Anda di halaman 1dari 30

PENCITRAAN STRUKTUR 3-D KECEPATAN

GELOMBANG SEISMIK MENGGUNAKAN METODE


DOUBLE-DIFFERENCE DAN INVERSI GABUNGAN DATA
GEMPA BUMI MERAMEX DAN BMKG DI JAWA BAGIAN
TENGAH

RINGKASAN DISERTASI

Oleh
Supriyanto Rohadi
NIM : 32409003
(Program Studi Sains Kebumian)

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2014

PENCITRAAN STRUKTUR 3-D KECEPATAN


GELOMBANG SEISMIK MENGGUNAKAN METODE
DOUBLE-DIFFERENCE DAN INVERSI GABUNGAN DATA
GEMPA BUMI MERAMEX DAN BMKG DI JAWA BAGIAN
TENGAH

Disertasi ini dipertahankan pada Sidang Terbuka Institut Teknologi


Bandung sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
dari Institut Teknologi Bandung

Bandung, 9 Januari 2014


SUPRIYANTO ROHADI
NIM : 32409003

Tim Promotor
Ketua

: Prof. Sri Widiyantoro Ph.D

Anggota

: Dr. Andri Dian Nugraha


Dr. Masturyono

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG


2014

Pendahuluan
Penelitian tentang struktur 3-D mantel bumi di Indonesia telah
dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, seperti oleh Fukao dkk.
(1992), Puspito dkk. (1993), Puspito dan Shimazaki (1995),
Widiyantoro dan Van der Hilst (1996), dan Widiyantoro (1997).
Studi tomografi menggunakan waktu tempuh gelombang S dan
struktur 3-D di bawah busur Sunda oleh Widiyantoro dan Puspito
(1998) menunjukkan bahwa slab litosfer menembus mantel bumi
bagian bawah di bawah busur Sunda, tetapi ada indikasi bahwa slab
mantel bagian bawah dan mantel bagian atas kemungkinan terputus
di bawah Sumatera dan slab mantel atas menyempit di bawah Jawa.
Selain penelitian tomografi skala regional, beberapa penelitian
tomografi skala lokal telah dilakukan di wilayah Jawa. Kulakov dkk.
(2007) melakukan tomografi struktur kecepatan gelombang P dan S
kerak bumi dan mantel bagian atas di Jawa bagian tengah. Fitur
yang paling mencolok dari model struktur kecepatan gelombang P
dan S yang dihasilkan adalah adanya anomali kecepatan rendah
yang sangat kuat yang dikenal sebagai Merapi-Lawu Anomali
(MLA) pada interval kedalaman 5 km hingga 45 km. Penelitian
tomografi serupa oleh Wagner dkk. (2007) menggunakan gabungan
data gempa aktif dan pasif di wilayah Jawa bagian tengah, dari citra
tomografi yang dihasilkan mengindikasikan adanya anomali
kecepatan rendah yang kuat (-30%) di lapisan kerak belakang busur
utara (backarc) dari gunungapi aktif di Jawa bagian tengah. Dengan
melakukan pemodelan sintetik, Koulakov (2009) menyatakan
kombinasi dari jejak sinar gempa bumi lokal dan regional yang
datang dari arah yang berbeda akan meningkatkan resolusi spasial
dan meningkatkan penetrasi kedalaman model tomografi, namun
penelitian Koulakov (2009) tidak melakukan inversi data riil.
Akurasi dalam penentuan hiposenter gempa bumi dipengaruhi oleh
beberapa faktor, seperti geometri jaringan, fase gelombang yang
ada, akurasi pembacaan waktu tiba dan model struktur kecepatan
(Pavlis, 1986). Selain itu, hasil penentuan lokasi hiposenter gempa
bumi biasanya mengandung kesalahan terkait struktur kecepatan
dipermukaan yang tidak termodelkan. Struktur kecepatan hasil
tomografi waktu tunda (delay time) belum memanfaatkan

perkembangan teknik relokasi gempa bumi yang bertujuan


meningkatkan akurasi lokasi absolut dan juga akurasi lokasi
relatifnya. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah akurasi
penentuan hiposenter akibat struktur kecepatan yang tidak
termodelkan
dikembangkan
teknik
relokasi
hiposenter
menggunakan metode double-difference (hypoDD).
Metode relokasi gempa bumi hypoDD pertama kali kemukakan
Waldhauser dan Ellsworth (2000) yang melakukan inversi lokasi
hiposenter dari suatu klaster gempa bumi. Metode double-difference
didasarkan pada asumsi bahwa jika terdapat perbedaan jarak antara
dua hiposenter yang sangat kecil dibandingkan dengan jarak antara
kedua hiposenter tersebut terhadap stasiun dan kedua hiposenter
berada pada skala heterogenitas kecepatan yang sama maka pola
sinar gelombang dari kedua hiposenter tersebut dianggap identik.
Pengembangan metode DD pada saat ini tidak hanya digunakan
untuk relokasi hiposenter tetapi juga untuk mendapatkan struktur
kecepatan atau yang dikenal dengan tomografi double-difference
(tomoDD).
Informasi struktur kecepatan yang terperinci dan posisi hiposenter
yang akurat sangat diperlukan dalam analisis prediktabilitas gempa
bumi karena lokasi rawan gempa bumi dapat diperkirakan dengan
baik (Widiyantoro, 2008). Struktur bumi hasil model tomografi
memberikan kebaruan dalam memahami proses yang terjadi di
dalam bumi. Hasil penelitian pada akhir-akhir ini menunjukkan
pencitraan geotomografi menjadi teknik penting dalam mempelajari
struktur interior bumi yang dapat menerangkan antara lain fenomena
gempa bumi, tsunami dan lumpur panas (Widiyantoro, 2008).
A. Kebaruan
Inversi tomografi menggunakan gabungan katalog data gempa bumi
MERAMEX dan BMKG dengan mengunakan metode tomoDD
menghasilkan katalog baru relokasi gempa bumi yang akurat dan
strukrur 3-D kecepatan gelombang seismik yang terperinci. Adapun
kebaruan (novelty) adalah katalog relokasi gempa bumi, identifikasi
kenampakan tektonik yang belum ada pada penelitian terdahulu
seperti anomali kecepatan rendah di bawah Cilacap-Banyumas,

Kebumen (Karangsambung), identifikasi subduksi slab di bagian


barat Jawa Tengah dan identifikasi bahwa dominasi aliran magma
berasal dari arah selatan di bawah Merapi. Kemanfaatan bagi
kerekayasaan dari penelitian ini adalah dengan mendapatkan
relokasi sumber gempa bumi yang akurat dan memperoleh struktur
3-D kecepatan yang terperinci dapat menjadi masukan informasi
untuk analisis proses tektonik, analisis kegempaan dan pemetaan
zonasi bencana gempa bumi dalam rangka usaha mitigasi bencana
gempa bumi di wilayah Jawa bagian tengah.
B. Hipotesis
Pencitraan struktur kecepatan gelombang seismik dengan menguji
metode tomoDD dan gabungan data gempa bumi MERAMEX dan
BMKG dapat mencitrakan struktur kecepatan gelombang seismik
dengan lebih terperinci di wilayah Jawa bagian tengah. Selain itu,
struktur kecepatan baru yang diperoleh dapat memberikan
kenampakan tektonik yang belum tercitrakan pada penelitian
tomografi sebelumnya.
D. Data dan Metode Penelitian
D.1 Geologi Dan Tektonik Jawa Bagian Tengah
Lempeng India-Australia diperkirakan bergerak dengan kecepatan
677 mm/tahun dengan arah mendekati normal terhadap palung
Sunda (Tregoning dkk., 1994). Konsekuensi tunjaman lempeng
tersebut adalah tingkat kegempaan yang tinggi dan terdapat lebih
dari 20 gunung api aktif. Selain itu, konsekuensi kondisi tektonik
memberikan empat pola busur atau jalur magmatisme yang
terbentuk berupa formasi batuan empat jalur magmatisme, yaitu:
Jalur vulkanisme Eosen hingga Miosen Tengah yang terwujud
sebagai zona pegunungan selatan. Jalur vulkanisme Miosen atas
hingga Pliosen terletak di sebelah utara jalur pegunungan selatan
yang berupa intrusi lava dan batuan beku; Jalur vulkanisme Kuarter
busur samudera terdiri atas sederetan gunung api aktif. Jalur
vulkanisme Kuarter busur belakang, berupa sejumlah gunung api
yang berumur kuarter yang terletak di belakang busur vulkanik aktif
sekarang. Pada Gambar 1 ditunjukkan fisiografi Jawa bagian tengah.

Gambar 1. Peta wilayah penelitian dan beberapa kenampakan


geologi di Jawa bagian tengah (modifikasi dari van
Bemmelen, 1949).
D.2 Data
Dalam penelitian ini dilakukan inversi gabungan dari katalog data
gempa bumi MERAMEX (MERapi Amphibious Experiment) dan
BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) (Gambar
2). Data katalog gempa bumi MERAMEX berasal dari rekaman
gempa bumi oleh jaringan seismograf temporal yang dipasang di
sekitar Jawa bagian tengah dan Yogyakarta oleh proyek
MERAMEX, mulai bulan Mei hingga Oktober 2004. Jumlah gempa
bumi yang terekam selama periode pengamatan adalah 292 gempa
bumi.
Data gempa bumi regional yang digunakan berasal dari buletin
bulanan gempa bumi hasil rekaman jaringan seismograf permanen
regional dari Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia

(InaTEWS), BMKG. Jumlah stasiun seismograf BMKG yang


digunakan adalah 36 stasiun, yang terletak di Lampung, Jawa dan
Bali. Katalog data gempa bumi BMKG berjumlah 1.606 gempa
bumi yaitu gempa bumi yang terjadi di wilayah Jawa (5 - 11 LS
dan 105 - 115 BT) dari April 2009 hingga Februari 2011.
Magnitudo gempa bumi tersebut berkisar 2 - 7,5 pada skala Richter
dan kedalaman berkisar 2 - 684 km. Dari katalog data gempa bumi
BMKG dilakukan seleksi dengan kriteria setiap gempabumi
memiliki rekaman minimal 10 fase gelombang P atau S sehingga
diperoleh 882 gempa bumi. Jumlah data waktu tempuh dari
gabungan katalog data gempa bumi MERAMEX dan BMKG adalah
15.364 untuk gelombang P dan 8.298 untuk gelombang S.

Gambar 2. Distribusi gabungan katalog data gempa bumi


MERAMEX dan BMKG (lingkaran hitam). Segitiga
magenta dan kuning menunjukkan masing-masing
169 seismograf MERAMEX dan 36 seismograf
BMKG.

D.3 Metode Tomografi double-diffrence


Pencitraan tomografi seismik didefinisikan sebagai suatu
rekonstruksi struktur kecepatan dari observasi besaran fisis (waktu
tiba gelombang atau bentuk gelombang (waveform)) yang
merepresentasikan efek dari penjalaran suatu bentuk radiasi melalui
benda yang diamati. Waktu tiba gelombang badan ( ) dari sebuah
gempa i ke stasiun k dapat dinyatakan menggunakan teori penjalaran
sinar (ray theory) sebagai sebuah integral lintasan:
(1)
i

dimana adalah waktu kejadian (origin time) dari gempa ke-i, u


adalah medan slowness dan ds adalah sebuah elemen dari panjang
lintasan. Hubungan antara waktu tiba dan lokasi gempa adalah
sangat tidak linier, kelinieran ini menghubungkan misfit antara
waktu tiba observasi dan waktu tiba teoritis
terhadap perturbasi
yang sesuai dengan hiposenter dan parameter struktur kecepatan,
dapat dituliskan sebagai:
(2)
Penulisan yang sama juga berlaku untuk gempa ke-j yang juga
terobservasi pada stasiun k, sehingga pengurangan persamaan untuk
gempa i dan j didapatkan:
(3)
dimana
adalah selanjutnya disebut double-difference (DD)
(Waldhauser dan Ellsworth, 2000).
adalah perbedaan antara
waktu tiba gelombang diferensial observasi dan kalkulasi (teoritis)
untuk dua buah gempa, dan dapat dituliskan sebagai:
(4)
Bentuk matriks dari tomoDD (Zhang dan Thurber, 2003)
selanjutnya dapat dituliskan sebagai berikut:
(5)

dimana
adalah matrik parsial derivatif yang
berhubungan dengan hiposenter dan waktu terjadinya gempa (origin
time),
adalah vektor perturbasi dari lokasi gempa bumi
dan waktu terjadinya gempa,
adalah matrik model
derivatif (panjang lintasan) dari model slowness,
adalah
vektor perturbasi slowness dan
adalah vektor residual
waktu tiba, dan
adalah operator difference.
Model kecepatan referensi gelombang P dari permukaan hingga
kedalaman 20 km merupakan interpolasi dari model oleh Wagner
dkk. (2007), sedangkan untuk kedalaman lebih dari 20 km berasal
dari interpolasi dari ak135 Model (Kennett et al., 1995). Model
referensi gelombang S diperoleh menggunakan nilai yang
ditentukan dari Vp/Vs yaitu 1,74 (Tabel 1).
Parameterisasi model horizontal untuk inversi tomoDD
menggunakan titik-titik grid berjumlah 18 titik (timur-barat) dan 16
titik (utara-selatan), dengan rotasi 10 dari arah utara seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 3. Distribusi grid horizontal adalah 20 km
x 20 km di bagian timur, dan distribusi grid 25 km x 25 km di
bagian barat Jawa bagian tengah, sedangkan jumlah lapisan vertikal
adalah 14.
Tabel I. Model awal (1-D) kecepatan gelombang P.

10

Gambar

3.

Peta wilayah penelitian. Tanda plus hitam


menggambarkan grid node jaringan yang digunakan
dalam inversi tomografi. Jarak antara titik grid di
bagian timur Jawa bagian tengah adalah 20 km x 20
km, dan 25 km x 25 km di bagian barat. Lingkaran
hitam menunjukkan distribusi episenter gempa
bumi. Segitiga kuning dan magenta masing-masing
adalah stasiun MERAMEX dan BMKG.

11

E. Hasil Penelitian
E.1 Hasil inversi data gempa bumi MERAMEX
Hasil inversi tomoDD dari katalog data gempa bumi MERAMEX di
Jawa bagian tengah mengindikasikan adanya zona anomali
kecepatan rendah di sekitar wilayah Merapi-Lawu (MLA) yang
konsisten dengan hasil penelitan terdahulu. Zona anomali MLA
kemungkinan adalah fluida atau melted material yang tertutup
sedimen tebal. Pada Gambar 4 ditunjukkan kartun sketsa indikasi
suplai magma Gunung Merapi tidak berasal dari MLA tetapi akibat
migrasi fluida langsung dari slab dari arah selatan bawah Gunung
Merapi. Posisi hiposenter gempa bumi Yogyakarta 2006
kemungkinan pada kedalaman 35 km yaitu pada kerak rigid di batas
antara dua blok anomali kecepatan rendah, gempa bumi tersebut
kemungkinan terjadi akibat kompresi masif di kerak forearc (dari
arah selatan) pada media yang heterogen.

Gambar

4. Sketsa interpretasi yang menggambarkan kompresi


kerak forearc (Fx) pada zona batas anomali yang
merupakan zona lemah, kompresi ini kemungkinan
sebagai pemicu gempa bumi Yogyakarta, 27 Mei
2006. R adalah gaya dorong slab dan Fy adalah
komponen vertikalnya.

12

Gambar 5. Kartun sketsa interpretasi penampang vertikal plot


hiposenter relokasi, sketsa menggambarkan subduksi
slab, magma G. Merapi, dan double seismic zone.
Lingkaran biru adalah hiposenter setelah relokasi,
bintang merah adalah fokus gempa bumi Yogyakarta
2006.

Pada Gambar 5 ditunjukkan kartun sketsa hasil relokasi katalog data


gempa bumi MERAMEX menggunakan tomoDD, distribusi
hiposenter secara umum terlihat dan menghasilkan sebaran
kedalaman gempa bumi yang mengindikasikan dengan lebih jelas
zona seismik ganda.

13

E.2 Hasil inversi data Gempa bumi MERAMEX dan BMKG


E.2.1 Hasil Uji Checkerboard

Gambar 6. Hasil uji checkerboard gelombang P pada kedalaman 5


km, 15 km dan 35 km, gambar pada kolom bagian
sebelah kiri, tengah dan kanan masing-masing adalah dari
data MERAMEX, data BMKG, dan gabungan data
MERAMEX dan BMKG.

14

E.2.2 Tomogram Vp, Vs dan Vp/Vs

Gambar 7. Hasil inversi tomoDD: (a) gelombang P, (b) gelombang S


dan (c) Vp/Vs, plot tomogram hanya untuk grid node
dengan nilai DWS lebih besar dari 500. Segitiga
berwarna coklat adalah lokasi gunung berapi.

15

E.2.3 Tomogram Vp dan plot episenter gempa bumi Yogyakarta


(2006) dan gempa bumi Brebes (2013)

Gambar 8. Plot episenter gempa bumi Yogya (2006) dan gempa


bumi Brebes (2013) pada tomogram kecepatan
gelombang P dan S.

16

Peningkatan resolusi hasil inversi gabungan menggunakan tomoDD


pada kedalaman 5, 15, dan 35 km ditunjukkan pada Gambar 6.
Gambar 7 a-c menunjukkan peta tomogram distribusi horizontal,
masing-masing adalah distribusi Vp, Vs dan Vp/Vs. Beberapa fitur
yang tidak teridentifikasi pada inversi hanya menggunakan data
MERAMEX (Gambar 7) terutama wilayah Jawa Tengah bagian
barat dapat dengan jelas dicitrakan. Hasil inversi tomografi
mengindikasikann zona anomali kecepatan rendah di permukaan (5
km) pada zona Lawu-Merapi. Keberadaan anomali ini konsisten
dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Koulakov dkk. (2007).
Tomogram struktur kecepatan gelombang seismik yang diperoleh
juga mengindikasikan beberapa fitur penting yang belum
diidentifikasi pada penelitian sebelumnya, seperti zona anomali
kecepatan rendah di wilayah Cilacap-Banyumas dan zona anomali
kecepatan rendah di Kebumen (Karangsambung) (Gambar 8).
Pada Gambar 7.c ditunjukkan distribusi horizontal nilai Vp/Vs,
model Vp/Vs diplot hanya untuk titik grid dengan DWS DWS> 500,
baik gelombang P ataupun S. Zona anomali kecepatan rendah yang
kuat dengan Vp rendah, Vs rendah dan Vp/Vs rendah (<1,6)
teridentifikasi antara zona Cilacap-Banyumas. Fitur ini
kemungkinan mengindikasikan material fluida dengan rasio aspek
tinggi (high aspect ratio) atau sedimen. Zona ini memiliki
kesesuaian dengan keberadaan basin yang berisi sedimen di wilayah
tersebut. Zona anomali negatif di Kebumen bersesuaian dengan
zona yang diperkirakan sebagai ekstensi basin laut di permukaan
(Gambar 8). Vp rendah, Vs rendah dan Vp/Vs rendah dalam kerak
bumi tepat di bawah gunung api aktif di wilayah penelitian
mengindikasikan dominasi H2O dengan rasio aspek tinggi (bukan
hanya material leleh). Londono (2002) mengidentifikasi zona
anomali Vp dan Vp/Vs rendah ditemukan disekitar kawah aktif pada
kedalaman 0-2 km dari puncak Gunung Nevada del Ruis
(Columbia), zona anomali ini berasosiasi dengan sistem geotermal
yang didominasi oleh uap.

17

E.2.4 Tomogram Irisan Vertikal Vp

Gambar 9. Penampang vertikal: (a) tomogram gelombang P dan (b)


hasil uji checkerboard. Lingkaran coklat adalah
hiposenter setelah relokasi, garis abu-abu adalah slab
model global USGS.

18

Gambar 10. Plot posisi sumber gempa bumi Yogya (2006) dan
gempa bumi Brebes (2013) pada irisan vertikal
tomogram kecepatan gelombang P.

Gambar 11. Kartun sketsa interpretasi penampang vertikal tomogram


kecepatan gelombang P, sketsa menggambarkan subduksi
slab (anomali positif), magma (anomali negatif), fokal
mekanisme gempa bumi Yogyakarta 2006 dan double
seismic zone.

19

Pada Gambar 9 disajikan penampang vertikal tomogram Vp (kiri)


dan uji chekerboard (kanan), tomogram ini mengindikasikan adanya
beberapa fitur struktural yang menonjol, seperti misalnya,:
penampang vertikal A-A' menggambarkan anomali kecepatan tinggi
di bawah bagian barat Jawa Tengah, yang mengindikasikan
subduksi lempeng Indo-Australia (Rohadi dkk., 2013). Penampang
vertikal C-C' menegaskan perbedaan dari hasili penelitian
sebelumnya oleh Koulakov dkk. (2007) yaitu bahwa magma berasal
vertikal dari bawah Merapi, tetapi dari tomogram (Gambar 10) dan
sketsa kartun (Gambar 11) tampak bahwa magma cenderung berasal
dari arah selatan bawah Merapi (Rohadi dkk., 2013). Anomali
kecepatan rendah di bawah Cilacap, Banyumas bersesuaian dengan
keberadaan basin di wilayah tersebut. Zona anomali kecepatan
rendah di Karangsambung, Kebumen mengindikasikan bersesuaian
dengan tempat ekstensi basin samudera di permukaan (Rohadi dkk.,
2013). Anomali kecepatan rendah di bawah Cilacap, Banyumas dan
Yogakarta dengan jelas mengindikasikan zona tersebut berbatasan
dengan zona anomali kecepatan tinggi (Gambar 8, 9). Zona anomali
seperti ini merupakan zona lemah sehingga bila terjadi akumulasi
stress maka sangat berpotensi terjadi gempa bumi. Stress pada zona
ini dapat berasal dari aktivitas subduksi dan dinamika kerak bumi
oleh pengaruh temperatur dan tekanan tinggi dari material dalam
kerak bumi.
Hasil relokasi hiposenter ditunjukkan pada Gambar 12 dan 13, pada
gambar 12 ditunjukkan distribusi sumber gempa bumi hasil relokasi
tomoDD mengindikasikan zona seismik ganda. Keberadaan bidang
kegempaan bagian bawah kemungkinan akibat proses dehidrasi
H2O (dehidrationi embritelment), namun tidak menutup
kemungkinan akibat pengaruh lain seperti unbending plate
(Hasegawa, 1983).
Inversi menggunakan tomoDD dilakukan dengan dua skema, skema
inversi pertama hanya inverse relokasi hiposenter. Pada skema
inversi kedua, inversi dilakukan secara simultan antara relokasi
hiposenter dan struktur kecepatan 3-D. Histogram residual waktu
tempuh menunjukkan bahwa residual lebih dominan mendekati nol
ketika inversi simultan (Gambar 14).

20

E.2.5 Relokasi Hiposenter

Gambar 12. Plot proyeksi hiposenter setelah relokasi pada jarak 50


km di kiri dan kanan dari garis proyeksi A-A dan B-B
(b).

21

Gambar 13. Sebaran episenter: (a) sebelum relokasi dan (b) setelah
relokas menggunakan tomoDD.

Gambar 14. Perbandingan histogram dari residual waktu tempuh


berdasarkan hasil inversi tomoDD menggunakan (a)
struktur kecepatan 3-D konstan dan (b) struktur
kecepatan 3-D diperbarui.

22

F. Kesimpulan dan Saran


Hasil inversi tomografi menggunakan gabungan katalog data gempa
bumi MERAMEX dan BMKG mengindikasikan adanya anomali
kecepatan rendah di zona Merapi-Lawu. Zona
anomali ini
kemungkinan adalah sebuah basin besar berisi sedimen. Zona
anomali di zona Merapi-Lawu konsisten dengan hasil inversi hanya
menggunakan data MERAMEX dan konsisten dengan hasil
penelitian tomografi sebelumnya. Zona anomali kecepatan rendah
yang kuat dengan Vp rendah, Vs rendah dan Vp/Vs rendah yang
teridentifikai di wilayah penelitian kemungkinan merupakan
material yang memiliki aspek rasio tinggi atau lapisan sedimen.
Zona anomali di Banyumas bersesuaian dengan keberadaan basin
yang berisi sedimen. Zona anomali kecepatan rendah di
Karangsambung, Kebumen bersesuaian dengan ekstensi basin
samudera di permukaan, zona ini merupakan palung samudera di
masa Kapur. Penampang vertikal dari tomogram Vp
mengindikasikan bahwa suplai magma Gunung Merapi tidak
vertikal dari bawah tetapi cenderung muncul dari selatan bawah
Gunung Merapi pada kedalaman sekitar 40 hingga 50 km. Subduksi
lempeng Indo-Australia jelas teridentifikasi di bawah bagian barat
Jawa bagian tengah yang dicitrakan sebagai pola anomali kecepatan
tinggi.
Meskipun demikian dari hasil penelitian ini, beberapa fitur
terperinci tetap belum dapat terungkap disebabkan keterbatasan
cakupan data gempa bumi dan densitas stasiun. Oleh karena itu,
penelitian lebih lanjut sangat diperlukan dengan meningkatkan
cakupan data seismik dari jaringan seismograf yang lebih rapat.
Selain itu penelitian pemodelan gravitasi dan magnetik untuk
menghasilkan model yang realistis terkait dengan zona anomali
terutama di wilayah Cilacap-Banyumas dan Kebumen.

23

G. Temuan Disertasi
Disertasi ini menghasilkan beberapa temuan beberapa fenomena
tektonik yang belum ada pada penelitian sebelumnya, meliputi:
-

Katalog gempa bumi relokasi hasil inversi simultan yang lebih


akurat.
Struktur kecepatan gelombang P dan S di wilayah Jawa bagian
tengah dengan batas diskontinuitas struktur terhadap
kedalaman teridentifikasi dengan jelas.
Indikasi kenampakan tektonik yang belum ada pada penelitian
terdahulu, seperti anomali kecepatan rendah di bawah CilacapBanyumas, Kebumen (Karangsambung).
Indikasi yang jelas dari subduksi slab di bagian barat Jawa
Tengah.
Indikasi bahwa dominasi aliran magma berasal dari arah
selatan di bawah Merapi.

Kemanfaatan bagi kerekayasaan dari penelitian ini adalah dengan


mendapatkan relokasi sumber gempa bumi yang akurat dan
memperoleh struktur 3-D kecepatan yang terperinci dapat menjadi
masukan informasi untuk analisis proses tektonik, analisis
kegempaan dan pemetaan zonasi bencana gempa bumi dalam rangka
usaha mitigasi bencana gempa bumi di wilayah Jawa bagian tengah.

24

DAFTAR PUSTAKA
Fukao, Y., Obayashi, M., Inoue, H., dan Nenbai, M. (1992):
Subducting slabs stagnant in the mantle transition zone,
Journal of Geophysical Research, 97, 48094822.
Hasegawa, A., Umino, N., dan Takagi, A. (1978): Double- planed
deep seismic zone and upper-mantle structure in the
Northeastern Japan Arc, Journal of Geophysical Research ,
54, 281-296
Kennett, B. L. N., Engdahl, E. R., dan Buland, R. (1995):
Constraints on seismic velocities in the Earth from
traveltimes, Geophysics Journal International., 122, 108
124.
Koulakov, I., Bohm, M., Asch, G., Luhr, B.-G., Manzanares, A.,
Brotopuspito, K. S., Fauzi, Purbawinata, M. A., Puspito, N.
T., Ratdomopurbo, A., Kopp, H., Rabbel, W, dan
Shevkunova, E. (2007): P- and S-velocity structure of the
crust and the upper mantle beneath central Java from local
tomography inversion, Journal of Geophysical Research,
112, B08310, doi:10.1029/2006JB004712.
Koulakov, I. (2009): Out-of-network events can be of great
importance for improving results of local earthquake
tomography, Bull. Seism. Soc. Am., 99, 25562563.
Londono, J.M. (2002): A Seismic Model for the Volcanic Activity
of Nevado del Ruiz Volcano, Colombia, Ph.D Thesis, Kyoto
University.
Pavlis, G.L. (1986): Appraising earthquake hypocenter location
errors: a complete practical approach for single-event
location. Bull Seism. Soc. Am, 1600-1717.
Puspito, N. T., Yamanaka, Y., Miyatake, T., Shimasaki, K., dan
Hirahara, K. (1993): Three-dimensional P-wave velocity
structure beneath the Indonesian region, Tectonophysics, 220,
175192.
Puspito, N.T and K. Shimazaki, K. (1995): Mantel structure and
seismo-tectonics of the Sunda and Banda arcs,
Tectonophysics, 251, 215-228.
Rohadi, S., Widiyantoro, S., Nugraha A. D., dan Masturyono
(2013): Tomographic Imaging of P- and S-wave Velocity
Structure Beneath Central Java, Indonesia: Joint Inversion

25

of the MERAMEX and MCGA Earthquake Data, the


International Journal of Tomography and Simulations, IJTS,
Issue No. 3, Vol. 24.
Van Bemmelen, R. W. (1949): The Geology of Indonesia, Vol. 1A,
732 pp., Government Printing Office, The Hague,
Netherlands.
Wagner, D., Koulakov, I., Rabbel, W., Luehr, B-G, Wittwer, A.,
Kopp, H., Bohm, M., dan Asch, G. (2007): Joint inversion of
active and passive seismic data in central Java, Geophys. J.
Int.,
170
(2),
923-932,
doi:
10.1111/j.136546X.2007.03435.x.
Waldhauser, F., dan Ellsworth, W. L. (2000): A double-difference
earthquake location algorithm: Method and application to the
Northern Hayward Fault, California, Bull. Seism. Soc. Am.,
90, 13531368.
Wessel, P., dan Smith, W. M. F. (1991): Free software helps map
and display data, Eos Trans. AGU, 72 (41), 441.
Wessel, P., dan Smith, W. H. F. (2003): The Generic Mapping Tools
Version 3.4.3.
Widiyantoro, S. (2008): Seismisitas dan Model Zona Subduksi di
Indonesia Resolusi Tinggi, Seminar Haki.
Widiyantoro, S., dan van der Hilst, R. D. (1996): Structure and
evolution of lithospheric slab beneath the Sunda arc,
Indonesia, Science, 271, 15661570.
Widiyantoro, S., dan van der Hilst, R. D. (1997): Mantle structure
beneath Indonesia inferred from high-resolution tomographic
imaging, Geophysics Journal International, 130, 167182.
Widiyantor, S. dan Puspito, N.T. (1998) : Tomografi Waktu
Tempuh Gelombang S dan Struktur 3-D Zona Penunjaman
Di Bawah Busur Sunda, JMS, Vol. 3 No. 2, 97 -104.
Zhang, H., dan Thurber, C. H. (2003): Double-difference
tomography: The method and its application to the Hayward
fault, California, Bull. Seism. Soc. Am., 93(5), 18751889.
United
States
Geological
Survey
web
page.
http://earthquake.usgs.gov/
earthquakes/eqarchives/epic/epic_rect.php.
United
States
Geological
Survey
web
page.
http://earthquake.usgs.gov/research/ data/slab/

26

CURICULUM VITAE

1.

2.

Data Pribadi
Nama
Pekerjaan
II Tempat/ Tgl Lahir
Keluarga
puteri

: Supriyanto Rohadi
: PNS BMKG, staf Balai Besar Wilayah
: Purworejo, 28 Oktober 1969
: Pudji Setyani M.Si. (Istri), dan 3 (tiga)

Riwayat Pendidikan
1983 SD Negeri Sumbersari, Purworejo
1986 SMP Negeri 5 Purworejo
1989 SMA Negeri 1 Purworejo
1993 AMG Jakarta
2000 S1 Fisika, Universitas Indonesia
2008 S2 Sains Kebumian ITB

Sejak tahun 1995 ia bekerja di Badan Meteorologi Klimatologi dan


Geofisika (BMKG) sebagai staf pada Balai Besar Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika Wilayah II Ciputat sampai sekarang.
Dari pernikahannya dengan Pudji Setyani, M.Si., penulis dikarunia
tiga orang puteri, Nurul Alma Febriyanti (15 tahun), Nurul Hana
Wulandari (12 tahun) dan Nurul Risa Danastri (3 tahun).

27

Jurnal Ilmiah/ Prosiding dan Seminar Ilmiah selama mengikuti


program S3
1. Jurnal/Prosiding Ilmiah Internasional
1. Rohadi, S., Widiyantoro, Nugraha A.D., dan Masturyono,
(2013) : Tomographic Imaging of P- and S-wave Velocity
Structure Beneath Central Java, Indonesia: Joint Inversion
of the MERAMEX and MCGA Earthquake Data, the
International Journal of Tomography and Simulations, IJTS,
Issue No. 3, Vol. 24.
2. Rohadi, S., Widiyantoro, Nugraha A. D., dan Masturyono,
(2013) : Tomographic Imaging of Central Java, Indonesia:
Preliminary Result of Joint Inversion of the MERAMEX and
MCGA Earthquake Data, AIP Conference Proceedings 2013.
3. Nugraha, A. D., Sakti, A. P., Rohadi, S., dan Widiyantoro,
S.: Geological Features Inferred from Local Seismic
Tomography in the Sunda Strait and West Java regions,
Indonesia, Poster Session, AGU Fall Meeting, 3-7 Desember
2012, San Francisco.
2. Jurnal/Prosiding Ilmiah Nasional
1. Rohadi, S., Widiyantoro, Nugraha A.D., and Masturyono,
(2012) : Relokasi Hiposenter Menggunakan Inversi
Tomografi Double-Difference Simultan dan Data Dari
Katalog MERAMEX, JTM Vol.XIX ITB, 2012.
2. Rohadi, S., Widiyantoro, Nugraha A.D., and Masturyono,
(2012) : Pencitraan Struktur 3-D Kecepatan Gelombang
Seismik Menggunakan Metode Tomografi DoubleDifference dan Data Gempa di Jawa Tengah, JTM Vol.XIX
ITB, 2012.
3. Rohadi, S., Widiyantoro, Nugraha A.D., and Masturyono,
(2012) : Pencitraan Struktur 3-D Kecepatan Gelombang
Seismik Menggunakan Metode Tomografi DoubleDifference dan Data Gempa di Jawa Tengah (Preliminary
Result), PROCEEDINGS PIT IAGI ke 41, Yogyakarta 2012.
4. Yadnya, P.K., Nugraha, A.D., Rohadi, S.: Pencitraan
Struktur 3-D Vp, Vs, Rasio Vp/Vs Menggunakan Tomografi
Double Difference di Wilayah Bali, J. Geofisika Vol. 13
No.1/2012

28

5.

6.

3.
1.

2.
3.
4.
5.

4.
1.

2.
3.
4.
5.

Rohadi, S., Widiyantoro.S, Nugraha A.D., and Masturyono:


Pencitraan Struktur 3-D Kecepatan Gelombang Seismik
Menggunakan Metode Tomografi Double-Difference dan
Data Gempa di Jawa Tengah, Abstrak PIT HAGI ke 37,
Palembang 2012.
Rohadi, S., Widiyantoro, S., Nugraha A.D., and Masturyono
: Relokasi Gempa Menggunakan Metode Tomografi DoubleDifference Dan Data Gempa Di Jawa Tengah, Abstrak PIT
HAGI ke 36, Makasar 2011.
Seminar/ konferensi Internasional yang diikuti selama
penelitian:
Workshop and International Seminar of Earthquake and
Precursor Preparedness, Bukit Tinggi, Indonesia, 16-20
November 2009, pembicara.
ITBNTU Earth Sciences Seminar, Singapore 26-27 April
2011, pembicara.
AOGS-AGU joint Assembly Singapore, 13-17 Agustus 2012,
pembicara.
AOGS Annual Meeting, 24-28 Juni 2013, Brisbane, Australia,
poster session.
Padjadjaran International Physics Symposium 2013,
Jatinangor-Bandung, Jawa Barat 7-9 Mei 2013, pembicara.
Seminar/ konferensi Nasional yang diikuti selama
penelitian:
Simposium Nasional Gempa bumi dan Tektonik Aktif,
GREAT ITB, Aula Barat ITB, 10-11 Januari 2011,
pembicara.
Seminar PIT HAGI ke-36 26-29 September 2011, Makasar,
pembicara.
Seminar PIT HAGI ke-37 10-13 September 2012,
Palembang, pembicara.
Seminar PIT IAGI ke-41 17-20 September 2012,
Yogyakarta, pembicara.
Simposium Nasional II Gempa bumi dan Tektonik Aktif,
GREAT ITB, Aula Timur ITB, 29-30 Nopember 2012,
pembicara.

29

UCAPAN TERIMA KASIH


Segala puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, atas
rahmat dan karunia Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
disertasi ini. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada berbagai pihak yang telah memberikan bantuan,
baik moril maupun materiil terutama kepada:
1. Prof. Sri Widiyantoro Ph.D.., Dr. Andri Dian Nugraha, Dr.
Masturyono, atas segala saran, sebagai ketua dan anggota
Tim Pembimbing atas bimbingan, bantuan, dan nasihatnya
selama penelitian berlangsung dan penulisan disertasi ini.
2. Tim Penguji Prof. Nanang T. Puspito, Prof. Dr. Awali
Priyono, Dr. Afnimar, Dr. Irwan Meilano. Terima kasih
kepada Ivonne M. Radjawane sebagai ketua program studi
Sains Kebumian serta tim KPPS (Prof. Widyo Nugroho
Sulasdi. Ph.D., Dr Dadang K. Miharja, dan Dr. Tri Wahyu
Hadi).
3. Dr. Andi Eka Sakya, Kepala BMKG dan Dr. Ir. Sri Woro B.
Harijono, M.Sc., mantan Kepala BMKG.
4. Dr. Prih Harjadi, Deputi Geofisika BMKG.
5. Dr Hendar Gunawan, Kapus Diklat BMKG.
6. Dr. Suko Prayitno Adi selaku Direktur Akademi Meteorologi
dan Geofisika atas bantuannya.
7. Kepala Balai Besar MKG Wilayah II.
8. Bude dan Pakde Edi, Bude Ero, Winarno S.Si dan semua
saudara atas dukungannya.
9. Terimakasih juga kami sampaikan kepada rekan Iman Suardi,
David P. Sahara, Suaidi, Sugeng P., Rasmid, Artadi, Hendro
N., Indra G., Endarwin, Agus S dan Deni . Terimakasih juga
kami ucapkan kepada Pak Maman, Pak Ang, Pak Udin, Teh
Euis, Bu Sari, dan semua staf administrasi serta semua
teman-teman yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu.
Penulis
juga
mengucapkan
terima
kasih
kepada
GeoForschungsZentrum, dan BMKG untuk dapat menggunakan
data gempa bumi. Penulis juga berterima kasih kepada H. Zhang
untuk kode tomoDD yang digunakan dalam penelitian ini. The
Generic Mapping Tools (GMT) (Wessel dan Smith, 1991 dan 2003.

30