Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

kapasitas tukar kation. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. Oleh karena itu. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. and potential K. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. bahan sedimen. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Batupasir. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. dan sifat kimia tanahnya. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. Batuliat. but limited by highly Al exchangeable. Acid sedimentary rocks. sifat fisik. pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Kata kunci: Hutan. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. physical and chemical properties of the soils. Biological cycles. Sifat fisik menunjukkan. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. cation exchange capacity. Sandstone. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Bogor. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. Selanjutnya dikemukakan. Keywords : Forest. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. Claystone. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. dan K potensial yang lebih tinggi. Batuan sedimen masam. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use.H. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. Siklus biologi. SUHARTA DAN B. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. For that reasons.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. kejenuhan basa rendah. 1. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. and fertilizer.

Provinsi Riau. 1995. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 . dan Typic Hapludults (Tabel 1). Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. 1990).24 UG. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. Sedangkan analisis sifat fisik tanah. Fraga dan Salcedo (2004). Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. 2003) sebagai Typic Kandiudults.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al.14 MD. mengurangi proses mineralisasi bahan organik. Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. Chen et al. Acrudoxic Kandiudults. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting. penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat.110 DD. 1991). Location and information of seven pedons investigated Pedon HP. Wu dan Tiessen (2002). dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi.44 HP. (2004). Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. dan mengurangi run off atau bahaya erosi. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal.. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya.61 EY.194 UY. dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). Suwarna et al. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl.

Typic Hapludults UY. t. ss/sp vf. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. sp = agak plastis. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). p = plastis 3 . yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. SCL = lempung liat berpasir.14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff.5 YR 5/6) DD. pori drainase. berat isi. t. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. model PW 1130. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O). Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. gdb = coklat tua kekelabuan. warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah. f = gembur. t. so/po f. kapasitas tukar kation. 1992). dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). Acrudoxic Kandiudults HP.H.5 YR 5/8) EY. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. t. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t. f. susunan kation. Struktur : m = medium. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). db = coklat tua. s = lekat. vf = sangat halus. so = tidak lekat. ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. ss/sp f. SL = lempung berpasir. f = halus. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. ry = kuning kemerahan. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel. ydb = coklat tua kekuningan. Konsistensi : t = teguh. permeabilitas dan stabilitas agregat.61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. so/po f-t. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7. f. P dan K potensial (HCl 25%). pori total. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. by = kuning kecoklatan. C-organik (Walkey and Black).0). sb = coklat kuat.N.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. sb = gumpal agak bersudut. t. g = granuler atau kersai. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. SUHARTA DAN B. ss = agak lekat. Tekstur : C = liat. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. f. Dibandingkan dengan horizon A. LS = pasir berlempung. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. Typic Kandiudults HP. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. pori air tersedia.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat.

dan muskovit sangat sedikit.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. smektit. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.24 85 sp 6 MD.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY.14 93 sp 5 HP. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7. Or = ortoklas. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. Lm = limonit. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit. Tr = turmalin. Pada tanah berbahan induk batupasir. dan smektit. lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan. Rf = Fragmen batuan. Wm = mineral lapukan. Zr = zircon. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. illit. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3. vermikulit. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. Dengan demikian. Qz = kuarsa.61 96 1 2 UG. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP. Sn = sanidin. fragmen batuan. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. dan goetit. 4 . Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. sp = sangat sedikit (<1%). Mk = muskovit. Terdapatnya mineral vermikulit. Ze = zeolit. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. dan turmalin juga sangat sedikit. illit. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. sanidin. sedangkan tanah dari batuliat. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. mineral lapukan.

X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit. ++ = cukup.N.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%. +++ = banyak. SUHARTA DAN B.H.14 ++++ HP. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP.61 ++++ EY. (+) = sangat sedikit Gambar1. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan. 5 .44 ++++ UG. 1969). Susunan mineral fraksi liat Table 4. + = sedikit.110 +++ DD. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti.24 ++++ MD. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%. dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir).

8 4. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.41 1.21 1.0 19.0 45.93 9.54 1. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37.0 9.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.7 12.46 di lapisan bawah.14 HP. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).5 3.46 2.53 untuk lapisan atas dan 2.20 1. kelembaban tanah.0 8.9 4. Stab.8 28.0-28.20 1. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah.17 hingga 1.46 1. susunan mineralogi liat. Lapisan A = atas dan B = bawah. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP. berat isi.0 4.24 EY.0 4. Pedon HP.6 4.14 dan EY.65 untuk lapisan bawah.5 42.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah.2 RPT 52.65 1.46 3.4 6. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2.7 49.0 11. Sedangkan HP.8 55. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5. 2004). mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume. pori aerase berkisar antara 8.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi.24 dan EY.39 2. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1. Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi. PD = berat partikel (particle density).2 23. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi. baik horizon A maupun B (Suharta et al. Sebagai perbandingan. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur. Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik. Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik.. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.55 hingga 2. RPT = ruang pori total (total pore space).7 11. kimia dan biologi tanah.24 memperlihatkan hal sebaliknya.09 2. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik. Pedon HP.. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering.10 9.60 2.agr = stabilitas agregat (agregat stability).7 8. kandungan liat.53 2.14.20 hingga 1. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%.8 8.14 rendah di lapisan atas karena 6 . sedangkan pedon HP. 28/2008 Tabel 5.4 Permeabilitas cm jam-1 0.39 hingga 2.9 26.55 2. 1995).54 di lapisan atas dan 1.

C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas.N. Hasil penetapan menunjukkan. di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian.14. sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering.8%). atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik. permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0.2%) untuk horizon A. Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2.14. Tanah dengan permeabilitas lambat. perakaran tanaman.4 tergolong rendah sampai sedang.10 3.0.9. Khusus untuk pedon HP. baik pada horizon A maupun horizon B. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah.H. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik.62 cm jam-1).5 hingga 11. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0. kecuali EY. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B. SUHARTA DAN B. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan.4 tergolong rendah.15 tahun). atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam. Khusus untuk pedon HP. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7.46 cm jam-1). Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%). Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B.7 hingga 9.2 . sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun.20 . 7 . sedangkan pada horizon B berkisar antara 6. karena air akan tersedia sepanjang tahun. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini.1 . pori air tersedia tergolong rendah. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik. Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah. Pada horizon B. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan. kemantapan agregat tergolong agak stabil. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . Nilai permeabilitas yang lambat.44 tergolong sangat stabil.5.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi. kecuali pedon HP.

3 4. Texture..2 0.4 3.3 0....4 0.3 4...7 4...110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD..2 4..2 4.2 0.2 0..44 Tanah dari bahan induk batupasir.1 0. 28/2008 Tabel 6.7 4..5 4.3 4.4 1. mg kg-1 .0 4...8 4..4 4.2 1.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY. % .3 0.. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org.4 4.7 0...2 0. Tekstur... soil reaction.5 4.8 0...24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG. reaksi tanah.5 4..7 2.6 4.2 0.4 4.5 4. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY..2 4.4 4.. organic-C... P dan K potensial Table 6.5 4..7 0.2 3.. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP.7 0..4 4.1 HCl 25% K2O P2O5 . Pasir-H = Pasir halus 8 .6 0..4 0.2 2.2 0.. potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat .9 0.6 4..6 4..2 0...4 0..7 4. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir.3 4.6 0.1 4.4 4. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD.6 1..6 4.7 1. C-organik. % 4..8 0.6 0.7 3.6 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.4 0.3 5.2 0...7 3.3 1....5 4.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat..3 4.4 4.1 4.3 5.2 4.4 4..6 4.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar.

22 0..10 0.79 17.31 0.50 7.61 1.05 0.41 13.67 0.24 0.03 Bto3 0.26 BC 0.04 0.43 13.20 0.58 0.23 0.94 7.97 1.88 21.01 0.85 1.24 A 0.53 3.12 0.87 13.04 0.27 16.04 0.75 4.19 24.40 6.33 26.035 0.13 8.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0. Kation dapat tukar.37 10.06 0.N.87 2.67 4.13 23.21 1.10 0.11 0.36 1.14 0.73 1.37 0.10 0.96 65.16 2.02 0.81 HP.02 0.05 0.15 4.63 14.17 UY.07 0.02 0. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.05 0.60 2.53 4.30 2. Typic Hapludults 1.59 12.12 0.04 Bto5 MD.01 0.02 0. SUHARTA DAN B.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.66 7.02 0.03 0.31 0.05 15.04 0. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….43 10.01 0.65 12.40 2.29 3. Typic Kandiudults 0.04 0.81 1.92 0.43 0.01 0.41 4.03 0.93 33.30 7.30 16.76 2.55 0.41 0.76 4.03 0.02 3.70 3.29 0.13 0.06 0.71 32.17 0.06 0.52 1.18 0.02 0.13 0.24 6.70 10.32 0.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir.29 0.03 0.14 0.19 17.33 1.03 Bto3 UG.66 4.73 0.16 1.kg ………………………….02 0.61 3.03 0.09 2.21 DD.24 0.99 1.33 11.04 0.25 Bt1 0.47 0.47 0.02 0.04 0.85 2.18 0.95 3.54 3.65 11.10 0.07 26.02 0.08 5.01 0.04 0.53 4.10 0.12 7.22 0.90 14.30 Tanah dari bahan induk batuliat.02 0.16 9.04 0.28 10.03 Bto1 0.24 0.22 1.07 0.31 1.07 0.76 0.21 11.19 18.92 0.79 59.15 0.47 2.06 0.20 20.37 0. kejenuhan basa.05 0.69 1.10 0.04 0.85 4. Exchangeable cation.22 0.04 0.08 2.07 0.08 0.05 0.58 5.49 14.18 0.04 0.02 0.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.25 1.07 0.05 0.04 0.04 0.21 EY. % cmol.87 2.03 Bto2 0. dan Al dapat tukar Table 7.H.12 3.01 2.03 Bto4 0.36 16.41 1.02 0.06 0.37 4.07 0.01 0.61 1.18 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir.64 17.12 0.16 8.28 5.05 1.30 HP.70 1.03 0.22 6.02 0.83 1.14 BA 0.02 0.kg % 4.55 20..85 4.04 0. cmol.03 0.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.74 1.92 1.05 0.14 Bt3 0.04 0.08 7.05 0.24 0.57 38.09 0.04 9 .27 19.39 0.10 0.13 36.57 19.94 1.09 0.06 0. kapasitas tukar kation.06 0. cation exchange capacity.70 4.04 Bto2 0.14 A 0.42 1.32 2.06 0.55 0.70 1.04 0.42 0.63 0.02 0.81 1.98 8.75 17.08 0.63 13.05 9.14 1.77 39.03 0.57 2.11 1.07 2.11 2.04 0.31 4.01 0.13 0.22 0.03 0.82 0.23 0.02 0.05 Bto1 0. base saturation.18 4.04 8.09 0.52 35.21 0.17 Bt2 0.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.88 4.20 1.40 0.06 0.01 0.02 0.02 0.14 0. Acrudoxic Kandiudults 0.11 0.01 0.38 23.24 0.03 0.54 1.02 20.110 A 0.23 7.03 0.05 1.44 6.71 8.03 0.53 11.02 0.29 1.71 1.68 0.76 94.42 3.09 0.36 0.81 12.02 0.07 0.21 0.12 30.56 0.06 0.62 7.61 0.21 0.51 25.34 1.90 7.68 3.03 0.94 11. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.16 20.16 3.27 0.80 1.

2002). Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir.2943). baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi.. besar dan arah lereng.0014 Corg +0. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. kimia. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. DD. tergolong masam sampai sangat masam. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman. dan pengolahan tanah.110. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi.809 dengan R2=0. Ponge et al. . Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. aktivitas biologi. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. praktek silvikultur.7 hingga 5. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation.7.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.4415). Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri. baik pada horizon A maupun B.0171 C-org + 0. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat. dan 55% setelah penggunaan selama 8. ketersediaan hara. 2007. maupun biologi tanah. 2007). Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan.179 dengan R2 = 0. Mg.0528 liat +23. Dengan Corganik. korelasinya lebih rendah (K2O=0. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002). sedangkan pada horizon B antara 4.0355). 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. 16.7. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi.232 dan UG. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. 37.1 hingga 4.. Suharta et al. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. 1995).0748 pasir + 64. dan macam gugus fungsional. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. bahan induk tanah. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. dan 41 tahun. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0.9309 dengan R2 = 0.2702 dengan R2 = 0. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif.4237). Reaksi tanah untuk pedon UY. liat.

KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B.19 dan 65. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri.31 hingga 25. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. Quideau et al. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4. (1999) mengemukakan. KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1. Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. Dikemukakan selanjutnya. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif.H. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama. 2007). dan tidak mempunyai sifat acric. (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi. Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Sedangkan tanah dari batuliat.4968. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B.50 (HP.20 hingga 4. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua).0061. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya. siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci. Quideau et al. kuarsa dengan sedikit smektit. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0.kg-1. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit.53 cmol.24 dan UG. SUHARTA DAN B. 11 . Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. satu pedon didominasi kaolinit.N.13 cmol.70 cmol. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan.194).kg-1).

