Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENELITIAN

PERBANDINGAN METODE EKSTRAKSI MASERASI


DAN SOKLETASI TERHADAP KADAR PIPERIN
BUAH CABAI

OLEH :
NAMA : ANDRE FEBRIYANA RAMADHAN
OCKILADIA KUSUMA PINANDITA
NIM : 2013430045
2013430058

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK KIMIA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
JAKARTA
FEBRUARI 2016

ABSTRAK
Piperin merupaka senyawa utama dan zat berkhasiat yang terkandung dalam buah
cabai dan berfungsi sebagai penurun demam, mengurangi rasa sakit, antioksidan,
mengurangi peradangan, mempunyai aktivitas pada penyakit tukak lambung,
antitumor, dan sebagai imumonodulator. Penelitian ini bertujuan membandingkan
metode ekstraksi maserasi dan sokletasi terhadap kadar piperin yang dihasilkan
dikarakterisasi meliputi parameter spesifik dan nonspesifik, kemudian dianalisa
kadar piperin dalam ekstrak etanol 95% pada buah cabai dengan metode
Kromatografi Lapis Tipis-Densitometri. Pembuatan sampel dilakukan dengan
berbagai macam jenis cabai.

Kata Kunci : Piperin, kadar piperin, metode ekstraksi maserasi, metode ekstraksi
sokletasi, ektrak etanol 95% buah cabai, KLT-Densitometri.

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1.
Latar Belakang Masalah
Tanaman cabai adalah tumbuhan menahun, merupakan buah dan
tumbuhan anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sayuran, bumbu,
maupun obat tergantung bagaimana digunakan. Cabai merupakan komoditi
unggulan Indonesia saat ini yang telah masuk sebagai salah satu komponen dalam
formula fitofarmaka, yaitu obat bahan alam yang telah terbukti melalui uji
praklinik dan klinik dan telah disetujui oleh badan POM (Irhamanhayati et
al.,2012).
Secara tradisional cabai mengandung piperin, kavisin (isomer piperin),
piperidin, piperitin, piperanin, piperilin, asarinin, pellitorin, isobutildeka-trans-2trans-4-dienamida, saponin, polifenol, minyak atsiri (piperonal, eugenol,
kariofelen, bisabolen, pentadekana), asam palmiat, asam tetrahidropiperat, 1undesilenil-3, 4-metilendioksibenzena, dan sesamin (BPOM RI,2010; Munim,
2011). Cabai merupakan sumber vitamin A, B, C dan E , serta ditambah mineral
seperti molibdenum, mangan, folat, kalium, thiamin, dan tembaga. Cabai berisi
tujuh kali lebih banyak vitamin C dibandingkan dengan jeruk. Di negara India,
cabai telah dimasukkan kedalam obat-obatan Ayurvedic, dan digunakan sebagai
tonik untuk menangkal berbagai penyakit. Cabai juga baik untuk membantu
melangsingkan tubuh, karena kemampuannya membakar kalori dengan mudah.
Cabai juga merangsang nafsu makan, membantu untuk membersihkan paru-paru,
dan juga merangsang sistem pencernaan. Cabai mengandung banyak senyawa
kimia yan menakjubkan, yang diketahui memiliki manfaat untuk pencegahan
banyak penyakit .
Senyawa piperin adalah senyawa golongan alkaloid sering digunakan
dalam pengobatan. Senyawa piperin (C17H19NO3) merupakan basa tidak optis
aktif, terbentuk kristal berwarna kuning, sedikit larut dalam air, larut dalam
alkohol, benzena, eter. Piperin bila dikecap mula-mula tidak berasa, lama-lama
terasa tajam menggigit, apabila piperin terhidrolisis akan terurai menjadi piperidin
dan asam piperat. Mempunyai berat molekul 285,3377, titik lebur 128-132 oC, titik
didih 498,524oC, kelarutan air 40 mg/L (18oC) (cas.ChemNet.com).

Dari beberapa hasil penelitian telah dilaporkan bahwa piperin mempunyai


aktivitas sebagai penurunkan demam dengan daya antipiretiknya, mengurangi rasa
sakit, antioksidan dan mengurangi peradangan. Senyawa ini mempunyai aktivitas
terhadap

penyakit

tukak

lambung,

antitumor,

dan

berfungsi

sebagai

imunomodulator (Joy et al., 2010; Manoj et al., 2004).


