Anda di halaman 1dari 18

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kenyamanan Termal


2.1.1 Definisi Kenyamanan Termal
Kenyamanan termal merupakan suatu kondisi dari pikiran manusia yang
menunjukkan kepuasan dengan lingkungan termal (Nugroho, 2011). Menurut
Karyono (2001), kenyamanan dalam kaitannya dengan bangunan dapat
didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana dapat memberikan perasaan nyaman
dan menyenangkan bagi penghuninya. Kenyamanan termal merupakan suatu
keadaan yang berhubungan dengan alam yang dapat mempengaruhi manusia dan
dapat dikendalikan oleh arsitektur (Snyder, 1989). Sementara itu, menurut
Mclntyre (1980), manusia dikatakan nyaman secara termal ketika ia tidak merasa
perlu untuk meningkatkan ataupun menurunkan suhu dalam ruangan. Olgyay
(1963) mendefinisikan zona kenyamanan sebagai suatu zona dimana manusia
dapat

mereduksi

tenaga

yang

harus

dikeluarkan

dari

tubuh

dalam

mengadaptasikan dirinya terhadap lingkungan sekitarnya. Menurut ASHRAE


(2009), kenyamanan termal adalah suatu kondisi dimana ada kepuasan terhadap
keadaan termal di sekitarnya.

2.1.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kenyamanan Termal


Menurut Fanger (1982), kenyamanan termal mengacu pada tingkat
metabolisme manusia yang dipengaruhi oleh kegiatan, insulasi pakaian,
temperatur udara, kelembaban, kecepatan angin, dan intensitas cahaya. Sementara
itu menurut Humphreys dan Nicol (2002), ada dua kelompok variabel yang
mempengaruhi kenyamanan termal, yaitu yang pertama adalah variabel fisiologis
atau pribadi manusia itu sendiri yang meliputi metabolisme tubuh, pakaian yang
dikenakan, dan aktivitas yang dilakukan, dan yang kedua adalah variabel iklim
yang meliputi temperatur udara, kecepatan angin, kelembaban, dan radiasi.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Auliciems dan Szokolay (2007), kenyamanan dipengaruhi oleh


beberapa faktor, yakni temperatur udara, pergerakan angin, kelembaban udara,
radiasi, faktor subyektif, seperti metabolisme, pakaian, makanan dan minuman,
bentuk tubuh, serta usia dan jenis kelamin. Faktorfaktor yang mempengaruhi
kenyamanan termal yaitu, temperatur udara, temperatur radiant, kelembaban
udara, kecepatan angin, insulasi pakaian, serta aktivitas.
a. Temperatur udara
Temperatur udara merupakan salah satu faktor yang paling dominan dalam
menentukan kenyamanan termal. Satuan yang digunakan untuk temperatur
udara adalah Celcius, Fahrenheit, Reamur, dan Kelvin. Manusia dikatakan
nyaman apabila suhu tubuhnya sekitar 37%. Temperatur udara antara suatu
daerah dengan daerah lainnya sangat berbeda. Hal ini disebabkan adanya
beberapa faktor, seperti sudut datang sinar matahari, ketinggian suatu tempat,
arah angin, arus laut, awan, dan lamanya penyinaran.
b. Temperatur radiant
Temperatur radiant adalah panas yang berasal dari radiasi objek yang
mengeluarkan panas, salah satunya yaitu radiasi matahari.
c. Kelembaban udara
Kelembaban udara merupakan kandungan uap air yang ada di dalam udara,
sedangkan kelembaban relatif adalah rasio antara jumlah uap air di udara
dengan jumlah maksimum uap air dapat ditampung di udara pada temperatur
tertentu. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kelembaban udara, yakni
radiasi matahari, tekanan udara, ketinggian tempat, angin, kerapatan udara,
serta suhu.
d. Kecepatan angin
Kecepatan angin adalah kecepatan aliran udara yang bergerak secara mendatar
atau horizontal pada ketinggian dua meter di atas tanah. Kecepatan angin
dipengaruhi oleh karakteristik permukaan yang dilaluinya. Adapun faktorfaktor yang mempengaruhi kecepatan angin (Resmi, 2010), antara lain berupa
gradien barometris, lokasi, tinggi lokasi, dan waktu.

Universitas Sumatera Utara

e. Insulasi Pakaian
Jenis dan bahan pakaian yang dikenakan juga dapat mempengaruhi
kenyamanan termal. Salah satu cara manusia untuk dapat beradaptasi dengan
keadaan termal di lingkungan sekitarnya adalah dengan cara berpakaian.
Misalnya, mengenakan pakaian tipis di musim panas dan pakaian tebal di
musim dingin. Pakaian juga dapat mengurangi pelepasan panas tubuh.
f. Aktivitas
Aktivitas yang dilakukan manusia akan meningkatkan metabolisme tubuhnya.
Semakin tinggi intensitas aktivitas yang dilakukan, maka semakin besar pula
peningkatan metabolisme yang terjadi di dalam tubuh, sehingga makin besar
energi dan panas yang dikeluarkan.
Adapun faktor-faktor lain yang mempengaruhi kenyamanan termal
ruangan dari segi arsitektural (Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan
Oswald P.M. Siahaan, 2013), yakni :
a. Desain Bangunan
Pada iklim tropis, fasad bangunan yang berorientasi Timur-Barat merupakan
bagian yang paling banyak terkena radiasi matahari (Mangunwijaya, 1980).
Oleh karena itu, bangunan dengan orientasi ini cenderung lebih panas
dibandingkan dengan orientasi lainnya. Selain orientasi terhadap matahari,
orientasi terhadap arah angin juga dapat mempengaruhi kenyamanan termal,
karena orientasi tersebut dapat mempengaruhi laju angin ke dalam ruangan
(Boutet, 1987) (Gambar 2.1). Dimensi dan bentuk dari suatu bangunan juga
dapat mempengaruhi lebar bayangan angin (Boutet, 1987) (Gambar 2.2).

Gambar 2.1 Orientasi bangunan persegi terhadap arah angin (Boutet, 1987 dalam Latifah,
Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013)

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.2 Pengaruh dimensi dan bentuk dari bangunan terhadap ukuran bayangan angin
(Boutet, 1987 dalam Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M.
Siahaan, 2013)

Radiasi panas matahari masuk melalui proses konduksi pada material


bangunan (Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M.
Siahaan, 2013). Panas tersebut dapat masuk ke dalam ruangan melalui
dinding, atap, ataupun kaca jendela (Tabel 2.1). Perletakan massa bangunan
yang berpola seperti papan catur akan membuat aliran udara lebih merata.
Perletakan massa bangunan yang berpola sejajar akan menciptakan pola
lompatan aliran udara yang tidak biasa dengan kantung turbulensinya(Boutet,
1987 dalam Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M.
Siahaan, 2013) (Gambar 2.3).
Tabel 2.1 Transmitan konstruksi pada dinding bangunan (Latifah, N.L., Harry Perdana,
Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013)

NO.

Tipe Konstruksi

Transmitan, U
(W/m2DegoC)

1.

Batu bata diplester kedua sisi, tebal 144 mm

3,24

2.

Batu bata tidak diplester, tebal 228 mm

2,67

3.

Batu bata diplester kedua sisi, tebal 228 mm

2,44

4.

Beton padat biasa, tebal 152 mm

3,58

Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.3 Pengaruh perletakan massa bangunan terhadap aliran udara (Boutet, 1987 dalam
Latifah, Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013)

b. Desain Bukaan
Perletakan dan orientasi inlet berada pada zona bertekanan positif, sedangkan
outlet berada pada zona bertekanan negatif. Inlet dapat mempengaruhi
kecepatan dan pola aliran udara di dalam ruangan, sedangkan pengaruh outlet
hanya pengaruh kecil saja (Mclaragno, Michele, 1982 dalam Latifah, N.L.,
Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013) (Gambar
2.4). Bukaan berfungsi untuk mengalirkan udara ke dalam ruangan dan
mengurangi tingkat kelembaban di dalam ruangan. Bukaan yang baik harus
terjadi cross ventilation, sehingga udara dapat masuk dan keluar ruangan
(Gambar 2.5).

Gambar 2.4 Pengaruh perletakan dan orientasi bukaan terhadap angin(Sumber: Melaragno,
Michele, 1982, dalam Latifah, Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald
P.M. Siahaan, 2013)

Gambar 2.5 Pengaruh lokasi bukaan terhadap pola aliran udara dalam ruang (Sumber:
Melaragno, Michele, 1982, dalam Latifah, Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan
Oswald P.M. Siahaan, 2013)

Semakin besar perbandingan luas outlet terhadap inlet, maka kecepatan angin
di dalam ruangan lebih tinggi sehingga ruangan lebih sejuk (Latifah, N.L.,

Universitas Sumatera Utara

10

Harry Perdana, Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013). Tipe
bukaan yang berbeda akan memberikan sudut pengarah yang berbeda pula
dalam menentukan arah gerak udara dalam ruang (Gambar 2.6).

Gambar 2.6 Tipe bukaan (Sumber: Beckett, 1974 dalam Latifah, Latifah, N.L., Harry Perdana,
Agung Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013)

c. Pengaruh Luar
Perletakan vegetasi di area sekitar bangunan dapat mengurangi radiasi panas
matahari ke bangunan baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut
White R.F (dalam Egan, 1975 dalam Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung
Prasetya, dan Oswald P.M. Siahaan, 2013), semakin jauh jarak pohon dari
suatu bangunan, maka pergerakan udara di dalam bangunan yang tercipta akan
menjadi lebih baik (Gambar 2.7).

Gambar 2.7 Jarak pohon terhadap bangunan dan pengaruhnya terhadap ventilasi alami
(Sumber: Egan, 1975 dalam Latifah, Latifah, N.L., Harry Perdana, Agung Prasetya, dan
Oswald P.M. Siahaan, 2013)

d. Pelindung Terhadap Radiasi Matahari


Apabila orientasi bangunan harus Timur Barat, maka jendela-jendela yang
berada di sisi ini harus dilindungi dari radiasi panas dan dari efek silau yang
muncul pada saat sudut matahari rendah yang dapat mengganggu aktivitas di
dalam ruangan. Berikut ini adalah elemen arsitektur yang sering digunakan
sebagai pelindung terhadap radiasi matahari (solar shading devices) (Gambar
2.8).

Universitas Sumatera Utara

11

Gambar 2.8 Jenis - jenis solar shading devices sebagai pelindung terhadap radiasi matahari
(Sumber: http://www.bembook.ibpsa.us/index.php?title=Solar_Shading)

2.1.3 Standar Kenyamanan Termal


Lippsmeier (1997) menyatakan bahwa batas kenyamanan untuk kondisi
khatulistiwa berkisar antara 19C TE-26C TE dengan pembagian berikut:
Suhu 26C TE

: Umumnya penghuni sudah mulai berkeringat.

Suhu 26C TE30C TE

: Daya tahan dan kemampuan kerja penghuni mulai


menurun.

Suhu 33,5C TE35,5 C TE : Kondisi lingkungan mulai sukar.


Suhu 35C TE36C TE
Temperatur

dalam

: Kondisi lingkungan tidak memungkinkan lagi.


ruangan

yang

sehat

berdasarkan

MENKES

NO.261/MENKES/SK/II/1998 adalah temperatur ruangan yang berkisar antara


18C-26C. Selain itu, berdasarkan standar yang ditetapkan oleh SNI 03-65722001, ada tingkatan temperatur yang nyaman untuk orang Indonesia atas tiga
bagian yang dapat dilihat pada Tabel 2.2 berikut.

Universitas Sumatera Utara

12

Tabel 2.2 Batas kenyamanan termal menurut SNI 03-6572-2001

Temperatur Efektif
(TE)

Kelembaban / RH
(%)

Sejuk Nyaman

20,5C TE 22,8C TE

50%

Ambang Atas

24C TE

80%

Nyaman Optimal

22,8C TE 25,8C TE

Ambang Atas

28C TE

Hangat Nyaman

25,8C TE 27,1C TE

70%

60%
Ambang Atas

31C TE

Temperatur Efektif tidak sama dengan Suhu Tabung Kering yang


ditunjukkan oleh termometer. Temperatur Efektif (TE) sudah menggabungkan
faktorfaktor berupa temperatur udara, kelembaban udara relatif (RH), kecepatan
udara (V) serta radiasi yang didapat dengan menggunakan panduan diagram
psikometrik (Gambar 2.9).

Gambar 2.9 Diagram Psikometrik (Sumber: Lippsmeier, 1997)

Universitas Sumatera Utara

13

2.2 Kenyamanan Termal di Dalam Ruangan Kelas


2.2.1 Standar Ruangan Kelas untuk Tingkat Pendidikan Dasar
Berdasarkan Permendiknas No. 24 Tahun 2007, ada beberapa ketentuan
untuk ruangan kelas untuk tingkat pendidikan dasar, yaitu kapasitas maksimum
siswa di dalam kelas adalah 28 orang, dimana rasio minimum luas ruang kelas
adalah 2 m2/siswa. Namun, menurut aplikasi Dapodik yang terbaru, kapasitas
maksimum siswa di dalam kelas adalah 32 orang dan minimumnya adalah 20
orang. Hal ini mungkin terjadi karena beberapa ruang kelas sudah mengalami
perluasan dan pertimbangan mengenai sirkulasi siswa di dalam ruangan.

2.2.2 Hubungan Antara Kenyamanan Termal di Dalam Kelas dengan


Kinerja Belajar Siswa
Menurut Karimpanah (2007) dalam Foong (2008), kenyamanan termal dan
kualitas udara dalam ruangan kelas yang baik dapat memberi pengaruh positif
tidak hanya pada kesehatan para siswa di dalamnya tetapi juga dapat membantu
meningkatkan konsentrasi dan kinerja belajar siswa. Ketidakpuasan secara termal
seperti ruangan kelas yang terasa panas atau dingin dapat diasosiasikan ke dalam
stress fisik (secara termal) dan dapat menyebabkan para siswa di dalamnya
menjadi sakit atau kurang berkonsentrasi (Paulo, 2004 dalam Foong, 2008). Oleh
karena itu, kenyamanan termal di dalam kelas penting untuk diperhatikan karena
kepadatan siswa yang tinggi di dalam kelas dapat memberi pengaruh negatif
terhadap kinerja belajar siswa (Foong, 2008).

2.3 Kenyamanan Termal Pada Manusia


2.3.1 Faktor-faktor

yang

Mempengaruhi

Kenyamanan

Termal

Pada

Manusia
Menurut Levin (1995), tingkat kenyamanan termal pada manusia berbedabeda, sehingga tidak mungkin membuat semua orang merasa nyaman sesuai
dengan tingkat kenyamanan termal masing-masing orang. Hal ini merupakan
tantangan bagi arsitek, insinyur, dan operator bangunan adalah untuk merancang
dan memelihara bangunan dengan kondisi kenyamanan termal yang hanya

Universitas Sumatera Utara

14

sebagian kecil saja penghuni yang merasa tidak nyaman. Para desainer harus
menentukan rentang kondisi termal yang dapat diterima dan kemudian
memutuskan bagaimana untuk mempertahankan kondisi tersebut. Dalam
menentukan rentang yang dapat diterima, penting untuk mengetahui berapa
banyak penghuni yang akan merasa tidak nyaman pada setiap suhu tertentu dan
berapa banyak akan merasa tidak nyaman bahkan pada suhu optimal. Faktorfaktor yang mempengaruhi kenyamanan termal pada manusia dibagi menjadi tiga
faktor utama (Auliciems dan Szokolay, 2007), yaitu :
a. Lingkungan
Kenyamanan termal di lingkungan sekitar manusia dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu temperatur udara, pergerakan angin, kelembaban, serta radiasi.
Temperatur udara merupakan faktor lingkungan yang paling penting.
Temperatur ini merupakan temperatur udara kering (dry bulb temperature)
yang akan menentukan penyaluran panas bersama dengan pergerakan udara.
Pergerakan udara yang diukur dengan kecepatannya (v, dalam m/s) dapat
membantu agar permukaan tubuh dapat beradaptasi terhadap kenaikan suhu
lebih cepat dan mempengaruhi penguapan air dari kulit, sehingga memberikan
efek pendinginan. Kelembaban udara juga mempengaruhi tingkat penguapan.
Hal ini dapat dinyatakan dengan kelembaban relatif (RH,%). Pertukaran
radiasi akan bergantung pada suhu rata-rata dari permukaan sekitarnya, yang
disebut sebagai suhu radiasi rata-rata (MRT) atau adanya radiasi satu arah
yang kuat, misalnya dari matahari.
b. Individu
Setiap manusia mengeluarkan panas. Panas yang keluar dari dalam tubuh
manusia dipengaruhi oleh tingkat metabolisme tubuh dan jenis pakaian yang
dikenakan. Tingkat metabolisme merupakan panas yang dihasilkan di dalam
tubuh selama beraktivitas. Semakin banyak melakukan aktivitas fisik, semakin
banyak panas yang dihasilkan. Semakin banyak panas yang dihasilkan tubuh,
semakin banyak panas yang perlu dihilangkan agar tubuh tidak mengalami
overheat. Metabolisme diukur dalam MET (dimana 1 MET=58 W/m2).
Manusia dewasa normal memiliki luas permukaan tubuh 1,7 m2, dan orang

Universitas Sumatera Utara

15

dalam kenyamanan termal dengan tingkat aktivitas 1 MET akan memiliki heat
loss kira-kira 100 W. Untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat, pengukuran
tingkat metabolisme tubuh sebaiknya dilakukan paling lama 1 jam terakhir.
Berikut adalah tingkat metabolisme dari beberapa aktivitas berdasarkan
ASHRAE (2009) (Gambar 2.10).

Gambar 2.10 Nilai MET berbagai aktivitas untuk orang dewasa, dimana luas permukaan
tubuh orang dewasa 70 kg = 1,7 m2(Sumber: ASHRAE, 2009)

Pakaian merupakan salah satu faktor dominan yang mempengaruhi


pembuangan panas. Satuan nilai insulasi pakaian yang dipakai dalam studi
kenyamanan termal adalah Clo. Hal ini terkait dengan penutup isolasi seluruh
tubuh dari transmitansi (U-value) sebesar 6,45 W/mK (yaitu resistensi dari
0.155 m K /W). 1 clo adalah nilai isolasi dari setelan bisnis normal dan
pakaian dalam dari kapas. Berikut adalah nilai insulasi pakaian berdasarkan
ASHRAE (2009) (Gambar 2.11).

Universitas Sumatera Utara

16

Gambar 2.11 Nilai insulasi pakaian (Sumber: ASHRAE, 2009)

Adapun tingkat metabolisme (nilai MET) untuk aktivitas belajar di dalam


kelas adalah 1.2 met dengan luas permukaan tubuh manusia 1.7 m2. Namun,
menurut ter Mors, S., Hensen J. L. M., Loomans, M., dan Boerstra, A. (2011)
nilai met untuk aktivitas belajar adalah 1.789 met. Angka ini didapat dari
penyesuaian terhadap luas permukaan tubuh anak umur 7-10 tahun yakni 1.14
m2. Sedangkan, untuk nilai insulasi pakaian di dalam kelas (seragam sekolah)
mengacu pada ASHRAE (2009) (Tabel 2.3).
Tabel 2.3 Nilai insulasi pakaian di dalam kelas (ASHRAE, 2009)

Jenis Pakaian

Nilai Insulasi Pakaian

Celana dalam

0.06 clo

Baju dalam

0.06 clo

Baju

0.09 clo

Celana dan rok

0.11 clo

Kaos kaki

0.03 clo

Sepatu

0.01 clo

Total

0.43 clo

c. Faktor lain yang turut berkontribusi


Tingkat metabolisme tubuh manusia selain dipengaruhi oleh aktivitas dan
pakaiannya,

ada

faktor-faktor

lain

yang

turut

berkontribusi

dalam

meningkatkan metabolisme tubuh, yaitu makanan dan minuman, aklimatisasi

Universitas Sumatera Utara

17

(adaptasi tubuh terhadap lingkungan sekitar), bentuk tubuh, tingkat


kegemukan, umur dan jenis kelamin, serta kondisi kesehatan tubuh. Makanan
dan minuman yang sehat dan bergizi dapat meningkatkan metabolisme tubuh.
Aklimatisasi menyebabkan tubuh bekerja lebih keras untuk menyesuaikan
dengan lingkungan sekitar, sehingga metabolisme tubuh menjadi meningkat.
Teori Sheldon dalam Polinggapo (2013) membagi bentuk tubuh manusia
menjadi tiga, yaitu endomorph, mesomorf, dan ektomorf. Endomorf adalah
manusia yang bentuk tubuhnya bulat dan biasanya bertubuh besar. Tingkat
metabolisme dalam tubuh dengan bentuk seperti ini sangat rendah. Mesomorf
adalah manusia yang bentuk tubuhnya ideal. Tingkat metabolisme dalam
tubuhnya cenderung normal. Ektomorf adalah manusia yang bentuk tubuhnya
kurus. Tingkat metabolisme dalam tubuh dengan bentuk seperti ini sangat
tinggi. Umur dan jenis kelamin yaitu tingkat metabolisme anak-anak lebih
tinggi daripada orang dewasa dan tingkat metabolisme laki-laki lebih tinggi
daripada perempuan. Dari segi kondisi kesehatan, orang yang sakit lebih
tinggi daripada orang sehat.

2.3.2 Tindakan Kenyamanan Termal Pada Manusia


Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fanger (1982) yang dikutip di
dalam Susanti dan Aulia (2013) adalah pengukuran tingkat kenyamanan termal
pada manusia menggunakan dua metode statistik yaitu skala PMV (Predicted
Mean Vote) dan PPD (Predicted Percentage Dissatisfied). Berikut adalah grafik
PMV-PPD berdasarkan ASHRAE (2009) (Gambar 2.12).

Gambar 2.12 Grafik hubungan antara PMV dan PPD (Sumber: ASHRAE, 2009)

Universitas Sumatera Utara

18

Predicted Mean Vote (PMV) merupakan skala untuk mengindikasikan rasa


dingin dan hangat yang dirasakan oleh manusia. Nilai PMV (Predicted Mean
Vote) menentukan rentang sensasi temperatur yang dirasakan orang terhadap
lingkungan di sekitarnya. Indeks PMV ini berkisar dari -3 (sangat dingin) sampai
dengan +3 (sangat panas). Nilai nol adalah netralitas termal, bukan kenyamanan
termal. Setelah faktor lingkungan dan faktor subyektif diukur, maka untuk sensasi
termal untuk tubuh secara keseluruhan dapat diprediksi dengan cara menghitung
indeks PMV (Susanti dan Aulia, 2013), yang didasarkan pada keseimbangan
panas dari tubuh manusia, yang diberikan oleh persamaan di bawah ini:
PMV = 0,303e-0,036M + 0.028x [(MW) 3.05 x 10-3 {5733 6.99 (M-W)- Pa}
0.42 {(M-W)58.15 1.7 x 10-5 M(5867-Pa) 0.0014 M (34-ta) 3.96 X 10-8 fcl
{tcl + 273)4 (tr +273)4} fclhc(tcl ta)]
tcl = 35.7 0.028 (M W) 0.155 Icl [3.96 x 10-8 fcl {tcl + 273)4 [(tr + 273)4} +
fclhc(tcl ta)]
hc = max (2.38 (tcl ta) 0.25, 12.1V)
fc = 1.0+0.2 Icl untuk Icl<0,5 clo
1.05+0.1 Icl untuk Icl>0,5 clo
Dimana,
M : Tingkat aktivitas (W/m2)
W : Aktivitas luar (W/m2), 0 untuk sebagian besar aktivitas
fcl : Rasio permukaan tubuh orang ketika berpakaian dan tidak berpakaian
tcl : Temperatur permukaan pakaian (oC)
tr : Temperatur radiasi (oC)
hc : Konvektif heat transfer dalam (W/m2 K)
ta : Temperatur udara (oC)
Pa : Kelembaban udara (Pa)
Icl : Nilai insulasi pakaian (clo)
V : Kecepatan aliran udara (m/s)
Sedangkan,

PPD

(Predicted

Percentage

Dissatisfied)

merupakan

banyaknya orang (dalam persentase) yang tidak puas terhadap keadaan termal di
lingkungan sekitar. Orang diasumsikan tidak puas terhadap keadaan termal

Universitas Sumatera Utara

19

apabila indeks PMV yang dirasakannya adalah -3 (sangat dingin), -3 (dingin), +2


(panas), dan +3 (sangat panas). Semakin besar persentase PPD, maka semakin
banyak penghuni yang merasa tidak puas. Fanger (1982) di dalam Susanti dan
Aulia (2013), menghubungkan nilai PMV dan PPD seperti yang diberikan oleh
persamaan di bawah ini:
PPD = 100 95 exp (10.03353PMV4+ 0,2179 PMV2)
Dalam menyelesaikan persamaan PMV dan PPD membutuhkan program
komputer karena nilai hc dan tcl saling bergantung (Satwiko, 2009). Salah satu
program tersebut yaitu CBE Thermal Comfort Tool for ASHRAE-55 (Gambar
2.13). Program ini menghasilkan nilai PMV dan PPD berdasarkan data-data yang
dimasukkan. Data-data tersebut berupa temperatur udara, temperatur radiant,
kecepatan angin, kelembaban relatif, nilai insulasi pakaian (clo), serta nilai
metabolisme (met). PMV dan PPD yang dihasilkan mengacu pada ASHRAE-55.

Gambar 2.13 CBE Thermal Comfort Tool for ASHRAE-55 (Sumber:


http://smap.cbe.berkeley.edu/comforttool)

Universitas Sumatera Utara

20

2.4 Penelitian Terkait dengan Kenyamanan Termal di Sekolah


Penelitian mengenai kenyamanan termal di sekolah sudah dilakukan di
beberapa tahun terakhir. Sekolah yang diteliti pun cukup beragam baik dari segi
tingkat pendidikan, lokasi sekolah, serta tujuan di balik penelitian tersebut.
Penelitian tersebut ada yang memaparkan kondisi kenyamanan termal ruangan
kelas di suatu sekolah dan ada pula yang membandingkan kenyamanan termal
ruang kelas di sekolah yang satu dengan yang lainnya. Metode penelitian yang
digunakan pun berbeda-beda, yakni melalui pengukuran dan atau pembagian
kuesioner. Adapun beberapa penelitian mengenai kenyamanan termal di sekolah
adalah sebagai berikut.
a. Field study on thermal comfort in a UK primary school (Teli, Jentsch,
James, dan Bahaj, 2012)
Penelitian mengenai kenyamanan termal ini dilakukan di sekolah dasar di
Southampton, UK. Penelitian ini dilakukan mulai dari bulan April sampai Juli
2011. Penelitian ini dilakukan di semua kelas di sekolah dasar tersebut yakni
delapan kelas dengan total jumlah siswa sekitar 230 orang. Metode penelitian
ini menggunakan metode pengukuran dan kuesioner kenyamanan termal.
Pengukuran dilakukan dengan meletakkan alat di tengah-tengah ruangan kelas
dan jauh dari sumber-sumber panas. Kemudian, hasil PMV dan PPD dari
kuesioner penelitian tersebut dibandingkan dengan standar ISO 773O dan EN
15251 yang mengacu pada tingkat kenyamanan orang dewasa. Hasil dari
penelitian ini yaitu anak-anak memiliki tingkat kenyamanan yang berbeda
dengan orang dewasa. Anak-anak umumnya merasakan sensasi termal yang
lebih hangat dari orang dewasa. Hal ini mungkin disebabkan tingkat
metabolisme tubuh yang lebih tinggi, kesempatan untuk beradaptasi dengan
kondisi termal yang terbatas, anak-anak juga melakukan aktivitas di luar kelas
yakni bermain, berbeda dengan orang dewasa yang hanya berada di dalam
ruangan saja, serta dari segi adaptasi termal melalui pakaian, tindakan yang
dilakukan anak-anak lebih terbatas karena ada ketentuan pakaian seragam dari
sekolah.

Universitas Sumatera Utara

21

b. Evaluasi kenyamanan termal ruang sekolah SMA negeri di kota Padang


(Susanti dan Aulia, 2013)
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kondisi dan sensasi kenyamanan
termal di sekolah SMA negeri di kota Padang. Penelitian ini dilakukan di
sebelas sekolah dimana masing-masing sekolah mewakili sebelas daerah di
kota Padang. Dalam menentukan tingkat kenyamanan termal di sekolah
tersebut, metode penelitian yang digunakan yaitu melalui pengukuran dan
kuesioner. Pengukuran menggunakan alat yang diletakkan di tengah-tengah
ruangan dan di setiap ujung ruangan. Pengukuran dilakukan untuk
mendapatkan data mengenai temperatur udara, temperatur radiant, kecepatan
angin, serta kelembaban relatif. Kemudian, hasil pengukuran dihitung untuk
mendapatkan nilai PMV dan PPD. PMV dan PPD dari pengukuran akan
dibandingkan dengan PMV dan PPD dari individual vote kuesioner
kenyamanan termal. Kesimpulan dari penelitian ini adalah para siswa dari
kesebelas sekolah SMA negeri di kota Padang merasa tidak nyaman secara
termal, sehingga perlu adanya pengkondisian udara buatan atau penambahan
elemen arsitektur untuk mengurangi radiasi panas di dalam kelas.
c. Adaptive thermal comfort in primary school classrooms: Creating and
validating PMV-based comfort charts (ter Mors, S., Hensen J. L. M.,
Loomans, M., dan Boerstra, A., 2011)
Penelitian ini dilakukan di ketiga sekolah yang berbeda di Belanda. Penelitian
ini dilakukan selama 24 hari di ketiga musim, yaitu di musim dingin, musim
semi, dan musim panas tahun 2010. Metode penelitian yang digunakan yaitu
melalui pengukuran dan kuesioner. Pengukuran menggunakan alat yang
diletakkan di tengah-tengah ruangan . Pengukuran dilakukan untuk
mendapatkan data mengenai temperatur udara, temperatur radiant, kecepatan
angin, serta kelembaban relatif. Kemudian, hasil pengukuran dihitung untuk
mendapatkan nilai PMV dan PPD. PMV dan PPD dari pengukuran akan
dibandingkan dengan PMV dan PPD dari kuesioner kenyamanan termal.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil kalkulasi dari PMV model tidak
dapat memprediksikan sensasi termal yang dirasakan anak-anak secara akurat.

Universitas Sumatera Utara

22

Hasil dari kuesioner menunjukkan bahwa anak-anak umumnya menginginkan


temperatur yang lebih rendah dari temperatur yang diprediksikan PMV model.

2.5 Sintesa Tinjauan Pustaka


Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, dijelaskan bahwa kenyamanan
termal di dalam ruangan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yakni temperatur
udara, kecepatan angin, kelembaban, radiasi, dan dari penghuninya sendiri.
Kenyamanan termal juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dari arsitektural, seperti
desain bangunan, desain bukaan, shading devices, dan faktor eksternal seperti
vegetasi. Tingkat kenyamanan termal dalam suatu ruangan seperti ruang kelas
dapat ditentukan dari indeks PMV dan PPD. Kriteria ruangan kelas ditentukan
dalam standar Permendiknas No. 24 Tahun 2007. Evaluasi kenyamanan termal
terhadap ruangan kelas yang ada penting untuk dilakukan untuk mengetahui
apakah ruang kelas tersebut sudah nyaman atau tidak. Hal ini dikarenakan dalam
meningkatkan kualitas pendidikan, kondisi lingkungan di dalam kelas haruslah
diperhatikan, terutama dari segi kenyamanan termal. Sebab, kenyamanan termal
dapat mempengaruhi kinerja siswa dan guru di dalam kelas.

Universitas Sumatera Utara