Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. dan K potensial yang lebih tinggi. Kata kunci: Hutan. For that reasons. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. and fertilizer. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. physical and chemical properties of the soils. bahan sedimen. pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. cation exchange capacity. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. Keywords : Forest. Biological cycles. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah.H. Sifat fisik menunjukkan. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. Batupasir. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. 1. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. kapasitas tukar kation. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Sandstone. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. Oleh karena itu. Batuan sedimen masam. Siklus biologi. Batuliat. and potential K. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. kejenuhan basa rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. sifat fisik. Bogor. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Acid sedimentary rocks. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed. Selanjutnya dikemukakan. Claystone. but limited by highly Al exchangeable. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . SUHARTA DAN B. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. dan sifat kimia tanahnya. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility.

dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. Provinsi Riau. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. 1995. Fraga dan Salcedo (2004).194 UY. Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. dan mengurangi run off atau bahaya erosi. mengurangi proses mineralisasi bahan organik. Location and information of seven pedons investigated Pedon HP.14 MD. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 . penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian.61 EY. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat. Acrudoxic Kandiudults. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl.44 HP. Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. 2003) sebagai Typic Kandiudults. dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. 1990). Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting. dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor. Suwarna et al.110 DD. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al. 1991). perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. Chen et al.24 UG. Wu dan Tiessen (2002). Sedangkan analisis sifat fisik tanah. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium. dan Typic Hapludults (Tabel 1). (2004).

SUHARTA DAN B. f. t. pori drainase. s = lekat. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi. pori total.H. model PW 1130. 1992). sp = agak plastis. f = gembur. ss/sp f. so/po f-t. t.61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. sb = coklat kuat. vf = sangat halus. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. t. berat isi. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. Tekstur : C = liat. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat. ry = kuning kemerahan. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. by = kuning kecoklatan.N. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O).14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. permeabilitas dan stabilitas agregat. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). f. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff.0). LS = pasir berlempung. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel. Acrudoxic Kandiudults HP. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. g = granuler atau kersai. kapasitas tukar kation. Typic Kandiudults HP.5 YR 5/6) DD. t. ydb = coklat tua kekuningan. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm. Typic Hapludults UY.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. f = halus. sb = gumpal agak bersudut. db = coklat tua. ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. gdb = coklat tua kekelabuan. p = plastis 3 . dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). so/po f. warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah. ss/sp vf. Struktur : m = medium. yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. Dibandingkan dengan horizon A.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7. so = tidak lekat. t. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). Konsistensi : t = teguh. pori air tersedia. SL = lempung berpasir.5 YR 5/8) EY. SCL = lempung liat berpasir.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. ss = agak lekat. f. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. P dan K potensial (HCl 25%). s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan. C-organik (Walkey and Black). susunan kation.

lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan. 4 .61 96 1 2 UG. Mk = muskovit. sedangkan tanah dari batuliat. tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. Or = ortoklas. dan goetit. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah.14 93 sp 5 HP. Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. illit.1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit. Pada tanah berbahan induk batupasir. dan smektit. mineral lapukan. Terdapatnya mineral vermikulit. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. Tr = turmalin. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. Sn = sanidin.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. Lm = limonit. dan muskovit sangat sedikit. smektit. Ze = zeolit. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. Rf = Fragmen batuan. sp = sangat sedikit (<1%).110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah. Dengan demikian. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. Zr = zircon. vermikulit. Qz = kuarsa. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. illit. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. sanidin.24 85 sp 6 MD. Wm = mineral lapukan. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. dan turmalin juga sangat sedikit. fragmen batuan.

194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. +++ = banyak. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. + = sedikit. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%.110 +++ DD.61 ++++ EY. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%.24 ++++ MD.14 ++++ HP. 5 . Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP. diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%. 1969). dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir). SUHARTA DAN B. ++ = cukup. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit.H. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. (+) = sangat sedikit Gambar1. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat. Susunan mineral fraksi liat Table 4.232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan.N.44 ++++ UG. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4.

9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi. Sebagai perbandingan.0-28.10 9. RPT = ruang pori total (total pore space).. Stab. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5. Sedangkan HP. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur.2 RPT 52.4 Permeabilitas cm jam-1 0.8 55. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP.21 1.8 28.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).8 8.0 4.09 2. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang.14 HP. Pedon HP.53 2. susunan mineralogi liat. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah.55 hingga 2.46 di lapisan bawah. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume. PD = berat partikel (particle density).65 1. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37.0 9.20 1.46 2. serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian.6 4. kimia dan biologi tanah. 28/2008 Tabel 5.93 9.0 19.14 rendah di lapisan atas karena 6 .7 49.7 12. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah.53 untuk lapisan atas dan 2. sedangkan pedon HP. kelembaban tanah.55 2. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.20 hingga 1.39 2.46 3.9 26. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi.24 memperlihatkan hal sebaliknya.agr = stabilitas agregat (agregat stability). 1995). kandungan liat.17 hingga 1.5 3.41 1.9 4.24 dan EY. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi. Pedon HP. pori aerase berkisar antara 8.0 8. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo.14.5 42. 2004). Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah.46 1. Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al. berat isi.14 dan EY. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi.8 4. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2.54 di lapisan atas dan 1.20 1.60 2.0 11. Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.65 untuk lapisan bawah.24 EY.39 hingga 2.4 6. sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%.2 23. baik horizon A maupun B (Suharta et al. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik.0 4.7 8. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah.54 1. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1.0 45.7 11. Lapisan A = atas dan B = bawah.

4 tergolong rendah sampai sedang. 7 .44 tergolong sangat stabil.2 .5.2%) untuk horizon A. Tanah dengan permeabilitas lambat. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini.0. kemantapan agregat tergolong agak stabil. C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas. sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%).N. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik. Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik.15 tahun). Nilai permeabilitas yang lambat. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B.46 cm jam-1). Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah.8%). akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0.7 hingga 9. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik.4 tergolong rendah.20 . Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B. Hasil penetapan menunjukkan. pori air tersedia tergolong rendah. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik. kecuali pedon HP. kecuali EY.1 . di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian. Khusus untuk pedon HP.9. perakaran tanaman. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . SUHARTA DAN B. Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering.10 3. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi. atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam.14. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah.H. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8. karena air akan tersedia sepanjang tahun. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah.5 hingga 11. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50). permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0.62 cm jam-1).14. Pada horizon B. Khusus untuk pedon HP. baik pada horizon A maupun horizon B.

6 0.7 3. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP... Texture. Tekstur.4 4..2 4.4 0. mg kg-1 ..4 3.8 0.3 4.8 4.2 2.6 0.4 0.8 0... reaksi tanah.4 4.1 4... P dan K potensial Table 6.2 0.. organic-C.1 4..5 4.3 4..3 0.9 0.2 0.2 0..6 4.2 3.4 0.5 4.. % 4.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG..7 4..2 0... Pasir-H = Pasir halus 8 ..1 HCl 25% K2O P2O5 .7 0. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.....2 0.5 4...7 1.4 0. % .4 4.3 4.2 4.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY.3 1.7 0.2 4.5 4.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD.7 0.4 4.6 4.7 4.3 5...6 4....44 Tanah dari bahan induk batupasir..3 5.1 0...14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD..6 0.4 4...6 4.7 4.5 4.4 4.7 2.4 4.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat... potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat .3 0..7 3.4 1.6 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir.2 0....3 4.2 1.6 4.0 4.2 0. C-organik...6 0..4 4. soil reaction..2 4.3 4. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org..232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar. Typic Hapludults 8 17 0-13 UY.2 0. 28/2008 Tabel 6.5 4.

85 4.16 3.08 5.32 2.74 1.70 4.14 0.02 3.51 25.16 2.52 35.14 0.21 EY.95 3.14 BA 0.11 0.85 1.66 4.08 7.30 16.68 0.44 6. base saturation.40 6.56 0.69 1.96 65.36 0.12 3.29 0.62 7.05 Bto1 0.02 0.76 2.37 10. Kation dapat tukar.03 0.07 0.31 0.26 BC 0.55 20.17 0.24 0.37 0.05 15.04 0.60 2.N.03 0.09 0.67 0.07 0.04 Bto2 0.04 0.02 0. dan Al dapat tukar Table 7.37 0.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0. cation exchange capacity.04 0.03 0.20 0.02 0.13 8.04 0.41 0.08 2.52 1.01 0.30 2.63 0.11 2.31 4.02 20.30 HP.08 0.04 0.28 10.09 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir.92 1.29 0.11 0.06 0.61 1.02 0.55 0.61 3.21 1.10 0.16 20.24 A 0.43 13.57 38.85 2.07 0.88 4.10 0.67 4.04 0.07 0.06 0.02 0.18 0.05 0.12 30.81 HP.77 39.05 0.04 0.33 26.22 0.14 Bt3 0.81 12.13 0. Typic Kandiudults 0.02 0.42 1.47 2.12 7.04 0.36 1.04 0.03 0.22 6.09 2. SUHARTA DAN B.07 0.53 4.65 12.10 0.05 1.15 4.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir.63 13.24 0. Exchangeable cation.54 1.49 14.10 0.14 0.02 0.94 11.kg % 4.37 4.06 0. kejenuhan basa.02 0.38 23.71 1.03 0.02 0.04 0.41 4.07 26.02 0.70 3.03 0.16 1.03 Bto1 0.10 0. cmol.87 2.43 0.70 10.05 0.08 0. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.24 0.02 0.21 0.92 0.04 8.54 3..12 0.04 0.04 0.02 0.70 1.17 Bt2 0.03 Bto2 0.57 2.53 3.22 1.27 19.21 0.18 0.07 2.29 3.41 1.31 1.02 0.18 0.27 16.03 Bto3 UG.76 94.94 7.14 1.04 0.kg ………………………….92 0.01 0.02 0.32 0.04 0.53 4.34 1.24 0.12 0.15 0.06 0.21 11.14 A 0.53 11.06 0.36 16.03 Bto4 0. % cmol.035 0.11 1.30 Tanah dari bahan induk batuliat.10 0.64 17.70 1.02 0.12 0.28 5.24 0.41 13.03 0.98 8.93 33.42 0.06 0.04 0.22 0.01 0.81 1. Acrudoxic Kandiudults 0.20 20.47 0.18 0.02 0.01 0.87 2.90 14.21 DD.61 1.01 0.02 0.25 1.81 1.03 0.94 1.04 0.13 0.09 0.04 9 .03 0.23 7.88 21.50 7.29 1.58 5.23 0.03 0.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1.63 14.31 0.90 7.76 4.21 0.06 0.16 9. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….99 1.80 1.71 32.02 0.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.05 0. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.02 0.76 0.58 0.47 0.04 Bto5 MD.79 17.40 0.55 0.73 1.05 0.85 4.79 59.40 2.06 0.06 0.82 0.22 0.16 8.01 0.09 0.05 9.71 8.07 0.01 0.04 0.06 0.20 1.30 7.04 0.01 2.19 18.18 4.110 A 0.01 0.57 19..22 0.65 11.13 36.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.61 0.03 Bto3 0.27 0.07 0.13 23.33 1.87 13.01 0.25 Bt1 0.05 1.02 0.75 17.03 0.H.17 UY.42 3. Typic Hapludults 1.97 1.39 0. kapasitas tukar kation.05 0.19 24.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.73 0.23 0.33 11.66 7.13 0.75 4.05 0.24 6.59 12.03 0.03 0.19 17.83 1.68 3.43 10.05 0.10 0.

Dengan Corganik.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat. dan pengolahan tanah.7 hingga 5.110. Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation.2702 dengan R2 = 0. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif.. aktivitas biologi. 2007).1 hingga 4. baik pada horizon A maupun B. Suharta et al. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi.4415). tergolong masam sampai sangat masam. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta. . Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas.809 dengan R2=0. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat. 1995).0171 C-org + 0. praktek silvikultur. dan macam gugus fungsional.0748 pasir + 64. Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman. DD.232 dan UG. Mg. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0. dan 41 tahun. besar dan arah lereng. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah. maupun biologi tanah. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat.0014 Corg +0. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22.. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir. 37. ketersediaan hara. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta. bahan induk tanah. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. kimia.9309 dengan R2 = 0. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat. Ponge et al.7. dan 55% setelah penggunaan selama 8.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan. korelasinya lebih rendah (K2O=0. Reaksi tanah untuk pedon UY. sedangkan pada horizon B antara 4.4237). Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002).7. 16. Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri. 2002). Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi. Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi.179 dengan R2 = 0.0528 liat +23. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. liat. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan.2943).0355). 2007.

sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan. 11 . satu pedon didominasi kaolinit. siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah. Dikemukakan selanjutnya. Quideau et al. Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif.H. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. 2007). Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B. dan tidak mempunyai sifat acric. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat.20 hingga 4. (1999) mengemukakan. SUHARTA DAN B. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4.50 (HP.13 cmol. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat.N. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik.70 cmol. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1. KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0. Quideau et al. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971).24 dan UG.19 dan 65. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik.kg-1).4968. karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci. Sedangkan tanah dari batuliat.kg-1. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama.194).31 hingga 25.0061. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. kuarsa dengan sedikit smektit. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya. (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi.53 cmol. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit.

