Anda di halaman 1dari 14

REFERAT

ASMA BRONKIAL PADA ANAK


Pembimbing :
Dr. Nurhayati Sp.P
Dr. Johni Sinaga Sp.P
Departemen Penyakit Paru RSUD Karawang

Disusun Oleh :
Anita Anggitia Permana

030.08.033

Boby Abdul Rahman

030.08.062

Dessy Esa S

030.08.074

Sarah Kamilah

030.08.217

Silminati N

030.08.227

Fakultas kedokteran Universitas Trisakti


Kepaniteraan Klinik Bagian Ilmu Penyakit Dalam
Periode 8 Oktober 16 Desember 2012
Rumah Sakit Umum Daerah Karawang

PENDAHULUAN1

Asma pada anak mempunyai berbagai aspek khusus yang umumnya berkaitan dengan
proses tumbuh dan kembang seorang anak, baik pada masa bayi, balita, maupun anak besar.
Peran atopi pada asma anak sangat besar dan merupakan faktor terpenting yang harus
dipertimbangkan dengan baik untuk diagnosis dan upaya penatalaksanaan. Mekanisme
sensitisasi terhadap alergen serta perkembangan perjalanan alamiah penyakit alergi dapat
memberi peluang untuk mengubah dan mencegah terjadinya asma melalui kontrol lingkungan
dan pengobatan pada seorang anak. Pendidikan pada pasien dan keluarga merupakan unsur
penting penatalaksanaan asma pada anak yang bertujuan untuk meminimalkan morbiditas
fisis dan psikis serta mencegah disabilitas. Upaya pengobatan asma anak tidak dapat
dipisahkan dari pemberian kortikosteroid yang merupakan anti-inflamasi terpilih untuk
semua jenis dan tingkatan asma. Pemberian kortikosteroid topikal melalui inhalasi
memberikan hasil sangat baik untuk mengontrol asma tanpa pengaruh buruk, walaupun pada
anak kecil tidak begitu mudah untuk dilakukan sehingga masih memerlukan alat bantu
inhalasi
Asma merupakan penyakit kronik tersering pada anak dan masih tetap merupakan
masalah bagi pasien, keluarga, dan bahkan para klinisi dan peneliti asma. Mengacu pada data
epidemiolog i Amerika Serikat pada saat

ini diperkirakan terdapat 4-7% (4,8 juta anak)

dari seluruh populasi asma. Selain karena jumlahnya yang banyak, pasien asma anak dapat
terdiri dari bayi , anak, dan remaja, serta mempunyai permasalahan masing-masing dengan
implikasi khusus pada penatalaksanaannya. Pengetahuan dasar tentang masalah sensitisasi
alergi dan inflamasi khususnya, telah banyak mengubah sikap kita terhadap pengobatan asma
anak, terutama tentang peran anti-inflamasi sebagai salah satu dasar pengobatan asma anak.
Oleh karena itu pengertian yang lebih baik tentang peran faktor genetik, sensitisasi dini oleh
alergen dan polutan, infeksi virus, serta masalah lingkungan sosioekonomi dan psikologi
anak dengan asma diharapkan dapat membawa perbaikan dalam penatalaksanaan asma.

A.

