Anda di halaman 1dari 20

MODUL PERKULIAHAN

Perbankan
Syariah
Transaksi
Ijarah
Fakultas

Program Studi

Ekonomi dan Bisnis

S1 Akuntansi

Tatap Muka

13

Kode MK

DisusunOleh

84048

Safira, SE.Ak, M.Si

Abstract

Kompetensi

Modul ini membahas tentang transaksi


ijarah dan transaksi ijarah muntahiya
bittamlik (IMBT)

Kemampuan memahami dalam


memproses transaksi ijarah

TRANSAKSI IJARAH
Pengertian
Ijarah dan Ijarah Muntahiya Bit Tamlik (IMBT) merupakan transaksi sewa menyewa
yang diperbolehkan oleh syariah. Akad Ijarah merupakan akad yang memfasilitasi
transaksi pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu barang atau jasa dalam waktu
tertentu melalui pembayran sewa/upah tanpda diikuti pemindahan kempemilikan
barang. Adapun akan IMBT memfasilitasi transaksi ijarah, yang pada akhir masa
sewa, penyewa diberi hak pilih untuk memiliki barang yang disewa dengan cara
yang disepakati oleh kedua belah pihak. Akad ijarah dalam suatu lembaga keuangan
syariah dapat digunakan untuk transaksi penyewaan suatu barang maupun
penggunaan suatu jasa yang dibutuhkan oleh nasabah.
Bagi bank syariah, transaksi ini memiliki beberapa keunggulan jika dibandingkan
dengan jenis akad lainnya yaitu:
1. Dibandingkan dengan akad murabahah, akad ijarah lebih fleksibel dalam hal
objek transaksi.
2. Dibandingkan dengan investasi, akad ijarah mengandung resiko usaha yang
lebih rendah, yaitu adanya pendapatan sewa yang relatif tetap

Ketentuan SyarI Transaksi Ijarah dan Transaksi IMBT


Berdasarkan terminologi, Ijarah adalah memindahkan kepemilikan fasilitas dengan
imbalan. Penyewaan dalam sudut pandang islam meliputi dua hal yaitu; Pertama,
penyewaan terhadap potensi atau sumber daya manusia; Kedua, penyewaan
terhadap suatu fasilitas. Penyewaan terhadap potensi manusia, misalnya adalah
menyewa

seseorang

untuk

membantu

pekerjaan

dalam

waktu

tertentu

(dikategorikan oleh ahli fikih dengan pekerja pribadi) atau untuk menyelesaikan satu
pekerjaan tertentu (dikategorikan oleh ahli fikih dengan pekerja umum). Adapun
penyewaan untuk fasilitas antara lain penyewaan tempat tinggal, tanah garapan atau
mobil angkutan.
Ketentuan syarI transaksi ijarah diatur dalam fatwa DSN Nomor 09 tahun 2000.
Adapun ketentuan syari transaksi ijarah untuk penggunaan jasa diatur dalam fatwa
DSN Nomor 44 tahun 2004. Sedangkan ketentuan syari IMBT diatur dalam fatwa
DSN no 27 tahun 2000.

201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Rukun Transaksi Ijarah dan Transaksi IMBT


Rukun transaksi ijarah meliputi (a) transaktor yakni penyewa dan pemberi sewa, (b)
objek ijarah, yakni fasilitas dan uang sewa; dan (3) ijab dan kabul menunjukkan
searah terima, baik berupa ucapan atau perbuatan.
Transaktor
Transaktor terdiri atas penyewa (nasabah) dan pemberi sewa (bank syariah). Kedua
transaktor disyaratkan memiliki kompetensi berupa akil baligh dan kemampuan
memilih yang optimal seperti tidak gila, tidak sedang dipaksa dan yang lain yang
sejenis. Adapun untuk transaksi dengan anak kecil, dapat dilakukan dengan izin dan
pantauan dari walinya. Perjanjian sewa menyewa antara bank syariah sebagai
pemberi sewa dengan nasabah sebagai penyewa memiliki implikasi kepada kedua
belah pihak. Implikasi perjanjian sewa kepada bank syariah sebagai penyewa
adalah sebagai beikut :
a. Menyediakan aset yang disewakan
b. Menanggung biaya pemeliharaan aset. Biaya ini meliputi biaya yang terkait
langsung dengan substansi objek sewaan yang manfaatnya kembali kepada
pemberi sewanya (misalnya renovasi, penambahan fasilitas dan reparasi yang
bersifat insidental). Semua biaya ini dibebankan kepada pemberi sewa. Jika
pemberi sewa menolak menanggung, maka sewa menyewa sifatnya batal. Jika
terdapat kelalaian penyewa, tanggung jawab ada pada penyewa.
c. Menjamin bila terdapat cacat pada aset yang disewakan
Adapun kewajiban nasabah sebagai penyewa adalah:
a. Membayar sewa dan bertanggungjawab untuk menjaga keutuhan aset yang
disewa serta menggunakannya sesuai kontrak.
b. Menanggung biaya pemeliharaan yang sifatnya ringan (tidak materiil).Biaya ini
meliputi biaya yang berkaitan langsung dengan optimlisasi fasilitas yang disewa
dan kegunaannya adalah kewajiban penyewa (misal pemeliharaan rutin). Semua
biaya ini merupakan tanggung jawab penyewa.
201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