04 0. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.37 0. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.17 0..24 0.55 0.24 0. mg kg-1 . Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi. sedangkan dalam kondisi terbuka.08 0.kg-1 . sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik..20 0.73 0.21 0. Fraga and Salcedo.232 A Bt 0.08 0..02 0. kedua proses tersebut dominan. Khusus untuk K dari batuliat.. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi.13 0..15 0. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon . Basa-basa dapat tukar (Ca. Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun. Driessen et al....09 0.41 0.24 A 0. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. Dalam kondisi hutan alami.04 11 57 22 UG. Tanah dari bahan induk batupasir.81 0.30 0. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan.194 A Bto 0. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil..27 4 112 DD.05 0.17 1. kejenuhan basa.04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al.13 0. Oleh karena itu. Tabel 8.44 A Bto A Bto 0.04 0. Dalam keadaan terbuka dan berlereng.. Mg.11 0.. 2002).10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar. Wu and Tiessen.04 8 26 66 MD.61 EY.21 0.67 0. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8. Typic Hapludults UY.110 A 2.22 21 69 122 Bto 0. dengan hilangnya tanaman penutup tanah.32 0. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah. 12 . cmol. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi. pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya.14 A 0. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8).03 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Demikian juga kejenuhan basa.58 0. 2004.03 0.04 0. 2004.. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.03 0..22 0... Typic Kandiudults HP. dan K) di horizon A.42 20 170 62 Bto 0.82 20 200 Bt 0. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. % . dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik.07 0. Acrudoxic Kandudults HP.

Ding. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. 1976. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management. Pp 95-115. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. 2002). E. Fallow. Bogor.S.P. S. and Permadhy. FAO.M.H.. In: Peat and Podzolic Soils. sifat fisik. October 13-14. 1976.M. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). Dalam kondisi hutan alami. dan kimianya. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . and D. P. 1971. J. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. Imhoff. Am. J. Novak. G.. J. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. P. Soil Sci. Guidelines for Soil Profile Description. 2. V. and N. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.J. Driessen. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al. Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan. Soc. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. 66:421429. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. D. SUHARTA DAN B. and I. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. Xu. 2002. Plant and Soil 35:401-414. Am. 68:215-224. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen. 4. Mathers. 2004. A. Chen.. FAO. Soil sci. Xing. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir.H.R. 68:282-291. Susceptibility to compaction. load support KESIMPULAN 1. 3. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. Soil Sci. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. Z.N. Fraga. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. Buurman. J. Da Silva. Rome. C. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. Tugu. Soc. Amarasiriwardena. DAFTAR PUSTAKA Bram. P.H. Salcedo. 2004. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. 2004... Soil Research Institute. Am. 1990. Hunt. and B.. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar.G.

United States Department of Agriculture. Am. F. New York. USDA. S. Wu.A. 41. N.. J. Bandung. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20.A. Silitonga. Sukardi. scale 1:250. Ponge. 2002. Chadwick. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. J. American Elsevier Publishing Company. and soil compressibility of Hapludox..000. 1951. 1969. 28/2008 capacity. Wood. Geological Research and Development Centre. China. 2007. N. and P.F. Inc. 63:18801888. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. R. 1991. Kastowo. Soil Sci.. N. 1999. 1995. Soc. 2003.H. M. and H. Soil Survey Staff. Santoso. 68:17-24. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. T. Soil Sci. R. J.0. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise. 1992.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.C. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Washingthon DC. J. Chevalier. O. Ninth Edition. Chemical Weathering of Silicate Minerals. Soil Survey Laboratory Staff.C. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties. Soil Sci. Quideau. Soc.A. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. R. Soc. and H. Loussot. 66:19962001. Loughnan. Am. Suharta. Budhitrisna. Bandung.. Studi kasus pada Sanggauledo. Soil Survey Investigation Report No. Jakarta. P. Version 1. dasar Oxisol Barat. Natural Resources Conservation Service. 2002. Pupuk Suwarna. Geological map of the Solok Quadrangle. Geological Research and Development Centre.B. Sumatera.H. scale 1:250. Soil Sci. 66:1648-1655. dan B. J. S. Soc.000. Graham. Keys to Soil Taxonomy. Smith and Fergusson. Suharta. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan. 14 . and N. Am. Soil Survey Laboratory Methods Manual. Am. Mangga. Prasetyo. 1995. and S. Tiessen.

Bogor. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. WAHJUNIE1. dan distribusi air. crop water availability in dryland still has a problem. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. HARIDJAJA1. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. The data ISSN 1410 – 7244 15 .2. Bogor. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. water flux. Keywords : Water movement. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Bogor. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. Pada saat hujan besar. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. and soil pores characteristics in the soils is required. Karakteristik pori tanah. hujan. paddy. sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. To optimize the crop water availability in dryland. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. and peanuts that reflected soil management. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. the study of the relationship between water movement. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans).Water flux. padi sawah. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. Bogor District in 2006. Up to now. SOEDODO H. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. dan kacang tanah. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. laju pergerakan air transient. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. Transient water movement. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. IPB. Fakultas Pertanian. rainfall. Kata kunci : Pergerakan air. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. O. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. Kemang Sub DIstrict. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. and water distribution.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. IPB. dan iklim setiap hari. climate data. transient water movement. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. Fluks aliran air. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. Kecamatan Kemang. 3. but it is unpredictable to cover crop water requirements. rainfall. located at Bojong Village. Soil pore characteristics. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. Pergerakan air transient. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. 2. IPB.

dan distribusi hujan. 1980). Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. dan tortuositas pori (Hillel. Toor et al. seperti distribusi pori. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. serta 3).. Desa Bojong. dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. intensitas. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. 1992). sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran.. 1996). 2004).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. Kecamatan Kemang. 1980). kemampuan maksimum tanah meretensi air. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips. Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. Begitu hujan berhenti. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. Bagarello et al. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. dan dinamika kelembaban tanah. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. Adapun Perfect et al. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. 1986). kebutuhan air tanaman. 1992. Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani. besarnya peresapan air (infiltrasi). Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1).. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. 1990). Bodhinayake et al. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. 2004). maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. Berdasarkan uraian di atas. pengaturan pola tanam. 2004). 2). Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. kontinuitas pori. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan....

Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok. 2..52 14. RPDL = ruang pori drainase lambat..50 4.. 2.05 59.78 16..38 22... Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali.86 65.50 66. 1.71 31.43 63.55 37.90 3.81 27.46 20.72 9.. RPDC = ruang pori drainase cepat.46 4.06 ISA 42.98 38.70 25.42 32...13 15.18 2.27 1..97 1...64 7.38 9..35 23.. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.88 29.29 67.80 10.23 35...... 5.84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi.76 1.12 16.78 8.81 18. Soil physics characteristics at block 1.07 23.46 15. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.84 17.40 2. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1). Tabel 1.15 7..15 8. dan 3 Table 2.00 1.39 28.78 40.02 6. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat. 5..57 5...58 40.12 13..06 2.. harian....40 3..11 12.18 25.29 65.. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1.00 0.48 45. jagung.88 53.95 0.41 10.21 3.. SP 36.41 3. pengolahan tanah sedalam cangkul. terakhir kacang tanah.74 19.80 2...29 61. Pengolahan tanah sedalam cangkul. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air. 2. 4.86 1.26 3. 4.. Blok 1. hujan dan iklim setiap hari.99 41. Rotasi kacang tanah.12 2.45 2.16 2. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo..88 22.76 83. RP = ruang pori 17 . 3.35 57.39 22. % 4.76 19.64 25.. ISA = indeks stabilitas agregat.53 16.83 1. 3.10 1.22 38.....98 3.01 7.. maupun harian. 2. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.50 22.11 4.43 22.15 1.42 37.38 14.58 42.05 1....13 11.64 62.47 14.76 2.49 25.08 25.85 47. 1. singkong dan oyong. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1.15 3..12 43.. dua tahun terakhir kangkung darat.. and 3 No.14 1.76 64. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.99 0.78 39.90 1..47 21..02 66. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong.23 38.36 35. Tabel 2.10 85..90 9.94 58.07 3.48 39..22 12.35 2. cabe. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m. 4.47 6.94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol . oyong.35 3.30 38. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan.42 27.15 2.02 1.02 0.91 15..96 0.28 26. 200 kg.68 33.42 17.59 43. 3.62 19. kacang panjang.91 22.48 30..16 1.53 10..95 64...30 7. WAHJUNIE ET AL. 5..96 RPT % 61.87 15.98 0.80 24.48 1.50 46.13 25..48 61.53 7..03 29..52 64. 2. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3..31 14.34 2. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik.93 1.. 1.96 0.33 2.00 17.19 34.. laju pergerakan air transient.76 22.44 43.. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air.75 4.88 42...52 3. RPT = ruang pori total.22 19.ENNI D..74 28.18 17.00 DMR 1. dan 150 kg per hektar..38 10.. RPAT = ruang pori air tersedia.27 4.11 38.....12 27.45 11. terung.. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan.95 0.21 14. terakhir padi sawah.54 18.63 35.27 19.41 32.67 40.96 0.95 1.73 2.57 4.75 58. Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea.25 1.58 22..01 6.75 67.69 1.37 28.62 25..41 37. 2.43 18.. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.92 43..01 43.90 21.53 13. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor.95 31.91 2. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.79 14. 13.65 9..43 13.88 1.97 26.34 27.12 27.04 24.09 1.22 RPDSC RPDC RPDL RPD .18 17. dan distribusi air tiap kedalaman tanah.84 41..19 6.26 8.63 41... 3...45 43.20 23..45 40.99 17.71 1. dan intensitas hujan periodik.54 23.13 19.

dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm..86 0...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan.42 38.99 Ln(θ) + 7..92 12. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986). 2.87 12.. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol..88 40.. dengan pendekatan neraca air (Wagenet...54 25...18 31... % vol .88 27.09 Ln (θ) + 7. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah....32 0. Pada lahan kering yang relatif datar.00 45.18 18 . Saturated..46 48.…...13 28.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET .10 0...38 11.79 2.97 45..93 Ln(θ) + 7.52 47.92 12.04 44.38 12.23 1.... kapasitas retensi air maksimum.. 38...92 11.80 25..92 11..46 0. 2003).57 Ln(θ) + 8.46 30.91 25. Konduktivitas hidrolik jenuh...38 27.waktu) .92 11.23 1. tak jenuh.…………...87 Ln(θ) + 8.00 27.54 43..47 1.65 1...03 Ln (θ) + 7..(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya........07 46...32 Ln(θ) + 8. permanent wilting point at block 1. unsaturated hydraulic conductivity.38 10. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah. 1986)...03 44. cm jam-1 …….96 25.84 2. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman.96 Ln (θ) + 7.. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh ……. Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia.... dan titik layu permanen pada lahan blok 1.38 12.…………….72 1..14 Ln(θ) + 7..87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen .87 12..65 Ln (θ) +7... dan 3 Table 3.99 Ln (θ) + 7..56 Ln(θ) + 8.. maximum water retention capacity.23 31. 1986)...39 40.88 46....33 2... Tabel 3.. 2.. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan... (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan.28 44.. 11...31 Ln(θ) + 7..39 Ln (θ) + 7.89 2.54 25..67 25.38 11.31 Ln(θ) + 7..92 28....40 0. pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan.27 28.. (Shaxson and Barber.87 10..79 2...87 10.∆ S .90 46...

0. r2= 0. Untuk melihat perbedaan pergerakan air. 2.04 CH 0. 3. Menurut Sugita et al.04 CH + + 0.89 0. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1.89 Fluks (blok 1) = 0. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah. tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0. r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0. and 3 19 .63 0. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t). Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda.04 CH ++ x 10-4 CH2 . laju pergerakan air transient. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0. sehingga fluks aliran air makin besar. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1.88 0. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum. Pada jumlah hujan rendah.04 CH 7 7 X 10-4 CH . apabila tanah belum jenuh. Semakin besar jumlah hujan. r r = 3 Fluks (blok 3) =0. Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.89 pada lahan blok 1.– 0.20 0. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1.0. 2. Pada kejadian hujan besar. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. sehingga membasahi tanah secara berangsur.24 0. dan 0.0011 .ENNI D. 2. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah. 2. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1. Pada kondisi ini.88 pada lahan blok 3. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm.20.63 pada lahan blok 2. yang ditentukan dalam fluks aliran air. dan 3 Figure 1. (2004).0013 CH . Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1.0013 CH2=. WAHJUNIE ET AL. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah.0011 CH2 CH2 . r = 2 Fluks (blok 2) =--0.63 2 Fluks (blok 2) = 0. 0.24 + + 0. dan 3 sama.

. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0.19 x 8..... and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 ...30 a 1...86).27 RP air imobil + 0.13 a 1. sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3....41 z (-) 0.. cm hari ... Water flux and rate of transient water movement at block 1.02 St...50 x 8..07 b 0. Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan.. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0...93 .02 y 2. ruang pori air mobil.87 x 5... stabilitas pori..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.25 c (-) 0... (-) 0..26 b 2..25 RP air mobil + 0.86 (Fluks = -2.80 b (-) 0. Semakin besar fluks aliran air. sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh.31 z (-) 0.19 a 0. Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1..0. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air...97 z 0. Pori .. Pada hari-hari tanpa hujan....08 RP mikro. Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2).. Di antara ruang pori tersebut.36 .. Tabel 4. dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.. Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm)... 20 .66 a 1.0. memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar. ruang pori air imobil..09 y 1.. 28/2008 berbeda-beda.... Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2.....06 RPDC ..14 b 0.... Berdasarkan analisis regresi berganda..06 y 0.17 b 2.....01 RPAT. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat.. ruang pori air mobil... 2. terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm).09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%). ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2).75 y 1..23 a 7.. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata... ruang pori drainase cepat. R = 0..88 (Ks = -14...0.... dan 3 Table 4.88)..0.07 RP air mobil + 0..09 x 1.... konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1..85 x 3... Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut.0. Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2.37 x (-) 2..33 a (-) 0.84 a 2.. 2. 2. secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif).22 y 1.. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4)..28 y (-)0. R = 0. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4). tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2.... Pori + 0..17 a 7.... stabilitas pori.48 c 0...33 b 0..47 a (-) 1..01 St.26 x 3.24 b (-) 0.09 RPDSC + 0....06 RPDC .73 x 5....

