Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN

Upaya pelayanan kesehatan terus ditingkatkan kualitas dan ketersediannya


guna memperbaiki cakupan pelayanan kesehatan. Untuk itu diperlukan suatu
sarana, sistem, dan aturan sehingga menghasilkan fasilitas pelayanan kesehatan
yang baik. Fasilitas pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Nomor 001 Tahun 2012 adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan
upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif
yang dilakukan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat. Upaya
pelayanan kesehatan dibagi menjadi dua, yaitu pelayanan kesehatan masyarakat
dan perorangan. Sedangkan pelayanan kesehatan perorangan masih dibagi lagi
menjadi tiga tingkatan yaitu: tingkat pertama, tingkat kedua, dan tingkat ketiga.
Dari sinilah konsep sistem rujukan berjenjang akan diterapakan di setiap
pelayanan kesehatan yang tentunya memiliki peraturannya tersendiri.
Sejak tanggal 1 Januari 2014, PT. ASKES (Persero) dan PT. JAMSOSTEK
(Persero) resmi berubah menjadi BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan
sesuai dengan amanat UU nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) dan UU nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial (BPJS). BPJS Kesehatan merupakan badan pelaksana yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat
Indonesia (Idris, 2014). Melalui mekanisme inilah sistem rujukan berjenjang
mendapatkan mekanisme pembiayaannya sehingga sistem rujukan tidak bisa
dilepaskan kaitannya dengan mekanisme pembiayaannya.
Undang-undang SJSN dan BPJS mengamanatkan kepada kita semua
komunitas kesehatan untuk dapat menyediakan pelayanan kesehatan yang
bermutu, merata dan terjangkau bagi seluruh masyarakat. Selain itu, pemerintah
juga harus dapat menjamin tersedianya pelayanan kesehatan sampai ke daerah
terpencil dan penduduk miskin.

Banyaknya kasus penolakan rumah sakit terhadap pasien Badan


Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan disinyalir terjadi akibat
ketidakpahaman masyarakat atas sistem layanan kesehatan pemerintah. Ketua
Persatuan Dokter Penyakit Dalam, Ari Fahrial, dikutip dari CNN Indonesia:
Masyarakat harus mengerti sistem rujukan dulu. Ada sistem
pelayanan bertingkat. Tidak semua kasus bisa ditangani di pelayanan
spesialis atau sekunder,
kata beliau saat ditemui CNN Indonesia di Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, Senin (8/12/2014) sore, mengatakan layanan
pengobatan berjenjang atau rujukan yang diperkenalkan pemerintah belum
sepenuhnya dipahami oleh peserta BPJS (CNN Indonesia, 2014)
Fakta di lapangan saat ini menunjukkan jangkauan pelayanan kesehatan
belum merata. Hal ini salah satunya disebabkan sistem rujukan pasien yang masih
dirasa kurang optimal sehingga terjadi penumpukan pasien yang luar biasa di
rumah sakit besar tertentu dan banyaknya kasus pasien yang ditangani oleh dokter
spesialis yang sebenarnya dapat ditangani oleh layanan primer. Sedangkan di sisi
lain, banyak tempat layanan primer yang sepi. Oleh karena itu, diperlukan adanya
pengembangan sistem rujukan yang lebih baik dengan mengembangkan sistem
rujukan regional yang terstruktur dan berjenjang (Kemenkes, 2014).
Laporan ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi pengguna dan
penyedia jasa layanan kesehatan mengenai sistem rujukan, khususnya di RSUD
Kota Surakarta. Dengan demikian, semua pihak yang terkait dapat mendapatkan
manfaat dari setiap sistem yang telah ada di negara ini.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi Sistem Rujukan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sistem rujukan ialah sistem
yang memungkinkan pengalihan tanggung jawab satu kasus dari pusat
pelayanan ke pusat pelayanan lain yg berbeda kemampuannya (Departemen
Pendidikan Nasional, 2002).
Sistem rujukan (referral system) adalah penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang mengatur dan melaksanakan pelimpahan tanggung jawab
pengelolaan suatu kasus penyakit dan ataupun masalah kesehatan secara
timbal balik secara vertikal, dalam arti antar sarana pelayanan kesehatan yang
berbeda stratanya, atau secara horizontal dalam arti antar sarana pelayanan
kesehatan yang sama stratanya (Permenkes, 2012a).
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah penyelenggaraan
pelayanan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab
pelayanan kesehatan secara timbal balik baik vertikal maupun horizontal yang
wajib dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan
sosial, dan seluruh fasilitas kesehatan (Idris,2014).
Sistem rujukan adalah suatu sistem penyelenggaraan pelayanan
kesehatan yang melaksanakan pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
atas kasus penyakit atau masalah kesehatan yang diselenggarakan secara
timbal balik, baik vertical dalam arti dari satu strata sarana pelayanan
kesehatan ke strata sarana pelayanan kesehatan lainnya, maupun horizontal
dalam arti antara strata sarana pelayanan kesehatan yang sama (Pohan, 2006).
B. Sejarah Singkat Sistem Rujukan di Indonesia
Program sistem rujukan sudah mulai diperkenalkan oleh pemerintah
sejak tahun 1976 untuk memperbaiki pelayanan obstetri/kebidanan, terutama
bagi kelompok resiko tinggi. Harapannya adalah dengan sistem ini akan lebih
efisien, efektif, affordable dan mudah diakses oleh mayoritas masyarakat.
Namun pelayanan ini bukan hanya sekedar aktivitas dalam sistem rujukan,
namun juga mencakup pelatihan dan penelitian.

Untuk menjalankan suatu pelayanan kesehatan yang ideal maka tiap


upaya kesehatan perlu didukung. Dukungan ini meliputi seluruh bagian dari
aspek pendukung pelayanan termasuk diantaranya adalah rujukan. Mengenai
sistem rujukan sendiri pemerintah telah mengeluarkan suatu aturan yang
tertuang dalam perundang-undangan sebagaimana yang diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor 001
Tahun 2012 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perseorangan.
Peraturan ini dibuat dan diharapkan dapat sejalan dengan perundangundangan yang telah ada sebelumnya yaitu UU RI No. 36 Th. 2009 tentang
Kesehatan dan UU RI No. 44 Th. 2009 tentang Rumah Sakit.
C. Tujuan
Tujuan Utama Sistem Rujukan Terpadu (SRT) menurut Schmitt, et al. (2014):
1. Meningkatkan jangkauan bagi penerima manfaat
Program-program perlindungan sosial di Indonesia secara umum
belum mampu menjangkau mereka yang membutuhkan karena berbagai
alasan:
Proses penyeleksian penerima manfaat program tidak didasarkan
pada kebutuhan penerima manfaat, tetapi lebih pada ketersediaan
anggaran. Karena alasan keterbatasan dana tersebut, hanya sebagian
penerima manfaat yang mendapatkan bantuan dari program-program

perlindungan sosial yang ada.


