Anda di halaman 1dari 2

Manipulasi Amalgam

1. Seleksi alloy, biasanya yang digunakan adalah high-Cu alloy.

2. W/Puskesmas ratio (1:1). Perbandingan ini berbeda-beda sesuai dengan


perbedaan komposisi logam campur, ukuran partikel, bentuk partikel, dan
suhu yang digunakan.

3. Triturasi, yaitu proses pencampuran amalgam alloy dan merkuri dengan


menggunakan amalgamator selama waktu yang telah ditentukan.

4. Penempatan dan kondensasi agar kekuatan amalgam bertambah dan


keroposan akan berkurang.

5. Pengukiran (burnisher) dan penyelesaian akhir. Jika pengukiran terlalu


dalam, ketebalan amalgam akan berkurang, terutama di tepi gigi. Jika
terlalu tipis, bisa patah dibawah tekanan pengunyahan.

Manipulasi resin komposit

1. Perlindungan pulpa, jika terdapat kavitas yang dalam, maka diperlukan


GIC atau hybrid-ionomer untuk melindungi pulpa.

2. Etching dan bonding, agar dapat berikatan dengan baik antara gigi dan
Resin konposit, sebelumnya enamel dan dentin harus dietsa
menggunakan asam phosporik atau suatu asam primer. Aplikasi bonding
agent akan memberikan ketahanan secara mekanik pada restorasi.

3. Peletakan, komposit dapat diletakkan pada kavitas dengan menggunakan


beberapa metode. Dapat menggunakan instrument plastic ataupun logam.
Dapat pula menggunakan semprit berujung plastic kemudian massa
komposit disuntikkan ke kavitas..

4. Pilimerisasi

5. Ada beberapa macam yang digunakan untuk mendukung polimerisasi


komposit yaitu: light cured, self cured, dan dual cured.

Robert G. Craig. Restoratif Dental Material. Philadelpia: Mosby Inc. 12th


ed. 2006. Page 201-3, 248-59.

Tanda-tanda klinis karies proksimal.

Karies proksimal adalah tipe yang paling sulit di deteksi. Tipe ini kadang tidak
dapat dideteksi secara visual atau manual dengan sebuah eksplorer. Diperlukan
pemeriksaan radiograf untuk mendukung pendeteksian karies tipe ini. Namun
pemeriksaan klinik dapat dilakukan atau diusahakan dengan melihat keadaan
pasien. Contohnya individu dengan karies rampan biasanya tidak terhindar dari
lesi karies pada permukaan ini. Jadi sebelum terlihat kavitas yang nyata pada
permukaan halus bagian aproksimal gigi lesi dini yang mungkin sudah terjadi
dapat dihentikan dengan prosedur preventif seperti aplikasi flour ataupun
minimal intrvensi yang dapat diberikan.
Theodore, Harald, and Edward. Sturdevant’s art and Science of
Operative Dentistry. 4th Ed. St.Louis: Morby Inc. 2002. page 18-28

Perawatan non invasive

Perawatan non invasive.

• DHE (Dental Health Education

• Konsultasi diet

• Aplikasi flour topical

• Pengendalian plak

• Penutup fisura (fisure sealant)

Pit dan fissure sealant telah digunakan dalam strategi preventif sejak tahun
1970an, dan menjadi perawatan non-invasif yang paling efektif untuk
mencegah karies oklusal yang terhenti [arrested]. Namun, menurut suatu
penelitian dari Third National Health and Nutrition Examination Survey
(1988-1991) satu dari lima anak yang memperoleh manfaat metode
pencegahan yang aman dan efektif ini. Saat ini, tersedia 2 tipe pit dan fissure
sealant, yaitu sealant berbasis-resin dan semen glass ionomer (GIC).

• Restorsasi minimal

Jika restorasi kecil dikombinasikan dengan penutup fisur, prosedur demikian


tersebut sebagai suatu cara konservatif perawatan karies fisur yang masih dini
dan mencegah perkembangannya yang lebih klanjut. Pemacam ini
hendaknyanggunaan restorasi dibarengi dengan pengendalian diet dan plak
yang memadai.

T. R. Pitt Ford. Restorasi Gigi. Ed 2. Jakarta: EGC. h. 19-20.1993