Anda di halaman 1dari 11

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO


Endar Ade Candra
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Abstrak.Spent Bleaching Earth ( SBE ) merupakan salah satu limbah yang
paling banyak dihasilkan dalam industri pengolahan CPO. Untuk
mengurangi dampak pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh limbah
SBE, maka perlu dilakukan proses regenerasi, sehingga limbah SBE dapat
digunakan kembali untuk proses pemucatan CPO. Proses regenerasi yang
digunakan adalah proses desorpsi, yaitu dengan cara melarutkan limbah
SBE dengan larutan HCl. Larutan HCl berfungsi sebagai resin penukar
kation, dimana karoten dan pengotor lainnya akan terlarut dalam HCl.
Konsentrasi HCl yang dipakai adalah dengan variasi sebesar 5% v/v, 10%
v/v, 15% v/v, 20%v/v, 25%v/v.

Residu

yang diperoleh dari proses

desorpsi selanjutnya dipanaskan pada suhu 350C untuk menghilangkan


kandungan air di dalam SBE. Hasil yang diperoleh dari proses regenerasi
kemudian digunakan untuk pemucatan CPO dan hasil warna optimum
yang diperoleh dari proses bleaching menggunakan Spent Bleaching Earth
hasil regenerasi adalah pada pemakaian HCl pada konsentrasi 15% v/v,
dengan persamaan hubungan antara konsentrasi HCl dalam proses desorpsi
( x ) dan intensitas warna merah DBPO pada skala lovibond ( y ) adalah :
y = 0,022x - 0,645x + 22,8 ( R = 0,956 ).

Kata kunci: bleaching, spent bleaching earth, CPO, regenerated


spent bleaching earth, bleached palm oil
Abstract. Spent Bleaching Earth ( SBE ) is one of the most resulting in CPO
processing industry. To reduce the impact of environmental pollution caused by
SBE waste, then we need to do regeneration process, so SBE can be used for CPO
bleaching process. The regeneration process uses the desorption process, by

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

dissolves the waste with HCL solution. HCL solution serves as a cation exchange
resin, where karoten and other impurities will be dissolved in HCl. The
concentration of HCl used is a variation of 5% v / v, 10% v / v, 15% v / v, 20% v /
v, 25% v / v. The residue obtained from the desorption process further heated at
350 C to remove the water content in SBE. The results obtained from
regeneration process it can use for CPO bleaching and optimum color from
bleaching process uses Spent Bleaching Earth with regeneration results is using of
HCL at a concentration of 15% v / v, with equality between the concentration of
HCl in the process of desorption (x) and the intensity of red DBPO in Lovibond
scale (y) is: y = 0,022x - 0,645x + 22.8 (R = 0.956).
Keywords: bleaching, spent bleaching earth, CPO, regenerated
spent bleaching earth, bleached palm oil

PENDAHULUAN
Proses Pemucatan merupakan salah satu langkah yang penting dalam
pengolahan minyak nabati (Young, 1987). Pemucatan dalam praktek refinery
bertujuan untuk menghilangkan coloringbodies, pigmen, dll, selain itu
berfungsi juga untuk menghilangkan sisa fosfolipid, lender, oksidasi tri-asil
atau

parsial-gliserol,

logam

yang

terionisasi

dan

non-terionisasi

(dikomplekskan), dan sisa sabun dari penetralan minyak. (Waldmann dan


Eggers, 1991). Pada proses refinery Crude Palm Oil (CPO) pemucataan
dilakukan dengan menggunakan bleaching earth (BE).
Bleaching earth (BE) terdiri dari beberapa jenis antara lain: Ca-bentonit,
simnit dan arang aktif. Pada umumnya industri refinery minyak nabati di
Indonesia menggunakan Ca-bentonit sebagai bleaching agent pada proses
bleaching CPO.

Bentonit atau (MgCa)OAl2O35SiO28H2O adalah jenis

mineral lempung, dengan komposisi kimianya 80% terdiri dari mineral


monmorillonite (pembangun struktur bentonit) (Na.Ca)0,33, (Al.Mg)12Si4O10,
(OH)2.nH2O (Rouquerol, 1999). Bahan galian ini bersifat lunak, dengan tingkat
kekerasan satu pada skala Mohs, berat jenisnya berkisar antara 1,72,7, mudah

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

pecah, terasa berlemak bila dipegang, mempunyai sifat mengembang apabila


kena air (Szostak, 1992).
Komposisi limbah terbesar pada industri refinery minyak nabati adalah
Spent Bleaching Earth (SBE), Berdasarkan PP No. 18 tahun 1999, SBE dapat
dikategorikan sebagai limbah Bahan Buangan Berbahaya (limbah B3).
Limbah dari proses pemucatan minyak terdiri dari dua komponen utama yaitu
minyak dan bentonit. Adapun minyak hasil recovery dapat digunakan menjadi
metil ester (biodiesel), hal tersebut dikarenakan minyak sudah tidak lagi food
grade artinya minyak sudah rusak (Young, 1987). Sementara itu, bentonit
hasil recovery bisa dimanfaatkan kembali untuk pemucatan minyak pada
industri refining CPO.
Industri refinery minyak nabati pada umumnya membuang SBE pada
suatu lahan khusus (landfill). Padahal SBE memiliki kandungan minyak nabati
yang tinggi yaitu 20-40% (Ong J.T.L, 1983), sehingga merupakan suatu bahan
yang sangat potensial untuk dimanfaatkan, sehingga perlu dilakukan recovery.
Diperkirakan bahwa sekitar 600.000 ton metric atau lebih BE dimanfaatkan di
seluruh dunia dalam proses pemurnian didasarkan pada produksi di seluruh
dunia (Kaimal et al, 2002). Dengan asumsi pada tahun 2007, jika CPO yang
dipakai di Indonesia untuk proses bleaching sebesar 5 juta ton per tahun, maka
dalam proses pemurnian CPO diperlukan bleaching earth sebesar 100.000 ton
per tahun. Semakin banyak CPO yang di-bleaching maka jumlah SBE
semakin meningkat pula, dan akan membutuhkan lahan yang luas untuk
mengatasi limbah B3 ini secara landfill. Pemanfaatan limbah industri ini
sangat penting dilakukan, terkait dengan besarnya potensi limbah yang
dihasilkan, dan perkembangan industri refinery minyak nabati di Indonesia
pada umumnya, khususnya di Riau yang semakin pesat pertumbuhannya. Oleh
karena itu, pada penelitian ini akan dilakukan proses regenerasi SBE, agar
dapat dimanfaatkan kembali untuk keperluan proses bleaching CPO. Tujuan
dari penelitian ini adalahmendapatkan konsentrasi HCl terbaik, sebagai resin
penukar kation dalam proses regenerasi SBE. Hasil penilitian ini diharapkan
SBE regenerasi dapat digunakan kembali untuk proses pemurnian CPO
sehingga dapat mengurangi limbah bleaching earth bekas.

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

METODOLOGI PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan pada penelitian ini antara lain:
1. Soklet
2. Labu alas bulat
3. Kondensor
4. Timbel
5. Paselin
6. Beaker
7. Pipet tetes
8. Labu leher 3
9. Hot plate
10. Pompa vakum
11. Pressure gate
12. Selang
13. Thermometer
14. Gelas ukur
15. Water bath
16. Oven
17. Ayakan
18. Lovibond
Bahan yang digunakan pada penelitian ini antara lain:
1. Limbah Spent bleaching earth PT Salim Ivomas Pratama Tbk.
2. N Hexane sebagai pelarut ekstraksi
3. HCl
4. Crude palm oil
B. Metode Penelitian
Dalam Proses regenerasi SBE, HCl digunakan sebagai resin penukar kation
dalam proses desorpsi limbah SBE

dan dilanjutkan pengeringan dalam

furnance untuk membuka pori pori SBE tersebut. Penggunaan HCl sebagai
larutan desorpsi bervariasi konsentrasinya. Hal ini dimaksudkan untuk
mendapatkan konsentrasi HCL terbaik dalam proses regenerasi SBE. Variasi
konsentrasi HCl yang digunakan adalah : 5%, 10%, 15%, 20%, 25% v/v.

C. Tahapan Proses Penelitian


Tahap persiapan bahan baku
1. Pengumpulan Limbah Spenth Bleaching Earth
2. Pembuatan larutan HCl dengan variasi konsentrasi 5%v/v, 10%v/v,
15%v/v, 20%v/v,25%v/v.

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

Tahap Ekstraksi
1. SBE yang telah digerus sebanyak 50 gr diekstraksi menggunakan soklet
2. Pelarut yang digunakan adalah n-Heksana teknis pada suhu 75oC selama
5 jam sebanyak 500 mL.
Tahap Regenerasi
1. SBE bekas yang telah diekstraksi sebanyak 40 gr diaduk dengan 250 ml
HCl

dengan variasi konsentrasi 5%v/v, 10%v/v, 15%v/v, 20%v/v,

25%v/v selama 60 menit pada suhu ruang, kemudian disaring untuk


memisahkan filtrat dari bentonit.
2. SBE yang telah disaring lalu dikeringkan di dalam oven selama 24
jam pada suhu 105oC.
3. SBE digerus kembali kemudian dimasukkan ke dalam furnace dengan
temperatur 350C selama 8 jam.
Tahap Penggunaan SBE Regenerasi
1. Timbang CPO 200 gram dalam labu leher 2 dan bentonit hasil
regenerasi 5 gram. Pasang rangkain alat untuk bleching. Lalu panaskan
CPO sambil diaduk dengan stirer hingga mencapai suhu 600C.
2. Lepas rangkain alat lalu masukan nitrit acid 5 tetes saat mencapai suhu
600C. Pasang kembali rangkain alat dan panaskan kembali sampai suhu
800C.
3. Lepas rangkain alat lalu Bentonit hasil regenerasi dimasukan dalam
CPO. Pasang kembali rangkain alat dan panaskan kembali sampai
mencapai suhu

1000C 1100C. Saat suhu sudah tercapai tahan 30

menit.
4. Dinginkan sampai suhu 800C lalu saring dengan kertas saring dalam
corong
pemisah vakum.
5. Ukurwarna minyak yang telah disaring dengan lovibond.
D. Metode Analisa
Lovibond Colour
Komponen utama yang menyebabkan warna pada minyak goreng adalah
pigmen

karoten

sebagai

penyumbang

warna

kuning,

antosianin

sebagaipenyumbang warna merah dan klorofil sebagai penyumbang warna

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

hijau.

Pengukuran warna pada alat lovibond

ditentukan

pada

komposisi warna merah dan kuning. Nilai warna meningkat baik karena lama
waktu pemanasan maupun karena kanaikan temperatur pemanasan.
Pemanasan pada minyak goreng menyebabkan perubahan warna yang lebih
gelap. Adanya kandungan logam
karena adanya reaksi oksidasi.
warna adalah dengan

memperparah warna minyak goreng


Metode yang digunakan dalam penentuan

menggunakan pencocokan warna dari transmisi

cahaya melalui cairan minyak atau lemak pada batasan tertentu ke warna dari
sumber yang

sama, yang ditransmisikan melalui standar glass. Prinsip

yang digunakan adalah warna dari sampel dibandingkan dengan suatu


kombinasi warna merah, kuning dan biru dari standar warna. Adapun aturan
untuk

penentuan warna pada minyak biasanya berdasarkan rumus 1:10

merah

dan kuning untuk minyak turunan palmitat. Sedangkan untuk

minyak turunan laurat tidak terpaku aturan tersebut. Warna kuning yang
terukur pada alat lovibond menyesuaikan dari warna merah untuk
mendapatkan warna yang sesuai dengan warna minyak yang terdapat pada
cell. Artinya

skala warna merah sangat berpengaruh terhadap perubahan

warna minyak

namun skala warna kuning tidak terlalu berpengaruh.

Dengan kata lain beda satu angka pada warna merah memberikan pengaruh
yang besar

dibandingkan beda satu angka pada skala warna kuning.

Untuk itulah pada dunia industri yang paling berperan dalam menentukan
kualitas minyak adalah warna merah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.

Hasil Pengamatan
Berdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh hasil dari data uji
laboratorium sebagai berikut:
Pada percobaan dilakukan pada kondisi sebagai berikut :
1. Intensitas warna sampel (merah/kuning pada skala lovibond)
a. Warna CPO murni

: 32/30

b. Warna DBPO (menggunakan bleaching earth baru ) : 16/20


2. Suhu pengeringan SBE regenerasi

: 350 C

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

Sedangkan pada proses bleaching menggunakan SBE regenerasi, diperoleh


data sebagai berikut :
Tabel 1 : Pengaruh konsentrasi HCl dalam proses desorpsi terhadap
intensitas warna DBPO (Degummed Bleached Palm Oil )
Konsentrasi HCl (% v/v)
5%

B.

Intensitas warna DBPO ( skala lovibond )


Merah
kuning
20
20

10%

19

20

15%

18

20

20%

19

20

25%

21

20

Pembahasan

Gambar : Hubungan konsentrasi HCl dalam proses desorpsi dengan


intensitas warna merah DBPO pada skala lovibond
Dari hasil analisis warna DBPO yang sebelumnya telah dikontakkan
dengan SBE hasil regenerasi, diperoleh grafik hubungan antara pengaruh
konsentrasi HCl dan warna DBPO. Dari grafik dapat dilihat bahwa terjadi
penurunan intensitas warna merah pada konsentrasi HCl 5% - 15 %. Pada

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

konsentrasi HCl 15% diperoleh warna merah yang optimum ( mendekati warna
DBPO standar yaitu sebesar 16 ). Pada konsentrasi HCl 20% dan 25% warna
yang terukur pada alat lovibond kembali naik.
Hal ini menunjukkan bahwa pada temperatur pengeringan tetap, intensitas
warna merah DBPO yang terukur pada alat lovibond dipengaruhi oleh perubahan
konsentrasi HCl dalam proses desorpsi. Dalam hal ini asam berfungsi
membersihkan permukaan pori bagian dalam dan luar bentonit dengan cara
melarutkan kation-kation yang mengotori permukaan bleaching earth dan
+
membuang senyawa pengotor. Ion H
yang berasal

dari penambahan asam

akan menggantikan kation logam-logam alkali dan alkali tanah pada bentonit.
+
Ion H ini memiliki keelektronegatifan yang lebih tinggi dari logam-logam alkali
tersebut sehingga dapat mengadsorbsi karoten ( zat warna merah ) lebih banyak.
Dengan konsentrasi HCl yang semakin tinggi maka semakin banyak
molekul-molekul HCl yang melarutkan logam-logam, sehingga lebih banyak
karoten yang terserap pada bleaching earth dan intensitas warna merah turun.
Namun pada konsentrasi HCl terlalu tinggi, akan diperoleh intensitas warna
merah DBPO yang tinggi juga. Hal ini terjadi diduga karena konsentrasi HCl
yang tinggi telah menyebabkan terjadinya pelarutan sebagian kandungan
alumina pada Bleaching Earth yang disebut dealuminasi, sehingga kemampuan
untuk menyerap zat warna merah berkurang, yang ditandai dengan intensitas
warna merah DBPO yang masih tinggi (Hilyati dan Widihastono 1991). Dari
gambar , regenarasi SBE yang menggunakan HCl pada konsentrasi

5% -15%

belum menunjukkan terjadinya proses dealuminasi. Hal ini ditunjukkan dengan


intensitas warna merah DBPO yang semakin turun. Namun pada konsentrasi HCl
> 15%, proses dealuminasi mulai terjadi, yang ditandai dengan kenaikan
intensitas warna merah DBPO.
KESIMPULAN DAN SARAN
A.

Kesimpulan
Dari penelitian tersebut diperoleh data bahwa :

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

1.

SBE yang telah diregenerasi menggunakan HCl, dapat digunakan

2.

kembali untuk pemurnian CPO.


Pada HCl konsentrasi 5-15% v/v, kemampuan HCl untuk mendesorpsi
SBE semakin meningkat seiring bertambahnya konsentrasi HCl yang
dipakai. Dimana pada HCl konsentrasi 15% v/v, diperoleh SBE

3.

Regenerasi yang terbaik.


Pada HCl konsentrasi 20-25% v/v, kemampuan HCl untuk
mendesorpsi SBE akan turun.

Maka dapat disimpulkan bahwa SBE regenerasi terbaik diperoleh pada


saat perlakuan regenerasi menggunakan HCl konsentrasi 15% v/v, dengan
persamaan hubungan antara konsentrasi HCl dalam proses desorpsi ( x )
dan intensitas warna merah DBPO pada skala lovibond ( y ) adalah : y =
0,022x - 0,645x + 22,8 ( R = 0,956 ).

B.

Saran
Setelah dilakukannya percobaan ini, masih ada beberapa kekurangan yang
harus di perbaiki untuk mendapatkan hasil yang lebih baik yaitu seperti:
1. Proses desorpsi sebaiknya dilakukan pada suhu yang lebih tinggi
2.

sehingga hasilnya lebih optimal.


Pada proses bleaching, suhu harus dijaga tetap stabil, karena jika

terlalu rendah makan proses adsorpsi kurang optimal dan apabila

terlalu

tinggi dapat menurunkan kualitas minyak.


3. Pemanasan SBE setelah aktifasi sebaiknya dilakukan pada suhu di
atas 3500C, supaya bisa memaksimalkan daya serap SBE.
DAFTAR PUSTAKA
Akhrizal. 1996. Pengaruh Konsentrasi Adsorben dan Suhu pada Proses
Pemucatan Minyak sebagai Bahan Baku Sabun Mandi. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Fikri dan Kusumadewi. 2006. Regenerasi Bentonit Bekas Secara Kimia
Fisika Dengan Aktivator HCl Dan Pemanasan Pada Proses
Pemucatan CPO.

Universitas Lampung. Bandar Lampung.

Dinas Pertambangan Lampung. 2003. Bandar Lampung.

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

Gillson, 1960 dalam Iwan Agustiawan. 1992. Aktivasi Bentonit dengan


Limbah Sulfat. Institut Teknologi Indonesia. Serpong.
Hairil, P. 2001. Pemanfaatan Zeolit Lampung yang diaktivasi dengan
NaOH sebagai Adsorben Uap pada Kondensasi Uap Industri Karet
Remah (Crumb Rubber).

Universitas Lampung.

Bandar

Lampung.
Hanafiah, K. A.

2000. Rancangan Percobaan. Teori dan Aplikasi.

Edisi revisi.
PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Hilyati dan Widihastono, B. 1991. Adsorpsi Zat Warna Tekstil Pada Zeolit
Alam dari Bayah. Jurnal Kimia Terapan Indonesia. Vol. 1, No. 2.
JitKangs,Homepage,www.andrew.cmu.edu/.../Refinery%20of%20Palm%2
0Oil.
Kaimal, T.N.B., P. Vijayalakshmi, A.A. Laximi & B. Ramakinga, 2002,
Process for simultaneous conversion of adsorbed oil to alkyl esters
and regeneration of commercial spent bleaching earth for reuse, US
Patent 0115875 A1.
Ketaren, S. 1986. Pengantar Teknologi Minyak dan Lemak Pangan.
UI Press. Jakarta.
Kheang, L.S., et al. 2006. A study of residual oils recovered from spent
bleaching earth: their characteristics and applications. American
journal of Applied Sciences 3 (10): 2063-067, ISSN 1546-9239.
Ong, J.T.L. 1983. Oil Recovery from Spent Bleaching Earth and Disposal
of the Extracted Material. Am Oil Chem soc.
Ragina, Friga S. 2002. Kajian Pemucatan Minyak Kelapa Sawit Sebagai
Bahan Dasar Rolling Oil dengan Menggunakan Bentonit dan Asam
Sitrat. Institut Pertanian Bogor. Bogor
Rouqurol, F., Rouquerol & J., Sing, K., 1999, Adsorption by powders &
porous solids: principles, methodology and applications, Academic
Press, London.

Regenerasi Spent Bleaching Earth Untuk Pemurnian CPO

Sediawan, W.B., dan prasetya, A., 1997. pemodelan matematis dan


penyelesaian numeris dalam teknik kimia. Andi : Yogyakarta.
Sucahyo, H. 1995. Pengaruh Pengaktifan Zeolit Lampung
Pemanasan Sebagai
Lampung.

Adsorben

Ion

Dengan

Amonium.Universitas

Bandar Lampung.

Szostak, R., 1992, Handbook of Molecular Sieves: Structures, Kluwer


Academic

Publishers, Netherland.

Waldmann dan Eggers. 1991. Deoiling Contaminated Bleaching Clay by


High Pressure Extraction. J. Am Oil Chem Soc. 68, 922-930.
Wambu, E.W, Shiundu P.M, Thiongo K.J dan Muthakia, 2009. Kinetics of
Copper Desorption from Regenerated Spent Bleaching Earth.
Jurnal Scientific Research, 4(4), 317-323.
William L. Jolly. 1984. Modern Inorganic Chemistry. McGraw-hill, p. 177.
Young, F., 1987. Refining and fractionation of palm oil en: Gunston F. (Ed)
Palm oil, 47, 51. The Society of Chemical Industri Publication,
John Wiley and Sons Inc., New York.