c. Jika aset yang disewa rusak, bukan karena pelanggaran dari penggunaan yang
dibolehkan, juga bukan karena kelalaian pihak penyewa dalam menjaganya, ia
tidak bertanggung jawab atas kerusakan tersebut.
Objek Ijarah
Objek kontrak ijarah meliputi pembayaran sewa dan manfaat dari penggunaan aset.
Adapun ketentuan objek ijarah adalah sebagai berikut:

1. Objek ijarah adalah maanfaat dari penggunaaan barang dan jasa.


2. Mafaat barang harus bisa dinilai dan dapat dilaksanakan dalam kontrak. Dalam
hal ini, hendaklah fasilitas objek sewaan itu mempunyai nilai komersial, dengan
demikian kita dilarang menyewakan durian untuk sekedar dicium baunya.
Hendaknya juga penggunaan
3. Fasilitasnya mubah (dibolehkan).
4. Kesanggupan memenuhi maanfaat harus nyata dan sesuai dengan syariah.
5. Manfaat harus dikenali secara spesifit sedemikian rupa untuk menghilangkan
ketidaktahuan yang akan mengakibatkan sengketa.
6. Spesifikasi manfaat harus dinyatakan dengan jelas termasuk jangka waktunya.
7. Sewa adalah sesuatu yang dijanjikan dan dibayar kepada LKS sebagai
pembayaran manfaat.
8. Ketentuan dalam menentukan sewa dapat diwujudkan dalam ukuran waktu,
tempat dan jarak.
Ijab dan Kabul
Ijab Kabul dalam akad ijarah merupakan pernyataan dari kedua belah pihak yang
berkontrak dengan cara penawaran dari pemilik asset (bank syariah) dan
penerimaan yang dinyatakan oleh penyewa (nasabah). Pelafalan perjanjian dapat
dilakukan dengan lisan, isyarat (bagi yang memiliki keterbatasan dalam berbicara),
tindakan maupun tulisan, bergantung pada praktik yang lazim di masyarakat dan
menunjukkan keridhaan satu pihak untuk menyewa dan pihak lain untuk
menyewakan fasilitas/tenaga.
Rukun Transaksi Ijarah untuk Pembiayaan Multijasa
201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Pembiayaan multijasa dengan skema ijarah adalah pembiayaan yang diberikan oleh
Lembaga Keuangan Syariah (LKS) kepada nasabah dalam memperoleh manfaat
atas suatu jasa dengan menggunakan akad ijarah, pembiayaan multijasa hukumnya
boleh (jaiz) dengan menggunakan akad ijarah atau kafalah.
Rukun Transaksi IMBT
Berdasarkan fatwa DSN Nomor 27 Tahun 2002 disebutkan bahwa pihak yang
melakukan transaksi IMBT harus melaksanakan akad ijarah terlebih dahulu. Dengan
demikian, pada akad IMBT juga berlaku semua rukun dan syarat transaksi ijarah.
Adapun akad perjanjian IMBT harus disepakati ketika akad ijarah ditandatangani.
Selanjutnya, pelaksanaan akad pemindahan kepemilikan, baik dengan jual beli atau
pemberian hanya dapat dilakukan setelah masa ijarah selesai. Berdasarkan fatwa
DSN Nomor 27 tersebut, janji pemindahan kepemilikan yang disepakati di awal akad
ijarah hukumnya bersifat tidak mengikat. Oleh karena itu, apabila janji tersebut ingin
dilaksanakan, maka harus ada akad pemindahan kepemilikan yang dilakukan
setelah masa ijarah selesai.