.30 0. kejenuhan basa. Tabel 8.04 11 57 22 UG.09 0. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to. kedua proses tersebut dominan.13 0... Khusus untuk K dari batuliat. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu. pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya. Oleh karena itu. dengan hilangnya tanaman penutup tanah. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi.. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. dan K) di horizon A.61 EY.42 20 170 62 Bto 0. Wu and Tiessen. cmol.03 0. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah. Tanah dari bahan induk batupasir.10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar. Mg.110 A 2.08 0.67 0. 2002).04 0.22 21 69 122 Bto 0. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.. Typic Kandiudults HP.21 0.. % .04 0. Acrudoxic Kandudults HP..13 0.37 0. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi. Driessen et al.20 0. sedangkan dalam kondisi terbuka.21 0.kg-1 . Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. Typic Hapludults UY.. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah.82 20 200 Bt 0. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.03 0. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil.17 1.04 0..14 A 0.08 0. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8.02 0.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al. 12 . 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg.22 0.. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8).32 0.24 0.58 0.73 0. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.11 0.44 A Bto A Bto 0.194 A Bto 0.07 0. 2004.03 0.15 0. Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi...41 0. Demikian juga kejenuhan basa. 2004.04 8 26 66 MD..24 0. Dalam kondisi hutan alami. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun.81 0. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.232 A Bt 0. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata..04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon .17 0.05 0. mg kg-1 .27 4 112 DD.. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan. Dalam keadaan terbuka dan berlereng. Basa-basa dapat tukar (Ca.24 A 0.55 0. Fraga and Salcedo.

G. D. 1990. Rome.H. Novak. J. and I. 2004. dan kimianya.J.R. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian.H. Tugu. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. Chen. P. and Permadhy. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir. 2002). Buurman.N. SUHARTA DAN B. J. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). V. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. load support KESIMPULAN 1.. 2004. Z.S. and B.M. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. S. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al.M. Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. Am. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. Fallow. Soc. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. Soil Sci. Am. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. October 13-14. and D. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. P. Pp 95-115. 3. Soil sci. 1976. Soil Sci. and N. J. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. E.P. 2.. Plant and Soil 35:401-414. 66:421429. J. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. Hunt.G.. Fraga. C. 2002. Xu. Susceptibility to compaction. Xing. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%).. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. Imhoff. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. Amarasiriwardena. Guidelines for Soil Profile Description. Dalam kondisi hutan alami. Ding.H. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. 2004. Soil Research Institute. A. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). Am. FAO. Soc. 1971. Driessen. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan. 4. Mathers. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management. Da Silva. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. 68:282-291.. 1976. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen. Salcedo. 68:215-224.. Bogor. P. DAFTAR PUSTAKA Bram. sifat fisik. FAO. In: Peat and Podzolic Soils.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Geological Research and Development Centre. 2002. Am. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. Soil Sci. USDA.000.B. and P. Natural Resources Conservation Service. Soc. 2007. N. J.A. and H. R. J. Soc. Sumatera. Inc. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise. 1992. Geological map of the Solok Quadrangle. Budhitrisna. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. N. and N. 1951. 63:18801888. Silitonga. Geological Research and Development Centre. 2002. Kastowo. Studi kasus pada Sanggauledo.000. Am. Suharta. 1995. dasar Oxisol Barat. 66:19962001. S. Jakarta. Prasetyo. Chevalier. Loughnan. Wood.. Version 1. 2003. scale 1:250. Soil Survey Staff. Chadwick. Bandung. Keys to Soil Taxonomy. and H. O. Sukardi. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties.. Pupuk Suwarna.H. Chemical Weathering of Silicate Minerals.A. P.. and soil compressibility of Hapludox. S. Mangga. Suharta. Quideau. J. Soc. Am. Graham. Loussot. J. 1999.. Soc. Santoso. Soil Survey Investigation Report No. 1969. R. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. 28/2008 capacity.A. J.C. 68:17-24. 1995. 66:1648-1655. Wu. M. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. 41. and S. Soil Sci.F. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. Soil Sci. Am. 1991. New York. Washingthon DC. American Elsevier Publishing Company.H.0. N. T. Bandung. scale 1:250. dan B. F. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan. Ponge. Soil Survey Laboratory Methods Manual. R. China.C. Soil Survey Laboratory Staff. 14 . Ninth Edition. United States Department of Agriculture. Smith and Fergusson. Soil Sci. Tiessen. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera.

Up to now. and peanuts that reflected soil management. hujan. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman.Water flux. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. Soil pore characteristics. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. the study of the relationship between water movement. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. IPB. Transient water movement. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. dan iklim setiap hari. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. but it is unpredictable to cover crop water requirements. SOEDODO H. WAHJUNIE1. Keywords : Water movement. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. paddy. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. The data ISSN 1410 – 7244 15 . Fluks aliran air. dan distribusi air. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. climate data.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. rainfall. To optimize the crop water availability in dryland. Fakultas Pertanian. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. Pada saat hujan besar. Kecamatan Kemang. IPB. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans). The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. water flux. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. padi sawah. Bogor. and water distribution.2. HARIDJAJA1. O. Bogor. and soil pores characteristics in the soils is required. Bogor. Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. Bogor District in 2006. Kata kunci : Pergerakan air. rainfall. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. 2. 3. dan kacang tanah. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. laju pergerakan air transient. Karakteristik pori tanah. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. IPB. transient water movement. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. crop water availability in dryland still has a problem. Kemang Sub DIstrict. located at Bojong Village. Pergerakan air transient. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering.

Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. kemampuan maksimum tanah meretensi air. pengaturan pola tanam. Bodhinayake et al. 1992. Kecamatan Kemang. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. Berdasarkan uraian di atas. 1980). sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. 1980). Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. 1996). Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah.. dan distribusi hujan. 2004). Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. seperti distribusi pori. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. Bagarello et al. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. intensitas. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al... Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. 1992). Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. 2004). dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah.. 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. 2). dan tortuositas pori (Hillel. besarnya peresapan air (infiltrasi). Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. serta 3). 1990). 1986). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1). Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel. kontinuitas pori. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. Toor et al. Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter .. 2004). kebutuhan air tanaman. Desa Bojong. dan dinamika kelembaban tanah. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. Begitu hujan berhenti. Adapun Perfect et al.

18 25.78 39. cabe..41 10. dan intensitas hujan periodik.53 16.84 41.71 31. RPAT = ruang pori air tersedia..39 22..16 2.88 42.55 37.35 57.18 2. 1..86 1. Pengolahan tanah sedalam cangkul...95 0.98 3...44 43.93 1.57 4.92 43..78 8.70 25...84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi..65 9.18 17.05 1...74 19.49 25.59 43.95 31.15 2....58 40..43 63. Rotasi kacang tanah.18 17. 13.76 19.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1. singkong dan oyong. 2..81 27..88 29.34 27.. SP 36.78 40.22 RPDSC RPDC RPDL RPD ...94 58.09 1.01 7. RPDC = ruang pori drainase cepat. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat.90 3.75 58.99 41. harian. dua tahun terakhir kangkung darat.41 32. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1.29 61.20 23.40 2.54 18.94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol . terung.04 24.05 59. Tabel 2..62 25.48 61. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo.58 22.45 43..26 3.00 DMR 1.31 14.29 67. 2.35 23.11 4.38 22.87 15. RPDL = ruang pori drainase lambat. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3...28 26.96 0.63 41..53 13.88 1. 2.ENNI D.42 32.76 22.. 200 kg.07 3. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong.52 14.07 23.81 18..85 47..45 2.48 1.91 2. Tabel 1. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1. terakhir kacang tanah.80 24.96 0. 2. oyong.11 12.35 2..30 38. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor.15 8... : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1).. jagung. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.12 2...88 53..46 15.73 2.67 40.80 2. 5...08 25.23 35. dan 3 Table 2.10 1. 5.19 6.12 27. 2.99 17.13 25...50 4. laju pergerakan air transient.75 67. ISA = indeks stabilitas agregat.. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan.91 22.47 6. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.52 3. 2.15 3...48 30.72 9.62 19.30 7.12 43.47 21.76 1.06 ISA 42. WAHJUNIE ET AL.. maupun harian...96 0. terakhir padi sawah.76 2.95 64.. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1. hujan dan iklim setiap hari.50 46.11 38.78 16.95 1.58 42.25 1..57 5. 4.99 0.98 0.12 27....43 18...64 25.29 65. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan..37 28. RP = ruang pori 17 . 4. Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali.15 7.22 38. 5.23 38.38 9.10 85..01 43..64 7...50 66.76 64. 4. Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.45 40.02 6. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.27 1..40 3.90 21.42 17..69 1.02 0..12 16.02 1. pengolahan tanah sedalam cangkul. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m.88 22.68 33.46 4..50 22.00 0. 3.22 19.22 12.. kacang panjang. 3.90 9.03 29.43 13.54 23.45 11.97 26. dan distribusi air tiap kedalaman tanah.71 1.00 1..41 3. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air.26 8. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.27 19.43 22.80 10.33 2. 1.41 37.42 27.53 10.. 3.27 4.13 19..38 10.97 1. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.12 13. % 4.39 28.01 6. Soil physics characteristics at block 1.53 7.. RPT = ruang pori total.84 17.34 2. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik..91 15.63 35.48 39. 1...00 17.02 66.98 38..75 4.64 62.86 65..96 RPT % 61. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.74 28..21 3.14 1..42 37.48 45.38 14.36 35..83 1.79 14...15 1.76 83.90 1.. Blok 1.06 2.52 64.19 34. and 3 No..13 15.21 14..46 20..16 1.. Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok.35 3..47 14. 3.13 11.95 0. dan 150 kg per hektar.

.∆ S .. dan 3 Table 3.99 Ln (θ) + 7..87 Ln(θ) + 8...28 44..57 Ln(θ) + 8.38 10.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET ..80 25. 2.99 Ln(θ) + 7...92 12..87 12... 38..39 40. 2003).09 Ln (θ) + 7...38 27. Saturated.89 2.38 11..46 30.56 Ln(θ) + 8.00 45.38 11.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet.38 12.54 25.... 11.13 28.88 27.10 0.92 11..00 27. dan titik layu permanen pada lahan blok 1..33 2.....54 43..87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen . permanent wilting point at block 1..... dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya.. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.. % vol ..14 Ln(θ) + 7.....23 1. Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia.92 28.40 0.18 18 . pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan.46 0.07 46.………….92 11. 2.31 Ln(θ) + 7.86 0.42 38.18 31. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol..52 47. dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm.03 44. Konduktivitas hidrolik jenuh. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman..39 Ln (θ) + 7. maximum water retention capacity.87 12. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986).31 Ln(θ) + 7....... Tabel 3.54 25...... maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah.96 25.84 2.93 Ln(θ) + 7.32 0....…...79 2.67 25.. tak jenuh.91 25.. 1986). Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan. (Shaxson and Barber...04 44.90 46.96 Ln (θ) + 7...88 40. kapasitas retensi air maksimum.65 Ln (θ) +7..27 28. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.79 2. cm jam-1 …….....92 11. 1986).03 Ln (θ) + 7..waktu) .32 Ln(θ) + 8...88 46. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah..23 31.. (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan..65 1.87 10. dengan pendekatan neraca air (Wagenet.72 1..92 12. Pada lahan kering yang relatif datar.. unsaturated hydraulic conductivity.....97 45.47 1.. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh ……...46 48.23 1.……………....38 12.87 10..

0013 CH2=. dan 3 Figure 1. r = 2 Fluks (blok 2) =--0.04 CH 0. 3. 2.04 CH + + 0. and 3 19 .ENNI D.0013 CH . r r = 3 Fluks (blok 3) =0.63 2 Fluks (blok 2) = 0. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t).0011 CH2 CH2 .88 0. 2.88 pada lahan blok 3. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah. 0. 2.04 CH 7 7 X 10-4 CH . terjadi aliran tak jenuh dalam tanah. Untuk melihat perbedaan pergerakan air. sehingga membasahi tanah secara berangsur. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah.89 pada lahan blok 1. apabila tanah belum jenuh. Semakin besar jumlah hujan.89 0. Pada kondisi ini. r2= 0. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan.89 Fluks (blok 1) = 0.0011 . sehingga fluks aliran air makin besar. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda. Menurut Sugita et al. Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah.0.– 0. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1. WAHJUNIE ET AL.24 0. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm. yang ditentukan dalam fluks aliran air. 2. 0. dan 3 sama.63 0. laju pergerakan air transient.63 pada lahan blok 2. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0. tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0.20 0.24 + + 0. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum. Pada kejadian hujan besar. Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.20.04 CH ++ x 10-4 CH2 . (2004). dan 0. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0. Pada jumlah hujan rendah.

