Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

1. Batupasir. Oleh karena itu. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. bahan sedimen. Biological cycles. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Sandstone. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. Selanjutnya dikemukakan. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. kejenuhan basa rendah. Kata kunci: Hutan. and potential K. pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. Batuliat. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. For that reasons. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. dan sifat kimia tanahnya.H. Bogor. Keywords : Forest. dan K potensial yang lebih tinggi. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. SUHARTA DAN B. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. and fertilizer. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. but limited by highly Al exchangeable. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Claystone.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. physical and chemical properties of the soils. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. kapasitas tukar kation. Sifat fisik menunjukkan. Acid sedimentary rocks. cation exchange capacity. Batuan sedimen masam. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. Siklus biologi. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. sifat fisik. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral.

Wu dan Tiessen (2002). Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1.110 DD. (2004). 2003) sebagai Typic Kandiudults.194 UY.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan Typic Hapludults (Tabel 1). Provinsi Riau. 1991). dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium. dan mengurangi run off atau bahaya erosi.61 EY. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal. Fraga dan Salcedo (2004). Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. Chen et al. dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting.. 1990). mengurangi proses mineralisasi bahan organik. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1.44 HP. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 . dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. 1995. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang.14 MD. Suwarna et al.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor.24 UG. Location and information of seven pedons investigated Pedon HP. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. Acrudoxic Kandiudults. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian. Sedangkan analisis sifat fisik tanah. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan.

Dibandingkan dengan horizon A.61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. vf = sangat halus. Tekstur : C = liat. pori air tersedia.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG. 1992). Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. sb = gumpal agak bersudut.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. SCL = lempung liat berpasir. db = coklat tua. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff. model PW 1130. Konsistensi : t = teguh. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan.N. f. yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. sb = coklat kuat. s = lekat. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. pori total. by = kuning kecoklatan. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. f. f = halus.5 YR 5/6) DD. permeabilitas dan stabilitas agregat. Acrudoxic Kandiudults HP. gdb = coklat tua kekelabuan. kapasitas tukar kation. susunan kation. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. t. ry = kuning kemerahan. ydb = coklat tua kekuningan. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. SUHARTA DAN B. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. f. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. P dan K potensial (HCl 25%). sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). p = plastis 3 . ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. Typic Hapludults UY. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. t.14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. so/po f. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O).232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t. dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). so/po f-t.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat. Typic Kandiudults HP. ss/sp vf. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. C-organik (Walkey and Black). warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah.5 YR 5/8) EY.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam. sp = agak plastis. t. Struktur : m = medium. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi. ss/sp f. so = tidak lekat. t.0). SL = lempung berpasir. f = gembur. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7.H. pori drainase. ss = agak lekat. g = granuler atau kersai. t. LS = pasir berlempung. berat isi. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet).

Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. 4 . Terdapatnya mineral vermikulit. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit. smektit. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya.61 96 1 2 UG. dan turmalin juga sangat sedikit. sp = sangat sedikit (<1%). Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. mineral lapukan.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. Rf = Fragmen batuan. Ze = zeolit.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak.14 93 sp 5 HP. lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. vermikulit. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. fragmen batuan. sedangkan tanah dari batuliat. Zr = zircon. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. Mk = muskovit. Dengan demikian. illit. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3.24 85 sp 6 MD. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. Wm = mineral lapukan. dan muskovit sangat sedikit. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. dan goetit. Lm = limonit. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. illit. Sn = sanidin. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. Tr = turmalin. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. Pada tanah berbahan induk batupasir. dan smektit. tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah. Qz = kuarsa. sanidin. Or = ortoklas. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir.

diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. +++ = banyak. Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. (+) = sangat sedikit Gambar1.110 +++ DD. SUHARTA DAN B. dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir). dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%.H. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%. Susunan mineral fraksi liat Table 4. 5 .N.24 ++++ MD. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%.44 ++++ UG.61 ++++ EY. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%. 1969).14 ++++ HP. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. + = sedikit. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan. ++ = cukup. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1.

tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.9 26.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah.65 untuk lapisan bawah.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37..0 11. PD = berat partikel (particle density). 1995). baik horizon A maupun B (Suharta et al.20 1. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik. Sebagai perbandingan. kandungan liat.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi.5 42.8 8.53 untuk lapisan atas dan 2. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.39 hingga 2. Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan.17 hingga 1.0 4.7 12.2 23.0 45.8 4.0 9.14 HP. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%..65 1.8 28.46 di lapisan bawah.54 di lapisan atas dan 1. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah. Sedangkan HP.09 2. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang. pori aerase berkisar antara 8. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat. Pedon HP. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2. 2004).53 2.46 2. RPT = ruang pori total (total pore space). Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi.93 9.24 EY. Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.7 11. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1. kimia dan biologi tanah.14 rendah di lapisan atas karena 6 . susunan mineralogi liat.54 1.14. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah.41 1. berat isi.8 55.4 6.60 2.7 49.4 Permeabilitas cm jam-1 0. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi.6 4. kelembaban tanah.0 4.20 1.2 RPT 52.21 1. Pedon HP.0-28.39 2. Lapisan A = atas dan B = bawah.agr = stabilitas agregat (agregat stability). Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al.7 8.9 4. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah. 28/2008 Tabel 5.5 3. Stab.24 memperlihatkan hal sebaliknya.0 19. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume.55 2. sedangkan pedon HP.20 hingga 1.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2.24 dan EY.46 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.46 3.14 dan EY. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP.0 8.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi.55 hingga 2. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP.10 9. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur.

Pada horizon B. kemantapan agregat tergolong agak stabil.8%). Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B.4 tergolong rendah sampai sedang. Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B.7 hingga 9. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi.46 cm jam-1). Hasil penetapan menunjukkan.9.2%) untuk horizon A. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. 7 .62 cm jam-1). di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian.10 3. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah.5. perakaran tanaman. kecuali EY. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6.44 tergolong sangat stabil.5 hingga 11. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik.14. karena air akan tersedia sepanjang tahun.4 tergolong rendah. Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik. Nilai permeabilitas yang lambat. kecuali pedon HP. Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah.H. akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0.N. Khusus untuk pedon HP. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%).14. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7.2 . C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2.20 . Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah. Tanah dengan permeabilitas lambat. permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . SUHARTA DAN B. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik. baik pada horizon A maupun horizon B. pori air tersedia tergolong rendah. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B. Khusus untuk pedon HP.15 tahun).1 . sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering.0. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan.

5 4.....2 0. organic-C.4 4.3 1..6 1.8 0.2 0...2 3.1 0..2 4.5 4. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY..6 4.2 4.4 4.8 0.7 4.6 0.7 2..4 4.. potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat . % 4...5 4. % ..3 4.2 0..2 0... Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.. P dan K potensial Table 6..4 4..0 4.7 3...3 4.4 4.2 4.. mg kg-1 .1 4.44 Tanah dari bahan induk batupasir.3 5..6 0.. reaksi tanah.. Tekstur..4 4.2 2..61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY.4 0..4 0.6 0.. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org.3 0.3 4.5 4.4 3.2 1. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir..194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat.4 0.7 0.5 4.4 4.7 4.2 0.. soil reaction. 28/2008 Tabel 6..1 4..14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD.3 4.2 0.7 3.6 4.4 1. C-organik.9 0. Pasir-H = Pasir halus 8 ..6 4.....3 0.4 0.2 0.2 0..7 0.2 4. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG.3 5.7 0.. Texture.6 4..6 4...6 0...5 4.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD.1 HCl 25% K2O P2O5 .3 4.4 4.7 4.8 4.7 1.

58 5.33 11.42 0.04 0.30 16.12 0.04 0.09 2.13 36.02 0.92 0.85 1.19 24.08 2.36 16.06 0.17 UY.61 0.51 25.02 0.04 0.03 0.14 Bt3 0.85 4.22 0.24 0.87 2.02 0.07 26.21 0.92 0. kapasitas tukar kation.18 0.57 38.68 0.04 Bto2 0.47 2. cmol.16 1.47 0.05 1.30 2.13 23.74 1.06 0.88 4.31 4.88 21.43 10.70 1.85 2.16 9.08 5.65 11.06 0.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.14 BA 0.04 0.06 0.03 0.kg % 4.02 0.70 1.20 1.38 23. Typic Hapludults 1.04 0.56 0.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.08 0.03 0.16 8.04 0.42 1.26 BC 0.10 0.73 0.06 0.05 15.41 1.15 0.05 0.14 A 0.28 10.05 1.92 1.27 19.23 7.01 0.53 4.43 13.40 6.02 0.59 12.14 0.08 7.24 0.64 17.96 65.04 0.66 4.90 14.79 59.04 8.01 2.07 0.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.05 0.71 1.01 0.94 7.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir.67 0.04 0. cation exchange capacity.03 0.94 11.83 1.06 0.30 HP.09 0.04 0.41 0.22 0.29 0.40 0.07 0.94 1.02 0.77 39.06 0.12 3..61 1.110 A 0.03 0.H.57 19.02 3.03 0.16 3.44 6.61 3.04 0.10 0.03 0.31 1.22 6.05 9.27 16. Acrudoxic Kandiudults 0.57 2.12 0.10 0.04 0.20 0..67 4.43 0.76 94.60 2.07 0.27 0.17 Bt2 0.65 12.19 17.16 20.25 Bt1 0. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.01 0.13 0.81 12.10 0.75 17.76 0.05 Bto1 0.24 0.13 0.29 3.22 0. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.41 13.98 8.53 3.06 0.23 0. % cmol.75 4.02 0.03 0.37 10.04 0.31 0.11 2.02 0. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….66 7.12 30.97 1.05 0.05 0.11 0.63 14.81 HP.55 0.52 1.01 0.02 0.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.18 0.87 13.01 0.04 0.36 0.09 0.76 2.21 0.21 11.04 9 .01 0.05 0.04 0.07 0.03 Bto3 UG.02 20.13 8.08 0.03 Bto4 0.02 0. kejenuhan basa.62 7.69 1.04 Bto5 MD.21 EY.22 1.52 35.41 4.05 0.29 0.71 32.10 0.93 33.12 0.03 0.13 0.21 1.02 0.09 0.53 4.03 Bto1 0.71 8.035 0.23 0.50 7.34 1.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.24 6.28 5.70 10. dan Al dapat tukar Table 7.24 A 0.14 1.11 0.37 4.06 0.03 0.87 2.07 0.63 0.24 0.01 0.99 1.49 14.18 4.53 11.03 0.63 13.70 4.29 1.73 1.55 0.81 1.02 0. Kation dapat tukar.04 0.24 0.33 1.76 4.16 2.05 0.21 DD.11 1.80 1.32 0.20 20.02 0.55 20. Typic Kandiudults 0.04 0.40 2.47 0. Exchangeable cation. base saturation.18 0.85 4. SUHARTA DAN B.09 0.02 0.02 0.N.12 7.03 0.22 0.42 3.02 0.06 0.01 0.39 0.03 Bto2 0.61 1.05 0.30 Tanah dari bahan induk batuliat.14 0.32 2.30 7.21 0.81 1.03 0.82 0.15 4.07 2.36 1.14 0.04 0.02 0.31 0.37 0.19 18.54 1.79 17.07 0.90 7.07 0.10 0.02 0.18 0.10 0.37 0.25 1.kg ………………………….01 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir.68 3.04 0.17 0.02 0.54 3.70 3.58 0.33 26.95 3.03 Bto3 0.02 0.

. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. dan 41 tahun. aktivitas biologi. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al.7. 16.0528 liat +23. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. dan macam gugus fungsional. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi. 2007. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0. 2002).110..232 dan UG. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah.9309 dengan R2 = 0. kimia. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. maupun biologi tanah. Reaksi tanah untuk pedon UY. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. sedangkan pada horizon B antara 4. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. Suharta et al.0748 pasir + 64. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat.2702 dengan R2 = 0. Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. dan pengolahan tanah. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. besar dan arah lereng.1 hingga 4.7. liat. tergolong masam sampai sangat masam. ketersediaan hara. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir. Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri. 2007). Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah. Dengan Corganik. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. 37.7 hingga 5. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi. dan 55% setelah penggunaan selama 8.2943). Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi. korelasinya lebih rendah (K2O=0.0171 C-org + 0. bahan induk tanah.809 dengan R2=0. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. Ponge et al. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. Mg.179 dengan R2 = 0. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002).0014 Corg +0. 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. praktek silvikultur. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan. baik pada horizon A maupun B.4237). DD.. 1995).0355). Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan.4415).194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman.

kg-1).H.20 hingga 4. Sedangkan tanah dari batuliat. Dikemukakan selanjutnya. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. 11 . kuarsa dengan sedikit smektit. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif.13 cmol.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1.4968.194). Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit. 2007).19 dan 65.0061. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam.31 hingga 25. Quideau et al. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter.53 cmol. dan tidak mempunyai sifat acric. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya. (1999) mengemukakan.24 dan UG. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci.50 (HP. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit. KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan. Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. Quideau et al. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah.kg-1. SUHARTA DAN B. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B. satu pedon didominasi kaolinit.N. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri.70 cmol.

