Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. Acid sedimentary rocks. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. bahan sedimen. and fertilizer. Siklus biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. Claystone. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. Oleh karena itu. Batuliat. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. Biological cycles. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. Bogor. Batupasir. For that reasons. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use. SUHARTA DAN B. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. Keywords : Forest. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. 1. Kata kunci: Hutan. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. sifat fisik. but limited by highly Al exchangeable. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Batuan sedimen masam. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. kejenuhan basa rendah. physical and chemical properties of the soils. Selanjutnya dikemukakan. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan.H. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. Sandstone. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. kapasitas tukar kation.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. dan sifat kimia tanahnya. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Sifat fisik menunjukkan. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. cation exchange capacity. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. dan K potensial yang lebih tinggi. and potential K. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam.

Location and information of seven pedons investigated Pedon HP.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.194 UY. Fraga dan Salcedo (2004). 2003) sebagai Typic Kandiudults. 1990). 1995. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas.. dan Typic Hapludults (Tabel 1). Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. Sedangkan analisis sifat fisik tanah. Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium.110 DD. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan.24 UG. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal. dan mengurangi run off atau bahaya erosi. Chen et al. Suwarna et al. Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. 1991).14 MD. mengurangi proses mineralisasi bahan organik. Wu dan Tiessen (2002). dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor. Provinsi Riau. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al. Acrudoxic Kandiudults.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 .61 EY. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson. dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff.44 HP. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian. (2004).

PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi. db = coklat tua. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam.H. t. Struktur : m = medium. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. Konsistensi : t = teguh.N. SL = lempung berpasir. p = plastis 3 . dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). t. pori air tersedia. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t. kapasitas tukar kation. Tekstur : C = liat. gdb = coklat tua kekelabuan. Typic Hapludults UY. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. t. ss/sp vf. ydb = coklat tua kekuningan.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. berat isi. so/po f.5 YR 5/8) EY. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan.5 YR 5/6) DD. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. Acrudoxic Kandiudults HP. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). g = granuler atau kersai. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7. so = tidak lekat. ss = agak lekat.14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. ss/sp f. permeabilitas dan stabilitas agregat. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O). sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. ry = kuning kemerahan. f. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. model PW 1130. yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. SCL = lempung liat berpasir. sb = coklat kuat.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG. sb = gumpal agak bersudut. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. by = kuning kecoklatan. SUHARTA DAN B. LS = pasir berlempung.0).194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat. P dan K potensial (HCl 25%). Typic Kandiudults HP. warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah. t. f.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. vf = sangat halus. Dibandingkan dengan horizon A. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. f = halus. 1992). f = gembur. ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. t.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. susunan kation. so/po f-t. pori drainase. s = lekat. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. C-organik (Walkey and Black).61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. pori total. sp = agak plastis. f.

untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Or = ortoklas. Dengan demikian.24 85 sp 6 MD. lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan. mineral lapukan. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. smektit. Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP. sp = sangat sedikit (<1%). Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. Mk = muskovit. Terdapatnya mineral vermikulit. illit. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. dan turmalin juga sangat sedikit. illit. Wm = mineral lapukan.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. dan goetit. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit. Zr = zircon. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. Ze = zeolit. Lm = limonit. sanidin. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. 4 . tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit.61 96 1 2 UG. Rf = Fragmen batuan. dan muskovit sangat sedikit.14 93 sp 5 HP.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah. Sn = sanidin. fragmen batuan. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. vermikulit. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. sedangkan tanah dari batuliat. dan smektit. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. Qz = kuarsa. Tr = turmalin. Pada tanah berbahan induk batupasir. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah.

dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir).194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. SUHARTA DAN B. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. ++ = cukup. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit. Susunan mineral fraksi liat Table 4.61 ++++ EY. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%. + = sedikit. 5 . diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika.110 +++ DD. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP. 1969).14 ++++ HP. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan.N. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4. +++ = banyak.24 ++++ MD.44 ++++ UG. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah.H. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. (+) = sangat sedikit Gambar1.

Sedangkan HP. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.0 4.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density). Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur.24 dan EY.7 8.46 2. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5.20 hingga 1.53 2.17 hingga 1. Sebagai perbandingan..14 HP. sedangkan pedon HP.7 49.5 3. Stab. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan.7 12. kelembaban tanah.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi.5 42. baik horizon A maupun B (Suharta et al.39 hingga 2.93 9.2 23.0 19.14 dan EY.6 4. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2.8 28. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah.24 EY. 1995). Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.54 di lapisan atas dan 1.9 4. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.agr = stabilitas agregat (agregat stability).44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi.7 11.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2. susunan mineralogi liat.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. RPT = ruang pori total (total pore space).55 2. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang.9 26. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik.8 8.41 1. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi.0 11.10 9.24 memperlihatkan hal sebaliknya.46 1.14 rendah di lapisan atas karena 6 .8 4.39 2. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah.0 8.0 45.8 55.2 RPT 52. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP.60 2. PD = berat partikel (particle density).0 9. 2004).. 28/2008 Tabel 5.54 1. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1.65 untuk lapisan bawah.09 2. Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi.20 1.21 1.53 untuk lapisan atas dan 2. Lapisan A = atas dan B = bawah. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%.0 4. pori aerase berkisar antara 8. kandungan liat.20 1.0-28.65 1. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. Pedon HP. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume.55 hingga 2. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi.46 di lapisan bawah.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah.4 6.14. kimia dan biologi tanah.46 3.4 Permeabilitas cm jam-1 0. Pedon HP. berat isi.

perakaran tanaman. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik. Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B. SUHARTA DAN B. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). Pada horizon B. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6.15 tahun). Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi. di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian.2 . akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0. 7 .5. Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini. atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam.0. Khusus untuk pedon HP.4 tergolong rendah. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah.10 3.5 hingga 11. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1.7 hingga 9.8%). karena air akan tersedia sepanjang tahun.H. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah. Khusus untuk pedon HP.2%) untuk horizon A.N.14. Nilai permeabilitas yang lambat. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. Tanah dengan permeabilitas lambat. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik. baik pada horizon A maupun horizon B.20 . pori air tersedia tergolong rendah. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik. Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah.4 tergolong rendah sampai sedang. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik. kemantapan agregat tergolong agak stabil. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7.62 cm jam-1).46 cm jam-1).14. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah.44 tergolong sangat stabil. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik.1 . kecuali pedon HP. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun. Hasil penetapan menunjukkan. permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0. kecuali EY.9. Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering. sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%).

.3 0.0 4..5 4...7 3.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG.2 0.4 4.2 0...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat ..7 0..2 3.. % .3 4.8 0.7 0.4 4...3 5.4 0.6 0.7 1... Pasir-H = Pasir halus 8 . P dan K potensial Table 6. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.2 4.. mg kg-1 .1 4.6 4.1 0..4 4.8 4.6 4.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat.8 0.6 4.2 0.2 4..4 3.6 4.3 0.6 0. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP..2 0...4 4. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir.6 0.3 4.7 4.3 5. C-organik.7 4..4 0.5 4..7 3.2 1. organic-C...6 1. 28/2008 Tabel 6.4 4.2 4.4 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir....9 0....2 4.7 4..5 4....7 0.3 4.4 0.1 4.14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD. soil reaction.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD.4 4.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY.1 HCl 25% K2O P2O5 .4 4.. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org.5 4.4 4. % 4.7 2... reaksi tanah..2 0.. Texture.4 1.3 1.3 4..2 0...6 4..232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar.5 4.3 4...2 2.2 0.6 0.2 0. Tekstur.5 4..

39 0.02 0.97 1.67 4.76 0.99 1.kg ………………………….56 0.05 0.16 20.02 0.65 12.71 32.02 0.01 0.16 3.04 8..01 0.01 2.42 0.06 0.06 0.20 1.02 0.57 38.04 0.03 0.81 1.15 0.74 1.05 0.04 0.02 0.11 0.53 3.68 0.92 0.63 14.03 0.33 26.29 1.30 HP.73 0.11 0.31 4.52 1.53 4.33 11.05 0.18 4.60 2.40 6.81 12.24 6.04 0.07 2.16 1.70 4.61 1.02 0.43 10.19 24.85 4.83 1.77 39.94 11.14 1.22 0.03 Bto4 0.02 0.88 4.12 0.15 4.87 13.32 0.61 0.22 0.54 1.42 1.04 0.53 11.11 2.13 0.03 0.67 0.51 25.87 2.14 BA 0.20 20.59 12.03 Bto3 0.47 2.H.04 9 .30 Tanah dari bahan induk batuliat.09 0.21 11.04 0.37 0.04 0.12 0.07 0.05 0.03 Bto3 UG.05 Bto1 0.29 3.79 59.33 1.92 0.06 0.57 19.03 0.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.05 9.05 0.25 Bt1 0.10 0. Acrudoxic Kandiudults 0.03 0..18 0.05 0.71 8.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.14 0.07 0.09 0.04 Bto2 0.82 0.27 16.02 0.09 2. cmol.13 0.05 0.25 1.10 0.90 14.93 33. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….23 0.04 0.07 0.07 0.37 0.03 0.27 19.62 7.04 0.21 DD.14 Bt3 0.02 20.75 4.02 0.24 0.92 1.08 0.79 17.43 13.30 7.27 0.01 0.08 0. % cmol.31 0.04 0.02 0.07 26.19 18.12 3.04 0.22 1.80 1.85 2.06 0.17 Bt2 0.96 65.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.03 0.61 3.01 0.24 0.54 3.21 1.18 0.03 Bto2 0.18 0.10 0.63 0.03 0.16 8.52 35.03 0.81 1. Exchangeable cation.65 11.28 5.02 0.90 7.61 1.32 2. kejenuhan basa.44 Tanah dari bahan induk batupasir.55 0.37 10.28 10.43 0.40 2.85 1.70 1.23 0.12 7.49 14.30 2.01 0.02 0. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.14 A 0.70 3.03 Bto1 0.04 Bto5 MD.36 1.42 3.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.02 0.N.06 0.66 4.035 0.75 17.04 0.02 0.06 0.58 0.06 0.14 0.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir. Typic Hapludults 1.88 21.05 1.03 0.08 7.05 1.94 7.06 0.41 13.20 0.05 15.02 0.02 0.55 0.01 0.04 0. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.30 16.22 0.19 17. SUHARTA DAN B.73 1.76 2.02 3.21 0.07 0.02 0.34 1.40 0.21 0.14 0.41 4.10 0.17 0.10 0.31 1.23 7.kg % 4.26 BC 0.71 1.13 36.36 0.44 6.21 0.13 8.70 1.13 23. base saturation.11 1.24 0.05 0.08 5.03 0.09 0.02 0.12 0.110 A 0. cation exchange capacity.02 0.76 94.01 0.04 0.18 0. Kation dapat tukar.10 0.50 7.17 UY. dan Al dapat tukar Table 7. Typic Kandiudults 0.13 0.41 0.95 3.76 4.16 2.81 HP.07 0.04 0.55 20.21 EY.68 3.04 0.47 0.64 17.29 0.57 2.06 0.63 13.53 4.08 2.70 10.06 0.24 0.07 0.02 0. kapasitas tukar kation.16 9.94 1.29 0.03 0.22 0.09 0.38 23.22 6.41 1.24 0.69 1.03 0.31 0.01 0.04 0.36 16.85 4.12 30.47 0.66 7.87 2.98 8.37 4.24 A 0.10 0.04 0.58 5.01 0.04 0.

dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. Suharta et al. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. 1995).0355). kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta.110. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0.9309 dengan R2 = 0.0171 C-org + 0. korelasinya lebih rendah (K2O=0. praktek silvikultur. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat.232 dan UG. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. Reaksi tanah untuk pedon UY. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. DD. Ponge et al. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi.179 dengan R2 = 0.1 hingga 4. dan 41 tahun.4415). 16. maupun biologi tanah.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. ketersediaan hara. 37.2943).7 hingga 5. kimia. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. 2007). Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. aktivitas biologi. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan.0014 Corg +0. besar dan arah lereng. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002). Dengan Corganik. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah.7. Mg. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim.0528 liat +23. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. dan macam gugus fungsional.4237).0748 pasir + 64. liat. dan 55% setelah penggunaan selama 8. Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri. baik pada horizon A maupun B. Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. 2007.. tergolong masam sampai sangat masam. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat.7. sedangkan pada horizon B antara 4. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. bahan induk tanah.. dan pengolahan tanah. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman.809 dengan R2=0. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat. 2002). .2702 dengan R2 = 0. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir.

4968. KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1.53 cmol. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri.20 hingga 4. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik. kuarsa dengan sedikit smektit. Quideau et al.50 (HP.H.70 cmol. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. SUHARTA DAN B.24 dan UG. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17.kg-1). akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan.19 dan 65. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. Dikemukakan selanjutnya. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. Quideau et al. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit.0061. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4.13 cmol. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama. 2007). (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam. Sedangkan tanah dari batuliat. 11 .N. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B. (1999) mengemukakan.kg-1. satu pedon didominasi kaolinit. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan. karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci.31 hingga 25. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. dan tidak mempunyai sifat acric. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit.194). Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi.