ANATOMI SALURAN NAPAS

Fungsi pernafasan yang utama adalah untuk mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke
dalam sel-sel tubuh dan untuk mentranspor karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel
tubuh kembali ke atmosfer. Oleh karena itu, baik anatomi maupun fisiologi paru disesuaikan
dengan fungsi ini.2 Secara anatomi, fungsi pernafasan ini dimulai dari hidung sampai ke
parenkim paru. Secara fungsional saluran pernafasan dibagi atas bagian yang berfungsi
sebagai konduksi (penghantar gas) dan bagian yang berfungsi sebagai respirasi (pertukaran
gas). Pada bagian konduksi, udara seakan-akan bolak-balik diantara atmosfir jalan nafas.
Oleh karena itu, bagian ini seakan-akan tidak berfungsi, dan disebut dengan dead space.
Akan tetapi, fungsi tambahan dari konduksi, seperti proteksi dan pengaturan kelembaban
udara, justru dilaksanakan pada bagian ini. Adapun yang termasuk dalam konduksi ialah
rongga hidung, rongga mulut, faring, laring, trakea, sinus bronkus dan bronkiolus
nonrespiratorius.3
Pada bagian respirasi akan terjadi pertukaran udara (difusi) yang sering disebut
dengan unit paru (lung unit), yang terdiri dari bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris,
atrium dan sokus alveolaris.2
Bila ditinjau dari traktus respiratorius, maka yang berfungsi sebagai konduksi adalah
trakea, bronkus utama, bronkus lobaris, bronkus segmental, bronkus subsegmental, bronkus
terminalis, bronkiolus, dan bronkiolus nonrespiratorius. Organ yang bertindak sebagai
respirasi adalah bronkiolus respiratorius, bronkiolus terminalis, duktus alveolaris, sakus
alveolaris dan alveoli.2
Percabangan trakea sampai kepada sakus alveolaris dapat diklasifikasikan sebagai
berikut : bronkus utama sebagai percabangan utama, bronkus lobaris sebagai percabangan
kedua, bronkus segmental sebagai percabangan ketiga, bronkus subsegmental sebagai
percabangan keempat, hingga sampai bagian yang keenam belas sebagai bagian yang
berperan sebagai konduksi, sedangkan bagian percabangan yang ketujuh belas sampai ke
sembilan belas yang merupakan percabangan bronkiolus respiratorius dan percabangan yang
kedua puluh sampai kedua puluh dua yang merupakan percabangan duktus alveolaris dan
sakus alveolaris adalah percabangan terakhir yang seluruhnya merupakan bagian respirasi.
Secara rinci dapat dilihat pada gambar.2

B.

FISIOLOGI PERNAPASAN6
Pernapasan atau respirasi adalah Pertukaran gas O2 dan CO2 dalam tubuh makhluk

hidup.Pada dasarnya metabolisme yang normal dalam sel-sel makhluk hidup memerlukan
oksigen dan karbondioksida. Pada hewan vertebrata terlalu besar untuk dapat terjadinya
interaksi secara langsung antara masing-masing sel tubuh dengan lingkungan luar tubuhnya.
Untuk itu organ-organ tertentu yang bergabung dalam sistem pernapasan dikhususkan untuk
melakukan pertukaran gas-gas pernapasan bagi keperluan seluruh tubuhnya. Ada dua tahap
pernapasan, tahap pertama oksigen masuk ke dalam dan pengeluaran karbondioksida ke luar
tubuh melalui organ-organ pernapasan disebut respirasi eksternal, dan pengangkutan gas-gas
pernapasan dari organ-organ pernapasan ke jaringam tubuh atau sebaliknya dilakukan oleh
sistem sirkulasi.Tahap kedua adalah pertukaran O2 dari cairan tubuh (darah) dengan CO2 dari
sel-sel dalamjaringan, disebut respirasi internal. Difusi gas-gas pernapasan antara lingkungan
denganpembuluh darah yang terdapat di bawah pembuluh respiratoris dapat terjadi jika
permukaantempat terjadinya pertukaran gas harus cukup luas dan tipis, selalu basah dan
permeabel terbadapgas-gas pernapasan, dan terdapat perbedaan konsentrasi gas-gas
pernapasan antara medium dandi luar darah.
4

C.

DEFINISI
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak elemen. Inflamasi

kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan napas yang menimbulkan gejala


episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
pada malam hari atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas
yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan
(Pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia, 2004). Asma adalah suatu kelainan
berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas
bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang
berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang
umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan (keputusan Mentri
Kesehatan Republik Indonesia No 1023/menkes/sk/xi/2008.3
Secara khas, sebagian besar serangan berlangsung singkat selama beberapa menit
hingga beberapa jam setelah itu, pasien tampak mengalami kesembuhan klinik yang total.
Namun demikian, ada suatu fase ketika pasien mengalami obstruksi jalan napas dengan
derajat tertentu setiap harinya. Fase ini dapat ringan dengan atau tanpa disertai episode yang
berat atau yang lebih serius lagi, dengan obstruksi hebat yang berlangsung selama berharihari atau berminggu-minggu. Keadaan semacam

ini dikenal sebagai status asmatikus.

Padabeberapa keadaan yang jarang ditemui, serangan asma yang akut dapat berakhir dengan
kematian.5

D.

ETIOLOGI4
Dari sudut etiologik, asma merupakan penyakit heterogenosa. Klasifikasi asma dibuat

berdasarkan rangsangan utama yang membangkitkan atau rangsangan yang berkaitan dengan episode akut.
Berdasarkan stimuli yang menyebabkan asma, dua kategori timbal balik dapatdipisahkan :
1. Asma Ekstrinsik Imunologik
Ditemukan kurang dari 10% dari semua kasus. Biasanya terlihat pada anak-anak
umumnya tidak berat dan lebih mudah ditangani daripada bentuk intrinsik. Kebanyakan
penderita adalah atopik dan mempunyai riwayat keluarga yang jelas dari semua bentuk alergi
5

dan mungkin asma bronkial. Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan olehfaktorfaktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, dan
spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
terhadap alergi.7
2. Asma Intrinsik Imunologik
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau
tidak diketahui, seperti aspirin dan obat-obat sejenisnya, latihan jasmani,emosi, cuaca/ udara
dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan
asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat
berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema.Beberapa pasien akan mengalami asma
gabungan. Dapat terjadi pada segala usia dan ada kecenderungan untuk lebih sering kambuh
dan berat. Lebih sering berkembang ke statusasmatikus.7
Banyak penderita mempunyai kedua bentuk asma diatas. Penting untuk ditekankan
bahwaperbedaan ini sering hanya merupakan perkiraan saja dan jawaban terhadap
subklasifikasiyang diberikan biasanya dapat dibangkitkan oleh lebih dari satu jenis
rangsangan. Dengan mengingat hal ini, dapat diperoleh dua kelompok besar, yaitu alergi dan
idiosinkrasi.
Asma alergik seringkali disertai dengan riwayat pribadi dan atau keluarga
mengenaipenyakit alergi, seperti rinitis, urtikaria dan ekzema. Reaksi kulit wheal and flare
yang positif terhadap penyuntikan intradermal ekstrak antigen yang terbawa udara,
peningkatan kadar IgEdalam serum dan respons positif terhadap tes provokasi yang meliputi
inhalasi antigen spesifik 7
Idiosinkrasi

disebut

sebagai

bagian

dari

populasi

pasien

asma

yang

akanmemperlihatkan riwayat alergi pribadi atau keluarga negative, uji kulit negatif, dan kadar
IgEserum normal. Oleh sebab itu tidak dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme
imunologik yang sudah jelas. Banyak pasien kelompok ini akan

menderita kompleks

gejalayang khusus berdasarkan gangguan saluran napas bagian atas. Gejala awal mungkin
hanyaberupa gejala flu biasa, tetapi setelah beberapa hari pasien mulai mengalami
mengiparoksismal dan dispnea yang dapat berlangsung selama berhari-hari samapai
berbulan-bulan.8

E.

PATOGENESIS
1.
REAKSI INFLAMASI1
Patogenesis asma dapat diterangkan secara sederhana sebagai bronkokonstriksi akibat

proses inflamasi yang terjadi terus-menerus pada saluran napas. Karena itu pemberian antiinflamasi memegang peranan penting pada pengobatan dan kontrol asma. Terlihat bahwa
setelah pemberian inhalasi kortikosteroid akan terjadi penurunan bermakna sel inflamasi dan
pertanda permukaan sel pada sediaan bilas dan biopsi bronkoalveolar. Pemberian
bronkodilator saja tidak dapat mengatasi reaksi inflamasi dengan baik.
Pada tingkat sel tampak bahwa setelah terjadi pajanan alergen serta rangsang infeksi
maka sel mast, limfosit, dan makrofag akan melepas faktor kemotaktik yang menimbulkan
migrasi eosinofil dan sel radang lain. Pada tingkat molekul terjadi pelepasan berbagai
mediator serta ekspresi serangkain reseptor permukaan. oleh sel yang saling bekerjasama
tersebut yang akan membentuk jalinan reaksi inflamasi. Pada orkestrasi proses inflamasi ini
sangat besar pengaruh sel Th2 sebagai regulator penghasil sitokin yang dapat memacu
pertumbuhan dan maturasi sel inflamasi alergi. Pada tingkat jaringan akan tampak kerusakan
epitel serta sebukan sel inflamasi sampai submukosa bronkus, dan mungkin terjadi
rekonstruksi mukosa oleh jaringan ikat serta hipertrofi otot polos.
2.

SENSITISASI1
Berbagai penelitian asma pada anak memperlihatkan adanya suatu pola hubungan

antara proses sensitisasi alergi dengan perkembangan dan perjalanan penyakit alergi yang
dikenal sebagai allergic march (perjalanan alamiah penyakit alergi). Secara klinis allergic
march terlihat berawal sebagai alergi saluran cerna (diare alergi susu sapi) yang akan
berkembang menjadi alergi kulit (dermatitis atopi) dan kemudian alergi saluran napas (asma
bronkial, rinitis alergi).
Suatu penelitian memperlihatkan bahwa kelompok anak dengan gejala mengi pada
usia kurang dari 3 tahun, yang menetap sampai usia 6 tahun, mempunyai predisposisi ibu
asma, dermatitis atopi, rinitis alergi, dan peningkatan kadar lgE, dibandingkan dengan
kelompok anak dengan mengi yang tidak menetap. Laporan tersebut juga menyatakan bahwa
anak mengi yang akan ber kembang menjadi asma terbu kti mempunyai kemampuan untuk
membentuk respons lgE serta respons eosinofil pada uji provokasi berbagai stimuli. Proses
sensitisasi diperkirakan telah terjadi sejak awal masa kehidupan, secara bertahap mulai dari
rangsang alergen makanan dan infeksi virus, sampai kemudian rangsang aeroalergen. Proses
7

tersebut akan mempengaruhi modul respons imun yang akan lebih cenderung ke arah
aktivitas Th2.
Kecenderungan aktivitas Th2 akan menurunkan produk IL-2 dan IFN- oleh Th2.
Terbukti bahwa anak deng an r e spons IFN- r endah pada masa awal kehidupannya akan
lebih tersensitisasi oleh aeroallergen dan menderita asma pada usia 6 tahun dibandingkan
dengan anak dengan respon IFN- normal.

Gambar 1. Patogenesis Asma

F.

DIAGNOSIS1
8

Masalah penting

pada

morbiditas asma adalah kemampuan untuk menegakkan

diagnosis, dan seperti telah kita ketahui bahwa diagnosis asma pada anak tidak selalu mudah
untuk ditegakkan. Beberapa criteria diagnosis untuk itu selalu mempunyai berbagai
kelemahan, tetapi umumnya disepakati bahwa hiper reaktivitas bronkus tetap merupakan
bukti objektif yang perlu untuk diagnosis asma, termasuk untuk asma pada anak.
Gejala klinis utama asma anak pada umumnya adalah mengi berulang dan sesak
napas, tetapi pada anak tidak jarang batuk kronik dapat merupakan satusatunya gejala klinis
yang ditemukan. Biasanya batuk kronik itu berhubungan dengan infeksi saluran napas atas.
Selain itu harus dipikirkan pula kemungkinan asma pada anak bila terdapat penurunan
toleransi terhadap aktivitas fisik atau gejala batuk malam hari.
Sebagian besar manifestasi akan muncul sebelum usia 6 tahun dan kebanyakan gejala
awal sudah ditemukan pada masa bayi, berupa mengi berulang atau tanpa batuk yang
berhubungan deng an infeksi virus . Hubungan antara mengi semasa bayi dengan kejadian
asma pada masa kehidupan selanjutnya telah banyak dibahas, para peneliti umumnya
melaporkan bahwa hanya sebagian kecil saja (3-10%) dari kelompok bayi mengi yang
berhubungan dengan infeksi virus tersebut akan memperlihatkan progresivitas klinis menjadi
asma bronkial.

G.

FAKTOR ATOPI9
Sebagian sangat besar asma pada anak mempunyai dasar atopi, dengan alergen

merupakan pencetus utama serangan asma. Diperkirakan bahwa sampai 90% anak pasien
asma mempunyai alergi pada saluran napas, terutama terhadap alergen dalam rumah (indoor
allergen) seperti tungau debu rumah, alternaria, kecoak, dan bulu kucing.
Telah disebutkan sebelumnya bahwa sebagian besar pasien asma berasal dari keluarga
atopi, dan kandungan IgE spesifik pada seorang bayi dapat menjadi predictor untuk
terjadinya asma kelak di kemudian hari. Karena itu sangat penting untuk menelusuri dan
membuktikan faktor atopi sebagai pendekatan diagnosis klinis pada anak dengan gejala klinis
yang sesuai dengan asma bronkial. Riwayat atopi dalam keluarga, riwayat penyakit atopi
sebelumnya pada pasien, petanda atopi fisis pada anak, petanda laboratorium untuk alergi,
dan bila diperlukan uji eliminasi dan provokasi, dapat menunjang diagnosis asma pada anak
tersebut.
9

H.

TATALAKSANA
Pada masa anak terjadi proses tumbuh- kembang fisis, faal, imunologi, dan perilaku

yang memberi peluang sangat besar bagi

kita untuk melakukan upaya pencegahan,

kontrol, self-management, dan pengobatan asma. Walaupun medikamentosa selalu


merupakan unsur penting pengobatan asma anak, harus tetap diingat bahwa hal tersebut
hanyalah merupakan salah satu dari berbagai komponen utama penatalaksanaan asma.
Penatalaksanaan asma yang baik harus disokong oleh pengertian tentang peran genetik,
alergen, polutan, infeksi virus, serta lingkungan sosioekonomi dan psikologis pasien beserta
keluarga.9
Pendidikan dan penjelasan tentang asma pada pasien dan kelua rga merupakan unsur
penting penatalaksanaan asma pada anak. Perlu penjelasan sederhana tentang proses
penyakit, faktor risiko, penghindaran pencetus, manfaat dan cara kontrol lingkungan, cara
mengatasi serangan akut, pemakaian obat dengan benar, serta hal lain yang semuanya
bertujuan untuk meminimalkan morbiditas fisis dan psikis serta mencegah disabilitas. Bila
ditangani dengan baik maka pasien asma dapat memperoleh kualitas hidup yang sangat
mendekati anak normal, dengan fungsi paru normal pada usia dewasa kelak walaupun tetap
menunjukkan saluran napas yang hiperresponsif.
Pengobatan asma pada dasarnya bertujuan untuk mendapatkan dan menjaga status
aktivitas anak normal dan faal paru normal, mencegah timbulnya asma kronik, serta
mencegah pengaruh buruk tindakan pengobatan. Secara umum obat asma dapat dibagi
menjadi dua kelompok, yaitu obat pelega (relievers) dan obat pengontrol (controllers).
Obat pelega asma bertujuan untuk melegakan saluran napas dan menghilangkan
serangan serta eksaserbasi akut dengan pemberian bronkodilator. Bronkodilator yang banyak
dipakai saat ini adalah 2- agonis, selain xantin dan antikolinergik. Obat pengontrol asma
bertujuan menjaga dan mengontrol asma persisten dengan mencegah kekambuhan. Obat
pengontrol asma yang banyak dipergunakan adalah kortikosteroid, selain anti-inflamasi lain
seperti sodium kromolin, nedokromil, inhibitor dan antagonis leukotrien, serta berbagai
antihistamin generasi baru.11
Obat 2 agonis bermanfaat untuk dipakai sebagai terapi intermiten asma episodik,
sebagai tambahan terapi intermiten, atau terapi rutin penunjang anti-inflamasi pada asma
10

relaps berulang atau kronis, sebelum aktifitas fisik untuk menghambat exercise induced
asthma, dan untuk penolong asma akut. Obat ini tersedia dalam bentuk oral, atau inhalasi
yang efektif dilakukan dengan inhaler dosis terukur, rotohaler, atau nebuliser.10
Teofilin merupakan preparat metil-xantin yang pada masanya sangat populer untuk
terapi rumatan asma kronik ringan, dan sebagai penunjang pengobatan asma kronik berat.
Walaupun saat ini masih banyak dipakai, teofilin tidak begitu menarik lagi setelah
pengobatan anti-inflamasi untuk asma lebih terfokus kepada kortikosteroid. Selama ini efek
anti-inflamasi teofilin memang masih sering dipertanyakan. Selain itu metabolisme teofilin
diketahui akan terganggu dalam keadaan demam oleh penyakit tertentu, seperti influenza,
atau oleh obat seperti eritromisin, simetidin, dan siprofloksasin. Pada anak, teofilin juga
diketahui dapat mempengaruhi prestasi sekolah sehingga tidak di anjur k an untuk diberikan
pada anak deng an gangguan psikologis atau gangguan belajar.
Obat antikolinergik selain bersifat bronkodilator juga akan mengurangi hipersekresi
mukus dan mengatasi iritabilitas reseptor batuk. Obat ini tersedia dalam bentuk inhalasi dan
nebulasi, terbukti efektif untuk asma akut bila diberikan bersama 2-agonis.10
Seperti telah disebutkan maka pengontrol asma merupakan pengobatan yang efektif
untuk pencegahan asma dan dipergunakan untuk semua tingkatan asma. Kortikosteroid
merupakan obat terpilih dan sangat efektif, baik dalam bentuk parenteral dan oral untuk
jangka pendek, maupun bentuk inhalasi yang terutama dicadangkan untuk pemakaian jangka
panjang. Sejak mula pertama dipergunakan

lebih dari 20 tahun

lalu terlihat bahwa

kortikosteroid inhalasi jelas memberi efek terapi sangat baik untuk asma ringan, sedang, dan
berat; baik untuk pengobatan jangka pendek maupun jangka panjang. Sejauh ini tidak
ditemukan efek buruk yang berarti bila diberi dengan dosis yang dianjurkan.11

I.

PENCEGAHAN10
Upaya pencegahan asma anak mencakup pencegahan dini sensitisasi terhadap alergen

sejak masa fetus, pencegahan manifestasi asma bronkial pada pasien penyakit atopi yang
belum menderita asma, serta pencegahan serangan dan eksaserbasi asma. Kontrol lingkungan
merupakan upaya pencegahan untuk menghindari pajanan alergen dan polutan, baik untuk
mencegah sensitisasi maupun penghindaran pencetus. Para peneliti umumnya menyatakan
bahwa alergen utama yang harus dihindari adalah tungau debu rumah, kecoak, bulu hewan
peliharaan terutama kucing, spora jamur, dan serbuk sari bunga. Polutan harus dihindari
11

adalah asap tembakau sehingga mutlak dilarang merokok dalam rumah. Polutan yang telah
diidentifikasi berhubungan dengan eksaserbasi asma adalah asap kendaraan, kayu bakar,
ozon, dan SO2. Penghindaran maksimal harus dilakukan di tempat anak biasa berada,
terutama kamar tidur dan tempat bermain sehari-hari. Untuk Indonesia, walaupun belum ada
data yang menyokong, agaknya kita harus menghindari obat nyamuk dan asap lampu minyak.
Beberapa klinik telah melakukan upaya pencegahan sensitisasi terhadap fetus dan
bayi, antara lain dengan memberikan diet hipo dan non alergeni k serta penghindaran asap
rokok. Walaupun secara teoritis pemberian diet hipoalergenik pada masa trimester ketiga
kehamilan sangat menarik, ternyata bukti klinis penelitian tersebut tidaklah menggembirakan.
Tidak terlihat perbedaan kejadian penyakit alergi pada umur 5 tahun antara kelompok
perlakuan dan kelola. Hasil lebih baik justru akan terlihat pada bayi yang mendapat ASI dari
ibu dengan diet hipoalergenik pada masa laktasi.
Sebaliknya terbukti bahwa ibu perokok akan membahayakan perkembangan paru bayi
baik dilakukan pada masa sebelum maupun setelah kelahiran, yang berpengaruh terhadap
peningkatan risiko terjadinya mengi dan infeksi virus serta asma kronik anak. Berdasarkan
pengetahuan dasar tentang proses sensitisasi dan allergic march maka upaya pencegahan
asma dilakukan juga dengan mencegah dan menghambat perjalanan alamiah penyakit alergi.
Upaya tersebut antara lain adalah den gan mencegah timbulnya suatu penyakit alergi (asma)
pada anak yang telah tersensitisasi. Suatu uji klinis multisenter ETAC (early treatment of the
atopic child) telah menunjukkan manfaat setirizin untuk menghambat timbulnya asma pada
anak kecil penderita dermatitis atopi yang sudah tersensitisasi terhadap alergen tertentu tetapi
belum menderita asma. Untuk anak yang sudah menderita asma dilakukan pengobatan
pencegahan dan kontrol asma yang bertujuan

