Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Epidemiologi adalah bagian dari ilmu kesehatan masyarakat yang

mempelajari penyakit atau masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.


Epidemiologi mempelajari besar (frekuensi), penyebaran (distribusi) dan faktorfaktor yang mempengaruhi (determinan) penyakit /masalah kesehatan. Tujuan dari
penerapan

epidemiologi

adalah

untuk

menentukan

pencegahan

dan

penanggulangan yang tepat (Isna, 2011).


Dalam penerapan ilmu epidemiologi akan sering dilakukan berbagai
penelitian. Ada beberapa jenis rancangan penelitian yang biasa diterapkan, salah
satunya adalah desain kohort. Kohort adalah jenis desain penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui hubungan paparan dengan penyakit dengan
membandingkan kelompok yang terpapar dengan kelompok yang tidak terpapar
berdasarkan status penyakit (Dyah, 2011).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dipelajari tentang rancangan
penelitian kohort.
B.
Rumusan Masalah
Apakah rancangan penelitian kohort?
C.
Tujuan
1.
Tujuan umum
Mengetahui rancangan penelitian kohort.
2.
Tujuan khusus
a.
Mengetahui pengertian rancangan penelitian kohort.
b.
Mengetahui tujuan rancangan penelitian kohort.
c.
Mengetahui ciri-ciri rancangan penelitian kohort.
d.
Mengetahui jenis rancangan penelitian kohort.
e.
Mengetahui skema rancangan penelitian kohort.
f.
Mengetahui kelemahan rancangan penelitian kohort.
g.
Mengetahui kelebihan rancangan penelitian kohort.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

Pengertian Penelitian Kohort


Penelitian Kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi analitik

observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan

cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar


berdasarkan status penyakit (Nuraini, 2010).
Rancangan penelitian kohort disebut juga sebagai survai prospektif
meskipun sesungguhnya kurang tepat. Rancangan penelitian ini merupakan
rancangan penelitan epidemiologis noneksperimental yang paling kuat mengkaji
hubungan antara faktor resiko dengan dampak atau efek suatu penyakit
(Budiharto, 2008).
Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan longitudinal ke
depan, dengan mengkaji dinamika hubungan antara faktor resiko dengan efek
suatu penyakit. Pendekatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi faktor resiko,
kemudian dinamikanya diikuti atau diamati sehingga timbul suatu efek atau
penyakit (Budiharto, 2008).
Penelitian prospektif merupakan salah satu penelitian yang bersifat
logitudinal dengan mengikuti proses perjalanan penyakit ke depan bedasarkan
urutan waktu. Penelitian prospektif ini dimaksudkan untuk menemukan insidensi
penyakit pada kelompok yang terpajan oleh faktor resiko maupun pada kelompok
yang tidak terpajan, kemudian insidensi penyakit pada kedua kelompok tersebut
secara sistematik dibandingkan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan
sebab-akibat antara pajanan dan penyakit yang diteliti. Kelompok yang diteliti
tersebut dinamakan kohort. Peneliti prospektif kohort ini mengikuti paradigma
dari sebab ke akibat (Budiarto, 2002).
Dari uraian singkat di atas dapat dijelaskan bahwa secara garis besar
proses perjalanan penelitian prospektif sebagai berikut:
1. Pada awal penelitian, kelompok terpsjsn msupun kelompok tidsk terpsjsn
2.

belum mensmpsksn gejala penyakit yang diteliti.


Kedua kelompok diikuti ke depan berdasarkan sekuens waktu

3.

(prospektif).
Dilakukan pengamatan untuk mencari insidensi penyakit (efek) pada

4.

kedua kelompok.
Insidensi penyakit pada kedua kelompok dibandingkan menggunakan
perhitungan statistik untuk menguji hpotesis tentang hubungan sebab
akibat antara pajanan dan insidensi penyakit (efek) (Budiarto, 2002).

Kesimpulan hasil penelitian diketahui dengan membandingkan subyek


yang mempunyai efek positif (sakit) antara kelompok subyek dengan faktor resiko
positif dan faktor resiko negatif (Kelompok kontrol) (Budiharto, 2008).
B.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Karakteristik Penelitian Kohort


Bersifat observasional
Pengamatan dilakukan dari sebab ke akibat
Disebut sebagai studi insidens
Terdapat kelompok kontrol
Terdapat hipotesis spesifik
Dapat bersifat prospektif ataupun retrospektif
Untuk kohort retrospektif, sumber datanya menggunakan data sekunder
(Nuraini, 2010).

C.
1.

Langkah-langkah Penelitian Kohort


Mengidentifikasi faktor resiko, dengan

menentukan

variabel

terikat/bergantung, variabel bebas, variabel yang dikendalikan atau


2.
3.
4.
5.

variabel kontrol.
Menetapkan subyek penelitian dengan menetapkan populasi sampel.
Memilih subyek dengan faktor resiko positif dari subyek efek negatif.
Memilih subyek yang akan dijadikan kelompok kontrol.
Mengobservasi perkembangan subyek sampai batas waktu tertentu atau
ditentukan, diikuti dengan mengidentifikasi timbul atau timbulnya efek

6.

pada kedua kelompok.


Menganalisis data dengan membandingkan proporsi subyek yang
memperoleh efek positif dengan subyek yang memperoleh efek negatif
baik pada kelompok resiko positif maupun kelompok kontrol.
Contohnya, menganalisis data dengan menghitung resiko relatif (RR)
(Budiharto, 2008).

D.

Kegunaan Rancangan Penelitian Kohort


Secara garis besar rancangan analisis diperlukan agar orang dapat

mengetahui analisis yang akan dilakukan oleh peneliti sehingga mudah dilakukan
evaluasi terhadap hasil penelitian.
Kegunaan yang diperoleh dengan penelitian kohort sebagai berikut :
1.
Penelitian kohort dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan normal
(ontogenik) yang terjadi dengan berjalannya waktu karena intervensi yang

dilakukan oleh alam berupa waktu. Misalnya, mempelajari pertumbuhan


2.

dan perkembangan anak selama 5 tahun sejak dilahirkan.


Penelitian ini dapat pula digunakan untuk mempelajari timbulnya penyakit
secara alamiah akibat pemajanan (patogenik) yang dilakukan oleh orang
yang bersangkutan secara sengaja, misalkan merokok atau tidak sengaja
memakan makanan atau minuman yang tercemari bakteri patogen. Misalnya
mempelajari hubungan antara rokok dan penyakit jantung koroner atau

3.

mempelajari terjadinya kejadian luar biasa pada keracunan makanan.


Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari perjalanan klinis
suatu penyakit (patogresif), misalnya perkembangan penyakit karsinoma

4.

payudara.
Rancangan penelitian ini dapat digunakan untuk mempelajari hubungan

5.

sebab-akibat.
Penelitian kohort dapat digunakan untuk mempelajari insidensi penyakit

6.
7.
8.

yang diteliti.
Penelitian kohort tidak memiliki hambatan masalah etis.
Besarnya risiko relatif dan risiko atribut dapat dihitung secara langsung.
Pada penelitian kohort dapat dilakukan perhitungan statistik untuk menguji

9.

hipotesis.
Pada penelitian kohort dapat diketahui lebih dari satu out cometerhadap satu
pemaparan, misalnya penelitian tentang hubungan antara rokok dan
karsinoma paru-paru ternyata mempunyai hubungan juga dengan penyakit
jantung, gastritis, karsinoma kandung kemih, dan lain-lain (Lesmana, 2012).

E.
1.

Kelebihan dan Kelemahan Penelitian kohort


Kelebihan Penelitian Jenis Kohort
Adanya kesesuaian dengan logika studi eksperimental dalam membuat
inferensi kausal, yaitu penelitian dimulai dengan menentukan faktor

2.

penyebab yang diikuti dengan akibat.


Peneliti dapat menghitung laju insidensi, sesuatu hal yang hampir tidak

3.
4.

mungkin dilakukan pada studi kasus kontri, sehingga raju insidensi (idr).
Sesuai untuk meneliti paparan yang langka.
Memungkinkan peneliti mempelajari sejumlah efek secara serentak dan

5.
6.
7.

sebuah paparan.
Bias yang terjadi kecil
Tidak ada subyek yang sengaja dirugikan.
Dapat mempelajari beberapa akibat dari suatu paparan

8.
9.

Disain terbaik untuk menentukan insidens dan perjalanan penyakit.


Menerangkan hubungan faktor risiko & outcome secara temporal dengan

baik.
10. Pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan progresif
11. Dapat meneliti beberapa efek sekaligus dari faktor resiko tertentu.
12. Pengamatan kontinu & longitudinal, kekuatan penelitian andal.
Kelemahan Penelitian Kohort
1. Membutuhkan waktu yang lebih lama dan biaya yang mahal.
2. Pada kohort retrospektif, butuh data sekunder yang lengkap dan handal.
3. Tidak efisien dan tidak praktis untuk mempelajari penyakit yang
4.

langka. : hilangnya subyek amatan selama masa penelitian.


Tidak cocok menentukan merumuskan hipotesis tentang faktor etiologi

5.

lainnya untuk penyakit amatan.


Risiko untuk hilangnya subyek selama penelitian, karena migrasi,
partisipasi rendah atau meninggal (Ayu, 20010)

Sedangkan menurut Budiharto, 2008 keunggulan dan keterbatasan penelitian


kohort sebagai berikut:
1.

Dapat membandingkan dua kelompok, yaitu kelompok subyek dengan


faktor resiko positif dan subyek dari kelompok kontrol sejak awal

2.
3.

penelitian.
Secara langsung menetapkan besarnya angka resiko dari waktu ke waktu.
Keseragaman observasi terhadap faktor resiko maupun efek dari waktu
ke waktu.

Selain keunggulan, penelitian kohort juga mempunyai keterbatasan, yaitu:


1.
2.

Memerlukan waktu penelitian yang relatif cukup lama


Memerlukan sarana dan prasarana serta pengolahan data yang lebih

3.

rumit.
Kemungkinan adanya subyek penelitian yang drop out sehingga

4.

mengurangi ketepatan dan kecukupan data untuk dianalisis.


Menyangkut etika sebab faktor resiko dari subyek yang diamati sampai
terjadinya efek, menimbulkan ketidaknyamanan bagi subyek.

F.
1.
2.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan pada Penelitian Kohort


Sampel dimulai dengan adanya pajanan atau tidak
Peneliti harus mengetahui status keterpajanan subyek

3.

Untuk memperoleh n subyek terpajan perlu memeriksa n subyek,

4.

yang banyaknya tergantung proporsi pajanan di populasi


Kohort dapat dilakukan secara retrsopektif dg menggunakan rekam
medis atau catatan yang ada (Ayu, 2010).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian
Penelitian Observasional kohort merupakan penelitian epidemiologis
analitis noneksperimental yang didasarkan pada pengamatan sekelompok
penduduk tertentu dalam satu jangka waktu tertentu. Kelompok kohort adalah
sekelompok penduduk yang memiliki persamaan dalam hal tertentu dan
merupakan kelompok yang diamati sampai batas waktu tertentu. Dalam
epidemiologi, subjek dalam studi kohort dipilih berdasarkan beberapa
karakteristik tertentu yang dianggap sebagai faktor risiko terjadinya penyakit atau
gangguan kesehatan tertentu. Pada dasarnya studi kohort didasarkan pada
pertanyaan "apa yang akanterjadi?" sehingga dengan demikian pengamatan ini
bersifat prospektif.
Kelompok penduduk yang diamati/diteliti (kelompok kohort) merupakan
kelompok penduduk dengan dua kategori tertentu yakni yang terpapar dan yang
tidak terpapar terhadap faktor yang dicurigai sebagai faktor risiko atau penyebab.
Pada awal penelitian,semua anggota kelompok kohort harus bebas/tidak menderita
penyakit atau mengalami gangguan kesehatan yang sedang diteliti, artinya semua
yang menderita atau yang dicurigai menderita penyakit/out put yang akan diteliti
harus dikeluarkan dari kelompok kohort.
Pengamatan (studi) kohort dapat bersifat deskriptif maupun analitis.
Kohort deskriptif adalah pengamatan kohort yang bertujuan hanya untuk
menjelaskan insidensi atau akibat yang terjadi terhadap populasi kohort setelah
diamati dan diikuti selama jangka waktu tertentu. Sedangkan pengamatan kohort
analitis bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko (efek
keterpaparan) dengan kejadian penyakit atau gangguan kesehatan yang terjadi
selama/setelah waktu pengamatan.

3.2 Bentuk bentuk studi kohort


Studi kohort pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok utama yakni
kohort prospektif dan kohort retrospektif (historical cohort study). Di samping itu,
dikenal pula suatumodi-fikasi studi kohort yakni nested case-control study yakni
suatu bentuk pengamatan kohortyang menggunakan analisis bentuk kasus-kelola
(case control study).
(1) Kohort Prospektif
Bentuk pengamatan ini merupakan bentuk studi kohort yang murni sesuai
dengan sifatnya. Pengamatan dimulai pada saat populasi kohort belum mengalami
akibat yang ditelitidan hanya diketahui kelompok yang terpapar (berisiko) dan
yang tidak terpapar. Bentuk ini adadua macam yaitu (1) kohort prospektif dengan
pembanding internal, di mana kelompok yang terpapar dan yang tidak terpapar
sebagai kelompok pembanding atau kontrol) berasal dari satu populasi yang sama;
(2) kohort prospektif dengan pembanding eksternal di mana kelompok terpapar
dan kelompok pembanding tidak berasal dari satu populasi yang sama.
Pada bentuk pertama, populasi kohort dibagi dalam dua kelompok yakni
yang terpapar dan yang tidak terpapar sebagai kelompok pembanding. Kedua
kelompok tersebut diikuti secara prospektif sampai batas waktu penelitian, di
mana akan muncul dari kelompok terpapar dua subkelompok yakni subkelompok
yang mengalami akibat/efek (a) dan yang tidakmengalami akibat (b). Sedangkan
dari kelompok yang tidak terpapar akan muncul juga duasubkelompok yakni yang
mengalami akibat (c) dan yang tidak mengalami akibat (d).Dari hasil pengamatan
kohort tersebut, peneliti dapat menghitung insiden kejadian darikelompok yang
terpapar dan insiden kejadian dari kelompok yang tidak terpapar dankemudian
dapat dihitung; angka resiko relatif hasil pengamatan.

Pada bentuk kedua dari kohort prospektif adalah populasi kohort terdiri
dari dua populasi yangberbeda, dengan satu populasi mengalami keterpaparan
(ada faktor risiko) dan populasi lainnyatanpa faktor risiko. Bentuk studi kohort
dengan pembanding eksternal ini harus memperhatikan sifat keduapopulasi awal
(populasi yang terpapar dan pembanding) yakni sifat-sifat populasi di luar factor
keterpaparan atau faktor risiko yang diteliti. Hasil luaran terjadinya efek yang
diamati pada kedua populasi ini, memberikan nilai rate insiden populasi yang
terpapar dan rate insiden populasi yang tidak terpapar.
(2) Kohort Retrospektif
Umumnya studi kohort bersifat prospektif, di mana peneliti memulai
pengamatan dengan mengidentifikasi kelompok dengan faktor risiko (terpapar)
dan kelompok tanpa faktor risiko (tidak terpapar), kemudian diamati akibat yang
diharapkan terjadi sepanjang waktu tertentu. Namun demikian, studi kohort dapat

pula dilakukan dengan menggunakan data yang telah dikumpulkan pada waktu
yang lalu yang tersimpan dalam arsip atau bentuk penyimpanan data lainnya.
Umpamanya seorang peneliti yang ingin menganalisis faktor-faktor risiko dari 78
orang penderita stroke yang berasal dari kelompok pegawai perusahaan tertentu
yang dijumpai nyadalam dua tahun terakhir, dengan menelusuri catatan kesehatan
penderita tersebut sejakbekerja pada perusahan yang dimaksud. Contoh lain
adalah pengamatan terhadap sejumlah pegawai bagian produksi dari suatu
pabriksemen tertentu yang sedang menderita sejenis penyakit gangguan
pernapasan. Peneliti mencoba mengamati factor risiko yang berhubungan dengan
penyakit tersebut dengan menelusuri data kesehatan dan factor lingkungan
tempatnya bekerja sejak pegawai tersebut mulai bekerja pada pabrik tadi. Prinsip
studi kohort retrospektif tetap sama dengan kohort biasa, namun pada bentuk ini,
pengamatan dimulai pada saat akibat (efek) sudah terjadi. Yang terpenting dalam
bentuk ini adalah populasi yang diamati tetap memenuhi syarat populasi kohort
dan yang diamati adalah faktor risiko masa lalu yang diperoleh melalui pencatatan
data yang lengkap. Dengan demikian, bentuk penelitian retrospektif kohort hanya
dapat dilakukan bila data tentang faktor risiko tercatat dengan baik sejak
terjadinya keterpaparan pada populasi yang sama dengan efek yang ditemukan
pada awal pengamatan.
Pada dasarnya keunggulan studi kohort prospektif dijumpai pula pada
kohort retrospektif, namun kohort retrospektif membutuhkan biaya yang lebih
rendah. Kelemahannya terletak pada kualitas pengukuran dan pencatatan faktor
risiko yang telah berlalu sehingga sangat ditentukan oleh kualitas data yang telah
dikumpulkan pada waktu yang lalu.

3.3 Langkah - langkah Kegiatan pada Penelitian Kohort


Untuk melaksanakan suatu studi kohort, dianjurkan melakukan persiapan
disertai dengan tahapan-tahapan kegiatan yang sistematis untuk memudahkan
pelaksanaannya.
(1) Merumuskan Pertanyaan Penelitian
Langkah awal dari suatu studi kohort adalah merumuskan masalah atau
pertanyaan penelitian yang kemudian akan mengantar peneliti merumuskan
hipotesis penelitian yang lebih tepat/sesuai. Dari formulasi hipotesis tersebut,
akan tercermin berbagai variable yang menjadi variabel penelitian, baik yang
bersifat variabel bebas, variabel terikat dependent) maupun variabel-variabel
lainnya yang harus menjadi perhatian peneliti, antara lain variabel kendali
(kontrol),

variabel

pengganggu

serta

variabel

lainnya

yang

harus

dipertimbangkan.
(2) Penetapan Populasi Kohort
Dalam memilih populasi kohort harus diperhatikan beberapa hal tertentu
seperti berikut:

Populasi kohort sedapat mungkin agak stabil


Populasi kohort dapat bekerja sama selama penelitian;

Populasi kohort mudah diamati dan mudah terjangkau untuk follow

up selama penelitian;
Populasi kohort memiliki derajat keterpaparan yang cukup
Anggota kohort tidak sedang menderita penyakit yarig akan
diamati.

Dalam hal ini peneliti harus yakin bahwa kelompok kohort dan kelompok
control betul-betul tidak sedang menderita atau dicurigai sedang menderita
(suspect case) efekyang akan diteliti. Subjek yang terpilih dari populasi harus
memenuhi kriteria pemilihan,meliputi kriteria inklusif dan eksklusif. Disebut
kriteria inklusif adalah karakteristik umum subjek penelitian pada populasi target
dan populasi kontrol. Sering terdapat kendala untuk mendapatkan kriteria yang
sesuai dengan masalah penelitian yang telah ditetapkan. Untuk menghadapi hal
tersebut dapat dilakukan penyimpangan ilmiah sampai batas-batas tertentu, tetapi
hal ini harus dijelaskan dalam laporan penelitian tentang penyimpangan tersebut
yang merupakan jarak antara idealis ilmiah dengan kondisi yang dihadapi. Kriteria
eksklusif bila dalam memilih subjek penelitian, sebagian subjek yang telah
memenuhi kriteria inklusif, namun harus dikeluarkan dari pengamatan karena
beberapa hal antara lain.

Terdapat keadaan atau penyakit lain pada subjek yang dapat


mengganggu pengukuranmaupun interpretasi hasil penelitian,
umpamanya bila terdapat predisposisi atau faktor genetis yang

dapat mempengaruhi hasil pengamatan.


Terdapat keadaan yang dapat mengganggu pelaksanaan studi,
umpamanya mereka yangtidak mempunyai alamat yang tetap

sehingga sulit diamati.


Adanya hambatan etis, kultur atau kepercayaan individual maupun

masyarakat untuk dapat berpartisipasi.


Kemungkinan subjek yang akan

diteliti,

akan

menolak

berpartisipasi.Sumber populasi kohort dapat berasal dari berbagai


kelompok populasi.

(1) Kelompok penduduk yang tergabung/berada dalam satu


wilayah pelayanan kesehatan tertentu.
(2) Kelompok pekerja pada satu perusahaan tertentu/atau instansi
tertentu.
(3) Kelompok
menggunakan

penduduk
pelayanan

dengan

kondisi kesehatan

tertentuseperti

kelompok

yang

akseptor,

kelompok dengan pengobatan radiasi dan lain-lain.


(4) Kelompok penduduk dengan asuransi kesehatan tertentu.
(5) Untuk populasi yang tidak terpapar (sebagai pembanding) dapat
berasal dari :
Penduduk kelompok kohort yang sama,
Populasi umum asal populasi kohort
Populasi lain yang memiliki keadaan yang sama dengan
populasi kohort yangterpapar (populasi target), tetapi tidak
terpapar.
Semua anggota kelompok tersebut harus diperiksa sebelum pengamatan
dimulai. Dalam memilih populasi kohort ada beberapa faktor yang secara rinci
perlu diperhatikan pula;

Komparabilitas sampel, artinya sedapat mungkin kelompok studi


memiliki atribut yang sama (tidak berbeda atau sebanding) dengan
kelompok kontrol untuk menghindari bias seleksi yang dapat

mempengaruhi hasil penelitian.


Frekuensi faktor risiko, artinya bila faktor risiko tinggi maka
diusahakan memilih populasi penelitian yang berasal dari
masyarakat umum (komunitas). Sebaliknya, bila faktor risiko
rendah atau jarang diketemukan, maka populasi penelitian dapat
dipilih dari orang-orang (individu) yang mempunyai risiko tinggi

untuk menderita penyakit yang diteliti.


Frekuensi penyakit, di mana semakin kecil atau rendah frekuensi
kejadian penyakit dalam masyarakat, semakin besar sampel yang

diperlukan, yang disertai dengan waktu follow up yang lebih lama.


Derajat sensitivitas pengamatan, dimana setiap peningkatan
faktor risiko dengan presisi yang tinggi akan menyebabkan ukuran

besarnya sampel yang diperlukan akan menjadi bertambah besar

pula.
Representatif populasi penelitian, artinya populasi yang dipilh
sedapat mungkin mendekati ciri-ciri yang diinginkan untuk
dianalisis, baik untuk kelompok studi maupun untuk kelompok

kontrol.
Tingkat asesibilitas, artinya populasi yang dipilih harus mampu
memberikan informasi lengkap mengenai segala sesuatunya yang
berhubungan dengan faktor risiko dan proses terjadinya penyakit.

(3) Besarnya Sampel


Sebagaimana diketahui bahwa pada hipotesis nol (Ho) biasanya
dinyatakan bahwa besarnya kelompok yang akan menderita penyakit yang diteliti
pada kelompok terpapar tidak berbeda dengan kelompok yang tidak terpapar
sehingga nilai Risiko Relatifnya menjadi satu (RR = 1). Sedangkan hipotesis
alternant dapat bersifat satu sisi atau dua sisidengan RR > 1 atau RR < 1 atau tidak
sama dengan satu (RR1). Dalam menentukan besarnya sampel pada penelitian
ini, umumnya pada sebagian kasus, besarnya RR dan P2 ditentukan terlebih
dahulu sedangkan P1 dihitung dari kedua nilai tersebut. Besarnya sampel untuk
pengujian dua sisi menjadi

(4) Sumber Keterangan Keterpaparan


Sumber keterangan tentang adanya dan besarnya derajat keterpaparan
dapat diperoleh dari berbagai sumber yang dapat dipercaya kebenarannya.

Dari status/kartu pemeriksaan kesehatan berkala dengan berbagai sifat tertentu


seperti tekanan darah, kadar kolesterol, dan lain lain.

Dari kartu pelayanan kesehatan khusus seperti kartu KB, kartu pengobatan

radiologis dan lain lain.


Wawancara langsung dengan anggota kohort, terutama tentang kebiasaan

sehari hari seperti merokok, pola makanan, kebiasaan olah raga dan lain lain.
Keterangan hasil pemeriksaan Lingkungan (fisik, biologis dan sosial)
termasuk lingkungan kerja, tempat tinggal, dan lain lain.

(5) Identifikasi Subjek


Subjek pada pengamatan kohort dapat dengan efek negatif maupun dengan
efek positif. Pada studi kohort prospektif umpamanya, kedua kondisi ini dapat
terjadi pada akhir pengamatan di mana efek positif dan negatif dapat dijumpai
baik pada kelompok terpapar (kelompok target) maupun pada kelompok yang
tidak terpapar (kelompok kontrol). Pada pengamatan kohort prospektif dengan
kontrol internal, kelompok kontrol terbentuk secara alamiah, artinya diambil dari
populasi kohort yang tidak terpapar dengan faktor resiko yang diamati. Pada
bentuk kohort dengan pembanding internal seperti ini, mempunyai keuntungan
tersendiri karena: pertama, kedua kelompok (target dan kontrol) berasal dari
populasi yang sama, dan kedua, terhadap kedua kelompok tersebut dapat
dilakukan

follow-up

dengan

tatacara

dan

waktu

yang

sama.

Dalam

pelaksanaannya, perbedaan adanya faktor risiko pada kelompok target dan


absennya pada kelompok kontrol dapat berupa faktor risiko internal (seperti
rentannya kelompok target terhadap gangguan kesehatan atau penyakit tertentu),
dapat pula sebagai faktor risiko eksternal (umpamanva adanya faktor lingkungan
atau perilaku maupunkepercayaan kelompok tertentu yang dapat mempermudah
seseorang terkena penyakit atau gangguan kesehatan tertentu). Di samping itu,
pada kelompok kontrol internal. Perbedaan faktor risiko antara dua kelompok
yang diamati dapat pula hanya berbeda pada intensitas,kualitas, dan waktu
keterpaparan, umpamanva perokok aktif dan mereka yang berada di sekitar
perokok aktif tersebut. Pada penelitian kohort, pemilihan anggota kelompok
kontrol biasanya tidak diperlukan teknik matching (penyesuaian) dengan anggota
kelompok target, terutama bila subjek yang diteliti jumlahnya cukup besar, atau

bila proporsi subjek dengan faktor risiko (kelompok target) jauh lebih besar bila
dibanding dengan kelompok kontrol. Namun dalam beberapa keadaan tertentu,
teknik matching perlu dipertimbangkan, misalnya apabila peneliti ingin
mengetahui besarnya pengaruh pemapaparan yang lebih akurat, pada penelitian
dengan besarnya sampel terbatas, atau pada keadaan di mana proporsi kelompok
target lebih kecil bila disbanding dengan kelompok kontrol. Namun demikian, bila
variabel luar cukup banyak ragamnya, teknik matching akan sulit dilakukan, dan
apabila tetap dipaksakan, akan mengakibatkan jumlah subjek akan lebih kecil
sehingga sulit mengambil kesimpulan yang definitif.Untuk penelitan kohort, perlu
mendapatkan perhatian utama dalam menentukan hasil luaran secara standar, apa
positif atau negatif (menderita atau tidak menderita penyakit yang diteliti). Pada
penelitian ini kemungkinan timbulnya negatif palsu cukup besar bila tidak
dilakukan standar penentuan diagnosis.
(6) Memilih Kelompok Kontrol (Pembanding)
Kelompok kontrol dalam penelitian kohort adalah kumpulan subjek yang
tidak mengalami pemaparan atau pemaparannya berbeda dengan kelompok target.
Perbedaan antara kelompok target dengan kelompok kontrol dapat dalam
beberapa bentuk.

Pada subjek dengan taktor risiko internal maka kelompok target dengan
variabel faktor risiko tersebut, sedangkan kelompok kontrol tanpa variabel

tersebut pada populasi yang sama.


Subjek dengan faktor risiko eksternal yang biasanya berupa variabel
lingkungan, dimana kelompok target berada/hidup pada lingkungan
tersebut sedangkan kelompok kontrol bebas dari pengaruh lingkungan

bersangkutan.
Bila keduanya mengandung faktor risiko maka kelompok kontrol dipilih
dari mereka dengan dosis faktor risiko yang lebih sedikit (intensitas,
kualitas, kuantitas, dan waktu pemaparan yang lebih rendah) dibanding
kelompok target.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pemilihan kelompok kontrol pada


rancangan kohort biasanya tidak disertai dengan teknik matching. Keadaan tanpa
teknik matching biasanya pada pemilihan kelompok kontrol seperti berikut.

Penelitian yang melibatkan subjek yang besar.


Penelitian dalam satu populasi atau sampel yang proporsi kelompok yang
terpapar dengan faktor risiko jauh lebih besar dibanding dengan kelompok
tanpa risiko (kontrol).
Sedangkan yang dianjurkan melakukan teknik matching pada pemilihan

kelompok kontrol adalah pada kondisi berikut.

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor risiko secara

teliti dan mendalam.


Penelitian yang subjeknya sangat terbatas jumlahnya.
Penelitian dengan proporsi subjek yang terpapar jauh lebih kecil.

(7) Pengamatan Hasil Luaran (Timbulnya Kejadian)


Pengamatan terhadap kedua kelompok (target dan kontrol) dilakukan
secara bersamaan selama jangka waktu tertentu. Lamanya waktu pengamatan
prospektif kohort tergantung pada karakteristik penyakit atau kejadian yang
diharapkan timbul, dan hal ini sangat dipengaruhi oleh sifat patogenesis serta
perkembangan penyakit/masalah kesehatan yang diteliti. Untuk jenis penyakit
keganasan, misalnya timbulnya kanker hati pada kelompok target dengan faktor
risiko adanya HBs-Ag positif, diperlukan periode pengamatan yang cukup lama
(dapat sampai puluhan tahun), sedangkan sebaliknya hubungan antara perokok
pasif (asap rokok sebagai faktor risiko)dengan keadaan kelahiran bayi (BBLR)
dari satu proses kehamilan dibutuhkan masa pengamatan hanya 9 bulan untuk
setiap subjek. Pengamatan terhadap timbulnya akibat, dapat dilakukan dengan
hanya pengamatan tunggal yakni menunggu sampai terjadinya efek sebagai hasil
akhir, tetapi dapat pula dengan pengamatan berkala, caranya setiap subjek diamati
secara periodik menurut interval waktu tertentu, termasuk pengamatan pada akhir
penelitian. Di samping itu, dapat pula dilakukan analisis perbandingan antara

kelompok target dan kelompok kontrol dengan memperhitungkan unsur waktu


sebagai unit analisis sehingga dengan demikian perbandingannya menggunakan
skala rasio.
Penentuan hasil akhir yakni penentuan tentang timbulnya akibat harus
dilakukan berdasarkan kriteria baku yang telah disusun pada awal penelitian.
Untuk mengurangi bias, sebaiknya penilaian dilakukan dengan sistem "Blind" di
mana penilai tidak mengetahui apakah yang dinilainya adalah kelompok target
atau kelompok kontrol, walaupun hal demikian agak sulit diterapkan.
Salah satu masalah yang sering terjadi pada pengamatan bentuk kohort
adalah hilangnya subjek dari pengamatan (lost to follow up), terutama pada
pengamatan yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Oleh sebab itu bila
sejak awal diketahui bahwa ada subjek yang akan berpindah tempat, sebaiknya
tidak diikutsertakan pada penelitian. Bila subjek dipilih dengan teknik matching,
maka setiap subjek yang hilang dari pengamatan, pasangannya harus dihapus pula
dari pengamatan. Apabila jumlah subjek yang hilang dari pengamatan cukup
besar,pengamatan harus dihentikan.Untuk mengantisipasi adanya mereka yang
hilang dari pengamatan, dapat dilakukanperhitungan person years pada akhir
pengamatan.

Subjek menolak ikut/drop-out selama penelitian, sedangkan kegiatan


penelitian tetapteruskan, dapat dilakukan analisis hasil sebagai berikut :
- Usahakan keterangan tentang keadaan insiden mereka yang dropout/menolak ikut;
- Bandingkan sifat karakteristik tertentu mereka yang menolak/drop out
dengan populasi kohort
- Follow up mereka yang menolak drop out melalui sarana lain; dan
- Melakukan pemeriksaan berkala yang lebih sering pada kelompok kohort

untuk menilai kecenderungan penyakit yang diteliti dari waktu ke waktu.


Perhitungan person years dilakukan terutama pada:
- Anggota kohort memasuki kelompok penelitian tidak bersamaan
-

waktunya;
Sejumlah anggota kohort meninggal atau drop-out selama masa
penelitian

Perhitungan hasil akhir pada mereka yang drop out :


- Adakan perhitungan nilai rate maksimal (mereka yang ; drop out
-

dianggap menderita semua)


Adakan perhitungan dengan rate minimal (mereka yang drop out

dianggap tidak menderita);


Adakan perhitungan dengan menganggap yang drop out

keadaannya dengan yang tidak drop out; dan


Adakan perhitungan dengan menambahkan penyebut sebesar setengah

sama

dari jumlah drop out.


Follow-up terhadap subjek, baik sebelum, selama, atau setelah mengalami
keterpaparan merupakan hal yang cukup penting dan sangat mempengaruhi hasil
luaran penelitian kohort. Penentuan dimulainya follow-up merupakan hal yang
penting dan berbagai hasil yang diamati sangat dipengaruhi oleh waktu awal
follow-up tersebut. Hal ini erat hubungannya dengan awal keterpaparan maupun
awal setiap anggota kelompok memasuki pengamatan. Hal lain yang juga sangat
penting dalam penelitian ini adalah lamanya masa pengamatan. Sebagaimana
dikatakan sebelumnya, bahwa lama pengamatan sangat tergantung pada sifat dan
jenis penyakit yang diamati.

(8) Perhitungan Hasil Penelitian (Insinden dan Risiko)


Hasil penelitian kohort biasanya dianalisis berdasarkan besarnya insiden
kejadian pada akhir pengamatan terhadap kelompok yang terpapar dibandingkan
dengan kelompok kontrol. Dalam analisis demikian ini, selain mereka yang tidak
terpapar sebagai kelompok kontrol, juga dimungkinkan membandingkan tingkat
keterpaparan yang berbeda antara kelompok target dengan kelompok kontrol.
Hasil perhitungan adalah dengan menentukan besarnya pengaruh keterpaparan
atau hubungan tingkat keterpaparan dengan hasil luaran(efek). Ukuran yang
sering digunakan untuk menilai besarnya pengaruh taktor keterpaparan terhadap
kejadian adalah tingkat risiko relatif(RR)

a = Jumlah yang terpapar dan menderita


b = Jumlah yang terpapar dan tidak menderita
c = Jumlah yang tidak terpapar dan menderita
d = jumlah yang tidak terpapar dan tidak menderita
a + c = Jumlah seluruhnya yang menderita pada akhir pengamatan
b + d = Jumlah mereka yang tidak menderita pada akhir pengamatan
a + b = Jumlah mereka yang terpapar pada awal pengamatan
c + d = Jumlah mereka yang tidak terpapar pada awal pengamatan yang diamati
N = Jumlah populasi
Risiko relatif (RR) disebut juga Rasio Insiden Kumulatif (Cumulatif
Incidence Ratio) adalah ukuran yang menunjukkan berapa kali (lebih besar atau
lebih kecil) risiko secara relatif untuk mengalami kejadian (penyakit atau
kematian) pada populasi terpapar bila dibandingkan dengan mereka yang tidak
terpapar. Perhitungan RR dapat dilihat pada contoh tabel di atas.
Besarnya rate insiden (IR) umum : Jumlah penderita/jumlah yang diamati
(ingat perhitungan terhadap drop out dan Iain-lain):
IR =

a+c
N

Besarnya rate insiden kelompok terpapar (IR T): Jumlah penderita dari
kelompok terpapar/ jumlah semua anggota kohort yang terpapar:
IRT = a
a+b
Besarnya rate insiden yang tidak terpapar (IR TT ) : Jumlah pen-derita dari
kelompok yang tidak terpapar/jumlah anggota kohort yang tidak terpapar.
IRTT = c
c+d
Besarnya risk relatif (RR) : Rate insiden yang terpapar/rate insiden yang
tidak terpapar.
RR = IRT
IRTT
Nilai RR menyatakan besarnya risiko (kemungkinan) untuk menderita
bagi mereka yang terpapar dibanding dengan mereka yang tidak terpapar atau
memperlihatkan besarnya pengaruh keterpaparan terhadap timbulnya penyakit.
Risiko relatif merupakan nilai perbandingan (rasio) antara rate insiden kelompok
terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak terpapar, pada akhir
pengamatan. Bila nilai RR = 1 artinya tidak ada pengaruh antara keterpaparan
dengan kejadian penyakit. Bila nilai RR > 1 artinya ada pengaruh positif dimana
faktor keterpaparan mempunyai peranan dalam timbulnya kejadian yang diamati.
Makin besar nilai RR, makin besar pula nilai kelipatan pengaruh tersebut.
Sedangkan bila nilai RR < 1, artinya faktor keterpaparan bukan merupakan risiko
kejadian penyakit, tetapi mempunyai efek pencegahan terjadinya penyakit.
Selain nilai risiko relatit tersebut di atas, dikenal pula nilai perbedaan rate
insiden dari kedua kelompok yang diamati, dan nilai ini disebut risiko atribut

(Attributable Risk). Besarnya risiko atribut (RA) adalah selisih antara rate insiden
kelompok terpapar dengan rate insiden kelompok yang tidak terpapar.
RA = IRT IRTT
Nilai RA ini menunjukkan besarnya pengaruh bila faktor keterpaparan
dihilangkan atau untuk melihat besarnya kemungkinan dalam usaha pencegahan
penyakit. Kedua nilai tersebut di atas mempunyai arti tersendiri yaitu risiko relatif
menunjukkan berapa besarnya pengaruh faktor keterpaparan terhadap kejadian
penyakit maupun kematian, sedangkan risiko atribut mempunyai kepentingan
dalam kesehatan masyarakat di mana frekuensi kejadian dapat diperkirakan pada
suatu populasi tertentu.
Untuk menganalisis hasil akhir suatu pengamatan kohort, harus dianalisis
apakah setiap nilai yang diperoleh pada pengamatan, memenuhi syarat serta betulbetul sesuai dengan ketentuan penelitian. Di samping itu, nilai yang dicapai harus
memberikan gambaran hubungan penyebab (causality associated) dengan
memperhatikan syarat-syarat yang telah dikemukakan terdahulu.Di bawah ini
diberikan suatu contoh perbandingan antara nilai risiko relatif dengan risiko
atribut antara perokok ringan dengan perokok berat untuk penyakit kanker paruparu dengan penyakit jantung kardiovaskuler.

Sebab

Angka Kematian/ 100 per

Risiko

Risiko

Kematian

tahun
Perokok

Relatif

Atribut

Perokok

Kanker Paru-

Ringan
0.07

Berat
2.27

32.43

2.20

paru
Penyakit

7.32

9.93

1.36

2.61

Jantung

Dari tabel tersebut tampak bahwa risiko relatit kanker paru-paru dengan
perokok berat sampai 32 kali dan jauh lebih besar bila dibanding dengan penyakit
jantung kardiovaskuler, tetapi resiko atribut keduanya hampir sama.
3.4 Kelebihan dan Kekurangan Studi Kohort
Ada beberapa kelebihan dari penelitian kohort bila dibanding dengan
bentuk penelitian epidemiologi lainnya;
a. Pada prinsipnya, penelitian ini memberikan gambaran yang cukup lengkap
tentang pengaruh dan sifat keterpaparan (hubungan keterpaparan dengan
kejadian penyakit serta sifat penyakit yang diteliti).
b. Memungkinkan mengamati/meneliti pengaruh efek ganda dari suatu sifat
keterpaparan (penyebab) sehingga dapat memberikan gambaran besarnya
pengaruh taktor keterpaparan seperti halnya pengaruh taktor risiko.
c. Memungkinkan perhitungan rate secara langsung yakni insiden penyakit
pada kelompok terpapar dan tidak terpapar.
d. Memungkinkan mencatat berbagai variabel yang dapat ditemukan/diamati
secara jelas dan sistematis.
e. Memungkinkan melakukan quality control (pengawasan kualitas) dalam
setiap pengukuran variabel yang diamati.
Namun di lain pihak, penelitian ini memiliki berbagai keterbatasan pula,
antara lain:
a. Membutuhkan jumlah penduduk yang cukup besar untuk pengamatan
penyakit yang jarang terjadi dalam masyarakat (rate insidennya
rendah).
b. Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk follow up pengamatan.
c. Kemungkinan pada faktor keterpaparan, sifat karakteristik penduduk
atau

jenis kegiatan kelompok yang diamati mengalami perubahan

selama pengamatan, yang dapat

menyebabkan hasil akhir kurang

relevan.
d. Biaya penelitian umumnya relatif mahal.
e. Dalam pelaksanaan follow up yang cukup lama, berbagai kesulitan
dapat timbul sehingga mengganggu follow up.

f. Kontrol terhadap variabel eksternal/variabel yang tidak diperhitungkan


mungkin kurang lengkap dan mempengaruhi hasil penelitian.
g. Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan
subyek terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan
subyek.

BAB IV
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Penelitian Kohort adalah rancangan penelitian epidemiologi analitik

observasional yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit, dengan


cara membandingkan kelompok terpapar dan kelompok tidak terpapar
berdasarkan status penyakit.
Peneitian kohort sendiri dibagi menjadi 2 bentuk yaitu retrospektif dan
prospektif yang dibagi bagi lagi menurut kelompok pembandingnya.
Adapun kelebihan dari penelitian kohort yaitu :
1.

Studi kohort merupakan desain yang terbaik dalam menentukan insidens

2.

dan perjalanan penyakit atau efek yang diteliti.


Studi kohort yang baik dalam menerangkan hubungan antara factor-faktor
resiko dengan efek secara temporal.

3.

Studi kohort merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang bersifat fatal dan

4.

progesif.
Studi kohort dapat dipakai untuk meneliti beberapa efek sekaligus dari

suatu factor resiko tertentu.


5. Karena pengamatan dilakukan secara kontinyu dan longitudinal, studi
kohort memiliki kekuatan yang andal untuk meneliti berbagai masalah
kesehatan yang makin meningkat.
Namun, kohort juga memiliki kelemahan yaitu :
1.
2.
3.
4.

Memerlukan waktu yang lama


Sarana dan biaya biasanya mahal
Sering kali rumit
Kurang efisien segi waktu maupun biaya untuk meneliti kasus yang jarang

terjadi
5. Terancam terjadinya drop out atau terjadinya perubahan intensitas pajanan
atau factor resiko dapat mengganggu analisis hasil
6. Dapat menimbulkan masalah etika oleh karena peneliti membiarkan subyek
terkena pajanan yang dicurigai atau dianggap dapat merugikan subyek.
DAFTAR PUSTAKA

Aksara Noor, Nur Nasry. 2000. Pengantar Epidemiologi. Makassar : Fakultas


Kesehatan Masyarakat,Universitas Hasanuddin
Ayu,

Sanyta.

2010.

Desain

Penelitian.

(Online),

(http://sanytaayu.blogspot.com/2010/12/desain-penelitian.html, Diakses
pada Tanggal 6 Maret 2015)
Budiarto, Eko. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran. Jakarta : Penerbit EGC
Budiarto, Eko dan Dewi Anggraeni. 2002. Pengantar Epidemiologi Edisi 2.
Jakarta: EGC
Budiharto. 2008. Metodologi Penelitian Kesehatan dengan Contoh Bidang Ilmu
Kesehatan Gigi. Jakarta: EGC

Gordis, Leon. 2004. Epidemiology. Philadelphia : Elsevier Saunders


Hikmati, Isna. 2011. Buku Ajar Epidemiologi. Yogyakarta: Numed
Nugrahaeni, Dyah Kunti. 2011. Konsep Dasar Epidemiologi. Jakarta: EGC.
Nuraini, Siska. 2010. Penelitian Kohort. (Online), (http://siskanuraini08.studentsblog.undip.ac.id/2010/11/04/penelitian-kohort/, Diakses pada Tanggal 6
Maret 2015)
Sastroasmoro, Sudigdo dkk. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta: Binarupa