Wu and Tiessen.04 11 57 22 UG. Typic Hapludults UY. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.02 0.07 0.42 20 170 62 Bto 0.24 A 0..04 0. cmol.04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat..82 20 200 Bt 0. Dalam kondisi hutan alami. dan K) di horizon A. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah. Driessen et al. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.17 0.110 A 2.10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik..81 0. mg kg-1 .03 0.08 0..04 0. dengan hilangnya tanaman penutup tanah.24 0.44 A Bto A Bto 0... 2004.67 0. Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi.22 0. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8).194 A Bto 0.05 0.37 0.11 0.58 0.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun. Dalam keadaan terbuka dan berlereng. Khusus untuk K dari batuliat. kedua proses tersebut dominan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.kg-1 .. Fraga and Salcedo. Basa-basa dapat tukar (Ca. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil. pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya.15 0.32 0. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8. sedangkan dalam kondisi terbuka..27 4 112 DD. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. 2004..21 0. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan.. Typic Kandiudults HP. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu. 2002).55 0.. Mg.03 0.13 0.. Demikian juga kejenuhan basa. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi.03 0. % .17 1. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.41 0. Tabel 8.21 0. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon .08 0. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to. kejenuhan basa.13 0..20 0.30 0.14 A 0. Tanah dari bahan induk batupasir. Acrudoxic Kandudults HP.73 0.04 8 26 66 MD. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik.. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.09 0.22 21 69 122 Bto 0. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya..232 A Bt 0.61 EY.24 0.04 0. 12 . Oleh karena itu.

P. load support KESIMPULAN 1. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. Dalam kondisi hutan alami. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. Da Silva. Hunt. Driessen. 1976..S. Xing. A. Soil Sci. 4. In: Peat and Podzolic Soils. Soc. 1971. 1990. S. 2002). Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. Xu. Susceptibility to compaction. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. dan kimianya. C. Fraga. D. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi.M.M.J. J. Fallow. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. October 13-14. Am. Mathers. E. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . 66:421429. 68:215-224. and I. sifat fisik. Tugu. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. DAFTAR PUSTAKA Bram. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). FAO. Novak. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. Salcedo. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). 2.H.P. J. Plant and Soil 35:401-414. Am. 3.. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen.N.G. Guidelines for Soil Profile Description. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management. Soil Sci. 1976. P. Pp 95-115. Soil sci. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan.H. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. Chen. 2002. SUHARTA DAN B. 2004. and Permadhy.. and B. Rome. Ding. 68:282-291.. V. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. Amarasiriwardena. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia.H. and N.. Imhoff. Bogor. J. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir. J. Soc. 2004. Am. FAO. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). Soil Research Institute. P. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. 2004. Buurman..R. and D. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. G. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. Z.

66:1648-1655.C. Soil Survey Staff. Graham. 28/2008 capacity. USDA. 2002. American Elsevier Publishing Company. J. 68:17-24. Geological map of the Solok Quadrangle. Loughnan. Soil Sci. Soc.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. New York. Soc. Soil Survey Investigation Report No. N. scale 1:250. Soil Survey Laboratory Staff..000. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. and P. M.. T. Chevalier. 41. R. Studi kasus pada Sanggauledo. R.C. R. Loussot.B. and N. Am. dan B. S. J. and soil compressibility of Hapludox. Silitonga. Soc. Smith and Fergusson.F. Version 1. Washingthon DC. Wood.0. 63:18801888. F. Suharta. 2003. J. Ninth Edition. 1951. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Inc. 14 . Soc. and H. Pupuk Suwarna. 1995. Prasetyo. Geological Research and Development Centre. Bandung. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. Sukardi.A. 1992. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. 1991. Soil Sci.A. Kastowo.H. Natural Resources Conservation Service. China. Soil Survey Laboratory Methods Manual. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise.H. Budhitrisna. Suharta. Soil Sci. Jakarta. 66:19962001. Chemical Weathering of Silicate Minerals. 2002.A.. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. Am. and H. Quideau. Sumatera. Chadwick. Keys to Soil Taxonomy. 1969. and S. Soil Sci.. Wu. N. Bandung. Santoso. N. P. 1999. S. scale 1:250. J. O. 2007. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. dasar Oxisol Barat. Geological Research and Development Centre. Tiessen. United States Department of Agriculture. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties.000. Am. Mangga. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan. Ponge. 1995. Am. J.

Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. paddy. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. climate data. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Kemang Sub DIstrict. Bogor. To optimize the crop water availability in dryland. and peanuts that reflected soil management. IPB. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah.2. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. WAHJUNIE1. Transient water movement. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. Pada saat hujan besar. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. Bogor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. The data ISSN 1410 – 7244 15 . dan iklim setiap hari. but it is unpredictable to cover crop water requirements. IPB. Kata kunci : Pergerakan air. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan.Water flux. rainfall. Karakteristik pori tanah. crop water availability in dryland still has a problem. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. 2. dan kacang tanah. Keywords : Water movement. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. Up to now. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. Soil pore characteristics. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. rainfall. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. and soil pores characteristics in the soils is required. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. IPB. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. SOEDODO H. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. Fluks aliran air. Kecamatan Kemang. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. dan distribusi air. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. located at Bojong Village. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. Pergerakan air transient. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. hujan. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. and water distribution. Bogor. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. padi sawah. Bogor District in 2006. O. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. HARIDJAJA1. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans). the study of the relationship between water movement. laju pergerakan air transient. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. water flux. 3. Fakultas Pertanian. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. transient water movement.

Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. 2004). Bagarello et al. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. Desa Bojong. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1). Adapun Perfect et al. Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al. 1986). (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. 1980). Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. Toor et al. Berdasarkan uraian di atas. Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. besarnya peresapan air (infiltrasi). 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft.. 2). Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. kontinuitas pori. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan.. 2004).. serta 3). 1992. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. Kecamatan Kemang. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel.. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. dan tortuositas pori (Hillel. 1990). dan distribusi hujan. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. 1980). kebutuhan air tanaman. kemampuan maksimum tanah meretensi air. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. Begitu hujan berhenti. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya.. intensitas. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. 2004). pengaturan pola tanam. 1996). 1992). seperti distribusi pori. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. dan dinamika kelembaban tanah. Bodhinayake et al.

. SP 36. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat. harian..94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol .47 14.57 4.88 42.53 7..63 41.46 4..12 27. kacang panjang.75 4. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.80 2.43 63.48 39..48 61.15 7.71 31.. RPDL = ruang pori drainase lambat.44 43.40 2.. 2.27 1.29 65..16 2.91 15..97 1. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1....11 12..98 0.45 11.47 6..50 46.96 RPT % 61.40 3.46 15.55 37..80 24. terakhir kacang tanah..88 29. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.39 22. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo.35 23.. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan.88 22..05 1.15 1.15 8. Rotasi kacang tanah.42 17.. 4.00 DMR 1.81 27. maupun harian.74 28.01 43. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1). 5.65 9. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1..02 0..04 24.98 3.91 2.47 21. 2.. Blok 1.33 2.43 13. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm. pengolahan tanah sedalam cangkul.43 22.95 0.67 40.76 19.87 15.00 17..75 58.. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan. 3..53 16. dan 3 Table 2.42 32. 1. 3.76 22.99 41.78 8. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1. ISA = indeks stabilitas agregat..76 83.64 25.98 38.02 1.09 1.45 43.. singkong dan oyong.50 22...21 14.19 6.35 57. Soil physics characteristics at block 1. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m.18 25.99 0.38 14..23 38.41 32..07 23.14 1.58 22.. 1.48 1.22 12.. dan 150 kg per hektar.41 3. 2.. cabe..50 66.43 18..84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi..48 30.90 3.95 0.06 2.78 39.48 45. Tabel 1..42 37.58 40.ENNI D.62 25.. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.71 1.64 7..25 1. dan intensitas hujan periodik. RP = ruang pori 17 .27 4.96 0.91 22. Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok.95 1.35 3..45 40...74 19.90 1.07 3.81 18..86 1.62 19.79 14...12 13.90 9.83 1..13 11..54 23. RPDC = ruang pori drainase cepat.38 9.18 2.84 17.78 16.30 38. Pengolahan tanah sedalam cangkul. jagung..02 6. Tabel 2.11 4..10 85.12 2.20 23.84 41.19 34. 2.12 43. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air.. 3. WAHJUNIE ET AL.22 38.26 3.96 0...41 37.37 28.. RPT = ruang pori total.45 2.49 25.92 43.31 14.76 1.02 66. laju pergerakan air transient. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.12 16.08 25.15 3..03 29.41 10.85 47. 2.36 35.38 10..22 RPDSC RPDC RPDL RPD .52 64.01 6.53 10.01 7..99 17.38 22.11 38.72 9... terakhir padi sawah. 3. 5.00 0.13 25.73 2.52 3. Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali. dan distribusi air tiap kedalaman tanah.21 3.88 1.39 28.63 35.69 1..28 26.22 19. 2..... hujan dan iklim setiap hari.50 4..88 53.95 64... 13. oyong. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik.18 17. 4. 4..16 1.95 31.. RPAT = ruang pori air tersedia..13 15..68 33..00 1..53 13.54 18. 1. % 4.76 2.35 2.34 2.05 59. terung. dua tahun terakhir kangkung darat..10 1..70 25.15 2.23 35..52 14. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.76 64.96 0.13 19. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3.57 5.12 27.27 19... Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor...64 62. 200 kg.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.29 61. 5.46 20..18 17..34 27. and 3 No.80 10.29 67.06 ISA 42.90 21.86 65.58 42.93 1.59 43..78 40. Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.26 8.97 26.. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong.75 67.94 58.42 27.30 7..

28 44..97 45....38 11..………….38 10... (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan.87 12.. Saturated.99 Ln (θ) + 7.93 Ln(θ) + 7..57 Ln(θ) + 8..04 44...14 Ln(θ) + 7... 1986). dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm... yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.39 40.23 31.32 Ln(θ) + 8. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah. dan 3 Table 3.84 2.00 45.54 25.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.... permanent wilting point at block 1. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986)...40 0.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet. 38. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET .. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh …….. unsaturated hydraulic conductivity.88 40..92 11.87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen .33 2.waktu) .92 11..92 11.31 Ln(θ) + 7. Tabel 3...38 27.03 Ln (θ) + 7..92 12.. Pada lahan kering yang relatif datar.87 Ln(θ) + 8.46 0.91 25....96 Ln (θ) + 7. 2.80 25.67 25. (Shaxson and Barber.47 1.87 10....65 1.... pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan. cm jam-1 …….∆ S .. kapasitas retensi air maksimum. dengan pendekatan neraca air (Wagenet.. 2.54 25.03 44.. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah.. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya.......38 11.79 2.....46 30...18 18 . 1986).88 46.54 43.88 27.. % vol .38 12...86 0.89 2. maximum water retention capacity....09 Ln (θ) + 7.87 12.32 0....65 Ln (θ) +7.23 1.07 46.27 28.18 31.. Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia.99 Ln(θ) + 7.46 48.23 1.00 27..96 25.52 47....79 2. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol... dan titik layu permanen pada lahan blok 1.…………….. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman. Konduktivitas hidrolik jenuh. 2003). tak jenuh..39 Ln (θ) + 7...72 1.92 12..92 28.38 12.......56 Ln(θ) + 8.90 46.….42 38.87 10..10 0.31 Ln(θ) + 7...13 28.. 11...

04 CH 7 7 X 10-4 CH . tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0.89 0.04 CH 0. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0. 0. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1. 2. Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. Pada kondisi ini.0011 .88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1. sehingga fluks aliran air makin besar. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0.20. r = 2 Fluks (blok 2) =--0. 2. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t).63 0. Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.89 Fluks (blok 1) = 0. Untuk melihat perbedaan pergerakan air.89 pada lahan blok 1. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah. Pada kejadian hujan besar. Pada jumlah hujan rendah. Menurut Sugita et al.63 2 Fluks (blok 2) = 0. (2004).ENNI D. and 3 19 .0011 CH2 CH2 .04 CH ++ x 10-4 CH2 . Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1. r2= 0. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda.24 + + 0.24 0.0013 CH2=. 3. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah.63 pada lahan blok 2. Semakin besar jumlah hujan. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan. r r = 3 Fluks (blok 3) =0. dan 0.88 pada lahan blok 3. dan 3 Figure 1. apabila tanah belum jenuh.0013 CH .0. 2.04 CH + + 0. 2.– 0. yang ditentukan dalam fluks aliran air.20 0. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah.88 0. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm. dan 3 sama. WAHJUNIE ET AL. laju pergerakan air transient. 0. sehingga membasahi tanah secara berangsur. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah.

..09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%)...30 a 1... Di antara ruang pori tersebut..25 c (-) 0.23 a 7..01 St.06 RPDC .0...19 a 0. R = 0.09 x 1. (-) 0.88)...36 .84 a 2....66 a 1. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata..86)......0. secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif)..17 a 7... ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2). Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2.....09 y 1.. Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut. memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar. Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1..93 .02 St...0.. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4)..47 a (-) 1.. Semakin besar fluks aliran air.17 b 2..01 RPAT. tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2...48 c 0.85 x 3.. Water flux and rate of transient water movement at block 1. ruang pori air imobil. Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm). 20 .09 RPDSC + 0....26 b 2.27 RP air imobil + 0... konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1..0....73 x 5.50 x 8. 2. Pori . dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0. ruang pori air mobil.... ruang pori drainase cepat..86 (Fluks = -2...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm).. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air. cm hari ..06 RPDC ....0.33 a (-) 0... and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 ..97 z 0.75 y 1.. ruang pori air mobil..14 b 0. 28/2008 berbeda-beda.02 y 2. Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan....41 z (-) 0.. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat.88 (Ks = -14.31 z (-) 0..37 x (-) 2..07 b 0.... sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air.. stabilitas pori.07 RP air mobil + 0... dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat... Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh.....19 x 8... R = 0. sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3. 2. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0.33 b 0.. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4)....08 RP mikro. Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2.22 y 1. Berdasarkan analisis regresi berganda... Pada hari-hari tanpa hujan...13 a 1. Tabel 4..25 RP air mobil + 0.. 2....06 y 0..28 y (-)0.87 x 5..26 x 3. stabilitas pori.80 b (-) 0.. dan 3 Table 4. Pori + 0. Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2).24 b (-) 0.