Pengawasan Syariah Transaksi Ijarah dan Transaksi IMBT


Untuk menguji kesesuaian transaksi ijrah dan IMBT yang dilakukan bank dengan
fatwa dewan DSN, DPS suatu bank syariah akan melakukan pengawasan syariah.
Menurut bank Indonesia, pengawasan tersebut antara lain berupa:
a. Memastikan penyaluran dana beredasarkan prinsip ijarah tidak dipergunakan
untuk kegiatan yang bertentangan dengan prinsip syariah;
b. Memastikan bahwa akad pengalihan kepemilikan dalam IMBT dilakukan setelah
akad ijarah selesai, dan dalam akad ijarah, janji (waad) untuk pengalihan
kepemilikan harus dilakukan pada saat berakhirnya akad ijarah;
c. Meneliti pembiayaan berdasarkan prinsip ijarah untuk multijasa menggunakan
perjanjian sebagaimana diatur dalam fawa yang berlaku tentang multijasa dan
ketentuan lainnya antara lain ketentuan standard akad;
d. Memastikan besar ujrah atau fee multijasa dengan menggunakan akad ijarah
telah disepakati di awal dan diyatakan dalam bentuk nominal bukan dalam
bentuk persentase.

201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Alur Transaksi Ijarah dan Transaksi IMBT

1. Negosiasi dan akad ijarah


h sebagai pemberi sewa Barang/jasa
Nasabah sebagai penyewa

4. membayar sewa pada


3. Menggunakan objek ijarah
2. membeli
barang/jasa
pada pemasok

OBJEK IJARAH
(Barang/Jasa)
5. Mengalihkan hak milik barang ijarah pada akhir masa sewa (khusus IMBT)

1. Nasabah mengajukan permohonan ijarah dengan mengisi formulir permohonan.


Berbagai informasi yang diberikan selanjutnya diverifikasi kebenarannya dan
dianalisis kelayakannya oleh bank syariah. Bagi nasabah yang layak, selanjutnya
diadakan perikatan dalam bentuk penandatangan kontrak ijarah atau IMBT.
2. Sebagaimana difatwakan oleh DSN, bank selanjutnya menyediakan objek sewa
yang akan digunakan oelh kepada nasabah. Bank dapat mewakilkan kepada
onasabah untuk mencari langsung barang dan jasa yang akan disewa nasabah
untuk selanjutnya dibeli atau dibayar oleh bank syariah.
3. Nasabah menggunakan barang atau jasa yang disewakan sebagaimana yang
telah disepakati dalam kontrak. Selama penggunaan objek sewa, onasabah
menjaga dan menanggung biaya pemeliharaan barang yang disewa sesuai
kesepakatan. Sekiranya terjadi kerusakan bukan karena kesalahan penyewa,
maka

bank

syariah

sebagai

pemberi

sewa

akan

menanggung

biaya

perbaikannya.
4. Nasabah menyewa membayar fee sewa kepada bank syariah sesuai dengan
kesepakatan akad sewa.
5. Pada transaksi IMBT, setelah masa ijarah selesai, bank sebagai pemilik barang
dapat melakukan pengalihan hak milik kepada penyewa

201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Cakupan Standar Akuntansi Ijarah Dan Ijarah Muntahiya Bittamlik


Ketentuan akuntansi untuk transaksi Ijarah diatur dalam PSAK No. 107 yang berlaku
untuk penyusunan dan penyajian laporan keuangan mulai pada atau setelah tanggal
1 Januari 2009. Standar ini memuat tentang mekanisme transaksi dan ketentuan
tentang pengakuan dan pengukuran transaksi yang terdapat dalam skema ijarah
baik untuk pemberi sewa maupun penyewa. Beberapa hal dicakup dalam standar ini
adalah pengakuan dan pengukuran biaya perolehan, penyusutan, pendapatan,
beban dan perpindahan kepemilikan. Bentuk aplikasi standar ini akan dibahas pada
subbab teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah bagi bank syariah.

Teknis Perhitungan Dan Penjurnalan Transaksi Ijarah Bagi Bank


Syariah
Pembahasan teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi ijarah akan mengaju
pada kasus berikut :
Kasus Transaksi Ijarah
PT. Namira membutuhkan sebuah mobil untuk keperluan usahanya. Pada bulan
januari 20XA, PT Namira mengajukan permohonan ijarah kepada bank syariah.
Adapun informasi tentang penyewaan tersebut adalah sebagai berikut:
Harga perolehan barang

: Rp 120.000.000

Umur ekonomis barang

: 5 tahun (60 bulan)

Masa Sewa

: 24 bulan

Nilai sisa umur ekonomis : Rp 0


Sewa per bulan

: Rp 2.400.000

Biaya administrasi

: Rp 480.000

Harga perolehan barang dalam hal ini merupakan nilai historis yang dikeluarkan oleh
bank syariah untuk memperoleh barang yang akan disewakan. Umur ekonomis
dihitung berdasarkan standar yang umum diterapkan terhadap kebijakan penyusutan
suatu aset. Adapun nilai sisa adalah perkiraan nilai aset setelah habisnya umur
ekonomis. Masa sewa ditentukan oleh kebutuhan nasabah dalam menggunakan
fasilitas yang akan disewa. Sewa per bulan dihitung dengan mempertimbangkan
tingkat keuntungan yang ingin diperoleh bank syariah.