97 z 0.31 z (-) 0...85 x 3.86 (Fluks = -2. Pori + 0.0. Tabel 4...48 c 0..0..01 RPAT.24 b (-) 0..80 b (-) 0.. 2.87 x 5. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4)..... stabilitas pori..... 28/2008 berbeda-beda...14 b 0.02 y 2.06 y 0.09 RPDSC + 0.17 b 2.....88 (Ks = -14.....30 a 1. Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2.. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh. Di antara ruang pori tersebut.. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air.37 x (-) 2....13 a 1...09 x 1. ruang pori drainase cepat. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat.75 y 1.06 RPDC ... sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3..36 .. Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2).0...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0.. and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 .. Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut. ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2)...41 z (-) 0. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4).07 RP air mobil + 0.07 b 0.01 St..88). dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.86).22 y 1...09 y 1....... R = 0.. Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2.. 2. Water flux and rate of transient water movement at block 1.. 20 .47 a (-) 1. sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air. konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1. Semakin besar fluks aliran air. Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan..93 .23 a 7....... (-) 0.28 y (-)0..25 RP air mobil + 0. ruang pori air mobil...66 a 1.73 x 5.19 x 8.26 x 3.... secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif). tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2. Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.... Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm).. dan 3 Table 4.26 b 2. Berdasarkan analisis regresi berganda... terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm).. stabilitas pori. Pada hari-hari tanpa hujan. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0.......09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%)..02 St..0. Pori . R = 0...33 b 0.. ruang pori air imobil.33 a (-) 0..06 RPDC . memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar.19 a 0.. 2.50 x 8.. cm hari ..25 c (-) 0..17 a 7...84 a 2..27 RP air imobil + 0......0. ruang pori air mobil..08 RP mikro.

perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat.004 CH r = 0. 0. WAHJUNIE ET AL. Dengan hujan yang lebih besar lagi.0019 CH2 . Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah.30 CH 0.004 CH2.12 ++ 0. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum.– 0. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2). 2. 2 .80 3 dθ dt-1 (blok = -2.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0.26 CH 0.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2. dan 3 Figure 2. dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol).62. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun).83.002 CH2 .23 + + 0.2. 2. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.80.0019 CH .0. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar.21 CH 0.2r ==0. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar. 2. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali. r 0.30 CH .62 dθ/dt (blok 3) 3) = .=r 0.26 CH – .2. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1. 1986). sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.23 0. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu. dengan koefisien korelasi masing-masing 0.80 dθ/dt (blok 2) = 0. and 3 21 . 2.12 0.002 CH r = 0. dan 0.ENNI D. r =0.83 dθ dt (blok 1) = -1.21 CH – . Transient water movement on various amount of rainfall at block 1. Semakin besar jumlah hujan.0.

kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel.99). Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. maksimum pada curah hujan paling rendah. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum.93). (1985). dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52.99 (θ KL = .5 mm.01 RP air imobil 19x10-4 St. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air. aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37.85 . Pada potensial yang lebih tinggi. tanah makin lambat perubahan kadar airnya.04 RP air imobil + 0. Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient. Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1.38 + 1.0.02 RP air mobil. Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. kadar Semakin air tanah. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil. dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. ruang pori air imobil.04 RP mikro . kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). R = 0. R = 0. fluktuasi. Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah). dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3). 22 . 2. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). Distribusi air dalam tanah Jumlah. Namun pada hari-hari tanpa hujan. Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1.4 mm. ruang pori air tersedia. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient.93 (dθ dt-1 = -1. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat. Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al. Pori. di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan.04 RPDSC + 0. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3).5 mm. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat). Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air.0.0.03 RPAT . 1980). Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage.0.

: PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3.ENNI D. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah. maka produksi tanaman dapat menurun. (020) cm nyata paling kecil. Fluks. 2. WAHJUNIE ET AL. dan 3 Figure 3. (40-60) cm. dan lapisan atas. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. Apabila kondisi ini sering terjadi. 1986). jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). fluks. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). danKadar air blok 3 3 Curah hujan. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial. fluks. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. flux. Fluks. (1998). kadar air tanah lapisan bawah.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). (20-40) cm. Pada seluruh lahan. 2. 1998). Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). Rainfall distribution. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan. dan kadar air tanah pada lahan blok 1. bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. Shaxson dan Barber (2003). walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. Fluks. Menurut Allen et al. dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. fluks. and soil water content at block 1. Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. Distribusi curah hujan. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya.. fluks.

39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro. dan 3 Figure 4.00 4.00 2 100 0.39 4 100 1.33 116. R = 0.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 43 81 0. Irrigation water requirement at blok 1.00 44 70 0. Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 . 2.11 81.03 RPAT .38 + 1. lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2).99 34 89 2. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.99).38 30. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air.00 36 100 0.11 86.00 58.00 3.33 2 94 0.82 42.52 3.34 30. 2.04 RP mikro .00 4. ruang pori air tersedia.00 28 61 0. 2.0.00 8 97 0. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1.75 1 100 0.89 56 74 0.00 0. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0.25 18 100 0.00 47 72 0. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4.65 46 65 0.00 0.00 20.00 71 67 0.01 RP air imobil 19x10-4 St. ruang pori air imobil.00 9 100 0. dan 3 Table 5.00 87 73 0.0.98 33 86 35.00 13. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min. and 3 Tabel 5. 2.00 29 64 0. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.48 4 90 6. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min.06 10. Pori. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min.

fluks aliran air makin besar . : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. Rome. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. Smith. 25 . dan stabilitas pori. 4. terutama pada kedalaman (0-20) cm. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah. Di samping itu. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. Raes. 1998. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. 2.G. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. (Gambar 4 dan Tabel 5). Pereira. D. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. 3.. diikuti oleh lahan blok 2. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. Semakin besar jumlah hujan. DAFTAR PUSTAKA Allen. Pada lahan bekas sawah. ruang pori air mobil. Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. dan ruang pori air imobil. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. dan terakhir pada lahan blok 3. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. L. ruang pori air mobil. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum.ENNI D. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1. 2. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. WAHJUNIE ET AL. dan ruang pori mikro. FAO. and M. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. KESIMPULAN 1. namun karena pergerakan airnya kurang lancar. Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. R.S.

Optimizing Soil Moisture for Plant Production. Soil Sci. Springer-Verlag.. F. Sukop. 1992. and S. 2004. Shaxson.E. Pp 57-70. M.A. M. B. Philippines. 1986. Dick. E. English. R.. De Datta. 68:6673.fao.org/DOCREP/006/ Y4690E00. Soc.R. Klute (Ed.J. 2004. and M. 1986. Inc. Soc. T.and mesoporosity from tension infiltrometer. Soil Sci. D. held at Waterloo. Edwards. 2004. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems. dan S. 1990.H. New York. Cheng Si. W. 68: 1429-1436.J. G. U. Badan Litbang Pertanian. Cameron. Am. Ritsema.B. K. the 4th International Groundwater Quality Conference. F. V.. Los banos. Agron. Special issue. Perfect. Dunn. Haryati. Soc.. and G. 56:52-58.Di. 1980. Prihar.S. Heidelberg.M. and H. Fundamentals of Soil Physics. 2002. 1992. J. and K. Applied Soil Physics. FAO Soils Bull. Condron. Soc. J. Dalam U. B. Laguna. D. 2003. dan A. Am. 1985.. A.L. Los Banos. 1996. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue. Am. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model. In Proceedings of Groundwater Quality 2004.. J.K. Ashcroft. Dariah (Eds.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Sugita. P. Hanks.J. S.C. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters. and C.J. Sharma. In IRRI (1985).M. 696-701. Xiao. Soc.K. Owens.S. Pp.J. Torr. L. Am.M. Barber. Soc.. Soil Physics and Rice. and R. Painuli. Ghildyal. In IRRI (1985).. M. Am. Soil Sci. Kurnia. Geoderma 70:83-324. Am. Shipitalo. G. Academic Press. H. Departemen Pertanian.M. International Rice Research Institut. July 2004. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. Wagenet. Rachman. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil. W. Soil Sci. Soc. Effect of puddling on soil physical properties and processes.A. R. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. Canada.B. 217-234. and L. Dick. Inc Madison. J.K. 54: 1530-1536 Stenhuis. 26 . Laguna. Hillel. http://www. Tala’ohu. Shipitalo. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. Dekker. Water and solute flux. W.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 68:760-769. Soil Sci. and L. 2004. 28/2008 Bagarello.J. Soil Sci. Am. 1985. 79. New method for determining waterconducting macro.saturated hydraulic conductivity. Wisconsin USA. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow. Soc. J. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field . Pp. Owens. 2004. T. and D.P. Subagyono. Kishii.. Am. Philippines. Bodhinayake. and R. Edwards. J.. and L. Soil Sci. In A. J.S.H. Phillips. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil.S. Soc.HTM.C. C. Am. Soil Sci. and G. lovino.W. Elrick.) Methods of Soil Analysis. W. W. Sur. Haszler. 56:52-58.

Aceh Barat. Bireun. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar.139 ha. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. Pencucian. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. enhance salt leaching horizontaly and vertically. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. In the heavier rice soil.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. 2003). Nagan Raya. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. Salinitas. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. Leaching. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam.458 ha dan di pantai timur seluas 179. and grow salt tolerant crops. 2004. 70. DAN M. Aceh Besar. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. commonly used to grow peanut during dry seasons. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah. desa. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. pasang surut. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. Provinsi NAD dengan total luas 5. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. Keywords : Tsunami. DEDDY ERFANDI1. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah.090 ha. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. memperbaiki kesuburan tanah. Indonesia. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat. improve soil fertility.559 ha. Bogor. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. salt accumulate closer to the soil surface. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. dan lebak) seluas 336. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. Nanggroe Aceh Darussalam. dan Aceh Timur. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. sisanya seluas 56. garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah.190 ha diantaranya berada di pantai timur. Kata kunci : Tsunami.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. semi teknis.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. Aceh Utara. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 .5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. Salinity. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. rusaknya sistem irigasi dan drainase. tadah hujan. 2. This includes avoid planting land that is still saline. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi. Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. maka dengan total luas sawah sebesar 336. 9. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis.000 ha lahan kering dari total 1.. dan 12 bulan setelah tsunami.000 ha. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan. 1986. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29. Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). Cornillon and Palloix.4 juta t ha-1 per musim tanam. Aceh Jaya. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. jembatan. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah. jalan.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1. Slavich. 1997). karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al.9 juta ha yang ada. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. sistem sanitasi dan lainnya. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. 2005). Selain pengambilan contoh tanah.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Khusus untuk contoh lumpur. dan Peuneung di Banda Aceh. dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. 28 . juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. diperkirakan terdapat sekitar 184. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1.000 ton per musim tanam. 2005). Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. 1996. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. 1998). 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. Selain lahan persawahan yang rusak.. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima. 1990).. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. 7.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil.2 t ha-1 per musim tanam. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar.

daya hantar listrik (DHL). HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). 3. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40. 8. Nilai ECe. terutama dalam bentuk NaCl.5 km untuk transek Darussalam dan 1. dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah.5. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran.8 untuk kandungan liat 1025%. natrium (Na). Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. 2003).5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan.5. dan mencemari air tanah (Cardon et al. dan 5 km untuk transek Lhok Nga. kombinasi basa-basa kation (K. Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. pH. kalium (K). kalsium (Ca). : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). sulfat. 4. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur. 1999).5. nilai ESP. Bogor untuk penetapan tekstur. dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. Sementara di Darussalam. 4. Franzen. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya.. Tingkat salinitas (ECe). dan 4. 2005). bikarbonat dan klorin (anion). berkadar garam tinggi. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. ESP. 2003. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3. sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. Berdasarkan hasil analisis tanah. 3. merusak struktur tanah.. C organik.5. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. Ca. 2. 13.ACHMAD RACHMAN ET AL. EC (electrical conductivity). tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. masing-masing 1. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al.6 untuk kandungan liat 30-45%. Mg). Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. 9. 2.5 untuk kandungan liat 25-30%. magnesium (Mg). Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm).

ESP. ESP.10 cm 10 .00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 1. Nilai EC.00 1.20 cm 120 100 80 0 .00 3.00 4. % 25 20 15 10 5 0 1.00 2.20 cm 20 0 .50 4. Nilai EC. Januari 2005 Figue 1. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.00 4.00 2. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah. January 2005 .50 4.50 0 1. dS/m ESP (%) ESP.00 3.50 4.00 60 40 Na.00 2. EC.50 3.10 cm 10 .00 2.50 3.00 5.50 4.50 3.00 5.50 2. dS/m ESP (%) ESP.00 5.00 5.00 2.00 5.10 cm 15 10 .50 3. EC.50 4.20 cm 20 0 .00 4.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.50 60 40 Na.00 1. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths.50 3. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.50 4.00 1.50 2. 28/2008 Jarak dari pantai.50 3.50 4. % 25 20 15 10 5 0 1.50 4.00 4.20 cm 10 5 20 0 1. January 2005 45 40 35 30 0 . and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai.50 4. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.50 3.00 5.00 0 1.10 cm 10 . ESP.10 cm 15 10 . % Na (%) 30 45 40 35 30 0 . ESP.EC tanah (dS m-1) EC tanah. Januari 2005 Figure 2.00 3. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.00 2. km Gambar 2.00 4.00 1.50 3.20 cm 10 5 20 0 1.00 2. (km) Jarak dari pantai km Gambar 1.20 cm 120 100 80 0 .00 4.00 4. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 4.00 2.50 3.00 4.50 2.00 2.10 cm 10 .00 1.

Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. dan HCO3-. Rata-rata (n=20) nilai pH. Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. kolam. Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. makin mudah tanah terdispersi. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis.ACHMAD RACHMAN ET AL. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). ESP. mengganggu keseimbangan unsur hara. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). dimana tanaman padi.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian.4±0.5±1. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. Menurut Emerson dan Bakker (1973). kacangkacangan. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. sumur-sumur. Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. OH-. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. Mg. cekungan. ECe. dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Pertumbuhan tanaman terhambat. Makin tinggi kandungan Na tanah. kecuali K yang rendah sampai sedang (0.4). dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. jagung. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik.

cmolc kg-1 …………. 28/2008 Tabel 1.8 (4.11 38.3 (4. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .6) 24.8) 14. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.1 di Aceh Barat.7 (19.3) 5.1) 34.6 (1.8 7.6 (1. dan meningkatkan kualitas buah.1 (29.1 (1.82 18.8 (7.3 (31. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.1) 2.5 (0.9) 28.. % ….2) 14.87 18.6) 145 (275) 2.5 dS m-1.36 13.6) 0.8 (48.4) 43.9 (24.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.7 (17.3 (5.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.2) 2. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar.3) 1.2 (0. Reaksi tanah umumnya masih masam.. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.8 (15.69 6.57 26.3) 56.8 di Aceh Jaya dan 5.0 (1.7) 9.0) 4.5) 13.54 2.5 (10. 24.8 (0.4) 4.85 56.2 (12. 1990) menjadi 5.6 (31. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.6 (9.1) 18.2 42.….2 (1.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.11 24.9 (8.5 (12.1) 16.2 (0.8) 7. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.8) 31.0 (5.5 (4.0 (3.46 13.9 (24.0 (5.9 (17.2) 68.7 (11.2 41.0 (4.8) 23.19 80.69 18.1) 6.3) 1.3) 5.3 (31.27 0.3 (12. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4.3 42. memperkuat batang tanaman.2 (9. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.0) 5.5 (5.5) 7.0 (24. Dengan demikian. Aceh Jaya.2 24.20 15 .2 (0.93 8.2) 5.8 (1.23 59.0) 15.5) 19. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.22 2.93 4.0) 0.5) 16.62 20.3 (0.8 6.5 (1.3 (18.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.7 (0. rendah di Aceh Barat.3 (0.95 19.2) 2.9 (16.84 Tabel 2.8) 25. Mg dan Na tinggi.7) 0.1 (1.0 (15.9 (23.1) 7.8 26.1) 5.5 (21.0 (17. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.4) 5.9) 8.2) 22.5) 11.8) 0.7) 5.9 Tebal lumpur cm 10 .5 (91.9 (34. dan kualitas bijinyapun kurang baik.2) 14..0 (1.8) 7.9 (11.1 (8.5) 21.2) 14.25 15 . sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.0) 4.8) 16.97 2.4 (0.57 10.6) 19.6 (9. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat .86 19.0) 22.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.3) 8.85 0. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.4) 7.7 (4.80 0.3 (4.86 84.3 (0. rata-rata di atas 5.5 (4.9) 15.2 (12.6) 27.72 2.4) 7.8) 4. Aceh Jaya.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na ………….8 (0.5) 0.1) 7.3) 23.1 (2.3) 41.3 (10.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.4 (0.2) 7.8 12.2 (19. 52. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).8) 4.0) 4.4) 0.7) 0.4) 16.8) 5.1 (2.11 2.80 C % 2.3 (10.6) 6.0 (1.3 (17.3 47.2 (3.2 (8.3 (28.1) 3.9) 31.4) 7.6 (203) 2.

November 2005. Banda Aceh Figure 4. Pidie. Pidie. dan Peuneung Aceh Besar. C) Lhok Nga. Banda Aceh 33 .000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.500 2000 2. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Aceh Besar. and D) Peuneung. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah. Pidie.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1. Aceh Besar. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1.400%) dari bulan September. Lhok Nga.000 1500 1. Gambar 4 A.000 4000 4. C) Lhok Nga. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6).000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1.000 Cl (ppm ) 2000 2. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng.000 4000 D 0 O 0 1000 1.000 3000 4. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram.ACHMAD RACHMAN ET AL.000 2000 Cl (ppm ) 4. B. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat. A O 0 2.000 2000 3. baik secara horizontal maupun vertikal. Panteraja Pidie.000 3000 3.000 4000 6. dan D) Peuneung.000 1000 Cl (ppm) 2. dan Oktober 2007. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian. B) Panteraja. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.000 6000 8.000 10. B) Panteraja. C. Pidie.

Banda Aceh Figure 5. and D) Peuneung. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. khususnya sawah. Pidie.26* ECa) – 0. adalah: 1) tindakan pencegahan. Pidie. (1989). Aceh Besar. dan D) Peuneung.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. di daerah bekas tsunami. Dengan memasukkan angka ECa=1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 . Pidie. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5. Aceh Besar. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.94 r2 = 0. Pidie. B) Panteraja.72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. C) Lhok Nga. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. 2) tindakan rehabilitasi. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian. B) Panteraja. C) Lhok Nga.

Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Pidie. Pidie. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . C) Lhok Nga. Banda Aceh Figure 6. Banda Aceh nang secara permanen. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. dan D) Peuneung. Aceh Besar. and D) Peuneung. B) Panteraja. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul.ACHMAD RACHMAN ET AL. C) Lhok Nga. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. B) Panteraja. Aceh Besar. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. Pidie. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. Pidie. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

dan Perbaikan Teknologi + Jerami. like nutrient and sediment conserving.07 to 0.55 ± 1. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season.15 l second-1.10 ± 0. Kalium. and from 7.55 l second-1.32 ± 0.60 ± 0.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. dan 7.78 ± 0. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0. BPS. the Semarang District during the Wet Season 20032004. Sebaliknya. but also providing an environmental services.34 l second-1.10 ± 0.54 ± 0.06 to 1.20 sampai 1.09 l detik-1. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.28 to 1.34 l detik-1.06 dan 1.13 ± 0. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian. Sedimen.20 . Improved Technology. menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al.25 to 13. industri dan rumah tangga.32 ± 0. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. Fosfor. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk. In contrast.521 kg ha-1 season-1. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice.33 ± 0.55 ± 1. both for sediment and nutrient deposited. 2002).55 l detik-1. and Improved Technology + Rice Straw.06 l detik-1.. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. sedangkan pada stadia generatif antara 1.715 sampai 5. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.09 l second-1. 1996.52 l detik-1.89 ± 0.52 l second-1. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan.20 and 13.13 ± 0.521 kg ha-1 musim-1. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil. Bouman and Tuong.28 dan 1. dan pada stadia generatif antara 1.15 l detik-1. Perbaikan Teknologi. hara terlarut (nitrogen. yaitu antara 0.715 to 5. Secara statistik. Selanjutnya.38 ± 0. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0. 2007).62 kg N. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras.13. Perlakuan yang diuji. varying between 7. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia.33 ± 0. dan bervariasi mulai 2. 0.54 ± 0.13 and 0. Sediment. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan.20 kg P. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim.21 ± 0. There were no significantly different among treatments.23 sampai 3. Furthermore. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi. Sawah berteras was about 1.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2. meliputi Praktek Petani. yang bervariasi antara 7. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah.62 kg N. yaitu antara 0. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan.38 ± 0.0.15 dan 0. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Farmer Practices + Rice Straw. Nitrogen.42 kg K ha-1 musim-1.13. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment.07 dan 0. kawasan industri dan fasilitas jalan. Sebaliknya.25 . 1.78 ± 0. Potassium. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 . Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1.15 to 0. The treatments included Farmer Practices. Keywords : Discharge. 0. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village. Nitrogen.13 .31 ± 0.42 kg K ha-1 season-1.89 ± 0.20 and 1.06 l second-1.60 ± 0. At generative stage was about 1. dan (4) pencemaran air.31 ± 0.20 kg P. 2001. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama.23 and 3. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji. Oleh sebab itu.21 ± 0. Phosphorus. Praktek Petani + Jerami. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0.

1994. 1998. 1998. Agus et al. 2006. Aksoy and Kavvas... 2007). Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau. Duque et al. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. 1971. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. (1976). 2004). 2002. 1973. 2003. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim.. 2004). 2006. 2005. pengolahan tanah (tillage erosion). Lal et al. Tabal et al. Robichaud et al. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. Daniel et al.14-1. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion). Cabangon and Tuong. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al. 1990. 2003. 2003 dan 2004.. Lal et al.. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. Sukristiyonubowo et al. Secara spesifik. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim. penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al. Kukal and Sidhu. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts). Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. Naphade and Ghildyal. Bhuiyan et al. kecepatan infiltrasi. 2005. Bouman and Tuong. Berkaitan dengan iklim. Lal... 2000. Selanjutnya. (1998) melaporkan bahwa jumlah. Sukristiyonubowo. tipe penggunaan lahan. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. 1986. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. Sukristiyonubowo et al. sifat kimia tanah.. 2003. Phomassack et al. tanah. IWMI.. 1992. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan.. air (water erosion).. kondisi kelembaban awal tanah.. dan Douglas et al. . Sanchez. dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian. Cabangon et al.. Filipina. 2000. 2003. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. Sukristiyonubowo. sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. Kissel et al. 1977. Udawatta et al. Agus dan Sukristiyonubowo. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India. 1998. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill). dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. intensitas. 1998. Kirchhof et al. 2003. Sharma and De Datta. 2007 dan 2008). Sukristiyonubowo. 2007). 1970. 2001. Toan et al... topografi lahan. Namun demikian.. Adachi. 1971. Visser et al. 2002. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). 1998).10 g kg-1 air (Bhuiyan. 2003.

mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. 2007).58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11. dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova). Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat.5 for Windows. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. Urea diberikan dua kali. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. 100 kg TSP. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Saluran air masuk pada teras paling atas. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. 41 .140 mm (Sukristiyonubowo. Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. Dua belas sawah berteras. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar. dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet). Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. Kabupaten Semarang. Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). dan 100 kg KCl ha-1 musim-1. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. berlainan ukuran. Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). 2007. sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. 2008). sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST.44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo. yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. Teras bersifat datar. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. Pada perlakuan FP.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0.

. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja. dan kunjungan lapangan Tabel 2. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00. 28/2008 Tabel 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..680 904 2. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1..15 Takaran Urea TSP KCl .300 5. P (PO4-).97 3.500 3. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah.48 2. Date of planting. Tanggal tanam. Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5. pengamatan diakhiri pada jam 17:30.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan.. Pada saat pelumpuran.64 2.070 2. dan K (K+) terlarut.240 1. 42 .500 5.. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30.. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2. the total amount of returned rice straw.dan NH4+). Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen. komunikasi pribadi.15 2.040 4. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2.000 4.26 2. pengembalian jerami.780 1. kg ha-1 musim-1 ..530 3....

Unsur N. dan 16:00. yaitu pada jam 08:00. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1. P. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. yaitu jam 08:00. kadar lumpur.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit.dan NH4+). namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil. Bogor. Pada stadia vegetatif. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. 12:00. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. fosfat (PO4-). Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). 12:00. dan konsentrasi N. sedangkan kalium dengan flame photometer.000/t dimana. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter.000 43 . Dalam makalah ini. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. Pada stadia generatif. Data yang dikumpulkan meliputi debit. Ammonium (N-NH4+). dan 16:00. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. pengambilan contoh air irigasi. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. P.

28 sampai 1. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. Selanjutnya. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.33 ± 0. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989).55 l detik-1. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak.23 sampai 3. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air.06 liter detik-1. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. sawah memerlukan air yang paling banyak.15 l detik-1. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al.38 ± 0. WMO (1994). Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al. Pada stadia vegetatif. dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma.000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. kebutuhan tanaman padi akan air. Oleh karena itu.54 ± 0. mempermudah proses pelumpuran.15 sampai 0.10 ± 0. Bouman et al. dengan cara memasukkan konsentrasi N.. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. P dan K sebagai ganti kadar lumpur. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . namun dapat meningkat hingga 650900 mm. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3.60 ± 0. Akibatnya. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif. Secara umum. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain. Alasan penggunaaan metode pengukuran.55 ± 1. Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. 2004). dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi. yaitu berkisar antara 0.

306 0.50 ± 0.78 0.313 0.030 0.55 ±1.783 1.13 a IT + RS 0.53 a Sebelum tanam FP 1.247 0.025 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.774 a .220 0.21 a IT 0.23 a IT 2.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.010 0.25 0.51 ± 0.15 a Stadia generatif FP 1.55 a* FP + RS 2.09 0.15 1.303 ± ± ± ± 0.19 0.20 0.283 0.89 1.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.203 0.19 0. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).1.017 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.20 0.223 0.35 ± 0.06 0.045 0.015 0.46 ± 0. ukuran teras dan luas lahannya.05 b 0.27 0.10 liter detik-1.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.283 0.51 0.020 0.17 1. Rata-rata debit. 45 .267 0.015 0.088 + + + + 2.280 0.52 0.273 0.06 a FP + RS 1.260 2.021 0.150 + 565 a a + 1.010 0.12 0.10 + 686 a a + 1.025 0.237 + 655 a a + 1.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.150 4.33 ± 0.84 ± 0.243 0.267 0.237 0.870 a .05 a 0.715 5.223 0.280 0.330 ± 0.46 0.250 0. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.307 0.31 ± 0.14 1.42 1.021 0.06 1.237 0.17 1.229 2.237 0.19 a 0.015 0.015 0.012 0.23 a IT + RS 1.20 0.068 3. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.11 a a a a a a a a a a a a 0.28 a IT 1.12 a IT + RS 1.34 0.20 a FP + RS 1.54 ± 0.090 0.177 0. Average discharge.031 0.580 3.10 ± 0.015 0.237 + + + + 3.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.1.28 a IT 0.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.13 1.13 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.37 a FP + RS 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah.021 0.50 ± 0.09 c 0.39 ± 0.51 a FP + RS 0.37 ± 0. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.27 a IT + RS 2.170 0.60 ± 0.243 0.490 ± 0.72 ± 1.57 ± 0.015 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.30 0.946 5.22 0.015 0.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.45 ± 0.32 1.026 .36 0.835 0.39 a IT 1.38 0.287 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.025 0.21 0.34 dan 1.021 0.021 0.880 3. sediment concentration.021 0.207 0.46 1. konsentrasi sedimen.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.38 ± 0.243 0.521 a a a a a a a a 1.608 a 0.36 ± 0.093 2.310 ± 0.284 a .420 ± 0.012 0.17 0.07 0. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.11 0.35 0.28 ± 0.14 0.051 0.550 2.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.11 0. MH 2003-2004 Table 3.1.173 0.31 1.220 0.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.24 3.15 a IT + RS 0.79 ± 0.015 0.54 ± 0.267 0. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.450 2.

pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari). pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya.70 . Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya.3.09 g l-1. saat pelumpuran adalah yang paling tinggi. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan.31 ± 0. Sebaliknya. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1.42 sampai 3. Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1). Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah. Selain itu. yang diukur pada saluran air keluar utama. Kadar lumpur larutan sedimen.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Namun.88 ± 1. debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar.58 ± 1. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3). hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca .870 kg ha-1.49 ± 0. Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi. Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen. Pada saat pelumpuran.13 g l-1. lebih tinggi 2. Akibatnya.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari. 2004). Selama perioda pengukuran. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. Sebaliknya.260 sampai +2.. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system).19 sampai 0.

sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1.589 kg ha-1 musim-1. MH 2003-2004 1250 1. penurunan kwalitas air. MH 2003-2004 Figure 1. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate).250 1000 1.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1). vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi. pada stadia lainnya (tanam.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1. MH 2003-2004 1250 1. Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 . Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. dan lain sebagainya.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. Sebaliknya. MH 2003-2004 1250 1.000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP. MH 2003-2004 1250 1. oleh sampai 480 keluar. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008).

