Anda di halaman 1dari 14

PERDARAHAN ANTEPARTUM

Disusun oleh:
Sherly Meygaretha
11 2013 278
Pembimbing:
dr. Afra F. Tangdialla, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KEBIDANAN DAN KANDUNGAN


RUMAH SAKIT UMUM BHAKTI YUDHA
9 JUNI 16 AGUSTUS 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
1

PERDARAHAN ANTEPARTUM
Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya.
Perdarahan pada kehamilan muda disebut keguguran atau abortus, sedangkan pada kehamilan
tua disebut perdarahan antepartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dan kehamilan tua
ialah kehamilan 22 minggu, mengingat kemungkinan hidup janin di luar uterus.
Definisi dan klasifikasi
Perdarahan antepartum biasanya dibatasi pada perdarahan jalan-lahir setelah kehamilan 22
minggu, walaupun patologi yang sama dapat pula terjadi pada kehamilan sebelum 22 minggu.
Perdarahan setelah kehamilan 22 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya
daripada sebelum kehamilan 22 minggu; oleh karena itu, memerlukan penanganan yang
berbeda. Perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan
plasenta, sedangkan perdarahan yang tidak bersumber pada kelainan plasenta umpamanya
kelainan serviks biasanya tidak seberapa berbahaya. Pada setiap perdarahan antepartum
pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta.
Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis
biasanya tidak terlampau sukar untuk menentukannya, ialah plasenta previa, dan solusio
plasenta (atau abruptio plasenta). Oleh karena itu, klasifikasi klinis perdarahan antepartum
dibagi sebagai berikut: (1) plasenta previa; (2) solusio plasenta; dan (3) perdarahan
antepartum yang belum jelas sumbernya.
Perdarahan anterpartum yang belum jelas sumbernya itu mungkin disebabkan oleh
ruptura sinus marginalis yang biasanya tanda dan gejalanya tidak seberapa khas. Mungkin
juga karena plasenta letak rendah atau vasa previa. Plasenta letak rendah baru menimbulkan
perdarahan antepartum pada akhir kehamilan atau pada permulaan persalinan. Vasa previa
baru menimbulkan perdarahan antepartum setelah pemecahan selaput ketuban. Perdarahan
yang bersumber pada kelainan serviks dan vagina biasanya dapat diketahui apabila dilakukan
pemeriksaan dengan spekulum yang seksama. Kelainan-kelainan yang mungkin tampak ialah
erosio porsionis uteri, karsinoma porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva, dan
trauma.
Frekuensi
Perdarahan antepartum terjadi pada kira-kira 3% dari semua persalinan, yang terbagi kira-kira
rata antara plasenta previa, solusio plasenta, dan perdarahan yang belum jelas sumbernya.
2

Gambaran klinik
Pada umumnya penderita mengalami perdarahan pada triwulan ketiga, atau setelah kehamilan
28 minggu.
Perdarahan antepartum tanpa rasa nyeri merupakan tanda khas plasenta previa, apalagi kalau
disertai tanda-tanda lainnya, seperti bagian terbawah janin belum masuk ke dalam pintu atas
panggul, atau kelainan letak janin. Karena tanda pertamanya adalah perdarahan, pada
umumnya penderita akan segera datang untuk mendapatkan pertolongan. Beberapa penderita
yang mengalami perdarahan sedikit-sedikit, mungkin tidak akan tergesa-gesa datang untuk
mendapatkan pertolongan karena disangkanya sebagai tanda permulaan persalinan biasa.
Baru setelah perdarahannya berlangsung banyak, mereka datang untuk mendapatkan
pertolongan.
Lain halnya dengan solusio plasenta. Kejadiannya tidak segera ditandai oleh
perdarahan per vaginam, sehingga mereka tidak segera datang untuk mendapatkan
pertolongan. Gejala pertamanya adalah rasa nyeri pada kangdungan yang makin lama makin
hebat, dan berlangsung terus-menerus. Rasa nyeri yang terus-menerus ini sering kali
diabaikan, atau disangka sebagai tanda permulaan persalinan biasa. Baru setelah penderita
pingsan karena perdarahan retroplasenter yang banyak, atau setelah tampak perdarahan per
vaginam, mereka datang untuk mendapatkan pertolongan. Pada keadaan demikian biasanya
janin telah meninggal dalam kandungan.
Pengawasan antenatal
Pengawasan antenatal sebagai cara untuk mengetahui atau menanggulangi kasus-kasus
dengan perdarahan antepartum memgang peranan yang terbatas. Pemeriksaan yang dapat
mengurangi kesulitan yang mungkin terjadi adalah penentuan golongan darah ibu dan
golongan darah calon donornya, pengobatan anemia dalam kehamilan, seleksi ibu untuk
bersalin di rumah sakit, memperhatikan kemungkinan adanya plasenta previa, dan mencegah
serta mengobati penyakit hipertensi menahun dan pre-eklampsia. Para ibu hamil yang patut
dicurigai akan mengalami perdarahan antepartum ialah para ibu yang usianya telah lebih dari
35 tahun, paritasnya 5 atau lebih, bagian terbawah janin selalu terapung di atas pintu atas
panggul, atau menderita pre-eklampsia.
Pertolongan pertama
Setiap perdarahan pada kehamilan lebih dari 22 minggu yang lebih banyak dari perdarahan
yang biasanya terjadi pada permulaan persalinan biasa, harus dianggap sebagai perdarahan
3

antepartum. Selagi penderita belum jatuh ke dalam syok, infus cairan intravena harus segera
dipasang, dan dipertahankan terus sampai tiba di rumah sakit.1
PLASENTA PREVIA
Definisi dan klasifikasi
Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal
plasenta terletak di bagian atas uterus. Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi
pada segmen bawah rahim demikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian dari
ostium uteri internum.
Klasifikasi plasenta previa didasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui
pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu. Disebut plasenta previa totalis atau komplit
apabila seluruh ostium uteri internum tertutup oleh jaringan plasenta; plasenta previa parsialis
apabila sebagian ostium uteri internum tertutup oleh jaringan plasenta; dan plasenta previa
marginalis apabila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir ostium uteri internum. Plasenta
letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa
sehingga tepi bawahnya berada pada jarak lebih kurang 2 cm dari ostium uteri internum.1
Frekuensi
Angka kejadian plasenta previa adalah 0,4 - 0,6% dari keseluruhan persalinan. Dengan
penatalaksanaan dan perawatan yang baik, mortalitas perinatal adalah 50 per 1000 kelahiran
hidup. Lebih banyak pada kehamilan dengan paritas tinggi dan pada usia di atas 30 tahun.2
Etiologi
Bahwasanya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atrofi pada desidua akibat
persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, tidaklah selalu benar, karena
tidak nyata dengan jelas bahwa plasenta previa didapati untuk sebagian besar pada penderita
dengan paritas tinggi.
Gambaran klinik
Perdarahan uterus keluar melalui vaginatanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala
utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau
bekerja biasa. Darahnya berwarna segar, berlainan dengan darah yang disebabkan oleh
solusio plasenta yang berwarna kehitam-hitaman. Sumber perdarahannya ialah sinus uterus
yang terobek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus
4

marginalis dari plasenta. Jika janin dalam presentasi kepala, kepalanya akan didapatkan
belum masuk ke dalam pintu atas panggul yang mungkin karena plasenta previa sentralis;
mengolak ke samping karena plasenta previa parsialis; menonjol di atas simfisis karena
plasenta previa posterior; atau bagian terbawah janin sukar ditentukan karena plasenta previa
anterior. Jika janin telah lahir, plasenta tidak selalu mudah dilahirkan karena sering
mengadakan perlekatan yang erat dengan dinding uterus.
Diagnosis
Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabnya ialah
plasenta previa sampai keudian ternyata dugaan itu salah.
Anamnesis
Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa
alasan, terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari
anamnesis, melainkan dari pemeriksaan hematokrit.
Pemeriksaan luar
Bagian terbawah janin biasanya belum masuk pintu atas panggul. Jika presentasi kepala,
biasanya kepalanya masih terapung di atas panggul atau mengolak ke samping, dan sukar
didorong ke dalam pintu atas panggul. Tidak jarang terdapat kelainan letak janin, seperti letak
lintang atau letak sungsang.
Pemeriksaan in spekulo
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari ostium uteri
eksternum atau dari kelainan serviks dan vagina, seperti erosio porsionis uteri, karsinoma
porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva, dan trauma. Jika perdarahan berasal dari
ostium uteri eksternum, adanya plasenta previa harus dicurigai.
Penentuan letak plasenta tidak langsung
Penentuan ini dapat dilakukan dengan radiografi, radioisotopi, dan ultrasonografi. Nilai
diagnostiknya cukup tinggi di tangan yang ahli, tapi ibu dan janin masih dihadapkan pada
bahaya radiasi yang cukup tinggi pula sehingga cara ini mulai ditinggalkan, kecuali dengan
ultrasonografi. Penentuan letak plasenta dengan USG ternyata sangat tepat karena tidak
menimbulkan bahaya radiasi bagi ibu dan janin serta tidak menimbulkan rasa nyeri.

Penentuan letak plasenta secara langsung


Dengan meraba plasenta melalui kanalis servikalis. Pemeriksaan ini hanya dilakukan jika
penanganan pasif ditinggalkan, dan ditempuh penanganan aktif dalam siap operasi.1
Terapi
Penanganan pada plasenta previa terdiri dari terapi ekspektatif, terapi aktif (tindakan segera),
seksio sesaria, dan melahirkan pervaginam.
Terapi ekspektatif
Tujuannya adalah agar janin tidak terlahir prematur, penderita dirawat tanpa melakukan
pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya diagnostik dilakukan secara non-invasif.
Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik. Syaratnya yaitu kehamilan preterm
dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti, belum ada tanda-tanda in partu, keadaan
umum ibu cukup baik (kadar Hb dalam batas normal), janin masih hidup. Rawat inap, tirah
baring dan berikan antibiotik profilaksis. Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui
implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin. Berikan
tokolitik jika ada kontraksi yaitu MgSO4 g IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam,
Nifedipin 3 x 20 mg/hari, Betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru
janin. Jika setelah usia kehamilan di atas 34 minggu, plasenta masih berada di sekitar ostium
uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas, sehingga perlu dilakukan
observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat. Jika
perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat
dipulangkan untuk rawat jalan dengan pesan untuk segera kembali ke rumah sakit jika terjadi
perdarahan ulang.
Terapi aktif (tindakan segera)
Wanita hamil di atas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak harus
segera ditatalaksana secara aktif tanpa memandang maturitas janin. Untuk diagnosis plasenta
previa dan menentukan cara menyelesaikan persalinan, setelah semua persyaratan dipenuhi,
lakukan PDMO jika (1) infus/transfusi tela terpasang, kamar dan tim operasi telah siap, (2)
kehamilan 37 minggu (berat badan 2500 gram) dan in partu, atau (3) janin telah
meninggal atau terdapat anomali kongenital mayor (misal: anensefali), (4) perdarahan dengan
bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi luar).
Seksio sesarea
6

Prinsipnya adalah untuk menyelamatkan ibu, sehingga walaupun janin meninggal atau tak
punya harapan untuk hidup, tindakan ini tetap dilaksanakan. Tujuannya adalah melahirkan
janin dengan segera sehingga uterus dapat segera berkontraksi dan menghentikan perdarahan,
menghindarkan kemungkinan terjadinya robekan pada serviks uteri, jika janin dilahirkan
pervaginam. Tempat implantasi plasenta previa terdapat banyak vaskularisasi sehingga
serviks uteri dan segmen bawah rahim menjadi tipis dan mudah robek. Selain itu, bekas
tempat implantasi plasenta sering menjadi sumber perdarahan karena adanya perbedaan
vaskularisasi dan susunan serabut otot dengan korpus uteri. Siapkan darah pengganti untuk
stabilisasi dan pemulihan kondisi ibu. Lakukan perawatan lanjut pasca bedah termasuk
pemantauan perdarahan, infeksi, dan keseimbangan cairan masuk-keluar.
Melahirkan pervaginam
Perdarahan akan berhenti jika ada penekanan pada plasenta. Penekanan tersebut dapat
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
1. Amniotomi dan akselerasi
Umumnya dilakukan pada plasenta previa lateralis/submarginalis dengan pembukaan > 3
cm serta presentasi kepala. Dengan memecah ketuban, plasenta akan mengikuti segmen
bawah rahim dan ditekan oleh kepala janin. Jika kontraksi uterus belum ada atau masih
lemah, akselerasi dengan infus oksitosin.
2. Versi Braxton Hicks
Tujuannya adalah mengadakan tamponade plasenta dengan bokong (dan kaki) janin.
Versi Braxton Hicks tidak dilakukan pada janin yang masih hidup.
3. Traksi dengan Cunam Willet
Kulit kepala janin dijepit dengan Cunam Willet, kemudian beri beban secukupnya
sampai perdarahan berhenti. Tindakan ini kurang efektif untuk menekan plasenta dan
seringkali menyebabkan pendarahan pada kulit kepala. Tindakan ini biasanya dikerjakan
pada janin yang telah meninggal dan perdarahan yang tidak aktif.2
SOLUSIO PLASENTA
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta yang letaknya normal pada korpus uteri sebelum
janin lahir. Definisi lain mengatakan bahwa solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau
seluruh permukaan maternal plasenta dari tempat implantasinya yang normal pada lapisan
desidua endoetrium sebelum waktunya yakni sebelum anak lahir. Biasanya terjadi dalam
trimester ketiga, walaupun dapat pula terjadi setiap saat dalam kehamilan. Jika terjadi
sebelum kehamilan 20 minggu, mungkin akan dibuat diagnosis abortus imminens. Plasenta
dapat terlepas hanya pada pinggirnya saja (ruptura sinus marginalis), dapat pula terlepas lebih
7

luas (solusio plasenta parsialis), atau bisa seluruh permukaan maternal plasenta terlepas
(solusio plasenta totalis). Perdarahanyang terjadi karena terlepasnya plasenta dapat
menyelundup ke luar di bawah selaput ketuban yaitu pada solusio plasenta dengan
perdarahan keluar; atau tersembunyi di belakang plasenta yaitu solusio plasenta dengan
perdarahan tersembunyi: atau kedua-duanya; atau perdarahannya menembus selaput ketuban
masuk ke dalam kantong ketuban.
Secara klinis solusio plasenta dibagi dalam (1) solusio plasenta ringan; (2) solusio
plasenta sedang; dan (3) solusio plasenta berat. Klasifikasi ini dibuat berdasarkan tanda-tanda
kliniknya. Hal ini sesuai dengan derajat terlepasnya plasenta.
Etiologi
Hingga kini belum diketahui dengan jelas, walaupun beberapa keadaan tertentu dapat
menyertainya, seperti umur ibu yang tua, multiparitas, penyakit hipetensi menahun, preeklampsia, trauma, tali pusat yang pendek, tekanan pada vena kava inferior, dan defisiensi
asam folat.
Gambaran klinik
Solusio plasenta ringan
Rupturnya sinus marginalis atau terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah
banyak, sama sekali tidak mempengaruhi keadaan ibu atau janinnya. Jika terjadi perdarahan
pervaginam, warnanya akan kehitam-hitaman dan sedikit sekali. Perut mungkin terasa agak
sakit, atau terus-menerus agak tegang. Salah satu tanda yang menimbulkan kecurigaan akan
kemungkinan solusio plasenta ringan adalah perdarahan pervaginam yang berwarna kehitamhitaman, yang berbeda dengan perdarahan pada plasenta previa yang berwarna merah segar.
Jika dicurigai keadaan demikian, sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.
Solusio plasenta sedang
Plasenta telah terlepas lebih dari seperempat tapi belum sampai dua pertiga luas
permukaannya. Perdarahan pervaginam tampak sedikit tapi seluruh per-darahannya mungkin
telah mencapai 1000 ml. Tanda-tanda persalinan biasanya telah ada, dan persalinan itu akan
selesai dalam 2 jam. Kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal mungkin telah terjadi,
walaupun kebanyakan terjadi pada solusio plasenta berat.
Solusio plasenta berat

Plasenta telah terlepas lebih dari dua pertiga permukaannya. Terjadinya sangat tiba-tiba.
Biasanya ibu telah jatuh ke dalam syok, dan janinnya telah meninggal. Uterusnya sangat
tegang seperti papan, dan sangat nyeri. Perdarahan pervaginam tampaknya tidak sesuai
dengan keadaan syok ibunya; malahan perdarahan per vaginam mungkin belum sempat
terjadi. Besar kemungkinan telah terjadi kelainan pembekuan darah dan kelainan ginjal.
Diagnosis
Tanda dan gejala solusio plasenta berat ialah sakit perut terus-menerus, nyeri tekan pada
uterus, uterus tegang terus-menerus, perdarahan pervaginam, syok dan bunyi jantung janin
tidak terdengar lagi. Air ketuban mungkin telah berwarna kemerah-merahan karena
bercampur darah.
Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi ialah perdarahan, kelainan pembekuan darah, oliguria, dan
gawat janin sampai kematiannya.1
Terapi
Terhadap komplikasi antara lain atasi syok, oliguria atau nekrosis tubuler akut,
hipofibrinogenemia dan anemia. Tindakan obstetrik antara lain seksio sesarea dan partus
pervaginam.
Atasi syok
Dengan infus larutan NS/RL untuk restorasi cairan, berika 500 ml dalam 15 menit pertama
dan 2 L dalam 2 jam pertama. Berikan transfusi dengan darah segar untuk memperbaiki
faktor pembekuan akibat koagulasi.
Tatalaksana oliguria atau nekrosis tubuler akut
Tindakan restorasi cairan, dapat memperbaiki hemodinamika dan mempertahankan fungsi
ekskresi sistem urinaria. Tapi jika syok terjadi secara cepat dan telah berlangsung lama
(sebelum dirawat), umumnya akan terjadi gangguan fungsi ginjal yang ditandai dengan
oliguria (produksi urin < 30 ml/jam). Pada kondisi yang lebih berat dapat terjadi anuria yang
mengarah pada nekrosis tubulus renalis. Setelah restorasi cairan, lakukan tindakan untuk
mengatasi gangguan tersebut dengan furosemida 40 mg dalam 1 liter kristaloid dengan 40-60
tetesan per menit, dan jika belum berhasil, gunakan manitol 500 ml dengan 40 tetesan per
menit.

Atasi hipofibrinogenemia
Restorasi cairan/darah sesegera mungkin dapat menghindarkan terjadinya koagulopati.
Lakukan uji beku darah untuk menilai fungsi pembekuan darah. Jika darah segar tidak dapat
segera diberikan, berikan plasma beku segar (15 ml/kgbb). Jika palsam beku segar tidak
tersedia, berikan kriopresipitat fibrinogen. Pemberian fibrinogen dapat memperberat
terjadinya koagulasi diseminata intravaskuler yang berlanjut dengan pengendapan fibrin,
pembendungan mikrosirkulasi di dalam organ-orga vital seperti ginjal, glandula adrenalis,
hipofisis dan otak. Jika perdarahan masih berlangsung (koagulopati) dan trombosit dibawah
20.000, berikan konsentrat trombosit.
Atasi anemia
Darah segar erupakan bahan terpilih untuk mengatasi anemia karena disamping mengandung
butir-butir darah merah, juga mengandung unsur pembekuan darah. Jika restorasi cairan telah
tercapai dengan baik tapi pasien masih dalam kondisi anemia berat, berikan PRC.
Seksio sesarea
Dilakukan jika janin hidup dan pembukaan belum lengkap, janin hidup gawat janin tapi
persalinan pervaginam tidak dapat dilaksanakan dengan segera, janin mati tetapi kondisi
serviks tidak memungkinkan persalinan pervaginam dapat berlangsung dalam waktu yang
singkat. Persiapan seksio sesarea cukup dilakukan penanggulangan awal (stabilisasi dan
tatalaksana komplikasi) dan segera lahirkan bayi karena operasi merupakan satu-satunya cara
efektif untuk menghentikan perdarahan. Hematoma miometrium tidak mengganggu kontraksi
uterus. Observasi ketat kemungkinan perdarahan ulangan.
Partus pervaginam
Dilakukan jika janin hidup gawat janin pembukaan lengkap dan bagian terendah di dasar
pangggul, dan/atau janin telah meninggal dan pembukaan serviks > 2 cm. Pada kasus
pertama, amniotomi (jika ketuban belum pecah) kemudian percepat II dengan ekstraksi
forceps (atau vakum). Untuk kasus kedua, lakukan amniotomi (jika ketuban belum pecah)
kemudian akselerasi dengan 5 unit oksitosis dalam dextrose 5% atau RL, tetesan diatur sesuai
dengan kondisi kontraksi uterus. Setelah persalinan, gangguan pembekuan darah akan
membaik dalam waktu 24 jam, kecuali jika jumlah trombosit sangat rendah (perbaikan baru
terjadi dalam 2-4 hari kemudian).2
Prognosis
10

Prognosis ibu tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus, banyaknya
perdarahan, derajat kelainan pembekuan darah, ada tidaknya hipertensi menahun atau preeklampsia, tersembunyi tidaknya perdarahannya, dan jarak waktu antara terjadinya solusio
plasenta sampai pengosongan uterus. Prognosis janin pada solusio plasenta berat hampir
100% mengalami kematian. Pada solusio plasenta ringan dan sedang kematian janin
tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding uterus dan tuanya kehamilan.
Perdarahan yang lebih dari 2000 ml biasanya menyebabkan kematian janin. Pada kasus
solusio plasenta tertentu seksio sesarea dapat mengurangi angka kematian janin.
Sebagaimana pada kasus perdarahan, persedian darah secukupnya akan sangat membantu
memperbaiki prognosis ibu dan janinnya.1
RUPTURA UTERI
Ruptura uteri baik yang terjadi dalam masa hamil atau dalam persalinan merupakan suatu
malapetaka besar bagi perempuan tersebut dan janin yang dikandungnya. Dalam kejadian ini
boleh dikatakan sejumlah besar janin atau bahkan hampir tidak ada janin yang dapat
diselamatkan, dan sebagian besar dari perempuan tersebut meninggal akibat perdarahan atau
infeksi atau menderita cacat seumur hidup dan tidak mungkin bisa menjadi hamil kembali
karena terpaksa harus mengalami histerektomi. Setiap perempuan hamil atau melahirkan
hendaklah benar-benar mendapat pelayanan dan memperoleh perhatian yang sungguhsungguh, terlebih lagi kepada perempuan hamil risiko tinggi terhadap kemungkinan ruptura
uteri dalam masa hamil atau pada waktu melahirkan. Mereka adalah perempuan yang pernah
melahirkan sebelumnya melalui bedah sesar, pernah mengalami miomektomi, grandemultipara, kelainan letak, disproporsi kepala-panggul, distosia, induksi atau stimulasi partus,
ekstraksi bokong, ekstraksi cunam.
Definisi
Ruptura uteri komplit ialah keadaan robekan pada rahim dimana telah terjadi hubungan
langsung antara rongga amnion dan rongga peritoneum. Peritoneum viserale dan kantong
ketuban keduanya ikut ruptur dengan demikian janin sebagian atau seluruh tubuhnya telah
keluar oleh kontraksi terakhir rahim dan berada dalam kavum peritonei atau rongga abdomen.
Pada ruptura uteri inkomplit hubungan kedua rongga tersebut masih dibatasi oleh peritoneum
viserale, dan janin belum masuk kedalam rongga peritoneum.
Klasifikasi
Klasifikasi ruptura uteri menurut sebabnya ada 2 yaitu:
11

1. Kerusakan atau anomali uterus yang telah ada sebelum hamil contohnya pembedahan
pada miometrium, traumauterus koinsidental (instrumentasi sendok kuret atau sonde
pada penanganan abortus), dan kelainan bawaan (kehamilan dalam bagian rahim yang
tidak berkembang).
2. Kerusakan atau anomali uterus yang terjadi dalam kehamilan contohnya his spontan
yang kuat dan terus-menerus, tekanan kuat pada uterus dalam persalinan, dan adenomiosis.
Etiologi
Ruptura uteri bisa disebabkan oleh anomali atau kerusakan yang telah ada sebelumnya karena
trauma, atau sebagai komplikasi persalinan pada rahim yang masihutuh. Palingg sering
terjadi pada rahim yang telah diseksio sesarea pada persalinan sebelumnya. Pasien yang
berisiko tinggi antara lain persalinan yang mengalami distosia, grandemultipara, penggunaan
oksitosis atau prostaglandin untuk mempercepat persalinan, pasien hamil yang melahirkan
sebelumnya melalui bedah sesar atau operasi lain pada rahimnya, pernah histerorafia,
pelaksanaan trial of labor terutama pada pasien bekas seksio sesarea.
Gambaran klinik
Ruptura uteri komplit sudah pasti ada perdarahan yang bisa dipantau pada Hn dan tekanan
darah yang menurun, nadi yang cepat, dan kelihatan anemis dan tanda-tanda lain dari
hipovolemia serta pernapasan yang sulit berhubung nyeri abdomen akibat robekan rahim
yang mengikutsertakan peritoneum viserale robek dan merangsang ujung saraf sensoris. Pada
palpasi ibu merasa sangat nyeri dan bagian tubuh janin mudah teraba di bawah dinding
abdomen ibu dan kekuatan his yang sudah sangat menurun seolah dirasakan his telah hilang.
Pada auskultasi sering tidak terdengar denyut jantung janin, tetapi jika janin belum meninggal
bisa terdeteksi deselrasi patologik dengan pemantauan KTG. Pada periksa dalam teraba
bagian terbawah janin berpindah atau naik kembali ke luar pintu atas panggul, dan jari-jari
pemeriksa bisa menemui robekan yang berhubungan dengan rongga peritoneum dan melalui
mana terkadang dapat meraba usus.
Diagnosis
Untuk menetapkan apakah ruptura itu komplit perlu dengan periksa dalam. Pada ruptura uteri
komplit jari-jari tangan pemeriksa dapat melakukan beberapa hal sebagai berikut: (1) jari-jari
tangan dalam bisa meraba permukaan rahim dan dinding perut yang licin, (2) dapat meraba
pinggir robekan, biasanya terdapat pada bagian depan di segmen bawah rahim, (3) dapat
12

memegang usus halus atau omentum melalui robekan, (4) dinding perut ibu dapat ditekan
menonjol ke atas oleh ujung jari-jari tangan dalam sehingga ujung jari-jari tangan luar saling
mudah meraba ujung jari-jari tangan dalam.
Komplikasi
Syok hipovolemik karena perdarahan yang hebat dan sepsis akibat infeksiadalah dua
komplikasi yang fatal pada peristiwa ruptura uteri. Syok hipovolemik terjadi jika pasien tidak
segera mendapat infus cairan kristaloid yang banyak untuk selanjutnya dalam waktu yang
cepat digantikan dengan transfusi darah segar. Infeksi berat umumnya terjadi padapasien
kiriman di mana ruptura uteri telah terjadi sebelum tiba di rumah sakit dan telah mengalami
berbagai manipulasi termasuk periksa dalam yang berulang.3
Penanganan
Berikan segera cairan isotonik (Ringer Laktat atau garam fisiologis) 500 ml dalam 15-20
menit dan siapkan laparotomi. Lakukan laparotomi untuk melahirkan anak dan plasenta.
Fasilitas pelayanan kesehatan harus merujuk pasien ke rumah sakit rujukan. Jika konservasi
uterus masih diperlukan dan kondisi jaringan memungkinkan, lakukan reparasi uterus. Jika
luka mengalami nekrosis yang luas dan kondisi pasien mengkhawatirkan, lakukan histerektomi. Lakukan bilasan peritoneal dan pasang drain dari kavum abdomen. Antibiotika dan
serum anti tetanus. Jika terdapat tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, darah bercampur
cairan ketuban berbau, hasil apusan atau biakan darah) segera berikan antibiotik spektrum
luas. Jika terdapat tanda-tanda trauma alat genitalia atau luka yang kotor, tanyakan saat
terakhir mendapat tektanus toksoid. Jika hasil anamnesis tidak dapat memastikan
perlindungan terhadap tetanus, berikan serum anti tetanus 1500 IU/Imdan TT 0,5 ml IM.
Prognosis
Prognosis bergantung pada apakah ruptura uteri terjadi pada uterus yang masih utuh atau
pada bekas seksio sesarea. Faktor lain yang mempengaruhi adalah kecepatan pasien
menerima tindakan bantuan yang tepat dan cekatan.2
Daftar Pustaka
1. Perdarahan antepartum. Dalam: Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo. Ed. 3. Cetakan
5. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1999. h.362-85..

13

2. Perdarahan kehamilan lanjut dan persalinan. Dalam: Buku Acuan Nasional Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ed. 1 Cetakan 4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, 2006. h. 160-170.
3. Chalik TMA. Perdarahan pada kehamilan lanjut dan persalinan. Dalam: Ilmu Kebidanan
Sarwono Prawirohardjo. Ed. 4. Cetakan 2. Jakarta: PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo, 2009. h.514-21.

14