08 0.67 0. Dalam kondisi hutan alami.24 0.27 4 112 DD. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.04 0. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.13 0.21 0.. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik.. Oleh karena itu.. dan K) di horizon A.03 0. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon . Demikian juga kejenuhan basa..61 EY.04 0. cmol. 12 . Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi. mg kg-1 .17 1.58 0. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah. Mg. Tabel 8..07 0.41 0. Driessen et al.24 A 0.. kejenuhan basa.09 0.42 20 170 62 Bto 0. Khusus untuk K dari batuliat.20 0. 2002). dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to.22 0.10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar.232 A Bt 0..13 0. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu.37 0.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al.82 20 200 Bt 0. Tanah dari bahan induk batupasir. kedua proses tersebut dominan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.24 0.110 A 2..04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi.03 0.02 0..194 A Bto 0. Dalam keadaan terbuka dan berlereng. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah.17 0..08 0. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan. 2004.04 0... menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8).03 0. Fraga and Salcedo.81 0. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun..04 8 26 66 MD.32 0.30 0. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.22 21 69 122 Bto 0. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.05 0.73 0. 2004.14 A 0. Wu and Tiessen.44 A Bto A Bto 0. Typic Kandiudults HP.kg-1 . kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.55 0. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik. Basa-basa dapat tukar (Ca. pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. Typic Hapludults UY..11 0. sedangkan dalam kondisi terbuka. % . dengan hilangnya tanaman penutup tanah.04 11 57 22 UG. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil. Acrudoxic Kandudults HP. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8.21 0. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi..15 0.

H. dan kimianya. and B. 68:215-224.M.N. P. Am. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). and I. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. Da Silva. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. Ding. 1971. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan. Amarasiriwardena. and Permadhy. V. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir. Chen. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. Salcedo. FAO. Tugu..J. Rome. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. G.S.P. A. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. Xu. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. 1976. 68:282-291. 2002). Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. sifat fisik. and D. load support KESIMPULAN 1.. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. Am. Soc. 2004. Soc. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. P. Soil sci. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen. Fraga. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . Xing. Pp 95-115. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management. J. October 13-14. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. and N.M.H. Driessen. DAFTAR PUSTAKA Bram. Fallow. Soil Sci. Bogor. FAO. 2004. Susceptibility to compaction.R. Mathers. Dalam kondisi hutan alami. Hunt. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. SUHARTA DAN B.H. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. Z. Novak. Soil Sci.G. Buurman. Am. 1990. E.. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). P. 66:421429. S. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al. Soil Research Institute.. J. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. Plant and Soil 35:401-414.. 2. Imhoff. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. D. 2002. 4. C. 1976. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi.. 3. J. Guidelines for Soil Profile Description. J. 2004. Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. In: Peat and Podzolic Soils.

Soil Sci.0. 1995. J. 1969. and H.C. Sukardi. Natural Resources Conservation Service. dan B. Jakarta.. Suharta. Loughnan. T. 1951. R.. Inc.000. Geological Research and Development Centre. and P. American Elsevier Publishing Company. Quideau.C. Prasetyo. F. J. Soil Survey Investigation Report No. 41. Wood. J. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan. Chevalier.F. M. N. R. 1999. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. Soil Sci. Soil Survey Staff. Keys to Soil Taxonomy. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. Suharta. 68:17-24. S. Santoso. Studi kasus pada Sanggauledo. USDA. P. Smith and Fergusson. Am. S. R.. Chadwick. Am. Ponge. and H. Soc. Soc. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties. 14 . 2003.H.B. 2002. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. 1995. Sumatera. Soil Survey Laboratory Methods Manual. scale 1:250. 66:1648-1655. Soil Sci. and soil compressibility of Hapludox. Am. Loussot. N. Geological Research and Development Centre. Soc. Soil Sci.A. New York. Ninth Edition. 66:19962001. and S. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea.A. 2007. 1992. 63:18801888. dasar Oxisol Barat. Budhitrisna. Wu. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. J.000. scale 1:250. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Chemical Weathering of Silicate Minerals. Am.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Mangga.A. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. Pupuk Suwarna. Graham. Soil Survey Laboratory Staff. 28/2008 capacity. 2002. Kastowo. and N. United States Department of Agriculture. J. Version 1. Silitonga. Bandung. Tiessen. Washingthon DC. N.. Geological map of the Solok Quadrangle. O.H. Soc. China. Bandung. 1991.

O. climate data. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. hujan. rainfall. 3. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. transient water movement. 2. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. water flux. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. Kecamatan Kemang. Pada saat hujan besar. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. paddy. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. Bogor. crop water availability in dryland still has a problem. Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. dan distribusi air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. Soil pore characteristics. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. Bogor District in 2006. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. dan iklim setiap hari. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. IPB. IPB. Fakultas Pertanian. WAHJUNIE1. Keywords : Water movement. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans). located at Bojong Village. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high.2. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. rainfall. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. the study of the relationship between water movement. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. SOEDODO H. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. laju pergerakan air transient. Bogor. HARIDJAJA1. Bogor. To optimize the crop water availability in dryland. and water distribution. Pergerakan air transient. padi sawah. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. Fluks aliran air. but it is unpredictable to cover crop water requirements. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. and soil pores characteristics in the soils is required. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. Karakteristik pori tanah. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. and peanuts that reflected soil management. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland.Water flux. Up to now. IPB. The data ISSN 1410 – 7244 15 . Kata kunci : Pergerakan air. Transient water movement. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. Kemang Sub DIstrict. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. dan kacang tanah. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands.

atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. kontinuitas pori. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1). dan distribusi hujan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. pengaturan pola tanam. kebutuhan air tanaman.. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air.. dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. intensitas. Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering. Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah.. dan tortuositas pori (Hillel. besarnya peresapan air (infiltrasi). Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. dan dinamika kelembaban tanah. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. Adapun Perfect et al. seperti distribusi pori. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. Bagarello et al. Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al. Bodhinayake et al. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi.. Desa Bojong. Toor et al. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. 1996).. serta 3). Begitu hujan berhenti. 1990). 2004). maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. 2004). Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. 1980). Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. 2). kemampuan maksimum tanah meretensi air. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. Berdasarkan uraian di atas. 1980). 2004). melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. Kecamatan Kemang.. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. 1992). Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. 1992. 1986). pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel.

62 25. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1.96 0.03 29...35 2.73 2..18 17.00 1.48 45..52 14.27 4. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1..41 10.97 26.68 33.57 4.. 200 kg....81 18.15 7.. hujan dan iklim setiap hari..01 6.07 3.. jagung.. 13..22 RPDSC RPDC RPDL RPD ... RPAT = ruang pori air tersedia. Rotasi kacang tanah. Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.64 62. Tabel 1.65 9.42 27..22 19.78 40.75 4.00 DMR 1. 3.25 1.59 43.42 32.48 39. 2.96 RPT % 61.47 14.41 3.26 8. SP 36. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.. harian. WAHJUNIE ET AL.02 66...02 6.88 42.. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong....93 1...09 1.13 19.14 1. 2.48 30.46 4.90 9..83 1.92 43.64 25.35 3....29 65.37 28.85 47..58 40. laju pergerakan air transient...40 2.12 27.96 0.95 31.10 85.72 9.21 14.71 1.42 17.99 17.. dan 3 Table 2.99 41. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1..08 25..38 14.94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol . dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m.45 2.76 19.88 29.50 66.95 64.52 3.28 26.88 22.55 37..20 23..34 27. 2.33 2.64 7.71 31.15 3.45 43.80 2.12 43. 4.53 16.. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo.15 1.. 2.70 25..29 67.52 64.41 32.16 2.....02 1..91 2.76 64..74 19.43 63..22 38. kacang panjang. 3.43 13..13 25. terakhir kacang tanah.04 24. ISA = indeks stabilitas agregat.12 13. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik.97 1.43 18.84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi. % 4. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.53 7.00 17.57 5... 3...40 3. 5...47 6. 4..79 14.53 10. 1.23 35. Blok 1..80 24.76 22.38 10.. dan 150 kg per hektar..86 1.45 11.63 41.23 38.53 13.78 39. pengolahan tanah sedalam cangkul.36 35.06 2.58 22.38 9...26 3. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan..35 57.99 0.15 8. Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3....01 43.48 61.. RP = ruang pori 17 .27 1.49 25.98 3.69 1.15 2.47 21. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.13 15. oyong..18 2.22 12.90 21.75 67.95 0.78 8.16 1.12 16.98 0.80 10.39 28. Tabel 2... RPDL = ruang pori drainase lambat.13 11..05 1.91 15. 2.76 83. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor.74 28.19 6. RPT = ruang pori total.75 58.67 40.46 15.43 22.30 7.. 1.98 38.00 0.. Soil physics characteristics at block 1.ENNI D.10 1.95 0..81 27. cabe.63 35.86 65.. 1.. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1.50 22..62 19. terung.87 15.44 43..05 59.84 41. 5. Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok. 2.96 0. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1)..42 37.21 3. singkong dan oyong.46 20.76 2. and 3 No.11 12.07 23.19 34. 4..76 1.50 4. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.27 19.02 0.50 46.35 23.91 22.38 22.34 2.06 ISA 42.29 61.18 25. dua tahun terakhir kangkung darat.54 18. 5.84 17. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan. Pengolahan tanah sedalam cangkul. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.41 37. terakhir padi sawah. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1. 3. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat.11 4.45 40.31 14.95 1.12 27. dan distribusi air tiap kedalaman tanah.48 1.94 58. RPDC = ruang pori drainase cepat.58 42..90 1.18 17.90 3.11 38...01 7...78 16.88 1.39 22.30 38. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air.12 2.88 53. dan intensitas hujan periodik.54 23.. maupun harian..

.65 Ln (θ) +7..91 25..00 27. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya.. Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia..33 2...…..14 Ln(θ) + 7. % vol . 2.99 Ln(θ) + 7..88 40...88 46..67 25.... Saturated.38 11..39 Ln (θ) + 7. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol....72 1...99 Ln (θ) + 7... cm jam-1 …….. Tabel 3..92 12.. (Shaxson and Barber.87 12. permanent wilting point at block 1..32 Ln(θ) + 8..18 31... Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan.90 46.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.92 11....46 48.38 12.13 28.92 12...46 0.. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann...87 12...28 44. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah...92 11.18 18 .…………..80 25.87 Ln(θ) + 8.04 44..... 1986).93 Ln(θ) + 7... pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan. dengan pendekatan neraca air (Wagenet.09 Ln (θ) + 7.39 40... maximum water retention capacity.86 0.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet. unsaturated hydraulic conductivity.54 43. 2....... 2003)...89 2.23 1.10 0. Konduktivitas hidrolik jenuh. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman.65 1. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh …….38 27..waktu) .46 30.27 28. Pada lahan kering yang relatif datar. kapasitas retensi air maksimum.88 27.. dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm.. 11. tak jenuh.23 1.. dan 3 Table 3.42 38..31 Ln(θ) + 7..03 44.……………. (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan.54 25.79 2. 38.38 11.. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986)....∆ S .92 28...38 12.87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen .38 10..97 45..79 2..32 0..87 10..40 0. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah.. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.57 Ln(θ) + 8...47 1. dan titik layu permanen pada lahan blok 1.92 11.56 Ln(θ) + 8.87 10.07 46. 1986)..84 2.96 25.31 Ln(θ) + 7.52 47...03 Ln (θ) + 7.54 25...00 45.96 Ln (θ) + 7. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET ....23 31..

63 pada lahan blok 2. laju pergerakan air transient. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm.20 0. 2. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda. 0.ENNI D. Pada jumlah hujan rendah.88 pada lahan blok 3. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1.24 + + 0.88 0.63 2 Fluks (blok 2) = 0. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar. dan 3 Figure 1. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah. 2. sehingga fluks aliran air makin besar. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0.04 CH ++ x 10-4 CH2 . Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. r2= 0.89 Fluks (blok 1) = 0. 2. Pada kejadian hujan besar.0011 CH2 CH2 . Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah.0011 . Pada kondisi ini. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1.24 0. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. r = 2 Fluks (blok 2) =--0. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan.89 pada lahan blok 1.0.89 0. Menurut Sugita et al. WAHJUNIE ET AL. yang ditentukan dalam fluks aliran air. 3.04 CH + + 0. sehingga membasahi tanah secara berangsur. apabila tanah belum jenuh. and 3 19 . Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah. 2.04 CH 0. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t). Semakin besar jumlah hujan. tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0.0013 CH .0013 CH2=. (2004). r r = 3 Fluks (blok 3) =0.20.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1. dan 0. dan 3 sama. 0.63 0. Untuk melihat perbedaan pergerakan air.– 0.04 CH 7 7 X 10-4 CH . kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum.

.86 (Fluks = -2. 2..87 x 5.97 z 0.19 x 8.. Pori + 0. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4).. Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1..... (-) 0... Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2. ruang pori air mobil.. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh. ruang pori drainase cepat.......23 a 7.. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air.17 a 7..0..50 x 8....09 x 1.37 x (-) 2.. secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif).17 b 2.. stabilitas pori. stabilitas pori.....30 a 1..... Pori .0.36 ...25 RP air mobil + 0..01 RPAT.41 z (-) 0... Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4). 28/2008 berbeda-beda.07 RP air mobil + 0.93 .. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0....22 y 1. Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm). 20 ..08 RP mikro.. Water flux and rate of transient water movement at block 1. sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3.26 b 2... memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar.66 a 1. R = 0..88 (Ks = -14. Tabel 4. R = 0.31 z (-) 0.06 RPDC ..13 a 1.86).25 c (-) 0. Semakin besar fluks aliran air. ruang pori air mobil..02 y 2. sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air. tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata... 2...0.84 a 2. ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2). Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2... dan 3 Table 4.27 RP air imobil + 0..0. konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1...... Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2)...... Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat...28 y (-)0.26 x 3...0.14 b 0.80 b (-) 0. cm hari .JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.73 x 5. Pada hari-hari tanpa hujan.09 y 1.. terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm). Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut. Berdasarkan analisis regresi berganda. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0.85 x 3..09 RPDSC + 0...47 a (-) 1.75 y 1.33 a (-) 0...88)....02 St. Di antara ruang pori tersebut. 2.24 b (-) 0. and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 ........... ruang pori air imobil.....01 St.19 a 0.06 y 0..48 c 0.33 b 0..09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%).. Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan.. dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.06 RPDC ...07 b 0..

perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat.0019 CH . Transient water movement on various amount of rainfall at block 1.12 ++ 0.23 0. Dengan hujan yang lebih besar lagi.83 dθ dt (blok 1) = -1. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah.004 CH2. 2. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali. dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol).2. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum. r 0. 2. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.30 CH 0.23 + + 0. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar.004 CH r = 0. and 3 21 .002 CH2 .2r ==0. 2 . 2.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0. Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum.80 dθ/dt (blok 2) = 0.002 CH r = 0. r =0. 1986).80. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu.– 0. dan 3 Figure 2.21 CH 0.0.26 CH 0.0. Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah.0019 CH2 . 2.ENNI D.12 0.21 CH – .30 CH .62 dθ/dt (blok 3) 3) = . 0. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.26 CH – . Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft.=r 0. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.83.2. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2). perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar. Semakin besar jumlah hujan. sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu. WAHJUNIE ET AL. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun).80 3 dθ dt-1 (blok = -2. dan 0.62. dengan koefisien korelasi masing-masing 0.

02 RP air mobil.0.0. 1980). 2. aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi. 2.0. ruang pori air imobil. Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah). Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). tanah makin lambat perubahan kadar airnya.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. Namun pada hari-hari tanpa hujan. poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat. kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil. Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage. maksimum pada curah hujan paling rendah.38 + 1. 22 . (1985). kadar Semakin air tanah. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3). Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan.04 RP air imobil + 0.0. dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52. Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. fluktuasi. Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1.5 mm. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). Pada potensial yang lebih tinggi.93).03 RPAT . Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.04 RPDSC + 0. R = 0. Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. Pori.99). sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air. R = 0. dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah.04 RP mikro . Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya.4 mm.85 . Distribusi air dalam tanah Jumlah. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum.01 RP air imobil 19x10-4 St. ruang pori air tersedia. dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air. Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya.93 (dθ dt-1 = -1. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat).5 mm. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3). Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient.99 (θ KL = .

Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. Menurut Allen et al. (40-60) cm. 1998). (020) cm nyata paling kecil. Distribusi curah hujan. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah. Shaxson dan Barber (2003). dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. Fluks. maka produksi tanaman dapat menurun. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). fluks. fluks. Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . dan 3 Figure 3.. (20-40) cm. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). (1998). walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. Pada seluruh lahan. 2. kadar air tanah lapisan bawah. Rainfall distribution. 2. fluks. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). flux.ENNI D. dan kadar air tanah pada lahan blok 1. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. WAHJUNIE ET AL. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit. Fluks.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. Fluks. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. and soil water content at block 1. Apabila kondisi ini sering terjadi. 1986).) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. dan lapisan atas. dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. fluks.

00 20.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78.39 4 100 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.48 4 90 6.00 29 64 0. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage.00 28 61 0.06 10. Irrigation water requirement at blok 1.11 81.00 36 100 0. 2. dan 3 Figure 4.25 18 100 0. ruang pori air imobil.00 2 100 0.00 9 100 0.65 46 65 0.0.03 RPAT .00 3. 2.00 44 70 0. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min.00 13. 2.00 0.00 4.34 30. 2.38 30. dan 3 Table 5. ruang pori air tersedia.89 56 74 0.04 RP mikro .52 3.00 58. Pori.33 2 94 0.99).00 71 67 0.00 4.99 34 89 2. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26. lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2). R = 0.82 42.75 1 100 0.01 RP air imobil 19x10-4 St.00 87 73 0. and 3 Tabel 5. Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 .33 116. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro.00 43 81 0. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4.11 86.0. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.00 8 97 0.00 0.98 33 86 35.38 + 1.00 47 72 0.

dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. Di samping itu. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. Semakin besar jumlah hujan. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. Rome. dan ruang pori mikro. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. 2. L. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. fluks aliran air makin besar . Smith. and M. 3. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1.G. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. Pereira. Pada lahan bekas sawah. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. ruang pori air mobil.ENNI D. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. dan ruang pori air imobil. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. diikuti oleh lahan blok 2. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. namun karena pergerakan airnya kurang lancar.. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. (Gambar 4 dan Tabel 5). 2. dan terakhir pada lahan blok 3. kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah. FAO. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. ruang pori air mobil. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). dan stabilitas pori. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. D. Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. 1998. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. DAFTAR PUSTAKA Allen. WAHJUNIE ET AL. R. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. 4. 25 . Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. Raes. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. terutama pada kedalaman (0-20) cm.S. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. KESIMPULAN 1. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar.

2004. J.saturated hydraulic conductivity.fao. Edwards. and L. T. J. held at Waterloo. 2004. Dalam U. Sugita.M. FAO Soils Bull. and L.J. Soc.. Inc. P.M.K. Bodhinayake.R. Am. Optimizing Soil Moisture for Plant Production. Phillips. and L. In A. W. Sukop. Ashcroft. U. Klute (Ed. 56:52-58. F. and R. Dick. Dunn. Soil Sci. and D. Soc.M.. Xiao. Cheng Si.K. 56:52-58. Haszler. 1985. Dick. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field . J. Soc. Canada. Soc. Water and solute flux. Am. Owens.S. 2003.H. Agron. J. Soil Sci. Springer-Verlag. Shipitalo. Ghildyal. G. R. International Rice Research Institut. J.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Am.J. 26 . 1986.and mesoporosity from tension infiltrometer. and G. 1990. Condron. C. Soc. Laguna. Pp 57-70.C. Dariah (Eds. Soc.Di. and G. S. 217-234. Kishii. Fundamentals of Soil Physics. B. Soil Sci. Torr. Hanks..K. Kurnia. Ritsema. Haryati. Owens. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil.. Heidelberg. G. 68: 1429-1436. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue.J.. J. Dekker. T. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters. Inc Madison. In IRRI (1985). D. M. Cameron.B. 79.C.org/DOCREP/006/ Y4690E00. Academic Press. 68:760-769.A.H. F. Am. July 2004. De Datta. M. lovino. M. H.M. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. Soc. and K. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model. Sur. 696-701. Painuli. Los banos. Shaxson.S. Am. E. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow. Soil Sci.J. 2004.E. English. Edwards. Soc. http://www. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil. Soc. and M. W.L. 28/2008 Bagarello. Am. B. Soil Sci. dan S.P. Soil Sci. 1992. and S. Effect of puddling on soil physical properties and processes. and C. Pp. Perfect.HTM. In Proceedings of Groundwater Quality 2004. Applied Soil Physics. W.J. Los Banos. 1992.S. 2004. In IRRI (1985).. Elrick. Barber.B.W.. 1986. Subagyono. V.. Am. Prihar. Tala’ohu. Soil Sci.S. Hillel.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Shipitalo. 68:6673. J. Pp. Sharma. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. 1996. Soil Sci. D. Badan Litbang Pertanian. and R. A. Wisconsin USA. Departemen Pertanian. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. New York. and H. K. Philippines. Geoderma 70:83-324. Soil Physics and Rice.J. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. Philippines.) Methods of Soil Analysis. W. Laguna. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems.. Rachman. Am. 2004. L. New method for determining waterconducting macro.. Am. Special issue. dan A. W. 1980.A. 1985. 2002. Wagenet. the 4th International Groundwater Quality Conference. 54: 1530-1536 Stenhuis. R.

Keywords : Tsunami. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis.090 ha. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. dan lebak) seluas 336. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. Pencucian. In the heavier rice soil. sisanya seluas 56. rusaknya lahan usahatani oleh erosi.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. memperbaiki kesuburan tanah. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. commonly used to grow peanut during dry seasons. 2003). Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. Kata kunci : Tsunami. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal. Nagan Raya. This includes avoid planting land that is still saline. Provinsi NAD dengan total luas 5. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. dan Aceh Timur. Bireun. 2004. semi teknis.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1. and grow salt tolerant crops. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. DAN M. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi.458 ha dan di pantai timur seluas 179. Aceh Besar. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam.559 ha. enhance salt leaching horizontaly and vertically. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. desa. tadah hujan. salt accumulate closer to the soil surface. Aceh Utara. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. rusaknya sistem irigasi dan drainase. Indonesia.139 ha. pasang surut. 70. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. DEDDY ERFANDI1. 2. Bogor.190 ha diantaranya berada di pantai timur. Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 . Salinity. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. Leaching. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Nanggroe Aceh Darussalam. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah. Aceh Barat. improve soil fertility. Salinitas. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139.

Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. Aceh Jaya.000 ton per musim tanam.. 9.. maka dengan total luas sawah sebesar 336. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah. Slavich. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. jalan. dan Peuneung di Banda Aceh. dan 12 bulan setelah tsunami.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1. jembatan. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. 2005). 1998). 1997). 28 . 1996. Khusus untuk contoh lumpur. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Cornillon and Palloix. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi. diperkirakan terdapat sekitar 184. 1990). Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. 7.000 ha. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. Selain pengambilan contoh tanah. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1.2 t ha-1 per musim tanam. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. Selain lahan persawahan yang rusak. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD.9 juta ha yang ada. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. 1986. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. 2005). Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah.. Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah.000 ha lahan kering dari total 1. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima.4 juta t ha-1 per musim tanam. sistem sanitasi dan lainnya. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi. juga terkena dampak tsunami (Rachman et al.

8 untuk kandungan liat 1025%. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . masing-masing 1.5. daya hantar listrik (DHL).5. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran. 13. 3. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. berkadar garam tinggi. 2003. kombinasi basa-basa kation (K.. dan mencemari air tanah (Cardon et al. Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. 2003). Sementara di Darussalam. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah. Berdasarkan hasil analisis tanah. merusak struktur tanah. 1999). ESP.5 km untuk transek Darussalam dan 1. 4. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. Franzen. 3. natrium (Na). Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3.5. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. bikarbonat dan klorin (anion). Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh.ACHMAD RACHMAN ET AL.5 untuk kandungan liat 25-30%. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. C organik. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. 2. kalsium (Ca). 2. kalium (K). HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes. terutama dalam bentuk NaCl.6 untuk kandungan liat 30-45%. sulfat.5. tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan. 4. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm). 9. 8. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al. 2005). dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. pH. Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. Tingkat salinitas (ECe).. magnesium (Mg). dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. Bogor untuk penetapan tekstur. Nilai ECe. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. Ca. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. EC (electrical conductivity). nilai ESP. Mg). dan 5 km untuk transek Lhok Nga. dan 4.

50 3. EC.00 4.00 2.00 4.00 2. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah.00 5.10 cm 10 .10 cm 10 .50 4. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.20 cm 20 0 . and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths.00 5.50 3. dS/m ESP (%) ESP. January 2005 45 40 35 30 0 . ESP. dS/m ESP (%) ESP.20 cm 120 100 80 0 .00 1. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 5.00 2.00 5. km Gambar 2.50 3.50 4.50 2.50 3.00 4.50 4. ESP.50 4. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths.00 4.10 cm 10 . ESP.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. (km) Jarak dari pantai km Gambar 1.50 3. % 25 20 15 10 5 0 1.00 1.50 4.50 2.00 1.00 2.50 4.20 cm 120 100 80 0 .50 3.00 0 1. January 2005 .00 2.50 60 40 Na.00 2.00 1.50 3. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .50 4.20 cm 10 5 20 0 1.EC tanah (dS m-1) EC tanah.50 3.00 2.00 4.00 3. EC. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.50 4.00 3. Nilai EC. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.00 1.10 cm 10 . % 25 20 15 10 5 0 1.00 1.00 4.50 4. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai.50 2. Januari 2005 Figue 1.00 2. ESP.20 cm 20 0 .50 0 1.00 2.00 5.00 3.10 cm 15 10 .20 cm 10 5 20 0 1.00 60 40 Na.00 4.00 4. 28/2008 Jarak dari pantai. Januari 2005 Figure 2.50 3.10 cm 15 10 . Nilai EC.00 5.00 4.

dan tempat-tempat lain (Gambar 3). OH-. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. makin mudah tanah terdispersi. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. Menurut Emerson dan Bakker (1973). dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. dan HCO3-. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi.4). Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi.5±1. cekungan. lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. sumur-sumur. kecuali K yang rendah sampai sedang (0. Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. dimana tanaman padi. Mg. ECe. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. Pertumbuhan tanaman terhambat. Rata-rata (n=20) nilai pH. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm.ACHMAD RACHMAN ET AL. kolam. Makin tinggi kandungan Na tanah. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. kacangkacangan. ESP. Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. jagung. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. mengganggu keseimbangan unsur hara. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi.4±0. Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3.

Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.1) 2.0 (1. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.5 dS m-1.3 (0. dan kualitas bijinyapun kurang baik.….9 (17.6 (31.1) 6.4) 43.2) 14. rata-rata di atas 5. 52.0 (1.8 (15.4 (0.5) 7.3 (18.5) 16.0) 4.80 0.9 (8.8) 4.2) 2.3 47.0 (15.7) 5.62 20.8) 31. 24.5) 19.2) 22.7) 0.2 41.8) 0.6) 19.8 (48. Reaksi tanah umumnya masih masam.6) 24.69 18. 28/2008 Tabel 1.9 (16.3) 1.3 (17.2 (19.3 (0.5 (21.7) 9.1 (1.0 (4.9) 15.2) 7. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.3 (31.3 (10.1) 7.3) 56.0) 0.0 (5.87 18.1 di Aceh Barat.8 (1.8 26.80 C % 2.11 38.5 (0.36 13.0) 22.1) 18.86 84.0 (3. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.2 (0.2 (8.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.8 12.3 (31.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.2 (9.1) 34.8) 7.1) 3.85 0.1 (2.2 42.9) 31.5 (12. 1990) menjadi 5.1 (1. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .5 (91.3) 5.6 (9.8 (0.93 8. % ….19 80.9 (23.4 (0.1 (29.2) 2.3 (0.20 15 . Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.3 (12.82 18. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.97 2.3) 8.8) 16.. memperkuat batang tanaman. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67.2 (12. dan meningkatkan kualitas buah.0) 15.72 2.8 (7.0 (1.4) 7.2 24.7 (19.3 (5. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat ..2 (3.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.4) 5. cmolc kg-1 ………….0 (5.9 (34.7) 0.5) 11.5) 13.93 4.5) 21.6) 27.3 (4.9 (11.69 6.8 6.7 (17. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.9 Tebal lumpur cm 10 .4) 0. Aceh Jaya.2) 14.3 (10.7 (4.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na ………….3) 1. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.46 13.8) 14.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.8) 7.23 59.22 2.3) 5.25 15 . Aceh Jaya.4) 7.8) 4.2 (0.0 (17.7 (11.8 (4.2 (1.11 24.2 (0.3 (28.8 di Aceh Jaya dan 5.8 (0. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).5 (4.5 (10.6 (203) 2.11 2. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4.6 (1.6) 145 (275) 2.27 0.1 (2.57 26.6) 6.0) 5.3 42.8) 5.1) 7. rendah di Aceh Barat.3) 41.54 2.6 (1.9) 8. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.5 (4.8) 23.3 (4.0 (24.4) 4.4) 7.7 (0.9 (24.1 (8.9 (24.8 7.84 Tabel 2.2 (12.57 10. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.85 56. Dengan demikian. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.1) 16.95 19.0) 4.5 (1.5) 0.86 19.0) 4.2) 14.2) 5.2) 68.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.3) 23.1) 5.4) 16.8) 25.6) 0.5 (5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. Mg dan Na tinggi.6 (9.9) 28.

dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat. Lhok Nga. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1. Pidie.500 2000 2. dan Peuneung Aceh Besar. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut. Panteraja Pidie. B) Panteraja. Pidie.000 10. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah.400%) dari bulan September.000 Cl (ppm ) 2000 2. Banda Aceh Figure 4.000 6000 8. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram. B. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian. C) Lhok Nga. Pidie. dan D) Peuneung.000 1500 1.000 3000 4. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. and D) Peuneung.000 4000 4.000 2000 3. A O 0 2. Pidie. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng. C) Lhok Nga. November 2005.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.000 3000 3. baik secara horizontal maupun vertikal. Aceh Besar.000 4000 6.000 1000 Cl (ppm) 2. C. Aceh Besar.000 4000 D 0 O 0 1000 1. Gambar 4 A.ACHMAD RACHMAN ET AL. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6).000 2000 Cl (ppm ) 4. B) Panteraja. Banda Aceh 33 .000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1. dan Oktober 2007.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi.94 r2 = 0. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. 2) tindakan rehabilitasi. Pidie. Banda Aceh Figure 5.26* ECa) – 0. adalah: 1) tindakan pencegahan. Aceh Besar. C) Lhok Nga.72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. and D) Peuneung. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). Pidie. B) Panteraja. 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 . Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. C) Lhok Nga.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. Pidie. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. Dengan memasukkan angka ECa=1. Pidie. B) Panteraja. dan D) Peuneung. di daerah bekas tsunami. khususnya sawah. (1989). Aceh Besar.

dan D) Peuneung.ACHMAD RACHMAN ET AL. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. Banda Aceh nang secara permanen. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. B) Panteraja. Aceh Besar. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . Pidie. Pidie. B) Panteraja. C) Lhok Nga. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. Pidie. Banda Aceh Figure 6. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. Pidie. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. C) Lhok Nga. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. and D) Peuneung. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Aceh Besar. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

521 kg ha-1 season-1.54 ± 0.54 ± 0.521 kg ha-1 musim-1. yaitu antara 0.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2. At generative stage was about 1. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.13.13 and 0. Furthermore. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season.52 l detik-1. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk. BPS. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil. and Improved Technology + Rice Straw. like nutrient and sediment conserving. Kalium.10 ± 0.10 ± 0. industri dan rumah tangga. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan. varying between 7.13 ± 0. Sebaliknya.07 to 0.06 l detik-1.78 ± 0.20 kg P.42 kg K ha-1 season-1.07 dan 0.89 ± 0.20 and 13. Nitrogen. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004.31 ± 0. Praktek Petani + Jerami. and from 7.52 l second-1.09 l second-1. 2007).20 . Farmer Practices + Rice Straw. Phosphorus. yang bervariasi antara 7. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0.34 l second-1. 2002).55 l detik-1. Sediment.38 ± 0. 0. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian.21 ± 0. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0.25 . Secara statistik. Sebaliknya. dan bervariasi mulai 2.20 and 1. Improved Technology. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village. Oleh sebab itu.62 kg N. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi. Nitrogen.89 ± 0. yaitu antara 0.55 ± 1.28 dan 1. Selanjutnya. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2.15 l detik-1. Fosfor.62 kg N.25 to 13. 2001. 0. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen. dan Perbaikan Teknologi + Jerami.. Sawah berteras was about 1. dan pada stadia generatif antara 1. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. but also providing an environmental services.55 l second-1. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1. Potassium. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan.15 dan 0. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia.32 ± 0.13 ± 0.33 ± 0.0. 1996. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 . menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al.28 to 1. Keywords : Discharge.31 ± 0. Perlakuan yang diuji. the Semarang District during the Wet Season 20032004.60 ± 0. meliputi Praktek Petani. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0. both for sediment and nutrient deposited.34 l detik-1.09 l detik-1.32 ± 0. There were no significantly different among treatments.23 and 3. 1. The treatments included Farmer Practices. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice. Sedimen. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama. sedangkan pada stadia generatif antara 1. Perbaikan Teknologi.23 sampai 3.60 ± 0.15 to 0.78 ± 0.715 sampai 5. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan. hara terlarut (nitrogen. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. Bouman and Tuong.33 ± 0. dan 7.55 ± 1.20 kg P.06 dan 1.715 to 5.38 ± 0. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji.13 .21 ± 0.13. In contrast.42 kg K ha-1 musim-1. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan.20 sampai 1.06 l second-1. kawasan industri dan fasilitas jalan.15 l second-1. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0.06 to 1. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. dan (4) pencemaran air. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras.

penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau. Tabal et al. 1998. 1973. sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. Cabangon et al. Selanjutnya. 2003. air (water erosion). (1976). Secara spesifik. 2003. Robichaud et al. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion). 1986.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2004). 2004). Toan et al. Udawatta et al. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al. Lal. Bouman and Tuong. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India. tipe penggunaan lahan. Naphade and Ghildyal..52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al.. Namun demikian. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. Sharma and De Datta. 2003. 2007).. 2006. 1990. 1971. Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. 2007).. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. Aksoy and Kavvas. 2003. IWMI. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. 1998. kecepatan infiltrasi. 1994. 1992. Visser et al.. Filipina. 1998). dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts). Kirchhof et al. Cabangon and Tuong. topografi lahan. 2001. (1998) melaporkan bahwa jumlah. Daniel et al. 1971.. Adachi. Phomassack et al.. 2007 dan 2008). tanah. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. . intensitas. Kukal and Sidhu. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff... sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull.. pengolahan tanah (tillage erosion). sifat kimia tanah. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya.. 1977. Sanchez.. 2005. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill).. Berkaitan dengan iklim.. Kissel et al. Sukristiyonubowo. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. Bhuiyan et al. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan. Lal et al. 2003. 1970. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. 1998. 2006. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). Duque et al. 2002.14-1. Sukristiyonubowo et al. 2005. Lal et al. Sukristiyonubowo.10 g kg-1 air (Bhuiyan.. kondisi kelembaban awal tanah. 2000. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani.. Sukristiyonubowo. Agus et al. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim. Agus dan Sukristiyonubowo. 2000. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. Sukristiyonubowo et al. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. 2003. dan Douglas et al. 2003 dan 2004. 2002. 1998.

dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. 2007. yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). 41 . 2007). berlainan ukuran. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11.5 for Windows. Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet). Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST.140 mm (Sukristiyonubowo. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. 2008). Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar. dan 100 kg KCl ha-1 musim-1. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Dua belas sawah berteras. Urea diberikan dua kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova). Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. Kabupaten Semarang. Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. Pada perlakuan FP. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS).44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Saluran air masuk pada teras paling atas. Teras bersifat datar. 100 kg TSP.

48 2.. pengembalian jerami. pengamatan diakhiri pada jam 17:30.780 1. 42 . dan kunjungan lapangan Tabel 2. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2. P (PO4-).530 3.070 2. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2.. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen. kg ha-1 musim-1 . Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah..97 3.240 1.. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30.64 2.15 2. Date of planting.26 2. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan. Pada saat pelumpuran....000 4..500 3.040 4. dan K (K+) terlarut. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00. Tanggal tanam. komunikasi pribadi. the total amount of returned rice straw.500 5.300 5..dan NH4+). Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Tabel 1.. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1.15 Takaran Urea TSP KCl .680 904 2.

Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Dalam makalah ini. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. P. kadar lumpur. dan konsentrasi N. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. pengambilan contoh air irigasi.000/t dimana. yaitu jam 08:00.000 43 . Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. 12:00.dan NH4+). hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). Unsur N. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Ammonium (N-NH4+). Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. 12:00. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. sedangkan kalium dengan flame photometer. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. Bogor. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. Pada stadia vegetatif. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). dan 16:00.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit. Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. fosfat (PO4-). yaitu pada jam 08:00. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. dan 16:00. Data yang dikumpulkan meliputi debit. Pada stadia generatif. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. P.

kebutuhan tanaman padi akan air. mempermudah proses pelumpuran. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air. Selanjutnya. Oleh karena itu.54 ± 0.55 l detik-1.06 liter detik-1. Pada stadia vegetatif.10 ± 0. dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2.55 ± 1.33 ± 0. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi.60 ± 0. WMO (1994). Secara umum.000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2004). dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm.15 l detik-1. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. P dan K sebagai ganti kadar lumpur. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. Bouman et al.28 sampai 1. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989). Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah.23 sampai 3. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi. yaitu berkisar antara 0. Alasan penggunaaan metode pengukuran. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. sawah memerlukan air yang paling banyak. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al. dengan cara memasukkan konsentrasi N.38 ± 0. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. Akibatnya. Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. namun dapat meningkat hingga 650900 mm. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.15 sampai 0. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain..

55 ±1.38 ± 0.025 0. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).22 0.15 1.783 1.307 0.27 a IT + RS 2.946 5.53 a Sebelum tanam FP 1.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.06 1.15 a Stadia generatif FP 1. MH 2003-2004 Table 3.51 a FP + RS 0.17 0.50 ± 0.273 0. konsentrasi sedimen.267 0.017 0.10 liter detik-1.24 3.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.243 0.173 0.34 0.51 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.11 0.37 ± 0.774 a .015 0.1.025 0.46 0.34 dan 1.045 0.55 a* FP + RS 2.015 0.36 ± 0.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.23 a IT + RS 1.20 a FP + RS 1.177 0.12 0.52 0.550 2.46 1.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.20 0.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.287 0.220 0.283 0. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.28 ± 0.19 0.14 0.012 0.203 0.015 0. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.31 1.280 0.237 0.79 ± 0.267 0.60 ± 0.306 0.450 2.870 a .35 ± 0.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.19 0.021 0.10 + 686 a a + 1.250 0.284 a .051 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.835 0.021 0.14 1.78 0.715 5.10 ± 0.068 3.1.35 0. ukuran teras dan luas lahannya.25 0.150 4. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.07 0.026 .39 ± 0.150 + 565 a a + 1.11 a a a a a a a a a a a a 0.09 0.89 1.38 0.54 ± 0.72 ± 1.37 a FP + RS 0. Average discharge.06 0.23 a IT 2.010 0.025 0.20 0.21 a IT 0.313 0.20 0.021 0.015 0.11 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.420 ± 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.13 1.243 0.19 a 0.015 0.580 3.06 a FP + RS 1.17 1.088 + + + + 2.243 0.237 0.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.280 0. 45 .521 a a a a a a a a 1.30 0.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.84 ± 0.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.13 a IT + RS 0.093 2.237 0. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.17 1.880 3.51 ± 0.05 b 0.310 ± 0.39 a IT 1.33 ± 0.28 a IT 1.237 + 655 a a + 1.05 a 0.12 a IT + RS 1.021 0.207 0.015 0.54 ± 0.28 a IT 0.21 0.021 0.247 0.010 0.021 0.15 a IT + RS 0.13 1.223 0.220 0.223 0.27 0.09 c 0.260 2.030 0.015 0. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.490 ± 0.090 0.32 1.012 0.170 0. Rata-rata debit.45 ± 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.031 0.50 ± 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah.303 ± ± ± ± 0.330 ± 0.237 + + + + 3.57 ± 0.1.020 0. sediment concentration.267 0.608 a 0.42 1.229 2.46 ± 0.31 ± 0.015 0.283 0.36 0.

Selama perioda pengukuran. tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al.09 g l-1. 2004). Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah. yang diukur pada saluran air keluar utama. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi. Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). saat pelumpuran adalah yang paling tinggi. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca .41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya.49 ± 0.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1.260 sampai +2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system). Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3. Pada saat pelumpuran.. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen.870 kg ha-1. Sebaliknya. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0.19 sampai 0. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3). maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam.58 ± 1.42 sampai 3.70 . Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi. Kadar lumpur larutan sedimen. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1. Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari.88 ± 1. Sebaliknya. Selain itu. Namun. pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya. debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari). Akibatnya.13 g l-1. yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya.3. Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. lebih tinggi 2. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1).31 ± 0.

589 kg ha-1 musim-1. oleh sampai 480 keluar. dan lain sebagainya. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. MH 2003-2004 1250 1.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1). Sebaliknya. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate). Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1. MH 2003-2004 Figure 1.000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. MH 2003-2004 1250 1.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1.250 1000 1. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008). Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 .250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. penurunan kwalitas air.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1. MH 2003-2004 1250 1. pada stadia lainnya (tanam.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1. MH 2003-2004 1250 1. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran.

antara`0. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS). Konsentrasi PO4. yaitu N03. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji. konsentrasi PO4.34 ± 0. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site).04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1. sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1.0 sampai 5. Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif. konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan.86 ± 0.05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5).pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis).04 mg kg-1. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan. Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen. Seperti halnya pada air irigasi. yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture).terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah.01 sampai 0.6.09 mg kg-1 (Tabel 5).80 ± 0. Diantara hara yang terlarut. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1.56 sampai 1. bervariasi antara 0. tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Meningkatnya konsentrasi NO3. amonium (NH4+). atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5.77 sampai 1.13 ± 0. yaitu antara 0. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1.dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif. - 48 .15 ± 0.21 ± 0. cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ).dan N-NH4+ oleh air hujan.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1.02 sampai dengan 2. tergantung pada perlakuannya.04 sampai dengan 2. yang bervariasi dari 1. sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar.04 sampai 1. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.12 mg kg-1. kopi (Coffea arabica). Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N. Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah. Variasi konsentrasi nitrat (N03-). fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4). Poss and Saragoni (1992). amonium (N-NH4+). 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi. mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. selain volume air irigasi dan larutan sedimen.06 sampai 0. konsentrasi NO3. Oleh sebab itu. Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991). Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0.68 ± 0.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5). dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata.

02 0.015 0. mg kg .03 ± 1.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.08 0.006 0...98 1.035 0. 0. pemupukan.. P. P.035 0.04 0.07 0... and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.05 0. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya.47 0..04 a 2.29 ± 0.95 2.035 0.04 b 1.07 ± 1.83 0.015 a 0. PO4.01 0.19 1.030 0..72 1.16 2.08 0.58 1.59 1.70 0.01 0.. 1970.02 0.01 0.035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi..05 0...025 b 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.79 1.03 0..045 0..01 0.04 0..01 0.80 ± 004 a 1.36 0.65 1.22 0..05 0.025 b 0.04 0.02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0. P.10 0....015 b 0.012 0..010 a a a a a a a a 1.065 0.030 0.01 0.65 1.09 0..025 b 0.86 1..... Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007).006 0..015 0..34 1..67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.01 2... 2007).01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.04 0.030 0.00 0.025 b 065 ± 0. Concentration of dissolved N..030 0..035 0.14 2.021 0.04 0.012 0.45 ± 0.46 ± 1.012 a 0.34 ± 0.. Sukristiyonubowo.050 0.12 ± 0.020 0.78 1.56 1.15 0.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. N-NH4+...20 ± ± ± ± 0...07 0.86 ± 0...09 0.36 0.45 ± 0.02 0..72 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4..02 0.025 0. dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 .02 0..03 0.01 0.010 0.025 0..01 0....79 ± 0..05 a 1.055 0.. Selanjutnya.06 0. 49 ..59 1..79 1..04 0...01 ± 1.07 0.30 0. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull.15 ± 0.04 0..01 0..03 0..01 0..08 0..84 1.025 b 0..01 0.04 0. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras.04 0.12 0.79 1.01 0.18 1.15 ± 0.030 0. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS).01 0.02 0.015 0...66 1.04 2.76 1.. Konsentrasi N.025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.07 0.77 1.86 1..01 0.06 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi. faktor lain seperti debit.. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras...86 2.10 0.14 ± 0.006 0....012 0.01 0.28 1.05 0.030 0..02 1..dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen.030 0... MH 2003-2004 Table 4.01 0.03 0. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi.21 1.

02 0.06 0. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6)..06 0.01 0.07 0..03 0.43 0. P. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4..13 0. atau negatif.03 0.10 0..60 2.32 1..02 0...10 1.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.03 0. dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi...... P.17 0.62 1.03 0..01 0. 0.96 dan 8.03 0.09 0.30 1.28 kg K ha-1 musim-1.02 0..29 1.68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif. Seperti halnya pada pergerakan sedimen. dan antara 3.67 1.73 1.01 0..01 0.04 0..03 b 1.06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.13 1. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar.06 0.85 1.58 0.68 1.. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari).. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 ...04 0.01 0..47 1. mg kg-1 .04 0.21 1.89 0.02 0.02 0.03 0..06 0..04 0.04 0.02 0...60 1.05 0.05 0.56 1.75 1.04 0..04 0. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.05 0..57 ± 0..04 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.03 0.47 1.31 1.02 0.. Konsentrasi N.03 0.02 0.10 1.02 0.57 ± 0.06 0.03 0.73 1. P.70 1..05 0.02 0..01 0.03 0.69 0. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah... N (NO3 + NH4+).75 1....01 0..80 1.46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.06 0.... Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut.01 0.04 0.10 0.05 0.99 1...75 1.14 kg P.02 0.67 1.04 0. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03..03 0.97 0. and K in suspended sediment during rice growth..03 b 1.03 0..12 0.02 0.05 0.31 0..02 0. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda.44 1.62 ±0. P.01 0.02 0. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N..02 0. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi. 28/2008 Tabel 5..54 1..01 0.34 0.05 1..10 0..07 0.03 0...06 0.. Concentration of dissolved N.01 0.69 1.90 1.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N.05 0.03 0.15 0.03 0. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari).03 0. Akibatnya. 0.09 0..14 dan 9.05 0.07 0..06 0..03 0..02 0.04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0.03 0.05 0...02 0..02 0.01 0.75 1.04 0..01 0.38 1.09 dan 1.80 0.03 0..02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.57 1..11 1..13 0.03 0..04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1.54 1.54 ± 0.04 0..07 0..90 kg N.09 0.03 b 1..12 0.06 0.. MH 2003-2004 Table 5..08 0..85 0.01 0. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.

090 0.42 7. P. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar...34 0.030 0.40 11.33 ± 0.126 0.52 a 12.80 a 10...20 kg P dan 7.14 9.422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1..20 6.30 36..62 a 13.70 8.20 .06 l detik-1...20 a 10.80 2.33 0..50 ab 29.10 4.54 ± 0.030 0....55 l detik-1..62 kg N.38 ± 0.13..180 0..030 0..144 0. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1.018 0. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti..52 b 0. yaitu antara 0.00 5..92 4..96 44.28 3..270 0.192 0.10 ± 0..070 0.60 ± 0.74 7....31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22.270 0..12 1.010 0..31 ± 0.68 15.64 3.62 2.98 8.76 31.00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0.080 0..030 0.36 a a a a 0..145 0..03 19.50 12..08 1...20 22..018 0. 0..52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.36 0.60 b 25.51 12...33 1..57 0..80 1.402 0.002 0... dan pada stadia generatif berkisar antara 1.38 1..20 sampai 1.78 49.... dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi. KESIMPULAN 1..46 15.030 0.16 4.26 6.20 a 0.126 0..288 0.. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi..25 .96 19.. Dibandingkan dengan debit air irigasi.282 0..58 b* 1.144 0...90 1.040 0.002 0..50 9.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.050 0.90 9.030 0.68 b 4.60 12.24 27..060 0.42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.030 0..50 6..30 2...84 8..18 0.040 0.20 a 13.32 a a a a a a a a a a a a 13.162 0.05 12..196 0..24 6.130 0.80 10..010 0. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.30 a 23.060 0.55 0.64 0.90 2.90 19.50 0.22 0. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.002 0.0.86 0.090 0.42 6.002 0..13 4.13...040 0.56 ab 9..96 8..28 2..48 a a a a a a a a a a a a 0.80 29.07 a 7.40 1. kg ha-1 musim-1 .130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0..003 0.060 0.56 3..060 0..64 2.87 39.090 0.072 0. N.70 1.. 0.28 sampai 1..20 0.55 ± 1. berkisar mulai 2. MH 2003-2004 Table 6.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.48 3..020 0.30 1.25 11.93 0.00 9.41 0.46 0.90 20..58 5.80 2. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0..458 0..06 1......54 4..23 sampai 3...256 0.186 0.050 0.58 36..87 1.51 0....86 9. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K .040 0. yaitu 51 .30 6. debit larutan sedimen adalah lebih kecil.90 11..80 6.62 a a a a a a a a a a a a 0.15 dan 0.06 5.37 13.42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6). Incoming and outgoing dissolved N.60 3.92 42.34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.70 22.90 1.89 ± 0..008 0..99 28..76 12.090 0...90 a a a a a a a a 16..66 10..20 a 4.15 l detik-1.80 14..10 9.13 .

Watung. Paper presented at the International Workshop on constrains. Pp 135-149. Pp 146-151. May 31-June 3. Sukristiyonubowo. Bercocok tanam padi.13 g l-1. M. and C. Anbumozhi.A. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 64:247271. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. Anonim. 2007.E.. 2.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi.L.M.13 ± 0.E. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen.I. S. Tabbal. Agricultural Water Management 31:165-184. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran. dan 7. Agus. Pp 186-193. and Rego.207 ± 0. 0. Sebaliknya. 280 hlm. and T. 28/2008 antara 0. palawijo dan sayur. Valentin. Pada stadia generatif bervariasi dari 1. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia.06 sampai 1. T.13-0. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. Bangkok. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran.. A. hara terlarut (nitrogen. E.. In Wani. Outlook Agriculture.. 1977. and Penning de Vries. BIMAS. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. Valentin. 19 p. Maglinoa.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. productivity and constraints to wider adoption. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. S.09 l detik-1. F. and R. 1992. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed.. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah. S.52 l detik-1. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0.R. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2. 1978. Water.E. H. Bhuiyan. Water management in relation to crop production: case study on rice. Sattar. F. F. Moody. 1996. 2003. 1990.I. Tabuchi. Catena. Wet seeded rice: water use efficiency.I. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. A.). and D.J. Anonim. opportunities. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. water regime and fertigation level.W. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth.715 sampai 5.F. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2.R.012 sampai 0. 1994. In: Maglinao.32 ± 0. R. Departemen Pertanian.70-3. and Sukristiyonubowo.09 g l-1. lebih tinggi sebesar 2. Agus.P.42 kg K ha-1 musim-1. Vadari. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly.58 ± 1. 21:293-299.78 ± 0.T. 2003. and K. S.L. Integrated catchment management for land 52 . 1994. Schuman. fosfor. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata. 2005.. E. V. (Eds. and H.21 ± 0. T. selain sebagai tempat memproduksi beras. Agricultural Water Management 37:241-253.. G. Ramakrisna. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model. Bhagat. 1998.)..25-13. C.2013. R. Journal of Environmental Quality 7:203-208.490 ± 0. Yamaji. Effect of rice-soil puddling on water percolation. Rekomendasi pemupukan N. 286 hlm. A. Departemen Pertanian. and innovations for wet seeded rice.88 ± 1.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. K. Kavvas. Bhuiyan.62 kg N. Burwell.07 dan 0. (Eds. Bhuiyan.42 sampai 3. DAFTAR PUSTAKA Adachi..20 kg P. Alberts. Aksoy..

S. and T.S. El-Swaify. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems.. (Eds.J. P. and T. F. S. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. Chaplot. Lal. de Guzman. G. K. Caughlan.S.. B. CABI Publishing in Association with IBSRAM. 1991. 203 p. Marchand. T. In: Penning de Vries. A. Sharpley. Naphade. Dacanay. 2005. and N.. Valentine.D. De Datta. Thonglatsamy..P. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. 2002. Ghildyal. Santos. Journal of Environmental Quality 27:251257. S. 1998. T. G.B..E. N.K. 1971. J. Castaneda. and J.T.M. S. Kirchhof. and E. (Eds. 1981. and Kerr. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview.A.R. Agricultural Water Management.. A.R. and V.E. Bhumbla. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek..).. Utomo.F. Abdullah. 53 . A.P. 1998. 2000. Ramakrisna. Ghildyal. Tiongco. Soil Erosion at Multiple Scale. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. Daniels. Tuong. Peng. 1998.S. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. C. Quita. and soil loss. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. 1998. C.P. and Biswas. Phillipines. R. Principles and Practises of Rics Production. F. Bains. Datta. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. J..) field. Hashyim.S. de Rouw. R. (Eds. T. R.J.)..W. Ramakrisna. T. S. 57:11-31. Duque Sr. P. D. E.P. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. and Rego.). Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. Adisarwanto. D. 2004.P.P..D. and T. Priyono.V. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops. C.M. Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. Burnett. T. B. Doctorate Thesis. C. IRRI. A..M. Cabangon. Agus.).S..V. Lemunyon. 1976. W.A.P. Monitoring of weather.P.M. S. A. Bains.. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. Visperas. Sidhu.P. Pp 499-509 In Kanwar. 2000. (Eds. Maglinoa. Cabangon.. MSEC-Philippines Annual Report. Statistik Indonesia. Jr.. F. and B. and H.B. D. A. Zuzel. 2003. Ilao. Kissel. 1989. ion uptake and rice growth. 1971. 2004. IBSRAM-Thailand proceedings. Journal of Environmental Quality 5:288-293.W. So. CD-Rom (one CD). C.. and J. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR.H. and Biswas. T. 1998. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon.J. R. K. R. and J. runoff. 2001. Pp 510-517. B. Soil and Tillage Research 56:37-50. Douglas.J. N. Biro Pusat Statistik. Kukal.S. N. Demyttenaere. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. In Wani. S. Sihavong.C. Soil and Tillage Research 56: 105-116. (Eds. C. In: Wani. Pp. R.O... T. B. and Rego. Logan.K.R. Phommassack. Richardson.).. A. MSEC-Lao PDR Annual Report. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines. 207-222. J. Tuong. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L. 2003. Tuong. Syers.. and T. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177.N. IWMI (International Water Management Institute).S.J.A. Miller. BPS.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman.J. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman. S. S. P618. and R.. Water facts.R. Soil and Tillage Research 78:1-8. 2002. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics. A. Bhumbla. In Kanwar. T. and A.M. Chanthavongsa. Carpina. J. L. King.L. Agricultural Water Management 49:11-30.A..R. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion. IWMI Brochure.P.D. Maglinoa. Datta. Pp 163-178... Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.L. Los Banos... Lal..

K. Catena. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. Agus. 151-164. In Maglinao. In Wani. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). Belgium. 735 p. P. case study in the Philippines.P. S..D. Poss.J. D. Verloo.I. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. Udawatta.. F. Badan Litbang Pertanian. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. 2003. Journal of Environmental Quality.P. C. Sharma. 169p. F. L. Chardon. 184 p. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. Operational Hydrology Report No.R. Leaching of nitrate. H. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. In The International Potash Institute (Eds.168. and S.). and Penning de Vries.. and J. P. 2003.A.J. Schuman. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. Pp. 413-416. USA.D. Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. T. Advance Soil Science. 1974. Agriculture Ecosystems and Environment..R. B. analysis. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo. P. MSECVietnam Annual Report. Hlm 225-245. 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. 5:139-178.A. CD-Rom (one CD). Valentin. 1989.F. CD-Rom (one CD).. Lillybridge. S. Agricultural Water Management. Burwell. Faculty of Bioscience Engineering. T. WMO-No. 2008. Agus.E. Sukristiyonubowo.B. 2006.E. Stroosnijder.M. P. Sattar. Fifth ed. Phai.M. Motavalli.W. Nutrient losses by wind and water.P. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. (Eds. Robichaud. and M. 2006. Saragoni.. 1986. 54 . G. 64: 1-22.R. R. L. A. D. Wagenbrenner. Soil Science 115:303-308. Krstansky. A. 1973. 4:366-369. 1992. A.E. T. and J. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice.T. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry.L.R. 56:93-112. Sukristiyonubowo.29. Ghent. PhD thesis. E. and F.. Bhuiyan. Sanchez. V. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. Gabriels. R..W. Toan. Sukristiyonubowo. Lao PDR on 14-17 December 2004. T.H. 2005.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.). Uexkull. measurements and modelling. T. Bouman. and W. 1970. Guide to hydrological practices. Garrett. 2007. Taball. Ramakrisna. WMONo. 117:39-48. Visser. R.K. WMO (World Meteorological Organisation). Pp. Watung. Phien.). 686. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD). Catena. and M. and Rego. Physical properties and processes of puddled rice soils. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Nguyen. Sukristiyonubowo. Data acquisition and processing.J. (Eds. Departemen Pertanian. Sibayan. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils.. and L. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition).. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. 2004. Ghent University. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Yuqian. D. 67: 56-67. Fertilizer Research 33(2):123-133. Growth and nutritional aspects. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. and H.R. Puddling tropical rice soils: 1. Maglinoa. forecasting and other applications. and R.A. 2002. S. Vadari. 1994. De Datta.

Cadd. Fedd. 23. Cornforth et al. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. exchangeable Ca. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. Thus. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. medium. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. Namun demikian. while the correlation of pH. The experiments used completely randomized block design with four replications. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. 1990. Kaolinitik. exchangeable Ca. clay content. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. clay content. sedang dan tinggi. and Al were not significant. Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. Padi sawah Keywords : Soil properties. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. Newman and Hayes. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. 1990). In kaolinitic soils. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. Bogor. In kaolinitic soils. sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. ISSN 1410 – 7244 55 . Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. MASJKUR1 DAN A. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. Cadd. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. Phosphorus uptake. dan 115 kg P2O5 ha-1. Kaolinitic. and Al were not significant. kadar liat. Bogor. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. 2. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. IPB. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. Serapan fosfor. P uptake response with P fertilizer was not significant. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. Tan.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. Smectitic. kadar liat. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. 69. and high P content variabilities. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. 46. Fe. Fe. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. 46. 2002). 23. 1998). Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. Pada tanah kaolinitik. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. Departemen Statistika. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. while the correlation of pH. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). sedangkan pH tanah. Fedd. applied as superphosphate (SP-36). In smectitic soils. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. sedangkan pH tanah. Smektitik. 69. 1990. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36.

(2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. P Bray 1.. Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. Ca. 1999). Fe. kandungan bahan organik (C organik. 28/2008 pulau utama. 7. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. 2. Purworejo 2 (P sedang). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. dan diayak dengan saringan 2 mm. dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. 56 . Adapun fraksi Al-P. dan 8). BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7). HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. pH (H2O dan KCl). 100. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. 150. Fatmawati. P dan K HCl 25%. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. 2005). dan 3). dan Na dapat ditukar.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. besi oksida bebas. 69. N total. Mg. dan Zn dapat ditukar (DTPA). 46. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. K. 200. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. Contoh tanah dikering-udarakan. C/N rasio). dihaluskan. 23. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. Cu. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. Mn. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. fraksi Ca-P. Fe dan Mn dapat ditukar. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. Kedungrejo (P tinggi). dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). Purworejo 2 (P sedang). Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36.

0 5.0 83.7 4.0 4.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.84 3.62 0.56 0.6 1.6 12.39 1.67 0.19 3.….……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.5 25.0 3.1 4.02 0.11 0.65 0.25 2.97 1. g 100g-1 .65 0.77 0.3 5.01 0.8 1. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.67 1.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.0 2.Tabel 1.02 0.45 0.5) H2O KCl 5.38 12.1 4.3 1.8 5.65 1.2 1.09 0.05 0.5 15.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .01 3.38 2.1 5.0 3.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.37 11.4 4.97 0.31 0.02 0.01 0.4 74.57 3.89 0.1 5.9 11.09 0.38 1.1 5.53 11.01 0.68 0.81 2.2 81.01 0.97 0.9 21.34 1.0 4..22 1.7 2. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….32 0.67 2.0 1.77 0.80 2.79 13.2 5.70 0.6 1.01 0.0 11.97 1.12 0.26 12.0 4.30 0.82 0.0 3.….01 3..14 0.5 65.45 9.01 0.49 1.09 0.0 4.24 0.69 1.3 11.1 5.96 12.1 5.2 1.….5 1.57 1.01 0.69 1.73 0. mg kg-1 …….52 11.…………… me 100g-1 ……….50 10. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1..2 2.4 1.15 0.0 4. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….45 3.4 2.24 9.2 1.05 2.10 2.46 1.15 0.88 2.07 0.12 0. ….38 1.7 24.31 1.6 1.59 1.07 0. ….4 16. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.31 2.65 0.14 1. g 100g-1 ….2 4.29 12.02 0.13 0.2 5.2 1.81 0.95 3.73 2. me 100g-1 ….7 26.0 4.6 3.51 1.01 0.46 2.44 3.0 4.3 0.58 3.2 3. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.67 0.01 0.4 1.66 2.14 0.13 11.73 0.6 2.0 4.2 5.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .14 0.46 2.4 1.2 3.1 4..53 1.55 0.13 0.1 1.63 0.….04 0.09 0.81 0.2 5.73 0.6 1.14 0.09 0.0 9.08 0.48 0.6 1.11 0.82 3.

4 7.00 0.64 43.2 6.7 5.16 43.0 4.8 12.80 0.37 1.50 51.5 6.6 4.4 35.70 0.13 0.39 1.00 0.11 0.3 14.38 0.32 23.0 2.5 7. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.25 24.23 1.09 15.50 42.00 0.52 1.20 0.00 0.44 0.71 22.09 0.75 44.5 2.68 44. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.02 54.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.08 15.10 14.14 7.4 7.67 130.57 21.02 0.3 2.40 0.00 0.00 0.00 0.17 14.2 6.3 6.11 0.1 6.08 0.11 0.02 0.50 5.33 0.67 1.55 101.68 14.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .4 2.02 0.08 0.37 1.4 6.78 135.95 101.0 42.36 5.08 0.11 0.3 5.11 6.6 14.63 41.13 0.54 40.6 2.65 42.02 0.73 6.04 135.00 0.40 0.47 0.94 14.3 10.03 115.47 56.3 7. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.11 0.87 1.2 7.46 98.4 1.2 33.73 35.99 41.7 3.42 0.6 7.86 55.53 1.26 0.4 2.55 127.36 16.18 0.32 50.48 14.0 2.9 2.95 38.2 5.4 12.3 3.00 0.29 KB % 116.15 1.39 123.62 0.37 22.6 2. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….45 0.4 9.52 51.5 5.26 35.6 6.10 24.39 1.0 2.36 14.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.5 4.3 7.31 0.25 117.86 1.11 0.2 37.35 49.96 14.65 41.69 0.46 1.1 5.00 0.32 40.8 2.03 0.57 13.45 1.07 21.92 16.76 1.51 1.0 9.00 0.4 0.30 0.5 12.42 0.0 10.2 12.2 34.46 1.1 9.3 21.13 0.5 5.30 0.00 0.4 4.4 4.77 35.12 0.04 0.00 0.38 59.02 0.6 14.1 2.02 0.3 6.80 105. me 100g-1 ………………….58 Tabel 2.

59 . Dobermann and Fairhurst (2000). MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983).Tabel 3.

Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5. Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.60 Tabel 4. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer . Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4.

Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al..M. 2004) Gambar 2. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al. MASJKUR DAN A. 2004) Figure 2. 2004) Figure 1.. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1.. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al.. 2004) 61 .

615 Sig.0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.0 1. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.447 Tabel 8.344 0.343 0.07a 2.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.579 16.290 0.5 3.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3. 0.10a 3. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.741 0.52a 2.35a 3.558 1.490 F 0.51a 1.875 10.89b 2.939 Sig. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.0 2.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.112 0. 28/2008 4.228 Tabel 9.089 Tabel 7.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.0 4. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.5 1.599 0.77a 1.189 5.99a*) 1.33a 2.292 0. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8. 0.798 9.77a 2.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.639 F 1.033 5.449 1.70a 3. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6.05 62 . Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.186 0.213 F 1.50a 1.78a 2. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.463 2.746 Sig.5 2.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.363 1.09a 2.05a 2. 0.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.0 2.89a 3.54a 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.908 4.99a 1.227 1.62a 2.030 3.0 3.5 2.761 0.

sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.512 0.75 hingga 3.355 0. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.42. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13). Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12. P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10.119 5.183 0.147 15.143 1. 11. dan 10. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. dan 13).60 hingga 10.241 Sig.339 0.646 0.M. 11. 12. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4.762 F 1. 0. smektitik Demangan dan Tirtobinangun.682 Tabel 11. MASJKUR DAN A.053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).774E-02 9. Kedungrejo (P tinggi).756 0.866 63 .47. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8.328E-02 F Sig.451 0. Tabel 10. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P.000 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4.161 4. dan 250 kg SP-36 ha-1. 150.202 0.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata.550 9.

01 * Nyata pada α= 0. Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0. 28/2008 Tabel 12.397 0.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7.60* 0.61a 10.29 0.701 F Sig.75** 0.70a 11.51tn) (Tabel 14).77** -0.15 0.91a 2.32 -0.54 -0.99a 2.13 Cadd -0.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0.16 0.77** -0.55 Ser-P -0.33 0.. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .711 0.68* -0.39b 9.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.409 40.13 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.06 Liat -0.99a 8. 11.53 0.27a 8. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya. 8.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.84** 0. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….000 0.75** 0.10 ** Nyata pada α= 0.75a 8.928 0. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.47b 8.46a 2.64* 0.37a 2.72** 0.18 -0. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al.60a 8.92b 10. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan.71* -0.36a 3.52 -0.38 0..83b 8. Selama dekomposisi bahan organik.51 -0.757 Tabel 13. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik.42b 7. N-organik diamonifikasi.313 0.07 0.03 C -0.49 -0.75**).83a 2. kg P ha-1 ……………….835 8.55 -0. sehingga pH meningkat.278 0.61* -0.52 Aldd 0. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.05 64 .13 -0. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14.41 Fedd -0.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+). Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah. serta (c) macam dan kandungan bahan organik. terutama bahan organik mudah dilapuk.16 0.

sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate.33tn. (2) penggantian anion H2PO4. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0. semakin meningkat pula serapan P padi sawah. Fedd.pada tapak-tapak jerapan.M. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. Kation Cadd. sehingga dapat diserap oleh tanaman.60*).29tn) . KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). 2004)..2%). mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum). Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman.61) (Tabel 14).07tn. sehingga melepaskan ion OH. sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P.5-7. Cadd (-0.↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. 0. kalsium karbonat atau bahan organik. 1999. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. MASJKUR DAN A. 65 . Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al. urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0. sehingga serapan P tanaman meningkat. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum).10tn) (Tabel 14).0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6.68*). dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al.5) dan ketersediaan fosfat optimum. 2001). Rendahnya bahan organik (< 2.64*).71*). 1999). antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8. dan 0. dan bahan organik (-0. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman. Haynes and Mokolobate. 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.. Pada ¾ dari jerapan maksimum. menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah.3-1.+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0.: M – (OH)3 + COO.

sedangkan pH tanah.05 0. Fedd. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe . Peningkatan bahan organik sawah. Namun demikian. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15. 28/2008 Tabel 15.88**).98**).50 0. sedangkan pH tanah. Cadd. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. kadar liat. 1999.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat.30 0. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah. Cadd. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0. 1998. 1999).95** 0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0.98** -0.. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.94** -0. kadar liat.14tn). Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Killham. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0.10 -0.81**).90** 0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.39 -0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.28 0. sehingga P tersedia relatif tidak berubah. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan.49tn). Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah.20 -0.90**) dan Cadd (0.81** 0.78** -0.15 0. He et al.66* 0. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 .01 Cadd -0.88** C -0.40 -0. 1999).98** Fedd -0.55 Aldd Ser-P -0. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.99** Liat 0. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.10 0. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P.49 -0. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan.20tn).05 0..99**).17 -0.30tn dan 0.72** -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.94**).

Soil Fertility and Fertilizers. He. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. Mineralogi. and P. In M. and M. S. Simojoki. In M. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. and A. Killham. and A.. 1983. Clays Clay Miner. Paddy Soil Science. I. Hartatik (Eds.F. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Plenum Press. Hidayat. Philippines. Kyoto University Press. Beaton. kadar liat. Kyoto. Haynes.Am. I.B. 2001. and A.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. J. 1997. and T. and R. 2001. Kasno. Hartikainen. Cornforth. Sifat Morfologi. dan W. J.L.. 2004. Herbillon (Eds. Structure. 70:222-234. Metherell. 1990. Bogor.H.S. Dobermann.H. B. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. De Boodt. M. S.H. J. 1990. 2005. Tisdale. A. 2004. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. 12:155-167. kimia.M. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. New York. Mokolobate. Nelson. G. Nutrient Disorders and Nutrient Management.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. 157-166. Prasetyo. Fedd. Pp. and W. 2006. and A. dan R. Nutr. Agus. A. Los Banos. Los Banos. Soil Sci. 2000. J. A. UK. Fairhurst. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania. Prentice-Hall. 39-56. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung.F. Balai Penelitian Tanah. Hayes.D. Subagyono. 7-38.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. dan biologi lahan sawah. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. 1990. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. Dalam F. Adiningsih. Cycl.M. A.D. Laguna. J.. Philippines. Johnson. New Jersey. Eur. Adimihardja. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification. Simanungkalit. New York. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). International Rice Research Institute. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman.K. K. Japan. Bogor. An Introduction to Nutrient Management. 48:493498. De Cristofaro. International Rice Research Institute.E. Agr. 1999. A. 2.. De Boodt. Laguna. Kasno. K.C. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Pp. Pasandaran. dan A.. K. J. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide. A. MASJKUR DAN A. Kyuma. Newman. Pp. Bogor. Brown. Las.S. Havlin.H.J. 67 . Violante. Soc. Hardjowigeno. A. Soil Ecology. Prasetyo. Assessing Fertilizer Requirements. Hayes. B. Soil Sci. R. Plenum Press. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. H. Comparison of adsorption of phosphate. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. 1999.B. Hayes. J. fisika. tartrate. M. 47:226-233. Pusat Penelitian Tanah. crystal chemistry. Cadd.B. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Loeppert. and M. A. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. Bogor.M.L.Z.L. Cambridge University Press.H. A. dan E.D. 1999. Herbillon (Eds.H.S. S. SornSrivichai. 59:47-63. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. Tanah Trop. Fagi. 1999. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1.

Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. Rochayati. dan J. Adiningsih.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. Gadjah Mada University Press. Los Banos.). 28/2008 Rochayati. 170:716-725. S. Yogyakarta.. Soil Sci. S. 1998. 1995. Tan. University of the Philippines. dan S. A. Kheoruenromne. Faculty of the Graduate School. East Java).H. Philippines. Zaini. Suddhiprakarn. I.S.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2005. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L. Soil Research Institute. A. Trakoonyingcharoen. Gilkes. Bogor. and R.J. Dasar-dasar Kimia Tanah. 1978. Kartaatmadja (Eds. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. 2002. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Sofyan. Dalam Z. 9-37. K. 68 . Hlm. P. Bogor.

P. NH4+. It’s availability for 1. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. NH4+. P dan K tanaman di Vertisols. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. L. Cilacap (Endoaquert Kromik).000. and Fe3+ on Availability of Soil K.000. K. Na+. plant N. NH4+. NURSYAMSI1. Fakultas Pertanian. NH4Cl. Bogor. 3. 2. Jagung. ulangan tiga kali. ISSN 1410 – 7244 69 . The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. Na+. NH4+. while the second one was application of cations: without cation. dan K tanaman di Vertisols. The soils are commonly high in total K content. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. 250. Bogor. yaitu: tanpa kation. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. NH4Cl. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). Ngawi (Typic Endoaquerts). dan 4.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah.Pengaruh Asam Oksalat. and Fe3+ on availability of soil K. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts.000 ppm. P. yaitu: 0. dan K. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. P. 1. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Bogor. serapan N. dan K Tanaman. Na+. and K uptake in Vertisols. IDRIS2. Na+. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. and K uptake. SABIHAM3. P. Oxalic acid significantly increased plant N. 250. D. NH4+. Plant N. 1. 2. Na+.000. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. Serapan N. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. S. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. DAN A. and Fe3+ from NaCl. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). RACHIM3. 4. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. K tersedia. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. Departemen Pertanian. Fe3+. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. dan Blora (Haplustalf Tipik). Na+. Soil available K. Bogor. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. NH4+. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. The first factor was oxalic acid rates: 0. IPB. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Na+. 375. Na+. Bogor. 125.000. Fe3+. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. and 4. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Cilacap (Chromic Endoaquerts). 2. Fakultas Pertanian. NH4+. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. Direktur Perluasan Areal. NH4+. P. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. Walaupun kadar K total tanah tinggi. however. Smectitic soils. P. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. 125. Kata kunci : Asam oksalat. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. 375. Researches aimed to study the effect of oxalic acid. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. IPB. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. dan 500 ppm.000 ppm. Na+. Maize.A. Key words : Oxalic acid. The results showed that oxalic acid. and 500 ppm. Tanah yang didominasi smektit plant growth. NH4+. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. and Maize Yield in Smectitic Soils D. P. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. NH4+. and K Uptake. Ngawi (Endoaquert Tipik). and K uptake in Vertisols. Na+.

Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial.12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. 1999).12 juta ha (Vertisols sekitar 2. Sulteng. dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). 1989) dan vermikulit (Douglas. 1997). dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. 1987). dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. 1987). Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2002. seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. 1992). Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. 1994). Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. seperti dari golongan smektit (Borchardt.. 1989) yang dominan di tanah tersebut.. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. mikroklin. hitam (Vertisols). spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon. 1987). 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Na+. Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. 1999). Kilic et al. Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al. Sulawesi (Sulsel. Mn. Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. kelembaban. dan Gorontalo). yaitu lebih dari 2. suhu. 1993). 2000). dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. dan Jatim). Fe. Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu. daya sangga. Jateng. kapasitas tukar kation. dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. 70 .. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Selain faktor tanah dan iklim. muskovit. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. K.

Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. halus. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. ditumbuk. dikeringudarakan. P. Bahan tanah dikering-udarakan. sangat halus. SERAPAN N. isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . smektitik. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. semi aktif. NH4Cl. berkapur.D. Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. : PENGARUH ASAM OKSALAT. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). iklim. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Ktdd. smektitik. NURSYAMSI ET AL.000. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. L. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. NH4+. campuran. serapan N. NA+. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. NH4+.000 ppm. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. Ngawi (B3). contoh tanah diambil sekitar 250 gram. isohipertermik Endoaquert Tipik. 1. 1997). Faktor pertama adalah takaran asam oksalat.000. sangat halus. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. Na+. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. lalu tanah diaduk hingga homogen. isohipertermik Haplustalf Tipik. NH4+. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). dan K. halus. berkapur. P. dan Blora (B4). yaitu: 0. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. Knudsen et al. smektitik. yaitu: tanpa kation. Cilacap (B2). Faktor kedua adalah penambahan kation. berkapur. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). (1982). lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). Na+. dan 4. 2. Kdd. diayak dengan saringan 2 mm. (2007). dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan.) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. isohipertermik Endoaquert Kromik. dan Wood dan DeTurk (1940). Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial.

.10 13 148 187 5. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5. NH4+.…………. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit. NH4+.00 0.03 56.96 2. Teflon bomb .….72 1. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.00 0. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom. mg kg-1 …………….11 0.65 11. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3.97 92 5.13 0.88 1.41 42.12 9 178 30 0.97 9..28 0.5) KCl 1 N (1:2.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3.01 1.03 > 100 0.000 5.000 5. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.00 0.11 10 222 41 34.57 0.22 0.00 0.. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5. 59 68 82 60 65 104 96 85 5. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat..56 3.38 13..06 0.95 0.21 10.01 6.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam...06 0.19 H2O (1:2.16 24. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik ………….000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.………….24 1..97 58 5.36 0..01 13.04 33..47 4.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.36 4.01 0. Takaran Na+.98 > 100 0. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.…………. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml.000 rpm dan supernatannya ditampung. Rate of Na+. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3.35 0.36 0.42 38.82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7..12 11 548 134 10.12 0. 28/2008 Tabel 2.…….JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.555 5. lalu ditambahkan 20 ml 0.

asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). NH4+. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. 125. 41. yakni 30. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. dan 0. lalu tanah diaduk hingga homogen. P. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. 0. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS. Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang. Asam borat 2. Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam.11. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. dan 500 ppm. dan Haplustalf Tipik. Endoaquert Tipik. Berbeda dengan di tanah Alfisols. yaitu : 0.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. diayak dengan saringan 2 mm. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Dibandingkan dengan kontrol. Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. 0. Analisis serapan N. 134. NA+. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0. Endoaquert Kromik. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. Endoaquert Tipik. ditumbuk. NURSYAMSI ET AL.28.12. Bahan tanah dikering-udarakan. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. : PENGARUH ASAM OKSALAT. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). 250. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. P. Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah. Endoaquert Kromik. 375.D. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K). Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. SERAPAN N. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. yakni 0. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur.

sedangkan pada Vertisols nyata. Pengaruh asam oksalat. Tabel 5. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat.75 58. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3.00 a 12. mg kg-1 …………….63 b 33.50 bc 165.00 59.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. wedge (w). and Knon-exch. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13.25 b 58.38 a 12. NH4+.75 menjadi 142. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4. NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl. Effect of oxalic acid.13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27. NH4+.63 26.50 b 64.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59. Na+. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5. 25.. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl.555 mg kg-1 (Tabel 3). and Knon-exch. Kexch.30 55.000 4.30 1. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al. Kexch. Kdd.75 b 38. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5. and Fe3+ on soil Ksol..50 70.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols. 2007). 74 .000 4. Tabel 4.25 c 152.88 b 16.38 b 142.13 a 13.00 a 161. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl.13 a 13.00 b b b a 150. sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding.60 <1 27. Na+. 1987). 1998). tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III.000 2.00 26..13 70.13 mg kg-1 (412%).000-5.38 ab 165. sedangkan pada Vertisols nyata. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i). NH4+. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols). and Fe3+ on soil Ksol. dan crack (c). Na+.50 a 149.60 <1 56.000 2.38 27.75 b 73.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.75 b 16. Kdd.38 67.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1..13 b 165. Tingkat 13. Pengaruh asam oksalat. Na+.88 menjadi 58.38 b 155.75 b 67..38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation. Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti. NH4+. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5).00 a a a a 62. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. Effect of oxalic acid.

dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. Pengaruh pemberian Na+. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. : PENGARUH ASAM OKSALAT. NURSYAMSI ET AL.D. NH4+. Effect of Na+. SERAPAN N. NH4+. Effect of Na+. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. NH4+. Kirkman et al. NA+. Berdasarkan jumlah K yang dilepas. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. Pengaruh pemberian Na+. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. 75 . NH4+. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. 24-31% dalam bentuk Kdd. NH4+. P. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. Hasil penelitian Nursyamsi et al. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama.

11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. dan K tanaman pada Vertisols Table 7. Endoaquert Kromik. 105.04 92.08 a a a a meningkatkan serapan N.. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N. P. Tabel 7.72 26.81 a a a a 25.98 b a b b b 6.42 a 2.60 27.37 b 16.59 81.99 107. Pada Alfisols.67 b a b b c 81. P.63 a 51. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.50 a 30.00 a 16.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258.60 1.13 ab 4.000 227.21 26.000 233.00 233.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.15 7.21 a 62.35 a a a a 7. Tabel 6.15 a 9. asam oksalat juga nyata 76 .55 ab 51.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….61 283.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.77 b 8.88 109.42 192. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.37 23. P.71 b 18. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji. 229. P. dan K tanaman.85 b 46.71 55.11 68.70 < 1.21 b 1.71 7.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K ………….74 a 130. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8).31 56. Berbeda dengan dua kation sebelumnya. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.55 a 31. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+.56ns b a b b c 24.42 213.97 8. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut. Na+ and Fe3+ on plant N.84 a 333.28 27.10 <1 a a a a a 16.000 215.000 2.74 24.53 ab 15. mg pot-1 ………….92 4.81 a 17.000 4.55 381.01 b 4.36 79.99 a 16.53 220.55 a 9. Na+ and Fe3+ on plant N.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat. P.18 52.70 20. 125. dan K tanaman pada Alfisols Table 6. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.51 9.87 325.43 a 242. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman.04 a 15. P. Effect of oxalic acid.80 <1 50. dan Endoaquert Tipik. 15.67 a 17.32ns 9.80 1. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6).79 a 58. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik.50 111. Pengaruh asam oksalat.09 334.20 1. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik. nyata menurunkan serapan P. Effect of oxalic acid.64 b 56. dan K tanaman. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7).74 a 53. mg pot-1 ……………. Pada Vertisols. P. dan K tanaman. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols. Pengaruh asam oksalat.53 ab 14.

09 3.30 2.5 t ha-1 biji kering. Na+.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik ………………………………….75 ab 5. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.37 6.62 3.75 c 11.44 b 11.04 3. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1. NA+.000 2. NH4+.41ns 13.42 b 4. 1.34 3.25ns 14. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N.10 a 4. NH4+. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7.58 a 3.20 b 8. g pot-1 …………………………………. Pengaruh asam oksalat.83 ab 1. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.59 b 5.28 5.70 1. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7)..92 a 1.000 4.45 3.40 a a a a b 6.93 a 3. DAN K TANAMAN Tabel 8. juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit. Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 .30 1. Na+. 1997). NURSYAMSI ET AL. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N.13 4. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner.06 3.09ns 4.98 a 1. (2001).29 b 3.98 a 4. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols). 2001).81 5. P.01 a 5.30 1. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. dan K tanaman.20 6.77 a 6.40 b 5.73 a 3. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al.95 6.77ab 1.17 a a a a a 10. serapan N.. Effect of oxalic acid.45 a 5.01 a a a a 4.93 a 10.85 a a a a 4. : PENGARUH ASAM OKSALAT. P.D. Peranan asam oksalat.48 b 10. P. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan. P. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).02 a 3.. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia.62 b 1. SERAPAN N.03 a 4. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4.89 c 8.56 6.0 (Kdd). Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah.

apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.. kritis K tanah untuk jagung 0. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K …….9 * 47.6 ** 22. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. Perlakuan Na+. NH4+. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1.6 * 276. Pada Endoaquert kromik.9 149.7 31. 28/2008 Tabel 9. Perlakuan Na+. Na+. serapan N.. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman..9 * 148.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1.9 19. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%.1 6. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman. Sementara itu pada Haplustalf Tipik. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun.9 273.3 88.9 27. plant N.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5.2 me K 100g-1 (Dierolf et al. Pengaruh asam oksalat. percentage of plant yield. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.3 27.9 87.6 20. meningkatkan serapan N dan K tanaman.8 109. NH4+. dan K tanaman. Na+. and K uptake.1 21. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun. 2001). and Fe3+ on soil available K.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . P. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara. asam oksalat takaran 1. Effect of oxalic acid.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30.4 6.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. NH4+. persen hasil tanaman.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk. P.7 23.…. yaitu sebesar 156 kg K ha-1. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+.3 6. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah.3 ** 92.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5.4 * 22. NH4+. meningkatkan hasil biji kering. Pada Hapludalf Tipik.8 59.

percentage of plant yield.1 225.8 236. SERAPAN N. Effect of oxalic acid. Na+.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5.6 79.. maka peran utama asam oksalat (1. Pengaruh asam oksalat. NA+.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5.9 * 883 988 ** 58. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.0 300. and Fe3+ on soil available K. P. dan K tanaman. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. NURSYAMSI ET AL. P. P.7 215.1 270. persen hasil tanaman.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N.9 25. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K. Demikian pula pada Endoaquert Tipik. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji.8 * 203. 1993).000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1.3 24. serta hasil biomas kering (11%).2 24. and K uptake. Dengan demikian. 3+ Sementara itu. dan K tanah. kebutuhan pupuk K. Selain aspek ketersediaan K tanah. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. plant N.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah.3 268. meningkatkan serapan N.3 ** 454.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. NH4+.5 68. dan K tanaman. Na+.000 294 18. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. NH4+. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1.2 593.2 * 163.. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. P.D.3 69.…. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering. NH4+.. meningkatkan serapan N dan P tanaman.6 44. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat. P. : PENGARUH ASAM OKSALAT.8 ** 209.4 63. P.4 * 43. serta hasil biomas kering jagung. serapan N. DAN K TANAMAN Tabel 10.2 209. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10. 79 . asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al.

Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. P. Switzerland. 2. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. Inc. Microbial ecology of the rhizosphere.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. mikro (Fe3+). Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat.. Pp 27-64.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. P. P. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. dan K tanaman di Vertisols. H. Bolton. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. Asam oksalat. peningkatan 2008). Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. and L.15-5. Applications in Agricultural and Environmental Management. New York. 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). dan Fe tanah. 3. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. J. tanaman. NH4+. Na+. Perbaikan tanah 80 . yakni berkisar antara 3. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. 1993. 1997). sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. 270 Madison Avenue. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+).93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. M. International Potash Institute.K. Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. Elliot. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. 1987. Potash Review No. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. 1/1987. In Soil Microbial Ecology. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). Jr.I. Marcel Dekker. Sementara itu Fe3+ 5. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit. Fredrickson. dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. K.F. P dan K tanaman di Vertisols.

Agric. of Agriculture and Forestry 23:673-678. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Evangelou. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. 2000.T. J. Second Edition. Derici. Switzerland. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Saltali.K. P. sodium. Lumbanraja. 1975. Wisconsin. Surapaneni. In Methods of Soil Analysis. 1987.L.H. 1999. Helmke. T. Soil Science Society of America Madison. 1996. New Jersey 07458. G. T. Academic Press. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. dan A. potassium. Prentice Hall. Marschner. Second Edition. Kendre.A.. Macgregor. Skala 1:1.D. G.) Growth and Yield. Dhillon. Bogor. and D. International Potash Institute. Pratt. The affect of potassium on ammonium fixation. Tokyo. Tr. 5. Harcourt Brace & Company. Oldeman. Ins. In Page et al (Eds.. Havlin. In Minerals in Soil Environments. 1989. 81 . Smectites.. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. Vermiculites. Ismail. Pp 675-727. V. Agronomy 9:403-429. Beaton. and potassium. Dhillon. An Agroclimatic Map of Java and Madura. 1997.P. 2007. Sixth Edition.R. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols). K. Mutert. D. I. Douglas. Disertasi Sekolah Pascasarjana.A. USA. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Proc. In Minerals in Soil Environments. D. 2001. Upper Saddle River. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit. Sofyan. and K. and E. SERAPAN N. Ghousikar C. Pp 635-674.. 17.. Bogor. and D. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. 1994. rubidium. Contr. S. Soil Fertility and Fertilizers.W. K. Knudsen. NH4+. A. and W. S. Soil Science Society of America Madison.N. 1989. Institut Pertanian Bogor. NA+. sodium. Res. J. Lithium. Potash Review No. Sabiham. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. Black (Vertisols).S. D.D. and cesium. S. I. J. Dierolf. An Introduction to Nutrient Management.000. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. 1999. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Wisconsin.W.F. K. Part 2. Nursyamsi. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.A.L. 1982.a review. 1987. Lithium. 1997. J. Institut Pertanian Bogor. L. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite. D. 2002. Nelson.L. Potassium fixation and release. P. DAN K TANAMAN Borchardt. 2008. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.eseap. Nursyamsi. NURSYAMSI ET AL. A. Rachim. Kilic. Paterson dan P. Cent. L. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type. Disertasi Fakultas Pascasarjana. Sparks. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. and K. Goulding. SSSAJ 66:445-455. Potassium in the soils of New Zealand. Kirkman.R. Fertilizer News 32(2):35-138. M. 1992. H.A. Fairhurst. L. 2nd ed.L. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum. Basker. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. Publisher. and J. : PENGARUH ASAM OKSALAT.org). Tisdale.P. USA. Mineral Nutrition of Higher Plants. 5/1987.) Method of Soil Analysis. Idris. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. No. Second Edition. A.000. upland soil fertility management in Southeast Asia.

1940. S. Third Edition Revised and Expanded. K. Pedosphere 3:269-276. 6/1987. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian.H. Soc. Am.. 1993. 1987.S. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir. Switzerland. Proc. 28/2008 Sidhu. Soil Sci. Mineralogy of potassium in soils of Punjab. Tan. Wood. 1988.K.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. Song. 5:152-161.E. SSSAJ 52:383-390. L. Release of non-exchangeable soil K by organic acids. International Potash Institute. De Turk.K. P. Huang. and E. Inc. Haryana. 82 . Principles of Soil Chemistry. 1998. Potash Review No. Marcel Dekker.M. New York. and P.

the occurence flood and drought in Indonesia. 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3. pergeseran musim. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. DMI. Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. SOI. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). but the magnitude of its impact varies with site. Awal musim hujan.5 -0. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. Rainfall. SOI.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. Berdasarkan data historis. DMI. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. the wet season will start earlier with longer period. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. and interaction of SOI with DMI). Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia. The study has been done through the following steps . ISSN 1410 – 7244 83 .5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. SST.5 o C (indicate La-Niña event). Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. DMI. Therefore. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. aktivitas moonson. interacton of SSTA with DMI. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). Kata kunci : ENSO. SURMAINI DAN E. In contrast. climate/season anomaly. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. Dipole mode Index (DMI). PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. Southern Oscillation Index (SOI).4. Onset of wet season. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. Keywords : ENSO.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. SOI. Bogor.4 zone. The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. if SST increases above 0. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. SST. golakan lokal dan siklon tropis. interaksi SST dengan DMI. Climate extreme events.

Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya. 2003. 28/2008 (Haylock and McBride. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi.au). dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. Aldrian dan Susanto.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño. longpaddock. Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah. sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia.gov)..4. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi. SOI. 2006). 2002.qld. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño.cpc. Boer dan Faqih. DMI. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji. dan interaksi SOI dengan DMI. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3. 2004).jamstec. Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM). lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. data DMI (sumber: www. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. dan SOI (sumber: www. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia..jp). Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. Hendon. 2001. 2004. 2002). Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal.noaa. 2003. 1999. interaksi ASST dengan DMI. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal.go. Departemen Pertanian. Chang et al. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3.gov. Boer and Faqih. Batisti et al. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia.. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). Rao. 2000. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan. Rao et al. 84 . Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. 2004.4 (sumber:www. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim..

85 p= dimana : m n +1 . dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña). menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). 3. Selain itu. 50-75%. Apabila nilai slope lebih besar dari 0. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. SOI. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. AMJJ. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. SOI. Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. 25-50%. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. SURMAINI DAN E. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian.05. DMI. Januari-Februari. dan Mei-Juni. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%. Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. dan 75100%.E. Jawa.

Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil.......4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0...38 2..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau....70 6.. Persentase nilai peluang (p< 0.....25 2.. Bagi Indonesia...25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November).. Percentage of regression probability value (p< 0.....38%.....25 55.4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November).. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut...13 11.... Ngablak (Jawa Tengah).........25 2. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 ......13 3.13 4. 28/2008 Tabel 1...70% dan 6.. Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat).. 4..13 4.4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC.... data anomali hujan semakin negatif....05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1. namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%). sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung.. Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3....... Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3... maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm... Riau.. maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal..... hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian... maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan.47 8...... Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok....... Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.. Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3. Batutangga (Kalimantan Selatan).13 4..51 2... Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan.. Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11... Pattimura (Maluku). Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai. % .05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI ... karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju.. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2).4.. Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño).19 7.. dan pantura Jawa Barat......... dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November)..31 2.. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi.

E. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1. SURMAINI DAN E.

Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. . Jika anomali SST turun sampai di bawah -0. LaNiña (anomali SST < -0. dan Normal. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi. Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. Sebagai contoh.5oC). Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4).5oC-0. hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). 2006) skenario El-Niño. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian. 2006) Figure 2.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. 1997. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. La-Niña. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5).5oC) dan normal (anomali SST antara -0. Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal. 1994. Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir. dan 2002.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.5oC ). berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini.

441 R2 = 0.0 -1. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.0 -2.0 1.383 R2 = 0.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 -2.5 Mei-Jun 1.5 Mei-Jun 1.33x + 75. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.5 -1.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.45x + 47.5 -1.5 2.0 -0. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.4x + 22.5 1.5 1.945 2 R = 0.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.4 of some areas in Indonesia 89 .5 2.0 1.5 -1.5 2.0 -1.0 0.0 1.0 0.0 -2.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.975 2 R = 0.88x + 55.235 R = 0.0 y = -388.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.441 R2 = 0.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.5 -1.5 2.574 -2.5 2.59x + 21.0 -1.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 0.5 2.0 0.5 0.E.0 1.0 -1.5 0.5 0.5 0.0 -1.33x + 75.5 0.0 -1.0 0.5 -1.5 1.0 1.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 1.5 -1. SURMAINI DAN E.6109 -2.0 1.5 0.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.0 0.

6 0. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.80 0. Riau dan pantura Jawa Barat. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1. Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung.4 0. Jawa.8 Peluang Terlampaui 0. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember. 28/2008 Pusakanegara 1.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4.4 0. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.6 0. menyebabkan penurunan curah hujan.2 0.60 0.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0.2 0.20 0.40 0. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0.8 0. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3.4.6 Peluang Terlampaui 365 0.8 0. 2.4 0. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru.Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. . Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim. Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi.