Anda di halaman 1dari 23

Klasifikasi ASA

Klasifikasi status fisik yang lazim digunakan untuk menilai kebugaran fisik seseorang ialah
yang berasal dari The American Society of Anesthesiologist (ASA). Klasifikasi ASA antara
lain :
ASA I
: pasien dalam kondisi sehat
ASA II : pasien dengan kelainan sistemik ringan sedang yang tidak berhubungan dengan
pembedahan, dan pasien masih dapat melakukan aktivitas sehari-hari.
ASA III : pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas
ASA IV : pasien dengan kelainan sistemik berat tidak dapat melakukan aktivitas rutin dan
penyakitnya merupakan ancaman kehidupannya setiap saat (mengancam jiwa dengan atau
tanpa pembedahan).
ASA V
: pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun dioperasi atau tidak.
ASA VI : brain-dead
Jika akan dilakukan operasi darurat dapat mencantumkan tanda darurat E.

KLASIFIKASI ASA (The American Society Of Anesthesiologists)


Skor ASA (the American Society of Anesthesiologists) telah digunakan bertahun-tahun
sebagai indikator risiko perioperatif. Panitia ASA pertama kali mengemukakan konsep skor
tersebut pada tahun 1941, sebagai metoda untuk standarisasi status fisik di rekam medis
rumah sakit untuk kajian statistik di bidang anestesia. Hanya serangkaian perubahan kecil
telah dikenakan selama bertahun-tahun dan versi mutakhir dari klasifikasi ini yang
diselesaikan pada tahun 1974 oleh the House of Delegates of the ASA disajikan pada Tabel
6.1. pasien diberi skor menurut kebugaran fisik mereka dan hurup E ditambahkan jika
prosedur yang direncanakan bersifat darurat (emergensi).
Walaupun skor mudah dan praktis digunakan, skor ini kurang ketepatan ilmiah dalam
penerapannya. Dokter anestesi mungkin tidak setuju terhadap kalsifikasi yang tepat untuk
pasien-pasien tertentu.
Tabel 6.1 klasifikasi ASA dari status fisik
Kelas Status fisik
I
Pasien normal yang sehat
II
III

IV

Pasien dengan penyakit


sistemik ringan
Pasien dengan penyakit
sistemik berat yang tidak
melemahkan
(incapacitating)
Pasien dengan penyakit
sistemik yang melemahkan
dan merupakan ancaman
konstan terhadap kehidupan
Pasien sekarat yang
diperkirakan tidak bertahan
selama 24 jam dengan atau

Contoh
Pasien bugar dengan
hernia inguinal
Hipertensi esensial,
diabetes ringan
Angina, insufisiensi
pulmoner sedang
sampai berat
Penyakit paru stadium
lanjut, gagal jantung
Ruptur aneurisma
aorta, emboli paru
massif

tanpa operasi
Kasus-ksus emergensi diberi
tambahan hurup E ke
angka.
Di samping itu, risiko pembedahan dan pembiusan tergantung pada faktor-faktor lain yang
tidak dipertimbangkan atau dicakup dengan skor. Ini mencakup usia, berat badan, jenis
kelamin, dan kehamilan. Grade dokter spesialis bedah dan spesialis anestesi, fasilitas untuk
perawatan pasca bedah dan bantuan untuk tim bedah juga tidak diperhitungkan.
Skor ASA telah digunakan dalam kajian NCEPOD dan penggunaannya tersebar luas
pada banyak audit pembedahan dan anestesia. Telah diketahui bahwa risiko perioperatif
meninggi dengan skor ASA pasien. Akan tetapi walaupun berguna, keterbatasan skor ini
mencegahnya untuk berperan lebih dari penuntun kasar pada masing-masing pasien. Ada
beberapa sistem penentu skor prognostik yang lebih baik yang diuraikan dalam buku ini dan
berkenaan dengan kondisi-kondisi medis spesifik.
E

Parameter Respon Pasien


Skor
E
Respon membuka mata terbaik mata terbuka spontan 4
mata terbuka oleh seruan/panggilan 3
mata terbuka oleh rasa sakit 2
tidak ada respon membuka mata 1
M
Respon motorik terbaik mematuhi perintah verbal 6
gerakan terarah untuk merespon rasa nyeri 5
menarik anggota badan dari rangsang nyeri 4
fleksi kejang/abnormal 3
postur ekstensor (kaku) thd nyeri 2
tidak ada respon 1
V
Respon verbal terbaik
percakapan normal 5
percakapan kacau 4
mengucapkan kata-kata tidak jelas 3
bersuara 2
tidak bersuara 1
Skor GCS Total (E + M + V) = 3 sampai 15. Intrepretasi atas skor total GCS pada umumnya
adalah sebagai berikut:
* 15 = normal
* 13-15 = cedera kepala ringan
* 9-12 = cedera kepala sedang
* 3 8 = cedera kepala berat
* < 7 = koma
* 3 = koma dengan kematian otak
Manfaat GCS
Manfaat utama GCS adalah sebagai sistem klasifikasi universal untuk derajat keparahan
cedera otak. Hal ini memungkinkan para spesialis saling berkomunikasi lebih mudah karena
mereka mengacu pada patokan yang sama. Namun, validitas skor GCS tergantung pada
beberapa faktor. Skor GCS pada pasien di bawah pengaruh obat/narkoba, memiliki gangguan
wicara atau fungsi mata mungkin perlu interpretasi khusus.
Sumber http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2132379apakah-skala-koma-glasgow/#ixzz2McVCbe1a

Definisi :
Peristiwa ilangnya sensasi, perasaan ( panas, raba, posture ) dan nyeri bahkan hilangnya
kesadaran, sehingga memungkinkan dilakukannya tindakan pembedahan
Trias Anestesi :
1. Analgesia ( Hilangnya nyeri )
2. Hipnotik ( Hilang kesadaran )
3. Relaksasi otot ( Muscle Relaxan )
Ruang lingkup kerja anestesi :
1. Ruang operasi
2. ICU
3. UGD
Persiapan Anestesi :
Tujuan :
1. Mempersiapkan mental dan fisik penderita secara optimal
2. Merencanakan & memilih tehnik & obat-obat anestesi yang sesuai
3. Mengurangi angka kesakitan
4. Mengurangi angka mortalitas
Tahap :
1. Informed consent
2. Periksa keadan ummum pasien :
- Anamnesis
- Fisik diagnostik
- Pemeriksaan Lab
- Kelas / status penyakit
3. ASA Menentukan grade operasi
4. Masukan oral dibatasi ( Puasa )
5. Tehnik operasi
6. Resiko operasi
7. Premedikasi
Tujuan Premedikasi :
1. Menenangkan penderita
2. Mengurangi rasa sakit
3. Memudahkan induksi
4. Mengurangi dosis obat- obat anestesi
5. Menngurangi refleks yang tidak diinginkan
6. Mengurangi sekresi kelainan mulut & saluran nafas
7. Mencegah mual dan muntah pasca bedah
8. Mencegah penderita ingat situasi selama operasi ( menciptakan amnesia )
Obat obatan Premedikasi :
1. Sedativa, transquilizer
2. Analgetika narkotika
3. Alkaloid belladona :
- Anti sekresi
- Mengurangi efek vagal terhadap jantung dari obat-obat

- Impuls afferent abdomen, thorax, mata


4. Anti emetik
Klasifikasi Status Fisik :
- ASA I : Pasien normal / sehat
- ASA II : Pasien dengan penyakit sistemik ringan
- ASA III : Pasien dgn peny. Sistemik berat sehingga aktivitas rutin terbatas
- ASA IV : Pasien dengan peny. Sistemik berat tidak dapat melakukan aktivitas rutin dan
penyakitnya mengancam kematian
- ASA V : Pasien emergensi / muribund, dengan atau tanpa operasi hidupnya tidak lebih dari
24 jam
Tehnik Anestesi :
1. Umum ( Narkose Umum )
2. Lokal / Regional Anestesi
Yang membedakan : Kesadaran
Anestesi Umum
Tehnik :
1. Inhalasi
2. Intravena
3. Intra Muscular
- Pada operasi anak anak
- Operasi yang sebentar
Tehnik Penguasaan jalan nafas :
1. Sungkup
Dibagi 2 :
- Triple
- Manuver
Indikasi :
- Untuk operasi yang sebentar
- Untuk pasien yang posisinya tidak sulit
2. Intubasi ( ETT ) ada 2 :
a. Spontan : Nafas sendiri tanpa muscle relaxan
b. Kontrol : Dengan muscle relaxan
Indikasi Intubasi :
- Pasien operasi
- Pasien bukan operasi ( Cth : Stroke, gagal nafas, koma )
Komplikasi Intubasi :
a. Pada saat intubasi
Sudah terjadi kompilkasi
b. Selama Intubasi
- Aspirasi
- Trauma ggigi geligi
- Laserasi bibir, gusi, laring
- Hipertensi, takikardi
- Spasme Bronchus

c. Setelah Intubasi :
- Spasme laring
- Aspirasi
- Gangguan fonasi
- Edema glotis sunglotis
- Infeksi larinng, faring, trakhea
Indikasi anestesi umum
1. Infant & anak usia muda
2. Dewasa yang memilih anestesi ummum
3. Pembedahannya luas / eskstensif
4. Penderita sakit mental
5. Pembedahan lama
6. Pembedahan dimana anestesi lokal tidak praktis atau tidak memuaskan
7. Riwayat penderita tksik / alergi obat anestesi lokal
8. Penderita dengan pengobatan antikoagulantia
Anestesi Lokal :
Tehnik :
1. Topikal ( Anestesi permukaan )
2. Infiltrasi lokal
3. Field Block ( Anestesi / lapaangan )
4. Nerve Block ( Block Syaraf )
5. Spinal Block ( LCS )
6. Epidural Block
7. Intravenous local anestesi
Obat obat anestesi lokal :
1. Potensi rendah, lama kerja pendek
Ex : Procain, chloroprocain
2. Potensi sedang, lama kerja sedang
Ex : Lidocain, Mopivacain, prilokain
3. Potensi kuat, lama kerja panjang
Ex : Bupivacain , Tetracain
Golongan obat anestesi lokal :
1. Golongan eter ( -COOC )
Kokain, Benzokain, Ametocaine, Prokain ( Novokain), Tetrakain ( Pentokain ), Chloropocain
( Nesakain )
2. Golongan Amida ( NHCO )
Lidocain, Mepivacain, Prilocain, Bupivacain, Etidokain, Dibukain, ropivakain,
levobupivacain
Sebelum dilakuan sungkup atau intubasi ada : Induksi :
- Inhalasi
- Parenteral ( IV & IM )
Selama operasi harus ada pemantauan ( Tanda tanda vital : yaitu : Tensi, suhu, respirasi,
nadi ). Tujuannya adalah untuk mengurangi terjadinya komplikasi anestesi operasi.

Setelah operasi dilakukan :


Ekstubasi :
RR ( Recovery Room ) Bisa terjadi komplikasi juga. EX : Muntah, tensi tinggi, dll
Di RR : Setelah 2 jam atau kurang dihitung ALDRENE SCORE ( Sadar, tensi stabil, nafas
lagi )
Jika ALDRENE SCORE :
- > 8 Masuk ruang perawatan
- < 7 ICU
Indikasi pasien masuk ICU :
1. Gagal nafas
2. Gagal jantung
3. Koma
4. Post operasi besar
5. Post cardiac arrest
Selain itu pasien dari :
1. UGD ( Pasien karena trauma kapitis, stroke )
2. Ruang perawatan
Pasien masuk ICU diharapkan = harapan hidupnya lebih besar
Perioperatif :
1. Therapi cairan :
- Maintenance ( Pemeliharaan )
- Resusitasi ( Pasien shock, perdarahan )
Normal cairan didalam tubuh : 60 70 % BB/TBW ( Total body water )
2. Therapi darah :
Faktor yang mempengaruhi dosis obat :
1. Usia
2. Suhu
3. Emosi
4. Penyakit
Obat Premedikasi :
1. Golongan antikolinergik
- Atropin
- Scopolamin ( Hyoscine )
- Glycopyrolat
2. Golongan hipnotik sedative
- barbiturat : Phenobarbital ( Luminal )
- Benzodizepine , diazepam
3. Golongan Analgetik narkotik
- Morphin
- Petidin
4. Golongan Transquilizer ( Anti Histamin )
- Phenotiazine : Phenergen

- Chlorpomazine : Largactil
5. Golongan Nevroleptik
- Deperidol
- Dehydrobenzoperidol
Enteral :
Masuk Usus melalui NGT :
- Gastrostomi
- Yeyenostomi
- Illeustomi
Nutrien : Adalah zat nutrisi yang masuk dalam tubuh
1. Karbohidrat
2. Protein : 4 kal
3. Lipid : ( kal
4. Trace element
Kebutuhan kalori : 25 kal / kgBB
TBW :
- Cairan intrasel (40%)
a. Terdiri dari : kalium, Mg, fosfat (kalium paling banyak)
b. Otak, Hb, eritrosit
- Cairan Ekstrasel (20%)
a. Cairan interstisial (antar sel) : 15%
b. Plasma (cairan intravaskular) : 5%
c. Terdiri dari : Na, Cl (Na paling banyak)
Kehilangan cairan lebih dari 20 % harus di intervensi (dikompensasi).
Jenis jenis cairan :
1. Koloid (plasma ekspander) intravena
- Gelatin (lemak sel, gelafundin, gelofusin)
- Polimer dextrosa (dextran 40, dextran 70)
- Turunan kanji
- Hidroksi etil starch (haes, ekspafusin)
2. Kristaloid (elektrolit)
- Dextrosa 5 % (dewasa)
- Ringer laktat (RL)
- NaCl 0,9 %
- Asetat ringer (asering)
Indikasi transfusi darah :
1. Perdarahan akut sampai Hb < 8 gr % atau Ht < 30 %
Pada orang tua, kelainan paru, kelainan jantung,
Hb < 10 gr %
2. Bedah mayor kehilangan darah 20 % volume darah
RJPO (Resusitasi jantung dan paru)

Adalah tindakan untuk memulihkan keadaan pasien dengan tahapan A B C D.


Indikasi RJPO :
- Henti jantung
- Henti nafas
Therapi oksigen : Sebelum, selama, setelah operasi
Indikasi :
- Post operasi ada gangguan nafas (dekomp kordis)
- Depresi nafas
Kadar oksigen murni di ruangan : 20 21 %
Kadar oksigen dalam tabung : 100 %
teknik pemberian
1. Nasal kateter
2. Nasal kanul
3. Fis mas (sungkup) :
- non rebiliting (tanpa balon)
- rebiliting (dengan balon)
Tidal volume : 8 15
Minute volume (MV) = tidal volume x RR
Cardiac output (CO) = stroke volume x RR (5 8 liter)
Nutrisi : parenteral, enteral
Parenteral : Masuk ke pembuluh darah :
- Perifer, melalui : V. Radialis, V. Femoralis
- Sentral, melalui : pembuluh darah besar, V. Subclavia, V.cava.
Batasan kekentalan osmoler : 900 ml osm
900 ml osm sentral
Spinal
Indikasi :
Untuk pembedahan, daerah tubuh yang dipersyarafi cabang T 4 Kebawah
Kontra Indikasi ;
Kelainan pembekuan darah, syok hypopolemia, septocemia, Peningkatan tekanan
intrakranial, infeksi klulit pada daerah fungsi
Komplikasi :
- Dini : Gangguan pada sirkulasi, respirasi, GIT
- Terjadi kemudian ( Delayed )
Pemeriksaan Pra bedah / Persiapan pasien :
Dasar tinadakan pertolongan gawat darurat :
1. Evaluasi * pengendalian jalan nafas

2. Ventilasi dan oksigenasi


3. Pengendalian sirkulasi
4. Tindakan hemostatis
5. Evaluasi terhadap cedera
6. Monitoring
Kasus :
- Bedah Illeus, hernia incarcerata
- Kebidanan Plasenta previa, solutio plasenta
- Syaraf Perdarahan intra cranii, fraktur basis cranii
- Mata Trauma Bulbi
Penyakit :
- lambung penuh
- Syok
- Gangguan alektrolit & asam basa
- Kadar gula darah naik
Pengelolaan pasca Bedah :
1. Awasi keadaan vital
2. Perbaiki deposit cairan, darah dan elektrolit
3. Tangulangi penyakit yang menyertai
Pada Pasien tanpa mondok
Pilihan pasien :
1. Sebaiknya termasuk kategori ASA I, dapat status fisik ASA II
2. Pembedahan superfisial, bukan tindakan bedah didalam kranium, toraks atau abdomen
3. Lama pembedahan tidak melebihi 60 menit
4. Perdarahan & perubahan fisiologis yang terjadi minat
EX : - Insisi Abses
- Sirkumsisi
- Kuretase
- Hernia Inguinalis ( Pada anak )
- Reposisi fraktur
Syarat TM
1. Induksi cepat & lancar
2. Analgesi cukup baik
3. Cukup dalam untuk pembedahan
4. Masa pulih sadar cepat
5. Komplikasi anestesi pasaca bedah luminal
Tehnik Anestesi
- Lokal
- Prokain 1% 2,5%
- Lidokain 0,5% 1%
- Regional

- Intra vena - Block Subarachnoid


- Block regional - Umum
Komplikasi ( Nyeri kepala )
- Mual
- Muntah
- Nyeri pada otot
- Nyeri pada tenggorok
- Batuk batuk
Anestesi Obstetrik :
- Analgesi lokal
1. Spinal
2. Epidural
3. Caudal
4. Paraservcikal
Tehnik ini ( Anest. Obstetrik ) dikontraindikasikan pada :
- Infeksi didaerah fungsi
- Gangguan pembekuan darah
- Hipovolemia
- Pasien menolak
Hipotensi, muntah,meningitis/ encephalitis
- Komplikasi
1. Aspirasi paru
2. Gangguan respirasi
3. Gangguan kardiovasculer
Anestesi Pediatrik :
Permasalahan :
- Pernafasan - Suhu tubuh
- Kardio sirkulasi - Cairan tubuh
Massa anestesi :
- Intubasi
- Induksi inhalasi
- Induksi intravena

SEJARAH ILMU ANESTESI


16 Oktober 1846 dicatat sebagai revolusi dalam bidang
pengobatan. William T.G Morton menyediakan anestesi kepada
pasien bernama Edward G. A., menggunakan dietil eter untuk
pertama kali pada operasi pengangkatan lesi vaskuler pada leher
Edward. Nyeri yang diderita pada pasien ini tidak dirasakannya.
16 Oktober 1846, tanggal penting tentang sejarah pengobatan
tetapi juga penting terhadap penyediaan anestesi. Hal itu adalah
pengukuhan dari yang ahli untuk teknik pengurangan rasa sakit.
Diruang operasi, di medan perang, kamar bersalin, dan klinikklinik, pasien-pasien mendapat keuntungan dari team anestesi
yang mengikuti jejak para pendahulunya. Sebuah perusahaan
mengerti

aspek

bersejarah

dari

pembangunan

teknik

dan

teknologi dari anestesi dan sebuah penghargaan kepada segala


kepribadiaan yang mendalam atau ilmu anestesiologi, dimana
praktek untuk menguragi rasa sakit adalah lebih dari suatu skill
namun itu merupakan suatu seni.

SEJARAH AWAL ILMU ANESTESIAOLOGI


Latar Belakang
Kontrol sakit selama operasi tidak selalu sepenting seperti
sekarang ini. Penulis roman, Celcius menyatakan tanpa kasihan
adalah karakteristik esensial dri seorang ahli bedah, selama
berabad-abad. Meskipun beberapa ahli bedah mengaku bahwa

mereka menemukan elemen yang menyebabkan pekerjaannya


yang selalu terganggu, kebanyakan menjadi terbiasa dengan
kemauan dari pasien tersebut. Peelajar kedokteran bertanding
dengan

guru-guru

mereka,

biasanya

menghilangkan

segala

taksiran distress dari pasiennya sementara mereka mencatat apa


yang disaksikannya. Bahkan tulisan dari penulis dari pimpinan
ahli bedah biasanya menolak menulis nyeri pembedahan sebagai
topik diskusinya. Sebelum kedatangan anestesi, edisi 1842
elemen dari pembedahandari Robert Liston meliputi deskripsi
detail dari prosedur elektif dan emergensi pada ekstremitas,
kepala dan leher, dada dan genital, tapi mengabaikan diskusi dari
segala bentuk analgesik. Pada jaman Liston, dalam beberapa
tahun sebelumnya, nyeri merupakan hal yang dipertimbangkan
sebagai simptom yang penting.
Terhadap

perkenalandari

dietil

eter

yang

diberikan

sebelumnya, banyak ahli bedah menyetujui pendapat Liston,


bahwa nyeri merupakan konsekuensi yang pasti terjadi dari
pembedahan. Disamping pendapat-pendapat tersebut banyak
sarana

yang

dipergunakan

untuk

memperoleh

anestesi.

Dioscorides, ahli dari abad Iberkomentar bahwa Madragora, obat


yang dipersiapkan dari kulit pohon dan daun tanaman Manrake.
Dia menyatakan bahwa substansi tanaman dapat direbus dalam
anggur dan dipergunakan bila orang yang akan dibedah, bila
mereka mau untuk di anestesi,. Mandragora masih sering
dipergunakan untuk menganestesi pasien sampaidengan abad ke
17.
Dari abad ke 9-13, spons dengan obat tidur adalah mode
yang doinan untuk mengurangi sakit selama operasi. Daun

Mandrake dengan tanaman beracun, candu dan tumbuhan lain,


direbus bersama-sama dan disiramkan ke atas spons.Spons
tersebut lalu disusun kedalam air panas dan diletakan ke hidung
pasien selama pembedahan. Sebagai publikasi dari laporan pada
saat itu. Spons tersebut pada umumnya mengandung mofin dan
skopolamin
dipergunakan

dalam
dalam

jumlah
anestesi

yang

bervariasi,

modern.

Sebagai

obat

yang

tambahan

daripada menggunakan spons tidur orang Eropa mengurangi


rasa nyeri dengan hipnosis dengan meminum alkohol, tumbuhan
dan ekstrak dari tanaman yang telah dipersiapkan dan sebagai
anestesi topikal yaitu dengan tekanan atau memakai es.
Pada abad ke 11, efek anestesi dari air dingin dan es mulai
ditemukan. Pada pertengahan abad ke 17, Marco Aurelio Severino
medeskripsikan anestesi kulkas meletakan salju dalam garis
paralel melintasi lapangan insisi, dia dapat membuat tempat
operasi menjadi tidak bersensasi dalam beberapa menit. Teknik
ini tidak pernah menjadi terkenal, mungkin karena tantangan dari
penyimpanan salju tahunan yang tidak cukup.
Dietil eter telah diketahui selama berabad-abad karena
penggunaannya dahulu sebagai anestesi pembedahan. Hal itu
dilakukan bersama, pada mulanya pada abad ke-8 oleh filsafat
Arab, Jabri Ibnu Hayyam atau mungkin oleh Raymond Lully, pada
abad ke 13, seorang ahli kimia Eropa. Tetapi dietil eter baru
pertama kali diketahui pada abad ke-16 oleh Valerius Cordus dan
Paracelcius, yang mempersiapkan hal itu dengan menyuling asam
sulfur (minyak dari vitriol) dengan anggur dicampur alkohol untuk
memproduksi oleum Vitroli dulce (minyak panas dari vitriol).
Paracelsius (1493-1541) mengobservasi bahwa hal itu membuat

ayam tertidur dan bangun tanpa kesakitan. Dia menjadi waspada


terhadap kualitas analgetik tesebut. Walaupun demikian tidak ada
catatan bahwa sarannya tersebut diikuti.
Tiga abad kemudian, hal yang sederhana ini meninggalkan
agen terapetik dengan hanya penggunaannya yang secara
kebetulan. Beberapa dari milik tersebut diperiksa oleh beberapa
ilmuwan Inggris termasuk Robert Boyle, Isaac Newton dan
Michael Faraday, namun tanpa ketertarikan. Hal itu hanya
merupakan alikasi rutin dan merupakan obat rekreasi yang tidak
mahal diantara orang-orang miskin di Inggris dan Irlandia, dimana
kadang-kadang meminum satu atau dua eter yang mana karena
pajak membat kepemilikannya menjadi mahal. Variasi Amerika
dari

praktek

ini

dilakukan

oleh

sekelompok

pelajar

yang

membasuh muka dengan handuk bereter pada aktu malam


gurauan eter.
Seperti

eter,

nitrat

oksida

diketahui

berguna

untuk

menginduksi sehingga kepala terasa ringan dan sering dihirup


oleh orang yang mendapat ketegangan. Barang ini jarang
dipergunakan

seperti

eter

karena

lebih

kompleks

untuk

dipersiapkan dan kaku untuk disimpan. Benda itu diproduksi


dengan memanaskan amonium nitrat. Gas yang bekerja lambat
melewati air untuk mengeliminasi oksida oksik dari nitrogen
sebelum disimpan. Nitrat oksida pertama kali dipersiapkan tahun
1773 oleh Joseph Prietsley, seorang ilmuwan Inggris. Dalam tahun
pembelajarannya,

Prietsley

mempersiapkan

dan

memeriksa

beberapa gas termasuk nitrat oksida, amonia, sulfur dioksida,


oksigen, karbon monooksida dan karbon dioksida.

Pada akhir abad ke-19 di Inggris, ada keinginan yang kuat


dalam dugaan penggunaan efek yang menyehatkan dari air
mineral dan gas. Hal ini membuat pembangunan tempat air
panas untuk umum. Partikel air dan gas dipercaya untuk
mencegah

dan

penggunaan

mengobati

dari

gas

penyakit.

untuk

Hal

itu

membuat

menyembuhkan

sariawan,

tuberkulosis dan penyakit lain membuat Thomass Beddoes untuk


membuka Institut pneumonia dekatdengan pemandian kecil dari
Hotwells, dikota Bristol, dimana dia menyewa Humphry Davy
pada tahun 1798 untuk menjalankan proyek penelitiannya.
Humphry Davy (1778 1892) adalah seorang muda dengan
penuh kemampuan. Dia mempertunjukan seri-seri penelitian yang
luar biasa dari beberapa gas, namun terutama di fokuskan pada
nitrat oksida, dimana dia bersama temannya menghirup melalui
masker wajah yang didesain untuk perusahaan James Watt,
penemu dari mesin uap. Davy mempergunakan mesin ini untuk
mengukur rata-rata pengambilan nitrat oksida dan efeknya pada
pernapasan dan aksinya pada sistem saraf pusat. Hasil ini
dikombinasikan dengan penelitian properti fisik dari nitrat oksida,
580 halaman buku dipublikaasikan pada tahun 1800. Uraian yang
mengesankan ini sekarang diingat sebagai beberapa observasi
yang tanpa sengaja. Komentar Davy bahwa nitrat oksida secara
sementara meringankan sakit kepala yang berat, membebaskan
sakit kepala yang ringan dan menghilangkan rasa sakit gigi.
Kutipan yng paling sering diutarakan :seperti nitrat oksida dalam
operasi

yang

liuas

muncul

menghilangkan

rasa

nyeri,

dengan
benda

kemampuan
itu

mungkin

untuk
dapat

dipergunakan dalam operasi pembedahan dengan pancaran


darah yang tidak besar. Meskipun Davy tidak mengikuti ramalan

ini,

mungkin

karena

mengatur

karirnya

dalam

dasar

penelitiannya, dia menguangkan sifat dari nitrat oksida sebagai


gas tertawa.
John Snow ; Ahli anestesi pertama
John Snow telah merupakan ilmuwan yang ternama yang
telah mempresentasikan makalah dari subjek fisiologis waktu
kabar dari anestesi eter telah mencapai Inggris pada Desember
1846. Dia menunjukan ketertarikannya dalam praktek anestesi
dan dalam waktu singkat diundang untuk bekerja sama dengan
ahli bedah pada waktu itu. Dia tidak hanya fasih dalam
penyediaan anestesi tetapi juga seorang peneliti yang ulet.
Deskripsi inovatif tentang derajat anestesi berdasarkan respon
pasien tidak dapat ditingkatkan selama 70 tahun.
Sebagai tambahan untuk membangun aspek yang kuat untuk
memperdalam fisiologi anestesi, Snow juga mempromosikan
pengembangan alat-alat anestesi. Dia segera menyadari bahwa
pengisapan eter yang tidak adekuat pada waktu pasien bernapas
dengan alat yang ditempelkan pada mulut. Setelah berlatih
anestesi hanya selama 2 minggu, Snow merancang seri pertana
dari eter inhaler. Peralatannya mengandung katup unudireksional.
Masker wajah sederhana buatan sendiri, yang mendekati bentuk
masker wajah modern. Bagian dari wsjah tersebut dihubungkan
kedalam alat penguapan dengan sebuah tabung pernapasan,
yang mana dirancang lebih lebar dari trakea manusia sehingga
meskipun pernapasan yang epat tidak akan terbuang. Kait besi
didalam alat memastikan pengangkutan dari eter. Objek tersebut
menggantung tempat dari air hangat untuk mengatur agen yang
cenderung setelah tercukupi dengan membeikan observasi secara

Cuma-Cuma.

Tidak

ada

batasan

kebanggaan

dalam

membuatnya.
Pada tahun berikutnya, John Snow memperkenalkan inhaler
kloroform, dia telah mengenal sifat-sifatnya dan memilihnya
sebagai bahan uji coba. Pada

saat yang bersamaan, dia

menyatakan bahwa untuk menjadi seri percobaan yang luar biasa


harus meliputi lingkungan dan sikap.Snow menyadari bahwa ahli
anestesi yang baik tidak hanya menghilangkan nyeri, tetapi juga
mencegah pergerakan. Dia menganestesi beberapa spesies
binatang dan beberapa variasi konsentrasi daripada eter dan
kloroform untuk mengetahui konsentrasi yang tepat untuk
mencegah gerakan terhadap stimulus yang tajam. Meskipun
adanya keterbatasan teknologi pada tahun 1848, elemen dari
pekerjaannya mengantisipasi konsep modern dari konsentrasi
alveolar minimal (MAC). Snow menyatakan bahwa aksi dari
anestesi dalam jumlah yang potensial dan meskipun dia tidak
menemukan

pengganti

terhadap

kloroform

atau

eter,

dia

menemukan hubungan antara kelarutan, gaas, tekanan dan


potensi anestesi yang tidak terlalu dihargai sampai setelah
perang dunia II dimana Charles Suckling memerintahkan prinsip
Sow dalam menciptakan halotan. Dia juga membuat percobaan
dengan peralatan sirkuit tertutup yang subjeknya Snow sendiri,
menghirup oksigen sambil mengeluarkan karbondioksida yang di
absorbsi oleh potasium hidroksida. Snow menciptakan 2 buku
Inhalasi dari bentuk gas eter (1847) dan kloroform dan anestesi
lainnya (1858) yang hampir selesai ketika dia meninggal karena
stroke pada umur 45 tahun.

Penyelidikan Snow tidak membatasi ilmu anestesi. Memorinya


juga dihargai oleh berbagai spesialis dalam bidang penyakit
infeksi dan tropis yang di buktikn dengan studi epidemologi pada
tahun 1854, dimana kolera ditrnsmisikan melalui air. Padasaat itu
sebelum perkembangan mikrobiologi oleh Louis Pasteur dan
Robert

Koch

banyakilmuwan

di

Amrika

utara

dan

Eropa

menyangka bahwa bahaya epidemi kolera berulang karena


kontaminasi dari udara. Dalam beberapa tahun, Snow telah
percaya bahwa karena penyakit tersebut disebabkan oleh traktus
gastrointestinal maka agen penyebabnya pasti karena termakan,
bukan karena pernapasan. Pada tahun 1854 dia memperoleh
kesempatan

membuktikan

tesisnya

ketika

kolera

melanda

daerahnya di London dan menyebabkan kematiaan 500 orang di


dekat kediamannya. Snow menyatakan bahwa persediaan suplai
air dari orang-orang tersebut berasal dari pompa di broad street.
Dia

menyipkan

apa

yang

menjadi

survey

epidemologi

pertamanya. Dengan informasi tersebut dia dapat meyakinkan


orang-orang pada daerah tersebut untuk mencari sumber air lain.
Masalah epidemologi tersebut terselesaikan.
Penemuan Anestesia Regional pada Abad XIX
Anestetik lokal pertama yang efektif adalah kokain,
ektrak dari daun coca. Kemampuannya dalam mematirasakan
membran mukosa dan jaringan terbuka telah diketahui selama
berabad-abad di Peru. Albert Niemann memurnikan alkaloid aktif
tersebut dan menamainya cocaine.
Carl Koller (1857 1944), seorang dokter mata di Wina,
Austria,

pertama

kali

menggunakan

kokain

pada

praktek

kliniknya pada 1884. Sebelumnya, banyak operasi mata tanpa

anestesia dan empat dekade setelah ditemukannya eter, anestesi


umum memiliki keterbatasan.
Dokter-dokter

bedah

Amerika

dengan

cepat

mengembangkan aplikasi kokain:


Oktober 1884, anetesia terhadap hidung, mulut, laring, trakea,
rektum dan uretra.
November 1884, injeksi subkutan.
Desember

1884,

Wiliam

Halstead

dan

Richard

Hall

menjabarkan blok sensorik muka dan lengan


Kecanduan kokain dan morfin merupakan masalah yamng
sering timbul pada akhir abad XIX.
Teknik anestesia lokal lainnya dilakukan sebelum akhir
abad XIX. Tahun 1885, Leonard Corning, dokter ahli saraf,
melakukan anestesia spinal dan mengusulkan substitusi eter
untuk tindakan bedah genitourinaria atau cabang-cabang bedah
lainnya.
August Bier dan Theodor Tuffier, menjelaskan anestesia
spinal otentik. Dalam comparative review dari artikel asli dari
Bier, Tuffier, dan Corning, disimpulkan bahwa injeksi Corning
merupakan

anestesia

ekstradural

memperkenalkan anestesia spinal.

dan

Bier

berjasa

dalam

SKOPE ANESTESIOLOGY MODERN


Pengamatan

perkembangan

anesthesiology

dapat

diperluas sampai waktu yang tidak terbatas oleh sebuah


eksplorasi masing-masing subbagian, tetapi suatu penilaian
dari pekerjaan kita langsung akan tampak oleh personal
survey tempat dimana kita bertugas.
Setelah pembedahan, pasien dipindahkan ke perawatan posenestesia atau
ruang pemulihan, sebuah tempat yang sekarang dianggap sebagai bangsal ahli
anestesi. Limapuluh tahun yang lalu, dibawa secara langsung dari ruang operasi ke
bangsal bedah dan hanya diikuti oleh perawat junior. Orang tersebut beruntung
baik ketrampilan dan intervensi peralatan ketika komplikasi terjadi. Setelah perang
dunia II berpikir tentang pentingnya perawatan sentral. Tahun 1960, perawatan
kritis berkembang melalui penggunaan ventilator mekanik. Pasien yang
membutuhkan beberapa hari pengobatan intensif dan perawatan dirawat di sudut
ruang pemulihan. Pada waktu itu, beberapa tempat tidur diberi sekat dan direlokasi
menjadi intensice care units. Prinsip perawatan resusitasi dan suportif didirikan
oleh ahli anestesi mentansformasi critical care medicine.
Masa depan anestesiologi sangat cerah. Obat-obat yang
lebih aman yang sekali direvolusi merawat pasien-pasien setelah
pembedahan dengan

konstan akan

terus diperbaiki. Tugas

anestesi berlanjut meluas, sebagai dokter dengan latar belakang


spesialis telah mengembngkan klinik kontrol nyeri kronik dan
pasien bedah rawat jalan. Praktek anestesi, baik didalam maupun
diluar kamar operasi, akan menjadi bagian dari pengalaman di
atas meja operasi..

Sejarah Anestesi
Kemajuan kemampuan pembedahan tidak terbayangkan pada zaman sebelum
pertengahan abad ke 19.
Karena cara-cara menghilangkan rasa sakit yang efisien belum ditemukan. Pembedahan
kebanyakan dilakukan untuk kelainan yang kecil saja, dan atau bersifat darurat. Ambang rasa
sakit diturunkan antara lain dengan ramuan-ramuan dari dedaunan, candu, alkohol, yang
tentunya tidak efektif. Karena tidak efektif, kadang-kadang kepala dipukul atau dicekik
lehernya hingga pingsan. Seperti gambar di bawah ini:

Pasien juga harus dipegang erat-erat oleh beberapa orang agar pasien tidak melompat
dari meja operasi karena kesakitan.
Tapi, semua itu berubah total setelah seorang dokter gigi yang bernama William
Thomas Greene Morton pada tahun 1846, mendemonstrasikan dietil eter (suatu ikatan
kimia) dengan cara dihirup dapat menghilangkan rasa nyeri secara sempurna sehingga
operasi dapat dilakukan dengan baik tanpa tergesa-gesa.
Penemuan ini merupakan titik balik sejarah ilmu bedah karena telah membuka cakrawala
kemungkinan pembedahan yang lebih luas, mudah, dan manusiawi. Tepat sekali bila
penemuan ini dianggap sebagai "The Most Humane Discovery in History of Mankind."
Keadaan tanpa rasa sakit yang ditimbulkan oleh eter kemudian diberi nama anestesia
(dari bahasa Yunani, a = tanpa, aesthesis = rasa/sensasi). Sejak ini, ilmu bedah maju pesat,
sedangkan bidang anestesi berjalan tersendat karena pemberian anestesi dianggap sebagai
tindakan teknis belaka dan tidak memiliki daya tarik bagi para praktisi kesehatan.
Menjelang tahun 1940, bidang anestesi maju pesat karena banyak dokter mulai aktif
mempelajari dasar-dasar ilmunya dan kemudian berhasil mengembangkan menjadi ilmu
kedokteran dengan nama Anestesiologi.