Anda di halaman 1dari 31

Lingkungan Pengendapan Batubara

23 September 2006
Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan pengendapan
tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh synsedimentary dan post-sedimentary.
Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan
struktur yang bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan, komposisi, dan
kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan suatu susunan
pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan secara perlahan-lahan
namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana terdapat sirukulasi air yang cepat
sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi
diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di
lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat dijumpai
di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk batubara (Tabel
2.1) yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain, lower delta
plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan mempunyai asosiasi dan
menghasilkan karakter batubara yang berbeda.

Environment
Gravelly braid plain
Sandy braid plain
Alluvial valley and
upper delta plain
Lower delta plain
Backbarrier strand
plain

Tabel 2.1
Lingkungan Pengendapan Pembentuk Batubara
(Diesel, 1992)
Subenvironment
Coal Characteristics
Bars, channel, overbank plains,
mainly dull coals, medium to
swamps, raised bogs
low TPI, low GI, low sulphur
Bars, channel, overbank plains,
mainly dull coals, medium to
swamp, raised bogs,
high TPI, low to medium GI,
low sulphur
channels, point bars, floodplains
mainly bright coals, high TPI,
and basins, swamp, fens, raised
medium to high GI, low
bogs
sulphur
Delta front, mouth bar, splays,
mainly bright coals, low to
channel, swamps, fans and
medium TPI, high to very high
marshes
GI, high sulphur
Off-, near-, and backshore, tidal
transgressive : mainly bright
inlets, lagoons, fens, swamp, and coals, medium TPI, high GI,
marshes
high sulphur
regressive : mainly dull coals,
low TPI and GI, low sulphur

Estuary

channels, tidal flats, fens and


marshes

mainly bright coal with high GI


and medium TPI

Proses pengendapan batubara pada umunya berasosiasi dengan lingkungan fluvial flood plain dan
delta plain. Akumulasi dari endapan sungai (fluvial) di daerah pantai akan membentuk delta dengan
mekanisme pengendapan progradasi (Allen & Chambers, 1998).
Lingkungan delta plain merupakan bagian dari kompleks pengendapan delta yang terletak di atas
permukaan laut (subaerial). Fasies-fasies yang berkembang di lingkungan delta plain ialah endapan
channel, levee, crevase, splay, flood plain, dan swamp. Masing-masing endapan tersebut dapat
diketahui dari litologi dan struktur sedimen.
Endapan channel dicirikan oleh batupasir dengan struktur sedimen cross bedding, graded bedding,
paralel lamination, dan cross lamination yang berupa laminasi karbonan. Kontak di bagian bawah
berupa kontak erosional dan terdapat bagian deposit yang berupa fragmen-fragmen batubara dan
plagioklas. Secara lateral endapan channel akan berubah secara berangsur menjadi endapan flood
plain. Di antara channel dengan flood plain terdapat tanggul alam (natural levee) yang terbentuk
ketika muatan sedimen melimpah dari channel. Endapan levee yang dicirikan oleh laminasi batupasir
halus dan batulanau dengan struktur sedimen ripple lamination dan paralel lamination.
Pada saat terjadi banjir, channel utama akan memotong natural levee dan membentuk crevase play.
Endapan crevase play dicirikan oleh batupasir halus sedang dengan struktur sedimen cross bedding,
ripple lamination, dan bioturbasi. Laminasi batupasir, batulanau, dan batulempung juga umum
ditemukan. Ukuran butir berkurang semakin jauh dari channel utamanya dan umumnya
memperlihatkan pola mengasar ke atas.
Endapan crevase play berubah secara berangsur ke arah lateral menjadi endapan flood plain. Endapan
flood plain merupakan sedimen klastik halus yang diendapkan secara suspensi dari air limpahan
banjir. Endapan flood plain dicirikan oleh batulanau, batulempung, dan batubara berlapis.
Endapan swamp merupakan jenis endapan yang paling banyak membawa batubara karena lingkungan
pengendapannya yang terendam oleh air dimana lingkungan seperti ini sangat cocok untuk akumulasi
gambut.
Tumbuhan pada sub-lingkungan upper delta plain akan didominasi oleh pohon-pohon keras dan akan
menghasilkan batubara yang blocky. Sedangkan tumbuhan pada lower delta plai didominasi oleh
tumbuhan nipah-nipah pohon yang menghasilkan batubara berlapis (Allen, 1985).

Lingkungan Pengendapan BatuBara

LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA

1 LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA


Menurut Diessel (1992) ada beberapa lingkungan pengendapan yang
dapat menghasilkan endapan batubara, antara lain:
1. Gravelly braid plain dengan sub-lingkunganenvironments:
bars, channels, overbank plains, swamps, and raised bogs.
2. Sandy braid plain dengan sub-environments: bars, channels,
overbank plains, swamps, and raised bogs.
3. Alluvial valley and upper delta plain dengan subenvironments: channels, point bars, flood plains, swamps, fens,
and raised bogs.
4. Lower delta plain dengan sub-environments: delta front,
mouth bar, splays, channels, swamps, fans, and marshes.
5. Back barrier strand plain dengan sub-environments: off-,
near-, and backshore, tidal inlets, lagoons, fens, swamps, and
marshes.
6. Estuary dengan sub-environments: channels, tidal flats, fens,
and marshes.
Horne berdasarkan penelitiannya yang monumental di daerah Missisipi

Lingkungan barrier

Lingkungan ini mempunyai peran penting, yaitu menutup pengaruh oksidasi dari air laut
dan mendukung pembentukan gambut di bagian daratan. Kriteria utama mengenal
lingkungan barrier adalah pada hubungan lateral dan vertikal dari struktur sedimen dan
pengenalan tekstur batupasir. Kearah laut batupasir butirannya menjadi semakin halus dan
selang-seling dengan serpih gampingan merah kecoklatan sampai kehijauan.

2 ANALISIS CEKUNGAN BATUBARA


Hampir 70% endapan batubara dunia dijumpai pada basin aktif, terutama pada foreland
basins, sedangkan sisanya 30% berada pada cratonic basins. Banyak cekungan batubara
mempunyai sejarah yang kompleks sehingga sulit untuk diklasifikasikan.
2.1 Pengertian analisis cekungan batubara
Analisis cekungan batubara berdasarkan bermacam data geologi yang dikumpulkan, dikutip,
diperiksa, dianalisis, disintesa, dan ditafsirkan untuk mempelajari proses-proses yang telah
berlangsung, sehingga akhirnya diketahui sejarah evolusi (ubahangsur) suatu cekungan
batubara. Sejarah geologi ini meliputi tektonik, sedimentologi, diagenesa, geokimia,
paleoklimatik, paleontologi, dan proses burial, dimana semuanya dikombinasikan dan
diinteraksikan dalam cekungan dari awal hingga sekarang. Dengan kata lain, analisis
cekungan batubara meliputi beberapa fase dari suatu kegiatan yang memerlukan berbagai
sub disiplin ilmu geologi dan merupakan proses yang berkelanjutan.
Analisis cekungan batubara memerlukan skala peta yang bermacam-macam, informasi
aktual yang selalu berkembang, dan studi regional untuk lebih menunjang secara lebih
spesifik daerah kajian. Langkah awal dari analisis cekungan batubara adalah identifikasi
cekungan, data apa saja yang masih terbatas, mengkompilasikan data struktur, tektonik, dan

tekanan rejim temperatur. Penyempurnaan dari setiap tahap kerja adalah untuk memulai
fase berikutnya.
Analisis cekungan batubara adalah alat untuk menentukan secara lebih sempurna konsep
batubara sebagai batuan sedimen, sebagai sistem geokimia, dan sebagai endapan organik
dengan asosiasi batuannya.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

2.2 Sasaran analisis cekungan batubara


Analisis cekungan batubara mempunyai kepentingan untuk tujuan keilmuan maupun alasan
ekonomi.
Ada beberapa tujuan ilmiah yang ingin diketahui dari suatu analisis cekungan batubara,
yaitu:
Genesa endapan batubara berdasarkan ruang dan waktu.
Sebaran endapan batubara berdasarkan ruang dan waktu.
Kendali tektonik dan struktur geologi.
Lingkungan pengendapan fisik dan biologi.
Proses-proses geokimia, biologi, dan fisik.
Kendali allocyclic dan autocyclic.
Kondisi iklim purba.
Proses syngenetik, diagenetik, dan epigenetik.
Klasifikasi endapan batubara berdasarkan penentuan umum, derajat dan jenis batubara,
swerta kualitas batubara.

Pada sasaran ekonomi dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu:


Tahap pertama adalah evaluasi sumberdaya batubara potensial pada suatu cekungan.
Evaluasi ekonomi harus berdasarkan pada evaluasi dan analisis secara ilmiah yang
melibatkan sejak awal berbagai disiplin untuk bekerjasama dalam proyek analisis cekungan,
antara lain ahli geologi, ahli tambang, ahli teknik, manager, ahli pemasaran, ahli ekonomi,
dan ahli keuangan, dan disiplin lain yang terkait.
2. Tahap kedua adalah keterkaitan antara evaluasi cadangan, perencanaan tambang, dan
pembangunan tambang. Pada tahap ini, kriteria yang penting adalah:
Kedalaman lapisan batubara.
Kemenerusan lateral lapisan batubara.
Kartakter lapisan penutup.
Pengaruh struktur terhadap lapisan batubara.
1.

2.3 Data kritis untuk analisis cekungan


Peta geologi adalah dasar untuk memahami sebaran lapisan batubara dan lapisan pembawa
batubara, karena disertai dengan pengeplotan lapisan batubara dan batuan pembawa
lapisan batubara sebagai suatu satuan yang khusus. Peta geologi dibuat dalam bermacam
skala dan disertai dengan peta-peta lain seperti peta isopach, isolith, ratio map, isocarb,
isocal, isovol, isomoist. Isoburden, dll.
Data yang dihimpun adalah data stratigrafi, data lingkungan pengendapan, dan data
struktur geologi.
2.4 Data bawah permukaan untuk analisis cekungan
Data geologi bawah permukaan diperoleh dari pemboran dan metode geofisika, keduanya
akan saling melengkapi, selanjutnya digunakan untuk pengembangan, pengujian, dan
pemodelan dari bermacam hipotesis.
2.5 Data mineralogi dan petrografi organik
Berdasarkan studi mikroskopik dari berbagai jenis batuan sedimen dan endapan organik.
Antara lain studi maceral, paleosoil, dan underclay oleh Cecil dkk. (1985) untuk menentukan
jenis rawa. Hunt (1982) melakukan studi hubungan komposisi petrografi, kandungan sulfur,

dan lingkungan pengendapannya. Ruppet dkk. (1985) studi karakteristik butiran kuarsa
pada batubara untuk menjelaskan asal mula mineral yang berada di dalam batubara.
2.6 Data geokimia dan petrokimia
Membantu penentuan genesa batubara, seperti kondisi geokimia, sedimentasi, dan evolusi
geokimia suatu cekungan batubara.

2.7 Data paleontologi: biostratigrafi dan paleoekologi


Data biostratigrafi berdasarkan flora dan fauna,sedangkan data
paleobotani menyajikan kondisi alamiah rawa purba tempat gambut
terakumulasi, termasuk lingkungan, iklim sekitar rawa, geokimia
rawa, juga bergunja untuk korelasi.
3 PENERAPAN MODEL PENGENDAPAN BATUBARA
3.1 Variasi ketebalan lapisan batubara
Lapisan batubara mempunyai ketebalan yang bervariasi dan kadang pada jarak yang
pendek/dekat sekalipun. Faktor utama yang menyebabkan variasi ini adalah kondisi
cekungan dan lingkungan pengendapan tempat terbentuknya batubara tersebut. Selain itu,
juga faktor proses-proses geologi yang berlangsung setelah pengendapan batubara, sepertiu
terobosan batuan beku dan erosi (Gambar 6.1).
Menurut Horne (1978), berdasarkan kendali lingkungan pengendapannya, maka lingkungan
back barrier dan lower delta plain cenderung tipis lapisan batubaranya. Sebaliknya pada
lingkungan transtional lower delta plain dan upper delta plain-fluvial, lapisan batubaranya
relatif tebal. Pemahaman ini dapat dipergunakan untuk standard perencanaan dan program
eksplora
3.2 Pola sebaran dan kemenerusan lapisan batubara
Pada lingkungan back barrier, batubara yang terbentuk bentuknya memanjang, berorientasi
sejajar arah sistem penghalang dan seringkali sejajar dengan jurus perlapisan. Bentuk
perlapisan batubara mungkin berubah sebagian oleh aktivitas tidal channel pada post
depositional atau besamaan dengan proses sedimentasi.
Lingkungan lower delta plain, rawa-rawa di dalam sungai yang di dominasi oleh endapan
lower delta plain berkembang di atas tanggul-tanggul sepanjang penyebaran channel. Split
terjadi pada lapisan batubara oleh sejumlah endapan creavase splay. Sebaran lapisan
batubara cenderung menerus sepanjang jurus pengendapan, tetapi juga dapat tidak sejajar
jurus pengendapan karena batubara digantikan tempatnya oleh material bay-fill secara
interdistribusi
Lingkungan transtional lower delta plain ditandai oleh perkembangan rawa yang ekstensif.
Lapisan batubara tersebar meluas dengan kecenderungan agak memanjang sejajar dengan
jurus pengendapan. Split juga berkembang di daerah dekat channel kontemporer dan oleh
washout yang disebabkan aktivitas channel subsekuen.
Lingkungan upper delta plain-fluvial, lapisan batubara terbentuk sebagai tubuh-tubuh podshaped pada bagian bawah dari dataran limpah banjir yang berbatasan dengan channel
sungai bermeander. Lapisan batubaranya cenderung sejajar dengan kemiringan
pengendapan, tetapi sedikit yang menerus atau lapisannya tebal tetapi dengan jarak sebaran
yang relatif pendek dengan sejumlah split yang berkembang dalam hubungannya dengan
endapan tanggul yang kontemporer.

6.3.3 Kondisi roof (lapisan atap)


Kondisi roof tergantung dari hubungan antar jenis batuan,
struktur yang terbentuk saat pengendapan, kompaksi pada
awal setelah pengendapan, dan terakhir tektronik. Jenis
batuan dapat memberikan cara yang berbeda di dalam proses
penambangannya.
6.3.4 Kandungan sulfur pada batubara
Sulfur di dalam lapisan batubara dibentuk oleh bakteri pereduksi sulfat di dalam peat yang
basah. Kadar sulfat di dalam air laut lebih banyak daripada di dalam air tawar (sungai),
sehingga kadar pirit atau sulfur akan naik apabila peat tergenang oleh air laut atau
penambahan sulfur akan lebih banyak terjadi pada batubara yang di atasnya berasosiasi
dengan kondisi marin. Oleh karena itu, kadar dan distribusi sulfur lebih dipengaruhi oleh
lingkungan setelah pembentukan batubara daripada lingkungan pada saat pembentukan.
Mineral pirit, khususnya yang berbentuk framboidal banyak melimpah pada lapisan
batubara yang ditutupi secara langsung oleh lapisan marin (William & Keith, 1963). Oleh
karena itu, lapisan batubara yang terakumulasi pada daerah-daerah yang dipengaruhi oleh
air laut (kondisi marin) atau air payau, maka akan mengandung pirit framboidal, seperti
back barrier dan lower delta plain. Dari hasil penelitian, sulfur pirit bentuk framboidal
dihasilkan oleh pengurangan sulfur oleh mikroba organisme yang dijumpai di lingkungan
marin hingga air payau.
1.
2.
3.
4.

Menurut Caruccio et al (1977), ada empat bentuk pirit pada batubara (Gb. 6.1):
Kandungan sulfur yang hadir sebagai markasit atau pirit terjadi dalam bentuk butiran
euhedral dan berbutir kasar (> 25 mikron).
Menggantikan material asli tumbuhan (replacement).
Berupa lembaran (platy) yang mengisi cleat.
Framboidal pirit.
Dari keempat macam di atas, maka bentuk framboidal yang paling cepat mengalami
dekomposisi, sehingga menimbulkan air asam tambang pada kegiatan penirisan tambang.
Terlebih bila tidak mengandung material karbonat. Bila menyebar di dalam batubara, maka
tidak dapat dipisahkan pada uji pencucian yang menggunakan larutan dengan berat jenis
1,5.
Mansfield & Spackman (1968) menseleksi batubara bituminous di barat Pennsylvania,
ternyata batubara di bawah pengaruh air laut mempunyai kandungan sulfur lebih tinggi
dibanding yang di air tawar.

1.
2.
3.