12 ++ 0. dengan koefisien korelasi masing-masing 0.002 CH2 . Pada jarak kedalaman perakaran tertentu. 2.2. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar. perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat.30 CH 0.004 CH r = 0. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun).62. Dengan hujan yang lebih besar lagi.21 CH – .0019 CH . 2. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.21 CH 0. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2).62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0.12 0.83 dθ dt (blok 1) = -1. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah. dan 0.23 0. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum.80 dθ/dt (blok 2) = 0. r 0.26 CH – .0.2r ==0. 0. r =0. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar. dan 3 Figure 2. sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering.80. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu.30 CH . Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. 1986). Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1.26 CH 0.=r 0. WAHJUNIE ET AL. 2.004 CH2.002 CH r = 0.0. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1.80 3 dθ dt-1 (blok = -2.0019 CH2 .ENNI D. Semakin besar jumlah hujan.2. and 3 21 . dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol).62 dθ/dt (blok 3) 3) = . 2 . Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum. 2. Transient water movement on various amount of rainfall at block 1. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft. Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah.23 + + 0.83.– 0.

terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat). aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi.04 RPDSC + 0. sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37. poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3). Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3). 1980).03 RPAT . 2. Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4).0.01 RP air imobil 19x10-4 St. Pada potensial yang lebih tinggi. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum. ruang pori air imobil.93 (dθ dt-1 = -1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya.04 RP air imobil + 0. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage. di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya.99 (θ KL = . Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat. kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. (1985). dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient.0. Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al. Namun pada hari-hari tanpa hujan. kadar Semakin air tanah. Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. tanah makin lambat perubahan kadar airnya. Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. Distribusi air dalam tanah Jumlah. R = 0.4 mm.85 .38 + 1. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air.04 RP mikro . maksimum pada curah hujan paling rendah.5 mm.93). R = 0. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient.0. Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah). dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. fluktuasi. Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. ruang pori air tersedia. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1.02 RP air mobil. dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52.5 mm. 22 . Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. Pori.99). Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan.0. 2. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil.

fluks. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. (20-40) cm. Apabila kondisi ini sering terjadi.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. WAHJUNIE ET AL. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). Fluks. dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. 1998). Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). 2. air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. and soil water content at block 1. Distribusi curah hujan. fluks. maka produksi tanaman dapat menurun. kadar air tanah lapisan bawah. (1998). : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. (40-60) cm. 1986).. dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). Fluks. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. fluks. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah. Pada seluruh lahan. Fluks. Shaxson dan Barber (2003). flux. Menurut Allen et al. Rainfall distribution. 2. (020) cm nyata paling kecil.ENNI D. fluks. walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. dan kadar air tanah pada lahan blok 1. pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. dan lapisan atas. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. dan 3 Figure 3. Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft.

Irrigation water requirement at blok 1.00 9 100 0. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage. 2.0.00 4. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min.00 58. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1. and 3 Tabel 5.00 3.0.82 42. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4.00 71 67 0. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1. 2.00 13.03 RPAT . dan 3 Table 5.00 8 97 0. ruang pori air imobil. Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 .85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78.00 43 81 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 44 70 0.04 RP mikro .33 2 94 0. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min.00 36 100 0.00 47 72 0. lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2).38 + 1. dan 3 Figure 4.99 34 89 2.65 46 65 0. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.00 20.00 0.75 1 100 0.11 86.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro. 2.00 87 73 0.52 3.38 30.99). and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.33 116. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min.06 10.98 33 86 35.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0. ruang pori air tersedia. R = 0.11 81.01 RP air imobil 19x10-4 St.00 29 64 0.00 4.48 4 90 6.00 0.89 56 74 0. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air. Pori. 2.00 28 61 0.25 18 100 0.00 2 100 0.34 30.39 4 100 1.

(Gambar 4 dan Tabel 5). Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. fluks aliran air makin besar . dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. DAFTAR PUSTAKA Allen. Pereira. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. namun karena pergerakan airnya kurang lancar. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1.G. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. Semakin besar jumlah hujan. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. dan ruang pori air imobil.karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. KESIMPULAN 1. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). ruang pori air mobil. 1998. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. Rome. 2. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. Di samping itu. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. and M. 2. 4. Raes.. Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. Pada lahan bekas sawah. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. Smith. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1.ENNI D. R. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. WAHJUNIE ET AL. Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. D. Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah. 25 . kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. dan stabilitas pori. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. diikuti oleh lahan blok 2. dan terakhir pada lahan blok 3. ruang pori air mobil. Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. 3. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. dan ruang pori mikro. terutama pada kedalaman (0-20) cm. FAO. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman.S. L. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi.

S. 696-701.M. Soil Sci...J. and S. J.M.K. Rachman. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. R. Departemen Pertanian. M. Inc Madison.. 1985. P. Geoderma 70:83-324. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue.M. J. J. and G. Soc. and R. Philippines.L.saturated hydraulic conductivity. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model.J. De Datta. Badan Litbang Pertanian. Dariah (Eds. Soil Sci.K.. Inc.H. Canada. 2003. D. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field . 1986. Pp.J. F. M. R.B. Am. 1980. L.HTM. Am. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. and H.) Methods of Soil Analysis. Subagyono. E. 2004.R.S. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow. Soil Sci. Pp. 28/2008 Bagarello.A.fao. 56:52-58. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil. M. Prihar.. Soc. Sharma. Wagenet. W. 1986. 2004. W.S. Shaxson. Cameron. Am. Barber. Dick. Am. Los banos. July 2004. Am. and L. Academic Press. 2004.C. Hanks. and D. Soc. 217-234. Wisconsin USA. Ritsema.E. Cheng Si. held at Waterloo. Philippines. Soc.C. W. 54: 1530-1536 Stenhuis. V. F. Springer-Verlag. J. Am. Klute (Ed. English.B.and mesoporosity from tension infiltrometer. Edwards.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Dekker. Effect of puddling on soil physical properties and processes.W. Laguna. Soc. Kishii. G.Di. Tala’ohu. 56:52-58. H. http://www. Soc. 79. B. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil. Am. Applied Soil Physics. Sugita. the 4th International Groundwater Quality Conference. Condron. B. K. Soil Sci.J. 68:6673. 68: 1429-1436. 2002. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters.J. G. International Rice Research Institut. 2004. Owens. 26 . and G.J.. Hillel. 1990. C. Am. Soil Physics and Rice. D. and L. New York. Soc. J. Laguna. Painuli.S. 1985.org/DOCREP/006/ Y4690E00. and R. Optimizing Soil Moisture for Plant Production..) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. FAO Soils Bull. T. Elrick. Soc. Shipitalo. Edwards. Agron. T. Haryati. Los Banos.. U. Pp 57-70. Soil Sci. and K. In IRRI (1985).. Torr. Soil Sci. and L. 1992. Sukop. 1996. and M. S. J. Am. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. Xiao. 68:760-769. Dunn. Sur. New method for determining waterconducting macro. A. Owens. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. Perfect.P. Haszler. 2004. Shipitalo. W. Dalam U. Kurnia. Phillips. Soil Sci. J. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems. lovino. Ashcroft. Heidelberg. 1992.. Water and solute flux. Special issue. Ghildyal. Bodhinayake. Fundamentals of Soil Physics. W. In Proceedings of Groundwater Quality 2004. Soil Sci.H. dan A. In IRRI (1985). Dick.K. Soc.M.A. and C. In A. dan S.

Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 .900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. Pencucian. DEDDY ERFANDI1. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat. This includes avoid planting land that is still saline. 2. 2004. enhance salt leaching horizontaly and vertically. rusaknya sistem irigasi dan drainase. In the heavier rice soil. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. dan Aceh Timur. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. and grow salt tolerant crops. desa. Provinsi NAD dengan total luas 5.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal. salt accumulate closer to the soil surface. commonly used to grow peanut during dry seasons. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. 70.090 ha. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. Nagan Raya. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi.190 ha diantaranya berada di pantai timur. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah.559 ha. Nanggroe Aceh Darussalam. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. semi teknis. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. dan lebak) seluas 336. Aceh Utara. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. Aceh Barat. Leaching. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. sisanya seluas 56.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. improve soil fertility. Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. Salinity.139 ha. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. Keywords : Tsunami. DAN M. Salinitas. tadah hujan. Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. pasang surut. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. memperbaiki kesuburan tanah. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. Kata kunci : Tsunami. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. Aceh Besar.458 ha dan di pantai timur seluas 179. Bogor. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat. Indonesia. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. Bireun. 2003).

Slavich. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1.000 ton per musim tanam. 2005). 28 . Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. dan Peuneung di Banda Aceh. diperkirakan terdapat sekitar 184. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi.. 1997).4 juta t ha-1 per musim tanam. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah.9 juta ha yang ada. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi.2 t ha-1 per musim tanam. Aceh Jaya. Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah. 1996. dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah.000 ha.000 ha lahan kering dari total 1.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1. dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. dan 12 bulan setelah tsunami. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). 1990). maka dengan total luas sawah sebesar 336. 9. jalan.. sistem sanitasi dan lainnya. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al. juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Selain pengambilan contoh tanah. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. 1998). Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. 7. Khusus untuk contoh lumpur. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar. Selain lahan persawahan yang rusak. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima. Cornillon and Palloix. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan.. 1986.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2005).5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29. Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. jembatan. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang.

dan 5 km untuk transek Lhok Nga. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. kombinasi basa-basa kation (K. pH. 3.5 untuk kandungan liat 25-30%. Franzen.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40. merusak struktur tanah. ESP.5. Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran.ACHMAD RACHMAN ET AL. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. Berdasarkan hasil analisis tanah. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai. 8. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm). dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes. dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. Mg). natrium (Na). 2003). nilai ESP.5.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan.5. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). 13. Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. 9. dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. dan mencemari air tanah (Cardon et al.5 km untuk transek Darussalam dan 1. tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. 1999).5. sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. Bogor untuk penetapan tekstur. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut. kalium (K). Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3.6 untuk kandungan liat 30-45%.8 untuk kandungan liat 1025%. kalsium (Ca). 2005). Tingkat salinitas (ECe). terutama dalam bentuk NaCl. tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah. 4. 4. 2. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. 2003. dan 4.. Nilai ECe. sulfat. Ca. bikarbonat dan klorin (anion). 3. C organik. 2. berkadar garam tinggi. Sementara di Darussalam. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. EC (electrical conductivity). masing-masing 1. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur.. magnesium (Mg). daya hantar listrik (DHL).

ESP.50 0 1.20 cm 20 0 .50 4. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.50 3. January 2005 45 40 35 30 0 .10 cm 10 . Nilai EC.50 3.20 cm 120 100 80 0 . (km) Jarak dari pantai km Gambar 1.EC tanah (dS m-1) EC tanah.00 3.00 1.50 4.50 4.20 cm 10 5 20 0 1. dS/m ESP (%) ESP.00 4.00 2.00 2. ESP. % 25 20 15 10 5 0 1. Januari 2005 Figue 1.50 3.00 4.50 4.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.50 3.00 2.50 2.00 3.50 2.50 4.50 2.00 4. dS/m ESP (%) ESP.00 5.50 4. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.00 2. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah.10 cm 10 .20 cm 10 5 20 0 1.00 2.10 cm 15 10 .50 3.00 5. Nilai EC.00 2. January 2005 . Januari 2005 Figure 2. EC.00 4. 28/2008 Jarak dari pantai.00 2. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .00 4.50 4. ESP.00 60 40 Na.50 60 40 Na.50 4.50 3. EC.00 1.00 4.00 1.50 3.00 5.50 4.00 2.10 cm 15 10 .20 cm 120 100 80 0 .00 2. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai. % 25 20 15 10 5 0 1.50 3. and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths. km Gambar 2.50 3.00 1.10 cm 10 .00 5.00 5.10 cm 10 . and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths.00 1.00 4.00 0 1. ESP.00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.00 3. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.00 5.00 1.00 4.20 cm 20 0 .00 4.

Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. kacangkacangan. ESP. dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. dan HCO3-. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis.4±0. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2). mengganggu keseimbangan unsur hara. cekungan.4). ECe. Rata-rata (n=20) nilai pH. dimana tanaman padi. Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. jagung. kolam. lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. makin mudah tanah terdispersi. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). Mg. sumur-sumur. kecuali K yang rendah sampai sedang (0.1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah. tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. Menurut Emerson dan Bakker (1973).ACHMAD RACHMAN ET AL. Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran. lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. Pertumbuhan tanaman terhambat. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. OH-. Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik. Makin tinggi kandungan Na tanah. Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian.5±1. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm.

2) 68.2 (19.5 (0.0) 4.8) 14.8 12.7 (0.3) 8.9 (24.6 (1.8) 0.5) 21. dan meningkatkan kualitas buah.69 18.8) 16.1 (2.8) 7.0 (1.1) 7.6) 19.54 2.25 <5 <10 ECe dS m-1 60.2 24. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.8 26.8) 25.9) 8.86 19.….95 19.0 (3.6) 0.1 (1.5 (1.1) 7. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar. % ….3 (10.3) 23. Pada kondisi dimana terdapat lapisan .8 (0.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49.2 (12.5 (10.5) 7.46 13.7) 5.7 (19.3 (0.1 (29.0 (5. 1990) menjadi 5. 52.11 24.0) 4.3) 41.2) 5.1) 16.2 (9. Aceh Jaya.80 0.27 0.9) 31.2) 2.7) 9..69 6.0) 4. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.6) 27.8 di Aceh Jaya dan 5.3 (17.9 (11. dan kualitas bijinyapun kurang baik. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67.11 38.9) 28.19 80.9 (8.3 (5.2 (0.0 (1.6 (9.23 59.87 18.6 (203) 2.0) 22.82 18.11 2.6 (1.4 (0.93 4.0) 5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.0 (17.2 (12. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar. Mg dan Na tinggi.1) 18.93 8. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi. Reaksi tanah umumnya masih masam.2) 14.20 15 .3 (0.22 2. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.72 2.1) 34.3 (10.86 84. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.5 (12.8 (4.1) 3.5 (5.85 0.1 di Aceh Barat.1) 6.8 (0.0 (4. rendah di Aceh Barat.3 (18.57 10.7 (4.7 (17.4) 0.3 42.1 (2.5 (21.3) 5.5 (4.4 (0.9 (23.2 (8.8 (7.3 (28.8) 7.3 (4.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na …………. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2. cmolc kg-1 ………….85 56. Aceh Jaya.6) 145 (275) 2. rata-rata di atas 5.8 7.5) 13.6 (31.2) 14. Dengan demikian.8) 4.1) 2.9) 15.0 (15.8 (48.8 6.9 (17.2) 22.5) 16.4) 7. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.2 (0.3 (0.9 Tebal lumpur cm 10 .25 15 .2 42..0 (1.5 (4.2 (3.0) 0.97 2.2 (1.62 20.80 C % 2.1) 5.0) 15.8) 23..4) 4.84 Tabel 2. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat .3) 1.7) 0.8) 31.5 dS m-1.5) 11. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).5) 0.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.8) 4.3 (4.3) 56.2 (0.4) 5.3 (12. 24.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.2) 7.8 (15.2 41. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.2) 14.5 (91.2) 2.1 (8. 28/2008 Tabel 1.4) 7.9 (24.3 (31.7 (11.4) 7.9 (16. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.4) 16.0 (24.0 (5.36 13.3 47. memperkuat batang tanaman.8) 5.1 (1.5) 19.6 (9.4) 43.9 (34.6) 6.57 26.8 (1.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.3) 5.3) 1. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.3 (31.7) 0.6) 24.

000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah. and D) Peuneung.ACHMAD RACHMAN ET AL. Lhok Nga. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng.000 1500 1. dan Oktober 2007. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut.000 4000 D 0 O 0 1000 1. November 2005. C.000 1000 Cl (ppm) 2.000 10. Pidie. Panteraja Pidie. baik secara horizontal maupun vertikal.000 6000 8. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian. Pidie.000 3000 3. B) Panteraja.000 4000 4. B. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat. Pidie. C) Lhok Nga. Banda Aceh 33 . C) Lhok Nga. Aceh Besar. Aceh Besar. A O 0 2.000 2000 3. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.000 4000 6. Pidie. Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah.000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1.000 Cl (ppm ) 2000 2. Gambar 4 A. dan Peuneung Aceh Besar. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.000 3000 4. Banda Aceh Figure 4. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1.400%) dari bulan September.000 2000 Cl (ppm ) 4. B) Panteraja. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6). dan D) Peuneung.500 2000 2.

Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. C) Lhok Nga. 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5. (1989). adalah: 1) tindakan pencegahan. Aceh Besar.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pidie. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. C) Lhok Nga. Banda Aceh Figure 5. Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.94 r2 = 0. Pidie. B) Panteraja.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 .72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. khususnya sawah.26* ECa) – 0. Pidie.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). di daerah bekas tsunami. B) Panteraja. and D) Peuneung. Aceh Besar. 2) tindakan rehabilitasi. Dengan memasukkan angka ECa=1. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi. Pidie. dan D) Peuneung.

Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Pidie. and D) Peuneung. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . C) Lhok Nga. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. Pidie. B) Panteraja. Pidie. C) Lhok Nga. Pidie. Aceh Besar.ACHMAD RACHMAN ET AL. Banda Aceh Figure 6. Banda Aceh nang secara permanen. B) Panteraja. Aceh Besar. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. dan D) Peuneung. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

BPS. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0.20 kg P.20 sampai 1.13. while at vegetative phase was the lowest ranging from 0.34 l second-1.62 kg N.60 ± 0.23 and 3.21 ± 0.31 ± 0. Sediment.13 ± 0.09 l detik-1.06 to 1.13 and 0. Oleh sebab itu.15 l second-1.31 ± 0. Fosfor. 1. hara terlarut (nitrogen.54 ± 0. sedangkan pada stadia generatif antara 1. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan.38 ± 0.42 kg K ha-1 season-1.06 dan 1. kawasan industri dan fasilitas jalan.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji. dan pada stadia generatif antara 1. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice.10 ± 0. yang bervariasi antara 7. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan. yaitu antara 0.06 l second-1.715 sampai 5.55 ± 1. At generative stage was about 1.55 l second-1. but also providing an environmental services. meliputi Praktek Petani. Kalium.0. and Improved Technology + Rice Straw. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season. dan Perbaikan Teknologi + Jerami.89 ± 0.62 kg N. Nitrogen.21 ± 0. Nitrogen. Sebaliknya.55 ± 1.32 ± 0.38 ± 0. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 . Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.52 l detik-1. Phosphorus. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Sedimen. like nutrient and sediment conserving. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004.78 ± 0. 0.20 and 1. industri dan rumah tangga.15 l detik-1.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. Sebaliknya. the Semarang District during the Wet Season 20032004.33 ± 0. Perlakuan yang diuji.715 to 5.89 ± 0. varying between 7. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan. Potassium. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0.54 ± 0. 2001.15 to 0. 0. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah.32 ± 0. Perbaikan Teknologi. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.34 l detik-1. Secara statistik.20 .13 ± 0. dan (4) pencemaran air.78 ± 0..15 dan 0.13. 2007). while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0.20 and 13. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk. dan 7.521 kg ha-1 musim-1.521 kg ha-1 season-1. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan. Keywords : Discharge. 2002). Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2.52 l second-1.20 kg P.33 ± 0. Furthermore.07 to 0.13 . Sawah berteras was about 1. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. Farmer Practices + Rice Straw. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim.06 l detik-1. yaitu antara 0.25 to 13.10 ± 0. Selanjutnya. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan. Praktek Petani + Jerami. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1.60 ± 0.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2. dan bervariasi mulai 2. and from 7.25 . menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al. In contrast.42 kg K ha-1 musim-1. Bouman and Tuong.55 l detik-1.23 sampai 3. Improved Technology.09 l second-1.07 dan 0. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit. There were no significantly different among treatments.28 to 1. 1996. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian. both for sediment and nutrient deposited.28 dan 1. The treatments included Farmer Practices.

28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion).. air (water erosion). 2000. Bhuiyan et al. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. 2003 dan 2004. dan Douglas et al. dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. 1994.. 1970. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau.. Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. Phomassack et al. 1977. Bouman and Tuong.. 1998. Agus et al. 2006. topografi lahan. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al.. 2002.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al. 1986. 2007 dan 2008). Selanjutnya. Daniel et al. Sharma and De Datta. 2003. 1998). intensitas. 2003..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 1998. 1992... 2000. Cabangon and Tuong. Robichaud et al. 2007). 2004). 2003. sifat kimia tanah. Visser et al. 1973. Cabangon et al. Secara spesifik. 2003. Toan et al. 2003. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya.. 2005. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull.. Sanchez. Aksoy and Kavvas. dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian. Sukristiyonubowo. Sukristiyonubowo et al. Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India. Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. 1971. Sukristiyonubowo.. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. Filipina. Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. Lal et al. (1998) melaporkan bahwa jumlah. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. IWMI. Agus dan Sukristiyonubowo. kondisi kelembaban awal tanah. tipe penggunaan lahan. Lal. Tabal et al. 2003. 2001. .10 g kg-1 air (Bhuiyan. 1998. Udawatta et al. 1998. Kissel et al. Sukristiyonubowo. sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan. kecepatan infiltrasi. 1990. 2004). Namun demikian. walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill).. 1971.. 2006. 2007).. Adachi. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). Kukal and Sidhu.. Sukristiyonubowo et al. Berkaitan dengan iklim. Naphade and Ghildyal. Duque et al. Lal et al. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts).. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0.14-1. pengolahan tanah (tillage erosion). penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. tanah. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). (1976). Kirchhof et al. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. 2002. 2005. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim.

41 . Kabupaten Semarang. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova). dan 100 kg KCl ha-1 musim-1. Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. Saluran air masuk pada teras paling atas. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. berlainan ukuran. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. 2008). Teras bersifat datar. Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). 2007). 2007. yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai.5 for Windows. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation).44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet). sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST. Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. 100 kg TSP. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. Urea diberikan dua kali. Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar. Pada perlakuan FP. Dua belas sawah berteras. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004.140 mm (Sukristiyonubowo. untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1.

.. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah. pengamatan diakhiri pada jam 17:30. dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2.dan NH4+). pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00... Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1.15 Takaran Urea TSP KCl .15 2.48 2.. komunikasi pribadi.64 2.97 3.. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30.500 3.530 3.26 2.500 5. kg ha-1 musim-1 .300 5.000 4.780 1. Pada saat pelumpuran. P (PO4-). pengembalian jerami. Tanggal tanam.240 1. the total amount of returned rice straw.. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen. Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3..040 4. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja. Date of planting. 28/2008 Tabel 1.680 904 2. 42 .070 2. dan K (K+) terlarut.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan. dan kunjungan lapangan Tabel 2... Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5.

12:00. Pada stadia generatif. dan 16:00. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. P. Bogor. P. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut.000/t dimana. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. dan 16:00. hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. fosfat (PO4-). Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. Ammonium (N-NH4+). Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif. namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit. pengambilan contoh air irigasi. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). kadar lumpur. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. yaitu jam 08:00. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. Unsur N. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). dan konsentrasi N.dan NH4+). Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1.000 43 . sedangkan kalium dengan flame photometer. yaitu pada jam 08:00. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. Pada stadia vegetatif. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. 12:00. Dalam makalah ini. Data yang dikumpulkan meliputi debit.

Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1.60 ± 0.55 l detik-1. Secara umum. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi.15 l detik-1. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. sawah memerlukan air yang paling banyak. Alasan penggunaaan metode pengukuran. mempermudah proses pelumpuran.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain.54 ± 0. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. namun dapat meningkat hingga 650900 mm. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . kebutuhan tanaman padi akan air. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak.000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar.38 ± 0. WMO (1994). Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. Oleh karena itu. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah. Bouman et al.28 sampai 1. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah.33 ± 0.15 sampai 0. cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989).55 ± 1. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. yaitu berkisar antara 0. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu. Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. Selanjutnya. 2004). dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah. Pada stadia vegetatif. dengan cara memasukkan konsentrasi N. Akibatnya. Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. P dan K sebagai ganti kadar lumpur.06 liter detik-1. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2.10 ± 0. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm.. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air.23 sampai 3. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.

1.229 2.32 1.012 0.55 ±1.24 3.015 0.1.21 0.28 a IT 0.267 0.11 a a a a a a a a a a a a 0.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.14 0.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.17 1.207 0. MH 2003-2004 Table 3.15 a IT + RS 0.307 0. konsentrasi sedimen.093 2.068 3.54 ± 0.267 0.35 ± 0.50 ± 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.13 1.250 0.14 1.05 b 0. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.34 0.46 0.37 ± 0.313 0. ukuran teras dan luas lahannya.045 0.10 liter detik-1.30 0.088 + + + + 2.303 ± ± ± ± 0.015 0.16 a • Setelah pemupukan FP 0.23 a IT + RS 1.51 ± 0.37 a FP + RS 0.015 0.89 1. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).243 0. sediment concentration.150 4.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.21 a IT 0.021 0.54 ± 0.42 1.010 0.260 2.090 0.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.57 ± 0.10 ± 0.608 a 0.015 0.20 0.12 0.237 0.13 a IT + RS 0.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.580 3.243 0.783 1.52 0.60 ± 0.946 5. Rata-rata debit.07 0.306 0.017 0.490 ± 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah.50 ± 0.015 0.27 0.28 a IT 1.150 + 565 a a + 1.177 0.51 a FP + RS 0.19 0.243 0.170 0.870 a .19 a 0.223 0. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.330 ± 0.550 2.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.450 2.25 0.220 0.280 0.12 a IT + RS 1. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.39 ± 0.015 0.15 a Stadia generatif FP 1.835 0.79 ± 0.420 ± 0.51 0.273 0.20 a FP + RS 1.173 0.223 0.521 a a a a a a a a 1.310 ± 0.05 a 0.09 c 0.021 0.39 a IT 1.22 0.220 0.025 0.237 0.11 0.012 0.287 0.78 0.237 + 655 a a + 1.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.025 0.10 + 686 a a + 1.72 ± 1.715 5.203 0.267 0.27 a IT + RS 2.34 dan 1.17 0.06 0. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.35 0.030 0.021 0.55 a* FP + RS 2.283 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.84 ± 0.23 a IT 2.015 0.06 a FP + RS 1.283 0.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.46 1.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.31 1.1. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.13 1.051 0.015 0.025 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.45 ± 0.280 0.021 0.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.38 ± 0.237 + + + + 3.880 3. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.247 0.15 1.026 .11 0.28 ± 0.36 ± 0.031 0. 45 .53 a Sebelum tanam FP 1.020 0.774 a .237 0.20 0.021 0.46 ± 0.20 0.19 0.021 0.38 0.36 0.31 ± 0.33 ± 0.09 0. Average discharge.010 0.284 a .17 1.06 1.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca . pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil.31 ± 0.13 g l-1.09 g l-1. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi.19 sampai 0. lebih tinggi 2.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1.58 ± 1. kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya.. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah. Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar.3. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1.42 sampai 3. Kadar lumpur larutan sedimen. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3). Akibatnya. Selama perioda pengukuran. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari. Selain itu. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari).260 sampai +2. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Pada saat pelumpuran. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system). Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan. pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya.49 ± 0. Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan. yang diukur pada saluran air keluar utama. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1). tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen. Sebaliknya. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. Namun. Sebaliknya. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0. Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1.70 .870 kg ha-1. yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam. 2004). saat pelumpuran adalah yang paling tinggi.88 ± 1. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan.

oleh sampai 480 keluar. MH 2003-2004 1250 1. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008). Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 . MH 2003-2004 1250 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1. Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1).000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. MH 2003-2004 Figure 1. MH 2003-2004 1250 1. penurunan kwalitas air. dan lain sebagainya.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi. Sebaliknya. MH 2003-2004 1250 1. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate).000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. pada stadia lainnya (tanam.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1.250 1000 1.589 kg ha-1 musim-1.

tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen. 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan.04 sampai dengan 2. sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan. kopi (Coffea arabica).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. konsentrasi PO4.34 ± 0.77 sampai 1.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar. sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4). bervariasi antara 0. Seperti halnya pada air irigasi.68 ± 0.02 sampai dengan 2. selain volume air irigasi dan larutan sedimen. Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif. - 48 . Poss and Saragoni (1992). Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah. amonium (NH4+).04 sampai 1.04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1. Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991). Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. Oleh sebab itu. Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis).80 ± 0.01 sampai 0.antara`0. konsentrasi NO3.dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi. yang bervariasi dari 1.56 sampai 1.04 mg kg-1.dan N-NH4+ oleh air hujan.15 ± 0. yaitu antara 0. Diantara hara yang terlarut. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.6.0 sampai 5. atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS).pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya. yaitu N03. Meningkatnya konsentrasi NO3.86 ± 0. mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi.terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah. konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi. tergantung pada perlakuannya. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1.05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5). Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site). cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ).06 sampai 0.13 ± 0.12 mg kg-1.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1.09 mg kg-1 (Tabel 5). mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif. Variasi konsentrasi nitrat (N03-). yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture).21 ± 0. amonium (N-NH4+). Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1. sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5). Konsentrasi PO4. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0.

02 0..04 0.03 0.021 0.006 0..36 0.15 0.04 0.012 0.86 1. P.28 1...05 0.04 a 2.01 0.. 2007). pemupukan.030 0.59 1.02 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.04 0.72 1.04 0.01 0..030 0..030 0.16 2. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull.02 0.07 0..04 0...035 0.030 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0. N-NH4+.03 ± 1. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.09 0.025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.035 0.06 0. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007).015 0.14 ± 0.030 0.050 0.012 0.01 ± 1.79 ± 0.01 0...70 0.04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0..02 0.04 0.30 0.12 ± 0.025 b 0.. 49 . Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-..21 1.98 1.. P. Selanjutnya.. Sukristiyonubowo..34 1.12 0..10 0..04 0.025 0.45 ± 0.02 1.09 0.03 0.01 0.010 0..79 1.08 0...59 1. 1970.030 0.025 0.01 0.07 0.045 0.79 1..025 b 0.015 0.00 0.015 0.83 0....01 0..030 0....78 1.06 0. P.010 a a a a a a a a 1.020 0.... faktor lain seperti debit.04 b 1.04 0.58 1..95 2......22 0..18 1.. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras.01 0.34 ± 0.01 0.14 2..012 0...76 1..19 1.65 1..86 2....45 ± 0.025 b 0.....01 0. Konsentrasi N.03 0.07 0.01 0.05 0..47 0.02 0..01 0.20 ± ± ± ± 0.065 0.46 ± 1..05 0.05 0. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya... dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 .dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen.02 0.07 0.29 ± 0..006 0.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.80 ± 004 a 1.84 1.035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi.79 1. Concentration of dissolved N.65 1.01 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4.03 0.025 b 0. MH 2003-2004 Table 4..72 1.86 1..56 1.86 ± 0.025 b 065 ± 0.055 0.66 1...36 0. 0. and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N....01 2.035 0.08 0. mg kg .07 ± 1. PO4. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS).01 0...77 1.01 0.04 0..01 0.04 2. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi.012 a 0.05 a 1..02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0.035 0.67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.15 ± 0.015 b 0.006 0.15 ± 0.015 a 0.08 0..10 0.01 0.

.70 1.43 0. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari). dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.54 ± 0..09 0.44 1..06 0.05 0.28 kg K ha-1 musim-1.31 1.10 1.07 0..30 1.01 0..46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.01 0.67 1.05 0.14 kg P...10 0.97 0.04 0.05 0.03 b 1.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.02 0..02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.05 0..01 0..15 0..05 0.10 1.85 1.68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.03 0. Seperti halnya pada pergerakan sedimen.04 0..75 1...03 0.80 0.12 0.04 0...01 0.03 0.. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda.01 0. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar.02 0.03 0.03 0..75 1.03 0.75 1.62 1.06 0..02 0.01 0.02 0... hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.09 0.02 0.04 0.54 1. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.04 0..06 0..73 1...14 dan 9.03 0.96 dan 8.58 0..04 0.. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi...09 dan 1.21 1.01 0.01 0.69 0.05 0.05 0.03 b 1.13 1.12 0.06 0..06 0..03 0.04 0.05 0.47 1.03 0..07 0.04 0..60 1..03 0.03 0.04 0..07 0. Concentration of dissolved N.02 0. P. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03.. 0.10 0.04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0...02 0.. mg kg-1 ... P.90 1.02 0.01 0.06 0.02 0.06 0.01 0.01 0.. dan antara 3.03 0.05 1.60 2.57 1. 28/2008 Tabel 5..04 0.80 1.06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. 0..01 0.02 0.17 0. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6).. and K in suspended sediment during rice growth.....04 0.02 0.03 0...57 ± 0. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut.47 1..02 0. atau negatif. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen.54 1. Akibatnya.05 0.34 0...67 1.38 1. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4...57 ± 0.10 0.11 1.68 1.03 0....08 0.02 0.89 0.02 0.02 0.03 0.90 kg N...06 0.62 ±0.02 0.99 1.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1..02 0.. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.03 0..13 0.03 0.04 0.69 1.01 0.. P. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari). N (NO3 + NH4+)..07 0.. P.02 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.01 0.75 1..85 0.03 0.13 0..03 0. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar.03 0.73 1.. Konsentrasi N.. Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .06 0.56 1.32 1.. MH 2003-2004 Table 5.02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.31 0.03 b 1.09 0.29 1.

03 19.86 0.072 0.80 2.20 6.040 0..20 kg P dan 7.090 0.003 0..55 ± 1.030 0..28 2.12 1...92 4.20 sampai 1...162 0...48 a a a a a a a a a a a a 0.....96 44.80 1. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti.25 .13.090 0.37 13.130 0.55 l detik-1.090 0.60 3.00 9.192 0. yaitu 51 .. dan pada stadia generatif berkisar antara 1.90 a a a a a a a a 16.40 1..42 6. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air.90 9.42 7.28 sampai 1..030 0.33 0.52 a 12.30 a 23. Incoming and outgoing dissolved N.80 10.070 0..80 a 10.040 0.50 0.41 0.06 5.80 2..23 sampai 3..56 ab 9.002 0.07 a 7.54 ± 0.26 6.46 0.58 b* 1....020 0. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi.06 l detik-1.60 ± 0.48 3.402 0.90 19.33 ± 0.31 ± 0..145 0.458 0.50 ab 29.32 a a a a a a a a a a a a 13.33 1.62 a a a a a a a a a a a a 0...030 0.256 0.130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0..060 0...16 4....86 9.90 1.98 8.36 0..42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6).13...31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22.00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0...010 0..50 9.70 8.62 2.422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1..20 22.46 15..10 ± 0.36 a a a a 0.25 11..... MH 2003-2004 Table 6..57 0.50 12.002 0.126 0.30 1..20 0..38 1. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar.51 0..002 0.282 0.080 0..030 0..96 19..20 a 13.010 0.20 .64 0.90 1.60 b 25..87 1.74 7.24 27.10 9.. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K .196 0.050 0.040 0..76 31..018 0. 0....78 49.10 4.84 8.030 0.64 2. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar.13 .. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil..008 0.15 l detik-1...SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6.93 0. P.56 3.50 6..15 dan 0..89 ± 0.186 0.34 0.18 0.040 0..20 a 0.80 29.62 a 13.018 0.05 12.06 1..144 0..66 10. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.030 0..55 0.. Dibandingkan dengan debit air irigasi.126 0.51 12. berkisar mulai 2.80 14.90 2.70 22..30 6.144 0.. yaitu antara 0.288 0.70 1...180 0..96 8.68 15.92 42.090 0...20 a 4.90 11.270 0.62 kg N.60 12.40 11.38 ± 0... N.. kg ha-1 musim-1 .68 b 4. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1..24 6...34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.76 12.00 5.87 39.30 2..060 0.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0...060 0..54 4..42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.14 9...58 36...22 0.80 6.28 3.90 20. KESIMPULAN 1...20 a 10..58 5.002 0.52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.13 4.30 36.270 0..060 0.. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0.050 0.0.52 b 0. 0.030 0.08 1... debit larutan sedimen adalah lebih kecil.99 28..64 3.

715 sampai 5.. 1992. 1994. Sebaliknya. and H.78 ± 0. Pp 146-151.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata.). 64:247271. (Eds. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen. 1990. T. DAFTAR PUSTAKA Adachi. 280 hlm.I. 1996. Journal of Environmental Quality 7:203-208.E. and T. 2007.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2. R.20 kg P. Aksoy. 1978. 1977. G. Moody. and K.490 ± 0.52 l detik-1. Valentin. and D.M.62 kg N. S. Paper presented at the International Workshop on constrains. Bangkok.. E. lebih tinggi sebesar 2. H. Vadari. water regime and fertigation level. Anonim. 2003. opportunities.E. M.21 ± 0. Burwell. Pp 186-193. and Rego.T. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. 2. Outlook Agriculture.I. Rekomendasi pemupukan N. F. A. S.F. Bhagat.25-13. Schuman.. 2003.13 g l-1.E. (Eds. Alberts. and C. Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1.2013. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. F.L. R. E. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model.. Bhuiyan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. V. Water management in relation to crop production: case study on rice. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah.09 g l-1. Agricultural Water Management 37:241-253.07 dan 0. K. 28/2008 antara 0. 1994. Water. Yamaji. Sukristiyonubowo. Integrated catchment management for land 52 . Pada stadia generatif bervariasi dari 1. and Sukristiyonubowo.207 ± 0. 286 hlm. Bhuiyan. Anbumozhi. Agus. palawijo dan sayur. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review. A.. May 31-June 3. Catena. Wet seeded rice: water use efficiency. In: Maglinao. and R.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sattar.42 kg K ha-1 musim-1. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed. Maglinoa. Pp 135-149. Tabuchi. fosfor. A. Valentin. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth..13 ± 0. Watung. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. Departemen Pertanian. 1998. 0. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia.A. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata.012 sampai 0.J.70-3. Effect of rice-soil puddling on water percolation.. dan 7. Departemen Pertanian. S.13-0.88 ± 1. and innovations for wet seeded rice.. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. F. Bercocok tanam padi.W. C.42 sampai 3. BIMAS.R.R. 21:293-299.L.. Bhuiyan. Ramakrisna.09 l detik-1. 2005. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran. and Penning de Vries. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2.I. Agus. hara terlarut (nitrogen. Kavvas. 19 p.P.. Agricultural Water Management 31:165-184. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. T.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. selain sebagai tempat memproduksi beras.). Tabbal. productivity and constraints to wider adoption. S. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran. In Wani.06 sampai 1. Anonim.32 ± 0.58 ± 1.

Ramakrisna. R. B. A. 1998. Soil and Tillage Research 56:37-50. Quita.. 1971. Tuong. Duque Sr. Caughlan. Soil Erosion at Multiple Scale. and Rego. T. and E. Los Banos. Agus.P. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas.L.D. 1998. Kukal.S. Thonglatsamy. Cabangon. Adisarwanto. and T.). Pp. 1991. A. Bhumbla.D. T.. 1998. R.R. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice.E. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines. and Rego.P. Phillipines. Chanthavongsa. 203 p. S. Jr. S. Water facts. K. and J. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. C. (Eds. C. N. C.. G.). L.S.E.P.S. 57:11-31. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. de Rouw. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177. A. Agricultural Water Management 49:11-30.. K.V.. 2004.R. Datta. Bhumbla.). Doctorate Thesis. IWMI (International Water Management Institute). C. R.N.. Journal of Environmental Quality 27:251257. 1971. 2003. (Eds. A. T.B. Sharpley.. Dacanay. and Biswas. Richardson. and Kerr. 2004. Logan. 1998. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview. A. Lemunyon. B. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops. S. (Eds. R. (Eds.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman. 207-222.S.P. Statistik Indonesia. Ghildyal. Tiongco.. Hashyim. P. N.J. ion uptake and rice growth. MSEC-Lao PDR Annual Report. Phommassack. Syers.W. N. Maglinoa.. F. (Eds.S.). and T. In: Wani.M. and J. and N. Principles and Practises of Rics Production.M. J.M. Lal. King. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. In Kanwar. 2000. T.A. BPS.. Ghildyal. Marchand. 2001.P.M.A. 2005. 1976. Tuong. Douglas. 2002. Ramakrisna. 1998. Sidhu. De Datta. and soil loss. Bains. D.P. T.. Peng. Burnett.. and J. Pp 510-517.. R..V. and H. R. D. A. and T. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. de Guzman. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. IBSRAM-Thailand proceedings. and B.L.) field. Zuzel.T. S.H.R. An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR. Santos. A. Carpina.J. and V. S.P. Soil and Tillage Research 56: 105-116.K.. Tuong. and Biswas.C. El-Swaify. Valentine. W. So.R.... Miller.R.F.. B. Priyono. 53 .J. CD-Rom (one CD). Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation.).. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics. Ilao.B.. J. 2003.. T. S.. 2000.A. Daniels. Journal of Environmental Quality 5:288-293. Pp 499-509 In Kanwar.O. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. Pp 163-178. IRRI.D.W. F..J. S. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. Agricultural Water Management.P.S.. Naphade.J.. Utomo.K. Cabangon. Datta.M. Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman. Demyttenaere. CABI Publishing in Association with IBSRAM.. Monitoring of weather. and T. Sihavong.P. and A. B. Visperas.. 1989. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon. and R. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. Bains. runoff. E. Chaplot.P. In: Penning de Vries. T. F. S. C. P. Abdullah. Kirchhof. 2002. In Wani. J. Lal. C. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek. J. Biro Pusat Statistik. Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. MSEC-Philippines Annual Report.S. Maglinoa. G. Kissel. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems. T.J. P618.A. D. Soil and Tillage Research 78:1-8. A. Castaneda. S. 1981. IWMI Brochure.

D.P. Agricultural Water Management. and Rego. Phien. Garrett. Phai. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition). From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature.J. and F. Sukristiyonubowo. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo. F. Data acquisition and processing.J. Sukristiyonubowo. T. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). 1994.). R. Watung. Leaching of nitrate.B.. 56:93-112. Gabriels.A..A. Burwell. Belgium. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. 2002.W.K. Operational Hydrology Report No.29.E.). Sibayan. D. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. S. In The International Potash Institute (Eds. 184 p.L. and J.D.168. 117:39-48. T. Fertilizer Research 33(2):123-133. Journal of Environmental Quality. Departemen Pertanian. and S.. T. Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras..R. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD). Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian. Motavalli. WMO-No. Visser.P. C.. 2006. Badan Litbang Pertanian.H. 4:366-369. 2006. 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Sattar. Advance Soil Science. Uexkull. S. 2008. Stroosnijder.F. F. 2003. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. and L. Vadari. T. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge.E. A.J.I.R. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems. Puddling tropical rice soils: 1. B.W. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. D. P. Soil Science 115:303-308. Saragoni. Catena. 64: 1-22. analysis. In Maglinao. 54 . 686. Krstansky. Agus. P. R..D. 1992. A. USA. 1970. De Datta.. P. Growth and nutritional aspects.M.). H. CD-Rom (one CD). measurements and modelling. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Bhuiyan. 2007. Ghent University. and M. MSECVietnam Annual Report. 1989. Physical properties and processes of puddled rice soils. Lillybridge. 2003. On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice. Lao PDR on 14-17 December 2004.. and M. and H. Guide to hydrological practices. T.P. Nguyen. 67: 56-67. Nutrient losses by wind and water. Ghent. Toan. R. Valentin.K. Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang. Chardon. 2004. Yuqian. PhD thesis. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. Pp. Pp. Maglinoa. and J. Agriculture Ecosystems and Environment.. Robichaud. P.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Verloo. Ramakrisna. (Eds. Fifth ed. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry. Wagenbrenner. 1974. WMO (World Meteorological Organisation). 413-416.R. G. and R. In Wani. (Eds. L.M. 735 p. WMONo. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. A.R.A. 169p.R. Taball. and W. V. Hlm 225-245. 5:139-178.E. 2005. L. case study in the Philippines. Agus. E. CD-Rom (one CD). Bouman. Poss. Sanchez. 1986. S. Sukristiyonubowo. 1973. Sukristiyonubowo. 151-164.T. and Penning de Vries. Udawatta. Faculty of Bioscience Engineering.. forecasting and other applications. Schuman. Catena. Sharma.

clay content. Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. clay content. Thus. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. 23. Serapan fosfor. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. sedangkan pH tanah. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. and Al were not significant. Padi sawah Keywords : Soil properties. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Cadd. while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. 1990. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). applied as superphosphate (SP-36). 1998). dan Aldd berkorelasi tidak nyata. 46. 1990. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. Smectitic. IPB. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. 23. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. 46. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. Newman and Hayes. Bogor. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. and Al were not significant. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. In smectitic soils. 2. Fe. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. The experiments used completely randomized block design with four replications. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. 69. Fedd. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. medium. Phosphorus uptake.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. kadar liat. exchangeable Ca. Pada tanah kaolinitik. 2002). 1990). Kaolinitik. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. while the correlation of pH. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. kadar liat. 69. Departemen Statistika. P uptake response with P fertilizer was not significant. while the correlation of pH. and high P content variabilities. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. Bogor. exchangeable Ca. Fedd. ISSN 1410 – 7244 55 . Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. In kaolinitic soils. Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. sedangkan pH tanah. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Smektitik. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Fe. In kaolinitic soils. Kaolinitic. Cadd. MASJKUR1 DAN A. Tan. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. dan 115 kg P2O5 ha-1. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Namun demikian. sedang dan tinggi. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. Cornforth et al.

Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. dan diayak dengan saringan 2 mm. dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Fe dan Mn dapat ditukar. Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. C/N rasio). dan 8). 2. 2005). Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. Mn. Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. 100. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. Purworejo 2 (P sedang). dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. Purworejo 2 (P sedang). dihaluskan. P dan K HCl 25%. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. 200. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen. 69. Fatmawati. K. besi oksida bebas. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. Ca. dan Na dapat ditukar. 150. Contoh tanah dikering-udarakan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). kandungan bahan organik (C organik. Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. 1999). Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. Adapun fraksi Al-P.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dan 3). HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. Fe. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. 23. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. 46. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7). N total. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. pH (H2O dan KCl). 28/2008 pulau utama. Mg. 56 . Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. P Bray 1. Kedungrejo (P tinggi). fraksi Ca-P.. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). dan Zn dapat ditukar (DTPA). Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. 7. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. Cu.

57 3.0 1.1 5.12 0.6 2.09 0.67 1.2 5.31 2.65 0.97 0.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .25 2.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.05 0.01 3.2 4.46 2.0 4.67 2.2 5.09 0.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.44 3.79 13.19 3.1 4.97 1.62 0.2 3.2 3.09 0. ….1 4.13 0.73 0.65 0.1 5.07 0.3 0.70 0.….6 1. mg kg-1 …….01 0.…. me 100g-1 ….49 1.8 5. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.65 1.12 0.77 0.88 2.1 1. ….30 0.0 4.15 0.4 2.01 0.45 9.53 11.6 1.2 1.11 0.0 11.2 1.7 24.81 2. g 100g-1 ….86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .0 4.02 0.0 3. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.31 1.0 4.0 5.3 1.45 0.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.24 9.6 12.69 1.51 1.77 0.89 0.97 0.55 0. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….07 0.10 2.6 3.04 0.67 0.14 0.02 0.73 0.38 12.95 3.9 11.11 0.01 0.84 3.6 1.48 0.14 0.7 2.0 4.8 1.6 1.2 5.52 11.5) H2O KCl 5.4 74..50 10.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.97 1.31 0.67 0.2 2.5 65.01 0.2 5.…………… me 100g-1 ……….53 1.68 0.0 4.0 9.9 21.02 0.63 0.46 1..82 3.73 0.82 0.15 0.24 0.7 4.66 2.4 16.22 1.38 1. g 100g-1 .37 11.0 3.01 0.4 1.96 12.01 0.2 81.2 1.01 0.08 0.7 26.5 15..3 5.0 3.09 0.0 83.45 3.39 1.59 1.32 0.5 1.80 2.0 4. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.58 3.01 0.14 1.01 3. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.1 5.29 12.6 1. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….2 1.….….34 1.05 2.38 1.38 2.01 0.0 2.4 4.56 0.26 12.81 0.81 0.14 0..13 0.14 0.1 5.1 4.3 11.5 25.0 4.09 0.4 1.Tabel 1.13 11.4 1.69 1.46 2.73 2.57 1.1 5.02 0.65 0.

80 0.40 0.0 4.5 2.5 5.5 7.92 16.70 0.32 40.4 9.4 12.6 7.62 0.04 135.08 0.6 6.23 1.1 2.29 KB % 116.86 55.95 38.10 14.00 0.6 14.68 14.0 9.16 43.4 35.77 35.36 16.3 6.9 2.8 2.4 2.09 0.38 59.50 51.13 0.0 2.00 0.37 22.2 6.54 40.5 5.3 3.26 0.13 0.46 1.5 4.68 44.3 2.55 127.4 7.2 34.2 12.1 5.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.80 105.20 0.11 6.36 5.73 35.00 0.6 4.96 14.4 7.3 14.71 22.6 2.02 54.4 4.33 0.12 0.36 14.35 49.0 2.02 0.4 2.11 0.69 0.57 21.25 24.2 6.1 6.40 0.02 0.0 42.58 Tabel 2.08 0.5 12.00 0.50 42.31 0.4 4.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .5 6.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.6 2.7 5.4 1.65 42.8 12.94 14.95 101.38 0.09 15. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.86 1.25 117.17 14.11 0.39 1.02 0.2 33.75 44.52 51.42 0.3 5.15 1.08 0.04 0.2 37.39 123.99 41.00 0.48 14.45 0.46 98.11 0.32 23.13 0.03 115.3 6.4 0.64 43.51 1.10 24.03 0.00 0.0 2.00 0.87 1.00 0.6 14.08 15.00 0.63 41.4 6.11 0.45 1.73 6.42 0.3 7.76 1. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….26 35.00 0.65 41.55 101.00 0.37 1.02 0.53 1.3 7.67 1.57 13.02 0.00 0.52 1.02 0.44 0.0 10.67 130. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.46 1.37 1. me 100g-1 ………………….3 21.07 21.78 135.47 0.30 0.2 7.2 5.11 0.00 0.50 5.39 1.7 3.3 10.11 0. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.1 9.47 56.32 50.18 0.30 0.14 7.

MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983). 59 .Tabel 3. Dobermann and Fairhurst (2000). KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M.

Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5. Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4.60 Tabel 4. 28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer .

2004) Figure 2. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1... 2004) 61 . Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al. MASJKUR DAN A. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al.M.. 2004) Gambar 2.. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al. 2004) Figure 1.

78a 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.344 0.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.490 F 0.228 Tabel 9. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2.89b 2.35a 3.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.89a 3.99a 1.112 0.463 2.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.615 Sig. 28/2008 4.741 0.0 2.99a*) 1.908 4.189 5.089 Tabel 7.33a 2.343 0.213 F 1.77a 2.875 10.186 0.0 3.798 9.447 Tabel 8.363 1.292 0.5 1. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6.746 Sig.558 1. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0. 0. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.639 F 1.030 3.09a 2.50a 1.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.290 0. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.10a 3.5 2.227 1.0 1.77a 1.0 2.51a 1.939 Sig.5 2.5 3.05 62 .579 16.70a 3.033 5.449 1.599 0. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.05a 2.761 0.07a 2.62a 2. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.54a 2.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3.52a 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.0 4. 0. 0.0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.

053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4. Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun. smektitik Demangan dan Tirtobinangun.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1.202 0.119 5.42. 150. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P. dan 13). 0.512 0.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.451 0.762 F 1.47.682 Tabel 11. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4.550 9. 11. Tabel 10.646 0.241 Sig.339 0. P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang).866 63 . Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10.147 15. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11.756 0.M. 11.183 0.774E-02 9. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13). P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2.355 0. dan 10.328E-02 F Sig.143 1. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4. MASJKUR DAN A.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.75 hingga 3. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12.161 4. dan 250 kg SP-36 ha-1.60 hingga 10.000 0. Kedungrejo (P tinggi). P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. 12.

72** 0. Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya.99a 8.75** 0.+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0. sehingga pH meningkat.13 -0.51 -0. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .47b 8.75**).41 Fedd -0. Selama dekomposisi bahan organik. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ………………. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik.60* 0.01 * Nyata pada α= 0. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31.39b 9.84** 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.03 C -0..52 -0.75a 8. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.835 8.000 0. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan.46a 2. N-organik diamonifikasi.91a 2. 11.54 -0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14.757 Tabel 13.49 -0. 28/2008 Tabel 12.61* -0.278 0.05 64 .16 0.18 -0.71* -0.36a 3.29 0.42b 7.07 0.75** 0.99a 2. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.68* -0.956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.13 0. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+).70a 11. 8. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al.10 ** Nyata pada α= 0.92b 10.711 0. serta (c) macam dan kandungan bahan organik.37a 2.83a 2. kg P ha-1 ……………….38 0.397 0. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.60a 8.52 Aldd 0.27a 8.06 Liat -0.409 40.51tn) (Tabel 14). Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12.33 0.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.928 0.15 0.. Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.55 Ser-P -0.16 0.55 -0.32 -0.77** -0.77** -0.64* 0.313 0.61a 10.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0.53 0.13 Cadd -0.701 F Sig.83b 8. terutama bahan organik mudah dilapuk.

sehingga dapat diserap oleh tanaman. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif).60*). Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum).↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e. semakin meningkat pula serapan P padi sawah. 1999. urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P. dan 0. 2004).33tn. Pada ¾ dari jerapan maksimum.3-1. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-.61) (Tabel 14).64*). MASJKUR DAN A.29tn) . dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0.5) dan ketersediaan fosfat optimum. sehingga serapan P tanaman meningkat. sehingga melepaskan ion OH. Cadd (-0.68*).71*). kalsium karbonat atau bahan organik. Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0. menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam.. menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum). 2001). nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia. dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al. (2) penggantian anion H2PO4.5-7.. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P. 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.10tn) (Tabel 14).2%).0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Rendahnya bahan organik (< 2. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman.pada tapak-tapak jerapan.M. 0. sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. 65 . mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --. dan bahan organik (-0. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0.: M – (OH)3 + COO. 1999). Fedd.+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. Kation Cadd.↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. Haynes and Mokolobate. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8. sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate.07tn.

kadar liat.98** Fedd -0. 1999). Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah.10 0.95** 0. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 . Killham.99**).30tn dan 0. Fedd. 28/2008 Tabel 15. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.98**).01 Cadd -0.14tn). 1999).17 -0. sedangkan pH tanah. Peningkatan bahan organik sawah. 1999. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan. sedangkan pH tanah. Cadd. peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah.30 0.28 0.15 0. He et al. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe .39 -0.81** 0.88** C -0. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman.88**).90**) dan Cadd (0.50 0.90** 0.. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.05 0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah.81**).20 -0.94**).55 Aldd Ser-P -0.49tn).20tn).10 -0. sehingga P tersedia relatif tidak berubah.49 -0.66* 0.40 -0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.72** -0.99** Liat 0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0.94** -0.98** -0. Namun demikian. Cadd. 1998. kadar liat.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.05 0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.78** -0.

A. Soil Fertility and Fertilizers.J. Metherell. Mokolobate. tartrate. Laguna. 1983. 1990.K. Mineralogi. B.Am. Agr. Loeppert. Kasno. Bogor. Adimihardja. Pp. Kyoto University Press. Nelson. Prentice-Hall. 2004. Nutrient Disorders and Nutrient Management.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. dan R. Laguna. New Jersey. kimia.S. Prasetyo. 12:155-167. 157-166. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. A. Hayes. crystal chemistry. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. 2004. 2. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. 1999. and T. J. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. Soil Sci. J. Bogor.L. Hayes. J. Kasno. dan biologi lahan sawah. B. Nutr.D.H. He. 2001.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. A. 1997. Clays Clay Miner. A. Prasetyo.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Paddy Soil Science. dan E.M.. Agus. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide.S. Fedd.M. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. S. A. 2006. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved.H. Pp.B. J. kadar liat. Herbillon (Eds. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. and A. Los Banos. 2000. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1. Cadd. An Introduction to Nutrient Management. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida.H. Tanah Trop. Philippines. Structure. 67 . Hidayat. Killham. and A. Cycl. Cornforth. J. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP). M. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. Herbillon (Eds. Fagi. Philippines. Fairhurst.L. Eur. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. Dobermann.B. I. Balai Penelitian Tanah. Haynes. Simanungkalit. 2001. New York. K. J... Brown. S. 7-38. International Rice Research Institute. Beaton. and M. 2005.) Soil Colloids and their Association in Aggregates.E. Newman. Soil Sci. De Boodt. Pusat Penelitian Tanah. Cambridge University Press. S.D. Hartikainen. MASJKUR DAN A. In M. Tisdale. A.D.S. Japan. Soc. Simojoki. J. Adiningsih. Kyuma. 47:226-233. A. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania.. Hayes. H.C. 1999. Plenum Press. K. R. Violante. International Rice Research Institute.M. Las.H. 1990. Assessing Fertilizer Requirements. Johnson. In M.B.F. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. Comparison of adsorption of phosphate.Z. A. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. fisika. Subagyono. Pasandaran. M. Sifat Morfologi.F. UK. Los Banos. K. Hardjowigeno. Bogor. Bogor. 48:493498. G. Kyoto. and P. Hartatik (Eds. 1999. De Boodt. 1999. Dalam F. New York. 70:222-234. dan W. and M. 39-56. and A.H. De Cristofaro. Pp. 59:47-63. Soil Ecology. I. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification. A. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung. SornSrivichai.L. dan A. and W. Havlin. and A. 1990.H. Plenum Press. and R. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah.

2002. Dasar-dasar Kimia Tanah. 68 . Suddhiprakarn. Zaini. Yogyakarta. 1995. dan S. P. Adiningsih. 9-37. Gilkes. Faculty of the Graduate School. Gadjah Mada University Press. Hlm. 2005. A.H.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. Tan.. Los Banos. Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. Bogor.J. and R. Soil Research Institute. 1978.). Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. Trakoonyingcharoen.S. dan J. East Java). Kartaatmadja (Eds. Rochayati. 28/2008 Rochayati. K. A. Sofyan. Soil Sci. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. I. 1998. Bogor. S. University of the Philippines. Philippines. Kheoruenromne. 170:716-725. S. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Dalam Z.

Oxalic acid significantly increased plant N. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. IPB. NH4Cl. yaitu: 0. and K uptake in Vertisols. 2. P. 1. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. NH4+. and K uptake. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. SABIHAM3. L. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. 3.A. IDRIS2. ulangan tiga kali. 2. Cilacap (Endoaquert Kromik). Soil available K. Ngawi (Endoaquert Tipik). NH4+. 250. Tanah yang didominasi smektit plant growth. NH4+. dan 500 ppm. Key words : Oxalic acid. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. Bogor.000 ppm. NH4+. while the second one was application of cations: without cation. 4. ISSN 1410 – 7244 69 . Na+. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P. and Fe3+ on Availability of Soil K. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. Na+. and Maize Yield in Smectitic Soils D. Cilacap (Chromic Endoaquerts). Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Na+. serapan N. Na+. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. and 500 ppm. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. P. plant N. Fe3+. and 4. 125. dan K tanaman di Vertisols. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. It’s availability for 1. yaitu: tanpa kation. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. Walaupun kadar K total tanah tinggi. Researches aimed to study the effect of oxalic acid. Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. Fe3+. 1. Serapan N. Kata kunci : Asam oksalat. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah.Pengaruh Asam Oksalat. dan 4. 2. K tersedia. 125. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. Departemen Pertanian. Maize. NH4+. 250. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. NH4+. Bogor. NH4+. Bogor. Na+. S. and K Uptake. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid. The soils are commonly high in total K content. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. The results showed that oxalic acid. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. NH4Cl. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. Direktur Perluasan Areal. P dan K tanaman di Vertisols. Jagung. K. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian.000. Plant N.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah.000.000. 375. NH4+. Bogor. Na+. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. and Fe3+ on availability of soil K. dan K. P. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. dan Blora (Haplustalf Tipik). P.000 ppm. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. RACHIM3. and K uptake in Vertisols. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. and Fe3+ from NaCl. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. The first factor was oxalic acid rates: 0. IPB. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). Na+. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. Na+. Na+. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. Na+. Ngawi (Typic Endoaquerts). P. however. 375. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. Fakultas Pertanian. Smectitic soils. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. Fakultas Pertanian. P. NH4+. P. NURSYAMSI1. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space.000. D. DAN A. NH4+. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. Bogor. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. dan K Tanaman.

Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). 1993). daya sangga. Mn. suhu. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. kelembaban. Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. 1987). 1999). Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. 1987). 1987). Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu. 1989) dan vermikulit (Douglas. 1997). 70 . dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak.. dan Jatim). Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. Fe. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K.12 juta ha (Vertisols sekitar 2. Na+. dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo.. dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon.12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. hitam (Vertisols). Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. 1992). kapasitas tukar kation. 2000). Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. Selain faktor tanah dan iklim.. Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. Sulteng. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. K. yaitu lebih dari 2. 1999). Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual. Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. 1994). dan Gorontalo). 2002. 1989) yang dominan di tanah tersebut.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). Sulawesi (Sulsel. seperti dari golongan smektit (Borchardt. muskovit. dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. mikroklin. Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. Kilic et al. Jateng.

diayak dengan saringan 2 mm. Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1.000. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali. sangat halus. isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . NURSYAMSI ET AL.) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. berkapur. NH4Cl. Faktor kedua adalah penambahan kation. halus. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. NA+. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2. digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm. Knudsen et al. dan 4. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). (1982). Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. NH4+. Kdd. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. yaitu: 0. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. NH4+. (2007). Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. SERAPAN N. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. halus. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. iklim. Bahan tanah dikering-udarakan. P. Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). semi aktif. isohipertermik Endoaquert Tipik. 1. L. lalu tanah diaduk hingga homogen. smektitik. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. P. Ktdd. dikeringudarakan. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. campuran.000. ditumbuk. 1997). Na+. NH4+. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. Na+. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah.D. dan Wood dan DeTurk (1940). isohipertermik Haplustalf Tipik. : PENGARUH ASAM OKSALAT. smektitik. sangat halus. yaitu: tanpa kation. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. berkapur. berkapur. dan K. 2. Ngawi (B3). contoh tanah diambil sekitar 250 gram. serapan N. smektitik. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah.000 ppm. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. Cilacap (B2). dan Blora (B4). isohipertermik Endoaquert Kromik.

82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7.47 4.22 0.11 10 222 41 34.. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml.01 13.42 38.000 5. lalu ditambahkan 20 ml 0. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2.. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat.000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus.56 3.57 0.19 H2O (1:2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..10 13 148 187 5. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).03 56. mg kg-1 …………….88 1. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung.………….98 > 100 0.97 9.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam.12 9 178 30 0.16 24.38 13..00 0. Rate of Na+. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom.28 0. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.24 1.65 11.5) KCl 1 N (1:2. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.04 33. NH4+.. NH4+. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3.555 5.11 0.96 2. 28/2008 Tabel 2.…………. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit.36 4.41 42. Takaran Na+... Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3..01 1.21 10.97 58 5.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5..13 0.72 1.….000 5.03 > 100 0.97 92 5.01 6.01 0.000 rpm dan supernatannya ditampung.00 0.12 11 548 134 10.………….00 0.06 0.36 0. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik …………...00 0.55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.95 0.12 0. Teflon bomb .…….35 0.36 0.06 0.

Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. yaitu : 0.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. 375. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. Endoaquert Kromik. 0. 41. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST.11. asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols. Asam borat 2. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS. NA+.12. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. Berbeda dengan di tanah Alfisols. 125. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. diayak dengan saringan 2 mm. NH4+. 134. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). SERAPAN N. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0.28. Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah. Dibandingkan dengan kontrol. ditumbuk. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. P. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K). : PENGARUH ASAM OKSALAT. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. Bahan tanah dikering-udarakan. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. dan 0. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat.D. Endoaquert Kromik. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. Endoaquert Tipik. yakni 0. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. lalu tanah diaduk hingga homogen. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. dan Haplustalf Tipik. yakni 30. NURSYAMSI ET AL. 250. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. 0. Endoaquert Tipik. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). Analisis serapan N. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. P. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. dan 500 ppm.

50 bc 165. 1998). and Fe3+ on soil Ksol. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols.00 59.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl.38 67.60 <1 27. Effect of oxalic acid.88 b 16.38 b 155. Na+.30 1.75 b 38.75 b 67.000 4.000-5. wedge (w). K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i).13 b 165..000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59.25 c 152. Na+. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4. Tabel 4. sedangkan pada Vertisols nyata. Na+. Kdd.30 55.25 b 58.13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation. Na+.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1. NH4+.555 mg kg-1 (Tabel 3).00 a 12.60 <1 56. Tabel 5. Effect of oxalic acid.38 ab 165.00 26.00 b b b a 150. dan crack (c). 74 ..13 mg kg-1 (412%). NH4+..30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.63 b 33.00 a 161. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan. NH4+. Kexch. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.000 4.. and Fe3+ on soil Ksol. Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti. and Knon-exch. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III. 2007).000 2. Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti.50 70. Tingkat 13.38 b 142.13 a 13.13 70. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5.000 2. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols.63 26. Pengaruh asam oksalat. sedangkan pada Vertisols nyata. Kexch.50 b 64. NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl.75 b 16.50 a 149.38 27. and Knon-exch.. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat. NH4+.75 menjadi 142. Kdd. Pengaruh asam oksalat.75 58. 25.00 a a a a 62.75 b 73. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5. 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5). mg kg-1 …………….88 menjadi 58.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl …………….38 a 12. Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols). 1987). Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd.13 a 13.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.

NURSYAMSI ET AL. P. Hasil penelitian Nursyamsi et al. 24-31% dalam bentuk Kdd. Berdasarkan jumlah K yang dilepas. Kirkman et al. NH4+. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. Pengaruh pemberian Na+. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). NH4+. Effect of Na+. NH4+. Pengaruh pemberian Na+. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i.D. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. 75 . Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. : PENGARUH ASAM OKSALAT. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. SERAPAN N. NH4+. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama. Effect of Na+. NA+. NH4+. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat.72 26.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K ………….74 24. 229. Pada Vertisols. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.99 a 16.00 a 16.55 a 9. Na+ and Fe3+ on plant N. P.60 1. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K …………. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8).59 81.08 a a a a meningkatkan serapan N. dan K tanaman. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji.71 55.71 b 18.81 a 17.60 27.00 233. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.09 334. mg pot-1 ………….21 b 1.70 20. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik.15 a 9. Endoaquert Kromik. asam oksalat juga nyata 76 . Pengaruh asam oksalat.50 a 30.67 a 17. P.85 b 46. Effect of oxalic acid.53 220.15 7. dan K tanaman. Tabel 6.80 <1 50..84 a 333.42 a 2. nyata menurunkan serapan P.36 79.18 52.74 a 53.32ns 9.88 109.64 b 56.71 7. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut.000 2. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+. dan K tanaman pada Alfisols Table 6.53 ab 14.51 9. Pengaruh asam oksalat.98 b a b b b 6.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.61 283.13 ab 4. Effect of oxalic acid.01 b 4. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut. dan K tanaman.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.42 213.04 92.20 1. P. Tabel 7. Na+ and Fe3+ on plant N. P.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik.000 227.31 56. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.81 a a a a 25. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.79 a 58.77 b 8. P.21 a 62.80 1.000 4.56ns b a b b c 24.74 a 130..70 < 1.10 <1 a a a a a 16. 105. mg pot-1 …………….92 4. 125.55 a 31. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.37 b 16. Berbeda dengan dua kation sebelumnya.000 215.50 111.35 a a a a 7.67 b a b b c 81. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6).87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258. Pada Alfisols. dan K tanaman pada Vertisols Table 7.97 8.63 a 51.43 a 242. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.11 68.21 26.55 381. dan Endoaquert Tipik.87 325.04 a 15.53 ab 15.55 ab 51.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7).99 107. P. P.28 27.37 23.42 192.000 233. 15.

yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4. NURSYAMSI ET AL.20 b 8. serapan N.20 6.85 a a a a 4.09ns 4. 1997).56 6. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al.25ns 14.0 (Kdd).98 a 1.5 t ha-1 biji kering. P.93 a 3. g pot-1 …………………………………. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al.03 a 4. P.13 4.D. (2001). NH4+.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia.75 c 11. NA+.48 b 10.28 5.37 6.30 1.000 4.44 b 11. Effect of oxalic acid.75 ab 5.42 b 4.06 3.62 b 1.58 a 3. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8.02 a 3.45 a 5.30 1. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah. dan K tanaman.93 a 10. Na+. : PENGARUH ASAM OKSALAT.09 3. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+.70 1..92 a 1.000 2. Na+. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg.01 a a a a 4.41ns 13.95 6.45 3. NH4+.98 a 4. Pengaruh asam oksalat. Peranan asam oksalat. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 .62 3. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.77ab 1. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N.10 a 4.17 a a a a a 10. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan..77 a 6.30 2.34 3.81 5. 1. Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.40 b 5.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik …………………………………. DAN K TANAMAN Tabel 8.83 ab 1.59 b 5.40 a a a a b 6. P. SERAPAN N. juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.04 3.01 a 5. 2001). Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N.. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols).89 c 8. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.29 b 3. P.73 a 3.

28/2008 Tabel 9. yaitu sebesar 156 kg K ha-1.4 * 22. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun..8 109. meningkatkan hasil biji kering. P. kritis K tanah untuk jagung 0. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K …….9 19.3 88. kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+.2 me K 100g-1 (Dierolf et al.3 6.9 * 148. meningkatkan serapan N dan K tanaman. Perlakuan Na+. NH4+. persen hasil tanaman. Effect of oxalic acid. NH4+..4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.9 87. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. NH4+.4 6. serapan N.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5. dan K tanaman..8 59.….7 31. Pada Endoaquert kromik. and K uptake. Pada Hapludalf Tipik.9 27. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9. Sementara itu pada Haplustalf Tipik. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%.6 * 276. Perlakuan Na+. asam oksalat takaran 1. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan.6 20.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1. and Fe3+ on soil available K. NH4+.9 273.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman. plant N. 2001).6 ** 22.1 6.9 * 47. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun.7 23. Na+.3 27. P.1 21.3 ** 92. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . Pengaruh asam oksalat. Na+.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk.9 149. percentage of plant yield.

NH4+.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. Dengan demikian. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya. 79 . meningkatkan serapan N dan P tanaman. P. kebutuhan pupuk K. serta hasil biomas kering (11%). apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5.6 44.5 68.1 270. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering.9 * 883 988 ** 58. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%.9 25. serapan N.…. dan K tanaman. Effect of oxalic acid.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1. Selain aspek ketersediaan K tanah.1 225. 1993).. P.3 ** 454. DAN K TANAMAN Tabel 10. P.3 268.2 * 163.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. NH4+. asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K ……. dan K tanah. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N. and K uptake.3 24.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji. maka peran utama asam oksalat (1. P. P. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat. meningkatkan serapan N. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering.4 * 43. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. percentage of plant yield.3 69. SERAPAN N. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K.8 * 203.2 209. NA+.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1..D. Pengaruh asam oksalat. plant N. persen hasil tanaman. Na+.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan.6 79. dan K tanaman. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. Na+. and Fe3+ on soil available K.2 24. Demikian pula pada Endoaquert Tipik.8 ** 209.7 215.8 236.4 63.2 593. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10. : PENGARUH ASAM OKSALAT. serta hasil biomas kering jagung.0 300. P. NURSYAMSI ET AL. 3+ Sementara itu. NH4+..000 294 18.

1993. J. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. International Potash Institute. P. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. dan Fe tanah. Fredrickson. yakni berkisar antara 3. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). Potash Review No. H. P. tanaman. Sementara itu Fe3+ 5. Applications in Agricultural and Environmental Management. NH4+. dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. 1997). Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. M. P dan K tanaman di Vertisols.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. and L.. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1. Bolton. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. 270 Madison Avenue.15-5.I.F. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik. 1987. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. dan K tanaman di Vertisols. Asam oksalat. mikro (Fe3+). 3.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. Inc. 1/1987. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+). Elliot. New York. 2.K. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. P. In Soil Microbial Ecology.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. Marcel Dekker.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. Pp 27-64. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Switzerland. Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji. Jr. Perbaikan tanah 80 . Microbial ecology of the rhizosphere. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. Na+. peningkatan 2008). 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. K.

K. Sofyan. Kendre. Tokyo. Idris. dan A. SERAPAN N. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. Pp 675-727. A. 1994. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit. Paterson dan P. 1997.K. S. Surapaneni. and potassium. Mineral Nutrition of Higher Plants. sodium.S. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum.A.P. Second Edition. Ismail. Switzerland. J. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. P. and D. G. Nelson. Agric. In Page et al (Eds. T. NA+. 2002. Sixth Edition. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. L. Agronomy 9:403-429.) Method of Soil Analysis. I. Marschner. Pp 635-674. The affect of potassium on ammonium fixation. Kilic. Vermiculites. Soil Science Society of America Madison. 1992. Potassium in the soils of New Zealand. D.000.A. Bogor. L. K. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. 2008. Dhillon. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols). Nursyamsi. Wisconsin.H. Beaton.R. Saltali.eseap. Tisdale. : PENGARUH ASAM OKSALAT. New Jersey 07458. Part 2. and W. D.D. Ins. Potash Review No. Harcourt Brace & Company. 1987. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. 1982. Soil Science Society of America Madison. 81 . Contr. Disertasi Fakultas Pascasarjana. D. Mutert. J. An Introduction to Nutrient Management.L. and D. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. Tr. Rachim. 1975. Second Edition. Academic Press. Fairhurst. Goulding. D. H. Potassium fixation and release. 2001. Black (Vertisols). K. An Agroclimatic Map of Java and Madura. sodium. In Minerals in Soil Environments. USA. Oldeman. rubidium. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. Prentice Hall. J.org). 1999. Lithium. USA. G.A.) Growth and Yield. Institut Pertanian Bogor. upland soil fertility management in Southeast Asia. and J. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227.P. 1989.W. of Agriculture and Forestry 23:673-678.A. In Methods of Soil Analysis. Douglas. Basker. V. Pratt. Lumbanraja. L. Sparks. Ghousikar C. Macgregor. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite.. A. DAN K TANAMAN Borchardt. 1999. Institut Pertanian Bogor. Nursyamsi. 1997. P. 5/1987. In Minerals in Soil Environments. S. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Dierolf. 17. 1996. S.. Knudsen. I. Lithium. Havlin. T. No.. Evangelou. 5. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Res. Fertilizer News 32(2):35-138. and cesium. 2nd ed.a review. and K. Derici. Proc.L. 1989. Publisher. J. Dhillon..W. Wisconsin. Upper Saddle River. NURSYAMSI ET AL. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Second Edition.R. A. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit.L. Soil Fertility and Fertilizers. Smectites. 1987. Bogor.L. SSSAJ 66:445-455. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No.000. potassium. 2007.T. Kirkman. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Skala 1:1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. International Potash Institute.D. and E. 2000.F.. M. Sabiham. Helmke. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type.N. NH4+. Cent. and K.

P. Am. International Potash Institute. Soil Sci. SSSAJ 52:383-390. Proc. Pedosphere 3:269-276. 1940. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. Inc. K.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008 Sidhu.E. Marcel Dekker.H. Principles of Soil Chemistry.S. 5:152-161. Release of non-exchangeable soil K by organic acids. De Turk. 1987. Third Edition Revised and Expanded. 82 . Mineralogy of potassium in soils of Punjab. L. New York. 1993. and P. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir.K. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. Huang. 1998.. Tan.K. 6/1987. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. 1988. S. Soc. Potash Review No.M. Wood. Song. and E. Switzerland. Haryana.

1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. aktivitas moonson.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. Keywords : ENSO. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. Kata kunci : ENSO. if SST increases above 0.4. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. In contrast. interacton of SSTA with DMI. Dipole mode Index (DMI). Rainfall. golakan lokal dan siklon tropis. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.5 -0. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. climate/season anomaly. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. The study has been done through the following steps . SST. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). DMI. SOI. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. Southern Oscillation Index (SOI). ISSN 1410 – 7244 83 .5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. SURMAINI DAN E. SST. 2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. the occurence flood and drought in Indonesia. Bogor. Onset of wet season. SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. SOI. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). Therefore. Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. DMI. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. Berdasarkan data historis. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. Climate extreme events.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. DMI. interaksi SST dengan DMI. Awal musim hujan. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. the wet season will start earlier with longer period. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia. PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3.4 zone. SOI. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. pergeseran musim. but the magnitude of its impact varies with site. and interaction of SOI with DMI).5 o C (indicate La-Niña event). Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period.

Boer dan Faqih. 1999. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño. lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). SOI. Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. longpaddock. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan.jp). Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. Hendon. data DMI (sumber: www. dan SOI (sumber: www. Rao. 2003. Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. 2004). Chang et al. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji.. 2006). sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi. sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia. Aldrian dan Susanto.4 (sumber:www. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia.4.. 2002). 2000. 2001. dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. Boer and Faqih.jamstec. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.gov). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3. 2004. Batisti et al. 2004.go. Departemen Pertanian. interaksi ASST dengan DMI. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim. Rao et al. 28/2008 (Haylock and McBride. 2003. Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah.au). Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman... Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya.cpc. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. dan interaksi SOI dengan DMI. 84 . Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM). 2002.gov.qld.noaa. DMI.

interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. AMJJ. Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. 50-75%. 4. Jawa. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. Selain itu. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. SOI. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. SOI. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña). menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1). Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya. Januari-Februari. SURMAINI DAN E. Apabila nilai slope lebih besar dari 0.05. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. 85 p= dimana : m n +1 . 25-50%. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. dan Mei-Juni. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. 3. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). DMI. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM.E. dan 75100%. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0.

.......25 2..4..38 2...... Percentage of regression probability value (p< 0.25 55..13 4.05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI . 4....... Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO... Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai....... Riau. Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño)... hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian.............19 7. Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11. Ngablak (Jawa Tengah).. Bagi Indonesia. maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm.. % .31 2. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi..4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC. Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC.. Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok. dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).. Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3...70% dan 6. 28/2008 Tabel 1. karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju..13 4. Persentase nilai peluang (p< 0.13 11. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil.. maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal..25 2..........05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1..13 4.....51 2. Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan....13 3........ maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan.. namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%)..4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0. Batutangga (Kalimantan Selatan).. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3.. Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau.... Pattimura (Maluku)...70 6. Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat)........ Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3... sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung.. dan pantura Jawa Barat..........38%...47 8. data anomali hujan semakin negatif. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 .25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November).4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November).. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2)..

E. SURMAINI DAN E. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 . Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1.

Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal. berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. 2006) skenario El-Niño. La-Niña.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0.5oC-0. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. dan 2002. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. Sebagai contoh. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas.5oC) dan normal (anomali SST antara -0. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2.5oC).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Jika anomali SST turun sampai di bawah -0. The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini. . 2006) Figure 2. Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. 1997. LaNiña (anomali SST < -0. 1994. Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5).5oC ). jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari. hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991. dan Normal. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas.

574 -2.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2.5 2.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.5 -1. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.5 1.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.0 1.0 y = -388.0 -1.5 0.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.4 of some areas in Indonesia 89 .4x + 22.0 0.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.0 1.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.5 2.945 2 R = 0. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.5 -1.5 -1. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.E.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.383 R2 = 0.5 2.5 0.88x + 55.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.5 -1.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.0 0.59x + 21.6109 -2.0 -2.0 -2.0 -1.0 0.0 1.45x + 47.5 2.5 -1.0 1.5 0.0 0.5 Mei-Jun 1.0 -1.5 1.0 1.235 R = 0.0 -2.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.975 2 R = 0.5 0.0 1.5 1.441 R2 = 0.0 0.5 -1.0 -1.0 -1.33x + 75.0 -0.5 2.0 1.0 0.441 R2 = 0.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.33x + 75.0 -1. SURMAINI DAN E.5 0.5 Mei-Jun 1.5 2.5 0.

2. menyebabkan penurunan curah hujan.40 0.60 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.4. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0.80 0.6 0. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3.6 0.8 0.6 Peluang Terlampaui 365 0. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November).8 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.20 0.00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional.8 Peluang Terlampaui 0.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang.4 0. Jawa. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4.2 0.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4. 28/2008 Pusakanegara 1. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1.4 0. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .2 0.4 0. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC. Riau dan pantura Jawa Barat.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain. Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru. serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. . Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful