Anda di halaman 1dari 3

Pemberontakan di Aceh / Gerakan Aceh Merdeka (19762005)

Gerakan Aceh Merdeka atau yang biasa disebut dengan GAM, merupakan organisasi
separatisme yang telah berdiri di Aceh sejak tahun 1976. Tujuan didirikannya GAM ini ialah
agar Aceh dapat lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan membuat negara
kesatuan sendiri dengan nama Nanggroe Aceh Darussalam. Gerakan Aceh Merdeka juga
dikenal dengan nama Aceh Sumatera National Liberation Front (ASNLF).
Pada awalnya, GAM adalah sebuah organisasi yang diproklamirkan secara terbatas. Deklarasi
GAM yang dikumandangkan oleh Hasan Tiro dilakukan secara diam-diam disebuah kamp
kedua yang bertempat di bukit Cokan, Pedalaman Kecamatan Tiro, Pidie. Setahun kemudian,
teks tesebut disebarluaskan dalam versi tiga bahasa; Inggris Indonesia, dan Aceh. Penyebaran
naskah teks proklamasi GAM ini, terungkap ketika salah seorang anggotanya ditangkap oleh
polisi dikarena pemalsuan formulir pemilu di tahun 1977. Sejak itulah, pemerintahan orde
baru mengetahui tentang pergerakan bawah tanah di Aceh.
Pada awalnya, gerakan ini terdiri dari sekelompok intelektual yang merasa kecewa atas
model pembangunan di Aceh. Hal ini terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan di bawah
orang-orang Jawa. Kelompok intelektual ini berasumsi bahwa telah terjadi kolonialisasi Jawa
atas masyarakat dan kekayaan alam di Aceh. Untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat,
kalangan pemuda, serta tokoh-tokoh agama di Aceh, Hasan Tiro mereproduksi gagasan antikolonialisasi Jawa. Gagasan-gagasan Hasan Tiro ini semakin memuncak setelah pemerintah
orde baru meng-eksplorasi kekayaan gas alam dan minyak bumi di Aceh Utara sejak awal
1970-an.
Sebab lain terjadinya gerakan separatisme GAM di Aceh, di perkuat oleh dukungan yang
datang dari para tokoh Darul Islam (DI) di Aceh yang belum diselesaikan secara tuntas di era
orde lama. Tokoh-tokoh DI/TII yang gagal melakukan pemberontakan di Aceh, merasa
bahwa dukungan mereka kepada GAM akan dapatmembantu Aceh memperoleh
kemerdekaannya sendiri.

Munculnya kelompok GAM ditanggapi oleh pemerintahan orde baru dengan cara yang
represif. GAM dipandang sebagai gerakan pengacau liar sehingga harus dibasmi. Dimasa
orde baru, tidak ada toleransi bagi kaum pemberontak yang dapat menyebabkan instabilitas
politik. Hampir tidak ada kebijakan orba yang mencoba untuk mengintegrasikan pihak-pihak
yang memberontak, bahkan terhadap keluarga mereka sekalipun. Pendekatan militer
menyebabkan terjadinya kekerasan dan pelanggaran HAM di Aceh, seperti penghilangan
orang, pembunuhan, pemerkosaan, dan penculikan. Sedangkan Hasan Tiro, sebagai ketua
kelompok GAM, diasingkan di Swiss dan baru saja kembali ke tanah air pada tahun 2008
kemarin.
Separatisme di Aceh justru semakin berkembang setelah tindakan represif dari pemerintahan
orde baru. Dengan munculnya generasi baru yang mendukung GAM yang terdiri dari para
korban Daerah Operasi Militer. Generasi ke-2 kelompok GAM ini melakukan eksodus keluar
dan melakukan perjuangan dari luar Aceh, melalui Malaysia, Libya, dan Jenewa.
Turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, menandakan berakhirnya era orde baru. Berbagai
upaya untuk meredam pemberontakan di Aceh masih terus diusahakan oleh presiden-presiden
RI berikutnya. Sejak era presiden B.J. Habibie sampai dengan presiden Megawati telah
mengupayakan berbagai kebijakan. Namun sayangnya kebijakan-kebijakan tidak berjalan
secara efektif. Sampai akhirnya, pemerintah kembali menggunakan pendekatan militeristik
untuk menyelesaikan masalah di Aceh.
Pada era Abdurrahman Wahid, jalur diplomasi sudah mulai diterapkan untuk mendamaikan
hubungan antara Indonesia dan Aceh. Gusdur menggunakan upaya dialog damai, yang
bernama Jeda Kemanusiaan I dan II. Namun jalur ini kembali tidak efektif, karena Gusdur
terpaksa turun dari kursi pemerintahan sebelum masa jabatannya usai. Pada era Megawati
Soekarnoputri, pemerintah kembali menggunakan pendekatan militeristik yang membuat
semakin banyaknya korban-korban sipil yang berjatuhan dengan menjadikan Aceh sebagai
daerah darurat militer. Dan sekali lagi pendekatan militer membuat Indonesia menjadi
semakin jauh dengan GAM. Yang akhirnya membuat masalah separatisme ini menjadi
semakin berlarut-larut.