201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Teknis Perhitungan Transaksi Ijarah


Beberapa hal yang perlu dilakukan perhitungan terkait transaksi ijarah adalah
perhitungan penentuan keuntungan dan fee ijarah, perhitungan uang muka sewa,
dan biaya administrasi ijarah.
Perhitungan Penyusutan dan Pendapatan Ijarah
Misalkan kebijakan bank syariah adalah memperoleh keuntungan 20% dari modal
penyewaan (beban penyusutan).
Penyusutan per bulan=

Harga PerolehanNilai Sisa


Jumlah Bulan Umur Ekonomis

Penyusutan per bulan=

Rp 120.000.000Rp.0
=Rp . 2.000.000
60

Penyusutan ijarah per bulan=modal penyewaan+n modal penyewaan


Rp. 2.000 .000+ ( 20 x 2.000 .000 )
Rp. 2.400 .000

Perhitungan biaya administrasi ijarah


Biaya administrasi bisa diterapkan dengan menggunakan persentase tertentu dari
modal yang digunakan untuk persewaan. Misalkan dalam kasus di atas, bank
syariah

menggunakan

kebijakan 1% dari modal

persewaan. Maka biaya

administrasinya adalah sebagai berikut:

Biaya administrasi ijarah

= n% x modal persewaan per bulan x jumlah bulan


=1% x Rp 2.000.000 x 24
= 1% x Rp 48.000.000
= Rp 480.000

Penjurnalan Transaksi Ijarah


Transaksi Pengadaan Aset Ijarah
Sebelum akad ijarah dilakukan, bank syariah terlebih dahulu melakukan pengadaan
aset ijarah. Berdasarkan PSAK no 107 disebutkan bahwa objek sewa Ijarah diakui

201
6

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

pada saat objek ijarah diperoleh sebesar biaya perolehan.


Misalkan untuk keperluan transaksi ijarah PT Namira di atas, pada tanggal 5 juni
20XA bank syariah membeli aset pada perusahaan yang mensuplai barang yang
diperlukan. Pembelian dilakukan via rekening pemasok tersebut adalah sebagai
berikut:
tanggal

Rekening

Debet (Rp)

Kredit (Rp)

5/6/XA

Db Persediaan ijarah

120.000.000

Kr. Kas/Rekening pemasok

120.000.000

Transaksi pada saat akad disepakati


Pada saat akad disepakati, terdapat beberapa transaksi yang harus diakui oleh bank
syariah. Transaksi tersebut adalah (1) konversi persediaan untuk ijarah menjadi aset
ijarah, sebagai bentuk pengakuan atas adanya pengalihan hak guna kepada
penyewa (2) Penerimaan biaya administrasi.
Misalkan pada tanggal 10 Juni, PT. Namira menandatangani akad ijarah untuk
sebuah mesin. Maka jurnal yang diperlukan pada waktu itu adalah:
Tanggal
10/6/XA

Rekening
Db. Aset yang diperoleh untuk ijarah

10/6/XA

Kr. Persediaan ijarah


Db. Rekening nasabah PT. Namira

Debit (Rp)
120.000.000

Kredit(Rp)
120.000.000

480.000

Kr. Pendapatan administrasi

480.000

Transaksi Pengakuan Pendapatan Ijarah


Berdasarkan PSAK 107 pendapatan ijarah selama masa akad diakui pada saat
manfaat atas aset telah diserahkan kepada penyewa. Piutang pendapatan ijarah
diukur sebesar nilai yang dapat direalisasikan pada akhir periode pelaporan.
Misalkan rencana dan realisasi pembayaran sewa oleh PT Namira adalah sebagai
berikut :
No.

1
2
201
6

Tanggal

Sewa

Porsi

Porsi

Tanggal

Jumlah

Jatuh

per

Pokok

Ujroh

Pembayar

yang

Tempo

bulan

(Rp)

(Rp)

an

dibayar

10 Juli XA

(Rp)
2.400.00

10 Agt XA

0
2.400.00

2.000.000

400.00

10 Juli

(Rp)
2.400.00

2.000.000

0
400.00

XA
10 Agt

0
2.400.00

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

10 Sept XA

0
2.400.00

10 Okt XA

0
2.400.00

2.000.000

0
400.00

10 Nov XA

0
2.400.00

2.000.000

0
400.00

10 Des XA

0
2.400.00

2.000.000

0
400.00

10 Des

0
1.400.00

XA

3 Jan XA

1.000.00

2.000.000

0
400.00

XA
10 Sept

0
2.400.00

XA
10 Okt XA

0
2.400.00

5 Des XA

0
2.400.00

0
Pembayaran yang dilakukan oleh PT Namira diatas dapat diklasifikasikan dalam tiga
bentuk. Pertama, pembayaran pada saat tanggal jatuh tempo seperti pada
pembayaran bulan juli sampai dengn bulan Oktober. Kedua, pembayaran setelah
tanggal jatuh tempo seperti

pembayaran untuk bulan November. Ketiga,

pembayaran yang dilakukan sebagian pada saat jatuh tempo dan sisanya setelah
tanggal jatuh tempo seperti pada pembayaran untuk bulan Desember. Berikut akan
ditunjukkan penjurnalan untuk masing-masing klasifikasi tersebut.
(i) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan saat jatuh tempo
Tanggal

Rekening

Debet (Rp)

10/7/XA

Db. Kas/rekening nasabah


Kr. Pendapatan ijarah
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Pendapatan ijarah
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Pendapatan ijarah
Db. Kas/rekening nasabah

2.400.000

10/8/XA
10/9/XA
10/9/XA

Kredit (Rp)
2.400.000

2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000
2.400.000

Kr. Pendapatan ijarah

2.400.000

(ii) Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan untuk pembayaran sewa bulan Nopember, pada tanggal 10 Nopember
20XA, nasabah belum membayar sewa kepada bank. Pembayaran baru
dilakukan pada tanggal 5 Desember 20XA. Maka jurnal atas transaksi tanggal 10
Nopember dan 5 Desember tersebut adalah:

201
6

10

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Tanggal

Rekening

10/11/X

Db. Piutang sewa (porsi pokok)

Debet

Kredit (Rp)

(Rp)
2.000.000

5/12/XA

(iii)

Db. Piutang pendapatan sewa (porsi ujrah)


Kr. Pendapatan ijarah akrual
Db. Kas/rekening nasabah
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi

400.000
2.400.000

ujrah)
Db. Pendapatan ijarah akrual
Kr. Pendapatan ijarah

2.400.000

2.400.000
2.000.000
400.000

2.400.000

Pembayaran sewa oleh nasabah dilakukan sebagian pada saat jatuh tempo
dan sebagian lagi setelah tanggal jatuh tempo
Misalkan tanggal 10 Desember 20XA, nasabah membayar sebesar Rp
1.400.000. Sisanya dibayar kemudian pada tanggal 3 Januari 20XB. Maka jurnal
atas transaksi tanggal 10 Desember 20XA dan 3 Januari 20XB tersebut adalah
sebagai berikut:
Tanggal
10/12/X

Rekening
Db. Kas/rekening nasabah

Debet (Rp)
1.400.000

Kredit (Rp)

A
Db. Piutang sewa (porsi pokok)
Db. Piutang pendapatan sewa (porsi

03/01/X

ujrah)
Kr. Pendapatan sewa
Kr. Pendapatan sewa akrual
Db. Kas/rekening nasabah

833.333
166.667
1.400.000
1.000.000
1.000.000

B
Kr. Piutang sewa (porsi pokok)
Kr. Piutang pendapatan sewa (porsi
ujrah)
Db. Pendapatan ijarah akrual
1.000.000
Kr. Pendapatan ijarah
Pengakuan Penyusutan Aset yang Diperoleh untuk Ijarah

833.333
166.667

1.000.000

Dengan menggunakan teknik perhitungan penyusutan, jurnal untuk pengakuan


penyusutan aset yang diperoleh ijarah untuk enam bulan pertama adalah sebagai
berikut :

201
6

11

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Tanggal
10/7/XA

Rekening
Db. Beban penyusutan aset ijarah
Kr. Akumulasi penyusutan aset

Debet (Rp)
2.000.000

Kredit (Rp)
2.000.000

ijarah
10/8/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset

2.000.000
2.000.000

ijarah
10/9/XA

Db. Beban penyusutan aset ijarah


Kr. Akumulasi penyusutan aset

2.000.000
2.000.000

ijarah
10/10/X

Db. Beban penyusutan aset ijarah

2.000.000

A
Kr. Akumulasi penyusutan aset

2.000.000

ijarah
10/11/X

Db. Beban penyusutan aset ijarah

2.000.000

A
Kr. Akumulasi penyusutan aset

2.000.000

ijarah
10/12/X

Db. Beban penyusutan aset ijarah

2.000.000

A
Kr. Akumulasi penyusutan aset

2.000.000

ijarah
Perlakuan Akuntansi Beban Perbaikan Dan Pemeliharaan
Berdasarkan PSAK 107, biaya perbaikan objek ijarah merupakan tanggungan
pemilik. Perbaikan tersebut dapat dilakukan oleh pemilik secara langsung atau
dilakukan oleh penyewa atas persetujuan pemilik. Pengakuan biaya perbaikan objek
ijarah diakui pada saat terjadinya :
(a). biaya perbaikan tidak rutin objek ijarah diakui pada saat terjadinya.
(b). jika penyewa melakukan perbaikan rutin objek ijarah dengan persetujuan
pemilik, maka biaya tersebut dibebankan kepada pemilik dan diakui sebagai
beban pada saat terjadinya; dan
(c). dalam ijarah muntahiyah bitamlik melalui penjualan secara bertahap, biaya
perbaikan objek ijarah yang dimaksud dalam huruf (a) dan (b) ditanggung pemilik
201
6

12

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

maupun penyewa sebanding dengan bagian kempemilikan masing-masing atas


objek ijarah.
Misalkan pada tanggal 23 Desember 20XA dilakukan perbaikan aset ijarah sebesar
Rp500.000. Perbaikan tersebut dilakukan atas tanggungan Bank Syariah sebagai
pemilik objek sewa dengan sistem pembayaran langsung pada perusahaan jasa
ruko maka jurnal atas transaksi tersebut adalah:
Tanggal
23/12/XA

Rekening

Debit (Rp)

Db. Beban perbaikan aset

Kredit (Rp)

500.000

ijarah
Kr. Kas/rekening

500.000

Penyajian Pada Laporan Laba Rugi Dan Laporan Perhitungan Bagi Hasil
Pendapatan sewa, dilaporkan baik pada laporan laba rugi maupun laporan
perhitungan bagi hasil. Pada kedua laporan, pendapatan yang disajikan adalah
pendapatan bersih yaitu pendapatan sewa dikurangi beban-beban yang terkait
dengan ijarah antara

lain beban penyusutan dan beban

perbaikan dan

pemeliharaan. Pada laperan laba rugi biasanya dibuat pada akhir tahun, sedangkan
laporan perhitungan bagi hasil biasanya disajikan setiap bulan untuk keperluan
perhitungan bagi hasil dengan pemilik dana pihak ketiga.
(i). Laporan laba rugi

Pendapatan

Juli

Agustus

September

Oktober

Nopember

Desember

Total

2.400.000

2.400.000

2.400.000

2.400.000

2.400.000

2.400.000

14.400.000

(2.000.000)

(2.000.000)

(2.000.000)

(12.000.000)

ijarah (saldo
kas + akrual)
(Beban

(2.000.000)

penyusutan)
(Beban

(500.000)

(500.000)

perbaikan)
(Beban lain)
Pendapatan

400.000

400.000

400.000

400.000

(2.000.000)

(100.000)

1. 900.000

Nopember

Desember

Total

3.800.000

13.400.000

(2.000.000)

(2.000.000)

Ijarah Bersih

(II). Laporan perhitungan bagi hasil

Pendapatan
201
6

13

Juli

Agustus

September

Oktober

2.400.000

2.400.000

2.400.000

2.400.000

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

ijarah (saldo
kas + akrual)
(Beban

(2.000.000)

penyusutan)
(Beban

perbaikan)
(Beban lain)
Pendapatan

400.000

(2.000.000)

(2.000.000)

(2.000.000)

400.000

400.000

400.000

(2.000.000)

(2.000.000)

(12.000.000)

(500.000)

(500.000)

(2.000.000)

1.300.000

900.000

Ijarah Neto

Teknik Perhitungan Dan Penjurnalan Transaksi IMBT Bagi Bank


Syariah
Pembahasan teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi IMBT akan dilakukan
dengan mengacu pada kasus berikut :
Akad yang disepakati adalah IMBT dengan informasi tentang penyewaan sebagai
berikut:
Biaya perolehan barang

: Rp 120.000.000

Umur barang

: 5 tahun (60 bulan)

Masa Sewa (umur ekonomis) :


Waktu Pembelian barang

24 bulan

: Setelah bulan ke-24

Teknis perhitungan transaksi IMBT


Teknis perhitungan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan transaksi ijarah.
Perbedaan teknis perhitungan terletak pada penentuan penyusutan aset ijarah.
Perhitungan penyusutan aset IMBT
Berdasarkan PSAK 107 disebutkan bahwa kebijakan penyusutan atau amortasi
yang dipilih harus mencerminkan pola konsumsi yang diharapkan dari manfaat
ekonomi dimasa depan dari objek ijarah. Umur ekonomis dapat berbeda dengan
umur teknis . misalnya mobil dapat dipakai selama 5 tahun diijarahkan dengan akad
muntahiya bittamlik selama 2 tahun. Dengan demikian umur ekonomisnya adalah 2
tahun.
201
6

14

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Berdasarkan kasus diatas maka beban penyusutan perbulan barang IMBT adalah:

Penyusutan IMBT per bln =


Penyusutan IMBT per bln =

Biaya perolehan
Jumlah bulan masa sewa
Rp 120.000.000
24

= Rp
5.000.000

Penentuan Pndapatan IMBT


Selanjutnya dengan kebijakan keuntungan sewa 20% dari modal barang yang
disewakan, pendapatan IMBT per bulan adalah sebagai berikut:
Pendapatan IMBT perbulan

= modal penyewaan + n% modal penyewaan


= Rp 5.000.000 + (20% x 5.000.000)
= Rp 5.000.000 + 1.000.000
= Rp 6.000.000

Total pendapatan IMBT selama masa sewa

= 24 x Rp 6.000.000

= Rp 144.000.000
Penjurnalan transaksi IMBT
Penjurnalan transaksi IMBT pada dasarnya sama dengan penjurnalan pada
transaksi ijarah. Dengan demikan perbedaan mendasar hanya terdapat pada konsep
perhitungan penyusutan yang tidak dikaitkan dengan umur ekonomis, melainkan
dikaitkan dengan masa sewa. Dengan demikian perpindahan hak milik IMBTdapat
dilakukan dengan beberapa alternatif, yaitu melalui (1) hadiah, (2) pembayaran sisa
sewa sebelum berakhirnya masa sewa, dan (3) pembayaran sekadarnya.
Pelepasan sebagai Hadiah
Berdasarkan PSAK no 107, perpindahan kepemilikan objek ijarah dari pemilik
kepada penyewa dalam ijarah muntahiya bittamlik dengan cara:
a. hibah,
b. penjualan sebelum berakhirnya masa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlah
yang disepakati,
c. penjualan setelah selesai masa akad
pada perpindahan hak milik sewa dalam IMBT melalui hibah, maka jumlah tercatat
objek ijarah diakui sebagai beban.

201
6

15

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Dalam kasus transaksi IMBT, PT Namirah di atas, sekiranya pada akhir masa sewa
(setelah bulak ke-24 dilakukan pelepasan aset ijarah oleh bank syariah dengan
menghadirkan aset tersebut kepada PT Namira. Adapun nilai buku aset di neraca
pada bulan ke-24 adalah :
penyajian di neraca (bulan ke 24)
Aset Ijarah

120.000.000

Akumulasi penyusutan

(120.000.000)

Nilai bersih

Maka jurnal atas transaksi pelepasan dengan menghadiahkan tersebut adalah


sebagai berikut :
Rekening
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
Kr. Aset ijarah

Debet (Rp)
120.000.000

Kredit (Rp)
120.000.000

Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa Sebelum Berakhirnya Masa Sewa


Berdasarkan PSAK no 107 disebutkan bahwa pada penjualan objek ijarah sebelum
berakhirnya masa sewa, sebesar sisa cicilan sewa atau jumlah yang disepakati,
maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Dalam hal ini pemilik objek sewa mengakui keuntungan
atau kerugian atas penjualan tersebut sebesar selisih antara harga jual dan nilai
buku bersih objek sewa
(i) Jika harga jual di atas nilai buku aset ijarah
Misalkan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20, bank syariah
menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar sisa cicilan sewa
kepada nasabah penyewa yaitu Rp 24.000.000 (4 x Rp 6.000.000), Adapun nilai
buku aset di neraca pada bulan ke 20 adalah:
penyajian di neraca (bulan ke 20)
Aset Ijarah

120.000.000

Akumulasi penyusutan

(100.000.000)

Nilai bersih

20.000.000

Maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah :


Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
201
6

16

Debet (Rp)
24.000.000
100.000.000

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Kredit (Rp)

Rekening
Kr. Aset ijarah
Kr. Keuntungan penjualan aset ijarah

Debet (Rp)

Kredit (Rp)
120.000.000
4.000.000

(ii) Jika harga jual di bawah nilai buku aset ijarah


Misalkan setelah penerimaan pendapatan sewa bulan ke 20, bank syariah
menjual mesin yang menjadi aset ijarah tersebut sebesar Rp 15.000.000. Adapun
nilai buku aset di neraca pada bulan ke 20 adalah:
penyajian di neraca (bulan ke 20)
Aset Ijarah

120.000.000

Akumulasi penyusutan

(100.000.000)

Nilai bersih

20.000.000

Maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah :


Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
Db. Kerugian penjualan aset ijarah
Kr. Aset ijarah

Debet (Rp)
15.000.000
100.000.000
5.000.000

Kredit (Rp)

120.000.000

Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa Setelah Berakhirnya Masa Sewa


Berdasarkan PSAK no 107 disebutkan bahwa pada penjualan setelah selesai masa
akad, maka selisih antara harga jual dan jumlah tercatat objek ijarah diakui sebagai
keuntungan atau kerugian. Dalam hal ini pemilik objek sewa mengakui keuntingan
atau kerugian atas penjualan tersebut sebesar selisih antara harga jual dan nilai
buku bersih objek sewa.
Misalkan setelah berakhirnya masa sewa, bank syariah menjual mesin yang menjadi
aset ijarah senilai Rp. 2.000.000. adapun nilai buku aset dineraca pada bulan ke 24
adalah :
penyajian di neraca (bulan ke 24)
Aset Ijarah

120.000.000

Akumulasi penyusutan

(120.000.000)

Nilai bersih

Maka jurnal untuk transaksi tersebut adalah :


Rekening
Db. Kas
Db. Akumulasi penyusutan aset ijarah
201
6

17

Debet (Rp)
2.000.000
120.000.000

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Kredit (Rp)

Rekening
Kr. Aset ijarah
Kr. Keuntungan penjualan aset ijarah

Debet (Rp)

Kredit (Rp)
120.000.000
2.000.000

Pelepasan Melalui Penjualan Objek Sewa Secara Bertahap


Berdasarkan PSAK no 107, disebutkan bahwa penjualan objek ijarah secara
bertahap, maka: (i) selisih antara harga jual dan jumlah tercatat sebagian objek
ijarah yang telah dijual diakui sebagai keuntungan atau kerugian; sedangkan (ii)
bagian objek ijarah yang tidak dibeli penyewa diakui sebagai aset tidak lancar atau
aset lancar sesuai dengan tujuan penggunaan aset tersebut

Penyajian Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud


Berdasarkan PAPSI 2013 (h.6.4) terdapat beberapa ketentuan penyajian di laporan
keuangan terhadap akun yang berkaitan dengan transaksi ijarah dengan aset
berwujud
1. Objek sewa yang diperoleh bank disajikan sebagai aset ijarah
2. Akumulasi penyusutan/Akumulasi dan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai dari
aset Ijarah disajikan sebagai pos lawan aset Ijarah.
3. Porsi pokok atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai piutang
sewa.
4. Porsi ujrah atas pendapatan sewa yang belum dibayar disajikan sebagai
pendapatan sewa yang akan diterima yang merupakan bagian dari aset lainnya
pada saat nasabah tergolong performing. Sedangkan, apabila nasabah tergolong
non-performing maka pendapatan sewa yang akan diterima disajikan pada
rekening administratif.
5. Cadangan Kerugian Penurunan Nilai atas piutang sewa disajikan sebagai pos
lawan (contra account) piutang Ijarah.
6. Beban

penyusutan/amortisasi

aset

Ijarah

disajikan

sebagai

pengurang

pendapatan Ijarah pada laporan laba rugi.

Pengungkapan Transaksi Ijarah atas Aset Berwujud


Berdasarkan PAPSI 2013 (h.6.6-7) hal-hal yang harus diungkapkan terkait ijarah
dengan menggunakan aset berwujudf antara lain :
1. Sumber dana yang digunakan dalam pembiayaan Ijarah
201
6

18

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

2. Jumlah piutang cicilan Ijarah yang akan jatuh tempo hingga dua tahun terakhir.
3. Jumlah obyek sewa berdasarkan jenis transaksi (Ijarah dan Ijarah muntahiyah
bittamlik), jenis aset dan akumulasi penyusutannya serta Cadangan Kerugian
Penurunan Nilai jika ada, apabila Bank sebagai pemilik obyek sewa.
4. Komitmen yang berhubungan dengan perjanjian Ijarah muntahiyah bittamlik yang
berlaku efektif pada periode Laporan Keuangan berikutnya.
5. Kebijakan

akuntansi

yang

digunakan

atas

transaksi

Muntahiyyah bittamlik.
6. Transaksi dan saldo dengan pihak-pihak yang berelasi.

DaftarPustaka
201
6

19

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id

Ijarah

dan

Ijarah

DSAK IAI, 2009, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)


nomor 107 Akuntansi Ijarah, IAI, Jakarta.

Nurhayati, Sri dan Wasilah, 2016, Akuntansi Syariah di Indonesia,


Salemba Empat, Jakarta

201
6

20

Yaya, Rizal, Aji Erlangga Martawireja dan Ahim Abdurahim, 2014,


Akuntansi Perbankan Syariah : Teori dan Praktik Kontemporer Edisi 2,
Salemba Empat, Jakarta.

Perbankan Syariah
Safira, SE.Ak. M.Si

PusatBahan Ajar dan eLearning


http://www.mercubuana.ac.id