Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Epidemiologi sebagai salah satu disiplin ilmu kesehatan yang relatif masih
baru bila dibandingkan beberapa disiplin lain, pada saat ini telah mengalami
perkembangan yang cukup pesat. Walaupun sejumlah penelitian epidemiologis
telah memberikan hasil cukup besar pada beberapa abad yang lalu, namun
epidemiologi sebagai suatu systematized body of epidemiology principles, yang
merupakan dasar dari penelitian epidemiologi, baru berkembang pada beberapa
puluh tahun ini.
Sejak akhir perang dunia II hingga dewasa ini, penelitian epidemiologi
telah banyak dilakukan oleh para ahli, terutama di negara - negara maju. Di
amerika serikat, berbagai hasil penelitian epidemioloi telah banyak dimanfaatkan
dalam usaha meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dinegara tersebut.
Demikian pula halnya pada negara – negara maju lainnya.
Epidemiologi telah banyak mengalami perubahan sejak dari awal
pengguanaanya secara tradisional, baik yang bersifat perubahan filosofis maupun
perubahan dalam teknis penggunaanya. Namun demikian, dengan kemajuan ilmu
dan teknologi dewasa ini banyak mendorong para ahli epidemiologi untuk
mengembangkan diri dan sekaligus berusaha mengembangkan dispilin ilmu
epidemiologi agar dapat sejajar dengan berbagai ilmu dasar lainnya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah epidemiologi?
2. Siapa saja tokoh-tokoh epidemiologi?
3. Bagaiman peristiwa bersejarah epidemiologi?
4. Jelaskan teori perkembangan epidemiologi!
C. Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah epidemiologi
2. Untuk mengetahui tokoh-tokoh epidemiologi
3. Untuk mengetahui peristiwa bersejarah epidemiologi
4. Untuk mengetahui perkembangan dari epidemiologi

1
D. Sasaran
Makalah ini ditujukan untuk mahasiswa dan mahasiswi kelas Rekam
Medis dan Informasi Kesehatan 33 angkatan 2017.
E. Kegiatan
Kami melakukan kegiatan berupa ceramah, tanya jawab dan diskusi dalam
kelas.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Epidemiologi
Dari catatan sejarah yang terkumpul menunjukkan bahwa
epidemiologi merupakan ilmu yang telah dikenal sejak zaman dahulu
bahkan berkembang bersamaan dengan ilmu kedokteran karena kedua
disiplin ilmu ini berkaitan satu dengan yang lain. Hasil yang diperoleh dari
studi penelitian dapat digunakan untuk menentukan pengobatan suatu
penyakit, melakukan pencegahan, atau meramalkan hasil pengobatan.
Sebagaimana dikemukakan sebelumnya bahwa epidemiologi
dalam pengertiannya dewasa ini merupakan ilmu yang relatif masih baru.
Namun demikian, sejarah epidemiologi tidak dapat dipisahkan dengan
masa ketika manusia mulai mengenal penyakit menular. Walaupun pada
saat itu sumber dan penyebab penyakit masih dianggap berasal dari
kekuatan goib dan roh jahat, tetapi cukup banyak usaha pada zaman purba
yang dapat dianggap sebagai usaha untuk melawan epidemi. Umpama nya
pada kira-kira 1000 tahun SM telah dikenal variolasi di China untuk
melawan penyakit variola (cacar), sedangkan India pada saat tersebut
selain menggunakan variolasi, juga telah mengenal bahwa penyakit pes
erat hubungannya dengan tikus, sedangkan kusta telah diketahui
mempunyai hubungan erat dengan kepadatan penduduk.
Pada zaman kejayaan Yunani dan Romawi kuno, telah dikenal
adanya proses penularan penyakit pada masyarakat yang sangat erat
hubungannya dengan faktor lingkungan. Hal ini telah dikemukakan oleh
Hippocrates (abad ke-5 SM). Dalam tulisannya yang berjudul epidemics
serta dalam catatannya mengenai “airs, waters and places”, beliau telah
mempelajari masalah penyakit di masyarakat dan mencoba
mengemukakan berbagai teori tentang hubungan sebab akibat terjadinya
dalam masyarakat. Walaupun pada akhirnya teori tersebut tidak sesuai

