0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
278 tayangan4 halaman

Hakikat Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan memiliki banyak manfaat spiritual dan fisik. Secara spiritual, puasa membantu memperkuat iman dengan mengendalikan hawa nafsu, mendidik kesabaran, dan mendekatkan diri kepada Allah. Secara fisik, puasa menyehatkan tubuh dan membantu menghargai nikmat yang diberikan Allah. Puasa juga mengingatkan kita untuk peduli terhadap penderitaan orang lain.

Diunggah oleh

Mohd Tuah Atan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
278 tayangan4 halaman

Hakikat Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan memiliki banyak manfaat spiritual dan fisik. Secara spiritual, puasa membantu memperkuat iman dengan mengendalikan hawa nafsu, mendidik kesabaran, dan mendekatkan diri kepada Allah. Secara fisik, puasa menyehatkan tubuh dan membantu menghargai nikmat yang diberikan Allah. Puasa juga mengingatkan kita untuk peduli terhadap penderitaan orang lain.

Diunggah oleh

Mohd Tuah Atan
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HAKIKAT PUASA RAMADHAN

Dicatat oleh KEMBARA SUFI on Sabtu, 30 Julai 2011


Label: Agama

Diantara rahasia dan hakekat shiyam Ramadhan dapat disimpulkan menjadi tujuh perkara
yang dapat dirasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan:
1. Menguatkan Jiwa
Dalam hidup ini, tak sedikit didapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya, lalu
manusia itu menuruti apapun yang menjadi keinginannya meskipun keinginan itu merupakan
sesuatu yang bathil dan mengganggu serta merugikan orang lain. Karenanya, didalam Islam
ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dalam arti berusaha untuk bisa mengendalikannya,
bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu
yang bersifat duniawi. Manakala dalam peperangan ini manusia mengalami kekalahan,
malapetaka besar akan terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu
itu dan akan mengalihkan penuhanan dari Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa
nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan. Allah memerintahkan kita
memperhatikan masalah ini dalam firman-Nya:
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya
dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nyadan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang
akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak
mengambil pelajaran?. (Qs. Al Jaatsiah, 45: 23)
Maka dengan ibadah puasa, maka manusia akan berhasil mengendalikan hawa nafsunya yang
membuat jiwanya menjadi kuat, bahkan dengan demikian, manusia akan memperoleh derajat
yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci dan ini akan membuatnya mampu mengetuk
dan membuka pintu-pintu langit hingga segala doanya dikabulkan oleh Allah Swt. Rasulullah
Saw bersabda :

Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doa mereka: Doa pemimpin yang adil, doa
orang yang berpuasa hingga berbuka, dan doa orang yang dizalimi. Allah Taala
mengangkat doanya keatas awan dan dibuka baginya pintu-pintu langit, dan Allah Tabaraka
Wataala berfirman, Demi keagungan-Ku sungguh pasti aku akan menolongmu tak lama
lagi." (HR. Ahmad, At Tirmidzi dan Ibnu Mjjah.
2. Mendidik Kemauan
Puasa mendidik seseorang untuk memiliki kemauan yang sungguh-sungguh dalam kebaikan,
meskipun untuk melaksanakan kebaikan itu terhalang oleh berbagai kendala. Puasa yang baik
akan membuat seseorang terus mempertahankan keinginannya yang baik, meskipun peluang
untuk menyimpang begitu besar. Karena itu Rasulullah Saw menyatakan:




Puasa itu setengah dari kesabaran. (HR. Ibn Majah, shahih dari Abu Hurairah)
Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima.
Kekuatan rohani yang prima akan membuat seseorang tidak akan lupa diri meskipun telah
mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga
akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami
sangat sulit.
3. Menyehatkan Badan
Disamping kesehatan dan kekuatan rohani, puasa yang baik dan benar juga akan memberikan
pengaruh positif berupa kesehatan jasmani. Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah
Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter atau ahli-ahli kesehatan dunia yang
membuat kita tidak perlu meragukannya lagi. Mereka berkesimpulan bahwa pada saat-saat
tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk
sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang
harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk
udara. Oleh karena itu diwaktu berbuka puasa, tidak boleh terlalu banyak makan sekalipun
makanan itu halal sehingga perut tidak mampu memuatnya lagi, akibatnya perut menjadi sakit
karena terlalu penuh diisikan makanan dan minuman.
Para ulama mengatakan: Tidak ada suatu wadah yang paling dibenci Allah dari pada perut
yang penuh terisi dari pada apa-apa yang halal. Bagaimana kalau sampai terisi dari makanan
dan minuman yang haram? Inilah hikmah puasa yang sangat besar, yang tujuan utamanya
ialah menentang segala macam yang tidak baik, kemaksiatan dan kemungkaran. Juga untuk
mematahkan kehendak hawa nafsu agar jiwa menjadi kuat untuk melaksanakan ketaqwaan
kepada Allah Swt. Dengan berpuasa badan menjadi sehat dan kuat, sehingga ibadah kepada
Allah dapat dilakukan dengan maksimal.
4. Mengenal Nilai Kenikmatan
Dalam hidup ini, sebenarnya sudah begitu banyak kenikmatan yang Allah berikan kepada
manusia, tapi banyak pula manusia yang tidak pandai mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa
nikmat karena menginginkan dua, dapat dua tidak terasa nikmat karena menginginkan tiga
dan begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa

yang diperolehnya sebenarnya sudah sangat menyenangkan karena begitu banyak orang yang
memperoleh sesuatu tidak lebih banyak atau tidak lebih mudah dari apa yang kita peroleh.
Maka dengan puasa, manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi tentang
kenikmatan yang sudah diperolehnya, tapi juga disuruh merasaakan langsung betapa besar
sebenarnya nikmat yang Allah berikan kepada kita. Hal ini karena baru beberapa jam saja kita
tidak makan dan minum sudah terasa betul penderitaan yang kita alami, dan pada saat kita
berbuka puasa, terasa betul besarnya nikmat dari Allah meskipun hanya berupa sebiji kurma
atau seteguk air.
Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai
kenikmatan yang Allah berikan agar kita selanjutnya menjadi orang yang pandai bersyukur
dan tidak mengecilkan arti kenikmatan dari Allah meskipun dari segi jumlah memang sedikit
dan kecil. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi
jumlah atau paling tidak dari segi rasanya. Allah Swt berfirman:
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur,
pasati Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),
maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (Qs. Ibrahim, 14: 7)
5. Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain
Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya
penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan
akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah
kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa
solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini
masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Poso, Ambon Maluku,
Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia
lainnya seperti di Chechnya, Kosovo, Irak, Palestina, Pakistan, Afganistan dan sebagainya.
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita
diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa
mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi
kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar
dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta,
kikir dan sebagainya. Allah Swt berfirman :
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka,dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Qs. At
Taubah, 9: 103)
6. Melatih Diri Untuk Menundukkan Musuh Allah
Musuh Allah Swt yaitu syetan (baik dari kalangan jin maupun manusia) menggunakan sarana
syahwat untuk mengalahkan lawannya (manusia). Syahwat terbagi menjadi dua macam, yaitu
syahwat yang timbul dari perut dan dari kemaluan. Syahwat ini bisa menjadi bertambah kuat
karena makanan dan minuman. Selama ladang syahwat tetap subur, maka syetan bisa bebas

berkeliaran ditempat gembalaan yang subur itu. Tetapi jika syahwat dipersempit dengan
berpuasa maka jalan kesana juga menjadi sempit bagi si syetan itu.
Ada banyak riwayat yang menjelaskan bahwa syetan terbelenggu didalam bulan ramadhan
sehingga menjadi sempit ruang geraknya menggoda manusia disebabkan karena manusia
sedang berpuasa. Sebuah riwayat dari sahabat Anas Ra berkata, Rasulullah Saw bersabda:

Sesungguhnya syetan itu berjalan pada tubuh anak Adam mengikuti aliran darah. (HR.
Ahmad, Bukhari Muslim dan Abu Daud).
Orang yang berpuasa berarti mengurangi makan dan minum. Ladang syahwat menjadi sempit,
saluran darah mengecil sehingga kebebasan syetan menggoda terhalang, kemudian potensi
jahatnya terbelenggu. Inilah keistimewaan shiyam yang memiliki potensi mengalahkan musuh
Allah Swt.
7. Menahan Seluruh Anggota Tubuh Dari Perbuatan Dosa
Khususnya memejamkan mata dan mengekangnya dari melihat yang diharamkan Allah,
menjaga lisan dari perkataan yang berdosa dan kotor, jelek dan menjijikkan, menahan
pendengaran dari mendengarkan apa saja yang tidak disenangi menurut ukuran agama, karena
setiap perkara yang haram diucapkan maka menjadi haram pula mendengarkannya, menahan
tangan dan kaki jangan sampai mengerjakan hal-hal terlarang dari segi agama, demikian pula
menahan perut dari memakan apa-apa yang haram dan syubhat. Sebab apabila orang yang
berpuasa memakan sesuatu yang haram atau syubhat berarti sia-sialah puasa yang dikerjakan.
Jika semua ini telah difahami dapatlah kita mengambil kesimpulan sesuai dengan apa yang
telah dipesankan oleh Nabi Muhammad Saw dalam sabdanya:



Banyak sekali orang yang berpuasa, padahal dia tidak dapat hasil apa-apa dari puasanya
kecuali lapar dan haus saja. (HR. An Nasai dan Ibn Majah)
Wallahualam

Anda mungkin juga menyukai