Basis data rumah tangga miskin sangat terbatas dan pemuktahiran
hanya dilakukan sekali setiap tiga tahun oleh Badan Pusat Statistik
melalui Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS). Namun,
basis data tersebut belum memiliki kualitas yang baik karena
beberapa alasan, seperti kemampuan wawancara yang rendah, tidak
tersedianya anggaran pemerintah untuk dapat melakukan proses
wawancara dengan kualitas tinggi, tidak melibatkan langsung
pemerintah daerah dalam pemuktahiran data PPLS, dan waktu
pemuktahiran yang cukup panjang tiap tiga tahun sekali. Tentu saja

hal-hal di atas menyebabkan kesalahan memasukkan atau atau

mengeluarkan nama penerima manfaat dari daftar.


Meskipun rumah tangga miskin mengetahui tentang program yang
ada, mereka tidak memahami bagaimana proses pendaftaran karena
program tersebut menggunakan metode pencarian target tertentu

yang hanya diketahui oleh pihak pemerintah.


Dalam kaitannya dengan pekerja sektor informal yang akan menjadi
target penerima bantuan dalam skema sistem jaminan sosial
nasional, mereka pada umumnya tidak termasuk sebagai kategori
penduduk miskin, namun mereka rentan menjadi miskin dan tidak
terdaftar dalam skema perlindungan sosial swasta
Sistem Rujukan Terpadu (SRT) menyediakan satu titik pelayanan

terpadu bagi seluruh warganegara untuk mengakses informasi dan


mendaftar

pada

program

perlindungan

sosial

serta

layanan

ketenagakerjaan.
2. Koordinasi horizontal dan vertikal untuk meningkatkan efisiensi
Pada saat ini, fungsi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) dalam berkoordinasi dengan dinas teknis (Dinas Kesehatan,
Pendidikan, Sosial, dan Ketenagakerjaan) sebagai pelaksana lapangan
program tidak berlangsung dengan baik. Meskipun program-program di
bawah kementerian terkait saling melengkapi, mereka tidak saling
bertukar informasi mengenai pelaksanaan teknis lapangan setiap program
yang ada di daerahnya.
Banyak di antara program tersebut menggunakan petugas
pendamping pada tingkat komunitas di mana mereka hanya fokus kepada
program mereka saja dan daerah targetnya, sehingga tidak ada
mekanisme yang menghubungkan petugas pendamping dari berbagai
program yang ada. Hal ini menyebabkan
pemerintahan

dan

tumpang-tindihnya

inefisiensi
proses

administrasi

administrasi pada

tingkatan rumah tangga.


Sistem Rujukan Terpadu akan dijalankan oleh staf pemerintahan
daerah pada tingkat Kecamatan dan Kabupaten/kota. Staf SRT harus
memahami berbagai program yang ada dan melayani masyarakat sebagai

petugas garda depan pelayanan. Hal ini tentunya akan meningkatkan


koordinasi horizontal antara Dinas Teknis Pemerintah Daerah dengan
Kementerian

Teknis

Ketenagakerjaan,

terkait

Pendidikan,

(Kementerian
dan

lainnya).

Kesehatan,
SRT

Sosial,

menggunakan

pendekatan metode manajemen kasus dan menyediakan mekanisme


penyesuaian antara kebutuhan masyarakat dengen paket manfaat dari
program-program yang ada. Sistem ini akan meningkatkan sinergitas
antar berbagai program, sehingga akan berpengaruh lebih besar pada
pengurangan kemiskinan.
Sistem Rujukan ini dilengkapi dengan sistem informasi manajemen
(SIM) yang mensinkronisasi informasi tentang

potensi

penerima

manfaat (penduduk miskin, hampir miskin, dan tidak miskin)


dengan program-program yang ada dari tingkat Nasional, Provinsi,
Kabupaten/kota, dan mitra pembangunan internasional (PBB, organisasi
bilateral, dan LSM internasional). SIM akan menghasilkan informasi
yang diperlukan untuk melakukan pemantauan mekanisme layanan dan
cakupan penerima manfaat. Sistem ini juga akan meningkatkan
kemampuan pendeteksian sistem layanan secara keseluruhan. Selain itu,
dengan adanya mekanisme pengaduan layanan, SRT akan berfungsi
sebagai mekanisme untuk mendeteksi kelemahan sistem yang ada.
Dengan sistem evaluasi berkala, maka kinerja program akan dapat
diperbaiki secara terus-menerus. SIM dan arus informasi dari daerah ke
tingkat nasional akan memperbaiki integrasi vertikal sistem perlindungan
sosial.

Gambar 1. Tujuan Utama Sistem Rujukan Terpadu (Schmitt, et al.,


2014)
3. Pemberdayaan Pemerintah Daerah dan Masyarakat
Mekanisme yang ada saat ini adalah pemerintah pusat merancang
program tertentu, sedangkan pemerintah daerah mengimplementasikan
program tersebut melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) teknis.
Hal ini mengakibatkan Pemerintah Daerah tidak memiliki kewenangan
berarti dalam mekanisme koordinasi dan penyampaian program-program
yang ada.
SRT pada hakikatnya bertujuan memberdayakan penerima manfaat
akhir terutama melalui mekanisme berbagi informasi, penempatan
perwakilan penerima manfaat sebagai dewan pengawas di SRT, dan
kemungkinan respon yang lebih positif dari SRT terhadap kritik
masyarakat melalui mekanisme pengaduan dan penyelesaian masalah.
4. Memfasilitasi Pengentasan Kemiskinan
Walaupun tingkat kemiskinan di Indonesia menurun, sebagian besar
masyarakat masih rentan untuk kembali miskin akibat tidak adanya akses
untuk

mendapatkan

perlindungan

sosial

dasar

dan

terbatasnya

kesempatan untuk meningkatkan kemampuan dan keterlibatan mereka


dalam pasar kerja formal.
Sistem Rujukan Terpadu

berkontribusi

dalam

mengurangi

kemiskinan melalui penyediaan akses kepada perlindungan sosial dasar


untuk mereka yang belum sama sekali terdaftar pada program
perlindungan sosial yang ada (kesehatan, kecukupan nutrisi, jaminan
pendapatan melalui program pekerjaan publik).
5. Meningkatkan Pemantauan, Evaluasi, dan Proses Perencanaan Program
Berbagai program perlindungan sosial di Indonesia kurang
mendapatkan pengawasan dan evaluasi yang baik dan memadai sehingga
terjadi implementasi program yang tidak efisien, ketidakcukupan manfaat
bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan, dan kesalahan penentuan
target penerima manfaat program. Pengukuran keberhasilan program
tidak berdasarkan metodologi ilmiah akibat tidak tersedianya indikator
terukur

dan

mekanisme

monitoring-evaluasi

yang

dapat

dipertanggungjawabkan, sehingga gagal mengukur tingkat keberhasilan


program. Hal ini juga berpotensi menyembunyikan fakta bahwa banyak
program bantuan sosial disalahgunakan untuk kepentingan politik lokal.
Dalam konteks ini, diperlukan sistem monitoring dan evaluasi yang
tepat. SRT menyediakan standarisasi proses dan alat untuk memonitor
setiap program dan melakukan evaluasi atas dampak yang ditimbulkan
secara adil dan transparan. Penentuan indikator yang terukur dan dapat
ditelusuri pada setiap program, kemudian melakukan monitoring secara
berkala dengan menggunakan fungsi monitoring dari sistem informasi
manajemen (SIM). Monitoring dan evaluasi program juga digunakan
sebagai materi masukan bagi penyusunan perencanaan dan alokasi dana
yang diajukan.
Selain itu, mekanisme pengaduan dan penyelesaian pengaduan akan
memberikan kesempatan kepada penerima manfaat akhir untuk
menyampaikan pandangan mereka terhadap pelaksanaan SRT dan
program yang sedang berjalan (atau kelemahan dari program tersebut).
D. Macam & Jenis Rujukan

Menurut (Hatmoko, 2000) rujukan ada dua: rujukan medik dan


rujukan kesehatan yang dijelaskan sebagai berikut.
1. Rujukan medik yang berkaitan dengan pengobatan dan pemulihan berupa
pengiriman pasien (kasus), spesimen, dan pengetahuan tentang penyakit,
meliputi:
a. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik, pengobatan,
tindakan operatif.
b. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium
yang lebih lengkap.
c. Mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih kompeten atau
ahli untuk mutu pelayanan pengobatan.
2. Rujukan kesehatan menyangkut masalah kesehatan masyarakat yang
bersifat preventif dan promotif yang antara lain meliputi bantuan:
a) Survey epidemiologi dan pemberantasan penyakit atas kejadian luar
biasa atau terjangkitnya penyakit menular.
b) Pemberian pangan atas terjadinya kelaparan di suatu wilayah.
c) Pendidikan penyebab keracunan, bantuan teknologi penanggulangan
keracunan dan bantuan obat-obatan atas terjadinya keracunan masal.
d) Saran dan teknologi untuk penyediaan air bersih atas masalah
kekurangan air bersih bagi masyarakat umum.
e) Pemeriksaan spesimen air di laboratorium kesehatan dan lain-lain.
Sementara menurut Pohan (2006), sesuai dengan jenis upaya
kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas, ada dua macam rujukan
yang dikenal yakni :
1. Rujukan upaya kesehatan perorangan
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan perorangan adalah kasus
penyakit. Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi satu
kasus penyakit tertentu, maka puskesmas tersebut wajib merujuknya
ke sarana pelayanan kesehatan yang lebih mampu (baik hotizontal
maupun vertical). Sebaliknya pasien pasca rawat inap yang hanya
memerlukan rawat jalan sederhana, bisa dirujuk kembali ke puskesmas.
Rujukan upaya kesehatan perorangan dibedakan atas tiga macam :

a) Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan


medik (misal operasi) dan lain lain.
b) Rujukan bahan pemeriksaan (spesimen)

untuk

pemeriksaan

laboratorium yang lebih lengkap.


c) Rujukan ilmu pengetahuan antara lain mendatangkan tenaga yang
lebih kompeten atau melakukan bimbingan tenaga puskesmas dan
atau menyelenggarakan pelayanan medik spesialis di puskesmas.
2. Rujukan upaya kesehatan masyarakat
Cakupan rujukan pelayanan kesehatan masyarakat adalah masalah
kesehatan masyarakat, misalnya kejadian luar biasa, pencemaran
lingkungan dan bencana. Rujukan pelayanan kesehatan masyarakat juga
dilakukan apabila satu puskesmas tidak mampu menyelenggarakan
upaya kesehatan masyarakat wajib dan pengembangan, padahal upaya
kesehatan masyarakat tersebut telah menjadi kebutuhan masyarakat.
Apabila suatu puskesmas tidak mampu menanggulangi masalah
kesehatan masyarakat dan atau tidak mampu menyelenggarakan upaya
kesehatan masyarakat, maka puskesmas wajib merujuknya ke dinas
kesehatan kabupaten atau kota.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat dibedakan atas tiga macam
(Widoyono, 2013):
a) Rujukan sarana dan logistik, antara lain peminjaman peralatan
fogging, peminjaman alat laboratorium kesehatan, peminjaman alat
audio visual, bantuan obat, vaksin, dan bahan bahan habis pakai dan
bahan makanan.
b) Rujukan tenaga, antara lain dukungan tenanga ahli untuk penyidikan
kejadian luar biasa, bantuan penyelesaian masalah hokum kesehatan,
penanggulangan gangguan kesehatan karena bencana alam
c) Rujukan operasional, yakni menyerahkan sepenuhnya kewenangan
dan tanggungjawab penyelesaian masalah kesehatan masyarakat
(antara lain usaha kesehatan sekolah, usaha kesehatan kerja, usaha
kesehatan jiwa, pemeriksaan contoh air bersih) kepada dinas
kesehatan kabupaten/kota. Rujukan operasional diselenggarakan
apabila puskesmas tidak mampu.

10

E. Keuntungan sistem rujukan


Keuntungan sistem rujukan menurut Pranoko & Dhanabhalan (2012) adalah:
1. Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti
bahwa pertolongan dapat diberikan lebih cepat, murah dan secara
psikologis memberi rasa aman pada pasien dan keluarga.
2. Penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas
daerah makin meningkat sehingga makin banyak kasus yang dapat
dikelola di daerahnya masing masing.
3. Memudahkan masyarakat di daerah terpencil atau desa dapat
memperoleh dan menikmati tenaga ahli dan fasilitas kesehatan dari
jenjang yang lebih tinggi.
F. Bahan Rujukan
Bahan rujukan terdiri dari 4 M, yaitu:
1.

Man (pasien)

2.

Material (sampel/spesimen darah, sputum, urine,


tinja dll.)

3.

Methode (protokol pengobatan, Standart Operating


Procedure (SOP), Standart Operating Manual (SOM)).

4.

Machine (alat-alat medis).

G. Kriteria Pasien Dirujuk


Adapun kriteria pasien yang dirujuk menurut Pranoko & Dhanabhalan (2012)
adalah apabila memenuhi salah satu dari:
1. Hasil pemeriksaan fisik sudah dapat dipastikan tidak mampu diatasi.
2. Hasil pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan penunjang medis ternyata
tidak mampu diatasi.
3. Memerlukan pemeriksaan penunjang medis yang lebih lengkap, tetapi
pemeriksaan harus disertai pasien yang bersangkutan.
4. Apabila telah diobati dan dirawat ternyata memerlukan pemeriksaan,
pengobatan dan perawatan di sarana kesehatan yang lebih mampu.
H. Alur Rujukan
Untuk memahami tentang alur rujukan dan ketentuannya, perlu
diketahui tentang tahapan pelayanan kesehatan. Ada tiga tahapan dalam

11

pelaksanaan

pelayanan

kesehatan,

yaitu

sebagai

berikut

Gambar 2. Sistem Rujukan Berjenjang


1.

Pelayanan tingkat primer


Pelayanan di sini diselenggarakan oleh Dokter Praktek Umum
(DPU). Tahap ini disebut tahap awal atau kontak pertama pasien dengan
dokter yang biasanya bertempat di klinik pribadi, klinik dokter bersama,
Puskesmas, balai pengobatan, klinik perusahaan, atau poliklinik umum di
rumah sakit. Setiap pasien semestinya harus ke DPU dulu kecuali bila
terjadi kasus gawat darurat.

2.

Pelayanan tingkat sekunder


Jika dianggap perlu, pasien akan dirujuk ke pelayanan tingkat
sekunder. Untuk itu DPU akan menulis surat konsultasi atau rujukan yang

12

menjelaskan masalah medis dan kendala yang dihadapi pada pasien yang
bersangkutan. Di sini pasien akan dilayani oleh dokter spesialis (DSp) di
rumah sakit (kelas C atau B1), klinik spesialis atau klinik pribadi. Jika
masalah kesehatan yang sulit telah diselesaikan pasien akan dikirim balik
ke DPU yang mengirimnya dengan bekal surat rujuk balik yang berisi
anjuran kelanjutan pengobatannya.
3.

Pelayanan tingkat tersier


Jika masalahnya juga tidak dapat atau tidak mungkin diselesaikan
oleh DSp di tingkat sekunder maka pasien yang bersangkutan akan dikirim
ke pelayanan tingkat tersier (top referral). Di sini pasien akan dilayani
oleh para dokter super/sub spesialis atau Spesialis Konsultan (DSpK) di
rumah sakit pendidikan atau rumah sakit besar yang mempunyai berbagai
pusat riset yang mapan (kelas B2 atau A). Pelayanan kesehatan di fasilitas
kesehatan primer yang dapat dirujuk langsung ke fasilitas kesehatan tersier
hanya untuk kasus yang sudah ditegakkan diagnosis dan rencana
terapinya, merupakan pelayanan berulang dan hanya tersedia di faskes
tersier. Rujuk balik pun tetap berlaku di sini dan bukan tidak mungkin
berisi anjuran untuk kembali ke DPU-nya jika masalah telah diatasi. Jika
masalahnya tidak mungkin dapat diatasi lagi (stadium terminal), sehingga
diputuskan untuk dilanjutkan dengan perawatan di rumah, maka yang
terakhir ini pun menjadi tugas DPU.
Pengecualian rujukan berjenjang:
a. Terjadi keadaan gawat darurat;
Kondisi kegawatdaruratan mengikuti ketentuan yang berlaku
b. Bencana;
Kriteria bencana ditetapkan oleh Pemerintah Pusat dan atau Pemerintah
Daerah
c. Kekhususan permasalahan kesehatan pasien; untuk kasus yang sudah
ditegakkan rencana terapinya dan terapi tersebut hanya dapat dilakukan
di fasilitas kesehatan lanjutan
d. Pertimbangan geografis; dan

13

e. Pertimbangan ketersediaan fasilitas


Selain tiga tahapan di atas masih ada tahapan pelayanan kesehatan
yang kedudukannya lebih rendah dari pelayanan tingkat primer, seperti
pelayanan tingkat rumah tangga dan tingkat masyarakat yang secara swadana,
misalnya: Bidan, Perawat, Posyandu, Polindes, POD, Sakabhakti Husada, dan
lain-lain.
Dalam keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat memberikan
pelayanan kesehatan tingkat pertama sesuai ketentuan peraturan perundangundangan. Bidan dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke dokter
dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan tingkat pertama kecuali
dalam kondisi gawat darurat dan kekhususan permasalahan kesehatan pasien.
Secara skematis tahapan pelayanan kesehatan tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
Rujukan Medis

Rujukan Kes. Masyarakat


Depkes/Dinkes Propinsi

RSUD Propinsi/Pusat
Tingkat 3
RSUD Kab/Kota, BP4,
BKMM, BKKM. Sentra P3T,
Tingkat 2
Klinik Swasta
Puskesmas. Dokter Umum/Keluarga
Tingkat

Tingkat 2

Dinkes kab/Kota
BP4, BKMM, BKKM
Sentra P3T

Dokter Umum/Keluarga
TingkatPuskesmas.
1

Posyandu
Polindes

Masyarakat

Masyarakat

Posyandu
sakabhakti

Yankes
Individu

Gambar 3. Tahapan
Rujukan
Individu
Individu

Sakabhakti

Gambar 3. Tahapan Rujukan


I. Regionalisasi Sistem Rujukan

14

Kabupaten/kota

dibagi

dalam

beberapa

wilayah

rujukan/region,

berdasarkan hasil mapping sarana prasarana, SDM dan kondisi geografis,


setiap wilayah mempunyai pusat rujukan.
1. Definisi
Regionalisasi sistem rujukan adalah pengaturan sistem rujukan
dengan penetapan batas wilayah administrasi daerah berdasarkan
kemampuan pelayanan medis, penunjang dan fasilitas pelayanan kesehatan
yang terstuktur sesuai dengan kemampuan, kecuali dalam kondisi
emergensi (Kemenkes, 2014).
2. Tujuan
a) Mengembangkan regionalisasi sistem rujukan bejenjang di Provinsi
dan Kabupaten/Kota.
b) Meningkatkan jangkauan pelayanan kesehatan rujukan RS.
c) Meningkatkan pemerataan pelayanan kesehatan rujukan sampai ke
daerah terpencil dan daerah miskin.
d) Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
rujukan RS (Kemenkes, 2014).
3. Manfaat
a) Pasien tidak menumpuk di RS besar tertentu.
b) Pengembangan seluruh RS di provinsi dan kabupaten/kota dapat
direncanakan secara sistematis efisien dan efektif.
c) Pelayanan rujukan dapat lebih dekat ke daerah terpencil, miskin, dan
daerah perbatasan karena pusat rujukan lebih dekat.
d) Regionalisasi rujukan dapat dimanfaatkan untuk pendidikan tenaga
kesehatan terutama pada RS Pusat Rujukan Regional.
4. Alur sistem rujukan regional
a) Pelayanan kesehatan rujukan menerapkan pelayanan berjenjang yang
dimulai dari Puskesmas, kemudian kelas C, kelas D selanjutnya RS
kelas B dan akhirnya ke RS kelas A.
b) Pelayanan kesehatan rujukan dapat berupa rujukan rawat jalan dan
rawat inap yang diberikan berdasarkan indikasi medis dari dokter
disertai surat rujukan, dilakukan atas pertimbangan tertentu atau
kesepakatan antara rumah sakit dengan pasien atau keluarga pasien.
c) RS kelas C/D dapat melakukan rujukan ke RS kelas B atau RS kelas
A antar atau lintas kabupaten/kota yang telah ditetapkan . yang

15

dimaksud dengan antar kabupaten/ kota adalah pelayanan ke RS


kabupaten/ kota yang masih dalam satu region yang telah ditetapkan.
Sedangkan lintas kabupaten/kota adalah pelayanan ke RS
kabupaten/kota di luar wilayah region yang telah ditetapkan
(Kemenkes, 2014).
5. Penetapan Regionalisasi Sistem Rujukan
Langkah yang harus dipersiapkan yaitu ;
a) Pemetaan sarana kesehatan: Gatekeeper (Praktek dokter/ drg
pelayanan Primer), puskemas, Klinik Pratama, RS dan faskes lainnya
per provinsi.
b) Pemetaan tenaga kesehatan di sarana kesehatan yang ada.
c) Menetapkan RS pusat rujukan regional.
d) Melakukan ujicoba kewilayahan melalui Workshop Sistem Rujukan
di pusat rujukan regional, bersama Tim Koordinasi Sistem Rujukan
Tingkat Pemerintah Daerah, yang terdiri dari Kepala Dinas
Kesehatan, Provinsi/Kabupaten dan Kota, tim profesi ahli, RSUD,
dan Askes yang akan bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan
Daerah.
e) Menetapkan kab/kota sebagai pusat regional dari beberapa sarana
kesehatan disekitarnya.
f) Mengadakan pelatihan bagi tenaga dokter puskesmas, dokter
keluarga mitra Askes dari wilayah tersebut untuk penatalaksanaan
kasus-kasus yang dirujuk dari Puskesmas terutama pada 4 bagian
besar (Obgyn, Penyakit Dalam, Anak dan Bedah).
g) Penyusunan 4 Buku Pedoman Sistem Rujukan bersama RS, FK,
DPM PT Askes, PT Askes Persero regional, dan 10 Organisasi
Profesi yang terdiri dari : PAPDI, POGI, IDAI, IKABI, PERDAMI,
PERHATI-KL, PERDOSI, PERDOSKI, PDSKJI, PDGI.
h) Penyusunan peraturan gubernur
i) Lakukan Pembagian Peran untuk mewujudkan Regionalisasi Sistem
Rujukan,
j) Lakukan Sosialisasi dan Monev ketat terhadap usaha yang telah
dilakukan , termasuk Kendali Mutu dan Biaya dengan Pemanfaatan
Sistem Informasi dan Teknologi.
J. Pembinaan Dan Pengawasan Sistem Rujukan Berjenjang

16

1. Ka Dinkes Kab/Kota dan organisasi profesi bertanggung jawab atas


pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat
pertama.
2. Ka Dinkes provinsi dan organisasi profesi bertanggung jawab atas
pembinaan dan pengawasan rujukan pada pelayanan kesehatan tingkat
kedua.
3. Menteri bertanggung jawab atas pembinaan dan pengawasan rujukan pada
pelayanan kesehatan tingkat ketiga.
(Idris, 2014)
K. Sistem Jaminan Kesehatan dan Alur Rujukan di Surakarta
Penyelenggara sistem jaminan kesehatan di Surakarta dibagi menjadi:
1. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Operasional BPJS Kesehatan dimulai sejak tanggal 1 Januari 2014
sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan Undang-Undang Nomor 24
Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
BPJS Kesehatan sebagai Badan Pelaksana merupakan badan
hukum publik yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan
kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Tujuan diberlakukannya program Jaminan Kesehatan Nasional ini
adalah untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang layak yang
diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya
dibayar oleh Pemerintah (Idris, 2014).
Dengan ditetapkannya program Jaminan Kesehatan Nasional per 1
Januari 2014, maka dari itu dibentuknya sistem pelayanan kesehatan yang
berjenjang. Masyarakat diharapkan mengetahui dan memahami tentang
Jaminan Kesehatan Nasional, alur pelayanan kesehatan sehingga pada saat
pelaksanaannya masyarakat dapat memahami hak dan kewajibannya serta
memanfaatkan jaminan kesehatan dengan baik dan benar. Untuk
memaksimalkan pelayanan kesehatan di masyarakat perlu adanya sistem
rujukan yang berjenjang dan regional.
Ketentuan umum sistem rujukan BPJS adalah sebagai berikut:
1) Pelayanan kesehatan perorangan terdiri dari 3 (tiga) tingkatan yaitu:
a) Pelayanan kesehatan tingkat pertama;

17

b) Pelayanan kesehatan tingkat kedua; dan


c) Pelayanan kesehatan tingkat ketiga.
2) Pelayanan kesehatan tingkat pertama merupakan pelayanan kesehatan
dasar yang diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama.
3) Pelayanan kesehatan tingkat kedua merupakan pelayanan kesehatan
spesialistik yang dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi spesialis
yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan spesialistik.
4) Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan kesehatan sub
spesialistik yang dilakukan oleh dokter sub spesialis atau dokter gigi sub
spesialis yang menggunakan pengetahuan dan teknologi kesehatan sub
spesialistik.
5) Dalam menjalankan pelayanan kesehatan, fasilitas kesehatan tingkat
pertama dan tingkat lanjutan wajib melakukan sistem rujukan dengan
mengacu pada peraturan perundang undangan yang berlaku.
6) Peserta yang ingin mendapatkan pelayanan yang tidak sesuai dengan
sistem rujukan dapat dimasukkan dalam kategori pelayanan yang tidak
sesuai dengan prosedur sehingga tidak dapat dibayarkan oleh BPJS
Kesehatan.
7) Fasilitas Kesehatan yang tidak menerapkan sistem rujukan maka BPJS
Kesehatan akan melakukan recredentialing terhadap kinerja fasilitas
kesehatan tersebut dan dapat berdampak pada kelanjutan kerjasama.
8) Pelayanan rujukan dapat dilakukan secara horizontal maupun vertikal.
9) Rujukan horizontal/internal adalah rujukan yang dilakukan antar
pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan apabila perujuk tidak dapat
memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena
keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan yang sifatnya
sementara atau menetap.
10) Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat pelayanan
yang lebih rendah ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi atau sebaliknya.

18

11) Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan
pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila:
a) pasien

membutuhkan

pelayanan

kesehatan

spesialistik

atau

subspesialistik;
b) perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan dan/ atau
ketenagaan.
12) Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih tinggi ke tingkatan
pelayanan yang lebih rendah dilakukan apabila :
a) permasalahan kesehatan pasien dapat ditangani oleh tingkatan
pelayanan kesehatan yang lebih rendah sesuai dengan kompetensi
dan kewenangannya;
b) kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama atau kedua
lebih baik dalam menangani pasien tersebut;
c) pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat ditangani oleh
tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih rendah dan untuk alasan
kemudahan, efisiensi dan pelayanan jangka panjang; dan atau
d) perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai dengan
kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana, prasarana, peralatan
dan atau ketenagaan (Idris, 2014).
13) Rujukan Parsial
a. Rujukan parsial adalah pengiriman pasien atau spesimen ke pemberi
pelayanan kesehatan lain dalam rangka menegakkan diagnosis atau
pemberian terapi, yang merupakan satu rangkaian perawatan pasien
di Faskes tersebut.
b. Rujukan parsial dapat berupa:
1.
pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan penunjang
atau tindakan
2.
pengiriman spesimen untuk pemeriksaan penunjang
c. Apabila pasien tersebut adalah pasien rujukan parsial, maka
penjaminan pasien dilakukan oleh fasilitas kesehatan perujuk.

19

Gambar 4. Bagan Alur Rujukan BPJS


2. Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS)
Pemerintah Kota Surakarta pada awal

tahun

2008

mengimplementasikan suatu program jaminan kesehatan daerah. Dimana


program tersebut dirumuskan menjadi semacam asuransi kesehatan untuk
masyarakat Kota Surakarta dengan premi asuransi yang dibayar oleh
Pemerintah Kota Surakarta. Program ini diberi nama dengan program
Pemeliharaan

Kesehatan

Masyarakat

Surakarta

(PKMS).

Jaminan

kesehatan yang diberikan berwujud upaya kesehatan yang berjenjang dan


komprehensif (Anas, 2009)
Tujuan dari program PKMS adalah memberikan jaminan
pemeliharaan kesehatan bagi masyarakat kota Surakarta terutama bagi
masyarakat miskin. Semua masyarakat Surakarta yang dibuktikan dengan
KTP dan KK yang belum termasuk dalam program : Askes PNS, Askes
swasta, Jamkesmas, Asuransi Kesehatan lainnya, serta bertempat tinggal
dan berdomisili di Kota Surakarta minimal 3 (tiga) tahun berhaak menjadi
peserta.

20

Jenis kepesertaan PKMS sendiri ada dua jenis yaitu PKMS Silver
dan PKMS Gold. PKMS Silver diberikan kepada seluruh masyarakat
Surakarta sesuai dengan persyaratan dan PKMS Gold diberikan kepada
masyarakat miskin yang terdaftar di Surat Keputusan Walikota tentang
masyarakat miskin.
Cara menjadi peserta PKMS Silver:
Calon peserta mendaftarkan diri di Badan Penanaman Modal
dan Perijinan Terpadu (BPMPT) dengan membawa :
F.C Kartu Keluarga dengan menunjukkan aslinya
F.C KTP dengan menunjukkan aslinya atau surat

keterangan lahir bagi yang berusia belum wajib KTP


Foto ukuran 2 x 3 cm : 2 lembar
Membayar biaya Rp. 1000, Surat keterangan domisili dari RT, RW, Kelurahan
Peserta datang sendiri ke BPMPT, apabila yang bersangkutan
sakit keras atau lansia, pendaftaran bisa diwakili oleh keluarga

terdekat yang keabsahannya dibuktikan dengan Kartu Keluarga


Untuk kader kesehatan, ketua RT, ketua RW dan petugas
sampah dengan pengesahan kepala Kalurahan, dibebaskan dari

biaya mencetak kartu


Cara menjadi peserta PKMS Gold:
Calon peserta mendaftarkan diri di UPTD PKMS dengan
membawa :
F.C Kartu Keluarga dengan menunjukkan aslinya
F.C KTP dengan menunjukkan aslinya atau surat

keterangan lahir bagi yang berusia belum wajib KTP


Foto ukuran 2 x 3 cm : 2 lembar
F.C PKMS Silver yang masih berlaku
Surat keterangan domisili dan miskin dari RT, RW dan
Kelurahan yang ditanda tangani Lurah atau Sekretaris

Kelurahan
Peserta datang sendiri ke UPTD PKMS, apabila yang
bersangkutan sakit keras atau lansia, pendaftaran bisa diwakili
oleh keluarga terdekat yang keabsahannya dibuktikan dengan

Kartu Keluarga
Pencetakan kartu PKMS Gold dilakukan setelah mendapatkan
ketetapan dari tim verifikasi tingkat kota.

21

Pelayanan

PKMS

berupa

pelayanan-pelayanan

sebagai

berikut:
1. Rawat Jalan
Diberikan di semua Puskesmas yang ada di Kota Surakarta
serta di RSUD Kota Surakarta
2. Persalinan Normal
Diberikan/Dilayani di Puskesmas Rawat inap (Puskesmas
Pajang, Sibela, Banyuanyar dan Gajahan) dan RSUD Kota
Surakarta
3. Rawat Inap, diberikan/dilayani di :
Puskesmas rawat inap, RSUD kota Surakarta dan Rumah
sakit yang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surakarta
Pelayanan kesehatan yang dibatasi dalam PKMS Silver antara lain
adalah: Cuci darah 15 x / tahun atau CAPD 3 x / tahun kemoterapi 2 seri/
tahun dan Operasi besar
Pelayanan Kesehatan yang tidak dijamin dengan PKMS:
Pelayanan yang tidak sesuai prosedur dan ketentuan
Kacamata
Alat bantu dengar
Alat bantu gerak
Pelayanan diagnostik canggih
Bahan, alat, tindakan yang bertujuan untuk kosmetika
General medical check up
Operasi jantung
Obat-obatan diluar formularium
Rangkaian pemeriksaan, pengobatan dan tindakan dalam upaya
mendapatkan keturunan, termasuk bayi tabung dan pengobatan

impotensi
Kasus bunuh diri dan penyalah gunaan NAPZA
Persalinan ke 4 (empat) dan seterusnya
Pemulasaran jenazah
Penggunaan ambulance
Rawat inap yg ke 2 dst dalam 1 bln dg kasus yg sama krn rawat

inap yg pertama pulang paksa


Pasien pindah ke kelas perawatan yang lebih tinggi

22

Syarat dan peraturan penggunaan fasilitas PKMS di puskesmas


atau rumah sakit adalah pasien datang ke rumah sakit dengan membawa :
Surat rujukan dari Puskesmas atau RSUD Kota Surakarta
Kartu PKMS yang masih berlaku
Foto copy kartu keluarga yang masih berlaku
Foto copy KTP yang masih berlaku atau surat keterangan lahir

bagi yang belum wajib KTP


foto copy riwayat pemeriksaan kehamilan (bagi pasien bersalin)
Bagi kader kesehatan, Ketua RT dan Ketua RW membawa foto
copy SK Kader kesehatan/ SK Ka. RT/ SK Ka. RW yang telah
dilegalisir

kepala

Kelurahan/sekrertaris

Kelurahan

dan

diketahui Ka. Puskesmas setempat


Semua persyaratan diserahkan ke Rumah Sakit

pendaftaran
Kartu PKMS yang berlaku adalah kartu yang pertama kali

sejak awal

dimasukkan ke rumah sakit

Gambar 5. Alur Pelayanan Kesehatan Peserta PKMS

23

Gambar 6. Contoh Kartu PKMS Silver

Gambar 7. Contoh kartu PKMS Gold

L. Daftar PPK Rumah Sakit BPJS Kantor Cabang Surakarta


Berikut merupakan daftar PPK Rumah Sakit yang bekerjasama dengan
BPJS kantor cabang Surakarta: (data Tahun 2014)

24

Gambar 8. Daftar PPK Rumah Sakit BPJS Kantor Cabang Surakarta

25

BAB III
PEMBAHASAN
Melihat tinjauan pustaka yang sudah dipaparkan di atas dan melihat
kenyataannya yang terjadi di lapangan, sebenarnya proses rujukan yang
dilaksanakan di RSUD Kota Surakarta sudah sesuai dengan teori. BLUD RSUD
Kota Surakarta berperan sebagai Penyedia Pelayanan Kesehatan (PPK) tingkat
dua menerima maupun merujuk pasien dari PPK tingkat yang lain. Dalam
pelaksanaan teknisnya, RSUD Kota Surakarta menerima pasien umum dan pasien
rujukan dari fasilitas layanan kesehatan terutama tingkat pertama/primer, yaitu
puskesmas dan dokter keluarga yang bekerja sama dengan BPJS.
Jenis pasien yang dilayani di RSUD Kota Surakarta terdiri dari pasien
umum, pasien peserta JKN/BPJS (baik PBI maupun non PBI), pasien peserta
PKMS (baik silver maupun gold), dan pasien peserta Jamkesda Karanganyar.
Khusus peserta Jamskesda Karanganyar dengan alasan pertimbangan lokasi
geografis maka pasien Jamkesda Karanganyar yang telah bekerja sama dengan
RSUD Karanganyar dapat memanfaatkan jaminan kesehatannya di sini.
Sistem rujukan di RSUD Surakarta sendiri ada beberapa masalah yang
tampak. Salah satu contohnya adalah pasien yang datang ke poli tidak membawa
persyaratan secara lengkap, seperti surat rujukan dari puskesmas/dokter keluarga,
serta fotokopi identitas. Apalagi untuk pasien PKMS seperti yang sudah
dicantumkan di tinjauan pustaka perlu membawa berbagai kelengkapan
administrasi dan pasien kerap kali lupa membawa persyaratan yang diperlukan.
Hal ini dapat menghambat pelayanan dan menyebabkan pasien yang mau datang
berobat tidak dapat dilayani segera karena harus melengkapi semua persyaratan
terlebih dahulu.
Masalah lain terkait sistem rujukan dengan jaminan kesehatan adalah
mengenai kondisi pasien. Seperti yang kita ketahui, sistem rujukan berjenjang ini
diberlakukan salah satunya agar terjadi pemerataan pasien, sehingga pasien tidak
menumpuk di satu tingkat pelayanan kesehatan. RSUD Surakarta sendiri sebagai
PPK tingkat dua memiliki kriteria tersendiri dalam penanganan pasien rujukan.

26

Namun sering sekali ternyata pasien yang datang dari rujukan PPK tingkat satu
berada dalam kondisi yang memungkinkan untuk dirawat secara tuntas tanpa
dirujuk ke PPK tingkat dua. Hal ini sering dijumpai di lapangan. Menurut saya hal
ini terjadi karena sistem rujukan di bawah atau di layanan primer masih belum
terlaksana sesuai peraturan yang ada.
Untuk pasien yang masuk dengan jalur IGD atau pasien dalam kondisi
kegawat daruratan, RSUD berusaha menerima pasien dan menindaklanjuti dengan
mekanisme tanpa rujukan namun harus dibuktikan secara medis bahwa pasien
tersebut memang pasien gawat darurat dan membutuhkan penanganan segera.
Namun jika terbukti secara medis bukan pasien gawat darurat maka edukasi
keluarga pasien maupun pasien dilakukan pihak rumah sakit untuk menjelaskan
sistem dan peraturan yang berlaku di rumah sakit, seperti contohnya pembiayaan
bisa saja dimasukkan ke dalam pasien umum dan tidak ditanggung oleh jaminan
karena tidak sesuai dengan prosedur rujukan yang ada.
Sebenarnya kasus pasien yang menolak membayar jasa layanan kesehatan
didominasi oleh pasien dengan keterbatasan pengetahuan mengenai sistem atau
alur yang wajib dilakukan pasien sebagai peserta jaminan kesehatan. Seringkali
pasien datang dan berobat tidak membawa surat rujukan dan surat administrasi
lainnya sebagai persyaratan penanggungan biaya berobat. Pasien ngotot tidak mau
membayar dan berusaha membela pendapat bahwa yang dilakukan sudah sesuai
prosedur yang ada. Biasanya untuk kasus seperti ini dari pihak RSUD melakukan
edukasi kepada pasien atau keluarga untuk segera melengkapi kelengkapankelengkapan administrasi supaya biaya jasa layanan kesehatan dapat ditanggung
oleh BPJS/PKMS/Jamkesda Karanganyar.
Hal yang kadang sering dijumpai di lapangan adalah pasien gelandangan
dan fakir miskin yang tidak terdaftar dalam program jaminan kesehatan manapun
bahkan tidak memiliki identitas sehingga sulit melacak keberadaan keluarga.
Pasien seperti ini yang berobat ke RSUD Surakarta akan diterima dan dilakukan
penanganan juga dengan menggunakan biaya taktis dari alokasi dana pemerintah.
Namun pasien dengan kriteria seperti ini masih dibicarakan di tingkat dinas

27

mengenai kejelasan penanggungan jaminan sosialnya. Karena undang-undang


sebenarnya melindungi hak seperti pasien tersebut.
Hal-hal terkait rujukan balik yang tidak dilakukan baik dari maupun ke
RSUD Surakarta menjadi suatu kebiasaan yang sering terjadi. Kebanyakan kasus
belum terlalu dirasa penting untuk dilakukan rujukan balik. Padahal dengan
sistem yang ada yaitu rujukan yang berjenjang, diharapkan rujukan balik dapat
terjadi agar pemerataan pasien di setiap tingkat PPK dapat terjadi dan pasien
mendapatkan hak nya sesuai dengan yang seharusnya. Mekanisme evaluasi dan
monitoring menjadi langkah yang vital untuk kasus seperti ini.
Seperti yang sudah kita ketahui dari tinjauan pustaka, rujukan vertikal dari
tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke tingkatan pelayanan yang lebih tinggi
dilakukan apabila pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau
subspesialistik; dan atau bila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan
dan atau ketenagaan. Dalam hal ini, RSUD Kota Surakarta juga sudah melakukan
sesuai dengan teori yang ada. Dari beberapa Poli yang kami kunjungi saat hari
kedua di RSUD, kami mendapati bahwa dokter di RSUD Kota Surakarta akan
merujuk pasien ke PPK tingkat 3 jika memang diperlukan rujukan, atau dengan
kata lain memang karena terdapat keterbatasan kompetensi, fasilitas tenagam
peralatan, dan lain-lain.

28

Untuk alur rujukan di RSUD Surakarta dapat dilihat dari bagan berikut:

Gambar 5. Bagan Alur Rujukan BLUD RSUD Surakarta


Keterangan:
IGD : Instalasi Gawat Darurat
IRJA : Instalasi Rawat Jalan
IRNA : Instalasi Rawat Inap

29

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. RSUD Kota Surakarta sudah melayani pasien rujukan BPJS, PKMS, dan
Jamkesda Karanganyar sesuai dengan regional dan sesuai sistem rujukan
yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
2. Rujukan balik masih kurang berjalan baik dari PPK di bawahnya maupun
PPK di atas RSUD Surakarta
3. Jaminan kesehatan yang berlaku di RSUD Kota Surakarta adalah JKNBPJS, PKMS dan Jamkesda Karanganyar.
4. Mekanisme pembiayaan sangat terkait dengan lancarnya sistem rujukan
yang ada.
B. Saran
1. Perlu dilakukan evaluasi oleh dinas kesehatan terkait dan dinas lintas
sektor lainnya seperti dinas sosial juga seluruh pihak yang terkait seperti
tenaga kesehatan maupun masyarakat mengenai sistem rujukan dan
pembiayaan yang sudah ada di masyarakat sehingga rujukan dapat tepat
sasaran dan kalaupun ada kekurangan agar bisa segera diperbaiki unutk
meningkatkan kualitas pelayanan di masa yang akan datang.
2. Masalah rujukan balik yang saat ini masih menjadi kendala sebaiknya
dievaluasi juga dan dicarikan solusi terbaiknya dan jika sudah ada
solusinya hendaknya dikerjakan sesuai sitem yang berlaku.
3. Untuk pengetahuan mengenai sistem jaminan sosial kesehatan yang ada di
masyarakat dan kaitannya dengan sistem rujukan, Rumah Sakit walaupun
sebagai fasilitas kesehatan yang mengedepankan aspek kuratif dan
rehabilitatif hendaknya ikut ambil bagian juga dalam program aspek
promotif dan preventif contohnya saja dengan memberikan transfer ilmu
kepada masyarakat tentang mekanisme sistem rujukan yang benar melalui
mekanisme penyuluhan dan sosialisasi walaupun terkadang susah untuk
mengedukasi pasien.

30

DAFTAR PUSTAKA

Anas, Mufti (2009). Analisis Kinerja dan Pengelolaan Anggaran Pembiyaan


Dinas Kesehatan Kota Surakarta Dalam Program Pemeliharaan
Kesehatan Masyarakat Surakarta (PKMS) Tahun 2008. Surakarta:
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret. Skripsi
CNN Indonesia. 2014. Supaya Tak Ditolak, Peserta BPJS Diminta Pahami Soal
Rujukan

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20141209103102-20-

16871/supaya-tak-ditolak-peserta-bpjs-diminta-pahami-soal-rujukan/

Jakarta. Berita online dilihat Juli 2015


Departemen Pendidikan Nasional (2002). Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
ke-3. Balai Pustaka, Jakarta. Gramedia.
Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. 2011. Petunjuk Teknis Sistem
Rujukan Pelayanan Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat.
https://servicedeliveryighealth.files.wordpress.com/2011/12/buku_rujuka
nbinder.pdf
Hatmoko. 2006. Sistem pelayanan kesehatan dasar Puskesmas. Samarinda,
Universitas Mulawarman.
Idris, Fachmi (2014). Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan. Jakarta: BPJS
Kesehatan.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2014). Sistem Rujukan Terstruktur
dan Berjenjang dalam Rangka Menyongsong Jaminan Kesehatan
Nasional (Regionalisasi Sistem Rujukan). Jakarta.
Permenkes. 2012a. Peraturan menteri kesehatan Republik Indonesia nomor 001
tahun 2012 tentang sistem rujukan pelayanan kesehatan perorangan.
http://www.rsstroke.com/files/peraturan/BUK/2012/PMK_No_001_Ttg_
Sistem_Rujukan_Pelayanan_Kesehatan_Perorangan.pdf - diunduh Juli
2015
Pohan Imbalo (2006). Jaminan Mutu Layanan Kesehatan, Dasar Dasar,
Pengertian, dan Penerapan. Jakarta : EGC; 2006. p.13-27

31

Pranoko & Dhanabhalan (2012). Sistem Rujukan Puskesmas Batealit Jepara.


Semarang.
Schmitt, et al. (2014). Rancangan Sistem Rujukan Terpadu Untuk Perluasan
Program Perlindungan Sosial di Indonesia. Jakarta: ILO.
Tim penyusun bahan sosialisasi dan advokasi JKN (2014). Buku Pegangan
Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem Jaminan
Sosial Nasional. Jakarta.
Widoyono (2013). Kesehatan Kota Semarang 2012. Semarang : Dinas Kesehatan
Kota Semarang

32