Anda di halaman 1dari 10

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Dalam meningkatkan produksi pertanian banyak kendala yang kita hadapi diantaranya adalah gangguan organisme pengganggu Tanaman (OPT). Serangan OPT mengakibatkan kerusakan tanaman dan penurunan hasil mulai dipertanaman hingga penyimpanan. Akibat kerusakan yang ditimbulkan oleh OPT tersebut mengakibatkan penurunan hasil baik secara kwantitas atau kwalitas. Hama terjadi karena adanya ketidakseimbangan ekologi yang disebabkan oleh kontrol manusia terhadap penggunaan bahan kimia-kimia secara berlebihan, tidak terukur dan berkelanjutan. Berbagai jenis hama mempunyai peran penting terhadap penurunan produksi pertanian. Pada tanaman padi saja tercatat 100 jenis hama dan 40 jenis penyakit. Pada kedelai tercatat 50 jenis hama dan 30 jenis penyakit. Masih banyak lagi jenis hama dan penyakit yang menyerang tanaman hortikultura dan tanaman perkebunan lainnya. Pada awalnya dan sampai saat ini petani masih menggunakan pestisida untuk mengendalikan gangguan organisme pengganggu tanaman. Namun para pakar telah menyadari sejak lama adanya pengaruh buruk terhadap penggunaan pestisida yang tidak terkendali. Masalah-masalah yang timbul antara lain tertinggalnya residu pada tanaman, tanah, air dan makanan. Timbulnya kasus resistensi hama dan resurgensi pada hama dan banyak kasus-kasus keracunan lain yang tidak langsung dapat dibuktikan. Maka dari itu, perlu adanya metode atau strategi untuk mengontrol keberadaan serangga hama yang menyebabkan gangguan pada tanaman sehingga dapat menekan keberadaan hama itu sendiri tanapa harus menimbulkan dampak buruk bagi lingkungan baik biotik mapun abiotik. 1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang didapat antara lain, sebagai berikut: 1. Bagaimana cara mengidentifikasi hama secara akurat? 2. Bagaimana cara melakukan monitoring populasi serangga hama? 1.3 Tujuan Tujuan dari dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Mengetahui mengidentifikasi hama secara akurat. 2. Untuk dapat mengetahui cara monitoring populasi serangga hama.
1

BAB II PEMBAHASAN Monitoring hama sebagai sistem pencegahan serangan hama merupakan tindakan deteksi dini dan preventif untuk mengetahui secara cepat hama yang menyerang sehingga dengan segera dapat dilakukan tindakan pemberantasan. Monitoring secara prinsipnya dilakukan pada setiap elemen kegiatan pengelolaan sumberdaya hutan terutama diarahkan pada elemen kegiatan dimana diindikasikan terkait erat dengan adanya serangan dan pemberantasan dan atau pengendalian hama tanaman. Metode identifikasi hama menggunakan metode yang akan disampaikan pada berikutnya. Secara detail monitoring mencatat lokasi dan jumlah individu yang terserang, gejala dan tanda serta perkiraan kerugian dengan menggunakan dasar BSR atau nilai yang ditaksir serta waktu serangan. 2.1 Pentingnya Monitoring

Untuk menilai situasi hama dan menentukan macam apa aktivitas hama ini terjadi Untuk pengambilan keputusan Untuk memprediksi masalah hama sebelum terjadi Meningkatnya kesadaran aktivitas hama, termasuk perubahan dalam populasinya Up-to-date informasi mengenai kesehatan tanaman Data yang dapat digunakan untuk membandingkan wabah hama penyakit dari musim ke musim

Deteksi dini masalah hama, menghasilkan ketersediaan lebih opsi manajemen Konsep pengendalian hama terpadu muncul sebagai akibat cara pengendalian hama

yang dilakukan pada tahun 1950-an, dimana pada waktu itu pendekatan yang dilakukan hanya menggunakan insektisida. Walaupun kata pengendalian hama sudah dikenal pada awal tahun 1960-an, pengendalian hama akarnya pada teori pengendalian biologis. PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama, mengurangi jumlah permasalahan hama jika
2

sudah terjadi, menggunakan pengendalian alami untuk mengatasi permasalahan. Untuk itu diperlukan tindakan monitoring dan monitoring khususnya dalam penanganan Organisme Pengganggu Tanaman dalam konsep PHT. Yang dalam hal ini meliputi juga mengenai cara sampling kerusakan, pengukuran sampling, dan tekniknya. Pentingnya Monitoring Untuk menilai situasi hama dan menentukan macam apa aktivitas hama ini terjadi Untuk pengambilan keputusan Untuk memprediksi masalah hama sebelum terjadi Meningkatnya kesadaran aktivitas hama, termasuk perubahan dalam populasinya Up-to-date informasi mengenai kesehatan tanaman Data yang dapat digunakan untuk membandingkan wabah hama penyakit dari musim ke musim Deteksi dini masalah hama, menghasilkan ketersediaan lebih opsi manajemen Metode Monitoring 1. Gather baseline data - Mengumpulkan data dasar Hal ini harus mencakup informasi dasar tentang jenis dan tingkat kesuburan tanah, sejarah masalah hama, langkah pengendalian lalu (termasuk waktu dan efektivitas), dan informasi terkait lainnya, seperti kondisi cuaca yang akan membantu memahami konteks di mana tertentu masalah hama yang terjadi 2. Have access to good weather data - Memiliki akses ke data cuaca yang baik -Hal ini dimulai dari min sederhana/termometer max ke stasiun cuaca di tempat yang tersedia untuk memberikan informasi ini. 3. Determine what tools you will need - Tentukan apa alat yang diperlukan 4. Keep good written records - Simpan catatan tertulis yang baik Pastikan ini termasuk waktu yang tepat dan lokasi setiap kemunculan hama. Menjaga catatan yang baik akan memberikan data yang tepat yang menjadi dasar keputusan manajemen PHT. Sebuah program monitoring yang efektif juga mencakup menyimpan data tertulis yang akurat mengenai jenis tanah, tingkat kesuburan, riwayat masalah hama, termasuk waktu yang tepat, dan lokasi setiap kemunculan tindakan pengendalian hama dan masa lalu. Memahami kondisi iklim dapat membantu menentukan mengapa masalah hama tertentu terjadi. Dalam jangka panjang, monitoring dapat menghemat uang untuk pestisida dengan memungkinkan untuk membuat keputusan yang lebih baik pada saat menyemprot atau tidak semprot. Monitoring membantu untuk mengetahui jenis-jenis hama dan musuh alami, kepadatan populasi, waktu memulai pengendalian, dan keberhasilan usaha pengendalian.
3

Keterkaitan antara kepadatan hama dan kerusakan tanaman merupakan dasar dari PHT. Kepadatan hama serangga dapat diketahui melalui pengambilan sampel. Ada tiga metode utama dalam pengambilan sampel, yaitu metode mutlak (absolut), metode nisbi (relatif), dan indeks populasi. Metode mutlak mengukur jumlah serangga yang sebenarnya di dalam populasi. Metode nisbi tidak melibatkan satuan habitat, tetapi dalam satuan usaha. Pendugaan populasi dengan metode indeks populasi didasarkan pada produk atau pengaruh hama. Teknik pengambilan sampel yang umum digunakan meliputi teknik in situ, menjaring, menggunakan perangkap, dan menggunakan teknik tidak langsung. Empat aspek penting dalam program pengambilan sampel adalah tahap perkembangan serangga, jumlah sampel, waktu pengambilan sampel, dan pola pengambilan sampel. Pengambilan sampel beruntun penting dalam pengelolaan hama. Biasanya jumlah sampel hanya sedikit jika populasi serangga berukuran sangat kecil (di bawah ambang ekonomi) atau sangat besar (di atas ambang ekonomi). Lebih banyak sampel dibutuhkan jika populasi berukuran sedang (berada di antara nilai ambang atas dan bawah). Rerata, varian, dan kesalahan baku adalah penghitungan yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi hasil pengambilan sampel. Dengan mengetahui varian kita dapat menghitung kisaran nilai atau interval kepercayaan (confidence interval). Interval kepercayaan dapat diatur pada berbagai tingkat kepastian. Namun, kebanyakan keputusan pengelolaan hama didasarkan pada tingkat kepercayaan 9599%. 2.2 Evaluasi Dampak Musuh Alami Dua metode pendekatan untuk mengevaluasi dampak musuh alami adalah (a) pendekatan analisis tabel kehidupan, dan (b) pendekatan percobaan. Tujuan utama dari evaluasi musuh alami adalah menentukan apakah telah terjadi pengaturan populasi mangsa atau inang dan mengidentifikasi agen-agen yang bertanggung jawab dalam pengaturannya. Analisi tabel kehidupan dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan dinamika populasi dan regulasi serta masalah-masalah praktis dari pemanfaatan musuh alami. Ahli ekologi menerapkan konsep kekuatan membunuh (killing power) atau nilai membunuh (kill value) yang disingkat menjadi k value ketika menghitung persentase mortalitas total yang disebabkan oleh musuh alami. Faktor kunci (key factor) adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kematian hama. Faktor kunci akan mengikuti naik dan turun mortalitas generasi total. Pekerja pengendalian hayati tertarik pada faktor mortalitas
4

terkait kepadatan karena tidak hanya sekadar mengurangi jumlah hama, tetapi juga dapat mengatur kelim-pahan hama. Mortalitas yang terkait dengan kepadatan hama akan mencegah populasi hama tumbuh terlalu besar dan melindunginya dari kepunahan. Faktor mortalitas terkait dengan kepadatan hama dapat diketahui dengan cara memplotkan nilai k pada tahap tertentu terhadap jumlah hama pada tahap tersebut dari beberapa generasi. Evaluasi dampak musuh alami dengan metode percobaan terdiri atas metode penambahan, metode penyingkiran musuh alami, dan metode interferensi. Pada pendekatan percobaan dilakukan perbandingan antara populasi hama dengan musuh alami dan populasi hama tanpa musuh alami. Metode penambahan dilakukan dengan membandingkan perubahan kepadatan hama di lokasi pelepasan musuh alami dengan lokasi kontrol tanpa musuh alami. Evaluasi efektivitas musuh alami dalam metode penyingkiran dilakukan dengan membanding-kan kepadatan populasi hama di dalam kurungan atau penghalang lain dengan dan tanpa musuh alami. Metode interferensi dilakukan melalui penyingkiran musuh alami (dengan semut, insektisida, atau tangan) di dalam petak percobaan. Kepadatan populasi hama di dalam petak tersebut lalu dibandingkan dengan yang ada di dalam petak tidak terganggu. 2.3 Metode Dan Strategi Pengontrolan Hama 1. Pengamatan a) Identifikasi hama secara akurat Untuk dapat menyusun strategi pengendalian serangga hama yang menginfestasi pertanaman diperlukan identifikasi yang akurat terhadap serangga hama tersebut. Aspek yang didentifikasi yaitu aspek taksonomi dan biekologi serangga hama (dinamika populasi, prilaku, siklus hidup,kapasitas reproduksi,dan musuh alami)sehingga mudah menyusun strategi pengendalian yang efektif. b) Monitoring populasi serangga hama Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat infestasi serangga hama sehingga dapat diputus kan tidakan yang dilakukan. Monitoring populasi dilakukan dengan metode sampling sehingga diketahui sebaran hama baik pada pertanaman atau dalam tanaman. Monitoring imago untuk mengetahui tingkat populasi serangga, dapat dilakukan dengan perangkap lampu Keuntungan dan kerugian penggunaan pestisida dalam mengontrol hama 1. Keuntungan :
5

a) Mengunakan insektisida mampu menekan populasi dalam waktu cepat, efektif dan dapat diaplikasikan kapan dan dimana saja. b) Telah berhasil mengendalikan populasi serangga hama sehingga berhasil meningkatkan produksi pangan c) Pestisida juga dapat meningkatkan keamanan dalam rumah tangga seperti mengusir nyamuk kecoa,lalat. 2. Kerugian : a) Menimbulkan kerusakan lingkungan melalui pencemaran diberbagai tempat dimuka bumi dalam wujut adanya residu dilingkungan fisik dan biotik sehingga dikhawatirkan akan terjadi keracunan kronik yang berdampak panjang bagi kesehatan masyarakat, seperti berkembangnya penyakit kangker yang hingga sekarang belum ada cara penyembuhan yang normal. Hasil penelitian residu pestisida telah ditemukan diberbagai tempat dilingkungan sekitar kita, terutama sudah berhasil dideteksi di dalam tanah, airsungai,air sumur,air danau, laut, didalam tanaman yang siap dikonsumsi manusia. b) Terjadinya resistensi hama akibat hama mendapat tekanan terusmenerus oleh pestisida sehingga hama mampu membentuk strain baru yang lebih tahan terhadap pestisida yang sering digunakan petani. c) Terjadinya Resurjensi hama yaitu meningkatnya populasi hama setelah hama tersebut memperoleh perlakuan/penyemprotan insektisida tertentu. 2. Survei Kegiatan survey meliputi penyebaran hama dan kelimpahan spesies hama. Tujuan dilakukannya kegiatan survei adalah : Untuk mengetahui lokasi dan peta geografis penyebaran spesies hama Untuk mengetahui status hama dari spesies utama serangga Penyebaran spesies baru Penyebaran spesies hama endemik yang mudah berpindah Kegiatan survei merupakan kegiatan yang dilakukan karena : Dapat Memetakan Jenis Hama dan Musuh Alami, Distribusi dalam rentang waktu (MK, MH) dan ruang (ketinggian, jenis inang, Lokasi), Dapat mengidentifikasi distribusi Serangan Berat dan ringan, Dapat dijadikan dasar dalam peramalan populasi pada musim tanam berikutnya atau pada periode waktu ke depan, Teknik surve dapat digunakan untuk mengembangkan model tentang keberadaan hama secara musiman atau sporadis pada bebrapa spesies hama,
6

Keberadaan hama tersebut juga dapat digunakan untuk meramal kejadian hama berikutnya, migrasi hama antar waktu dan ruang, Migrasi hama biasanya berhubungan dengan iklim Untuk mengidentifikasi tingkat penyebaran hama, populasi hama dan tingkat serangan dan mengetahui jenis hama yang merugikan. Dalam pelaksanaannya memilih sampel dari semua kebun sehingga memberikan gambaran menyeluruh. Pembekalan awal sebelum survei antara lain: penentuan pohon sampel dalam kebun untuk diamati: bisa dengan sistem diagonal, garis lurus atau acak. Pangambilan sample yang paling umum dipakai adalah dengan sistem diagonal atau acak, cara pengamatan dilakukan pada seluruh bagian tanaman jambu mente mulai dari batang, ranting, daun dan pucuk tanaman, pengamatan juga dilakukan pada vegetasi lain yang berada di sekitar kebun, mencari bagian yang paling banyak terserang dan gejala serangannya dan mengidentifikasi ciri hama yang ditemukan. Survei awal ini memberikan gambaran tentang: jumlah atau hamparan lahan tanaman jambu mente yang terserang, tingkat kerusakan tanaman, bagian tanaman yang terserang (batang, daun, pucuk, bunga dan buah), jenis hama yang menyerang.

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan Adapun simpulan dari hasil pembahasan di atas antara lain, sebagai berikut : 3.1.1 3.1.2 Untuk mengidentifikasi hama secara akurat, hal yang terlebih dahulu dilakukan, yaitu dengan melakukan monitoring hama, dan survei Metode dan strategi pengontrolan hama yaitu dilakukan dengan pengamatan melalui: a. Identifikasi hama secara akurat b. Monitoring populasi serangga hama 3.2 Saran Dalam melaksanakan monitoring survei hama, perlu diketahui segala aspek yang berkaitan dengan hama itu sendiri dan metode yang dilaksanakan agar tidak terjadi ketimpangan, yang nantinya berkaitan dengan melaksanakan pengendalian hama itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Anonym.

2012.

Strategi

monitoring

hama.

Dalam

(online)

http://emocoustic7.blogspot.com/2010/12/1.html. diunduh tanggal 5 April 2013 Anonym . 2012. Modul PHT. Dalam (online) diunduh

http://nad.litbang.deptan.go.id/ind/files/Modul/Modul%204%20PHT.pdf. tanggal 5 April 2013

10