Anda di halaman 1dari 1

Cara penularan infeksi nosokomial bisa terjadi secara langsung maupun tidak

langsung, yang paling sering terjadi pada infeksi nosokomial adalah dengan cara
kontak langsung antara pasien dengan agen penyebab infeksi. Pada kontak
langsung, terdapat kontak fisik antara sumber penyakit dengan penderita.
Sedangkan pada kontak tidak langsung korban mengadakan kontak fisik dengan
obyek yang terkontaminasi, bisa berupa benda benda mati, alat alat medis, keluarga
pasien dan juga perawat yang bertugas. atau melalui udara.
Yulia habni (2009), Hasil penelitian tingkat pengetahuan baik sebesar 88%, tingkat
pengetahuan sedang sebesar 10 %, tingkat pengetahuan kurang sebesar 1%,
penilaian sikap positif sebesar 84.3%, sikap negatif sebesar 15.7%, sedangkan untuk
keterampilan baik sebesar 4 % , keterampilan sedang sebesar 78.4%, dan
keterampilan kurang sebesar 17.6%

Pencegahan infeksi nosokomial yang dikemukakan oleh WHO (2002)


menyatakan bahwa infeksi nosokomial membutuhkan keterpaduan,
pemantauan, dan program dari semua tenaga kesehatan, Pencegahan infeksi
nosokomial yang menjadi kunci utama yaitu: (1) membatasi transmisi
organisme antara pasien dalam melakukan perawatan pasien secara
langsung melalui cuci tangan, menggunakan sarung tangan, teknik aseptik
yang tepat, strategi isolasi, sterilisasi dan teknik desinfektan; (2)
mengendalikan lingkungan yang berisiko untuk infeksi; (3) melindungi pasien
dengan penggunaan profilaksis antimikroba yang tepat, nutrisi, dan
vaksinasi; (4) membatasi risiko terjadinya infeksi endogenous dengan
meminimalkan prosedur invasif, dan mempromosikan penggunaan
antimikroba yang optimal; (5) surveilans infeksi, mengidentifikassi dan
mengendalikan wabah; (6) pencegahan infeksi pada tenaga kesehatan; (7)
meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan secara terus menerus dengan
memberikan pendidikan.

Dantik Setiana1, Budi Palarto2, Hari Peni Julianti (2011), Hasil analisis
hubungan antara pengetahuan dengan sikap terhadap pencegahan infeksi
dengan uji korelasi pearson didapatkan p = 0,029 (bermakna). Hubungan
antara pengetahuan dengan praktik pencegahan infeksi dengan uji
korelasi pearson didapatkan p = 0,295 (tidak bermakna). Hubungan
antara sikap dengan praktik pencegahan infeksi dengan uji korelasi
pearson didapatkan p = 0,048 (bermakna), hal ini menandakan
Pengetahuan dengan sikap dan sikap dengan praktik terdapat hubungan
yang signifikan terhadap pencegahan infeksi. Sedangkan pengetahuan
dengan praktik tidak adanya hubungan yang signifikan terhadap
pencegahan infeksi.
Aisyah (2012), hasil penelitiannya terdapat 38 pasien menderita IDO di antara
225 pasien yang mengalami HAIs, berarti 16,9% dari pasien HAIs menderita
infeksi daerah operasi. Selain itu, berdasarkan penelitian pendahuluan yang
dilakukan oleh penulis di Rumah Sakit X Surabaya menunjukkan bahwa terjadi
peningkatan kejadian infeksi daerah operasi dari 2011 hingga 2012. Pada tahun
2011 terjadi 3 kasus IDO di antara 970 operasi bersih dan bersih terkontaminasi,
sedangkan pada 2012 terjadi 6 kasus IDO di antara 1098 operasi bersih dan
bersih terkontaminasi.