Kandungan sulfur di dalam batubara terdiri dari:


Sulfur sulfat, biasanya kurang dari 0,05% dan berasal dari abu atau dari bahan sulfat
batubara. Apabila terdapat pada cleat, dapat dihilangkan dengan pencucian.
Sulfur pirit, muncul sebagai markasit atau pirit. Markasit diendapkan bersamaan atau
seumur dengan pembentukan batubara dan memiliki ukuran antara 0,5-40 mm.
Sulfur organik terikat secara kimia pada struktur molekul hidrokarbon pada struktur
batubara dan tidak dapat dipisahkan.
Oleh karena itu, apabila kandungan sulfur batubara tinggi, maka pengetahuan mengenai
sebaran sulfur melalui lapisan batubara dan bentuk sulfur akan sangat membantu di dalam
menilai aspek ekonomis (pemasaran) batubara.
Kandungan sulfur menjadi perhatian penting di dalam kegiatan eksplorasi sampai
pemanfaatannya (terutama untuk PLTU dan pabrik semen) karena mengganggu lingkungan
akibat emisi gas SOX dan gas lainnya seperti NOX, CO, CO2, dan abu. Selama proses

pembakaran hampir semua unsur dalam batubara diubah menjadi bentuk oksida untuk
menghasilkan energi yang maksimal, pada belerang sebagian besar menjadi SO X dan
sebagian kecil menjadi SO3
http://cogangeologist.blogspot.co.id/2010/12/lingkungan-pengendapanbatubara.html
Lingkungan Pengendapan Delta dan Batubara
undefined undefined, undefined
Author: Bike To Campus | |

Batubara merupakan hasil dari akumulasi tumbuh-tumbuhan pada kondisi lingkungan


pengendapan tertentu. Akumulasi tersebut telah dikenai pengaruh-pengaruh
synsedimentary dan post-sedimentary. Akibat pengaruh-pengaruh tersebut dihasilkanlah
batubara dengan tingkat (rank) dan kerumitan struktur yang bervariasi.
Lingkungan pengendapan batubara dapat mengontrol penyebaran lateral, ketebalan,
komposisi, dan kualitas batubara. Untuk pembentukan suatu endapan yag berarti diperlukan
suatu susunan pengendapan dimana terjadi produktifitas organik tinggi dan penimbunan
secara perlahan-lahan namun terus menerus terjadi dalam kondisi reduksi tinggi dimana
terdapat sirukulasi air yang cepat sehingga oksigen tidak ada dan zat organik dapat
terawetkan. Kondisi demikian dapat terjadi diantaranya di lingkungan paralik (pantai) dan
limnik (rawa-rawa).
Menurut Diessel (1984, op cit Susilawati ,1992) lebih dari 90% batubara di dunia terbentuk di
lingkungan paralik yaitu rawa-rawa yang berdekatan dengan pantai. Daerah seperti ini dapat
dijumpai di dataran pantai, lagunal, deltaik, atau juga fluviatil.
Diessel (1992) mengemukakan terdapat 6 lingkungan pengendapan utama pembentuk
batubara yaitu gravelly braid plain, sandy braid plain, alluvial valley and upper delta plain,
lower delta plain, backbarrier strand plain, dan estuary. Tiap lingkungan pengendapan
mempunyai asosiasi dan menghasilkan karakter batubara yang berbeda.
Batubara adalah batuan yang mudah terbakar yang mengandung > 50% berat dan > 70%
volume material karbon, terbentuk dari proses penggambutan dan pembatubaraan material
organik pada berbagai lingkungan pengendapan. Batubara dapat terbentuk di berbagai
lingkungan pengendapan, salah satunya adalah delta. Batubara yang terbentuk pada
lingkungan delta memiliki karakteristik yang berbeda dengan batubara yang terbentuk pada
lingkungan
yang
lain.
Batubara yang terbentuk pada lingkungan delta umumnya dijumpai pada delta plain.
Lingkungan delta plain sendiri dibagi menjadi: lower delta plain, transitional lower delta plain
dan upper delta plain. Batubara yang terbentuk pada sub lingkungan delta plain tersebut
akan memiliki karakteristik/sifat fisik, sifat kimia, ketebalan dan penyebaran lapisan batubara
tertentu dan berlainan satu sama lainnya.
Batubara pada lower delta plain merupakan bright coal, memiliki kandungan
abu dan sulfur rendah, nilai kalori tinggi dan ketebalan yang relatif tipis dengan penyebaran
yang
relatif
luas.
Batubara
pada
upper
delta
plain
merupakan
bright
coal, memiliki kandungan abu tinggi, kandungan sulfur rendah, nilai kalori tinggi dan
penyebarannya bersifat diskontinyu atau lentikuler dengan ketebalan mencapai 10 m.
Batubara yang terbentuk pada lingkungan transitional lower delta plain lebih tebal dari kedua
lingkungan yang lain dan mempunyai penyebaran yang luas, menerus dan memiliki
kandungan sulfur yang rendah.
Delta
merupakan
sebuah
lingkungan
pengendapan yang pembentukannya dipengaruhi tiga parameter, yaitu : suplai sedimen,
energi gelombang dan pasang surut. Dalam pengendapannya delta membutuhkan suatu

ruang akomodasi yang dipengaruhi oleh Relative sea level (RSL), dimana kedua hal ini
dipengaruhi oleh tektonik dan eustacy. Oleh karena itu, studi stratigrafi sikuen pada sistem
delta merupakan suatu model yang ideal dalam memberikan pemahaman dan pembelajaran
bagaimana suatu rekaman stratigrafi dijelaskan dengan konsep stratigrafi ini, melalui
pembagian
sikuen,
parasikuen
set,
parasikuen
dan
system
tract-nya
Konsep stratigrafi sikuen akan dapat menjelaskan bagaimana stacking pattern dari
suatu endapan delta. Setiap delta akan mengalami siklus akibat adanya perubahan muka air
laut, oleh tektonik dan atau eustacy. Siklus delta dapat dibagi menjadi allocyclic processes
dan autocyclic processes. Allocyclic disebabkan oleh faktor luar, misalnya eustacy, tektonik,
iklim dan sebagainya. Siklus ini merupakan siklus transgresi-regresi akibat perubahan RSL.
Autocyclic disebabkan oleh faktor yang berasal dari faktor dalam cekungan, meliputi lobe
switching dan river avulsion.
Delta pada saat early highstand system tract, dicirikan dengan lobe switching yang
sering dengan tipe delta yang terbentuk adalah lobate delta. Selama muka air laut tetap atau
mulai turun, elongate delta akan terbentuk akibat progradasi ke arah laut yang lebih dalam
(mid atau lower shelf) dan terutama untuk sedimen yang berbutir halus. Kecepatan
sedimentasi yang sebanding dengan penurunan muka air laut akan mengurangi terjadinya
lobe switching, sehingga bentuk elongate akan terus berkembang. Delta yang terbentuk
pada saat lowstand system tract umumnya akan menoreh permukaan topografi akibat
turunnya muka air laut dan morfologinya dikontrol oleh topografi di bawahnya. Lowstand
delta umumnya akan berprogradasi ke arah deep water. Menghasilkan delta jenis
coarsedgrain
delta (fan-delta). Wave dan storm umumnya lebih terkonsentrasi pada shelf edge yang
menghasilkan wave-dominated delta. Selama transgressive system tract, umumnya
pengendapan delta akan berkurang, karena material sedimen terakumulasi secara agradasi
pada floodplain. Pada saat pengendapan delta aktif berlangsung, pengaruh fluvial akan
minimal dan wave- dan tide-dominated delta akan dominan. Luapan sungai pada saat
transgresi membentuk estuarines, dimana tidal range dapat mencapai lingkungan ini. Pada
estuarines ini akan terbentuk endapan pasir yang paralel terhadap arah estuarines.
Konsep stratigrafi sikuen ini sangat sesuai untuk diterapkan pada sistem delta,
karena delta sendiri merupakan lingkungan pengendapan di daerah transisi dimana sangat
sensitif terhadap perubahan muka air laut. Delta merupakan sebuah lingkungan
pengendapan yang pembentukannya dipengaruhi tiga parameter, yaitu : suplai sedimen,
energi gelombang dan pasang surut. Dalam pengendapannya delta membutuhkan suatu
ruang akomodasi yang dipengaruhi oleh Relative sea level (RSL), dimana kedua hal ini
dipengaruhi oleh tektonik dan eustacy. Oleh karena itu, studi stratigrafi sikuen pada sistem
delta merupakan suatu model yang ideal dalam memberikan pemahaman dan pembelajaran
bagaimana suatu rekaman stratigrafi dijelaskan dengan konsep stratigrafi ini, melalui
pembagian sikuen, parasikuen set, parasikuen dan system tract-nya
Konsep stratigrafi sikuen akan dapat menjelaskan bagaimana stacking pattern dari
suatu endapan delta. Setiap delta akan mengalami siklus akibat adanya perubahan muka air
laut, oleh tektonik dan atau eustacy. Siklus delta dapat dibagi menjadi allocyclic processes
dan autocyclic processes. Allocyclic disebabkan oleh faktor luar, misalnya eustacy, tektonik,
iklim dan sebagainya. Siklus ini merupakan siklus transgresi-regresi akibat perubahan RSL.
Autocyclic disebabkan oleh faktor yang berasal dari faktor dalam cekungan, meliputi lobe
switching
dan
river
avulsion.
Delta pada saat early highstand system tract, dicirikan dengan lobe switching yang
sering dengan tipe delta yang terbentuk adalah lobate delta. Selama muka air laut tetap atau
mulai turun, elongate delta akan terbentuk akibat progradasi ke arah laut yang lebih dalam
(mid atau lower shelf) dan terutama untuk sedimen yang berbutir halus. Kecepatan
sedimentasi yang sebanding dengan penurunan muka air laut akan mengurangi terjadinya
lobe switching, sehingga bentuk elongate akan terus berkembang. Delta yang terbentuk