untuk mencegah

kekambuhan ,

atau

menurunkan kekerapan serta derajat serangan asma, dengan pemberian sodium kromolin,
ketotifen, inhibitor dan antagonis leukotrien, serta kortikosteroid.
Sodium kromolin sulit diaplikasi pada anak kecil, sedangkan inhibitor serta antagonis
leukotrien baru di anjur kan untuk anak besar (>12 t ahun) saja . Ketotifen sejauh ini
memberikan efek profilaksis terutama untuk asma ringan. Berbagai jenis antihistamin
generasi baru mungkin dapat bermanfaat pula sebagai pencegah asma tetapi uji klinis yang
memadai untuk itu belum ada. Sejauh ini kortikosteroid merupakan antiinflamasi terpilih
yang paling efektif untuk pencegahan asma. Pemberian kortikosteroid inhalasi dapat
mengontrol asma kronik dengan baik, walaupun pada anak kecil relatif lebih sulit dilakukan
sehingga membutuhkan alat bantu inhalasi.
12

KESIMPULAN

Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak elemen. Inflamasi
kronik menyebabkan peningkatan hiperresponsif jalan napas yang menimbulkan gejala
episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
pada malam hari atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas
yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan .
Serangan asma dapat berupa serangan sesak napas ekspiratoir yang paroksismal, berulangulang dengan mengi (wheezing) dan batuk yang disebabkan oleh konstriksi atau spasme
otot bronkus, inflamasi mukosa bronkus dan produksi lendir kental yang berlebihan.
Meskipun asma dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada anak-anak,
terutama sekali pada anak mulai usia 5 tahun.
Pada masa anak terjadi proses tumbuh- kembang fisis, faal, imunologi, dan perilaku
yang memberi peluang sangat besar bagi

kita untuk melakukan upaya pencegahan,

kontrol, self-management, dan pengobatan asma. Walaupun medikamentosa selalu


merupakan unsur penting pengobatan asma anak, harus tetap diingat bahwa hal tersebut
hanyalah merupakan salah satu dari berbagai komponen utama penatalaksanaan asma.
Kontrol lingkungan merupakan upaya pencegahan untuk menghindari pajanan alergen
dan polutan, baik untuk mencegah sensitisasi maupun penghindaran pencetus.

Daftar Pustaka
1. Akib A. Sari Pediatri. Vol 4 no 2. September 2002; 78-82.
2. Morris MJ. Asthma. [ updated 2011 June 13; cited 2012 october 29].Available from :
http://emedicine.medscape.com/article/296301.
3. Price S, Willson LM. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Bagian 2
edisi 4. 1995. Jakarta: EGC: 646.
13

4. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku
Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan Ke 7. Percetakan Infomedika : Jakarta, 2002.
5. Robbins dkk. Buku Ajar Patologi II. Edisi 4. Alih Bahasa : Staf pengajar
Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta, 1995.
6. Price, Sylvia A., Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit Edisi 6 Volume 1. Alih Bahasa: Brahm U.Pendit,Huriawati Hartanto, Pita
Wulansari, Dewi Asih Mahanani. Jakarta: EGC.
7. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Asma : Pedoman Diagnosis dan Penatalaksaan
di Indonesia. Balai Penerbit FKUI : Jakarta, 2004.
8. Isselbacher. Harrison Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit dalam. Edisi 13. Volume 3. Editor
Edisi bahasa Indonesia : Ahmad H. Asdie. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta,
2000.
9. Gern JE, Lemanske Jr RF. Pediatric allergy: can it be prevented? Immunol Allergy
Clin North Amer 1999;19:233-52.
10. Sherrill DL, Stein R, Halonen M, Holberg CJ, Wright A, Martinez FD. Total serum
lgE and its association with asthma symptoms and allergic sensitization among
children. J Allergy Clin Immunol 1999; 104:28-36.
11. Saphiro GG. Management of pediatric asthma. Care by the specialist. Immunol
Allergy Clin North Am 1998; 18:1-23.

14