Anda di halaman 1dari 15

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya
kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan referat ini yang berjudul
HIPERSOMNIA. Dimana merupakan salah satu syarat untuk mengikuti ujian di RSJ Banda
Aceh pada bagian/SMF Ilmu Penyakit Jiwa.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan referat ini jauh dari yang diharapkan
baik isi maupun cara penyusunannya. Oleh sebab itu penulis mengharapkan petunjuk, bimbingan
dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan referat ini. Terima kasih kepada:
1. Dr. Sukristoro W, Sp.KJ yang membimbing dan memberi arahan kepada penulis.
2. Kepada teman-teman seperjuangan coass stase Jiwa dari Fakultas Kedokteran
Universitas Abulyatama Aceh dan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala di
RSJ Banda Aceh.

Penulis berharap semoga referat ini dapat bermanfaat bagi kita dan bagi perkembangan
ilmu pengetahuan, khususnya ilmu kedokteran.
Semoga Allah SWT selalu memberikan hidayah dan karunia-Nya kepada kita semua.

Langsa, 10 Februari 2014


Penulis,

Pembimbing,

(Nana Ade Primana, S.Ked)

(Dr. Kris, Sp.KJ)


1

DAFTAR ISI
Halaman

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


1. Definisi Hipersomnia

2. Epidemiologi Hipersomnia

3. Aspek Neurobiologi

4. Gejala Klinis Hipersomnia


5. Kriteria Diagnosis Hipersomnia
6. Penatalaksanaan
a. Psikofarmaka
b. Non Psikofarmaka
BAB III. KESIMPULAN
BAB IV. DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan tidur yang dialami pada sebagian besar adalah Insomnia dan sisanya
15% hipersomnia. Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan
pada penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh semua lapisan
masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah maupun orang muda, serta yang
paling sering ditemukan pada usia lanjut.(2)
Pada orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan
perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurun daya tahan tubuh serta
menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi, kelelahan, yang
pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau orang lain. Menurut beberapa
peneliti gangguan tidur yang berkepanjangan didapatkan 2,5 kali lebih sering mengalami
kecelakaan mobil dibandingkan pada orang yang tidurnya cukup. Diperkirakan jumlah penderita
akibat gangguan tidur setiap tahun semakin lama semakin meningkat sehingga menimbulkan
masalah kesehatan.(1)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I.

DEFINISI HIPERSOMNIA
Hipersomnia adalah suatu keadaan kecendrungan tidur yang berlebihan, sulit
mempertahankan keadaan terjaga pada siang hari, rasa mengantuk disiang hari yang
berlebihan, berkepanjangan tidur malam hari, atau kadang kedua-duanya, yang terjadi
secara teratur atau rekuren untuk waktu singkat, dan menyebabkan gangguan fungsi
sosial dan pekerjaan.(2,3,4)

II.

EPIDEMIOLOGI HIPERSOMNIA
Hipersomnia dianggap sebagai penyakit langka lebih jarang dibandingkan
insomnia. Penelitian baru- baru ini mengatakan kejadian hipersomnia 1 : 800 di Amerika
Serikat saja. Berdasarkan National Sleep Foundation melaporkan hipersomnia 0,3 % 4,0 % orang dewasa, 5% - 10% dewasa muda dan dewasa menengah, 20%- 30% lanjut
usia jatuh tertidur disiang hari dan adanya serangan tidur disiang hari, durasi tidur pada
hari kerja rata-rata 39% 6,9 jam atau kurang dari 7 jam. Tidak ada perbedaan jenis
kelamin pada penyakit hipersomnia. Masalah tidur ini berdampak pada fungsi mereka
sehari-hari (social, keluarga, pekerjaan). (4,5,7)

III.

ASPEK NEUROBIOLOGI DAN ETIOLOGI


Penyebab paling umum dari hipersomnia :
1. Idiopatik
Dengan gejala mengantuk di siang hari yang berlebihan dan tidak didiagnosis sebagai
narkolepsi. Kemungkinan penyebab Gangguan perilaku tidur REM adalah lesi tegmental
pontine, melibatkan serotonergik, monoaminergik dan kolinergik neurotransmisi.
Diperkirakan bahwa munculnya Gangguan perilaku tidur REM hasil dari lesi lokalisasi
yang berhubungan dengan gangguan neurologis yang mendasari. Penelitian baru-baru ini
telah mengidentifikasi beberapa kelainan yang berhubungan dengan hipersomnia, seperti
menemukan sebuah hipersensitivitas abnormal reseptor GABA (kimia otak yang
bertanggung jawab utama untuk sedasi atau untuk proses tidur ) pada pasien dengan
hipersomnia. Jadi hipersensitivitasi abnormal GABA terjadi secara alamiah oleh zat
bioaktif (yaitu peptida seperti tripsin yang tersensitisasi) dalam CSF pasien menderita.
Zat ini memerlukan penelitian lebih lanjut dari struktur kimianya yang telah terbukti
dapat menyebabkan hiperreaktivitas reseptor GABA menyebabkan peningkatan sedasi
atau mengantuk. (3,4,5)
2. Kurang tidur
Banyak orang tidak menjadwalkan waktu yang cukup untuk tidur di malam hari sehingga
disiang hari pada terjaga merasakan ngantuk. Ini dikelola oleh pendidikan pasien tentang
kebiasaan tidur yang sehat. (6)
3. Sleep apnea
Sleep apnea adalah suatu kondisi di mana pasien secara berkala berhenti bernapas saat
tidur. Ada dua jenis sleep apnea-pusat dan obstruktif. Yang paling penyebab umum sleep
apnea adalah karena obstruksi sementara saluran napas bagian atas. Itu perubahan ekstrim
dalam konsentrasi oksigen dan karbon dioksida dalam darah yang berkembang setelah 1
menit atau lebih tanpa udara membangunkan tidur, dan beberapa berisik, tersedak
terengah-engah mengisi paru-paru. Obstructive sleep apnea adalah penyebab medis yang
paling umum dari mengantuk siang hari yang berlebihan. Yang sangat penting bagi
diagnosis adalah riwayat episode apnea saat tidur. Biasanya pasien tidak menyadari
episode karena mereka singkat dan gairah hanya parsial, sehingga sejarah harus diperoleh
5

secara tidak langsung, biasanya dari pasangan atau teman sekamar. Gejala / tanda-tanda
yang umum termasuk keras mendengkur dan jeda dalam bernapas. Gejala tambahan
termasuk terengah-engah selama tidur, sakit kepala kusam, dan perilaku otomatis. (7,8)
4. Narkolepsi
Narkolepsi adalah suatu keadaan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari dalam
keadan sadar. Ada subtipe narkolepsi, yaitu :
1) Narkolepsi dengan Cataplexy
Dengan gejala mengantuk siang hari yang berlebihan dan cataplexy (tiba-tiba kehilangan
postural terjadi saat pasien terjaga dan identik dengan atonia). Gejala utama adalah
serangan tidur tak tertahankan berlangsung 5 - 30 menit di siang hari. Serangan ini dapat
terjadi tanpa peringatan dan pada waktu yang tidak tepat. Itu kantuk yang terjadi pada
narkolepsi tidak dapat dihilangkan dengan setiap jumlah tidur yang normal. Patogenesis
baik predisposisi genetik dan lingkungan pemicu adalah terlibat. Ada hubungan antara
major histocompatibility complex (MHC) gen dan narkolepsi-cataplexy, yang diduga
menjadi gangguan autoimun. Kekurangan hypocretin (ditunjukkan oleh CSF rendah
hypocretin-1 tingkat) adalah penyebab kebanyakan kasus narkolepsi-cataplexy pada
hewan dan manusia. Studi otopsi telah menunjukkan hilangnya selektif neuron
hipotalamus posterior yang memproduksi hypocretin neuropeptida (Orexin). Hypocretin
(orexin) disintesis di hipotalamus terutama ke inti batang otak mengandung norepinefrin,
histamin, serotonin dan neuron dopamin. Neuron hypocretin mengintegrasikan
metabolisme tidur dan masukan bangun. Ada beberapa hipotesa mengatakan hypoactivity
dalam sistem catecholaminergic. (9,10)
2) Narkolepsi tanpa Cataplexy
Dengan gejala mengantuk disiang hari yang berlebihan dan multiple sleep.
5. Penyalahgunaan obat dan alkohol
Seperti Benzodiazepin yang bekerja melalui sistem GABA.
6. Cedera kepala atau penyakit saraf , misalnya multiple sclerosis
7. Genetik (memiliki relatif dengan hipersomnia).

IV.

GEJALA KLINIS HIPERSOMNIA (11)


-

Tidur malam atau disiang dengan durasi lama (sebanyak 12 jam atau lebih). (11)
Berlebihan kantuk di siang hari menyebabkan tidur siang berkepanjangan yang tidak
menyegarkan sehingga sulit untuk bangun dari tidur siang ataupun tidur malam. (11)
Pasien tidak merasa tidur siang berikut segar dan karena itu melawan kantuk selama
mereka mampu. (11)
Beberapa pasien mengeluh sakit kepala, episode pingsan, hipotensi ortostatik. (11)
Pasien dengan hipersomnia primer peningkatan risiko mengembangkan gangguan depresi
mayor. Gejala khas termasuk mood depresi, anhedonia (kehilangan minat dan
kesenangan), penurunan energi, agitasi psikomotor atau retardasi, penurunan atau
peningkatan nafsu makan (yang dapat menyebabkan penurunan berat badan atau
keuntungan), penurunan perhatian dan konsentrasi, penurunan libido, perasaan bersalah
atau tidak berharga, dan, dalam kasus yang parah, keinginan bunuh diri, proses berpikir

delusi, halusinasi pendengaran. (11)


Pada pasien dengan bentuk berulang hipersomnia terjadi selama berhari-hari hingga
berminggu-minggu beberapa kali dalam setahun. Beberapa pasien mungkin mengalami
gejala mudah marah, mudah tersinggung, hypersexuality, hyperphagia, perilaku impulsif,
depersonalisasi, halusinasi, depresi, dan disorientasi. (11)

V.

KRITERIA DIAGNOSIS HIPERSOMNIA


Berdasarkan Pedoman Diagnostik Gangguan Jiwa dari PPDGJ III dan ICD-10
Hipersomnia termasuk dalam urutan Hierarki Blok Diagnosis Gangguan Jiwa No V. F50F59 tentang Sindrom Prilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor

Fisik. Pada urutan F51 Gangguan Tidur Non- Organik, yaitu F51.1 Hipersomnia NonOrganik.(12)
F51 Gangguan Tidur Non-Organik (12)

Kelompok gangguan ini termasuk


a) Dysomnia : kondisi psikogenik primer dimana gangguan utamanya adalah
jumlah, kualitas atau waktu tidur yang disebabkan oleh hal-hal emosional,
misalnya : insomnia, hipersomnia, gangguan jadwal tidur jaga.
b) Parasomnia : peristiwa episodik abnormal yang terjadi selama tidur, pada
anak-anak hal ini terkait terutama dengan perkembangan anak, sedangkan
pada dewasa terutama pengaruh psikogenik. Misalnya : somnambulisme
(sleep walking), teror tidur (night terrors), mimpi buruk (night mares)

Pada kebanyakan kasus, gangguan tidur adalah salah satu gejala dari gangguan
lainnya, baik mental atau fisik. Walaupun gangguan tidur yang spesifik terlihat
secara klinis berdiri sendiri sejumlah faktor psikiatrik dan atau fisik yang terkait
memberikan kontribusi pada kejadiannya. Secara umum adalah lebih baik
membuat diagnosis gangguan tidur yang spesifik bersaman dengan diagnosis lain
yang relevan untuk menjelaskan secara adekuat psikopatologi dan atau
patofisiologi. (12)

F51.1 Hipersomnia Non-Organik (12)


Pedoman Diagnostik :

Gambaran klinis dibawah ini adalah esensial untuk diagnosis pasti :


a) Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya serangan tidur/
sleep attacks (tidak disebabkan oleh jumlah tidur yang kurang), dan atau
transisi yang memanjang dari saat mulai bangun tidur sampai sadar
sepenuhnya (sleep drunkenness)
b) Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan atau berulang
dengan kurun waktu yang lebih pendek, menyebabkan penderitaan yang
cukup berat dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan
8

c) Tidak ada gejala tambahan narcolepsy (cataplexy, sleep paralysis,


hynagogic hallucination) atau bukti klinis untuk sleep apnoe (nocturnal
breath cessation, typical intermittent snoring sound,etc)
d) Tidak ada kondis neurologis atau medis yang menunjukkan gejala rasa
kantuk pada siang hari.

Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari gangguan jiwa lain,
misalnya Gangguan Afektif, maka diagnosis harus sesuai dengan gangguan yang
mendasarinya. Diagnosis hipersomnia psikogenik harus ditambahkan bila
hipersomnia merupakan keluhan yang dominan dari penderita dengan gangguan
jiwa lainnya. (12)

Menurut kriteris DSM-IV-TR dibagi menjadi 2 yaitu : Hipersomia Primer dan


Hipersomnia Akibat Gangguan Jiwa Lain. (10)
1.

Hipersomnia Primer (10)

Keluhan yang dominan adalah rasa mengantuk berlebihan untuk waktu


sedikitnya 1 bulan (atau kurang jika berulang) yang tampak baik dengan
episode tidur lama atau episode siang hari yang terjadi hampir setiap hari

Rasa mengantuk yang berlebihan menyebabkan penderita yang secara


klinis bermakna atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi
penting lain

Rasa mengantuk sebaiknya tidak disebabkan oleh insomnia dan tidak


hanya terjadi selama perjalanan gangguan tidur lain (seperti, narkolepsi,
gangguan tidur yang terkain dengan pernafasan, gangguan tidur irama
sirkadian atau parasomnia) dan tidak dapat disebabkan karena kurangnya
tidur.

Gangguan ini tidak hanya terjadi selama perjalanan gangguan jiwa lain
( seperti gangguan depresif berat, gangguan ansietas menyeluruh,
delerium)

Gangguan ini bukan disebabkan efek fisiologis langsung suatu zat ( seperti
penyalahgunaan obat, suatu obat) atau keadaan medis umum.

Tentukan jika : Berulang : jika terdapat periode rasa mengantuk


berlebihan yang berlangsung sedikitnya selama 3 hari terjadi beberapa kali
dalam setahun selama sedikitnya 2 tahun.

Tabel 1. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR hipersomnia primer. (10)


2.

Hipersomnia Akibat Gangguan Jiwa Lain. (10)


Keluhan yang dominan adalah rasa mengantuk berlebihan setidaknya 1
bulan seperti adanya episode tidur malam atau episode siang hari yang
terjadi hampir setiap hari
Rasa mengantuk yang berlebihan menyebabkan penderita yang secara
klinis bermakna atau hendaya fungsi sosial, pekerjaan, atau area fungsi
penting lain
Hipersomnia dianggap terkain dengan gangguan Aksis I atau Aksis II lain
(contoh, gangguan depresif berat, gangguan distimik) tetapi cukup berat
sehinggamemerlukan perhatian klinis sendiri.
10

Gangguan ini sebaiknya tidak disebabkan oleh gangguan tidur lain


(contoh, narkolepsi, gangguan tidur terkait pernafasan, parasomnia) atau
kurang tidur
Gangguan ini tidak disebabkkan efek fisiologis langsung suatu zat (contoh
penyalahgunaan obat, suatu obat) atau keadaan medis umum.

Tabel 1. Kriteria diagnostik DSM-IV-TR hipersomnia akibat gangguan jiwa lain.

VI.

PENATALAKSANAAN

11

(10)

a) Non Psikofarmaka
1.

Pendekatan hubungan antara pasien dan dokter, tujuannya :

2.

Untuk mencari penyebab dasarnya dan pengobatan yang adekuat


Untuk mencegah komplikasi sekunder yang diakibatkan oleh penggunaan obat
hipnotik, alkohol, gangguan mental
Untuk mengubah kebiasaan tidur yang jelek

Psikotherapi
Psikotherapi sangat membantu pada pasien dengan gangguan psikiatri seperti depresi,
obsessi, kompulsi, gangguan tidur kronik. Dengan psikoterapi ini kita dapat membantu
mengatasi masalah-masalah gangguan tidur yang dihadapi oleh penderita tanpa
penggunaan obat hipnotik.

3.

Sleep hygiene terdiri dari:

Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan

Hindari tidur pada siang hari

Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari

Jangan mengkonsumsi alkohol

Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan

Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur

Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan perut kosong

Hindari rasa cemas atau frustasi

Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak

Perubahan perilaku yang baik misalnya menghindari kerja malam dan kegiatan
sosial yang menunda waktu tidur

b)

Psikofarmaka
1. Antidepresan
12

2. Antipsikosis
3. Amfetamin
Amfetamin meningkatkan pelepasan katekolamin yang mengakibatkan jumlah
neurotransmiter golongan monoamine (dopamin, norepinefrin, dan serotonin) dari saraf
pra-sinapsis meningkat. Amfetamin memiliki banyak efek stimulan diantaranya
meningkatkan aktivitas dan gairah hidup, menurunkan rasa lelah, meningkatkan mood,
meningkatkan konsentrasi, menekan nafsu makan, dan menurunkan keinginan untuk
tidur.

Akan

tetapi,

dalam

keadaan

overdosis,

efek-efek

tersebut

menjadi

berlebihan. For example, communication turns into gabbing, and pathological


circumstantial speech, etc. Secara klinis, efek amfetamin sangat mirip dengan kokain,
tetapi amfetamin memiliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan dengan kokain
(waktu paruh amfetamin 10 15 jam) dan durasi yang memberikan efek euforianya 4
8 kali lebih lama dibandingkan kokain.
4. Methylphenidate
Secara khus adalah inhibitor reuptake dopamin, lebih lemah inhibitor reuptake
norepinefrine, dan meningkatkan neurotransmitter diotak.
5. Modafinil
Menghambat aksi reuptake dari dopamine.

13

BAB III
KESIMPULAN
Hipersomnia adalah suatu keadaan kecendrungan tidur yang berlebihan. Hipersomnia
dianggap sebagai penyakit langka lebih jarang dibandingkan insomnia. Penyebab hipersomnia
adalah idiopatik, sleep apneu, kekurangan tidur, obat- obatan, alkohol, genetik, dan cedera otak.
Berdasarkan Pedoman Diagnostik Gangguan Jiwa dari PPDGJ III dan ICD-10 Hipersomnia
termasuk dalam urutan Hierarki Blok Diagnosis Gangguan Jiwa No V. F50-F59 tentang
Sindrom Prilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik. Pada
urutan F51 Gangguan Tidur Non- Organik, yaitu F51.1 Hipersomnia Non-Organik. Menurut
kriteris DSM-IV-TR dibagi menjadi 2 yaitu : Hipersomia Primer dan Hipersomnia Akibat
Gangguan Jiwa Lain.

14

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
1. Dr. iskandar Japardi. 2002.Gangguan Tidur. Bagian Bedah. Universitas Sumatra Utara.
2. B.K Puri, P.J. Laking, dkk. Buku Ajar Psikiatri. Edisi 2. EGC. cetakan 2011.
3. E- journal universitas undayana.
ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/download/4267/3237.
4.

Kaplan, H.I , Sadock, B.J , and Grebb, J.A , 2010. Tidur Normal dan Gangguan Tidur.
Dalam: Sinopsis Psikiatri. Jilid II. Edisi ke 7. Tanggerang: Binarupa Aksara.

5. NINDS-Hypersomnia-Information-Page
6. Dr. rusdi Maslim. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa. Rujukan Ringkasa dari PPDGJ
III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK UNIKA Atma Jaya, Jakarta.
7. www.National Sleep Foundation. Com./ Medscape.
8. med/3129 di eMedicine - "Primary Hypersomnia".
9. Trotti, L et al (3 Desember 2013). "Peningkatan kantuk di siang hari dengan klaritromisin
pada pasien dengan-GABA terkait hipersomnia: Pengalaman klinis". Journal of
Psychopharmacology 27 (12).
10. Beck, Melinda (2012/12/10). "Para ilmuwan Cobalah untuk mengungkap Riddle dari
Terlalu Banyak Tidur" . The Wall Street Journal .
11. haron L. Schutte-Rodin, MD (12 Januari 2006). "Idiopatik Hypersomnia " . American
Academy of Sleep Medicine.
12. National Center for Biotechnology Information, U.S. National Library of Medicine 8600
Rockville Pike, Bethesda MD, 20894 USA.

15