Anda di halaman 1dari 30

Tugas

: GEOLOGI ENDAPAN LATERIT

Dosen

: Muh. Chaerul, S.T, S.K.M, M.Sc

FAKTOR FAKTOR PEMBENTUKAN NIKEL LATERIT

OLEH
KELOMPOK VII

ERICK SYARIFUDIN
JENI RAHMAT
JABAL NOOR
WA ODE SUWARDI
FENI ALFIANI
MUHAMMAD SYARIF
ROBIN

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat-Nya dan hidayah Nya, sehingga alhamdulilah makalah
Geologi Endapan Laterit dengan judul Faktor Faktor Pembentukan
Endapan Nikel Laterit dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.
Dalam proses pembuatan makalah ini kami mengalami kesulitan dalam
melakukan penyusunan, akan tetapi berkat bantuan dari pihak terkait terutama
kepada teman teman yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah
ini sehingga dapat terselesaikan. Untuk itu kami mengucapkan banyak terimah
kasih dan penghargaan setinggi-tingginya dan teriring doa semoga ALLAH SWT
dapat melimpahkan Rahmat-Nya atas segala amal baktinya.
Kami merasa bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan, Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi perbaikan makalah selanjutnya.

Kendari, 23 Oktober 2014

Kelompok VII

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Nikel merupakan salah satu barang tambang yang penting, manfaatnya

begitu besar bagi kehidupan sehari hari, seperti pembuatan logam anti karat,
campuran pada pembuatan stainless steel, baterai nickel metal hybride, dan
berbagai jenis barang lainnya. Keserbagunaan ini pula yang menjadikan nikel
sangat berharga dan memiliki nilai jual tinggi di pasaran dunia. Setidaknya sejak
1950 permintaan akan nikel rata rata mengalami kenaikan 4% tiap tahun, dan
deperkirakan sepuluh tahun mendatang terus mengalami peningkatan.
Bijih nikel diperoleh dari endapan nikel laterit yang terbentuk akibat
pelapukan batuan ultramafik yang mengandung nikel 0,2 0,4 % (Golightly,
1981). Jenis jenis batuan tersebut antara lain batuan yang banyak mengandung
mineral olivin, piroksen, dan amphibole (Rajesh, 2004). Nikel laterit umumnya
ditemukan pada daerah tropis, dikarenakan iklim yang mendukung terjadinya
pelapukan, selain topografi, drainase, tenaga tektonik, batuan induk, dan struktur
geologi (Elias, 2001).
Endapan nikel terbentuk melalui suatu proses yang panjang dan memakan
waktu lama. Proses pembentukan endapan laterit nikel dimulai ketika batuan
mengalami pengangkatan sehingga tersingkap di permukaan bumi, batuan
tersebut akan terurai. Adanya pelapukan kimiawi dan fisika menghancurkan
batuan tersebut hingga menjadi tanah (soil). Apabila batuan tersebut mengandung

nikel maka pelapukan akan menyebabkan kandungan nikel semakin tinggi. Proses
pembentukan bijih laterit nikel dimulai dari proses pelapukan batuan ultrabasa
(Dunit atau Peridotit).Batuan ultrabasa tersusun atas atas mineral olivine,
piroksen, amfibol, dan mika. Olivin pada batuan ini mempunyai kandungan nikel
sekitar 0,3 %. Batuan ultrabasa yang mengandung nikel ini mengalami proses
serpentinisasi, yaitu proses terisinya retakan atau kekar oleh mineral serpentin
yang kemudian mengalami proses kimiawi yang disebabkan karena adanya
pengaruh dari tanah. Selanjutnya oleh pengaruh iklim setempat batuan induk
mengalami pelapukan fisika dan kimiawi. Proses tersebut mengakibatkan
terbentuknya endapan laterit nikel (Prasetiawati, 2004). Oleh karena itu, karena
prosesnya yang panjang dan memakan waktu yang tidak sebentar serta proses
pembentukannya, hal inilah yang menjadi dasar faktor apa saja yang
mempengaruhi proses pembentukan endapan nikel laterit tersebut.
I.2

Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang dapat disajikan dalam makalah ini adalah

sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan endapan nikel laterit ?
2. Bagaimanakah proses pembentukan endapan nikel laterit ?
3. Faktor apa saja kah yang mempengaruhi proses pembentukan endapan
nikel laterit ?
4. Bagaimanakah profil nikel laterit ?
I.3

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut :


1. Menyediakan

informasi

tentang

faktor

yang

mengontrol

pembentukan endapan nikel laterit.


2. Memahami proses pembentukan endapan nikel laterit.
3. Mengetahui tentang nikel maupun endapan nikel laterit.

proses

BAB II
PEMBAHASAN
II.1

Endapan Nikel Laterit


Endapan nikel laterit merupakan bijih yang dihasilkan dari proses

pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan bumi. Istilah Laterit
sendiri diambil dari bahasa Latin later yang berarti batubata merah, yang
dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807), yang digunakan sebagai bahan
bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang merupakan wilayah India bagian
selatan. Material tersebut sangat rapuh dan mudah dipotong, tetapi apabila terlalu
lama terekspos, maka akan cepat sekali mengeras dan sangat kuat.
Smith (1992) mengemukakan bahwa laterit merupakan regolith atau tubuh
batuan yang mempunyai kandungan Fe yang tinggi dan telah mengalami
pelapukan, termasuk di dalamnya profil endapan material hasil transportasi yang
masih tampak batuan asalnya.
Sebagian besar endapan laterit mempunyai kandungan logam yang tinggi
dan dapat bernilai ekonomis tinggi, sebagai contoh endapan besi, nikel, mangan
dan bauksit.
Dari beberapa pengertian bahwa laterit dapat disimpulkan merupakan
suatu material dengan kandungan besi dan aluminium sekunder sebagai hasil
proses pelapukan yang terjadi pada iklim tropis dengan intensitas pelapukan
tinggi. Di dalam industri pertambangan nikel laterit atau proses yang diakibatkan
oleh adanya proses lateritisasi sering disebut sebagai nikel sekunder.

II.2

Proses Pembentukan Endapan Nikel Laterit


Pembentukan nikel laterit secara kimia terkait dengan proses serpentinisasi

yang terjadi pada batuan peridotite akibat pengaruh larutan hidrotermal yang akan
merubah batuan peridotite menjadi batuan serpentinite atau batuan serpentinite
peridotite. Sedangkan proses kimia dan fisika dari udara, air, serta pergantian
panas dingin yang bekerja kontinu (berkelanjutan), menyebabkan disintegrasi dan
dekomposisi pada batuan induk.
Pada pelapukan kimia khususnya, air tanah kaya akan CO2 yang berasal
dari udara dan pembusukan tumbuh tumbuhan akan menguraikan mineral
mineral yang tidak stabil (olivin dan piroksen) pada batuan ultrabasa, kemudian
menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut dalam Si yang cenderung membentuk koloid
dari partikel partikel silika sangat halus. Di dalam larutan, Fe teroksidasi dan
mengendap sebagai ferri hidroksida , akhirnya membentuk mineral mineral
seperti goethite, limonite, dan hematite dekat permukaan. Bersama mineral
mineral ini selalu ikut serta unsur cobalt dalam jumlah kecil.
Larutan yang mengandung Mg, Ni, dan Si terus menerus mengalir
kebawah tanah selama larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi
dimana suasana cukup netral akibat adanya kontak dengan tanah dan batuan,
maka ada kecenderungan untuk membentuk endapan hidrosilikat. Nikel yang
terkandung dalam rantai silikat atau hidrosilikat dengan komposisi bervariasi
tersebut akan mengendap pada celah celah atau rekahan rekahan yang dikenal
dengan urat urat garnierite dan krisopras. Sedangkan larutan residunya akan
membentuk suatu senyawa yang disebut saprolite yang berwarna coklat kuning

kemerahan. Unsur unsur lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai


bikarbonat akan terbawa kebawah sampai batas pelapukan dan akan diendapkan
sebagai dolomite, magnesite, yang biasa mengisi celah celah atau rekahan
rekahan pada batuan induk. Dilapangan urat urat ini dikenal sebagai batas
penunjuk antara zona pelapukan dengan zona batuan segar yang disebut dengan
akar pelapukan (root of weathering).
Proses pembentukan nikel laterit diawali dari proses pelapukan batuan
ultrabasa, dalam hal ini adalah batuan harzburgit. Batuan ini banyak mengandung
olivin, piroksen, magnesium silikat dan besi, mineral-mineral tersebut tidak stabil
dan mudah mengalami proses pelapukan.
Faktor kedua sebagai media transportasi Ni yang terpenting adalah air. Air
tanah yang kaya akan CO2, unsur ini berasal dari udara luar dan tumbuhan, akan
mengurai mineral-mineral yang terkandung dalam batuan harzburgit tersebut.
Kandungan olivin, piroksen, magnesium silikat, besi, nikel dan silika akan terurai
dan membentuk suatu larutan, di dalam larutan yang telah terbentuk tersebut, besi
akan bersenyawa dengan oksida dan mengendap sebagai ferri hidroksida.
Endapan ferri hidroksida ini akan menjadi reaktif terhadap air, sehingga
kandungan air pada endapan tersebut akan mengubah ferri hidroksida menjadi
mineral-mineral seperti goethite (FeO(OH)), hematit (Fe2O3) dan cobalt. Mineralmineral tersebut sering dikenal sebagai besi karat.
Endapan ini akan terakumulasi dekat dengan permukaan tanah, sedangkan
magnesium, nikel dan silika akan tetap tertinggal di dalam larutan dan bergerak
turun selama suplai air yang masuk ke dalam tanah terus berlangsung. Rangkaian

proses ini merupakan proses pelapukan dan leaching. Unsur Ni sendiri merupakan
unsur tambahan di dalam batuan ultrabasa. Sebelum proses pelindihan
berlangsung, unsur Ni berada dalam ikatan serpentine group. Rumus kimia dari
kelompok serpentin adalah X2-3 SiO2O5(OH)4, dengan X tersebut tergantikan
unsur-unsur seperti Cr, Mg, Fe, Ni, Al, Zn atau Mn atau dapat juga merupakan
kombinasinya.
Adanya suplai air dan saluran untuk turunnya air, dalam hal berupa kekar,
maka Ni yang terbawa oleh air turun ke bawah, lambat laun akan terkumpul di
zona air sudah tidak dapat turun lagi dan tidak dapat menembus bedrock
(Harzburgit). Ikatan dari Ni yang berasosiasi dengan Mg, SiO dan H akan
membentuk mineral garnierit dengan rumus kimia (Ni,Mg)Si4O5(OH)4. Apabila
proses ini berlangsung terus menerus, maka yang akan terjadi adalah proses
pengkayaan supergen (supergen enrichment). Zona pengkayaan supergen ini
terbentuk di zona saprolit. Dalam satu penampang vertikal profil laterit dapat juga
terbentuk zona pengkayaan yang lebih dari satu, hal tersebut dapat terjadi karena
muka air tanah yang selalu berubah-ubah, terutama dari perubahan musim.
Dibawah zona pengkayaan supergen terdapat zona mineralisasi primer
yang tidak terpengaruh oleh proses oksidasi maupun pelindihan, yang sering
disebut sebagai zona Hipogen, terdapat sebagai batuan induk yaitu batuan
Harzburgit.

II.3

Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Endapan Nikel Laterit


Faktor Biologi

Faktor Iklim

Tipe Vegetasi
Pembusukan Vegetasi
Aktivitas Mikroba
Aktivitas Manusia

Temperatur
Curah Hujan
pH Hujan
Musim

Sistem Pelapukan

Faktor Hidrologi

Ketersediaan air
Absorpsi air
Pergerakan vertikal air
Porositas dan drainase
Posisi water table

Kombinasi Keseluruhan
Faktor

Tingkat keasaman (pH)


Potensial redoks
Kecepatan pelarutan dari
material

Faktor Litologi

Geomorfologi
Komposisi batuan induk
Ukuran butir mineral
Kestabilan mineral
Fracture dan joint

Gambar II.1 Skema faktor faktor yang mempengaruhi sistem pelapukan (ahmad,
2006)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan bijih nikel laterit ini
adalah:
1. Batuan Asal
Adanya batuan asal merupakan syarat utama untuk terbentuknya endapan
nikel laterit, macam batuan asalnya adalah batuan ultra basa. Dalam hal ini pada
batuan ultra basa tersebut: - terdapat elemen Ni yang paling banyak diantara
batuan lainnya - mempunyai mineral-mineral yang paling mudah lapuk atau tidak
stabil, seperti olivin dan piroksin - mempunyai komponen-komponen yang mudah
larut dan memberikan lingkungan pengendapan yang baik untuk nikel.

2. Iklim
Adanya pergantian musim kemarau dan musim penghujan dimana terjadi
kenaikan dan penurunan permukaan air tanah juga dapat menyebabkan terjadinya
proses pemisahan dan akumulasi unsur-unsur. Perbedaan temperatur yang cukup
besar akan membantu terjadinya pelapukan mekanis, dimana akan terjadi rekahanrekahan dalam batuan yang akan mempermudah proses atau reaksi kimia pada
batuan.
Iklim yang sesuai untuk pembentukan endapan laterit adalah iklim tropis
dan sub tropis, di mana curah hujan dan sinar matahari memegang peranan
penting dalam proses pelapukan dan pelarutan unsur-unsur yang terdapat pada
batuan asal. Sinar matahari yang intensif dan curah hujan yang tinggi
menimbulkan perubahan besar yang menyebabkan batuan akan terpecah-pecah,
disebut pelapukan mekanis, terutama dialami oleh batuan yang dekat permukaan
bumi.
Secara spesifik, curah hujan akan mempengaruhi jumlah air yang melewati
tanah, yang mempengaruhi intensitas pelarutan dan perpindahan komponen yang
dapat dilarutkan. Sebagai tambahan, keefektifan curah hujan juga penting. Suhu
tanah (suhu permukaan udara) yang lebih tinggi menambah energi kinetik proses
pelapukan.
3. Reagen-Reagen Kimia Dan Vegetasi
Yang dimaksud dengan reagen-reagen kimia adalah unsur-unsur dan
senyawa-senyawa yang membantu mempercepat proses pelapukan. Air tanah

yang mengandung CO2 memegang peranan penting didalam proses pelapukan


kimia. Asam-asam humus menyebabkan dekomposisi batuan dan dapat merubah
pH larutan. Asam-asam humus ini erat kaitannya dengan vegetasi daerah. Dalam
hal ini, vegetasi akan mengakibatkan: penetrasi air dapat lebih dalam dan lebih
mudah dengan mengikuti jalur akar pohon-pohonan akumulasi air hujan akan
lebih banyak humus akan lebih tebal Keadaan ini merupakan suatu petunjuk,
dimana hutannya lebat pada lingkungan yang baik akan terdapat endapan nikel
yang lebih tebal dengan kadar yang lebih tinggi. Selain itu, vegetasi dapat
berfungsi untuk menjaga hasil pelapukan terhadap erosi mekanis.
4. Struktur
Struktur geologi yang penting dalam pembentukan endapan laterit adalah
rekahan (joint) dan patahan (fault). Adanya rekahan dan patahan ini akan
mempermudah rembesan air ke dalam tanah dan mempercepat proses pelapukan
terhadap batuan induk. Selain itu rekahan dan patahan akan dapat pula berfungsi
sebagai tempat pengendapan larutan-larutan yang mengandung Ni sebagai veinvein. Seperti diketahui bahwa jenis batuan beku mempunyai porositas dan
permeabilitas yang kecil sekali sehingga penetrasi air sangat sulit, maka dengan
adanya rekahan-rekahan tersebut lebih memudahkan masuknya air dan proses
pelapukan yang terjadi akan lebih intensif.
5. Topografi
Keadaan topografi setempat akan sangat mempengaruhi sirkulasi air
beserta reagen-reagen lain. Untuk daerah yang landai, maka air akan bergerak

perlahan-lahan sehingga akan mempunyai kesempatan untuk mengadakan


penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan atau pori-pori batuan. Akumulasi
andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai sampai kemiringan
sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan mengikuti bentuk
topografi. Pada daerah yang curam, secara teoritis, jumlah air yang meluncur (run
off) lebih banyak daripada air yang meresap ini dapat menyebabkan pelapukan
kurang

intensif.

Geometri relief dan lereng akan mempengaruhi proses pengaliran dan sirkulasi air
serta reagen-reagen lain. Secara teoritis, relief yang baik untuk pengendapan bijih
nikel adalah punggung-punggung bukit yang landai dengan kemiringan antara 10
30. Pada daerah yang curam, air hujan yang jatuh ke permukaan lebih banyak
yang mengalir (run-off) dari pada yang meresap kedalam tanah, sehingga yang
terjadi adalah pelapukan yang kurang intensif. Pada daerah ini sedikit terjadi
pelapukan kimia sehingga menghasilkan endapan nikel yang tipis. Sedangkan
pada daerah yang landai, air hujan bergerak perlahan-lahan sehingga mempunyai
kesempatan untuk mengadakan penetrasi lebih dalam melalui rekahan-rekahan
atau pori-pori batuan dan mengakibatkan terjadinya pelapukan kimiawi secara
intensif. Akumulasi andapan umumnya terdapat pada daerah-daerah yang landai
sampai kemiringan sedang, hal ini menerangkan bahwa ketebalan pelapukan
mengikuti bentuk topografi.
6. Waktu
Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan pelapukan yang cukup
intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi. Waktu merupakan faktor yang

sangat penting dalam proses pelapukan, transportasi, dan konsentrasi endapan


pada suatu tempat. Untuk terbentuknya endapan nikel laterit membutuhkan waktu
yang lama, mungkin ribuan atau jutaan tahun. Bila waktu pelapukan terlalu muda
maka terbentuk endapan yang tipis. Waktu yang cukup lama akan mengakibatkan
pelapukan yang cukup intensif karena akumulasi unsur nikel cukup tinggi.
Banyak dari faktor tersebut yang saling berhubungan dan karakteristik profil di
satu tempat dapat digambarkan sebagai efek gabungan dari semua faktor terpisah
yang terjadi melewati waktu, ketimbang didominasi oleh satu faktor saja.
Ketebalan profil laterit ditentukan oleh keseimbangan kadar pelapukan
kimia di dasar profil dan pemindahan fisik ujung profil karena erosi. Tingkat
pelapukan kimia bervariasi antara 10 50 m per juta tahun, biasanya sesuai
dengan jumlah air yang melalui profil, dan 2 3 kali lebih cepat dalam batuan
ultrabasa daripada batuan asam. Disamping jenis batuan asal, intensitas
pelapukan, dan struktur batuan yang sangat mempengaruhi potensi endapan nikel
lateritik, maka informasi perilaku mobilitas unsur selama pelapukan akan sangat
membantu dalam menentukan zonasi bijih di lapangan (Totok Darijanto, 1986).
II.4

Klasifikasi Nikel Laterit

Klasifikasi nikel laterit berdasarkan perubahan kandungan mineral, dapat


dibedakan menjadi 3 tipe (Brand et al, 1998) :
1. Endapan silikat hydrous (Hydrous silicate deposit)
Endapan silikat hydrous ini adalah endapan nikel laterit yang mempunyai
kadar Ni paling tinggi yang berkisar 1.8 - 2.5%. saprolit baginn bawah merupakan

horison bijih lore) scdangkan mineral bijih adalah silikat Mg-Ni hydrous. Tipe ini
dibeotuk oleh alternsi mineral primer baruan seperti serpetin dan garnerit.
2. Endapan silikat Lempung (Clay silicate deposits)
Dalam endapan ini, terjadinya pelapukan oleh air tanah Si akan terurai
sebagian, sebagian lagi bergabung dcngan Fe. Ni dan AI akan membentuk mineral
lempung (clay) seperti nontronite dan saponite, biasanya terdapai di bagian mas
saprolit dan protolith. Serpentin yang kaya akan Ni juga dapat digantikan oleh
smektit atau kuarsa jika di pengaruhi oleh air tanah yang cukup lama. Kandungan
Ni rata- rata 1.0-1.5%.
3. Endapan oksida {Oxside deposits)
Endapan laterit oksida. atau dikenal juga sebagai endapan limonit. Ni
banyak mengandung oksida Fe. terutama geothite. Terdapat juga oksida Mn yang
diperkaya dalam Co. dimana kandugan Ni rata-rata 1.0-1.6%,

Klasifikasi nikel laterit berdasarkan perubahan kandungan mineral (Brand et al,


1998).
II.5

Profil Endapan Nikel Laterit

Profil endapan nikel laterit yang terbentuk dari hasil pelapukan batuan
ultrabasa secara umum terdiri dari 4 (empat) lapisan, yaitu lapisan tanah penutup
atau top soil, lapisan limonit, lapisan saprolit, dan bedrock.

1. Lapisan Tanah Penutup

Lapisan tanah penutup biasa disebut iron capping. Material lapisan


berukuran lempung, berwarna coklat kemerahan, dan biasanya terdapat juga sisasisa tumbuhan. Pengkayaan Fe terjadi pada zona ini karena terdiri dari konkresi
Fe-Oksida (mineral Hematite dan Goethite), dan Chromiferous dengan kandungan
nikel relatif rendah. Tebal lapisan bervariasi antara 0 2 m. Tekstur batuan asal
sudah tidak dapat dikenali lagi.

Iron Capping Merupakan bagian yang paling atas dari suatu penampang
laterit. Komposisinya adalah akar tumbuhan, humus, oksida besi dan sisa-sisa
organik lainnya. Warna khas adalah coklat tua kehitaman dan bersifat gembur.
Kadar nikelnya sangat rendah sehingga tidak diambil dalam penambangan.
Ketebalan lapisan tanah penutup rata-rata 0,3 s/d 6 m. berwarna merah tua,
merupakan kumpulan massa goethite dan limonite. Iron capping mempunyai
kadar besi yang tinggi tapi kadar nikel yang rendah. Terkadang terdapat mineralmineral hematite, chromiferous.

2. Lapisan Limonit

Merupakan lapisan berwarna coklat muda, ukuran butir lempung sampai


pasir, tekstur batuan asal mulai dapat diamati walaupun masih sangat sulit, dengan
tebal lapisan berkisar antara 1 10 m. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal,
dan sempat hilang karena erosi. Pada zone limonit hampir seluruh unsur yang
mudah larut hilang terlindi, kadar MgO hanya tinggal kurang dari 2% berat dan
kadar SiO2 berkisar 2 5% berat. Sebaliknya kadar Fe2O3 menjadi sekitar 60
80% berat dan kadar Al2O3 maksimum 7% berat. Zone ini didominasi oleh
mineral Goethit, disamping juga terdapat Magnetit, Hematit, Kromit, serta Kuarsa
sekunder. Pada Goethit terikat Nikel, Chrom, Cobalt, Vanadium, dan Aluminium.

Merupakan

hasil

pelapukan

lanjut

dari

batuan

beku

ultrabasa.

Komposisinya meliputi oksida besi yang dominan, goethit, dan magnetit.


Ketebalan lapisan ini rata-rata 8-15 m. Dalam limonit dapat dijumpai adanya akar
tumbuhan, meskipun dalam persentase yang sangat kecil. Kemunculan bongkahbongkah batuan beku ultrabasa pada zona ini tidak dominan atau hampir tidak
ada, umumnya mineral-mineral di batuan beku basa-ultrabasa telah terubah
menjadi serpentin akibat hasil dari pelapukan yang belum tuntas. fine grained,
merah coklat atau kuning, lapisan kaya besi dari limonit soil menyelimuti seluruh
area. Lapisan ini tipis pada daerah yang terjal, dan sempat hilang karena erosi.
Sebagian dari nikel pada zona ini hadir di dalam mineral manganese oxide,
lithiophorite. Terkadang terdapat mineral talc, tremolite, chromiferous, quartz,
gibsite, maghemite.

3. Silika Boxwork
Putih orange chert, quartz, mengisi sepanjang fractured dan sebagian
menggantikan zona terluar dari unserpentine fragmen peridotite, sebagian
mengawetkan struktur dan tekstur dari batuan asal. Terkadang terdapat mineral
opal, magnesite. Akumulasi dari garnierite-pimelite di dalam boxwork mungkin
berasal dari nikel ore yang kaya silika. Zona boxwork jarang terdapat pada
bedrock yang serpentinized

4. Lapisan Saprolit

Merupakan lapisan dari batuan dasar yang sudah lapuk, berupa bongkahbongkah lunak berwarna coklat kekuningan sampai kehijauan. Struktur dan
tekstur batuan asal masih terlihat. Perubahan geokimia zone saprolit yang terletak
di atas batuan asal ini tidak banyak, H2O dan Nikel bertambah, dengan kadar Ni
keseluruhan lapisan antara 2 4%, sedangkan Magnesium dan Silikon hanya
sedikit yang hilang terlindi. Zona ini terdiri dari vein-vein Garnierite, Mangan,
Serpentin, Kuarsa sekunder bertekstur boxwork, Ni-Kalsedon, dan di beberapa
tempat sudah terbentuk limonit yang mengandung Fe-hidroksida.

Zona ini merupakan zona pengayaan unsur Ni. Komposisinya berupa


oksida besi, serpentin sekitar <0,4% kuarsa magnetit dan tekstur batuan asal yang
masih terlihat. Ketebalan lapisan ini berkisar 5-18 m. Kemunculan bongkahbongkah sangat sering dan pada rekahan-rekahan batuan asal dijumpai magnesit,
serpentin, krisopras dan garnierit. Bongkah batuan asal yang muncul pada

umumnya memiliki kadar SiO2 dan MgO yang tinggi serta Ni dan Fe yang
rendah. campuran dari sisa-sisa batuan, butiran halus limonite, saprolitic rims,
vein dari endapan garnierite, nickeliferous quartz, mangan dan pada beberapa
kasus terdapat silika boxwork, bentukan dari suatu zona transisi dari limonite ke
bedrock. Terkadang terdapat mineral quartz yang mengisi rekahan, mineralmineral primer yang terlapukkan, chlorite. Garnierite di lapangan biasanya
diidentifikasi sebagai kolloidal talc dengan lebih atau kurang nickeliferous
serpentin. Struktur dan tekstur batuan asal masih terlihat

5. Bedrock (Batuan Dasar)

Merupakan bagian terbawah dari profil nikel laterit, berwarna hitam


kehijauan, terdiri dari bongkah bongkah batuan dasar dengan ukuran > 75 cm,
dan secara umum sudah tidak mengandung mineral ekonomis. Kadar mineral
mendekati atau sama dengan batuan asal, yaitu dengan kadar Fe 5% serta Ni dan
Co antara 0.01 0.30%.

Bagian terbawah dari profil laterit. Tersusun atas bongkah yang lebih
besar dari 75 cm dan blok peridotit (batuan dasar) dan secara umum sudah tidak
mengandung mineral ekonomis (kadar logam sudah mendekati atau sama dengan
batuan dasar). Batuan dasar merupakan batuan asal dari nikel laterit yang
umumnya merupakan batuan beku ultrabasa yaitu harzburgit dan dunit yang pada
rekahannya telah terisi oleh oksida besi 5-10%, garnierit minor dan silika > 35%.
Permeabilitas

batuan

dasar

meningkat

sebanding

dengan

intensitas

serpentinisasi.Zona ini terfrakturisasi kuat, kadang membuka, terisi oleh mineral

garnierite dan silika. Frakturisasi ini diperkirakan menjadi penyebab adanya root
zone yaitu zona high grade Ni, akan tetapi posisinya tersembunyi.

Skema profil laterit

II.6

Potensi Sumberdaya Mineral Nikel Laterit di Indonesia


Sebagian besar sumber nikel dunia yang telah diketahui terkandung dalam

tipe depositlaterit. Sekitar 72% sumber nikel dunia ditemukan terutama di daerah
tropis sepertiIndonesia, Kuba, Kaledonia Baru, Filipina dan Australia. Sisanya
sebesar 28% adalah tipe deposit sulfida terutama terdapat di Kanada dan
Rusia.Walaupun mayoritas sumber nikel dunia yang diketahui terkandung dalam
laterit, produksi nikel dari sulfida lebih dominan karena kadar nikel yang lebih
tinggi dan pengolahan yang lebih mudah dibandingkan dengan tipe deposit laterit.
Kadar nikel dalam tipe deposit sulfida secara komersial bervariasi antara 0,58,0%, sedangkan dari tipe deposit laterit sekitar 1,0-2,0%.

Saat ini, Indonesia mempunyai cadangan laterit nikel terindetifikasi sekitar


1.576 juta ton dengan total kandungan nikel sebanyak 25 juta ton. Hal ini
menjadikan Indonesia sebagai sumber laterit nikel terbesar ketiga dunia setelah
Kaledonia Baru dan Filipina.

II.7

Produksi Nikel

Variasi sumber nikel dan produk serta ketersediaan teknologi proses


pengolahan menghasilkan beberapa alternatif proses pengolahan yang berbeda
tergantung pada bahan baku dan produk yang ingin dihasilkan. Umumnya produk
nikel dapat dibagi menjadi tiga (3) kelompok:

1. Nikel murni (kelas I), mengandung 99% atau lebih nikel, seperti nikel
elektrolitik, pelet, briket, granul, rondel dan serbuk.
2. Charge nickel (kelas II), mengandung nikel lebih kecil dari 99%, seperti
ferronickel,nickel matte, sinter nikel oksida.
3. Bahan kimia, seperti nikel oksida, sulfat, klorid, karbonat, asetat hidroksid,
dan lain-lain.

Bijih nikel dari mineral oksida (Laterite) ada dua jenis yang umumnya
ditemui yaitu Saprolit dan Limonit dengan berbagai variasi kadar. Perbedaan
menonjol dari 2 jenis bijih ini adalah kandungan Fe (Besi) dan Mg (Magnesium),
bijih saprolit mempunyai kandungan Fe rendah dan Mg tinggi sedangkan limonit
sebaliknya. Bijih Saprolit dua dibagi dalam 2 jenis berdasarkan kadarnya yaitu

HGSO (High Grade Saprolit Ore) dan LGSO (Low Grade Saprolit Ore), biasanya
HGSO mempunyai kadar Ni 2% sedangkan LGSO mempunyai kadar Ni.

Adapun tahap-tahap yang dilakukan untuk melakukan proses pengelolahan


nikel melalui beberapa tahap utama yaitu, crushing, Pengering, Pereduksi,
peleburan, Pemurni, dan Granulasi dan Pengemasan.
1. Kominusi
Kominusi adalah suatu proses untuk mengubah ukuran suatu bahan galian
menjadi lebih kecil, hal ini bertujuan untuk memisahkan atau melepaskan bahan
galian tersebut dari mineral pengotor yang melekat bersamanya. Kominusi bahan
galian meliputi kegiatan berikut :
a. Crusher yaitu suatu proses yang bertujuan untuk meliberalisasi mineral yang
diinginkan agar terpisah dengan mineral pengotor yang lain. Dimana proses
ini bertujuan juga untuk reduksi ukuran dari bahan galian / bijih yang
langsung dari tambang (ROM = run of mine) dan berukuran besar-besar
(diameter sekitar 100 cm) menjadi ukuran 20-25 cm bahkan bisa sampai
ukuran 2,5 cm.
Alat yang digunakan pada Primary Crusher dan Secondery Crusher yaitu
antara lain :
1. Jaw crusher
2. Gyratory crusher
3. Cone crusher
4. Roll crusher
5. Impact crusher

6. Rotary breaker
7. Hammer mill
b. Grinding Merupakan tahap pengurangan ukuran dalam batas ukuran halus
yang diinginkan. Tujuan Grinding yaitu Mengadakan liberalisasi mineral
berharga, Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan industri,
Mendapatkan ukuran yang memenuhi persyaratan proses.
2. Sizing
Merupakan proses pemilahan bijih yang telah melalui proses kominusi
sesuai ukuran yang dibutuhkan. Kegiatan Sizing meliputi Screening yaitu Salah
satu pemisahan berdasarkan ukuran adalah proses pengayakan (screening). Sizing
dibagi menjadi dua antara lain :
a. Pengayakan / Penyaringan (Screening / Sieving)
Pengayakan atau penyaringan adalah proses pemisahan secara mekanik
berdasarkan perbedaan ukuran partikel. Pengayakan (screening) dipakai dalam
skala industri, sedangkan penyaringan (sieving) dipakai untuk skala laboratorium.
Produk dari proses pengayakan/penyaringan ada 2 (dua), yaitu antara lain :
1. Ukuran lebih besar daripada ukuran lubang-lubang ayakan (oversize).
2. Ukuran yang lebih kecil daripada ukuran lubang-lubang ayakan
(undersize).
Saringan (sieve) yang sering dipakai di laboratorium yaitu antara lain :
1. Hand sieve
2. Vibrating sieve series / Tyler vibrating sive
3. Sieve shaker / rotap

4. Wet and dry sieving


Sedangkan ayakan (screen) yang berskala industri yaitu antara lain :
1. Stationary grizzly
2. Roll grizzly
3. Sieve bend
4. Revolving screen
5. Vibrating screen (single deck, double deck, triple deck, etc.)
6. Shaking screen
7. Rotary shifter
b. Klasifikasi (Classification)
Klasifikasi adalah proses pemisahan partikel berdasarkan kecepatan
pengendapannya dalam suatu media (udara atau air). Klasifikasi dilakukan dalam
suatu alat yang disebut classifier.
Produk dari proses klasifikasi ada 2 (dua), yaitu antara lain:
1. Produk yang berukuran kecil/halus (slimes) mengalir di bagian atas
disebut overflow.
2. Produk yang berukuran lebih besar/kasar (sand) mengendap di bagian
bawah (dasar) disebut underflow.
Proses pemisahan dalam classifier dapat terjadi dalam tiga cara (concept),
yaitu :
a. Partition concept
b. Tapping concept
c. Rein concept

3. Pengeringan (Drying)
Yaitu proses untuk membuang seluruh kandung air dari padatan yang
berasal dari konsentrat dengan cara penguapan (evaporization/evaporation).
Peralatan atau cara yang dipakai ada bermacam macam, yaitu antara lain:
a. Hearth type drying/air dried/air baked, yaitu pengeringan yang dilakukan di
atas lantai oleh sinar matahari dan harus sering diaduk (dibolak-balik).
b. Shaft drier, ada dua macam, yaitu : tower drier, material (mineral) yang basah
dijatuhkan di dalam saluran silindris vertikal yang dialiri udara panas (800
1000). rotary drier, material yang basah dialirkan ke dalam silinder panjang
yang diputar pada posisi agak miring dan dialiri udara panas yang berlawanan
arah.
4. Kalsinasi dan Reduksi di Tanur Pereduksi
Tujuannya untuk menghilangkan kandungan air di dalam bijih, mereduksi
sebagian nikel oksida menjadi nikel logam, dan sulfidasi. Setelah proses drying,
bijih nikel yang tersimpan di gudang bijih kering pada dasarnya belumlah kering
secara sempurna, karena itulah tahapan ini bertujuan untuk menghilangkan
kandungan air bebas dan air kristal serta mereduksi nikel oksida menjadi nikel
logam. Proses ini berlansung dalam tanur reduksi. Bijih dari gudang dimasukkan
dalam tanur reduksi dengan komposisi pencampuran menggunakan ratio tertentu
untuk menghasilkan komposisi silika magnesia dan besi yang sesuai dengan
operasional tanur listrik. Selain itu dimasukkan pula batubara yang berfungsi
sebagai bahan pereduksi pada tanur reduksi maupun pada tanur pelebur. Untuk
mengikat nikel dan besi reduksi yang telah tereduksi agar tidak teroksidasi

kembali oleh udara maka ditambahkanlah belerang. Hasil akhir dari proses ini
disebut kalsin yang bertemperatur sekitar 7000oC.
5. Peleburan Ditanur
Untuk melebur kalsin hasil kalsinasi/reduksi sehingga terbentuk fasa
lelehan matte dan Slag. Kalsin panas yang keluar dari tanur reduksi sebagai
umpan tanur pelebur dimasukkan kedalam surge bin lalu kemudian dibawa
dengan transfer car ke tempat penampungan. Furnace bertujuan untuk melebur
kalsin hingga terbentuk fase lelehan matte dan slag. Dinding furnace dilapisi
dengan batu tahan api yang didinginkan dengan media air melalui balok tembaga.
Matte dan slag akan terpisah berdasarka berat jenisnya. Slag kemudian diangkut
kelokasi pembuangan dengan kendaraan khusus.
6. Pengkayaan di Tanur Pemurni
Bertujuan untuk menaikkan kadar Ni di dalam matte dari sekitar 27 persen
menjadi di atas 75 persen. Matte yang memiliki berat jenis lebih besar dari slag
diangkut ke tanur pemurni / converter untuk menjalani tahap pemurnian dan
pengayaan. Proses yang terjadi dalam tanur pemurni adalah peniupan udara dan
penambahan sililka. Silika ini akan mengikat besi oksida dan membentuk ikatan
yang memiliki berat jenis lebih rendah dari matte sehingga menjadi mudah untuk
dipisahkan.
7. Granulasi dan Pengemasan
Untuk mengubah bentuk matte dari logam cair menjadi butiran-butiran
yang siap diekspor setelah dikeringkan dan dikemas. Matte dituang kedalam
tandis sembari secara terus menerus disemprot dengan air bertekanan tinggi.

Proses ini menghasilkan nikel matte yang dingin yang berbentuk butiran-butiran
halus. Butiran-butiran ini kemudian disaring, dikeringkan dan siap dikemas.

BAB III
PENUTUP
III.1

Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat di sajikan dari makalah ini adalah sebagai

berikut :
1. Endapan nikel laterit merupakan bijih yang dihasilkan dari proses
pelapukan batuan ultrabasa yang ada di atas permukaan bumi. Istilah
Laterit sendiri diambil dari bahasa Latin later yang berarti batubata
merah, yang dikemukakan oleh M. F. Buchanan (1807), yang digunakan
sebagai bahan bangunan di Mysore, Canara dan Malabr yang merupakan
wilayah India bagian selatan.
2. Faktor faktor yang mempengaruhi proses pembentukan endapan nikel
laterit yaitu batuan asal, iklim, waktu, topografi dan strukturnya.
3. Pembentukan nikel laterit secara kimia terkait dengan proses serpentinisasi
yang terjadi pada batuan peridotite akibat pengaruh larutan hidrotermal
yang akan merubah batuan peridotite menjadi batuan serpentinite atau
batuan serpentinite peridotite. Sedangkan proses kimia dan fisika dari
udara, air, serta pergantian panas dingin yang bekerja kontinu
(berkelanjutan), menyebabkan disintegrasi dan dekomposisi pada batuan
induk.
4. Profil nikel laterit yaitu lapisan penutup, limonit, saprolit, dan bed rock.
5. Endapan nikel laterit terbagi atas 3 tipe yaitu endapan oksida, endapan
silikat, dan endapan hidrosilikat.

III.2

Saran
Sebaiknya materi yang di sajikan bisa lebih maksimal lagi agar pembaca

tidak mengalami kesulitan memahami makalah yang dibuat.

DAFTAR PUSTAKA
http://rudhysuryadhy.blogspot.com/2012/03/proses-pengolahan-nikel.html
(Diakses Tanggal 19 Oktober 2014 Pukul 19.12 WITA)
Primanda, Alam. 2008. Sebaran Potensi Deposit Nikel Laterit Di Sorowako,
Sulawesi Selatan. Universitas Indonesia. Jakarta