Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pertanian merupakan salah satu sektor yang menghasilkan berbagai
macam kebutuhan pokok masyarakat di Indonesia. Tidak heran jika pertanian
mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Berbagai usaha dilakukan untuk
meningkatkan kualitas maupun kuantitas dari hasil pertanian itu sendiri guna
memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Dalam prosesnya, usaha untuk
meningkatkan kulitas maupun kuantitas dari hasil pertanian itu sendiri mendapat
berbagai kendala, baik di lapangan maupun di gudang penyimpanan. Serangan
organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu masalah utama
yang dihadapi dalam upaya peningkatan kualitas maupun kuantitas hasil
pertanian.
Dewasa ini, petani di Indonesia lebih senang menggunakan pestisida untuk
mengendalikan OPT karena dianggap praktis dan ampuh. Padahal jika dilihat dari
masalah yang ditimbulkan akibat penggunaan pestisida ini cukup banyak dan
berbahaya. Diantaranya yaitu terjadinya resistensi hama maupun penyakit,
terjadinya resurgensi atau meningkatnya jumlah populasi hama setelah pemakaian
pestisida, terbunuhnya musuh alami, terbunuhnya hewan bukan sasaran,
menimbulkan residu pada tanaman, mencemari lingkungan, serta dapat berbahaya
bagi penggunanya. Untuk mengatasi permasalahan dalam pemakaian pestisida
yang terus menerus, maka diperlukan pengendalian yang ramah lingkungan, salah
satunya yaitu dengan diadakannya Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
(PHT).
Menurut Prabaningrum, et. al. (2015) Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
adalah suatu konsepsi atau cara berpikir mengenai pengendalian Organisme
Pengganggu Tumbuhan (OPT) dengan pendekatan ekologi yang bersifat
multidisiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit dengan memanfaatkan
beragam taktik pengendalian yang kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi
2

pengelolaan. PHT merupakan suatu sistem pengendalian yang menggunakan


pendekatan ekologi, maka pemahaman tentang biologi dan ekologi hama dan
penyakit menjadi sangat penting.Konsep pengendalian hama terpadu lebih efektif
dan efisien, serta memberikan dampak negatif yang sekecil mungkin terhadap
lingkungan hidup. Keuntungan lain dari penerapan konsep pengendalian hama
terpadu adalah menghemat biaya (Anonim, 2014).
PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk
mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama, mengurangi jumlah
permasalahan hama jika sudah terjadi, menggunakan pengendalian alami untuk
mengatasi permasalahan. Untuk itu diperlukan tindakan monitoring dan
pemantauan khususnya dalam penanganan Organisme Pengganggu Tanaman
dalam konsep PHT (Harnawan, 2010).

1.2. Rumusan Masalah


- Apa peran pengamatan dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu?

1.3. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah agar mahasiswa mengetahui peran
pengamatan dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pengendalian Hama Terpadu (PHT)


Pengendalian Hama Terpadu (PHT) adalah suatu konsepsi atau cara
berpikir mengenai pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT)
dengan pendekatan ekologi yang bersifat multidisiplin untuk mengelola populasi
hama dan penyakit dengan memanfaatkan beragam taktik pengendalian yang
kompatibel dalam suatu kesatuan koordinasi pengelolaan (Prabaningrum, et. al.,
2015).
Sedangkan menurut Azzamy (2017) Pengendalian Hama Terpadu (PHT)
adalah suatu konsep atau cara berpikir dalam upaya pengendalian populasi atau
tingkat serangan hama dengan menerapkan berbagai teknik pengendalian yang
dipadukan dalam satu kesatuan untuk mencegah kerusakan tanaman dan
timbulnya kerugian secara ekonomis serta mencegah kerusakan lingkungan dan
ekosistem. Dengan kata lain, pengendalian hama terpadu adalah pengendalian
hama dan penyakit tanaman dengan pendekatan ekologi yang bersifat multi-
disiplin untuk mengelola populasi hama dan penyakit dengan menerapkan
berbagai teknik pengendalian yang kompatibel.
Konsep pengendalian hama terpadu (PHT) diperlukan untuk menjamin
proses pembangunan pertanian dengan mengedepankan kelestarian lingkungan
dan menjamin kesehatan manusia. Sistem pengendalian hama terpadu (PHT)
merupakan suatu teknologi pertanian yang lebih bersahabat dengan alam,
memantapkan taraf produksi yang telah dicapai dan meningkatkan efesiensi input.
Konsep PHT adalah suatu sistem pengendalian hama dan penyakit tanaman yang
menggunakan pendekatan ekologi, oleh karena itu diperlukan pemahaman tentang
biologi dan ekologi hama dan penyakit (Azzamy, 2017).

2.2. Prinsip Dasar PHT


Menurut Prabaningrum, et. al. (2015) ada empat prinsip dasar yang
mendorong penerapan PHT secara nasional,terutama dalam rangka program
pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Beberapa prinsip yang
4

mengharuskannya PHT pada tanaman sayuran adalah seperti dinyatakan dalam


uraian berikut ini.
1. Budidaya tanaman sehat
Budidaya tanaman yang sehat dan kuat menjadi bagian penting dalam
program pengendalian hama dan penyakit. Tanaman yang sehat akan mampu
bertahan terhadap serangan hama dan penyakit dan lebih cepat mengatasi
kerusakan akibat serangan hama dan penyakit tersebut. Oleh karena itu, setiap
usaha dalam budidaya tanaman paprika seperti pemilihan varietas, penyemaian,
pemeliharaan tanaman sampai penanganan hasil panen perlu diperhatikan agar
diperoleh pertanaman yang sehat, kuat dan produktif, serta hasil panen yang
tinggi.
2. Pemanfaatan musuh alami
Pengendalian hayati dengan memanfaatkan musuh alami yang potensial
merupakan tulang punggung PHT. Dengan adanya musuh alami yang mampu
menekan populasi hama, diharapkan di dalam agroekosistem terjadi
keseimbangan populasi antara hama dengan musuh alaminya, sehingga populasi
hama tidak melampaui ambang toleransi tanaman.
3. Pengamatan rutin atau pemantauan
Agroekosistem bersifat dinamis, karena banyak faktor di dalamnya yang
saling mempengaruhi satu sama lain. Untuk dapat mengikuti perkembangan
populasi hama dan musuh alaminya serta untuk mengetahui kondisi tanaman,
harus dilakukan pengamatan secara rutin. Informasi yang diperoleh digunakan
sebagai dasar tindakan yang akan dilakukan.
4. Petani sebagai ahli PHT
Penerapan PHT harus disesuaikan dengan keadaan ekosistem setempat.
Rekomendasi PHT hendaknya dikembangkan oleh petani sendiri. Agar petani
mampu menerapkan PHT, diperlukan usaha pemasyarakatan PHT melalui
pelatihan baik secara formal maupun informal.

2.3. Konsep PHT


Dalam konsep PHT, pengendalian OPT merupakan satu kesatuan sistem
pengelolaan ekosistem pertanian dengan penekanan pada upaya memadukan
5

secara optimal semua teknologi pengendalian OPT yang cocok dan mendorong
berfungsinya proses pengendalian alami yang mampu mempertahankan populasi
OPT pada tingkat keseimbangan yang rendah. Tujuannya adalah: a) menurunkan
status OPT; b) menjamin keuntungan petani; c) melestarikan kualitas lingkungan;
dan d) menyelesaikan masalah OPT secara berkelanjutan (Pedigo and Higley
1992 dalam Arifin, 2012).
Menurut Arifin (2012) untuk menerapkan PHT seoptimal mungkin
diperlukan pengetahuan mengenai unsur dasar PHT, yakni: a) ekosistem,
khususnya komponen ekosistem yang berperanan sebagai pengendali populasi
OPT secara alamiah; b) biologi dan ekologi berbagai jenis organisme untuk
menentukan peranan tiap jenis organisme tersebut dalam ekosistem; c) batas
toleransi tanaman terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan OPT untuk
mengusahakan agar populasi OPT dapat dipertahankan tetap berada di bawah
batas tersebut; dan d) teknik pemantauan populasi OPT serta komponen fisik dan
biologis yang menentukan keberadaan dan mengatur kepadatan populasi OPT.
Keempat pengetahuan tersebut dipadukan dalam suatu kesatuan yang serasi agar
produktivitas tanaman dapat dioptimalkan dan ekosistem dapat diusahakan stabil.

2.4. Komponen Penting Pengendalian Hama Terpadu (PHT)


Menurut Azzamy (2017), terdapat 7 komponen dalam penerapan
pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu sebagai berikut ;
1). Pengendalian Secara Fisik
Pengendalian hama secara fisik merupakan upaya atau usaha dalam
memanfaatkan atau mengubah faktor lingkungan fisik sehingga dapat
menurunkan populasi hama dan penyakit. Tindakan pengendalian hama secara
fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu ; pemanasan, pembakaran,
pendinginan, pembasahan, pengeringan, lampu perangkap, radiasi sinar infra
merah, gelombang suara dan penghalang/pagar/barier.
2). Pengendalian Secara Mekanik
Pengendalian hama dan penyakit secara mekanik yaitu pengendalian yang
dilakukan secara manual oleh manusia. Pengendalian secara mekanik dapat
dilakukan dengan cara yang sederhana, membutuhkan tenaga kerja yang banyak
6

dan waktu yang lama, efektifitas dan efesiensinya rendah, tetapi tidak ber-
pengaruh negatif terhadap lingkungan. Beberapa contoh tindakan secara mekanik
dalam pengendalian hama antara lain sebagai berikut :
a). Pengumpulan hama dan telurnya menggunakan tangan,
b). Rogesan, yaitu pemotongan pucuk tebu yang terserang penggerek pucuk tebu
(Schirpophaga nivella),
c). Memangkas cabang, ranting atau bagian tanaman lainnya yang terserang hama
atau penyakit,
d). Rampasan, yaitu pengumpulan seluruh buah ketika terjadi serangan berat
penggerek buah kopi (Stephanoderes hampei),
e). Gropyokan, yaitu perburuan hama tikus disuatu daerah yang luas secara
serentak,
f). Pemasangan perangkap hama,
g). Pembungkusan buah
3). Pengendalian Kultur Teknik
Pengendalian hama dan penyakit secara kultur teknik yaitu pengendalian
hama dan penyakit melalui sistem atau cara dalam bercocok tanam. Beberapa
tindakan dalam cara bercocok tanam yang dapat mengurangi atau menekan
populasi dan serangan hama antara lain sebagai berikut ;
a). Mengurangi kesesuaian ekosistem hama dengan melakukan sanitasi,
modifikasi inang, pengelolaan air, dan pengolahan lahan,
b). Mengganggu kontinuitas penyediaan keperluan hidup hama, yaitu dilakukan
dengan cara pergiliran tanaman, pemberoan dan penanaman serempak pada
suatu wilayah yang luas,
c). Pengalihan populasi hama menjauhi pertanaman, misalnya dengan menanam
tanaman perangkap,
d). Pengurangan dampak kerusakan oleh hama dengan cara mengubah toleransi
inang.
4). Pengendalian dengan Varietas Tahan
Yaitu mengurangi atau menekan populasi hama, serangan dan tingkat
kerusakan tanaman dengan menanam varietas yang tahan hama ataupun penyakit.
7

Teknik ini sudak sejak lama diterapkan oleh petani. Keuntungan teknik ini adalah
tidak membutuhkan biaya yang mahal, efektif dan aman bagi lingkungan.
Akan tetapi pengendalian dengan varietas tahan juga memiliki kelemahan dan
kekurangan, yaitu harga benih/bibit yang mahal. Jika ditanam dalam jangka waktu
yang panjang, sifat ketahanannya patah.
5). Pengendalian Secara Hayati
Pengendalian secara hayati adalah pengendalian hama atau penyakit
dengan memanfaatkan agens hayati (musuh alami) yaitu predator, parasitoid,
maupun patogen hama. Contohnya adalah sebagai berikut ;
a). Predator (binatang yang ukuran tubuhnya lebih besar sebagai pemangsa yang
memakan binatang yang lebih kecil sebagai mangsa) ; contohnya
memanfaatkan ular sebagai predator hama tikus atau kumbang Coccinelid
sebagai pemangsa kutu daun.
b). Parasitoid (binatang yang hidup diatas atau didalam tubuh binatang lain yang
lebih besar yang merupakan inangnya) ; contoh Trichoderma sp, sebagai
parasit telur penggerek batang padi.
c). Patogen hama (mikroorganisme penyebab penyakit organisme hama),
organisme tersebut meliputi nematoda, protozoa, rikettsia, bakteri atau virus ;
contoh Paecilomyces sp. jamur patogen telur nematoda puru akar.
6). Pengendalian dengan Peraturan / Regulasi / Karantina
Pengendalian dengan peraturan perundangan yaitu pencegahan
penyebaran/perpindahan dan penularan organisme pengganggu tanaman melalui
kebijakan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah. Dasar hukum
pencegahan dengan peraturan adalah sebagai berikut ;
1. UU No. 16 Th 1992 : Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan
2. PP No. 6 Th 1995 : Perlindungan Tanaman
3. PP No. 14 Th 2000 : Karantina Tumbuhan
Contoh pengendalian hama dengan peraturan adalah pelarangan
pengiriman benih kentang dari Batu, Malang ke daerah lain yang belum terserang
Nematoda Sista Kentang (Globodera rostochiensis).
8

7. Pengendalian Secara Kimiawi


Pengendalian hama dan penyakit tanaman secara kimiawi menggunakan
pestisida sintetis kimia adalah alternatif terakhir apabila cara-cara pengendalian
yang lain tidak mampu mengatasi peningkatan populasi hama yang telah
melampaui ambang kendali. Tujuan penggunaan pestisida merupakan koreksi
untuk menurunkan populasi hama atau penyakit sampai pada batas keseimbangan.
Penggunaan pestisida juga harus tepat sasaran, tepat dosis dan tepat waktu.

2.5. Pengertian Pengamatan


Pengamatan yaitu kegiatan menggunakan satu indra atau lebih seperti
melihat, mendengar,mencium, mengecap dan meraba secara saksama
untuk mendapatkan keterangan atau makna dari suatu yang diamati. Kegiatan ini
bertujuan untuk mendapatkan keterangan ataupengetahuan dari suatu peristiwa.
Objek yang diamati dapat berupa makhluk hidup atau bagiandari makhluk hidup
maupun proses dalam kehidupan tersebut. Pengamatan (observasi)
dapatdilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif (Anonim, 2015).
Sedangkan menurut Surahman, Enceng dan Widodo Agus (1989)
pengamatan bertujuan untuk mengetahui intensitas serangan atau kepadatan
populasi OPT, luas serangan, daerah penyebaran, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan OPT (Aqilah, 2016).

2.6. Jenis-jenis Pengamatan


Anonim (2015) menguraikan jenis pengamatan sebagai berikut :
1. Pengamatan secara Kualitatif
Yaitu pengamatan yang dilakukan dengan alat-alat indra. Pengamatan ini
menghasilkan datayang disebut data kualitatif. Keterampilan mengamati dapat
menjawab masalah yang akan kitapecahkan. Seseorang yang tidak terbiasa
melakukan pengamatan akan mengalami kesukarandalam mengidentifikasi
masalah, tetapi dengan latihan maka hal tersebut dapat diatasi. Pengamatan
yang lebih baik dapat menggunakan seluruh indra yang kita miliki sehingga hasil
pengamatan yang kita inginkan tercapai. Indra yang kita miliki adalah indra
9

penglihatan, indra pembau, indra pendengar, indra peraba dan indra


pengecap. Beberapa contoh pengamatan menggunakan indra yaitu :
a. Indra pembau : untuk pengamatan berupa bau. Misal : mencium beberapa
jenis bumbu dapur.
b. Indra pendengaran : untuk pengamatan beruapa suara. Misal : mengenali
hewan darisuaranya.
c. Indra peraba : untuk pengamatan berupa sentuhan. Misal : membedakan
permukaan daun.
d. Indra pengecap : untuk pengamatan berupa rasa. Misal : mencicipi beberapa
jenis buahdengan mata tertutup.
2. Pengamatan secara Kuantitatif
Yaitu pengamatan yang dilakukan dengan menggunakan alat ukur.
Tujuannya agar hasil pengamatan yang dilakukan lebih teliti dan akurat. Data
yang dihasilkan merupakan data yang dapat dinyatakan dengan angka. Data ini
disebut dengan data kuantitatif. Pengambilan data kuantitatif harus
menggunakan alat ukur dan satuan pengukuran yang bersifat universal
artinyaberlaku dan dapat diterima di seluruh dunia. Misal : untuk mengukur
panjang menggunakan satuan meter bukan dengan hasta. Contoh : pengamatan
secara kuantitatif Mengamati pertumbuhan kecambah, berapa millimeter
kecepatan tumbuh kecambah setiap harinya.
BAB III
PEMBAHASAN

Secara umum, tindakan pengendalian dapat dikelompokkan menjadi enam


cara, yaitu sistem perundang-undangan atau peraturan agar dapat dicegah
terjadinya wabah, cara fisik dengan dibakar dan dijemur, cara mekanik, cara
kultur teknis yaitu cara-cara bercocok tanam, cara biologi dengan memanfaatkan
musuh alami hama dan patogen, dan cara kimia menggunakan pestisida
(Hernawan, 2010).
Pengendalian terpadu hama penyakit tanaman memerlukan informasi
mengenai hubungan antara kerusakan tanaman dan kehilangan hasil; sampling
kerusakan tanaman; analisis keragaman agroekosistem; serta analisis biaya
manfaat pengendalian hama. Hal tersebut dibutuhkan untuk pengimplementasian
konsep ambang ekonomi yang merupakan salah satu model pembuatan keputusan
dalam PHT khususnya dalam penggunaan pestisida (Hernawan, 2010).
PHT menggabungkan berbagai macam cara pengendalian hama, untuk
mencegah kemungkinan terjadinya permasalahan hama, mengurangi jumlah
permasalahan hama jika sudah terjadi, menggunakan pengendalian alami untuk
mengatasi permasalahan. Untuk itu diperlukan tindakan monitoring dan
pemantauan khususnya dalam penanganan Organisme Pengganggu Tanaman
dalam konsep PHT. Yang dalam hal ini meliputi juga mengenai cara sampling
kerusakan, pengukuran sampling, dan tekniknya (Hernawan, 2010).

3.1. Pentingnya Monitoring


Menurut Hernawan (2010), monitoring diperlukan untuk :
- Untuk menilai situasi hama dan menentukan macam apa aktivitas hama ini
terjadi
- Untuk pengambilan keputusan
- Untuk memprediksi masalah hama sebelum terjadi
- Meningkatnya kesadaran aktivitas hama, termasuk perubahan dalam populasinya
- Up-to-date informasi mengenai kesehatan tanaman
11

- Data yang dapat digunakan untuk membandingkan wabah hama penyakit dari
musim ke musim
- Deteksi dini masalah hama, menghasilkan ketersediaan lebih opsi manajemen

3.2. Metode Pemantauan


Hernawan (2010) menguraikan metode pemantauan sebagai berikut :
1. Gather baseline data (Mengumpulkan data dasar)
Hal ini harus mencakup informasi dasar tentang jenis dan tingkat
kesuburan tanah, sejarah masalah hama, langkah pengendalian lalu (termasuk
waktu dan efektivitas), dan informasi terkait lainnya, seperti kondisi cuaca yang
akan membantu memahami konteks di mana tertentu masalah hama yang terjadi
2. Have access to good weather data (Memiliki akses ke data cuaca yang baik)
Hal ini dimulai dari min sederhana/termometer max ke stasiun cuaca di
tempat yang tersedia untuk memberikan informasi ini.
3. Determine what tools you will need (Tentukan apa alat yang diperlukan)
4. Keep good written records (Simpan catatan tertulis yang baik)
Pastikan ini termasuk waktu yang tepat dan lokasi setiap kemunculan
hama. Menjaga catatan yang baik akan memberikan data yang tepat yang menjadi
dasar keputusan manajemen PHT.
Sebuah program pemantauan yang efektif juga mencakup menyimpan data
tertulis yang akurat mengenai jenis tanah, tingkat kesuburan, riwayat masalah
hama, termasusk waktu yang tepat, dan lokasi setiap kemunculan tindakan
pengendalian hama dan masa lalu. Memahami kondisi iklim dapat membantu
menentukan mengapa masalah hama tertentu terjadi.
Dalam jangka panjang, pemantauan dapat menghemat uang untuk
pestisida dengan memungkinkan untuk membuat keputusan yang lebih baik pada
saat menyemprot atau tidak semprot.

3.3. Peran Pengamatan dalam Pengendalian Hama Terpadu


Menurut TIM dosen Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman (2011) dalam
Aqilah (2016), bahwa pengamatan adalah suatu bentuk kegiatan yang saling
berkaitan dengan kegiatan pengendalian hama terpadu (PHT). Pengamatan
12

tersebut dapat dilakukan sebelum tindakan pengendalian untuk memperkirakan


apakah tindakan pengendalian perlu dilakukan atau tidak, ataupun dilakukan
setelah pengendalian untuk mengevaliasi atau menganalisis hasil dari
pengendalian yang telah dilakukan.
Pengamatan tesebut dapat dijadikan sebagai patokan untuk menentukan:
a. Perlu atau tidaknya suatu kegiatan pengendalian OPT dilakukan
b. Metode pengendalian yang dipilih dan bagaimana cara aplikasinya
c. Menentukan tindakan yang harus dipilih untuk mengatasi terjadinya serangan
OPT agar serangan tidak meluas. (Aqilah, 2016)
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa peran pengamatan
dalam pengendalian hama terpadu adalah untuk mengetahui jumlah OPT yang ada
di lapangan, dapat memprediksi masalah hama di lapangan dari data hasil
pengamatan, mengetahui perilaku hama, tingkat serangan dan kerugian yang
diakibatkan oleh hama, serta menentukan tindakan apa saja yang akan diambil
dalam proses pengendalian yang tidak mencemari lingkungan.

4.2. Saran
Dalam proses pengamatan, sebaiknya data dicatat dengan tepat dan teliti
agar tidak terjadi kesalahan yang berdampak pada tindakan yang akan dilakukan
selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Pengendalian Hama Terpadu. Dalam https://id-


id.facebook.com/206464746223327/posts/pengendalian-hama-
terpadubab-ipendahuluan11-latar-belakanggangguan-hama-dan-
peny/217053655164436/ diakses pada hari Minggu tanggal 21 Oktober
2018 pukul 12:54.

Anonim. 2015. Pengertian Pengamatan dan Jenis-jenis Pengamatan. dalam


https://www.scribd.com/document/340728381/Pengertian-Pengamatan-
Dan-Jenis-jenis-Pengamatan-Perpustakaan-Maya diakses pada hari Senin
tanggal 22 Oktober 2018 pukul 14:57.
Arifin, Muhammad. 2012. Pengendalian Hama Terpadu : Pendekatan dalam
Mewujudkan Pertanian Organik Rasional. Jurnal Iptek Tanaman Pangan
Vol. 7. No. 2. 2012. Hal 102.
Aqilah, Annisa Ratu. 2016. Teknik Pengamatan Hama Tanaman. Dalam
http://planthospital.blogspot.com/2016/04/teknik-pengamatan-hama-
tanaman.html diakses pada hari Senin tanggal 22 Oktober 2018 pukul
14:59.
Azzamy. 2017. Pengertian, Prinsip Dasar, dan Konsep Dasar Pengendalian Hama
Terpadu (PHT). Dalam https://mitalom.com/pengertian-prinsip-dasar-
dan-konsep-pengendalian-hama-terpadu-pht/ diakses pada hari Minggu
tanggal 21 Oktober 2018 pukul 13:57.
Harnawan. Yuan. 2010. Monitoring dan Pemantauan OPT dalam Konsep PHT.
Dalam http://yuan.blog.uns.ac.id/2010/12/26/144/ diakses pada hari
Minggu tanggal 21 Oktober 2018 pukul 13:50.

Prabaningrum, L. et. al.. 2015. Empat Prinsip Dasar dalam Penerapan


Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dalam
http://balitsa.litbang.pertanian.go.id/ind/index.php/berita-
terbaru/378-empat-prinsip-dasar-dalam-penerapan-pengendalian-
hama-terpadu-pht.html diakses pada hari Minggu tanggal 21 Oktober
2018 pukul 13:16.