21 ± 0. atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5. Variasi konsentrasi nitrat (N03-).dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan.34 ± 0.05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5). Meningkatnya konsentrasi NO3.01 sampai 0. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi.04 sampai 1. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0.80 ± 0. Oleh sebab itu.06 sampai 0.antara`0. yaitu antara 0.12 mg kg-1.02 sampai dengan 2. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis). mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. - 48 .68 ± 0. yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture).77 sampai 1. 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi. yaitu N03.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5).04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N. Seperti halnya pada air irigasi.terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS). sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1. bervariasi antara 0. Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah.86 ± 0. konsentrasi NO3. yang bervariasi dari 1. amonium (N-NH4+). Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.0 sampai 5.09 mg kg-1 (Tabel 5).22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1. tergantung pada perlakuannya. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji. konsentrasi PO4. Konsentrasi PO4.6.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar. selain volume air irigasi dan larutan sedimen. Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen. kopi (Coffea arabica). sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata.pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya.56 sampai 1. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site). fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4). tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen.13 ± 0. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen.dan N-NH4+ oleh air hujan.15 ± 0. cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ). konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi.04 mg kg-1. Poss and Saragoni (1992). amonium (NH4+). Diantara hara yang terlarut. Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991).04 sampai dengan 2. Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1.

050 0.... 1970.05 0.03 0..035 0.02 0.012 0.29 ± 0.58 1.06 0.01 0....09 0.012 a 0...01 0.. P.01 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.030 0.010 a a a a a a a a 1.01 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.05 0.14 ± 0. Concentration of dissolved N... PO4.20 ± ± ± ± 0.015 b 0.03 0..015 a 0.65 1..035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi.02 0.01 0.72 1.01 0.020 0.045 0.08 0.07 0.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.07 0.59 1... MH 2003-2004 Table 4.006 0.012 0..08 0..34 1.34 ± 0.28 1.030 0.10 0.03 ± 1.86 1..12 ± 0. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya.47 0.36 0.030 0.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.79 1.56 1. Konsentrasi N.025 0.04 0.015 0.70 0.01 0. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS)... 0..05 0..19 1.. P..78 1..SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4.006 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.09 0....04 a 2.025 0.030 0.04 0. 2007).02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0. pemupukan.035 0.79 1.08 0.01 0.055 0..06 0.16 2.04 0.. and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.025 b 065 ± 0.021 0.01 2..04 0.59 1.45 ± 0.04 0....02 0.15 0..84 1.66 1.80 ± 004 a 1...dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen.030 0. N-NH4+..03 0..22 0.12 0.02 0.76 1.15 ± 0.04 0.21 1..00 0.035 0... dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 .01 0..04 0.10 0. Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-.95 2.18 1.36 0..45 ± 0. P...03 0.010 0..006 0.025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.79 ± 0.01 0.72 1.02 1..14 2..01 0.. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras.065 0. mg kg ..01 0.025 b 0.02 0.67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras..07 ± 1.83 0.07 0..65 1..30 0.04 0..012 0. Sukristiyonubowo..025 b 0. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull.02 0.035 0..04 2.01 0.030 0.15 ± 0. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007).07 0.04 b 1.05 a 1.030 0.79 1..46 ± 1.025 b 0.86 ± 0..04 0.86 2.98 1. faktor lain seperti debit... 49 .01 0....01 ± 1.05 0... Selanjutnya.77 1...025 b 0.015 0.01 0.01 0.86 1..015 0..

44 1. 0.75 1.. P.01 0.03 0.03 0. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .69 1.80 1.10 1. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi..97 0.13 0.03 0.89 0.03 0.47 1..03 b 1.04 0..14 kg P.02 0.07 0. Akibatnya..04 0.05 0....34 0.06 0.. 28/2008 Tabel 5.75 1..05 0.01 0.69 0.01 0.12 0..05 0.02 0.....06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.09 0.96 dan 8.07 0.99 1. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut... 0.03 b 1..05 0...85 1.03 0.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0....17 0.06 0.02 0.06 0.01 0.03 0. MH 2003-2004 Table 5.03 0..04 0.57 1.09 0.07 0..57 ± 0.47 1.... Seperti halnya pada pergerakan sedimen..04 0.01 0.29 1..05 0.....62 1...02 0.06 0.01 0..06 0.02 0.10 0..43 0.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1.04 0.03 0.01 0.02 0.10 0. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.02 0... Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4... mg kg-1 .02 0.03 0.06 0.01 0.75 1.15 0..05 0.13 1.58 0.54 1.. and K in suspended sediment during rice growth.04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0.73 1.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1...28 kg K ha-1 musim-1.54 ± 0.60 1..05 0.90 1.02 0.01 0.02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.10 1..75 1.03 0.02 0.06 0.46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.13 0.02 0.05 1.67 1.62 ±0..01 0.02 0.05 0.03 0.11 1.57 ± 0. P.68 1..04 0....21 1.01 0.04 0.02 0. Konsentrasi N. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar.03 0.01 0.67 1. P.04 0.09 dan 1.02 0..14 dan 9. dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.70 1..60 2.31 0. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar. dan antara 3. Concentration of dissolved N.02 0.68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.30 1.03 0.02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N.56 1.03 0. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari). atau negatif.03 0.02 0.... Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif.90 kg N. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar...32 1.01 0.03 0..08 0....12 0.03 0.06 0.09 0.85 0...04 0..04 0.80 0.02 0.. N (NO3 + NH4+)..04 0.07 0. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6).02 0.05 0.10 0. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda.38 1...01 0. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.73 1.03 b 1.54 1.06 0.03 0. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.03 0.04 0.31 1.. P.03 0.

130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0..00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0.. dan pada stadia generatif berkisar antara 1..62 2.26 6.0.. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar... yaitu 51 .20 a 4..25 ..36 a a a a 0.52 b 0. debit larutan sedimen adalah lebih kecil..20 0..144 0.99 28.55 ± 1.030 0.040 0.030 0.20 6. yaitu antara 0.90 a a a a a a a a 16...64 0.08 1.15 dan 0.130 0..060 0.00 5.56 3.. KESIMPULAN 1.20 a 10..60 ± 0...70 1.80 1.18 0.090 0..06 5.57 0.98 8.48 a a a a a a a a a a a a 0.48 3.06 1...03 19.93 0..68 15.90 2.31 ± 0..64 2.52 a 12....41 0.003 0.50 9.55 l detik-1.42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.80 29....28 3..28 sampai 1..50 ab 29.050 0.30 6.030 0...126 0.002 0.87 1.90 9.018 0.38 1...186 0..422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.92 4.90 20..34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6).90 11.. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1.31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7..86 9......60 b 25.40 1.50 6.54 ± 0.018 0..050 0.002 0.144 0.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.270 0.. kg ha-1 musim-1 ..10 4. P.282 0.32 a a a a a a a a a a a a 13.96 44.13.13..38 ± 0.90 1.010 0....040 0.58 36.58 b* 1...402 0....76 12. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi..84 8. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air.040 0..55 0.14 9. 0.78 49...002 0.070 0.87 39. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K .90 1.96 19.20 kg P dan 7.24 6..040 0.30 1..07 a 7.22 0.60 3.16 4.80 10......62 a a a a a a a a a a a a 0...030 0.58 5.52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi...20 a 13.05 12.28 2. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0.50 0.126 0.40 11.20 .010 0.20 sampai 1. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.030 0.15 l detik-1.. 0. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti..162 0.37 13.33 1.54 4..20 22.13 ..20 a 0.002 0.80 2...42 6..60 12.34 0..68 b 4. Dibandingkan dengan debit air irigasi.51 0..23 sampai 3..072 0.196 0.80 2.90 19.33 ± 0.00 9..80 a 10.090 0.64 3..30 2.090 0.96 8.020 0.192 0.256 0.13 4.10 9.70 22.50 12..060 0.270 0. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar. MH 2003-2004 Table 6.46 0.80 14.89 ± 0.36 0.86 0...62 a 13. berkisar mulai 2.74 7...060 0.145 0..008 0.060 0.42 7...12 1..SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.51 12.090 0..288 0.62 kg N.458 0.24 27.. N.76 31.25 11.33 0....030 0.92 42.180 0.66 10.46 15.80 6.30 a 23.030 0.10 ± 0.70 8.56 ab 9.30 36.080 0. Incoming and outgoing dissolved N..06 l detik-1.

DAFTAR PUSTAKA Adachi. Schuman. A.78 ± 0. Valentin.490 ± 0. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran.E.L. lebih tinggi sebesar 2. E. Sebaliknya. K.R.M.25-13. and K. Bhagat.. 286 hlm. Agus.I. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah. V. 280 hlm.012 sampai 0. C.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2.20 kg P.62 kg N.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya.13-0. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. Maglinoa. (Eds. 2007. 1992. Pp 146-151. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia. In: Maglinao. 64:247271. Departemen Pertanian. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Moody.T.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 antara 0. Ramakrisna. H. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model. Tabbal. 1990. Burwell. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. and Sukristiyonubowo.09 l detik-1. 21:293-299. 2003.58 ± 1. Water. 1977. Tabuchi. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran.13 g l-1. Yamaji. Rekomendasi pemupukan N. Catena. Sukristiyonubowo. M. water regime and fertigation level. and D.W.715 sampai 5. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata.42 sampai 3.J. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. F.I. 2003. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0. and T.207 ± 0. S. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. Effect of rice-soil puddling on water percolation.88 ± 1.). 2005. 1994. Bhuiyan. Pp 135-149. E..F. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. F. opportunities. 1998.I.21 ± 0. F. 0.E. and C.. Kavvas.E. Outlook Agriculture.. T. Pp 186-193. Bhuiyan. A.52 l detik-1.. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2. Integrated catchment management for land 52 . Pada stadia generatif bervariasi dari 1. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen. A.42 kg K ha-1 musim-1. BIMAS. Aksoy. Wet seeded rice: water use efficiency. Agricultural Water Management 31:165-184. Anbumozhi.09 g l-1.2013. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed.06 sampai 1. selain sebagai tempat memproduksi beras. Paper presented at the International Workshop on constrains. Water management in relation to crop production: case study on rice. and Penning de Vries. S. palawijo dan sayur. 1996.. and H.32 ± 0. Anonim.). fosfor. Alberts. In Wani.70-3.13 ± 0. May 31-June 3. Vadari.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. productivity and constraints to wider adoption. Bercocok tanam padi. Journal of Environmental Quality 7:203-208. G. T. 1978. Valentin.07 dan 0.A. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. Sattar.R..L. R. Departemen Pertanian. Bangkok. S.. R. and innovations for wet seeded rice. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. Watung. Anonim. Bhuiyan.P. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth. and R. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. 2. and Rego... Agus. 1994. S. (Eds. Agricultural Water Management 37:241-253. dan 7. hara terlarut (nitrogen. 19 p.