Mengingat besarnya potensi piperin, maka perlu dilakukan penelitian
tentang metode ekstraksi yang paling tepat untuk mendapatkan kadar piperin yang
tertinggi pada berbagai macam sampel cabai. Penelitian ini membandingkan
ekstraksi maserasi dengan metode sokletasi terhadap kandungan piperin dalam
ekstrak etanol 95% buah cabai. Metode ekstraksi yang terbaik yaitu metode yang
mampu menghasilkan ekstrak etanol 95% buah cabe dengan kadar piperin
tertinggi. Buah cabai yang digunakan adalah buah cabai yang telah matang.
Berdasarkan lileratur Farmakope Herbal (2009) pelarut yang digunakan untuk
ekstraksi buah cabai jawa (Piperis retrofracti fructus) yaitu etanol 95%. Etanol
95% memiliki kemampuan menyari dengan polaritas lebar mulai dari senyawa
nonpolar sampai dengan polar (Saifudin et al, 2011).
1. 2.

Rumusan Masalah

a. Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah yang mempengaruhi hasil ekstrak piperin adalah
sebagai berikut :
1. Jenis cabai
2. Waktu fermentasi
3. Perbandingan metode yang digunakan
4. Pelarut yang digunakan
b. Berdasarkan uraian diatas perumusan masalah yang dapat diambil
adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh perbedaan sampel cabai yang digunakan
terhadap kadar piperin yang diperoleh.
2. Metode apakah yang paling optimal menghasilkan ekstrak etanol
95% buah cabai dengan kadar piperin tertinggi.
1. 3.

Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah diatas penelitian ini dilakukan

untuk membandingkan metode ekstraksi maserasi dan sokletasi terhadap


kadar piperin tertinggi dari hasil ekstrak etanol 95% buah cabai yang
digunakan.

1. 4.

Luaran Penelitian
Luaran penelitian yang didapat sebagai berikut :
1. Ekstrak metanol 95% dengan kadar piperin
2. Makalah ilmiah

1. 5.

Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangsih

dalam pengembangan obat berbasis herbal dengan bahan baku ekstrak


etanol 95% buah cabai sebagai pengobatan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1.
2. 1. 1

Bahan Baku
Tanaman Cabai

Gambar 2.1. Tanaman Cabai

www.google.com

Klasifikasi tanaman :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Solanales
Famili : Solanaceae (suku terung-terungan)
Genus: Capsicum
Spesies: Capsicum annum L
Sifat Kimia Cabai :
Kapsaisin
Kapsatin
Kapsurabin
Karoten
Karotenoid
Minyak lemak
Vitamin A, B, dan C
Capsacin : capsacin merupakan alkanoid yang terdapat
dalam cabai nama kimia capsaicin adalah (E)-N-(4
hidroksi-3-rretoksiphenilmetil) 8-metil-6-none amida; trans8 meti-N-Vinilil-6-noneamida; N(4 hidroksi-3-metoksi
benzil)-8-metil none trans-6-amida; C18H 27 NO 3
Sifat fisika cabai :
Kelarutan, mudah larut dalam eter, benzen, klo,roform, air

panas dan sedilcit larut dalam CS2.


Bentuk kristal segi empat monoklin
Titik leleh dalam petrolium eter 650C 4. UV max 227, 28

Morfologi Tanaman Cabe Merah


a. Daun
Daun tanaman cabe sangat lah bervariasi menurut spesies dan
varitesnya , ada daun yang memiliki bentuk oval loncong , bahkan ada
yang lanset. Warna permukaan daun bagian atas hijau mudah , hijau , hijau
tua , bahkan kebiruan . sedangkan permukaan daun bagian umumnya

berwrana hijau mudah , hijau pucat dan hijau tua . Ukuran panjang pada
daun sekitar 3-11 cm dengan lebar 1-5 cm .
b. Batang
Batang pada tanaman cabe akn tumbuh pada ketinggian tertentu
saja, kemudian membentuk banyak cabang . Batang untuk cabe merah bisa
biasanya ber ukuran antara 1- 2 m bahkan bisa lebih , batang ini berwarna
hijau tua , hijau muda dan batang batang yang telah berwarna kecoklatan
maka batang sudah mengalami kerusakan pada jaringan parenkim .
c. Akar
Akar tanamanan cabe merah memiliki akar yang sangat lah
berserabut , Biasanya akar terdapat bintil-bintil yang hasil dari simbiosis
dari beberapa mikroorganisme , tidak memiliki akar tunggang , tetapi
memiliki akar tunggang semu .
d. Bunga
Bunga pada tanaman cabe merah sangat lah bervariasi , namun
memiliki bentuk yang sama yaitu memiliki bentuk bintang . Bunga tumbu
di dekat bagian daun , dalam keadaan tunggal atau berkelompok dalam
satu tandannya . Dalam satu tandan ( kelompok ) terdapat 2-3 bunga ,
sedangkan mahkota memiliki bermacam-macam warna yaitu putih , putih
kehijauan , dan keungguan. Memiliki dia meter bunga antar 5 20 mm .
Bunga tanaman cabe merupakan bunga yang sangat sempurnya , karena
bunga jantan dan bunga betina pemasakan di lakukan dengan waktu yang
sama . Sedangkan penyerbukan tanaman cabe di bantu dengan angin yang
memiliki kecepatan 10 20 km/jam .
e. Buah dan Biji
Buah cabe merupakan bagian yang sangat lah penting , memiliki
warna yang sangat lah mencolok yaitu bewarna merah dan juga bewrna
hijau mudah dan hijau mudah . Sedangkan biji di lakukan pada saat cabe
sudah tua dan di lakuka pemetikan lalu di keringkan dan di lakukan
persemaian.
2. 1. 2

Cabai Jawa

Gambar 2.1.2 Cabai Jawa


Klasifikasi Tanaman :
Kingdon
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Subdivisi
: Angiospermae
Kelas
: Magnoliopsida/Dicotuledonae
Ordo
: Pirerales
Famili/ Suku : Piperaceae
Genus/ Marga : Piper
Spesies
: Piper retrofractum Vahl
Nama Umum : Cabe Jawa (Hutapea,1994)
Deskripsi (BPOM RI, 2010)
1. Tanaman
Tanaman cabe jawa (Piper retrofractum Vahl) merupakan
tumbuhan menahun, percabangan tidak teratur, tumbuh memanjat, melilit,
atau melata dengan akar lekatnya, panjangnya dapat mencapai 10m.
Percabangan dimulai dari pangkalnya yang keras dan menyerupai kayu.
Daun tunggal, bertangkai, bentuk bulat telur sampai lonjong, pangkal
seperti jantung atau membulat, ujung agak runcing atau meruncing, tepi
rata, pertulangan menyirip, permukaan atas licin, permukaan bawah
berbintik-bintik, helaian daun seperti daging, warna hijau, panjang 8,530cm, lebar 3-13cm, tangkai daun 0,5-3cm.
Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh tegak atau
sedikit merunduk; ibu tangkai bunga 0,5-2cm; daun pelindung bentuk
bulat telur sampai elips, 1-2mm, berwarna kuning selama perkembangan
bunga; bulir betina 1,5-3cm; kepala putik 2-3cm, pendek, tumpul. Buah
majemuk, termasuk tipe buah batu, keras, berlekatan atau bergerombol
teratur dan menempel pada ibu tangkai buah, bentuk bulat
panjang sampai silindris dengan bagian ujung menyempit, warna buah
merah cerah; biji diameter 2-3 mm2.
2. Simplisia
Buah majemuk berupa bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian
ujung agak mengecil, permukaan tidak rata, bertonjolan teratur, panjang 27cm, garis tengah 4-8mm, bertangkai panjang, berwarna hijau coklat
kehitaman atau hitam, keras. Biji bulat pipih, keras, coklat kehitaman. Bau
khas, aromatis, rasa pedas.
Sifat Kimia :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Piperidin
palmitic acids
Tetrahydropiperic acids
4-methylenedioxy benzene
Minyak atsiri
N-isobutyl-decatrans-2-trans-4-dienamide
1-undecylenyl-3 dan sesamin

Sifat Kimia Efek Farmalogis :


1. Buah rasanya pedas dan panas
2. Bersifat analgenik (penghilang rasa sakit)
3. Akarnya berasa pedas dengan efek hangat
Sifat Fisika :

2. 1. 3

Etanol

Gambar 2.1.3 etanol 95%


Etanol, disebut juga etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut,
atau alkohol saja, adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah
terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering
digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Etanol adalah salah satu obat
rekreasi yang paling tua. Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai
tunggal, dengan rumus kimia C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia
merupakan isomerkonstitusional dari dimetil eter. Etanol sering disingkat
menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan singkatan dari gugus etil (C2H5).

Fermentasi gula

menjadi

etanol

merupakan

salah

satu reaksi

organik paling awal yang pernah dilakukan manusia. Efek dari konsumsi
etanol yang memabukkan juga telah diketahui sejak dulu. Pada zaman
modern, etanol yang ditujukan untuk kegunaan industri seringkali
dihasilkan dari etilena.[1]
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan
kimia yang ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya
adalah pada parfum, perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam
kimia, etanol adalah pelarut yang penting sekaligus sebagai stok umpan
untuk sintesis senyawa kimia lainnya. Dalam sejarahnya etanol telah
lama digunakan sebagai bahan bakar.
Sifat Fisika :
1. Cairan tidak berwarna yang mudah menguap
2. Aroma khas
3. Bila terbakar berwana api kebiruan
4. Larut dalam pelarut organik dan air
Sifat Kimia :
1. Alkohol primer memiliki paling tidak 2 hidrogen atom yang terikat
2. Pembakaran etanol menghasilkan karbon dioksida dan air
3. Gugus hoidroksil etanol sedikit basa
4. Indeks refraksi etanol 1,36242 pada =589,3 nm dan 18,35 C