21 CH 0. Transient water movement on various amount of rainfall at block 1.0. WAHJUNIE ET AL.=r 0. dan 3 Figure 2. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar.26 CH – . Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun). Semakin besar jumlah hujan.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2.002 CH2 . 2 .83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar. perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat. 2. 0.62.80 dθ/dt (blok 2) = 0. 2.ENNI D.002 CH r = 0.0019 CH2 . Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol).12 0.21 CH – . Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.0. r =0.26 CH 0. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali. sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering.80. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft.0019 CH . dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2).2. 2. 1986).2.004 CH r = 0. 2. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar.004 CH2.30 CH 0. and 3 21 .83.23 + + 0. Dengan hujan yang lebih besar lagi. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah.30 CH .23 0. Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum.12 ++ 0.83 dθ dt (blok 1) = -1.80 3 dθ dt-1 (blok = -2. dengan koefisien korelasi masing-masing 0.– 0. r 0. dan 0. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu.62 dθ/dt (blok 3) 3) = .2r ==0.

22 .5 mm. dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. Namun pada hari-hari tanpa hujan.02 RP air mobil.93 (dθ dt-1 = -1. ruang pori air tersedia. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air. Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya. Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah.4 mm. R = 0. kadar Semakin air tanah. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya. Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage.5 mm. poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat.99 (θ KL = . dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52. 2.04 RP mikro . kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. fluktuasi. Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.99).38 + 1. Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro.04 RP air imobil + 0. aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan. Distribusi air dalam tanah Jumlah. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient. Pori. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat).04 RPDSC + 0. Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1.0. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3). Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. Pada potensial yang lebih tinggi. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil.03 RPAT . Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah). 2. Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. maksimum pada curah hujan paling rendah.0.0. (1985).0. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3). Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al.93).85 . R = 0.01 RP air imobil 19x10-4 St. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum. tanah makin lambat perubahan kadar airnya. 1980). kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. ruang pori air imobil. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air.

kadar air tanah lapisan bawah. Fluks. fluks. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. fluks.. 1986). bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. 2.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit.ENNI D. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . 2. dan 3 Figure 3. dan kadar air tanah pada lahan blok 1. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. (40-60) cm. dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. Fluks. walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. Fluks. Rainfall distribution.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. Pada seluruh lahan. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). (020) cm nyata paling kecil. (1998). maka produksi tanaman dapat menurun. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). WAHJUNIE ET AL. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. (20-40) cm. fluks. 1998). Apabila kondisi ini sering terjadi. Distribusi curah hujan. flux. and soil water content at block 1. dan lapisan atas. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial. Menurut Allen et al. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. Shaxson dan Barber (2003). fluks.

R = 0.01 RP air imobil 19x10-4 St.34 30.04 RP mikro . Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.38 30.98 33 86 35.00 3. and 3 Tabel 5.0.00 36 100 0. dan 3 Figure 4.00 44 70 0.00 0.00 13.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro.11 81.00 9 100 0.03 RPAT .00 58. 2. Pori.00 4.00 2 100 0.99). Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 . lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2). ruang pori air tersedia.00 20. 2.25 18 100 0. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air.52 3.00 0. Irrigation water requirement at blok 1.00 71 67 0.00 4.06 10.48 4 90 6.99 34 89 2.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1.65 46 65 0.33 116.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.33 2 94 0.00 43 81 0.00 29 64 0.38 + 1. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.11 86.00 47 72 0.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78.00 8 97 0.0.00 28 61 0. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.89 56 74 0. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min. ruang pori air imobil. 2. dan 3 Table 5. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0.00 87 73 0.82 42. 2.39 4 100 1.75 1 100 0.

dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain.. 25 . walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. FAO. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). 3. KESIMPULAN 1. 2. namun karena pergerakan airnya kurang lancar. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. dan ruang pori mikro. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah. Raes. 2. diikuti oleh lahan blok 2. Semakin besar jumlah hujan. ruang pori air mobil. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. Smith. WAHJUNIE ET AL. ruang pori air mobil. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. terutama pada kedalaman (0-20) cm. kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. Pereira. and M. L. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. Rome. dan terakhir pada lahan blok 3. 4. dan ruang pori air imobil.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3).G.ENNI D. Pada lahan bekas sawah. R. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. 1998. Di samping itu. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. DAFTAR PUSTAKA Allen. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan.S. dan stabilitas pori. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). D. dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. fluks aliran air makin besar . Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. (Gambar 4 dan Tabel 5).

Inc Madison. 1996. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow. In Proceedings of Groundwater Quality 2004. J. Owens. J. Philippines. Soil Sci. and L. 1985. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil. Shaxson. Edwards.C. 56:52-58. V. Inc. B. Perfect. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil.A. and R. Soc. Am. Soil Sci. Klute (Ed. 2002. 54: 1530-1536 Stenhuis. Los Banos. Soil Physics and Rice. M. Ashcroft. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field .R. Owens. W. Special issue. Elrick. Kurnia. 68:6673. R. Soc. Soil Sci. A.A.K. Shipitalo. Dekker. Applied Soil Physics. and L.P. 79..S. 217-234. J. Hillel. In A. Effect of puddling on soil physical properties and processes. Departemen Pertanian.and mesoporosity from tension infiltrometer. Soc. Laguna.. Sukop. T..org/DOCREP/006/ Y4690E00. Dick.S. 1990. 2004. and R.K. Canada.S. L. Ritsema. Agron.C. Los banos. 2004. 28/2008 Bagarello. In IRRI (1985). http://www. 2004. J. Ghildyal. J. Soil Sci. Wagenet. S. Subagyono.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems.L. In IRRI (1985). 1986. the 4th International Groundwater Quality Conference. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. 696-701. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. Soc. Laguna. T. and S.) Methods of Soil Analysis. and C.B. Water and solute flux. held at Waterloo. Philippines. Pp 57-70.E. Haszler.J.B.Di.K.J. W.S. Badan Litbang Pertanian. dan S. 68:760-769.M.. New York. and G. Pp. and H. Am.J. Wisconsin USA. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue. 2004.M. Soc. Condron. Am. U. P. Heidelberg.H. Soc. 2004. New method for determining waterconducting macro. Dick. July 2004. Am. Haryati. Am. Prihar. and G. D. Geoderma 70:83-324. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters. Phillips. Cameron. Shipitalo. FAO Soils Bull. K. Tala’ohu.. 68: 1429-1436. Fundamentals of Soil Physics. Am. Cheng Si.H. G. Painuli. Soil Sci. Sur. M..saturated hydraulic conductivity. M. Xiao.J. Pp. 1985.fao. 1980. Dariah (Eds. International Rice Research Institut. Soil Sci. 1986. dan A. Am. J. and D. De Datta.. Optimizing Soil Moisture for Plant Production.J. 1992.M. 2003. B. F. J. Soc.HTM. F. lovino.J. E. Sharma. W. Hanks. Dunn. G.M. Bodhinayake.W. Soc. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. and L. Sugita. Barber. English. Soil Sci. Springer-Verlag. R. W. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model. 56:52-58. Soil Sci. 1992. Edwards. D. W. Kishii. H. 26 ... and M. and K. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. Am. Dalam U. Rachman. Torr. C. Academic Press.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Am. Soc.

In the heavier rice soil. This includes avoid planting land that is still saline. semi teknis. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. Aceh Besar. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. rusaknya sistem irigasi dan drainase. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. memperbaiki kesuburan tanah. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. improve soil fertility. desa.090 ha. salt accumulate closer to the soil surface. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 . dan Aceh Timur. Bogor. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. Leaching. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian.559 ha. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. sisanya seluas 56. Nagan Raya. 70. and grow salt tolerant crops. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal. 2003). garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. Keywords : Tsunami. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Aceh Utara. DAN M. commonly used to grow peanut during dry seasons. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian.139 ha. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. 2004. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). pasang surut. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. dan lebak) seluas 336. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam. Indonesia. Pencucian. enhance salt leaching horizontaly and vertically. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. tadah hujan. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. Aceh Barat. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. Provinsi NAD dengan total luas 5. 2. Nanggroe Aceh Darussalam. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. Kata kunci : Tsunami. Bireun. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. Salinity.458 ha dan di pantai timur seluas 179. Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. Salinitas. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. DEDDY ERFANDI1. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat.190 ha diantaranya berada di pantai timur. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1.

Selain pengambilan contoh tanah.. Selain lahan persawahan yang rusak. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. 28 . 2005). 1990). 1996. dan 12 bulan setelah tsunami. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar. jalan. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. Slavich. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Aceh Jaya. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. 1986. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. dan Peuneung di Banda Aceh. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29. 1998). Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima.000 ha lahan kering dari total 1.4 juta t ha-1 per musim tanam. maka dengan total luas sawah sebesar 336. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah. 1997). 2005). jembatan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. Khusus untuk contoh lumpur. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar.000 ha. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi.000 ton per musim tanam. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. sistem sanitasi dan lainnya. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi. 7. Cornillon and Palloix.9 juta ha yang ada. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1. 9. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah.2 t ha-1 per musim tanam. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah.. Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1.. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah. diperkirakan terdapat sekitar 184. Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi.

5. Sementara di Darussalam. 1999). Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. nilai ESP. 9. 3. Ca. Bogor untuk penetapan tekstur. daya hantar listrik (DHL). Berdasarkan hasil analisis tanah.. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. Tingkat salinitas (ECe). natrium (Na). 2003). dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. 4. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. dan 5 km untuk transek Lhok Nga.5 untuk kandungan liat 25-30%. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al. Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. dan 4. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. berkadar garam tinggi. sulfat. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm). Mg). pH. 2. kalsium (Ca). Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. 4. EC (electrical conductivity). 3. 2003. C organik. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. terutama dalam bentuk NaCl. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur.ACHMAD RACHMAN ET AL..5 km untuk transek Darussalam dan 1. dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes.5. dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). magnesium (Mg). bikarbonat dan klorin (anion). kalium (K). ESP. 2. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah.5. sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. masing-masing 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). dan mencemari air tanah (Cardon et al. 2005). Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran. kombinasi basa-basa kation (K. Nilai ECe. tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. 13. Franzen. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17.5. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga.8 untuk kandungan liat 1025%. 8.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan.6 untuk kandungan liat 30-45%. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3. merusak struktur tanah.

50 4. ESP.00 2. January 2005 45 40 35 30 0 .00 4. EC.50 3.00 3.00 4. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths.10 cm 15 10 . % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah.00 1.00 1.50 4.00 4.50 4.00 5.00 2.00 2.50 60 40 Na. and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai.00 4.50 2.00 2.20 cm 20 0 .00 4. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.00 0 1.50 3.00 2.00 2.00 5.00 4.10 cm 15 10 .00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.50 0 1.50 4.00 2. Januari 2005 Figue 1.50 3.50 4.50 3.50 3.50 4.50 4. (km) Jarak dari pantai km Gambar 1. % 25 20 15 10 5 0 1.50 2. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .00 2.50 3. Nilai EC.00 1.10 cm 10 . EC. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. January 2005 .00 2. % 25 20 15 10 5 0 1.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dS/m ESP (%) ESP. dS/m ESP (%) ESP.50 4.00 4. 28/2008 Jarak dari pantai.00 5.00 3.20 cm 120 100 80 0 .10 cm 10 .50 2.00 5.00 3. ESP.10 cm 10 . km Gambar 2.50 3.50 3. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.00 5. Januari 2005 Figure 2. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.20 cm 10 5 20 0 1.00 1.20 cm 20 0 .50 3.00 1.50 4. ESP.00 4.00 5.00 4.20 cm 10 5 20 0 1.00 1.10 cm 10 . ESP.EC tanah (dS m-1) EC tanah.00 60 40 Na.20 cm 120 100 80 0 . Nilai EC.

lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. Pertumbuhan tanaman terhambat. makin mudah tanah terdispersi. Makin tinggi kandungan Na tanah. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi. ESP. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian. kacangkacangan. Menurut Emerson dan Bakker (1973). OH-. dan HCO3-. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik. Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. ECe. lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah.ACHMAD RACHMAN ET AL.4). Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. mengganggu keseimbangan unsur hara. kecuali K yang rendah sampai sedang (0. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. Rata-rata (n=20) nilai pH. jagung. dimana tanaman padi. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. Mg. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. kolam. dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna.4±0. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. sumur-sumur.5±1. cekungan. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm.

