Anda di halaman 1dari 2

Biofisik penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi dengan melihat

kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dan jaringan.
Penggunaan biofisik
Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemic (epidemic of
night blindness). Cara yang digunakan adalah tes adapatasi gelap
Penilaian status gizi dengan metode biofisik
Biofisik termaksud penilaian status gizi secara langusung. Penentuan status gizi dengan biofisik adalah
melihat dari kemampuan fungsi jaringan dan perubahan struktur. Tes kemampuan fungsi jaringan
meliputi kemampuan kerja dan energy expenditure serta adaptasi sikap. Tes perubahan struktur dapat
dilihat secara klinis maupun tidak dapat dilihat secara klinis. Perubahan yang dapat dilihat secara klinis
seperti pengerasan kuku, pertumbuhan rambut tidak normal, dan menurunnya elastisitas kartilago.
Pemeriksaan yang tidak dapat dilihat secara klinis biasanya dilakukan dengan pemeriksaan radiologi.
Penilaian status gizi secara biofisik sangat mahal, memerlukan tenaga yang professional dan dapat
diterapkan dalam keadaan tertentu saja.
Penilaian secara biofisik dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu : Uji radiolog, tes fungsi fisik, dan sitologi

Pemeriksaan radiologi (radiographic exsamination)
Metode ini umumnya jarang dilakukan dilapangan. Metode ini dilakukan dengan melihat tanda-tanda
fisik dan keadaan-keadaan tertentu seperti riketsia, osteomalasia, fluorosis, dan beri-beri. Penggunaan
metode ini adalah pada survai yang sifatnya retropektif dari pengukuran kurang gizi seperti riketsia dan
KEP dini dibawah ini akan diuraikan secara singkat tanda-tanda yang khas seperti pada taBEL BERIKUT
Jenis penyakit Tanda-tanda khas
Riketsia Pelebaran tulang lengan dan tulang pinggul
Osteomalasia Kelainan bentuk dan merapuhnya tulang,
khususnya tulang pinggul
Sariawan (bayi) Menurunya keadaan tulang, proses pengapuran (
calcification) terutama pada lutut)
Beri-beri Pembesaran jantung
Fluorosis Peningkatan pengerasan tulang, pengapuran, dan
perubahan bentuk tulang belakang.

Tes fungsi fisik (test of physical funcition)
Tujuan utama dari tes biofisik adalah untuk mengukur perubahan fungsi yang di hubungkan dengan
ketidakcukupan gizi beberapa tes yang digunakan adalah : ketajaman penglihatan, adapatsi mata pada
suasana gelap, penampilan fisik, koordinasi otot dll. Metode ini tidak praktis diguankan dilapangan
Diantara tes tersebut diatas, yang paling sering diguanakn adalah tes adapatasi pada ruangan gelap. Tes
ini untuk mengukur kelainan buta senja yang diakibatkan oleh kekurangan vit A. metode ini mempunyai
beberapa kelemahan sebagai berikut :
1. Tidak spesifik untuk mengukur kekurangan vit A, karena ada factor lain yang ikut
mempengarauhinya.
2. Sulit dilakukan
3. Tidak objektif
Metode ini akan lebih berguna apabila dilakukan di daerah epidemis kekurangan vit A( buat
senja)


Tes sitologi (cytological test)
Tes ini digunakan untuk menilai keadaan kep berat. Seperti yang disarankan oleh sguires (1965),
pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat noda pada epitel (stained epithelial smears) dari mukosa oral.
Hasil dari penelitian pada binatang dan anak KEP menunjukkan bahwa persentase perubahan sel
meningkat pada tingkatan KEP dini.