Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

SISTEM NEUROPSIKIATRI

Disusun oleh :
ALDILA
2011730120
Kelompok 4

Dosen Pembimbing : dr. Kartono Ichwani, Sp. BK

Program Studi Pendidikan Dokter


Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
2014

Pemeriksaan Uji Saring


Asam Vanilil Mandelat (VMA) dalam Urine
Tujuan :
-

Mengetahui bahwa Asam Vanilil Mandelat (VMA) adalah katabolit akhir dari
katekolamin di dalam tubuh.

Catatan : Kadar VMA di dalam urine akan meningkat pada keadaan :


1.

Tumor ganas medula adrenal (feokromositoma)

2.

Stress berat dan akut

Landasan Teori :
Hormon katekolamin merupakan derivat 3,4-dihidroksi dari senyawa feniletilamin.
Ketiga senyawa amin yaitu dopamin, epinefrin, dan norepinefrin di sel kromafin medula adrenal,
diberi nama tersebut karena di selnya mengandung butiran yang akan berwarna cokelat-merah
jika terpajan dengan kalium dikromat.
Produk utama medula adrenal adalah epinefrin. Sekitar 80% dari senyawa ini berupa
katekolamin yang ada di dalam medula, dan tidak dibuat oleh jaringan di luar medula adrenal.
Sangat sedikit epinefrin (<5%) yang dieksresikan ke dalam urine. Katekolamin
dimetabolisasi dengan cepat oleh enzim katekol O- metiltransferase dan monoamin oksidase
hingga terbentuk metabolit inaktif yang telah mengalami reaksi O-metilasi serta deaminasi.
Sebagian besar katekolamin menjadi substrat bagi kedua enzim ini, dan semua reaksi ini bisa
terjadi pada sembarang rangkaian.
Katekol -O-metiltransferase (COMT) merupakan enzim sitosol yang dijumpai di banyak
jaringan. Enzim ini mengatalisis 3 (meta) pada cincin benzena, menjadi berbagai katekolamin.
Reaksi tersebut memerlukan kation divalen, dan -S adenosilmetionin menjadi donor metil.
Hasil reaksi ini, yang bergantung pada substratnya, adlah produksi asam homovalinat,
normetanefrin dan metanefrin.
Monoamin oksidase (MAO) merupakan oksidoreduktase yang mendeaminasi monoamin.
Enzim ini terdapat pada banyak jaringan, tetapi dengan konsentrasi yang tinggi akan ditemukan

di hati, lambung, ginjal, dan intestinum. MAO A ditemukan di jaringan saraf dan mendeaminasi
serotonin, epinefrin, serta norepinefrin, sementara MAO-B dijumpai di jaringan ekstraneural
yang paling aktif terhadap 2-feniletilamin serta benzilamin. Dopamin dan tiramin dimetabolisasi
oleh kedua bentuk MAO tersebut. Banyak upaya riset ditujukan pada korelasi kelainan afektif
dengan peningkatan atau penurunan aktivitas kedua isoenzim ini. Preparat inhibitor MAO pernah
digunakan untuk mengobati hipertensi dan depresi, tetapi reaksi serius dengan makanan atau
obat yang mengandung senyawa simpatomimetik amin telah membatasi kegunaan preparat
tersebut.
Derivat yang telah mengalami reaksi O-metoksilasi dimodifikasi lebih lanjut melalui
konjugasi dengan asan glukoronat atau asam sulfat.
Metabolit katekolamin dengan jumlah yang membingungkan dibentuk. Dua kelompok
metabolit ini mempunyai makna diagnosis penting karena ditemukan dalam jumlah yang bisa
diukur di dalam urine. Metanefrin menunjukkan derivat metoksi dari epinefrin dan norepinefrin,
sementara produk deaminasi dari epinefrin dan norepinefrin yang termetoksilasi O adalah asam
3-metoksi-4hidroksimandelat (yang juga dinamakan asam vanilinmandelat [VMA]). Konsentrasi
metanefrin atau VMA di dalam urine meningkat pada lebih dari 95% pasien feokromositoma. Tes
ini memiliki ketepatan diagnosis yang baik sekali, khususnya jika dirangkaikan dengan
pengukuran kadar katekolamin di dalam plasma atau urine.
Norepinefrin + epinefrin

Vanilil Mandelat Acid (VMA)


katabolisme di urine

Feokromositoma
Merupakan tumor medula adrenal. Tumor ini biasanya tidak terdeteksi kecuali bila
menghasilkan dan mensekresikan cukup banyak epinefrin atau norepinefrin, sehingga
menimbulkan sindrom hipertensi yang berat. Rasio norepinefrin terhadap epinefrin sering
meningkat pada feokromositoma. Keadaan ini dapat menjelaskan berbagai perbedaan pada
gambaran klinis penyakit tersebut, mengingat norepinefrin diperkirakan terutama bertanggung
jawab

atas

terjadinya

hipermetabolisme.

gejala

hipertensi,

sedangkan

epinefrin

terhadap

terjadinya

Alat dan Bahan :


Alat :
1. Kertas saring 1 buah

Bahan :

2. Pipet tetes 5 buah ( 3 buah untuk

1. Larutan Para nitro anilin 0,2%

masing-masing reagen, 2 buah untuk

2. Larutan

campuran reagen, 1 buah untuk

0,2%

urine)
3. Beaker glass 1 buah
4. Tabung reaksi 1 buah

Natrium

nitrit

(NaNO2)

3. Larutan Natrium Karbonat (Na2CO3)


10%
4. Urine yang digunakan adalah urine

5. mahasiswa sendiri

Cara Kerja :
1. Campurkan ke dalam tabung reaksi :
- 1 ml para-nitro anilin 0,2%
- 1 ml natrium nitrit (NaNO2) 0,2%
- 1 ml Larutan Natrium Karbonat (Na2CO3) 10%
Campurkan dan aduk hingga larutannya menjadi merata
2. Teteskan menggunakan pipet tetes urine di atas kertas saring
3. Teteskan 8 tetes regensia di atas kertas saring yang sudah ditetesi urine
4. Biarkan pada suhu kamar atau dipanaskan hingga campuran pada kertas saring hingga
mengering
5. Lihat dan catat hasilnya. Apabila kadar VMA dalam urine tinggi, maka akan timbul
warna ungu.
Hasil Pengamatan :
Pada percobaan yang kami lakukan, didapat hasil yaitu pada kertas saring tidak terjadi
perubahan warna menjadi ungu. Sehingga hasil yang di dapat adalah kadar Vanilil Mandelat Acid
(VMA) di dalam urine dalam kadar yang normal. Hasil tes negatif (-) tetapi bisa juga belum
dapat ditentukan hasil yang di dapat.

Tabel Perbandingan
Urine

Perubahan Warna
Ada (warna ungu)
Tidak

Keterangan
VMA , terdapat stress berat / tumor medula adrenal
VMA normal, hasil bisa (-) atau belum tentu

Kesimpulan :
Hasil yang didapat tidak menunjukkan adanya kadar Vanilil Mandelat Acid (VMA) yang
melebihi normal di dalam urine.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi hasil percobaan yaitu :
1. Sterilisasi pada alat-alat yang digunakan
2. Ketepatan dalam melakukan pencampuran larutan reagen
3. Ketelitian dalam melakukan penetesan larutan dan urine
4. Ketepatan dalam melihat perubahan warna yang terlihat pada kertas saring yang
telah ditetesi reagensia dan urine.