Anda di halaman 1dari 16

SIMULASI PENGAMBILAN SAMPEL DAN

SEBARAN SPASIAL POPULASI HAMA


(Laporan Praktikum Bioekologi Hama Tumbuhan)

Oleh
Kelompok 4
Novita Desri Wanti
Nur Hidayat
Nurlaila Novliza
Nurul Wakhidah
Prasasti D. Aritonang

1314121124
1314121129
1314121130
1314121132
1314121134

JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Organisme penggangu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu masalah penting
dalam proses produksi pertanian seiring disebabkan oleh adanya serangan hama
dan penyakit. Hama dan penyakit tanaman telah ada sejak manusia mulai
mengolah lahan pertanian (Sembel, 1989). Adanya hama dan penyakit tersebut
belum dapat dikendalikan secara optimal sehingga mengakibatkan kerugian yang
cukup besar baik berupa kehilangan hasil, penurunan mutu serta menurunkan
pendapatan petani (Tulung, 2004).
Pengetahuan mengenai penyebaran suatu populasi (misalnya hama) sangat
penting untuk mengetahui tingkat pengelompokan dari individu yang dapat
memberikan dampak terhadap populasi dari rata-rata per unit area dan
menjelaskan faktor-faktor yang berperan dalam suatu kasus (Soegianto, 1994).
Alasan lain untuk mengetahui pola-pola tersebut ialah dapat membantu dalam
mengambil keputusan tentang metode apa yang akan digunakan untuk
mengestimasi kepadatan atau kelimpahan suatu populasi (Krebs, 1989).
Sampling adalah proses dan cara mengambil sampel atau contoh untuk menduga
keadaan suatu populasi. Contoh serangga diambil dari suatu area untuk diduga
berbagai karakteristik populasinya seperti kepadatan populasi, sebarannya dalam
habitat, jumlah relatif masing-masing stadia, dan fluktuasi jumlah serangga
menurut waktu. Penarikan contoh diperlukan karena tidak mungkin pengamatan
terhadap keseluruhan populasi dilakukan. Begitu juga dengan sampling serangga
di penyimpanan, diperlukan bagi praktisi pengendalian hama pasca panen untuk
memonitor keberadaan serangga hama pasca panen tersebut. Memonitoring atau
meninjau dan mengamati serangga adalah elemen kunci dalam pengendalian hama

terpadu (PHT) hama pasca panen. Umumnya, sampling hama pasca panen tidak
dilakukan tersendiri, tetap merupakan bagian dari sampling mutu bahan simpan
secara umum (Kogan, 1980).
Sampling dapat dilakukan sebelum atau setelah tindakan pengendalian hama
pasca panen. Tujuan sampling hama adalah untuk menentukan kapan waktu yang
tepat untuk inversi tindakan dan untuk menentukan apakah intervensi
pengendalian telah efektif menekan populasi serangga. Tujuan ini menentukan
area sampling, peralatan sampling, cara mengumpulkan data dan bagaimana data
dianalisis. Simulasi pengambilan sampel dan sebaran spasial populasi hama
sangat penting, sehingga dilakukan praktikum simulasi ini untuk menentukan
kapan tindakan pengendalian harus dilakukan.

1.2. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum kali ini yaitu sebagai berikut:
1.

Mengetahui cara pendugaan sebaran spasial hama pada hamparan


pengamatan.

2.

Mengetahui cara melakukan simulasi pengambilan sampel dan sebaran


spasial populasi hama.`

II.

2.1

METODOLOGI PERCOBAAN

Alat dan Bahan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu alat tulis, kertas, dan meja
praktikum. Sedangkan bahan yang digunakan yaitu beras (diasumsikan sebagai
hama) 10 gr.

2.2

Cara Kerja

Adapun cara kerja yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut:
1.
2.

Praktikan menuju kelompok masing-masing


Ditentukan sebanyak 20 rumpun tanaman secara random dan dipilih 12

3.
4.

rumpun sebagai penanda unit-unit sampel


Ditebarkan 10 gr beras pada bidang tersebut secara merata
Diamati, dihitung, dan dicatat jumlah hama yang terdapat pada setiap

5.

rumpun
Ditetapkan dugaan pola sebaran spasial hama yang diamati berdasarkan

6.

perbandingan antara nilai rerata dan nilai ragam


Disesuaikan dengan sifat sebaran spasial maka dihitung ukuran sampel

7.

optimumnya dengan rumus yang sudah ditentukan


Dilakukan pekerjaan diatas sebanyak tiga kali ulangan dan didiskusikan
hasilnya dalam kelompok..

III.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan


Adapun hasil pengamatan yang diperoleh pada praktikum ini adalah sebagai
berikut:
Ulangan 1 (U1)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nomor Sampel
5
11
17
19
13
6
15
20
16
14
1
12
Jumlah

Hama
14
12
20
41
21
35
23
39
35
58
49
25
372

Ulangan 2 (U2)
No
1
2
3
4
5
6
7

Nomor Sampel
3
7
13
10
20
8
18

Hama
39
49
22
27
51
68
34

8
9
10
11
12

6
16
5
1
19

38
22
13
28
37
428

Nomor Sampel
16
2
5
10
20
15
11
18
1
13
9
8
Jumlah

Hama
11
31
49
26
19
16
19
24
24
69
50
45
383

Jumlah
Ulangan 3 (U3)
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

3.2. Pembahasan
Praktikum kali ini dibahas mengenai simulasi pengambilan sampel dengan tujuan
untuk mengetahui pola sebaran spasial dari populasi hama pada suatu area. Untuk
mengetahui tingkat kerusakan, intensitas dan luas serangan hama, serta tinggi dan
rendahnya populasi hama maka dilakukan pengamatan langsung pada lahan
pertanaman, pengamatan tersebut dilakukan terhadap sampel-sampel yang telah
ditetapkan. Dilakukannya pengambilan sampel agar dapat menduga sifat-sifat
yang ada pada populasi hama.
Pola spasial organisme merupakan karakter penting dalam ekologi komunitas
yang biasanya pertama kali diamati dalam melihat beberapa komunitas dan salah
satu sifat dasar dari kebanyakan kelompok organisme hidup. Pengambilan sampel

ada beberapa hal yang perlu ditetapkan, yaitu :


1. Unti sampel
Unit sampel atau unit contoh merupakan fraksi dari area yang dihuni suatu
populasi serangga sasaran, yang disebut universe.
2. Ukuran atau jumlah sampel
Ditentukan oleh peralatan yang digunakan.
3. Interval pengambilan sampel
Merupakan jarak atau selisih waktu dari pengamatan pertama ke berikutnya.
4. Desain pengambilan sampel
Beberapa pola pengambilan sampel, yaitu pola acak berlapis, pengambilan
sampel sistematik, dan pola pengambilan sampel purposive.
5. Mekanik pengambilan sampel
Metode yang meliputi pemilihan unit contoh yang tepat serta proses
penarikan contoh.
Sebaran spasial merupakan penyebaran atau pemencaran organisme di dalam
ruang (space) tempat hidup atau habitatnya. Tiga pola dasar spasial yang telah
diakui yaitu: acak (random), mengelompok (clumped atau aggregated) dan
seragam atau merata (uniform) (Ludwig and Reynold, 1988).
Pola penyebaran secara acak biasanya terjadi apabila faktor lingkungan sangat
beragam untuk seluruh daerah dimana populasi berada, selain itu tidak ada sifatsifat untuk berkelompok dari organisme tersebut. Selanjutnya penyebaran secara
seragam, umumnya terdapat pada tumbuhan, penyebaran semacam ini terjadi
apabila ada persaingan yang kuat antara individu-individu dalam populasi
tersebut. Pada tumbuhan misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan
ruang. Dan penyebaran secara mengelompok, pengelompokan ini disebabkan
oleh berbagai hal yaitu respon dari organisme terhadap perbedaan habitat secara
local, respon dari organisme terhadap perubahan cuaca musiman akibat dari cara
atau proses reproduksi atau regenerasi (Somarwoto, 2001).
Pola penyebaran populasi yang paling mampu survive di alam adalah pola
penyebaran seragam. Penyebaran semacam ini terjadi apabila ada persaingan
yang kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Karena adanya
persaingan, sehingga dimunculkan senyawa kimia untuk tetap bertahan di suatu
habitat, yaitu allelopathy (Somarwoto, 2001).

Pola-pola dalam sebaran spasial dilihat dari perbandingan antara nilai rerata
sampel dengan nilai ragamnya juga dapat menentukan jenis sebaran spasial
populasi hama. Apabila nilai rerata sampel sama dengan nilai ragam sampel,
maka dikatakan bahwa pola sebaran spasialnya adalah pola sebaran acak. Jika
nilai rerata sampel lebih kecil dari nilai ragam sampel, maka dikatakan bahwa
pola sebaran spasialnya adalah pola sebaran mengelompok. Dan jika nilai rerata
sampel lebih besar dari nilai ragam sampel, maka dikatakan bahwa pola sebaran
spasialnya adalah pola sebaran seragam
Cara sederhana untuk pola sebaran spasial organisme ialah dengan membandingkan antara nilai rerata dan nilai ragamnya, yaitu rerata

dan ragam (

organisme, misalnya suatu hama tersebut dari data pengamatan sampel. Pada
praktikum ini rerata dan ragam yang didapatkan, yaitu
dan

dan

dan
. Selanjutnya

menghitung besarnya sampel optimum, yaitu jumlah sampel yang diamati tidak
harus melebihi nilai ini tetapi data yang diperoleh akan dianggap cukup andal.
Pada praktikum ini dengan sebaran spasial hama berpola mengelompok maka
didapatkan N1= 0,71; N2= 0,63; dan N3= 0,47.

IV.

KESIMPULAN

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini yaitu sebagai berikut:
1.

Dengan membandingkan nilai rerata dan nilai ragam sampel dapat diketahui

2.

jenis pola sebaran spasial dari hama.


Pola sebaran spasial dari ulangan 1, ulangan 2, dan ulangan 3 yaitu
mengelompok dengan perhitungan dan perbandingan nilai rerata sampel

3.

yang lebih kecil dari nilai ragam sampel.


Hal-hal yang ditetapkan pada saat merancang kegiatan pengambilan sampel
yaitu unit sampel, ukuran atau jumlah sampel, interval pengambilan sampel,

4.

desain pengambilan sampel dan mekanik pengambilan sampel.


Pola sebaran spasial sangat mempengaruhi ukuran sampel yang harus
diambil saat pengamatan langsung di lapangan.

DAFTAR PUSTAKA

Ludwig, J. A., and J. F. Reynolds. 1988. Statistical Ecology. John Wiley & Sons.
Inc. Canada.
Kogan, M. 1980. Sampling Methods In Soybean Entomology. Springer-Verlag.
New York.
Krebs, C.J. 1989. Ecological Methodology. Harper Collins Publisher. Inc. New
York
Sembel, D. T. 1989. Dasar-Dasar Biologi dan Ekologi Dalam Pengendalian
Serangga. Fakultas Pertanian UNSRAT. Manado.
Soegianto, A. 1994. Ekologi Kuantitatif. Usaha Nasional. Surabaya.
Somarwoto, O. 2001. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Djambatan.
Tulung, M. 2004. Sistem Peramalan Hama. Fakultas Pertanian UNSRAT.
Manado.

LAMPIRAN

PERHITUNGAN

Tabel 1. Ulangan 1 (U1)


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nomor Sampel
5
11
17
19
13
6
15
20
16
14
1
12
Jumlah

Hama
14
12
20
41
21
35
23
39
35
58
49
25
372

Tabel 2. Ulangan 2 (U2)


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nomor Sampel
3
7
13
10
20
8
18
6
16
5
1
19
Jumlah

Tabel 3. Ulangan 3 (U3)

Hama
39
49
22
27
51
68
34
38
22
13
28
37
428

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Nomor Sampel
16
2
5
10
20
15
11
18
1
13
9
8
Jumlah

Hama
11
31
49
26
19
16
19
24
24
69
50
45
383

Rumus yang digunakan yaitu:

Untuk sebaran spasial populasi hama berpola mengelompok, N optimum adalah


sebagai berikut:

dimana:

U1:

U2:

U3: