Anda di halaman 1dari 82

MEMBERIKAN SEDASI SEDANG UNTUK ANAK

No. Dokumen :
001/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pemberian suatu obat yang menyebabkan penurunan depresi tingkat kesadaran
pasien serta diharapkan masih berespon dengan cepat / berkurang untuk tujuan
tertentu terhadap perintah verbal (stimulus Auditory) yang keras atau rangsang
pada ketuk dahi.
Memberikan suatu obat untuk menurunkan tingkat kesadaran yang diberikan
pada tindakan / prosedur yang membutuhkan sedasi sedang pada anak.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Persiapan Alat dan Obat
obatan
a. Alat alat :
- Orofaringeal airway sesuai ukuran.
- Stetoscope
- Monitor tekanan darah non invasive, saturasi O 2, HR.
- Canul O2, simple mask.
- Syringe 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
b. Obat obatan :
- Sedacum
- Propofol
- Obat narkotik (Morphin, Pethidine, Fentanyl).
2. Prosedur
a.
Perawat mengucapkan salam dan memperkenalkan diri pada
keluarga pasien.
b.
Identifikasi pasien nama dan tanggal lahir serta mencocokkan
dengan gelang nama pasien.
c.
Mengevaluasi kondisi klinis pasien sebelum pemberian sedasi.
d.
Mengikut sertakan orang tua (salah satu keluarga inti) pasien
anak untuk mendampingi selama proses pembiusan, hanya sampai anak
tertidur.
e.
Memasang monitor tanda tanda vital (ECG, Pulse Oksimetri,
Tensi K/P).
f.
Memasang IV line (apabila belum terpasang).
g.
Memberikan obat sedasi, dosis disesuaikan dengan berat badan
pasien anak dan rencana tindakan yang akan dilakukan.
h.
Untuk sedasi sedang dimana ventilasinya spontan dapat
diberikan oksigen dengan bantuan nasal canul atau simple mask.
i.
Semua tindakan ini dipantau dan didokumentasikan di form

catatan anestesi.
UNIT TERKAIT

---

MONITORING SEDASI
No. Dokumen :
002/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Mempersiapkan pasien secara fisik, psikis dan menilai keadaan umum pasien
untuk menentukan pilihan obat obatan dan jenis sedasi yang akan di gunakan.
Agar sedasi berjalan dengan lancar meminimalkan dan mencegah hambatan atau
hal hal yang tidak di inginkan selama tindakan sedasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Identifikasi pasien nama dan tanggal
lahir serta mencocokkan dengan gelang nama pasien.
2.
Dokter anestesi melakukan tindakan
sedasi harus sesuai dengan standar prosedur kerja yang berlaku.
3.
Sedasi dapat dilakukan di OK, IGD,
VK, ICU / NICU.
4.
Monitor sedasi dilakukan oleh dr.
Anestesi dan non anestesioloi yang telah berkualifikasi dan dalam
pelaksanaan nya juga dibantu oleh perawat yang telah terlatih.
VK, IGD, ICU/NICU

VISITING PRE OPERATIVE OLEH DOKTER ANESTHESI


No. Dokumen :
003/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

PROSEDUR

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Melakukan pre operasi visite oleh dokter anesthesia untuk memastikan kelayakan
pasien untuk dilakukan suatu enis operasi atau tindakan, persiapan yang
diperlukan dan menjelaskan jenis anesthesi yang akan diberikan serta
kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi.
1.
Memeriksa ulang secara menyeluruh
keadaan fisik pasien, diagnosa kerja, hasil laboratorium, pemeriksaan
penunjang, jawaban konsul dari dokter spesialis lain (bila ada) dan rencana
operasi dari dokter bedah yang terlibat.
2.
Menentukan persiapan pasien untuk
menjalani prosedur operasi bedah atau suatu tindakan (puasa, produk darah
dll).
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Menerima informasi perihal rencana
operasi (elektif maupun emergency) dari petugas kamar operasi atau
perawat UGD atau perawat ruangan.
2.
Melakukan pre operasi visite sesegera
mungkin untuk memastikan kondisi pasien, kelayakan operasi dan persiapan
yang diperlukan oleh anesthesia.
3.
Menjelaskan rencana jenis anesthesia
yang akan dilakukan kepada pasien atau keluarga (pasien anak) atau pihak
yang bertanggung jawab terhadap keberadaan pasien.
4.
Menjelaskan resiko-resiko pemberi jenis
anesthesia yang direncanakan dan sikap dokter anesthesi terhadap resiko
pembedahan yang mungkin timbul saat prosedur atau suatu tindakan yang
sedang berlangsung di kamar operasi.
5.
Menjelaskan kemungkinan rencana
paska bedah untuk di rawat di HCU atau ICU atau kembali ke ruang
perawatan biasa.
6.
Mendapatkan
persetujuan
atau
penolakan secara tertulis atas rencana jenis anesthesia yang dilakukan.

UNIT TERKAIT

---

PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

KRITERIA SKOR PASIEN DI RUANG PULIH


No. Dokumen :
004/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Kriteria score pasien di ruang pulih adalah metode penilaian kondisi pasien pasca
anestesi umum diruang pulih menggunakan sistem score.
Menjadi acuan standart dalam memulangkan atau memindahkan pasien pasca
anestesia umum (general anestesia).
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Penilaian menggunakan aldrete score dapat dilakukan oleh dokter spesialis
anestesi dengan kriteria aldrete score 10 baru pasien diizinkan keluar dari ruang
pulih.
No.
1.

Objek
penilaian
Aktivitas

2.

Respirasi

3.

Sirkulasi

4.

Kesadaran

Kriteria

Skor

Mampu
menggerakan 4 anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
2.
Mampu
menggerakan 2 anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
3.
Belum bisa
menggerakan anggota gerak secara
spontan atau sesuai perintah.
1. Mampu bernapas dalam atau batuk.
2. Sesak atau pernapasan sedikit
terganggu.
3. Apnoe.
1.
Tekanan
darah 20 % dari tekanan darah pra
anestesi.
2.
Tekanan
darah 20-50 % dari tekanan darah pra
anestesi.
3.
Tekanan
darah >50 % dari tekanan dara pra
anestesi.
1.
Sad

1.

1
0
2
1
0
0
1
0

Skor
Pasien

ar penuh.
2.

Bis

1
0

a dipanggil atau dibangunkan.


3.
5.

UNIT TERKAIT

Warna Kulit

Tid

ak memberikan respon (jawaban).


1. Merah muda.
2. Pucat, ikterus.
3. Sianosis.

2
1
0

---

KONSULTASI ANESTESIA
No. Dokumen :
005/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Konsultasi anestesia adalah suatu prosedur konsultasi manajemen anestesia
yang akan dilakukan sesuai dengan kondisi pasien.
1.
Mempersiapkan kondisi medis pasien yang akan menjalani
operasi secara optimal.
2.
Meningkatkan kewaspadaan dokter operator dan pasien
mengenai kondisi medis pasien.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Perawat mempersiapkan pasien dengan melakukan
validasi identitas pasien mencocokan nama dan tanggal lahir pasien.
2.
Mempersiapkan kondisi medis pasien secara optimal
sebelum tindakan operasi.
3.
Dokter anestesi melakukan anamnesis pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang untuk mengetahui kondisi medis pasien.
4.
Dokter anestesi melakukan konsultasi kedokter spesialis
lain untuk terapi masalah medis yang spesifik.
5.
Dokter anestesi membuat perencanaan manajemen
anestesi yang akan dilakukan sesuai kondisi pasien.
6.
Dilakukan penggolongan kondisi fisik menurut ASA
(American Society of Anesthesiology).
7.
Kegiatan diatas direkam dalam catatan medis.
8.
Konsultasi anestesia dapat dilakukan di ruang
perawatan, ruang konsultasi anestesia atau pun di ruang tindakan sebelum
operasi dimulai.

UNIT TERKAIT

---

INTUBASI ETT
No. Dokumen :
006/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Intubasi endotrakhea adalah tindakan pemasangan pipa endotrakhea kedalam
trakea untuk menjamin ventilasi, okesigenisasi serta pemberian gas anestesi agar
pasien dapat dilakukan pembedahan.
1.
Minimalisasi komplikasi yang mungkin timbul
akibat dari intubasi.
2.
Keamanan dan kenyamanan pasien terjamin
selama pelaksanaan prosedur.
3.
Pemantauan dini komplikasi akibat intubasi
endotrakea dan penatalaksanaan segera dari komplikasi yang timbul.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Dokter anestesi merupakan koordinator
tindakan intubasi, dibantu perawat anestesi yang bertugas :
a.
Memasukan obat.
b.
Memberikan tekanan krikoid bila dibutuhkan.
2.
Pastikan akses intravena yang adequat
telah terpasang dengan baik.
3.
Alat alat yang dibutuhkan :
a. Set laringoskop yang bekerja dengan baik.
b. Oropharingeal airway.
c. Facemask yang sesuai.
d. 2 ukuran pipa endotrakea (ukuran normal, 1 ukuran yang lebih kecil)

e.
f.
g.
h.
i.
j.
4.
a.
b.
c.
5.
a.
b.
c.
d.
e.

pastikan cuff pipa endotrakea baik.


Forcep magil.
Introducer.
Suction unit yang bekerja dengan baik dengan kateter suction yang
sesuai.
Plester.
Presurre cuff.
Stetoscope.
Monitor pada pasien :
Saturasi O2
Tekanan darah.
EKG.
Obat obatan yang disediakan :
Obat induksi.
Obat pelumpuh otot.
Sulfas atropin.
Adrenalin,
dan obat obatan resusitasi lainnya (diperlukan saat emergency pada
pasien saat intubasi).

INTUBASI ETT
No. Dokumen :
006/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
6.

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Intubasi :
a. Preoksigenasi dengan O2 100%.
b. Berikan obat obat induksi dan pelumpuh otot sesuai berat badan, dan
bila tidakterdapat kontra indikasi.
c. Asisten (penata anestesi) memberikan tekanan pada krikoid bila
diperlukan.
d. Visualisasi langsung pita suara dengan laringoskop dan intubasi trakea.
e. Pasien dengan dugaan trauma cervikal dilakukan pada posisi netral
dengan in line axial stabilization.
f. Inflasi cuff endotrakea sampai tidak terjadi kebocoran.
g. Konfirmasi letak ujung pipa endotrakea melalui auskultasi dada kiri dan
kanan, pada saat ventilasi manual, dan kedalamannya pun bisa dilihat
dari nomor yang tertera pada pipa endotrakea.
h. Fiksasi pipa endotrakea dengan plester.
i. Hubungkan pipa dengan ventilator.
j. Pastikan sedasi dan pelumpuh otot yang adekuat.
k. Pertimbangan pemasangan pipa nasogastrikbila dibutuhkan.
l. Catat pada rekam medis :
- Ukuran ETT dan NGT yang dipakai.
- Obat obat yang diberikan.

UNIT TERKAIT

---

PROSEDUR PELAYANAN INTRA ANESTESI


No. Dokumen :
007/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Melakukan pemantauan dari tindakan antisipasi terhadap perubahan jalan nafas,
oksigenasi, ventilasi, sirkulasi suhu tubuh dan kesadaran selama anestesi/operasi
baik oleh dokter spesialis anestesi maupun oleh perawat anestesi yang telah
diberi limpahan wewenang.
1. Mempertahankan fungsi vital dalam batas normal dan menghilangkan rasa
nyeri baik anestesi umum maupun regional analgesi.
2. Mengurangi atau menghilangkan kecemasan penderita terutama pada pasien
dengan regional analgesi.
3. Memberikan rasa nyaman kepada ahli bedah dalam melaksanakan tugas.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Persiapan dan pemeriksaan ulang terhadap pasien menjelang dilakukan
anestesi.
2. Melaksanakan induksi anestesi.
3. Melaksanakan rumatan anestesi.
4. Melaksanakan pengakhiran anestesi.

UNIT TERKAIT

---

MONITORING PASIEN INTRA OPERASI


No. Dokumen :
008/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu kegiatan yang dilakukan oleh dokter anestesi dan perawat anestesi untuk
melakukan observasi tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, SpO 2
dan rekam jantung) pasien selama operasi berlangsung.
Agar kondisi pasien selama operasi berlangsung dapat dikontrol dan
meminimalkan resiko dan komplikasi yang terjadi kepada pasien.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Dokter anesthesi / perawat melakukan
validasi data pasien dengan nama dan tanggal lahir.
2.
Pasien diberi penjelasan oleh dokter
anesthesi / perawat tentang hal-hal yang akan dilakukan.
3.
Pasang manset untuk pengukuran
tekanan darah, saturasi O2 dan EKG pada pasien.
4.
Pemantauan tanda-tanda vital dilakukan
tiap 1 menit untuk 10 menit pertama, selanjutnya pemantauan dilakukan tiap
3-5 menit sekali.
5.
Tampilkan hasil pemantauan di layar
monitor dan dokumentasikan di catatan anestesi.

6.
UNIT TERKAIT

Pemantauan tanda-tanda vital di kamar


operasi dilakukan sampai operasi selesai.

---

PENATALAKSANAAN PASCA BEDAH DI RUANG PULIH


ANESTESI
No. Dokumen :
009/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
1.
Pasien paska tindakan anestesi umum atau regional, memiliki resiko
gangguan jalan napas, pernapasan dan sirkulasi.
2.
Segera setelah tindakan anestesi, semua pasien dibawa ke ruang pulih
sampai pasien sadar dan dapat menjaga jalan napas, pernapasan dan
kardiovaskular baik, kecuali pasien yang sejak awal direncanakan masuk
HCU atau ICU.
1.
Memastikan pasien telah pulih dari anestesi sehingga dapat
dikembalikan keruang rawat.
2.
Menentukan pasien yang butuh perawatan dan pemantauan intensif di
ICU.
3.
Menghindari komplikasi akibat gangguan jalan napas, pernapasan dan
kardiovaskular paska anestesia.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Pasien paska bedah selama pemindahan ke ruang pulih harus
didampingi dokter dan atau perawat anestesi.

2.
3.

4.

5.
6.

Selama pemindahan harus dipantau dan dievaluasi jalan napas,


pernapasan dan kardiovaskuler.
Dokter anestesi atau perawat yang membawa pasien harus melakukan
serah terima pasien kepada perawat / petugas anestesi yang bertanggung
jawab diruang pulih, meliputi :

Keadaan umum pasien sewaktu tiba dan dicatat direkam medis.

Informasikan kondisi preoperatif, perjalanan operasi dan


anestesi.

Anggota tim anestesi yang membawa pasien harus tetap diruang


pulih sampai smapai petugas ruang pulih menerima tanggung jawab.
Selama diruang pulih, kondisi pasien dievaluasi dan dipantau :

Monitor jalan napas, oksigenisasi, ventilasi, sirkulasi dan suhu.

Pada rekam medis anestesi dicatat :


a. Hasil pemantauan selama diruang pulih.
b. Skor Aldrette saat masuk dan keluar.
Pengawasan dan koordinasi penatalaksanaan medis pasien diruang pulih
merupakan tanggung jawab dokter anestesi.
Selama diruang pulih, pasien mendapat penatalaksanaan nyeri dan mual
muntah yang efektif.

PENATALAKSANAAN PASCA BEDAH DI RUANG PULIH


ANESTESI
No. Dokumen :
009/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
7. Pasien dapat dikeluarkan dari ruang pulih ke unit rawat, jika :

Jalan napas, ventilasi, oksigenisasi, sirkulasi dan temperature


dalam kondisi baik dan stabil.

Tidak membutuhkan penatalaksanaan dan pemantauan intensif


paska bedah.

Skor Aldrette > 8.

Disetujui oleh dokter anestesi dan ditandatangani pada rekam


medis anestesi.
---

PELAYANAN PASIEN DI RUANG TINDAKAN ( KAMAR


OPERASI )
No. Dokumen :
010/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu bentuk pelayanan yang diberikan di kamarbedah yang berfungsi untuk
memperlancar tindakan pembedahan dan menjaga keamanan dan kenyamanan
pasien.
Untuk memperlancar jalannya operasi
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Pasang selang aliran gas anestesi sesuai dengan jenis gas O 2, N2O,
udara tekan.
2.
Cek mesin anestesi agar siap kapai.
3.
Siapkan atau pasang alat-alat monitoring, suction dandiathermi yang
diperlukan.
4.
Siapkan alat-alat untuk melakukan intubasi dan pembedahan.
5.
Siapkan obat-obatan anestesi dikamar bedah yang diperlukan sesuai
dengan jenis operasi.

6.

7.

8.
9.
10.
11.
UNIT TERKAIT

Bantu dokter anestesi dalam melakukan tindakan pembiusan, antara


lain :

Anestesi umum

Anestesi regional
Monitor pasien selama tindakan pembedahan berjalan, Misalnya :

Tekanan darah, pernapasansertainfus

Mengawasi perdarahan selama operasi / mencatat tindakan anestesi


berjalan pada formulir catatan anestesi
Mengawasi cairan yang masuk (infus)

Mencatat alat-alat kesehatan yang digunakan pasien.

Mencatat obat-obatan anestesi yang digunakan pasien.

Mencatat instruksi dokter anestesi dalam dokumentasi catatan


anestesi.

Mencatat jumlah kassa, jarum dan instrumen yang digunakan.

Membantu membereskan dan pemenuhan kebutuhan selama operasi


berjalan.
Bantu dokter anestesi untuk memulihkan kembali pasien dari pembiusan
Pindahkan pasien dari meja operasi ke brancard pasien
Serahterimapasien yang telah selesai dilakukan operasi keperawat yang
bertugas di ruang pemulihan
Bersihkan dan kembalikan alat-alat anestesi dan alat bedah yang sudah
digunakan ketempatnya agar siap pakai kembali.

---

KUNJUNGAN PRA ANESTESI


No. Dokumen :
012/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Kunjungan pra anestesi adalah suatu kunjungan dokter anestesia yang bertujuan
untuk menilai kondisi pasien, memperkirakan (prediksi) resiko anestesia dan
menjelaskan prosedur anestesia yang diperlukan untuk rencana pembedahan
yang direncanakan dan mendapatkan persetujuan tindakan anestesia (informed
consent).
1. Mengusahakan pasien dalam kondisi optimal pada saat menjalani tindakan
anestesia dan pembedahan.
2.
Mengurangi angka kesakitan dan kematian selama tindakan
anestesia dan pembedahan.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi

PROSEDUR

1. Pembuatan rencana pengelolaan anestesi meliputi :


a. Mempelajari rekam medis.
b. Melakukan wawancara dan pemeriksaan khusus :

Membahas riwayat penyakit, kebiasaan, riwayat anestesi terdahulu,


pengobatan saat ini.

Menilai kondisi fisik yang mungkin merubah keputusan dalam hal


resiko dan pengelolaan anestesi.
c. Meminta dan mempelajari hasil hasil pemeriksaan dan konsultasi yang
diperlukan untuk tindakan anestesi.
d. Menentukan obat obat atau medikasi pra anestesi yang diperlukan untuk
tindakan anestesi.
e. Penjelasan tentang kondisi pasien kepada keluarga atau pasien (dewasa)
sendiri, meliputi diagnosis kerja, rencana tindakan dan faktor penyulit
anestesi serta kemungkinan komplikasi intra maupun paska anestesi. Ahli
anestesia yang bertanggung jawab memeriksa kembali bahwa hal
tersebut diatas sudah dilakukan secara benar dan dicatat dalam rekam
medis pasien.
2. Kunjungan pra anestesi dapat dilakukan diruang rawat, poliklinik anestesi,
tempat lain seperti UGD dan poliklinik bila kondisi memungkinkan.

UNIT TERKAIT

---

MONITORING PASIEN DI RUANG PULIH


No. Dokumen :
013/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu kegiatan yang dilakukan oleh perawat anestesi untuk melakukan observasi
kondisi pasien dan tanda-tanda vital selesai pembedahan.
Agar keadaan umum pasien dapat terkontrol dengan baik dan meminimalkan
adanya resiko dan komplikasi pasien setelah pembedahan.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Perawat
anestesi melakukan serah terima kepada perawat ruang pulih.
2.
Perawat ruang
pulih memasang manset untuk pengukuran tekanan darah dan saturasi O 2.
3.
Monitoring

tingkat kesadaran GCS.


4.

Monitoring
cairan infus, perdarahan, drain.

5.

UNIT TERKAIT

Perawat ruang
pulih melakukan pemantauan terhadap tanda-tanda vital pasien tiap 5 menit
sampai pasien kembali ke ruangan.
6.
Perawat ruang
pulih melakukan pencatatan keadaan umum pasien di catatan asuhan
keperawatan pasca operasi.
7.
Pemantauan
dilakukan selama 30-60 menit diruang pulih atau setelah dokter anestesi
menyatakan pasien layak untuk kembali ke ruangan sesuai dengan kriteria
aldrete score.
---

PELAYANAN PASCA ANESTESI


No. Dokumen :
014/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pelayanan pasien yang telah menjalani anestesi/operasi umumnya masih dalam
pengaruh obat-obat anestesi sebelum ke ruang rawat inap.
Memonitor fungsi vital pasien dalam batas normal setelah anestesi berakhir
hingga pengaruh obat anestesi hilang serta menjaga dan mengurangi rasa nyeri.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman

PROSEDUR

1.

2.
3.
4.

5.
6.
7.
8.
9.
UNIT TERKAIT

Pelayanan Kamar Operasi


Lakukan serah terima pasien secara jelas tentang data operasi anestesi,
jumlah perdarahan, ataupun penyulit yang terjadi serta pemeriksaan jaringan
hasil operasi bila ada dari ruang tindakan pembedahan ke ruang pulih RR.
Lakukan penilaian kesadaran.
Berikan bantuan oksigenasi, ventilasi dan pertahankan sirkulasi.
Awasi terjadinya hipoventilasi karena depresi pernafasan, obstruksi pangkal
lidah atau cairan, aspirasi cairan lambung dan henti nafas, bila perlu lakukan
pembebasan jalan nafas.
Awasi fungsi vital lainnya untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Berikan analgetik bila diperlukan sesuai instruksi dokter anestesi.
Dokter anestesi menentukan pemulangan pasien sesuai dengan kriteria
aldrete.
Perawat melakukan koordinasi dengan petugas rawat inap, keluarga pasien
perihal pemulangan pasien di ruang pulih.
Dokumentasi dan serah terima pasien.

---

PELAYANAN PRA ANESTESI


No. Dokumen :
015/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pelayanan pra anestesi dimulai saat pasien berada diruang perawatan dan
berakhir menjelang akan dilakukan anestesi di kamar operasi.
Mengupayakan kondisi optimal dari pasien agar dapat menjalani anestesi atau
pembedahan dengan hasil sebaik-baiknya.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman


Pelayanan Kamar Operasi
1. Dokter anestesi menerima konsul dari dokter bedah.
2. Dokter anestesi melakukan visiting pre operasi.
3. Dokter anestesi menentukan pemberian obat-obat premedikasi dan waktu
pemberiannya.
4. Penilaian ulang terhadap pasien di kamar, persiapan meliputi pemeriksaan
identitas penderita, riwayat penyakit, diagnosa dan tindakan yang akan
dilakukan.
5. Melakukan persiapan alat-alat dan obat di ruang operasi atau tindakan.
6. Mengelola pasien menjelang dilakukan anestesi atau operasi di kamar
operasi.
---

MEMBERIKAN SEDASI DALAM UNTUK DEWASA


No. Dokumen :
016/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pemberian suatu obat yang menyebabkan depresi kesadaran, dimana pasien
tidak mudah dibangunkan untuk respon tertentu terhadap stimulus nyeri, stimulus
auditory yang keras ataupun rangsang ketuk ringan pada dahi.
Memberikan suatu obat untuk menurunkan tingkat kesadaran yang diberikan
pada tindakan / prosedur yang membutuhkan sedasi dalam untuk dewasa.
Tindakan ini memerlukan bantuan ventilasi dan pengawasan fungsi

kardiovaskuler yang adekuat.


KEBIJAKAN

PROSEDUR

1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan


pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
I.
Persiapan alat dan obat obatan
1.
Alat alat :
1.
Mesin anestesi
2.
laryngoscope + blade sesuai ukuran
3.
Mangil
4.
Stylet
5.
Spuit cuff
6.
Orofaringeal airway sesuai ukuran
7.
Stestoscope
8.
Mesin suction
9.
Suction catheter sesuai ukuran
10.
Tape untuk fiksasi
11.
Monitor tekanan darah non invasive, staurasi O 2
HR.
12.
Canul O2 simple mask
13.
Syringe 3 cc, 5 cc, 10 cc, 20 cc, 50 cc.
2.
Obat obatan :
1.
Sedacum
2.
Propofol
3.
Obat narkotik (Morphin, Pethidine, Fentanyl).
II.
Prosedur Tindakan
1.
Fase Pra Indikasi
1.
Melakukan ceklist monitoring pasien
yang akan dilakukan tindakan pembiusan.
2.
Perawat melakukan cuci tangan.

MEMBERIKAN SEDASI DALAM UNTUK DEWASA


No. Dokumen :
016/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Fase Orientasi
Perawat mengucapkan salam dan

2.
1.
memperkenalkan diri.
2.

Perawat meminta pasien untuk


menyebutkan nama dan tanggal lahir pasien (bila pasien sadar) atau

meminta keluarga untuk menyebutkan nama dan tanggal lahir pasien


(bila pasien tidak sadar).
3.
Menjelaskan tujuan dan prosedur
pelaksanaan kepada pasien.
3.
Fase Kerja

Menyiapkan alat dan obat obatan.

Mengevaluasi kondisi klinis pasien sebelum dilakukan


pemberian obat - obatan sedasi.

Memasang monitor tanda tanda vital.

Memasang IV line, memberikan obat sedasi dengan dosis


sesuai berat badan pasien dan sesuai dengan prosedur / tindakan
yang akan dilakukan.
4.
Fase Terminal
1.
Atur posisi pasien senyaman mungkin, pasang hek
tempat tidur agar pasien tidak terjatuh.
2.
Mencuci tangan setelah tindakan.
3.
Melakukan pemantauan dan dokumentasi pada formulir
monitoring sedasi.
Hal hal yang harus diperhatikan :
1.
Jika timbul masalah respirasi atau ventilasi (ventilasi
inadekuat / tidak ada nafas spontan) maka dilakukan Basic Life Support
(airway, breathing, circulating) sampai dengan kemungkinan penggunaan
LMA / intubasi.
2.
Untuk kasus khusus ditambahkan dengan
pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan kasus tersebut, dan bila
memerlukan ruang bedah (misalnya penderita penyakit paruobstruktif /
restriktif diperlukan spiometri, penderita gagal ginjal diperlukan pemeriksaan
fungsi ginjal, penderita penyakit jantung diperlukan pemeriksaan jantung).
UNIT TERKAIT

---

PREMEDIKASI
No. Dokumen :
017/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Premedikasi adalah pemberian obat obatan sebelum dilakukan induksi


anestesia.
1. Menurunkan tingkat kecemasan pasien.
2.
Mengurangi rasa nyeri, mual, dan muntah.
3.
Memudahkan induksi anestesia dan mengurangi
jumlah pemakaian obat induksi.
4.
Mengurangi komplikasi spesifik yang berhubungan
dengan anestesia atau kondisi yang terdapat pada pasien, seperti bradikardi,
respon hipertensi, aspirasi, bronkhospasme, reaksi alergi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Premedikasi intravena diberikan oleh dokter anestesi dengan memberikan
obat obatan yang sesuai dengan tujuannya.
2.
Obat obatan premedikasi intravena
diberikan setelah monitor pasien terpasang.
3.
Waktu pemberian obat premedikasi
intravena adalah 515 menit sebelum induksi (untuk intramuskular 30 menit).
4.
Obat obatan yang digunakan adalah :
a. Golongan benzodiazepine :
Midazolam
: 0,07 0,1 mg/KgBB
b. Golongan opium analgetik :
Petidin
: 1 2 mg/kgBB
Morphin
: 0,1 0,2 mg/kgBB
Fentanyl
: 1 10 mikro/kgBB
c. Anticholinergik:
Atropin
: 0,25 0,5 mg.
Anak
: 0,01 0,02 mg/kgBB
d. Antiemetik :
Metoclopramid
: 10 mg
Ondansentron
: 4 mg
e. H2 reserptor antagonis :
Ranitidin
: 50 mg
5. Monitoring TTV pasien setiap 1 menit.
---

PERSIAPAN OBAT-OBAT UNTUK INDUKSI ANESTESI


No. Dokumen :
018/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN

PROSEDUR

Menyiapkan sediaan obat yang akan pakai sesuai jenis tindakan anestesi baik
regional maupun general anestesi.
1. Memperlancar jalannya prosedur tindakan anestesi.
2. Mempermudah pengambilan / pemakaian obat yang dibutuhkan.
3. Menghindari kekeliruan dalam pemberian obat kepada pasien.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Persiapan dilakukan oleh dokter spesialis anestesi dan perawat anestesi. Cara
persiapan :
1. Menyiapkan obat obat sesuai dengan tindakan anestesia di masing
masing kamar operasi.
2.
Baca nama obat sediaan yang tercantum pada ampul
atau vial dan tanggal kadaluarsa.
3.
Obat dimasukkan didalam syring kemudian diberi label
yang berisi nama obat dan konsentrasi obat, tanggal dan jam pembuatan
dengan jelas.
4.
Obat diletakkan diatas trolley anestesi dan siap untuk
dipakai.

UNIT TERKAIT

---

TUJUAN
KEBIJAKAN

PENGELOLAAN PRA, DURANTE DAN PASCA ANESTESI


No. Dokumen :
019/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR

Tanggal Terbit :

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pengelolaan Pra, Durante, dan Pasca Anestesi yang dilakukan kepada pasien
untuk memberikan rasa aman dan safety pasien sehingga terhindar dari
kesalahan sebelum maupun sesudah dilakukan tindakan pembiusan.
Untuk memastikan tanggung jawab dokter anestesi dalam menentukan status
medis pasien, membuat rencana pengelolaan anestesi dan memberitahukan
kepada pasien atau keluarga mengenai rencana tersebut.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
PENGELOLAAN PRA ANESTESI
1. Adapun pengelolaan pra anestesia dengan mempelajari rekam medis pasien
(Medical Record).
2. Anamnesis dan pemeriksaan fisik meliputi membahas riwayat medis,
kebiasaan, habituasi, pengalaman anestesi dan terapy obat terdahulu, menilai
aspek-aspek kondisi fisik yang dapat mempengaruhi keputusan berkenaan
dengan resiko dan penatalaksanaan peri operatif.
3. Meminta dan atau mempelajari hasil-hasil pemeriksaan dan konsultasi yang
diperlukan untuk melakukan anesthesia.
4. Menentukan medical pra anesthesia (pre med) yang tepat yang diperlukan
untuk melakukan anesthesia.
5. Adapun di kamar operasi persiapan pra anestesi yang dilakukan meliputi
persiapan tenaga baik dokter anestesi maupun perawat anestesi. Persiapan
alat meliputi mesin anestesi, peralatan intubasi dan persiapan obat baik obatobat pre mediksai (narkotik, analgetik dan sedative), obat-obat pelumpuh otot,
obat-obat emergency dan stiker label atau cairan yang digunakan.
PENGELOLAAN DURANTE
Sesuai dengan standar pelayanan anesthesia selama pembiusan, pada
prinsipnya adalah untuk melakukan pemantauan fungsi-fungsi vital pasien yang
dibius, meliputi:
1. Fungsi pernafasan meliputi pemantauan oksigenasi, pemantauan ventilasi.
2. Fungsi sirkulasi untuk memastikan keadekuatan fungsi sirkulatori pasien
selama anestesia dengan metode : Pada setiap pasien yang menjalani
anesthesia harus dipaparkan gambaran EKG secara kontinyu sejak awal
anesthesia hingga meninggalkan lokasi. Dilakukan pemeriksaan dan evaluasi
tekanan darah arterial dan laju jantung setiap 5 menit, fungsi sirkulatori harus
dibuat evaluasi secara kontinyu, paling tidak dengan salah satu dari yang
berikut ini: palpasi nadi, auskultasi bunyi jantung, pemantauan jelas, tekanan
intra arterial, pemantauan nadi peripheral ultrasound atau pletismografi atau

PENGELOLAAN PRA, DURANTE DAN PASCA ANESTESI


No. Dokumen :
019/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

(SPO)
PROSEDUR

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Oksimetri pulse
3. Suhu tubuh mempertahankan suhu tubuh pasien yang sesuai.
Mempertahankan suhu tubuh pasien yang sesuai selama anesthesia dengan
metode memantau adanya perubahan-perubahan signifikan suhu tubuh
secara klinis diinginkan, diantisipasikan atau dicurigai.
PENGELOLAAN PASCA ANESTESIA
1.
Semua pasien yang menjalani anesthesia umum, anesthesia regional
harus menjalani tatalaksana pasca anestesi yang tepat yaitu dengan : semua
pasien yang menjalani tindakan anesthesia harus dimasukkan ke Recovery
Room (RR).
2.
Seorang pasien yang dipindahkan ke RR harus didampingi oleh
seorang anggota tim pengelola anesthesia yang memahami kondisi pasien.
Pasien tersebut harus dinilai secara kontinyu dan ditandatangani selama
pemindahan dengan pemantauan dan bantuan sesuai dengan kondisi pasien.
3.
Setelah tiba di RR pasien harus dinilai kembali oleh anggota tim
pengelola anesthesia yang mendampingi pasien dan laporan verbal diberikan
kepada perawat RR yang bertanggung jawab : Kondisi pasien setelah tiba di
RR harus segera dicatat, perawat anesthesia harus memberikan informasi
yang berkenan dengan kondisi pasien selama pra bedah dan jalannya
pembedahan/anesthesi kepada perawat RR, anggota tim pengelola anesthesi
harus tetap berada di dalam RR sampai perawat RR menerima pengalihan
tanggung jawab.
4.
Kondisi pasien di RR harus dinilai secara kontinyu antara lain :
pemantauan oksigenasi, ventilasi, sirkulasi dan suhu. Selama pemulihan
penilaian oksigenasi kuantitatif dilakukan dengan pemasangan oksimetri pulse
dan harus dibuat laporan tertulis yang akurat selama di RR yaitu dengan
penggunaan sistem skor RR yang tepat pada saat pasien masuk, selama di
RR dan saat keluar di RR.
5.
Seorang dokter spesialis anestesiologi bertanggung jawab atas
pengeluaran pasien dari RR ada kriteria khusus untuk mengeluarkan pasien
dari RR. Kriteria ini dapat berbeda untuk pasien yang dipindahkan langsung
keruang rawat rumah sakit, ICU atau pulang ke rumah (ODC).

UNIT TERKAIT

Rawat Inap, Rawat Jalan, IGD, ICU

PENGHITUNGAN INSTRUMEN, JARUM, KASSA DAN ROL


KASSA SEBELUM DAN SESUDAH OPERASI
No. Dokumen :
020/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Tindakan yang dilakukan oleh tim bedah untuk memastikan alat-alat dan
konsumable yang dipakai sebelum dan sesudah operasi jumlahnya sama.
Untuk menghindari tertinggalnya instrumen, jarum, kassa dan rol kassa di lokasi
operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Sebelum operasi di mulai, perawat instrumen menghitung jumlah instrumen,
jarum, kassa dan roll kassa yang telah disiapkan di meja instrumen
disaksikan oleh perawat asisten dan sirkuler.
2. Perawat sirkuler memastikan bahwa tempat sampah infeksius untuk operasi
dalam keadaan kosong.
3. Perawat sirkuler mencatat jumlah tersebut dalam lembar asuhan
keperawatan peri operatif.
4. Bila ada penambahan instrumen, jarum, kassa dan rol kassa selama operasi
berlangsung, perawat instrumen menghitung jumlah yang di tambahkan dan
perawat sirkuler menulis jumlah penambahan instrumen di lembar askep peri
operatif.
5. Sebelum luka operasi di tutup, perawat instrumen menghitung kembali
instrumen, jarum, kassa dan rol kassa yang ada di meja instrumen di lokasi
operasi. Perawat sikuler menghitung kassa yang ada di tempat sampah
infeksius (bekas operasi) dan di jumlahkan.
6. Bila semua instrumen, jarum, kassa dan rol kassa jumlahnya lengkap
beritahukan ke dokter operator, dan luka operasi ditutup.
7. Bila ada ketidaksesuaian jumlah instrumen, jarum, kassa dan rol kassa
beritahukan kepada dokter operator. Semua tim operasi mencari instrumen,
jarum, kassa dan rol kassa di lokasi operasi sampai ditemukan.
8. Setelah jumlahnya lengkap, penutupan luka operasi dilanjutkan. Catat jumlah
tersebut dalam lembar askep peri operatif.
---

PENUNDAAN OPERASI
No. Dokumen :
021/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Pelaksanaan operasi yang tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan atau
ditetapkan.
Agar pasien/keluarga mengetahui alasan penundaan operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
A. Pasien Masih Di Ruang Rawat
a. < 60 menit sebelum jadwal operasi perawat kamar operasi menghubungi
dokter bedah untuk mengkonfirmasi tentang jadwal operasi.
b. Bila terjadi penundaan operasi dari jadwal yang ditentukan maka perawat
kamar operasi memberitahu ke perawat ruangan alasan penundaan dan
lama penundaan operasi
c. Perawat ruangan menginformasikan kepada dokter jaga ruangan alasan
penundaan dan dokter jaga ruangan menjelaskan pada pasien/keluarga
alasan penundaan operasi.
B. Bila Pasien sudah Di Kamar Operasi
a. Bila penundaan > 30 menit maka dokter bedah menjelaskan pada
pasien/keluarga alasan penundaan operasi (langsung atau melalui
handphone).
b. Jika waktu penundaan operasi > 1 jam maka perawat kamar operasi
menawarkan kepada pasien/keluarga untuk kembali ke ruang rawat.
c. Jika pasien/keluarga menolak maka perawat kamar operasi melakukan
observasi pasien.
d. Jika pasien/keluarga bersedia untuk kembali ke ruang rawat maka perawat
mengingatkan pasien untuk tetap dengan kondisi puasa dan perawat
ruangan melakukan serah terima dengan perawat OK dilanjutkan dengan
observasi selama pasien berada di ruangan.

UNIT TERKAIT

---

VISITING PRE OPERATIVE OLEH DOKTER ANESTESI


No. Dokumen :
022/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR

Tanggal Terbit :

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Melakukan pre operasi visite oleh dokter anesthesi untuk memastikan kelayakan
pasien untuk dilakukan suatu jenis operasi atau tindakan, persiapan yang
diperlukan dan menjelaskan jenis anesthesi yang akan diberikan serta
kemungkinan komplikasi yang bisa terjadi.
1. Memeriksa ulang secara menyeluruh keadaan fisik pasien, diagnosa kerja,
hasil laboratorium, pemeriksaan penunjang, jawaban konsul dari dokter
spesialis lain (bila ada) dan rencana operasi dari dokter bedah yang terlibat.
2. Menentukan persiapan pasien untuk menjalani prosedur operasi bedah atau
suatu tindakan (puasa, produk darah dll).
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Menerima informasi perihal rencana
operasi (terencana maupun emergency) dari petugas kamar operasi atau
perawat UGD atau perawat ruangan.
2.
Melakukan pre operasi visite sesegera
mungkin untuk memastikan kondisi pasien, kelayakan operasi dan persiapan
yang diperlukan oleh anesthesia.
3.
Menjelaskan rencana jenis anesthesia
yang akan dilakukan kepada pasien atau keluarga (pasien anak) atau pihak
yang bertanggung jawab terhadap keberadaan pasien.
4.
Menjelaskan resiko-resiko pemberi jenis
anesthesia yang direncanakan dan sikap dokter anesthesi terhadap resiko
pembedahan yang mungkin timbul saat prosedur atau suatu tindakan yang
sedang berlangsung di kamar operasi.
5.
Menjelaskan kemungkinan rencana
paska bedah untuk di rawat di HCU atau ICU atau kembali ke ruang
perawatan biasa.
6.
Mendapatkan
persetujuan
atau
penolakan secara tertulis atas rencana jenis anesthesia yang dilakukan.
---

TIME OUT
No. Dokumen :
023/SPO/OK/RSSAK/III/2015

No. Revisi :
01

Halaman :
1/2

Ditetapkan,
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Kegiatan yang dilakukan untuk memastikan benar pasien, benar prosedur dan
benar area operasi yang dibacakan dan dipimpin oleh perawat sirkuler sebelum
insisi pembedahan dimulai dengan seluruh tim bedah.
Pasien berhak mendapat pelayanan tepat, cepat, aman dan benar.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Persiapan Alat :
1.
Formulir asuhan keperawatan
perioperatif.
2.
Formulir surgical safety check list.
3.
Cek list instrumen pre dan post
operasi.
4.
Alat tulis.
Sebelum Operasi :
Saat menerima pasien (diruang penerimaan pasien)

Memberi salam kepada pasien memperkenalkan tim yang akan


ikut tindakan pembedahan.

Lakukan pengecekan identitas pasien nama dan tanggal lahir,


tanda lokasi area pembedahan dan waktu pembedahan serta formulir pre
dan post operasi.

Cek semua persiapan alat dan obat-obatan anestesi yang akan


di gunakan.

Lakukan cek list dengan benar pada formulir pasien safety.

Lakukan cek list instrumen dengan benar pada formulir pre dan
post operasi.
Sebelum Insisi
Lakukan kembali pengecekan sesuai prosedur Time Out oleh tim (diruang
tindakan pembedahan), meliputi :

Benar identitas pasien nama dan


tanggal lahir

Benar tanda

Benar posisi

Benar jenis tindakan operasi

Benar alat / instrument


- Perawat Instumentator
Siapkan dan hitung kassa, jarum dan bisturi serta instrument yang akan
dipakai

TIME OUT
No. Dokumen :
023/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
-

Perawat Sirkuler
Catat jenis dan jumlah kassa, jarum, bisturi dan instrumen yang
digunakan.
Memulai prosedur Time Out dengan memberitahukan tim pembedahan
dan dokter anestesi.

Selama Operasi
- Perawat instrumentator
Bila ada penambahan kassa dan instrumen dan hitung kembali.
- Perawat Sirkuler
Catat kassa dan instrumen yang ditambahkan
Sebelum Luka Ditutup
- Perawat Instrumentator
Kumpulkan kassa dan instrumen kemudian hitung kembali.
Hitung kassa yang belum dipakai (sisa).
Bila telah sesuai laporkan ke operator.
- Perawat Sirkuler
Hitung dan catat kassa dan instrumen yang sudah dipakai.
Jumlah kassa / instrumen yang dipakai dan sisa harus sesuai
jumlahnya pada saat sebelum operasi dan sesudah operasi.
Catat nama dan tanda tangan dokter operator.
Mencatat bila ada jaringan yang akan dilakukan pemeriksaan PA.
UNIT TERKAIT

---

KONSULTASI PRE-OP ATAU DURANTE OP


No. Dokumen :
024/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Konsultasi kepada konsulen atau spesialis lain yang dilakukan pada saat pre
operasi yang di jadwalkan elektif atau durante operasi karena kasus emergensi.
Untuk memperlancar jalannya operasi sehingga pasien akan mendapatkan
pelayanan yang terbaik.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Dokter primer menentukan dokter konsulen dan menghubungi dokter
tersebut serta menjelaskan secara lisan mengapa diperlukan konsul.
Permintaan konsul ini juga dapat dilakukan melalui dokter anestesi atau staf
kamar bedah lainnya.
2.
Kedua dokter bersama-sama melakukan pemeriksaan dan evaluasi.
3.
Bila tidak perlu dilakukannya tindakan pembedahan, maka dokter
konsulen akan mengisi lembar konsultasi dan kosul selesai.
4.
Bila perlu dilakukan tindakan pembedahan :

Dokter primer dan atau bersama-sama dengan dokter konsulen


berbicara dengan pasien dan atau anggota keluarganya untuk
memberikan penjelasan mengapa perlunya konsultasi dan tujuannya.

Bila pasien dan atau keluarganya setuju maka konsul dilanjutkan


dan melengkapi Surat Izin Operasi/Tindakan.

Bila pasien dan atau keluarga tidak setuju maka konsul


dibatalkan dan dokter primer melanjutkan tindakannya dan melengkapi
Surat Penolakan.
5.
Bila tindakan pembedahan lanjut disetujui maka :

Kedua dokter bedah melakukan tindakan bersama-sama sampai


tujuan konsulen tercapai.

Dokter primer mengalih rawatkan pasien tersebut ke dokter


konsulen.
6.
Setelah tindakan selesai :

Dokter primer melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan


antara lain surat permintaan konsul bila sampai saat itu masih dilakukan
secara lisan, laporan operasi, permintaan pemeriksaan lanjut dan lainlain.
Dokter konsulen menjawab konsul di lembaran yang disediakan dan
melengkapi semua dokumen-dokumen yang diperlukan, laporan operasi,
formulir permintaan pemeriksaan lanjut, dan lain-lain.
Mengisi jasa medik sesuai dengan peraturan yang berlaku.

UNIT TERKAIT

---

ANESTESIA EPIDURAL
No. Dokumen :
025/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anestesia epidural adalah tindakan anestesia dengan menyuntikan obat keruang
epidural ditandai dengan hilangnya tahanan (lost off desistance) yang akan
menghasilkan hambatan hantaran rangsang saraf medula spinalis, menyebabkan
hilangnya fungsi otonom, sensoris dan motorik untuk sementara waktu selama
masa kerja obat.
Menghilangkan sensasi pada daerah yang teranestesi sehingga dapat dilakukan
tindakan pembedahan didaerah saraf saraf medulla spinalis yang terblock.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Persiapan pasien :
a.
Sudah dilakukan kunjungan pra anestesia, termasuk
informed consent.
b.
Sesuai standar anestesia umum.
c.
Khusus : pasien telah terpasang jalur intravena yang
lancar minimum satu buah.
2.
Persiapan alat dan obat :
a. Jarum epidural sekecil mungkin sesuai pengalaman.
b. Obat anestesia lokal dan ajuvan.
c. Persiapan a dan anti sepsis.
d. Alat alat dan obat obat anestesia umum.
3.
Persiapan alat pemantauan :
a. Monitor yang terdiri dari tekanan darah, EKG, pulse oksimeter.
b. Stetoskop.
c. Termometer.
d. Kateter urin terpasang.
4.
Cara kerja :
a. Posisi pasien miring dengan lutut dilipat ke perut maksimal, kepala tunduk
ke dada maksimal atau posisi duduk.
b. A dan anti sepsis daerah penyuntikan.
c. Infiltrasi lokal anestesi di daerah penyuntikan.
d. Jarum epidural ditusuk kecelah intervertebrata antara L2-3/L3-4/L4-5
sesuai indikasi dan pengalaman.
e. Jarum epidural Touhy dimasukan pelan pelan dengan spuit yang berisi
udara atau NaCl 5 cc. Spuit didorong sambil memasukkan jarum. Bila
dirasakan hilang tahanan pada spuit dan pendorong dengan mudah

dimasukkan , pertanda ujung jarum telah mencapai ruang epidural.


f. Kateter epidural dimasukkan pelan-pelan melalui jarum Touhy ke arah
kranial sejauh 3-5 cm

ANESTESIA EPIDURAL
No. Dokumen :
025/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
g. Obat anestesi lokal dimasukkan setelah dipastikan jarum masuk keruang
epidural.
h. Lakukan test dose dahulu sebanyak 3 cc, ditunggu 3 menit. Bila tidak ada
telinga berdengung, kejang kejang, obat bisa dilanjutkan kedosis penuh.
i. Awasi tekanan darah, nadi, pernapasan dan kesadaran. Bila tekanan
darah turun < 30%, percepat infus, masukan ephedrin 10 mg iv. Bila perlu
diulang tiap 3 menit.
5. Nilai ketinggian hambatan sensorik dan motorik
---

ANESTESIA SPINAL
No. Dokumen :
026/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anestesia spinal adalah tindakan anestesia dengan cara menyuntikan obat
anestesia lokal dan ajuvan kedalam ruang subarachnoid yang akan menghasilkan
hambatan hantaran rangsang saraf medula spinalis ditandai dengan keluarnya
cairan LCS (Liquer care spinalis) menyebabkan hilangnya fungsi otonom,
sensoris dan motoris untuk sementara waktu selama masa kerja obat tersebut.
Menghilangkan sensasi pada daerah yang terblok sensoris, motorik dan otonom
sehingga dapat dilakukan tindakan pembedahan pada daerah tersebut.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Persiapan pasien :
a. Sudah dilakukan kunjungan pra anestesia, termasuk informed consent.
b. Sesuai standar anestesia umum.
c. Pasien sudah terpasang jalur intravena yang lancar minimum satu buah.
2.
Persiapan alat dan obat
a. Jarum spinal sekecil mungkin sesuai dengan pengalaman.
b. Obat anestesi lokal dan ajuvan.
c. Peralatan a dan antiseptik.
d. Alat-alat dan obat-obatan anestesia umum.
3.
Persiapan alat pemantauan
a. Monitor yang meliputi tekanan darah, EKG, pulse oksimetri.
b. Stetoskop.
c. Kateter urin.
4.
Cara kerja :
a. Posisi pasien miring dengan lutut dilipat ke perut maksimal kepala tunduk
ke dada maksimal atau posisi duduk dengan kepala tunduk.
b. Lakukan a dan antiseptik daerah penyuntikan.
c. Jarum ditusukkan dicelah intravetebrata antara L2-3 / L3-4 / L4-5 sesuai
indikasi dan pengalaman.
d. Obat anestesia lokal dimasukkan setelah dipastikkan jarum masuk ke
ruang subarachnoid yaitu keluarnya cairan spinal di pangkal jarum.
5.
Posisi pasien terlentang kembali, lakukan pengawasan terhadap
tekanan darah, nadi, kesadaran dan pernapasan.
6.
Nilai ketinggian hambatan sensoris dan motorik dengan uji PinPrick dan skala Bromage.

UNIT TERKAIT

---

MONITORING BEDAH SELAMA OPERASI


BERLANGSUNG
No. Dokumen :
027/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu proses pemantauan operasi dari pre, intra sampai post operasi.
Membantu kelancaran proses operasi dan menghindari kejadian yang tidak
diharapkan.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Pre Operasi :
1. Perawat instrumentor menyiapkan dan menyusun instrument steril yang
akan digunakan di atas meja mayo.
2.
Perawat instrumentator memastikan semua alat yang akan
dipergunakan dalam kondisi baik dan steril.
3.
Instrumentator melakukan penghitungan jumlah instrument,
kassa steril, jarum dan bisturi yang akan dipakai dengan disaksikan oleh
perawat sirkuler.
4.
Perawat sirkuler mendokumentasikan hasil penghitungan awal
didalam form penghitungan instrument, kassa, jarum dan bisturi.
Intra operasi :
1. Selama operasi berlangsung apabila ada penambahan instrument, kassa
atau jarum, perawat sirkuler mendokumentasikannya sebagai barang
tambahan dalam form penghitungan instrumen, kassa, jarum dan bisturi.
2. Perhitungan instrument, kassa, jarum, bisturi dilakukan oleh instrumentator
dan perawat sirkuler sebelum operator menutup lapisan peritonium.
3. Bila hasil perhitungan instrument, kassa, jarum dan bisturi sudah selesai dan
sesuai dengan jumlah sebelumnya, hasil dilaporkan kepada dokter operator.
4. Apabila terdapat ketidaksesuaian dalam penghitungan jumlah instrumen,
kassa, jarum, dan bisturi maka dilakukan tindakan :
a.
Lapor kepada operator tentang ketidaksesuaian jumlah item
tersebut.
b.
Dilakukan penghitungan ulang.
c.
Dilakukan pencarian item tersebut, dengan menggunakan mesin
C-Arm.
d.
Apabila instrument, kassa, jarum dan bisturi tersebut tidak
ditemukan maka Tim operasi (Asisten, Instrumentator dan sirkuler)
membuat accident insiden report yang ditanda tangani juga oleh

operator.
Post Operasi
1. Instrument dan alat alat pendukung dibersihkan dan dirapihkan.
2. Pasien dibersihkan dan dilakukan pemeriksaan kulit pasca pemakaian
patient plate / diatermi

MONITORING BEDAH SELAMA OPERASI


BERLANGSUNG
No. Dokumen :
027/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
3. Sampah medis dimasukan kedalam kantong kuning, sedangkan untuk yang
non medis dimasukan ke kantong warna hitam.
4. Linen bekas operasi dimasukan ke dalam kantong warna hijau, apabila ada
indikasi pasien infeksi linen dimasukan kedalam pot berisi cairan formalin
untuk selanjutnya dibuat laporan pemeriksaan jaringan / PA (apabila di PA)
bila tidak dilakukan pemeriksaan, maka jaringan diserahkan kepada
keluarga pasien mempergunakan buku ekspedisi.
5. Perawat mendampingi operator dalam membuat laporan dan membuat
catatan instruksi terintegrasi.
---

ANESTESIA BEDAH ANAK


No. Dokumen :
028/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/5
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anestesia Bedah Anak adalah anestesia yang dilakukan pada pediatri pasien usia
12 tahun. yang termasuk pediatri adalah : neonatus, infant, toddler, preschool
children.
1.
Membantu menciptakan kondisi optimal
untuk prosedur bedah yang akan dijalani.
2.
Mencegah terjadi morbiditas dan mortalitas
selama pembedahan dan paska bedah.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Peralatan :
Persiapan kamar operasi :
a. Sirkuit anestesia : sirkuit terbuka Mapleson D (Jackson Ress) dengan
aliran gas segar 2,5 3 x ventilasi semenit untuk mencegah rebreathing.
b. Volume kantung sesuai besar kapasitas vital.
c. Anak dengan BB : 10 20 kg dapat menggunakan sirkuit setengah tertutup
yang berdiameter kecil.
Sarana kamar operasi :
a. Obat obat anestesia termasuk obat resusitasi.
b. Monitor berupa EKG, tekanan darah, pulse oksimeri, stetoskop prekordial.
c. Mesin anestesi beserta kelengkapan pasokan gas.
d. Peralatan jalan napas : sungkup muka, ETT, guedel.
e. Laringoskop dengan bilah anak, stylet dan laryngeal mask.
f. Peralatan penghangat tubuh anak dan alat pemantau suhu.
g. Alat untuk pemberian cairan intravena termasuk kanulasi vena.
h. Alat penghisap (suction).
Bilah laringoskop :
a.
Dianjurkan bilah lurus (miller) untuk usia <2 tahun.
b.
Standar ukuran bilah laringoskop :
Umur

Bilah

Prematur dan Neonatus


Bayi s/d 6 8 bulan
9 bulan s/d 2 tahun
2 s/d 5 tahun

Miller 0
Miller 0 1
Miller 1
Macintosh 1
Miller 1 1,5

ANESTESIA BEDAH ANAK


No. Dokumen :
028/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/5
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Endo Tracheal Tube
a.
Tanpa cuff dapat digunakan sampai usia 10 tahun. (tergantung jenis
operasi).
b.
Prematur.
: 2,5 3,0 mm
c.
Neonatus s/d 6 bulan
: 3,0 3,5 mm
d.
6 bulan s/d 1 tahun
: 3,5 4 mm
e.
1-2 tahun
: 4,0 - 5,0 mm
f.
>2 tahun
: 4,0 5,0 mm
g.
Kedalaman tube dari mulut : 10+ usia(tahun)/2
Pengaturan suhu kamar operasi :
a. Suhu optimal antara 26 32 C.
b. Terpasang penghambat alas (blanket rol).
c. Cairan infus, darah dan cairan irigasi harus dihangatkan.
Peralatan pemberian cairan intravena :
a.
BB 10 kg menggunakan buret atau infus pump untuk mencegah
pemberian cairan berlebih.
b.
BB 10 kg digunakan set infus anak, 1 cc = 60 tetes.
c.
Hindari udara yang masuk intravena.
d.
Dapat menggunakan three way untuk memberi obat suntik jarak
jauh.
Prosedur :
1. Lakukan kunjungan pre anestesia sebelum operasi sesuai dengan
kesempatan dan waktu yang tersedia.
2. Meminta informed consent sebelum tindakan anestesia dilakukan.
3. Pada pre operatif sudah didapat data mengenai :
a.
Riwayat usia kehamilan dan berat badan.
b.
Proses persalinan (APGAR SCORE).
c.
Riwayat perawatan di rumah sakit.

d.
Ada kelainan bawaan atau metabolik.
e.
Ada kelainan jalan napas.
4. Pemeriksaan fisik yang mencakup :
b. Keadaan umum, tanda vital, berat badan.
c. Keadaan mulut, rongga mulut, gigi yang dapat mempersulit intubasi.
d. Keadaan jalan napas, respirasi dan sistem kardiovaskuler.
e. Tempat pemasangan kanulasi perifer.

ANESTESIA BEDAH ANAK


No. Dokumen :
028/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
3/5
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
5. Laboratorium rutin yang harus ada : Hb, Ht, Lekosit, Trombosit, masa
perdarahan dan masa pembekuan. Untuk keadaan khusus dapat diperiksa
foto thorak, EKG, tes fungsi hati, ginjal dan gula darah.
6. Persiapan preanestesi :
a. Puasa :
Usia (Bulan)

Susu/makan padat

Cairan jernih

4 jam
2 jam
6
6 36
6 jam
3 jam
> 36
8 jam
3 jam
Bila memungkinkan pada saat puasa pasien sudah terpasang jalur intravena
dengan infus (N2/N4/RL sesuai umur) atau bila jadwal operasi tertunda.
7. Premedikasi dan teknik induksi :
7.1. Premedikasi
a.
Tidak perlu pada anak 18 bulan, anak > 18 bulan dapat
diberikan midazolam atau diazepam per oral.
b.
Tidak perlu diberikan pada anak dengan kelainan mental atau
gangguan jalan napas.
c.
Terapi penyakit kronis harus tetap diberikan.
d.
Obat sedatif, narkotik, antiemetik dan antikolinergik dapat
diberikan sesuai indikasi.
7.2 Tehnik Induksi
Bayi 8 bulan atau BB <7 kg masuk kamar operasi tanpa sedasi dan
induksi dengan tehnik inhalasi.
7.3. Induksi Inhalasi
Dapat dilakukan bila belum terpasang jalur intravena. Anak
usia 8
bulan 5 tahun atau anak yang tidak kooperatif dapat dilakukan induksi
inhalasi setelah disedasi dengan midazolam. Dekatkan sungkup muka ke
wajah dengan aliran gas rendah (1-3 lt/mnt) N 2O dan O2. Konsentrasi
volatile anestesi ditingkatkan bertahap. Saat reflek bulu mata hilang
letakkan sungkup muka dan angkat rahang. Naikan aliran gas segar 2,5
3 kali volume semenit.
7.4. Induksi intramuskular

Untuk anak yang tidak kooperatif atau retardasi mental dapat diinduksi
dengan ketamin 3 5 mg/kgBB im.
7.5. Induksi Intravena
Untuk anak yang sudah terpasang jalur intravena dapat diinduksi dengan
propofol 3-4 mg/kgBB IV atau thiopental 4-6 mg/kgBB IV. Propofol tidak
dianjurkan digunakan pada anak < 3 tahun.

ANESTESIA BEDAH ANAK


No. Dokumen :
028/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
4/5
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
7.6. Anak dengan lambung penuh
Prinsip sama dengan pasien dewasa dengan tambahan :
a. Atropin 0,02 mg/kg diberikan untuk mencegah bradikardia.
b. Lakukan dekompresi dengan pemasangan pipa naso gastrik atau
orogastrik.
c. Berikan ranitidine 2 mg/kg/hari IV dibagi 3 dosis. Untuk mengurangi
volume lambung dan meningkatkan PH.
d. Intubasi sadar merupakan pilihan pada bayi sakit berat atau dengan
kelainan jalan napas hebat.
8. Intubasi dan pemeliharaan anestesia.
8.1. Intubasi
a. Pemilihan ETT atau laryngeal mask sesuai kebutuhan.
b. Pemasangan ETT atau LM bisa dilakukan dengan atau tanpa
pelumpuh otot.
c. Penggunaan ETT dengan cuff sesuai indikasi (misal : operasi
dirongga mulut).
8.2. Pemeliharaan anestesia
a. Dalam dilakukan dengan inhalasi (halotan, isofluran, sevofluran).
b. Pemeliharaan obat intravena dan pelumpuh otot sesuai indikasi dan
kebutuhan.
9. Pemberian cairan
a.
Diberikan cairan dengan rumus 4-2-1 :
10 kg pertama
: 4 cc/kgBB/jam
10 kg kedua
: 2 cc/kgBB/jam
Kenaikan BB berikutnya
: 1 cc/kgBB/jam
b.
Cairan yang digunakan adalah ringer laktat dan dapat ditambahkan
cairan yang mengandung glukosa untuk mencegah hipoglikemia.
c.
Bila diperlukan cairan infus atau tranfusi sesuai dengan perhitungan
kebutuhan cairan perioperatif.
10. Proses pemulihan dan perawatan
10.1. Proses pemulihan
a.
Bila menggunakan pelumpuh otot golongan non depolar, dapat

dipertimbangkan pemberian penawar pelumpuh otot.


b.
Ekstubasi dilakukan setelah pernapasan adekuat dan mulut bersih
dari cairan atau bekuan darah.
c.
Pada pasien dengan kelainan jalan napas atau tidak puasa maka
ekstubasi dilakukan setelah pasien sadar.
d.
Laringospasme dapat terjadi selama proses bangun.
e.
Gunakan oropharingeal airway bila pasien belum sadar.
f.
Paska anestesia diberikan O2 100%.
g.
Observasi pernapasan selama transportasi ke ruang pulih.

ANESTESIA BEDAH ANAK


No. Dokumen :
028/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
5/5
Ditetapkan,

10.2. Perawatan paska pembiusan


a. Ada supervisi oleh dokter spesialis anestesiologi.
b. Ada perawat anestesia yang mampu mengenali tanda tanda
kegawatan pada anak paska anestesia.
c. Tanda vital harus segera dinilai setiba diruang pemulihan dan
dibuat laporan tertulis yang akurat selama diruang pemulihan.
d. Tersedia alat monitoring, oksigen dan alat penghisap untuk setiap
setiap pasien.
e. Pasien dapat pindah keruang rawat jika sudah sadar, tanda tanda
vital baik.
---

ANESTESI PADA BEDAH SARAF


No. Dokumen :
029/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anastesia pada bedah saraf adalah anestesia yang dilakukan pada pembedahan
SSP, medula spinalis dan saraf perifer.
Menghilangkan sensasi pada daerah operasi dengan menggunakan anestesi
umum dan atau regional, membuat lapangan operasi yang memadai serta
menjaga hemeostasis intrakranial.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan Direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Persiapan pasien :
- Dokter melakukan validasi nama dan tanggal lahir pasien.
- Sudah melakukan kunjungan Pre-anestesi termasuk mengisi Informed
Consent.
- Sesuai standar operasi umum.
- Hasil pemeriksaan penunjang, seperti :

Darah perifer lengkap.

Masa perdarahan dan masa pembekuan.

Fungsi ginjal (ureum, kreatinin).

Fungsi hati (SGOT, SGPT).


- Pasien sudah terpasang jalur intravena yang sesuai untuk jenis operasi dan
infus dapat berjalan lancar.
- Menurunkan tekanan intrakranial dengan pendekatan fisiologis dan
farmakologis.
- Mencegah dan mengatasi kejang secara progresif.
- Menjaga stabilitas hemodinamik sesuai autoregulasi darah otak.
- Perawatan ICU / HCU pasca operasi.
2. Persiapan obat :
- Obat obat anestesia umum.
3. Persiapan alat anesthesi lengkap :
- Monitor.

- Stetoskop.
- Termometer.
- CVC (sesuai indikasi).
- Analisa gas darah (sesuai indikasi).
- Capnograf (jika ada).
4. Indikasi :
a. Operasi pada SPP(Susunan Saraf Pusat) :
- Tumor (Meningioma, Astrocytoma).
- Perdarahan intrakranial (EDH, SDH, SHA).
- Kelainan konginetal (Hidrocephalus, MEA).

ANESTESI PADA BEDAH SARAF


No. Dokumen :
029/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
b.

Operasi pada medula spinalis :


- Tumor (Tumor spinal, meningomyelocel).
- Kelainan konginetal (Spina Bifida).
c. Operasi pada saraf perifer :
- Trauma.
- Penekanan saraf oleh tumor.
5. Kontra indikasi :
a. Kelaianan fungsi hemeostasis darah.
b. Dekompensasi jantung.
c. Total AV Blok.
6. Komplikasi :
a. Peningkatan tekanan intrakranial.
b. Odema cerebri.
c. Emboli udara.
d. Kejang.
e. Aritmia.
f. Henti jantung.
7. Cara kerja :
Sesuai dengan SPO anestesi Umum
---

ANESTESI PADA PASIEN RAWAT JALAN


No. Dokumen :
030/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anestesi pada pasien rawat jalan adalah tindakan anestesia yang dilakukan pada
pasien yang tidak memerlukan perawatan paska tindakan, tapi masih memenuhi
keadaan amnesia, analgesia dan penekanan reflek.
Memberi rasa aman dan nyaman pada pasien yang akan dilakukan prosedur
tindakan baik yang menggunakan anestesia umum ataupun monitored anestesia
care. Umumnya dilakukan pada ruang endoskopi, radio diagnosis, radio terapi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Pemantauan selama anestesia dan sesudahnya adalah sama dengan
pemantauan anestesia pada umumnya ( sesuai dengan peraturan direktur
nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman Pelayanan Kamar
Operasi )
Dilakukan dengan Anetesia umum :
1. Sebelum melakukan tindakan petugas memanggil nama dan mencocokan
tanggal lahir pasien.
2.
Lakukan anamnesia dan pemeriksaan fisik
sebelum pemberian obat obat anestesia.
3.
Pasang monitor standar yang tersedia dan
oksigen nasal.
4.
Pasang jalur intravena dan infuse Ringer Laktat.
5.
Premedikasi :
b. Midazolam : 0,07 0,15 mg/kgBB iv.
c. Fentanyl
: 1 2 mikrogram/kgBB.
6.
Obat induksi dan pemeliharaan :
- Propofol
: 1-2 mg/kgBB iv dan bolus
intermiten untuk pemeliharaan.
- Ketamin (untuk anak)
: 1-2 mg/kgBB iv.
3-5 mg/kgBB im.
- Atau kombinasi propofol dan ketamin dengan dosis masing masing
diturunkan sampai separuhnya.
7.
Setelah selesai pasien dirapikan dan di

observasi.
8.

UNIT TERKAIT

Pasien boleh pulang jika kesadaran kompos


mentis, pernapasan dan tekanan darah baik serta tidak ada mual maupun
muntah.

---

ANESTESI REGIONAL
No. Dokumen :
031/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/4
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Anestesi regional adalah tindakan anestesi dengan cara memasukkan obat
anestetik lokal pada saraf tertentu sehingga tercapai keadaan analgesik pada
daerah yang dipersarafi oleh saraf.
Untuk memblok saraf sesuai daerah operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi )
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 779/MENKES/SK/VIII/2008 tentang
standar pelayanan anestesiologi dan reanimasi di rumah sakit.
1.
Dilakukan oleh dokter spesialis anestesi.
2.
Jenis tindakan anestesi regional.
1)
Anestesi Spinal (Sub Arachnoid)
Pada Anestesi spinal obat anestetik lokal dimasukkan kedalam ruang
sub arachnoid dari medula spinalis.
a. Indikasi :

Operasi abdomen bagian bawah (dibawah umbilicalis).

Operasi ekestremitas bagian bawah : Ortopedi, bedah


plastik, bedah tumor.

Operasi kebidanan : dilatasi / kretase, histerektomi


vaginal, kista ovarium.

Bedah umum / digestive : Haemorhoidektomi, fistel


perianal, abces perianal, herniotomi, appendiktomi.

Bedah urologi : TUR, seksio alta, orkhidektomi,


vesikolitotomi.
b. Kontra Indikasi :
Dekompensasi kordis.

Kelainan mekanisme pembekuan darah.


c. Syarat :
Sudah menanda tangani SIO (Surat Izin Operasi) dan SIA (Surat
Izin Anestesi).
Tidak ada infeksi / kelainan kulit pada tempat penyuntikan.
Tidak alergi terhadap obat anestetik lokal.
Kooperatif
d. Persiapan pasien :
Umum : Sesuai standar persiapan umum pasien untuk tindakan
anestesia.
Khusus : Pasang jalur intravena yang lancar, diberikan cairan
infus sebelum tindakan spinal.

ANESTESI REGIONAL
No. Dokumen :
031/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/4
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
e.

f.

g.

h.

Persiapan alat :
Trolley yang sudah di tutup dengan dick steril berisi :
- 1 pasang sarung steril sesuai ukuran.
- 10 kasa steril.
- 1 spuit 3 ml.
- 1 jarum spinal steril.
- Alkohol.
- Bethadin.
- Hansaplast.
Persiapan obat-obatan :
Bupivacaine HCL 0,5%.
Catapres 150mg.
Lidorain 2ml.
Ephedrin 50mg.
Ondancentron 8mg.
Midazolam 5mg.
Fentanyl 50mg /ml.
Propofol 10mg /ml.
Emla zalf.
Alat monitor :
EKG monitor
Tensi meter
Pulse oksimeter
Tindakan :

Dokter melakukan identifikasi pasien dengan menanyakan umur dan


tanggal lahir.
Pasang monitor dan pulse oksimeter.
Ukur tekanan darah.
Posisi pasien miring kiri/kanan, lutut dilipat keperut dan kepala menunduk
sehingga celah intervertebrae terbuka maksimal, atau posisi duduk
dengan posisi kepala menduduk.
Pakai sarung tangan steril.
Dilakukan tindakan a/antiseptik daerah lumbal.
Pilih celah intervertebrae L4-L5 atau L3-L4 dengan menggunakan SIAS
sebagai patokan.
Jarum spinal ditusukkan sampai terasa menembus durameter
yang keras dan diteruskan sedikit (2mm), mandrin dicabut dan tunggu
sampai keluar cairan liquor yang menetes

ANESTESI REGIONAL
No. Dokumen :
031/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
3/4
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
2)

Anestesi Epidural
Pada anestesi epidural obat anestetik lokal dimasukkan kedalam ruang
epidural dari medulla spinalis.
a. Indikasi :

Operasi abdomen bagian bawah (dibawah umbilicalis).

Operasi abdomen bagian atas (dikombinasi dengan anestesi


umum).
b. Ektremitas bawah : orthopedi, bedah plastik, bedah tumor.
c. Kebidanan : dilatasi / kuretase, histerektomi vaginal, kista ovarium.
d. Bedah urologi : TUR, orkhidektomi, vesikolitotomi.
e. Kontra indikasi
Dekompesasi kordis.
Kelainan mekanisme pembekuan darah.
Nyeri pasca bedah.
f. Persyaratan :
Tidak ada infeksi / kelainan kulit di tempat penyuntikan.
Tidak ada alergi terhadap obat anestetik lokal.
Kooperatif.
g. Persiapan pasien :

Umum : sesuai standar persiapan umum untuk tindakan


operasi dengan tindakan anestesi.

Khusus : pasang jalur intravena yang lancar, berikan


cairan infus.

h. Persiapan alat :
Trolley dengan alas duk steril disitu terletak :
- 1 pasang sarung tangan steril.
- 10 kasa steril.
- 1 spuit 3 ml.
- 1 spuit 10 ml.
- 1 spuit 20 ml.
- 1 buah alat epidural set.
Obat :
- 1 ampul obat anestesi lokal.
- 1 vial obat anestesi epidural
i. Alat monitor
EKG
Tensimeter
Pulse oksimeter

ANESTESI REGIONAL
No. Dokumen :
031/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
4/4
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
j.

Tindakan
Pasang monitor EKG dan pulsoksimeter.
Ukur tekanan darah.
Posisi pasien miring kiri / kanan, lutut dilipat ke perut dan kepala
menunduk sehingga celah intervertebrae terbuka maksimal, atau
posisi duduk dengan posisi kepala menunduk.
Pakai sarung tangan steril.
Dilakukan tindakan a/antiseptik daerah lumbal.
Pilih celah intervertebrae L2-3 atau L3-4 dengan menggunakan
SIAS sebagai patokan.
Suntikan anestesi lokal secara infiltrasi di daerah yang dipilih.
Tusukkan jarum epidural lebih kurang 1-1,5 cm.
Cabut mandrin kemudian spuit 20ml yang berisi udara atau
cairan NaCl 0,9%, tangan kiri memegang spuit sambil menahan
pada permukaan kulit pasien. Tangan kanan mendorong jarum
sambil mendorong penghisap sampai menembus lapisan yang
keras dan terasa masuk dalam ruangan dengan tekanan negatif.
Spuit dilepas, yakinkan tidak keluar cairan liquor.
Bila tidak menggunakan kateter masukkan obat anestetik lokal
sebanyak 5 ml sebagai test dose. Tunggu 1 menit sambil
tanyakan pada pasien apakah terasa mendenging ditelinga atau

UNIT TERKAIT

tidak. Bila tidak ada tanda-tanda tersebut masukkan sisa obat


anestetik lokal, sisanya sesuai dosis yang dikehendaki.
Bila pakai kateter masukkan kateter sampai kedalam yang
ditentukan.
Tempat suntikan ditutup dengan kasa steril yang diberi bethadine
dan diplester.
Pasien dikembalikan pada posisi telentang, kemudian diatur pada
posisi operasi yang dikehendaki.
Ukur tekanan darah, denyut nadi, dan saturasi O 2.

---

APPENDECTOMY DENGAN LAPARASCOPY


No. Dokumen :
032/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Appendectomy laparascopy adalah suatu operasi pengangkatan appendix
dengan menggunakan alat laparascopy.
Untuk mengangkat Appendicitis Pathologis.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Semua tindakan operasi yang dilakukan di kamar bedah sesuai dengan
standar persiapannya ( sesuai dengan peraturan direktur nomor
029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman Pelayanan Kamar Operasi )
CARA KERJA INSTRUMENTATOR
1. Siapkan basic set dan alat tenun/linen
2.
Instrumen laparascopy rendam dengan cairan asepty steril/cairan cidex
kurang lebih 20-30 menit.
3.
Cuci tangan sesuai prosedur
4.
Pakai jas steril dan sarung tangan secara steril sesuai prosedur
5.
Instreumen yang direndam dibilas dengan cairan water for injection
6.
Lumen instrumen kecil dibilas dengan memakai syringe 20cc.
7.
Instrumen dikeringkan dengan washlap.
8.
Optic camera dilap dengan alcohol 96%
9.
Instrumen laparascopy dengan basic set disusun/diatur di meja mayo
10.
Electro mechanic diset dalam keadaan baik sesuai dengan SOP
11.
Pasien dalam keadaan narcose dengan posisi pasien telentang

12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
UNIT TERKAIT

Desinfeksi seluruh bagian perut sampai batas Pro. Xypoideus dan


shympisis pubis, dengan memakai alcohol 70% dan bet, sol (yod 1%)
Pasang doek besar atas dan bawah
Pasang doek kecil kanan dan kiri, keempat sudut jepit dengan doek klem.
Pasang kabel kamera hubungkan dengan telecam, lihat SOP dan
hubungkan dengan teleskop 0.
Pasang kabel gas CO2 dengan thermoflator dan slang CO2 (lihat SOP).
Pasang kabel light source hubungkan dengan telescope 0 (lihat SOP)
Pasang slang irrigation dan suction system (lihat SOP).
Pasien siap untuk dilakukan tindakan laparascope appendectomy.

---

ASESMEN PRA SEDASI


No. Dokumen :
033/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Asesmen pra sedasi adalah mempersiapkan pasien secara fisik, psikis dan
menilai keadaan umum pasien untuk menentukan pilihan obat obatan dan jenis
sedasi yang akan di gunakan.
Agar sedasi berjalan dengan lancar meminimalkan dan mencegah hambatan atau
hal hal yang tidak di inginkan selama tindakan sedasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Dokter Anestesi melakukan visite pre sedasi pasien yang meliputi :
1.
Identifikasi pasien nama dan tanggal
lahir serta mencocokkan dengan gelang nama pasien.
2.
Mempelajari rekam medis pasien
yang mencakup identifikasi pasien, pemahaman diagnosa dan prosedur
bedah / medik yang akan dilakukan.
3.
Anamnesis
pasien
untuk
mengetahui riwayat medis, termasuk pengalaman anestetik dan terapi obat
serta kebiasaan / habutuasi.
4.
Pemeriksaan fisik, head to toe
dengan melakukan inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi.
5.
Mempelajari hasil pemeriksaan

penunjang medik.
6.

Menentukan

rencana

tindakan

sedasi yang akan dilakukan.


7.

Menginformasikan tentang prosedur,


manfaat dan resiko tindakan sedasi.

UNIT TERKAIT

---

CHOLECYSTECOMY DENGAN LAPARASCOPY


No. Dokumen :
034/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu operasi pengangkatan kantong empedu dengan menggunakan alat
laparascopy.
Membuang kantong dan isi kantong empedu yang pathologis
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
CARA KERJA INSTRUMENTATOR
1.
Siapkan basic set dan alat tenun/linen
2.
Instrumen laparascopy rendam dengan cairan asepty steril/cairan
cidex kurang lebih 20-30 menit.
3.
Cuci tangan sesuai prosedur
4.
Pakai jas steril dan sarung tangan secara steril sesuai prosedur.
5.
Instrumen yang direndam dibilas dengan cairan water for injection.

6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Lumen instrumen kecil dibilas dengan memakai syringe 20cc.


Instrumen dikeringkan dengan washlap
Optik kamera dilap dengan alkohol 96%
Instrumen laparascopy dengan basik set disusun/diatur di meja mayo
Electro mechanic diset dalam keadaan baik sesuai dengan SOP.
Pasien dalam keadaan narcose dengan posisi pasien telentang.
Desinfeksi seluruh bagian perut sampai batas Prosesus Xypoideus
dan shympisis pubis, dengan memakai alkohol 70% dan betadine sol (yod
1%)
13. Pasang doek besar atas dan bawah
14. Pasang doek kecil kanan dan kiri, keempat sudut jepit dengan doek klem.
15. Pasang kabel kamera hubungkan dengan telecam (lihat SOP) dan hubungkan
dengan telescope 0.
16. Pasang kabel gas CO2 dengan thermoflator dan slang CO2 (lihat SOP).
17. Pasang kabel light source hubungkan dengan telescope 0 (lihat SOP)
18. Pasang slang irrigation dan suction system (lihat SOP).
19. Pasien siap untuk dilakukan tindakan laparascope cholecystectomy.
UNIT TERKAIT

---

CIRCUMCISI
No. Dokumen :
035/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu tindakan untuk membebaskan gland penis dari preputium untuk mengatasi
kelainan, ritual.
1. Bila ada kelainan patologis (phymosis)
2. Ritual
3. Higiene
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Semua tindakan medik kamar bedah dibuat tahapan kerja (sesuai dengan
peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi )
1. Siapkan semua alat yang diperlukan pada meja instrument.
2. Cuci tangan dan pakai sarung tangan steril sesuai prosedur.
3. Desinfeksi daerah penis pasien dan sekitarnya dengan betadine solution
kemudian pasang doek sedang di bagian atas dan bawah lalu tutup dengan

doek bolong.
4. Siap untuk dilakukan tindakan circumcisi, (proses jalannya operasi lihat
protap bedah).
5. Setelah operasi selesai balut dengan sufratul dan kassa.
6. Semua alat kotor dibawa ke bagian CSSD untuk dicuci dan disterilkan.
UNIT TERKAIT

---

CURRET
No. Dokumen :
036/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu tindakan yang dilakukan oleh dokter untuk menegakkan diagnosa dan
mengeluarkan sisa hasil konsepsi pada pasien abortus.
1. Untuk menegakkan diagnosa
2. Untuk mengeluarkan sisa hasil konsepsi pada pasien abortus
3. Untuk mengeluarkan sisa placenta
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Semua tindakan medik kamar bedah dibuat tahapan kerja (sesuai dengan
peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi )
1. Perawat di kamar bedah serah terima pasien dengan perawat ruangan.
2. Periksa kelengkapan administrasi seperti : SIO, hasil pemeriksaan radiologi,
laboratorium, dan lain-lain.
3. Ganti baju pasien dengan schort ( bila masih pakai baju ruangan ).

4. Beri kesempatan pasien berdoa bersama keluarganya bila hal itu belum
dilakukan di ruangan.
5. Memindahkan pasien dari tempat tidur ruangan ke brankar kamar bedah
bersama perawat ruangan.
6. Pasien didorong ke ruang tindakan.
7. Memindahkan pasien dari brankar ke meja operasi.
8. Setelah pasien dibius, buat dalam posisi litotomi.
9. Nyalakan lampu operasi (lihat protap pengoperasian lampu operasi).
10. Siapkan instrumen set curret di meja instrumen besar.
11. Buka sarung tangan steril tempatkan di meja instrumen besar.
12. Cuci tangan sesuai prosedur (lihat protap mencuci tangan).
13. Pakai sarung tangan steril dan kemudian desinfeksi daerah vagina dan
sekitarnya dengan betadine solution.
14. Pasang doek ukuran sedang di bagian bawah dan atas, sarung kaki kiri dan
kanan.
15. Sambungkan selang suction ke mesinnya.
16. Siap untuk dilakukan tindakan curret.
17. Setelah tindakan selesai pasien dibersihkan dan dikembalikan ke posisi
normal.
18. Semua alat didorong ke CSSD untuk dibersihkan dan disterilkan kembali.
UNIT TERKAIT

---

DISEKTOMI
No. Dokumen :
037/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/3
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Disektomi adalah suatu tindakan operasi pada daerah tulang belakang untuk
membebaskan medulla spinalis dan/atau radix saraf spinalis dari penekanan
diskus intervertebra.
Dekompresi medulla spinalis dan/atau radix saraf spinalis.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Disektomi dilakukan oleh dokter spesialis bedah syaraf atau dokter spesialis
bedah orthopedi untuk dekompresi akibat hernia nukleus purposus (sesuai
dengan peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang
Pedoman Pelayanan Kamar Operasi )
A. Alat-alat kesehatan
Sarung tangan steril
4 pasang (sesuai ukuran)
Bisturi no. 20
1 bh

Bisturi no.15
Sofratulle
Kassa steril
Urine bag
Sarung microskop steril
Syringe 20 cc
syringe 10cc
Folley catether
Steridrape no.1040
Bone wax
Spongostan standar
Surgical patties kecil
Vicryl no.0 tapper
Vicryl no. 3/0 cutting
Hypavix ukuran 8x5
B. Obat-obatan
Betadine solution
Markain
Oradekson
Marcain 0.5%
NaCl 0.9% 500 cc
C. Alat-alat tenun
Jas Operasi
Handuk kecil
Doek besar
Doek besar double
Doek sedang
Sarung mayo

1 bh
1 lmr
50 lmr
1 bh
1 bh
1 bh
3 bh
1 bh (sesuai ukuran)
1 bh
1 pcs
1 bh
1 bungkus
1 pcs (sesuai ukuran)
1 bh
30 cm
150 cc
5 cc
1 amp
1 amp
2 kolf
3 bh
1 bh
1 bh
4 bh
1 bh
1 unit

DISEKTOMI
No. Dokumen :
037/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/3
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
D. Alat Elektromedik
Monitor (cardio cap)
Mesin diathermi
Mesin Suction
Microscope neuro
Lampu operasi

1 set
1 set
1 unit
1 unit
1 set

E. Instrumen
alat laminektomi

1 set

Alat tambahan :
Kabel diathermi bipolar dan monopolar
1 bh
Selang suction steril
1 bh
Meja mayo steril
1 bh
Pegangan lampu operasi steril
2 bh
Korentang + pot steril
1 bh
Sikat steril
Perlak steril
Kom ukuran 500 cc steril
Meja instrumen besar
Meja linen
Standart meja mayo
Knabel tang ukuran kecil, sedang, besar
Persiapan pasien :
1. Serah terima pasien dengan perawat ruangan dengan mengisi form
askep kemar bedah
2. Beri kesempatan pasien berdoa bersama keluarga bila itu belum
silakukan diruangan.
3. Periksa kelengkapan administrasi : SIO, hasil pemeriksaan radiologi,
laboratorium dan lain-lain.
4. Lepaskan semua alat-alat bantu yang digunakan pasien seperti : gigi
palsu, kacamata, alat bantu dengar dan lain-lain, berikan kepada perawat
ruangan.
5. Pindahkan pasien ke brankar kamar bedah dan dorong ke ruang
tindakan.
6. Setelah pasien dibius pasang folley kateter (lihat SOP pasang catherter)
7. Bersama dokter anestesi dan dokter bedah atur posisi pasien sesuai
lokasi operasi kemudian bersihkan daerah operasi dengan microshield

DISEKTOMI
No. Dokumen :
037/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
3/3
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Pasang pasien plate sambungkan kabel ke mesin diathermi (lihat SOP
pengoperasian diathermi)
Nyalakan lampu operasi (lihat SOP pengoperasian lampu operasi)
Siapkan set laminektomi di meja instrumen
Cuci tangan secara steril (lihat SOP mencuci tangan)
Pakai jas dan sarung tangan steril
Pasang sarung microscope kemudian tutup dengan doek steril, untuk
kemudian dilepaskan pada saat microscope akan digunakan
Susun semua alat yang diperlukan dimeja mayo sesuai urutan

15.
16.
17.
18.
19.
UNIT TERKAIT

pemakaian
Pasang pegangan lampu operasi steril.
Siap untuk dilakukan tindakan operasi
Setelah operasi selesai, luka ditutup dengan softratulle dan kassa plester
dengan hipavix.
Bersama dokter anestesi kembalikan posisi pasien ke posisi normal.
Semua instrumen diserahkan ke bagian CSSD untuk dicuci dan
disterilkan.

---

FROZEN SECTION
No. Dokumen :
038/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu prosedur pemeriksaan untuk mengetahui tingkat kegunaan suatu jaringan
yang diduga kanker.
Memberi pedoman pelaksanaan frozen section di RS Sari Asih Karawaci agar
tercapai kelancaran dan akuratan hasil pemeriksaan dan administrasi penderita.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Frozen section di RS Sari Asih Karawaci dilakukan oleh dokter spesialis
Patologi Anatomi yang telah mengikat perjanjian kerjasama dengan RS Sari

Asih Karawaci.
Minimal 3x24 jam sebelumnya operator menghubungi Laboratorium Klinik
RS Sari Asih Karawaci memberitahukan mengenai permintaan frozen section
dengan mengisi formulir permintaan yang segera dikirim ke laboratorium.
Didalam formulir harus diisi secara jelas mengenai :
a)
Identitas penderita.
b)
Nomor medical record.
c)
Ruangan penderita dirawat pre operasi.
d)
Jenis operasi secara detil, disertai gambar sketsa bagian tubuh yang
akan diambil/dianalisa secara histopatologi.
e)
Hari dan waktu operasi akan diadakan.
f)
Nama operator serta nomor telepon ataupun HP operator yang dapat
dihubungi setiap saat.
g)
Tanggal permintaan.
h)
Tanda tangan operator.
Laboratorium klinik RS Sari Asih Karawaci berkewajiban segera
menghubungi ahli Patalogi Anatomi yang telah bekerja sama dengan RS Sari
Asih Karawaci minimal 3x24 jam sebelumnya.
Seluruh administrasi penderita harus melalui Laboratorium Klinik RS Sari
Asih Karawaci dan hasil pembacaan Patologi Anatomi secara definitif tertulis
diberikan oleh ahli Patologi Anatomi pada pihak Laboratorium Klinik RS Sari
Asih Karawaci, pengeluaran hasil tertulis juga dilakukan oleh Laboratorium
Klinik RS Sari Asih Karawaci.
Bilamana ada tambahan pemeriksaan agar segera dianjurkan oleh
operator melalui Laboratorium Klinik RS Sari Asih Karawaci pada saat
penderita masih dalam perawatan dan perawat ruangan penderita wajib
memberitahu adanya tambahan biaya pada penderita, seluruh administrasi
dan hasil histopatologi melalui Laboratorium Klinik RS Sari Asih Karawaci.

2.
3.

4.
5.

6.

FROZEN SECTION
No. Dokumen :
038/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
7.
8.
9.
10.

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Operator maupun Ahli Patologi Anatomi dapat berhubungan secara
langsung demi tercapainya kelancaran Frozen section dari segi teknis.
Dalam hal Ahli Patologi berhalangan maka Ahli Patalogi Anatomi tersebut
wajib mencari pengganti dan memberitahukan hal ini minimal 1x24 jam baik
kepada operator maupun Laboratorium Klinik RS Sari Asih Karawaci.
Ahli Patologi berkewajiban berada di ruangan operasi sebelum operasi
dimulai guna mempersiapkan alat, serta wajib membawa sistem, reagen,
parafin dan hal-hal lain yang dibutuhkan.
Hasil pembacaan histopatologi secara definitif tertulis diberikan kepada
Laboratorium RS Sari Asih Karawaci maximum 1 x 24 jam.

UNIT TERKAIT

---

HERNIOTOMI
No. Dokumen :
039/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu tindakan yang bertujuan untuk mengembalikan jaringan atau usus yang
masuk ke dalam kantung hernia yang bisa menyebabkan terjadinya kematian
jaringan yang bersangkutan.

TUJUAN

Untuk mencegah masuknya jaringan atau usus ke dalam kantung hernia yang
dapat mengakibatkan kematian dari jaringan tersebut.

KEBIJAKAN

1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan


pelayanan Rumah Sakit
2. Semua tindakan medik kamar bedah dibuat tahapan kerja (sesuai dengan
peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman

PROSEDUR

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Pelayanan Kamar Operasi )


Perawat di kamar bedah serah terima pasien dengan perawat ruangan.
Periksa kelengkapan administrasi seperti : SIO, hasil pemeriksaan radiologi,
laboratorium, dan lain-lain.
Ganti baju pasien dengan schort ( bila masih pakai baju ruangan ).
Beri kesempatan pasien berdoa bersama keluarganya bila hal itu belum
dilakukan di ruangan.
Memindahkan pasien dari tempat tidur ruangan ke brankar kamar bedah
bersama perawat ruangan.
Pasien didorong ke ruang tindakan.
Memindahkan pasien dari brankar ke meja operasi.

A.

Perawat Sirkuler
Setelah pasien dibius pasang folley catheter sambungkan ke urine bag
(lihat protap pasang catheter).
2. Pasang pasien plate sambungkan kabel ke mesin diatermi.
3. Nyalakan lampu operasi (lihat protap pengoperasian lampu operasi).
B. Perawat Asisten dan Instrumen
1. Siapkan set basic dimeja instrumen besar, linen di meja linen dan mayo
letakkan diatas standartnya.
2. Buka sarung tangan steril tempatkan di meja instrumen
3. Cuci tangan sesuai prosedur ( lihat protap mencuci tangan).
4. Pakaian jas dan sarung tangan steril (lihat protap)
5. Susun semua alat yang diperlukan di meja mayo sesuai dengan urutan
pemakaian.
6. Desinfeksi daerah operasi dengan betadine solution atau yodium 1%
7. Pasang doek besar untuk menutupi daerah pusat pasien sampai dengan
kepala.
1.

HERNIOTOMI
No. Dokumen :
039/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
8.
9.
10.
11.
12.

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Pasang doek besar sebelah bawah untuk menutup daerah bawah pusat
sampai ke kaki pasien.
Pasang doek sedang sampai kiri dan kanan kemudian setiap sudut jepit
dengan doek klem tempatkan meja mayo diatas daerah aki pasien.
Sambungkan kabel diatermi ke mesinnya dengan dibantu oleh sirkuler.
Siap untuk dilakukan tindakan operasi (proses jalannya operasi lihat
protap bedah)
Setelah operasi selesai luka ditutup dengan sofratulle dan kassa
kemudian diplester dengan hypavix

13. Semua instrumen dicuci dan di set kemudian disterilkan.


14. Alat siap untuk digunakan kembali.
UNIT TERKAIT

---

KONSULTASI SAAT DILAKUKAN PEMBEDAHAN


No. Dokumen :
040/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu tindakan yang dilakukan saat ahli bedah (dokter primer) melakukan
tindakan pembedahan sesuai dengan bidangnya menemukan pathologi lain diluar
bidang keahliannya yang memerlukan penanganan saat itu juga oleh dokter ahli
bedah (dokter konsulent) lain.
Agar pasien mendapat penanganan yang cepat, tepat dan menyeluruh.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi

PROSEDUR

1. Dokter primer menentukan dokter konsulent dan menghubungi dokter


tersebut serta menjelaskan secara lisan mengapa diperlukan konsult.
Permintaan konsult ini juga dapat dilakukan melalui dokter anestesi atau staf
kamar bedah lainnya.
2. Kedua dokter bersama-sama melakukan pemeriksaan dan evaluasi.
3. Bila tidak perlu dilakukan tindakan pembedahan, maka dokter konsulent akan
mengisi lembar konsultasi dan konsult selesai.
4. Bila perlu dilakukan tindakan pembedahan, maka dokter primer dan/atau
bersama-sama dengan dokter konsulent berbicara dengan pasien dan/atau
anggota keluarga untuk memberikan penjelasan mengapa perlu konsultasi
dan tujuannya.
a. Bila pasien/keluarga setuju, maka konsult dilanjutkan. Lengkapi surat ijin
operasi/tindakan.
b. Bila pasien/keluarga tidak setuju, maka konsult dibatalkan dan dokter
primer melanjutkan tindakan. Lengkapi surat penolakan operasi.
5. Bila tindakan pembedahan disetujui maka kedua dokter bedah melakukan
tindakan bersama-sama sampai tujuan konsult tercapai.
6. Setelah selesai tindakan :
a. Dokter primer melengkapi dokumen-dokumen yang diperlukan antara lain
surat permintaan konsult bila sampai saat itu masih dilakukan secara
lisan, laporan operasi, permintaan pemeriksaan lanjut dll.
b. Dokter konsulent menjawab konsult di lembaran yang disediakan dan
melengkapi semua dokumen-dokumen yang diperlukan, laporan operasi,
formulir permintaan pemeriksaan lanjut dll.
c. Mengisi jasa medik sesuai dengan peraturan yang berlaku.

UNIT TERKAIT

---

KRANIOTOMI DENGAN TUMOR OTAK


No. Dokumen :
040/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pedoman dalam melaksanakan tindakan medis/operasi pengangkatan tumor atau
neoplasma di kepala pasien.
Untuk pemeriksaan dan menegakkan diagnosa.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Pelaksanaan pengangkatan tumor atau neoplasma dilakukan dengan baik dan
benar ( sesuai dengan peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015
tentang Pedoman Pelayanan Kamar Operasi )

PROSEDUR

PERSIAPAN PASIEN
1. Perawat kamar bedah serah terima pasien dengan perawat ruangan.
2. Periksa kelengkapan administrasi seperti : SIO, hasil Radiologi (thorax
foto, foto daerah yang akan dioperasi/daerah yang patah)
3. Ganti baju pasien dengan schort (bila masih pakai baju ruangan)
4. Beri kesempatan pasien berdoa bersama keluarganya bila hal itu belum
dilakukan di ruangan.
5. Memindahkan pasien dari tempat tidur ruangan ke brankar kamar bedah
bersama perawat ruangan.
6. Pasien didorong ke ruangan tindakan.
7. Memindahkan pasien dari brankar ke meja operasi.
PROSEDUR TETAP
A. Perawat sirkuler
1. Setelah pasien dibius, pasang catheter, (nomor sesuai kebutuhan pasien)
kemudian sambungkan ke urine bag (lihat protop pasang catheter)
2. Atur posisi pasien sesuai lokasi operasi pasang head frame (bersama
dokter bedah), pasang pasien plate sambungkan ke mesin diathermi
kemudian nyalakan lampu operasi.
3. Bersihkan daerah kepala dengan mocroshield kemudian semprot dengan
alkohol 70%.
4. Atur posisi mesin suction dan diathermi, letakkan foot switch diathermi
dibawah meja operasi daerah kepala.
B. Perawat asistensi dan instrumen
1. Siapkan set kraniotomi di meja instrumen besar
2. Siapkan linen satu set dimeja linen.
3. Letakkan meja mayo di standar mayo.
4. Cuci tangan sesuai prosedur tetap (lihat protap mencuci tangan secara
steril)
5. Pakai jas dan sarung tangan steril

KRANIOTOMI DENGAN TUMOR OTAK


No. Dokumen :
040/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
6. Susun semua alat yang diperlukan di meja mayo sesuai urutan pemakaian.
7. Sambungkan kabel diathermi dengan pincet bayonet pendek, kanula
suction ke selang suction
8. Isi kom steril dengan NaCl 0.9% masukkan patties yang sudah dibentuk
segitiga.
9. Sambungkan perforator dengan kabel elektrik bor.
10.Pasangkan sarung mikroskop kemudian tutup dengan doek steril untuk
kemudian dibuka pada saat mikroskop akan digunakan.
11. Desinfektan daerah kepala dengan betadine kemudian tutup dengan doek

sedang sebelah kiri, kanan dan atas, setiap sudut dijepit dengan klem,
kemudian pasang doek bawah sampai menutupi seluruh badan.
12.Tutup daerah operasi dengan steril drape ukuran 1040 atau 1050.
13.Tempatkan meja mayo di daerah atas dada pasien, sambungkan kabel
diathermi dan selang suction ke mesinnya masing-masing (dibantu sirluler)
14.Sambungkan kabel elektrik bor ke mesin dan tutup dengan doek steril.
15.Pasang sarung kursi steril dekatkan kursi ke meja operasi
16.Siap untuk dilakukan tindakan pembedahan.
17.Proses jalannya operasi lihat protap bedah.
18.Setelah operasi selesai luka ditutup dengan sufratulle dan kassa kemudian
depletes dengan hypavix.
19.Head frame dilepaskan sementara kepala pasien diangkat sambil pin yang
menusuk kulit kepala dibuka dan luka bekas pin tersebut diolesi betadine
kemudian tutup dengan bandaids.
20.Posisi pasien dikembalikan ke posisi normal
21.Semua instrumen didorong ke bagian CSSD untuk dicuci dan disterilkan
kembali.
UNIT TERKAIT

---

KRANIOTOMI
No. Dokumen :
041/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Pedoman dalam melakukan tindakan medis membuka batok kepala untuk
mengeluarkan darah, tumor yang terdapat di rongga kepala.
1.
Untuk evaluasi hematoma
2.
Reseksi tumor
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
PERSIAPAN PASIEN

1. Perawat kamar bedah serah terima pasien dengan perawat ruangan.


2. Periksa perlengkapan administrasi seperti : SIO, hasil Laboratorium, hasil
Radiologi, dll.
3. Ganti baju pasien dengan schort (bila masih pakai baju ruangan).
4. Beri kesempatan pasien berdoa bersama keluarganya bila hal itu belum
dilakukan di ruangan.
5. Memindahkan pasien dari tempat tidur ruangan ke brankar kamar bedah
bersama perawat ruangan.
6. Pasien didorong ke ruangan tindakan.
7. Memindahkan pasien dari brankar ke meja operasi.
PROSEDUR TETAP
A. Perawat sirkuler
1. Setelah pasien dibius, pasang folley catheter, sambungkan ke urinebag
(lihat protop pemasangan catheter)
2. Pasang pasien plate sambungkan kabel ke mesin diathermi (lihat protap
mengoperasian diathermi)
3. Pasang sabuk pengaman untuk menghindarkan pasien terjatuh dari meja
operasi.
4. Posisi pasien diatur sesuai dengan lokasi operasi, pasang donat agar
posisi kepala stabil.
5. Nyalakan lampu operasi sesuai prosedur (baca protap pengoperasian
lampu operasi)
6. Bersihkan daerah kepala dengan microshield kemudian semprot dengan
alkohol 70%.
7. Pasang jas dan sarung tangan steril (lihat protap)
8. Pasang sarung mikroskop kemudian tutup dengan doek steril, untuk
kemudian dilepaskan pada saat mikroskop akan dipergunakan.
9. Pasang pegangan lampu operasi steril.

KRANIOTOMI
No. Dokumen :
041/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
B. Perawat Asistensi dan Instrumentasi
1. Siapkan sset kraniotomi di meja instrumen besar, linen di meja linen,
meja mayo steril letakkan diatas satandardnya.
2. Buka sarung tangan steril tempatkan di meja mayo instrumen (no.sesuai
kebutuhan)
3. Cuci tangan sesuai prosedur (baca protap mencuci tangan)
4. Pakai jas dan sarung tangan staril.
5. Susun semua alat yang diperlukan dimeja mayo sesuai urutan
pemakaian.

6. Sambungkan semua alat yang diperlukan di meja mayo sesuai urutan


pemakaian
7. Pasangkan asesoris elektrik bor setnya masing-masing mulai dari
perforator, bone cutter dan pembolong untuk fiksasi tulang.
8. Desinfektan daerah operasi dengan betadine solution.
9. Pasang doek sedang sebelah kiri kanan, atas setiap sudut jepit dijepit
dengan doek klem.
10. Pasang doek besar atas mengelilingi daerah kepala dan mentupi doek
sedang dengan kedua ujung diletakkan ke arah badan pasien.
11. Pasang doek besar bagian bawah menutupi semua ujung doek dan
badan pasien.
12. Tempatkan meja mayo diatas daerah dada pasien.
13. Sambungkan kabel diatermi bipolar dan monopolar dan slang solution ke
mesin dengan dibantu sirkuler.
14. Kabel bipolar, monopolar dan slang suction ikat dengan kassa steril
kemudian jepit pakai doek klem ke doek steril penutup daerah operai
supaya tidak jatuh.
15. Sambungkan kabel elektrik boor ke mesin kemudian mesin ditutup
dengan doek steril.
16. Siap untuk dilakukan tindakan operasi kraniotomi (proses jalannya
operasi baca protap bedah)
17. Setelah operasi selesai luka ditutup dengan surfratulle dan kassa
kemudian di plester dengan hypavix posisi pasien kembalikan ke posisi
mormal
18. Pasien siap untuk dipindahkan ke ruang pemulihan
19. Semua instrumen didorong ke CSSD untuk dicuci dan disterilkan
UNIT TERKAIT

---

LAPARASCOPY DIAGNOSTIK
No. Dokumen :
042/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Laparascopy diagnostik adalah suatu operasi pengangkatan appendix dengan
menggunakan alat laparascopy.
Untuk mengangkat Appendictis Pathologis.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
CARA KERJA INSTRUMENTATOR

1. Siapkan basic set dan alat tenun/linen


2. Instrumen laparascopy rendam dengan cairan asepty steril/cairan cidex
kurang lebih 20-30 menit.
3. Cuci tangan sesuai prosedur
4. Pakai jas steril dan sarung tangan secara steril sesuai prosedur
5. Instrumen yang direndam dibilas dengan cairan water for irrigation.
6. Lumen instrumen kecil dibilas dengan memakai syringe 20cc
7. Instrumen dikeringkan dengan washlap
8. Optik camera dilap dengan alcohol 96%
9. Instrumen laparascopy dengan basic set disusun/diatur di meja mayo
10. Elektro mechanic diset dalam keadaan baik
11. Pasien dalam keadaan narcose dengan posisi pasien lithotomi.
12. Desinfeksi seluruh bagian perut dan daerah lipat paha dan vagina.
13. Pasang sarung kaki kanan/kiri.
14. Pasang doek kecil di bawah bokong.
15. Pasang doek besar atas dan bawah.
16. Pasang doek kecil kanan dan kiri, keempat sudut jepit dengan doek klem.
17. Pasang kabel kamera hubungkan dengan telecam, lihat SOP dan hubungkan
dengan telescope.
18. Pasang kabel gas CO2 dengan thermoflator dan slang CO2 (lihat SOP).
19. Pasang kabel light source hubungkan dengan telescope 0 (lihat SOP).
20. Pasang irrigation dan suction system (lihat SOP).
21. Pasien siap untuk dilakukan tindakan laparascope diagnostik.
UNIT TERKAIT

---

LAPORAN OPERASI
No. Dokumen :
043/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Laporan tertulis yang dibuat oleh dokter operator setelah selesai operasi yang
berisikan segala tindakan yang dilakukan selama operasi berlangsung.
1. Sebagai pertanggungjawaban atas segala tindakan yang dilakukan
2. Sebagai medical record pasien.
3. Sebagai dokumen legal rumah sakit.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Setiap selesai melakukan tindakan operasi, dokter operator wajib membuat
laporan operasi ( sesuai dengan peraturan direktur nomor

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman Pelayanan Kamar Operasi )


Dokter mengisi dengan jelas, dengan tulisan yang dapat dibaca, dan tidak
menggunakan singkatan dan istilah-istilah pribadi dilembar laporan, antara lain:
1. Data pasien
2. Tanggal dan jam operasi dilakukan
3. Diagnosa pre dan post operasi, nama dokter anestesi, asisten dan
instrumentator.
4. Proses jalannya operasi, hal-hal yang ditemukan dan dilakukan dari awal
sampai selesai tindakan operasi.
5. Menjelaskan apakah ada pemeriksaan kultur patologi anatomi dan lain-lain.
6. Menulis instruksi post operasi dilembar catatan medis pada status pasien.
7. Menandatangani di sudut kanan bawah lembar laporan operasi.
---

MEMPERSIAPKAN KULIT DAERAH OPERASI


No. Dokumen :
044/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Tindakan yang dilakukan untuk membersihkan daerah yang akan dilakukan
operasi dengan cairan desinfektan.
Mencegah terjadinya infeksi luka operasi dan meminimalkan terjadinya infeksi
nosokomial.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi

PROSEDUR

1. Satu hari sebelum operasi pasien dianjurkan mandi dengan cairan dsinfektan
(untuk operasi terencana dan kondisi pasien memungkinkan).
2. Dikamar Bedah :
Setelah pasien dibius dan posisi diatur sesuai kebutuhan operasi, perawat
sirkuler membersihkan daerah yang akan dioperasi dengan cairan desinfektan
lalu dikeringkan dengan kain bersih.
3. Dokter / perawat asisten melakukan desinfeksi daerah yang akan di operasi.
4. Perawat melakukan drapping.

UNIT TERKAIT

---

MENCUCI ALAT-ALAT STAINLESS


No. Dokumen :
045/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN
PROSEDUR

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu kegiatan yang dilakukan untuk membersihkan instrumen setelah
pemakaian
1.
Agar instrumen bersih dan terawat
2.
Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
3.
Agar semua instrument dapat dipergunakan dengan baik.
1. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Memakai apron, sarung tangan dan kaca mata pengaman

2.
3.
4.
5.
6.
7.
UNIT TERKAIT

Siapkan air bersih (air hangat) yang sudah dicampur cairan desinfektan
dengan perbandingan 30 ml : 1000 ml.
Instrumen direndam di bak pencucian alat + 15 menit.
Alat di sikat satu per satu lalu dibilas dengan air mengalir.
Masukkan instrumen ke dalam mesin bransonic + 30 menit, alat diangkat
kembali dan dibilas dengan air mengalir.
Alat dikeringkan.
Alat diset dan disterilkan.

---

MENCUCI TANGAN UNTUK OPERASI


No. Dokumen :
046/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
operasi adalah mencuci tangan secara steril untuk

Mencuci tangan untuk


operasi.
1. Membunuh kuman yang ada di tangan team bedah.
2. Untuk mencegah terjadinya infeksi nosokomial.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman

PROSEDUR

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

UNIT TERKAIT

Pelayanan Kamar Operasi


Pakai topi, apron, masker dan APD lainnya dengan baik dan benar.
Lepaskan semua perhiasan yang ada di tangan (jam, cincin, dll).
Kuku yang panjang harus dipotong terlebih dahulu.
Basahi tangan sampai ke siku dengan air mengalir.
Ambil desinfektan atau sabun lebih kurang 5 ml, ratakan dikedua tangan dan
gosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, punggung kuku, jarijari tangan, ujung kuku. Proses ini 3 5 menit.
Setelah itu bilas dengan air mengalir, posisikan jari tangan lebih tinggi dari
siku.
Bilas kembali dengan alkohol 70%.
Hindarkan tangan yang sudah dicuci kontak dengan benda-benda yang tidak
steril pada saat akan memasuki atau didalam ruang tindakan.
Lanjutkan dengan pemakaian jas dan sarung tangan steril.

---

MENCUKUR RAMBUT DAERAH YANG AKAN DIOPERASI


No. Dokumen :
046/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Tindakan membersihkan bulu atau rambut pada daerah (bagian tubuh) yang akan
dioperasi.
1. Membersihkan daerah yang akan dioperasi dari bulu atau rambut.
2. Mencegah terjadinya infeksi post operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Pelayanan Kamar Operasi


1.
Jelaskan kepada pasien dan keluarga tentang tindakan yang akan
dilakukan.
2.
Cuci tangan lalu gunakan sarung tangan non steril.
3.
Pasang tirai di sekeliling tempat tidur pasien.
4.
Atur posisi pasien dan bebaskan pakaian dari daerah yang akan dicukur.
5.
Pasang alas di daerah yang akan dicukur.
6.
Periksa daerah yang akan dicukur apakah ada kelainan kulit.
7.
Lakukan pencukuran searah dengan tumbuhnya rambut.
8.
Bersihkan daerah yang sudah dicukur dengan air atau sabun lalu
keringkan.
9.
Rapikan pasien dan kembalikan alat-alat yang dipergunakan pada
tempatnya.
10.
Cuci tangan dan dokumentasikan tindakan yang telah dilakukan.
Rawat Inap , IGD

MENGGUNAKAN OKSIGEN SENTRAL


No. Dokumen :
047/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

PENGERTIAN

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Pedoman dalam penggunaan oksigen sentral.

TUJUAN

Agar petugas dapat mengoperasikan alat tersebut dengan baik dan benar.

KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan


pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Pasang dan rekatkan flow meter oksigen dengan saluran oksigen pada sistem
dinding
2.
Isi aquadest steril ke dalam humidifier hingga batas yang ditentukan
3.
Pasang humidifier dan rekatkan dengan baik dan benar
4.
Hubungkan selang oksigen (nasal/NR/NRM) dengan saluran oksigen
pada humidifier
5.
Hidupkan oksigen sentral dengan cara memutar tombol flow meter
berwarna hijau ke arah kiri.
6.
Berikan konsentrasi oksigen sesuai instruksi dokter.
7. Matikan oksigen jika tidak diperlukan lagi dengan memutar tombol flow (hijau)
ke arah kanan.
8.
Perhatikan : oksigen via nasal : 1 5 lpm; RM dan NRM > 5 lpm.
Maintenance

MENGGUNAKAN OKSIGEN TABUNG


No. Dokumen :
048/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Suatu petunjuk oksigen dari tabung untuk memenuhi kebutuhan oksigen pasien.

TUJUAN

Membantu pemenuhan kebutuhan pasien terhadap O2.

KEBIJAKAN

1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan


pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Hubungkan dan rekatkan regulator + flowmeter pada tabung oksigen.
2. Isi aquadest steril ke dalam humidifier hingga batas yang ditentukan.
3. Pasang humidifier dan rekatkan dengan baik dan benar dibawah flowmeter.
4. Berikan oksigen sesuai instruksi dokter dengan menghidupkan oksigen
(tombol flowmeter diputar ke kiri)
5. Matikan oksigen jika tidak dipakai lagi dengan memutar tombol flowmeter ke
kanan.
6. Perhatian: oksigen via Nasal 1 5 lpm
oksigen via RM, NRM > 5 lpm
7. Jika oksigen tidak digunakan lagi, tabung oksigen ditutup dengan memutar
tombol open sesuai petunjuk (kekanan)

PROSEDUR

PERAWATAN ALAT :
1. Tabung oksigen selalu dalam keadaan terkunci
2. Regulator + flowmeter terpasang dengan baik.
3. Tabung oksigen, regulator, flowmeter dibersihkan dengan cairan desinfektan
dan dilap kering
4. Tabung oksigen disimpan ditempat yang nyaman.
UNIT TERKAIT

Maintenance

MENGHUBUNGI DOKTER BEDAH DAN ANESTESI


No. Dokumen :
049/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Komunikasi pertelepon yang dilakukan oleh perawat kamar operasi kepada dokter

pembedah dan anestesi.


TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Konfirmasi pelaksanaan operasi, sehingga pasien tidak terlalu lama menunggu di


kamar operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Hubungi dokter bedah dan anestesi 30 menit sampai 1 jam sebelum jam
operasi yang sudah ditetapkan, untuk konfirmasi.
2. Tanyakan kepada dokter bedah, apakah pasien sudah boleh diantar dari
ruang perawatan ke kamar operasi.
3. Beritahukan kepada perawat ruangan jawaban dari dokter bedah tentang :
Pasien boleh diantar ke kamar operasi.
Pasien belum boleh diantar ke kamar operasi, tunggu panggilan atau
pemberitahuan selanjutnya.
---

MENGOPERASIKAN TV MONITOR LAPARASCOPY


No. Dokumen :
050/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

Mengoperasian tv monitor laparascopy adalah pedoman mengoperasikan TV


monitor laparascopy.
Agar semua perawat dapat mengoprasiakan monitor laparascopy dengan baik
dan benar.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Kabel hubungkan ke listrik
2. Hubungkan kabel merah di line A paling bawah ( IN ) ke unit telecam tombol
merah / red ( outputs ).
3. Hubungkan kabel hijau ke line B paling bawah ( IN )
4. Hubungkan kabel biru ke line C paling bawah ( IN ) ke unit telecam biru/blue
( outputs ).
5. Hubungkan kabel putih ke Ext Sync ( IN ) ke unit telecam outputs.
6. Bila ingin memakai 2 TV mobitor hubungkan kabel ke line A video IN ke
telecam ( comp video outputs ).
7. Monitor dihubungkan dengan menekan tombol POWER.
8. Alat siap untuk digunakan.
Perawatan Alat :
1. Selesai digunakan tekan tombol power.
2. Kabel dari listrik di lepas.
3. Alat dibersihkan dengan larutan desinfektan dan di lap kering.
4. Alat kemudian di simpan diruang penyimpanan alat.
5. Apabila terjadi kerusakan hubungi bagian Maintenance.

UNIT TERKAIT

Maintenance

MENUTUP LUKA OPERASI


No. Dokumen :
051/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN

Suatu tindakan menutup luka operasi dengan prinsip steril.

TUJUAN

1.
Untuk menghindari luka operasi dari mikroorganisme
2.
Untuk menghindari infeksi operasi.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1.
Bersihkan kulit sekitar luka operasi dengan larutan NaCl 0.9%
2.
Luka operasi dioleskan dengan Batedine Solution
3.
Tempelkan sofratulle pada luka operasi
4.
Luka ditutup dengan kain kassa steril
5.
Pasang plester hypapix
6.
Alat-alat dirapihkan kembali.

KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Maintenance

MENYAJIKAN INSTRUMEN STERIL PADA MEJA MAYO /


MEJA INSTRUMEN
No. Dokumen :
052/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/1
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN
TUJUAN

KEBIJAKAN

PROSEDUR

UNIT TERKAIT

Suatu cara menyusun alat instrumen sesuai dengan kebutuhan yang akan
dipergunakan selama pembedahan berdasarkan urutan tertentu untuk
memudahkan instrumentator dalam menjalankan tugasnya.
Menyusun instrumen secara sistimatis dan rapih sehingga :
1. Memudahkan instrumen (scrub nurse) mengambil sesuai kebutuhan secara
cepat dan benar.
2. Memastikan kelengkapan instrumen selama operasi untuk menghindarkan
hilang atau tertinggalnya instrumen.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
1. Siapkan meja mayo, meja instrumen dan meja untuk set jas.
2. Sebelum instrumen dikeluarkan meja-meja tersebut disemprot dengan
alkohol 70% lalu lap dengan lap kering.
3. Keluarkan instrumen dari kontainer, buka alat tersebut diatas meja instrumen
sesuai dengan jenis tindakan.
4. Untuk tindakan pembedahan kecil dan sedang, instrumen steril ditata pada
meja mayo setelah pasien tidur diatas meja operasi.
5. Untuk operasi besar dan khusus instrumen ditata 15-30 menit sebelum
pasien masuk ke kamar operasi.
---

MESIN ANESTESI MERK DRAGGER


No. Dokumen :
053/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PENGERTIAN

Pedoman dalam pengoperasian mesin anestesi merk drager.

TUJUAN

Untuk memudahkan pengoperasian sesuai dengan prosedur.

KEBIJAKAN

1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan


pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
KELENGKAPANNYA
1.
Sumber gas, petunjuk aliras gas/flow meter, vaporizer.
2.
Sirkuit napas.
3.
Alat yang menghubungkan sirkuit napas dengan pasien (FACE MASK),
ETT.

PROSEDUR

Sebelum pemakaian, periksa kelengkapan mesin yaitu:

Bellow ukuran sesuai umur dan berat badan pasien.

Isi gas anasthesia pada vaporizer, sesuai (mis : sevoflurane, fluthane,


halothane, dan forane) sampai batas level garis hitam/biru.

Isi sodalime pada canister.

Pasang sirkuit napas.

Pasang reservoir bags, cek apakah ada kebocoran.


Sesudah kelengkapan mesin dipasang :

Hubungkan selang gas ke outlet di dinding.

O2 (warna hijau)

N2O (warna biru)

AIR (warna hitam)


Conector dari tiap gas berbeda untuk menghindari salah pemasangan.

Hubungkan selang evakuasi ke outlet di dinding (pembuangan gas


anesthesia) untuk mesin yang belum dilengkapi selang evakuasi,
pembuangan gas anesthesia melalui filter yang terdapat dibelakang dan
didepan mesin. Penggantian filter dilakukan tiap bulan.

Check fungsi mesin dengan membuka O 2 tutup konektor sirkuit, apakah


reservoir bag mengembang.
Untuk pemakaian Jackson Rees, buka selang fresh gas inlet, hubungkan ke
konektor Jackson Rees. Setelah pemakaian Jackson Rees, lepaskan
konektor, pasang kembali selang fresh gas inlet ke mesin.
Setelah mesin dicek dan berfungsi dengan baik, mesin siap untuk dipakai.
Pemakaian ke pasien (setelah pasien dianesthesi):
Hubungkan sirkuit napas dari mesin ke pasien melalui FACE MASK, ETT.
Mode controle respirator, hidupkan mesin dengan memutar tombol I : E ratio
ke 1 : 2, 1 : 1 atau 1 : 3.

MESIN ANESTESI MERK DRAGGER


No. Dokumen :
053/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

(SPO)
PROSEDUR

UNIT TERKAIT

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Untuk manual putar knop manual, valve dalam keadaan tertutup penuh.
Untuk spontan putar knop ke spontan valve sesuai kebutuhan.
Set ventilator sesuai kebutuhan
Tidal folum
Frekwensi napas
PEEP
I : E Ratio (1:2)
Pemberian O2 sesuai kebutuhan, diatur dengan memutar rota meter O 2 ke
kiri untuk membuka, ke kanan untuk menutup.
Untuk pemberian gas N2O, buka klep ke posisi N2O/tutup, klep ke posisi air
atur pemberian N2O sesuai kebutuhan dengan memutar rota meter N 2O ke
kiri untuk membuka dan ke kanan untuk tutup.
Pemberian gas anesthesia (Halothane, Forane, Sevoflurane) sesuai
kebutuhan diatur lewat petunjuk pemberian dalam volume %. Untuk
membuka, ibu jari menekan angka O putar dari kiri ke kanan, untuk menutup
putar dari kanan ke kiri sampai angka O.
Apabila pemakaian telah selesai, gas anesthesia ditutup, O 2 dan N2O ditutup,
mesin dibersihkan, set kembali siap untuk dipakai. Lepaskan selang O2, N2O,
air dari system di dinding, mesin dirapihkan.

IPSRS

MESIN ANESTESI MERK HEYYER


No. Dokumen :
054/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Pedoman dalam mengoperasionalkan mesin anestesi HEYYER.
Untuk memberikan tindakan anesthesia umum secara inhalasi komponennya O 2,
N2 O, gas anesthesia isoflurane dan cevoflurane.
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Kelengkapannya :
1. Sumber gas, petunjuk aliran gas/flow meter, vaporizer isoflurane dan
cevoflurane.
2.
Sirkuit napas.
3.
Alat yang menghubungkan mesin dengan pasien, (face Mask)
4.
Alat pengukur tekanan darah (Blood Pressure)
5.
Suction dan selang pembungan gas anesthesia.
6.
Breathing Bag
7.
Canister tempat soda line.
Sebelum Pemakaian Perlu Persiapan :
1. Isi soda line pada canister sampai batas garis merah.
2.
Isi gas anesthesia fluothane atau athrane sampai garis lever sesuai
vaporizernya.
3.
Pasang sirkuit napas pada inspirasi port dan expirasi port.
4.
Hubungkan breathing bag pada portnya.
5.
Hubungkan selang pembungan pada portnya.
6.
Hubungkan pipa/selang karet ke cuff blood pressure connet, juga selang
suction sesuai tempatnya jika ingin menggunkaan tensi meter atau suction
dari mesin acar FO 20 S.
Sesudah persiapan mesin lengkap
1. Hubungkan selang gas ke outlet central didinding :
N2 O (warna buri)
O2 ( Warna hilau)
Tiap conector selang berbeda untuk menghindari salah pemasangan.
2. Check fungsi mesin dengan membawa O2 tutup APL valve dan conector
sirkuit, breathing bag akan mengembang.
Mesin Heyyer Siap untuk dipakai.
Pemakaian ke pasien (setelah pasien diAnesthesi)
1.
Hubungkan sirkuit napas dari mesin ke pasien melalui face mask,
ETT)

MESIN ANESTESI MERK HEYYER


No. Dokumen :
054/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR

Tanggal Terbit :

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

OPERASIONAL
(SPO)
PROSEDUR

28 Maret 2015
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

UNIT TERKAIT

dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA


Direktur RSSA Karawaci
Mode manual dengan menutup APL valve penuh atau sesuai kebutuhan
berikan tekanan pada breathing bag sesuai frekwensi, tidal volume yang
diinginkan.
Pemberian O2 dan N2O diatur lewat Flow meter pada bagian depan mesin
dengan memutar roda meter masing-masing gas (pemberian sesuai
kebutuhan)
Pemberian gas anesthesia (fluothane/ethrane) sesuai kebutuhan diatur lewat
petunjuk pemakaian dalam volume %.
Gas anesthesia dihentikan secara bertahap sesuai selesai operasi.
Setelah selesai pemasangan, gas anesthesia ditutup.
Lepaskan hubungan mesin dengan pasien.
Lepaskan selang-selang O2 dan N2 O dari sistem di dinding.
Mesin dibersihkan, rapikan pada tempatnya.

IPSRS

MENGOPERASIKAN MESIN DATEX AS/3


No. Dokumen :
052/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR
PROSEDUR

Tanggal Terbit :

No. Revisi :
Halaman :
01
1/2
Ditetapkan,

OPERASIONAL
(SPO)
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN

PROSEDUR

28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci
Mengoperasikan mesin datex adalah pedoman yang digunakan perawat dalam
mengoperasikan mesin datex
Untuk memudahkan penggunaan mesin datex AS/3 sesuai prosedur
1. Peraturan direktur nomor 002/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang kebijakan
pelayanan Rumah Sakit
2. Peraturan direktur nomor 029/PER/DIR/RSSAK/II/2015 tentang Pedoman
Pelayanan Kamar Operasi
Sebelum Menggunakan Monitor Datex AS/3, perlu persiapan :
1. Periksa apakah kabel listrik telah tersambung ke mnitor.
2.
Pasang modul dengan parameter yang diinginkan (modul NIBP, Modul
EKG, SPO2, Arteri line, Temperatur).
3.
Periksa hubungan kabel antara unit central monitor dan modul gas
analisa.
4.
Kosongkan water trap, pasang kembali dengan benar.
5.
Hubungkan double lumen + sampling line ke modul gas.
6.
Hubungkan double lumen + sampling line ke D lite sensor.
Cara penggunaan :
1. Hubungkan kabel listrik monitor ke outlet listrik di dinding
2. Tekan tombol standby/ON untuk menghidupkan monitor.
3. Hubungkan kabel EKG 5 lead atau EKG 3 lead ke elektroda yang sudah
ditempatkan pada dada pasien atau bagian tubuh pasien yang lain sesuai
kebutuhan operasi.
4. Pasang manset tensi meter sesuai umur pasien
5. Pasang temperature axilla atau rectal (kalau perlu)
6. Pasang probe sensor pulse oxymeter pada ujung jari tangan/kaki sesuai
umur pasien.
7. Pasang transducer invasive pressure (kalau perlu)
8. Hubungkan D.life sensor ke ETT pasien.
9. Tekan tombol monitor set up, untuk mengatur menu dan pengukurnya dilayar
monitor sbb :
1 Field
* Field 1 grafik EKG (lead II)
* Field 2 Grafik SPO2
* Field 3 Grafik CO2
* Field 4 Grafik O2
* Field 5 Grafik PAW
* Field 6 Grafik FLOW
II Digit
* Digit 1 untuk gas N2 O, O2 Halothane, Forane,
Sevoflurane (diatur sesuai gas yang digunakan
* Digit 2 untuk temperature
* Digit 3 untuk NIBP
* Digit 4 untuk compliance

MENGOPERASIKAN MESIN DATEX AS/3


No. Dokumen :
052/SPO/OK/RSSAK/III/2015
STANDAR

No. Revisi :
Halaman :
01
2/2
Ditetapkan,

PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

Tanggal Terbit :
28 Maret 2015
dr. H. Mahruzzaman Naim,SpA
Direktur RSSA Karawaci

PROSEDUR

10. Tekan tombol NIBP set up


3.
Auto ON/OFF untuk memulai dan membatalkan
Pengukuran NIBP dengan interval yang dipilih
4.
Set time cycle untuk merubah interval pengukuran NIBP.
5.
Star ON/OFF untuk memulai dan menghentikan pengukuran terus
menerus selama 5 menit.
6.
Start cancel untuk memulai pengukuran tungal (manual) dan
membatalkan pengukuran.
11. EKG set up untuk menentukan pengukuran dibeat, sount volume size
amplitude sesuai yang diinginkan.
12. Gas monitor set up untuk pengukur CO2, O2 PAW, FLOW, serta warna grafik,
gas yang diberikan sesuai kebutuhan dan compliance paru-paru.
13. Pulse oxymetri set up untuk mengukur saturasi, scale, alarm sesuai
kebutuhan.
14. Alarm set up untuk mengatur limit alarm sesuai kebiutihan.
15. Kontrol dari 14 apakah penggunaan/pengoperasian monitor sudah benar.
16. Untuk menghindari pemakaian tekan tombol silence menghindari alarm saat
hubungan ke pasien dilepaskan.
17. Lepaskan semua kabel hubungan ke pasien (NIBP, EKG, SPO2 dan dilite
sensor)
18. Tekan tombol off untuk mematikan monitor.
19. Lepaskan kabel listrik dari arus listrik di dinding.
20. Bersihkan seluruh permukaan monitor dengan kain lembut yang dibasahi
dengan campuran air dan sedikit deterjent.
21. Biarkan benar-benar kering, rapikan untuk pemakaian berikutnya.

UNIT TERKAIT

Maintenance