Chaplot. CD-Rom (one CD).). Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L. Burnett.J.. In Wani. T. D.R. 2003. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. C. Monitoring of weather.. IWMI Brochure. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Pp 499-509 In Kanwar. Kissel.. 2005. Bains. Datta. (Eds. MSEC-Lao PDR Annual Report.). S.K. 2000. Agricultural Water Management 49:11-30.. Tuong. C. Agus. Soil Erosion at Multiple Scale. de Rouw.B. G.L. Dacanay. 1976. Valentine.H.. Bains. Cabangon. 207-222. 1971.N. 203 p. J. N. Ghildyal. R.S. S.P. Soil and Tillage Research 56:37-50. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion.D. Doctorate Thesis.).. Bhumbla. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality.P. N. and Biswas. De Datta. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems. Soil and Tillage Research 56: 105-116. ion uptake and rice growth. Jr. and T. S. Tiongco.J. A. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek. 1998. E. T. and T. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops. J.P. 1998. Visperas. Syers.. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. 2000.E. and Kerr. Carpina. P.P. Caughlan. F. 1991. (Eds.S.A. L.S. Castaneda. Soil and Tillage Research 78:1-8.. (Eds. A. B. (Eds. Naphade.S. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman..P.B.. D.. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210.L. Duque Sr.. P. Biro Pusat Statistik. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts.. El-Swaify. 2002. Miller..C.R. Utomo. Logan.M. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464.. F. Water facts. Ilao. B. Statistik Indonesia. Thonglatsamy. Agricultural Water Management.S. J. T. and E. T.P. R. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview. Priyono.J. 2001. Maglinoa. Maglinoa. T.. J. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation.P. and Biswas. Kirchhof. 1998. Marchand. Lemunyon. Lal. Datta. and V. A. and A. Richardson. and B. 1998. Adisarwanto. A.K. A.R.) field. Cabangon. and J. A. de Guzman. F. Peng. IBSRAM-Thailand proceedings. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines.P. IRRI. Lal. D. Pp 163-178. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon..R. S. T.J. Kukal.. and J.P. Douglas. T. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice. 1989. Hashyim. Principles and Practises of Rics Production. C.A. Bhumbla. S. Quita. IWMI (International Water Management Institute). In: Wani. Phommassack. BPS. A.. K.W. and T. So. 2004. W.R. S.O. and soil loss. C.S. K. Ramakrisna. C.D. and J. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. S. Sharpley. G.J. MSEC-Philippines Annual Report. 1981. Sihavong.).. Ramakrisna.. King.J.M.P.T. runoff. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR.. and Rego. and R. 2003. CABI Publishing in Association with IBSRAM.A..D. Ghildyal.F. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. and T. Zuzel. 53 . Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. Journal of Environmental Quality 27:251257. Pp. Sidhu. 2004. Santos. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177. R.V.. 1971. (Eds. Abdullah. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics. R. C. Tuong.. 2002. R. Chanthavongsa. B. S. Los Banos.). Daniels. N. Demyttenaere. and N. T. Pp 510-517.. A. B. P618.. and Rego. and H. In: Penning de Vries.M. R. In Kanwar.S. Phillipines. 57:11-31.V. Tuong.E.A.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman.. S. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. Journal of Environmental Quality 5:288-293.M.W.M. 1998.

and S. Verloo.). 54 . D. P. and Rego. R. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo. 413-416.E. P. Leaching of nitrate. In Maglinao. 67: 56-67. A. 2005. and F. Chardon. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. Wagenbrenner. measurements and modelling.D. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. and H.K. Maglinoa. Sukristiyonubowo. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). Fifth ed. Catena. T. Growth and nutritional aspects. Garrett. and M. Puddling tropical rice soils: 1. V. 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. D. and Penning de Vries. 2002.P. Udawatta.).P. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice. R. Agus. Ghent. Phien. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. L.A. L. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD).. Toan.H. A. Advance Soil Science. 56:93-112..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2007. PhD thesis. analysis. Sanchez. 2006. Badan Litbang Pertanian. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. F.I. Fertilizer Research 33(2):123-133. Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. De Datta. T. forecasting and other applications.168.R.. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils. E. Data acquisition and processing. Catena. Guide to hydrological practices. Agus. D. Agriculture Ecosystems and Environment. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. Vadari.E. Belgium. Watung. S.B. Sukristiyonubowo. MSECVietnam Annual Report.R. (Eds. 1992. CD-Rom (one CD). Hlm 225-245. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems. Sibayan. Uexkull.A. R. Faculty of Bioscience Engineering.. Lao PDR on 14-17 December 2004. F. Nguyen. 2003.J. 5:139-178. 169p. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Lillybridge. H. 1973. P. Bhuiyan. WMONo. Valentin. 686.E. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.. Poss. (Eds.29.A. 1974. Physical properties and processes of puddled rice soils. USA. Journal of Environmental Quality. G. 2004.P. WMO (World Meteorological Organisation). Schuman..R. Agricultural Water Management.M. 1989. P. Burwell. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. CD-Rom (one CD). Visser. 1986. Pp. 2006.). T.. T. Pp.D. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. Nutrient losses by wind and water. Sukristiyonubowo. 184 p.L. Bouman. T. Yuqian. Krstansky. A. and J. In Wani. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. Gabriels. B. 4:366-369. Soil Science 115:303-308. Sattar. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. 735 p. Sharma. 151-164. 2008. Phai. and W. 1970. 117:39-48. Taball. C. 2003.J. Ghent University. S. Motavalli.W. Robichaud. Ramakrisna. S. Departemen Pertanian. and J. 1994. Sukristiyonubowo.R. WMO-No. 64: 1-22.T.K..R. case study in the Philippines. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition).F.. and R.M.J. Stroosnijder.. Operational Hydrology Report No. Saragoni. and L. In The International Potash Institute (Eds.W. and M.

The experiments used completely randomized block design with four replications. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. Bogor. clay content. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. 46. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. Serapan fosfor. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. medium. Newman and Hayes. In smectitic soils. Kaolinitik. Pada tanah kaolinitik. Namun demikian. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. Fe. sedangkan pH tanah. Cadd. and high P content variabilities. 1990. 2. applied as superphosphate (SP-36). Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. sedang dan tinggi. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Fedd. Bogor. while the correlation of pH. Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. clay content. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. 23. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. Phosphorus uptake. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. Fedd. Kaolinitic. dan 115 kg P2O5 ha-1. Tan. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. Fe. exchangeable Ca. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Smektitik. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. 23. P uptake response with P fertilizer was not significant. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. 69. Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. MASJKUR1 DAN A. exchangeable Ca. ISSN 1410 – 7244 55 . Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. Cornforth et al. while the correlation of pH. kadar liat. kadar liat. 1990. 69. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. Thus. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. IPB. and Al were not significant. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Smectitic. sedangkan pH tanah. Cadd. In kaolinitic soils. Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. In kaolinitic soils. 2002). sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. Padi sawah Keywords : Soil properties. 1998). increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. Departemen Statistika. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. and Al were not significant. 1990). 46. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi.

Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. kandungan bahan organik (C organik. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7). Contoh tanah dikering-udarakan. dan diayak dengan saringan 2 mm. C/N rasio). Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. 2. 56 . 23. dihaluskan. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. Fe dan Mn dapat ditukar. 200. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. besi oksida bebas. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. 28/2008 pulau utama. dan Zn dapat ditukar (DTPA). 150. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. Adapun fraksi Al-P. dan 3). Purworejo 2 (P sedang). P Bray 1. pH (H2O dan KCl). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. 100. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Purworejo 2 (P sedang). Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. dan Na dapat ditukar. Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. P dan K HCl 25%. Mg. dan 8).. fraksi Ca-P. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. 7. 1999). Fatmawati. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). Ca. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). 46. dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. Fe. Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). K. N total. Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Mn. Kedungrejo (P tinggi). dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. 2005). Cu. 69. Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali.

57 3.89 0. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.6 1.0 4.38 12.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .37 11.49 1.50 10.01 0. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.30 0.80 2. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….0 3.Tabel 1.46 2.77 0.11 0.65 0.05 0.0 3.3 11.67 2.0 4.4 74.0 2.65 0.0 9.2 1.08 0.14 0.73 0.4 16.1 4.09 0.81 2.5 15.07 0.4 1.13 0.68 0.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.….2 3.0 5.53 11.81 0.67 0.52 11. ….02 0.1 4.0 4. g 100g-1 .97 0.01 0.15 0.14 0.01 0.77 0.69 1.…………… me 100g-1 ……….31 0.09 0.46 2.01 0.2 1.1 5.66 2.02 0.0 1.11 0. mg kg-1 …….09 0.38 1.7 4..0 4.29 12.73 0. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….58 3.70 0.63 0.1 5.38 1.45 9.14 0.….1 5.82 0. …. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.4 2.45 3.48 0.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .38 2.97 1.6 1.7 2.34 1.25 2.32 0.56 0.2 1.81 0.1 5.0 4.95 3.22 1.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.5 1.79 13.12 0.09 0.1 5.97 1.2 5.65 0.6 1.14 0.0 83.13 11.02 0.1 4.26 12.67 0.0 11.82 3.3 5.15 0.62 0.05 2.24 0.01 0.4 4.….01 0.2 4.2 81.88 2.4 1.12 0.01 0. g 100g-1 ….69 1.45 0.19 3.8 1.6 2.73 2.2 3.31 2.6 1.31 1.0 4.67 1.44 3.2 5.01 3.46 1.09 0.57 1.8 5.0 4.2 1.01 0.2 5.9 21.7 26.97 0.0 3.39 1.07 0..53 1.….04 0.01 3.5 65.73 0..55 0.7 24.96 12.51 1.14 1.0 4.3 1.9 11.1 1..6 1.59 1. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2. me 100g-1 ….6 3.02 0.5) H2O KCl 5.65 1.5 25.6 12.10 2.4 1.2 2.13 0.24 9.2 5.84 3.3 0.01 0.

02 0.3 2.1 9.00 0.14 7.3 7.46 98.64 43.3 3.4 35.25 24.00 0.3 10.71 22.36 16.45 1.3 14.6 2.77 35.25 117.73 6.04 0.51 1.9 2.0 9.2 6. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.13 0.08 0.00 0.54 40.02 0.09 15.38 0.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.6 7. me 100g-1 ………………….1 2.30 0.5 5.57 13.44 0.2 37.33 0.63 41.80 0.39 1.1 6.00 0.26 35.46 1.6 6.07 21.3 6.11 6.96 14.95 38.86 1.2 6.8 2.42 0.00 0.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.55 127.2 12.2 34.2 5.4 6.42 0.4 4.00 0.50 5.02 0.30 0.92 16.03 0.31 0.11 0.03 115.0 4.73 35.00 0.02 0.68 44.0 10.0 2.76 1.37 1.80 105.02 54.45 0.00 0.39 1.00 0.11 0.4 4.0 2.52 1.58 Tabel 2.6 14.6 4.2 33.32 40.65 41.08 15.11 0.00 0.16 43.1 5.55 101.57 21.00 0.11 0. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.32 23.37 22.17 14.40 0. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….32 50.5 4.36 5.02 0.6 2.4 9.4 12.52 51.4 2.67 1.18 0.62 0.4 1.10 14.5 12.47 0.37 1.35 49.4 7.78 135.02 0.48 14.3 5.65 42.23 1.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .00 0.86 55.50 51.6 14.69 0.38 59.5 6.0 2.46 1.29 KB % 116.8 12.39 123.67 130.5 7.20 0.47 56.87 1.13 0.11 0.10 24.15 1.26 0.53 1.2 7.12 0.40 0.00 0.7 3.0 42.4 2.09 0.08 0.68 14.11 0.99 41.5 5.3 7.08 0.94 14.7 5.50 42. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.3 6.13 0.5 2.4 7.4 0.36 14.95 101.70 0.3 21.75 44.04 135.

Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3. Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983).Tabel 3. Dobermann and Fairhurst (2000). 59 .

60 Tabel 4. Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4. Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer . Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5.

.. MASJKUR DAN A. Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1.. 2004) Gambar 2. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. 2004) Figure 1. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al.M.. 2004) 61 . 2004) Figure 2. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al.

0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3. 28/2008 4.741 0.99a 1.292 0.343 0.35a 3.089 Tabel 7. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.05a 2.112 0. 0.558 1.0 2.363 1.290 0. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.89b 2.77a 1.50a 1.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.344 0. 0.51a 1.70a 3.463 2.0 2.0 4.030 3.5 1.449 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.10a 3. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.78a 2.09a 2.186 0.5 2.033 5.89a 3.939 Sig.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.0 3.875 10.5 2.447 Tabel 8.227 1. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6.07a 2. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.746 Sig. 0.05 62 .62a 2.52a 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.798 9.0 1.761 0.599 0. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.5 3.908 4.213 F 1. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.189 5.639 F 1.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.33a 2.579 16.99a*) 1.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3.77a 2.615 Sig.54a 2.490 F 0.228 Tabel 9.

053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4. 11. Tabel 10.774E-02 9. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13).451 0.147 15. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.M.161 4. 11. 12.646 0.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1.119 5. 0. dan 13).47. Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun. 150. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10.762 F 1.60 hingga 10. smektitik Demangan dan Tirtobinangun.241 Sig.143 1.183 0.866 63 . dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4.355 0. Kedungrejo (P tinggi). Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4. dan 10.339 0.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. dan 250 kg SP-36 ha-1. P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.000 0. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.682 Tabel 11. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2.75 hingga 3.756 0.328E-02 F Sig.202 0.42. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).512 0. P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8.550 9. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P. MASJKUR DAN A. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4.

409 40. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.13 Cadd -0.51tn) (Tabel 14). Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.54 -0.05 64 . N-organik diamonifikasi. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.16 0. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.37a 2.51 -0.60a 8.000 0. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+).77** -0.52 Aldd 0.36a 3.61* -0. kg P ha-1 ……………….77** -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0.07 0.10 ** Nyata pada α= 0.13 0.39b 9.75** 0.15 0.16 0. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….52 -0.278 0. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al. 11.397 0.313 0.60* 0.33 0.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.92b 10.27a 8. terutama bahan organik mudah dilapuk.03 C -0.71* -0.928 0..75**).91a 2.61a 10.53 0.41 Fedd -0.55 Ser-P -0.06 Liat -0.68* -0.75a 8.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.835 8.72** 0.757 Tabel 13.83a 2.75** 0.46a 2.701 F Sig.18 -0.. 8.38 0.42b 7.99a 8.47b 8. serta (c) macam dan kandungan bahan organik. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31. sehingga pH meningkat.01 * Nyata pada α= 0. 28/2008 Tabel 12. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.49 -0.32 -0.99a 2. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.64* 0.711 0. Selama dekomposisi bahan organik.13 -0.55 -0. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah.84** 0. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .29 0.70a 11. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.83b 8.

2%).+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan.pada tapak-tapak jerapan. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P.07tn. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0.71*). 65 . menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. sehingga serapan P tanaman meningkat. Haynes and Mokolobate.M. Kation Cadd. 1999. Pada ¾ dari jerapan maksimum. mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. 1999).60*). Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0.5) dan ketersediaan fosfat optimum.3-1.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. (2) penggantian anion H2PO4. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e. menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate. 2004).61) (Tabel 14). Rendahnya bahan organik (< 2. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH.: M – (OH)3 + COO. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum)..10tn) (Tabel 14). dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman. 2001).↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e. Cadd (-0. dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8. semakin meningkat pula serapan P padi sawah. urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0.68*). Fedd. kalsium karbonat atau bahan organik..64*). sehingga dapat diserap oleh tanaman. MASJKUR DAN A. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.29tn) . dan 0. Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al. sehingga melepaskan ion OH. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum).0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6. 0. Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0.33tn.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. dan bahan organik (-0.5-7.

40 -0.05 0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15. sedangkan pH tanah. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe .30tn dan 0.10 0. Killham.20tn). Cadd. 28/2008 Tabel 15.39 -0.98** -0. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P..30 0. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat. kadar liat.99** Liat 0. 1999). menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman.15 0. kadar liat. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe.49tn).99**). Namun demikian. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0.94**). Peningkatan bahan organik sawah. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.81** 0. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0.14tn).66* 0.90**) dan Cadd (0.55 Aldd Ser-P -0.20 -0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 . Cadd. 1999).50 0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.90** 0.05 0.17 -0. 1999.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. 1998.94** -0.10 -0.78** -0. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan.95** 0. sedangkan pH tanah.72** -0.49 -0.88** C -0. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah. sehingga P tersedia relatif tidak berubah.98**). Fedd. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan.98** Fedd -0.01 Cadd -0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.28 0.88**). Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0. He et al..81**).

K. Paddy Soil Science.B. A. A. Simanungkalit. Johnson. Fedd. De Cristofaro. Agus. Nutrient Disorders and Nutrient Management. Kasno. dan E. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung.D. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. Assessing Fertilizer Requirements. Comparison of adsorption of phosphate. 59:47-63. and P.H.H. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. M. Dobermann. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. Violante.M.. J. Pusat Penelitian Tanah. A.H. Bogor. 39-56. and R. New York. Hidayat. 7-38. Kyoto. Hartikainen. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. 1999. MASJKUR DAN A. Prasetyo. J. Philippines. J. kimia. K. Brown.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. 12:155-167. Haynes. Tisdale.K. Simojoki.F. 1990. A. Hartatik (Eds. Nelson. Plenum Press.H. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification. 70:222-234. International Rice Research Institute. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1.S. Loeppert. International Rice Research Institute. 157-166. 2004. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide. Mineralogi. Bogor. and T.S. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Japan. Adimihardja. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Soil Fertility and Fertilizers. Killham. I. 1999.. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. Mokolobate. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. S. dan A. De Boodt. and A. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania. Herbillon (Eds. Kasno. Structure. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman.M. Pp.L. Prasetyo. Agr. A. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. 2001.H.F. Cycl. S. Nutr.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah.. S. Bogor. Hayes. J. In M. Sifat Morfologi. 2000. UK. Herbillon (Eds. 67 . A. 2001. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. Plenum Press. Kyoto University Press. H. dan W.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. An Introduction to Nutrient Management.. Havlin. and W.D.S. Fairhurst.E. J. dan biologi lahan sawah. Laguna. Cadd. Soil Sci. and A. Balai Penelitian Tanah.M. R. and A.L. Soil Sci.H. Pasandaran. K. Los Banos. Hayes.B.C. A. fisika.B. He. and M. Metherell. Philippines. Hayes. Bogor. Kyuma. 2. dan R. New York. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). Pp. Pp. Las. B. Newman. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. Eur. Los Banos. 1983. Beaton.Am.Z. Soil Ecology. 1990. 1990. and A. Tanah Trop. Prentice-Hall. Subagyono.. 1997. G. Laguna. J. Dalam F. Clays Clay Miner. B. 1999. Cambridge University Press. 2004. J. 2006. De Boodt.J. and M. In M. Adiningsih. New Jersey.L. I. M. crystal chemistry. 48:493498. 47:226-233. SornSrivichai. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. 1999. Fagi. Soc. Cornforth. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. 2005. Hardjowigeno.D. kadar liat. tartrate. A. A.

) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. dan J. 1998. A. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.. Bogor. 1978. 68 .S. 170:716-725.J. Kheoruenromne. dan S. Tan. Zaini. Gadjah Mada University Press. Sofyan. University of the Philippines. Philippines. K. S. 28/2008 Rochayati. 1995. Suddhiprakarn. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. Bogor. 2002. S. Rochayati. A. Soil Research Institute. Gilkes. and R. Dasar-dasar Kimia Tanah. 9-37. Trakoonyingcharoen.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah.). P. East Java). Hlm. Dalam Z. Kartaatmadja (Eds. 2005. Soil Sci. Yogyakarta. Adiningsih. Los Banos. I. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. Faculty of the Graduate School.H.

K.000. ulangan tiga kali. Researches aimed to study the effect of oxalic acid. It’s availability for 1. and Maize Yield in Smectitic Soils D.000. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. NURSYAMSI1. The first factor was oxalic acid rates: 0. L. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. Na+. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. dan K tanaman di Vertisols. Cilacap (Chromic Endoaquerts). Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. P dan K tanaman di Vertisols. Na+. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. 1. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. The soils are commonly high in total K content. 250. Na+. Smectitic soils. Serapan N. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. yaitu: 0. 2. 2. serapan N. Bogor. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. and K uptake in Vertisols.000. yaitu: tanpa kation. D. Direktur Perluasan Areal. while the second one was application of cations: without cation. Departemen Pertanian. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. P. P. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Plant N. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. however. Bogor. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. Na+. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). Maize. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. NH4+. Ngawi (Typic Endoaquerts). NH4+. DAN A. 375.000. 250. SABIHAM3. dan 4. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. Na+. NH4+. K tersedia. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. dan K Tanaman. Key words : Oxalic acid. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Walaupun kadar K total tanah tinggi. 125. IPB. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Na+. and 500 ppm. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. NH4+. P. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. NH4+. RACHIM3. and Fe3+ on availability of soil K.A. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. NH4+. Ngawi (Endoaquert Tipik). Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. Jagung. Fe3+. NH4Cl.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah. IPB. Kata kunci : Asam oksalat. S. Fakultas Pertanian. Na+. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. dan Blora (Haplustalf Tipik). and Fe3+ on Availability of Soil K. and K uptake. Bogor. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. P. Fe3+. and Fe3+ from NaCl. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). NH4+. 125. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. P.000 ppm. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. NH4+. IDRIS2. 375. 1. and 4. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. Soil available K. 4. and K uptake in Vertisols. Tanah yang didominasi smektit plant growth. plant N. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts. 3. Bogor. P. Oxalic acid significantly increased plant N. dan K. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. NH4+. NH4Cl. 2.Pengaruh Asam Oksalat. P. ISSN 1410 – 7244 69 . dan 500 ppm. NH4+. Na+. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah.000 ppm. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. Cilacap (Endoaquert Kromik). Bogor. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. and K Uptake. The results showed that oxalic acid. Na+. Fakultas Pertanian. Na+.

Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. Sulawesi (Sulsel. 2000).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 1989) dan vermikulit (Douglas. Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. muskovit. dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1999). Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). K. Na+. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut.12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. 1999). Mn.. 1993). Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al. daya sangga. Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. 1994). suhu. 1997). Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. dan Jatim). seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. 2002. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. 1987).. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. 1989) yang dominan di tanah tersebut. Selain faktor tanah dan iklim. 70 . Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu. dan Gorontalo). Sulteng. Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K.12 juta ha (Vertisols sekitar 2. Kilic et al. dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. kapasitas tukar kation. dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. seperti dari golongan smektit (Borchardt. dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. kelembaban. yaitu lebih dari 2. Jateng. hitam (Vertisols). Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). 1987). Fe. mikroklin. dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon. 1987). Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. 1992)..

(2007). 2. 1. Na+. contoh tanah diambil sekitar 250 gram. serapan N. NH4+. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). NH4+. dan K. isohipertermik Endoaquert Kromik. NA+. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. smektitik. (1982). P. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . iklim. yaitu: tanpa kation. Na+. NH4+. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. berkapur. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. NH4Cl. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). Kdd. dan 4. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali.000. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. isohipertermik Endoaquert Tipik. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). Ngawi (B3). halus. campuran. NURSYAMSI ET AL. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2.000 ppm. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. Ktdd. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. dan Blora (B4). diayak dengan saringan 2 mm. Cilacap (B2). DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. dikeringudarakan. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. P. Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. semi aktif. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. yaitu: 0. Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. ditumbuk. isohipertermik Haplustalf Tipik.000. smektitik. Faktor kedua adalah penambahan kation. dan Wood dan DeTurk (1940). Bahan tanah dikering-udarakan. sangat halus. Knudsen et al. sangat halus. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. lalu tanah diaduk hingga homogen. 1997). kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah.) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. halus. smektitik. : PENGARUH ASAM OKSALAT. berkapur. berkapur. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. SERAPAN N. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. L.D. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali.

42 38.22 0.97 9. NH4+.16 24.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam..01 1. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.11 10 222 41 34.13 0. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml.………….03 > 100 0. Takaran Na+.03 56.00 0.35 0.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3.47 4.38 13.……. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3.21 10. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3.000 rpm dan supernatannya ditampung.28 0.12 9 178 30 0.65 11.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.00 0.98 > 100 0.10 13 148 187 5... Teflon bomb ..06 0... and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik …………. Rate of Na+.96 2. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat.97 92 5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.12 0.04 33.5) KCl 1 N (1:2.. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2.55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6. 28/2008 Tabel 2..11 0.000 5.06 0. NH4+.00 0. mg kg-1 …………….01 6.88 1.000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.72 1..19 H2O (1:2.24 1.………….56 3. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5.36 4.57 0.………….95 0. lalu ditambahkan 20 ml 0.36 0. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS). K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit..01 13.01 0..000 5.00 0.97 58 5.36 0. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5.41 42. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.555 5.….12 11 548 134 10.82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7.

NH4+. Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. Berbeda dengan di tanah Alfisols.11. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. P. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. Bahan tanah dikering-udarakan. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. yakni 30. Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. 41. diayak dengan saringan 2 mm. 0. 375. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Endoaquert Tipik. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0.D. 134. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. Endoaquert Tipik.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. P. lalu tanah diaduk hingga homogen. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Dibandingkan dengan kontrol. NA+. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. dan Haplustalf Tipik. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. Endoaquert Kromik. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. Asam borat 2. NURSYAMSI ET AL. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST.28. Endoaquert Kromik. 125. Analisis serapan N. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. dan 0. 250. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. yaitu : 0. ditumbuk.12. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. dan 500 ppm. yakni 0. 0. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. SERAPAN N. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K). tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols.

Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols.000-5.. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Na+. 25. Effect of oxalic acid. Tabel 4.38 ab 165. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl.38 27.75 b 73. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols).13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan.00 a a a a 62.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3. 1998).13 b 165. Kexch. Kexch.30 1.000 2.50 bc 165.00 a 12. Pengaruh asam oksalat. mg kg-1 ……………. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i). NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………. Effect of oxalic acid. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. Na+.000 4. and Fe3+ on soil Ksol. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.00 b b b a 150. Na+. Na+.75 b 67.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3.30 55.88 menjadi 58. sedangkan pada Vertisols nyata. Kdd.50 b 64. sedangkan pada Vertisols nyata. Pengaruh asam oksalat..13 a 13. NH4+.88 b 16.. NH4+. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13.00 a 161.38 b 155.00 59. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti. Kdd.63 b 33. 2007).50 70.50 a 149.75 58.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4.38 a 12. NH4+.60 <1 27. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). and Fe3+ on soil Ksol. 1987). sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding.555 mg kg-1 (Tabel 3).38 67.75 b 38.. and Knon-exch. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5.75 menjadi 142. dan crack (c).25 c 152.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59. wedge (w).75 b 16.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5).63 26.000 2.13 a 13.13 mg kg-1 (412%).60 <1 56. Tingkat 13. 74 . Tabel 5.000 4. and Knon-exch.13 70..25 b 58. NH4+.38 b 142.00 26. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.

Berdasarkan jumlah K yang dilepas. 24-31% dalam bentuk Kdd. NA+. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. NH4+. Effect of Na+. Pengaruh pemberian Na+. NH4+. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. SERAPAN N. P. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Effect of Na+. NURSYAMSI ET AL. Pengaruh pemberian Na+. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. 75 . NH4+. NH4+. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. NH4+. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p.D. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. Hasil penelitian Nursyamsi et al. Kirkman et al. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama.