1) 18. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar.6 (31. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.3 (4.5) 19.3) 8.8 (48.86 84.2) 5.2 (0.1 (1.6 (1. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.0) 15. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .7) 5.9 (11.5) 13.6 (9.2 41.3) 56.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.4 (0.1 (1.8 (4.8) 23.85 0.7 (11.5) 11.5 (12.9) 28. Dengan demikian.5 (4.3) 1.8) 7.3 (17.8 (0.0) 5.2) 68.2 (8. rendah di Aceh Barat.0 (15.2 24. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.0) 4. Aceh Jaya.8) 14.8 di Aceh Jaya dan 5. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.8 (15.57 10.8 12.27 0.2 (12.87 18.3 42.84 Tabel 2.2) 14. dan kualitas bijinyapun kurang baik.2 (0.8) 25.9) 31.7) 0.9 (16.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.2 (0. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.93 4.62 20.…. Reaksi tanah umumnya masih masam.0) 4.80 0.8 (1.8) 7.9 (8. 52.69 6.8) 0.72 2.5 dS m-1.8 7. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.3) 1.0 (5.3 (28.80 C % 2.0 (1.4) 7. dan meningkatkan kualitas buah.8) 4.0) 0.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.2 (3.8 6.3 (10. 1990) menjadi 5.6 (9.5 (4.25 15 .2) 2.3 (0.95 19. cmolc kg-1 ………….0) 22.0) 4. Aceh Jaya.0 (5. memperkuat batang tanaman.6 (1.5) 7.2 (19.11 2.8 26.9 (34.57 26.8) 16..4) 7.1) 3.2) 14.54 2.2 (12.6) 19.85 56.1 (2.0 (24.0 (4.2) 2.9 (24.5 (10.3 (18.9 Tebal lumpur cm 10 .5 (21. % ….9 (23.2 (9. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4.9) 15.1 (29.3 (0.1 (2.1) 6..0 (3.0 (1.3) 5.7) 0.2) 22. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat .0 (17.3 (4. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.2) 7.3) 41.8) 5. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67.8 (7.97 2.2 42.6) 27.6) 24.7 (19. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.6) 6.5) 0.3 (31.7 (0.46 13.1) 16.1) 5.5 (1.11 24. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).8) 31.4 (0.7) 9.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.4) 0.3 (5.3) 23. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.4) 4.1 (8.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.82 18.1) 2.8 (0.5 (5.11 38.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.9 (24.4) 7.1) 34.2) 14.1) 7.3 (12.36 13.1) 7.19 80.69 18.1 di Aceh Barat.4) 5.5) 21.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na …………. Mg dan Na tinggi.6 (203) 2.3 47. rata-rata di atas 5. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.5 (91.5 (0.4) 43.6) 0.0 (1.9 (17.86 19. 24.3 (0.5) 16.3) 5.20 15 .7 (4.8) 4.22 2.3 (10.7 (17. 28/2008 Tabel 1..6) 145 (275) 2.4) 16.9) 8.3 (31.93 8.2 (1. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.23 59.

Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Pidie. Aceh Besar.ACHMAD RACHMAN ET AL. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6). dan D) Peuneung.000 2000 3. November 2005.000 1500 1. Pidie. Panteraja Pidie.000 1000 Cl (ppm) 2.000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1. Gambar 4 A. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Banda Aceh 33 . dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut. Aceh Besar.500 2000 2. C.000 4000 4.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.000 Cl (ppm ) 2000 2. B) Panteraja. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1. dan Peuneung Aceh Besar. Pidie. B. C) Lhok Nga.400%) dari bulan September. Lhok Nga. Pidie.000 4000 6.000 4000 D 0 O 0 1000 1.000 3000 3. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah. C) Lhok Nga. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat. A O 0 2.000 2000 Cl (ppm ) 4. Banda Aceh Figure 4. baik secara horizontal maupun vertikal. and D) Peuneung.000 3000 4.000 6000 8.000 10. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1. dan Oktober 2007. B) Panteraja. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram.

Banda Aceh Figure 5. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. khususnya sawah.26* ECa) – 0. C) Lhok Nga. Pidie. Aceh Besar. C) Lhok Nga. Dengan memasukkan angka ECa=1.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 . adalah: 1) tindakan pencegahan. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. dan D) Peuneung.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. and D) Peuneung. B) Panteraja. Pidie. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian. (1989).94 r2 = 0.72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5. di daerah bekas tsunami. Pidie. Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Pidie. Aceh Besar. 2) tindakan rehabilitasi. B) Panteraja. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi.

Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. and D) Peuneung. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. Pidie. Aceh Besar. Pidie. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. Banda Aceh nang secara permanen. B) Panteraja. Pidie. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 .ACHMAD RACHMAN ET AL. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. Aceh Besar. C) Lhok Nga. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. C) Lhok Nga. dan D) Peuneung. Banda Aceh Figure 6. Pidie. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. B) Panteraja.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

Sediment.06 l detik-1.10 ± 0.38 ± 0. Sebaliknya. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk.20 kg P. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004. and Improved Technology + Rice Straw. Nitrogen. Sedimen. Bouman and Tuong.07 to 0. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.06 l second-1. Sawah berteras was about 1. dan Perbaikan Teknologi + Jerami. kawasan industri dan fasilitas jalan.521 kg ha-1 season-1. 1996.15 l second-1. the Semarang District during the Wet Season 20032004.20 kg P. 0.38 ± 0. hara terlarut (nitrogen. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 .25 to 13. Improved Technology.31 ± 0. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2.13 and 0. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama.13 . Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen. Furthermore.32 ± 0. 2002). phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. In contrast.28 dan 1. both for sediment and nutrient deposited.13 ± 0..10 ± 0.20 and 1. Kalium.07 dan 0. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi.31 ± 0. Perbaikan Teknologi. Phosphorus. yaitu antara 0. Sebaliknya. 2007). The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season.15 l detik-1.13 ± 0.20 sampai 1. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan. The treatments included Farmer Practices.52 l second-1. At generative stage was about 1.15 to 0.0.09 l second-1. yang bervariasi antara 7.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji.55 l detik-1. like nutrient and sediment conserving.23 sampai 3.06 to 1.20 and 13. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia.42 kg K ha-1 musim-1. Fosfor. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras.55 l second-1. Secara statistik.32 ± 0.62 kg N.34 l detik-1. Perlakuan yang diuji. Keywords : Discharge. but also providing an environmental services. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0. menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al.60 ± 0. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. dan (4) pencemaran air.54 ± 0. Nitrogen. sedangkan pada stadia generatif antara 1.55 ± 1. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.521 kg ha-1 musim-1.89 ± 0. dan 7. yaitu antara 0.715 to 5. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.78 ± 0. Farmer Practices + Rice Straw.15 dan 0. Oleh sebab itu. 0. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village.33 ± 0. Potassium.54 ± 0. 2001.78 ± 0. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan.06 dan 1.21 ± 0. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit.25 .34 l second-1.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2. Praktek Petani + Jerami. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0.52 l detik-1. and from 7.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0.89 ± 0. BPS.13.55 ± 1.13. There were no significantly different among treatments.42 kg K ha-1 season-1.715 sampai 5. Selanjutnya. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan. dan bervariasi mulai 2. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim.23 and 3.60 ± 0. meliputi Praktek Petani.09 l detik-1. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1.62 kg N. varying between 7.28 to 1.21 ± 0.33 ± 0. 1. industri dan rumah tangga.20 . dan pada stadia generatif antara 1. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan.

sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. 1971.. Bouman and Tuong. Namun demikian. Kukal and Sidhu. 2000. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts). 2007). Selanjutnya. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya. 1998).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0. Visser et al. Toan et al. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. Cabangon and Tuong. Sukristiyonubowo. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. topografi lahan. 2005. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau.10 g kg-1 air (Bhuiyan. 2003 dan 2004. 1998. Phomassack et al. 2006. 2006. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan.14-1. Sukristiyonubowo. Lal et al.. Berkaitan dengan iklim. sifat kimia tanah. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion). (1976). 2003. 1986.. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al. IWMI.. Agus dan Sukristiyonubowo. Sanchez. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. Robichaud et al. 2005. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim. 2004). Lal. Sukristiyonubowo et al.. air (water erosion). Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. kecepatan infiltrasi. 2003. 2003. Lal et al.. Kirchhof et al. Naphade and Ghildyal... Agus et al. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. Sukristiyonubowo et al. Aksoy and Kavvas. Daniel et al. 1973. 2002.. 2000. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. Sukristiyonubowo. 2001. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India.. intensitas. dan Douglas et al. 1998. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). Filipina.. tanah. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. Duque et al. 1994. 2002. penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan. Secara spesifik. 2004). Adachi. Bhuiyan et al.. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull. kondisi kelembaban awal tanah. 1971.. Sharma and De Datta. 2007). 1990. Cabangon et al.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al.. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. tipe penggunaan lahan. dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian.. 1998. 2003. 1998. 1977. 2003. pengolahan tanah (tillage erosion). 1970. 2007 dan 2008). Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). Tabal et al. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill). 2003. Udawatta et al. . (1998) melaporkan bahwa jumlah. 1992.. Kissel et al.

Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). Pada perlakuan FP. 2007. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. dan 100 kg KCl ha-1 musim-1. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS).SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. Dua belas sawah berteras. Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. Kabupaten Semarang. Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. 41 . petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. Teras bersifat datar. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. Urea diberikan dua kali. berlainan ukuran. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea.5 for Windows. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. 100 kg TSP. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. 2008). dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). Saluran air masuk pada teras paling atas. sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST.140 mm (Sukristiyonubowo. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). 2007). yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova). Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet). Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar.

Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja.26 2.500 3..dan NH4+)... ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30.040 4.500 5. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen. 42 . pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00..400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan. pengembalian jerami... komunikasi pribadi.070 2.. Tanggal tanam.. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1. P (PO4-).48 2.000 4.. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2.530 3.64 2.15 2. Pada saat pelumpuran. kg ha-1 musim-1 . dan K (K+) terlarut.97 3.780 1. 28/2008 Tabel 1. the total amount of returned rice straw. pengamatan diakhiri pada jam 17:30.680 904 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Date of planting.15 Takaran Urea TSP KCl . Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah. dan kunjungan lapangan Tabel 2. Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3. Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5.300 5..240 1.

dan 16:00. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1. sedangkan kalium dengan flame photometer. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). Dalam makalah ini. dan 16:00. Unsur N. Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Pada stadia vegetatif. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. fosfat (PO4-). pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. dan konsentrasi N. P. 12:00. yaitu pada jam 08:00.000 43 . Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. yaitu jam 08:00. namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. pengambilan contoh air irigasi.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. Ammonium (N-NH4+).000/t dimana. Pada stadia generatif. Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif. P. 12:00. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. Bogor. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Data yang dikumpulkan meliputi debit.dan NH4+). pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. kadar lumpur.

yaitu berkisar antara 0. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air.60 ± 0. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. Akibatnya. kebutuhan tanaman padi akan air. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. Alasan penggunaaan metode pengukuran. P dan K sebagai ganti kadar lumpur.15 l detik-1.38 ± 0.06 liter detik-1. Oleh karena itu. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi.10 ± 0. 2004). Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008).000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. WMO (1994). air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma.23 sampai 3.15 sampai 0. Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989).. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al.33 ± 0.28 sampai 1. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. sawah memerlukan air yang paling banyak.55 l detik-1. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi.54 ± 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al. Selanjutnya. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm.55 ± 1. dengan cara memasukkan konsentrasi N. namun dapat meningkat hingga 650900 mm. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1. Pada stadia vegetatif. Secara umum. mempermudah proses pelumpuran. Bouman et al. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif.

10 ± 0.17 0.015 0.021 0.46 1.015 0.267 0.220 0.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.28 a IT 1.580 3.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.60 ± 0.177 0.237 + + + + 3.20 0.50 ± 0.13 1.38 ± 0.39 a IT 1.31 ± 0.55 ±1. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.280 0.223 0.34 0.015 0.07 0.34 dan 1.243 0.521 a a a a a a a a 1. ukuran teras dan luas lahannya.19 0.14 1.15 a Stadia generatif FP 1.55 a* FP + RS 2.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.150 + 565 a a + 1.260 2.21 a IT 0.021 0.220 0.068 3.57 ± 0.420 ± 0.025 0.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.010 0.025 0. MH 2003-2004 Table 3.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.21 0.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.450 2.170 0.093 2.52 0.015 0.12 a IT + RS 1.012 0.13 1.05 b 0.017 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.89 1.015 0.090 0.17 1.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.306 0.088 + + + + 2.50 ± 0.287 0.36 0.09 c 0.38 0.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3. konsentrasi sedimen.150 4.78 0.23 a IT 2.313 0.026 .54 ± 0.307 0.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.247 0.490 ± 0.45 ± 0.23 a IT + RS 1.267 0.273 0.020 0.33 ± 0.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.203 0.243 0.223 0.015 0.53 a Sebelum tanam FP 1.267 0.10 liter detik-1.12 0.835 0.24 3.015 0.021 0.06 a FP + RS 1.045 0.237 0.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.46 0.31 1.237 0.550 2. 45 .51 ± 0.20 0.021 0.35 ± 0. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.37 a FP + RS 0.10 + 686 a a + 1. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.11 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.28 ± 0.27 a IT + RS 2.283 0.870 a .180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.280 0.237 0.021 0.51 0.715 5.25 0.84 ± 0.20 a FP + RS 1.021 0.015 0.37 ± 0.27 0.173 0. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).15 a IT + RS 0.36 ± 0.11 a a a a a a a a a a a a 0.229 2.051 0.774 a . debit larutan sedimen adalah lebih rendah.250 0.30 0.946 5. Rata-rata debit.32 1.1.42 1.310 ± 0.19 a 0.06 0. sediment concentration.330 ± 0.14 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.012 0.46 ± 0.20 0.880 3.22 0.237 + 655 a a + 1. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.13 a IT + RS 0.284 a . Average discharge.010 0.06 1.207 0.783 1.283 0.79 ± 0.39 ± 0.1.09 0.51 a FP + RS 0.19 0.17 1.15 1.030 0.35 0.72 ± 1.54 ± 0.608 a 0.11 0.303 ± ± ± ± 0.025 0.243 0.05 a 0.28 a IT 0.1.031 0.

pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya. Kadar lumpur larutan sedimen. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam. 2004).88 ± 1. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan.3.. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system). Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3). saat pelumpuran adalah yang paling tinggi. lebih tinggi 2. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah.260 sampai +2. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca . debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah. Pada saat pelumpuran. tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al.42 sampai 3.31 ± 0.09 g l-1. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi. Selama perioda pengukuran. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah.49 ± 0. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1). Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. yang diukur pada saluran air keluar utama. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari). Akibatnya.70 .58 ± 1. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). Sebaliknya. Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Namun. Sebaliknya.13 g l-1.19 sampai 0. Selain itu.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1.870 kg ha-1.

Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008). MH 2003-2004 1250 1. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran.000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1. penurunan kwalitas air.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 .250 1000 1. Sebaliknya.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. MH 2003-2004 1250 1. MH 2003-2004 Figure 1.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. MH 2003-2004 1250 1. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1). erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate). Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan.589 kg ha-1 musim-1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1. MH 2003-2004 1250 1. dan lain sebagainya. oleh sampai 480 keluar. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. pada stadia lainnya (tanam.

kopi (Coffea arabica). tergantung pada perlakuannya. atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N.68 ± 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis). Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah. Oleh sebab itu. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS).04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata.12 mg kg-1.86 ± 0. tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1. - 48 .04 sampai dengan 2. yang bervariasi dari 1.13 ± 0. Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan. konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi. Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4).06 sampai 0. selain volume air irigasi dan larutan sedimen. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen.dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1.dan N-NH4+ oleh air hujan. konsentrasi PO4.15 ± 0. Poss and Saragoni (1992). 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar. Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991). mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. amonium (N-NH4+).04 mg kg-1.09 mg kg-1 (Tabel 5). Seperti halnya pada air irigasi. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1. Diantara hara yang terlarut. Konsentrasi PO4.01 sampai 0. amonium (NH4+). sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1. bervariasi antara 0.02 sampai dengan 2. Meningkatnya konsentrasi NO3.80 ± 0. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji.0 sampai 5. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1.77 sampai 1. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif.terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah.34 ± 0. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi.21 ± 0. Variasi konsentrasi nitrat (N03-).05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5). konsentrasi NO3. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5). sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen. yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture). Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif.04 sampai 1.pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya. yaitu antara 0. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site).6. cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ). yaitu N03.antara`0.56 sampai 1.

78 1..18 1.86 ± 0.03 0.29 ± 0.77 1.22 0.050 0.02 0..030 0... faktor lain seperti debit. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras...01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.025 0.. Concentration of dissolved N.01 0..80 ± 004 a 1.45 ± 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.01 0.02 0.. P..04 b 1. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya.025 0.79 1....67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.28 1....025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.00 0.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0...01 0...04 0.66 1..035 0.04 0.15 ± 0..14 2.65 1.012 0.035 0.dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen..01 0.035 0.020 0.07 0.. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS). dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi. P.86 1.30 0.07 ± 1. MH 2003-2004 Table 4..04 0..02 0.36 0. 0.030 0. Selanjutnya. 49 ...025 b 0. mg kg .04 0.030 0.01 0.04 0.07 0.006 0.34 ± 0...36 0.. Sukristiyonubowo.05 0.59 1.025 b 0.030 0.86 1.08 0.03 0..030 0..006 0.15 0.05 0.04 0.70 0..012 a 0.14 ± 0. dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 . and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.02 0.055 0.05 0.015 b 0.47 0.030 0.025 b 065 ± 0.06 0.010 0..10 0.015 0..021 0.72 1.15 ± 0.025 b 0.59 1.015 0..01 0.015 0.04 0.65 1..08 0. 1970.01 0...010 a a a a a a a a 1. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras.012 0.07 0.01 2..006 0.01 0. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull. P.03 0..46 ± 1....08 0. Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-..86 2.34 1.035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi.20 ± ± ± ± 0..01 0.21 1.015 a 0.12 ± 0..02 0.01 0.02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0.01 0.065 0.02 1.03 ± 1.01 0. N-NH4+..79 1. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007)..035 0.45 ± 0.04 a 2. PO4..84 1.05 0.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.56 1.025 b 0..16 2..01 0.19 1.04 0.03 0.030 0.04 0. 2007).05 a 1.10 0.79 1. pemupukan.01 0.01 0.09 0.01 ± 1..SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4...58 1.72 1... Konsentrasi N...04 2....01 0..045 0..09 0.06 0.83 0..76 1.12 0..98 1....07 0.79 ± 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.012 0..02 0.95 2..

dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda.03 0.10 1.. Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif.02 0. dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.21 1.02 0.03 0...31 1.05 0.67 1. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar.10 1.34 0. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar.03 0.06 0. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .12 0.. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari).04 0.10 0.02 0.05 0.07 0.02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.75 1..02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N..04 0.90 1.85 1.03 0.60 2.17 0.02 0.03 0.01 0.04 0..01 0. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi.... apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6).04 0.10 0.08 0.02 0.09 0.10 0.. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4..60 1...03 0.80 1.02 0..73 1.30 1.....38 1.. atau negatif..05 0.09 0.57 1. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03.04 0.. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut.02 0.03 b 1.02 0. Akibatnya.44 1.62 ±0.. 0.02 0..06 0..62 1.03 0...03 0.06 0..02 0.05 0.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. mg kg-1 . Seperti halnya pada pergerakan sedimen. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N..85 0.99 1...04 0.03 0. 28/2008 Tabel 5.04 0.. MH 2003-2004 Table 5...03 b 1.31 0.03 0..03 0.04 0.04 0..70 1.03 0.73 1.15 0.12 0..04 0. dan antara 3.03 0.03 b 1.47 1..01 0..05 0.02 0.07 0..04 0.29 1. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari)..05 0. P.14 kg P..05 0.04 0.03 0.01 0.01 0. 0.13 1.02 0.14 dan 9.02 0..03 0.54 ± 0..68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.06 0..46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.06 0..01 0.01 0..09 dan 1..06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.69 0..13 0..01 0.07 0..06 0.09 0..05 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.75 1..02 0.01 0.68 1......90 kg N.57 ± 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.89 0..75 1. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.56 1.80 0..69 1.01 0. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.06 0.06 0.03 0.54 1.01 0.75 1. Konsentrasi N..07 0. Concentration of dissolved N..32 1.01 0.02 0.13 0.57 ± 0.96 dan 8.28 kg K ha-1 musim-1..05 0.02 0. N (NO3 + NH4+). P.58 0..01 0. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.43 0.03 0...05 1..01 0.54 1.06 0..03 0. and K in suspended sediment during rice growth.47 1.97 0..11 1...02 0. P.67 1.. P.02 0.03 0.03 0.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1.04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0.

30 1..96 44. KESIMPULAN 1.33 0.51 12.60 ± 0... Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.15 l detik-1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.86 9.60 3.54 ± 0. P....56 3.018 0. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar....144 0.. 0.162 0.422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.32 a a a a a a a a a a a a 13.13 4.0..30 2.130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0..090 0.80 2...060 0.090 0.80 10....20 kg P dan 7. N.13 ....78 49.. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K . yaitu 51 .64 3.90 19.90 2.20 .00 5.24 6..20 a 0.13.06 1...51 0.22 0. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.48 3. 0.090 0.37 13.002 0.86 0.80 1..040 0..30 36.20 0.68 b 4..256 0.38 ± 0.040 0..05 12. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti.80 a 10.28 3..58 b* 1.57 0..80 6..40 1. berkisar mulai 2..050 0.68 15.80 2..58 5.144 0. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air..90 20..010 0. kg ha-1 musim-1 .36 0..145 0.46 0. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1.16 4.060 0.55 0.20 a 4.060 0...282 0.64 2.030 0.....55 l detik-1.40 11.06 5.010 0.70 8.92 42.34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.030 0.402 0..12 1.56 ab 9...42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.80 14..99 28...74 7.030 0.288 0.270 0...54 4.66 10..30 6..20 sampai 1..87 1..270 0.50 12.040 0.030 0. dan pada stadia generatif berkisar antara 1..62 a a a a a a a a a a a a 0.50 9. Incoming and outgoing dissolved N.08 1...70 22.52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.18 0.62 kg N.186 0.48 a a a a a a a a a a a a 0..050 0...28 sampai 1.20 6.070 0..58 36..196 0.192 0...84 8. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi.42 7. Dibandingkan dengan debit air irigasi.96 19.. MH 2003-2004 Table 6.23 sampai 3.33 ± 0..50 0.98 8.20 22..030 0.458 0.003 0.42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6).90 a a a a a a a a 16.10 ± 0...33 1.38 1.28 2.....040 0.60 12..10 9.24 27. yaitu antara 0.34 0.55 ± 1..31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22.30 a 23.126 0.030 0...89 ± 0.87 39.060 0.76 12. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi...62 a 13.018 0.06 l detik-1..96 8.93 0.70 1.46 15.180 0.25 ..10 4..90 11..92 4..25 11.90 1.31 ± 0.26 6.60 b 25..00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0.90 1.072 0.15 dan 0...50 ab 29.080 0.002 0..090 0.41 0.126 0.52 b 0.20 a 10.90 9..14 9.13.002 0.00 9.002 0.52 a 12.64 0.03 19..030 0.020 0.07 a 7.20 a 13.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.62 2.50 6.76 31.42 6..80 29.. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0..... debit larutan sedimen adalah lebih kecil.008 0.130 0.36 a a a a 0.. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar..

I.P. 1978. Effect of rice-soil puddling on water percolation. Water management in relation to crop production: case study on rice.490 ± 0. Aksoy.M. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. F. palawijo dan sayur. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran. A.R. Water. Bhuiyan.13 ± 0. Pp 146-151. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7.. lebih tinggi sebesar 2. E. In: Maglinao. BIMAS. Agus.62 kg N. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. 28/2008 antara 0. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia.). Integrated catchment management for land 52 .. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2..78 ± 0.). 2005. S.09 l detik-1.20 kg P. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. 19 p. May 31-June 3. Maglinoa.. Watung. and K.2013. and D.32 ± 0. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah.W. Vadari.13 g l-1. S. Anonim. and Rego. Pp 186-193. Bhuiyan. 1994. Bangkok. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen. and Sukristiyonubowo. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. Agus. Burwell. 1996.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Paper presented at the International Workshop on constrains. V.L. Kavvas.25-13. 0. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed.09 g l-1.T.07 dan 0. Agricultural Water Management 31:165-184. Agricultural Water Management 37:241-253. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata.. S. (Eds. Rekomendasi pemupukan N. C. Anbumozhi. 1998. Outlook Agriculture. Sukristiyonubowo..E. 2.42 sampai 3. Valentin. 2003. 64:247271. 1977. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model. G.A.70-3.E. and Penning de Vries. Sebaliknya. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth. A. H. T.88 ± 1. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. Bhagat. Wet seeded rice: water use efficiency. fosfor. hara terlarut (nitrogen.I. (Eds.L.I. K. Sattar. 21:293-299. dan 7. Ramakrisna. Pada stadia generatif bervariasi dari 1. Bhuiyan.715 sampai 5. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.. and H. In Wani.58 ± 1. M. and innovations for wet seeded rice.J. and C.. and T.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2. 2007. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran.E. F. Journal of Environmental Quality 7:203-208. R.207 ± 0. F. Catena. Departemen Pertanian. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0. 1994. Bercocok tanam padi.012 sampai 0.21 ± 0. 280 hlm. R. Alberts. Pp 135-149. DAFTAR PUSTAKA Adachi.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. Anonim. opportunities.F.13-0. S. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. Tabbal. 1990.R. 1992. productivity and constraints to wider adoption. T.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Valentin. Schuman.. 2003.06 sampai 1. Moody. 286 hlm. Departemen Pertanian. E. water regime and fertigation level. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras.52 l detik-1.42 kg K ha-1 musim-1. A. selain sebagai tempat memproduksi beras. and R.. Yamaji. Tabuchi.

and Rego. and J... Daniels. Ghildyal. Bains. and R. Ilao.A.. T. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion. Demyttenaere.P. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines. 1998. In Kanwar. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. 2002. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman. K. 1989. J. K. B. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. and J. King. Doctorate Thesis. Castaneda.W. N. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. C.B. Phommassack. S. and T. and Kerr. Sharpley.K. P.. C.. Water facts. BPS. 207-222. and T. and T. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice. B.E.A.P. 2002. Soil and Tillage Research 56: 105-116. T. N. 2005.O.. Logan. L. (Eds. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR. C.. Kissel. Miller.M. 2004. Cabangon. CABI Publishing in Association with IBSRAM. Marchand.S.P.J. Tuong. and soil loss. J. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek..). 2001. and V. S. and H.K. P618.V. Duque Sr. D. T. Soil and Tillage Research 78:1-8. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. Journal of Environmental Quality 5:288-293. A.. A. Utomo.M. MSEC-Lao PDR Annual Report.M. T.J. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. Datta. Chaplot. F. C. 203 p.P. Tiongco.). Caughlan. B.W..S.. Los Banos. Lemunyon. and Rego. Cabangon. CD-Rom (one CD). Ramakrisna. Visperas. (Eds.R. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview.B.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman. A. IWMI Brochure... C. S. Naphade. Ramakrisna. IWMI (International Water Management Institute). Carpina.P.M.S. 1998. A. A. Lal. Quita.A.D. (Eds. R. R. and A. Agricultural Water Management 49:11-30. ion uptake and rice growth..R. Monitoring of weather. MSEC-Philippines Annual Report.D.).S. Thonglatsamy. and Biswas. and E. and N. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems. G. Pp 163-178.N.J.P. De Datta.D. J.. 53 . C. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. S. S.L. 1971. Bhumbla. Lal. Hashyim.. B. Dacanay. Maglinoa.P. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. D. Bains.S. In: Wani. Soil and Tillage Research 56:37-50. So. A. (Eds. runoff.J. Kirchhof.C.. T. Priyono.V. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops.. 1976. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L.. 2000.. de Rouw.. E. P. D. Pp 499-509 In Kanwar. Zuzel.J. Sihavong.F.P. and Biswas.P. T. IBSRAM-Thailand proceedings. 57:11-31. Soil Erosion at Multiple Scale. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts.T. Douglas. Santos. T. Jr.). Journal of Environmental Quality 27:1170-1177.M. Pp. Adisarwanto.P. A. and T. Maglinoa. In: Penning de Vries. IRRI. Pp 510-517. Bhumbla.. Agus. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. R. R. Phillipines. T.R. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon. Peng. A. R. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics. S. Abdullah.E. Valentine. J..R. Sidhu.. Principles and Practises of Rics Production. In Wani.. (Eds. and B. Tuong. S. de Guzman. Statistik Indonesia. 2003.. S. 2004. Journal of Environmental Quality 27:251257. Agricultural Water Management.L. 2000. N. 1998. F. El-Swaify. 1998. G. R..H. Chanthavongsa. Ghildyal. Burnett. F. Richardson.) field. 1981. Tuong. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation.). 1991. Datta. 1971. W. 2003.S. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. S. Kukal. Syers.J. 1998.A.S.. and J. Biro Pusat Statistik.R.

5:139-178.. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo. Verloo. Puddling tropical rice soils: 1. Nutrient losses by wind and water. In The International Potash Institute (Eds. 54 . Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute.D. F. Udawatta. Growth and nutritional aspects. Taball.B. Schuman.). L.).. Soil Science 115:303-308.J. Physical properties and processes of puddled rice soils. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils. Sukristiyonubowo. WMO (World Meteorological Organisation). 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Lillybridge. and L. CD-Rom (one CD). 117:39-48. A. and Rego. Operational Hydrology Report No. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. A. T.A. Visser. 2003. 1992. and J.K. Fifth ed. Agricultural Water Management. and F. Ghent. Fertilizer Research 33(2):123-133. Belgium. Leaching of nitrate. L. Vadari. 64: 1-22. S.T. and J. 151-164.P. Advance Soil Science. Yuqian. 2003. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Stroosnijder. Nguyen.P. R.D. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. and R. In Maglinao. PhD thesis. P. T. 169p. Wagenbrenner.M.K.. T. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition). Saragoni.. Uexkull. Maglinoa.. Agus. Garrett.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. Agus. Motavalli. D.A. A. 1974.W. USA. Data acquisition and processing.E. Sharma. R.F. V. 686.. Lao PDR on 14-17 December 2004. 1989. Bhuiyan. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD). 2006. 2002. 67: 56-67. D. Valentin. Krstansky.M.R.. Bouman. B. 735 p. 1973. 2007. Poss. (Eds. Sattar. Guide to hydrological practices.I. and W. 1986.E. WMO-No. Journal of Environmental Quality. 2008. T.W. and Penning de Vries. Sanchez. Robichaud. 2004. 4:366-369. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. Sukristiyonubowo. Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. Burwell. Hlm 225-245. and M. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry.). De Datta. analysis.J. S.168. 413-416. case study in the Philippines. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment.. forecasting and other applications. 184 p. Departemen Pertanian. measurements and modelling. Catena. Faculty of Bioscience Engineering. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly.E. Phien. F. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. and M. R. In Wani. WMONo.R. P. P. 2005. 56:93-112. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). 1994.H. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice.P. Watung. Ramakrisna. (Eds. Pp. 2006.. T. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. G. D. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian.. Gabriels. Sukristiyonubowo. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems.J. C. H. S. E. P. and S. Agriculture Ecosystems and Environment. Pp. Toan. Ghent University. CD-Rom (one CD). Badan Litbang Pertanian.A. MSECVietnam Annual Report. Chardon.R.R.29. Sibayan.L. Phai.R. Catena. and H. 1970. Sukristiyonubowo.

and high P content variabilities. Cadd. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. IPB. Kaolinitic. 69. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. 1998). The experiments used completely randomized block design with four replications. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Smectitic. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. Bogor. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. Cornforth et al. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. 2. kadar liat. Namun demikian. Fe. exchangeable Ca. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. clay content. Newman and Hayes. while the correlation of pH. P uptake response with P fertilizer was not significant. In kaolinitic soils. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Smektitik. and Al were not significant. sedang dan tinggi. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. 2002). Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. Serapan fosfor. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. ISSN 1410 – 7244 55 . kadar liat. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. sedangkan pH tanah. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. and Al were not significant. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. Fedd.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. 46. Departemen Statistika. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. In smectitic soils. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. exchangeable Ca. dan 115 kg P2O5 ha-1. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. Kaolinitik. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. while the correlation of pH. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Cadd. clay content. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. 69. Thus. Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. Fe. sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. 1990. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. Padi sawah Keywords : Soil properties. sedangkan pH tanah. Bogor. 23. 1990). applied as superphosphate (SP-36). medium. MASJKUR1 DAN A. 23. In kaolinitic soils. Tan. Phosphorus uptake. Fedd. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Pada tanah kaolinitik. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. 1990. 46.

kandungan bahan organik (C organik. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. besi oksida bebas. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Fe. 150. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7).. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. P Bray 1. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. N total. Contoh tanah dikering-udarakan. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. dihaluskan. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. Purworejo 2 (P sedang). dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. pH (H2O dan KCl). 46. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. Adapun fraksi Al-P. dan Na dapat ditukar. 2. Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. Fatmawati. 1999).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 56 . Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. 23. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Mg. K. Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. dan 3). Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). fraksi Ca-P. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. dan Zn dapat ditukar (DTPA). sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. Kedungrejo (P tinggi). dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. 2005). Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. 200. dan 8). pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. C/N rasio). dan diayak dengan saringan 2 mm. Cu. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. 100. Ca. merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. 7. Purworejo 2 (P sedang). Fe dan Mn dapat ditukar. P dan K HCl 25%. 69. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. Mn. 28/2008 pulau utama. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen.

1 5.04 0.0 4.38 1.45 0.57 1.67 0.2 5.7 4.5) H2O KCl 5.1 4.6 2.2 1.48 0.62 0.09 0.52 11.77 0.13 0.6 1.07 0.02 0.2 81.5 15.15 0.30 0.80 2.73 0. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.1 5.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.01 0.0 1.38 1.0 11.01 0.12 0.7 26.2 5.4 2.0 4.88 2.3 0.6 1.0 4.5 25.4 4.66 2.37 11.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.0 9.1 5.2 5.14 0.7 24.84 3.3 11.59 1.2 3.6 3.4 74. g 100g-1 .9 21.68 0.97 1.15 0.65 0.1 5.29 12. ….09 0.97 0.0 83.77 0.25 2.01 3.5 1.09 0.14 0. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.4 1. g 100g-1 ….53 11. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.50 10.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .38 2.4 1.01 0..05 2.5 65.38 12.45 3.89 0.31 1..44 3.05 0.12 0.7 2.96 12.73 0.0 5.1 4.2 1.01 0. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….39 1.01 3.11 0.97 0.57 3.01 0.3 1.02 0.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.01 0.73 0.49 1.26 12. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….….70 0.0 4.31 0.63 0.81 2.45 9. ….01 0.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.08 0.46 2.65 0.67 2.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .24 9.0 3. me 100g-1 ….22 1.82 3.….14 0.…………… me 100g-1 ……….31 2.65 1.09 0.1 4.01 0.24 0.0 4.2 5.14 0.0 3.13 11.19 3..6 12.0 2.01 0.46 1.79 13.53 1.6 1.82 0.8 5. mg kg-1 …….8 1.6 1.1 5.10 2.13 0.9 11.2 2.2 1.0 3.55 0.67 1.69 1.02 0.95 3.2 1.51 1.11 0.69 1.02 0.1 1.81 0.Tabel 1.32 0.0 4.58 3.34 1.07 0.14 1.56 0. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.97 1.09 0.4 16.….3 5.2 4.2 3.6 1.81 0.46 2.0 4..….4 1.0 4.73 2.65 0.67 0.

08 0.46 1.2 12.78 135.02 0.10 14.4 2.11 0. me 100g-1 ………………….86 55.25 24.46 98.64 43.6 2.02 0.6 4.54 40.5 7.2 33.9 2.40 0.58 Tabel 2.3 3.02 0.38 0.5 2.35 49.2 6.99 41.6 7.3 7.50 5.4 12.42 0.17 14.95 38.10 24.02 54.52 51.94 14.30 0.03 0.11 0.36 16.38 59.08 15.00 0.11 0.26 0.3 10.96 14.1 2.31 0.09 15.44 0.50 51.68 44.02 0. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.00 0.00 0.36 14.37 1.53 1.02 0.7 5.5 6.00 0.16 43.2 6.76 1.47 56. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.65 42.8 2.04 0.80 105.2 34.8 12.5 5.39 1.00 0.6 6.32 40.1 9.26 35.36 5.4 35.0 2.15 1.04 135.09 0.12 0.3 6.25 117.11 0.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .00 0.4 7.48 14.18 0.4 9.13 0.50 42.4 7.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.6 14.6 2.40 0.00 0.4 0.00 0.69 0.87 1.0 2.68 14.45 1.86 1.3 5.4 4.14 7.03 115. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….5 12.1 6.0 9.08 0.37 22.11 0.3 6.71 22.37 1.11 6.95 101.5 5.33 0.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.3 14.67 1.67 130.65 41.08 0.13 0.20 0.3 2. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.7 3.55 101.11 0.30 0.4 1.73 35.92 16.2 7.32 23.3 7.70 0.0 10.47 0.32 50.39 123.4 6.0 42.57 21.5 4.23 1.07 21.4 2.2 37.0 4.55 127.51 1.0 2.57 13.6 14.45 0.75 44.80 0.1 5.42 0.02 0.73 6.3 21.00 0.46 1.52 1.77 35.2 5.00 0.00 0.4 4.62 0.00 0.29 KB % 116.00 0.39 1.13 0.63 41.

Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. 59 . KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Dobermann and Fairhurst (2000). Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983).Tabel 3. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3.

Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer . Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5.60 Tabel 4. Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4. Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5.

2004) Gambar 2. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al. 2004) 61 .... Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al.. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. MASJKUR DAN A. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1. Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al. 2004) Figure 1.M. 2004) Figure 2.

447 Tabel 8.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.033 5. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.449 1.0 2.741 0.77a 1.213 F 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.343 0. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.05 62 .0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.227 1.639 F 1. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.558 1.292 0.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.490 F 0.78a 2.51a 1.07a 2.5 3.09a 2.189 5.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.0 4.344 0.77a 2.89b 2. 28/2008 4.5 2.89a 3.579 16.35a 3.52a 2.05a 2.746 Sig.0 1.228 Tabel 9. 0.615 Sig.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3.112 0.0 2.908 4.290 0.50a 1. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6. 0.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.10a 3.62a 2.463 2.5 1.33a 2.599 0.798 9. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. 0.761 0. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.363 1.089 Tabel 7.54a 2.939 Sig.0 3.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.99a*) 1.875 10.186 0.030 3.5 2.70a 3. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.99a 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.

dan 250 kg SP-36 ha-1.682 Tabel 11.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4. 11. smektitik Demangan dan Tirtobinangun.75 hingga 3.M. Kedungrejo (P tinggi).451 0.053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4.550 9. dan 13). MASJKUR DAN A. P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10. P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10.183 0.512 0.147 15.866 63 .339 0.161 4. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).60 hingga 10.646 0.119 5.762 F 1.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.47.241 Sig. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4.328E-02 F Sig. 11. 12. dan 10. Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.202 0.774E-02 9. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4. Tabel 10.355 0.756 0.143 1. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11. 0. 150.42.000 0. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13).

64* 0.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.92b 10.55 Ser-P -0.75a 8.27a 8. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31.75**).51tn) (Tabel 14).278 0. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.32 -0.13 0..397 0.15 0.409 40. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14.70a 11. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7.99a 8.68* -0.52 Aldd 0.18 -0. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya.000 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.83b 8. serta (c) macam dan kandungan bahan organik.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+).01 * Nyata pada α= 0.36a 3.313 0.49 -0. 11.54 -0.61* -0.37a 2. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.77** -0. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.41 Fedd -0.05 64 . Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah.83a 2.835 8. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al.29 0.10 ** Nyata pada α= 0. sehingga pH meningkat. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.757 Tabel 13.75** 0.72** 0. terutama bahan organik mudah dilapuk. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO . N-organik diamonifikasi.99a 2. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….06 Liat -0. kg P ha-1 ……………….33 0.60* 0.701 F Sig.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Tabel 12.928 0.13 -0.53 0.38 0.75** 0.61a 10.84** 0. Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.07 0.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.52 -0.13 Cadd -0.46a 2.51 -0.55 -0.16 0. Selama dekomposisi bahan organik..711 0.47b 8.77** -0. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan.39b 9.03 C -0. 8.71* -0.91a 2.42b 7.16 0.60a 8.

sehingga dapat diserap oleh tanaman.71*). sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. Fedd. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8. 0. Cadd (-0.: M – (OH)3 + COO.5-7... Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0. (2) penggantian anion H2PO4.↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e.60*). mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al. Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al. sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P. 2001). urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. dan 0.0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6.5) dan ketersediaan fosfat optimum.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate.+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum). (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P.61) (Tabel 14). 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman.10tn) (Tabel 14). dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum). sehingga serapan P tanaman meningkat. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). dan bahan organik (-0. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0. Rendahnya bahan organik (< 2.07tn.33tn.68*). 1999. semakin meningkat pula serapan P padi sawah. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman. 2004). Kation Cadd.2%). Haynes and Mokolobate. sehingga melepaskan ion OH. MASJKUR DAN A. 1999). Pada ¾ dari jerapan maksimum.64*).pada tapak-tapak jerapan. kalsium karbonat atau bahan organik. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia. 65 .M. menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah.3-1. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e.29tn) .

99** Liat 0. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0.40 -0. He et al.30tn dan 0. Cadd.20tn). sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan.98** Fedd -0. Cadd.28 0.05 0. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat.14tn). 1999). 1999).01 Cadd -0. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.95** 0. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 .81** 0. Fedd.10 0.90**) dan Cadd (0.10 -0. 1999.90** 0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0.49tn).81**).50 0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.15 0.55 Aldd Ser-P -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.98**). sehingga P tersedia relatif tidak berubah.30 0. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe . 28/2008 Tabel 15.66* 0.78** -0. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. Namun demikian.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..49 -0.99**).. sedangkan pH tanah.88**).20 -0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15.72** -0. sedangkan pH tanah.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. kadar liat. Killham. kadar liat.94** -0. Peningkatan bahan organik sawah.98** -0.39 -0. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan.94**).17 -0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P.05 0. 1998. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah.88** C -0.

New York. He. 12:155-167. Dobermann. Hartatik (Eds. 2004. Dalam F. Prasetyo. 157-166. M. J. A. In M. Subagyono. Bogor. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan.H. UK. A. dan E. Laguna. A. K. 2001. G. and A. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. 1990. Nutrient Disorders and Nutrient Management. Pasandaran. A. Soc. J. A. 1999. M. Laguna. 39-56. and A.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Cycl. Structure. Adimihardja.. Bogor. Los Banos. De Boodt.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. Pp. Mineralogi. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. Violante. Newman. A. 1983. MASJKUR DAN A. and R. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Hidayat. S. tartrate. Soil Sci.D. Hayes. Simanungkalit. Tisdale. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide. Havlin. Fagi. International Rice Research Institute. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Prasetyo. Brown. Herbillon (Eds. kimia. and T. 59:47-63.L.) Soil Colloids and their Association in Aggregates.K. A. Soil Fertility and Fertilizers. Tanah Trop. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays.L. Cadd. Kyoto. Kasno. Pp. Balai Penelitian Tanah. Bogor. In M. De Boodt.B. Hardjowigeno. SornSrivichai. 2. and P. J. Pusat Penelitian Tanah. Philippines.F.H. B. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. H. Sifat Morfologi. New York. S. Beaton.H. Assessing Fertilizer Requirements. dan A.F. Philippines. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan.H. 47:226-233..S. Comparison of adsorption of phosphate. S. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Kasno. 1999. Fedd. Pp.E.M. K.D. dan W. Johnson.S. New Jersey. J.Am. J. and W. 2004.D. fisika. kadar liat. Cambridge University Press. 2005. Eur. Prentice-Hall.J. Japan. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. dan R. 1990. Paddy Soil Science. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania.M. Agus. crystal chemistry. 1999. and M. Kyoto University Press. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1. J. 1997. Herbillon (Eds. Kyuma. Hayes. Fairhurst. International Rice Research Institute. J. 1990. Soil Ecology. Mokolobate. 2001. Soil Sci.S. Nutr.H. 48:493498.L. Los Banos. Cornforth. A. and M. Plenum Press.B. Nelson. 70:222-234. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification.. 2006. dan biologi lahan sawah. Killham. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung. Haynes.H. 1999.Z.C. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. Hayes.B.. Hartikainen. I. I.M. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. 2000. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. A. R. Simojoki.. 7-38. 67 . Agr. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Loeppert. An Introduction to Nutrient Management. De Cristofaro. Bogor. and A. B. Adiningsih. Plenum Press. and A. K. Clays Clay Miner. Las. Metherell.

dan J. Soil Research Institute. A. 2005. 1995. I. Kartaatmadja (Eds. Dasar-dasar Kimia Tanah.J. 68 . The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L. East Java). Faculty of the Graduate School. Zaini. dan S. Gadjah Mada University Press. Gilkes. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. Yogyakarta. K. Philippines. University of the Philippines. Tan. Soil Sci.H. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. 9-37.S. 2002. Bogor. Los Banos. Bogor. Kheoruenromne. 170:716-725. 1998.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Hlm.). Trakoonyingcharoen. A. and R. S. S. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. Rochayati. Dalam Z. 1978. Suddhiprakarn.. 28/2008 Rochayati. Sofyan. P. Adiningsih.

Researches aimed to study the effect of oxalic acid. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. The results showed that oxalic acid. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. P.000. Jagung. Tanah yang didominasi smektit plant growth. Fe3+. NH4Cl. 375. dan K Tanaman. Maize. Ngawi (Endoaquert Tipik). and Fe3+ on availability of soil K. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. dan 4. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. NH4+. dan 500 ppm. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. L. NH4+. NH4+. Fakultas Pertanian. 1. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. P. 2. S. 125. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. Serapan N. The soils are commonly high in total K content. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). NH4+. 2. Ngawi (Typic Endoaquerts). P. and 500 ppm. IPB. 250. Na+. K tersedia. Cilacap (Chromic Endoaquerts). while the second one was application of cations: without cation. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. however.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah. Bogor. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. Fakultas Pertanian. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. RACHIM3. and 4. dan Blora (Haplustalf Tipik). Kata kunci : Asam oksalat. Departemen Pertanian. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. Na+. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Soil available K. P dan K tanaman di Vertisols. yaitu: tanpa kation.000 ppm. P. The first factor was oxalic acid rates: 0. Fe3+. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management.Pengaruh Asam Oksalat. 375. and K uptake in Vertisols. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. ulangan tiga kali. Bogor. IDRIS2. Bogor. NH4Cl. IPB. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. Bogor. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. SABIHAM3. Na+. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. P. ISSN 1410 – 7244 69 . Na+. 125. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. NH4+. dan K. dan K tanaman di Vertisols. Cilacap (Endoaquert Kromik). NH4+. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. and Maize Yield in Smectitic Soils D. Plant N. plant N. and Fe3+ on Availability of Soil K. K. and K uptake in Vertisols. 1. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. and Fe3+ from NaCl. Na+. P. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts. and K uptake. 250. Na+. Walaupun kadar K total tanah tinggi. P.000 ppm. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate.000. NURSYAMSI1. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. and K Uptake.000.000. NH4+. Key words : Oxalic acid. serapan N. NH4+. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. Direktur Perluasan Areal. yaitu: 0. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. 2. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. NH4+.A. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. DAN A. D. Smectitic soils. NH4+. Na+. Oxalic acid significantly increased plant N. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. Na+. Na+. 4. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. 3. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. It’s availability for 1. Bogor. Na+.

28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Selain faktor tanah dan iklim. 2002. Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. K. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. muskovit. Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. 1999). Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.12 juta ha (Vertisols sekitar 2. tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. 2000). Fe. 1994). Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. dan Gorontalo). Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. hitam (Vertisols). dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. dan Jatim). dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon. 1999). 1987). Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu.. 1997). Na+. Jateng..12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. 70 . aerasi dan pH tanah (Havlin et al. kelembaban. 1989) yang dominan di tanah tersebut. 1993). dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. kapasitas tukar kation. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. Sulawesi (Sulsel. Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al.. dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K. yaitu lebih dari 2. daya sangga. mikroklin. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). 1989) dan vermikulit (Douglas. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. seperti dari golongan smektit (Borchardt. 1992). 1987). Mn. Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. Kilic et al. suhu. 1987). Sulteng.

serapan N. sangat halus. NURSYAMSI ET AL. NH4+. dan K. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. 2. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali.000. 1997). NH4+. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1. (1982).) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. semi aktif. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. P. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. L. Knudsen et al. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Cilacap (B2). Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. Faktor kedua adalah penambahan kation. berkapur. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. yaitu: 0. diayak dengan saringan 2 mm. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. berkapur. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). NH4+. dan 4. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah. (2007). contoh tanah diambil sekitar 250 gram. smektitik. Ngawi (B3). lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). NA+.D. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. berkapur.000. P. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). smektitik. Kdd. NH4Cl. iklim. halus. halus. Bahan tanah dikering-udarakan. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. Na+. Na+. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.000 ppm. Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. isohipertermik Haplustalf Tipik. lalu tanah diaduk hingga homogen. Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. Ktdd. smektitik. dikeringudarakan. dan Blora (B4). isohipertermik Endoaquert Tipik. 1. sangat halus. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. yaitu: tanpa kation. dan Wood dan DeTurk (1940). Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. isohipertermik Endoaquert Kromik. SERAPAN N. campuran. ditumbuk. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2.

000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.36 0.36 0...24 1.555 5.11 0.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam.10 13 148 187 5.97 92 5.28 0.………….13 0.12 9 178 30 0. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.36 4.82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7.12 0. Teflon bomb .00 0.35 0.21 10.22 0.19 H2O (1:2. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.00 0. lalu ditambahkan 20 ml 0.5) KCl 1 N (1:2.. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit.03 56.000 rpm dan supernatannya ditampung.01 13. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat.96 2..55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.…….000 5. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik …………. Rate of Na+..38 13.………….97 9. mg kg-1 …………….16 24.72 1.01 0.000 5... NH4+..57 0. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.12 11 548 134 10. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.11 10 222 41 34.………….00 0.42 38.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..01 1.04 33.95 0. Takaran Na+.03 > 100 0.88 1.56 3. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5. 28/2008 Tabel 2.47 4..…. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5.65 11..00 0.06 0.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3.06 0.97 58 5. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).01 6. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2.41 42.98 > 100 0. NH4+.

Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Analisis serapan N. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. Asam borat 2. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. ditumbuk. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. yakni 30. 41. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. NURSYAMSI ET AL.D. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.12. NH4+. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. Endoaquert Kromik. 0. dan 500 ppm. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. Bahan tanah dikering-udarakan. 134. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam. dan 0. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat.28. Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. lalu tanah diaduk hingga homogen. Endoaquert Kromik. diayak dengan saringan 2 mm. Dibandingkan dengan kontrol.11.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. Endoaquert Tipik. yaitu : 0. 250. NA+. dan Haplustalf Tipik. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). Endoaquert Tipik. asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. SERAPAN N. 0. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. P. Berbeda dengan di tanah Alfisols. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K). apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. 125. yakni 0. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. P. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0. Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. 375. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang.

Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan.13 b 165. Tingkat 13. Kdd. sedangkan pada Vertisols nyata. NH4+. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). and Knon-exch.25 b 58.88 b 16. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i). 1998). Tabel 5. Na+.75 b 73. Pengaruh asam oksalat.60 <1 56. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl.00 59. sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols.00 a a a a 62. NH4+.00 b b b a 150.000 4.25 c 152. and Knon-exch.. NH4+. Na+. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5.13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27.13 a 13.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3.00 26.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5.88 menjadi 58.63 26.. Pengaruh asam oksalat. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols). Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.13 mg kg-1 (412%).555 mg kg-1 (Tabel 3).63 b 33. Kexch.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation.000-5.50 70.75 menjadi 142. Na+.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.000 2. dan crack (c). Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols.38 67. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. Effect of oxalic acid. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13. wedge (w). mg kg-1 …………….50 bc 165. Tabel 4.00 a 161. and Fe3+ on soil Ksol. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti.30 1.50 a 149.50 b 64.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………. 25.38 27.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.75 b 67.000 2. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III. Kexch.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3.. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5). Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti.13 70.75 58.38 b 155.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Effect of oxalic acid.30 55. 1987).75 b 38. and Fe3+ on soil Ksol. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al. sedangkan pada Vertisols nyata. 2007).75 b 16. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. 74 .38 a 12. Kdd.38 ab 165.38 b 142.000 4..60 <1 27. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat.00 a 12. NH4+..13 a 13. Na+. NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl.

hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. NH4+. NH4+. 24-31% dalam bentuk Kdd. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. Kirkman et al. Hasil penelitian Nursyamsi et al. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. Pengaruh pemberian Na+. NA+. NH4+. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. Effect of Na+. Berdasarkan jumlah K yang dilepas. NH4+. : PENGARUH ASAM OKSALAT. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama. Effect of Na+. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. NURSYAMSI ET AL. Pengaruh pemberian Na+. SERAPAN N. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. 75 . NH4+. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). P. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i.D. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2.

dan K tanaman. nyata menurunkan serapan P. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut.55 381.70 < 1.13 ab 4.00 233.15 a 9.42 a 2. P.32ns 9. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+. dan Endoaquert Tipik.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.85 b 46. P.04 92. dan K tanaman.53 ab 14. 15. Pengaruh asam oksalat. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.63 a 51.36 79.18 52.55 a 31.79 a 58.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.70 20. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6).21 b 1.71 7.71 55.21 a 62. Pengaruh asam oksalat.51 9. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.31 56.56ns b a b b c 24. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik.37 b 16.09 334.37 23.50 111. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman.92 4.84 a 333. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.74 a 130. 105. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik.000 233.000 2.55 a 9.72 26.53 220.53 ab 15. dan K tanaman pada Vertisols Table 7.99 107.42 192. Pada Alfisols. P. mg pot-1 ………….80 <1 50. Endoaquert Kromik.10 <1 a a a a a 16. Tabel 6.20 1. Na+ and Fe3+ on plant N.88 109.00 a 16.15 7.. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8). mg pot-1 ……………. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7). 125. Tabel 7. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….67 a 17.74 a 53.61 283.60 1.000 4. P. Na+ and Fe3+ on plant N.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258.55 ab 51. asam oksalat juga nyata 76 . Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat. Pada Vertisols.42 213.60 27.59 81.80 1.71 b 18.000 215.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K …………..67 b a b b c 81. P.01 b 4.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.99 a 16.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. P.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.98 b a b b b 6. 229. Effect of oxalic acid. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.08 a a a a meningkatkan serapan N. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.50 a 30.97 8.87 325.28 27.64 b 56. Effect of oxalic acid.21 26. P. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.74 24. Berbeda dengan dua kation sebelumnya. dan K tanaman.000 227. dan K tanaman pada Alfisols Table 6.11 68.81 a a a a 25.43 a 242.35 a a a a 7.77 b 8.04 a 15.81 a 17. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut.

1.02 a 3. Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner.000 4. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia. P.D.81 5..77 a 6. Na+.75 c 11.10 a 4.62 3. g pot-1 ………………………………….85 a a a a 4. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N.93 a 3.92 a 1. Pengaruh asam oksalat. P.98 a 4.37 6.56 6. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8.5 t ha-1 biji kering.44 b 11.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Peranan asam oksalat.89 c 8. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).20 6.28 5. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah. 1997).98 a 1.48 b 10. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.17 a a a a a 10.75 ab 5. serapan N.62 b 1. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N. Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 ..0 (Kdd).58 a 3. P. Effect of oxalic acid. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4.09 3.25ns 14. dan K tanaman.04 3.30 1. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg.70 1.40 a a a a b 6.09ns 4.73 a 3.83 ab 1.06 3. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols). juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al.95 6.41ns 13. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.59 b 5.000 2. NA+.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik ………………………………….01 a a a a 4. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7.29 b 3.30 1. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. 2001).45 3.77ab 1. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). P. (2001).93 a 10.01 a 5.45 a 5. Na+.13 4. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al. NURSYAMSI ET AL.. : PENGARUH ASAM OKSALAT. NH4+.42 b 4.40 b 5.34 3. DAN K TANAMAN Tabel 8.30 2. NH4+.03 a 4.20 b 8. SERAPAN N.

1 6. P. Na+.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5. 28/2008 Tabel 9. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun. and Fe3+ on soil available K. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun.4 6.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5.7 31..1 21. P.9 27.4 * 22. NH4+. asam oksalat takaran 1. 2001). and K uptake.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. NH4+.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30.8 59. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. Effect of oxalic acid. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.6 20.3 6. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. dan K tanaman. NH4+.3 88. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . yaitu sebesar 156 kg K ha-1.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.9 273.3 27.9 87. Sementara itu pada Haplustalf Tipik.…. kritis K tanah untuk jagung 0. plant N. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%.9 * 148. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K ……. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9.2 me K 100g-1 (Dierolf et al..9 19. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.7 23. NH4+. Na+. Pada Endoaquert kromik.9 * 47.9 149.6 * 276..6 ** 22. percentage of plant yield.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1. meningkatkan serapan N dan K tanaman. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara. Pengaruh asam oksalat. Pada Hapludalf Tipik.8 109.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. serapan N. persen hasil tanaman. Perlakuan Na+. Perlakuan Na+.3 ** 92. meningkatkan hasil biji kering. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk.

000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. NH4+..4 * 43.8 * 203. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.6 79. P. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. persen hasil tanaman.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1.4 63.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya. DAN K TANAMAN Tabel 10.2 24. P. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10.0 300.. 79 . dan K tanaman.2 209. Effect of oxalic acid. P. serta hasil biomas kering (11%). and K uptake. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K. kebutuhan pupuk K. percentage of plant yield. Demikian pula pada Endoaquert Tipik. plant N.7 215.D.000 294 18. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering.9 25. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering.. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. Dengan demikian.1 270. 3+ Sementara itu. asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al.…. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. and Fe3+ on soil available K. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat.6 44. Pengaruh asam oksalat. NH4+.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1. Selain aspek ketersediaan K tanah. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. : PENGARUH ASAM OKSALAT. 1993). P. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. NH4+. NA+. meningkatkan serapan N dan P tanaman. P. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N. maka peran utama asam oksalat (1.8 236. dan K tanaman.5 68.3 268.8 ** 209.1 225. serapan N.3 24. dan K tanah. NURSYAMSI ET AL. P. meningkatkan serapan N.9 * 883 988 ** 58. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Na+. SERAPAN N.2 593. Na+.3 69. serta hasil biomas kering jagung.2 * 163.3 ** 454.

Inc. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. 1/1987. Na+.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. J. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. 1997). Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. K. Sementara itu Fe3+ 5. Pp 27-64. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. mikro (Fe3+). Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Potash Review No. dan Fe tanah. and L. Marcel Dekker. Applications in Agricultural and Environmental Management. 1987. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. P dan K tanaman di Vertisols. 1993.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. M. 3. 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). International Potash Institute. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. dan K tanaman di Vertisols. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+). di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.K.I. H. P. tanaman. NH4+. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik. peningkatan 2008). Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. Switzerland. 2. In Soil Microbial Ecology. Elliot. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. P. Microbial ecology of the rhizosphere.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Perbaikan tanah 80 .000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.15-5. dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). New York. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat. Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit. yakni berkisar antara 3. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. Asam oksalat. Jr.F. Bolton.. P. Fredrickson. 270 Madison Avenue.

of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. A. 81 . and Its Effect Towards Soil Chemical Properties.A. Soil Fertility and Fertilizers. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. and potassium. Kilic. Mutert. Pp 675-727. 1989. 2001. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. Sofyan.a review.R.W. A. S.F. Tokyo. Derici. and cesium. 1992. Second Edition. Switzerland.T. Dhillon. USA. 2007. P. Goulding. 1989. 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. In Page et al (Eds. and D. Sixth Edition. Wisconsin. Upper Saddle River. and K. Bogor. Potash Review No. D. 1994. 17. New Jersey 07458. Fertilizer News 32(2):35-138. J. Ismail. Disertasi Fakultas Pascasarjana. and E. Wisconsin.W.A. L. K. In Minerals in Soil Environments. Oldeman. Institut Pertanian Bogor. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. Part 2. rubidium. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Mineral Nutrition of Higher Plants.000. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit.. A. Skala 1:1. No. Potassium fixation and release. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. Sabiham. Res. Dhillon. The affect of potassium on ammonium fixation.) Growth and Yield. Sparks. Dierolf.) Method of Soil Analysis. potassium. Tisdale. Knudsen. J. 1987.A. G. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 5/1987. S. 2000.P. 5. Academic Press. L. sodium. Lithium. D.L. DAN K TANAMAN Borchardt. Tr. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Disertasi Sekolah Pascasarjana. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. Smectites. 2008. V. Rachim. In Methods of Soil Analysis. 1997. 2002. D. Helmke. J. and J. L.L. and K. 2nd ed. Agric. 1999. Nelson.N. USA. I. Surapaneni. Ghousikar C. 1987. Lumbanraja. Contr. Publisher.H.. NURSYAMSI ET AL. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols). and D. SSSAJ 66:445-455. NH4+. Potassium in the soils of New Zealand. Vermiculites. An Introduction to Nutrient Management. An Agroclimatic Map of Java and Madura. Idris. Pp 635-674. K.eseap.. In Minerals in Soil Environments.R. International Potash Institute. upland soil fertility management in Southeast Asia. Beaton. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type. Lithium. Macgregor. Black (Vertisols). dan A. Kendre. 1975. Ins. T. Prentice Hall. Bogor. Agronomy 9:403-429. sodium. 1982. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum. Nursyamsi.000.A. M. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. SERAPAN N. NA+.D. K. T. and W. Cent.org). Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite. Paterson dan P. Harcourt Brace & Company. Soil Science Society of America Madison. Proc. 1999. Marschner.L. J. S. Kirkman. P. I. G. Evangelou. Fairhurst.S. of Agriculture and Forestry 23:673-678. Institut Pertanian Bogor. H. 1996. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.L.P. Saltali. : PENGARUH ASAM OKSALAT.D. Havlin. Second Edition. D.. Nursyamsi. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. Douglas.K. Soil Science Society of America Madison. Second Edition. Pratt. Basker. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28..

Huang. and P. International Potash Institute. L.K. Release of non-exchangeable soil K by organic acids.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. and E. 1940. Marcel Dekker. 6/1987.S. Proc. Wood. Potash Review No. Pedosphere 3:269-276. 1987. Principles of Soil Chemistry. 82 .M. Third Edition Revised and Expanded. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir. Soc. Mineralogy of potassium in soils of Punjab. Haryana. Song. Switzerland. 1998. Am.. 1993. Tan. S. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid.K. 1988. Soil Sci. 28/2008 Sidhu.E. New York. De Turk. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. K.H. SSSAJ 52:383-390. Inc. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. 5:152-161. P.

Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. DMI.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E.4 zone. aktivitas moonson. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3. interaksi SST dengan DMI. PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. Therefore. Dipole mode Index (DMI). Rainfall. Climate extreme events. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. SOI. ISSN 1410 – 7244 83 . pergeseran musim.4. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. SURMAINI DAN E. DMI. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. Keywords : ENSO. In contrast. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1.5 o C (indicate La-Niña event). Awal musim hujan. and interaction of SOI with DMI). dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. DMI. SOI.5 -0. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia. Onset of wet season. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya. Southern Oscillation Index (SOI). The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. The study has been done through the following steps . Kata kunci : ENSO.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. Bogor. 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall. SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. if SST increases above 0. golakan lokal dan siklon tropis. Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period. climate/season anomaly. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. SST. but the magnitude of its impact varies with site. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. interacton of SSTA with DMI. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. the wet season will start earlier with longer period. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. Berdasarkan data historis. SST.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). SOI. the occurence flood and drought in Indonesia.

lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam.. Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. Rao. Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. Aldrian dan Susanto.jp). Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM).gov.go. 2004. 2004. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. Boer dan Faqih. dan SOI (sumber: www.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.4 (sumber:www.qld. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. Rao et al.noaa. Chang et al. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia. Boer and Faqih.4. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3. 2001. Departemen Pertanian. 2003. interaksi ASST dengan DMI.jamstec. sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia. 2004). 28/2008 (Haylock and McBride.. 2002). SOI. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. 2000. 84 . sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal. 2006).. Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman.au). Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji. 2002. dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan.. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. Batisti et al. Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya. DMI. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. 1999. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.cpc. 2003. Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. Hendon.gov). longpaddock. data DMI (sumber: www. dan interaksi SOI dengan DMI. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia.

E. menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). 3. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. 85 p= dimana : m n +1 . 50-75%. Apabila nilai slope lebih besar dari 0. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya.05. SURMAINI DAN E. dan 75100%. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña). AMJJ. Januari-Februari. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. SOI. 4. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Jawa. Selain itu. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. DMI. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. 25-50%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. dan Mei-Juni. SOI.

.... dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November). karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju..25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November).13 4.05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI ....4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0.......... Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3... maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan. Persentase nilai peluang (p< 0.13 11..25 2.38 2... % .... Ngablak (Jawa Tengah).. maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal......47 8.... 4. Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok.... data anomali hujan semakin negatif..4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November).. sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 . Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai...... Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño)....... artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut...31 2...25 2. Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan.38%.4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC. Bagi Indonesia.. Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3.4. Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11...19 7. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC... Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil... namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%).05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1..13 4........ Batutangga (Kalimantan Selatan).13 3.... Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat)..... Pattimura (Maluku). Riau.......51 2..25 55.. Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau... Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3...70 6. dan pantura Jawa Barat. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi.... 28/2008 Tabel 1. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3..... maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm. Percentage of regression probability value (p< 0..70% dan 6.....13 4. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2)...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.... hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian......

E. Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1. SURMAINI DAN E.

Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini.5oC ). sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0. 1994. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5). The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0.5oC) dan normal (anomali SST antara -0. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. dan Normal. 2006) Figure 2. Sebagai contoh. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III).5oC). dan 2002. LaNiña (anomali SST < -0. maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir. Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian. . 2006) skenario El-Niño. Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal. Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991. La-Niña.5oC-0. 1997. hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). Jika anomali SST turun sampai di bawah -0.

0 1.0 0.4x + 22.975 2 R = 0.5 Mei-Jun 1.5 1.0 -0.0 1.0 0.0 1.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.5 0.E.5 -1.0 y = -388.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.441 R2 = 0.5 -1.383 R2 = 0.0 -1.33x + 75.0 1.0 1.33x + 75.0 1.0 -2.5 0.5 2. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.0 0.5 2.235 R = 0.0 -1.5 2.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.59x + 21.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.0 -2.45x + 47. SURMAINI DAN E.0 -1.5 0.6109 -2.945 2 R = 0.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.5 2.574 -2.5 -1.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 0.5 0. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.0 -1.88x + 55.5 Mei-Jun 1.441 R2 = 0.0 -1.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.0 -2.0 0.5 2.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.0 -1.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.5 -1.5 1.5 2.5 1.5 -1.5 -1.5 0.4 of some areas in Indonesia 89 .5 0.0 0.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 1.

4 0. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1.8 0. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0.60 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.6 0.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Riau dan pantura Jawa Barat. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.4. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0.2 0.8 0. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember.20 0. 28/2008 Pusakanegara 1. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam.4 0.2 0. menyebabkan penurunan curah hujan.00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0. Jawa.6 0. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional. 2. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .4 0. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November). Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung.40 0.80 0.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4.8 Peluang Terlampaui 0.6 Peluang Terlampaui 365 0.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru. Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. . Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful