 1.15 ± 0.07 0.012 0.015 b 0.05 0. Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-.030 0. 2007)..05 a 1.006 0..22 0.04 a 2.012 0...05 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4.030 0...19 1...04 b 1.01 0. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull.03 0.72 1..030 0.020 0..01 0..98 1.15 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.050 0..10 0.035 0.45 ± 0.79 1.12 0.79 1.79 ± 0. Selanjutnya. Konsentrasi N.30 0..01 ± 1.18 1.04 0...015 a 0.015 0.21 1...06 0.29 ± 0.79 1. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras.025 0.010 0.00 0.15 ± 0..78 1.010 a a a a a a a a 1..025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.01 0..84 1.04 0..01 0.14 2..09 0.025 b 065 ± 0..65 1....035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi. 0.28 1.04 0.02 0.10 0.03 0.67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0..20 ± ± ± ± 0. Sukristiyonubowo..012 a 0.025 b 0..47 0.01 0..14 ± 0.. pemupukan.030 0..08 0.030 0.. PO4..025 b 0.05 0.

.. 28/2008 Tabel 5.01 0..03 0.31 1.04 0.03 0.04 0.02 0..68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.67 1.01 0.57 ± 0.56 1.03 0.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.05 0.02 0.06 0.01 0...12 0. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut..10 1.. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar.75 1..15 0.89 0. P.57 ± 0.03 0.90 1.11 1.09 dan 1.03 0.10 1.02 0.96 dan 8...31 0.06 0. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi.38 1...02 0.02 0. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar.02 0.. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.01 0.01 0.14 kg P..67 1.03 0.07 0.03 0.60 1.04 0.03 0. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1.62 ±0.. and K in suspended sediment during rice growth. Akibatnya. N (NO3 + NH4+).01 0. Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif.03 0.03 0.06 0.02 0.02 0.. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen..90 kg N. Konsentrasi N....47 1.07 0.05 0.02 0. 0. Concentration of dissolved N. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari).02 0.05 0.07 0.73 1.. dan antara 3.54 1.04 0.04 0.01 0.01 0. P..08 0. MH 2003-2004 Table 5...34 0.70 1..10 0.13 0.47 1.. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6). dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.10 0..43 0...73 1.03 0.02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.06 0.97 0.03 0.02 0.03 0....75 1.06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0..99 1..85 0...69 1..04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0. P.17 0.14 dan 9. mg kg-1 .09 0..03 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO...03 0.75 1.80 0.01 0...01 0..32 1.05 0.05 0.05 1.03 0.06 0.54 1.85 1.60 2. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari).02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N.02 0.06 0.04 0.05 0.10 0.. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.54 ± 0.03 b 1. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda.01 0..06 0.03 0.02 0.. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4.01 0...05 0.02 0. P.02 0...30 1.. 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.44 1.58 0.07 0.01 0..06 0...01 0.57 1.05 0. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03.04 0.04 0....80 1.13 0.46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.03 0..09 0.21 1..28 kg K ha-1 musim-1.68 1...02 0.29 1. Seperti halnya pada pergerakan sedimen...13 1.69 0.03 b 1.03 b 1....04 0..05 0..03 0.62 1..02 0.06 0. atau negatif.02 0.03 0.75 1.04 0.04 0. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .04 0.12 0..09 0..

42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6).072 0.34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.52 b 0.64 3.70 1. MH 2003-2004 Table 6.64 2... Incoming and outgoing dissolved N.38 1..50 0. Dibandingkan dengan debit air irigasi..090 0.20 a 4.144 0.. yaitu 51 ..90 2.30 36..26 6.54 ± 0..90 a a a a a a a a 16.42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.458 0.30 6.030 0.31 ± 0. berkisar mulai 2.14 9.20 0...020 0.90 1.010 0.20 6..13.050 0. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar.60 12.060 0.38 ± 0..15 l detik-1.40 11..96 44.08 1.28 sampai 1..55 l detik-1.32 a a a a a a a a a a a a 13. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K . 0..010 0.. KESIMPULAN 1.030 0.. dan pada stadia generatif berkisar antara 1...SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.80 2.74 7.42 6.55 0.50 9. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1.55 ± 1.30 1..20 sampai 1.46 0.00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0.126 0...30 a 23.92 4..090 0.15 dan 0.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.20 a 13.13 .80 14.018 0.256 0..66 10.34 0.18 0.060 0.050 0...10 9.41 0. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil..58 5.30 2.24 27...60 ± 0.76 12..144 0.. N.06 1..270 0.002 0. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi. yaitu antara 0.080 0...70 22.58 36.51 0.162 0..48 a a a a a a a a a a a a 0..98 8...16 4.33 0...288 0.196 0.68 b 4..54 4.145 0.50 12..24 6.23 sampai 3.56 3..126 0.80 29.37 13.90 11.090 0..20 . Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi.50 ab 29.070 0.96 19. debit larutan sedimen adalah lebih kecil.0. 0.57 0.36 a a a a 0.20 a 0.36 0.12 1.040 0.20 a 10. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0.402 0...130 0.76 31..002 0.13..51 12..13 4.25 11. kg ha-1 musim-1 .20 22..090 0.78 49..58 b* 1..84 8.33 ± 0..48 3.62 a 13...030 0.86 0. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti.87 1..80 10...10 4.20 kg P dan 7.62 a a a a a a a a a a a a 0..06 5.28 2.040 0.282 0..93 0..62 kg N.92 42.33 1.80 2....05 12..186 0.60 b 25...70 8.10 ± 0..90 1.040 0..90 20.002 0.87 39.270 0.86 9.46 15.030 0...90 19.06 l detik-1.99 28.060 0..80 1..002 0.52 a 12..422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1. P.130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0.040 0.42 7.40 1..180 0.07 a 7.....60 3.50 6....80 6.003 0...22 0.80 a 10..90 9. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.68 15.28 3.00 5..060 0.56 ab 9....25 .89 ± 0.030 0. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air.64 0.. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar.03 19.....62 2..96 8.00 9.192 0.52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.030 0...31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22.030 0..008 0.018 0.

Wet seeded rice: water use efficiency. water regime and fertigation level.78 ± 0. 1994. Journal of Environmental Quality 7:203-208.. 2. H.). 1992. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. dan 7. and Penning de Vries.715 sampai 5. fosfor. Anbumozhi.88 ± 1. 2005.012 sampai 0. Integrated catchment management for land 52 . A. A.. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. 1977. F.32 ± 0.20 kg P.. Outlook Agriculture.2013. and K.L. 280 hlm.07 dan 0. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. 28/2008 antara 0.21 ± 0..09 l detik-1. 1996. 286 hlm. productivity and constraints to wider adoption.06 sampai 1. selain sebagai tempat memproduksi beras.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya..70-3.. and H. and Sukristiyonubowo. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.. Watung. Sukristiyonubowo. Water management in relation to crop production: case study on rice. Agus. Yamaji. (Eds. E. palawijo dan sayur. Water.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. and D. May 31-June 3. Bhuiyan.58 ± 1. Tabuchi. Aksoy. S.).E. Rekomendasi pemupukan N. R. Moody. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen. Bhagat. opportunities. BIMAS. 1998. Effect of rice-soil puddling on water percolation. 2003. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth.L. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah. Alberts. Pp 186-193.A. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed. Pp 135-149.52 l detik-1. Valentin. Pp 146-151.. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. R.J. Bhuiyan. Departemen Pertanian. Pada stadia generatif bervariasi dari 1.62 kg N.M. and C. (Eds. and innovations for wet seeded rice. Agus. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran.13 g l-1. Bangkok. Departemen Pertanian.42 kg K ha-1 musim-1.R. 2007. Sebaliknya. In: Maglinao. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Schuman. F. T. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. Agricultural Water Management 37:241-253.. Sattar. 1978. K.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. 2003. Vadari. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0. 21:293-299. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. and Rego.490 ± 0.W. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model. T. 0. 1990. Agricultural Water Management 31:165-184. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia. S.I. 1994. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2.13-0.E.25-13. V. S.09 g l-1. Catena. Kavvas.. and R. lebih tinggi sebesar 2. S.13 ± 0. Tabbal. Anonim.P.207 ± 0. hara terlarut (nitrogen. M.42 sampai 3.E.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.I. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Bercocok tanam padi. Valentin. 19 p. G. Maglinoa. Burwell.R. C. DAFTAR PUSTAKA Adachi. and T.T. Ramakrisna. 64:247271. In Wani. Bhuiyan. Paper presented at the International Workshop on constrains. F. A.I. Anonim. E.F. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran.

Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. Richardson. runoff.J. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. Maglinoa. B.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman. El-Swaify. Duque Sr. C. 1998.. Ramakrisna.. CD-Rom (one CD). and J. Kukal..J. In Wani. Lemunyon. So. Sihavong.). F.. 2003.S. Pp. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics. Peng. S. Syers. Agricultural Water Management 49:11-30. Abdullah.). Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines. Tiongco. Lal. Monitoring of weather. In: Penning de Vries. Pp 163-178. C. 2000. Biro Pusat Statistik.). S.R. Soil and Tillage Research 78:1-8.P. W. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation.H. Demyttenaere.D. IBSRAM-Thailand proceedings. P. 1976. and T. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. Douglas. P618. P. S. 1981. and N.P. Agricultural Water Management. D. T. Santos. D. Carpina. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR. 2005.P.. 1971. T. Phommassack. C.S. Thonglatsamy.R. (Eds.. and Rego. In Kanwar. R. C. B. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion. Kissel.)... R.J. G. and J.P. S.M. A. MSEC-Lao PDR Annual Report. Soil and Tillage Research 56: 105-116. Ghildyal. A.. 53 . (Eds. 2002. Water facts.S.. Cabangon. J. Los Banos.V.P. B. A. and V. 207-222.. G. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman.P. IRRI.V. Sharpley. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice. (Eds. Valentine. De Datta. and Biswas. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. Soil and Tillage Research 56:37-50.). de Guzman. 2004. 1971. and B. In: Wani. C.. Zuzel. CABI Publishing in Association with IBSRAM.S. R. MSEC-Philippines Annual Report. S. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. T. T. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. L. S. Journal of Environmental Quality 27:251257. Chaplot. Tuong.M.M. Cabangon. Statistik Indonesia.R.. Kirchhof. 2000. Tuong.) field. Ramakrisna. 2003. and Biswas. T. Caughlan. 1998. Pp 510-517.R.R.P.K.S. R. Phillipines. Principles and Practises of Rics Production. Hashyim. 2002.L.O. Utomo. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview. Chanthavongsa.J.A. E.L. Tuong.. A. D. 2001..W. N.M. Ilao. 203 p.D..F. 2004. BPS.B. Burnett.. T. A. Maglinoa. 1998. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Quita.S. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177. and T. B. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek. J. K. and R.T. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon. Jr. Bhumbla. R. R. and Kerr. J. S..K.. N. IWMI Brochure.A.. (Eds. C. Bhumbla. Miller. and E.J.... Datta. and H.B. Naphade. Agus. ion uptake and rice growth.. 1998.E. and J. Bains. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. Logan.M.A. and A. 1998. A. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. A.W. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L. T. S.P.E... F. Ghildyal. Soil Erosion at Multiple Scale.N. Bains. Visperas. Sidhu. de Rouw. A. IWMI (International Water Management Institute). and soil loss.. (Eds. 1989. T.P.S. King.A.P. S. and T. 1991.J. and T. Datta. Castaneda. N. Daniels.C. Dacanay. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops. and Rego. Journal of Environmental Quality 5:288-293. Priyono. Adisarwanto. Doctorate Thesis.D. Lal. Marchand. F. J. Pp 499-509 In Kanwar. K. 57:11-31..

2003.A. Sanchez. In Wani. and Rego. and R. A. 2005. 1970. A. D. and M. Pp.P. CD-Rom (one CD). measurements and modelling.P.R. 1973. Uexkull. 2008. B. R. T. Chardon.J.K.. WMONo. Saragoni. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Agricultural Water Management. WMO (World Meteorological Organisation). Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems... 2002. Agus.). Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils. and Penning de Vries. and W.W. Catena. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. C. R. Valentin.. Vadari.M. CD-Rom (one CD). 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Sukristiyonubowo. 4:366-369.A. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD). Garrett. Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo.K. S. F. P. Sukristiyonubowo. Pp.. 1994.H. Sibayan. case study in the Philippines. Ghent University. H.168. G. Motavalli.D. F.M. and H. Burwell. P. forecasting and other applications. Robichaud. L. Badan Litbang Pertanian. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. 67: 56-67. and S.L. Journal of Environmental Quality.T. Belgium. 117:39-48. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems..D. Udawatta. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. and M. 686. 169p.E.J. Lao PDR on 14-17 December 2004. Guide to hydrological practices. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. 1974. Faculty of Bioscience Engineering. and F. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. De Datta.. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. Sukristiyonubowo. Fifth ed. Toan. Taball. and L. R. Sharma. Bhuiyan. Bouman. WMO-No. Wagenbrenner. Hlm 225-245. Sattar. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. D. 735 p. Lillybridge.P. Fertilizer Research 33(2):123-133. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI).R. Schuman. 2003. S. Nutrient losses by wind and water.E.A. Data acquisition and processing. Operational Hydrology Report No. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. 64: 1-22. MSECVietnam Annual Report. Departemen Pertanian. 56:93-112. E. Poss. Stroosnijder. Maglinoa. L.R. Nguyen. 5:139-178. T.. Catena. 1992. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice. Phien. S. In Maglinao. and J.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Physical properties and processes of puddled rice soils. USA.). T.J. 2004. Advance Soil Science.W. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. Agriculture Ecosystems and Environment. T.. (Eds.F. P. PhD thesis.I. T. Krstansky. (Eds. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition). 2006. P. 1986.29. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. and J. A. 2006.). 184 p. Ramakrisna. Growth and nutritional aspects. Yuqian. Gabriels. Verloo. Soil Science 115:303-308.B. V. Agus. Ghent. Sukristiyonubowo. Phai. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry. 151-164. 1989. 413-416.R.R.E. 54 . Leaching of nitrate. Watung. In The International Potash Institute (Eds. analysis. D. Visser.. 2007. Puddling tropical rice soils: 1.

Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. applied as superphosphate (SP-36). 1998). Kaolinitic. The experiments used completely randomized block design with four replications. Smectitic. sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. Fe. dan 115 kg P2O5 ha-1. Cadd. 23. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Smektitik. P uptake response with P fertilizer was not significant. 46. Thus. ISSN 1410 – 7244 55 . (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. Namun demikian. 23. Cornforth et al. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. and Al were not significant. sedang dan tinggi. Pada tanah kaolinitik. exchangeable Ca. Phosphorus uptake. Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. kadar liat. 1990. 69. Newman and Hayes. clay content. while the correlation of pH. sedangkan pH tanah. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. 46. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. 2. 1990. Fe. Fedd. 69. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. exchangeable Ca. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. In smectitic soils. Padi sawah Keywords : Soil properties. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. Tan. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. sedangkan pH tanah. and high P content variabilities. Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. IPB. In kaolinitic soils. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. kadar liat. Serapan fosfor. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. Departemen Statistika. while the correlation of pH. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. and Al were not significant. Bogor. 2002). Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. Cadd. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. clay content. 1990). In kaolinitic soils. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. MASJKUR1 DAN A. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. Fedd. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. Kaolinitik. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). Bogor. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. medium.

Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. 2005). yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. C/N rasio). Mg. dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. dan 8). Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. P Bray 1. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. 69. HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). Ca. merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. dan diayak dengan saringan 2 mm. dan Na dapat ditukar. 46. 2. Kedungrejo (P tinggi). K. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. pH (H2O dan KCl). tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. dihaluskan. Fatmawati. Adapun fraksi Al-P. kandungan bahan organik (C organik. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Cu. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. Purworejo 2 (P sedang). Mn. P dan K HCl 25%. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. 150. 100.. Contoh tanah dikering-udarakan. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. besi oksida bebas. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. 28/2008 pulau utama. Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. N total. Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. 1999). Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. fraksi Ca-P. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. dan 3). KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7). Fe dan Mn dapat ditukar. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). 200. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. Purworejo 2 (P sedang). hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. dan Zn dapat ditukar (DTPA). 56 . Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. 7. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). Fe. 23.

09 0.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .13 0.39 1.05 0.53 1.02 0.15 0.24 0..2 81.38 2.3 0.63 0.97 0.6 2.19 3.01 0.31 2.2 1.46 2.4 74.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.46 2..67 2.0 1. …. g 100g-1 ….….48 0.0 4.14 0.8 1.97 1.02 0.65 1.2 4.97 1.6 1.37 11.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .0 4.81 0.….66 2.6 12.45 9.82 0.0 2.13 0.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.…………… me 100g-1 ………. ….Tabel 1. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….2 1.….1 4.1 4.6 1.53 11.6 1.30 0.0 9.14 1.4 1.51 1.2 5. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.4 2.07 0.3 11.13 11.01 0.02 0.0 11.01 0.2 1.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.57 1.0 4.97 0.8 5.65 0.0 4.01 0.22 1.65 0..5 15.57 3.31 1.01 0.80 2.09 0. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.0 5.14 0.45 3.02 0.07 0.2 1.5 1.81 0.73 0.49 1.01 3.0 4.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.73 2.38 1.55 0.0 4.9 11.1 5.10 2.38 12.4 16.2 3. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….26 12.4 1.44 3.0 4.01 0.04 0.9 21.2 5.1 1.88 2.15 0.0 3.2 3.59 1.62 0.56 0.69 1.4 4.96 12. mg kg-1 …….69 1.5) H2O KCl 5.5 25.5 65.7 2.25 2.0 83.24 9.1 5. g 100g-1 .58 3.14 0.70 0.0 3.84 3.95 3.29 12.34 1.77 0.65 0.09 0.52 11.32 0.1 4.6 3.7 26. me 100g-1 ….7 24.12 0.6 1.11 0..09 0.7 4.45 0.0 4.46 1.2 2.67 0.1 5.3 5.31 0.08 0.….73 0.3 1.2 5.6 1.89 0.1 5.81 2.0 3. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.05 2.50 10.73 0.09 0.01 0.67 0.4 1.79 13.77 0. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.14 0.01 0.2 5.38 1.12 0.11 0.82 3.01 3.01 0.1 5.67 1.68 0.

65 41.15 1.46 1.3 21.7 3.2 12.53 1.13 0.08 0.3 5.87 1.08 15.11 0.2 33.0 10.4 4.57 13.52 1.0 2.47 0.4 4.39 1.00 0.4 0. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.68 44.00 0.20 0.38 0.6 14.64 43.2 7.55 101.50 51.33 0.17 14.6 6.00 0.7 5.92 16.94 14.78 135.02 54.86 55.54 40.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.63 41.26 0.3 6.95 38.1 2.1 9.2 34.95 101.00 0.11 0.26 35.10 24. me 100g-1 ………………….11 0.0 9.3 6.3 10.76 1.73 6.09 0.36 16.50 5.8 2.75 44.13 0.4 35.08 0.11 0.39 1.5 5.70 0. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….25 24.6 7.0 42.47 56.65 42.38 59.77 35.14 7.8 12.48 14.30 0.1 6.11 0.32 23.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .3 14.09 15.02 0.04 135.3 2.0 4.13 0.4 2.51 1.02 0.11 0.12 0.42 0.5 7.02 0.3 3.2 6.69 0.50 42.02 0.58 Tabel 2.3 7.18 0. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.32 50.5 5.25 117.5 4.5 2.96 14.03 0.00 0.02 0.02 0.00 0.86 1.67 1.46 98.55 127.0 2.00 0.62 0.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.2 6.5 6.71 22.4 7.08 0.4 6.1 5.67 130.35 49.68 14.00 0.52 51.4 12.45 0.36 14.2 5.6 2.6 4.5 12.37 1.37 22.16 43.40 0.07 21.0 2.00 0.39 123.73 35.6 2.40 0.6 14.36 5.29 KB % 116.9 2.80 0.23 1.42 0.00 0.4 1.00 0.11 6.10 14.4 2. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.4 9.00 0.44 0.2 37.30 0.03 115.4 7.32 40.99 41.80 105.45 1.00 0.04 0.3 7.37 1.46 1.31 0.57 21.

Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983). KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3.Tabel 3. Dobermann and Fairhurst (2000). 59 .

Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer . Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5.60 Tabel 4. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5.

MASJKUR DAN A. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1. 2004) Figure 2.M.. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al. Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al... 2004) 61 . 2004) Gambar 2. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. 2004) Figure 1..

189 5.77a 1.490 F 0.70a 3.78a 2.89a 3.363 1.449 1.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.939 Sig.213 F 1.35a 3.615 Sig.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.558 1.50a 1. 0. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.52a 2.343 0.77a 2.05a 2.54a 2.798 9.112 0. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.908 4.186 0.33a 2.599 0.292 0. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.51a 1.228 Tabel 9.0 2.05 62 .639 F 1.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3.5 1. 28/2008 4.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.579 16.344 0.5 2.62a 2.290 0.0 2.030 3.0 4.0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.227 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.746 Sig. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.761 0.447 Tabel 8.07a 2.033 5.89b 2.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.5 2. 0.741 0.875 10. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.463 2. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6. 0. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.09a 2.089 Tabel 7.0 3.5 3.0 1.99a*) 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.99a 1.10a 3.

682 Tabel 11.053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.147 15. 11.550 9. P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P. MASJKUR DAN A.60 hingga 10. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11. 0.774E-02 9.762 F 1. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).42.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.451 0. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.866 63 . P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1.183 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8.339 0. dan 10.241 Sig.161 4.47. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4.756 0.143 1. smektitik Demangan dan Tirtobinangun. 12. Tabel 10. 150.M.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.202 0.119 5. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13).75 hingga 3. dan 250 kg SP-36 ha-1. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12.512 0.355 0. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4.000 0. dan 13).646 0. 11.328E-02 F Sig. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4. Kedungrejo (P tinggi). Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun.

Selama dekomposisi bahan organik.77** -0.18 -0.72** 0.61a 10. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah.39b 9.55 -0.38 0.71* -0.16 0. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan. terutama bahan organik mudah dilapuk. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.60a 8. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.75** 0.757 Tabel 13.99a 8. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al.15 0.77** -0. serta (c) macam dan kandungan bahan organik.47b 8. 11.278 0.46a 2.83b 8. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+). Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14. kg P ha-1 ……………….835 8. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….68* -0.61* -0.84** 0.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7.52 -0. 8.70a 11.13 Cadd -0.03 C -0.51 -0.29 0.409 40.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0.64* 0. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.06 Liat -0. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.41 Fedd -0.53 0. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.42b 7.10 ** Nyata pada α= 0.13 -0.55 Ser-P -0.92b 10.60* 0.91a 2.13 0.54 -0.397 0..75** 0.07 0.36a 3.75a 8.75**). Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik.701 F Sig.05 64 . Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.000 0. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.83a 2. 28/2008 Tabel 12.01 * Nyata pada α= 0.99a 2. sehingga pH meningkat.52 Aldd 0.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.928 0.16 0.27a 8. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya.711 0.49 -0.33 0. N-organik diamonifikasi. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31.313 0. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .32 -0..51tn) (Tabel 14).05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.37a 2.

mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --. sehingga melepaskan ion OH. Cadd (-0. dan bahan organik (-0.64*).+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. MASJKUR DAN A. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8.07tn. sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman. Fedd.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida.10tn) (Tabel 14). Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. 1999.71*).2%). Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0.33tn. sehingga serapan P tanaman meningkat. urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0. 65 . sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman.29tn) . Kation Cadd. sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate.. 1999). Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum). dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0. Haynes and Mokolobate. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia. 2001).M.: M – (OH)3 + COO.. menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e. 2004).5) dan ketersediaan fosfat optimum.3-1. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e.68*).61) (Tabel 14). 0. dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al.5-7. (2) penggantian anion H2PO4.60*). pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P. Rendahnya bahan organik (< 2.pada tapak-tapak jerapan. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). dan 0.0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum).Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. semakin meningkat pula serapan P padi sawah. sehingga dapat diserap oleh tanaman. kalsium karbonat atau bahan organik.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P. Pada ¾ dari jerapan maksimum. 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.

Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0. Cadd.90** 0.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. 28/2008 Tabel 15. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman. Killham. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan.14tn). Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.50 0. sedangkan pH tanah.. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 . Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe.15 0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P.81** 0.81**).55 Aldd Ser-P -0.01 Cadd -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0.98** -0.20 -0.78** -0..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sedangkan pH tanah. Fedd. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe .05 0.88** C -0.90**) dan Cadd (0.49tn).99** Liat 0.66* 0.88**).94**). tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.98**).10 0. 1999.39 -0. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat.28 0.30 0. He et al. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. sehingga P tersedia relatif tidak berubah.72** -0. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan.05 0.94** -0. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah. Peningkatan bahan organik sawah.10 -0.49 -0.98** Fedd -0. kadar liat. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah. kadar liat.95** 0.30tn dan 0.20tn). Cadd. Namun demikian.17 -0. 1999).99**). 1999). dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.40 -0. 1998. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0.

Agus. dan A. Comparison of adsorption of phosphate. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman.B. Fedd. Assessing Fertilizer Requirements. Prasetyo. Simojoki. 1999. Balai Penelitian Tanah.S. R. Japan. K. Loeppert. H. 39-56.F. 7-38. Philippines. 1999. Hartikainen. Soil Fertility and Fertilizers.. Laguna. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. 2. S. and A. M. J.S. Kyoto. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah.B.S. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide. Kasno. De Boodt. and A. A. Haynes. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Metherell. M. Johnson. 67 . 47:226-233. De Cristofaro. Pp. kimia. 1999. SornSrivichai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Beaton.L. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Cambridge University Press. Hayes. Paddy Soil Science. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung. Tisdale. Mineralogi. A. International Rice Research Institute. dan W..H. kadar liat. Prentice-Hall. Soil Sci. De Boodt. 59:47-63. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. New York. International Rice Research Institute. J. Clays Clay Miner. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. UK. Kyoto University Press. J. Bogor. 1990. 12:155-167. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. B. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. Fairhurst..) Soil Colloids and their Association in Aggregates. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. In M.K. dan E.. 2001.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification. and T. Simanungkalit. Killham. 2001. Cornforth. G.D. K. Bogor. 48:493498. 2005. Nutrient Disorders and Nutrient Management. Laguna.M. Kyuma.. Cycl.Am. Adiningsih.F. A. New Jersey. Adimihardja. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. Hayes.) Soil Colloids and their Association in Aggregates.H. J. Bogor. Kasno. Brown. and W. Soil Sci. In M. A. A.C.B.E. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1. Hardjowigeno. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania.L. Pp. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah.H. Structure.D. A. 1990. dan R. I. Subagyono. Eur. S. Philippines.D. Pp. Bogor.L. 2000. Cadd. An Introduction to Nutrient Management. A.M. and R. J. 1990. Newman. crystal chemistry. Agr. 1983. 2004. Las. Dobermann. tartrate. and A. He. 1999. Tanah Trop. and M. Nutr. Pusat Penelitian Tanah. Los Banos. Herbillon (Eds. Violante.H. 2006.M. dan biologi lahan sawah. Nelson.J. MASJKUR DAN A. A. B. Soc. Hartatik (Eds. S. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). J. 2004. 1997. Dalam F. 157-166. and A. Hayes. Sifat Morfologi. Los Banos. K. Plenum Press. Soil Ecology. Plenum Press. Hidayat.H. Herbillon (Eds. and M. A. I. 70:222-234. Fagi. Pasandaran.Z. Mokolobate. Havlin. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. fisika. Prasetyo. J. New York. and P.H.

. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L. Soil Sci. Gilkes. Trakoonyingcharoen. Soil Research Institute. A. Bogor.). Suddhiprakarn. Sofyan. Philippines.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. Faculty of the Graduate School. Bogor. Tan. Kartaatmadja (Eds. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. 1978. East Java).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 9-37.S. Dalam Z. Kheoruenromne. Rochayati. P. 2002. Zaini. Dasar-dasar Kimia Tanah. Hlm. University of the Philippines. 1998. and R. I. 2005. Yogyakarta. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. K. dan S.H. 1995. 170:716-725. Adiningsih. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Gadjah Mada University Press. dan J.J. 28/2008 Rochayati. S. Los Banos. S. 68 . A.

as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. K. Na+. Na+.000. Bogor. 1. and 500 ppm. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Na+. NH4Cl. NH4+. 375. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. NH4+. Kata kunci : Asam oksalat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. and K uptake in Vertisols. and Fe3+ on Availability of Soil K. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. Jagung. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. 2. Fe3+. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. NH4+. and Fe3+ on availability of soil K. K tersedia. yaitu: 0. IPB. Na+. P. Departemen Pertanian. NH4+. 2. The first factor was oxalic acid rates: 0. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. NH4+. Na+. however. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. Bogor. ISSN 1410 – 7244 69 . Na+. dan K tanaman di Vertisols. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Ngawi (Typic Endoaquerts). Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. Serapan N. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts. Bogor. Key words : Oxalic acid. P. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. Na+. dan 500 ppm. Fakultas Pertanian.A. NURSYAMSI1. while the second one was application of cations: without cation. 3. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. Oxalic acid significantly increased plant N. Soil available K. S. 4. Smectitic soils. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Fakultas Pertanian. NH4+. and K uptake. DAN A. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. Cilacap (Endoaquert Kromik). 1. Ngawi (Endoaquert Tipik). 375. Plant N. NH4+. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. dan 4. and Maize Yield in Smectitic Soils D. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). ulangan tiga kali. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air.000. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. It’s availability for 1.Pengaruh Asam Oksalat.000. The soils are commonly high in total K content. P. Walaupun kadar K total tanah tinggi. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. Na+. Direktur Perluasan Areal.000. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. NH4Cl. and 4. Researches aimed to study the effect of oxalic acid. P. NH4+. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. dan Blora (Haplustalf Tipik). Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. 2. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. dan K Tanaman. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. 250. and K Uptake. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. yaitu: tanpa kation. L. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. 125. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. P dan K tanaman di Vertisols. Tanah yang didominasi smektit plant growth. The results showed that oxalic acid. P. 250.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah. D. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. serapan N. Cilacap (Chromic Endoaquerts). IPB. NH4+. SABIHAM3.000 ppm. 125. and Fe3+ from NaCl. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. P. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. Bogor. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). IDRIS2. Fe3+. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. P. RACHIM3. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. plant N. NH4+. Na+. Bogor. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. Na+. Maize.000 ppm. and K uptake in Vertisols. dan K.

1994). 2000). 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. 1989) dan vermikulit (Douglas. dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. seperti dari golongan smektit (Borchardt. Jateng. dan Jatim). mikroklin. suhu. 1992). 1987). 1993). Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre.. kelembaban. Fe. seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al.12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. Sulteng. Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. 70 . Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. kapasitas tukar kation. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. Na+. dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. Kilic et al. daya sangga. 1987). 1987). Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. 1999). Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. yaitu lebih dari 2. Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. hitam (Vertisols). 2002. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. 1989) yang dominan di tanah tersebut. tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. dan Gorontalo). dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. 1999). Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Sulawesi (Sulsel. Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. 1997).. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K.12 juta ha (Vertisols sekitar 2. Selain faktor tanah dan iklim. muskovit. K. Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. Mn..

Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). Ktdd. isohipertermik Endoaquert Tipik. P. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). smektitik. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Kdd. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. Na+. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). berkapur. isohipertermik Endoaquert Kromik. campuran. smektitik. NURSYAMSI ET AL. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. dikeringudarakan. P. lalu tanah diaduk hingga homogen. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. SERAPAN N. Ngawi (B3). berkapur.D. serapan N. NH4+. dan 4. Cilacap (B2). semi aktif. 2. isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah. 1. diayak dengan saringan 2 mm. dan Wood dan DeTurk (1940). (2007). (1982). ditumbuk. halus. Bahan tanah dikering-udarakan. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl.000. 1997). yaitu: 0. Na+. Faktor kedua adalah penambahan kation. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca.) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. halus.000 ppm. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. dan K. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. yaitu: tanpa kation. Knudsen et al. berkapur. NH4+.000. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali. sangat halus. contoh tanah diambil sekitar 250 gram. sangat halus. NA+. Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. L. NH4+. smektitik. iklim. dan Blora (B4). Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. NH4Cl. isohipertermik Haplustalf Tipik. : PENGARUH ASAM OKSALAT.

97 92 5.……. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.22 0.13 0. Rate of Na+.19 H2O (1:2.11 10 222 41 34.………….06 0.01 0.10 13 148 187 5.…………. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3.72 1.000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.41 42..21 10. NH4+.36 4.01 1.56 3. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml. lalu ditambahkan 20 ml 0.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.38 13..36 0.….55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.98 > 100 0.………….03 56.28 0.36 0. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).57 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.12 11 548 134 10.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam. 28/2008 Tabel 2.06 0. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3.97 58 5.00 0.5) KCl 1 N (1:2.00 0.42 38.000 rpm dan supernatannya ditampung..47 4.12 0. Takaran Na+.03 > 100 0.65 11.01 6.12 9 178 30 0.000 5.82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7.00 0.35 0.. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.95 0.97 9..16 24.01 13. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5.. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2. Teflon bomb .00 0. NH4+.04 33. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3...88 1. mg kg-1 …………….000 5.24 1.555 5..96 2..11 0. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik ………….

Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. 0. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. yakni 30. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. 375. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. diayak dengan saringan 2 mm. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols.D. NH4+. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS. Berbeda dengan di tanah Alfisols. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam. Endoaquert Kromik. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. P. yakni 0. : PENGARUH ASAM OKSALAT. ditumbuk. Endoaquert Tipik. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. 0. Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. 134. dan 0. 125. Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. Bahan tanah dikering-udarakan. Analisis serapan N. SERAPAN N. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS.28. Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. Dibandingkan dengan kontrol. 250. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. dan 500 ppm. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4).11. dan Haplustalf Tipik. NA+. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. 41. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . P. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K).12. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Endoaquert Kromik.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. yaitu : 0. lalu tanah diaduk hingga homogen. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. NURSYAMSI ET AL. Endoaquert Tipik. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. Asam borat 2.

Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat. sedangkan pada Vertisols nyata. 25. sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding.25 b 58.00 a a a a 62. 1998).13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27.13 b 165. Tabel 5.. dan crack (c). Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5.. NH4+.88 b 16..50 a 149. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. Kexch.50 b 64. NH4+.75 b 67.000 4.63 26. Tabel 4. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5).000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59. 1987).38 ab 165.75 menjadi 142.60 <1 27.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5. Na+. Kdd. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al.000-5. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd. NH4+. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13.38 a 12. and Knon-exch. Na+. 2007).00 26. and Knon-exch.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl …………….60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.75 b 16. Na+. and Fe3+ on soil Ksol. Pengaruh asam oksalat. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan.00 a 161.30 1. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3.63 b 33. and Fe3+ on soil Ksol. wedge (w).13 a 13. Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti. Pengaruh asam oksalat.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Effect of oxalic acid.13 mg kg-1 (412%). Na+. Effect of oxalic acid.000 4.38 67. Tingkat 13. mg kg-1 …………….00 59.75 b 73. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III.. sedangkan pada Vertisols nyata.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation.13 70.38 b 155. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i). Kdd.25 c 152. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols.60 <1 56.00 b b b a 150.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.75 b 38.88 menjadi 58.000 2.75 58. 74 .555 mg kg-1 (Tabel 3).13 a 13. NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). Kexch. NH4+..00 a 12.38 b 142.30 55.50 70. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols.000 2. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.50 bc 165. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols).38 27.

NH4+. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. 24-31% dalam bentuk Kdd. Effect of Na+. Berdasarkan jumlah K yang dilepas. NA+. Pengaruh pemberian Na+. Pengaruh pemberian Na+. 75 . (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama. Kirkman et al. NH4+. NURSYAMSI ET AL. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. Effect of Na+. NH4+. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. : PENGARUH ASAM OKSALAT. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). Hasil penelitian Nursyamsi et al. NH4+.D. NH4+. SERAPAN N. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. P.

55 381.74 a 53. P.000 2.000 227. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.20 1. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6). 105. Berbeda dengan dua kation sebelumnya. Tabel 7. Na+ and Fe3+ on plant N. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.. Pada Vertisols.53 220. P. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.81 a a a a 25. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut.01 b 4.60 27.74 a 130. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….70 < 1. 229..42 213.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K ………….71 55.55 a 31.04 a 15. dan K tanaman.18 52. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.70 20.56ns b a b b c 24. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut. Tabel 6. Effect of oxalic acid.92 4.000 233.98 b a b b b 6. dan K tanaman pada Vertisols Table 7.42 192. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. P. P. nyata menurunkan serapan P.71 7. dan Endoaquert Tipik.10 <1 a a a a a 16.32ns 9.99 107.09 334. mg pot-1 …………….97 8. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8).35 a a a a 7.51 9.63 a 51. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik.80 1.15 a 9.000 215. dan K tanaman pada Alfisols Table 6.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211. Na+ and Fe3+ on plant N.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7). dan K tanaman.53 ab 14.50 a 30.87 325.37 23. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman. Pada Alfisols.61 283.74 24.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.59 81.79 a 58.37 b 16.53 ab 15. asam oksalat juga nyata 76 .99 a 16. 15.81 a 17. P. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat.55 ab 51.15 7.11 68.71 b 18. Pengaruh asam oksalat. Effect of oxalic acid.31 56.88 109. 125.00 233.28 27. Pengaruh asam oksalat.000 4.67 b a b b c 81. Endoaquert Kromik.13 ab 4.50 111.72 26.08 a a a a meningkatkan serapan N. mg pot-1 ………….67 a 17. dan K tanaman.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.80 <1 50.55 a 9.36 79.21 26.84 a 333. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.00 a 16. P. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.77 b 8.43 a 242.60 1.64 b 56.21 b 1. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji. P. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258.85 b 46. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+.04 92.42 a 2.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.21 a 62.

73 a 3. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4.28 5. Pengaruh asam oksalat. 1997).03 a 4. SERAPAN N. : PENGARUH ASAM OKSALAT.75 c 11.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner.10 a 4. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).98 a 4..30 1. Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.02 a 3. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N.85 a a a a 4.62 b 1.06 3.70 1.01 a a a a 4.42 b 4. Na+.93 a 10. Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 . P.93 a 3. juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.58 a 3.81 5.13 4. g pot-1 ………………………………….000 4. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al.56 6.98 a 1. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al.89 c 8.45 a 5. serapan N.75 ab 5. NURSYAMSI ET AL..01 a 5. Peranan asam oksalat.20 6.25ns 14.17 a a a a a 10.40 a a a a b 6. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N. NH4+.62 3. DAN K TANAMAN Tabel 8.04 3.45 3. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah.34 3. Effect of oxalic acid.09ns 4.30 1.44 b 11. NH4+. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols).000 2. 1.77ab 1. (2001). Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7.95 6.77 a 6. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia.40 b 5.83 ab 1. 2001).48 b 10.30 2..37 6.5 t ha-1 biji kering. dan K tanaman.09 3. P.D. NA+.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik ………………………………….59 b 5. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.29 b 3.0 (Kdd).20 b 8. P. P.92 a 1.41ns 13. Na+.

9 149.8 59.. asam oksalat takaran 1. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5. Na+.8 109. kritis K tanah untuk jagung 0.…. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. P. meningkatkan hasil biji kering.. Sementara itu pada Haplustalf Tipik. 28/2008 Tabel 9.9 * 148. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun. NH4+.1 6. and Fe3+ on soil available K.3 ** 92. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. Pada Endoaquert kromik. dan K tanaman. meningkatkan serapan N dan K tanaman.2 me K 100g-1 (Dierolf et al.9 273. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K ……. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. NH4+. Na+.9 19.4 6.6 20. yaitu sebesar 156 kg K ha-1.9 87. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9.9 27.9 * 47. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman.7 23. NH4+.6 * 276. NH4+. P.7 31.4 * 22. 2001)..3 88.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman.6 ** 22. percentage of plant yield.3 6. Pada Hapludalf Tipik.1 21.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5. serapan N. and K uptake. persen hasil tanaman. Pengaruh asam oksalat. Effect of oxalic acid. plant N.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Perlakuan Na+.3 27. Perlakuan Na+. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1.

Na+. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.0 300.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5.2 * 163.8 * 203.D. meningkatkan serapan N dan P tanaman. kebutuhan pupuk K. : PENGARUH ASAM OKSALAT.. P.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. serta hasil biomas kering jagung. asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering.3 24.1 270. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N. P. Selain aspek ketersediaan K tanah. plant N.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1. Pengaruh asam oksalat. NH4+. NA+.2 593. DAN K TANAMAN Tabel 10.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. dan K tanaman.8 ** 209. persen hasil tanaman. 1993). Na+. NURSYAMSI ET AL.3 268.. P. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K. and Fe3+ on soil available K. and K uptake. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji.. Demikian pula pada Endoaquert Tipik.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. dan K tanaman.3 ** 454. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat. SERAPAN N.2 24.6 44. Effect of oxalic acid. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya.1 225. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. P. percentage of plant yield.4 63. NH4+. Dengan demikian. NH4+. serapan N.3 69.9 * 883 988 ** 58. P.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N. meningkatkan serapan N. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering.6 79. P.4 * 43. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering.5 68.7 215.9 25.8 236.000 294 18. 79 .….2 209. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. dan K tanah. maka peran utama asam oksalat (1. serta hasil biomas kering (11%). 3+ Sementara itu.

yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat. Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. Inc. P. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. 1997). Bolton. 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. J.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. Elliot. Pp 27-64. Switzerland. dan K tanaman di Vertisols. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. NH4+. K. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit. Fredrickson.. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. 2. peningkatan 2008). mikro (Fe3+). Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. 270 Madison Avenue. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+). tanaman. and L. In Soil Microbial Ecology.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati. 1/1987. Perbaikan tanah 80 . Marcel Dekker. New York. 1993. Asam oksalat. H. 3. Applications in Agricultural and Environmental Management. Sementara itu Fe3+ 5. dan Fe tanah. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N.I. P. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. Microbial ecology of the rhizosphere. P dan K tanaman di Vertisols. Potash Review No. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Na+. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. 1987.K. Jr.15-5.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi.F. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. M. P. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. yakni berkisar antara 3. Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. International Potash Institute. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik.

The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum. SSSAJ 66:445-455. V. Soil Fertility and Fertilizers. Fertilizer News 32(2):35-138. Sofyan. Black (Vertisols). Macgregor. and W.T. Potassium in the soils of New Zealand. An Agroclimatic Map of Java and Madura. Evangelou. Mineral Nutrition of Higher Plants. Havlin. K. 1999. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. S.) Method of Soil Analysis. Bogor. sodium.org).) Growth and Yield. Ismail. and D. Sixth Edition. I. Wisconsin. and potassium.A. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Smectites. sodium. Harcourt Brace & Company. Soil Science Society of America Madison. In Minerals in Soil Environments.A. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit. USA. Prentice Hall. H. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. 1997. and D. Skala 1:1. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite.L. Marschner. Nursyamsi. P. Ghousikar C. L.a review. Sabiham. T. Rachim. 1997. Res.P. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. and E. and cesium. Academic Press. S. and J. 1987. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Dhillon.K.D.L.. upland soil fertility management in Southeast Asia.L. 1989. Idris. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1992. and K. 5. dan A.F. 1996. The affect of potassium on ammonium fixation.L. J. J. Surapaneni. Goulding. 2008. In Page et al (Eds. Pp 675-727.P. Part 2. Saltali. Paterson dan P. Potash Review No. Dierolf. 2002. USA. Switzerland. 1975. NH4+.W. 1987. Bogor. Tr. L. 81 . Kilic. L.. 1989. 1982. Publisher.R. Proc. Fairhurst. Potassium fixation and release. Agric. of Agriculture and Forestry 23:673-678. and K.N. In Minerals in Soil Environments. Kirkman. T. Second Edition. Disertasi Fakultas Pascasarjana. NA+. potassium.. P. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. SERAPAN N. No. D. Oldeman. Derici. Mutert. Soil Science Society of America Madison.eseap. Institut Pertanian Bogor. In Methods of Soil Analysis. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. 1994. NURSYAMSI ET AL. DAN K TANAMAN Borchardt. Nursyamsi. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. A. 2007. Douglas. D. Wisconsin. 5/1987. K.S. Beaton. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Tisdale.W. : PENGARUH ASAM OKSALAT.000.H. 1999. Pp 635-674. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.R.. 2nd ed. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. 2001. A.A. S. Basker. Upper Saddle River. Dhillon. D. G. A.D. Nelson. International Potash Institute. J. Second Edition. Lumbanraja. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols).A. Kendre. D. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. New Jersey 07458. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Sparks. I. An Introduction to Nutrient Management. M.. G.000. 17. Knudsen. Second Edition. Lithium. Contr. Cent. rubidium. Vermiculites. Pratt. Lithium. K. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type. Helmke. Institut Pertanian Bogor. 2000. Agronomy 9:403-429. Tokyo. J. Ins.

Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir. Third Edition Revised and Expanded. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. Soil Sci. 82 . Principles of Soil Chemistry.E.K. 6/1987. and P. 1988. International Potash Institute. P. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. De Turk.. Haryana. Switzerland. S.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.S. L. Mineralogy of potassium in soils of Punjab.M. and E. 1940. Potash Review No. Huang. K. Tan. Marcel Dekker. SSSAJ 52:383-390. Song. 5:152-161. New York.K. Inc.H. 1993. 28/2008 Sidhu. Wood. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. 1998. 1987. Soc. Am. Pedosphere 3:269-276. Release of non-exchangeable soil K by organic acids. Proc.

4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November).4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. SST. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. climate/season anomaly. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall. Rainfall. Bogor. if SST increases above 0. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Kata kunci : ENSO. 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. interaksi SST dengan DMI. Awal musim hujan. Dipole mode Index (DMI). SOI. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). SOI. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3.4.4 zone. SOI. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. but the magnitude of its impact varies with site.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. Keywords : ENSO.5 -0. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. SURMAINI DAN E. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Therefore. Onset of wet season. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya. the occurence flood and drought in Indonesia. DMI. In contrast. Berdasarkan data historis. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. aktivitas moonson. Southern Oscillation Index (SOI). 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. golakan lokal dan siklon tropis.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3. interacton of SSTA with DMI. DMI. Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas.5 o C (indicate La-Niña event). the wet season will start earlier with longer period. pergeseran musim. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. The study has been done through the following steps . Climate extreme events. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. SST. and interaction of SOI with DMI). Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. DMI. ISSN 1410 – 7244 83 .

dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan. 84 . DMI. 2001. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal. 2000. Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya.. 2004. Departemen Pertanian.jamstec. 2006).gov. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.qld. Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM). BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. 2003. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. 2004.au). sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan interaksi SOI dengan DMI. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3.gov).. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). 2004). Boer and Faqih. dan SOI (sumber: www. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. 2002.jp).4 (sumber:www.go. lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. 2002). Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. SOI. Hendon.4. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia. interaksi ASST dengan DMI. Aldrian dan Susanto.. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji. 2003. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño. Batisti et al. Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah.noaa. 28/2008 (Haylock and McBride. Boer dan Faqih. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. Rao. data DMI (sumber: www. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. Rao et al.. Chang et al.cpc. Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi. longpaddock. 1999. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim.

Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. SURMAINI DAN E. dan 75100%. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. 3. 50-75%. SOI. Januari-Februari. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. Jawa. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. Selain itu. dan Mei-Juni. DMI. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. 85 p= dimana : m n +1 . Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%. SOI. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. AMJJ. Apabila nilai slope lebih besar dari 0.E. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña).05. 4. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. 25-50%. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober.

% . sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2)... Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat).51 2.. Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau..4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November). Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3....4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0. maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm.25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November). hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian.70 6.. Percentage of regression probability value (p< 0. Riau... Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11.......... dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November)..25 2. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.....4.... Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3...05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1... Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok.......... namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%).. Pattimura (Maluku)...25 55..31 2.... dan pantura Jawa Barat..... maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal.13 11.. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi.13 4.. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut.... Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño). maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan.05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI ... Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil......25 2... Ngablak (Jawa Tengah)... Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3..70% dan 6...38%...19 7. karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju....13 4.. Batutangga (Kalimantan Selatan). Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan.... 4.4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 ..13 4... sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung....JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.38 2.......47 8. Persentase nilai peluang (p< 0..... 28/2008 Tabel 1. data anomali hujan semakin negatif.... Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai..... Bagi Indonesia. Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3....13 3......

E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. SURMAINI DAN E.

The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. LaNiña (anomali SST < -0. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. Jika anomali SST turun sampai di bawah -0. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir. maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal.5oC) dan normal (anomali SST antara -0. .5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini. hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5). Sebagai contoh. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi. Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian.5oC). sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. dan Normal. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991.5oC ).5oC-0. dan 2002.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2006) Figure 2. Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. 2006) skenario El-Niño. 1997. 1994. La-Niña.

5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.33x + 75.0 -1.59x + 21.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.4 of some areas in Indonesia 89 .0 -0.0 -1.5 Mei-Jun 1.0 -2.5 2.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.5 2.5 0.0 1.0 1.88x + 55.33x + 75.0 1.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.5 2.0 y = -388.5 -1.5 1.5 2.0 -2.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.0 -1.5 1.5 -1.945 2 R = 0.5 0.0 -1.5 -1.5 2.45x + 47.0 -1.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.0 1.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.5 0.0 1.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.383 R2 = 0.441 R2 = 0.0 -2. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 0.0 0.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.5 -1.5 -1.5 0.5 -1.0 0.975 2 R = 0.5 0. SURMAINI DAN E.0 0.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.5 0.0 -1.0 1.5 Mei-Jun 1.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.574 -2. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 1.5 1.441 R2 = 0.0 0.E.235 R = 0.5 2.4x + 22.6109 -2.0 0.

60 0. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember.2 0.4. menyebabkan penurunan curah hujan. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0. Jawa.2 0. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.6 Peluang Terlampaui 365 0.4 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.20 0.80 0. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. Riau dan pantura Jawa Barat.8 0.8 0. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan.6 0.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November). 2. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4.6 0.4 0.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0.40 0.4 0. 28/2008 Pusakanegara 1.8 Peluang Terlampaui 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim. . Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah. Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful