100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
775 tayangan26 halaman

Infeksi Luka Operasi: Penyebab dan Penanganan

Tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap infeksi luka operasi adalah: 1. Bakteri seperti Staphylococcus dan Escherichia coli yang masuk ke luka operasi. 2. Teknik operasi yang buruk dan lingkungan operasi yang tidak steril. 3. Penurunan mekanisme pertahanan tubuh pasien akibat faktor seperti usia, penyakit komorbid, dan prosedur operasi yang rumit.

Diunggah oleh

David Wilson
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
775 tayangan26 halaman

Infeksi Luka Operasi: Penyebab dan Penanganan

Tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap infeksi luka operasi adalah: 1. Bakteri seperti Staphylococcus dan Escherichia coli yang masuk ke luka operasi. 2. Teknik operasi yang buruk dan lingkungan operasi yang tidak steril. 3. Penurunan mekanisme pertahanan tubuh pasien akibat faktor seperti usia, penyakit komorbid, dan prosedur operasi yang rumit.

Diunggah oleh

David Wilson
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
Infeksi luka operasi hal yang paling mungkin terjadi, karena pembedahan merupakan
tindakan yang dengan sengaja membuat luka pada jaringan dan merupakan suatu tempat jalan
masuk dari bakteri, sehingga membutuhkan tingkat sterilitas yang maksimal dan juga orang-
orang yang ikut dalam operasi harus dibatasi jumlahnya.
Infeksi luka operasi terdiri dari superfisial, dalam dan organ sehingga penangannya
pun berbeda. Infeksi luka operasi disebabkan oleh beberapa bekteri, yaitu bakteri gram
negatif, gram positif, dan bakteri anaerob.
Gejala yang muncul seperti tanda-tanda inflamasi, yaitu terasa panas, nyeri,
kemerahan, bengkak, dan kadang-kadang disertai dengan keluarnya cairan atau pus dari
tempat luka.
Berkembangnya infeksi tergantung dari beberapa faktor diantaranya yaitu jumlah
bakteri yang memasuki luka, tipe dan virulensi bakteri, pertahanan tubuh host dan faktor
eksternal lainnya. Juga terdapat beberapa faktor resiko yang dapat mencetuskan terjadinya
infeksi luka operasi, yaitu faktor pasien, faktor operasi, dan faktor mikrobiologi.
Penanganan dan pencegahan terjadinya infeksi luka operasi pada dasarnya adalah
dengan menjaga sterilitas, dengan melakukan teknik operasi yang baik.
BAB II
ISI
A. Definisi
Infeksi luka operasi adalah infeksi dari luka yang didapat setelah operasi. apat terjadi
diantara !" hari setelah operasi biasanya terjadi antara # sampai $" hari setelah operasi atau
dalam kurun %aktu $ tahun apabila terdapat implan. Infeksi adalah invasi dan pembiakan
mikroorganisme di jaringan tubuh, secara klinis mungkin tak tampak atau timbul cedera
seluler lokal akibat kompetisi metabolism, toksin, replikasi intrasel, atau respon antigen &
antibodi. Infeksi dapat terlokalisasi, subklinis, dan bersifat sementara bila mekanisme
pertahanan tubuh efektif. Infeksi lokal dapat menetap dan menyebar menjadi infeksi klinis
atau kondisi penyakit yang bersifat akut, subakut, atau kronik. Infeksi yang muncul selama
seseorang dira%at di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu
dira%at atau setelah selesai dira%at disebut infeksi nosokomial.
Pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari '( jam
menunjukkan bah%a masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit
dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah '( jam pasien bedara di rumah sakit baru
disebut infeksi nosokomial. )umber infeksi luka operasi dapat berasal dari pasien, dokter dan
tim, lingkungan, termasuk instrumentasi.
Infeksi luka operasi ini dapat terjadi pada luka yang tertutup ataupun pada luka yang
terbuka, dikarenakan untuk proses penyembuhannya. apat juga terjadi pada jaringan
maupun pada bagian dari organ tubuh dan juga dapat terjadi pada jaringan superfisial
* )uperficial Incision )urgical )ite infection + ataupun pada jaringan yang lebih dalam * eep
Incision )urgical )ite Infection +. Pada kasus yang serius dapat mengenai organ tubuh
* ,rgan )urgical )ite Infection +.
-enurut sistem ../s terdapat kriteria untuk mendefinisikan infeksi luka operasi, yaitu
$. Infeksi )uperfisial, yaitu infeksi yang terjadi diantara !" hari setelah operasi dan
infeksi hanya mengenai pada kulit atau jaringan subkutan pada daerah bekas
insisi.
(. Infeksi alam, yaitu infeksi yang terjadi diantara !" hari setelah operasi dimana
tidak menggunakan alat-alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika
menggunakan alat-alat yang ditanam maka infeksi terjadi diantara $ tahun dan
infeksi yang terjadi berhubungan dengan luka operasi dan infeksi mengenai
jaringan lunak yang dalam dari luka bekas insisi.
!. ,rgan atau ruang, yaitu infeksi yang terjadi diantara !" hari setelah operasi
dimana tidak menggunakan alat yang ditanam pada daerah dalam dan jika
menggunakan alat yang ditanam maka infeksi terjadi diantara $ tahun dan
infeksi yang terjadi berhubungan dengan luka operasi dan infeksi mengenai
salah satu dari bagian organ tubuh, selain pada daerah insisi tapi juga selama
operasi berlangsung karena manipulasi yang terjadi.
TABLE
.0I120I3 4,0 24I5I5G 3 )60GI.37 )I12 I542.1I,5 *))I+8
Superficial Incisional SSI
Infection occurs %ithin !" days after the operation and infection involves only skin or subcutaneous
tissue of the incision and at least one of the follo%ing9
$. Purulent drainage, %ith or %ithout laboratory confirmation, from the superficial incision.
(. ,rganisms isolated from an aseptically obtained culture of fluid or tissue from the
superficial incision.
!. 3t least one of the follo%ing signs or symptoms of infection9 pain or tenderness, locali:ed
s%elling, redness, or heat and superficial incision is deliberately opened by surgeon, unless
incision is culture-negative.
;. iagnosis of superficial incisional ))I by the surgeon or attending physician.
o not report the follo%ing conditions as ))I9
$. )titch abscess *minimal inflammation and discharge confined to the points of suture penetration+.
(. Infection of an episiotomy or ne%born circumcision site.
!. Infected burn %ound.
;. Incisional ))I that e<tends into the fascial and muscle layers *see deep incisional ))I+.
Deep Incisional SSI
Infection occurs %ithin !" days after the operation if no implant= is left in place or %ithin $ year if
implant is in place and the infection appears to be related to the operation and infection involves deep
soft tissues *e.g., fascial and muscle layers+ of the incision and at least one of the follo%ing9
$. Purulent drainage from the deep incision but not from the organ>space component of the surgical
site.
(. 3 deep incision spontaneously dehisces or is deliberately opened by a surgeon %hen the patient has
at least one of the follo%ing signs or
symptoms9 fever *?!@A.+, locali:ed pain, or tenderness, unless site is culture-negative.
!. 3n abscess or other evidence of infection involving the deep incision is found on direct e<amination,
during reoperation, or by histopatholog
ic or radiologic e<amination.
;. iagnosis of a deep incisional ))I by a surgeon or attending physician.
Organ/Space SSI
Infection occurs %ithin !" days after the operation if no implant= is left in place or %ithin $ year if
implant is in place and the infection appears to be related to the operation and infection involves any
part of the anatomy *e.g., organs or spaces+, other than the incision, %hich %as opened or manipulated
during an operation and at least one of the follo%ing9
$. Purulent drainage from a drain that is placed through a stab %oundB into the organ>space.
(. ,rganisms isolated from an aseptically obtained culture of fluid or tissue in the organ>space.
!. 3n abscess or other evidence of infection involving the organ>space that is found on direct
e<amination, during reoperation, or by histopathologic or radiologic e<amination.
B. Penyebab
4aktor & faktor yang mempengaruhi terjadi infeksi lokasi operasi adalah
$. Infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Infeksi yang terjadi pada luka operasi disebabkan oleh bakteri, yaitu bakteri gram
negatif *E. coli+, gram positif *Enterococcus+ dan terkadang bakteri anaerob dapat
yang berasal dari kulit, lingkungan, dari alat-alat untuk menutup luka dan operasi.
Bakteri yang paling banyak adalah Staphylococcus.
(. 7ingkungan terjadinya infeksi * 0espon lokal +
1eknik operasi yang baik dapat memperkecil kemungkinan terjadi infeksi luka
operasi. Prinsip operasi yang diajarkan Calsted ialah hemostasis, diseksi secara tajam,
jahitan yang halus, diseksi sesuai anatomi. 7igasi jaringan yang besar, benang non &
absorbable yang besar dan polifilamen, jaringan nekrotik, hematoma, dan benda asing
harus dihindari karena kondisi tersebut mudah merubah bakteri inokulum untuk
menimbulkan infeksi. ,perasi yang berlangsung lama mengakibatkan luka tepi insisi
mongering dan rentan terjadinya infeksi. Penderita usia tua terjadi perubahan struktur
histologis dan penurunan fisiologis dari jaringan, sehingga mempermudah terjadi
infeksi.
!. -ekanisme pertahanan tubuh
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi mekanisme pertahanan tubuh ialah
penyakit bedah, penyakit penyerta, serta tindakan pembedahan itu sendiri. iabetes dapat
meningkatkan kemungkinan terjadinya I7,. 6ntuk menurunkan mekanisme pertahanan
tubuh ialah melakukan operasi dengan prosedur yang benar dengan perdarahan minimal,
cegah terjadinya syok, mempertahankan volume darah, normotermia, jaga perfusi dan
oksigenasi jaringan. 6sia tua, pemberian transfuse, pemakaian obat steroid atau
imunosupresan termasuk kemoterapi dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya I7,
sehingga perlu pemberian antibiotic profilaksis pada saat pembedahan.
TABLE
I)10IB61I,5 ,4 P31C,G25) I),73128 40,- )60GI.37 )I12
I542.1I,5), 531I,537 5,),.,-I37 I542.1I,5) )60D2I7735.2
)E)12-, $F@G 1, $FFG
Percentage of Isolates
1986-1989179 1990-199626
Pathogen (N=16,727) (N=17,671)
Staphylococcus aureus $' ("
.oagulase-negative staphylococci $( $;
Enterococcus spp. $! $(
Escherichia coli $" @
Pseudomonas aeruginosa @ @
Enterobacter spp. @ '
Proteus mirabilis ; !
Klebsiella pneumoniae ! !
,ther Streptococcus spp. ! !
Candida albicans ( !
Group streptococci *non-enterococci+ H (
,ther gram-positive aerobes H (
Bacteroides fragilis H (
8Patogen yang presentasinya kurang dari ( I tidak termasuk.
C. Patogenesis
Pada akhir operasi, bakteri dan mikroorganisme lain mengkontaminasi seluruh luka
operasi, tapi hanya sedikit pasien yang secara klinis menimbulkan infeksi. Infeksi tidak
berkembang pada kebanyakan pasien karena pertahanan tubuhnya yang efektif untuk
menghilangkan organisme yang mengkontaminasi luka operasi. Infeksi potensial terjadi
tergantung pada beberapa faktor, diantaranya yang terpenting adalah 9
Jumlah bakteri yang memasuki luka
1ipe dan virulensi bakteri
Pertahanan tubuh host
4aktor eksternal, seperti 9 berada di rumah sakit beberapa hari sebelum
pembedahahn dan operasi yang berlangsung lebih dari ; jam.
)elain itu juga dipengaruhi faktor lain yaitu 9
$. Operating suite, yaitu tidak adanya batas yang jelas antara ruang untuk operasi
dan ruang untuk mempersiapkan pasien atau untuk pemulihan dan juga
pakaian yang digunakan hampir tidak ada bedanya.
(. Operating room, ruangan yang digunakan untuk operasi harus dijaga
sterilitasnya.
!. 1im operasi, yaitu harus ada orang yang mera%at pasien dari sebelum, saat dan
setelah operasi. ,perator, asisten dan instrumen harus menjaga sterilitas karena
berhubungan langsung dengan daerah lapang operasi. ,rang-orang yang tidak
ikut sebagai tim operasi harus menjauhi daerah lapang operasi dan menjauhi
daerah alat karena mereka tidak steril dan pasien bisa terinfeksi nantinya.
43J1,0 & 43J1,0 E35G -2-P25G306CI I542J)I 76J3 ,P203)I
a. 2nviroment
$. 7amanya %aktu tunggu pre operasi di rumah sakit
engan bertambahnya lama pera%atan sebelum operasi akan meningkatkan resiko
terjadinya infeksi nosokomial dimana pera%atan lebih dari ' hari pre operasi akan
meningkatkan kejadian infeksi pasca bedah dan kejadian tertinggi didapat pada lama
pera%atan ' - $! hari. Casil penelitian infection rate kira-kira ( kali lebih besar setelah
dira%at ( minggu dan ! kali lebih besar setelah dira%at selama ! minggu dibandingkan bila
dira%at $-! hari sebelum operasi. 7amanya operasi mempengaruhi resiko terkena
infeksinosokomial, semakin lama %aktu operasi makin tinggi resiko terjadinya infeksi
nosokomial.
7ingkungan rumah sakit adalah reservoir mikroorganisme dan merupakan salah satu
sumber infeksi. 0esiko peningkatan infeksi terjadi pada %aktu ra%at yang panjang. Casil
penelitian infection rate kira-kira ( kali lebih besar setelah dira%at ( minggu dan ! kali lebih
besar setelah dira%at ! minggu dibandingkan dira%at $-! hari sebelum operasi. -enurut
.ruse dan 4oord terdapat hubungan antara lama hospitalisasi sebelum operasi dengan insiden
infeksi luka operasi. 3ngka infeksi mencapai $,( I pada klien yang dira%at $ hari, (,$ I
pada klien yang dira%at $ minggu, dan !,; I pada klien yang dira%at ( minggu.
(. 1eknik septik antiseptik
1ransmisi penyakit melalui tangan dapat diminimalisasi dengan menjaga higiene dari
tangan. )elain itu, penggunaan sarung tangan sangat dianjurkan bila akan melakukan
tindakan atau pemeriksaan pada pasien dengan penyakit-penyakit infeksi. Cal yang perlu
diingat adalah memakai sarung tangan ketika melakukan tindakan dan mengambil atau
menyentuh darah, cairan tubuh, atau keringat, tinja, urin, membran mukosa dan bahan yang
kita anggap telah terkontaminasi, dan segera mencuci tangan setelah melepas sarung tangan.
Baju khusus juga harus dipakai untuk melindungi kulit dan pakaian selama kita
melakukan suatu tindakan untuk mencegah percikan darah, cairan tubuh, urin dan feses.
Prinsip umum teknik aseptik ruang operasi yaitu 9
a+. Prinsip asepsis ruangan
3ntisepsis dan asepsis adalah suatu usaha agar dicapainya keadaan yang
memungkinkan terdapatnya kuman-kuman pathogen dapat dikurangi atau ditiadakan, baik
secara kimia%i, mekanis atau tindakan fisik. 1ermasuk dalam cakupan tindakan antisepsis
adalah selain alat-alat bedah, seluruh sarana kamar operasi, semua implan, alat-alat yang
dipakai personel operasi *sandal, celana, baju, masker, topi dan lain-lainnya+ dan juga cara
membersihkan>melakukan desinfeksi kulit.
b+. Prinsip asepsis personel
1eknik persiapan personel sebelum operasi meliputi ! tahap, yaitu 9 )crubbing *cuci
tangan steril+, Go%ning *teknik peggunaan gaun operasi+, dan Gloving *teknik pemakaian
sarung tangan steril+, hal ini diperlukan untuk menghindarkan bahaya infeksi yang muncul
akibat kontaminasi selama prosedur pembedahan *infeksi nosokomial+.
isamping sebagai cara pencegahan terhadap infeksi nosokomial, teknik-teknik
tersebut juga digunakan untuk memberikan perlindungan bagi tenaga kesehatan terhadap
bahaya yang didapatkan akibat prosedur tindakan yang di lakukan.
c+. Prinsip asepsis pasien
Pasien yang akan menjalani pembedahan harus diasepsiskan. -aksudnya adalah
dengan melakukan berbagai macam prosedur yang digunakan untuk membuat medan operasi
steril. Prosedur-prosedur itu antara lain adalah kebersihan pasien, desinfeksi lapangan operasi
dan tindakan draping.
d+. Prinsip asepsis instrumen
Instrumen bedah yang digunakan untuk pembedahan pasien harus benar-benar berada
dalam keadaan steril.
!. Dentilasi ruang operasi
6ntuk mencegah kontaminasi udara pada kamar operasi, direkomendasikan ventilasi
mekanik. )ystem 3. diatur ("-(; per jam. engan desain yang benar dan kontrol yang baik
dari pergerakan staff maka kontaminasi udara dapat ditekan diba%ah $"" cfu>m! selama
operasi jika ditemukan kebersihan udara.
b.Pasien
$. 6mur
Bayi mempunyai pertahanan yang lemah terhadap infeksi, lahir mempunyai antibody
dari ibu, sedangkan sistem imunnya masih imatur. e%asa a%al sistem imun telah
memberikan pertahanan pada bakteri yang menginvasi. Pada usia lanjut, karena fungsi dan
organ tubuh mengalami penurunan, system imun juga mengalami perubahan. Peningkatan
infeksi nosokomial juga sesuai dengan umur dimana pada usia G# tahun kejadian infeksi tiga
kali lebih sering daripada usia muda.
(. 5utrisi dan berat badan
Cubungan yang bermakna antara penyembuhan luka operasi dengan status nutrisi.
Jebutuhan nutrisi ditentukan dengan mengukur tinggi badan dan berat badan, lipat kulit
trisep, lingkar lengan atas, kadar protein darah *albumin dan globulin+ dan keseimbangan
nitrogen. Jondisi gi:i buruk dapat mengakibatkan pasien mengalami berbagai komplikasi
pasca operasi dan mengakibatkan pasien menjadi lebih lama dira%at di rumah sakit.
Jomplikasi yang paling sering terjadi adalah infeksi pasca operasi, dehisiensi, demam dan
penyembuhan luka yang lama. Pada kondisi yang serius pasien dapat mengalami sepsis yang
bisa mengakibatkan kematian.
!. Penyakit
Pada pasien dengan diabetes mellitus terjadi hambatan terhadap sekresi insulin akan
mengakibatkan peningkatan gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. 3kibat hal
tersebut juga akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh yang berakibat rentan terhadap
infeksi.
Pasien dengan operasi usus, jika ia juga memiliki penyakit lain seperti 1B., - ,
malnutrisi dan lain-lain maka penyakit-penyakit tersebut tentu saja amat sangat berpengaruh
terhadap daya tahan tubuh sehingga akan mengganggu proses penyembuhan luka operasi.
4aktor daya tahan tubuh yang menurun dapat menimbulkan resiko terkena infeksi
nosokomial. Pasien dengan gangguan penurunan daya tahan9 immunologik. 6sia muda dan
usia tua berhubungan dengan penurunan resistensi tubuh terhadap infeksi.
;. ,bat-obat yang digunakan
)elain ada bakteri yang patogen oportunis, ada pula bakteri yang secara mutualistik
yang ikut membantu dalam proses fisiologis tubuh. Pengetahuan tentang mekanisme
ketahanan tubuh orang sehat yang dapat mengendalikan jasad renik oportunis perlu
diidentifikasi secara tuntas. engan demikian bahaya infeksi dengan bakteri oportunis pada
penderita penyakit berat dapat diatasi tanpa harus menggunakan antibiotika.
Pencegahan infeksi pasca bedah pada klien dengan operasi bersih terkontaminasi,
terkontaminasi, dan beberapa operasi bersih dengan penggunaan antimikroba profilaksis
diakui sebagai prinsip bedah. Pada pasien dengan operasi terkontaminasi dan operasi kotor,
profilaksis bukan satu-satunya pertimbangan. Penggunaan antimikroba di kamar operasi,
bertujuan mengontrol penyebaran infeksi pada saat pembedahan. Pada pasien dengan operasi
bersih terkontaminasi, tujuan profilaksis untuk mengurangi jumlah bakteri yang ada pada
jaringan mukosa yang mungkin muncul pada daerah operasi.
1ujuan terapi antibiotik profilaksis untuk mencegah perkembangan infeksi dengan
menghambat mikroorganisme. .. merekomendasikan parenteral antibiotik profilaksis
seharusnya dimulai dalam ( jam sebelum operasi untuk menghasilkan efek terapi selama
operasi dan tidak diberikan lebih dari ;@ jam. Pada luka operasi bersih dan bersih
terkontaminasi tidak diberikan dosis tambahan post operasi karena dapat menimbulkan
resistensi bakteri terhadap antibiotik .
Faktor Operasi
$. Pencukuran sebelum operasi
(. Persiapan kulit sebelum operasi
!. 7amanya operasi
;. Profilaksis antimikroba
#. Dentilasi ruang operasi
G. Pembersihan atatu sterilisasi instrumen
'. -aterial asing pada tempat pembedahan
@. rain
F. 1eknik pembedahan
$". Cemostasis yang buruk
$$. Jegagalan untuk menutupi dead space
$(. 1rauma jaringan
Faktor ikrobio!ogi
$. )ekresi toksin
(. Cambatan pembersihan *contoh 9 karena pembentukan kapsul+
D. "e#a!a $an Tan$a
Pasien merasakan beberapa gejala yang dirasakan saat terjadi infeksi pada luka operasi 9
$. 5yeri
(. Cipotermi atau hipertermi
!. 1ekanan darah rendah
;. Palpitasi
#. Jeluar cairan dari luka operasi, bisa berupa darah ataupun nanah *bisa ber%arna
dan berbau+
G. Bengkak *pasien merasa nyeri, sekitar daerah yang membengkak terasa hangat
dan ber%arna merah+
E. Diagnosa
6ntuk mendiagnosa apakah itu suatu infeksi luka operasi dapat dengan cara 9
$. Pemeriksaan fisik, dengan memeriksa apakah ada tanda & tanda inflamasi yang
dapat berupa rubor, dolor, color, nyeri maupun functiolesa, dan juga berupa
cairan atau sekret yang keluar. Carus diperhatikan juga apakah ada penyebaran
dari infeksi.
(. 1es darah lengkap
!. Jultur dari luka dan biopsi jaringan, untuk mengidentifikasikan bakteri apa
yang terdapat pada luka, jenis infeksi dan pengobatan apa yang tepat.
%!asifikasi !&ka operasi
Bersih *Jelas I+ 5on trauma 5on trauma
1idak ada inflamasi
1raktus respiratorius, digestivus, urogenital,
tanpa
menembus
1idak ada kesulitan dalam operas
Bersih kontaminasi
*Jelas II+
1raktus respiratorius, digestivus, menembus
tanpa
sillage yang signifikan
3pendiktomi
,rofaring
Dagina
6rogenital, menembus tetapi tidak ada
infeksi urin
Bilier, menembus tetapi tidak ada infeksi
bilier
Jesulitan ringan dalam operasi
Jontaminasi *Jelas III+ Jesulitan besar dlam operasi
)pillage yang banyak dari gastrointestinal
7uka trauma, baru
-enembus urogenital atau bilier, dengan
adanya
infeksi urine atau bile
Jotor dan infeksi
*Jelas ID+
Inflamasi bakterial akut tanpa nanah
1ranseksi daerah bersih untuk drainase
nanah
7uka trauma dengan jaringan mati, benda
asing,
kontaminasi fekal, delayed treatment
F. Penata!aksanaan
$. Pembersihan luka
Proses pembersihan luka terdiri dari memilih cairan yang tepat untuk membersihkan
luka dan menggunakan cara-cara mekanik yang tepat untuk memasukkan cairan tersebut
tanpa menimbulkan cedera pada jaringan luka. Pertama-tama mencuci luka dengan air
yang mengalir, membersihkan dengan sabun yang lembut dan air, serta dapat
memberikan antiseptic.
(. ebridement
Cal ini dilakukan untuk membersihkan dan membuang objek, atau kulit mati dan
jaringan dari daerah luka. okter dapat membatasi area yang rusak pada luka atau sekitar
luka. Pembalut basah bisa ditempatkan pada luka dan dibiarkan mengering. okter juga
bisa mengeringkan luka untuk membersihkan pus.
!. Penutup luka
Cal ini juga disebut pembalut luka. Pembalut digunakan untuk melindungi luka dari
kerusakan lebih lanjut dan infeksi. Cal ini juga menolong menyediakan tekanan untuk
mengurangi pembengkakan. Pembalut bisa berbagai bentuk. Pembalut bisa mengandung
beberapa substansi untuk menlong mempercepat penyembuhan.
;. ,bat-obatan
okter mungkin memberikan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Pasien juga mungkin
diberikan obat-obatan untuk mengurangi sakit, pembengkakan, atau demam.
#. 1erapi oksigen hyperbarik
Juga disebut CB,. CB, digunakan untuk memperoleh oksigen lebih banyak ke
dalam tubuh. ,ksigen diberikan diba%ah tekanan untuk menolong oksigen supaya sampai
ke jaringan dan darah. Pasien dimasukkan ke ruangan yang berbentuk seperti tabung yang
disebut ruangan hiperbarik atau ruangan tekanan. Pasien bisa melihat dokter dan
berbicara dengan mereka melalui pengeras suara. Pasien mungkin mebutuhkan terapi ini
lebih dari sekali.
G. 1erapi tekanan negatif
Juga disebut vacuum-assisted closure *D3.+. Pembalut berbentuk spesial dengan
melekat pada sebuah tabung diletakkan didalam kavitas luka dan ditutup dengan ketat.
1abung berhubungan ke sebuah pompa yang akan menolong menyedot keluar cairan
berlebih dan kotoran dari luka. D3. juga mungkin menolong untuk meningkatkan aliran
darah dan mengurangi jumlah bakteri di luka.
'. Pengobatan lain
-engontrol atau mengobati kondisi medis yang menyebabkan penyembuhan luka
yang buruk menolong mengobati infeksi pada luka. Pasien mungkin perlu minum obat
untuk mengontrol penyakit seperti diabetes atau tekanan darah tinggi. okter mungkin
memberikan pasien supplemen atau menyarankan diet spesial untuk meningkatkan nutrisi
dan kesehatan pasien. Pembedahan mungkin dilakukan untuk meningkatkan aliran darah
jika pasien mempunyai masalah dengan pembuluh darah.
PENCE"AHAN
I. Preoperative
a. Persiapan pasien
$. Japanpun jika memungkinkan, identifikasi dan obati semua infeksi yang terlokalisir di
daerah operasi sebelum operasi elektif dan operasi elektif yang tertunda pada pasien
dengan dearah infeksi pada luka sampai infeksi terobati.
(. Jangan mencukur rambut sebelum operasi kecuali jika rambut tersebut atau sekitar daerah
insisi akan mengganggu operai.
!. Jika rambut dicukur, cukur secepatnya sebelum operasi, lebih baik dengan pemotong
elektrik.
;. Jontrol tingkat glukosa darah serum secara adekuat pada semua pasien diabetes dan selalu
hindari hiperglikemi sebelum operasi.
#. )arankan penghentian merokok. -inimal instruksikan pasien untuk tidak merokok kretek,
tembakau, atau bentuk konsumsi tembakau lain selama paling tidak !" hari sebelum
operasi elektif.
G. Jangan menahan darah pasien yang di operasi untuk mencegah infeksi luka operasi.
'. -inta pasien untuk mandi dengan cairan atiseptik pada paling tidak malam sebelum
operasi dilaksanakan.
@. .uci dan bersihkan dengan benar sekitar daerah insisi untuk membuang kontaminasi
sebelum menyiapkan antiseptik kulit.
F. Gunakan antiseptik yang tepat.
$". ,leskan antiseptik secara lingkaran yang dimulai dari tengah bergerak menuju pinggir.
aerah yang dipersiapkan harus cukup besar untuk memperpanjang sayatan atau
membuat sayatan baru jika diperlukan.
$$. 6sahakan pre operasi pasien di rumah sakit sesingkat mungkin.
$(. 1idak direkomendasikan untuk menurunkan atau menghentikan penggunaan steroid
sistemik sebelum operasi selektif.
$!. 1idak direkomendasikan untuk hanya meningkatkan support nutrisi untuk pasien operasi
yang dimaksudkan untuk mencegah infeksi luka operasi.
b. Antiseptik tangan' !engan ba(a) &nt&k anggota ti be$a).
$. Potong pendek kuku dan jangan memakai kuku palsu.
(. 7akukan pencucian tangan sebelum operasi paling tidak ( sampai # menit menggunakan
antiseptik yang tepat. .uci tangan dan lengan ba%ah sampai ke siku.
!. )etelah mencuci tangan, jaga tangan di atas dan tidak bersentuhan dengan tubuh *siku pada
posisi fleksi+ sehingga air bergerak dari ujung jari menuju siku. Jeringkan tangan dengn
handuk steril dan pakai baju operasi steril dan sarung tangan steril.
;. Bersihkan ba%ah tiap kuku sebelum mencuci tangan pertamakali.
#. Jangan menggunakan perhiasan.
G. 1idak direkomendasikan menggunakan cat kuku.
*. Penanganan persone! be$a) yang terinfeksi
$. 2dukasi dan sarankan personel bedah yang memiliki gejala dan pasien penyakit infeksi
yang menular agar melaporkan keadaan mereka dengan segera kepada supervisor dan
personel kesehatan kerja.
(. -embuat kebijakan yang baik mengenai tanggungja%ab pera%atan pasien ketika personal
potensial berada pada kondisi infeksius yang menular. Jebijakan-kebijakan ini
seharusnya mengatur 9 *a+ 1anggungja%ab personel dalam menggunakan pelayanan
kesehatan dan melaporkan penyakit, *b+ pembatasan kerja, dan *c+ ijin untuk kembali
bekerja setelah menderita penyakit yang membutuhkan pembatasan kerja. Jebijakan-
kebijakan tersebut seharusnya mengidentifikasi individu yang memiliki kekuasaan untuk
mengistirahatkan personel dari kerja mereka.
!. -enghentikan dari tugas operasi personel yang mempunyai lesi kulit yang telah
mengering sampai infeksi hilang atau personel tersebut telah menerima terapi adekuat dan
infeksi telah sembuh.
;. Jangan secara rutin mengeluarkan personel operasi yang terkolonisasi dengan organisasi
seperti S. aureus *hidung, tangan atau bagian tubuh lain+ atau grup Streptococcus,
kecuali personel tersebut telah dihubungkan secara epidemiologi kepada penyebaran
organisme di %ilayah pusat kesehatan.
Prinsip Pengg&naan Antibiotik Profi!aksis
!. "epat #ndi$asi
3ntibiotik profilaksis diberikan pada pembedahan dengan klasifkasi bersih
kontaminasi *lihat tabel $+, yang mempunyai kemungkinan terjadi I7, sebesar $",$I.
engan pemberian antibiotik profilaksis maka angka kejadian I7, dapat diturunkan
menjadi $,!I . 3ntibiotik profilaksis juga diberikan pada pembedahan kriteria bersih yang
memasang bahan prostesis. Juga diberikan pada operasi bersih yang jika sampai
terjadi infeksi akan menimbulkan dampak yang serius seperti operasi bedah
syaraf, bedah jantung, dan mata.
3ntibiotik profilaksis tidak tepat digunakan pada operasi kontaminasi atau kotor
karena telah terjadi kolonisasi kuman dalam jumlah besar atau sudah ada infeksi
yang secara klinis belum manifestasi.
%. "epat Obat
3ntibiotik yang digunakan untuk untuk tujuan profilaksis berbeda dengan obat
yang digunakan untuk tujuan terapi. Pada umumnya dipilih antibiotik dengan
spektrum sempit, generasi yang lebih tua dibandingkan antibiotik untuk tujuan
terapi.
engan memperhatikan spektrum, antibiotik ditujukan pada kuman yang
potensial menimbulkan I7,, dan antibiotik tersebut dapat melakukan penetrasi ke
jaringan yang dilakukan pembedahan dengan konsentrasi yang cukup. Kalaupun
disatu bidang pembedahan kadang didapatkan banyak macam kuman normoflora,
namun tidak semuanya potensial menimbulkan infeksi dan jumlah koloninya
tidak banyak.
alam pemilihan antibiotik harap diperhatikan faktor alergi, efektivitas,
toksisitas, serta kemudahan cara pemberiannya. Pada umumnya untuk berbagai
macam pembedahan masih digunakan sefalosporin generasi I yaitu sefa:olin,
sedangkan sefalosporin generasi III tidak dianjurkan untuk antibiotik profilaksis.
Juman pathogen penyebab infeksi luka operasi
-acam Pembedahan Juman Patogen
Pemasangan protese katub
jantung
Pemasangan protese sendi
)taphylococcus
Intrumentasi traktus urinarius
ba%ah
Bakteri enterik gram negative
Bedah kolorektal Bakteri enterik gram negative
enterococci anaerob
Bedah traktus respiratorius
atas
3erobik dan mikroaerofilik
streptococcus, anaerob
&. "epat dosis
6ntuk tujuan profilaksis diperlukan antibiotika dosis tinggi, agar didalam sirkulasi
dan didalam jaringan tubuh dicapai kadar diatas -I. *minimal inhibitory
concentration+ antibiotik terhadap kuman yang potensial menimbulkan infeksi.
6ntuk itu kadang diperlukan loading-dose yang takarannya (-; kali dosis normal.
osis yang kurang adek%at, tidak hanya tidak mampu menghambat pertumbuhan
kuman tetapi justru merangsang terjadinya resistensi kuman.
'. "epat rute
3gar antibiotik dapat segera didistribusikan ke jaringan maka pemberiannya
dilakukan secara intravena.
(. "epat )a$tu pemberian
Pemberian antibiotik profilaksis dilakukan pada !" menit *intravena+ atau $ jam
*intramuskuler+ sebelum insisi dengan maksud agar pada saat insisi maka kadar
antibiotik didalam jaringan sudah mecapai puncaknya. Pemberian antibiotik
profilaksis lebih baik dilakukan di dalam kamar operasi, pada %aktu anestesi
melakukan induksi, untuk itu dapat minta tolong anaestesis untuk
memberikannya. 3ntibiotik tersebut harus mencapai kadar puncak didalam
jaringan sebelum terjadinya inokulasi kuman kedalam jaringan di lapangan
operasi. 3ntibiotik tidak bermanfaat untuk mencegah terjadinya I7, jika
diberikan sebelum ( jam atau sesudah ! jam dilakukan insisi.
Pada operasi kolon, diberikan juga antibiotik peroral yaitu neomisin dan
eritromisin masing-masing $g pada jam $!."", $;."" dan (!."". obat lain yang
dapat diberikan juga ialah metronida:oleL kanamycin> neomycin.
*. "epat lama pemberian
Pada operasi yang lama ? ! jam atau perdarahan selama operasi ? $#"" ml akan
terjadi penurunan dosis antibiotik didalam jaringan, oleh karena itu pada kondisi tersebut
dapat diberikan dosis tambahan. Jika operasi sangat memanjang maka pemberian dosis
tambahan dapat diberikan setiap ( jam untuk sefoksitin atau
setiap ; jam untuk sefa:olin.
Pada beberapa operasi yang sederhana seperti apendiktomi atau herniotomi
menggunakan mesh maka antibiotik profilaksis cukup diberikan sekali preoperatif
saja. Pada umumnya pemberian antibiotik profilaksis tambahan sebanyak $ dosis
setiap @ jam diberikan hanya selama $ hari saja, karena pemberian lebih dari $
hari tidak memberikan manfaat lebih.
+a*a Antibiotik
!. Penisilin
.ara kerja 9 - menghambat pembelahan karena terjadi pertumbuhan
dinding sel abnormal
- menghambat fase ! sintesis dinding sel
0esistensi 9 - mempengaruhi pecillin-binding protein
- tidak mampu menembus dinding sel
- en:im hidro lisa molekul protein
)pektrum 9 - Cocci Gram-positif * )treptococcus 3 dan B+
- Bacilli Gram-positif * .orynebacterium diphtheria+
- Cocci Gram negatif *5eisseria meningitidis+
- Bacilli Gram-negatif *)treptobacillus moniliformis+
- 3naerob*.lostridium,4usobacterium,Peptostreptococcus sp+
- 7ain *1reponema pallidum, 7eptospira, 2nterobacter, 3cinebacter sp.+
2fek samping 9 - hipersensitivitas *$-#I+ * iritasi yang mengenai sistem syaraf
perifer+
- nefropati *reaksi alergi berupa nefritis interstisial dan
hipokalemia+
(. Sefalosporin
.ara kerja 9 - menghambat fase ! sintesis dinding sel
- mengikat protein spesifik pada membran sel
- mempengaruhi permeabilitas sel
- melepaskan autolisin
0esistensi 9 - menurunkan permeabilitas dinding sel
- membentuk beta-laktamase
)pektrum 9 - Generasi I * mis. 3ncef, Jeflin, Jef:ol+
organisme Gram positif *)taphylococcus, )tretococcus+, Gram negatif,
Bacilli anaerob dan aerob.
- Generasi II *mis. .eclor, Minacef, -efo<in+
Jurang efektif terhadap kuman Gram positif +emophilus influen,ae,
baksil Gram negatif, Proteus, 2nterobacter sp.
- Generasi III *mis. .efta:idime, .efota<im, .efopera:one+
3erob Gram negatif, Pseudomonas
2fek samping 9 - hipersensitivitas terutama bila alergi penisilin
- hematologi *neutropenia, leukopenia, trombopenia+
- traktus digestivus *mual, muntah, anoreksia, diare+
&. Eritromisin
.ara kerja 9 - menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada #"s subunit
ribosom
0esistensi 9 - mempengaruhi komponen protein #"s subunit ribosom
- melalui plasmid
)pektrum 9 - sama dengan penisilin G
- -ycoplasma, .egionella, ctinomyces sp.
- +emophilus influen,ae
2fek samping 9 - gangguan traktus digestivus
- hipersensitivitas
- .holestatic hepatitis
;. Clindamycin
.ara kerja 9 - menghambat sintesa protein bakteri dengan binding pada #"s subunit
ribosom
0esistensi 9 - mempengaruhi komponen protein #"s subunit ribosom
- melalui plasmid
)pektrum 9 - aerob dan anaerob Gram positif
- anaerob Gram negatif * beberapa )taphylococcus resisten+
2fek samping 9 - kolitis pseudomembran
- nausea, diare
- hipersensitivitas
- leukopenia
- hepatotoksik transien *jarang+
#. -etronida,ole
.ara kerja 9 - menurunkan aktivitas metabolit intraseluler kuman
2fek samping 9 - toksis pada ))P
- gangguan traktus digestivus
- neutropenia
- drug fever
- aP11 memenjang
- efek sinergis dengan alkohol
2fek samping penggunaan antibiotik profilaksis
Penggunaan antibiotik profilaksis yang tidak tepat dapat memicu terjadinya resistensi
kuman. Cal ini karena pemilihan penderita yang tidak tepat, pemberiannya terlalu lama, atau
digunakannya obat generasi terbaru. Jomplikasi yang jarang tetapi serius ialah terjadinya
enterokolitis pseudomembran akibat pemberian klindamisin, sefalosporin, dan ampisilin.
iare dan panas badan dapat terjadi setelah pemberian satu dosis antibiotik profilaksis.
II. Intra operatif
a. Dentilasi
$ Pertahankan ventilasi tekanan positif di kamar operasi dengan memperhatikan koridor dan
area yang berdekatan.
( Pertahankan minimal pergantian udara $# kali perjam, yang mana paling tidak ! sebaiknya
udara segar.
! )aring semua udara, disirkulasi ulang dan segar, melalui filter yang baik sesuai
rekomendasi.
; -emasukkan semua udara di langit-langit, dan alat pembuangan uap dekat lantai.
# Jangan menggunakan radiasi 6D di kamar operasi untuk mencegah infeksi luka operasi.
G 1etap tutup pintu ruang operasi kecuali dibutuhkan untuk jalan peralatan, personel dan
pasien.
' Pertimbangkan melakukan operasi implan ortopedik dimana tesedia udara sangat bersih.
@ Batasi jumlah personel yang memasuki ruang operasi sesuai yang dibutuhkan.
b. -embersihkan dan diinfeksi permukaan lingkungan
$ Jetika kotoran yang terlihat atau kontaminasi dengan darah atau cairan tubuh permukaan
atau peralatan terjadi selama operasi, gunakan disinfektan untuk membersihkan area yang
terkena sebelum operasi berikutnya.
( Jangan melakukan pembersihan khusus atau menutup kamar operasi setelah terkontaminasi
atau operasi yang kotor.
! Jangan menggunakan keset kaki yang lengket di jalan masuk kamar operasi atau kamar
operasi individu untuk mengontrol infeksi.
; Dakum basah lantai kamar operasi setelah operasi terakhir dengan disinfektan.
# 1idak ada rekomendasi untuk disinfeksi permukaan lingkungan atau peralatan yang
digunakan di kamar operasi dalam beberapa operasi jika tidak terlihat kotoran
c. )terilisasi peralatan bedah
$ )terilisasi instrumen operasi.
( 7akukan sterilisasi cepat hanya pada item peralatan pera%atan penyakit yang akan
digunakan segera. Jangan gunakan sterilisasi cepat untuk alasan kenyamanan, seperti
sebuah alternatif membeli peralatan tambahan, atau untuk menghemat %aktu.
d. Pakaian operasi
$ Pakai masker operasi yang menutup keseluruhan mulut dan hidung ketika memasuki ruang
operasi jika operasi akan dimulai atau sedang berjalan atau jika instrument steril sedang
terekspos. Pakai masker selama operasi.
( Gunakan topi atau tudung untuk menutupi rambut secara keseluruhan di kepala dan %ajah
ketika memasuki ruang operasi.
! Jangan menggunakan penutup sepatu untuk mencegah infeksi luka operasi.
; Pakai sarung tangan steril jika menjadi tim operasi. Pakai sarung tangan setelah memakai
baju steril.
# Gunakan jubah operasi dan penutup yang merupakan barier efektif ketika basah.
G Ganti baju operasi yang terlihar sudah kotor, terkontaminasi danatau dipenetrasi oleh darah
atau material lain yang potensial infeksius.
e. 3sepsi dan teknik operasi
$ -engikuti prinsip asepsis ketika menempatkan peralatan intravascular, kateter anesthesia
spinal atau epidural, atau ketika memberikan obat secara intravena.
( )usun peralatan steril dan obat cair sebelum digunakan.
! Perlakukan jaringan dengan lembut, pertahankan hemotasis efektif, minimalkan jaringan
lemah dan benda asing dan eradikasi ruang mati di tepat operasi.
; 7akukan penutupan tunda kulit primer atau biarkan sebuah sayatan terbuka agar sembuh
kemudian jika ahli bedah memperkirakan daerah operasi terkontaminasi berat.
f. Pera%atan insisi setelah operasi
$ 7indungi dengan penutup steril untuk (; sampai ;@ jam setelah operasi, sebuah sayatan
yang telah tertutup secara primer.
( .uci tangan sebelum dan sesudah mengganti penutup dan setelah kontak dengan tempat
operasi.
! Jetika penutup sayatan harus diganti, gunakan teknik yang steril.
; 2dukasi pasien dan keluarga menyangkut pera%atan sayatan yang baik, gejala infeksi luka
operasi, dan perlunya melapor segera.
# 1idak ada rekomendasi untuk menutupi sayatan yang tertutup secara primer melebihi ;@
jam.
BAB III
%ESI+PULAN
Infeksi luka operasi adalah infeksi dari luka yang didapat setelah operasi. apat
terjadi diantara !" hari setelah operasi, biasanya terjadi antara # sampai $" hari setelah
operasi. Infeksi luka operasi ini dapat terjadi pada luka yang tertutup ataupun pada luka yang
terbuka, dikarenakan untuk proses penyembuhannya. apat juga terjadi pada jaringan
maupun pada bagian dari organ tubuh dan juga dapat terjadi pada jaringan superfisial *yang
dekat dengan kulit+ ataupun pada jaringan yang lebih dalam. -enurut sistem ../s terdapat
standarisasi pada kriteria untuk mendefinisikan infeksi luka operasi, yaitu 9 $. Insisi
)uperfisialN (. Insisi alamN !. ,rgan atau ruang.
1erdapat beberapa klasifikasi luka operasi, yaitu 9 clean, clean-contaminated,
contaminated, dirty. Patogenesis terjadinya infeksi luka pada operasi tergantung dari
beberapa faktor, yaitu 9 faktor pasien, faktor terjadinya infeksi, faktor operasi, faktor
mikrobiologi.
7uka yang di buat pada saat operasi merupakan tempat jalan masuk dari bakteri,
karena itu diperlukan penatalaksanaan dalam pencegahan terjadinya infeksi luka operasi.
Pencegahan agar tidak terjadi infeksi luka operasi adalah pada saat preoperatif dan
intraoperatif.
DAFTA, PUSTA%A
1o%nsend . -, Beauchamp 0 , 2vers B -, -atto< J 7. ("";. Sabiston "e/tboo$ of
Surgery."he Biological Basis of -odern Surgical Practice!0th edition. 2lsevier )aundersN
Philadelphia. P (#@-(G!
Burnicardi 4 ., 3nderson J, Bi:liar 1 0, urin 7, Cunter J G, Pollock - 2. (""G.
Sch)art,1s manual of surgery Eight edition. -acGra%hillN 5e% Eork. P. F"-FG
-angram 3 J, Coran 1 ., Pearson - 7,)ilver 7 ., Jarvis K 0.$FFF. 2uidline for prevention
of Surgical Site of #nfection. .olumbia 6niversity )chool of 5ursingN5e% Eork
)teven -. Gordon.(""$. 3e) Surgical "echni4ues and Surgical Site
#nfections.http9>>%%%.cdc.gov>ncidod>eid>vol'no(>gordon.htm, (; 4eb (""F.
Bonnie Barnard, -PC, .I..(""!.http9>>%%%.theific.org>basiconcepts>$$.pdf , (; 4ebruari
(""F
Joint commission 0esource.(""@.http9>>%%%.jcrinc.com>)urgical-)ite-Infections>, (;
4ebruari (""F
.ollege/s .ommittee on ,perating 0oom 2nvironment *.,02+ .$FFF.
http9>>%%%.facs.org>about>committees>cpc>ssiguide"'"".pdf, (; 4ebruari (""F

Anda mungkin juga menyukai