Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR
REAKSI REAKSI KIMIA

Nama
NRP
Kelompok
Meja
Asisten

: Shinta Wijaya
: 143020129
:E
: 10 (Sepuluh)
: Tyas Citra Aprilia

LABORATORIUM KIMIA DASAR


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2014

REAKSI REAKSI KIMIA

Shinta Wijaya
143020129
Asisten : Tyas Citra Aprilia

Tujuan Percobaan
Tujuan percobaan reaksi reaksi kimia adalah untuk mengetahui dan
mempelajari jenis dan sifat (sifat kimia dan fisika) dari zat yang direaksikan, serta untuk
mencari rumus senyawa dan koefisien reaksi dari senyawa dengan cara mereaksikan dua
buah zat atau lebih yang dibuktikan adanya perubahan warna,bau suhu, timbulnya gas
dan endapan.

Prinsip Percobaan
Prinsip percobaan reaksi reaksi kimia yaitu berdasarkan penggabungan molekul
terbagi menjadi dua bagian atau lebih. Molekul yang kecil atau atom atom dalam
molekul. Reaksi kimia selalu melibatkan terbentuk dan terputusnya ikatan kimia.
Berdasarkan Hukum Kekekalan Massa yang dikemukakan oleh Lavoisier : Massa zat
sebelum dan sesudah reaksi adalah sama dan berdasarkan Hukum Perbandingan Tetap
(Hukum Proust) : Dalam setiap perbandingan massa unsur unsur selalu tetap.
Berdasarkan Bronsted Lowry : Asam sebagai setiap zat sembarang yang menyumbang
proton dan basa sebagai setiap zat sembarang yang menerima proton.

Metode Percobaan
1. a.

c.

2. a.

1 ml NaOH 0,05 M + 1 tetes


phenolphthalein (PP)

b.

1 ml NaOH 0,05 M + 1 tetes


metil merah (MM)

1 ml HCl 0,05 M + 1 tetes


phenolphthalein (PP)

d.

1 ml HCl 0,05 M + 1 tetes


metil merah (MM)

1 ml CH3COOH 0,05 M + 1
tetes phenolphthalein (PP)

b.

1 ml CH3COOH 0,05 M + 1
tetes mretil merah (MM)

3. a.

b.

1 ml NaOH
0,05 M(pp)

+ 1 ml HCl
0,05 M(pp)

c.

1 ml NaOH + 1 ml HCl
0,05 M(mm)
0,05 M(mm)
d.

1 ml NaOH + 1 ml CH3COOH
0,05 M(pp)
0,05 M(pp)
4. a.

1 ml NaOH + 1 ml CH3COOH
0,05 M(mm)
0,05 M(mm)
b.

1 ml K2CrO4
0,1 M

1 ml HCl
0,1 M

5. a.

1 ml K2CrO4 + 1 ml NaOH
0,1 M
0,1 M
b.

1 ml K2Cr2O7
0,1 M

+ 1 ml HCl
0,1 M

1 ml K2Cr2O7 + 1 ml NaOH
0,1 M
0,1 M

6.

1 ml Al2(SO4)3 0,1 M +
5 tetes NaOH 1 M

7.

1 ml Al2(SO4)3 0,1 M + 5 tetes


NaOH 1 M + tetes demi tetes
NH4OH 1 M

8. a.

1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes


NaOH 1 M

b.

1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes


NaOH 1 M + tetes demi tetes
NH4OH 1 M

9.

11.

Tabung pertama : 1 ml
(NH4)2SO4 0,1 M + 2 ml
NaOH 0,1 M Tabung
kedua : lakmus merah

1 ml NaCl 0,1 M + 1 ml
AgNO3

10.

1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + 1
ml NaCl 0,1 M
1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + 1
ml NaCl 0,1 M
(dipanaskan)

12.

1 ml BaCl2 + 1 ml K2CrO4
0,1 M
0,1 M

13.

14.

1 ml BaCl2 + 1 ml K2Cr2O7
0,1 M
0,1 M
15.

17.

1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml HCl 0,1


M + 1 ml K2CrO4 0,1 M

Tabung pertama : 1
gram CaCO3 + 1 ml
HCl 0,05 M
Tabung kedua : 1 ml
Ba(OH)2 0,01 M

16.

1 ml Fe2+ 1 M + 2 tetes
H2C2O4 2 M

18.

1 ml H2C2O4 0,5 M + 2
tetes H2SO4 2 M
1 ml H2C2O4 0,5 M + 2
tetes H2SO4 2 M + tetes
demi tetes KMnO4 0,05 M

1 ml CuSO4 0,05 M +
NaOH 1 M sedikit demi
sedikit sampai berlebih
(30 tetes)

1 ml Fe2+ 1 M + 2 tetes
H2C2O4 2 M + tetes
demi tetes KMnO4 0,2 M

19.

1 ml CuSO4 0,5 M + NH4OH 1 M sedikit demi sedikit sampai berlebih


(30 tetes)

20.
2 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN 0,1 M

1 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml
KSCN 0,1 M

1 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN 0,1 M + 1 ml


Na3PO4 0,1 M

Bandingkan
Gambar 1. Metode Percobaan Reaksi Kimia

Hasil Pengamatan
Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan didapat hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Percobaan Reaksi Kimia

No.

1.

2.

3.

4.
5.
6.
7.
8.

9.

Reaksi
a)1 ml NaOH 0,05 M + 1 tetes phenolphthalein
(PP)
b)1 ml NaOH 0,05 M + 1 tetes metil merah
(MM)
c)1 ml HCl 0,05 M + 1 tetes phenolphthalein
(PP)
d)1 ml HCl 0,05 M + 1 tetes metil merah (MM)
a)1 ml CH3COOH 0,05 M + 1 tetes PP
b)1 ml CH3COOH 0,05 M + 1 tetes MM
a)1 ml NaOH 0,05 M(PP) + 1 ml HCl 0,05 M(PP)
b)1 ml NaOH 0,05 M(MM) + 1 ml HCl 0,05
M(MM)
c)1 ml NaOH 0,05 M(PP) + 1 ml CH3COOH 0,05
M(PP)
d)1 ml NaOH 0,05 M(MM) + 1 ml CH3COOH
0,05 M(MM)
a)1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 ml HCl 0,1 M
b)1 ml K2CrO4 0,1 M + 1 ml NaOH 0,1 M
a)1 ml K2Cr2O7 0,1 M + 1 ml HCl 0,1 M
b)1 ml K2Cr2O7 0,1 M + 1 ml NaOH 0,1 M
1 ml Al2(SO4)3 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M
1 ml Al2(SO4)3 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M +
tetes demi tetes NH4OH 1 M ( 5 tetes)
a)1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M
b)1 ml ZnSO4 0,1 M + 5 tetes NaOH 1 M + tetes
demi tetes NH4OH 1 M ( 5 tetes)
Tabung 1 : 1 ml (NH4)2SO4 0,1 M + 2 ml
NaOH 1 M
Tabung 2 : lakmus merah yang telah dibasahi
aquades

10.

1 ml Pb(NO3)2 0,1 M + 1 ml NaCl 0,1 M

11.

1 ml NaCl 0,1 M + 1 ml AgNO3

12.

1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml K2CrO4 0,1 M

13.

1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml K2Cr2O7 0,1 M

14.

1 ml BaCl2 0,1 M + 1 ml HCl 0,1 M + 1 ml


K2CrO4 0,1 M

Hasil Pengamatan
Merah muda
Kuning
Bening
Merah muda
Bening
Merah muda
Bening
Kuning
Bening
Merah muda
Kuning keemasan
Kuning cerah
Kuning keemasan
Kuning cerah
Putih keruh
Putih keruh, terdapat
endapan
Putih keruh,terdapat endapan
Putih keruh, terdapat
endapan
Bening, ada gelembung gas.
Lakmus merah berubah
menjadi biru
Bening, sebelum dipanaskan
terdapat endapan, sesudah
dipanaskan tidak ada
endapan lagi
Putih, terdapat endapan
Kuning muda, terdapat
endapan
Kuning tua, terdapat
endapan
Kuning keemasan, terdapat
endapan

15.

Tabung 1 : 1 gram CaCO3 + 1 ml HCl 0,05 M


Tabung 2 : Ba(OH)2 0,01 M

16.

1 ml H2C2O4 0,1 M + 2 tetes H2SO4 2 M lalu


dipanaskan dan ditambah tetes demi tetes
KMnO4 0,05 M

17.

1 ml Fe3+ 1 M + 2 tetes H2C2O4 2 M lalu


ditambahkan KMnO4 0,2 M

18.
19.

20.

1 ml CuSO4 0,05 M + tetes demi tetes NaOH


1M
1 ml CuSO4 0,5 M + tetes demi tetes NH4OH
1M
Tabung pertama : 2 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN
0,1 M
Tabung kedua : 2 ml Fe3+ 0,1 M + 2 ml KSCN
0,1 M + Na3PO4 0,1 M

Pada tabung 1 berwarna


putih dan tabung 2 bening
(tidak berwarna), terdapat
endapan pada tabung 1, dan
terdapat gelembung pada
pipa U
- Sebelum dipanaskan : tidak
berwarna (bening)
- Setelah dipanaskan : bening
dan terdapat endapan coklat
- Sebelum penambahan
KMnO4 : berwarna kuning
muda, terdapat endapan
- Setelah penambahan
KMnO4 : berwarna bening
kecoklatan, terdapat endapan
Bening terdapat endapan
hijau lumut
Biru, terdapat endapan
Pada tabung 1 berwarna
merah kehitaman dan tabung
2 berwarna bening
kekuningan, terdapat
endapan putih

(Sumber : Khairunnisa dan Shinta Wijaya, Meja 10, Kelompok E, 2014)


Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa larutan NaOH jika
ditambah Phenolphthalein (PP) menjadi warna merah muda, dan jika ditambah Metil
Merah (MM) menjadi warna kuning. Larutan HCl dan larutan CH3COOH jika ditambah
Phenolphthalein (PP) menjadi tetap bening dan jika ditambah Metil Merah (MM) menjadi
merah muda. Larutan NaOH(pp) ditambah HCl(pp) dengan reaksi NaOH(pp) + HCl(pp)
NaCl + H2O menjadi tetap bening sedangkan jika NaOH(mm) ditambah HCl(mm) dengan
reaksi NaOH(mm) + HCl(mm) NaCl + H2O menjadi warna merah muda, larutan NaOH(pp)
ditambah CH3COOH(pp) dengan reaksi NaOH(pp) + CH3COOH(pp) CH3COONa + H2O
menjadi tetap bening sedangkan NaOH(mm) ditambah CH3COOH(mm) dengan reaksi
NaOH(mm) + CH3COOH(mm) CH3COONa + H2O menjadi warna merah muda. Larutan
K2CrO4 ditambah HCl dengan reaksi K2CrO4 + HCl 2KCl + H2CrO4 menjadi warna
kuning keemasan sedangkan jika K2CrO4 ditambah NaOH dengan reaksi K2CrO4 + NaOH
2KOH + Na2CrO4 menjadi warna kuning cerah. Larutan K2Cr2O7 ditambah HCl
dengan reaksi K2Cr2O7 + HCl 2KCl + H2Cr2O7 menjadi warna kuning keemasan

sedangkan jika K2Cr2O7 ditambah NaOH dengan reaksi K2Cr2O7 + NaOH 2KOH +
Na2Cr2O7 menjadi warna kuning cerah. Larutan Al2(SO4)3 ditambah NaOH dengan reaksi
Al2(SO4)3+NaOH 2Al(OH)3 + 3Na2SO4 menjadi warna putih keruh. Larutan Al2(SO4)3
+ NaOH ditambah NH4OH dengan reaksi Al2(SO4)3 + NaOH + 6NH4OH 3(NH4)2OH
+ 2Al(OH)3 + NaOH menjadi warna putih keruh dan ada endapan putih. Larutan ZnSO4
ditambah NaOH dengan reaksi ZnSO4 + NaOH Zn(OH)2 + Na2SO4 menjadi warna
putih keruh sedangkan jika ZnSO4 + NaOH ditambah NH4OH dengan reaksi ZnSO4 +
NaOH + 2NH4OH (NH4)2SO4 + Zn(OH)2 + NaOH menjadi warna putih keruh dan ada
endapan putih. Larutan (NH4)2SO4 + NaOH pada tabung pertama dengan reaksi
(NH4)2SO4 + 2NaOH NH3 + H2O + Na2SO4 dan juga lakmus merah di tabung kedua
hasilnya lakmus di tabung kedua berubah menjadi lakmus biru dan larutan tetap bening.
Larutan Pb(NO3)2 ditambah NaCl dengan Pb(NO3)2 + 2NaCl PbCl2 + 2Na2NO3
menjadi warna bening dan bergelembung. Larutan NaCl ditambah AgNO3 dengan reaksi
NaCl + AgNO3 AgCl + NaNO3 menjadi warna putih dan ada endapan putih. Larutan
BaCl2 ditambah K2CrO4 dengan reaksi BaCl2 + K2CrO4 BaCrO4 + 2KCl menjadi
warna kuning. Larutan BaCl2 ditambah K2Cr2O7 dengan reaksi BaCl2 + K2CrO7
BaCr2O7 + 2KCl menjadi warna kuning tua dan ada endapan. Larutan BaCl2 ditambah
HCl ditambah K2CrO4 dengan reaksi BaCl + 2HCl + K2CrO4 BaCrO4 + 2KHCl
menjadi warna kuning keemasan. Serbuk CaCO3 ditambah HCl di tabung pertama dan
Ba(OH)2 di tabung kedua dengan persamaan reaksi CaCO3 + 2HCl + Ba(OH)2
Ca(OH)2 + BaCl2 + H2CO3 terdapat gelembung gas. Larutan H2C2O4 + H2SO4 ditambah
KMnO4 dengan reaksi H2C2O4 + H2SO4 + 2KMnO4 K2C2O4 + 2HMnO4 + H2SO4
menjadi tetap berwarna bening dan setelah dipanaskan menjadi warna bening kecoklatan
dan terdapat endapan. Larutan Fe2+ + H2SO4 ditambah KMnO4 dengan reaksi Fe2+ +
H2SO4+ KMnO4 Fe2+ + K2SO4 + HMnO4 menjadi warna bening kecoklatan. Larutan
CuSO4 ditambah NaOH dengan reaksi CuSO4 + NaOH Cu(OH)2 + Na2SO4 menjadi
warna bening dan endapan hijau lumut. Larutan CuSO4 ditambah NH4OH dengan reaksi
CuSO4 + NH4OH Cu(OH)2 + (NH4)2SO4 menjadi warna birudan terdapat endapan.
Terakhir, larutan Fe3+ ditambah KSCN dengan reaksi Fe3+ + KSCN Fe(SCN)3 + K+
menjadi warna merah kehitaman sedangkan jika Fe3+ + KSCN + Na3PO4 FePO4 +
NaSCN + K+ menjadi warna bening kekuningan.
Berdasarkan hasil pengamatan dalam percobaan reaksi kimia, maka diperoleh hasil yang
tidak akurat dengan hasil percobaan yang benar dimana perbedaan hasil terdapat pada

percobaan nomor yaitu nomor 6 dan 20, hal ini dikarenakan adanya faktor kesalahan
seperti :
1.

Faktor Ketelitian
Kesalahan yang sering terjadi pada saat melakukan percobaan adalah kurangnya
ketelitian praktikan dalam mengamati reaksi kimia yang terjadi pada zat yang
direaksikan seperti terbentuknya gas, endapan atau perubahan suhu dan warna.
praktikan harus lebih teliti dalam melakukan pengamatan agar tidak terjadi
kesalahan pada hasil pengamatan.

2.

Faktor Kebersihan
Kebersihan

alat-alat

yang

digunakan

pada

saat

praktikum

dapat

mempengaruhi hasil pengamatan dari zat yang sedang diamati. Alat-alat yang kurang
bersih dapat mempengaruhi atau merubah reaksi yang sedang dilakukan. Oleh sebab
itu, praktikan harus memastikan bahwa alat-alat yang dipakai pada saat praktikum
sudah benar-benar bersih.
3.

Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan seperti tinggi rendahnya suhu ruangan dapat mempengaruhi
proses reaksi kimia. Oleh sebab itu, praktikan harus melakukan pengamatan di
tempat dengan suhu yang pas agar pengamatan yang dilakukan berjalan dengan
lancar tanpa kesalahan.
Reaksi kimia merupakan salah satu cara untuk mengetahui sifat-sifat kimia dan

fisika dari suatu zat. Reaksi kimia juga dapat diartikan sebagai proses yang menghasilkan
antarubahan senyawa kimia, yaitu materi baru yang disebut produk reaksi (hasil reaksi).
(Johari dan Rachmawati, 2006 : 32)
Reaksi kimia dapat diamati dari tanda-tanda yang terjadi. Tanda-tanda atau indikator
terjadinya reaksi kimia adalah sebagai berikut :
1.

Terjadinya perubahan suhu atau perubahan panas.


Reaksi kimia terkadang ditandai dengan adanya perubahan suhu. Suhu yang
terjadi bisa menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Reaksi kimia yang disertai dengan
kenaikan suhu disebut eksoterm sedangkan reaksi kimia yang disertai penurunan
suhu disebut endoterm. (Johari dan Rachmawati, 2006 : 32)

2.

Terjadinya perubahan warna


Reaksi kimia terkadang ditandai dengan perubahan warna. Perubahan warna bsa
diamati secara langsung. (Johari dan Rachmawati, 2006 : 32)

3.

Terbentuknya endapan
Reaksi kimia terkadang ditandai dengan pembentukan endapan. Seperti halnya
perubahan warna, pembentukan endapan dapat diamati secara langsung. (Johari dan
Rachmawati, 2006 : 32)

4.

Terbentuknya gas
Pembentukan gas biasanya menunjukan bahwa reaksi sedang berlangsung.
Reaksi pembentukan gas ditandai dengan adanya gelembung-gelembung udara, atau
bau yang tercium ataupun tampak asap keluar dari sebuah reaksi dan
mengembangnya suatu reaktan. (Johari dan Rachmawati, 2006 : 32)
Pada saat mengamati reaksi kimia yang terjadi pada suatu zat, praktikan

dianjurkan untuk mengetahui hal-hal yang dapat mempengaruhi laju reaksi. Berikut
adalah hal-hal yang mempengaruhi laju reaksi:
1.

Luas Permukaan
Luas permukaan dalam reaksi kimia adalah luas permukaan zat-zat pereaksi
yang bersentuhan untuk menghasilkan reaksi. Dalam reaksi kimia, tidak semua luas
permukaan zat yang bereaksi dapat bersentuhan hingga terjadi reaksi, hal ini
bergantung pada bentuk partikel zat-zat yang bereaksi. Suatu reaksi dapat saja
melibatkan pereaksi dalam bentuk padatan. Luas permukaan zat ini akan berkaitan
dengan bidang sentuh zat tersebut.

2.

Konsentrasi Larutan
Jika konsentrasi suatu larutan makin besar, larutan akan mengandung jumlah
partikel semakin banyak sehingga partikel-partikel tersebut akan tersusun lebih rapat
dibandingkan larutan yang konsentrasinya lebih rendah. Susunan partikel yang lebih
rapat memungkinkan terjadinya tumbukan semakin banyak dan kemungkinan terjadi
reaksi lebih besar. Makin besar konsentrasi zat, makin cepat laju reaksinya.

3.

Suhu
Partikel-partikel dalam zat selalu bergerak. Jika suhu zat dinaikkan, maka
energi kinetik partikel-partikel akan bertambah sehingga tumbukan antar partikel
akan mempunyai energi yang cukup untuk melampaui energi pengaktifan. Hal ini
akan menyebabkan lebih banyak terjadi tumbukan yang efektif dan menghasilkan
reaksi. Di samping memperbesar energi kinetik, ternyata peningkatan suhu juga
meningkatkan energi potensial suatu zat. Dengan semakin besarnya energi potensial
zat, maka semakin besar terjadinya tumbukan yang efektif, sehingga laju reaksi
semakin cepat. Dengan demikian, meningkatkan suhu meningkatkan laju reaksi

dengan meningkatkan jumlah dan, terutama, energi dari tabrakan. (Silberberg, 2006 :
674-675)
4.

Katalis
Katalis ialah zat yang meningkatkan laju reaksi kimiatanpa ikut terpakai.
Katalis dapat bereaksi membentuk zat antara, tetapi akan diperoleh kembali dalam
tahap reaksi berikutnya. Katalis mempercepat reaksi dengan menyediakan
serangkaian tahapan elementer dengan kinetika yang lebih baik dibandingkan jika
tanpa katalis. Terdapat tiga jenis katalisis yang umum, tergantung jenis zat yang
menaikan lajunya: katalisis heterogen, katalisis homogen, dan katalisis enzim.
Dalam katalisis heterogen, reaktran dan katalisis berbeda fasa. Dalam katalisis
homogeny, reaktan dan katalis terdispersi dalam satu fasa.sedangkan enzim ialah
katalis biologis. (Chang, 2005)
Katalis dibagi menjadi 2 yaitu, katalis positif (katalisator) yang berfungsi
mempercepat reaksi dengan jalan menurunkan energi aktivasi dan membuat orientasi
molekul sesuai untuk terjadinya tumbukan. Dan katalis negatif (Inhibitor) yang
memperlambat laju reaksi. (Syindjia, 2011)
Dari hasil percobaan, larutan 1, 2, 3, 4, 5, 9 dapat dikelompokan sebagai reaksi

asam-basa. Larutan nomor 4, 5, 16, 17 termasuk reaksi redoks (Brady : 206). Larutan
nomor 7, 8 termasuk reaksi efek ion sejenis ( OH ). Larutan nomor 7, 8, 11, 12, 13, 14,
16, 18, 19 termasuk reaksi pengendapan. Larutan nomor 11 termasuk reaksi pertukaran
ganda (metatesis). Larutan nomor 19, 20 termasuk reaksi kompleks.
Aplikasi di bidang pangan dari reaksi-reaksi kimia adalah pada fermentasi tempe,
proses pengendapan tahu, pembakaran gula/glukosa, fotosintesis pada tumbuhan untuk
menghasilkan oksigen dan glukosa, proses pembuatan garam, proses respirasi dan
inspirasi, proses pembuatan kecap, menganalisis kandungan zat pada makanan, dll.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dari reaksi kimia dapat disimpulkan bahwa apabila
suatu zat direaksikan dengan zat lain, maka akan diperoleh zat baru dengan ciri-ciri
perubahan warna, suhu, timbulnya endapan dan munculnya gas dan bau. Praktikan juga
dapat mengetahui faktor-faktor kesalahan apa saja yang dapat terjadi dan memengaruhi
hasil dari reaksi kimia. Untuk meminimalisir tingkat kesalahan dan perbedaan mengenai
hasil, praktikan harus lebih teliti dalam melakukan percobaan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2014.

Reaksi

Kimia.

http://wikipedia.org/wiki/Reaksi_Kimia.html.

(Diakses pada 26 Oktober 2014)


Brady,J.E. 1999. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Binarupa Aksara : Jakarta.
Chang, R. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid 2. Erlangga: Jakarta.
Johari,J.M.C, dan Rachmawati. 2006. Kimia 1. esis : Jakarta.
Silberberg, Martin S. 2006. Chemistry: The Molecular Nature of Matter and Change
Fourth Edition. McGraw Hill : New York.
Syindjia, Zalika. 2011. Laju Reaksi. http://www.syindjia.com/2011/11/lajureaksi.html.
(Diakses pada tanggal 26 Oktober 2014)

Lampiran
1. a. NaOH + PP merah muda/magenta
b. NaOH + MM kuning
c. HCl + PP bening
d. HCl + MM merah muda/magenta
2. a. CH3COOH + PP bening
b. CH3COOH + MM merah muda/magenta
3. a. NaOH + HCl + PP bening
b. NaOH + HCl + MM merah muda/magenta, kuning
c. NaOH + CH3COOH + PP bening
d. NaOH + CH3COOH + MM merah muda/magenta
4. a. K2CrO4 + HCl kuning keemasan/oranye
b. K2CrO4 + NaOH kuning cerah
5. a. K2Cr2O7 + HCl kuning keemasan/oranye
b. K2Cr2O7 + NaOH kuning cerah
6. Al2(SO4)3 + NaOH Putih keruh
7. Al2(SO4)3 + NaOH + NH4OH putih keruh, endapan putih
8. a. ZnSO4 + NaOH putih keruh
b. ZnSO4 + NaOH + NH4OH putih keruh, endapan putih
9. (NH4)2SO4 + NaOH lakmus merahbiru
10. Pb(NO3)2 + NaCl bening + dipanaskan bening
11. NaCl + AgNO3 putih, endapan putih
12. BaCl2 + K2CrO4 kuning susu, endapan kuning
13. BaCl2 + K2Cr2O7 kuning tua, endapan kuning
14. BaCl2 + HCl + K2CrO4 kuning keemasan
15. CaCO3 + HCl + Ba(OH)2 gelembung/soda, panas, bening
16. H2C2O4 + H2SO4 + KMnO4 bening, endapan coklat
17. Fe3+ + H2C2O4 + KMnO4 bening/ bening kecoklatan
18. CuSO4 + NaOH biru tua/bening, endapan hijau lumut/biru
19. CuSO4 + NH4OH biru/bening kebiruan, endapan biru
20. Fe3+ + KSCN merah kecoklatan
Fe3+ + KSCN + Na3PO4 warna lebih muda, lebih encer