Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
Pematangan paru intrauterine meliputi empat periode, yaitu periode
pseudoglandula, periode kanalikuler, periode sakus terminalis, dan periode
alveolaris. Periode pseudoglandula dari 5-16 minggu dimana cabang-cabang
berlanjut membentuk bronkiolus terminalis. Periode kanalikuler 15-26 minggu
dimana setiap bronkiolus terminalis terbagi menjadi dua atau lebih bronkiolus
respiratorius yang kemudian terbagi menjadi 3-6 duktus alveolaris. Periode sakus
terminalis 26 minggu sampai lahir dimana terbentuk sakus terminalis alveoli
primiti!", dan kapiler membentuk hubungan erat. Periode alveolaris # bulan
sampai masa kanak-kanak dimana alveoli matang dengan hubungan epitel endotel
kapiler" yang sudah berkembang dengan baik.
$ebelum lahir, paru-paru berisi cairan yang mengandung kadar klorida tinggi,
sedikit protein, sedikit lendir dari kelenjar bronkus, dan sur!aktan dari sel epitel
alveoli tipe %%. &umlah sur!aktan dalam cairan tersebut semakin lama semakin
bertambah banyak, terutama selama dua minggu terakhir sebelum lahir, tanpa
adanya lapisan sur!aktan ini alveoli akan tetap menguncup.
'danya perkembangan analisis untuk memprediksi maturitas paru banyak
dikembangkan saat ini. Penggunaan analisis terhadap cairan amnion untuk
memprediksi maturitas paru- paru janin telah diterima secara luas. (asil analisis
ini telah diman!aatkan untuk menentukan saat yang tepat untuk melakukan
terminasi kehamilan secara elekti!, misalnya pada kasus seksio sesarea yang
berulang dan merupakan !aktor yang penting dalam penatalaksanaan kasus-kasus
gestosis, diabetes melitus, perdarahan antepartum, inkompabilitas rhesus dan
komplikasi-komplikasi lain kehamilan.
)i 'merika $erikat, berdasarkan hasil pemeriksaan maturitas paru secara luas,
$*+ telah diprediksi terjadinya pada ,-.--- bayi-bayi yang baru lahir stiap tahun.
$indroma ga.at napas mortalitasnya yang cukup tinggi yaitu sebesar 3-/ dan
1
dalam jangka panjang dihubungkan dengan risiko yang bermakna untuk
timbulnya gejala sisa, baik neurologis maupun pulmonologis
'pabila karena sesuatu keadaan, kehamilan harus diakhiri atau menunda suatu
persalinan, menjadi suatu persoalan untuk menentukan dengan tepat maturitas
paru-paru janin. 0aturitas paru-paru janin ini sangat erat hubungannya dengan
terjadinya sindroma ga.at napas $*+".

Pemeriksaan maturitas paru sangat berman!aat, untuk memprediksi terjadinya
$*+ pada bayi-bayi baru lahir.
2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pematangan Paru Intrauterine
Perkembangan paru normal dapat dibagi dalam beberapa tahap. $elama tahap
a.al embrionik paru berkembang diluar dinding ventral dari primitive !oregut
endoderm. $el epithel dari !oregut endoderm bergerak di sekitar mesoderm yang
merupakan struktur teratas dari saluran napas.
1abel 1. 1ahap pertumbuhan dan pematangan paru

2aktu minggu"
3mbryonic 3 4 5
Pseudoglandular 5-16
5analicular 16-26
$accular 26-36
'lveolar 36 .eeks-2 years
Postnatal gro.th 2 - 1# years
)ikutip dari 6 7otecha.$. 8ung gro.th6 implications !or the ne.born in!ant. 'rch
)is 5hild 9etal +eonatal 3d. 2---"
$elama tahap canalicular yang terjadi antara 16 dan 26 minggu di uterus, terjadi
perkembangan lanjut dari saluran napas bagian ba.ah dan terjadi pembentukan
acini primer. $truktur acinar terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolar,
dan alveoli rudimenter. Perkembangan intracinar capillaries yang berada
disekeliling mesenchyme, bergabung dengan perkembangan acinus. 8amellar
bodies mengandung protein sur!aktan dan !os!olipid dalam pneumocyte type %%
dapat ditemui dalam acinar tubulus pada stadium ini. Perbedaan antara
pneumocyte tipe % terjadi bersama dengan barier alveolar-capillary.
3
Sumber: Human Embriology Universities of Fribourg, Lausanne and Bern (Switzerland) tt!:""www#embryology#$"inde%en#tml
9ase saccular dimulai dengan ditandai adanya pelebaran jalan napas peri!er yang
merupakan dilatasi tubulus acinar dan penebalan dinding yang menghasilkan
peningkatan pertukaran gas pada area permukaan. 8amellar bodies pada sel type
%% meningkat dan maturasi lebih lanjut terjadi dalam sel tipe %. 7apiler-kapiler
sangat berhubungan dengan sel tipe % , sehingga akan terjadi penurunan jarak
antara permukaan darah dan udara
$elama tahap alveolar dibentuk septa alveolar sekunder yang terjadi dari gestasi
36 minggu sampai 2, bulan setelah lahir. $epta sekunder terdiri dari penonjolan
jaringan penghubung dan double capillary loop.

1erjadi perubahan bentuk dan
maturasi alveoli yang ditandai dengan penebalan dinding alveoli dan dengan cara
apoptosis mengubah bentuk dari double $a!illary loo! menjadi single $a!illary
loo! . $elama !ase ini terjadi proli!erasi pada semua tipe sel . $el-sel mesenchym
berproli!erasi dan menyimpan matri: ekstraseluler yang diperlukan. $el-sel
epithel khususnya pneumocytes tipe % dan %%, jumlahnya meningkat pada dinding
alveoli dan sel-sel endothel tumbuh dengan cepat dalam septa sekunder dengan
cara pembentukan berulang secara berkelanjutan dari double $a!illary loo!
,
menjadi single $a!illary loo!. Perkiraan jumlah alveolus pada saat lahir dengan
menggunakan rentang antara 2- juta 4 5- juta sudah mencukupi. Pada de.asa
jumlahnya akan bertambah sampai sekitar 3-- juta.
2.2. Surfaktan
$uatu bahan senya.a kimia yang memiliki si!at permukaan akti!. $ur!aktan pada
paru manusia merupakan senya.a lipoprotein dengan komposisi yang kompleks
dengan variasi berbeda sedikit diantara spesies mamalia. $enya.a ini terdiri dari
!os!olipid hampir ;-/ bagian", berupa &i!almitoyl!os!atidyl$oline (&''()
yang juga disebut lesitin, dan protein sur!aktan sebagai $P', $P<, $P5 dan $P)
1-/ bagian". &''( murni tidak dapat bekerja dengan baik sebagai sur!aktan
pada suhu normal badan 3=>5, diperlukan !os!olipid lain mis. !os!atidilgliserol"
dan juga memerlukan protein sur!aktan untuk mencapai air li?uid-inter!ace dan
untuk penyebarannya keseluruh permukaan.
$ur!aktan dibuat oleh sel alveolus tipe %% yang mulai tumbuh pada gestasi 22-2,
minggu dan mulai mengeluarkan keakti!an pada gestasi 2,-26 minggu, yang
mulai ber!ungsi pada masa gestasi 32-36 minggu.
Produksi sur!aktan pada janin dikontrol oleh kortisol melalui reseptor kortisol
yang terdapat pada sel alveolus type %%. Produksi sur!aktan dapat dipercepat lebih
dini dengan meningkatnya pengeluaran kortisol janin yang disebabkan oleh stres,
atau oleh pengobatan betamethasone atau deksamethason yang diberikan pada ibu
yang diduga akan melahirkan bayi dengan de!isiensi sur!aktan atau kehamilan
preterm 2,-3, minggu.
Paru-paru janin berhubungan dengan cairan amnion, maka jumlah !os!olipid
dalam cairan amnion dapat untuk menilai produksi sur!aktan, sebagai tolok ukur
kematangan paru, dengan cara menghitung rasio lesitin@s!ingomielin dari cairan
amnion. $!ingomielin adalah !os!olipid yang berasal dari jaringan tubuh lainnya
kecuali paru-paru. &umlah lesitin meningkat dengan bertambahnya gestasi,
sedangkan s!ingomielin jumlahnya menetap.
5
Aasio 8@$biasanya 161 pada gestasi 31-32 minggu, dan menjadi 261 pada gestasi
35 minggu. Aasio 8@$ 261 atau lebih dianggap !ungsi paru telah matang
sempurna, rasio 1,5-1,; sejumlah 5-/ akan menjadi A)$, dan rasio kurang dari
1,5 sejumlah =3/ akan menjadi A)$. <ila radius alveolus mengecil, sur!aktan
yang memiliki si!at permukaan alveolus, dengan demikian mencegah kolapsnya
alveolus pada .aktu ekspirasi. 7urangnya sur!aktan adalah penyebab terjadinya
atelektasis secara progresi! dan menyebabkan meningkatnya distres perna!asan
pada 2,-,# jam pasca lahir.
2.3. Pemeriksaan Kematangan Paru
$ur!aktan merupakan suatu senya.a yang kompleks yang terdiri dari protein dan
!os!olipid. 1elah diterima secara luas bah.a kadar !os!olipid dalam cairan amnion
akan meningkat sesuai dengan usia kehamilan dan mempunyai korelasi dengan resiko
terjadinya sindroma ga.at napas. 1idak ada pemeriksaan cairan amnion yang betul-
betul reliable, mudah dilakukan, dan secara universal dapat dilakukan untuk
memprediksi maturitas paru-paru janin. $ebagai konsekuensinya. )ikembangkan
banyak macam pemeriksaan meturitas paru janin yang telah dilakukan oleh peneliti.
<eberapa uji yang digunakan untuk memperkirakan sur!aktan paru-paru, dan untuk
meramalkan terjadinya sindroma ga.at napas, telah ditinjau oleh BC<rien dan 5e!alo.
0ereka membagi berbagi metode pemeriksaan maturitas paru-paru tersebut ke dalam
dua kelompok besar 6
'. $ecara kimia.i 6
1. Aasio 8esitin-s!ngomielin (L"S )atio)

2. 7omponen-komponen minor sur!aktan
3. 9os!atidigliserol
*# 'os!otidate !os!oydrolase
+# P@$ Aatio
<. $ecara bio!isik 6
6
,# Foam stability test
-# .est of o!ti$al density
/# 0i$rovis$osity
a. Rasi Lesitin!sfngmie"in (L/S Ratio)
Pemeriksaan untuk menentukan rasio lesitin-s!ngomielin ini merupakan
pemeriksaan yang paling sering digunakan untuk memprediksikan
maturitas paru-paru janin, dan dianggap sebagai 1gold standart metod2 .
Pemeriksaan ini mempunyai beberapa hal yang kurang menguntungkan,
yaitu memerlukan banyak .aktu dalam proses pemeriksaannya, disamping
itu pengukuran rasio lesitin-s!ngomielin ini memerlukan laboratorium
yang monitornya dengan baik karena variasi kecil dalam teknik dapat
sangat mempengaruhi keakuratan hasilnya. <orer dan dkk, yang pertama
kali memperkenalkan pengukuran rasio lesitin-d!ngomielin ini.
$elanjutnya banyak penelitian dilakukan untuk mengevaluasi berbagai
teknik pemeriksaan ini.
0etode *luck dkk dimulai dengan melakukan sentri!ugasi terhadap cairan
amnion yang akan diperiksa dengan 5.,-- rpm selama 5 sampai 1- menit,
kemudian dilakukan ekstraksi !os!olipid dengan chloro!orm, presipitasi
dalam aseton dingin, resuspensi dalam $loform se!aration dengan tin3
layer $romatogra!y 185", dan pengukuran rasio lesitin-s!ngomeilin
dengan menggunakan densitometry atau dilakukan pe.arnaan dengan
bromotymol blue dilanjutkan dengan !lanimetry. 'pabila analisis
tersebut tidak cepat dilakukan, spesimen hendaknya dimasukan dalam
lemari pendingin. 0etode ini juga dipakai oleh )onald dkk dan 'ubrey
dkk dalam penelitian-penelitiannya.
$ejumlah penelitian telah dilakukan untuk mengukur rasio lesitin
s!ngomielin dengan menggunakan berbagai modi!ikasi dalam prosedur
=
pemeriksaannya. 0odi!ikasi yang paling sering adalah menghilangkan
langkah pemeriksaan presitasi dalam aseton dingin. *luck dkk
menyatakan bah.a prespitasi dengan aseton akan memisahkan !os!olipid
permukaan-akti! dari yang bukan permukaan akti!, tetapi peneliti-peneliti
lain tidak menemukan pemisahan !os!olipid dalam dua !raksi tersebut.
$ebelum kehamilan 3, minggu, lesitin dan s!ingomielin terdapat didalam
cairan amnion dengan konsentrasi yang sama. Pada sekitar usia kehamilan
3, minggu, konsentrasi relative lesitin terhadap s!ingomielin mulai naik.
*luck dkk, pada tahun 1;=1, melaporkan bah.a untuk kehamilan yang
tidak diketahui umurnya tetapi tanpa komplikasi apapun, risiko terjadinya
sindroma ga.at napas pada bayi baru lahir sangat kecil kalau konsentrasi
lesitin di dalam cairan amnion sedikitnya dua kali konsentrasi
s!ingomielin, sementara itu ada resiko yang semakin tinggi untuk
terjadinya sindroma ga.at napas kalau rasio lesitin-s!ingomielin di ba.ah
2.
(al ini segera dikon!irmasikan oleh peneliti lain. Pada tahun 1;=5, (arvey
dkk menggabungkan 25 laporan yang rasio lesitin-s!ingomielin diukur
dengan teknik yang sama pada cairan amnion yang dikumpulkan dalam =2
jam setelah kelahiran. <ila rasio lesitin-s!ingomielin lebih besar dari 2,
resiko terjadi sindroma ga.at napas ditemukan kecil sekali, kecuali bila
ibu menderita diabetes. 7alau rasio lesitin-s!ingomielin antara 1,5 sampai
2, maka sindroma ga.at napas ditemukan pada ,-/ kasus, dan kalau
diba.ah 1,5 ditemukan pada =3/ kasus. 0eskipun =3 bayi mengalami
sindroma ga.at napas kalau rasio lesitin-s!ingomielin diba.ah 1,5 tetapi
yang terbukti !atal hanya pada 1,/.
#. Km$nen!km$nen minr surfaktan
Pada tahun 1;=3, +elson dan 8a.son melaporkan hasil evaluasi terhadap
konsentrasi total !os!oli!id !os!orus dalam cairan amnion dengan
#
ekstrak lipid total yang dipresipitasi menggunakan aseton dingin. (asil
presipitasi ini dihancurkan dengan sulfuri$ a$id yang menyebabkan
lepasnya inorgani$ !os!orus, kemudian diukur dengan
s!e$tro!otometry.
Penelitian ini mendapatkan bah.a bila konsentrasi total !os!oli!id
!os!orus lebih dari -,1,- mg@dl tidak satupun ditemukan terjadi
sindroma ga.at napas di antara 15- neonatus. $ementara bila konsentrasi
total !os!oli!id !os!orus kurang dari -,1,- mg@dl ditemukan
sindroma ga.at napas pada 12 antara 3= neonatus.
Pada tahun 1;=2 dan 1;=3, +elson dan 8a.son melaporkan pemakaian
konsentrasi lesitin dalam cairan amnion sebagai indeks untuk menilai
maturitas paru-paru janin. $ampel cairan amnion disentri!ugasi pada 1.5--
rpm selama 1- menit supernatant yang diasilkan diperiksa dengan thin-
layer chromatography 158". <intik lesitin dan s!ingomielin kemudian
dianalisis dengan menggunakan 8echitin phosphorus.
Pada penelitian a.al dilaporkan bah.a didapatkan hasil dengan
prediktabilitas yang akurat dimana konsentrasi lesitin -,1-- mg tidak
satupun terjadi sindroma ga.at napas dari =, neonatus. Pada penelitian
yang kedua dilaporkan bah.a pemeriksaan ini lebih predikti! untuk
sindroma ga.at napas daripada berat badan. 7orelasi ini memberikan
bukti bah.a pemeriksaan ini mempunyai korelasi yang lebih baik dengan
tingkat maturitas paru-paru janin daripada dengan usia kehamilan.
Pada tahun 1;=, dan 1;=6, 8indback dkk melaporkan penelitian mengenai
pemeriksaan lesitin cairan amnion. $etelah dilakukan ekstraksi lipid
dengan chloro!orm, lipid dipisahkan dengan thin-layer chromatography
158". (asil pengukuran dinyatakan dalam micromole per desi liter. Pada
pasien normal, diambil kadar lesitin sebesar ,,# mikromole per desi liter
sebagai nilai ambang predikti!. Pada pasien dengan hipertensi atau
;
diabetes dan pertumbuhan janin terhambat, dari ,# neonatus dengan
konsentrasi lesitin diatas nilai ambang sindroma ga.at napas pada 6
neonatus.
%. &sfati'i"g"iser"
2alaupun lesitin merupakan komponen utama !os!olipid sur!aktan paru-
paru, !os!olipid lain mungkin juga menambah akti! total sur!aktan.
7omponen minor !os!olipid yang terutama adalah !os!otidilgliserol dan
!os!atidilinositol. Pada tahun 1;=6, (allman dkk menemukan adanya
korelasi antara persentase !os!atidilgliserol dan !os!atidilinositol dengan
usia kehamilan dan rasio lesitin-s!ingomielin pada 66 spesimen yang
didapatkan dari kehamilan normal. Pada tahun 1;==, peneliti lain dari
kelompok ini juga mendapatkan bah.a dalam spesimen yang didapatkan
dari aspirasi tracheal neonatus-neonatus yang mengalami sindroma ga.at
napas tidak ditemukan adanya !os!atidilgliserol. $etelah usia kehamilan 3-
minggu, !os!atidilgliserol ini selalu teridenti!ikaasi pada neonatus yang
tidak mengalami sindroma ga.at napas.
Pada tahun 1;==, 5unningham dkk melaporkan tidak teridenti!ikasinya
!os!atidilgliserol dan sampel cairan amnion yang didapatkan dari
kehamilan resiko tinggi dengan usia kehamilan 3,-3= minggu. Pada tahun
1;=#, *olde melaporkan hasil pemeriksaan terhadap !os!atidilgliserol pada
sampel cairan amnion dari 215 pasien melahirkan bayi dalam =2 jam dari
saat pemeriksaan. Pada sampel cairan amnion yang mengandung
!os!atidilgliserol tidak teridenti!ikasi, sindroma ga.at napas terjadi pada ,
neonatus.
2hittle dkk pada tahun 1;#2 melaporkan bah.a kerja sur!aktan yang
tidak cukup untuk mencegah sindroma ga.at napas, sekaligus rasio
lesitin- s!ingomielin adalah 2, dianggap disebabkan sebagaian oleh
kurangnya !os!atidilgliserol dan peninggian permukaan akti!.
1-
)itemukannya !os!atidilgliserol didalam cairan amnion memberikan
jaminan yang cukup besar, tetapi tidak harus merupakan garansi absolut,
bah.a sindroma ga.at napas tidak akan timbul. 9os!atidilgliserol belum
ditemukan di dalam darah, mekonium, atau secret vagina, karena itu
kontaminan-kontaminan ini tidak akan mengacaukan interpretasi. 1idak
adanya !os!atidilgliserol tidaklah harus merupakan indikator kuat bah.a
sindroma ga.at napas kemungkinan akan timbul setelah lahir, tidak
adanya !os!olipid ini hanya menunjukan bah.a bayi tersebut mungkin
akan mengalami sindroma ga.at napas.
Dji aglutinasi imunologi cepat dalam 15 menit" 'mniostat-980" untuk
mendeteksi !os!atidilgliserol dalam sampel cairan amnion, mempunyai
keakuratan yang tinggi, dan dengan demikian dapat dipakai untuk
menemukan ketidakmungkinan neonatus akan mengalami sindroma ga.at
napas. (al ini telah dibuktikan secara memuaskan oleh *arite dkk pada
tahun 1;#3.
'. P(s$(ati'ate Phosphohydrolase )PAPase*
(erbert dkk melaporkan aktivitas spesi!ik dari enEim !os!atidate
!os!oydrolase P'Pase" dalam cairan amnion. 3nEim ini telah
diketahui terdapat dalam badan-badan lamellar pada pneumosit tipe %%
peningkatan aktivitas enEim !os!atidate !os!oydrolase berkaitan
dengan sintesis sur!aktan pada kehamilan. 3nEim ini diduga merupakan
!aktor kritis dalam produksi lesitin dan !os!atidilgliserol.
Penelitian ini meliputi 223 kehamilan, sampel cairan amnion didapatkan
melalui amniosintesis transabdominal dan bebas dari kontaminasi darah
dan mekonium. 'ktivitas enEim !os!atidate !os!oydrolase
didapatkan seiring dengan usia kehamilan dan mempunyai korelasi dengan
sindroma ga.at napas. )ari 53 neonatus yang lahir beberapa .aktu
setelah pemeriksaan dengan level kurang dari 5-, sepuluh diantaranya
11
Intermedi
ate
gelembun
g 1/3- 2/3
didapat terjadi sindroma ga.at napas, sementara dari 1=- neonatus dengan
level 5- atau lebih, terjadi sindroma ga.at napas pada 1 kasus.
e. P/S Ratio
BC+eCil dkk melaporkan hasil pemeriksaan !almiti$ a$id " steari$ a$id
ratio P@$ Aatio" pada sampel cairan amnion dari 6, pasien. Pada 31
diantara pasien-pasien ini, kehamilan dengan komplikasi diabetes mellitus.
$etelah dilakukan ekstraksi lipid dan tin3layer $romatogra!y 185",
bintik lesitin diekstraksi, hidrolisasi, dan metilasi. 3ster yang dihasilkan
diekstraksi, redissolved, dan diperiksa dengan gas3li4uid $romatogra!y.
+ilainya dibandingkan dengan metal ester asam lemak murni standar.
f. Foam Stability Test )+es Busa*
0etode pemeriksaan ini mena.arkan hasil lebih yang cepat didapatkan,
mudah dilakukan, reagensia yang mudah didapatkan Foam Stability .est
atau uji stabilitas busa, metode pemeriksaan ini diperkenalkan pertama kali
oleh 5lements pada tahun 1;=2, disebut juga shake test atau uji kocok,
sekarang dipakai secara luas.
7elemahan utama yang tampak pada pemeriksaan ini adalah tingginya
hasil negati! palsu dan keakuratan-nya masih perlu dipertanyakan pada
kehamilan-kehamilan resiko tinggi. Pemeriksaan ini tergantung pada
kemampuan sur!aktan dalam cairan amnion, kalau dicampur dengan etanol
dalam jumlah cukup, untuk menimbulkan busa yang stabil. 1eknik ini
memerlukan tidak lebih dari 3- menit untuk mengerjakannya.
7e dalam tabung kaca 13:1-- yang bersih secara kimia.i dengan tutup
sekrup plastic berlapis 1e!lon, dimasukan cairan amnion -,5 ml, saline
-,;/ sebanyak -,5ml, dan etanol ;5/ sebanyak 1 ml dimasukan kedalam
tabung lain. 0asing-masing tabung dengan dikocok kuat selama 15 detik
12
Intermedi
ate
gelembun
g 1/3- 2/3
dan ditempatkan tegak di rak selama 15 menit. <ertahannya cincin utuh
gelembung pada inter!ace udara-cairan setelah 15 menit dianggap sebagai
uji positi!.
7alau cincin busa bertahan selama 15 menit, resiko terjadinya sindroma
ga.at napas sangat rendah. 0isalnya, $chlueter dkk 1;=5" hanya
menemukan satu kasus sindroma ga.at napas dari 2-5 kehamilan dengan
uji positi! untuk cairan amnion yang dilarutkan dengan volume salin yang
sama. 1etapi ada 2 masalah pada uji coba ini 6
7ontaminasi sedikit saja cairan amnion, reagen, atau alat kaca, atau
kesalahan pengukuran, dapat merubah hasil yang cukup jelas.
Dji negative palsu agak sering terjadi, yaitu kegagalan cincin busa untuk
tetap utuh selama 15 menit di dalam tabung berisi cairan amnion yang
diencerkan
Pemeriksaan dengan sa5e test ini, penting diperhatikan kemurnian
reagensia dan kontaminasi sampel cairan amnion dengan darah atau
mekonium dapat menyebabkan hasil positi! palsu.
13
1 ml Alkohol
95%
O,5 ml NaCl
0,9%
0,5 ml airan
amnion
Kocok 15
detik
Diamkan tegak lurus
15 menit
!o"iti#
gelembung $
2/3
Intermedi
ate
gelembun
g 1/3- 2/3
Negati#
gelembung
% 2/3
SHAKE TEST
,. Test of Optical Density
Pada tahun 1;==, $barra dkk mendapatkan bah.a derajat penyerapan
cahaya dengan panjang gelombang 65- nm telah dilaporkan berkorelasi
baik dengan rasio lesitin-s!ingomielin di dalam cairan amnion. Pada tahun
1;#3, 1sai dkk melaporkan uji ini paling in!ormative pada penyerapan
tinggiF tetapi diantara kedua ekstrim tersebut, nilai positi! palsu dan negati!
palsu terbukti mengganggu. $elain itu, 7houEami dkk 1;#3" melaporkan
bah.a perbedaan sentri!ugasi mengubah penyerapan cahaya cukup besar
oleh cairan amnion.
Gang paling sering dipakai adalah pengukuran o!ti$al density dari cairan
amnion pada 65- nm. 2alaupun pemeriksaan ini mudah dan cepat, hasil
pemeriksaan dipengaruhi oleh variasi volume cairan amnion.
Pada tahun 1;==, $barra dkk melaporkan adanya korelasi o!ti$al density
cairan amnion pada 65- nm B) 65-" setelah disentri!ugasi pada 2.--- :
g selama 1- menit dengan rasio lesitin-s!ingomielin. Pada penelitian ini,
hasil pengukuran dibandingkan dengan metode modi!ikasi <orer. $emua
sampel dengan B)65- H -,15 menunjukan rasio 8@$ I 2, dan ,1 dari 5;
pasien dengan 3-- sampel, 2 dari 136 sampel dengan hasil H -,15
mempunyai rasio 8@$ I 2 dan 13 dari 16, sampel dengan hasil I -,15
mempunyai rasio 8@$ H 2,-.
5opeland dkk juga melaporkan hasil penelitian dengan metode
pemeriksaan ini terhadap #= sampel, dan menunjukan korelasi dengan
rasio 8@$. 1idak ditemukan hasil positi! palsu, tetapi didapatkan negati!
palsu sebesar ,-/.
H. Microiscosity
0etode pemeriksaan ini dapat memberikan hasil yang cepat, dan
tekniknya sederhana dan mudah dilakukan, tetapi kekurangannya adalah
1,
instrument dan reagen-nya mahal. Pemeriksaan ini sering juga disebut
pemeriksaan polarisasi !luoresen atau mikroviskometri.
Pada tahun 1;=6, $hinitEky dkk memperkenalkan pemeriksaan dengan
mengukur microviscosity cairan amnion. 0etode pemeriksaan ini
didasarkan pada pengukuran jumlah depolarisasi oleh !luoresen spesi!ik
yang dilarutkan dalam lipid cairan amnion. $ebagai suatu pengukuran dari
viskositas, pemeriksaan ini mere!leksikan akti!itas tegangan permukaan
cairan dan dinyatakan sebagi nilai P.
Pada penelitian a.al meliputi ,= sampel, nilai P sampel cairan amnion
kurang lebih -,,-- sampai -,2-- dengan usia kehamilan lanjut. Pada
publik selanjutnya, nilai P ditentukan I -,366 dipakai sebagai indikator
maturitas, hasil ini dibandingkan dengan rasio 8@$. Pada 153 dari 161
pemeriksaan, hasilnya sesuai. Pada # kasus, nilai polarisasi yang
mengindikasikan maturitas paru berhubungan dengan rasio 8@$ kurang
dari 2.
!. Tap test
Pada tahun 1;#,, $ocol dkk melaporkan telah melakukan penelitian untuk
menilai maturitas paru-paru janin dengan metode pemeriksaan baru yang
disebut ta! test# 0etode pemerksaan ini hasilnya cepat, tidak mahal, dan
hanya memerlukan 1 ml sampel cairan amnion. 5airan amnion didapatkan
melalui amniosentesis atau dari vaginal !ool.
.a! test dilakukan denga cara mencampurkan kurang lebih 1 ml sampel
cairan amnion dengan 1 tetes 67 idro$lori$ a$id konsentrasi idro$lori$
a$id diencerkan 161" dan kemudian ditambahkan kurang lebih 1,5 ml
dietyl eter. 5ampuran ini kemudian dimasukan ke dalam tabung reaksi,
kemudian di-ta!!ed tiga atau empat kali, dimana akan dihasilkan kira-kira
2---3-- gelembung busa dilapisan eter. Pada cairan amnion dari janin
15
yang matur, gelembung busa tersebut dengan cepat timbul dipermukaan
dan pecahF pada cairan amnion dari janin yang immatur, gelembung busa
tersebut stabil atau pecah dan lambat. Pada penelitian ini ta! test dibaca
pada 2,5 dan 1- menit. &ika tidak dari gelembung busa yang tinggal di
lapisan eter, hasil tes dinyatakan matur.
". #mniotic Fl$id T$rbidity
$uatu pemeriksaan yang cepat, dengan teknik pemeriksaan yang sangat
sederhana untuk memprediksikan maturitas paru janin. Jerniks kaseosa
merupakan material lemak kompleks yang terdiri dari sebaseus dan
epithelial, didapatkan pada kulit janin pada trimester %%% kehamilan.
$eiring dengan matangnya epidermis, verniks akan menurun daya lekatnya
pada kulit janin. 8epasnya lapisan verniks dari epidermis menyebabkan
meningkatkan partikel-partikel free floating di dalam cairan amnion dan
akibatnya meningkatkan turbiditas cairan amnion.
1urbiditas cairan amnion meningkat dengan bertambah tuanya kehamilan,
maka turbiditas cairan amnion ini dapat menjadi petunjuk tak langsung
bagi maturitas paru-paru janin. 1urbiditas cairan amnion dan maturitas
paru-paru janin mempunyai hubungan yang saling berkait dengan usia
kehamilan. $tong dkk, pada tahun 1;;2, melakukan pemeriksaan
turbiditas cairan amnion pada 1-- sampel yang didapatkan melalui
amniosentesis.
Prosedur pemeriksaan yang dilakukan 6 2-5 ml cairan amnion segar
ditempatkan pada sebuah tabung reaksi = ml diameter 13 ml". tabung ini
kemudian ditempatkan di depan sebuah kliping berita yang dipilih dan
digunakan utuk seluruh 1-- sampel. 'pabila kliping berita tersebut dapat
dibaca melalui sampel cairan amnion tersebut, maka diklasi!ikasikan
sebagai $lear jernih". 'pabila kliping tersebut tidak dapat dibaca, maka
diklasi!ikasikan sebagai turbid keruh". $eluruh sampel cairan amnion
16
dinilai di dalam ruangan yang sama dan dengan lampu penerang yang
sama. 7emudian dilakukan pemeriksaan rasio lesitin-s!ingomielin dan
!os!otidilgliserol. Paru-paru dinyatakan matang bila rasio lesitin-
s!ingomielin H 2,- atau !os!otidilgliserol terdeteksi. $trong dkk
mendapatkan bah.a nilai prediksi positi! turbiditas cairan amnion untuk
janin matur adalah ;=/, sensi!itas dan spesi!itas turbiditas cairan amnion
adalah 5;/ dan ;#/. $ensi prediksi positi! dan negative untuk janin
immatur adalah =1/ dan 2;/. 1idak satupun dari janin yang hasil
pemeriksaan cairan amnion-nya keruh yang menderita sindroma ga.at
napas atau pun memerlukan bantuan oksigen setelah lahir.
K. U"trasngrafi
7emajuan teknologi dalam pemeriksaan ultra-sonogra!i telah
memungkinkan dilakukan observasi perubahan-perubahan yang terjadi
pada plasenta dalam rahim. 2insberg, 9isher dkk, (obbins dan 2insberg,
serta $tein dkk telah memperlihatkan gambaran ultra-sonogra!i pada
plasenta yang matur. $ecara logis, dapat diterima bah.a plasenta sebagai
K!etalL organ akan menjadi matur sejalan dengan sistem organ !etal
lainnya. Pada tahun 1;=;, (obbins dkk mencoba membuat kategori !ase-
!ase maturisasi plasenta, untuk itu mereka mengklasi!ikasikan variasi
gambaran ultra-sonogra!i plasenta yang terjadi selama kehamilan dan
kemudian mencari korelasinya dengan rasio lesitin@s!ingomielin sebagai
salah satu indeks maturitas paru-paru janin.
7lasi!ikasi plasenta, dibuat mulai dari )erajat - sampai dengan )erajat %%%.
Dera-at . 6
$orioni$ !late tampak halus, dan dengan jelas tampak sebagai garis rata.
*ambaran ini akan terlihat pada kehamilan kira-kira 12 minggu. $ubstansi
plasenta tampak homogen dan tidak tampak area ekhogenik. 8apisan basal
1=
juga tampak homogen dan tekstur yang sama seperti substansi plasenta.
9ase ini tampak pada trimester % dan %%.
Dera-at I 6
Plasenta menunjukan perubahan paling a.al dari proses maturasi-nya,
yaitu $orioni$ !late tampak sebagai garis yang rata tetapi dengan
beberapa undulasi. <eberapa ekhogenik area tampak pada substansi
plasenta, sehingga tidak lagi tampak homogen. 1idak ada densitas yang
terlihat di lapisan basal. 9ase ini biasanya didapatkan mulai dari kehamilan
3--32 minggu dan terus sampai kehamilan aterm.
Dera-at II 6
Perubahan terjadi pada tiga Eona, yaitu $orioni$ !late lebih banyak tanda-
tanda identitas. $ubstansi plasenta tampak terpisah dan tidak komplit oleh
gambaran linear e$ogeni$ atau $omma li5e e$geni$ densities. Pada !ase
ini linear e$ogeni$ densities tidak mencapai lapisan basal. 'rea
ekhogenik dalam substansi plasenta tampak bertambah jumlahnya dan
ukurannya lebih besar dari *rade %.
Dera-at III 6 merupakan gambaran plasenta yang matur. (orioni$ !late
tampak terputus-putus oleh identitas, dimana memanjang kelapisan basal
dan mungkin memperlihatkan septa inter-kotiledon. $ubstansi plasenta
menjadi terpisah dalam beberapa kompartemen yang mungkin adalah
batas kotiledon. <agian tengah dari kompertemen ini menunjukan area
kosong, padat, bentuk tidak teratur, area ekhogenik tampak dekat ke
$orioni$ !late# 'rea ekhogenik pada lapisan basal menjadi lebih besar,
lebih padat, dan menyatu.
Plasenta 12; pasien dilakukan gradasi plasenta. )elapan puluh enam
pasien termasuk klasi!ikasi )erajat % atau lebih dan seluruhnya diukur
rasio lesitin@s!ingomielin. )idapatkan rasio lesitin@s!ingomielin yang
matur 2,-" pada 6#/ plasenta )erajat % 21@31", ##/ plasenta )erajat %%
1#
2#@23", dan 1--/ plasenta )erajat %%% 23@23". (asil ini memperlihatkan
korelasi antara perubahan dalam proses maturasi yang terlihat dengan
pemeriksaan ultra-sonogra!i dan maturasi paru-paru janin yang didasarkan
pada rasio lesitin@s!ingomielin.
1;
BAB III
PENU+UP
3.1. Kesim$u"an
Pematangan paru intrauterine meliputi empat periode, yaitu periode
pseudoglandula, periode kanalikuler, periode sakus terminalis, dan periode
alveolaris.
Pada suatu keadaan dimana kehamilan harus diakhiri atau harus menunda
persalinan, maka sangat penting untuk menentukan dengan tepat maturitas
paru-paru janin. 0aturitas paru-paru janin sangat erat kaitannya dengan
terjadinya sindroma ga.at napas.
Penggunaan hasil analisis terhadap cairan amnion telah diterima secara luas.
Pada dasarnya pemeriksaan tersebut untuk memeriksa maturitas sur!aktan
yang disekresikan ke dalam cairan amnion. 0aturitas sur!aktan dinilai
berdasarkan komposisi komponen-komponen akti! sur!aktan. )ari sekian
banyak metode pemeriksaan untuk memprediksi maturitas paru-paru janin,
yang dianggap sebagai 1gold standard metode2 adalah pemeriksaan rasio
lesitin@s!ingomielin. 1etapi pemeriksaan ini belum memenuhi kriteria sebagai
metode pemeriksaan yang ideal. 0etode pemeriksaan yang ideal menurut
para peneliti adalah cepat, tekniknay mudah dilakukan, tidak mahal, dan
memberikan hasil dengan akurasi yang tinggi. $ampai saat ini masih terus
dikembangkan berbagai metode pemeriksaan yang ideal untuk memprediksi
maturitas paru-paru janin.
2-