3
dengan kenyataan, tetapi telah memberikan dasar pemikiran tentang
adanya hubungan faktor lingkungan dengan kejadian penyakit sehingga
dapat dikatakan bahwa konsep tersebut adalah konsep epidemiologi yang
pertama.
Kemudian Gallen mengemukakan suatu doktrin epidemiologi yang
lebih logis dan konsisten dengan menekankan teori bahwa beradanya suatu
penyakit pada kelompok penduduk tertentu dalam suatu jangka waktu
tertentu (suatu generasi tertentu) sangat dipengaruhi oleh tiga faktor
utama, yakni: (1) Faktor atmosfir (the atmspheric factor); (2) Faktor
Internal (Internal factor); dan (3) Faktor Predisposisi (predisposing or
procatartic factor). Apa yang dimukakan Gallen tidak banyak mengalami
perubahan selanjutnya dan merupakan dasar pengembangan epidemiologi.
Pada abad ke 14 dan 15 masehi, masalah epidemi penyakit dalam
masyarakat semakin jelas melalui berbagai pengamatan peristiwa wabah
penyakit pes dan variola yang melanda sebagian besar penuduk dunia.
Pada waktu itu, orang mulai menyadari bahwa sifat penularan penyakit
dapat terjadi terutama karena adanya kontak dengan penderita. Dalam hal
ini dikenal jasa Veronese Fracastorius (1483-1553) dan Sydenham (1624-
1627) yang secara luas telah mengemukakan tentang teori konrak dalam
proses penularan penyakit. Dan berdasakan teori kontak inilah dimulainya
usaha isolasi dan karantina yang kemudian ternyata mempunyai peranan
positif dalam usaha pencegahan penyakit menular hingga saat ini.
Konsep tentang sifat kontagious dan penularaan penyakit dalam
masyarakat telah disadari dan dikenal sejak dahulu namun baru pada abad
ke 17, teori tentang germ dan perannya dalam penularan penyakit pada
masyarakat mulai dikembangkan. Dalam hal ini sydenham dapat dianggap
sebagai vioner epidemiologi walaupun sebagian dari teorinya tidak lagi
diterima. Sydenham dengan teori serta berbagai perkiraannya terhadap
kejadian epidemi, perjalanan epidemi dalam masyarakat serta perkiraan
ssifat epdemi merupakan suatu model penggunaan metode epidemiologi.
Pada saat yang sama John Graunt telah mengembangkan teori Statistik

4
Vital yang sangat bermanfaat dalam bidang epidemiologi. Walaupun
Grount bukan seorang dokter, tetapi hasil karyanya sangat bermanfaat
dalam bidang epidemiologi dengan menganalisis sebab kematian pada
berbagai kejadian kematian di London dan mendapatkan berbagai
perbedaan kejadian kematian antar jenis kelamin serta antara penduduk
urban dan rural, maupun perbedaan berbagai musim tertentu. disamping
Graunt yang telah mengembangkan Statistik Vital, William Farr
mengembangkan analisis sifat epidemi berdasarkan hukum matematika.
William Farr mengemukakan bahwa meningkatnya, menurunnya, dan
berakhirnya suatu epidemi mempunyai sifat sebagai fenomena yang
berurutan (anorderly thenonenon) yang dewasa ini di anggap mengikuti
hukum Kurva Normal.
Jakob Henle pada tahun 1840 mengemukakan teorinya tentang
sifat epidemi dan endemi yaang sangat erat hubungannya dengan
fenomena biologis. Dalam tulisannya dikemukakan bahwa yang dapat
menyebabkan timbulnya penyakit adalah organisme yang hidup (living
organism). Pendapat ini pada waktu yang sama telah mendorong berbagai
ilmuwan terkemuka seperti Robert Koch, Pasteur dan lainnya untuk
menemukan mikro organisme penyebab penyakit tertentu.
Sejak didapatkan mikro organisme sebgai penyebab penyakit, para
ahli segera mencoba mencari berbagai penyebab khusus untuk penyakit
tertentu. pada awalnya mereka hanya melakukan pengamatan terhadap
penderita perorangan, tetapi kemudian mulai berkembang ke arah
hubungan sebab akibat yang dapat mengganggu keadaan normal
masyarakat. Dari usaha pengembangan imunitas perorangan serta
kekebalan pejamu (manusia), mulailah dikembangkan usaha pencegahan
penyakit melalui vaksinasi. Perkembangan hubungan sebab akibat yang
bersifat tunggal mulai diratakan ketidak mampuannya dalam hal
memberikan jawaban terhadap berbagai gangguan kesehatan masyarakat
sehingga mulai di pikirkan hubungan yang lebih kompleks dalam proses
sebab terjadinya penyakit serta gangguan kesehatan lainnya.

5
B. Tokoh-Tokoh Epidemiologi
1. Hippocrates (abad ke 5 sm)
The first epidemiologist : Bapak Epidemiologi dan kedokteran
modern lewat tulisannya “On Airs, Waters, and Places,”. Orang pertama
yang meneliti hubungan antara timbulnya penyakit dan pengaruh
lingkungan. Membangkitkan kesadaran akan kemungkinan terjadinya
penyakit pada manusia berikatan dengan faktor eksternal, yaitu : musim,
angin, udara, air yang dimunum, jenis tanah, perilaku manusia, dan jenis
pekerjaan.
2. John Graunt (1662)
Merupakan yaang pertama melakukan kuantitikasi atas kejadian
kesakitan dan kematian dengan menganaalisis laporan mingguan kelahiran
dan kematian dikota London.
3. William Farr (1839)
Orang yang pertama menganalisis statisstik kematian untuk
mengevaluasi masalah kesehatan. Ia juga yang mengembangkan beberapa
metoda penting dalam epodemiologi, seperti: definisi populasi beresiko,
populasi pembanding, dll.
4. John Snow
Orang yang pertama mengembangkan metoda investigas wabah
yang dapat mengantarkan penyelidikan ke arah penyebab. Ia menyelidiki
dan menganalisis kejadian kematian karena wabah kolera dengan langkah-
langkah mengembangkan metoda investigasi, menyusun hipotesis, dan
membuktikan hipotesis tersebut.
5. Thomas Sydenham (1624-1689)
Ia mendeskripsikan dan menjelaskan perbedaan berbagai penyakit
dan juga mengenalkan tindakan serta cara pemulihan yang bermanfaat
6. Robert Koch (1843-1910)
Koch menemukan bakteri dan mikroorganisme penyebab berbagai
penyakit infeksi, meliputi antraks (1876), infeksi luka (1878), tuberkulosis
(1882), konjunktivitis (1883), kolera (1884), dan beberapa lainnya.

6
7. Galen (129-199 BC)
The Father of Experimental Physiology: status kesehatan berkaitan
temperament (watak); penyakit berhub. dgn personality type & lifestyle
factors.

C. Peristiwa bersejarah epidemiologi


1. Plague of Justinian (wabah justinian), dimulai tahun 541, merupakan
wabah bubonik yang pertama tercatat dalam sejarah. Wabah ini dimulai
dari Mesir dan merebak sampai Konstatinopel pada musim semi tahun
berikutnya, serta (menurut catatan Procopius dari Bizantium) pada
puncaknya menewaskan 10.000 orang setiap hari dan mungkin 40 persen
dari penduduk kota tersebut. Wabah tersebut terus berlanjut dan memakan
korban sampai seperempat populasi manusia di Mediterania timur.
2. The black death, dimulai tahun 1300-an. Delapan abad setelah wabah
terakhir, pes bubonik merebak kembali ke Eropa. Setelah mulai terjangkit
di Asia, wabah tersebut mencapai Mediterania dan Eropa barat pada tahun
1348 (mungkin oleh para pedagang Italia yang mengungsi dari perang di
Crimea) dan menewaskan 20 juta orang Eropa dalam waktu enam tahun.
3. Identifikasi air sebagai reservoir dan media (vehicle) utama penyakit
menular seperti kolera dan demam tifoid (1849-1856).
4. Identifikasi vektor arthropoda pada berbagai penyakit – malaria, demam
kuning, penyakit tidur, dan tifus (1895-1909).
5. Identifikasi carrier asimptomatik sebagai vektor utama pada tifoid,
difteri, dan polio (1893-1905).
6. Penemuan rokok sebagai penyebab utama kanker paru, emfisema, dan
penyakit kardio-vaskular (1951-1963).
7. Terjadinya eradikasi penyakit cacar di Cina pada (1978) dan di Eropa yang
menyebar ke India pada tahun (1663).
8. Penemuan infeksi hepatitis B perinatal sebagai penyebab perlu (necessary
cause) bagi karsinoma hepato-selular, kanker yang terbanyak ditemukan di
China dan Afrika Selatan (1970-1980).

7
9. Identifikasi sindroma AIDS, dengan prediksi bahwa penyebabnya adalah
virus yang ditularkan secara seksual (1981-1983), serta pengembangan
tindakan preventifnya sebelum virusnya ditemukan.

D. Teori Perkembangan Epidemiologi


Periode I: Zaman Mesir Kuno
Pada zaman Mesir Kuno, para ahli pengobatan telah mulai mencoba
mengenali penyakit secara klinis dengan upaya untuk melakukan deskripsi,
diferensiasi, dan kategorisasi gejala penyakit. Dalam zaman ini telah dikenal pula
bahaya penyakit menular, antara lain kusta, dan telah ada upaya isolasi dan
karantina untuk menghambat dan mencegah penularannya.
Salah satu tokoh ilmu pengobatan yang terkenal pada masa ini adalah
Imhotep (2600 SM), yang selain sebagai ahli pengobatan juga terkenal sebagai
arsitek dan pematung.
Periode II: Zaman Yunani Kuno
Tokoh ilmu pengobatan pada zaman Yunani Kuno ialah Hippokrates (abad
5 SM), yang dikenal sebagai ‘Bapak Ilmu Kedokteran’. Hippokrates
mengembangkan metode pengamatan, pencatatan, dan refleksi hasil pengamatan
sesuai ide dan konsep pikir pengamat. Penyebab epidemi dicari dengan
mempelajari riwayat alamiah penyakit serta menghubungkan kejadian penyakit
dengan waktu dan tempat kejadian. Konsepkonsep pemikiran Hippokrates ini
dituangkannya dalam buku “On Airs, Waters, and Places”.
Masa Transisi
Setelah era Hippokrates, terdapat masa transisi panjang yang ditandai
dengan sangat lambatnya perkembangan Epidemiologi. Periode-periode
terpenting selama masa transisi antara lain adalah:
a. Zaman Romawi Kuno: Tokoh ilmu pengobatan utama pada zaman ini
ialah Galen (abad ke-2), yang berupaya menghidupkan kembali doktrin
Hippokrates, namun lebih menonjolkan aspek filosofisnya, sehingga
alirannya dikenal sebagai “arm chair epidemiology”.

8
b. Zaman Reneisans (Reneisance): Fracostorius (abad ke-16), seorang ahli
Biologi, mencetuskan konsep bahwa penyakit disebabkan oleh benih yang
dinamakannya semenaria, yang pada masa kini dapat dianggap kurang
lebih sama dengan mikroorganisme.
Periode III
Periode dimulai pada abad ke-17 dengan berkembangnya teori miasma
(miasmatic theory), yang menyatakan bahwa selain faktor hospes dan lingkungan
(Hippokrates), ada faktor ketiga yang menimbulkan penyakit yang dinamakan
miasma, yaitu benda-benda yang kotor dan tidak sehat. Atas dasar teori ini telah
dikembangkan berbagai upaya kesehatan dalam bentuk perbaikan hygiene dan
sanitasi yang antara lain dipelopori oleh Edwin Chadwick di Inggris serta Max
von Pattenkofer di Jerman. Perkembangan epidemiologi selanjutnya dalam
periode ini ditandai dengan upaya untuk melakukan kuantifikasi kejadian
epidemiologi.
John Graunt mencoba menginterpretasikan mortalitas sebagai fungsi umur
dan tempat, sedangkan William Farr mengembangkan prosedur matematik untuk
meneliti epidemi pes pada ternak serta metode statistik untuk peramalan waktu
epidemi penyakit menular. John Graunt dikenal sebagai ‘Bapak Epidemiologi dan
Demografi’. Pada abad ke-19, mulai dikembangkan patologi geografi dan historik,
yaitu identifikasi kelompok-kelompok faktor waktu, tempat, dan orang yang
mempengaruhi kejadian penyakit. Penyelidikan lapangan yang terkenal antara lain
dilakukan oleh John Snow (1813-1858), yang melihat sangat tingginya frekuensi
kematian karena penyakit muntaber (kolera) pada distrikdistrik di London yang
sumber airnya dikotori oleh limbah. Penyelidikan John Snow berhasil
membuktikan bahwa wabah kolera tersebut berasal dari salah satu pompa air,
walaupun pada masa itu bakteria belum dikenal.
Selama periode ini juga tercapai kemajuan penting di bidang mikrobiologi,
antara lain oleh Jacob Henle yang menulis makalah “On Miasmata and
Contagia”. Dalam makalah tersebut dikemukakannya teori berdasarkan pemikiran
deduktif dan argumentasi logis, bahwa mikroorganisme yang diramalkannya akan
ditemukan kemudian dengan menggunakan mikroskop merupakan penyebab

9
penyakit infeksi. Robert Koch (1843-1910) selanjutnya berhasil menemukan basil
tuberkulosis penyebab Koch Pulmonum.
Periode IV
Dalam periode ini berkembang paradigma bahwa kesehatan dan penyakit
merupakan proses biologis yang dinamis antara manusia dan lingkungan.
Konsekuensi paradigma ini ialah pendapat bahwa semua penyakit yang
menyerang manusia mempunyai hukum yang sama, yang berlaku bagi penyakit
infeksi maupun penyakit non-infeksi.

10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah epidemiologi dimulai pertama kali sejak zaman Hippocrates yang
dikenal sebagai ahli epidemiologi pertama. Selain Hippocrates juga terdapat
beberapa ahli yang berperan dalam sejarah perkembangan epidemiologi. Adapun
teori perkembangan epidemiologi dibagi menjadi tiga yaitu tahap pengamatan,
tahap perhitungan, dan tahap pengkajian.
Maka para ahli epidemiologi mulai mengembangkan apa yang sekarang
dikenal dengan metode epidemiologi, yakni suatu sistem pendekatan ilmiah yang
diarahkan kepada analisis faktor penyebab serta hubungan sebab akibat akibat
disamping dikembangkannya epidemiologi sebagai bagian dari ilmu kesehatan
masyarakat.

B. Saran
1. Setelah memahami sejarah perkembangan epidemioogi, mahasiswa
diharapkan menerapkan ilmu epidemiologi dalam kehidupan sehari – hari
agar kondisi kesehatan meningkat.
2. Kami berharap bimbingannya dari dosen apabila kami mendapatkan
kesalahan dari pembuatan makalah ini.

11