79 a 58. nyata menurunkan serapan P.67 b a b b c 81. mg pot-1 ……………. dan K tanaman.42 192.15 a 9.28 27.20 1. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.81 a a a a 25.42 213.59 81.18 52.000 227. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….53 ab 15. Na+ and Fe3+ on plant N.72 26.55 381.84 a 333.31 56.11 68. P.64 b 56.32ns 9. dan K tanaman pada Vertisols Table 7.70 20. 229.81 a 17. Pengaruh asam oksalat.97 8. Tabel 6.99 a 16.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.80 <1 50.000 4.000 215.51 9. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7).09 334.71 7. dan K tanaman pada Alfisols Table 6. asam oksalat juga nyata 76 .21 26.85 b 46.63 a 51. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut.70 < 1.00 a 16.77 b 8.10 <1 a a a a a 16.53 ab 14.000 233. 105.55 a 31.74 a 130.01 b 4.53 220.08 a a a a meningkatkan serapan N.92 4. P. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N. dan K tanaman.04 92. 15. dan Endoaquert Tipik.99 107.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.21 a 62.37 23.98 b a b b b 6.55 ab 51. Effect of oxalic acid.000 2. Endoaquert Kromik. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut. P.37 b 16. P.36 79.15 7. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.87 325. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik.13 ab 4.60 27.50 111.00 233. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.60 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan K tanaman.50 a 30.21 b 1.80 1.67 a 17.42 a 2.. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8).72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.43 a 242. 125. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.61 283. P. P.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258.. P. Tabel 7. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6). 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.71 b 18. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.04 a 15. Na+ and Fe3+ on plant N.74 24.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K ………….71 55. Pengaruh asam oksalat.56ns b a b b c 24. Pada Alfisols. mg pot-1 …………. Pada Vertisols.74 a 53. Berbeda dengan dua kation sebelumnya.35 a a a a 7. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji.88 109. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Effect of oxalic acid.55 a 9.

DAN K TANAMAN Tabel 8.01 a 5.30 1.92 a 1. NH4+.28 5.10 a 4.01 a a a a 4.70 1. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N.81 5. SERAPAN N. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).75 c 11. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan.89 c 8.37 6.77ab 1. NURSYAMSI ET AL. 1997).98 a 1. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7.17 a a a a a 10.93 a 10.73 a 3. Na+. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.77 a 6.42 b 4.D. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al.5 t ha-1 biji kering.98 a 4. 2001). Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 .58 a 3. P. NA+. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah.45 3.48 b 10.56 6.34 3. dan K tanaman.62 3. NH4+.20 6. (2001).30 2.75 ab 5.62 b 1.45 a 5.59 b 5.29 b 3.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Peranan asam oksalat. Na+. 1. juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.09ns 4.40 b 5.20 b 8. : PENGARUH ASAM OKSALAT.85 a a a a 4.13 4. Effect of oxalic acid.000 2. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. P. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8. g pot-1 ………………………………….40 a a a a b 6. Pengaruh asam oksalat. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al. Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.03 a 4.83 ab 1.06 3.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik …………………………………. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols).09 3..04 3.95 6..30 1. P. P.. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.44 b 11. serapan N. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner.93 a 3.02 a 3.000 4. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg.25ns 14.0 (Kdd).41ns 13.

NH4+.1 6.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5.1 21. NH4+.3 27. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun. NH4+.4 6.9 * 148.7 31. yaitu sebesar 156 kg K ha-1.6 20.….JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1. Perlakuan Na+. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. Perlakuan Na+. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. percentage of plant yield.3 88. kritis K tanah untuk jagung 0.9 19. and K uptake.6 * 276. asam oksalat takaran 1. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk. meningkatkan hasil biji kering.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5. Effect of oxalic acid. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1. Pengaruh asam oksalat.9 * 47.. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9.9 273. meningkatkan serapan N dan K tanaman. P. Pada Endoaquert kromik. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30.9 149. dan K tanaman.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.3 ** 92. persen hasil tanaman. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman. plant N. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. Pada Hapludalf Tipik.4 * 22. and Fe3+ on soil available K.. Na+.7 23. NH4+.6 ** 22.8 59.. Na+. serapan N.9 87.9 27. Sementara itu pada Haplustalf Tipik. 28/2008 Tabel 9.2 me K 100g-1 (Dierolf et al. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun. 2001). apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. P.8 109. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K …….3 6.

NH4+. percentage of plant yield.6 79.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1.5 68. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. NA+. NH4+. P. kebutuhan pupuk K.8 236.2 209. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji..9 25. meningkatkan serapan N dan P tanaman.1 270.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.8 * 203.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5. 1993)..7 215. P. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K. serta hasil biomas kering (11%). dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.2 593.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. DAN K TANAMAN Tabel 10. NURSYAMSI ET AL. P. P. SERAPAN N.D. Na+.0 300. P. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. 79 .3 ** 454. Dengan demikian. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat.1 225.…. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1.000 294 18. serapan N. asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al. dan K tanah. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya.3 268.4 * 43. meningkatkan serapan N. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.2 24.6 44. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. persen hasil tanaman. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. and Fe3+ on soil available K. dan K tanaman. and K uptake. : PENGARUH ASAM OKSALAT. maka peran utama asam oksalat (1. P.8 ** 209. Na+.. dan K tanaman. Selain aspek ketersediaan K tanah. NH4+.9 * 883 988 ** 58. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. Demikian pula pada Endoaquert Tipik.3 24.2 * 163.3 69. Effect of oxalic acid. Pengaruh asam oksalat. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. 3+ Sementara itu. serta hasil biomas kering jagung.4 63. plant N.

tanaman. In Soil Microbial Ecology. Potash Review No. Fredrickson. 3. P. and L. Asam oksalat. Bolton.K. Elliot. 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). mikro (Fe3+).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. International Potash Institute. Inc. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik.I. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. yakni berkisar antara 3. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. Switzerland. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. Jr.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. dan Fe tanah. P dan K tanaman di Vertisols.F. peningkatan 2008). dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. 1/1987. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Applications in Agricultural and Environmental Management. Pp 27-64.. M. Na+. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. 2. J. Microbial ecology of the rhizosphere. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). 270 Madison Avenue. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit. 1997). 1987. Perbaikan tanah 80 . P. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik. dan K tanaman di Vertisols. New York.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. Marcel Dekker. NH4+. P. Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. K. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. H. 1993. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. Sementara itu Fe3+ 5. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+).15-5.

Nursyamsi. 81 . Lithium. NURSYAMSI ET AL. J.R. Potassium in the soils of New Zealand. 1999. Academic Press. 5/1987.W. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. K. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. Soil Science Society of America Madison. P. Skala 1:1. D. Rachim. I. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. Fairhurst. Second Edition. sodium..A.eseap. Black (Vertisols).T. Disertasi Sekolah Pascasarjana.A. 2007. 1997. USA. potassium. Derici. Bogor. Upper Saddle River. G. Sofyan. 1975. T. Contr.) Method of Soil Analysis. 2008. Surapaneni.L. Switzerland. No. Part 2. Kirkman. Wisconsin. 1987. Second Edition. L. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. and J. An Introduction to Nutrient Management. Marschner. Idris. Beaton. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.) Growth and Yield. and potassium. Sabiham. L. Smectites. Wisconsin. The affect of potassium on ammonium fixation. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols). Nursyamsi. Kilic.000. Bogor.S. : PENGARUH ASAM OKSALAT. In Minerals in Soil Environments. Saltali. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit. 1997.A. J.. A. and K. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Mineral Nutrition of Higher Plants. 1987. I. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. Evangelou.. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. Tisdale. Dhillon. In Page et al (Eds. 1999.L.a review.H. S. dan A. NA+. Potassium fixation and release. 1992. 1982. and E. J. Soil Science Society of America Madison. Publisher. 2nd ed. D.P. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. Disertasi Fakultas Pascasarjana.org). Tokyo. Prentice Hall. Dhillon. Cent. Fertilizer News 32(2):35-138. H. New Jersey 07458. Institut Pertanian Bogor. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. Knudsen. 1989. International Potash Institute.D. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Institut Pertanian Bogor. J.K. Nelson. 1989. Mutert. and D.L. Potash Review No. Dierolf. T. 5. Sparks. A. upland soil fertility management in Southeast Asia. 17.000. Res. and cesium. Douglas. Tr. P. Second Edition. S. Pp 635-674. rubidium.R. An Agroclimatic Map of Java and Madura.L. SSSAJ 66:445-455.F. Macgregor. Paterson dan P. Vermiculites. Ins. D. L. Oldeman. 1996.W. Harcourt Brace & Company.N. SERAPAN N.. D. Proc. 2000. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. Havlin. and W. 2002. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type.A. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. Sixth Edition. Goulding. Agric. 1994. K. USA. sodium. S..D. Agronomy 9:403-429. Ghousikar C. Lumbanraja. K. and K. Pp 675-727. Ismail. DAN K TANAMAN Borchardt. A. V. NH4+. In Minerals in Soil Environments. In Methods of Soil Analysis.P. 2001. Soil Fertility and Fertilizers. Helmke. Kendre. Basker. G. M. Lithium. Pratt. and D. of Agriculture and Forestry 23:673-678.

Third Edition Revised and Expanded. Am. 5:152-161. and P. Soc. New York. 1940. 1998. De Turk. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. Proc. 1987. L. Marcel Dekker.K. Wood. K. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir. P. Song.K.H. Principles of Soil Chemistry. 28/2008 Sidhu. Pedosphere 3:269-276.. Tan. Haryana. Mineralogy of potassium in soils of Punjab. Release of non-exchangeable soil K by organic acids. S. Switzerland. and E. 6/1987. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form.M.S. International Potash Institute. 82 .E. Inc. Potash Review No. Soil Sci. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. 1993.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. SSSAJ 52:383-390. Huang. 1988.

Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. DMI. aktivitas moonson. and interaction of SOI with DMI). Climate extreme events. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. Kata kunci : ENSO. Southern Oscillation Index (SOI). it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3. Onset of wet season. SURMAINI DAN E. The study has been done through the following steps . ISSN 1410 – 7244 83 . DMI. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November.4. golakan lokal dan siklon tropis. pergeseran musim. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. but the magnitude of its impact varies with site. if SST increases above 0.4 zone. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. climate/season anomaly. Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period. the wet season will start earlier with longer period. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia.5 o C (indicate La-Niña event). Rainfall. 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. SOI. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. DMI.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. SOI. the occurence flood and drought in Indonesia. PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. Therefore. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. Keywords : ENSO. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. Awal musim hujan. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. SOI. interacton of SSTA with DMI. interaksi SST dengan DMI. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. SST. SST. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). Bogor. Dipole mode Index (DMI). In contrast. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Berdasarkan data historis.5 -0.

Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. Chang et al. 2003. 28/2008 (Haylock and McBride. Rao et al. longpaddock.go. Boer and Faqih. Hendon. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia. 2004). dan SOI (sumber: www. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.jp).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi.noaa. Batisti et al. 2004. 1999. 84 . Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1.gov). Rao. 2001.cpc. Boer dan Faqih. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim. Aldrian dan Susanto. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. DMI. dan interaksi SOI dengan DMI.gov. Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM).4. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. interaksi ASST dengan DMI. data DMI (sumber: www. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño..jamstec. Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah. 2004..4 (sumber:www. 2003. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. 2000. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). 2002)..au). Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya.qld. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan.. SOI. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. 2002. Departemen Pertanian. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan. 2006). Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3.

AMJJ. dan Mei-Juni. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. 25-50%. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. 85 p= dimana : m n +1 . menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. DMI. dan 75100%. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. Jawa. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. Selain itu. Apabila nilai slope lebih besar dari 0. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña).05. 50-75%. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. SURMAINI DAN E. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. SOI. Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya.E. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. 4. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%. 3. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. SOI. Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. Januari-Februari. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2.

.. Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau.....13 4... Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11... Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan. Ngablak (Jawa Tengah). hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian.70% dan 6. Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat).. Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3.05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1..... 4.. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3...13 11...... Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai.... artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut.. Persentase nilai peluang (p< 0.. data anomali hujan semakin negatif.........4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC.... namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%).31 2... Bagi Indonesia.51 2.4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0. dan pantura Jawa Barat. 28/2008 Tabel 1. dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).... maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm.. karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju..19 7. maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal..25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November)..13 3.. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2).38%...... Batutangga (Kalimantan Selatan).05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI ..... Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil..... Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO........ Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 .25 2..... Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC....38 2..... Pattimura (Maluku).........13 4... Riau. % . sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung. maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan.47 8..4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November). Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi......70 6.13 4...25 2. Percentage of regression probability value (p< 0.......25 55. Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3. Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok..... Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3.4...

E. Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1.

Sebagai contoh. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). 1997. berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. 1994.5oC) dan normal (anomali SST antara -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini. dan 2002. The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini.5oC ).5oC-0. Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0. Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. LaNiña (anomali SST < -0. 2006) skenario El-Niño. Jika anomali SST turun sampai di bawah -0. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. . Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). La-Niña. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi. dan Normal. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal. Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir.5oC).5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. 2006) Figure 2. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5).

0 0.441 R2 = 0.441 R2 = 0.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.383 R2 = 0.5 -1.0 -1.0 y = -388.5 Mei-Jun 1. SURMAINI DAN E.5 2.0 1.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.0 1.5 -1.5 1. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.5 2.5 0.5 0.0 -2.0 0.5 1.E.235 R = 0.0 0.0 -0.5 -1.0 1.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.945 2 R = 0.574 -2.5 2.0 0.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.6109 -2.4 of some areas in Indonesia 89 .5 Mei-Jun 1.0 -1.59x + 21.5 2.5 2.5 0.0 -2.5 0.33x + 75.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.0 1.0 0. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 1.0 0.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.0 1.33x + 75.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.5 -1.45x + 47.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.975 2 R = 0.5 0.0 1.0 -1.0 -2.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.0 -1.5 -1.5 1.0 -1.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.0 -1.5 2.5 -1.4x + 22.5 0.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.88x + 55.

2.6 0. 28/2008 Pusakanegara 1. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).20 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.4.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. menyebabkan penurunan curah hujan.40 0.8 0.2 0.60 0.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang.6 Peluang Terlampaui 365 0.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4. Riau dan pantura Jawa Barat. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada . Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0.80 0. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember. Jawa.2 0.8 Peluang Terlampaui 0.4 0.8 0.6 0. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0.4 0. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3.4 0. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim. Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah. serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. . Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful