P. 1
Jurnal Tanah Dan Iklim

Jurnal Tanah Dan Iklim

|Views: 1,518|Likes:
Dipublikasikan oleh Mawiti Infantri Yekti

More info:

Published by: Mawiti Infantri Yekti on Nov 18, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

Jurnal

ISSN 1410-7244 13/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

TANAH DAN IKLIM
Indonesian Soil and Climate Journal
Nomor 28, Desember 2008
Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy Erfandi, dan M. Nasil Ali Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia E. Surmaini dan E. Susanti

Departemen Pertanian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian BALAI BESAR PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SUMBERDAYA LAHAN PERTANIAN

Jurnal
Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008
Terakreditasi berdasarkan Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia No. 1417/D/2006 Ketua pengarah : Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Ketua penyunting : Le Istiqlal Amien Anggota penyunting : Abdurachman Adimihardja Diah Setyorini D. Subardja Kasdi Subagyono Kusumo Nugroho Santun R.P. Sitorus Sudarsono Penyunting pelaksana : Karmini Gandasasmita Rizatus Shofiyati Yiyi Sulaeman Widhya Adhy Mitra bestari : Supiandi Sabiham A.M. Fagi Suyamto Hardjosuwirjo Penerbit : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian Alamat redaksi : Jl. Ir. H.Juanda No. 98 Bogor 16123 Telp. (0251) 8323012 Fax (0251) 8311256 e-mail : csar@indosat.net.id www.soil-climate.or.id Frekuensi terbit : Setahun dua kali

ISSN 1410-7244

Dari Redaksi
Jurnal Tanah dan Iklim Edisi No. 28 tahun 2008 mengetengahkan 7 judul tulisan yang ditulis oleh peneliti dari bidang tanah dan iklim dari lembaga penelitian dan perguruan tinggi. Dalam edisi ini, topiktopik yang diketengahkan yaitu mengenai: Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau; Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman; Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya; Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional; Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik; Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit; dan Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia. Untuk memperkaya khasanah keilmuan di bidang tanah dan iklim, Redaksi mengharapkan partisipasi para pembaca untuk memberikan kontribusi dengan mengirimkan tulisan, komentar, dan saran ke Jurnal Tanah dan Iklim. Sejak tahun 2007, Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali setahun, dalam bulan Juli dan Desember. Redaksi juga mengajak pembaca sekalian untuk turut menyebarluaskan hasil penelitiannya melalui jurnal ini sebagai media komunikasi ilmiah dalam bidang ilmu tanah dan agroklimat. Semoga informasi yang kami sajikan pada jurnal ini dapat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman kita tentang sumberdaya tanah dan iklim sehingga dapat dipergunakan dengan baik. Bogor, Desember 2008

Redaksi

Jurnal Tanah dan Iklim
Indonesian Soil and Climate Journal Nomor 28, Desember 2008 DAFTAR ISI
Halaman Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau N. Suharta dan B.H. Prasetyo ............................................................... Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Enni D. Wahjunie, O. Haridjaja, Soedodo H., dan Sudarsono ..................... Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Achmad Rachman, Deddy erfandi, dan M. Nasil Ali ................................. Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sukristiyonubowo ............................................................................... Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik M. Masjkur dan A. Kasno .................................................................... Pengaruh Asam Oksalat, Na+, NH4+, dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah, Serapan N, P, dan K Tanaman, serta Produksi Jagung pada Tanahtanah yang Didominasi Smektit D. Nursyamsi, K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan .............. Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Elza Surmaini dan Erni Susanti ..............................................................

1

15

27

39

55

69

83

ataupun dari bahan aluvium baik organik maupun mineral. dan K potensial yang lebih tinggi. Perubahan penggunaan lahan hutan menjadi lahan pertanian. Soils derived from claystone have better chemical properties compare to soil derived from sandstone as shown by exchangeable bases. Acid sedimentary rocks. kandungan hara dan basa-basa yang dapat dipertukarkan rendah. Sifat fisik menunjukkan. bahan sedimen. 1. akan tetapi kejenuhan aluminium tinggi. pemanfaatannya hanya satu atau dua kali tanam dan setelah itu ditinggalkan. and potential K. Soil from sedimentary rock in the study area were very developed.H. dan sifat kimia tanahnya. Tanah dari batuan sedimen masam di daerah penelitian tergolong berpelapukan lanjut dicirikan oleh dominasi mineral kaolinit dengan cadangan mineral sangat rendah. the exploitation of forest land for agriculturing or forest plantation use need soil conservation practices. kejenuhan basa rendah. Sifat kimia tanah berbahan induk batuliat lebih baik dibandingkan tanah berbahan induk batupasir seperti diperlihatkan oleh kandungan basa-basa dapat tukar. Claystone. Keywords : Forest. mensyaratkan perlunya tindakan konservasi tanah dan menghindari daerah berlereng (>8%) khususnya untuk tanaman pangan. Batuliat. The Research result indicates that parent material has great influence on mineral composition. selain perlunya meningkatkan kesuburan tanah melalui pemupukan. Suharta (2007) mengemukakan bahwa tanah-tanah yang terbentuk dari batuan sedimen masam dicirikan oleh sifat-sifat yang kurang menguntungkan untuk pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah masam. Bogor. dapat terbentuk dari berbagai macam bahan induk tanah yaitu bahan volkan. Organic matter PENDAHULUAN Tanah hutan atau tanah dengan vegetasi tanaman hutan.Susunan Mineral dan Sifat Fisiko-Kimia Tanah Bervegetasi Hutan dari Batuan Sedimen Masam di Provinsi Riau Mineralogical Composition and Physico-chemical Characteristic of Forest Land Soil Developed from Acid Sedimentary Rocks in Riau Province N. Batupasir. Oleh karena itu. juga memutus siklus biologi yang berpengaruh terhadap menurunnya kesuburan tanah. ABSTRACT Exploitation forest land for food crops agricultural use often limited by drastically change of soil properties and soil characteristics after two or three years of usage. Changing the forest land to agricultural land not only increase mineralization of organic matter but also interrupt biological cycles that influential on decreasing soil fertility. Driessen (1976) menunjukkan bahwa kesuburan tanah hutan dari batuan sedimen masam sangat tergantung pada lapisan permukaan tanah yang relatif lebih kaya akan bahan organik dibandingkan dengan lapisan di bawahnya. avoid the slopping area (>8%) especially for food plantation. Hilangnya bahan organik di lapisan atas melalui proses mineralisasi maupun erosi merupakan penyebab utama menurunnya kesuburan tanah. Peneliti pada Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Hasil penelitian menunjukkan bahan induk tanah sangat berpengaruh terhadap susunan mineralogi. Biological cycles. physical and chemical properties of the soils. SUHARTA DAN B. PRASETYO1 ABSTRAK Pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya secara drastis sifat dan karakteristik tanah setelah digunakan selama 2 atau 3 tahun. but limited by highly Al exchangeable. Sandstone. the forest land derived from sedimentary rock in Riau Province have been studied. Salah satu bahan induk pembentuk tanah tersebut di Indonesia adalah batuan sedimen masam. indicated by domination of kaolinite and very low of mineral reserve. Kata kunci: Hutan. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian atau tanaman hutan. Untuk mempelajari sifat dan karakteristik tanah sebagai dasar pemanfaatannya untuk tanaman pertanian telah dilakukan studi pada tanah bervegetasi hutan dari batuan sedimen masam di Provinsi Riau. Selanjutnya dikemukakan. The physical properties of ISSN 1410 – 7244 1 . pemanfaatan lahan hutan untuk pertanian tanaman pangan sering dibatasi oleh menurunnya kesuburan tanah lapisan atas secara drastis. akan tetapi dibatasi oleh kandungan Aldd yang tinggi. The loose of organic matter through mineralization processes and erosion is causal factor for decreasing fertility of the soils. To study soil properties and soil characteristics as foundation for agricultural use. selain meningkatkan proses mineralisasi bahan organik. kapasitas tukar kation. Siklus biologi. Batuan sedimen masam. and fertilizer. For that reasons. Bahan organik the soils indicate that the soil is susceptible for erosion and compaction. tanah rentan terhadap erosi dan pemadatan. sifat fisik. cation exchange capacity.

1995. Sedangkan analisis sifat fisik tanah. terutama tanaman pangan semusim berakar dangkal. dan mengurangi run off atau bahaya erosi. Metode Penelitian di lapangan meliputi pengamatan sifat morfologi berdasarkan petunjuk dalam Guideline for Soil Profile Description (FAO. Wu dan Tiessen (2002). mengurangi proses mineralisasi bahan organik. (1999) yang mampu mempertahankan kesuburan tanah lapisan atas. perlu mempertimbangkan sifat dan karakteristik tanahnya sebagai dasar untuk menetapkan teknik pengelolaannya. menunjukkan bahwa pengelolaan lahan akan berpengaruh terhadap kuantitas dan kualitas bahan organik tanahnya. 2003) sebagai Typic Kandiudults. 28/2008 Adanya proses siklus biologi pada tanah bervegetasi hutan telah ditunjukkan oleh Quideau et al. 1991). Chen et al. dari batuan sedimen masam batupasir dan batuliat.194 UY. Provinsi Riau telah dibuat di lapangan. Sebanyak 37 contoh tanah telah diambil dari setiap horizon pada ketujuh pedon tersebut untuk dianalisis di laboratorium. Tanah-tanah yang diteliti berkembang Tabel 1. Acrudoxic Kandiudults. 1951) yang menunjukkan bahwa di daerah penelitian tidak terdapat bulan kering yang nyata atau distribusi curah hujan merata sepanjang tahun. 1990).44 HP. dan telah diklasifikasikan berdasarkan Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff. Formasi geologi daerah ini tersusun dari formasi Palembang Tengah terdiri atas batupasir dan batuliat dan pada beberapa tempat tersusun dari batuliat berpasir (Silitonga and Kastowo. dan Typic Hapludults (Tabel 1).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.14 MD. Fraga dan Salcedo (2004).. Suwarna et al. dilakukan di laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor. Daerah penelitian dicirikan oleh tipe hujan A (Schmidt and Ferguson.232 Ketinggian m dpl 127 120 126 70 79 93 119 Lokasi geografi 101059’21” 101058’41” 101052’44” 101046’28” 101058’00” 102006’40” 101028’00” BT BT BT BT BT BT BT dan dan dan dan dan dan dan 0023’27” 0045’11” 0021’48” 0042’27” 0021’57” 0044’47” 0004’59” LS LS LS LS LS LS LS Klasifikasi tanah*) Typic Kandiudults Typic Kandiudults Typic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Acrudoxic Kandiudults Typic Hapludults Typic Hapludults Lereng % 3 6 14 20 8 23 28 Bahan induk Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batupasir Batuliat Batuliat Penggunaan lahan HTI** Hutan alam HTI Hutan alam Hutan alam Hutan alam HTI *) Soil Survey Staff (2003). **) HTI = Hutan Tanaman Industri (Acacia mangium) 2 . Analisis sifat kimia tanah telah dilaksanakan di laboratorium tanah Pangkalan Kerinci. Susunan mineral fraksi pasir ditetapkan dengan metode line counting.61 EY. Lokasi dan informasi dari tujuh pedon yang diteliti Table 1. Terletak pada ketinggian antara 70 hingga 127 m dpl.24 UG. Makalah ini bertujuan untuk mengemukakan sifat dan karakteristik tanah hutan sebagai dasar pemanfaatannya baik untuk tanaman hutan maupun tanaman pertanian.110 DD. penetapan susunan mineralogi fraksi pasir dan liat. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pertanian yang mempunyai karakteristik berbeda dengan tanaman hutan. dihitung hingga 100 BAHAN DAN METODE Bahan Tujuh buah pedon yang terdiri atas empat pedon bervegetasi hutan alami dan tiga pedon bervegetasi hutan tanaman industri (HTI) jenis Acacia mangium di Kabupaten Kuantan Sengingi. pada landform tektonik dengan bentuk wilayah berombak sampai bergelombang. (2004). Location and information of seven pedons investigated Pedon HP. Provinsi Riau.

ydb = coklat tua kekuningan. t. f = gembur. Sedangkan analisis sifat kimia tanah meliputi pH (H2O). vdgb = coklat sangat tua kekelabuan. SUHARTA DAN B. f. berat isi. Horizon B mempunyai ketebalan antara 97 hingga lebih dari 150 cm. t. vf = sangat halus. so/po f-t. Dibandingkan dengan horizon A. f. Typic Kandiudults HP. t. SL = lempung berpasir. Sedangkan susunan mineral fraksi liat ditetapkan dengan alat Difraktometer Sinar-X. permeabilitas dan stabilitas agregat. warna tanah pada horizon B lebih kuning atau merah. Acrudoxic Kandiudults HP. p = plastis 3 .N. ss = agak lekat. kapasitas tukar kation. so/po f. C-organik (Walkey and Black). f = halus. s = lekat. s/p s/p ss/sp s/p Keterangan : Warna : yb = coklat kekuningan. Ketebalan horizon A dari semua pedon yang diteliti bervariasi antara 9 hingga 13 cm. LS = pasir berlempung. t. gdb = coklat tua kekelabuan. ss/sp f. so = tidak lekat.H.0). sb = gumpal agak bersudut. pori drainase. Tanah dari bahan induk batupasir mempunyai ketebalan solum >150 cm.61 A 9 ydb (10 YR 4/4 Bto >141 sb (7. HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat morfologi Pedon-pedon yang diteliti mempunyai solum dalam.110 A 13 db (10 YR 4/3) Bt 97 yb-sb (10 YR 5/6-7. dan kemasaman terekstrak aluminium (KCl 1N). Struktur : m = medium.24 A 13 gdb-db (10 YR 3/2-4/3) Bto >137 yb-by (10 YR 5/4-6/6) UG. ss/sp vf.5 YR 5/8) EY. ss/sp ss/sp ss/sp s/p ss/po ss/sp f. dan kejenuhan basa (NH4OAc 1 N pH 7. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM butir menggunakan mikroskop polarisasi. Beberapa karakteristik morfologi dari pedon-pedon yang diteliti Table 2. 1992). pori total. Analisis statistik sederhana menggunakan program Excel. Struktur tanah gumpal agak bersudut yang bila diremas pecah Tabel 2. sedangkan tanah dari batuliat <150 cm (Tabel 2). Tekstur : C = liat. sb = coklat kuat. by = kuning kecoklatan. Warna tanah coklat tua kekuningan hingga coklat tua kekelabuan. Analisis sifat fisik tanah meliputi penetapan tekstur 4 fraksi (metode pipet). yaitu berwarna kuning kecoklatan atau kemerahan hingga coklat kuat. sedangkan penetapan sifat kimia tanah horizon A dan Bt/Bto dilakukan dengan cara pembobotan menggunakan parameter kedalaman tanah. sp = agak plastis. Typic Hapludults UY. Konsistensi : t = teguh. Some morphological characteristics of pedons studied Pedon Horizon Tebal cm Warna Tekstur Struktur Konsistensi Tanah dari bahan induk batupasir. P dan K potensial (HCl 25%). Prosedur analisis tanah mengacu pada Soil Survey Laboratory Methods Manual (Soil Survey Laboratory Staff. Struktur tanah gumpal agak bersudut dan kersai dengan konsistensi teguh hingga gembur atau lepas. susunan kation. g = granuler atau kersai.5 YR 5/8) Tanah dari bahan induk batupasir. model PW 1130.194 A 12 db (10 YR 3/3) Bto >138 yb (10 YR 5/6) Tanah dari bahan induk batuliat.14 A 9 ydb (10 YR 3/4) Bto >151 by (10 YR 6/6) MD. ry = kuning kemerahan. t.232 A 11 vdgb (10 YR 3/2) Bt 114 yb-ry (10 YR 5/6-5 YR 6/6) SCL SCL SCL C SL SCL LS-SL SL SL SCL C C SL-SCL C m sb m sb > f g fg m sb > f g fg m sb vf sb m sb > f g fg m sb > f sb f sb m sb > f sb fg m sb > f sb t.44 A 10 vdgb (10 YR 3/2) Bto >140 yb-sb (10 YR 5/6-7.5 YR 5/6) DD. pori air tersedia. db = coklat tua. SCL = lempung liat berpasir. f.

menunjukkan bahwa cadangan sumber hara mineral sangat rendah.110 6 1 73 Keterangan : Op = opak. dari ke lima pedon yang diteliti kuarsa dan opak mendominasi susunan mineral. Bentuk struktur kersai pada horizon Bt atau Bto merupakan satu indikasi bahwa tanah telah mengalami pelapukan lanjut seperti ditunjukkan oleh sifat kimia tanah yang miskin basabasa. illit. untuk mendapatkan nutrisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Lm = limonit. lingkungan smektit mika Hasil analisis mineral fraksi pasir (Tabel 3) menunjukkan.14 93 sp 5 HP. mineral lapukan. Dalam proses pelapukannya atau akan menghasilkan lingkungannya. dan goetit. dan muskovit sangat sedikit. sejalan dengan hasil analisis susunan mineral fraksi pasir yang menunjukkan adanya mika (muskovit) walaupun dalam jumlah sangat sedikit.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY. Dengan demikian. Mineral fraksi pasir pada tanah berbahan induk batupasir mempunyai kandungan kuarsa yang lebih tinggi dibandingkan dengan tanah berbahan induk batuliat. sanidin. vermikulit. Sn = sanidin. Susunan mineral liat demikian menunjukkan tingginya intensitas pelapukan dan pencucian basa-basa serta pembebasan Al dan Fe dari mineral liat ke dalam larutan tanah. sedangkan tanah dari batuliat. kaolinit disertai kuarsa dengan illit atau smektit. Susunan mineral fraksi pasir demikian menunjukkan tanah telah mengalami pelapukan lanjut. Pada tanah berbahan induk batupasir. Or = ortoklas. Terdapatnya mineral vermikulit. smektit. Rendahnya kandungan mineral mudah lapuk baik pada tanah berbahan induk batuliat maupun batupasir. 28/2008 menjadi kersai dengan konsistensi agak teguh hingga gembur. Komposisi mineral Susunan mineral fraksi pasir Susunan mineral fraksi liat Hasil analisis susunan mineral fraksi liat dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 4 dan contoh difraktogramnya disajikan pada Gambar 1. sangat diperlukan adanya penambahan hara dari luar antara lain melalui pemupukan.61 96 1 2 UG. Mineral composition of total sand fraction Pedon Op Zr Qz Lm sp 1 sp sp sp Ze sp Wm sp sp sp sp 2 Rf 1 1 9 1 18 Or sp sp Sn sp sp sp sp sp Mk sp Tr sp sp sp sp sp Tanah dari bahan induk batupasir 98 sp 1 HP.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Kelas mineralogi dari pedon yang diteliti tergolong kaolinitik. Sedangkan mineral mudah lapuk antara lain ortoklas. Mk = muskovit. Struktur demikian sangat sesuai untuk perkembangan perakaran tanaman lahan kering berakar dalam. Rf = Fragmen batuan. Zr = zircon. Wm = mineral lapukan. Mika adalah salah satu mineral primer yang dalam illit.24 85 sp 6 MD. illit. kaolinit disertai oleh vermikulit dengan kuarsa atau goetit. fragmen batuan. 4 . tergantung dari tingkat pelapukan atau kondisi masam bersifat tidak stabil dan akan mengalami pelapukan intensif dengan sekuen pelapukan mika – illit – Tabel 3. Susunan mineral fraksi pasir total Table 3. dan smektit. Ze = zeolit. Tr = turmalin. Kaolinit dengan nilai difraksi sekitar 7. dan turmalin juga sangat sedikit. Qz = kuarsa. Kaolinit mendominasi susunan mineral liat. Demikian juga untuk mineral lainnya yaitu limonit. sp = sangat sedikit (<1%).1 A0 terdapat dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti. Perbedaan susunan mineral antar pedon yang diteliti adalah mineral lainnya. diikuti oleh kuarsa dan sedikit vermikulit.

Mineral composition of clay fractions Pedon Kaolinit Illit Vermikulit + (+) + + + + Smektit Kuarsa + ++ ++ + Goetit Kelas mineralogi Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Kaolinitik Tanah dari bahan induk batupasir ++++ HP. dan yang berbahan induk batuliat berkisar antara 38 hingga 63%. Bahan induk batuliat menghasilkan tanah dengan kandungan liat tinggi. Kaolinit yang dijumpai dalam jumlah dominan di seluruh pedon yang diteliti.44 ++++ UG. Difraktogram X-Ray dari contoh MD 61/III Figure 1.194 Tanah dari bahan induk batuliat UY.H. diduga berasal dari feldspar atau hasil lapukan mika. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekstur tanah sangat dipengaruhi oleh jenis bahan induk tanah. 1969).14 ++++ HP.24 ++++ MD. Susunan mineral fraksi liat Table 4. +++ = banyak. Sifat fisik Tekstur Hasil analisis besar butir menunjukkan tekstur tanah untuk pedon dari batuliat adalah liat. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 4. X-Ray difractogram of sample MD 61/III vermikulit – kaolinit.61 ++++ EY. ++ = cukup. SUHARTA DAN B. sedangkan kandungan pasir dari pedon berbahan induk batuliat berkisar antara 10 hingga 39%. Kandungan pasir dari pedon berbahan induk batupasir berkisar antara 54 hingga 76%.N. Sebaliknya kandungan liat dari pedon berbahan induk batupasir berkisar dari 8 hingga 35%.110 +++ DD. + = sedikit. sedangkan dalam lingkungan lebih basa akan terbentuk sekuen pelapukan mika – illit – smektit – kaolinit (Loughnan. 5 . dan dari batupasir adalah lempung liat berpasir (liat hingga lempung berpasir).232 ++++ (+) (+) (+) + ++ Keterangan : ++++ = dominan. (+) = sangat sedikit Gambar1.

sedangkan pada horizon B bervariasi antara 43 hingga 56%. yang berarti tanah tergolong baik untuk pertumbuhan tanaman lahan kering. pori aerase berkisar antara 8.9 26.14 dan EY.agr = stabilitas agregat (agregat stability). serta diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya degradasi lahan pertanian.8 8.65 untuk lapisan bawah. Stab.20 1.7 11. baik horizon A maupun B (Suharta et al. Ruang pori tanah Berat isi dari pedon yang diteliti (Tabel 5) tergolong tinggi berkisar antara 1. sedangkan pedon HP. Nilai berat partikel di lapisan atas lebih rendah daripada di lapisan bawah. Lapisan A = atas dan B = bawah. sedangkan batupasir menghasilkan tanah dengan kandungan pasir tinggi.24 memperlihatkan hal sebaliknya. mempunyai ruang pori total lebih dari 65% volume.60 2.. kimia dan biologi tanah. Hasil penetapan pori aerase tanah atau pori drainase cepat menunjukkan.39 2.46 di lapisan bawah.4 Permeabilitas cm jam-1 0.17 Pori drainase Air tersedia Cepat Lambat ……………… % volume ……………… 37.14 HP.. Nilai berat partikel (particle density) berkisar antara 2.5 42.39 hingga 2.24 EY. Some physical properties of pedons from sandstone Pedon HP.44 Horizon A B A B A B BI g cc -1 PD 2. 28/2008 Tabel 5.54 1.46 3.6 4.0-28. Sedangkan HP.0 45.5 3. 1995). susunan mineralogi liat.14. Secara morfologis adanya pemadatan ditunjukkan oleh bercak karatan berwarna kelabu dan kuning kecoklatan sebagai akibat proses oksidasi dan reduksi.44 memperlihatkan nilai berat isi di lapisan atas lebih tinggi daripada di lapisan bawah.46 1.4 6.46 2.7 12.2 RPT 52. Rendahnya ruang pori total pada horizon A pedon HP.62 Stabilitas agregat indeks 100 51 42 54 40 142 Keterangan : BI = berat isi (bulk density).17 hingga 1.53 untuk lapisan atas dan 2.2 23.20 hingga 1. keduanya mempunyai nilai berat partikel tergolong tinggi.55 2. Ruang pori total pada horizon A bervariasi dari 37 hingga 52%. berat isi. Beberapa sifat fisik pedon-pedon dari bahan induk batupasir Table 5. Hasil penetapan ruang pori total tergolong rendah sampai sedang. Pedon HP. Sebagai perbandingan.14 rendah di lapisan atas karena 6 . Provinsi Kalimantan Barat yang berkembang dari bahan basaltik. 2004).0 4.44 mempunyai pori aerase tergolong tinggi. Faktor yang berpengaruh terhadap pemadatan tanah adalah tekstur. RPT = ruang pori total (total pore space). Tingginya nilai berat isi dari pedon yang diteliti merupakan salah satu karakteristik tanah-tanah dari batuan sedimen masam yang menunjukkan indikasi tingkat kepadatan tanah dan rendahnya kandungan bahan organik.10 9. Proses ini terjadi karena terganggunya pergerakan air dan sirkulasi udara di dalam penampang tanah. berkaitan erat dengan adanya pemadatan tanah.09 2. PD = berat partikel (particle density).20 1.0 8.9% yaitu tergolong rendah sampai tinggi.55 hingga 2. tanah Oxisols dari daerah Sanggauledo. Pemadatan dapat berpengaruh terhadap sifat fisik. kelembaban tanah.8 28. kandungan liat.8 55.9 4.8 4.0 19.53 2.41 1.7 49.93 9.24 dan EY. akan tetapi baik lapisan atas maupun lapisan bawah.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.65 1.0 11. Tingginya nilai berat isi di lapisan atas diakibatkan oleh adanya pemadatan pada waktu pengolahan lahan menggunakan alat berat.21 1. Pedon HP.0 9.7 8.0 4.54 di lapisan atas dan 1. Berat isi dan berat partikel dan kandungan bahan organik (Imhoff et al.

2%) untuk horizon A.44 tergolong sangat stabil.20 .9.14 yang mengalami pemadatan tergolong stabil. Permeabilitas permeabilitas tanah di lapisan atas lebih lambat daripada lapisan bawah yang diakibatkan oleh pemadatan tanah. karena air akan tersedia sepanjang tahun. juga akan memberikan pengaruh negatif terhadap meningkatnya aliran permukaan dan sekaligus meningkatkan bahaya erosi. atau secara vegetatif dengan menanam tanaman berakar dalam. sedangkan di lain pihak dapat meningkatkan aliran permukaan (run off) yang berdampak pada terjadinya erosi dan hilangnya tanah lapisan atas yang kaya kandungan hara dan bahan organik. Hal ini terjadi karena bahan organik pada horizon A lebih tinggi daripada horizon B. Tidak ada perbedaan yang nyata antara kandungan bahan organik pada vegetasi hutan alami dan HTI yang telah dikelola selama dua musim panen (14 . Keadaan seperti ini dapat disebabkan oleh pengaruh pengolahan tanah.8%). baik pada horizon A maupun horizon B.4 tergolong rendah sampai sedang. Hal tersebut menjelaskan bahwa tanah mudah melepaskan air atau tanah berdrainase baik. baik pada horizon A yang mengalami pemadatan maupun horizo B. sedangkan pada horizon B berkisar antara 6. atau pemadatan pedogenesis karena adanya penimbunan liat seperti yang terjadi pada tanah yang mempunyai horizon argilik. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM pemadatan dan sedang di lapisan bawah.0. Khusus untuk pedon HP.14. Salah satu teknologi untuk meningkatkan pori air tersedia adalah meningkatkan kandungan bahan organik. merupakan keuntungan bagi pertumbuhan tanaman lahan kering di daerah ini.5. Dari hasil penetapan dapat dikemukakan bahwa tanah bervegetasi hutan yang diteliti umumnya tergolong tidak stabil dan sangat rentan terhadap erosi permukaan. SUHARTA DAN B. Peningkatan pori aerase dapat dilakukan antara lain melalui penambahan bahan organik.62 cm jam-1).7 hingga 9. Pada horizon B. Hasil penetapan pori drainase lambat tergolong rendah (<5%). kecuali pedon HP. Hasil penetapan pori air tersedia menunjukkan horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B. kemantapan agregat tergolong agak stabil.N. Dengan demikian pengelolaan lahan untuk HTI selama dua musim tanam tidak menunjukkan pengaruh nyata terhadap kandungan bahan organik tanah.2 . Kemantapan/stabilitas agregat Hasil penetapan menunjukkan kemantapan agregat pada horizon A tergolong tidak stabil (<50).4 tergolong rendah. sedangkan di lapisan bawah tergolong agak lambat sampai sedang (1. permeabilitas tanah di lapisan atas berkisar antara lambat sampai agak cepat (0. perakaran tanaman. 7 .10 3.5 hingga 11.46 cm jam-1). Khusus untuk pedon HP. pengolahan tanah pada kapasitas lapang. Pori air tersedia pada horizon A berkisar antara 8.H. C-organik dan reaksi tanah Permeabilitas tanah di lapisan bawah lebih lambat daripada di lapisan atas. Tanah dengan permeabilitas lambat. di satu pihak dapat mengurangi jumlah kehilangan hara karena pencucian. akan tetapi pada horizon B kandungannya menurun dengan sangat tajam hingga sangat rendah (0. Akan tetapi curah hujan yang tinggi dengan distribusi hampir merata sepanjang tahun. Kandungan C-organik dari 7 pedon yang diteliti menunjukkan sedang sampai tinggi (2. Permeabilitas sedang sangat sesuai untuk pengembangan tanaman lahan kering.15 tahun). Tanah dengan pori air tersedia demikian menunjukkan tanah mudah mengalami kekeringan. Hasil penetapan menunjukkan.14. Rendahnya pori aerase pada pedon tersebut sejalan dengan tingginya berat isi.1 . sehingga sesuai untuk tanaman lahan kering. Sifat kimia Beberapa sifat kimia dari tujuh pedon yang diteliti disajikan pada Tabel 6 dan 7. Nilai permeabilitas yang lambat. kecuali EY. pori air tersedia tergolong rendah.

.6 0.2 0...7 4.6 4.2 0..2 0.24 A 16 9 67 4-13 BA 18 8 61 13-43 Bto1 14 9 63 43-85 Bto2 12 9 61 85-150 Bto3 UG..1 HCl 25% K2O P2O5 .1 4.2 4... Typic Hapludults 8 17 0-13 UY..5 4.7 3.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-12 12-29 29-50 50-82 82-150 68 63 61 62 67 7 9 10 7 6 8 8 7 8 6 23 23 23 18 21 26 2 19 26 28 35 Tanah dari bahan induk batuliat.6 4.3 5.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0-9 9-33 33-65 65-116 116-150 0-10 10-34 34-63 63-104 104-150 47 43 36 35 30 67 63 55 52 50 4 2 2 3 2 4 5 5 3 4 EY. 11 10 9 11 9 9 22 20 17 16 15 14 11 12 11 11 30 23 25 29 24 29 27 35 45 46 45 15 22 28 34 35 8 8 13 15 19 17 20 23 23 22 51 52 59 61 37 35 38 44 52 62 54 pH (H2O) C-org. % . organic-C.3 0.2 2.2 0.. Pasir-H = Pasir halus 8 .4 4..4 4.6 0.4 0.6 4. mg kg-1 .1 0...7 4...8 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. % 4..6 4.2 4...3 4.3 1...1 4..5 4.0 4.9 0..3 4.44 Tanah dari bahan induk batupasir.8 0.4 4.. Typic Kandiudults 7 62 0-9 HP.4 0. 28/2008 Tabel 6.4 4..4 4.2 0.2 4.2 0.6 4.. P dan K potensial Table 6.110 A 9 16 13-33 Bt1 6 13 33-64 Bt2 4 14 64-110 Bt3 5 38 110-150 BC DD.. Texture.4 4.3 5. potential P and K Pedon Horizon Kedalaman cm Tekstur Pasir-K Pasir-H Debu Liat .7 0...4 1. Acrudoxic Kandiudults 15 9 69 0-4 HP..8 4. C-organik.7 4..7 0.5 4.. 69 34 29 22 25 22 30 15 11 18 14 61 47 41 39 39 170 89 60 41 38 70 43 35 47 40 200 115 110 104 119 60 20 22 14 14 11 122 64 73 76 57 58 141 67 82 66 67 269 111 76 87 19 62 25 22 21 21 81 34 24 53 48 688 476 542 614 588 265 144 279 246 251 213 Tanah dari bahan induk batupasir.2 3..6 0.2 4...7 2.3 4. reaksi tanah. soil reaction.2 1.2 0.6 0.5 4. Tekstur....232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0-11 11-36 36-72 72-105 105-125 125-150 33 35 32 18 7 6 6 4 5 4 3 5 Keterangan : Pasir-K = Pasir kasar..14 A 5 62 9-28 Bto1 6 60 28-55 Bto2 7 53 55-99 Bto3 6 61 99-130 Bto4 5 57 130-150 Bto5 MD..5 4....3 4.7 1..2 0...4 0.4 4.7 0.6 1.4 0..4 4.4 3..3 0.5 4.7 3.3 4.

31 1.75 17.02 0.36 0.23 0.33 26.01 0.02 20.03 0.09 0.61 1.40 0. cation exchange capacity.14 A 0.04 0.06 0.57 19.30 HP.12 30.10 0.07 2.54 3. Kation dapat tukar.87 13.232 A AB Bt1 Bt2 Bt3 BC 0.27 0.06 0.05 15.33 1.03 Bto1 0.04 0.05 0.21 EY.21 11.30 16.70 3.59 12.14 0.04 0.14 0.02 0.02 0.66 4.61 0.02 0.04 0.47 0.76 2.03 Bto3 0.49 14.21 0.02 0.03 0. Typic Kandiudults 0.05 0.77 39.63 14.64 17.79 17.76 94.06 0.85 4.18 0.10 0.30 7.035 0.03 0.52 1.87 2.02 0.02 0.62 7.02 21 10 7 5 13 4 9 5 4 4 4 15 17 6 8 5 20 10 10 15 7 7 3 4 3 6 20 5 4 3 3 12 8 4 3 3 2 1. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Tabel 7.28 5.03 0.56 0.16 3.18 0.67 4.60 2.10 0.55 0.44 Tanah dari bahan induk batupasir.29 3.63 0.29 0. kapasitas tukar kation.24 A 0.71 1.15 4.65 11.02 0.36 1.81 1.03 0.04 0.05 0.30 Tanah dari bahan induk batuliat..13 23.01 0.28 10.04 0.80 1.93 33.11 1.30 2.25 Bt1 0.98 8.31 0.83 1.36 16.24 0. Acrudoxic Kandiudults 0.05 1.06 0.04 Bto5 MD.16 9.75 4.31 4.18 0.53 4.01 0.09 2.99 1.33 11.88 21.12 0.13 36.05 9.24 0.03 0.22 0.51 25.14 1.90 7.55 20.79 59. SUHARTA DAN B.01 0.47 0.16 20.76 0.32 2.81 HP.39 0.37 4.02 0.04 0.13 8.01 0.16 2.58 0.12 0.25 1.42 3. kejenuhan basa.53 11.23 7.43 0.04 0.58 5.54 1.50 7.02 0.63 13.06 0.07 0.67 0.04 9 .32 0.66 7.17 Bt2 0.05 0.10 0.11 0.27 16.41 4.76 4.29 1.06 0.74 1.02 0.81 12.20 1.05 Bto1 0.09 0.82 65 88 93 94 86 94 81 94 95 95 94 56 75 91 92 95 52 85 86 84 93 83 93 93 94 89 74 94 96 97 97 71 88 94 95 96 97 Tanah dari bahan induk batupasir.61 1.04 0.87 2.01 0.13 0.22 6.04 0.08 2.07 0.08 0.N.09 0.94 1.03 0.37 0.21 1.05 1. dan Al dapat tukar Table 7.14 BA 0.97 1.03 Bto4 0.08 0.12 7.04 0.47 2.92 0.61 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.92 1.kg ………………………….05 0.03 0.68 3.01 2.07 0.01 0.04 8.24 0.H.07 0.71 32.16 8.04 0.17 0.194 A Bto1 Bto2 Bto3 Bto4 0.14 0.01 0.29 0.52 35.57 2.13 0.17 UY.71 8.44 6.01 0.43 13.21 0. base saturation. cmol.15 0.04 0.02 3.07 0.19 18.12 3.06 0.0 KCl 1 N Kejenuhan KTK KTK KTK 3+ basa Al Ca Mg K Na Jml Kej.02 0.88 4.20 0.22 0.41 1. Exchangeable cation.14 Bt3 0.43 10.19 17.21 DD. Al tanah liat efektif -1 -1 ………………………….04 0.68 0.69 1.40 6.03 0.04 Bto2 0.09 0.70 10. % cmol.94 7.02 0.07 0.11 0.24 0.18 0.70 1.34 1. and exchangeable Al Pedon Horizon NH4OAc 1N pH 7.10 0.70 1.23 0.05 0.73 1.57 38.16 1.55 0.92 0.02 0.42 1.02 0.11 2.27 19.19 24.06 0.07 26.85 2.03 0.18 4.41 13.95 3.02 0.06 0.08 5.03 Bto2 0.20 20.12 0.05 0.05 0.61 3.22 0.02 0.31 0.41 0.22 0.07 0.85 4.40 2.73 0.03 Bto3 UG.04 0.03 0.02 0.94 11.26 BC 0.85 1.37 0.06 0.42 0.82 0.03 0.02 0.13 0.kg % 4.90 14.04 0.04 0.65 12.03 0.22 1.37 10.. Typic Hapludults 1.53 3.24 6.38 23.10 0.10 0.02 0.110 A 0.96 65.08 7.53 4.70 4.04 0.81 1.21 0.24 0.

bahan induk tanah. sedangkan pedon lainnya cenderung menurun atau relatif konstan. 37. sedangkan pada horizon B antara 4. Padang rumput alami yang digunakan untuk tanaman pangan. Reaksi tanah pada horizon A berkisar antara 3. aktivitas biologi. besar dan arah lereng. dan 41 tahun.232 dan UG. korelasinya lebih rendah (K2O=0. Tidak ada perbedaan antara pH tanah dari batupasir maupun batuliat.. Jenis humus di daerah penelitian tergolong dysmoder dengan tingkat kemasaman tinggi. ketersediaan hara.4415).0748 pasir + 64.7. 10 P dan K potensial (HCl 25%) Kandungan P sangat rendah. dan C-organik menunjukkan: P2O5 berkorelasi positif dengan C-organik (P2O5 = 0. kandungan P dan tekstur tanah telah banyak diperlihatkan pada penelitian-penelitian sebelumnya (Suharta.110.194 cenderung meningkat sesuai dengan kedalaman. sedangkan dysmoder mempunyai tingkat kemasaman tinggi dan miskin unsur hara. dan macam gugus fungsional.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.0014 Corg +0.. 2002). lebih tinggi dibandingkan dengan tanahtanah dari batupasir. tetapi juga kualitasnya (Ponge et al. .4237). Keeratan hubungan antara bahan organik tanah dengan nilai kapasitas tukar kation.0355).1 hingga 4. Kandungan basa-basa dapat tukar pada tanah-tanah dari batuliat. 28/2008 Bahan organik mempunyai peranan besar terhadap kualitas tanah baik sifat fisik. liat. Peran bahan organik di dalam tanah tidak hanya ditentukan oleh kuantitas. 2007. praktek silvikultur. Ponge et al. (2002) mengemukakan bahwa kandungan bahan organik di dalam tanah dipengaruhi oleh faktor alami yaitu iklim. Demikian juga unsur hara P dalam bentuk P-organik juga berkurang karena proses tersebut. Selanjutnya dikemukakan bahwa eumull adalah humus terbaik dengan tingkat kemasaman rendah.0528 liat +23. sedangkan dengan fraksi pasir dan liat tidak berkorelasi. Suharta et al. Kandungan berkorelasi positif dengan fraksi liat K2 O (K2O=0.809 dengan R2=0. 2007). Mg. serta faktor non-alami yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan. Sedangkan pengaruh penggunaan lahan terhadap kandungan bahan organik dan kesuburan tanahnya diperlihatkan oleh Wu dan Tiessen (2002).2702 dengan R2 = 0. Akan tetapi kandungan K menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat.0171 C-org + 0. 16. Reaksi tanah untuk pedon UY. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah dengan kandungan pasir tinggi.7. sedangkan dengan fraksi pasir berkorelasi negatif. DD. Dibandingkan dengan tanah dari batuan sedimen masam dari Provinsi Kalimantan Barat. maupun biologi tanah.2943). Akan tetapi tidak terlihat adanya perbedaan yang disebabkan oleh penggunaan lahan hutan alami maupun hutan tanaman industri. Kualitas humus dicerminkan oleh tingkat kemasaman. kimia. baik tanah yang berasal dari batupasir maupun batuliat. Reaksi tanah dari batuan sedimen masam. kandungan bahan organiknya berkurang sebanyak 22. kandungan P di daerah penelitian hanya berkorelasi positif dengan C-organik (Suharta.179 dengan R2 = 0. tergolong masam sampai sangat masam.9309 dengan R2 = 0. dan pengolahan tanah. Dengan Corganik. Dikemukakan selanjutnya bahwa kehilangan bahan organik terutama disebabkan oleh erosi dan proses mineralisasi. Tanah dari batupasir dicirikan oleh kandungan K sangat rendah. dan 55% setelah penggunaan selama 8. 1995). Basa-basa dapat ditukar dan kejenuhan basa Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan kandungan basa-basa dapat tukar (Ca. pencucian basa-basa terjadi lebih intensif dibandingkan tanah bertekstur halus yang terbentuk dari batuliat.7 hingga 5. Sedangkan kandungan K memperlihatkan karakteristik yang sama dengan tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat yaitu berkorelasi positif dengan Corganik dan fraksi liat. sedangkan tanah dari batuliat menunjukkan kandungan K tinggi. dan negatif dengan fraksi pasir (K2O=-0. Hubungan antara hara P dan K dengan fraksi pasir. dan K) antara tanah dari batuliat dibandingkan dengan tanah dari batupasir. baik pada horizon A maupun B.

50 (HP. Sedangkan tanah dari batuliat. satu pedon didominasi kaolinit. (1999) menggunakan nisbah Ca/Mg sebagai indeks untuk mengukur efektivitas siklus biologi. Quideau et al. Dikemukakan selanjutnya. 2007). siklus biologi terjadi karena adanya pengambilan berbagai unsur oleh akar tanaman dari dalam tanah dan kemudian dikembalikan ke permukaan tanah atau dekat permukaan tanah mineral melalui daun-daun serta ranting tanaman sebagai litter. Tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat mempunyai kejenuhyan basa yang tergolong sangat rendah yaitu <20% pada horizon A dan <10% pada horizon B. karena pupuk yang digunakan akan mudah tercuci. Kejenuhan aluminium bervariasi antara 52 hingga 83% untuk horizon A dan antara 75 hingga 97% untuk horizon B.31 hingga 25. Kejenuhan aluminium menunjukkan nilai sangat tinggi baik untuk tanah-tanah yang terbentuk dari batupasir maupun batuliat. yang berarti tanah mempunyai sifat acric (tanah tua). 11 . KTK-efektif pada sebagian horizon dari batupasir mempunyai nilai <1.H. Sifat acric ini dapat berdampak pada pemupukan. kuarsa dengan sedikit smektit.194). Rendahnya nilai kejenuhan basa menunjukkan bahwa selain tanah telah mengalami pencucian intensif.20 hingga 4. Kapasitas tukar kation (KTK) tanah dipengaruhi oleh jenis mineral liat dan kandungan bahan organik. Peran bahan organik terhadap KTK-tanah diperlihatkan oleh Bram (1971). Quideau et al.kg-1).24 dan UG. Adanya jenis mineral yang berbeda menunjukkan bahwa nilai KTK-tanah tidak hanya ditentukan oleh jumlah bahan organik. akan tetapi ditentukan juga oleh jenis mineral liatnya.N. Tanah dari batuliat mempunyai KTKliat lebih besar daripada tanah dari batupasir yaitu berkisar antara 17. Selanjutnya dikemukakan bahwa efektivitas unsur yang diangkut ke permukaan tanah melalui siklus biologi tergantung pada jenis vegetasi dan macam unsurnya. Kejenuhan aluminium meningkat sesuai dengan kedalaman tanah.19 dan 65. bahan induk tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin basabasa dapat tukar. bahwa penurunan bahan organik sebesar 50% pada Oxisols Siera Leone telah mengakibatkan penurunan nilai kapasitas tukar kation sebesar 30%. Perbedaan antara batupasir dan batuliat. Hal ini dapat dijelaskan bahwa tanah-tanah dari batupasir mempunyai susunan mineral liat yang sama yaitu kaolinit dengan kuarsa dan vermikulit.13 cmol. Mineral smektit pada tanah berbahan induk batuliat tidak stabil pada lingkungan masam. terletak pada jumlah Aldd yang lebih tinggi pada tanah dari batuliat (antara 4. Kondisi ini sama dengan tanah-tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat (Suharta. Oleh karena itu tanah-tanah dengan jenis mineral liat sama.70 cmol. akan tetapi tidak menunjukkan perbedaan antara tanah bervegetasi hutan alami dan hutan tanaman industri. dan mengalami pelapukan yang intensif serta membebaskan Aldd dalam jumlah yang cukup signifikan.53 cmol. Siklus biologi Salah satu karakteristik tanah hutan adalah adanya pengkayaan lapisan permukaan tanah yang disebabkan oleh proses siklus biologi. Analisis regresi sederhana untuk tanah-tanah dari batupasir menunjukkan hubungan positif antara kandungan bahan organik dengan KTK tanah dengan nilai R2=0. kuarsa dengan sedikit illit dan satunya lagi didominasi kaolinit. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM Kapasitas tukar kation Kejenuhan basa dan aluminium Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan yang nyata antara KTK-tanah dari batupasir dibandingkan dengan tanah dari batuliat.kg-1. nilai KTK-tanah akan berkorelasi positif dengan kandungan bahan organik.0061.4968. dan tidak mempunyai sifat acric. (1999) mengemukakan. KTK-tanah dari batuliat lebih tinggi dibandingkan tanah dari batupasir baik pada horizon A maupun B.kg-1) dibandingkan tanah dari batupasir (antara 1. sedangkan untuk tanah dari batuliat memperlihatkan nilai korelasi yang rendah yaitu R2=0. SUHARTA DAN B.

20 0.24 0. Pengkayaan lapisan atas (siklus biologi) baik pada tanah dengan vegetasi hutan alami maupun HTI tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. kehilangan bahan organik melalui proses mineralisasi lebih dominan dibandingkan proses erosi.11 0. dan K) di horizon A. sedangkan dalam kondisi terbuka. Hal ini dapat dijelaskan karena tanah berbahan induk batuliat mempunyai kandungan K yang cukup tinggi di dalam tanah sehingga pengaruh siklus biologi kurang signifikan.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.15 9 4 15 9 30 15 61 42 141 71 269 73 Pemanfaatan lahan bervegetasi hutan Pemanfaatan hutan alami untuk tanaman pangan atau tanaman hutan industri akan berdampak terhadap kuantitas maupun kualitas bahan organiknya (Chen et al.110 A 2.42 20 170 62 Bto 0.07 0.21 0.04 0. Some soil chemical characteristics of A and B horizons Pedon HoriCa2+ Mg2+ K+ KB P2O5 K2O zon . kandungan P dan K di lapisan atas dapat mencapai 2 hingga 3 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.37 0.04 7 4 70 41 81 40 688 555 265 227 Tanah dari bahan induk batuliat. Kehilangan tanah lapisan atas karena erosi dapat mencapai 80% atau Tanah dari bahan induk batupasir. dan berdampak terhadap meningkatnya proses mineralisasi bahan organik.. dan kandungan P dan K potensial horizon A dan Bt/to. Dengan demikian nisbah Ca/Mg akan semakin meningkat sesuai dengan fungsi waktu.03 0.32 0..10 12 4 60 16 Hasil analisis dari tujuh pedon yang diteliti terhadap basa-basa dapat tukar. cmol. % .. kejenuhan basa.04 0. Fraga dan Salcedo (2004) mengemukakan ada dua proses utama yang menyebabkan kehilangan bahan organik yaitu meningkatnya proses mineralisasi dan erosi.08 0.67 0.04 0. Typic Hapludults UY.14 A 0.. kehilangan tanah melalui proses erosi juga akan meningkat karena didukung oleh curah hujan yang tinggi disertai dengan sifat fisik tanah yang tidak stabil.22 0.194 A Bto 0. walaupun kriterianya tergolong sangat rendah. sinar matahari akan langsung berinteraksi dengani lapisan humus atau bahan organik. Dalam kondisi hutan alami. Typic Kandiudults HP. kedua proses tersebut dominan.30 0.24 0.81 0. mg kg-1 . Fraga and Salcedo..55 0. Beberapa karakteristik sifat kimia tanah pada horizon A dan B Table 8. Khusus untuk K dari batuliat. 28/2008 bahwa unsur Ca lebih mobil daripada Mg.61 EY.73 0.24 A 0. dengan hilangnya tanaman penutup tanah. Oleh karena itu. 2004..... 2004. Tanah hutan di daerah studi tergolong tidak stabil atau rentan bahaya erosi.03 0. Basa-basa dapat tukar (Ca.kg-1 .44 A Bto A Bto 0. menunjukkan bahwa kandungan unsur-unsur tersebut pada horizon A lebih tinggi dibandingkan horizon B (Tabel 8). Tabel 8.82 20 200 Bt 0. Tanah dari bahan induk batupasir.41 0. Sistem perladangan dengan sistem tebas bakar tanpa memperhatikan tindakan konservasi tanahnya telah memotong siklus biologi. dan mengakibatkan hilangnya tanah lapisan atas yang tipis tetapi kaya bahan organik.. Hal tersebut menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. (1976) memperlihatkan pengaruh sistem perladangan terhadap karakteristik tanah di Provinsi Kalimantan Tengah. sehingga jumlah Ca yang diangkut ke permukaan tanah akan lebih banyak dibandingkan dengan Mg yang kurang mobil. 12 . pengkayaan di lapisan atas kurang nyata dibandingkan unsur lainnya.17 0.09 0.03 0.08 0.13 0.13 0..27 4 112 DD. Wu and Tiessen..02 0.04 8 26 66 MD.05 0.15 0. 2002). Perlu diingat bahwa HTI baru diusahakan dua kali panen atau selama 14-15 tahun. Mg.17 1.232 A Bt 0.21 0.. Demikian juga kejenuhan basa.. jumlah absolut dapat mencapai 10 kali lipat dibandingkan horizon di bawahnya.. Driessen et al.22 21 69 122 Bto 0. Acrudoxic Kandudults HP. Dalam keadaan terbuka dan berlereng.58 0.04 11 57 22 UG.

Ding. menurunkan suhu permukaan tanah dengan memanfaatkan serasah atau tanaman penutup tanah (mulsa). Am. Bahan organik yang bersifat aromatik bersifat hidrofobik. Buurman. Tugu. 1971. 2004. Jenis bahan induk tanah sangat berperan terhadap susunan mineralogi. Pp 95-115. Bogor.H.. Continuous Cultivation of West African Soils: Organic matter diminuation and effects of applied lime and phosphorus. Dalam kondisi hutan alami.M. 1990. FAO. In Proceedings ATTA 106 Midterm Seminar. The influence of shifting cultivation on a “Podzolic” soil from Central Kalimantan. Guidelines for Soil Profile Description. Karakteristik tanah di bawah vegetasi hutan alami tidak berbeda nyata dengan tanah di bawah vegetasi Hutan Tanaman Industri (Acacia 13 . 1976. 3. G. October 13-14..N. P. Imhoff. 2002. P. SUHARTA DAN B. In: Peat and Podzolic Soils. 4. membentuk agregat tanah lebih stabil sehingga tidak rentan terhadap erosi. 66:421429.H. Fallow. telah mengakibatkan meningkatnya proses mineralisasi bahan organik. DAFTAR PUSTAKA Bram. perlu memperhatikan besarnya lereng yang berkaitan dengan erosi. Soil sci. V. FAO. Salah satu cara alami untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan mengembalikan fungsi siklus biologi dengan membiarkan tanah tersebut kembali menjadi hutan. A. and D. 2. Soil carbon pools in adjacent natural and plantation forest of subtropical Australia. Soil organic matter characteristics as affected by tillage management.S.. Sifat tanah dari batuan sedimen masam dari pedon yang diteliti tergolong rentan terhadap bahaya erosi sehingga pemanfaatannya untuk tanaman pertanian memerlukan tindakan konservasi dan menghindari penggunaan daerah berlereng (>8%). E. Tanah berbahan induk batuliat mempunyai sifat kimia lebih baik dibandingkan dengan tanah berbahan induk batupasir. Plant and Soil 35:401-414. dan teknik pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem konservasi. 2002). Am. kecuali kandungan Aldd lebih tinggi. J. Soil Research Institute. Hunt. Soc. J. PRASETYO : SUSUNAN MINERAL DAN SIFAT FISIKO-KIMIA TANAH BERVEGETASI HUTAN DARI BATUAN SEDIMEN MASAM lebih dari semua nutrisi yang terkandung dalam tanah tersebut. and Permadhy. Mathers.. Salcedo.R. 2004. 2004. J. Amarasiriwardena. and I. akan dapat menurunkan suhu tanah dan berdampak pada meningkatnya proses humifikasi (pembentukan asam-asam humus). Perubahan suhu mikro yang diakibatkan oleh pembukaan hutan untuk pertanian tanaman pangan.G. 68:215-224. Xing. mangium) yang telah dikelola selama 14-15 tahun atau dua kali musim panen. Soil Sci.H. C-organik tanah lebih bersifat aromatik dibandingkan dengan hutan tanaman pinus (Chen et al. Susceptibility to compaction. load support KESIMPULAN 1. Da Silva. and B. Pemupukan masih sangat diperlukan karena tanah-tanah dari batuan sedimen masam tergolong miskin unsur hara. 68:282-291. Driessen. P.J.P. khususnya untuk tanaman pangan berakar dangkal. S. Kandungan unsur-unsur pada horizon A yang lebih tinggi dibandingkan horizon B menunjukkan ada penimbunan unsur hara pada horizon A atau horizon permukaan yang diakibatkan oleh siklus biologi. D. Novak. Xu. Chen.. sifat fisik. dan kimianya. Pembukaan kembali tanah hutan untuk perladangan dilakukan setelah 13 hingga 15 tahun kemudian. Oleh karena itu tindakan mengurangi suhu tanah dengan menggunakan penutup tanah (mulsa) berupa serasah kayu-kayuan atau hasil panen.. Fraga. and Their Potential for Agriculture in Indonesia. and N. Rome. 2004) atau tanaman pangan (Ding et al. 1976. Soil Sci. Z. Am. Declines of organic nutrient pools in tropical semi-arid soils under subsistence farming. Oleh karena itu pemanfaatan lahan hutan untuk tanaman pangan lahan kering. C. Soc.M. J.

H. Geological Research and Development Centre. Humus Index: an integrated tool fr the assesement of forest floor and topsoil properties. 1992. Soil Survey Laboratory Methods Manual.. 1995. Wood. The geology of the Rengat Quadrangle Sumatera. USDA.. R. Silitonga. Quideau. Soil Sci. Am.F. Am. 2007. Bandung. J. Wu. Chevalier. Studi kasus pada Sanggauledo.B. Geological Research and Development Centre. 66:19962001. Loussot. Keys to Soil Taxonomy. Sukardi. Tiessen. 1969. Soil Survey Staff. Soc. scale 1:250. and H. Effect of landuse on soil degradation in Alpine grassland soil. 66:1648-1655. Karakteristik tanah Oxisol sebagai pengelolaan lahan.C. and S. dan B.C. Budhitrisna. J. Am. Soil Survey Investigation Report No. 28/2008 capacity. Inc. and P. 68:17-24. 2003. Pupuk Suwarna. R. Jakarta. China. 41. M. 63:18801888. Santoso. Suharta.H.A. 1995. Kastowo. Sifat dan karakteristik tanah dari batuan sedimen masam di Provinsi Kalimantan Barat serta implikasinya terhadap pengelolaan lahan. Natural Resources Conservation Service. Rainfall Types Based on Wet and Dry Period Ratios for Indonesia with Western New Guinea. O. Loughnan. scale 1:250. 2002. N. New York. dasar Oxisol Barat. S. Biogeochemical cycling of calcium and magnesium by Ceanothus and Chemise. 1999. Soc. F. S. Jurnal Tanah dan Iklim 25:11-26. Chemical Weathering of Silicate Minerals. J. and H. N.000. J. Soil Sci.000.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. United States Department of Agriculture. and soil compressibility of Hapludox. 1991. Soil Sci. Bandung. Geological map of the Solok Quadrangle. Soc. Am. Graham. Soil Survey Laboratory Staff. Provinsi Kalimantan Pemberitaan Penelitian Tanah dan 13:9-20. Prasetyo.A.A. 14 . Ninth Edition. Version 1. Mangga. Washingthon DC. Smith and Fergusson. Suharta. Soil Sci. Chadwick. Soc. American Elsevier Publishing Company.. 2002. Sumatera. 1951.0.. N. J. Jawatan Meteorologi dan Geofisika. R. P. T. and N. Ponge.

climate data. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air bagi tanaman. ABSTRACT The understanding of water movement in the soils plays an important role for crop water availability. Bogor. The results showed that the water fluxes and the transient water movements were significantly affected by the amount of rainfall. The data ISSN 1410 – 7244 15 . sebagian besar air dapat hilang melalui aliran permukaan atau terperkolasi ke zone di bawah perakaran. while the transient water movements at abandoned paddy field were significantly higher than those at the land with large frog and peanuts. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. Rainfall is the main source of crop water availability in dryland. Bogor. Pergerakan air transient. rainfall. sehingga tidak tersedia bagi tanaman. HARIDJAJA1. Kata kunci : Pergerakan air. 2. Ketersediaaan air measurements were focused on water content. Water availability PENDAHULUAN Pergerakan air dalam tanah di lahan kering sangat penting perannya dalam pergerakan hara (nutrient transport) dan dapat digunakan untuk estimasi ketersediaan air dan udara bagi tanaman. Bogor. The water fluxes in the abandoned peanuts were significantly higher than those at the other lands. located at Bojong Village. crop water availability in dryland still has a problem. O. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. The result of this research can be use to estimate crop water requirement for irrigation. hujan. paddy. The amount of rainfall which are held in the soils during the growing season at the abandoned peanuts was significantly high. transient water movement. Pengajar pada Departemen Keteknikan Pertanian.Pergerakan Air pada Tanah dengan Karakteristik Pori Berbeda dan Pengaruhnya pada Ketersediaan Air bagi Tanaman Water Movement in the Soil with Different Pore Characteristics and Its Effect to Crop Water Availability ENNI D. Hujan yang merupakan sumber air utama pada lahan kering. 3. Penelitian dilakukan di Desa Bojong. diperlukan penelitian tentang hubungan antara pergerakan air dalam tanah dengan sifat-sifat hujan maupun sifat-sifat pori yang mengikat dan menghantarkan air. and water distribution. rainfall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fluks aliran air dan laju pergerakan air transient nyata dipengaruhi oleh jumlah hujan secara kuadratik. Fluks aliran air. water flux. The soil water content during the growing season at the abandoned paddy field was significantly higher compared to the other lands. padi sawah. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk memprediksi kebutuhan air irigasi bagi tanaman. yang digunakan untuk mengkaji fluks aliran air. SOEDODO H. Pengamatan dilakukan terhadap kadar air tanah. Penelitian dilakukan pada tiga blok lahan dengan jenis tanah Inceptisols yang telah dikelola dengan akhir periode ditanami kangkung. Untuk mengoptimalkan ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering tersebut. Kemang Sub DIstrict. Penelitian dalam upaya peningkatan ketersediaan air bagi tanaman lahan 1. Karakteristik pori tanah. Pada saat hujan besar. Fluks aliran air dalam tanah di lahan bekas kacang tanah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan sawah. and soil pores characteristics in the soils is required. IPB. and peanuts that reflected soil management. laju pergerakan air transient. dan kacang tanah. Kadar air tanah selama musim tanam di lahan bekas sawah nyata lebih besar dibandingkan dengan lahan yang lain. DAN SUDARSONO3 ABSTRAK Pengetahuan tentang pergerakan air dalam tanah sangat penting perannya dalam ketersediaan air bagi tanaman. The study was conducted at three blocks of lands with the soil type of Inceptisols.2. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan. the study of the relationship between water movement. Pada hari-hari tanpa hujan tanaman dapat kekurangan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pergerakan air pada tanah yang memiliki karakter pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Ketersediaan air bagi tanaman di lahan kering sampai saat ini masih menjadi masalah. terutama akhir-akhir ini berkaitan dengan dampak perubahan iklim global yang berpengaruh terhadap siklus hidrologi. To optimize the crop water availability in dryland. IPB. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah di lahan bekas kacang tanah lebih tinggi dibanding di lahan yang lain. sehingga produksi tanaman tidak dapat mencapai optimum. dan distribusi air. Transient water movement. Kecamatan Kemang. IPB. Soil pore characteristics. Keywords : Water movement. datangnya tidak selalu sinkron dengan kebutuhan air tanaman. This research was aimed to investigate the water movement in the soils with different soil pores due to the difference of soil management. WAHJUNIE1.Water flux. Bogor District in 2006. but it is unpredictable to cover crop water requirements. Fakultas Pertanian. dan iklim setiap hari. Up to now. sedangkan pergerakan air transient di lahan bekas sawah lebih besar daripada di lahan bekas kangkung dan kacang tanah. Kabupaten Bogor pada tahun 2006. The soils investigated were abandoned large frog (Ipomoea reptans).

pergerakan tak jenuh terjadi ke segala arah mengikuti perbedaan potensial air tanah (Hillel. maka untuk mengatasi kebutuhan air di lahan kering diperlukan informasi tentang keterkaitan antara curah hujan dengan pergerakan air dan dinamikanya pada tanah yang memiliki karakteristik pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah. Desa Bojong. seperti distribusi pori.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. maupun laju perubahan kadar air dalam tanah. Pergerakan air pada tanah dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan. 2). 1990). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji: 1). Berdasarkan uraian di atas. maupun efisiensi irigasi (Subagyono et al. Namun usaha-usaha tersebut jarang dilakukan oleh petani.. pada tanah Inceptisols (Typic Eutrudepts) yang memiliki karakter . 1986). intensitas. 2004). Kabupaten Bogor mulai bulan Februari sampai dengan Juni 2006. Bodhinayake et al. 1996).. jumlah air yang hilang dari zone perakaran. Karakteristik pori yang paling mempengaruhi pergerakan air dan dinamika kadar air. 28/2008 kering telah banyak dilakukan melalui perbaikan struktur tanah. Pergerakan air ke atas dapat terjadi pada hari-hari tanpa hujan (Hanks and Ashcroft. Untuk memaksimalkan ketersediaan air bagi tanaman diperlukan data tentang jumlah. Pergerakan dan distribusi air yang ada dalam tanah juga sangat tergantung pada sifat-sifat hujan yang jatuh (Edwards et al. 2004). Akibat berbagai pengelolaan tanah yang telah dilakukan oleh petani. Kecamatan Kemang. 2004). Toor et al. dan tortuositas pori (Hillel. tanah lahan kering memiliki struktur tanah yang sangat bervariasi. Pergerakan air maupun laju perubahan kadar air dalam tanah sangat ditentukan oleh karakteristik pori tanah yang menyusun struktur tanah. atau hanya terjadi hujan ringan yang tidak sampai menjenuhi tanah. (2004) menyatakan bahwa pori tanah yang banyak berkaitan dengan pergerakan air secara cepat adalah pori makro dan meso. Pergerakan jenuh dapat terjadi pada saat hujan dengan jumlah dan 16 intensitas tinggi yang menyebabkan seluruh pori terisi air (Sugita et al. Namun hujan yang terjadi dalam waktu singkat sering hanya melewati pori-pori makro tanah. 1992. Ketersediaan air pada lahan kering dengan karakteristik pori berbeda akibat pengelolaan tanah. kemampuan maksimum tanah meretensi air. besarnya peresapan air (infiltrasi). dan mengikuti pola tanam yang mudah dan murah. kontinuitas pori.. sehingga berpengaruh pada karakteristik porinya. sehingga hara terdistribusi secara merata pada zone perakaran. Penelitian tentang hubungan hujan dengan pergerakan air dalam tanah selama ini masih banyak dilakukan pada skala laboratorium. (2004) menyatakan bahwa perbedaan struktur tanah akibat berbagai pengelolaan. dan distribusi hujan. serta 3). (2002) menyatakan bahwa laju pergerakan air dapat mempengaruhi distribusi air dan kelarutan hara dalam tanah. Bagarello et al. dapat mempengaruhi kemampuan tanah meretensi air maupun pergerakan air baik jenuh maupun tak jenuh dalam tanah. 1980). pengaturan pola tanam. BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan di lapangan. Pada umumnya petani mengelola lahannya sesuai jenis tanaman yang diusahakan. Hanya pori-pori makro yang kontinu dan saling bersambungan yang berperan dalam pergerakan air secara cepat (Dunn and Philips.. dan dinamika kelembaban tanah. 1980).. kebutuhan air tanaman. Sampai saat ini belum ada penelitian tentang kaitan antara sifat-sifat hujan dengan pergerakan air maupun dinamika kadar air dalam tanah. melalui proses aliran preferential (Stenhuis et al. 1992). Dinamika kadar air dalam tanah lahan kering sangat ditentukan oleh pergerakan air. Begitu hujan berhenti. Informasi ini berguna dalam pengelolaan tanah pada lahan kering.. Adapun Perfect et al. Pengaruh hujan terhadap pergerakan dan distribusi air dalam tanah juga sangat tergantung pada karakteristik pori tanah dalam kaitannya dengan kadar air sebelum hujan dan laju infiltrasi tanah (Shipitalo et al. terutama dalam kaitannya dengan konservasi air dan ketersediaannya bagi tanaman.

25 1. dan 150 kg per hektar.67 40..86 1.02 0.. cabe.96 0.50 66.76 1.12 2.40 2....15 8.48 45..04 24.42 37.42 32. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.. Karakteristik tanah dari lokasi penelitian ditampilkan pada Tabel 2 dan 3.96 0.02 66. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA pori berbeda akibat perbedaan pengelolaan tanah pada lahan kering (Tabel 1).91 15..83 1.57 5.. Soil physics characteristics at block 1..00 1. terakhir padi sawah.65 9. harian..96 0.81 18.90 1..90 3..41 37.47 21. Pada seluruh petak ditanami jagung manis dengan pemupukan urea..29 67.95 64.52 3.30 7. 1.95 1.45 43.55 37.07 3.76 64.71 31.21 3.15 7...99 0.78 40.07 23. RPT = ruang pori total.01 6. 4.76 83.62 25.48 1.48 30..38 14.46 15.12 27.93 1. 200 kg.13 25.49 25.22 19..58 42...39 28..95 0.46 4.....ENNI D.96 RPT % 61..88 1.88 29.86 65.94 58.31 14.. and 3 No. RPAT = ruang pori air tersedia.68 33.43 18. terung.75 67. Penakar hujan otomatis dipasang pada lahan percobaan untuk mengamati hujan periodik. % 4.42 27.76 22.....88 53.00 DMR 1.02 1.19 34.50 22..43 63.21 14.18 25.35 23.69 1. 3.05 59..20 23.06 2. Selanjutnya data yang diperoleh digunakan untuk penetapan fluks aliran air. Tabel 2...... pengolahan tanah sedalam cangkul...95 31.52 64..03 29...78 16. dua tahun terakhir kangkung darat. 3.47 14.76 19.75 4.97 1.75 58. 2.41 10..27 19.45 11.18 17..44 43. dan 3 Table 2. 2. SP 36. Pengukuran kadar air secara gravimetri (berikut untuk kalibrasi) dilakukan dengan cara mengambil contoh tanah secara komposit dari tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan setiap satu minggu sekali. 5. 2. Padi sawah rotasi dengan kacang tanah dan oyong. Tabel 1..84 RPAT Keterangan : BI = bobot isi. 2.98 3.41 32...35 57...28 26..15 3.36 35.48 39..76 2. singkong dan oyong..52 14.11 12..43 22.58 22.48 61.64 25.. Pengambilan contoh tanah tersebut dengan menggunakan bor berdiameter 2 cm.13 19. 2..29 65... terakhir kacang tanah.22 38. Pengelolaan lahan yang dilakukan selama lima tahun sebelum percobaan Table1..45 2.22 12.15 2.27 4.10 85. Selama satu musim tanam dilakukan pengamatan terhadap kadar air.. jagung..79 14. Pengukuran kadar air tanah dilakukan dengan soil moisture meter setiap hari pada tiap jarak kedalaman tanah 10 cm dari permukaan tanah pada tiap petak lahan. 4.13 11.34 2. dan KCl masing-masing dengan dosis 300 kg.97 26.88 22.50 4.87 15.46 20.99 41. dan distribusi air tiap kedalaman tanah..64 62.33 2.26 8. Blok 1..95 0.57 4..38 9. 1.80 10.. kacang panjang.. Blok (kedalaman) cm 1 (0-10) 1 (10-20) 1 (20-30) 1 (30-40) 1 (40-50) Rataan 2 (0-10) 2 (10-20) 2 (20-30) 2 (30-40) 2 (40-50) Rataan 3 (0-10) 3 (10-20) 3 (20-30) 3 (30-40) 3 (40-50) Rataan BI g cm-3 1. 5.73 2.91 22. 13.78 8.40 3.72 9.06 ISA 42.01 43.99 17. 3.90 9.38 22.92 43.84 17. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.74 28..98 38.34 27..58 40.62 19...74 19. dan intensitas hujan periodik.53 16. RP = ruang pori 17 .35 2.10 1. Pengolahan tanah sedalam cangkul.12 13.23 38.47 6. ISA = indeks stabilitas agregat. 3.71 1..00 17.08 25. Percobaan lapangan Percobaan ini menggunakan rancangan acak kelompok/blok. laju pergerakan air transient.63 35.90 21.00 0.30 38.78 39.88 42.16 2.11 38.98 0.70 25..80 24.13 15.16 1.39 22.18 2. Sifat-sifat fisik tanah pada lahan blok 1.54 23.27 1.23 35.94 RP RP air RP air mikro mobil imobil vol . oyong...09 1.37 28.12 43. 1.35 3. Pada musim kering dilakukan pengolahan tanah sedalam cangkul.02 6. 5.43 13.53 10.29 61.59 43.45 40. RPDSC = ruang pori drainase sangat cepat..18 17.81 27.11 4.91 2...54 18.. 4.12 16.22 RPDSC RPDC RPDL RPD .. dimana pada tiap blok dari ke tiga lahan yang memiliki karakter pori tanah berbeda dibuat 10 petak pertanaman sebagai ulangan..50 46. 2.. dengan ukuran tiap petak 5 m x 5 m..19 6.85 47. RPDC = ruang pori drainase cepat.01 7.38 10.05 1. RPDL = ruang pori drainase lambat. Land management practices for five years before research Pengelolaan lahan selama lima tahun sebelum percobaan Padi gogo.15 1.26 3.84 41.53 13. maupun harian.12 27.63 41. Data iklim dikumpulkan dari stasiun klimatologi Pangkalan TNIAU Atang Senjaya Bogor... Rotasi kacang tanah. hujan dan iklim setiap hari. WAHJUNIE ET AL.41 3. pemupukan dengan pupuk kandang ± 10 t ha-1.42 17.64 7.80 2.14 1..53 7..

32 0. Jumlah air hujan yang dapat diretensi tanah pada zona perakaran dapat diperhitungkan dari jumlah hujan dikurangi dengan air yang terdrainase (fluks aliran positif) pada tiap zone kedalaman tanah yang diperhitungkan.28 44.. cm jam-1 …….92 12...87 12.. kapasitas retensi air maksimum.23 31.87 10.32 Ln(θ) + 8......93 Ln(θ) + 7.. dθ dt-1 = dfluks dx-1 (cm/cm.38 12.... dengan pendekatan neraca air (Wagenet.87 Ln(θ) + 8..46 0. (Shaxson and Barber.. permanent wilting point at block 1.92 12.79 2. Evapotranspirasi dihitung dengan model Penmann.99 Ln(θ) + 7.46 30.84 2..18 18 .88 40.54 25.23 1.99 Ln (θ) + 7...67 25..92 11.31 Ln(θ) + 7.…………..09 Ln (θ) + 7.80 25...87 Kapasitas retensi Titik layu air maksimum permanen ..18 31..14 Ln(θ) + 7.. Menurut Hanks dan Ashcroft (1986).27 28.…...00 45..46 48... 11..86 0. Pergerakan air transient diperhitungkan dari perbedaan fluks antara dua titik kedalaman tanah Kebutuhan air irigasi ditetapkan berdasarkan defisit kadar air terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman.. tak jenuh...31 Ln(θ) + 7.∆ S ..87 12. 2. Apabila fluks negatif (aliran ke atas) atau nol. 28/2008 Analisis data Perhitungan fluks aliran air dilakukan untuk seluruh zone perakaran (kedalaman 50 cm) maupun tiap zone 10 cm kedalaman tanah... maximum water retention capacity..79 2..96 Ln (θ) + 7. Konduktivitas hidrolik jenuh... 1986)..89 2....54 43.38 27. 38. yaitu selisih antara kadar air lapangan terhadap kadar air minimum tersedia bagi tanaman dikalikan dengan kedalaman zone perakaran yang diperhitungkan..56 Ln(θ) + 8..52 47.54 25.39 Ln (θ) + 7..38 10.87 10...92 28..03 Ln (θ) + 7. 2.. 2003).38 11. unsaturated hydraulic conductivity.97 45..47 1.. and 3 Blok (kedalaman) 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3 3 3 3 3 cm (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) (0-10) (10-20) (20-30) (30-40) (40-50) Konduktivitas Konduktivitas hidrolik tak jenuh hidrolik jenuh ……..38 12. pergerakan air transient merupakan perubahan kadar air setiap saat dan dapat menunjukkan perubahan storage selama selang waktu yang diperhitungkan.03 44.90 46.23 1. 1986).92 11. dan titik layu permanen pada lahan blok 1.. Saturated...10 0. maka seluruh jumlah hujan dapat diretensi oleh tanah.72 1.. neraca air dapat dihitung sebagai berikut: D = P – ET .04 44.(2) dimana : dθ dt-1 dfluks dx -1 = Laju pergerakan air transient = Perubahan fluks per satuan jarak ET = Evapotranspirasi (mm) ∆S = Perubahan cadangan air (mm) Besarnya drainase (D) dari tiap kedalaman tanah yang diperhitungkan tiap hari merupakan fluks aliran air per hari (Wagenet...65 Ln (θ) +7. (1) dimana : D P = drainase air pada kedalaman yang diperhitungkan (mm) = Hujan (mm) yang diperhitungkan.92 11. Tabel 3.40 0..13 28. dan 3 Table 3... Kadar air minimum tersedia bagi tanaman merupakan kadar air pada kondisi 50% air tersedia... % vol ...33 2.38 11.. Pada lahan kering yang relatif datar...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO..65 1.waktu) ..96 25..07 46...00 27..57 Ln(θ) + 8.……………....88 27..91 25.39 40.42 38.. dan perubahan cadangan air merupakan selisih cadangan air dari suatu hari dikurangi dengan cadangan air hari sebelumnya...88 46.....

0. lokasi penelitian ditampilkan pada Gambar 1. r = 2 Fluks (blok 2) =--0. Pada kejadian hujan besar. dan kadar air antar tiap blok lahan dilakukan uji beda nilai tengah (uji t).63 2 Fluks (blok 2) = 0. 2. sebagian besar air membasahi lapisan tanah dan terikat kuat dalam pori mikro tanah. Hujan-hujan rendah yang terjadi secara berulang dapat menyebabkan aliran air melalui matrik tanah. laju pergerakan air transient.04 CH + + 0.88 pada lahan blok 3.63 0.04 CH 7 7 X 10-4 CH . r = r = 3 Fluks (blok 3) = 0.0013 CH2=. dan 3 sama. 3. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Analisis statistik 1. WAHJUNIE ET AL. sehingga fluks aliran air makin besar. Fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1.88 2 12 12 Fluks (cm hari ) Fluks (cm hari ) -1 -1 8 4 0 -4 -4 0 20 20 40 60 60 80 80 100 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 1. Kelebihan air di atas kapasitas retensi maksimum tanah merupakan air yang menyumbangkan pada fluks aliran air pada saat hujan.0013 CH . sehingga membasahi tanah secara berangsur. tetapi kemiringan kurva maupun jumlah hujan untuk mulai terjadinya fluks aliran air positif (aliran ke bawah) 1 Fluks (blok 1) =0. 2. Untuk melihat pengaruh curah hujan terhadap pergerakan air (fluks) dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi dan korelasi. dan 0. Untuk melihat perbedaan pergerakan air. r r = 3 Fluks (blok 3) =0. kelebihan air yang keluar dari zona kedalaman tanah tertentu makin besar. Fluks aliran air yang melalui zona perakaran pada ketiga blok lahan meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya jumlah hujan dengan koefisien korelasi 16 16 0.0.20 0.89 0. Menurut Sugita et al.04 CH ++ x 10-4 CH2 . r2= 0. Pada jumlah hujan rendah. kadar air tanah makin tinggi sampai mencapai kapasitas retensi maksimum.0011 CH2 CH2 .88 0. Untuk melihat sifat-sifat pori yang paling berpengaruh terhadap pergerakan air dan laju pergerakan air transient dilakukan analisis regresi berganda. and 3 19 .20.24 0.89 Fluks (blok 1) = 0.ENNI D. Walaupun pola fluks aliran air pada berbagai jumlah hujan antara blok 1.– 0. dan 3 Figure 1. terjadi aliran tak jenuh dalam tanah.24 + + 0. Pada kondisi ini. Fluxs water movement on various amount of rainfall at block 1. (2004). yang ditentukan dalam fluks aliran air.0011 .63 pada lahan blok 2. 2.04 CH 0. 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Pergerakan air dalam tanah Pergerakan air pada zone perakaran sedalam 50 cm. hujan besar dapat menyebabkan pergerakan air hanya melalui pori-pori makro tanpa menembus matrik tanah. apabila tanah belum jenuh. Semakin besar jumlah hujan. 0.89 pada lahan blok 1.

Pada hari-hari tanpa hujan..26 x 3.....07 b 0.93 ... ruang pori air mobil..0.88 (Ks = -14...41 z (-) 0... Pori .08 RP mikro..0. dan 3 Table 4.09 RPDSC + 0..30 a 1.. 2.. Water flux and rate of transient water movement at block 1.88).06 y 0...86 (Fluks = -2....26 b 2....0.50 x 8.75 y 1. konduktivitas hidrolik jenuh tanah blok 1.... Di antara ruang pori tersebut.14 b 0.02 St.. Karakteristik pori secara langsung juga sangat berpengaruh terhadap fluks aliran air..... ruang pori drainase cepat.25 RP air mobil + 0.17 b 2.36 ... Fluks aliran air pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) nyata lebih besar dibanding fluks aliran air di lahan blok 1 dan 2. 2.01 RPAT.48 c 0... Pada hujanhujan rendah (curah hujan < 10 mm) memungkinkan distribusi air di lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) lebih baik dibanding lahan blok 1 dan 2.47 a (-) 1. and 3 Curah hujan mm 0 0-10 10-20 20-30 30-50 > 50 Fluks rataan dθ dt-1 rataan 1 2 3 1 2 3 -1 ..0.. Fluks aliran air dan laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. Namun pada jumlah hujan yang lebih tinggi (curah hujan > 10 mm)......09 x 1... Perbedaan fluks aliran air antara tiap blok lahan disebabkan oleh perbedaan pengelolaan tanah dan tanaman pada tiap blok lahan yang telah menyebabkan perbedaan karakteristik pori yang berbeda-beda (Tabel 1 dan 2)..09 y 1.86).. Berdasarkan analisis regresi berganda pengaruh karakteristik pori terhadap fluks aliran air menunjukkan bahwa fluks aliran air sangat dipengaruhi oleh ruang pori drainase cepat..28 y (-)0.31 z (-) 0. ruang pori air mobil dan ruang pori mikro di lahan blok 3 nyata lebih tinggi dibanding di lahan blok 1 dan 2 (Tabel 2).. R = 0.. ruang pori air mobil.. (-) 0. Hal ini menunjukkan bahwa retensi air yang tinggi pada hujan-hujan sebelumnya di lahan blok 3 dapat menyebabkan terjadinya aliran air gravitasi/drainase pada hari-hari tidak hujan.85 x 3.06 RPDC ..01 St.19 a 0.... Tabel 4.23 a 7.84 a 2..27 RP air imobil + 0. fluks aliran air antara blok 1 dan 3 lahan tidak berbeda nyata..24 b (-) 0... 28/2008 berbeda-beda.25 c (-) 0. 20 . Fluks aliran air pada zone perakaran dapat menunjukkan laju distribusi air hujan pada zona perakaran tersebut.87 x 5. dan ruang pori air tersedia dalam tanah dengan koefisien korelasi sebesar 0.. sehingga meningkatkan fluks aliran air pada lahan blok 3........JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. stabilitas pori. R = 0..19 x 8..33 b 0... terutama pada hujan-hujan rendah (curah hujan < 10 mm). Berdasarkan analisis regresi berganda...17 a 7... sehingga berpengaruh terhadap fluks aliran air.02 y 2. memungkinkan pergerakan dan distribusi air sepanjang zone perakaran makin lancar. Besarnya fluks aliran air pada hujan yang sama berbeda-beda antara ke tiga blok lahan (Tabel 4).. stabilitas pori. Karakteristik pori berpengaruh terhadap konduktivitas hidrolik jenuh maupun tak jenuh.0. cm hari . Semakin besar fluks aliran air. dan ruang pori mikro dengan koefisien korelasi sebesar 0. sedangkan pada lahan blok 3 terjadi aliran ke bawah (Tabel 4)......13 a 1.. dan 3 nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat.. tetapi fluks aliran air kedua blok ini nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 2.97 z 0..33 a (-) 0..07 RP air mobil + 0..... Pori + 0..09 y Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris yang sama tidak berbeda berdasarkan uji statistik(α 1%)..66 a 1..22 y 1.06 RPDC ..... secara rataan di lahan blok 1 dan 2 terjadi aliran air ke atas (fluks negatif)..80 b (-) 0.37 x (-) 2. 2.73 x 5... ruang pori air imobil..

dan apabila tanah telah mencapai keadaan jenuh laju penambahan air tidak ada lagi (nol). dengan koefisien korelasi masing-masing 0.62 dθ/dt (blok 3) 3) = . sehingga terjadi perbedaan potensial air yang besar antara permukaan tanah dengan lapisan di bawahnya yang relatif lebih kering.0019 CH .2.2.– 0.21 CH – .=r 0.23 0.80. dan 3 nyata dipengaruhi oleh besarnya hujan (Gambar 2). : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Pergerakan air transient dalam tanah Pergerakan air transient merupakan pergerakan air dalam tanah yang kecepatannya selalu berubah setiap saat.83 15 dθ dt-1 (cm hari-1) dθ/dt (cm/hari) 2 dθ dt-1(blok 2) = 0.26 CH 0.002 CH r = 0. Semakin besar jumlah hujan. 1986). Transient water movement on various amount of rainfall at block 1. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. Laju pergerakan air transient pada lahan blok 1. r 0. Pada jarak kedalaman perakaran tertentu.004 CH2. 2. Laju pergerakan air transient tergantung pada perubahan fluks aliran air dan mencerminkan dinamika kadar air dalam tanah.002 CH2 . 2.83 dθ dt (blok 1) = -1. Pada hujan rendah tambahan air hujan meningkatkan potensial air di permukaan tanah.ENNI D. perubahan kadar air per satuan waktu dapat mencerminkan perubahan storage setiap saat. 2 . 0.62. Dengan hujan yang lebih besar lagi. dan 0. dan 3 Figure 2. r =0. Apabila tanah telah mencapai kapasitas retensi maksimum. sehingga perbedaan potensial air lapisan permukaan dengan di bawahnya makin kecil dan menyebabkan laju pergerakan air transient makin rendah (menurun). 2.26 CH – .0.004 CH r = 0.23 + + 0.62 10 5 0 -5 0 20 40 60 80 100 Curah hujan (mm) (mm) Gambar 2. kadar air lapisan tanah sampai kedalaman tertentu makin besar.0. sehingga laju pergerakan air secara transient juga makin besar.12 0.30 CH .30 CH 0. maka laju pergerakan air secara transient tersebut merupakan perubahan kadar air per satuan waktu (Hanks and Ashcroft. 2. dan 3 meningkat secara kuadratik dengan makin besarnya curah hujan sampai nilai maksimum dan setelah mencapai nilai maksimum menurun kembali.2r ==0. Laju pergerakan 20 1 dθ/dt-1 (blok1) = -1. and 3 21 .80 3 dθ dt-1 (blok = -2.21 CH 0. WAHJUNIE ET AL. laju penambahan kadar air per satuan waktu mencapai maksimum.80 dθ/dt (blok 2) = 0. Pergerakan air transient pada berbagai jumlah hujan di lahan blok 1. Karena terjadi perubahan kecepatan setiap waktu.12 ++ 0.0019 CH2 .83. perbedaan potensial air tanah antara lapisan tanah atas dengan di bawahnya makin besar yang menyebabkan perbedaan fluks antara kedua lapisan tanah tersebut makin besar.

Pada hujan yang sama mengakibatkan laju pergerakan air transient yang berbeda-beda (Tabel 4). aliran air terjadi sebaliknya yaitu dari bawah ke atas (fluks negatif) melalui pori-pori mikro secara tak jenuh akibat proses evapotranspirasi.0. sehingga laju pergerakan air transient cepat mencapai maksimum. 1980). sehingga meningkatkan jumlah pori mikro yang dapat meretensi air. pada lahan blok 2 pada curah hujan 68. Laju pergerakan air transient maksimum pada lahan blok 1 tercapai pada curah hujan 37. Pola perubahan kadar air tiap kedalaman menurut waktu mengikuti pola curah hujan dan fluks aliran air.38 + 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Distribusi air dalam tanah Jumlah.93 (dθ dt-1 = -1.04 RPDSC + 0. Laju pergerakan air transient menunjukkan laju perubahan storage. kadar air tanah sangat ditentukan oleh kapilaritas dan distribusi ukuran pori tanah. Keadaan ini membuktikan bahwa kemampuan retensi maksimum tanah di blok 1 (terutama pada kedalaman 0-20) cm paling rendah. Keadaan ini dapat terjadi karena tidak adanya struktur tanah yang baik pada tanah bekas sawah akibat proses pelumpuran. fluktuasi. dan distribusi air yang ada dalam tanah menentukan ketersediannya bagi tanaman selama masa pertumbuhan. Perbedaan laju pergerakan air transient antara lahan blok 1.02 RP air mobil.0. Kenaikan kadar air tersebut lebih nyata pada lapisan bawah dibandingkan lapisan atas (Gambar 3). dan 3 disebabkan oleh perbedaan karakteristik pori tanah dalam mengikat air maupun dalam pergerakan air. ruang pori air imobil.85 .01 RP air imobil 19x10-4 St. Apabila terjadi hujan maka diikuti oleh kenaikan kadar air pada hari berikutnya.99 (θ KL = . dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 0. sehingga apabila tanah telah mencapai retensi maksimum akan lebih mengkonservasi air. Namun pada hari-hari tanpa hujan. yang pada zona air kedalaman tertentu dapat menunjukkan perubahan lambat laju pergerakan transient. Karakteristik pori tanah juga nyata mempengaruhi pergerakan laju air pergerakan transient air transient. Kadar air tanah selama periode pertumbuhan tanaman selalu berfluktuasi dengan pola yang sama pada seluruh kedalaman tiap blok lahan (Gambar 3).4 mm. Menurut Sharma dan De Datta (1985) dan Prihar et al. Berdasarkan analisis regresi berganda antara karakteristik pori terhadap kemampuan retensi tanah maksimum (kadar air pada keadaan kapasitas lapang) menunjukkan bahwa kapasitas retensi maksimum tanah blok 1.03 RPAT . Laju nyata dipengaruhi oleh ruang pori drainase sangat cepat. Hal ini terlihat pada lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah).5 mm. Jumlah air yang masuk dan tertinggal dalam tanah ditentukan oleh kemampuan retensi tanah dan pergerakan air dalam tanah. Pada potensial air tanah rendah (ψ ≤ 1 bar). poripori makro tanah-tanah yang disawahkan menurun sedangkan pori-pori mikro meningkat sehingga kemampuan tanah mengikat air meningkat.5 mm. kadar air tanah lebih ditentukan oleh tekstur tanah (Hillel. dan 3 sangat dipengaruhi oleh ruang pori mikro. terutama pada potensial rendah (kemampuan tanah mengikat air antara potensial 1 sampai 15 bar meningkat). Pada potensial yang lebih tinggi. diikuti oleh lahan blok 3 dan lahan blok 2 (Gambar 2). Pori.0. 2.04 RP air imobil + 0. ruang pori air tersedia.93). Laju perubahan kadar air pada lahan blok 2 nyata lebih tinggi dibanding lahan blok 1 dan 3.0.04 RP mikro .99). R = 0. dan ruang pori air mobil dengan koefisien korelasi 0. (1985). 2. 22 . maksimum pada curah hujan paling rendah. R = 0. dan pada lahan blok 3 pada curah hujan 52. kadar Semakin air tanah. di mana peningkatan kadar air tanah lebih dulu terjadi pada lapisan atas diikuti oleh lapisan di bawahnya. 28/2008 air transient pada lahan blok 1 menunjukkan ruang pori air imobil. tanah makin lambat perubahan kadar airnya.

(1998). air tersedia yang cukup untuk pertumbuhan dan produksi tanaman jagung adalah 30% air tersedia (maximum soil water deficit). (20-40) cm.. bahkan untuk tanaman jagung manis di atas 50% (Allen et al. 1986). dan kadar air tanah pada lahan blok 1. tanaman sudah mulai kesulitan dalam menyerap air. Apabila kondisi ini sering terjadi. 2. Kadar air rataan tiap kedalaman dari tiga blok lahan menunjukkan perbedaan yang nyata (Gambar 3). Lapisan permukaan merupakan lapisan yang paling tinggi dalam fluktuasi kadar airnya akibat pengaruh hujan dan evaporasi (Hanks and Ashcroft. and soil water content at block 1. 1998). fluks. 2. pada hari-hari tanpa hujan menunjukkan perlu adanya irigasi agar tercapai produksi yang optimum. walaupun kadar air tanah masih berada pada selang air tersedia bagi tanaman.ENNI D. Keadaan ini diperlukan pada lahan blok 1 dan sedikit pada lahan blok 2 dan 3 pada kedalaman (0-20) cm. Kadar air pada lahan blok 2 (lahan bekas sawah) selalu lebih besar diikuti oleh kadar air tanah pada blok 3 dan blok 1 (Gambar 3). flux. dan Kadar air blokblok 1 Curah hujan. (40-60) cm. Fluks.) Kadar a ir (% v o l) (10-20) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 45 (20-30) (30-40) 35 (40-50) KL TLP 35 (40-50) KL 35 (40-50) KL 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP 25 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) TLP Gambar 3. dan kadar air blok 400 30 CH C ura h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) C u ra h h u ja (m m Curah hujann(mm) ) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks (m m F lu k s (mm) i) 225 150 75 0 Fluks 15 Fluks s(mm) ) Flu k (m m 300 200 100 0 Fluks 15 0 -15 -30 Flukss (mm) ) F luk (m m 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 0 -15 -30 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Waktu (minggu) 55 K a d a r air (% vol. fluks. Seperti telah disebutkan di atas bahwa kemampuan retensi 23 Kadar air tanah pada ke tiga blok lahan selalu berada pada selang air tersedia (Gambar 4). dan Kadar air blokblok 2 Curah hujan.) Kadar a ir (% v o l) (0-10) Kad ar air (% v o l) Kadar air (% vol. Shaxson dan Barber (2003). (020) cm nyata paling kecil. Pada kondisi di bawah maximum soil water deficit. dan kadar air 1 300 30 CH Curah hujan. fluks. Namun mengingat kedalaman efektif perakaran jagung manis hanya sekitar 20 cm. dan 3 Figure 3. maka produksi tanaman dapat menurun. Menurut Allen et al. dan lapisan atas. Distribusi curah hujan. danKadar air blok 3 3 Curah hujan. kadar air tanah lapisan bawah. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA Curah hujan. sehingga terjadi evapotranspirasi aktual yang . Rainfall distribution. jumlah air tersimpan dalam tanah yang dapat segera tersedia bagi tanaman tanpa tanaman mengalami stres). Pada keadaan demikian sebagian stomata tanaman menutup. WAHJUNIE ET AL. Fluks. and 3 besarnya di bawah evapotranspirasi potensial.) 55 (0-10) (10-20) 55 (0-10) (10-20) K a d a r air (% vol. Pada seluruh lahan. Fluks. fluks. dan kadar air 2 300 30 CH C u rah h u jan (m m Curah hujan (mm) ) Curah hujan. nyata paling besar dibanding lapisan di atasnya. Perbedaan kadar air tiap kedalaman antar blok ini disebabkan oleh perbedaan sifat-sifat struktur tanah yang mempengaruhi distribusi pori sehingga berpengaruh pada sifat retensi dan pergerakan air dalam tanah.

75 1 100 0.0. R = 0.65 46 65 0.52 3.89 56 74 0.00 29 64 0. tersedia KL TLP Rataan 20 cm 20 0 Blok 3 20 40 Waktu (hari) 60 Gambar 4.00 9 100 0.11 86.01 RP air imobil 19x10-4 St. Pori.06 10.39 4 100 1.99 34 89 2. 2.00 0. Jumlah air hujan teretensi dan kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1.34 30.00 8 97 0.00 4.33 116. 2.00 71 67 0. Kebutuhan air irigasi pada lahan blok 1. Hal ini menunjukkan bahwa tanah di blok 3 lebih dapat mengkonservasi air.00 4. Irrigation water requirement at blok 1. tersedia TLP KA (20 cm) 40 40 30 30 KA min. lahan blok 3 (lahan bekas kacang tanah) memiliki kemampuan meretensi air hujan yang lebih besar dan laju perubahan kadar air yang lebih rendah dibanding lahan bekas kangkung (blok 1) maupun lahan bekas sawah (blok 2). dan 3 Figure 4.00 58. Berdasarkan jumlah hujan yang dapat teretensi (Tabel 5) dan laju perubahan kadar air (Tabel 4 dan Gambar 2) yang mencerminkan perubahan storage.00 0. 2.82 42.39 maksimum (kapasitas lapang) lahan penelitian nyata dipengaruhi oleh ruang pori mikro.03 RPAT .48 4 90 6. and 3 Tabel 5. Amount of rainfall retained and irrigation water requirement at block 1.98 33 86 35.25 18 100 0. Secara umum dapat dijelaskan bahwa lahan bekas kacang tanah yang memiliki zone perakaran 24 .11 81.33 2 94 0. dan stabilitas pori dengan koefisien korelasi 99% (θ (KL) = -0.85 % hujan 39 90 68 66 99 99 65 100 100 55 78.00 20. 28/2008 50 Kadar air (% vol) 50 Kadar (% vol) KL KA min.00 43 81 0. ruang pori air imobil.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 13.38 + 1.00 44 70 0.00 87 73 0.04 RP mikro . 2.99). ruang pori air tersedia.00 28 61 0.00 36 100 0.38 30.00 47 72 0.13 Blok 2 Blok 3 Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air ∑ hujan teretensi Defisit air mm mm % hujan mm mm % hujan mm 0.0. tersedia KL TLP KA (0-20) 20 0 Blok 1 10 20 30 40 Waktu (hari) 50 60 70 20 0 Blok 2 10 20 30 40 50 60 70 Waktu (hari) 60 Kadar air (% vol) 50 40 30 KA min. dan 3 Table 5. and 3 Waktu minggu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Rataan Blok 1 ∑ hujan teretensi mm 21 7 59 67 7 10 55 23 4 16 26.00 3.00 2 100 0.

Mengingat kedalaman perakaran jagung manis hanya sampai 20 cm dari permukaan tanah. juga dipengaruhi oleh jumlah hujan. Lahan bekas kacang tanah dapat meretensi air hujan paling besar karena banyak memiliki poripori mikro. L. Di samping itu. Lahan blok 3 menunjukkan paling bisa menjaga kelembaban tanah sepanjang musim pertumbuhan. 1998. Karakteristik pori yang berpengaruh terhadap fluks aliran air adalah ruang pori drainase cepat. namun karena pergerakan airnya kurang lancar. agar pergerakan dan ketersediaan air dan udara dalam tanah lebih lancar. 4. DAFTAR PUSTAKA Allen.ENNI D. dapat menyediakan air bagi tanaman lebih kontinu dibanding lahan yang lain. dan ruang pori air imobil. Pada lahan bekas kangkung darat yang memiliki zona perakaran paling dangkal memiliki fluktuasi kadar air yang besar. Pergerakan air (fluks aliran air maupun laju pergerakan air transient) pada tanah lahan kering selain dipengaruhi oleh karakteristik pori. dan stabilitas pori. Crop evapotranspiration-Guidelines for computing crop water requirement-FAO Irrigation and drainage paper 56.. D. Apabila ditinjau dari sifat-sifat fisik yang berkaitan dengan ketersediaan air. lahan bekas kangkung memiliki ruang pori air tersedia yang lebih rendah dibanding lahan yang lain (Tabel 2). Air tersedia yang besar di lapisan > 20 cm yang dapat menyumbangkan air ke lapisan di atasnya pada hari-hari tanpa hujan. fluks aliran air makin besar .karena kemampuan dalam meretensi air hujan lebih rendah (Tabel 5) dan kemampuan retensi maksimum tanah paling rendah (Tabel 3). dan terakhir pada lahan blok 3. Pada lahan bekas sawah. WAHJUNIE ET AL. Lahan bekas kacang tanah yang memiliki fluks aliran air paling besar. Raes. sedangkan karakteristik pori yang berpengaruh terhadap laju pergerakan air transient adalah ruang pori drainase sangat cepat. maka untuk mencapai produksi optimum lahan blok 1. 2. laju pergerakan air transient (dinamika perubahan kadar air) paling kecil dan solum tanah/zona perakaran paling dalam. kemudian menurun kembali dengan makin besarnya hujan. 25 . Dari Gambar 4 tersebut terlihat bahwa lahan blok 1. Pereira. Semakin besar jumlah hujan. lebih kontinu menyediakan air bagi tanaman dan membutuhkan air irigasi paling sedikit. dan ruang pori mikro. ruang pori air mobil. dengan lapisan bawah zona perakaran yang lebih padat kurang dapat menstabilkan kadar air tanah. sehingga hanya sedikit memerlukan air irigasi. Pergerakan air pada tanah dengan berbagai macam pengelolaan tanah dan tanaman sangat dipengaruhi oleh karakteristik pori tanahnya. sedangkan laju pergerakan air transient meningkat sampai maksimum. Tanah yang memiliki zona perakaran lebih dangkal. 2. Pada lahan demikian perlu dirotasikan dengan tanaman berakar lebih dalam untuk memperbaiki struktur tanah agar tercipta distribusi pori yang baik di bawah kedalaman 20 cm. Variabilitas kadar air rataan selama musim tanam pada lahan blok 3 tidak terlalu besar (Gambar 3 dan 4). Karena pada musim hujan dirotasikan dengan padi sawah. dan 3 menunjukkan defisit air yang berbeda. perlu penambahan bahan organik pada waktu digunakan untuk tanaman lahan kering. ruang pori air mobil. 3. Smith. and M.G. dan 2 dan 3 perlu tambahan air irigasi karena terjadi defisit air sampai di bawah kadar air minimum tersedia bagi tanaman. sebaiknya tidak disarankan untuk ditanami tanaman berakar lebih dalam dari kedalaman lapisan bajak agar tidak merusak lapisan bajak. terutama pada kedalaman (0-20) cm. FAO.S. diikuti oleh lahan blok 2. : PERGERAKAN AIR PADA TANAH DENGAN KARAKTERISTIK PORI BERBEDA paling dalam. lahan bekas kacang tanah merupakan lahan yang telah dikelola secara baik. (Gambar 4 dan Tabel 5). Rome. KESIMPULAN 1. walaupun kemampuan retensi airnya tinggi. sedangkan lahan bekas kangkung paling sedikit. Defisit air tertinggi terjadi pada lahan blok 1. R.

Soil Sci. Haszler. J. and L. Elrick.. 2004. Xiao. 2004.J. Prediction of dispersivity for undisturbed soil columns from water retention parameters.B. Wagenet. In Proceedings of Groundwater Quality 2004.. 2004.H. Subagyono... Ghildyal. New York. J. Academic Press. Sukop. J. 68:760-769.J. Ritsema. New method for determining waterconducting macro. Cameron. Springer-Verlag. Soc. and L.M. J. W. 56:52-58. D. Soil Physics and Rice International Rice Research Institue. Laguna. Haryati.J. Soc. Painuli. Soil Sci. B.. Am. Teknologi konservasi air pada pertanian lahan kering. and R. Shipitalo. Rachman. J. Rainfall intensity affects transport of water and chemicals through macropores in no-till soil.H.W. July 2004. Pusat Litbang Tanah dan Agroklimat. Soil Physics and Rice. Sugita. Owens. 1985. Soil Sci. E. 79.Di.J.. lovino. Dekker. Hanks. Am.A. Special issue.J. W. J. Fundamentals of Soil Physics. D. Dick. F.K. Am. and S. Agron.C. Inc Madison. Hillel.org/DOCREP/006/ Y4690E00. 1986. Pp. Effect of puddling on soil physical properties and processes.fao. P. Soc. A Simplified falling-head technique for rapid determination of field .K. Soc. Philippines. International Rice Research Institut. Dick. Klute (Ed. 1990. 2003. T. Water and solute flux. R. Barber.M. Am. 217-234.. H. M... Soil Sci. Shaxson. 1992. Physical properties of mineral soils affecting rice-based cropping systems. Shipitalo. Phillips. Am. Seasonal fluctuations in phosphorus loss by leaching from a grassland soil. Owens. 696-701. Applied Soil Physics.S. http://www. Torr. W. Los Banos. Dalam U. Badan Litbang Pertanian. and G. and K. Fingered flow in unsaturated soil: From nature to model. Optimizing Soil Moisture for Plant Production. A. De Datta. Tala’ohu. S. Dariah (Eds. 2002.L. 1996. Condron. 1986. Heidelberg. M. 1992.) Teknologi Konservasi Tanah pada Lahan Kering Berlereng. dan S. C. Sharma. In A. Kurnia.) Methods of Soil Analysis. Am. and H. held at Waterloo. Wisconsin USA. Effects of macropore flow on solute transport in a vadose zone under repetitive rainfall events. dan A.saturated hydraulic conductivity. Soil Sci. FAO Soils Bull. and C.S.B. 2004. 26 . and G. L. Soil Sci. Am.R. Prihar. Edwards. Los banos. Soil Sci. 1985. Soc. Laguna. Geoderma 70:83-324. Perfect.P. 28/2008 Bagarello. Soc. 68:6673. Soil Sci.C. Cheng Si. Soc. 1980. English.S. Pp 57-70. Inc.HTM. Soc. Initial storm effects on macropore transport of surface-applied chemicals in no-till soil. T.S. Dunn. R.E. and L.J. 56:52-58. Ashcroft. and M. U. Edwards. In IRRI (1985). Sur. Am.and mesoporosity from tension infiltrometer.K. Canada. and R.M. Pp. and D. Philippines. 2004. 54: 1530-1536 Stenhuis. V. B. G. In IRRI (1985). W. K. J. M. Departemen Pertanian. the 4th International Groundwater Quality Conference. 68: 1429-1436. Am. F. Bodhinayake. Soc.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.M. W. G. Equivalent diameter of simulated macropore systems during saturated flow.A.. Kishii.

garam-garam terakumulasi di dekat permukaan tanah. memperbaiki kesuburan tanah. Bogor. Kata kunci : Tsunami. Regular collection of soil samples for soil laboratory analyses and field salinity measurement using an electromagnetic induction technique (EM38) have been conducted. sisanya seluas 56. Nagan Raya. Daftar panjang masalah yang diakibatkan oleh tsunami di NAD tersebut menggambarkan berbagai isu yang menentukan keberhasilan proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh setelah tsunami. Nanggroe Aceh Darussalam. Bireun. Pengambilan contoh tanah pada beberapa kedalaman dan pengukuran salinitas menggunakan electromagnetic induction technique (EM38) telah dilakukan di beberapa tempat.017 ha yang tersebar di sepanjang pantai barat dan utara seluas 156. Salinity. Cakupan persoalan jangka panjang untuk sektor pertanian meliputi antara lain hilangnya sebagian lahan usahatani karena terendam air laut secara permanen. desa. Indonesia. lumpuhnya sistem produksi dan pemasaran hasil pertanian. Garam-garam telah bergerak ke dalam lapisan tanah yang lebih dalam. 2003). Rehabilitation ISSN 1410 – 7244 27 . Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. The level of soil salinity in tsunami affected areas appears to be related to the characteristics of the deposited mud and soil permeability. mungkin disebabkan oleh genangan air yang lebih lama pada saat tsunami dan terdapatnya lapisan tapak bajak yang menghambat pergerakan air ke dalam tanah. meningkatkan laju pencucian horizontal dan vertikal.5 juta ha memiliki sawah irigasi (teknis. 2. semi teknis. salt accumulate closer to the soil surface. dan lebak) seluas 336. Recommendations have been made to farmers that would allow them to reduce crop losses on tsunami affected soils. rusaknya lahan usahatani oleh erosi. Keywords : Tsunami. improve soil fertility. enhance salt leaching horizontaly and vertically. Provinsi NAD dengan total luas 5. meningkatnya kadar garam (salinitas) tanah.559 ha. ABSTRACT The giant tsunami waves following the earthquake of the west coast of Sumatra on December 26. NASIL ALI2 ABSTRAK Gelombang tsunami yang terjadi akibat gempa bumi di pantai barat Sumatera pada tanggal 26 Desember 2004 telah menyebabkan terjadinya peningkatan salinitas lahan-lahan pertanian dan rusaknya sistem irigasi dan drainase di sepanjang pantai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Leaching. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Tingkat salinitas tanah dipengaruhi oleh karakteristik lumpur yang terbawa oleh tsunami ke lahan pertanian dan tingkat permeabilitas tanah. Aceh Barat. Rekomendasi tersebut di antaranya adalah menghindari menanam pada bagian lahan yang salinitasnya masih tinggi. Sawah tadah hujan terdapat seluas 127. Dengan demikian nampak jelas bahwa areal persawahan baik irigasi maupun tadah hujan dijumpai lebih luas di 1. Aceh Besar. DEDDY ERFANDI1. commonly used to grow peanut during dry seasons. In the heavier rice soil.139 ha. have caused soil salinisation of agricultural lands and damaged to irrigation and drainage channels along the coastal areas of Aceh Province. umumnya dijumpai berturut-turut di Pidie. dan menanam tanaman yang toleran terhadap salinitas yang relatif tinggi. 70. Salt appears to have penetrated deeper into the sandier soils. DAN M. tadah hujan. dimana umumnya petani menanam kacang tanah pada musim kemarau. Beberapa rekomendasi telah diberikan kepada petugas dan petani sehingga mereka dapat mengurangi kehilangan hasil sebagai akibat dari tsunami. pasang surut.458 ha dan di pantai timur seluas 179. This includes avoid planting land that is still saline. rusaknya sistem irigasi dan drainase. The objective of this study was to monitor the changes in soil salinity of the tsunami-affected sites. Sawah berigasi teknis dan semi teknis terdapat seluas 139. dan Aceh Timur.190 ha diantaranya berada di pantai timur.Dampak Tsunami Terhadap Sifat-Sifat Tanah Pertanian di NAD dan Strategi Rehabilitasinya Affects of Tsunami on Soil Properties in NAD and Its Rehabilitation Strategy ACHMAD RACHMAN1. 2004. Rehabilitasi PENDAHULUAN Gempa bumi dan tsunami yang memporak porandakan kawasan pantai barat dan timur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 telah menimbulkan berbagai masalah yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengatasinya. Pencucian.900 ha berada di pantai barat dan utara (Badan Pusat Statistik. Pada lahan persawahan yang teksturnya lebih berat.090 ha. dan rendahnya ketersediaan tenaga kerja pertanian yang terampil. probably because they were flooded at the time of the tsunami and often have a dense impermeable plough layer. Aceh Utara. Salinitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk memonitor perubahan salinitas tanah di daerah yang terkena tsunami. khsusunya pada tanah yang teksturnya lebih kasar. and grow salt tolerant crops.

9.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. dinding protoplasma mengkerut dan sel rusak karena terjadi plasmolisis. jembatan. Salinitas tanah merupakan faktor pembatas penting pertumbuhan tanaman. 28/2008 pantai timur dibandingkan dengan di pantai barat dan utara Provinsi NAD. Alat ini mengukur secara cepat salinitas tanah tanpa membongkar atau mengganggu tanah dengan memanfaatkan induksi elektromagnetik (electromagnetic induction) dari aliran listrik yang dipancarkan ke dalam tanah. Nilai yang diukur secara digital menunjukkan daya hantar listrik (DHL) atau ECa tanah. 7. Cornillon and Palloix. pada beberapa tanaman dapat terjadi ketidak-seimbangan hara disebabkan kadar hara tertentu terlalu tinggi. karena air terikat kuat pada partikel-partikel tanah dan dapat menyebabkan terjadinya kekeringan fisiologis pada tanaman (Gunes et al. diperkirakan terdapat sekitar 184. Pada kondisi dimana konsentrasi garam dalam larutan tanah sangat tinggi. Akibatnya akar tanaman kesulitan menyerap air. Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari pengaruh kejadian tsunami terhadap sifat-sifat kimia tanah di NAD dan merumuskan strategi untuk merehabilitasi lahan pertanian. Hasil analisis citra satelit yang dilakukan Balai Penelitian Tanah. Selain pengambilan contoh tanah. Larutan akan bergerak dari daerah yang konsentrasi garamnya rendah ke konsentrasi tinggi. Lhok Nga di Kabupaten Aceh Besar. 1996. Tsunami tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik terhadap bangunan. Aliran listrik lemah ini kemudian diukur oleh alat penerima. 2005).9 juta ha yang ada. Pengambilan contoh tanah pada bulan ke-7 dilakukan di tiga kabupaten masingmasing di Kabupaten Aceh Besar.4 juta t ha-1 per musim tanam. Selain tanaman harus mengatasi tekanan osmotik tinggi. Selain lahan persawahan yang rusak. Bogor memperlihatkan bahwa luas lahan persawahan yang terkena dampak tsunami dengan tingkat kerusakan yang bervariasi sekitar 29. 2005). dan 12 bulan setelah tsunami. Dengan demikian potensi kehilangan hasil berupa beras adalah sebesar 120. Jika diasumsikan bahwa rata-rata produktivitas lahan sawah di NAD adalah 4. maka dengan total luas sawah sebesar 336. 28 .000 ha lahan kering dari total 1..2 t ha-1 per musim tanam.017 ha akan diperoleh beras sebanyak 1. Slavich. jalan. dan Aceh Barat untuk mendapatkan gambaran secara umum mengenai sifat-sifat tanah. Pengamatan pada bulan ke-9 dan 12 dilakukan di empat lokasi masingmasing di Cot Lheu Rheng dan Panteraja di Kabupetan Pidie.. 1990). dilakukan juga pengukuran salinitas tanah menggunakan alat electromagnetic conductivity meter (EM-38). Alat yang digunakan tersebut terdiri atas sebuah alat pemancar pada salah satu ujungnya dan penerima pada ujung yang lainnya. 1997). juga terkena dampak tsunami (Rachman et al. 1986. tetapi juga menyebabkan tercemarnya lahan pertanian yang disebabkan oleh intrusi air laut dan terendapnya lumpur berkadar garam tinggi di atas permukaan tanah.000 ton per musim tanam.. Kadar garam yang tinggi dalam larutan tanah akan menyebabkan osmotik potensial larutan dalam tanah berkurang. sistem sanitasi dan lainnya. Alat ini dapat mengukur DHL tanah sampai pada kedalaman 1. 1998). dan adanya bahaya potensial keracunan natrium dan ion lainnya (FAO.5 meter tanpa harus mengebor tanah atau membongkar tanah (McNeil. Dari alat pemancar tersebut akan dipancarkan medan magnet ke dalam tanah yang kemudian mendorong terjadinya aliran listrik lemah di dalam tanah. BAHAN DAN METODE Pengambilan contoh tanah dan lumpur tsunami dilakukan pada 1. Aceh Jaya. Khusus untuk contoh lumpur. pengambilan contoh hanya dilakukan satu kali yaitu pada satu bulan setelah tsunami. Konsentrasi natrium yang tinggi dalam tanah yang ditunjukkan oleh nilai ESP (exchangeable sodium percentage) >15 mengakibatkan rusaknya struktur tanah yang selanjutnya akan menghambat perkembangan akar tanaman (Ben-Hur et al. maka air dari dalam sel tanaman bergerak keluar. dan Peuneung di Banda Aceh.000 ha.

kalium (K). dan Na di dua lokasi transek menunjukkan kecenderungan meningkat dari daerah pantai ke arah daratan. 2. Mg). bikarbonat dan klorin (anion). 3. C organik. EC (electrical conductivity).5 km untuk transek Darussalam dan 1. 3. Apabila air laut ini menggenangi lahan pertanian akan menyebabkan meningkatnya salinitas tanah. Bogor untuk penetapan tekstur. magnesium (Mg). Franzen. dan 4.ACHMAD RACHMAN ET AL.5. Contoh tanah untuk penetapan DHL menggunakan campuran tanah dan air 1 banding 5. 2003.5 km dari pantai kemudian mengalami penurunan. Nilai ESP (exchangeable sodium percentage). HASIL DAN PEMBAHASAN Sifat-sifat lumpur tsunami dan tanah satu bulan setelah tsunami Air laut mengandung garam yang tinggi (>500 me l-1). Terdapat juga peningkatan ECe pada lapisan di bawah permukaan tanah (10-20 cm) namun lebih rendah dibandingkan dengan di permukaan tanah. dan mencemari air tanah (Cardon et al. 2005). dan Na (natrium) untuk transek Darussalam disajikan pada Gambar 1. Pada umumnya tingkat salinitas melebihi batas kritis untuk pertumbuhan tanaman. natrium (Na). terutama dalam bentuk NaCl. kombinasi basa-basa kation (K. dan kapasitas tukar kation (KTK) mengikuti prosedur analisis kimia tanah di lab. daya hantar listrik (DHL). Sementara di Darussalam. kalsium (Ca). Pada masing-masing transek ditetapkan lima titik pengambilan contoh berdasarkan jarak dari pantai.5 untuk kandungan liat 25-30%..5. Faktor koreksi untuk tanah dengan kandungan liat <10% adalah 17. tetapi juga mengendapkan lumpur 29 . Garam pada lumpur ini dapat terinfiltrasi ke dalam tanah dan berpotensi untuk meningkatkan salinitas tanah di daerah perakaran. dan 7 untuk kandungan liat >45% (Hughes. 4. merusak struktur tanah. pH. 2. Nilai tertinggi dijumpai pada jarak sekitar 3. Hasil pembacaan (ECw) kemudian dikonversi ke ECe dengan mengalikan faktor koreksi sesuai dengan tekstur tanahnya. 1999). sedangkan untuk transek Lhok Nga disajikan pada Gambar 2. Balai Penelitian Tanah (Sulaeman et al. Tingkat salinitas (ECe). tanah yang terkena tsunami dapat digolongkan sebagai tanah saline-sodic yang ditandai oleh nilai ESP tanah > 15% dengan pH <8. 8. 4. Bencana tsunami di Aceh tidak hanya menggenangi lahan pertanian dengan air laut.97 dS m-1 pada tanah yang terkena tsunami. berkadar garam tinggi. Ca.5. Faktor utama penyebab meningkatnya nilai ESP adalah terakumulasinya ion Na yang terbawa lumpur tsunami dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>1 cmolc kg-1) di permukaan tanah. 9.6 untuk kandungan liat 30-45%. sulfat. Berdasarkan hasil analisis tanah. 2003). Pengambilan contoh lumpur tsunami dan tanah dilakukan pada tanggal 26-29 Januari 2005 atau sebulan setelah terjadinya tsunami di Aceh. pengamatan dilakukan umumnya di lahan bukan sawah sehingga lumpur tsunami cenderung cepat terbilas air hujan. dan Na dari contoh tanah yang diambil di transek Lhok Nga umumnya lebih tinggi dibandingkan dengan tanah di transek Darussalam. khususnya untuk tanah di lapisan permukaan (0-10 cm).8 untuk kandungan liat 1025%. Nilai ECe. Terdapat kecenderungan terjadinya peningkatan ECe dari <1 dS m-1 pada tanah yang tidak terkena tsunami menjadi setinggi 40. Selain contoh lumpur diambil juga contoh tanah pada dua lapisan (0-10 cm dan 10-20 cm) tepat di bawah endapan lumpur. Lokasi pengambilan contoh tanah di Lhok Nga umumnya tanah sawah sehingga cenderung menahan air laut dan lumpur dalam petakan sehingga memperbesar potensi peningkatan salinitas tanah. nilai ESP.5. Contoh tanah dan lumpur tsunami dianalisis di laboratorium kimia tanah Balai Penelitian Tanah. ESP.. 13. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Contoh lumpur tsunami yang mengendap setelah kejadian tsunami diambil di dua transek berbeda yaitu di Darussalam dan Lhok Nga. masing-masing 1. dan 5 km untuk transek Lhok Nga.

00 1.00 5. (km) Jarak dari pantai km Gambar 1. (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. and Na values of soil collected from the Darussalam transect at two depths. Nilai EC.00 2.00 60 40 Na.50 60 40 Na.50 3.00 3.00 2.50 0 1.50 3.00 2.50 3.50 4.50 4. ESP.00 4.00 2. % Na (%) EC tanah (dS m-1) EC tanah.EC tanah (dS m-1) EC tanah.50 4.00 3.50 4.50 4. January 2005 . and Na values of soil collected from the Lhok Nga transect at two depths. EC. km Gambar 2. % 25 20 15 10 5 0 1.00 2.50 4.00 1.00 4.50 4.00 4.50 2.00 5.00 3. Januari 2005 Figue 1.20 cm 10 5 20 0 1.50 3.00 4.20 cm 120 100 80 0 .00 5.50 3. (km) Jarak dari pantaikm Jarak dari pantai.50 3.10 cm 10 . dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Darussalam.00 4.10 cm 10 .00 5. ESP. (km) Jarak dari pantai (km) Jarak dari pantai.00 1.00 5.10 cm 15 10 .20 cm 10 5 20 0 1. dS/m ESP (%) ESP.00 2.20 cm 20 0 .00 4. Nilai EC.50 4.20 cm 120 100 80 0 .10 cm 15 10 .00 1.10 cm 10 .00 4. January 2005 45 40 35 30 0 .20 cm 20 0 . (km) Jarak dari pantai km Jarak dari pantai.50 3.00 2. EC. Januari 2005 Figure 2. ESP.50 3.50 2.00 2. dan Na pada dua kedalaman tanah pada transek Lhok Nga.50 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.00 4.00 1.00 1.00 Jarak dari pantai km Jarak dari pantai. ESP. % 25 20 15 10 5 0 1. 28/2008 Jarak dari pantai.50 4.00 4.00 0 1. dS/m ESP (%) ESP. % Na (%) 30 45 40 35 30 0 .50 2.10 cm 10 .50 3.00 2.00 5.

4). Endapan lumpur tsunami pada minggu keempat Januari 2005 di A) halaman BPTP dan B) Seubun Lhok Nga Figure 3. ECe. lumpur tsunami juga mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca. cekungan. dimana tanaman padi. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA Konsentrasi ion Na dalam tanah yang tinggi akan merusak struktur tanah.5±1.ACHMAD RACHMAN ET AL. selain oleh jeleknya sifat fisik tanah juga karena terbentuknya ion-ion beracun seperti Na+. dan K yang tinggi sampai sangat tinggi. kacangkacangan. Sifat-sifat tanah tujuh bulan setelah tsunami Periode kering selama beberapa bulan di Aceh Besar dan Banda Aceh. dan HCO3-. Makin tinggi kandungan Na tanah. dan Na lebih tinggi di permukaan tanah (top soil) dibandingkan dengan di bawah permukaan tanah (sub soil) (Tabel 2).1) sedangkan kadar kation dapat ditukar sedang sampai tinggi. Rata-rata (n=20) nilai pH. Sangat sedikit tanaman yang dapat tumbuh jika kondisi tersebut telah terjadi. dan tempat-tempat lain (Gambar 3). dan sayuran menunjukkan gejala pertumbuhan vegetatif yang terhambat atau pertumbuhan vegetatif bagus tetapi proses pengisian polong kurang sempurna. Reaksi tanah (pH) umumnya netral sampai agak alkalis (7. Menurut Emerson dan Bakker (1973). tanah mulai terdispersi pada kandungan Na tanah sekitar 5%. sumur-sumur. Makin jauh dari pantai endapan lumpur makin halus dengan kandungan liat tertinggi sekitar 43% dan terendah sekitar 8% (Tabel 1). Evaporasi yang tinggi akan membawa garam-garam dari dalam tanah ke permukaan tanah sehingga berpotensi mengganggu pertumbuhan tanaman. Mg. OH-. Partikel tanah yang telah terdispersi akan bergerak menyumbat pori-pori tanah menyebabkan tanah memadat dan suplai oksigen untuk pertumbuhan akar dan mikroba tanah menurun drastis. dan menurunkan ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman. kecuali K yang rendah sampai sedang (0. Ketebalan lumpur bervariasi dari <5 cm sampai sekitar 20 cm. Dengan demikian apabila konsentrasi Na dapat dikurangi melalui pencucian disertai dengan pemberian amelioran tanah seperti gypsum atau pupuk organik. mengganggu keseimbangan unsur hara. A B Paddy bunds Paddy bunds covered with mud covered with mud Gambar 3. Infiltrasi juga sangat terhambat menyebabkan sangat sedikit air yang masuk ke dalam tanah dan sebagian besar tergenang di permukaan dan menyebabkan terjadinya pelumpuran.4±0. lumpur tsunami berpotensi untuk memperbaiki kandungan C organik dan kation-kation tanah. Pengaruh tingginya salinitas tanah di daerah permukaan tanah (0-20 cm) dapat diamati di sejumlah daerah pada pertengahan tahun 2005. makin mudah tanah terdispersi. ESP. jagung. Selain mengandung garamgaram yang berpotensi meningkatkan salinitas tanah. kemungkinan akan menyebabkan bergeraknya garam ke lapisan permukaan tanah melalui proses evaporasi. Gelombang tsunami juga membawa lumpur dari dasar laut yang kemudian mengendap di lahan pertanian. Deposited tsunami sediments on the fourth week of January 2005 at A) BPTP station and B) Seubun Lhok Nga 31 . Pertumbuhan tanaman terhambat. kolam.

8) 0. Pencucian garam-garam dalam kurun waktu 9 dan 12 bulan setelah tsunami Chlorida (Cl-) adalah satu unsur utama pembentuk salinitas tanah diikuti oleh natrium (Na).2) 5.0) 5.8 (4.2) 22. and Aceh Barat at seven months after tsunami Anasir tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH H2 0 KCl Susunan kation Ca (cmolc kg-1) Mg (cmolc kg-1) K (cmolc kg-1) Na (cmolc kg-1) KTK (cmolc kg-1) ECe (dS m-1) ESP (%) SAR Aceh Besar Top soil Sub soil 67. Kalium berperan sangat penting dalam meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan.62 20.9 (24.23 59.0 (15.84 Tabel 2.1 (29.1 (2.6) 145 (275) 2.69 18.0 (1.7) 9.7 (4. dan kualitas bijinyapun kurang baik.1) 16.1) 7.8) 7.1) 34.4) 5. mudah rebah apalagi jika pemupukan N cukup tinggi.27 0.1) 5. Karakteristik kimia dan fisik endapan lumpur tsunami yang diambil dari lahan-lahan pertanian pada bulan Januari 2005 Table 1.8 7. memperkuat batang tanaman.4) 7.8) 23.0) 0.54 2.7 (0.0 (5. meskipun telah terjadi peningkatan pH tanah dari rata-rata 4. Pengkayaan Ca dan Na oleh tsunami pada tanahtanah bergambut di Aceh Barat dan Aceh Jaya belum dapat meningkatkan reaksi tanah mendekati netral.2 (9.4 (0.3 (5..5 (4.4) 0.6 (9.5) 16.8 (48.6 (1.2 (0.8 26.7) 5.1) 3.2 (3.9 (16. Selected soil chemical and physical properties of soil collected from Aceh Besar.25 15 .8 di Aceh Jaya dan 5. 24.2) 7.2 (19.3 (28.2 (0.0) 22.2) 2.2 42.5) 13.0) 4.3 (18.8) 5.1) 18.57 26.6 (203) 2.85 0.0) 4.3 (4.46 13.2 (8.5 (1.8) 16.0 (3.2) 14.3) Aceh Jaya Top soil Sub soil 59.0 (4.2) 2.3) 5.82 18.93 8.3 (10.82 Nilai tukar kation Ca Mg K Na …………. Sifat-sifat tanah di Aceh Besar.6 (31.3 (10.7 (17. % ….3 47.5 (12.6) 19.1 (2.5 (5.9 (24. Dengan demikian.2 (1.3 (0. Aceh Jaya.8 (1.5) 11.7) 0.9) 31.6) Aceh Barat Top soil Sub soil 49..5 (0.….7 (11.5 (10.6) 27.2 41.1) 2.3 (31. Selected chemical and physical characteristics of deposited sediments of marine origin collected from affected agricultural field in January 2005 Desa Lamcot Keuneuneu Lampineung Tanjung Miuree Kandungan Pasir Liat . rata-rata di atas 5.1) 6.2) 68.0) 4. Mg dan Na tinggi.8 (0. 28/2008 Tabel 1.9 Tebal lumpur cm 10 .3) 1.8) 4. dan Aceh Barat tujuh bulan setelah tsunami Table 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. sedangkan K rendah untuk kedua kabupaten.4) 7. 1990) menjadi 5.0 (24.6) 24.0 (5.86 84.2) 14.3 (17.3) 1.11 2. dan meningkatkan kualitas buah.6 (1.0) 15. Cl bersifat sangat larut dalam tanah dan hampir dapat diabaikan jumlahnya yang difiksasi oleh partikel liat.86 19.3) 41.0 (1.57 10.1 (8.8 (7. cmolc kg-1 ………….3 (0.11 24.3) 56.3) 23.9) 15.5 dS m-1.3 (12.1) 7.3) 5.5) 0.4) 16.3 (4.8 12.6) 6..4 (0.3 (31.22 2.4) 43.9) 8. Pada kondisi dimana terdapat lapisan . Aceh Jaya.3) 8.7 (19.5) 21.85 56.19 80.6) 0. Oleh karena itu Cl sangat mudah tercuci ke dalam tanah pada kondisi dimana cukup air dan struktur tanah mendukung terjadinya proses pencucian.87 18.36 13.5 (21.6 (9.5 (91.3 42.1 (1.5) 7.9 (11.2 24.6) Salinitas tanah di Aceh Jaya dan Aceh Barat yang diamati pada bulan Juli dan Agustus 2005 umumnya masih cukup tinggi.25 <5 <10 ECe dS m-1 60. Ca dapat ditukar tinggi di Aceh Jaya.69 6.93 4. 52.72 2.95 19. rendah di Aceh Barat.97 2.1 (1.2 (12.8 (15.0 (17.3 (0.7) 0.5) 19.5 (4.9 (23.8 (0.8 6. Reaksi tanah umumnya masih masam.80 C % 2.4) 7.2 (12.11 38.9) 28.8) 31.8) 4.9 (8.2) 14.5 sebelum tsunami (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.0 (1.1 di Aceh Barat.20 15 .4) 4.9 (34.9 (17.8) 7.8) 25. 32 tanah-tanah yang kahat terhadap K menyebabkan tanaman rentan terhadap kekeringan.80 0.2 (0.8) 14.

000 2000 3.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 40 Kedalaman tanah (cm) 20 40 60 80 100 Sept 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Nov 05 Okt 07 100 C O 0 1.000 4000 4. Pidie.000 8000 10000 B 0 O 0 500 500 Cl (ppm ) 1000 1. Pidie. Pidie. C. dan Peuneung Aceh Besar. C) Lhok Nga. Pidie.000 6000 8. Banda Aceh 33 . Umumnya konsentrasi Cl meningkat pada kedalaman 40 cm kecuali di Cot Lheu Rheng (A) yang mengalami penurunan mengikuti kedalaman tanah. B) Panteraja. dan Oktober 2007. Banda Aceh Figure 4. Panteraja Pidie. Aceh Besar. Changes in Cl values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. dan D) Peuneung.ACHMAD RACHMAN ET AL. and D) Peuneung. Lhok Nga.000 3000 3.500 2000 2. maka Cl akan terakumulasi di lapisan tersebut. baik secara horizontal maupun vertikal.000 4000 D 0 O 0 1000 1. dan D memperlihatkan distribusi Cl pada berbagai kedalaman di Cot Lheu Rheng.000 2000 Cl (ppm ) 4.000 1000 Cl (ppm) 2. B) Panteraja. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA tanah yang hantaran hidrauliknya sangat rendah. Aceh Besar.400%) dari bulan September. dilakukan pengambilan contoh tanah pada berbagai kedalaman tanah di beberapa tempat.000 Cl (ppm ) 2000 2. Gambar 4 A. C) Lhok Nga.000 10.000 1500 1. Secara umum nampak bahwa konsentrasi Cl di permukaan tanah telah mengalami penurunan yang sangat nyata (sekitar 300-1. Penurunan ini diduga disebabkan oleh tingginya curah hujan yang terjadi selama periode September s/d November 2005 yang menyebabkan terjadinya pencucian.000 4000 6.000 0 Kedalaman tanah (cm) 20 Kedalaman tanah (cm) 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 60 Sept 05 Nov 05 80 80 Okt 07 100 100 Gambar 4.000 3000 4. Kecenderungan yang sama juga terjadi terhadap paramater lainnya seperti Na (Gambar 5) dan ECe (Gambar 6). B. A O 0 2. Perubahan konsentrasi Cl pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. November 2005. Untuk melihat sejauh mana proses pencucian garamgaram.

Banda Aceh Figure 5. Pidie.72 Persamaan ini sejalan dengan padanan antara ECa dan ECe yang dikemukakan oleh Rhoades et al. (1989). Pidie. Pidie. Konsentrasi Na pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng.7 dS m-1 dikelompokkan ke dalam tanah yang salinitasnya tinggi. B) Panteraja. Tiga tindakan perlu dilakukan untuk mencegah kerusakan dan memulihkan kembali produktivitas lahan pertanian.94 r2 = 0. Pidie. STRATEGI REHABILITASI Pencegahan dan rehabilitasi lahan pertanian pasca tsunami diperlukan untuk mengembalikan produktivitas lahan pertanian di NAD. dan 3) tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani.26* ECa) – 0.7 tersebut ke dalam persamaan regresi maka 34 . Dengan memasukkan angka ECa=1. C) Lhok Nga. di daerah bekas tsunami. Aceh Besar. adalah: 1) tindakan pencegahan. B) Panteraja. C) Lhok Nga. and D) Peuneung. 2) tindakan rehabilitasi. dan D) Peuneung. khususnya sawah. Changes in Na values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng. Tanah yang bertekstur lempung dengan nilai ECa 1. Aceh Besar. Banda Aceh diperoleh nilai ECe = 8 dS m-1 yang termasuk dalam kelompok tanah dengan salinitas yang sama yaitu tinggi. Dengan persamaan regresi sebagai berikut: ECe = (5.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Pengukuran salinitas menggunakan EM38 Hasil pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkorelasi positif dengan hasil pengukuran dengan EM38 (Gambar 7). 28/2008 A 0 0 5 Na (cm ol+kg-1) (cmolc /kg) 10 15 20 B 0 0 2 Na (cm ol+/kg) (cmolc kg-1) 4 6 8 10 Kedalaman Tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 Sept 05 Nov 05 60 80 Sept 05 Nov 05 Okt 07 80 Okt 07 10 0 100 Na (cmol kg-1 Na (cm olc+/kg)) 0 2 4 6 8 10 C 0 D 0 0 2 Na (cmol /kg) Na (cmolc kg-1) 4 6 8 10 + Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 60 60 Sept 05 Nov 05 Okt 07 Sept 05 Nov 05 80 80 100 Okt 07 10 0 Gambar 5.

Banda Aceh nang secara permanen. baik yang berupa bangunan sipil teknis maupun secara vegetatif. Aceh Besar. karena lahan yang sebelum tsunami permukaannya lebih tinggi dari permukaan air laut. Pidie. setelah tsunami menjadi lebih rendah sehingga akan terge- 35 . Pidie. B) Panteraja. C) Lhok Nga. Penurunan kadar salinitas tanah dapat dilakukan Tindakan pencegahan Tindakan ini dilakukan untuk mencegah masuknya air laut ke lahan pertanian sewaktu terjadi pasang. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan membangun tanggul-tanggul. C) Lhok Nga. Pidie. Upaya reklamasi akan menjadi sangat siasia apabila lahan pertanian rentan terhadap genangan air laut pasang.ACHMAD RACHMAN ET AL. and D) Peuneung. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN DI NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA A 0 0 10 20 ECe (dS m-1)) ECe (dS/m B 60 70 80 0 0 10 ECe (dS/m ) ) ECe (dS m-1 20 30 40 30 40 50 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 40 Sept 05 60 Sept 05 60 Nov 05 80 Nov 05 80 Okt 07 Okt 07 100 100 ECe (dS/m ECe (dS m-1) 20 C 0 0 10 D 30 40 0 0 10 ECe (dS m-1) ECe (dS/m) 20 30 40 40 Kedalaman tanah (cm) Kedalaman tanah (cm) 20 20 40 60 Sept 05 Nov 05 60 Sept 05 Nov 05 80 Okt 07 80 Okt 07 100 100 Gambar 6. Tindakan rehabilitasi Tindakan rehabilitasi lahan pertanian yang terkena tsunami perlu dilakukan untuk menurunkan tingkat salinitas dan memperbaiki petakan. mengingat dibutuhkan investasi yang cukup besar untuk membangun tambak. B) Panteraja. Tindakan untuk mengembalikan fungsinya sebagai lahan pertanian akan sia-sia atau membutuhkan biaya dan teknologi yang mahal. Pidie. Untuk itu intervensi pemerintah berupa pemberian modal awal ke petani tambak akan sangat penting. dan D) Peuneung. Aceh Besar. Banda Aceh Figure 6. Lahan pertanian yang sudah tergenangi air laut secara permanen perlu dialihkan untuk penggunaan lain. Nilai ECe pada berbagai kedalaman tanah di A) Cot Lheu Rheng. Changes in ECe values over time by soil depth at A) Cot Lheu Rheng.

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

12 10 ECe,(dS m-1) ECe dS/m 8 6 4 2 0 0 1 1 2
-1

ECe = 5.26(ECa) - 0.94 ECe = 5,26(ECa) – 0,94 r2 = 0,72 2 r = 0.72

menghindari risiko tersebut, pada lahan pertanian yang telah direklamasi perlu dilakukan tindakan rehabilitasi. Tindakan rehabilitasi ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Tindakan rehabilitasi ini dapat dilakukan antara lain dengan: 1) pemberian bahan pembenah tanah seperti pupuk kandang, pupuk organik, gypsum, abu sekam, dan pemulsaan. Pemberian bahan pembenah tanah yang tersedia di lokasi seperti pupuk kandang, sekam padi, dan pupuk organik lainnya sebanyak 5-10 t ha-1 sangat penting dilakukan untuk memperbaiki struktur tanah, keseimbangan hara, kemampuan menyimpan air (water holding capacity) dan mengurangi penguapan jika bahan-bahan tersebut disebar di permukaan tanah; 2) perbaikan permeabilitas (drainase internal) tanah melalui pengolahan tanah dalam dan perbaikan struktur tanah. Pengolahan tanah menggunakan bajak singkal sedalam 30 cm sangat dianjurkan untuk mengurangi rasio lumpur tsunami terhadap volume tanah; serta 3) penyesuaian pola tanam yaitu dengan menanam varietas-varietas tanaman yang toleran terhadap salinitas tanah yang tinggi. Beberapa jenis tanaman semusim yang banyak ditanam petani dan tumbuh baik adalah bawang merah, cabe, padi, kacang tanah, dan jagung. Tindakan untuk menumbuhkan motivasi petani Tindakan ketiga dan yang tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan kedua tindakan sebelumnya adalah menumbuhkan kembali motivasi petani untuk kembali ke lahan usahataninya. Rendahnya motivasi petani untuk bertani akan berakibat terbengkalainya program pembangunan pertanian yang telah dicanangkan oleh pemerintah, karena ujung tombak dari sistem produksi pertanian adalah petani itu sendiri. Beberapa kegagalan panen yang dialami petani akibat kurang siapnya lahan pertanian untuk menopang pertumbuhan tanaman dikhawatirkan akan semakin melemahkan motivasi petani. Yang perlu segera dilakukan adalah menyadarkan petani bahwa kondisi lahan mereka sudah berbeda dibandingkan dengan sebelum tsunami,

2

3

ECa, dS/m ECa (dS m )

Gambar 7. Korelasi antara salinitas tanah yang diukur menggunakan EM38 (ECa) dengan pengukuran di laboratorium (ECe) Figure 7. Relationship between ECa as measured in the field using an EM38 meter and ECe as measured on soil samples in the laboratory

dengan cara membilas lahan beberapa kali sehingga garamnya terbuang melalui aliran air permukaan. Cara ini dapat sangat efektif menurunkan salinitas tanah jika tersedia air tawar, saluran irigasi dan drainase yang memadai. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membuang garam-garam dari lahan pertanian, sehingga memungkinkan ditanami kembali dengan kacang tanah dan tanaman palawija lain. Selain itu, pembangunan kembali pematangpematang sawah yang rusak diterjang tsunami perlu segera dilaksanakan. Pematang tersebut sebaiknya lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum tsunami untuk menampung lebih banyak air hujan berkadar garam rendah, sehingga dapat lebih efektif menurunkan kadar garam tanah. Pencucian garam ke lapisan tanah lebih dalam sehingga menjauhi zona perakaran dapat dilakukan terutama pada daerah yang permeabilitas tanahnya cukup baik, air tanahnya dalam (>2 m), dan curah hujannya sedang sampai tinggi. Teknik pencucian ini dapat efektif dilakukan selama musim penghujan, namun berisiko meningkatkan kadar salinitas tanah di daerah perakaran selama musim kemarau akibat tingginya penguapan dari pori-pori tanah. Untuk

36

ACHMAD RACHMAN ET AL. : DAMPAK TSUNAMI TERHADAP SIFAT-SIFAT TANAH PERTANIAN

DI

NAD DAN STRATEGI REHABILITASINYA

karena itu cara bercocok tanam, penggunaan varietas, dan pupuk perlu disesuaikan. Kegiatan penyuluhan, baik dalam bentuk tatap muka, penyebaran brosur, dan pembuatan demplot perlu dilakukan. Diharapkan dengan kegiatan-kegiatan penyuluhan tersebut, petani bergairah kembali bekerja di lahan usahataninya.

drainase horizontal maupun vertikal, relatif kurang lancar, salinitas tanah umumnya masih menjadi kendala produksi pertanian.

UCAPAN TERIMA KASIH Penulis menyampaikan terima kasih kepada ACIAR (Australian Centre for International Agricultural Research) dan kepada staf BPTP NAD yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat berjalan.

KESIMPULAN 1. Genangan air laut dan endapan lumpur tsunami telah meningkatkan nilai ECe permukaan tanah, yang diukur sebulan setelah tsunami, menjadi 40,97 dS m-1. Peningkatan ECe juga terjadi pada tanah lapisan bawah (10-20 cm) meskipun masih lebih rendah dibandingkan dengan tanah permukaan (0-10 cm). 2. Peningkatan salinitas tanah akibat tsunami dipengaruhi oleh penggunaan lahan. Transek Lhok Nga yang umumnya digunakan sebagai lahan persawahan menunjukkan salinitas tanah yang lebih tinggi dibandingkan dengan transek Darussalam yang umumnya digunakan untuk pertanian lahan kering. Salinitas tanah juga dipengaruhi oleh jarak lokasi pengamatan dari pantai. Makin jauh dari pantai, salinitas tanah cenderung makin tinggi. 3. Lumpur tsunami yang mengandung C organik dan kation-kation seperti Ca, Mg, dan K yang relatif tinggi, disamping garam-garam terlarut, selain berpotensi untuk meningkatkan KTK tanah juga berpotensi mengganggu keseimbangan hara dalam tanah. Gejala pengisian biji yang tidak sempurna pada kacang tanah dan padi dijumpai merata di daerah tsunami meskipun pertumbuhan vegetatif tanaman sangat baik. 4. Pengukuran salinitas tanah di laboratorium berkolerasi positif (r2 = 0,72) dengan pengukuran salinitas tanah menggunakan EM38. 5. Salinitas tanah umumnya telah menurun sejalan dengan waktu akibat pencucian oleh hujan terutama pada tanah yang teksturnya berpasir. Namun demikian di beberapa tempat yang

DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. 2003. Statistik Indonesia. http://www.bps.go.id. Ben-Hur, M., M. Agassi, R. Keren, and J. Zhang. 1998. Compaction, aging and raindrop impact effect on hydraulic properties of saline and sodic Vertisols. Soil Scie. Soc. Am. J. 62:1377-1383. Cardon, G.E., J.G. Davis, T.A. Bauder, and R.M. Waskom. 2003. Managing Saline Soil. Colorado State University Cooperative Extension. 7/03. No. 0.503 www.ext.colostate.edu. Cornillon, P. and A. Palloix. 1997. Influence of sodium chloride on the growth and mineral nutrient of pepper cultivars. J. Plant Nutrients 20:1085-1094. Emerson, W.W. and A.C. Bakker. 1973. The comparative effects of exchangeable calcium, magnesium and sodium on some physical properties of red-brown earth subsoils: 2. The spontaneous dispersion of aggregates in water. Aust. J. Soil Res. 11:151-157. FAO. 2005. Final Report for SPFS-Emergency Study on Rural Reconstruction Along the Eastern Coast of NAD Province. Government of the Republic of Indonesia, Ministry of Agriculture, Food and Agriculture Organization of the United Nations. Nippon Koei Co. Ltd. Franzen, D. 2003. Managing Saline Soils in North Dakota. North Dakota State University, Fargo, ND 58105, SF-1087 (revised), www. ag.ndsu.nodak.edu

37

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Gunes, A., A. Inal, and M. Alpaslan. 1996. Effect of salinity on stomatal resistance, proline, and mineral composition of pepper. J. Plant Nutr. 19:389-396. Hughes, J.D. 1999. SOILpak for southern irrigators. NSW Agriculture, Australia. McNeil, J.D. 1986. Genonics EM38 ground conductivity meter. Operating instruction and survey interpretation techniques. Technical Note TN-21, Geonics Ltd., Canada. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 1990. Buku Keterangan dan Peta Satuan Lahan dan Tanah lembar 0421, 0420, 0521, 0519, 0620, 0618, 0518. Puslittanak. Bogor. Rachman, A., Wahyunto, and F. Agus. 2005. Integrated management for sustainable use

of tsunami-affected land in Indonesia. Paper presented at the Mid-Term Workshop on Sustainable Use of Problem Soils in Rainfed Agriculture, Khon Khaen, 14-18 April 2005. Rhoades, J.D., N.A. Manteghi, P.J. Shouse, and W.J. Alves. 1989. Soil Electrical Conductivity and Soil Salinity: New Formulations and Calibrations. Soil Sci. Soc. Am. J. 53: 433-442. Slavich, P.G. 1990. Determining ECa depth profile from electromagnetic induction measurements. Aust. J. Soil Res. 28:443-452. Sulaeman, Suparto, dan Eviati. 2005. Petunjuk Teknis Analisis Kimia Tanah, Tanaman, Air, dan Pupuk. Balai Penelitian Tanah. Deptan.

38

while at vegetative phase was the lowest ranging from 0. Sawah berteras was about 1. 0.33 ± 0.715 to 5. Only during the puddling that the incoming sediment was lower than outgoing sediment. 1.10 ± 0.13 and 0. and from 7. sedangkan pada stadia generatif antara 1.20 and 13.25 to 13. 2002). Praktek Petani + Jerami.07 to 0. Perbaikan Teknologi.521 kg ha-1 musim-1. dan Perbaikan Teknologi + Jerami. These results demonstrate that terraced paddy field system is not only place for producing rice. 2001. The discharge of irrigation water during puddling was the greatest varying between 2.715 sampai 5. antar perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Nitrogen.15 to 0. The treatments included Farmer Practices. Pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.54 ± 0.21 ± 0.15 l detik-1.78 ± 0.25 .06 l second-1.0.13 . industri dan rumah tangga. 2007).60 ± 0. Seiring dengan meningkatnya (1) permintaan akan beras akibat bertambahnya jumlah penduduk.15 dan 0.38 ± 0. varying between 7. 1996.09 l second-1.13 ± 0.13 ± 0. The total amount of deposited sediment varied between 647 and 1.60 ± 0.42 kg K ha-1 musim-1.52 l second-1. dan (4) pencemaran air. the incoming dissolved nutrient (nitrogen. Sebaliknya.13.55 l detik-1. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil. Nitrogen. Kabupaten Semarang pada Musim Hujan 2003-2004.20 kg P.28 to 1. debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar mulai 0.589 kg ha-1 musim-1 dari total sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi antara 2. Fosfor.55 ± 1. Perlakuan yang diuji.Mobilitas Sedimen dan Hara pada Sistem Sawah Berteras Dengan Irigasi Tradisional Sediment and Nutrient Mobility in Terraced Paddy Fields under Traditional Irrigation System SUKRISTIYONUBOWO1 ABSTRAK Mobilitas sedimen dan hara pada sistem sawah berteras dengan irigasi tradisional telah diteliti di Desa Keji.34 l detik-1.32 ± 0.20 .21 ± 0. Terraced paddy field PENDAHULUAN Di Indonesia. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi sedimen dan hara tanaman yang terbawa masuk melalui air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan tanaman padi dan mempelajari mobilitas sedimen dan hara tanaman pada musim hujan.15 l second-1. Oleh sebab itu. Phosphorus.34 l second-1. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang tertinggi. Keywords : Discharge. the discharge of suspended sediment during puddling varied between 0. while during the vegetative phase was the lowest ranging from 0.33 ± 0. fosfor dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi tersimpan di persawahan.06 dan 1.89 ± 0.10 ± 0. Sebaliknya.23 sampai 3.06 l detik-1. (2) kebutuhan lahan untuk perumahan. Furthermore. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. yaitu antara 0. The aims were to evaluate the incoming and outgoing sediment and nutrient during rice growth cycle and to study the mobility of sediment and nutrient in the wet season. and Improved Technology + Rice Straw. yang bervariasi antara 7. both for sediment and nutrient deposited.38 ± 0. the Semarang District during the Wet Season 20032004.28 dan 1.. Hasil penelitian ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras.521 kg ha-1 season-1.23 and 3.42 kg K ha-1 season-1. Bogor ABSTRACT Sediment and nutrient mobility in terraced paddy fields under traditional irrigation system have been investigated in Keji Village.62 kg N. Sediment. Farmer Practices + Rice Straw.06 to 1. Banyaknya sedimen yang tersimpan adalah antara 647 sampai 1.52 l detik-1. Selanjutnya.55 ± 1. kawasan industri dan fasilitas jalan. Bouman and Tuong. meliputi Praktek Petani.09 l detik-1. hara terlarut (nitrogen. Kalium. menyebabkan luas lahan sawah beririgasi yang tersedia untuk penanaman padi menjadi semakin menciut dan keberadaan air untuk kepentingan irigasi menjadi semakin langka yang pada akhirnya menurunkan produksi padi (Baghat et al. There were no significantly different among treatments. dan bervariasi mulai 2.20 sampai 1.31 ± 0. In contrast. but also providing an environmental services.589 kg ha-1 season-1 from the total incoming sediment of 2.55 l second-1. (3) kompetisi kebutuhan air antara sektor pertanian.54 ± 0.13. baik untuk jumlah sedimen maupun hara yang tersimpan. Improved Technology.31 ± 0. Sedimen. At the generative stage ISSN 1410 – 7244 39 . dan pada stadia generatif antara 1. Potassium. namun juga sebagai sumber pendapatan dan penyedia lapangan pekerjaan.32 ± 0. selain sebagai tempat memproduksi beras Kata kunci : Debit. Hanya pada saat pelumpuran sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen. 0. phosphorus and potassium) was trapped in the paddy field areas. sistem sawah berteras perlu mendapatkan perhatian yang lebih baik guna membantu pemenuhan target tambahan produksi dua juta ton per tahun dan menjamin ketahanan beras nasional (Anonim. BPS.62 kg N.07 dan 0. beras tidak hanya merupakan bahan makanan utama.78 ± 0.20 and 1. yaitu antara 0. dan 7. At generative stage was about 1. like nutrient and sediment conserving. Secara statistik.89 ± 0.20 kg P.

1998. Sanchez. Kesimpulan yang sama dikemukakan Alberts et al.14-1.. Kissel et al. (1978) bahwa N dan P terlarut yang hilang dari lahan pertanian berkisar 2% dari jumlah pupuk yang diberikan dalam setahun dan sistem teras sangat nyata melindungi keberadaan hara tanaman. 2000. sebaliknya sejumlah kalium dideposit pada lahan sawah. 2002. 1977. dan Jepang dikemukakan bahwa produktivitas air (water productivity) pada penanaman padi sawah berkisar antara 0. (1998) menyimpulkan bahwa N dan P yang hilang melalui runoff tergolong kecil. air (water erosion). dan cara pengelolaan lahan dan tanaman (Lal. 1986. .. Lal et al. 2007). Dari beberapa hasil penelitian yang dilakukan di India... dan perpindahan masa tanah (mass movement) yang dapat menimbulkan masalah lingkungan dan pertanian. Berkaitan dengan iklim. Produktivitas air yang lebih baik dilaporkan pada sawah Vitric Andosol di Jepang yaitu sekitar 1. Adachi. 1998. 2002.. 1971.. 2000. Phomassack et al. sehingga memerlukan penelitian lebih lanjut (Uexkull. 2004). Sukristiyonubowo et al. 2003. Irigasi tradisional pada sawah berteras umumnya dilakukan dengan membuka dan menutup saluran air masuk dan saluran air keluar yang dibangun secara sederhana oleh petani. Tabal et al. penelitian mengenai mobilitas sedimen dan hara tanaman pada sawah termasuk sistem sawah berteras masih jarang dilakukan. Fenomena ini sangat menarik dan perlu dipelajari lebih lanjut dalam hubungannya dengan kondisi di lahan (on-site impacts) dan di luar lahan (off-site impacts). Visser et al. sifat kimia tanah. Filipina.. intensitas. Telah banyak diteliti dan dipublikasikan bahwa penanaman padi di lahan basah banyak memerlukan air dan paling tidak efisien dalam menggunakan air 40 dibandingkan dengan tanaman biji-bijian lainnya. 1994. tipe penggunaan lahan. Cara ini memungkinkan sedimen dan unsur hara terbawa masuk dan terangkut keluar lahan sawah melalui pergerakan air tersebut. 2003. Pada penanaman padi sawah (wetland rice cultivation). 2003. Bouman and Tuong. Kukal and Sidhu. 1973. pengolahan tanah (tillage erosion). Selanjutnya.. pertumbuhan dan hasil padi telah banyak dibahas dan dipublikasikan (Ghildyal. Bhuiyan et al. air diberikan mulai dari fase penjenuhan tanah (land soaking) sampai dengan akhir fase pertumbuhan generatif (Anonim. kecepatan infiltrasi. Agus dan Sukristiyonubowo. 2004). walaupun pemupukan diberikan secara sebar dan pengolahan tanah dilakukan secara atas bawah (uphill and downhill). Sumber air irigasi berasal dari mata air yang ada di kawasan atas atau air hujan yang mengalir melalui kanal-kanal alami. dan kondisi kesuburan tanah berpengaruh nyata terhadap konsentrasi NH4N dan NO3-N pada runoff. Aksoy and Kavvas. 2006. 2001.. dan waktu terjadinya hujan adalah yang paling dominan mempengaruhi jumlah kandungan dan jenis bahan-bahan kimia termasuk pupuk yang terkandung dalam aliran permukaan (surface run-off). Sukristiyonubowo... 1970. Schuman dan Burwell (1974) mencatat bahwa intensitas dan lamanya peristiwa hujan. 2007 dan 2008). 2003. topografi lahan. Kirchhof et al.52 g gabah kg-1 air (Anbumozhi et al. tanah. Hasil penelitian saat pelumpuran pada sistem sawah berteras menunjukkan bahwa sejumlah tanah dan unsur hara N dan P terangkut keluar. 1998. (1998) melaporkan bahwa jumlah. Sukristiyonubowo. 1998). (1976). Sukristiyonubowo. 1990. Penelitian mengenai hubungan antara pelumpuran dengan sifat fisik tanah. Cabangon and Tuong. 1971. 2005. Lal et al. Duque et al. Lal. 2003. Daniel et al. Toan et al. Naphade and Ghildyal.10 g kg-1 air (Bhuiyan.... 1992. Sharma and De Datta. 2005. Besarnya tanah yang hilang (soil loss) bervariasi antara 239-530 kg ha-1 pada musim hujan dan antara 154-270 kg ha-1 pada musim kemarau. kondisi kelembaban awal tanah. Sukristiyonubowo et al.. 1998. 2006. dan Douglas et al. Udawatta et al. 2007). Namun demikian. 2003 dan 2004. 28/2008 Sedimen dan unsur hara yang diperlukan tanaman dapat terangkut melalui angin (wind erosion).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Robichaud et al. Secara spesifik. Beberapa hasil penelitian terdahulu melaporkan bahwa banyaknya unsur hara yang terangkut dari lahan pertanian dipengaruhi oleh iklim.. IWMI. Agus et al. 2003. Cabangon et al.

Praktek Petani + Pengembalian Jerami (FP+RS). BAHAN DAN METODE Penelitian dilaksanakan pada MH 2003-2004 di Desa Keji. Teras bersifat datar. yaitu pada umur 21 and 35 hari setelah tanam (HST) masing-masing setengah takaran. Takaran tersebut sebagai kesepakatan bersama dengan petani. 41 . sedangkan takaran pemupukan pada perlakuan IT dan IT+RS adalah 100 kg urea. sedangkan TSP dan KCl diberikan semua pada umur 21 HST. dimana larutan sedimen mengalir menuju ke sungai disebut saluran air keluar utama (main outlet). Urea diberikan dua kali. Pengamatan meliputi pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen pada saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar utama (main outlet).140 mm (Sukristiyonubowo. Pengamatan dilakukan selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Masing-masing teras mempunyai satu saluran air masuk dan satu saluran air keluar. Perbaikan Teknologi (IT) dan Perbaikan Teknologi + Pengembalian Jerami (IT+RS). dengan cara mengalikannya dengan kadar lumpur atau konsentrasi hara. tersusun dari atas ke bawah menuju sungai. menggambarkan empat perlakuan dan tiga ulangan. Mobilitas sedimen dan hara didefinisikan sebagai pergerakan sedimen dan hara yang terbawa masuk oleh air irigasi ke areal persawahan dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen menuju sungai. Pelumpuran dilakukan antara Desember 2003 dan Januari 2004. 2007). Desa Keji terletak pada ketinggian antara 390-510 m dpl dengan rata-rata curah hujan tahunan 3. Dua belas sawah berteras. Analisis statistik hanya ditekankan pada penghitungan nilai rerata (mean) dan standar deviasi (standard deviation). untuk menghitung total volume air irigasi dan larutan sedimen. Perlakuan diatur mengikuti pola Rancangan Acak Kelompok. 100 kg TSP. Data ini diperlukan untuk menduga sedimen dan hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar. mengingat di desa ini jerami merupakan sumber pakan utama untuk ternak sapi. Penanaman dilakukan dengan cara pindahan (transplanting) yang dilakukan pada bulan Januari 2004. Pengamatan dilakukan pada perlakuan Praktek Petani (FP). Karakteristik selengkapnya dari masing-masing lahan sawah disajikan pada Tabel 1. dimana masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Pada perlakuan FP.58 kg K ha-1 pada musim hujan dan 0. Lamanya waktu bukatutup saluran air masuk utama dan air keluar utama selama pengairan berlangsung juga dicatat. Tulisan ini membahas mobilitas sedimen dan hara selama pertumbuhan tanaman padi pada musim hujan 2003-2004 (MH 2003-2004). Tindak agronomis selengkapnya disajikan pada Tabel 2. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi sedimen dan hara yang masuk dan keluar selama siklus pertumbuhan padi dan mempelajari pergerakan sedimen dan hara tanaman selama siklus pertumbuhan padi pada MH 20032004. seta kadar lumpur dan konsentrasi hara terlarut. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan dilakukan analisis sidik ragam (Anova).5 for Windows. dan 100 kg KCl ha-1 musim-1. dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT) dengan selang kepercayaan 5% yang dihitung dengan menggunakan program SPSS versi 11. dimana air irigasi masuk ke lahan sawah disebut saluran air masuk utama (main inlet) dan saluran air keluar pada teras paling bawah. petani hanya memberi urea sebanyak 50 kg ha-1 musim-1. Kabupaten Semarang. Penanaman dilakukan pada saat bibit berumur 21 hari dengan jarak tanam 25 cm x 25 cm. 2007.44 kg K ha-1 pada musim kemarau (Sukristiyonubowo. Banyaknya jerami yang dikembalikan ke sawah adalah 33% ha-1 musim-1 dari total produksi jerami musim sebelumnya. 2008). dengan jumlah teras dan luasan yang berbeda digunakan dalam penelitian ini.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL sedangkan kalium yang tersimpan berkisar 0. berlainan ukuran. yaitu mulai dari pelumpuran sampai dengan akhir stadia generatif. Saluran air masuk pada teras paling atas. Banyaknya pupuk yang diberikan setiap teras dihitung berdasarkan takaran pupuk per hektar dikalikan dengan ratio antara jumlah tanaman per teras dengan jumlah tanaman per hektar.

.. P (PO4-).300 5. 42 .48 2.040 4. komunikasi pribadi.dan NH4+).500 5. the total amount of returned rice straw. dan K (K+) terlarut. Tanggal tanam..070 2. ketika petani mulai membuka saluran air masuk utama dan berakhir pada jam 17:30. 50 50 50 50 50 50 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 FP + RS IT IT + RS Dua buah botol plastik digunakan untuk setiap pengambilan contoh air irigasi dan larutan sedimen.64 2..500 3. Some characteristics of terraced paddy fields used for the research Perlakuan FP Petani P-1 P-2 P-3 P-4 P-5 P-6 P-7 P-8 P-9 P-10 P-11 P-12 Ulangan I II III I II III I II III I II III Jumlah teras 9 8 6 8 5 7 7 7 8 9 8 4 Luas m 5. dan kunjungan lapangan Tabel 2.15 2.. Satu contoh untuk keperluan pengukuran kadar lumpur dan satu botol contoh lainnya untuk penetapan N (NO3..26 2. Karakteristik lahan sawah yang digunakan untuk penelitian Table 1.15 Takaran Urea TSP KCl . dan takaran pemupukan untuk masing-masing perlakuan pada MH 2003-2004 Table 2. and rate of fertilizers for each treatment in the WS 2003-2004 Perlakuan FP Ulangan I II III I II III I II III I II III Tanggal tanam 11-01-2004 13-01-2004 10-01-2004 01-01-2004 31-12-2003 03-01-2004 04-01-2004 05-01-2004 06-01-2004 27-01-2004 28-01-2004 29-01-2004 Jerami yang dikembalikan t ha-1 2. pengamatan diakhiri pada jam 17:30.000 4. 28/2008 Tabel 1.400 2 Keterangan lain 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun 2-3 kali tanam per tahun FP + RS IT IT + RS Sumber data : Kantor Kelurahan.530 3. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dilakukan mulai jam 07:00..97 3...JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Untuk larutan sedimen dimulai ketika larutan sedimen yang berwarna coklat mengalir melalui saluran air keluar utama dan berakhir ketika warna larutan sedimen sama dengan warna air irigasi yang masuk ke areal sawah. Namun karena alasan keamanan dan hari sudah senja.240 1. Pada saat pelumpuran.680 904 2.. Date of planting. kg ha-1 musim-1 . pengembalian jerami.780 1.

Debit air irigasi pada saluran masuk utama diukur dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dan untuk debit larutan sedimen pada saluran keluar utama menggunakan metode buket (Bucket Method). P. hara yang terkandung dalam sedimen tidak dibahas. dan 16:00. dan 16:00. Debit air irigasi dengan menggunakan Floating Method with stopwatch dihitung berdasarkan formula sebagai berikut : Q = (L x W x H) x 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Interval pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan setiap 30 menit.000/t dimana. sedangkan kalium dengan flame photometer.000 adalah konversi dari m3 ke l Debit larutan sedimen (bucket dihitung dengan formula sebagai berikut : Q = 11/t dimana. Ember bervolume 11 liter digunakan untuk penetapan debit larutan sedimen dengan Bucket Method. Q L H t = Debit (l detik-1) = Panjang atau jarak (m) = Tinggi air (m) = Waktu (detik) W = Lebar (m) 1. Pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam dilakukan setiap hari. Unsur N. Bogor. Ammonium (N-NH4+). Pada stadia generatif. larutan sedimen dan pengukuran debitnya dikerjakan ketika petani membuka dan menutup saluran air masuk utama dan saluran air keluar untuk mengairi sawah (untuk mengganti air yang telah ada di sawah dan mempertahankan ketinggian air pada petakan sawah). Q t = Debit (l detik-1) = Waktu untuk mencapai 11 liter (detik) method) Sedimen yang masuk atau keluar dihitung berdasar rumus : (E) = (A x S)/1. Pengamatan juga dilakukan tiga kali sehari seperti halnya pada stadia vegetatif.000 43 . kadar lumpur. Data yang dikumpulkan meliputi debit. El-Swaify (1989) dan Hashyim et al. P dan K terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen. yang mengacu pada pengamatan kanal-kanal untuk kepentingan analisis hidrologis. dan K yang terkandung dalam sedimen diduga melalui kandungan N. fosfat (PO4-). dan K pada lapisan tanah atas (top soil) dengan total sedimen yang terbawa masuk dan terangkut keluar. Dalam makalah ini. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. Cara ini dilakukan karena sedimen yang terkumpul dari contoh larutan sedimen maupun dari air irigasi tidak mencukupi untuk keperluan analisis di laboratorium. pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan selama seminggu sebelum dan setelah pemupukan pertama diberikan. pengambilan contoh air irigasi. dan kalium (K+) menurut prosedur yang berlaku di Laboratorium Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Seperti pada pengamatan setelah pelumpuran sampai sebelum tanam. Pengambilan contoh dan pengukuran debit air irigasi dan larutan sedimen dilakukan tiga kali per hari. yaitu pada jam 08:00. Penetapan unsur hara yang terlarut (dissolved nutrient) dilakukan untuk nitrogen (NO3. yaitu jam 08:00. P. Nitrogen terlarut merupakan penjumlahan dari NNH4+ dan N-NO3-. 12:00. (1998) menyatakan jumlah unsur hara yang terangkut oleh erosi adalah hasil perkalian antara tanah yang hilang dengan konsentrasi hara pada tanah tersebut. 12:00.dan NH4+). Prosedur lebih rinci dapat dilihat pada Sukristiyonubowo (2007 dan 2008). dan konsentrasi N. nitrat (N-NO3-) dan fosfat (PO4-) ditetapkan dengan prosedur colorimeter. Pada stadia vegetatif. namun demikian dapat juga diduga melalui tanah yang hilang dengan kandungan hara pada lapisan top soil.

cara pengukuran dan penghitungan debit dengan bucket method dan floating method with stopwatch dapat dilihat dalam Yuqian (1989). mempermudah proses pelumpuran.55 l detik-1. debit air irigasi pada saat pelumpuran yang diukur pada saluran air masuk utama adalah yang paling besar jika dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi yang lain.60 ± 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. namun dapat meningkat hingga 650900 mm. Kecenderungan yang sama terjadi pula pada pengukuran debit larutan sedimen. sawah memerlukan air yang paling banyak. WMO (1994). Oleh karena itu. dan untuk meratakan permukaan lapisan olah yang telah selesai dibajak. De Datta (1981) dan Bhuiyan et al. dimana debit larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam menunjukkan nilai yang tertinggi. dengan cara memasukkan konsentrasi N.06 liter detik-1. pengairan terutama ditujukan untuk menjaga ketinggian air (ponding water layer) antara 3 dan 5 cm sesuai dengan ketinggian tanaman padi. Alasan penggunaaan metode pengukuran.38 ± 0. Hal ini menyiratkan bahwa debit air pada saat pengolahan tanah adalah yang terbesar. Penyebabnya berkaitan dengan debit air irigasi pada saat pelumpuran yang tertinggi. yaitu berkisar antara 0. Besarnya debit HASIL DAN PEMBAHASAN Mobilitas Sedimen selama Pertumbuhan dan Perkembangan Padi Debit dan kadar lumpur air irigasi dan larutan sedimen Hasil pengukuran debit dan konsentrasi sedimen air irigasi pada saluran air masuk utama (main inlet) dan larutan sedimen pada saluran air keluar utama (main outlet) selama pertumbuhan tanaman padi disajikan pada Tabel 3. Selanjutnya. P dan K sebagai ganti kadar lumpur. Bouman et al. Pada stadia vegetatif. 28/2008 dimana : E A S = Sedimen yang terbawa masuk atau keluar (kg) = Total air irigasi yang masuk atau larutan yang keluar (volume of runoff) (l) = Konsentrasi sedimen atau kadar lumpur (g l-1) 1. Besarnya debit air irigasi saat pelumpuran berkisar antara 2. dan Sukristiyonubowo (2007 dan 2008).000 adalah konversi dari g ke kg Rumus-rumus tersebut juga berlaku untuk menghitung hara yang masuk dan yang keluar. Meningkatnya debit air irigasi pada saat stadia generatif diduga kuat karena kebutuhan padi akan air meningkat dan untuk meningkatkan tinggi genangan air (ponding water layer) sekitar 7 cm (Sukristiyonubowo et al.55 ± 1. penanaman lebih besar dibandingkan pada saat stadia vegetatif dan sebanding dengan stadia generatif. (2005) melaporkan bahwa jumlah air yang digunakan untuk pengolahan sawah (mulai dari penjenuhan sampai pelumpuran) bervariasi antara 360-434 mm.54 ± 0.15 l detik-1. sehingga diperoleh permukaan area tanam yang rata agar pemindahan bibit (tanam) lebih mudah.. 2004). Akibatnya. Proses ini berlangsung sampai menjelang tanam. dan untuk menekan laju pertumbuhan gulma. air irigasi yang masuk melalui saluran air masuk utama (main inlet) diatur sekecil mungkin agar tidak merusak tanaman padi yang masih muda. (1994) melaporkan bahwa air yang diperlukan untuk pengolahan tanah berkisar antara 150-200 mm. Debit air irigasi pada stadia generatif berkisar antara 1. Hal ini dikarenakan pada saat pelumpuran debit kanal ditingkatkan dan petani membuka lebih lebar saluran air masuk utama dengan maksud untuk menjenuhkan lahan dengan air.23 sampai 3. Mereka menyatakan bahwa pada saat pengolahan tanah.28 sampai 1.15 sampai 0. kebutuhan tanaman padi akan air. Hampir separuh air yang dibutuhkan untuk menghasilkan padi dialokasikan untuk pengolahan tanah. Ini juga yang menjadi alasan bahwa debit air irigasi setelah pelumpuran sampai sebelum 44 . Kecenderungan hasil yang sama disimpulkan oleh para peneliti terdahulu.10 ± 0.33 ± 0. Secara umum. pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil.

36 ± 0.27 a IT + RS 2.150 + 565 a a + 1.313 0.07 a Jumlah sedimen FP FP + RS IT IT + RS 0.39 a IT 1.031 0.243 0.22 0.330 ± 0.27 0.89 1.19 0.35 ± 0.46 ± 0.521 a a a a a a a a 1.09 0.54 ± 0.021 0.015 a a a a a a a a + 963 a a + 1.273 0.223 0.015 0.783 1.14 0.015 0.207 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.025 0.090 0.51 a FP + RS 0.72 ± 1.229 2.11 0.78 0.10 liter detik-1.21 a Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS • Sebelum pemupukan FP 0.15 a IT + RS 0.30 0.243 0.28 ± 0.284 a .24 3.306 0.010 0.39 ± 0.13 a IT + RS 0.13 1. sediment concentration.21 0.280 0.237 0.021 0.19 a 0.28 ± ± ± ± ± ± ± ± -1 Larutan sedimen Konsentrasi sedimen g l-1 a a a a a a a a 3.10 + 686 a a + 1.12 0.20 0.017 0.021 0.068 3.207 0.267 0.11 a a a a a a a a a a a a 0.1.010 0.81 a a a a a a a a Sedimen kg ha-1 684 546 491 599 527 888 381 814 a a a a a a a a Pelumpuran FP 3.32 1. Penurunan debit ini mendemontrasikan bahwa ada penghambatan laju air yang dilakukan oleh sistem sawah berteras.177 0.025 0.45 ± 0.05 b 0.267 0.36 0.19 0.015 0. Rata-rata debit.53 a Sebelum tanam FP 1.28 a IT 1.55 a* FP + RS 2.21 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.270 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.267 0.31 1.79 ± 0.450 2.173 0. konsentrasi sedimen.015 0.093 2. Selain karena larutan sedimen mengandung kadar lumpur yang lebih tinggi.015 0.047 204 280 235 361 a a a a a a a a a a a a 0.420 ± 0.026 .31 ± 0.57 ± 0.17 1. Jika dibandingkan dengan debit air irigasi.237 0. dan sedimen yang terbawa air irigasi dan larutan sedimen selama pertumbuhan padi.35 0.21 a IT 0.220 0.287 0.20 0.54 ± 0.09 c 0.20 a FP + RS 1. ukuran teras dan luas lahannya.55 ±1.50 ± 0. and transported sediment by irrigation water measured at main inlet and suspended sediment measured at main outlet during rice growth in the WS 20032004 Perlakuan/ pengamatan Air irigasi Debit l detik -1 Kadar lumpur gl -1 Sedimen kg ha + + + + -1 Debit l detik 1.012 0.835 0.243 0.28 a IT 0.34 dan 1. penurunan ini mungkin juga berkaitan dengan jumlah teras.16 a • Setelah pemupukan FP 0.1.020 0. MH 2003-2004 Table 3.33 ± 0.220 0.237 0.17 0.247 0.12 a IT + RS 1.012 0.50 ± 0.283 0.307 0.13 1.60 ± 0.51 ± 0.20 0. debit larutan sedimen adalah lebih rendah.550 2.46 1.223 0.283 0.260 2.237 + + + + 3.030 0.25 0. Average discharge.23 a IT + RS 1.38 0.37 a FP + RS 0.06 1.932 *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% (+) = sedimen yang terbawa masuk.021 0.10 ± 0.870 a .237 + 655 a a + 1.38 ± 0. yang memungkinkan terjadinya pengendapan material yang dibawanya (yaitu sedimen dan hara tanaman).580 3.608 a 0.880 3.490 ± 0.946 5.15 1.180 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.021 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 3.51 0. (–) = sedimen yang terangkut keluar larutan sedimen saat pelumpuran dan sebelum tanam adalah 1.715 5.045 0.1.06 0.07 0.46 0.34 0.015 0.37 ± 0.010 a a a a a a a a a a a a 655 925 422 911 a a a a a a a a 0.84 ± 0.203 0.05 a 0.42 1.17 1.310 ± 0.303 ± ± ± ± 0.23 a IT 2. 45 .025 0.015 0.14 1.051 0.250 0.088 + + + + 2.170 0.015 0.06 a FP + RS 1.15 a Stadia generatif FP 1.774 a .280 0.150 4.11 0.021 0.52 0.

Pada saat pelumpuran. saat pelumpuran adalah yang paling tinggi. Struktur lumpur dengan tekstur halus (clay) yang terdispersi ini lebih mudah terbawa aliran air dari pada dalam bentuk agregat tanah. Sebaliknya. tanaman padi sudah mulai tumbuh dan berkembang sehingga dapat menahan benturan langsung air hujan ke permukaan tanah (splash erosion) dan ada kemungkinan pengaruh dari tinggi genangan air (sekitar 7 cm) dalam menahan splash erosin (Sukristiyonubowo et al. karena jumlah pengairan berlangsung paling lama (18 hari).870 kg ha-1. Hal ini disebabkan pada saat pelumpuran terjadi perubahan struktur tanah yang drastis dan signifikan. Adanya erosi tebing (stream bank erosion) diduga juga menambah besarnya kadar lumpur air irigasi. Akibatnya.19 sampai 0.13 g l-1. debit dan kadar lumpur air irigasi begitu juga larutan sedimen adalah yang terbesar. persawahan kawasan atas juga sedang berlangsung kegiatan pengolahan tanah. maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar areal sawah beragam. Besarnya sedimen yang terbawa masuk air irigasi saat pelumpuran berkisar antara +204 sampai +361 kg ha-1 dan yang terangkut keluar melalui larutan sedimen antara -491 sampai -684 kg ha-1.70 .49 ± 0.835 kg ha-1 dan dari -774 sampai -1. hanya pada saat pelumpuran menunjukkan neraca . Selama perioda pengukuran. Sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi melalui saluran air masuk utama dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen lewat saluran air keluar utama selama pertumbuhan padi musim hujan 20032004 disajikan pada Tabel 3. walaupun besarnya kadar lumpur lebih tergantung pada aktivitas yang terjadi di kawasan atas (upstream). kadar lumpur air irigasi pada saat pelumpuran adalah yang paling tinggi dibandingkan dengan pada stadia pertumbuhan padi lainnya.. Pola yang sama juga didapat pada pengukuran kadar lumpur larutan sedimen. Sebaliknya.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya. Besarnya kadar lumpur larutan sedimen saat pelumpuran berkisar antara 2. hampir mencapai 10 sampai 20 kali lebih besar dibandingkan dengan saat stadia pertumbuhan padi lainnya (Tabel 3).260 sampai +2. Larutan sedimen yang terbuang keluar dari sawah-sawah kawasan atas berperanan dalam meningkatkan kadar lumpur air irigasi yang masuk ke lahan sawah. Kadar lumpur larutan sedimen. 28/2008 Fenomena yang sama diamati pada kadar lumpur air irigasi.88 ± 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. yaitu dari bongkahan tanah menjadi struktur lumpur (puddled structure) akibat benturan langsung saat pencangkulan dan pelumpuran. pada stadia vegetatif yang mempunyai debit dan kadar lumpur terkecil. karena pelumpuran berlangsung hanya dalam waktu satu hari. yang diukur pada saluran air keluar utama. Data ini menjadi sangat penting untuk mengevaluasi variasi musiman (seasonal variation) agar diperoleh gambaran yang utuh tentang fungsi lain dari sistem sawah berteras terhadap lingkungan (Environmental services of terraced paddy field system). Namun. 2004).31 ± 0.09 g l-1. Besarnya sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen pada stadia vegetatif berkisar dari +1. Mengacu pada pergerakan sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. tentunya faktor luar yang dominan 46 berpengaruh terhadap besar kecilnya debit dan kadar lumpur air irigasi berikut larutan sedimen adalah curah hujan. pada pengukuran stadia lainnya tidak terjadi gangguan sama sekali pada struktur tanahnya. selain adanya kontribusi dari erosi tebing kanal (stream bank erosion). maka sedimen yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar lahan sawah adalah yang paling besar. Berhubung debit dan kadar lumpur selama pertumbuhan padi bervariasi.42 sampai 3. maka sedimen yang terbawa masuk maupun yang terangkut keluar areal sawah menjadi lebih kecil jika dibandingkan dengan stadia pertumbuhan lainnya (Gambar 1). Berhubung pengukuran dilakukan pada musim hujan. Besar kadar lumpur air irigasi saat pelumpuran adalah berkisar antara 0. lebih tinggi 2.58 ± 1. Selain itu.3.

250 1000 1. Dari pembahasan ini dapat ditarik dilaporkan Sukristiyonubowo (2008). Hal ini mengindikasikan bahwa pada saat pelumpuran. yaitu dalam mengurangi efek negatif kawasan bawah (reducing negative impact of downstream) yang berupa sedimentasi/ pendangkalan waduk.000 1000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 -750 -750 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Waktu pengamatan Mobilitas sedimen pada perlakuan IT. Sedimen yang terdeposisi (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) dan yang hilang (sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari yang terangkut keluar oleh larutan sedimen) pada sistem sawah berteras selama pertumbuhan padi. Data ini juga menunjukkan bahwa ada fungsi lain (external services) dari sistem sawah berteras yang diberikan terhadap lingkungan. vegetatif dan generatif) deposisi berlangsung lebih besar dibandingkan dengan erosi.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Mobilitas sedimen pada perlakuan FP. Ini berarti bahwa sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih besar dari pada yang terangkut 47 .000 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan FP + RS. sehingga terjadi penambahan sedimen pada lahan sawah. MH 2003-2004 Figure 1.000 750 750 500 500 250 250 0 Pelumpuran -250 -250 -500 -500 Sebelum tanam Vegetatif Generatif -250 -250 Waktu pengamatan Sebelum tanam Vegetatif Generatif Waktu pengamatan Gambar 1. erosi (tillage rosion) lebih besar dari deposisi (deposition rate). MH 2003-2004 1250 1. penurunan kwalitas air. Sebaliknya.000 750 750 500 500 250 250 0 0 Pelumpuran Mobilitas sedimen pada perlakuan IT+RS. Banyaknya sedimen yang terdeposisi selama siklus hidup tanaman padi berkisar antara 647 sampai 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1.250 Sedimen (kg ha -1 musim -1) 1000 1. Banyaknya antara 239 Kecenderungan tanah yang yang kg sama tererosi ha-1 berkisar musim-1. MH 2003-2004 1250 1.589 kg ha-1 musim-1. Deposited sediment (incoming sediment was higher than outgoing sediment) and removed sediment (incoming sediment was lower than outgoing sediment) at terraced paddy fields system during rice growth in the WS 2003-2004 yang negatif (Gambar 1). oleh sampai 480 keluar. dan lain sebagainya. pada stadia lainnya (tanam. MH 2003-2004 1250 1. MH 2003-2004 1250 1.

Oleh sebab itu.589 t ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. Peristiwa ini membuktikan juga bahwa pupuk N yang diberikan di sawah (on site).86 ± 0. mulai dari saat pelumpuran sampai dengan akhir stadia pertumbuhan generatif. bervariasi antara 0.6.22 mg kg-1 dan NH4+ antara 1.06 sampai 0. Diantara hara yang terlarut. sangat menarik untuk mengevaluasi P yang terkandung dalam sedimen. yaitu N03.15 ± 0. Seperti halnya pada air irigasi. Mobilitas hara tanaman selama pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi Seperti halnya sedimen. Besarnya konsentrasi nitrat (N03-) terlarut setelah pemupukan bervariasi antara 0. sedimen terdeposisi pada lahan sawah yang besarnya (setelah dikurangi dengan tanah yang tererosi saat pelumpuran) bervariasi dari 647 sampai 1.04 mg kg-1 untuk air irigasi (Tabel 4) dan dari 1. Kejadian ini menunjukkan bahwa pupuk P lebih tahan terhadap pencucian dibandingkan dengan pupuk N.04 sampai dengan 2.12 mg kg-1. amonium (N-NH4+).13 ± 0. fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada larutan sedimen adalah tidak besar (Tabel 5). konsentrasi K+ terlarut baik pada air irigasi maupun larutan sedimen tergolong tinggi. 28/2008 suatu kesimpulan bahwa selama pertumbuhan dan perkembangan padi.56 sampai 1. dan Sukristiyonubowo (2007) bahwa air hujan mengandung N yang relatif tinggi. konsentrasi NO3.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.04 sampai 1.01 sampai 0. Kemungkinan lainnya adalah pengkayaan N-N03.dan NH4+ tertinggi dijumpai pada saat setelah pemupukan.dan N-NH4+ oleh air hujan. Fenomena yang sama ditunjukkan juga pada larutan sedimen.77 sampai 1.21 ± 0. Konsentrasi PO4. amonium (NH4+).05 mg kg-1 untuk larutan sedimen (Tabel 5).terlarut pada air irigasi tergolong sangat rendah. Konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen Kecenderungan hasil yang sama ditunjukkan oleh larutan sedimen pada semua perlakuan yang diuji.04 mg kg-1.04 mg kg-1 dan untuk amonium (NH4+) terlarut 1.68 ± 0.02 sampai dengan 2.80 ± 0. yang bervariasi dari 1. Pada semua perlakuan baik yang memberi pupuk P (IT dan IT+RS) maupun yang tidak (FP dan FP+RS).dan NH4+ pada pengamatan setelah pemupukan dan menjadikannya yang tertinggi. - 48 .34 ± 0. tercuci dan terangkut keluar bersama larutan sedimen. yaitu antara 0. selain volume air irigasi dan larutan sedimen. kopi (Coffea arabica).09 mg kg-1 (Tabel 5). Sedangkan mulai tanam sampai stadia generatif. Untuk menghitung hara yang masuk dan keluar lahan sawah. Meningkatnya konsentrasi NO3. erosi hanya terjadi saat pelumpuran dan besar tanah yang hilang (soil loss) berkisar antara 239 sampai 480 kg ha-1 musim-1. Dugaan tersebut mengilustrasikan adanya pupuk N yang tercuci dan atau terbawanya hasil-hasil dekomposisi dari kawasan atas (upstream) dalam air irigasi. data seperti konsentrasi hara terlarut pada air irigasi dan larutan sedimen digunakan. mobilitas hara diamati selama pertumbuhan padi. atau mungkin P lebih banyak terfiksasi dalam bentuk Al-P dan Fe-P karena pH tanahnya berkisar antara 5.98 mg kg-1 menimbulkan dugaan adanya pengkayaan (enrichment) oleh faktor luar.0 sampai 5. Seperti dilaporkan oleh Demyttenaere (1991).antara`0. yang terdiri atas butiran-butiran halus sampai sangat halus (clay texture). fosfat (PO4-) dan kalium (K+) pada air irigasi adalah tidak besar (Tabel 4). sekalipun pada perlakukan IT dan IT+RS yang menambahkan pupuk P sebesar 100 kg TSP ha-1 musim-1. tergantung pada perlakuannya. Variasi konsentrasi nitrat (N03-). Seperti dilaporkan oleh Sukristiyonubowo (2007) pemupukan yang dilakukan oleh perkebunan teh (Camelia sinensis). konsentrasi PO4. Poss and Saragoni (1992). cengkeh (Eugenia aromatica) dan rambutan (Nephelium lapaceum) di kawasan atas berpengaruh nyata terhadap Pada umumnya variasi konsentrasi nitrat (NN03 ).pada pengamatan setelah pemupukan relatif sama besarnya.

03 0.....02 0.015 0. pemupukan.70 0.05 0.02 0.08 0.86 1.....14 ± 0.05 0. selain tercucinya hasil dekomposisi seresah (litter) dan bahan organik lainnya.07 0...035 0.01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1...72 1.67 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.01 0..59 1. and K in irrigation water during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N.04 2. PO4.01 2.79 1.66 1.01 0.22 0...01 0..07 0.12 0. 49 .021 0.035 c d a b b b a a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% konsentrasi hara terlarut yang dibawa oleh air irigasi..03 0.07 0.030 0.79 1.030 0.06 0.. Sukristiyonubowo. yang tidak hanya sekedar media penghasil beras.15 ± 0. P.. P..01 0. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi selama pertumbuhan padi.01 ± 1.01 0.065 0... N-NH4+.02 0.012 0.... Concentration of dissolved N.45 ± 0.01 0..98 1.58 1..015 a 0.07 ± 1.10 0.84 1.01 0. mg kg .030 0..28 1.01 0.05 0. 2007).15 0.79 ± 0.59 1.80 ± 004 a 1.04 0. curah hujan dan ukuran teras juga akan berpengaruh terhadap deposit atau tererosinya hara seperti yang dilaporkan dalam Sukristiyonubowo (2007)... 1970.025 0.19 1. P.76 1.04 a 2..01 0. Hal ini terdeteksi pada pengamatan setelah sistem sawah berteras pada musim kemarau menjadi sangat penting untuk menggali informasi mengenai fungsi lain dari sistem sawah berteras. Konsentrasi N..06 0.01 0. dan K pada air irigasi NH4+ PO4K+ N03-1 ..09 0..78 1.015 0.20 ± ± ± ± 0..030 0.45 ± 0..030 0. Selain karena perbedaan konsentrasi N-NO3-...83 0.14 2.02 0.025 b 0. Selanjutnya.79 1...035 0..10 0..01 0..030 0..006 0...15 ± 0.86 ± 0.01 0..030 0..01 0.21 1.04 0.02 0..04 b 1..055 0.025 b 0.56 1..95 2..015 b 0.05 0.03 0.03 0....77 1.04 0..36 0.035 0.025 0. MH 2003-2004 Table 4.34 ± 0..012 0..05 a 1.86 2..dan K+ terlarut antara air irigasi dan larutan sedimen..012 a 0.08 0.29 ± 0.00 0. tingginya konsentrasi K pada larutan sedimen (runoff terlarut lebih sediment) dipengaruhi oleh tererosinya pupuk KCl (terutama pada perlakuan IT dan IT+RS yang memberi 100 kg KCl ha-1 musim-1) dan tercucinya hasil dekomposisi jerami (terutama pada perlakuan FP+RS dan IT+RS).025 b 0.04 0..SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 4.46 ± 1...02 1.04 0.08 0.65 1.050 0..01 0.12 ± 0..045 0.44 ± ± ± ± ± ± ± ± 0.035 0.04 0.025 b b b a a b b b b b b a a a a a 0.01 0.16 2.04 0.010 0..86 1.020 0..04 0.012 0.025 b 0. mengenai Penelitian lebih rinci dan mendalam terlarut pada air irigasi juga telah banyak dibahas terdahulu + (Uexkull.006 0.015 0.18 1.30 0.04 0.34 1..65 1..02 0.07 0. 0.025 b 065 ± 0.01 0..04 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.47 0.84 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. Tingginya konsentrasi K dan dilaporkan oleh peneliti peneliti + pemupukan yang memperlihatkan konsentrasi K+ terlarut tertinggi.09 0.. faktor lain seperti debit.006 0..36 0.03 ± 1.010 a a a a a a a a 1.02 a a b a a a a b b b b a a a b a 0.72 1.

0...21 1..10 1..01 0. N (NO3 + NH4+).04 0.68 1. Besarnya surplus hara terlarut tersebut berkisar antara 4..05 0.03 0..31 0.09 dan 1..14 dan 9.06 0.05 0. atau negatif.01 0..13 0.89 0.54 1.05 1.04 0....10 1.05 0.04 0.90 1.80 1.99 1.67 1.04 0.96 dan 8.70 1.14 kg P. sebelum tanam (7 hari) dan stadia generatif (8 hari).97 0.67 1.. and K in suspended sediment during rice growth.58 0.47 1..60 1.05 0..04 0.. dan K terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar selama pertumbuhan tanaman padi Berhubung konsentrasi hara terlarut dan debit air irigasi dan larutan sedimen berbeda..02 0..57 ± 0.54 ± 0.73 1..11 1..10 0.60 2. P dan K terlarut yang masuk dan yang keluar pada stadia vegetatif adalah yang terbesar...02 0.03 0.03 0.03 0.04 0. dan K pada larutan sedimen NH4+ PO4K+ N03. MH 2003-2004 Table 5..01 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.03 0..01 0.02 a *) Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% N.09 0.04 0..03 0.. mg kg-1 . Variasi ini dapat menyebabkan neraca hara positif.04 0..32 1.05 0..06 0. Pada stadia ini terjadi surplus hara terlarut.06 0..02 0. dan antara 3.68 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0..02 0..80 0..29 1.05 0.02 0.10 0.03 0.54 1...07 0..69 1.04 b a b b b b a b a a a a a a a a 0.....28 kg K ha-1 musim-1. Akibatnya. P..12 0.08 0.02 0.03 b 1.01 0.09 0....02 b a b b a a a a b a a a c a a b b b a a 1.06 0..02 0.02 0. Penyebabnya adalah pengairan pada stadia - ini dilakukan lebih lama jika dibandingkan dengan saat pelumpuran (1 hari)..73 1.. Sukristiyonubowo (2007) menemukan bahwa teras dengan ukuran yang lebih luas 50 .03 0.06 0. dimana hara terlarut yang masuk lebih besar dari pada yang keluar...03 0.05 0.62 1..34 0.85 0.75 1.03 0.90 kg N.02 0..03 0.06 0.01 0.07 0.13 1.04 0.04 b a b b b a a a a a a a c b b a c b b a 1. P.75 1.10 0..75 1. maka hara terlarut yang terbawa masuk dan yang terangkut keluar sawah akan bervariasi.02 0..05 0.01 0..06 0.04 0.47 1.01 0. Menarik untuk disimak bahwa hara terlarut yang masuk pada masing-masing stadia pertumbuhan padi adalah lebih besar dibandingkan dengan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen. P.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.01 0.13 0.03 0.06 0..01 0.02 0.02 0.12 0.03 0..43 0..56 1.02 0.38 1.04 0.31 1.. Concentration of dissolved N.09 0.06 0.01 0.02 0...01 0.44 1.03 0.02 0..05 0. dan K terlarut yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.95 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.03 b 1.02 0.46 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0.06 ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± ± 0. 0.85 1.17 0.03 0...62 ±0..07 0.57 ± 0..03 0. Konsentrasi N..75 1.04 0.15 0... 28/2008 Tabel 5.69 0.. Seperti halnya pada pergerakan sedimen.03 0...02 0. apabila hara yang masuk lebih banyak dari pada yang keluar.07 0.03 0. hara tersebut tersimpan di setiap teras lahan sawah.03 0.01 0.57 1.02 0. apabila hara yang masuk lebih sedikit dibandingkan hara yang terangkut keluar (Tabel 6).01 0.30 1. WS 2003-2004 Perlakuan/pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif • Sebelum pemupukan FP FP + RS IT IT + RS • Setelah pemupukan FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Konsentrasi N...01 0.03 b 1..03 0. P.

.458 0..288 0..30 6. Hasil ini dapat diartikan bahwa kontribusi nitrogen (N) dan kalium (K) dari air irigasi untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi adalah relatif besar.36 0.06 l detik-1..20 a 0.30 2.186 0. yaitu 51 .42 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0..090 0..07 a 7. Incoming and outgoing dissolved N.06 5.50 9.270 0.56 ab 9..030 0.50 0.20 0.60 12..040 0.030 0.52 a 12..42 7.010 0..55 l detik-1.030 0.80 2.040 0.24 27.70 8..84 8.090 0.06 1....008 0.030 0.55 0.60 3.20 sampai 1.145 0.070 0..12 1..126 0..28 3.80 2...66 10..96 19.060 0....130 0.422 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 1.80 10.96 8. P.. 0.60 ± 0.10 ± 0.33 ± 0.20 a 4. P and K during rice growth in the WS 2003-2004 Perlakuan/ pengamatan Pelumpuran FP FP + RS IT IT + RS Sebelum tanam FP FP + RS IT IT + RS Stadia vegetatif FP FP + RS IT IT + RS Stadia generatif FP FP + RS IT IT + RS Jumlah FP FP + RS IT IT + RS Hara terlarut yang masuk Hara terlarut yang keluar Net input N P K N P K N P K . N.89 ± 0..130 a a a a a a a a a a a a a a a a 0..13 .80 1..192 0.38 1...76 12..62 a 13.040 0.90 1..70 22.55 ± 1. Debit larutan sedimen saat pelumpuran berkisar dari 0.00 9.050 0.51 0. Debit air irigasi saat pelumpuran adalah yang terbesar..48 a a a a a a a a a a a a 0.50 12.080 0..52 a * Angka pada kolom yang sama untuk pengamatan yang sama yang diikuti huruf yang sama tidak berbeda nyata pada Duncan Multiple Range Test dengan selang kepercayaan 5% menyimpan hara lebih banyak dibandingkan teras yang berukuran lebih kecil.34 0..126 0..018 0..90 19.32 a a a a a a a a a a a a 13.99 28. Pada stadia vegetatif debit air irigasi adalah yang terkecil..196 0.28 2.33 1..040 0.33 0.090 0..80 a 10.64 2. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1..90 2..31 ± 0.03 19.37 13.64 3..90 11.256 0....13 4. KESIMPULAN 1.. Sementara itu sumbangan P (fosfor) air irigasi adalah sangat kecil atau hampir tidak berarti..76 31.50 6.298 a b a a a a a a a a a a a a a a a a a a 0.36 a a a a 0..002 0.282 0..020 0.87 1.42 6.00 a a a a a a a a a a a a a a a a 0 0 0 0 0.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Tabel 6..060 0.072 0.98 8...0.20 . Dibandingkan dengan debit air irigasi...20 a 13...010 0.13.20 22..68 15...86 0..87 39.030 0.. Fenomena ini juga mengindikasikan adanya pengurangan akibat negatif di kawasan bawah (downstream) berupa meningkatnya kualitas air..20 a 10..80 29..62 a a a a a a a a a a a a 0.060 0.30 a 23...74 7.162 0.90 1...50 ab 29.31 a a a a a a a a a a a a a a a a a a a a 22..92 42.62 kg N.93 0. Selama pertumbuhan padi debit air irigasi bervariasi bergantung pada penggunaan di kawasan atas dan stadia pertumbuhan padi.68 b 4.10 9.26 6.80 14.25 .62 2.64 0.86 9.002 0..00 5....018 0..060 0.90 9.002 0. 0. berkisar mulai 2..60 b 25.58 36.030 0..96 44..270 0.24 6.78 49.144 0.22 0.16 4..003 0.15 l detik-1.180 0.90 a a a a a a a a 16....34 l detik-1 dan pada stadia vegetatif debit larutan sedimen adalah yang terkecil.144 0.58 5..42 kg K ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata (Tabel 6).40 11.54 4.10 4.15 dan 0..90 20.402 0. yaitu antara 0. Besarnya hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7...92 4.23 sampai 3. dan K terlarut yang terbawa masuk oleh air irigasi dan yang terangkut keluar oleh larutan sedimen selama pertumbuhan padi.57 0...08 1..80 6.30 1...30 36.40 1. dan pada stadia generatif berkisar antara 1. debit larutan sedimen adalah lebih kecil.38 ± 0..002 0.18 0.56 3.51 12.46 15.54 ± 0..20 kg P dan 7..52 b 0. kg ha-1 musim-1 .28 sampai 1..46 0...14 9.030 0.05 12.70 1...20 6.13.48 3.090 0.58 b* 1. MH 2003-2004 Table 6.41 0.25 11.050 0.

09 l detik-1. Hasil ini mendemonstrasikan adanya fungsi lain (external services) yang diberikan oleh sistem sawah berteras. Schuman. 280 hlm. May 31-June 3.. P dan K pada padi sawah spesifik lokasi. Sebaliknya. 21:293-299. Sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi lebih kecil dari pada sedimen yang terangkut keluar oleh larutan sedimen hanya pada saat pelumpuran.88 ± 1. 1992. and T.F.E. Seasonal runoff losses of nitrogen and phosphorus from Missouri Valley loess watershed. and Rego. Pp 135-149. Water. Rice crop growth and yield as influenced by changes in ponding water depth. opportunities. Water management in relation to crop production: case study on rice.09 g l-1. 2. BIMAS.L.. and K.58 ± 1. 0. (Eds. R. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. H. Nutrient loss and onsite cost of soil erosion under different land uses systems in South East Asia.06 sampai 1. Agricultural Water Management 37:241-253. Sukristiyonubowo. 1994. Bhuiyan. and D. E. Agus.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian..012 sampai 0.715 sampai 5. Aksoy. Tabuchi.. G. Rekomendasi pemupukan N. Burwell. Pada stadia generatif bervariasi dari 1. Watung. Departemen Pertanian. dengan kadar lumpur tertinggi adalah saat pelumpuran.13 ± 0. Bercocok tanam padi.I.521 kg ha-1 musim-1 dan antar perlakuan tidak menunjukkan beda yang nyata. A review of hillslope and watershed scale erosion and sediment transport model.13 g l-1. F. Valentin. Pp 186-193. R.78 ± 0. 1994. Agricultural Water Management 31:165-184. Bhagat.. Kadar lumpur air irigasi bervariasi antara 0.. 1990. T. C..M. and innovations for wet seeded rice. Outlook Agriculture.. 2005. and Penning de Vries. S.W. 1978.07 dan 0. F. Effect of rice-soil puddling on water percolation. 19 p.I. Anonim.21 ± 0.13-0. Wet seeded rice: water use efficiency. F. In Wani. Vadari. DAFTAR PUSTAKA Adachi. 2003. Jumlah hara terlarut yang tersimpan di lahan sawah selama pertumbuhan tanaman padi adalah 7. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. Agus.42 kg K ha-1 musim-1. Kavvas. Journal of Environmental Quality 7:203-208.62 kg N. 1977.490 ± 0.L. Integrated catchment management for land 52 . V. and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.42 sampai 3.70-3. S. E. Bhuiyan.R. Valentin. 286 hlm. fosfor. Effects of land use and management systems on water and sediment yields: Evaluation from several micro catchments in Southeast Asia.20 kg P. Anonim. water regime and fertigation level. 2007. 1996. S. T. lebih tinggi sebesar 2. Maglinoa. Sattar. Moody. Alberts.J.41 g l-1 jika dibandingkan dengan stadia lainnya.25-13. hara terlarut (nitrogen. setara dengan 14-28 kg urea dan 15-25 kg KCl ha-1 musim-1 dan secara statistik antar perlakuan tidak menunjukkan beda nyata. 64:247271.2013. K.T. A. productivity and constraints to wider adoption.R.).. selain sebagai tempat memproduksi beras. tillage and weed interactions in lowland tropical rice: a review.E. 1998. A. and C.589 kg ha-1 musim-1 dari jumlah sedimen yang terbawa masuk oleh air irigasi berkisar antara 2. In Proceedings of the transactions of the 14th International Congress on Soil Science I. palawijo dan sayur. Bhuiyan. M.E.52 l detik-1. 2003.P. and R. and H. Paper presented at the International Workshop on constrains. A. Bangkok. Kecenderungan yang sama diamati pada kadar lumpur larutan sedimen.207 ± 0. and Sukristiyonubowo. 28/2008 antara 0. Tabbal. Ramakrisna.). Banyaknya sedimen yang tersimpan berkisar dari 647 sampai 1. dan 7. Pp 146-151. In: Maglinao. Yamaji.I. dan kalium) yang terbawa masuk oleh air irigasi di setiap stadia pertumbuhan padi tersimpan di sawah.A. Catena. S.32 ± 0. Kadar lumpur larutan sedimen tertinggi adalah saat pelumpuran yang bervariasi antara 2.. (Eds. Anbumozhi.

Duque Sr.). Pp 163-178. S. J. Maglinoa. Kukal. runoff. Daniels.N.T. and J.P. Kirchhof. Marchand.. S. Sidhu. C. S. Ilao. Stikstofdynamiek in de bodems van de westvlaamse groentestreek. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation. 1981.S.D.M.D.E.M. Naphade. and T.J. Hashyim. Lal.V. Los Banos. G.J.A. T. and N. N..J.). De Datta.S. The effect of soil puddling on the soil physical properties and the growth of rice and post-rice crops. In Kanwar. Management of cracked soils for water saving during land preparation for rice cultivation. C. Demyttenaere. E. R. A. K. Phommassack.D. N. 1991. Lemunyon. In: Penning de Vries..). Santos. and V. Sihavong.V.B. Quita.H.R. S. Douglas..R. Datta. 1998. Agricultural phosphorus and eutrophication a symposium overview. Chanthavongsa. Agus.S. King. and T.J. In Wani. J. Syers. (Eds. ion uptake and rice growth.. 2003. 2002. Datta.P. A. P. L. Priyono. Phillipines. C. and J. Carpina.O. Journal of Environmental Quality 27:1170-1177.A. Principles and Practises of Rics Production. T. Agricultural Water Management.K. and T. 2004. 203 p. Abdullah. Agricultural Water Management 49:11-30.P. and T. K. 207-222. Journal of Environmental Quality 27:251257. R. Doctorate Thesis. Biro Pusat Statistik. In: Wani. Proceedings of international symposium on soil fertility evaluation.E. R. Kissel. S. 2002. G. Nitrogen and phosphorus in surface runoff and sediment from a wheat-pea rotation in Northeastern Oregon. de Guzman.W.P. Logan. Comparing water input and water productivity of transplanted and directseeded rice production systems. Miller. T. D. 2004. Valentine. Bhumbla. Richardson. and A.. 1976. F. Journal of Environmental Quality 5:288-293.. Soil erosion impact on agronomic productivity and environment quality. S. Ramakrisna. Soil and Tillage Research 56:37-50.J. and R. W. Percolation losses of water in relation to pre-puddling tillage and puddling intensity in a puddle sandy loam rice (Oryza sativa L. and Biswas.. and B.M. and Rego.. C.W. 1989... Ghildyal.. Cabangon. Lal. S. (Eds. A. Burnett. 1998. Critical Reviews in Plant Sciences 17(4):319-464. IRRI.L.. C..J. Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. F. 2003. Jr. MSEC-Lao PDR Annual Report. Maglinoa. On-site nutrient depletion: An effect and a cause of soil erosion.R. Pp 510-517. A. So.S. P. (Eds.SUKRISTIYONUBOWO : MOBILITAS SEDIMEN DAN HARA PADA SISTEM SAWAH BERTERAS DENGAN IRIGASI TRADISIONAL Bouman.M. Tuong. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.. Soil and Tillage Research 56: 105-116. N.P. and Kerr. R. and H. In Soil management and smallholder development in the Pacific Islands. Monitoring of weather. B.S.P.M. Zuzel. A. Yield and water use of irrigated tropical aerobic rice systems. Soil and water management for increased water and fertiliser use efficiency for rice production. A. B.P.A.R.). An innovative approach to sustainable land management in Lao PDR. Thonglatsamy. Cabangon. Tuong. S. Tiongco. Visperas....A. B. Dacanay. T.B. MSEC-Philippines Annual Report. CABI Publishing in Association with IBSRAM. C. P618. A. T.L. D.. F. BPS. IWMI Brochure. 57:11-31.R. Chaplot. Soil and Tillage Research 78:1-8.. Ghildyal. Are intensive agricultural practices environmentally and ethically sound? Journal of Agriculture Ethics 1:193-210. IWMI (International Water Management Institute). 1998.) field. (Eds. IBSRAM-Thailand proceedings. 1971. Peng. J. Bhumbla. S. Management of soil erosion consortium: An innovative approach to sustainable land management in the Philippines. 2001. (Eds. 2005. 2000. Bains.. 1971. T. J. 1998... D.S. T..S. B. Losses of nitrogen in surface runoff in the Black Prairie of Texas. Bains.. Caughlan. Pp 499-509 In Kanwar.. A.C. 1998. CD-Rom (one CD). de Rouw. T. and Rego. Castaneda. Pp. and E. and J. Sharpley. Soil Erosion at Multiple Scale. and soil loss. R.F. El-Swaify. Influences of puddling and water regimes on soil characteristics.K.P. Water facts. 2000. Ramakrisna. R. Adisarwanto. Statistik Indonesia. 53 . Agricultural Water Management 74:87-105 Bouman. Utomo.). Tuong.P.P.. and Biswas.. Field water management to save water and increase its productivity in irrigated lowland rice.

Effect of post fire seeding and fertilising on hill slope erosion in north-central Washington. 56:93-112. and J.W. Krstansky. Ramakrisna.. Fifth ed. R. 67: 56-67. 2006. Badan Litbang Pertanian. Lao PDR on 14-17 December 2004. H. 2002. Vadari. Nguyen. Some notes on the timing of potash fertilisation of rice (nitrogen-potash balance in rice nutrition). Sedimen dan unsur hara yang terangkut saat pengolahan tanah pada sawah berteras. D. 4:366-369.R.). On-farm strategies for reducing water input in irrigated rice. L. 169p. 28/2008 Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia.A.R. Advance Soil Science. T.). and S. Taball. Agus. T.E. Soil Science 115:303-308. Udawatta. Operational Hydrology Report No. Nitrogen losses in runoff from three adjacent agricultural watersheds with clay pan soils.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Robichaud. P. Leaching of nitrate. Fertilizer Research 33(2):123-133. Motavalli.B. 2004. 1992. Lao PDR and sponsored by National Agriculture and Forestry Research Institute (NAFRI). 2006.T. Uexkull.R. Verloo.A. and J.29. and H. 2003. 413-416. Data acquisition and processing. Nutrient loss and the on-site cost of soil erosion under different land use systems. Gabriels. Catena. PhD thesis.M.P. measurements and modelling. Bhuiyan. 1974.A. Ghent. In Maglinao. In Wani. From soil research to land and water management: Harmonising People and Nature. MSECVietnam Annual Report. F. 1986. R.). Schuman. Toan. P. Valentin. Phai. Visser. Nutrient balances in terraced paddy fields under traditional irrigation in Indonesia. Pp.J. D. S. Guide to hydrological practices. T. De Datta. 735 p. Paper presented at the second International Symposium on Land Use Change and Soil and Water processes in Tropical Mountain Environments held in Luang Prabang.R. WMONo. L. Belgium. Hlm 225-245. International Water Management Institute (IWMI) and Institut de Recherche pour le Développement (IRD).. C. Bouman. Dalam Prosiding Seminar Nasional Sumberdaya Lahan Pertanian.J. Catena. calcium and magnesium under maize cultivation on an oxisol in Togo.E.D.D. Growth and nutritional aspects. and Rego.. P. 54 . Chardon.K.. and M.P. Phien. In The International Potash Institute (Eds. D. and L. and R.P.L. Journal of Environmental Quality. A. G. Sharma. and M. 2007. 117:39-48. Puddling tropical rice soils: 1. Faculty of Bioscience Engineering. Sukristiyonubowo. S. Ghent University. Agus.. S. 64: 1-22. 1973. Stroosnijder.. Manual on operational methods for the measurement of sediment transport. Yuqian. Agriculture Ecosystems and Environment. Sattar. Garrett. Poss. Proceedings of the IWMI-ADB Project Annual Meeting and 7th MSEC Assembly. Sukristiyonubowo.. Sanchez. Sediment and nutrient balances under traditional irrigation at terraced paddy field systems.E. analysis. WMO (World Meteorological Organisation). WMO-No. E. Sukristiyonubowo. Organised by Ministry of Agriculture and Forestry.J.F. A. CD-Rom (one CD). 1970. A. 5:139-178. and Penning de Vries. Agricultural Water Management. (Eds. CD-Rom (one CD). 2008. 1994. case study in the Philippines. Wagenbrenner. Departemen Pertanian.168.W. Physical properties and processes of puddled rice soils. Saragoni. Sukristiyonubowo. Sibayan. Lillybridge.. R.I.M. Precipitation nitrogen contribution relative to surface runoff discharge. Integrated catchment management for land and water conservation and sustainable agricultural production in Asia. Proceedings of the 9th congress of the International Potash Institute. P. Watung. F. T.R. (Eds. USA. Nutrient losses by wind and water. 2005.H. Managing soil erosion for sustainable agriculture in Dong Cao Catchment. 686. B. 151-164. 184 p. 2003. T. and W. Maglinoa. and F. Pp. V. Burwell.. forecasting and other applications. 1989..K.

Newman and Hayes. Pada tanah kaolinitik C organik berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah. Penelitian lapangan dilaksanakan pada lahan sawah kaolinitik Lampung dan smektitik Jawa Timur masingmasing dengan keragaman hara P rendah. 1998). sedangkan pH tanah. P uptake response with P fertilizer was not significant. The objective of this research was to determine the relationship between some soil chemical properties and phosphorus uptake of lowland rice on kaolinitic and smectitic soils. Bagian Analisis dan Pemodelan Statistika. Departemen Statistika. Bogor. and Al were not significant. dan 115 kg P2O5 ha-1. Field experiments were conducted in Lampung kaolinitic paddy soils and East Java smectitic paddy soils with low. sedangkan pada tanah smektitik respon serapan P nyata. applied as superphosphate (SP-36). Tanah sawah Ultisols tersebar hampir di seluruh 1. Thus. clay content. Cornforth et al. Smectitic. exchangeable Ca. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP-36. In kaolinitic soils. Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. sedang dan tinggi. sedangkan pH tanah. 2. 1990). Cadd. and high P content variabilities. kadar liat. while the correlation of pH. Fe. Namun demikian. clay content.Korelasi Beberapa Sifat Kimia Tanah dengan Serapan Fosfor Padi Sawah pada Tanah Kaolinitik dan Smektitik The Correlation of Some Soil Chemical Properties with Phosphorus Uptake of Lowland Rice on Kaolinitic and Smectitic Soils M. Sifat-sifat berbeda mineral liat tanah berpengaruh langsung terhadap sifat fisik dan kimia tanah (Brown. respon serapan P padi sawah tidak nyata dengan pemupukan P. Kaolinitik. 46. medium. Smektitik. IPB. ABSTRACT Determining relationship between soil properties and phosphorus uptake is important to support P fertilizer recommendation. 69. while the correlation of pH. organic C correlated negatively with P uptake of lowland rice. Lowland rice PENDAHULUAN Kahat fosfor merupakan salah satu kendala peningkatan produktivitas padi sawah. In kaolinitic soils. Di beberapa wilayah kandungan P umumnya masih rendah. sedangkan sebagian besar tanah Vertisols dicirikan oleh smektit sebagai mineral dominan (smektitik) (Brown. Phosphorus uptake. increasing organic matter in kaolinic soils will increase P uptake of lowland rice. 23. 23. Tan. exchangeable Ca. kadar liat. Bogor. The treatments consist of five P fertilizer levels that were 0. Padi sawah Keywords : Soil properties. 1990. Fe. Tanah-tanah Ultisols dan Oxisols umumnya mempunyai kaolinit sebagai mineral dominan (kaolinitik). while in smectitic soils increasing organic matter will decrease P uptake. Pada tanah smektitik C organik berkorelasi negatif nyata dengan serapan P padi sawah. ISSN 1410 – 7244 55 . sedangkan pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan P. The experiments used completely randomized block design with four replications. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. organic C correlated positively with P uptake of lowland rice. Kaolinitic. Rekomendasi pemupukan P padi sawah telah didasarkan pada pengkelasan hara P tersedia dan peluang respon tanaman (Rochayati dan Adiningsih. Fedd. whereas in smectitic soils P uptake response was significant. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. Pada tanah kaolinitik. 69. Serapan fosfor. Hal ini disebabkan antara lain oleh pemupukan P terus-menerus dengan dosis tinggi. In smectitic soils. rekomendasi pemupukan P tersebut belum didasarkan pada jenis tanah dan tipe mineral liat tanah. Fedd. 1990. MASJKUR1 DAN A. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. dan Aldd berkorelasi tidak nyata. 2002). sedangkan di wilayah lainnya kandungan P cukup tinggi. Dengan demikian peningkatan bahan organik pada tanah kaolinitik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. Kata kunci : Sifat-sifat kimia tanah. Cadd. (1990) mengemukakan bahwa ketepatan rekomendasi pemupukan dapat ditingkatkan dengan mempertimbangkan jenis tanah (soil group) dan tipe mineral liat dominan telah digunakan sebagai penciri dalam pengelompokan jenis tanah. and Al were not significant. 46. KASNO2 ABSTRAK Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan serapan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P.

Sebagai pupuk dasar ditambah pupuk urea 300 kg ha-1 dan 150 kg KCl ha-1. besi oksida bebas.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) mengetahui respon pemupukan P padi sawah pada tanah kaolinitik dan smektitik. dan 3). Al dan H dapat ditukar (KCl 1 N) (Tabel 1. Terlihat bahwa kurva serapan P hampir datar. Rochayati (1995) dalam percobaan rumah kaca mendapatkan bahwa fraksi Fe-P. 150. dihaluskan. Pupuk P diberikan sekaligus pada saat tanam. Purworejo 2 (P sedang). BAHAN DAN METODE Penelitian lapangan dilaksanakan di daerah Lampung dan Jawa Timur. dan 115 kg P2O5 ha-1 menggunakan SP36. C/N rasio). 56 . dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) pada musim tanam 2005/2006. 1999). P dan K HCl 25%. sebagian Sumatera dan Sulawesi (Abdurachman et al. Mg. 2. fraksi Ca-P. hanya di lokasi Purworejo 1 (P rendah) terdapat kecenderungan meningkat dengan pemupukan P. yaitu pada saat tanam dan fase primordia masing-masing dengan ½ dosis. sedangkan difraktogram x-ray tanah kaolinitik dan smektitik dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2. dan C organik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. dan 250 kg SP-36 ha-1) tidak berbeda nyata dengan tanpa pemupukan P (Tabel 9). dan Na dapat ditukar. 69. sedangkan Vertisols umum terdapat di dataran rendah di Pulau Jawa. Mn. HASIL DAN PEMBAHASAN Respon serapan P padi sawah terhadap pemupukan P Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Purworejo 1 (P rendah). dan 8). 46. Purworejo 2 (P sedang). 100. dan besi amorf berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah pada delapan minggu setelah tanam dan saat panen. P Bray 1. Pupuk urea dan KCl diberikan dua kali. (2) mengetahui korelasi beberapa sifat kimia tanah dengan serapan P padi sawah tanah kaolinitik dan smektitik. Fe dan Mn dapat ditukar. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa pada tiga lokasi tanah kaolinitik tidak terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan P (Tabel 6. dan diayak dengan saringan 2 mm. K. N total. dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dan tiga lokasi lahan sawah Vertisols smektitik Jawa Timur yaitu Demangan (P sedang). 2005). Pemupukan dilakukan dengan cara disebar secara merata ke seluruh permukaan petakan. 7. pH tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P pada delapan minggu setelah tanam. Jenis penetapan sifat-sifat tanah terdiri atas : tekstur 3 fraksi. Cu. Korelasi antara sifat-sifat tanah dengan ketersediaan P penting diketahui untuk menunjang rekomendasi pemupukan P. Fatmawati. 200. kandungan bahan organik (C organik. tetapi berkorelasi tidak nyata pada saat panen. Tanaman indikator yang digunakan adalah padi VUTB var. pH (H2O dan KCl). Perlakuan terdiri atas lima tingkat pupuk P yaitu : 0. Ca. KTK dan KB (NH4OAc 1 M pH 7). Percobaan lapangan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Peubah yang diamati ialah serapan P tanaman pada saat panen.. merupakan bagian dari Proyek Penelitian Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida (Kasno. Komposisi mineral liat tercantum pada Tabel 4 dan 5. Adapun fraksi Al-P. 23. Petak percobaan berukuran 5 m x 5 m. Fe. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P (50. Kedungrejo (P tinggi). 28/2008 pulau utama. Contoh tanah dikering-udarakan. Contoh tanah lapisan atas (0-20 cm) diambil dari lokasi percobaan lapangan. Penelitian laboratorium dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Balai Penelitian Tanah Bogor. Penelitian dilaksanakan pada tiga lokasi lahan sawah Ultisols kaolinitik Lampung yaitu Purworejo 1 (P rendah). dan Simbarwaringin (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 3. dan Zn dapat ditukar (DTPA).

09 0..31 0.09 0.….6 1.45 0.5 18 24 24 21 24 29 25 32 7 10 5 7 0.01 0.2 5.2 3.2 1.67 0.14 0.….96 12.2 3. … mg 100g-1 … mg kg-1 ….89 0.6 1.7 26.73 0.77 0.8 1.0 3.9 11. ….14 0.31 2.0 4.….62 0.0 4.44 3.0 4.7 24.73 2.02 0.09 0.65 0.13 0.……… 27 25 28 25 32 32 32 31 27 25 24 24 57 57 59 63 36 32 46 55 45 46 41 39 16 18 13 12 32 36 22 14 28 29 35 37 1.19 3. me 100g-1 ….65 1.34 1.57 3.81 0.73 0.0 83..24 9.14 0.2 1.0 2.50 10.5 65.11 0.29 12.14 0.6 3.70 0.6 1.2 4.82 0.9 21.2 81.39 1.55 0.6 2.5) H2O KCl 5.46 2.67 1..53 1.59 1. Sifat-sifat tanah kaolinitik Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Table 1.1 4.30 0.07 0.12 0.3 1.25 2.63 0.3 0.4 1.01 0.13 11.05 2.01 0.5 25..26 12.0 4. g 100g-1 .48 0.01 3.4 16. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H …….69 1.0 5.69 1.97 1.67 2.14 1.09 0.09 0.01 0.65 0.2 5.0 4. g 100g-1 ….38 1.38 2.53 11.51 1.77 0.1 1.6 1.1 4.52 11. Kaolinitic soil properties from Purworejo dan Simbarwaringin Lampung Lokasi pH (1:2.8 5.Tabel 1.6 1.01 0.56 0.2 2.1 5.15 0.1 5.11 0.97 1.1 5.0 3.01 0.05 0.95 3.0 Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK .3 5.01 3.2 1.2 1.0 3.04 0.7 4.22 1.97 0.66 2.31 1.45 9.7 2.1 5.0 4.24 0.3 11.10 11 11 14 12 11 9 9 10 16 14 15 11 11.5 1.97 0. ….81 2.58 3.37 11.15 0.86 Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV 57 .13 0.80 2.81 0.4 74.4 4.84 3.01 0.12 0.02 0.1 5.38 1.0 1.67 0.49 1.08 0.0 4.1 4.4 2.4 1.…………… me 100g-1 ……….6 12.5 15.68 0. MASJKUR Purworejo 1 P rendah I P rendah II P rendah III P rendah IV Purworejo 2 P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Simbarwaringin P sangat tinggi I P sangat tinggi II P sangat tinggi III P sangat tinggi IV DAN A.57 1.79 13. mg kg-1 …….38 12.0 11.88 2.01 0.4 1.2 5.82 3.….45 3.73 0.07 0.0 9.46 2.46 1.32 0.01 0.02 0.65 0.93 KB % 29 29 34 26 34 34 36 33 25 27 20 23 M.2 5.10 2.02 0.0 4. 303 308 287 267 284 273 276 282 210 245 244 205 29 35 36 35 27 31 22 21 87 83 103 94 1.

45 1.9 2.4 2.18 0.4 0.32 23.75 44.32 40.23 1.39 123.00 0.37 1.65 42.62 0.09 0.2 6.71 22.09 15.25 24.7 3.11 0.02 0.86 55.5 2.00 0.4 12.76 1.3 6.25 117.29 KB % 116.10 14 14 13 13 13 13 13 14 15 15 12 14 31 25 26 28 50 55 50 58 80 71 75 73 24 18 15 16 19 19 19 36 29 28 30 29 2.6 2.4 7.17 14.1 2.4 4.10 14.99 41.47 56. me 100g-1 ………………….04 135.46 1.73 35.10 24.36 5.16 43.4 9.6 14.4 7.02 0.38 59.4 1.7 5.0 2.26 0.20 0.02 Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi .02 0.15 1.67 130.37 1.50 5.3 5.0 2.57 21.6 14.69 0.55 127.80 0.2 34.26 35.08 0.36 14.00 0.46 1.2 12.40 0.0 42.50 51.4 4.94 14.42 0.92 16.02 0.68 44.30 0.0 9.48 14.13 0.53 1. 3 3 5 4 36 32 33 31 1 1 1 1 27 23 23 24 35 40 41 39 51 42 27 31 70 74 72 72 29 28 26 30 48 57 72 68 1.96 14.52 51.02 54.36 16.14 7.2 33.0 4.00 0.3 10.80 105.70 0.6 2.77 35.08 0.11 0.11 0.31 0.67 1.13 0.4 2.64 43.11 0.6 6.46 98.11 0.65 41.5 4.03 115.30 0.04 0.87 1.50 42. Sifat-sifat tanah smektitik Jawa Timur Table 2.37 22.6 4.3 7.8 12.47 0.3 3.02 0.00 0.0 10.2 5.5 5.86 1.43 JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.55 101.5 5.58 Tabel 2.54 40.00 0.13 0.68 14.12 0.3 21.3 6.95 38.00 0.1 9.57 13.40 0.33 0.5 12.52 1.51 1.07 21.5 6.03 0.38 0.2 7.44 0.35 49.95 101.32 50.00 0.3 2. Smectitic soil properties from East Java Lokasi pH (1:5) H2 O Demangan P sedang I P sedang II P sedang III P sedang IV Kedungrejo P tinggi I P tinggi II P tinggi III P tinggi IV Tirtobinangun P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi P sangat tinggi I II III IV KCl Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Tekstur Bahan organik HCl 25% Bray 1 Ekstrak amonium asetat 1 M pH 7 Pasir Debu Liat C N C/N P2O5 K2O P2O5 K Ca Mg Na Jumlah KTK …… g 100g-1 …… … g 100g-1 … mg 100g-1 mg kg-1 ………………….5 7.42 0.08 0.02 0.08 15.4 35.6 7.0 2.63 41.00 0.78 135.00 0.1 5.00 0.3 7.00 0.3 14.11 6. 28/2008 Lokasi Dihitung berdasarkan contoh kering 1050C Ekstrak DTPA KCl 1 N Fe Mn Cu Zn Al H ………… mg kg-1 ………… … me 100g-1 … 96 78 60 69 270 272 268 282 I II III IV 36 31 37 30 134 114 110 77 126 132 163 93 124 118 125 136 14.39 1.8 2.4 6.00 0.39 1.2 6.11 0.2 37.73 6.45 0.1 6.

Dobermann and Fairhurst (2000). KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH masam lempung berliat netral liat sedang sedang sangat tinggi sangat tinggi Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) Fedd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Mndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Cudd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Zndd tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi tinggi Kej. Aldd sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat rendah Sumber : Pusat Penelitian Tanah (1983). MASJKUR rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi DAN A. Criteria for evaluation of kaolintic and smectitic general soil properties Lokasi Purworejo 1 (P rendah) Purworejo 2 (P sedang) Simbarwaringin (P sangat tinggi) Demangan (P sedang) Kedungrejo (P tinggi) Tirtobinangun (P sangat tinggi) pH H2O Tekstur masam lempung berdebu masam lempung masam lempung berliat netral liat C-org N total P HCl 25% rendah sedang sangat tinggi sedang tinggi sangat tinggi P Bray 1 sedang tinggi sangat rendah sangat rendah sangat rendah sangat tinggi K HCl 25% sangat rendah sangat rendah rendah rendah sedang sedang Kdd sangat rendah rendah rendah sangat tinggi sangat tinggi sangat tinggi Cadd rendah rendah rendah tinggi sedang tinggi Mgdd rendah rendah rendah sangat rendah rendah rendah Nadd sangat rendah sangat rendah sangat rendah tinggi KTK rendah rendah rendah sangat tinggi KB rendah M. 59 .Tabel 3. Kriteria penilaian sifat-sifat tanah umum kaolinitik dan smektitik Table 3.

28/2008 Mineral liat Lokasi Demangan Kedungrejo Tirtobinangun Montmorilonit (Fe) MMontmorilonit Kaolinit (Fe) M-Nontronit Nontronit ++++ ++++ ++++ ++ ++ KaolinitHaloisit ++ Haloisit HaloisitKaolinit (Illit-Vermikulit) IRML + + + (KhloritIllit) IRML (+) Kuarsa (+) (+) (+) Ortoklas (+) Andesit (+) - Sumber : Soil Research Institute (1978) + ++ +++ ++++ (+) IRML = = = = = = sedikit sedang banyak dominan sangat sedikit irregular mixed layer .60 Tabel 4. Composition of clay minerals in kaolinitic soils Lampung Lokasi Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin Mineral liat Kaolinit ++++ ++++ ++++ Smektit (+) (+) (+) Illit (+) (+) (+) Kuarsa + + + Kristobalit (+) (+) (+) Goetit - Sumber : Prasetyo dan Kasno (2001) Tabel 5. Susunan mineral liat tanah sawah montmorilonitik Jawa Timur Table 5. Susunan mineral liat tanah sawah kaolinitik Lampung Table 4. Composition of clay minerals in smectitic soils East Java JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.

.. Difraktogram x-ray tanah kaolinitik (Prasetyo et al. Difraktogram x-ray tanah smektitik (Prasetyo et al. MASJKUR DAN A. 2004) Figure 2. 2004) 61 . 2004) Figure 1.. Diffractogram of x-ray smectitic soils (Prasetyo et al. Diffractogram of x-ray kaolinitic soils (Prasetyo et al.M. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH Gambar 1. 2004) Gambar 2..

463 2.5 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 3. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 2 Table 7.0 2.490 F 0. Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Figure 3.668 db 5 3 15 23 Kuadrat Tengah 0.344 0.599 0.798 9.558 1.5 3. 28/2008 4. P uptake of lowland rice with P fertilization in kaolinitic soils Tabel 6.78a 2.77a 1.51a 1.0 Lokasi P rendah P sangat tinggi P sedang 3.908 4. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Purworejo 1 Table 6.46c *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0. 0.228 Tabel 9. 0.5 1.939 Sig. Analisis ragam serapan P tanah kaolinitik Simbarwaringin Table 8.0 3. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 2 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 1.52a 2.615 Sig.746 Sig.62a 2. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Simbarwaringin Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 0.292 0.089 Tabel 7.99a*) 1.447 Tabel 8.189 5.579 16.112 0.07a 2.54a 2.05 62 .05a 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.5 2.0 2.09a 2.875 10.10a 3.363 1.761 0.89a 3.99a 1.50a 1.934 db 5 3 15 23 Kuadrat tengah 1.343 0.89b 2.5 0 0 50 50 100 150 100 150 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) Pupuk P (kg SP 36/ha) 200 200 250 250 Gambar 3.449 1.816 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 0.35a 3.030 3.77a 2.70a 3. Variance analysis of P uptake kaolintic soil from Purworejo 1 Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.213 F 1.639 F 1.227 1.0 1.33a 2.186 0.290 0.5 2.741 0.0 4. P uptake of straw with P fertilization in kaolinitic soils Pupuk P kg SP-36 ha-1 0 50 100 150 200 250 Rataan Serapan P Purworejo 1 Purworejo 2 Simbarwaringin ………………… kg P ha-1 ………………… 2. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah kaolinitik Table 9.033 5. 0.

Variance analysis of P uptake smectitic soil from Kedungrejo Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 5.000 0. 12.550 9.202 0.339 0. MASJKUR DAN A.92 kg P ha-1 dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 150 kg SP-36 ha-1. smektitik Demangan dan Tirtobinangun.646 0. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH 12 10 Serapan P (kg P ha-1) Serapan P (kg P/ha) 8 6 Lokasi P sangat tinggi P sedang P tinggi 4 2 0 50 100 150 200 250 Pupuk P (kg SP-36 ha-1) (kg SP36/ha) Gambar 4. Pada lokasi Tirtobinangun serapan P meningkat nyata dari 8. Pada tanah smektitik terdapat respon nyata serapan P dengan pemupukan Demangan dan Tirtobinangun.83 kg P ha-1 masingmasing dengan meningkatnya pemupukan P dari 0 hingga 100.161 4.682 Tabel 11. dan 10. dan 250 kg SP-36 ha-1.42. Pada lokasi Demangan serapan P meningkat nyata dari 2. Kedungrejo (P tinggi). P uptake of lowland rice with P fertilization in smectitic soils Grafik serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Demangan (P sedang). P cenderung terutama meningkat tanah pemupukan pada nyata. 0. Terlihat bahwa dengan kurva serapan P. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda 12.75 hingga 3.47. Pada lokasi Kedungrejo serapan P tidak berbeda nyata antara tanpa pemupukan P dengan pemupukan P (Tabel 13).866 63 . Analisis ragam serapan P tanah smektitik Demangan Table 10. dan Tirtobinangun (P sangat tinggi) dapat dilihat pada Gambar 4.241 Sig. dan 13). Serapan P padi sawah dengan pemupukan P pada tanah smektitik Figure 4. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Demangan Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 4.328E-02 F Sig.147 15.M.451 0.183 0.119 5. 11. sedangkan antar perlakuan lainnya tidak berbeda nyata.143 1.774E-02 9.756 0.512 0.762 F 1. 150. 11. P pada lokasi sedangkan pada lokasi Kedungrejo respon tidak nyata (Tabel 10. Tabel 10. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Kedungrejo Table 11.355 0.053 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.908 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 1.60 hingga 10.

13 Cadd -0.05 64 .33 0.05 Korelasi beberapa sifat-sifat tanah dan serapan P tanah kaolinitik dan smektitik Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa pada tanah kaolinitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.60a 8.701 F Sig.49 -0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah kaolinitik Table 14.52 Aldd 0. Analisis ragam serapan P tanah smektitik Tirtobinangun Table 12..835 8. Hal ini disebabkan karena pH tanah (2) amonifikasi N-organik.53 0. Hal ini menyebabkan peningkatan pH : N-organik → NH4+ + OH(3) jerapan spesifik dari molekul-molekul organik bahan humik dan/atau asam-asam organik (hasil dari Tabel 14.13 -0.84** 0. Sutami dan Djakamihardja dalam Prasetyo et al. (2004) mengemukakan bahwa kenaikan pH tanah bersamaan dengan reduksi tanah ditentukan oleh : (a) pH awal dari tanah.42b 7.83a 2.51tn) (Tabel 14). Makin tinggi kandungan bahan organik tanahnya.72** 0.36a 3.37a 2.99a 8. 8.41 Fedd -0.409 40.92b 10. Variance analysis of P uptake smectitic soil from Tirtobinangun Sumber Pupuk P Blok Galat Total Jumlah kuadrat 31. sehingga pH meningkat.46a 2. kg P ha-1 ……………….60* 0.38 0.06 Liat -0. terutama bahan organik mudah dilapuk.70a 11.52 -0.77** -0.32 -0.10 ** Nyata pada α= 0.92c berkorelasi negatif nyata dengan bahan organik (-0.64* 0.278 0.16 0. (b) dekomposisi oleh mikroba dan dekarboksilasi anion-anion asam organik (konsumsi proton dan pelepasan CO2) : R – CO – COO .16 0.75**)..956 db 4 3 12 19 Kuadrat tengah 7. N-organik diamonifikasi.51 -0. Haynes dan Mokolobate (2001) mengemukakan beberapa mekanisme berbeda mengenai peningkatan pH tanah dengan meningkatnya bahan organik tanah. makin besar kekuatan reduksinya dan peningkatan pH-nya.71* -0.01 * Nyata pada α= 0.75** 0.15 0. (b) macam dan kandungan komponen tanah teroksidasi terutama besi dan mangan.75** 0. serta (c) macam dan kandungan bahan organik.54 -0.000 0.313 0.397 0. 28/2008 Tabel 12.55 Ser-P -0.91a 2.27a 8.61a 10. 11.61* -0.75a 8.29 0. Hal tersebut meliputi : (1) oksidasi anion-anion asam organik selama dekomposisi bahan organik. Correlation of soil properties with P uptake in kaolinitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.47b 8. P uptake of straw with P fertilization in smectitic soils Pupuk P kg SP-36ha-1 0 50 100 150 250 Rataan Serapan P Demangan Kedungrejo Tirtobinangun ……………….+ H+ → R C H O + CO2 *) Rataan dengan huruf sama tidak berbeda nyata pada α=0.711 0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Serapan P jerami dengan pemupukan P pada tanah smektitik Table 13.68* -0.99a 2. Selama dekomposisi bahan organik.55 -0.07 0.77** -0.928 0.13 0. Dua mekanisme dalam hal ini adalah : (a) anion-anion asam organik dapat mengkompleks proton (H+).18 -0.03 C -0.757 Tabel 13.39b 9.83b 8.

sehingga serapan P tanaman meningkat.29tn) . KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH dekomposisi bahan organik) pada Al dan (hidroksida). Pada ¾ dari jerapan maksimum.07tn. (3) pelapisan Fe/Al oksida oleh humus membentuk lapisan protektif dan mengurangi jerapan P. 2001). (2) penggantian anion H2PO4.Fe oksida--L + Plar dimana : L = agen kompleks Fe-organik (ligan) dan Plar = fosfat anorganik. MASJKUR DAN A.33tn. 2001) dan meningkatkan kelarutan besi dan aluminium fosfat karena reduksi (Kyuma.5-7. Cadd (-0.. Sesuai dengan Trakoonyingcharoen et al.. menunjukkan bahwa fraksi liat (< 2 µ) tanah kaolinitik didominasi oleh mineral liat Al-silikat (kaolinit) daripada besi oksida. antara lain reduksi valensi lebih tinggi Mn oksida dan/atau Fe (hidroksida) dalam tanah : MnO2 + 2H+ + 2e. Kadar liat pada tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0.10tn) (Tabel 14). semakin meningkat pula serapan P padi sawah. sehingga merangsang reaksi reduksi dan peningkatan pH. Hal ini dapat disebabkan oleh : (1) pembentukan kompleks organofosfat lebih mudah diassimilasi oleh tanaman. Dengan demikian jumlah mineral kaolinit juga tidak berperan nyata dalam serapan P tanaman. sehingga dapat diserap oleh tanaman.4H2O) dan banyak terdapat pada tanah sawah masam. 65 . menunjukkan bahwa semakin meningkat bahan organik tanah. dan Aldd tanah kaolinitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (masing-masing r=0. Bahan organik tanah berkorelasi positif nyata dengan serapan P padi sawah (r = 0. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0. dan 0. Haynes and Mokolobate. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat (kation dapat ditukar) menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. dan (4) meningkatnya jumlah P organik dimineralisasi menjadi P anorganik (Havlin et al.64*). sehingga cenderung mengurangi jerapan P (Haynes and Mokolobate. pertukaran ligan berperan lebih besar dalam pelepasan P.+ H2O ↔ Fe2+ + 3OHPeningkatan pH tersebut memberikan muatan negatif lebih besar pada permukaan jerapan. 0. nampaknya fosfat tersebut tidak dalam bentuk tersedia. 1999). Kation Cadd.↔ Mn2+ + 2OHFeO (OH) + e. sehingga berperan tidak nyata dalam serapan P tanaman (Havlin et al.71*).↔ M – (OH)2 – COO + OH- Fe (4) reaksi reduksi. mekanisme dominan dari pelepasan P oleh asam organik (organic-acid induced P release) adalah pelarutan kompleks ligan-Fe oksida (ligand-enhanced dissolution) : P Fe oksida-P+L---Fe oksida---Fe oksida+Fe L 3+ --L+Plar daripada pertukaran ligan (ligand exchange) : Fe oksida--P + L --. 1999. Kondisi anaerobik selama penggenangan dapat meningkatkan dekomposisi bahan organik (karena aktivitas mikroba intensif). urutan keefektifan ligan organik dalam pelepasan P adalah sitrat (19% dari P total terjerap awal) > malat (14%) > tartrat (5%) >> oksalat = malonat = suksinat (0. Pada konsentrasi P terjerap lebih kecil (¼ dari jerapan maksimum).68*).5) dan ketersediaan fosfat optimum.3-1. sehingga melepaskan ion OH.60*).2%). Rendahnya bahan organik (< 2. (2005) bahwa pada tanah Ultisols dan Oxisols jumlah mineral kaolinit berkorelasi tidak nyata dengan koefisien-koefisien jerapan P (jerapan maksimum).M. Fedd.61) (Tabel 14). dan bahan organik (-0.: M – (OH)3 + COO. Johnson dan Loeppert (2006) mendapatkan bahwa pada ferihidrit (besi oksida agak kristalin (poorly crystalline) dengan rumus Fe5HO8.0% ) pada tanah kaolinitik nampaknya tidak nyata mendukung peningkatan pH tanah tersebut mendekati netral (6. kalsium karbonat atau bahan organik.pada tapak-tapak jerapan. Walaupun kadar liat berkorelasi positif nyata dengan P total (HCl 25 %) (0. 2004).

14tn). Fedd. Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa pada tanah dengan pH tinggi P yang dilepaskan dari liat dan Ca pada tanah karena menurunnya pH dapat diikat oleh Fe. Peningkatan bahan organik sawah. Hal ini disebabkan karena kation pada permukaan mineral liat silikat menarik dan memegang jumlah sedikit anion H2PO4-. Hal ini disebabkan karena (1) pada mineral liat tipe 2:1 bahan organik dapat diikat pada ruang antar lapisan (interlayer) dari mineral liat.05 0.. kadar liat. Berdasarkan hasil di atas dapat dikatakan bahwa pada tanah kaolinitik bahan organik tanah merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. 1999.90**) dan Cadd (0. dan Fedd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. Cadd.98** Fedd -0. dan Aldd kurang terandalkan sebagai indikator ketersediaan P. Rochayati (1995) mendapatkan bahwa pH tanah Vertisols Ngawi hanya menurun sedikit dengan penggenangan dan P terekstrak Olsen relatif tidak berubah.49tn).28 0.72** -0.98**). peningkatan bahan organik pada tanah smektitik cenderung menurunkan serapan atau ketersediaan P padi sawah.30 0. Killham. 1999). sedangkan pH tanah. Hal ini disebabkan karena kadar liat berkorelasi positif nyata dengan Cadd (0. sehingga P tersedia relatif tidak berubah. menunjukkan bahwa meningkatnya bahan organik tanah cenderung menurunkan serapan P tanaman.88** C -0.94**).20tn). He et al.17 -0.20 -0. sedangkan pH tanah.10 0.14 - Tabel 15 menunjukkan bahwa pada tanah smektitik pH tanah berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0.94** -0.81** 0. Kandungan bahan organik tanah berkorelasi negatif nyata terhadap serapan P padi sawah (r = -0.39 -0. sehingga P dijerap sulit diserap oleh tanaman (Tan. Pada tanah smektitik bahan organik tanah juga merupakan sifat tanah utama mempengaruhi ketersediaan P padi sawah. Kation Cadd dan Fedd berkorelasi tidak nyata pada serapan P padi sawah (masing-masing r = -0.01 Cadd -0. kadar liat.49 -0. 1998.10 -0.99** Liat 0..90** 0.99**). 28/2008 Tabel 15. Hal ini disebabkan karena pH tanah berkorelasi positif nyata dengan kadar liat (0. Korelasi sifat-sifat tanah dan serapan P pada tanah smektitik Table 15.78** -0. Kadar liat pada tanah smektitik berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah (r = -0. Namun demikian.05 0. pada tanah kaolintik cenderung meningkatkan serapan atau ketersediaan P padi 66 .40 -0.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. tetapi berkorelasi negatif nyata dengan Fedd (-0.55 Aldd Ser-P -0.98** -0.95** 0. (2) pada pH netral aktivitas mikroba cukup tinggi dan dapat menggunakan (imobilisasi) P larutan sebagai P-mikroba menghasilkan molekul P organik lebih resisten (Havlin et al.30tn dan 0.88**). 1999).50 0. Correlation of soil properties with P uptake in smectitic soils Fraksi P pH Liat C P HCl-25 P Bray 1 Cadd Fedd Aldd pH 0.66* 0.81**). Sesuai dengan penelitian Hartikainen dan Simojoki (1997) bahwa dinamika fosfat pada fraksi liat tanah merupakan pengaruh bersih (net effect) dari dua pengaruh bersamaan. Cadd. tetapi reaksi berlawanan pada fraksi liat yaitu pelepasan fosfat dari Ca dan pengikatan fosfat oleh Fe .15 0.

B. A.. Philippines. Pada tanah kaolintik peningkatan bahan organik cenderung meningkatkan serapan P padi sawah. 2005. 2000.. Responsivitas serapan P padi sawah terhadap pemupukan P pada tanah kaolinitik dan smektitik berhubungan dengan kandungan bahan organik tanah bersangkutan. 1990. crystal chemistry.H.. fisika. Loeppert.L. Komposisi Mineral dan Fisika-Kimia Tanah Sawah Irigasi di Propinsi Lampung.D. Role of organic acids in phosphate mobilization from iron oxide.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan.D. Paddy Soil Science. International Rice Research Institute.K. Las. Soil Ecology. Bogor. In M. 157-166. Optimalisasi Sumberdaya Lahan dan Air untuk Pembangunan Pertanian Tanaman Pangan. dan biologi lahan sawah. Fairhurst. 1983. H. Killham. Beaton. Dobermann. Los Banos. Fedd. Kyoto University Press. dan A. Proposal Rencana Penelitian Tim Peneliti (RPTP).M. Clays Clay Miner. and T. dan E. A. New York. Plenum Press. De Boodt. UK. Mokolobate. Soil Fertility and Fertilizers. J. New York. He. Japan.H. Eur. K. and A. Simanungkalit. Tisdale. Bogor. Hartatik (Eds. A. Klasifikasi Kesesuaian Lahan. Nutrient Disorders and Nutrient Management.. SornSrivichai.L. Hayes. Prasetyo. Nelson. Metherell. Sifat Morfologi. Cadd. Bogor. dan Aldd berkorelasi tidak nyata dengan serapan P padi sawah. Soil Sci. and A. 1999. R.) Tanah Sawah dan Teknologi Pengelolaannya. Violante. and M. Plenum Press. S. and A. New Jersey. 1999. A. Hartikainen. sedangkan pada tanah smektitik peningkatan bahan organik cenderung menurunkan serapan P padi sawah. 59:47-63.Z. Pusat Penelitian Tanah. A. and M. MASJKUR DAN A. Pp. 1990.C. 1997. 2004. A. 2004. Pasandaran. Adiningsih. Cambridge University Press. K. Cornforth.F. Cycl.M. Tanah Trop. J. 2006. Pp. Herbillon (Eds. kimia. Johnson. dan R. 7-38.F. 1999. 70:222-234.H. and R. Amelioration of Al toxicity and P deficiency in acid soils by additions of organic residues: a critical review of phenomenon and the mechanisms involved. A. Brown.) Soil Colloids and their Association in Aggregates. Haynes. Pp. dan W. An Introduction to Nutrient Management. Hayes. and P. S. Kyuma.S. J. Fagi. I. Havlin. 2001. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. M. A. 39-56.E. Comparison of adsorption of phosphate. and origin of the phyllosillicate minerals common in soil clays. 67 . Hardjowigeno. Agr. Prentice-Hall.J. Teknologi Pengelolaan Lahan Sawah untuk Padi VUTB/Hibrida. Newman.M. Simojoki. 1999. Philippines. Soc. International Rice Research Institute.S.Am. G.D.L. 2001. Laguna. Laguna. Hayes. J.S. Some Properties of clays and of other soil colloids and their influence on soils. In Proceedings of Symposium Phosphorus Requirements for Sustainable Agriculture in Asia and Oceania. Subagyono.B. Mineralogi. M. De Boodt. 48:493498. 1990. I. J. 12:155-167. Hidayat. 47:226-233. Structure..H. kadar liat. Herbillon (Eds. KASNO : KORELASI BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH DENGAN SERAPAN FOSFOR PADI SAWAH KESIMPULAN 1. Bogor.H. 2. Nutr. Balai Penelitian Tanah. J. S. Kasno.H. A. Los Banos. De Cristofaro. and A. Pada tanah kaolinitik dan smektitik pH tanah. Assessing Fertilizer Requirements. and W. and oxalate on hydroxy aluminium montmorilonite complexes. J. B. Agus. Kasno. Prasetyo. tartrate. Adimihardja. In M. Soil Sci. K. Dalam F. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Changes in solid-and solution-phase phosphorus in soil on acidification.B.B. Kyoto.

Report on Semi Detailed Soil Survey of the Widas Irrigation Project (Nganjuk. Adiningsih. Faculty of the Graduate School. Hlm. 68 . Bogor.) Pengelolaan Hara P dan K pada Padi Sawah. K. S. The Behavior of Phosphorus in Some Indonesian Paddy Soils in Relation to the Growth of Rice (Oryza Sativa L. Phosphate sorption by Thai red Oxisols and red Ultisols. 9-37. Soil Sci. Yogyakarta. A.J. and R. Rochayati. Sofyan. 1995. Kartaatmadja (Eds. 28/2008 Rochayati. Gadjah Mada University Press. Kheoruenromne. 2005. dan S. Los Banos. Gilkes.. Dasar-dasar Kimia Tanah. 1978. Suddhiprakarn. 1998. dan J. A. 170:716-725.H. East Java). Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Pembinaan dan pengembangan program uji tanah untuk hara P dan K pada lahan sawah. Tan. Bogor. Trakoonyingcharoen. P.).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 2002. Dalam Z. University of the Philippines. I. Philippines. S. Soil Research Institute. Zaini.S.

NH4+. Maize. Na+. 2. as well as maize yield in smectitic soils have been conducted in Laboratory of Research and Soil Test and Green House of Indonesian Soil Research Institute. Na+. 125. Bogor. is relatively low due to fixation by smectite in interlayer space. NH4+. dan Blora (Haplustalf Tipik). NH4+. The results showed that oxalic acid.A. IPB. asal disertai dengan pengelolaan tanah dan tanaman yang tepat. P. Plant N. Oxalic acid significantly increased plant N. The Fe3+ with 50% of maximum adsorption rate caused plant death. Fakultas Pertanian. Bogor. NH4+. NH4+.000. Penelitian yang bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Na+. NH4+. thus the experiment was repeated in the next season with Fe3+ rates: 0. and K Uptake. Walaupun kadar K total tanah tinggi. and K uptake in Vertisols. Departemen Pertanian. RACHIM3. K. Direktur Perluasan Areal. and Fe3+ on availability of soil K. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. NH4+. SABIHAM3. Percobaan inkubasi di laboratorium dan pot di rumah kaca menggunakan Rancangan Faktorial dalam Rancangan Acak Kelompok. Fe3+. 375. dan percobaan pot menggunakan jagung varietas Pioneer 21 sebagai tanaman indikator. PENDAHULUAN Kalium merupakan hara makro yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak setelah N dan P.) pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit telah dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanah. Pengajar pada Departemen Ilmu Tanah. NH4+. Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. and Blora (Typic Haplustalfs) were used for experiments. Umumnya kalium diserap tanaman dalam ABSTRACT Smectitic soils have high prospect to be developed for agricultural land under a proper soil and plant management. P. serta Produksi Jagung pada Tanah-tanah yang Didominasi Smektit Effect of Oxalic Acid.000 ppm. 2. Na+. Cilacap (Endoaquert Kromik). dimana pengaruhnya di Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. sedangkan faktor kedua adalah penambahan kation. karena K difiksasi oleh mineral liat smektit. SOFYAN4 ABSTRAK Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian. and Fe3+ on Availability of Soil K. Na+. NURSYAMSI1.000. Takaran Fe3+ 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati sehingga percobaan diulang di musim berikutnya dengan takaran Fe3+: 0. P. Na+. ulangan tiga kali.000. dan 4. Oxalic acid significantly increased 4week-after-planting biomass dry yield in Typic Hapludalfs and Typic Endoaquerts.000 ppm. serapan N. Bogor. Guru Besar pada Departemen Ilmu Tanah. L. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased plant K uptake in Alfisols as well as N. P. 4. P dan K tanaman di Vertisols. dan 500 ppm. Fe3+. P. yaitu: tanpa kation.000. Key words : Oxalic acid. 1. Smectitic soils. Na+. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam oksalat. ISSN 1410 – 7244 69 . Soil available K. dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum. Four different types of bulk soil samples taken from Bogor (Typic Hapludalfs). Researches aimed to study the effect of oxalic acid. P. 2. Na+. Ditjen Pengelolaan Lahan dan Air. Ngawi (Typic Endoaquerts). and 4. NH4+. dan K. Fakultas Pertanian. DAN A. Na+. IDRIS2. The effectiveness of the treatments to release K from non available to available K form in the soils was in order of Fe3+ > NH4+ > Na+ > oxalic acid. and K uptake in Vertisols. and Fe3+ significantly increased the availability of soil K in both Alfisols and Vertisols where the effect was higher in Vertisols than Alfisols. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering jagung umur 4 minggu setelah tanam (MST) pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Cilacap (Chromic Endoaquerts). Percobaan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (Hapludalf Tipik). P. NH4Cl. however. NH4+. The soils are commonly high in total K content. S. NH4Cl. yaitu: 0. while 125 ppm of Fe3+ significantly increased the yield in Chromic Endoaquerts and Typic Endoaquerts. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. and Maize Yield in Smectitic Soils D. and FeCl3 respectively with 50% of maximum adsorption rate. 375. 125. dan Fe3+ masing-masing dari NaCl. Tanah yang didominasi smektit plant growth. while the second one was application of cations: without cation. Serapan N. Peneliti pada Balai Penelitian Tanah. Na+. K tersedia. dan K tanaman di Vertisols. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. and K uptake. dan Fe3+ terhadap Ketersediaan K Tanah. dan K Tanaman. Jagung. The first factor was oxalic acid rates: 0. IPB. Ngawi (Endoaquert Tipik). plant N. 1.Pengaruh Asam Oksalat. and 500 ppm. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di Alfisols maupun Vertisols. 250. Bogor. Incubation and pot experiments were set up using Factorial Randomized Completely Block Design with three replication and pot experiment used maize of Pioneer 21 variety as plant indicator. and Fe3+ from NaCl. 3. Bogor. D. tapi ketersediaan kalium bagi tanaman sering menjadi masalah. 250. It’s availability for 1. Kata kunci : Asam oksalat.

1997).12 juta ha (Vertisols sekitar 2. 1987). 70 . Kalium tidak dapat dipertukarkan meliputi K terfiksasi dan K struktural (Kirkman et al. yaitu lebih dari 2. 1989) yang dominan di tanah tersebut. dan aluvial (Inceptisols dan Alfisols) (Dhillon and Dhillon. Kilic et al. 1987). Kompetisi tersebut sering terjadi terutama di tanah yang didominasi mineral yang mempunyai kapasitas jerapan tinggi terhadap kedua kation tersebut. seperti dari golongan smektit (Borchardt. Song and Huang (1988) juga melaporkan bahwa Ktdd dari struktur mineral yang mengandung K (biotit. Walaupun kadar K total tanah (K potensial) tinggi. dan Jatim). seperti beidelit dan vermikulit (Bajwa. 2002. Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air. Mn. dan Nusa Tenggara (Lombok) (Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.12 juta ha ditambah sebagian Inceptisols dan Alfisols) yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar. dan lain-lain) yang sebelumnya tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Marschner. kelembaban. 1999). tetapi ketersediaan K bagi tanaman (K aktual) sering menjadi masalah karena K difiksasi oleh mineral liat tipe 2:1. Jateng. muskovit. Sulteng. spesies dan varietas tanaman juga berpengaruh terhadap serapan K. Oleh karena itu perlu dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi fiksasi K tanah sehingga ketersediaannya bagi tanaman meningkat. dimana asam oksalat mempunyai efektivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan asam sitrat (Zhu and Luo. Tanah-tanah yang didominasi mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal disertai dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. 1987). daya sangga.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Salah satu mekanisme ketoleranan tanaman terhadap kekurangan hara adalah dengan cara mengeluarkan eksudat asam organik di sekitar akar (rhizosphere). 28/2008 bentuk K larut (soluble K) yang berada dalam reaksi keseimbangan dengan K dapat dipertukarkan (exchangeable K) dan K tidak dapat dipertukarkan (non-exchangeable K). Selain itu Na+ dari sodium tetraphenyl boron dapat melepaskan K terfiksasi menjadi K tersedia di tanah merah (Alfisols). kapasitas tukar kation. Tanaman akan mengalami kekahatan apabila K aktual di dalam tanah saat tanaman tumbuh lebih rendah dari batas kritisnya (K yang dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya). K. Ketersediaan kalium bagi tanaman tergantung aspek tanah dan parameter iklim yang meliputi: jumlah dan jenis mineral liat. Selain faktor tanah dan iklim. hitam (Vertisols). Penelitian yang dilaksanakan di India menunjukkan bahwa tanahtanah Vertisols mempunyai kapasitas fiksasi K (Kfixing capacity) dan daya sangga terhadap K (PBCK) yang sangat tinggi (Ghousikar and Kendre. mikroklin. 1999).. Bentuk K larut dan dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang cepat tersedia sehingga sering disebut sebagai K tersedia atau K aktual.. Selanjutnya asam organik dapat melarutkan hara (P. aerasi dan pH tanah (Havlin et al. Fe. Na+. dimana tanaman yang toleran memerlukan K dalam jumlah sedikit dan sebaliknya tanaman sensitif memerlukan K dalam jumlah banyak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa asam organik dan sejumlah kation (NH4+. dan Gorontalo). 1993). Sulawesi (Sulsel. dan lainlain) mempunyai peranan yang sangat penting dalam meningkatkan ketersediaan K tanah. dan ortoklas) dapat dilepaskan oleh asam oksalat dan sitrat. 1994). Asam oksalat dan sitrat dapat melepaskan K tidak dapat dipertukarkan (Ktdd) menjadi K dapat dipertukarkan (Kdd) dan K larut (Kl) pada tanah-tanah yang berbahan induk batu kapur. Selain itu NH4+ dan K+ dapat berkompetisi dalam menempati kompleks jerapan di posisi inner dari ruang antar lapisan mineral liat tipe 2:1 (Evangelou and Lumbanraja. 1992). 1989) dan vermikulit (Douglas. Sementara itu bentuk K tidak dapat dipertukarkan merupakan bentuk K yang lambat tersedia sehingga disebut sebagai K potensial. Beberapa kation seperti Ca2+ dan Na+ dapat menggantikan posisi K di dalam struktur mineral muskovit akibat pelapukan (Shidu. Dengan demikian maka pengelolaan hara K untuk meningkatkan produksi tanaman perlu memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas. suhu. 2000)..

Faktor pertama adalah takaran asam oksalat. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 1 kg pot-1 bobot kering mutlak (BKM). (2007). Ngawi (B3). Kdd. dan Wood dan DeTurk (1940). Klasifikasi tanah di daerah penelitian Table 1.000 ppm. Ktdd. L. SERAPAN N. yaitu: tanpa kation. sangat halus. NH4+.D. P. iklim. Bertitik tolak dari pemikiran di atas penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian asam oksalat. Faktor kedua adalah penambahan kation. yaitu percobaan inkubasi di laboratorium dan percobaan pot di rumah kaca. Tanah diinkubasi selama kadar dipertahankan dalam kapasitas lapang dengan cara menambahkan air bebas ion seminggu dua kali. isohipertermik Haplustalf Tipik. isohipertermik Endoaquert Kromik. P. dan Fe3+ masingmasing dalam bentuk NaCl. : PENGARUH ASAM OKSALAT. Tahapannya adalah sebagai berikut : Tabel 1. 1. dan Blora (B4).) pada tanahtanah yang didominasi mineral liat smektit. dan 4. Hasil klasifikasi tanah berdasarkan deskripsi profil tanah di empat lokasi tersebut disajikan pada Tabel 1 sedangkan hasil analisis pendahuluan keempat contoh tanah tersebut disajikan pada Tabel 2. serta produksi tanaman jagung (Zea mays. NURSYAMSI ET AL. Selanjutnya penelitian dilaksanakan melalui dua rangkaian kegiatan. Na+. smektitik. NH4+. semi aktif. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH.000. Cilacap (B2). dan FeCl3 dengan takaran 50% jerapan maksimum (Tabel 3). digerus lalu diayak dengan ayakan 2 mm.000. campuran. Pengambilan contoh tanah bulk mempertimbangkan: bahan induk tanah. Balai Penelitian Tanah Bogor dengan menggunakan empat contoh tanah bulk yang diambil dari Bogor (B1). berkapur. 2. NH4+. NH4Cl. Selanjutnya contoh tanah diaduk hingga homogen setiap minggu. DAN K TANAMAN Demikian pula Na dapat mengurangi sebagian kebutuhan pupuk K tanaman tebu pada tanah Vertisols di lahan perkebunan tebu Jawa Timur (Ismail. serapan N. yaitu: 0. berkapur. dan K. BAHAN DAN METODE Percobaan dilaksanakan di Laboratorium Penelitian dan Uji Tanah serta Rumah Kaca. contoh tanah diambil sekitar 250 gram. isohipertermik Endoaquert Tipik. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Bahan tanah dikering-udarakan. halus. Na+. smektitik. berkapur. 1997). (1982). Bentukbentuk K yang meliputi: Kl. dikeringudarakan. Setelah inkubasi mencapai 12 minggu. Kt ditetapkan dengan metode yang diuraikan oleh Helmke dan Sparks (1996). Sifat-sifat kimia dan mineralogi tanah lebih rinci telah dilaporkan oleh Nursyamsi et al. isohipertermik *) Oldeman (1975) 71 . NA+. lalu tanah diaduk hingga homogen. sangat halus. halus. ditumbuk. smektitik. Knudsen et al. Percobaan inkubasi di laboratorium Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial. kadar Kdd dan mineral liat smektit tanah. Semua pupuk 12 diberikan minggu kondisi dalam dan bentuk air larutan. Soil classification of site experiments Kode Lokasi B1 B2 B3 B4 Bogor Cilacap Ngawi Blora Bahan induk Batu kapur Sedimen liat berkapur Sedimen liat berkapur Batu kapur Zone agroklimat*) B1 B1 C3 C2 Klasifikasi tanah Hapludalf Tipik. dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah. diayak dengan saringan 2 mm.

04 33. 28/2008 Tabel 2.01 1.555 5.12 0.22 0.. lalu ditambah 1 ml aquades dan 10 ml HNO3 dan HClO4 pekat.35 0. dan Fe3+ pada tiap jenis tanah Table 3.03 > 100 0.65 11.03 56.97 58 5.38 13. lalu ditambahkan 20 ml 72 Setengah gram contoh tanah dimasukkan ke dalam teflon bom. Teflon bomb .82 Haplustalf Tipik 48 27 25 7.36 4.97 9.. K dapat dipertukarkan NH4OAc 1 N pH 7 dan dikocok selama 30 menit.56 3.….11 10 222 41 34.01 0.06 0.12 9 178 30 0.00 0. NH4+.0002 M CaCl2 dan dikocok selama 1 jam.000 5.41 42.47 4...13 0.. Tahapan tersebut diulang lalu volume supernatan diimpitkan dengan penambahan NH4OAc 1 N menjadi 50 ml.24 1.12 11 548 134 10.97 92 5.21 10.88 1.16 24. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan atomic absorption spectrophotometer (AAS).500 rpm selama 20 menit dan supernatan ditampung..72 1..19 H2O (1:2. mg kg-1 ……………..36 0.96 2.95 0.98 > 100 0.11 0.……..01 6..00 0.36 0. Ekstrak tanah disentrifus selama 10 menit dengan kecepatan 2. Takaran Na+. lalu ditambahkan 20 ml 0.5) KCl 1 N (1:2. Sifat-sifat tanah lapisan atas (0-20 cm) dari lokasi percobaan Table 2.28 0. 59 68 82 60 65 104 96 85 5.………….55 Endoaquert Kromik 13 32 55 6.45 Endoaquert Tipik 9 35 56 5.01 13. Rate of Na+.06 0.………….000 rpm dan supernatannya ditampung.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.………….10 13 148 187 5.57 0.42 38.000 K larut Lima gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus. and Fe3+ of each soil Kation Na+ NH4+ Fe3+ Senyawa NaCl NH4Cl FeCl3 Hapludalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Haplustalf Tipik …………. Ekstrak tanah disentrifus dengan kecepatan 3.00 0. Top soil characteristics (0-20 cm) of study location Sifat-sifat tanah Tekstur Pasir (%) Debu (%) Liat (%) pH Bahan organik C-organik (%) N-total (%) C/N P dan K potensial P2O5 (mg 100g-1) K2O (mg 100g-1) P tersedia (mg P2O5 kg-1) Nilai tukar kation Cadd (me 100g-1) Mgdd (me 100g-1) Kdd (me 100g-1) Nadd (me 100g-1) KTK (me 100g-1) KB (%) Kemasaman Aldd (me 100g-1) Hdd (me 100g-1) Pipet Metode Hapludalf Tipik 26 32 43 5..000 5.00 0. Selanjutnya kadar K dalam supernatan diukur dengan AAS.5) Kurmies Kjeldahl HCl 25% Bray 1 NH4OAc 1 N pH 7 NH4OAc 1 N pH 7 KCl 1 N Tabel 3. NH4+. K total Dua gram contoh tanah dimasukkan ke dalam botol sentrifus 50 ml.

41. HASIL DAN PEMBAHASAN Ketersediaan K tanah Kadar K potensial (HCl 25%) tanah-tanah di lokasi penelitian semuanya termasuk tinggi. Sementara itu Fe3+ sangat nyata (P > 0. Labu dikocok dan larutan diimpitkan menjadi 100 ml dengan menambahkan air bebas ion. lalu dimasukan ke dalam pot sebanyak 2 kg pot-1 BKM. Selain itu perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Dibandingkan dengan kontrol. 0. Perlakuan Na+ nyata meningkatkan Kl tapi tidak berpengaruh nyata terhadap Kdd sehingga tidak berpengaruh nyata terhadap Ktdd tanah. Hal ini disebabkan karena sebagian besar K terfiksasi di ruang antar lapisan mineral liat smektit (Goulding. NH4+. Na+ dan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Namun demikian perlakuan Fe3+ dengan takaran 50% jerapan maksimum menyebabkan tanaman mati keracunan sehingga pada musim berikutnya percobaan diulang dengan takaran Fe3+ diubah menjadi lima tingkat. 250. Pengamatan dilakukan terhadap bobot basah dan kering (70 oC 48 jam) tanaman umur 4 MST. Selanjutnya kadar K dalam larutan diukur dengan AAS. Percobaan menggunakan pupuk dasar masing-masing 300 ppm N dan 200 ppm P. SERAPAN N. Percobaan pot di rumah kaca Percobaan ini juga menggunakan rancangan dan perlakuan yang sama dengan percobaan inkubasi. diayak dengan saringan 2 mm. 375.35 me 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik.28. asam oksalat nyata meningkatkan Kl dan Kdd tanah sehingga sangat nyata menurunkan Ktdd tanah Vertisols. tanaman dijarangkan menjadi 3 tanaman per pot. lalu tanaman dipanen saat berumur 4 MST. dan K tanaman dilakukan setelah contoh tanaman didestruksi dengan menggunakan H2SO4-H2O2 pekat (analisis N) dan . Pada tiga tanah pertama meskipun K potensial tinggi tetapi K dapat dipertukarkannya rendah. 1987) sehingga sulit terekstrak oleh NH4OAc 1 N pH 7. Berbeda dengan di tanah Alfisols. 125. Kadar air tanah dipertahankan pada kapasitas lapang.12. yakni sangat nyata meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. Sementara itu Fe3+ berpengaruh sangat nyata terhadap semua peubah yang diuji. dan 0.99) meningkatkan Kl dan Kdd sehingga sangat nyata pula menurunkan Ktdd tanah. Sisa cairan dalam teflon dicuci dengan air bebas ion dan dimasukkan ke dalam labu ukur. : PENGARUH ASAM OKSALAT. 134. Selanjutnya interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 4). Asam borat 2. dan Haplustalf Tipik (Tabel 2). Endoaquert Kromik. dan 500 ppm.D. Endoaquert Tipik.11. Perlakuan NH4+ tidak berpengaruh nyata terhadap Kl tapi nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah. Semua pupuk perlakuan diberikan dalam bentuk larutan. 0. Bahan tanah dikering-udarakan. Sementara itu K dapat dipertukarkan (NH4OAc 1 N pH 7) berkisar antara rendah hingga tinggi. NURSYAMSI ET AL. nyata meningkatkan Kdd sehingga nyata menurunkan Ktdd tanah Alfisols. yaitu : 0. ditumbuk. Analisis serapan N. Endoaquert Tipik. yakni 30. lalu tanah diaduk hingga homogen. Konsentrasi N dan P dalam larutan diukur dengan menggunakan spektrofotometer sedangkan K dengan AAS.8 g ditambahkan ke dalam labu ukur plastik 100 ml. Selanjutnya 73 K tidak dapat dipertukarkan didefinisikan sebagai K total dikurangi oleh K larut dan K dapat dipertukarkan (Ktdd = Kt – Kl – Kdd). apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea. yakni 0. NA+. P. Benih jagung varietas Pioneer-21 ditanam 5 biji per pot dan setelah berumur 1 MST. dan Haplustalf Tipik. Endoaquert Kromik. dan 187 mg 100g-1 berturut-turut untuk Hapludalf Tipik. Asam oksalat tidak berpengaruh terhadap Kl. P. kemudian ekstrak tanah dituangkan ke dalam labu. DAN K TANAMAN ditempatkan pada metal container dan dipanaskan pada suhu 383oK selama 3 jam. K tidak dapat dipertukarkan HNO3-HClO4 pekat (analisis P dan K).

NH4+. and Fe3+ on soil Ksol. Pengaruh asam oksalat. and Knon-exch.13 a 13.000 2.00 59.38 27.34ns 279 a 280 a 267 ab 262 b 314 b 299 b 292 b 183 a 3.25 b 58. NH4+ tidak nyata meningkatkan Kl. Reaksi tersebut dipengaruhi antara lain oleh jumlah (molaritas) dan valensi kation yang ditambahkan (Tan.38 67.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT. Na+. Kedua faktor tersebut menyebabkan pemberian Na+ tidak nyata meningkatkan Kl dan Kdd.00 a 12. K yang lepas dari Ktdd menjadi Kdd umumnya K yang berada di posisi interlayer (i).JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 74 .000 4. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. mg kg-1 …………….50 70. Kalium yang lepas dari pool Ktdd menjadi Kdd (relesase) dan dari Kdd menjadi Kl (desorption) pada Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols.13 b 165.38 b 155. sedangkan K yang lepas dari Kdd menjadi Kl adalah K yang berada di posisi planar (p) dan edge (e) (Goulding. Effect of oxalic acid. 1998).00 26.50 bc 165. Kexch. Na+.000 2. NH4+.000 4.25 c 152. 2007). NH4+.13 70. Asam oksalat tidak nyata meningkatkan Kl pada Alfisols. Tingkat 13.13 mg kg-1 (412%). NH4+. Diantara kation yang dicoba ternyata Fe3+ paling efektif dalam melepaskan Ktdd menjadi Kdd dan Kl di kedua jenis tanah yang diteliti.88 b 16.30 55. Hal ini disebabkan antara lain karena kadar K total tanah Vertisols jauh lebih tinggi dibandingkan Alfisols (Nursyamsi et al. forms after three months incubation in Alfisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.60 <1 56.000-5. Tampak bahwa pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diuji lebih tinggi pada Vertisols dibandingkan Alfisols. 1987).75 menjadi 142. forms after 3 months incubation in Vertisols Perlakuan Asam oksalat 0 1.60 <1 27.38 b b a a 301 303 292 291 a a b b Pelepasan K di tanah-tanah yang didominasi smektit oleh penambahan kation dapat berlangsung melalui reaksi pertukaran kation. Pemberian kation jauh lebih efektif dalam meningkatkan ketersediaan K di dalam tanah dibandingkan dengan asam oksalat..38 a 12.50 b 64. Kdd.88 menjadi 58. Kexch. Sementara itu Fe3+ dapat meningkatkan Kl dari 13. wedge (w).75 58. Kdd. sedangkan pada Vertisols nyata. Pengaruh asam oksalat. Selain itu Na+ dan NH4+ bervalensi I sedangkan Fe3+ bervalensi III.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl ……………… mg kg-1 ……………… 59.75 b 73. sedangkan pada Vertisols nyata.60 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.30 <1 318 b 307 b 304 b 257 a 3. Na+. Tabel 5.. Na+. tetapi Fe3+ nyata meningkatkan Kl dan Kdd di tanah Alfisols dan Vertisols (Tabel 4 dan 5). Pengaruh kation terhadap perubahan proporsi bentuk-bentuk K tanah disajikan pada Gambar 1 (Alfisols) dan Gambar 2 (Vertisols).00 a a a a 62.000 Kation Kontrol Na+ NH4+ Fe3+ CV (%) FAsam oksalat X Kation Bentuk K tanah Kdd Ktdd Kl …………….00 b b b a 150.38 ab 165. dan crack (c). Gambar 1 dan 2 menunjukkan bahwa jumlah Kl dan Kdd meningkat sedangkan Ktdd menurun akibat pemberian kation di semua tanah yang diteliti.75 b 67..75 b 38.555 mg kg-1 (Tabel 3). 28/2008 interaksi antara asam oksalat dan kation tidak berpengaruh nyata terhadap semua peubah yang diuji (Tabel 5).75 b 16. 25.63 26.00 a 161.. Takaran Na+ dan NH4+ yang ditambahkan berturutturut berkisar antara 59-82 dan 65-104 mg kg-1 sedangkan Fe3+ 5. and Fe3+ on soil Ksol. Tabel 4. dan Fe3+ terhadap bentuk Kl. Demikian pula Na+ dan NH4+ tidak nyata meningkatkan Kdd pada Alfisols.38 b 142. Effect of oxalic acid.13 mg kg-1 (318%) pada Alfisols sedangkan pada Vertisols dari 27.13 a 13. Ktdd tanah setelah inkubasi 3 bulan pada Vertisols Table 5.30 1. Ktdd tanah setelah inkubasi tiga bulan pada Alfisols Table 4..63 b 33.50 a 149. and Knon-exch.

and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Vertisols kekuatan kation dalam melepaskan K tanah dari tinggi ke rendah adalah: Fe3+ > NH4+ > Na+ baik pada Alfisols maupun Vertisols. dan hanya 5-7% dalam nentuk Kl. : PENGARUH ASAM OKSALAT. SERAPAN N. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Alfisols Figure 1. dan Fe3+ terhadap proporsi bentuk-bentuk K tanah Vertisols Figure 2. Pengaruh pemberian Na+. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Na+ hanya dapat mengusir K yang berada di posisi-p. 75 . Kirkman et al. NH4+. P. DAN K TANAMAN Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Gambar 1. sedangkan NH4+ selain K di posisi-p juga di posisi-e dan sebagian kecil K yang berada di posisi-i. Berdasarkan jumlah K yang dilepas. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Effect of Na+. NURSYAMSI ET AL. Sementara itu Fe3+ dapat melepas K yang berada di posisi-p dan e dan sejumlah besar K yang berada di posisi-i. NH4+. (1994) mengemukakan bahwa pada tanah-tanah yang didominasi mineral liat tipe 2:1 sebagian besar K berada di posisi-i (Ktdd) dan hanya sebagian kecil berada di posisi-e dan p (Kdd). NH4+. (2007) pada tanahtanah yang didominasi smektit juga menunjukkan hal yang sama. NH4+. NA+. and Fe3+ application on the proportion of soil K forms in Alfisols Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik Gambar 2. NH4+. Pengaruh pemberian Na+. yaitu sekitar 63-68% K berada dalam bentuk Ktdd.D. Hasil penelitian Nursyamsi et al. Effect of Na+. 24-31% dalam bentuk Kdd.

Endoaquert Kromik.36 79.71 b 18.51 9.64 b 56.55 ab 51. 28/2008 Serapan hara tanaman Pada Alfisols.72 26. Pengaruh asam oksalat. tapi nyata meningkatkan serapan K tanaman (Tabel 6). Pengaruh asam oksalat.000 2.21 26.71 55.74 a 130. mg pot-1 …………….15 7.01 b 4.59 81.18 52. 15..85 b 46.000 215. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Serapan hara tanaman N P K ………….04 a 15.67 b a b b c 81.74 a 53. Na+ and Fe3+ on plant N. 105. 229. Demikian pula Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan ketiga hara tersebut. Sementara itu Fe3+ tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.71 7.53 ab 15. Tabel 7. Tabel 6.80 <1 50.00 233. asam oksalat nyata meningkatkan serapan N.42 213.11ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.08 a a a a meningkatkan serapan N. Namun demikian takaran Fe3+ 500 ppm nyata menurunkan hasil gabah kering pada Hapludalf Tipik. P.03ns Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.35 a a a a 7. asam oksalat juga nyata 76 .. dan K tanaman.81 a a a a 25.81 a 17. dan K tanaman pada Vertisols Table 7. dan K tanaman pada Alfisols Table 6. sedangkan pada Vertisols selain Fe3+.92 4.79 a 58.000 233.55 381.28 27.37 b 16. Sementara itu interaksi antara asam oksalat dan kedua kation tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut (Tabel 8). Sementara itu interaksi antara asam oksalat dengan kation tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji baik pada Alfisols maupun Vertisols (Tabel 7).13 ab 4.87 325. dan K tanaman.20 1.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.61 283. Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan ketiga hara tersebut. nyata menurunkan serapan P.45 b a a b Asam oksalat (ppm) 0 211.77 b 8. Perlakuan Fe3+ pada takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik.09 334.10 <1 a a a a a 16.74 24. and K uptake in Alfisols Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1. P.04 92.98 b a b b b 6.70 20.72 a Produksi tanaman Asam oksalat nyata meningkatkan produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Perlakuan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap peubah tersebut di semua tanah yang diuji.55 a 9.43 a 242.80 1. Na+ and Fe3+ on plant N. P.32ns 9.21 b 1.15 a 9.50 a 30. Pada Alfisols.50 111.99 107.56ns b a b b c 24. 125. Berbeda dengan dua kation sebelumnya. P.21 a 62. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa perlakuan tersebut dapat memperbaiki ketersediaan salah satu atau beberapa hara bagi tanaman sehingga serapannya menjadi meningkat. asam oksalat tidak berpengaruh nyata terhadap serapan N.000 4. Na+ dan Fe3+ terhadap serapan N.97 8.42 192.63 a 51. Effect of oxalic acid. P.55 a 31. hanya Fe3+ yang nyata meningkatkan serapan K tanaman.37 23.67 a 17.84 a 333. dan Endoaquert Tipik.88 109.87 b Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation 258.11 68.000 227. P.99 a 16.70 < 1. P. sedangkan Na+ tidak berpengaruh nyata terhadap ketiga peubah yang diuji. and K uptake in Vertisols Perlakuan Serapan hara tanaman N P K ………….00 a 16.60 1.53 220. Effect of oxalic acid. dan K tanaman.31 56. Pada Vertisols.60 27.42 a 2. mg pot-1 ………….53 ab 14.

93 a 3. dan K tanaman. dan (3) Kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 adalah 150 kg K ha-1 dan efisiensi pemupukan K sebesar 40% (Dierolf et al.70 1. 2001). Peranan asam oksalat. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7).98 a 4.20 b 8.62 b 1.93 a 10.000 2. : PENGARUH ASAM OKSALAT.01 a a a a 4.000 Natrium Kontrol Na (50% jerapan maksimum) Besi (ppm) 0 125 250 375 500 CV (%) FAsam oksalat X Kation Hapludalf Tipik Haplustalf Tipik Endoaquert Kromik Endoaquert Tipik …………………………………. NURSYAMSI ET AL. (2) Berat tanah 1 ha kedalaman 20 cm = 2 X 106 kg. 1..62 3. Peningkatan produksi akibat pemberian asam oksalat berkaitan erat dengan peningkatan serapan N.70 <1 Angka pada kolom yang sama bila diikuti huruf yang berbeda menunjukkan berbeda nyata pada taraf 5% menurut DMRT.59 b 5. Jagung hibrida P-21 mempunyai potensi produksi biji kering sekitar 9 t ha-1 sehingga memerlukan hara K dari tanah sebesar 150 kg ha-1 untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. (2001). P.75 c 11. dan Fe3+ terhadap produksi brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST Table 8.89 c 8.30 1.42 b 4. dan Fe3+ Berdasarkan data Tabel 6-8 maka K-tersedia. DAN K TANAMAN Tabel 8.30 1.40 b 5. Sementara itu Fe3+ selain dapat meningkatkan serapan K tanaman pada Alfisols (Tabel 6) dan serapan N. P.13 4.44 b 11.01 a 5. SERAPAN N.37 6.. Pengaruh asam oksalat.73 a 3.28 5. P.25ns 14. Asumsi kebutuhan pupuk K untuk mencapai hasil 9 t ha-1 sebesar 150 kg K ha-1 berdasarkan hasil penelitian Dierolf et al.000 4. serapan N. Nilai tersebut hampir sama dengan perhitungan kebutuhan pupuk K berdasarkan batas 77 . Na+ and Fe3+ on 4-weeks-after-planting biomass dry yield Perlakuan Asam oksalat (ppm) 0 1.29 b 3.09 3.58 a 3.95 6.03 a 4.83 ab 1.10 a 4.48 b 10.56 6. Na+. Faktor-faktor tersebut merupakan alasan produksi tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+.09ns 4.06 3. dan kebutuhan pupuk K dapat dihitung dan hasilnya disajikan pada Tabel 9 (Alfisols) dan 10 (Vertisols). NH4+.04 3..0 (Kdd).85 a a a a 4.02 a 3.20 6.5 t ha-1 biji kering.45 a 5. Selanjutnya K yang ditambahkan dari pupuk didefinisikan sebagai K yang diperlukan untuk mencapai hasil 9 t ha-1 dikurangi oleh K yang tersedia di dalam tanah.81 5. g pot-1 ………………………………….30 2.77ab 1. 1997). Effect of oxalic acid. P. dan K tanaman pada Vertisols (Tabel 7). Na+.D. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. Takaran Fe3+ 500 ppm yang menurunkan hasil tanaman merupakan petunjuk bahwa tanaman mengalami keracunan.92 a 1.40 a a a a b 6.45 3.41ns 13.98 a 1. Besi diperlukan tanaman karena merupakan bagian dari klorofil pada daun yang penting untuk proses fotosintesis tanaman (Marschner. NH4+. Perhitungan tersebut menggunakan asumsi: (1) K-tersedia = K terekstrak NH4OAc 1 N pH 7.75 ab 5.77 a 6. juga merupakan hara mikro yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah sedikit.17 a a a a a 10.34 3. NA+. yaitu tanaman jagung memerlukan 75 kg K untuk mencapai produksi 4.

asam oksalat takaran 1.9 149.9 87. yaitu sebesar 156 kg K ha-1.2 ** 100 113 100 98 * 100 96 ** 110 111 109 103 98 109 109 97 227 247 329 311 * 533 617 ** 30. dan Fe3+ meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K 3+ menurun. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.7 31.000 143 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 129 Na 145 NH4 145 Besi (ppm) 0 129 125 131 5.3 27.3 ** 92.4 ** 100 98 100 105 * 100 106 ** 96 93 98 92 92 98 98 85 Keterangan : * Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. Na+.1 6. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. and K needed to add (fertilizer) in Alfisols Perlakuan K-tersedia Serapan hara tanaman tanah N P K ……. dan K tanaman. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Alfisols Table 9.2 me K 100g-1 (Dierolf et al. serapan N.1 21.6 * 276.3 88. 28/2008 Tabel 9.……kg ha-1………………… Persen hasil*** % K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 Hapludalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 101 1. persen hasil tanaman. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. Pengaruh asam oksalat. Pada Hapludalf Tipik. and Fe3+ on soil available K.000 133 Haplustalf Tipik Asam oksalat (ppm) 0 136 1. 2001). kecuali serapan N tanaman meningkat akibat pemberian Fe3+. Effect of oxalic acid. Pada Endoaquert kromik. NH4+.8 59.. meningkatkan hasil biji kering.9 19. Perlakuan Na+. asam oksalat dapat meningkatkan ketersediaan K sehingga kebutuhan pupuk K menurun..…. Namun demikian asam oksalat dapat meningkatkan serapan N dan P tanaman sehingga hasil biji kering juga meningkat sekitar 13%. Sementara itu pada Haplustalf Tipik.000 99 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 101 Na 118 NH4 131 Besi (ppm) 0 101 125 103 5.4 6.9 * 47. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan 78 . Perlakuan Na+. P. NH4+.4 * 22. and K uptake. P. tapi tidak berpengaruh terhadap hasil tanaman.. percentage of plant yield. plant N.3 6.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Na+. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan. NH4+. dan Fe meningkatkan serapan N dan P tanaman. Namun demikian kation-kation tersebut tidak berpengaruh terhadap serapan hara. kritis K tanah untuk jagung 0. meningkatkan serapan N dan K tanaman.7 23.6 ** 22. dan Fe3+ dapat meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K tanaman.9 27.8 109.9 * 148.000 ppm tidak berpengaruh terhadap ketersediaan K tanah sehingga tidak berpengaruh pula terhadap kebutuhan K dari pupuk. NH4+.9 273.000 163 172 218 229 196 * 379 418 ** 5.6 20.

serta hasil biomas kering (11%). asam oksalat juga dapat berperan sebagai zat perangsang tumbuh yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (Bolton et al. meningkatkan serapan N. and Fe3+ on soil available K. persen hasil tanaman.3 69. Selain itu seperti halnya asam organik yang lainnya. maka peran utama asam oksalat (1. serta hasil biomas kering jagung. Effect of oxalic acid.3 24. serapan N. Pengaruh asam oksalat. P. SERAPAN N.1 225. P.D.4 * 43.. **Tidak ada data karena tanaman mati keracunan.3 ** 100 111 100 92 * 100 114 ** 36 34 42 40 29 42 42 32 *Perlakuan NH4+ tidak diuji karena N yang diserap tanaman tidak dapat dibedakan. dan ***Persen hasil = (Yperlakuan/Y0) X 100%. NH4+. dan K tanaman.5 68. Selain aspek ketersediaan K tanah. 79 .000 294 18.6 44. NURSYAMSI ET AL. 1993). 3+ Sementara itu.…. dan K tanaman. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. P.8 * 203. Dengan demikian.……kg ha-1………………… 377 469 508 459 * Persen hasil*** % 100 110 100 95 * K yang perlu ditambahkan (pupuk) kg ha-1 26 15 17 14 4 17 17 2 Endoaquert Kromik Asam oksalat (ppm) 0 310 1.2 593.4 63. : PENGARUH ASAM OKSALAT. meningkatkan serapan N dan P tanaman. P. P. Asam oksalat dan kation dapat berpengaruh terhadap salah satu atau beberapa peubah tersebut yang pada gilirannya berpengaruh pula terhadap hasil biomas kering.. dan jumlah K yang perlu ditambahkan (pupuk) pada Vertisols Table 10. NH4+. kebutuhan pupuk K. Fe meningkatkan serapan N dan K tanaman serta hasil biomas kering. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. P.1 ** 100 114 ** 426 474 498 488 * 393 417 ** 54.8 ** 209.8 236.9 25. Demikian pula pada Endoaquert Tipik.0 300. and K uptake.7 215. DAN K TANAMAN Tabel 10. as well as K needed to add (fertilizer) in Vertisols Perlakuan K-tersedia tanah Serapan hara tanaman N P K …….3 268.6 79.3 ** 454.. percentage of plant yield. Perlakuan Na+ meningkatkan serapan K tanaman tapi tidak berpengaruh terhadap hasil biomas kering. NA+. Na+.2 24. dan K tanah.000 290 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 269 Na 274 304 NH4 Besi (ppm) 0 269 125 270 5. dan Fe3+ terhadap K-tersedia tanah. NH4+.000 370 Endoaquert Tipik Asam oksalat (ppm) 0 284 1. Na+.2 209. produksi tanaman jagung juga dipengaruhi oleh ketersediaan N dan P tanah di semua tanah yang diuji. plant N.2 * 163. Perlakuan Fe3+ meningkatkan serapan N.1 270.000 337 Kation (50% jerapan mak) Kontrol 331 Na 341 366 NH4 Besi (ppm) 0 331 125 333 5. dan K tanaman sehingga hasil biomas kering pun meningkat. apakah berasal dari perlakuan penambahan NH4+ atau pupuk urea.9 * 883 988 ** 58. asam oksalat meningkatkan ketersediaan K sehingga menurunkan kebutuhan pupuk K.000 ppm) terhadap pertumbuhan jagung adalah selain meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K juga memperbaiki ketersediaan N.

F. and L. Comparative ammonium and potassium fixation by some wetland rice soil clays as affected by mineralogical composition and treatment sequence. Jr. dan Fe3+ nyata meningkatkan K tersedia baik di tanah Alfisols maupun Vertisols. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan serapan K tanaman di Alfisols serta N. Switzerland. yakni berkisar antara 3. H. Marcel Dekker.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 1/1987. Potash Review No. Tingkat kekuatan perlakuan dalam melepaskan K dari bentuk tidak tersedia menjadi tersedia adalah Fe3+ > NH4+ > Na+ > asam oksalat. Demikian pula kation-kation tersebut dapat berperan sebagai hara makro (NH4+). Microbial ecology of the rhizosphere. In Soil Microbial Ecology. 28/2008 Perlakuan Na+ dan NH4+ dapat meningkatkan Kdd tanah Vertisols (Tabel 5). Na+. 1987. P. Dengan demikian maka perlakuan asam oksalat 1. Asam oksalat nyata meningkatkan bobot brangkasan kering tanaman jagung umur 4 MST pada Hapludalf Tipik dan Endoaquert Tipik. Sementara itu Fe3+ 5.I. Bolton. dimana pengaruhnya di tanah Vertisols lebih tinggi dibandingkan Alfisols. Perbaikan tanah 80 . Inc. yakni perbaikan tanah dan penggunaan varietas tanaman yang tepat. sedangkan Fe3+ takaran 125 ppm nyata meningkatkan hasil brangkasan kering pada Endoaquert Kromik dan Endoaquert Tipik.K. Sementara itu tanaman yang dapat menghasilkan eksudat asam organik dan bernilai ekonomi tinggi juga dapat diterapkan smektit.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm merupakan perlakuan yang terbaik. Pp 27-64. 2. M. 1997).. Selain itu Fe3+ takaran 125 ppm dapat meningkatkan serapan hara N. P. Perlakuan berpengaruh terhadap peubah tanah tapi tidak berpengaruh terhadap tanaman. Asam oksalat. dan Fe tanah. Uraian di atas menunjukkan bahwa asam oksalat 1. Dengan demikian maka ketiga kation tersebut berpotensi dalam meningkatkan ketersediaan K tanah sehingga mengurangi kebutuhan pupuk K. P. dan beneficial nutrient (Na+) (Marschner. mikro (Fe3+). 270 Madison Avenue. di tanah-tanah yang mengandung KESIMPULAN 1.93 mg g-1 BK akar (Nursyamsi. K. International Potash Institute. NH4+. P dan K tanaman di Vertisols. 1993. 3. New York. tanaman. Tanaman jagung dapat dipertimbangkan untuk dikembangkan di tanahtanah yang didominasi smektit karena selain mempunyai nilai ekonomi tinggi juga akarnya dapat menghasilkan eksudat asam oksalat yang tinggi.15-5. Demikian pula Fe3+ dapat meningkatkan Kl dan Kdd di kedua jenis tanah yang diteliti (Tabel 4 dan 5). Perlakuan NH4 meningkatkan K tersedia dan menurunkan kebutuhan pupuk K di kedua tanah yang diuji tapi responnya terhadap tanaman tidak diuji.000 ppm memang meningkatkan K tersedia dan mengurangi kebutuhan pupuk K tapi menyebabkan tanaman mati. Applications in Agricultural and Environmental Management. penggunaan tanaman yang banyak menghasilkan eksudat asam organik.000 ppm dan Fe3+ 125 ppm dapat memperbaiki meningkatkan keseimbangan hasil hara tanah dan Na+ + dilakukan melalui selain pengelolaan bahan organik juga pengelolaan N. Fredrickson. Aplikasi lapangan penggunaan asam dapat oksalat diganti untuk dengan meningkatkan ketersediaan K dan hasil tanaman di sesungguhnya DAFTAR PUSTAKA Bajwa. Dengan demikian tanah-tanah maka yang produktivitas didominasi smektit dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Asam oksalat nyata meningkatkan serapan N. dan K tanaman sehingga produksi tanaman lebih baik. peningkatan 2008). dan K tanaman di Vertisols. J. Elliot.

Institut Pertanian Bogor. Mineral Nutrition of Higher Plants.. 1999.N. sodium. Helmke. Potassium supplying status of some soils of Vertisols type. 1975. SERAPAN N. Sofyan.A.org). J. and Alluvial (Inceptisols and Entisols) soils of India. Soil Fertility and Fertilizers.. 2008. Vermiculites. Contr. Lithium. T. Cent. 81 . Sixth Edition. NA+. Agronomy 9:403-429. T.S. Derici. 1992. Idris. and J. and Its Effect Towards Soil Chemical Properties. Tokyo. Marschner. The Role of Na and Partial Substitution of KCl by NaCl on Sugarcane (Saccharum officinarum.L. V. of the Colloquium of the International Potash Institute 20:137-154. Second Edition. Paterson dan P. Surapaneni. K. Black (Vertisols).) Growth and Yield. Kilic. Part 2. and E. Ins. Academic Press. 1982. Second Edition.W. The ammonium fixation in great soil groups of Tokat Region and some factors affecting the fixation. Fertilizer News 32(2):35-138. Smectites. Wisconsin. Macgregor. Potash Review No. 1996. Dhillon.A. 1989. Skala 1:1. Nursyamsi. Nelson. 2007.. Pratt. Sabiham. 17.L. J. D.H. 1994. An Agroclimatic Map of Java and Madura. J. 1999. and potassium. and K. Prentice Hall. Goulding. Agric. 1987. dan A. A. rubidium. Saltali.eseap. Tisdale. Soil Science Society of America Madison. G.D. Publisher. and D. In Methods of Soil Analysis.a review. Disertasi Fakultas Pascasarjana. Bogor. Pp 675-727. Harcourt Brace & Company. Kinetics of release of potassium by sodium tetraphenyl boron from some topsoil samples of Red (Alfisols).F. Soil Science Society of America Madison. L. 1989. Beaton..) Method of Soil Analysis. 2000. M. Part 3 Chemical Methods-SSSA Book Series No. K. L. I. Res. Ismail. L. S. D.D. USA.P.R. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. In Page et al (Eds. SSSAJ 66:445-455. Sparks. Tr. K.W. 5/1987. No. Kirkman. and K. Potassium in the soils of New Zealand. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. DAN FE3+ TERHADAP KETERSEDIAAN K TANAH. upland soil fertility management in Southeast Asia. and W. Switzerland. : PENGARUH ASAM OKSALAT. A. Basker. P. Upper Saddle River. The affect of potassium on ammonium fixation. Institut Pertanian Bogor.R. Sifat-sifat tanah dominan yang berpengaruh terhadap K tersedia pada tanah-tanah yang didominasi smektit. sodium. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Rachim. Atlas Sumberdaya Tanah Eksplorasi Indonesia. Lumbanraja.. An Introduction to Nutrient Management. 1997.T.000. Pelepasan Kalium Terfiksasi dengan Penambahan Asam Oksalat dan Kation untuk Meningkatkan Kalium Tersedia bagi Tanaman Pada Tanah-tanah yang Didominasi Mineral Liat Smektit. and cesium.P. A.L.A. New Jersey 07458.A. 2002. Ammonium-potassium-calcium exchange on vermiculite and hydroxy-aluminum vermiculite. Havlin. Soil Fertility Kit: A toolkit for acid. In Minerals in Soil Environments. Ghousikar C.000. I. 5. P. Bogor. Mutert. 1997. and D. Fairhurst. Douglas. 2001. G. In Minerals in Soil Environments. Proc. Pp 635-674. S. NH4+. USA. D.K. 1987.L. Potash and Phosphate Institute/Potash and Phosphate Institute of Canada (PPI/PPIC) (www. Jurnal Tanah dan Iklim 26:13-28. New Zealand Journal of Agricultural Research 37:207227. Second Edition. Dhillon. D. Wisconsin. Disertasi Sekolah Pascasarjana. Evangelou. potassium. NURSYAMSI ET AL. International Potash Institute. Oldeman. Kendre. S. Potassium fixation and release. Dierolf. J. of Agriculture and Forestry 23:673-678. 2nd ed. Lithium. H. Nursyamsi. DAN K TANAMAN Borchardt. Knudsen.

H. Proc.K. Release of non-exchangeable soil K by organic acids.E.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. and E. and P. 6/1987.. Marcel Dekker. Song. SSSAJ 52:383-390. P. Zhu Yong-Guan and Luo Jia-Xian. Tan.M. De Turk. 28/2008 Sidhu. 1998. S. 1940. International Potash Institute. 5:152-161. Principles of Soil Chemistry. K. Pedosphere 3:269-276. Haryana. Inc. Potash Review No. Mimachal Pradesh and Jammu and Kashmir. Soc. Wood. The absorption of potassium in soil in non-exchangeable form. Am. 1988. Soil Sci. New York. L. Switzerland.K. Dynamic of potassium release from potassium-bearing minerals as influenced by oxalic and citric acid. Mineralogy of potassium in soils of Punjab. Huang.S. 1993. Third Edition Revised and Expanded. 82 . 1987.

2) Plotting of rainfall anomaly and global climate indices for determining rainfall deviates with deviant of global climate forcing indices. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan di wilayah Indonesia berkorelasi signifikan terhadap kejadian ENSO 1. Hasil kajian menunjukkan bahwa suhu muka laut di Nino 3. Bogor.5 oC (indicate El-Niño event) the wet season will delay with shorter period. DMI. Dipole mode Index (DMI). The result showed that the closest relationship between global climate forcing indices and rainfall in Indonesia is SST in Nino 3. it is needed to determine the most singnificant global climate indices that has closely related to Indonesian’s rainfall. SOI.Indikator Iklim Global dan Pengaruhnya Terhadap Kejadian Iklim Ekstrim di Indonesia Global Climate Indices and Its Effect on Extreme Climate Events in Indonesia E. fenomena ENSO (El-Niño Southern Oscillation) sangat erat kaitannya dengan kejadian iklim ekstrim. 3) analysis of probability of exceedence for determining onset and lenght of wet season on climate extreme event. Rainfall.4. SOI. dan 4) Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. Namun besaran dampaknya terhadap hujan di berbagai wilayah Indonesia sangat beragam. climate/season anomaly. dan interaksi SOI dengan DMI) untuk menentukan indikator yang paling tinggi korelasinya dengan hujan di Indonesia. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal.4 zone. interaksi SST dengan DMI. 1) regression analysis of rainfall with global climate indices of Sea Surface Temperatur Anomaly/SST in Nino 3.5 -0. Therefore. but the magnitude of its impact varies with site.4 paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia. Kejadian iklim ekstrim The significant indices are able to be used in predicting rainfall in Indonesia. Berdasarkan data historis.The objective of the present study is to detemine global climate indicators that have the significant effect to rainfall.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek. sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0. SST. In contrast. Untuk melakukan kajian tersebut dilakukan beberapa tahapan analisis sebagai berikut : 1) analisis regresi antara curah hujan dengan beberapa indikator iklim global dengan time lag dua bulan sebelumnya (anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/SST) di zone Nino 3. Keywords : ENSO. Awal musim hujan. Probability of exceedance analysis showed that if the SST on September decrease below -0. indikator tersebut kemudian dapat digunakan untuk memprakirakan hujan di Indonesia.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Onset of wet season. ABSTRACT Many facts show that El-Niño Southern Oscillation (ENSO) phenomenon and Dipole Mode are closely related to rainfall event in Indonesia.5 o C (indicate La-Niña event). pergeseran musim. Kata kunci : ENSO. and 4) analysis impact of climate extreme event on flood and drougt occurences and damage areas of ricefield. ISSN 1410 – 7244 83 . and interaction of SOI with DMI). PENDAHULUAN Di Indonesia hujan merupakan unsur iklim yang sangat beragam baik menurut waktu maupun tempat. golakan lokal dan siklon tropis. sehingga perlu diteliti indikator yang paling berpengaruh dan besaran pengaruhnya. SUSANTI1 ABSTRAK Banyak fakta menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ElNiño Southern Oscillation (ENSO) dan Dipole Mode berdampak besar terhadap kondisi hujan di beberapa wilayah di Indonesia. 3) Analisis peluang terlampaui untuk menentukan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. 2) plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklim global tersebut. SOI. DMI. dan kejadian banjir dan kekeringan di Indonesia. Peneliti pada Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. Impact of drought on damage of ricefield is more significant than the flood occurence. Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. Penelitian ini bertujuan menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan. Climate extreme events. dan pengaruhnya hanya signifikan terhadap hujan pada musim transisi (AgustusNovember). if SST increases above 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif yang artinya peningkatan anomali SST akan menyebabkan penurunan curah hujan periode Agustus-November. Berdasarkan nilai korelasi yang paling tinggi. SURMAINI DAN E. the occurence flood and drought in Indonesia.4 zone and only have significant relationship to rainfall in transisional season (August-November). interacton of SSTA with DMI. The study has been done through the following steps . Negative correlation between SST and rainfall indicates that the increase of SST anomaly causes the decrease of rainfall on August-November period. DMI. aktivitas moonson. Hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. SST. Keragaman hujan di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya ialah fenomena ENSO di Samudera Pasifik. Southern Oscillation Index (SOI). the wet season will start earlier with longer period.

Aldrian dan Susanto. data DMI (sumber: www. 2004). 84 . Besarnya penurunan atau kenaikan hujan akibat berlangsungnya fenomena ENSO beragam antar wilayah. Di Amerika Selatan bagian utara seperti Caracas menjadi panas dan kering sementara yang bagian tengah dan selatan menjadi lebih basah tetapi agak panas dari normal. Rao. Tahapan analisis sebagai berikut : yang dilakukan adalah 1. dan SOI (sumber: www. Departemen Pertanian.noaa. interaksi ASST dengan DMI. Banyak hasil studi menunjukkan bahwa terjadinya fenomena ENSO berdampak besar terhadap kondisi iklim dunia. dan musim kemarau II (periode Agustus-November/ ASON). Analisis regresi antara curah hujan dengan anomali SST Nino 3. 2002. 2000.. longpaddock. 1999. Rao et al. Boer dan Faqih. dan interaksi SOI dengan DMI. lamanya musim dan sifat hujan sangat penting untuk perencanaan tanam dalam rangka antisipasi kejadian iklim ekstrim untuk meminimalkan risiko kegagalan tanam dan panen. Metodologi Data hujan bulanan dikelompokkan berdasarkan periode musim hujan/MH (periode Desember-Maret/ DJFM). Boer and Faqih.cpc. sementara di sebagian wilayah Jepang curah hujan meningkat dari Normal.. BAHAN DAN METODE Data yang digunakan Data curah hujan bulanan dan dasarian dari 94 stasiun hujan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia periode 1980-2005. Periode hujan ASON (Kemarau II) juga merupakan periode transisi antara musim kemarau dan musim hujan. 28/2008 (Haylock and McBride. Kejadian IOD positif yang terjadi bersamaan dengan El-Niño seperti pada tahun 1997 memperkuat pengaruh El-Niño di wilayah Indonesia. musim kemarau I (periode April-Juli/AMJJ). 2002). Sedangkan data luas kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan diperoleh dari Direktorat Perlindungan Tanaman.. Penentuan besaran dampaknya terhadapan pergeseran musim.4.. untuk menentukan indikator iklim global yang berpengaruh signifikan terhadap hujan di Indonesia. 2003.jamstec. sebaliknya apabila IOD negatif yang bersamaan dengan El-Niño akan mengurangi dampak El-Niño. diakses dari database Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi. sehingga perlu ditentukan indikator yang paling tinggi korelasinya agar dalam penggunaannya untuk memprediksi hujan mempunyai akurasi yang tinggi. 2006). sehingga dapat dijadikan sebagai indikator dalam prediksi hujan di Indonesia. SOI. Berbagai indikator tersebut dapat diunduh dari berbagai situs di internet baik nilai aktual maupun prediksinya.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Wilayah Equador dan Peru bagian utara pada bulan November-April berpotensi mengalami hujan yang sangat tinggi. Data indikator iklim global dengan periode yang sama yang terdiri atas data anomali SST di Nino 3. Selanjutnya dinyatakan bahwa IOD mempunyai sifat yang independen terhadap ElNiño (Saji et al. 2004. Chang et al. 2004. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia. wilayah Asia dan Indonesia umumnya mengalami musim kering yang lebih panjang dari normal pada saat terjadinya El-Niño.au). dan di sebagian kecil wilayah seperti Madras-India suhu di musim hujan menjadi agak panas dari normal. 2001. Namun kekuatan sinyal indikator terhadap hujan di Indonesia sangat beragam. Hendon.qld. dampaknya terhadap pergeseran musim dan hubungannya dengan kejadian banjir dan kekeringan.4 (sumber:www.jp).go. Selain itu interaksi lautan-atmosfer di Samudera Atlantik yang dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD) juga berpengaruh terhadap kejadian kekeringan di Indonesia (Saji. Batisti et al.gov). DMI. 2003.gov.

SOI. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA 2. Analisis dampak kejadian iklim ekstrim terhadap kejadian banjir dan kekeringan serta luas kerusakan tanaman padi pada lahan sawah di Indonesia. dan Mei-Juni. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional (Gambar 1). AMJJ. Keeratan hubungan antara curah hujan dengan indikator iklim global dilihat berdasarkan nilai koefisien keragaman (R2) dan nilai peluangnya. c) La-Niña : nilai anomali SST < -1oC Dampak kejadian iklim ekstrim dianalisis secara deskriptif dengan melihat luas pertanaman padi pada lahan sawah di Indonesia pada tahun-tahun kejadian iklim ekstrim (El-Niño dan La-Niña). dan ASON pada 94 stasiun hujan yang tersebar diseluruh Indonesia dengan indikator iklim global: Anomali SST. AMJJ dan ASON dengan anomali SST. dengan kriteria awal musim hujan mulai terjadi apabila selama 2 dasarian berturut-turut jumlah curah hujan sama dan lebih besar dari 50 mm. DMI. Januari-Februari. Selanjutnya berdasarkan distribusi peluang kemudian ditentukan skenario kejadian iklim ekstrim. Apabila nilai slope lebih besar dari 0. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih untuk menentukan besarnya perubahan curah hujan dengan perubahan indikator iklm global tersebut. SOI. dan koefisien keragaman dinyatakan signifikan apabila nilai p< 0. Analisis peluang awal musim hujan dan lama musim hujan berdasarkan skenario indikator iklim yang terpilih untuk menentukan awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim. 50-75%. 3.05. b) ElNiño : nilai anomali SST > +1oC. Plot antara anomali curah hujan dengan indikator iklim global yang terpilih bertujuan untuk mengetahui slope persamaan secara statistik besar. interaksi antara ASST*DMI dan SOI*DMI dua bulan sebelumnya. 85 p= dimana : m n +1 . 4. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut. Apabila hanya SST yang berpengaruh terhadap curah hujan maka pengelompokkan skenario iklim berdasarkan nilai anomali SST sebagai berikut : a) Normal : nilai anomali SST -1 sampai +1oC. Analisis distribusi peluang menggunakan metode Weibull sebagai berikut : p = peluang m = nomor data setelah diurutkan dari kecil ke besar n = jumlah data Penentuan awal musim hujan menggunakan data dasarian. dan DMI dua bulan sebelumnya masing-masing September-Oktober. HASIL DAN PEMBAHASAN Indikator iklim global yang berpengaruh terhadap hujan di Indonesia Hasil analisis regresi antara curah hujan musiman DJFM. Jawa. Sebagian besar wilayah yang curah hujannya berkorelasi tinggi terdapat di wilayah Sumatera bagian selatan. Berdasarkan nilai slope dan plot tersebut diketahui besarnya perubahan curah hujan dengan peningkatan/ penurunan indikator iklim global yang terpilih. Untuk menentukan indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia dilakukan analisis regresi antara curah hujan musiman periode DJFM. dan 75100%. Untuk menentukan awal masuknya dan lama musim hujan pada daerah yang koefisien keragamannya nyata dari hasil regresi sebelumnya digunakan teknik Probability Forecasting System. 25-50%. menunjukkan bahwa nilai peluang yang signifikan hanya terdapat pada korelasi antara curah hujan dengan anomali SST periode musim transisi ASON (Tabel 1).E. Selain itu. Hasil tersebut menunjukkan bahwa hanya curah hujan periode Agustus-November yang mempunyai korelasi yang nyata dengan curah hujan periode anomali SST dua bulan sebelumnya pada sebagian besar wilayah Indonesia. SURMAINI DAN E. Nilai R2 dikelompokkan atas empat yaitu : 0-25%.

4 bulan Mei-Juni dengan data anomali hujan bulan Agustus-November pada daerah dengan nilai koefisien keragaman > 25% mempunyai nilai slope persamaan secara statistik lebih besar dari nilai 0......4...25 2. karena dapat mengindikasikan apakah awal musim hujan akan mundur atau maju. sedangkan dengan DMI terdapat pada daerah Lampung. data anomali hujan semakin negatif.19 7......25 55..... Dampak kejadian iklim ekstrim terhadap awal musim hujan Hasil analisis sebelumnya menunjukkan hubungan yang nyata antara suhu muka laut di Nino 3. sedangkan untuk musim hujau rendah (Gambar 2)...05) between rainfall and global climate indices Bulan DJFM AMJJ ASON CH vs SST CH vs SOI CH vs DMI CH vs SST*DMI CH vs SOI*DMI .38%...... Ngablak (Jawa Tengah)....13 11..... Artinya pada daerah yang bersangkutan indikator SOI atau DMI bulan Januari-Februadi cukup baik digunakan untuk memprediksi hujan pada musim kemarau..... Percentage of regression probability value (p< 0.. Batutangga (Kalimantan Selatan).. maka data anomali hujan bulan Agustus-November di Ternate sekitar -250 mm.70% dan 6....05) regresi curah hujan dengan beberapa indikator iklim global Table 1..... Riau. maka indikator tersebut dapat digunakan memprakirakan awal masuknya musim hujan dan lama musim hujan....... maka curah hujan periode Agustus-November diperkirakan akan turun 250 mm di bawah normal. Sedangkan pada periode DJFM dan AMJJ persentasinya sangat kecil. Pattimura (Maluku).. Korelasi yang signifikan antara curah hujan dengan SOI terdapat pada wilayah pantura Jawa dan Lombok. Persentase tertinggi stasiun yang mempunyai korelasi signifikan antara curah hujan dengan SOI dan DMI adalah pada periode AMJJ dengan nilai berturut-turut 11.. Hasil plot data anomali suhu muka laut di Nino 3....38 2.. Pengaruh SST terhadap curah hujan Berdasarkan hasil korelasi tersebut maka prakiraan curah hujan dengan menggunakan indikator iklim anomali SST Nino 3. % .47 8. dan pantura Jawa Barat.....51 2....70 6.....25 indikator SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan padan periode musim transisi (Agustus-November).... Pada Gambar 3 dapat dilihat bahwa apabila data anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC. 4.. artinya anomali hujan bulanan di wilayah tersebut berkorelasi nyata dengan anomali suhu muka laut.4 pada bulan Mei-Juni naik sampai sekitar +1oC....... 28/2008 Tabel 1. hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada musim transisi sangat penting khususnya bagi sektor pertanian.. Informasi tersebut diperlukan untuk menentukan kapan musim tanam dapat dimulai. Selanjutnya disusun peluang terlampaui tingkat hujan tertentu pada 86 ...... Artinya anomali suhu muka laut di Nino 3.. Hasil ini sejalan dengan hasil studi Giannini (2006) yang menunjukkan bahwa di Indonesia tingkat kemampuan ramalan tinggi untuk musim transisi... dengan curah hujan pada periode musim transisi (Agustus-November)......31 2...13 4. Persentase nilai peluang (p< 0. Bagi Indonesia.13 3..... Jumlah penurunan hujan yang sama juga terjadi di Sukamandi (Jawa Barat)..... Semakin besar nilai anomali suhu muka laut (semakin positif atau terjadi El-Niño). Selanjutnya dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa interaksi antara SST dan SOI dengan DMI tertinggi terjadi pada periode musim hujan..13 4. namun hanya pada sebagian kecil wilayah (7-8%)..JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.......13 4...4 mempunyai akurasi yang tinggi pada periode musim transisi (Agustus-November).25 2.

SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Gambar 1.E. SURMAINI DAN E. Nilai R2 hasil analisis regresi antara suhu muka laut lag 2 dengan curah hujan Figure 1. R-square value of regression analysis between sea surface temperature and rainfall 87 .

dan 2002. 2006) Figure 2.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. Kejadian El-Niño pada tahun-tahun tersebut menyebabkan kerusakan pertanaman padi akibat kekeringan yang cukup luas. Kasus lain di daerah Intangan menunjukkan pergeseran awal musim juga terjadi.5oC awal musim hujan akan maju sekitar 10 hari dan lama musim hujan diperkirakan akan lebih panjang 20 hari. Kejadian kekeringan di Indonesia periode 1991-2006 yang berasosiasi dengan kejadian El-Niño terlihat jelas pada tahun El-Niño 1991. Seperti kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir pada tahun 1998/1999 tidak lebih tinggi daripada tahun normal.5oC awal musim hujan akan mundur 10 hari dan lama musim hujan akan lebih pendek 20 hari (Gambar 4). . maka awal musim hujan di Pusakanegara pada peluang 60% dimulai pada hari ke-315 (November dasarian 2). hasil analisis peluang menunjukkan jika anomali SST pada bulan September normal. Dampak kejadian iklim ektrim terhadap luas gagal panen pada lahan sawah akibat banjir dan kekeringan Dampak El-Niño terhadap kerusakan lahan sawah di Indonesia karena kekeringan sangat luas. LaNiña (anomali SST < -0. 28/2008 Warna menunjukkan nilai korelasi antara nilai hujan hasil ramalan dengan hujan hasil observasi Gambar 2. Tingkat keandalan ramalan (predictability) hujan musim transisi dan musim hujan (Giannini. Sebagai contoh. Namun sebaliknya kejadian La-Niña tidak menyebabkan peningkatan yang signifikan kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat banjir.5oC-0.5oC) dan normal (anomali SST antara -0. pada kondisi normal awal musim hujan pada hari ke-294 (Oktober dasarian III). 2006) skenario El-Niño. Tingginya kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada tahun normal disebabkan oleh tingginya hujan yang dipicu oleh faktor selain SST (Gambar 5). sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0.5oC). The predictability level of rainfall in transitional season and rainy season (Giannini. berarti wilayah tersebut peka terhadap fenomena ENSO. jika terjadi La-Niña maka diprakirakan musim hujan akan lebih panjang 4 88 dasarian dan jika terjadi El-Niño musim hujan akan lebih pendek 3 dasarian. Jika anomali SST turun sampai di bawah -0. 1994. jika diprediksi akan terjadi El-Niño maka diprakirakan awal musim hujan akan mundur 10 hari dan jika La-Niña awal musim hujan diprakirakan akan maju 10 hari.5oC ). dan Normal. sebaliknya kerusakan lahan sawah pada kondisi LaNiña tidak sebesar akibat kekeringan dan tidak signifikan dibanding kondisi normal. La-Niña. Apabila terlihat perbedaan yang jelas antara grafik peluang pada kondisi El-Niño (anomali SST > 0. Lama musim hujan pada kondisi normal adalah 19 dasarian. 1997.

5 2.5 1.5 0.5513 2 Sukamandi 600 400 y = -293.5 0.574 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.5 -1.E.0 -1.5 Mei-Jun 1.5 2.0 0.2805 600 Anomali CH Agt-Nov 400 200 0 -200 -400 -600 -800 -0.5 -1.383 R2 = 0. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA Ternate 600 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.5 2.33x + 75. SURMAINI DAN E.5 1.5 -1.5 2.0 Anomali SST Mei-Jun Ngablak 600 y = -109.5 1.5 -1.0176 Maros 1500 1000 500 0 -500 -1000 -0.0 0.0 1.0 Anomali SST Ambon 800 y = -186.0 -1.0 1.0 Anomali SST Mei-Jun Batutangga 800 y = -298.0 -1.574 -2.33x + 75.441 R2 = 0.0 1.0 0.0 -2.5 Anomali SST Mei-Jun 400 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -0.0 y = -388.5 0.5 -1.4 of some areas in Indonesia 89 .0 1.0 0.5 0. Hubungan anomali curah hujan bulan Agustus-November dengan anomali suhu muka laut di Nino 3.5 2.0 -0.0 1.0 1.5 2.0 -2.0 Anomali CH Agt-Nov 200 0 -200 -400 -600 -2. Relationship between August-November rainfall anomaly and May-June sea surface temperature anomaly in Nino 3.0 0.975 2 R = 0.0 Anomali SST Anomali SST Mei-Jun Gambar 3.4x + 22.4 bulan Mei-Juni pada berapa wilayah di Indonesia Figure 3.88x + 55.5 Mei-Jun 1.0 Anomali CH Agt-Nov y = -293.45x + 47.6109 -2.5 -1.0 -1.441 R2 = 0.0 0.945 2 R = 0.0 1.0 -1.0 -2.0 -1.59x + 21.235 R = 0.5 0.5 0.

6 0. Penurunan curah hujan dan pergeseran musim yang cukup tajam pada kondisi El-Niño akan terjadi ada .8 Peluang Terlampaui 0. Riau dan pantura Jawa Barat.2 0. Hubungan SST dengan hujan menunjukkan korelasi negatif.60 0.8 0.00 El Nino La Nina Normal Pusakanegara 1 El Nino La Nina Normal Peluang Terlampuai Peluang Terlampaui Peluang Terlampaui 0. dan Sulawesi bagian selatan yang merupakan lumbung padi nasional.6 Peluang Terlampaui 365 0. Indikator iklim global yang paling berpengaruh terhadap hujan di Indonesia adalah suhu muka laut di zone Nino 3.2 0.2 0 265 275 285 295 305 315 325 Aw al MH 0 335 345 355 10 15 20 25 30 Lama MH (Dasarian) Gambar 4.8 0. Hal ini menguntungkan karena informasi prakiraan yang andal pada periode tersebut sangat penting untuk menentukan awal musim tanam. dan pengaruhnya hanya signifikan pada musim transisi bulan AgustusNovember.5oC (La-Niña) awal musim hujan akan maju dan lama musim hujan lebih panjang. Jawa.JURNAL TANAH DAN IKLIM NO.20 0. 2.4 0. menyebabkan penurunan curah hujan.40 0. Sedangkan dengan DMI hanya berpengaruh 90 terhadap curah hujan musim kemarau disebagian kecil wilayah Indonesia seperti Lampung.4 0.6 0. Selain itu jika anomali SST pada bulan September turun sampai di bawah -0. 28/2008 Pusakanegara 1. Pengaruh SST ini signifikan pada wilayah Sumatera bagian selatan. Relationship between probability of exceedence of onset and period of rainy season on extreme and normal climate condition KESIMPULAN 1. sehingga SST bulan Mei-Juni dapat digunakan untuk memprediksi hujan pada periode musim transisi (Agustus-November). sebaliknya jika anomali SST naik sampai di atas 0.80 0.4 0.4. Kenaikan anomali suhu muka laut bulan Mei-Juni sebesar +1oC. Hubungan antara peluang masuknya awal musim hujan dan lama musim hujan pada kondisi iklim ekstrim dan normal Figure 4.5oC (El-Niño) awal musim hujan akan mundur dan lama musim hujan lebih pendek.00 265 275 285 295 305 315 325 335 345 355 365 0 10 15 Awal MH 20 Lama MH (Dasarian) 25 30 1 Intangan El Nino La Nina Normal Intangan 1 El Nino La Nina Normal 0.

E. SURMAINI DAN E. SUSANTI : INDIKATOR IKLIM GLOBAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEJADIAN IKLIM EKSTRIM DI INDONESIA

3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 -0.5 -1 -1.5 -2
6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 6 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 6 2006 6 2006 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 12 12

Anomali SST

El Nino
1200000 Banjir

Luas kerusakan (ha)

1000000 800000 600000 400000 200000 0 6 6 6

El Nino

Kekeringan

La Nina El Nino

El Nino

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

6

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

12

6 2005

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

2001

2002

2003

2004

Bulan dan Tahun

Gambar 5. Kerusakan pertanaman padi pada lahan sawah akibat kekeringan dan banjir yang berasosiasi dengan ENSO di Indonesia Figure 5. Damaged area of ricefield due to drought and flood occurence assosiated with ENSO events in Indonesia

daerah di Sumatera bagian selatan, Jawa, dan Sulawesi bagian selatan 3. Dampak El-Niño terhadap kerusakan pertanaman padi di Indonesia karena kekeringan lebih luas dibandingkan karena banjir. Kerusakan pertanaman padi akibat banjir pada kondisi LaNiña tidak signifikan dibanding pada kondisi normal.

Boer,

R. and M. Faqih. 2004. Global climate forcing factor and rainfall variability in West Java: case study in Bandung District. J. Agromet 18(2):1-12.

Chang, C.P., Z. Wang, Z., J. Ju, and T. Li. 2004. On relationship between western maritime continent monsoon rainfall and ENSO during northern winter. J. Climate 16:1775-1790. Giannini, A. 2006. Seasonality in the predictability of Indonesian monsoonal climate. Paper presented at International Workshop on Use of Ocean Observations to Enhance Sustainable Development-Training and Capacity Building Workshop for the Eastern Indian Ocean, Bali, 7-9 June 2006. Haylock, M. and J.L. McBride, 2001. Spatial coherence and predictability of Indonesian wet season rainfall. Journal of Climate 14: 3882–3887. Hendon, H.H. 2003. Indonesian Rainfall Variability : Impacts of ENSO and Local Air-Sea Interaction. J. Climate (16):1775-1790.

DAFTAR PUSTAKA Aldrian, E. and R.D. Susanto. 2003. Identification of Three Dominant Rainfall Regions within Indonesia and their Relationship to Sea Surface Temperature. Int. J. Climatol. 23: 1435-1452. Battisti, D.S., D.J. Vimont, R. Naylor, W. Falcon, and M. Burke. 2006. Downscaling Indonesian precipitation: present and future climate scenario. Paper presenting in rountable discussion on coping with Climate Variability and Change in Food Production. Bogor. November 2006.

12

91

JURNAL TANAH DAN IKLIM NO. 28/2008

Rao, S.A. 2002. Indian Ocean dipole. A new phenomenon found in tropical Pasific. http:// www.jamstec.go.jp/.html [3 Februari 2005]. Rao, S.A., S.K. Behera, Y. Masumoto, and T. Yamagata. 2002. Subsurface interannual variability assosiated with the Indian Ocean Dipole. CLIVAR Exchange 23:1-4.

Saji, N.H., B.N. Goswani, P.N. Vinayachandran, and T. Yamagata. 1999. A dipole mode in the tropical Indian ocean. Nature Magazine 401:360-363 Saji, N.H. 2000. The ocean at work during the Indian Ocean Dipole Mode. Frontier Newsletter 10.

92

PETUNJUK PENULISAN ARTIKEL UNTUK JURNAL TANAH DAN IKLIM
Jurnal Tanah dan Iklim terbit dua kali dalam setahun dan memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim. Artikel di dalam Jurnal Tanah dan Iklim tersusun atas bagianbagian Judul, Abstrak, Pendahuluan, Bahan dan Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, dan Daftar Pustaka. Judul : Judul harus singkat (maksimum 15 kata), tetapi cukup memberikan identitas subyek, indikasi tujuan dan memuat kata-kata kunci, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Abstrak : Abstrak mewakili seluruh materi tulisan dan implikasinya, ditulis secara singkat (sekitar 200 kata) dalam bahasa Indonesia dan Inggris dengan isi yang sama, dan tidak ada singkatan. Pendahuluan : Menyajikan alasan diadakannya penelitian atau hipotesis yang mendasari, ringkasan tinjauan pustaka yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, dan pendekatan yang digunakan. Bahan dan Metode : Memuat penjelasan mengenai bahan-bahan penelitian, lokasi, dan waktu pelaksanaan. Metode yang digunakan ditulis dengan jelas dan sistematis, sehingga peneliti lain yang akan meneliti ulang dapat melakukan dengan cara yang sama. Hasil dan Pembahasan : Hasil yang disajikan secara singkat dapat dibantu dengan tabel, grafik, ilustrasi, dan foto-foto. Masing-masing data disajikan satu kali pada naskah, tabel, atau grafik. Judul tabel dan gambar, serta keterangannya, ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pembahasan merupakan tinjauan terhadap hasil penelitian secara singkat tetapi cukup luas. Pustaka yang diacu diutamakan publikasi primer. Kesimpulan : Menyajikan hasil penelitian yang dianggap penting untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Daftar Pustaka : Mencantumkan semua pustaka yang digunakan dengan menyebutkan nama penulis, tahun penerbitan, judul, penerbit, kota, volume, nomor, dan halamannya, serta pustaka dari website. Penulisan daftar pustaka sesuai dengan cara yang ada di dalam jurnal ini. Keterangan : 1. Nama (-nama) penulis disertai catatan kaki tentang profesi dan instansi tempat bekerja. 2. Kata-kata kunci sesuai dengan isi artikel, berpedoman pada Agrovoc, dan ditulis setelah abstrak. 3. Setiap nama organisme yang disebut pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok disertai nama ilmiahnya. 4. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. 5. Nama kimiawi yang disebut untuk pertama kali dalam abstrak atau tulisan pokok supaya ditulis penuh, tidak boleh menyebutkan nama dagang (merk). 6. Angka desimal dalam bahasa Indonesia ditandai dengan koma dan dalam bahasa Inggris ditandai dengan titik. 7. Naskah diketik dua spasi kurang lebih 20 halaman kuarto, dalam format Microsoft Word. 8. Gambar, grafik, dan foto hitam putih harus kontras dan jelas. 9. Tabel tanpa garis pemisah vertikal. 10. Makalah dalam bentuk soft copy dan 2 hard copy, diserahkan/dikirimkan kepada Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim.

serta hasil sementara penelitian tanah dan iklim. Dewan Redaksi tidak dapat menerima makalah yang telah dipublikasikan atau dalam waktu yang sama dimuat dalam publikasi lain.Jurnal Tanah dan Iklim adalah penerbitan berkala yang memuat hasil-hasil penelitian dalam bidang tanah dan iklim dari para peneliti baik di dalam maupun di luar Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Surat pembaca dapat dimuat setelah disetujui Dewan Redaksi. . Penerbitan ini juga memuat berita singkat yang berisi tulisan mengenai teknik dan peralatan baru. Pembaca yang berminat untuk berlangganan atau pertukaran publikasi harap berhubungan dengan Redaksi Pelaksana Jurnal Tanah dan Iklim. Redaksi dapat menyesuaikan istilah atau mengubah kalimat dalam naskah yang akan diterbitkan tanpa mengubah isi naskah.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->