pada saat lowstand system tract umumnya akan menoreh permukaan topografi akibat
turunnya muka air laut dan morfologinya dikontrol oleh topografi di bawahnya. Lowstand
delta umumnya akan berprogradasi ke arah deep water. Menghasilkan delta jenis
coarsedgrain
delta (fan-delta). Wave dan storm umumnya lebih terkonsentrasi pada shelf edge yang
menghasilkan wave-dominated delta. Selama transgressive system tract, umumnya
pengendapan delta akan berkurang, karena material sedimen terakumulasi secara agradasi
pada floodplain. Pada saat pengendapan delta aktif berlangsung, pengaruh fluvial akan
minimal dan wave- dan tide-dominated delta akan dominan. Luapan sungai pada saat
transgresi membentuk estuarines, dimana tidal range dapat mencapai lingkungan ini. Pada
estuarines ini akan terbentuk endapan pasir yang paralel terhadap arah estuarines.
http://biketocampus-biketocampus.blogspot.co.id/2009/10/lingkunganpengendapan-delta-dan.html

GENESA BATUBARA

Batubara adalah sedimen (padatan) yang dapat terbakar, terbentuk


dari sisa tumbuhan yang terhumifikasi, berwarna coklat sampai hitam
yang selanjutnya terkena proses fisika dan kimia yang berlangsung
selama jutaan tahun hingga mengakibatkan pengkayaan kandungan C
(Wolf, 1984 dalam Anggayana 2002).
Cook (1999) menerangkan bahwa batubara berasal dari sisa
tumbuhan yang terakumulasi menjadi gambut yang kemudian tertimbun
oleh sedimen, setelah pengendapan terjadi peningkatan temperatur dan
tekanan yang nantinya mengontrol kualitas batubara.
Pembentukan tanaman menjadi gambut dan batubara melalui dua
tahap,

yaitu

tahap

diagenesa

gambut

(peatilification)

dan

tahap

pembatubaraan (coalification). Tahap diagenesa gambut disebut juga


dengan tahap biokimia dengan melibatkan perubahan kimia dan mikroba,
sedangkan tahap pembatubaraan disebut juga dengan tahap geokimia
atau tahap fisika-kimia yang melibatkan perubahan kimia dan fisika serta
batubara dari lignit sampai antracit (Cook, 1982)
Ditinjau dari cara terbentuknya, batubara dapat dibedakan menjadi
batubara ditempat (insitu) dan batubara yang bersifat apungan (drift).
Batubara

ditempat

terbentuk

di

tempat

tumbuhan

itu

terbentuk,

mengalami proses dekomposisi dan tertimbun dalam waktu yang cepat,

batubara ini dicirikan dengan adanya bekas bekas akar pada seat earth
serta memiliki kandungan pengotor yang rendah, sedangkan batubara
apingan terbentuk dari timbunan material tanaman yang telah mengalami
perpindahan selanjutnya terdekomposisi dan tertimbun, pada batubara ini
tidak dijumpai bekas-bekas akar pada seat earth dan memiliki kandungan
pengotor yang tinggi.
Diessel (1992, dalam Mendra, 2008) menyatakan enam parameter
yang mengendalikan pembentukan endapan batubara, yaitu : adanya
sumber vegetasi, posisi muka air tanah, penurunan yang terjadi dengan
pengendapan, penurununan yang terjadi setelah pengendapan, kendali
lingkungan geoteknik endapan batubara dan lingkungan pengendapan
terbentuknya batubara.
PENGGAMBUTAN (PEATIFICATION)

Gambut merupakan batuan sedimen organik (tidak padat) yang


dapat terbakar dan berasal dari sisa sisa hancuran atau bagian
tumbuhan yang tumbang dan mati di permukaan tanah, pada umumnya
akan mengalami proses pembusukan dan penghancuran yang sempurna
sehingga setelah beberapa waktu kemudian tidak terlihat lagi bentuk
asalnya.

Pembusukan

dan

penghancuran

tersebut

pada

dasarnya

merupakan proses oksidasi yang disebabkan oleh adanya oksigen dan


aktivitas bakteri atau jasad renik lainya. Jika tumbuhan tumbang disuatu
rawa, yang dicirikan dengan kandungan oksigen yang sangat rendah
sehingga tidak memungkinkan bakteri anaerob (bakteri memerlukan
oksigen) hidup, maka sisa tumbuhan tersebut tidak mengalami proses
pembusukan dan penghancuran yang sempurna sehingga tidak akan
terjadi proses oksidasi yang sempurna. Pada kondisi tersebut hanya
bakteri-bakteri

anaerob

saja

yang

berfungsi

melakukan

proses

dekomposisi yang kemudian membentuk gambut (peat). Daerah yang


ideal untuk pembentukan gambut misalnya rawa, delta sungai, danau
dangkal atau daerah yang kondisi tertutup udara. Gambut bersifat porous,
tidak padat dan umumnya masih memperlihatkan struktur tumbuhan asli,

kandungan airnya lebih besar dari 75% (berat) dan komposisi mineralnya
kurang dari 50 % (dalam keadaan kering).
Menurut

Bend

(1992)

dalam

Diessel

(1992)

untuk

dapat

terbentuknya gambut, beberapa faktor yang mempengaruhi yaitu :


1) Evolusi tumbuhan
2) Iklim
3) Geografi dan tektonik daerah
Syarat untuk terbentuknya formasi batubara antara lain adalah
ketika kenaikan mukan air tanah lambat, perlindungan rawa terhadap
pantai atau sungai dan energi relatif rendah. Jika muka air tanah terlalu
cepat naik (atau penurunan dasar rawa cepat) maka kondisi akan menjadi
limnic atau bahkan akan terjadi endapan marine. Sebaliknya kalau terlalu
lambat, maka sisa tumbuhan yang terendapkan akan teroksidasi dan
terisolasi. Terjadinya kesetimbangan antara penurunan cekungan (land
subsidence) dan kecepatan penumpukan sisa tumbuhan (kesetimbangan
bioteknik) yang stabil akan menghasilkan gambut yang tebal (Diessel,
1992).
Lingkungan

tempat

terbentuknya

rawa

gambut

umumnya

merupakan tempat yang mengalami depresi lambat dengan sedikit sekali


atau bahkan tidak ada penambahan material dari luar. Pada kondisi
tersebut muka air tanah akan terus mengikuti perkembangan akumulasi
gambut dan mempertahankan tingkat kejenuhannya. Kejenuhan tersebut
dapat mencapai 90 % dan kandungan air menurun drastis hingga 60 %
pada saat terbentuknya brown-coal. Sebagian besar lingkungan yang
memenuhi kondisi tersebut merupakan topogenic low moor. Hanya pada
beberapa tempat yang mempunyai curah hujan sangat tinggi dapat
terbentuk rawa ombrogenic (high moor)
PEMBATUBARAAN (COALIFICATION)

Proses pembatubaraan adalah perkembangan gambut menjadi


lignit, sub-bituminuous, bitominous, antracite hingga meta-antracite.

Proses pembentukan gambut dapat berhenti karena beberapa proses


alam seperti misalnya karena penurunan dasar cekungan dalam waktu
yang singkat. Jika lapisan gambut yang telah terbentuk kemudian ditutupi
oleh lapisan sedimen, maka tidak ada lagi bahan anaerob, atau oksigen
yang dapat mengoksidasi, maka lapisan gambut akan mengalami tekanan
dari lapisan sedimen. Tekanan terhadap lapisan gambut akan meningkat
dengan bertambahnya tebal lapisan sedimen. Tekanan yang bertambah
besar pada proses coalification akan mengakibatkan menurunya porositas
dan meningkatnya anisotropi. Porositas dapat dilihat dari kandungan
airnya yang menurun secara cepat selama proses perubahan gambut
menjadi brown coal. Hal ini memberikan indikasi bahwa masih terjadi
proses kompaksi.
Proses coalification terutama dikontrol oleh kenaikan temperatur,
tekanan dan waktu. Pengaruh temperatur dan tekanan dipercaya sebagai
faktor yang sangat dominan, karena sering ditemukan lapisan batubara
high rank (antracite) yang berdekatan dengan daerah intrusi batuan beku
sehingga terjadi kontak metamorfisme. Kenaikan peringkat batubara juga
dapat disebabkan karena bertambahnya kedalaman. Sementara bila
tekanan makin tinggi, maka proses coalification semakin cepat, terutama
didaerah lipatan dan patahan.
FASIES BATUBARA

Fasies batubara berhubungan dengan tipe genetik batubara yang


diekspresikan melalui komposisi maseral, kandungan mineral, komposisi
kimia dan tekstur (Taylor and Teichmuller, 1993).
Faktor yang mempengaruhi karakteristik fasies batubara :
1. Tipe pengendapan
Autochtonous

Berkembang dari tumbuhan yang ketika tumbang akan membentuk


gambut di tempat dimana tumbuhan itu pernah hidup tanpa adanya
proses transportasi yang berarti.
Allochtonous

Terendapkan secara detrital dimana sisa-sisa tumbuhan hancur dan


tertransportasi kemudian terendapkan di tempat lain. Lebih banyak
mengandung mineral matter (abu).
2. Rumpun tumbuhan pembentuk
Daerah

air terbuka dengan tumbuhan air

Rawa

ilalang terbuka

Rawa

hutan

Rawa

lumut

Menurut Martini dan Glooscenko (1984) dalam Diessel (1992), rawa


gambut

dapat

dibedakan

menjadi

jenis

berdasarkan

jenis

tumbuhan pembentuk, yaitu :


Bog,

yaitu sebagai lokasi rawa yang banyak ditumbuhi oleh

tanaman

lumut

atau

tanaman

merambat

yang

miskin

kandungan makanan.
Fen,

yaitu lokasi rawa yang kaya akan tumbuhan perdu dan

beberapa

jenis

pohon

lainnya.

Umumnya

terletak

pada

lingkungan yang ombrogenic yaitu transisi antara daerah yang


selalu melimpah kandungan air dengan daerah yang terkadang
kering.
Marsh,

yaitu rawa yang didominasi oleh tumbuhan perdu atau

tanaman merambat yang sering terdapat di sekitar pinggir


danau atau laut.
Swamp,

yaitu daerah basah pada iklim tropis hingga dingin yang

tumbuh rawa yang didominasi tanaman berkayu.


3. Lingkungan pengendapan
Pembentukan

batubara

tidak

dapat

dipisahkan

dengan

kondisi

lingkungan dan geologi disekitarnya. Distribusi lateral, ketebalan,


komposisi dan kualitas batubara banyak dipengaruhi oleh lingkungan
pengendapanya.
Telmatis/Terestrial

Lingkungan

yang

berada

pada

daerah

pasang

surut

ini

menghasilkan gambut yang tidak terganggu dan tumbuh insitu


(forest peat, reed peat dan high moor moss peat)
Limnik

Lingkungan ini terendapkan di bawah air rawa danau. Batubara


yang terendapkan pada lingkungan telmatis dan limnis sulit
dibedakan karena pada forest Swamp biasanya ada bagian yang
berada di bawah air (feed Swamp)
Marine

Batubara yang terendapkan pada lingkungan ini mempunyai ciri


khas kaya abu, S dan N yang mengandung fosil laut. Untuk daerah
tropis biasanya terbentuk dari mangrove (bakau) dan kaya S
Ca-rich

Lingkungan ini menghasilkan batubara yang kaya akan Ca dan


mempunyai ciri yang sama pada endapan payau. Batubara Ca-rich
selalu terjadi pada lingkungan bawah air dengan kondisi oksigen
terbatas. Lingkungan pengendapan ini juga banyak mengandung
fosil. Batubara Ca-rich banyak mengasilkan bitumen.
4. Persediaan Bahan Makanan
a. Eutrofik
b. Mesotrofik
c. Oligotrofik
Rawa eutropik, mesotropic dan oligotropik dibedakan dari banyak
sedikitnya bahan makanan yang bisa digunakan. Low moor biasanya
eotropik (kaya nutrisi) karena menerima air dari air tanah yang banyak
menganduk makanan terlarut. High moor bersifat oligotropik (miskin
nutrisi) karena sirkulasi hanya mengandalkan air hujan. Gambut pada
high moor secara umum mengandung sisa-sisa tumbuhan yang
terawetkan dengan baik. Di bawah kondisi hidrologi yang seragam
maka tumbuhan rawa eutropik banyak speciesnya. Oligotropik di
daerah iklim sedang pada umumnya berupa sphagnum sedangkan
untuk daerah tropis bisa ditumbuhi oleh hutan kayu tetapi tidak banyak

speciesnya karena rawa jenis ini akan asam 3,5 4) dan kandungan
mineralnya sangat rendah.
5. PH, Aktivitas Bakteri, dan Sulfur
Keasaman gambut sangat mempengaruhi keberadaan bakteri sehingga
dengan demikian akan sangat mempengaruhi proses dekomposisi
struktur dan kimia dari sisa tumbuhan. Disamping tipe batuan dasar
dan air yang mengalir masuk ke rawa maka keasaman rawa
tergantung

pada

rumpun

tumbuhan

yang

ada,

suplai

O2

dan

konsentrasi asam humik yang terbentuk.


Bakteri hidup dengan baik pada kondisi netral (pH 7 7,5), jika makin
asam maka bakteri akan makin sedikit dan struktur kayu akan
terawetkan dengan lebih baik. Bakteri sulfur mempunyai peran khusus
pada gambut (lumpur organik) untuk membentuk pirit atau markasit
singenetik dengan adanya sulfat dalam gambut tersebut.
6. Temperatur
Pada iklim yang hangat dan basah membuat bakteri hidup dengan baik
sehingga proses kimia akibat bakteri bisa berjalan baik. Temperatur
permukaan

gambut

memegang

peranan

penting

pada

proses

dekomposisi primer. Pada iklim yang hangat dan basah membuat


bakteri hidup dengan lebih baik sehingga proses-proses kimia dapat
berjalan dengan baik. Temperatur tertinggi untuk bakteri penghancur
sellulosa pada gambut adalah 35 40 C
Lebih lanjut menurut Diessel (1992) menjelaskan karakteristik
lingkungan pengendapan batubara sebagai berikut :
1. Braid Plain
Merupakan dataran aluvial yang terdapat diantara pegunungan,
dimana terendapkan sedimen berukuran kasar (> 2 mm). Batubara
yang terbentuk pada daerah ini merupakan hasil diagenesa gambut
ombrogenik yang mempunyai penyebaran lateral terbatas dengan
ketebalan rata-rata 1,5 m.
Kandungan

abu,

total

sulfur

dan

vitrinitnya

umumnya

rendah,

sementara pada daerah tropis kandungan vitrinit umumnya tinggi.

Pada bagian tengah lahan gambut umumnya kaya maseral inertinit


(28%)

karena

suplai

nutrisi

yang

terbatas. Kandungan inertinit

(khususnya semifusinit) yang sangat besar memnyebabkan nilai TPI


relatif tinggi yang sekaligus menunjukan bahwa tumbuhan asalnya
didominasi oleh bahan kayu. Sementara itu nilai GI yang rendah dan
warna batubara yang buram dapat menunjukan bahwa secara periodik
permukaan gambut mengalami kekeringan dan proses oksidasi.
Kandungan abu yang kadang ditemukan cukup tinggi ( 20%),
kemungkinan dapat berasal dari banjir musiman dan keluarnya air dari
tanah kepermukaan.
2. Alluvial Valley dan Upper Delta Plain
Kedua lingkungan ini sulit dibedakan karena adanya kesamaan
litofasies dan sifat batubara yang terbentuk sehingga pembahasan
dapat disatukan. Lingkungan ini merupakan transisi dari lembah dan
dataran aluvial dengan dataran delta, umumnya melalui sungai
berstadium dewasa yang memiliki banyak meander. Lapisan batubara
umumnya

memiliki

ketebalan

bervariasi

dan

endapan

sedimen

terutama terdiri atas perselingan batupasir dan lanau/lempung.


Gambut dapat terakumulasi pada berbagai morfologi seperti rawa,
dataran dan cekungan banjir, bagian luar saluran sungai dan lain-lain.
Permukaan cenderung selalu basah dan jarang mengalami periode
kemarau sehingga menghasilkan endapan batubara yang mengkilap
dengan nilai TPI dan GI relatif tinggi serta didominasi oleh maseral
telovitrinit/humotelitin dan secara kualiatas memiliki kandungan abu
dan sulfur yang rendah dibanding batubara pada lingkungan lain
3. Lower Delta Plain

Lingkungan ini dibedakan dengan upper delta plain dari tingkat


pengaruh pasang air laut terhadap sedimentasi, dimana batas antara
keduanya adalah pada daerah batas tertinggi dari air pasang. Endapan
sedimen pada lower delta plain terutama dari batulanau, batulempung
dan serpih yang diselingi oleh batupasir halus.
Pada saat pasang naik air laut akan membawa nutrisi kedalam rawa
gambut sehingga memungkinkan pertumbuhan tanaman yang lebih

baik, namun di sisi lain dengan naiknya batas pasang maka akan
ternendapkan sedimen klasitik halus yang akan menjadi pengotor
dalam batubara.
Disamping itu, pengaruh laut akan meningkatkan kandungan pirit
dalam batubara yang terbentuk dari reduksi sulfat yang terdapat
dalam air laut. Menurut Horne dan Ferm (1978), batubara yang
ternendapkan dalam lingkungan ini memiliki penyebaran luas tetapi
ketebalan tipis, batubaranya memiliki kandungan inertinit yang rendah
dengan nilai GI yang tinggi. Kandungan vitrinit/huminit nya terutama
didominasi oleh detrovitrinit/humotellinit sehingga nulai TPI nya relatif
rendah. Hal ini menunjukan tingginya proporsi tumbuhan dengan
jaringan lunak (soft tissued plant) dan bio degredasi pada kondisi pH
yang relatif tinggi
4. Barrier Beach

Pada lingkungan ini, morfologis garis pantai dikontrol oleh rasio suplai
sedimen dengan daerah pantai, yaitu gelombang pasang dan arus. Jika
nilai rasio tinggi maka akan terbentuk delta, namun jika nilai rasio
rendah maka sedimentasi akan terdistribusi di sepanjang pantai.
Rawa gambut pada barrier beach memiliki permukaan yang relatif
lebih rendah terhadap muka air laut sehingga sering kebanjiran dan
ditumbuhi alang-alang. Gambut yang akan terakumulasi di suatu
tempat jika fluktuasi air pasang tidak tinggi sehingga timbunan
material gambut tidak berpindah tempat. Dengan demikian rawa
gambut pada lingkungan ini sangat dipengaruhi oleh regresi dan
trangresi air laut.
Diesel (1992) mengelompokan berbahai kondisi akumulasi gambut
menjadi lima kategori berdasarkan penelitian terhadap batubara humik
bituminous

(gambar

3.2).

Kelima

kategori

tersebut

diberdakan

berdasarkan faktor kelembaban, konsentrasi ion hidrogen (pH), suplai


makanan dan aktifitas bakteri. Tiga kategori diantara nya adalah tipe
topogenik mires (rawa gambut topogenik) yang terbagi atas: high
watertable dangan kondisi asam, high watertable dengan kondisi netral

serta variabel watertable dan dua lainya adalah rawa gambut ombrogenik
yang dibagi atas: continuusly wet dan intermitenly dry.
Pada kategori high watertable dibedakan menjadi asam dan netral.
Perbedaan utama antara kedua kondisi tersebut adalah terletak pada
konsentrasi ion hidrogennya, dimana pada kolom 1 yang konsentrasi nya
rendah merupakan lingkungan air tawar (flood basin) dan kolom 2 yang
konsentrasinya lebih tinggi merupakan lingkungan payau dan laut.
Kategori variable watertable adalah lingkungan air tawar namun dengan
muka air tanah berubah-ubah, seperti pada dataran banjir yang terkadang
kering

pada

masa

tertentu.

Adanya

kecendrungan

dalam

kondisi

tergenang pada ketiga kategori ini menyebabkan suplai makanan tersedia


cukup banyak (eutrophy).
Kategori continuosly wet dan intermedietly dry merupakan tipe rawa
gambut yang tumbuh berkembang karena suplai air yang berasal dari
curah hujan yang sangat tinggi (iklim tropis), hanya pada interemidietly
dry sering mengalami perubahan musim, terkandung di dalam musim
kering. Gambut yang terendapkan pada lingkungan bog-ombrotopic
terbentuk dalam kondisi asam dengan suplai makanan yang rendah
(oligotropi).

MASERAL PADA BATUBARA


KLASIFIKASI MASERAL

Maseral pada batubara analog dengan mineral pada batuan.


Maseral merupakan bagian terkecil dari batubara yang bisa teramati
dengan mikroskop. Maseral dikelompokan berdasarkan tumbuhan atau
bagian tumbuhan menjadi tiga grup, yaitu :
1. Vitrinit
Vitrinit

adalah hasil dari proses pembatubaraan materi humic yang

berasal dari selulosa (C6H10O5) dan lignin dinding sel tumbuhan yang

mengandung serat kayu (woody tissue) seperti batang, akar, daun.


Vitrinit adalah bahan utama penyusun batubara di indonesia (>80 %).
Dibawah mikroskop, kelompok maseral ini memperlihatkan warna
pantul yang lebih terang dari pada kelompok liptinit, namun lebih gelap
dari kelompok inertinit, berwarna mulai dari abu-abu tua hinggga abuabu terang. Kenampakan dibawah mikroskop tergantung dari tingkat
pembantubaraanya (rank), semakin tinggi tingkat pembatubaraan
maka warna akan semakin terang. Kelompok vitrinit mengandung
unsur hidrogen dan zat terbang yang presentasinya berada diantara
inertinit dan liptinit. Mempunyai berat jenis 1,3 1,8 dan kandungan
oksigen yang tinggi serta kandungan volatille matter sekitar 35,75 %.
2. Liptinit (Exinit)
Liptinit

tidak

berasal

dari

materi

yang

dapat

terhumifikasikan

melainkan berasal dari sisa tumbuhan atau dari jenis tanaman tingkat
rendah seperti spora, gangang (algae), kutikula, getah tanaman (resin)
dan serbuk sari (pollen). Berdasarkan morfologi dan bahan asalnya,
kelompok liptinit dibedakan menjadi sporinite (spora dan butiran
pollen), cuttinite (kutikula), resinite (resin/damar), exudatinite (maseral
sekunder yang berasal dari getah maseral liptinit lainya yang keluar
dari proses pembantubaraan), suberinite (kulit kayu/serat gabus),
flourinite (degradasi dari resinit), liptoderinit (detritus dari maseral
liptinite lainya), alganitie (gangang) dan bituminite (degradasi dari
material algae).
Relatif kaya dengan ikatan alifatik sehingga kaya akan hidrogen atau
bisa juga sekunder, terjadi selama proses pembatubaraan dari
bitumen. Sifat optis : refletivitas rendah dan flourosense tinggi dari
liptinit mulai gambut dan batubara pada tangk rendah sampai tinggi
pada batubara sub bituminus relatif stabil (Taylor 1998) dibawah
mikroskop, kelompok liptinite menunjukan warna kuning muda hingga
kuning tua di bawah sinar flouresence, sedangkan dibawah sinar biasa
kelompok ini terlihat berwarna abu-abu sampai gelap. Liptinite
mempunyai berat jenis 1,0 1,3 dan kandungan hidrogen yang paling

tinggi dibanding dengan maseral lain, sedangkan kandungan volatile


matter sekitar 66 %.
3. Inertinit
Inertinit disusun dari materi yang sama dengang vitrinite dan liptinite
tetapi dengan proses dasar yang berbeda. Kelompok inertinite diduga
berasal dari tumbuhan yang sudah terbakar dan sebagian berasal dari
hasil proses oksidasi maseral lainya atau proses decarboxylation yang
disebabkan oleh jamur dan bakteri. Kelompok ini mengandung unsur
hidrogen paling rendah dan karakteristik utamanya adalah reflektansi
yang tinggi diantara kelompok lainya.
Pemanasan pada awal penggambutan menyebabkan inertinit kaya
akan karbon. Sifat khas inertinit adalah reflektinitas tinggi, sedikit atau
tanpa flouresnse, kandungan hidrogen, aromatis kuat karena beberapa
penyebab,

seperti

pembakaran

pengancuran oleh jamur,

gelifikasi

(charring),
biokimia

mouldering

dan

dan oksidasi

serat

tumbuhan. Sebagian besar inertinit sudah pada bagian awal proses


pembatubaraan. Inertinite mempunyai berat jenis 1,5 2,0 dan
kandungan karbon yang paling tinggi dibanding maseral lain serta
kandungan volattile matter sekitar 22,9 %.

Untuk pengelompokan maseral yang digunakan adalah mengacu


pada pengelompokan maseral berdasarkan Standart Australia (AS 28561986)(Tabel 3.1) untuk hasil pengamatan klasifikasi maseral dalam
presentase volume (%vol).
Tabel 3.1 Klasifikasi group maseral berdasarkan Standar Australia
Group maseral

Sub group maseral

Vitrinite

Tellovitrinite

Type maseral

Textinite
Texto-ulminite
Eu ulminite
Telocolinite

Detrovitrinite

Atrinite
Desinite
Desmocolinite

Gelovitrinite

Corpogelinite
Porigelinite
Eugelinite

Liptinite

Sporinite
Cutinite
Resinit
Suberinite
Fluorinite
Liptodetrinite
Exudatinite
Alganite
Bituminite

Inertinite

Teloinertinite

Fusinite
Semifusinite
Scelorotinite

Detroinertinite

Inertodetrinite
Micrinite

Geloinertinite

macrinite

Maseral menghasilkan materi yang mudah menguap (volattile


matter). Materi ini banyak dihasilkan oleh liptinite yaitu sekitar 66 %
sedangkan vitrinite menghasilkan 35,75 % dan inertinite menghasilkan
22,9 %

MASERAL DAN LINGKUNGAN PENGENDAPAN BATUBARA

Peranan maseral dalam analisis penetuan pengandapan batubara


didasarkan pada sifat-sifat yang dimilikinya, antara lain : sifat attribute
dan sifat skalar. Suatu lapisan batubara mulai dari lapisan dasar (floor)
hingga atas (roof) memiliki sifat tertentu, yang mencerminkan kondisi
lingkungan pengendapanya.
Sifat attribute adalah suatu sifat yang dicirikan oleh ada tidaknya
suatu maseral tertentu, dalam hal ini kelimpahan maseral sangat penting
untuk dijadikan penciri suatu lingkungan tertentu (Diessel, 1992). Navale
(1981) menyatakan bahwa batubara yang diendapkan pada lingkungan
lagoon relatif kaya akan desmocolinit, batubara dari lingkungan upper
delta plain dan fluviatil (wet frorest Swamp) kaya akan vitrinit dan
material klastik seperti mineral lempung, sedangkan batubara dari
lingkungan air tawar biasanya lebih kaya akan telinit, resinit dan inertinit.
Sifat skalar dari suatu maseral bukan didasarkan atas faktor
kehadiran atau morfologi maseral tertentu, tetapi didasarkan pada
hubungan kuantitatif antara tiap maseral dalam batubara. Diessel (1992)
memperkenalkan dua parameter utama dalam penertuan fasies batubara
berdasarkan komposisi maseral pada batubara yaitu:
1. TPI
TPI (Tissue Presevation Index) menyatakan perbandingan antara
struktir jaringan pada maseral yang terawetkan dan struktur jaringan
yang tidak terawetkan (terdekomposisi). TPI juga dapat menunjukkan
derajat humifikasi yang terjadi pada lahan gambut dalam proses
penggambutan. Tingginya derajat humifikasi dapat menyebabkan
terjadinya penghancuran jaringan sel yang dinyatakan oleh harga TPI
yang kecil.

Pengrusakan struktur sel oleh organisme akan sangat mudah terjadi


pada tanaman yang mengandung banyak seloluse (tanaman perdu),
sedangkan tanaman yang banyak mengandung lignin (tumbuhan kayu)
akan sulit dihancurkan. Semakin meningkatnya harga TPI dapat
menunjukkan semakin tingginya presentasi kehadiran tumbuhantumbuhan

kayu

dalam

hal

ini

ditunjukkan

dengan

banyaknya

presentasi telovitrinit. Sementara itu bila harga TPI , maka maseral


vitrinit akan disertai oleh kehadiran cutinit yang biasanya akan cepat
terhancurkan oleh air laut. Kombinasi antara kandungan densinit dan
cutinit yang banyak dengan kandungan vitrinit yang sedikit dapat
menggambarkan bahwa batubara berasal dari serta tumbuhan perdu
pada suatu lingkungan Marsh
2. GI
GI (Gelification Index) berhubungan dengan kontinuitas kelembaban
pada lahan gambut serta menyatakan perbandingan antara maseral
yang terbentuk karena proses gelifikasi dan maseral yang terbentuk
akibat proses oksidasi.

Harga GI akan berbanding terbalik dengan tingkat oksidasi, dalam hal


ini semakin kecil harga GI menunjukan tingkat oksidasi yang semakin
besar.
Tingkat gelifikasi akan memberikan beberapa gambaran antara lain :
1. Menunjukan basah keringnya kondisi pembentukan batubara. Hal
ini terjadi karena gelifikasi membutuhkan keadaan lembab yang
kontinyu.
2. Sebagai indikator pH relatif karena efektifitas bakteri dapat
berlangsung pada derajat keasaman rendah
3. Sebagai ukuran proses diagenesa selama gelifikasi biokimia
Kombinasi TPI dan GI dapat dipergunakan untuk memperkirakan
derajat dekomposisi dan penentuan lingkungan pengendapan batubara.
Nilai TPI dan GI yang tinggi dapat mengindikasikan tingkat dekomposisi

aerobik yang rendah, sebaliknya kondisi kering dicirikan oleh nilai TPI
rendah dan GI yang tinggi mengindikasikan dekomposisi aerobik yang
terbatas.
3.2.3 PENGARUH AIR TANAH DAN VEGETASI

Salah satu parameter dalam pembentukan mire / lahan gambut


(rheotophic, mesotropic dan ombrotopic) adalah kondisi pengaruh air
tanah yang dicerminkan melalui nilai indeks GWI (Graoundwater Index)
yang secara langsung berhubungan dengan kontinuitas air hujan dan
suplai nutrisi / ion-ion yang ada pada air. Rheotropic mire menerima suplai
air dari aliran tanah, air dari lingkungan dan air hujan sehingga kaya akan
suplai nutrisi dan ion serta kandungan mineral, sementara ombrotropic
mire hanya akan menerima dari air hujan sehingga miskin nutrisi
(oligotropic). Rheotrophic mire dapat dibagi menjadi Fen, Swamp, dan
Marsh yang tergantung pada tingkat genangan air pada lahan gambut.
Sementara mire dapat diistilahkan sebagai Bogs (Moore, 1987 dalam
Calder 1991).
GWI merupakan rasio perbandingan antara jumlah tumbuhan yang
tergelifikasi kuat terhadap jaringan tumbuhan yang tergelifikasi lemah.
Perbandingan

ini

dapat

menggaqmbarkan

proses

gelifikasi

yang

menyimpulkan tentang keadaan suplai air dan pH dari suatu lahan


gambut / mire.
Pada lingkungan rawa yang berkembang menjadi kondisi rawa di
bawah pengaruh air tanah yang semakin berkurang akan menghasilkan
gambut yang lebih baik (Grosse Braukman, 1979, Tallis, 1983, Moore,
1987 dalam Calder 1991). Bukti kondisi ini dapat terlihat pada lapisan
batubara yang menunjukan perubahan tendensi umum secara vertikal.
Perubahan tendensi umum tersebut diantaranya adalah penurunan kadar
sulfur dan abu, kenaikan pengawetan jaringan tumbuhan, penurunan
gelifikasi biokimia dan penurunan maseral liptinite yang berasal dari
lingkungan air (Calder, 1991)

Dalam perhitungan GWI juga dimasukan parameter mineral matter


selain

maseral.

Kegunaan

parameter

mineral

matter

disini

dapat

mengindikasikan asal mula dari dominasi detrital masuk pada mire dan
juga dapat mengasumsikan ukuran kondisi rawa gambut (Rheotrophic,
mesotrophic dan ombrotropic). (Cecil, C.B dalam Taylor, 1998)
Selain dari pengaruh air tanah yang dalam hal ini dinyatakan dalam
GWI, aspek vegetasi (Vegetation Index) juga dapat dijadikan petunjuk
dalam menginterpretasikan asal mula suatu lahan gambut (paleomire).
Secara teori lahan gambut dapat dibedakan berdasarkan tipe tumbuhan
pembentuk dengan menggunakan paramater kesamaan antar maseral.
Tumbuhan yang kaya akan lignin ditunjukan dengan kandungan
telovitrinit, fusinit dan semifusinit yang tinggi. Dalam hal ini, suberinit dan
resinit adalah maseral penyerta. Tumbuhan asal perdu yang kaya selulosa
melalui proses pembatubaraan akan membentuk batubara yang kaya
akan detrovitrinit, inertodetrinit dan liptodetrinit (Teichmuller, 1989).
Kondisi seharusnya akan diindikasikan oleh kehadiran maseral alganite.
Sementara sporanite dan cutinite mempunyai distribusi yang sama pada
batubara yang terbentuk dari tumbuhan bawah air.

KANDUNGAN SULFUR PADA BATUBARA

Sulfur dalam batubara terdapat dalam bentuk inorganik, dan


organik. Sulfur inorganik banyak ditemui dalam bentuk senyawa sulfida
( piritik) dan sulfat. Sulfida organik adalah unsur atau senyawa sulfur yang
terikat dalam rantai hidrokarbon material organik.
Umumnya komponen sulfur dalam batubara terdapat sebagai sulfur
syngenetic yang erat hubunganya dengan proses fisika dan kimia selama
proses penggambutan (Mayers, 1982) dan juga sebagai sulfur epigenetik

yang dapat diamati sebagai pengisi cleat pada batubara akibat proses
presipitasi kimia pada akhir proses pembatubaraan (Mackowsky, 1968)
Menurut Suits dan Arthur (2000) sulfat umumnya dari sedimen laut
dangkal, direduksi senyawa karbon organik menjadi hidrogen sulfida,
kemudian dioksidasi oleh geohite (FeOOH) atau hidrogen sulfida dan
mereduksi ferric iron (Fe3+) menjadi senyawa ferrous iron (Fe2+). Oksigen
sering kali menembus sedimen anaerob dan mengoksidasi hidrogen
sulfida menjadi unsur sulfat (S0).
Horne et.al (1978) menjelaskan bahwa penurunan cekungan dengan
kecepatan tinggi selama sedimentasi umumnya akan menghasilkan
beragam geometri dan petrografi batubara, tetapi kandungan sulfurnya
rendah.

Apabila

penurunan

berjalan

secara

perlahan

maka

akan

menghasilkan kemenerusan lapisan secara luas tapi kandungan sulfurnya


tinggi.
Mansfield and Spackman (1968) menyatakan bahwa batubara
dibawah pengaruh air laut mempunyai kandungan sulfur yang tinggi
dibandingkan yang di air tawar.
Pada lingkungan pengendapan batubara yang dipengaruhi oleh
endapan laut akan menghasilkan batubara dengan kadar sulfur yang
tinggi serta pirit berbentuk framboidal dan kristal euhedral (Williams and
Keith, 1963, Naeval, 1996, Cohen 1983, Davies and Raymond, 1983,
Casagrande 1987 dalam International Journal of Coal Geology, 1992).
Sedangkan batubara yang terendapkan di lingkungan darat/air tawar
umumnya didominasi oleh sulfur organik dengan presentasi pirit rendah.
Dilingkungan laut, pH umumnya berkisar antara 5 8 dan EH cukup
rendah, kecuali pada beberapa centimeter dari permukaan. Sulfat
berlimpah dan umumnya cukup ion Fe yang hadir baik sebagai unsur
terlarut dalam air laut atau penguraian dari bahan tumbuhan dan mineral.
Keadaan ini menyebabkan aktifitas bakteri sangat berperan untuk
terbentuknya sulfur. Sedangkan lingkungan pengendapan batubara pada

ait tawar (lacustrine dan rawa) pH umumnya rendah. Sulfat terlarut juga
rendah ( <>
Dari hasil penelitian mengenai bentuk dan keberadaan sulfur pada
batubara dan gambut. Casagrande (1987) membuat beberapa kesimpulan
yaitu :
a. Secara umum batubara bersulfur rendah (<1>ih banyak sulfur organik
daripada sulfur piritik. Sebaliknya batubara dengan kandungan sulfur
tinggi lebih banyak mengandung sulfur piritik dari pada organik.
b. Batubara bersulfur tinggi biasanya berasosiasi dengan batuan penutup
yang berasal dari lingkungan laut
c. Kandungan sulfur pada batubara umumnya paling tinggi pada bagian
roof dan floor lapisan batubara.
Batubara dengan kandungan abu dan sulfur yang rendah biasanya
terendapkan pada lingkungan darat pada saat penggambutan, dengan
lapisan penutup dan lapisan bawahnya berupa sedimen klasik yang
terendapkan pada lingkungan darat juga. Sedangkan untuk batubara
dengan kandungan abu dan sulfur yang tinggi berasosiasi dengan
sedimen yang terendapkan pada lingkungan payau atau laut (Cecil 1979)
Proses paling penting dalam pembentukan unsur dan senyawa
sulfur adalah reaksi reduksi sulfat oleh aktivitas bakteri. Berikut skema
yang menunjukan urutan proses pembentukan sulfur dalam batubara.

Gambar 3.4. Skema pembentukan sulfur dalam batubara (modifikasi dari Suits
& Arthur, 2000)
Ward (1984) menyebutkan sulfur dalam batubara meliputi sulfur
sulfat, sulfida sulfur dan organic sulfur yang kesemuanya merupakan
penjumlahan dalam total sulfur dalam analisa proksimat.
Kandungan sulfur dalam batubara terdiri :
1. Sulfur sulfat.

Senyawa yang tebentuk sebagai kalsium sulfat (CaSO4) dalam


batubara dan merupakan sumber belerang yang tidak dominan
(<0,05%).>
2. Sulfur pirit
Sulfur yang terdapat dalam batubara dalam bentuk besi sulfida,
muncul sebagai markasit atau pirit. Kedua jenis mineral ini memiliki
komposisi kimia yang sama (FeS2) tetrapi berbeda pada sistem
kristalnya, pirit (isometrik) dan markasit (orthorombik) Taylor (1998).
Diendapkan bersamaan/seumur dengan pembentukan batubara dan
memiliki ukuran 0,5 40 mm. Berasal dari mineral-mineral tanah yang
dilepaskan untuk tanaman, terutaman pada tanah dengan drainase
terbatas, banyak terdapat pada rawa-rawa.
3. Sulfur organic
Sulfur yang terikat dengan senyawa organik pada struktur molekul
hidrokarbon pada struktur batubara dan tidak dapat dipisahkan.
Unsur yang mempengaruhi kandungan sulfur:
1. Plant remains. Merupakan sisa-sisa tumbuhan yang terdapat pada lapisan
roof dan floor batubara. Berdasarkan pengamatan lapangan hadirnya
plant remains diisi sulfur organik akan mempengaruhi nilai sulfur. Plant
remains menaikan total sulfur betubara. Pada saat pembusukan sulfur
tidak ikut membusuk dan tersisa hingga pada saat pembentukan
batubara (Stachs, 1982 vide Putrasakti 2007)
2. Penyebaran mineral pirit pada batubara
Kahdiran mineral pirit pada batubara sebagian dapat dihilangkan
dengan mencuci karena pirit bercampur pada cleat sebagai markasit.
Pengaruh pirit terhadap total sulfur jauh lebih besar dibandingkan
pengaruh plant reamins terhadap jumlah total sulfur.
Menurut Caraccio (1977, vide Putrasakti, 2007) ada empat bentuk
pirit dalam batubara, yaitu :
1. Euhedral pirit, butiran kasar >25 mikron
2. Replecment mengantikan mineral asli tumbuhan
3. Flaty, berupa lembaran mengisi cleat

4. Frambodial pirit. Berasal dari pengurangan sulfur oleh mikroba


organisme yang dijumpai di lingkungan air laut hingga air payau dan
tidak pada air tawar. Memiliki kenampakan fisik yang bulat.

Pirit dapat terbentuk sebagai hasil reduksi sulfur primer oleh


organisme dan air tanah yang mengandung ion besi. Bentuk pirit dari
hasil reduksi ini biasanya framboidal dengan sumber sulfur yang tereduksi
kemungkinan

terdapat

dalam

material

yang

terendapkan

bersama

batubara.
Terbentuknya pirit epigenetik sangat berhubungan dengan frekwensi
cleat karena kation kation yang terlarut (ion Fe) akan terbawa kedalam
batubara oleh aliran yang telah tereduksi untuk kemudian membentuk
pirit (Demchuck TD, dalam International Journal of Coal Geology, 1992)
Pirit epigenetik umumnya hadir dalam bentuk masif, butiran kecil
(granular) dan kristal euhedral. Pembentukan pirit epigenetik sangat
dipengaruhi oleh keterdapatan sulfur primer yang telah tereduksi, ion besi
dan tempat yang cocok bagi pembentukanya (Casagrande, 1987)
Pirit

framboidal

terendapkan

pada

berasosiasi

lingkungan

laut

dengan
sampai

batuan
payau.

penutup

yang

Gambut

yang

mengandung sulfur tinggi (dalam bentuk pirit framboidal) terbentuk pada


lingkungan pengendapan yang dipengaruhi oleh trangresi air laut atau
payau, kecuali apabila terdapat dalam batuan sedimen yang cukup tebal
dan terendapkan sebelum fase trangresi (Cohen AD dalam Taylor 1998).
Secara umum sebagian besar sulfur dalam batubara berupa sulfur
syngenetik yang keterdapatanya dan distribusinya dikontrol oleh kondisi
fisika dan kimia selama proses pembentukan gambut. Sulfur organik
dalam batubara dapat berasal dari material kayu dan pepohonan.

Disamping itu sebagian sulfur juga mungkin terjadi dari sisa-sisa


organisme yang hidup selama perkembangan gambut.
Sulfur organik dapat terakumulasi dari sejumlah material organik
oleh proses penghancuran biokimia dan oksidasi. Namun secara umum,
penghancuran biokimia merupakan proses yang paling penting dalam
pembentukan sulfur organik, yang pembentukanya berjalan lebih lambat
dari lingkungan basah atau jenuh air (Cook, 1982)
Navael (1981), sulfur organik atau bisa dikatakan sebagai pirit,
mengindikasikan

aktivitas

bakteri

pereduksi

sulfur

dalam

gambut.

Deulfovibrio sedlfurican dan Clostridium nigrificans mereduksi sulfat


menjadi H2S yang diperlukan untuk terbentuknya pirit, dimana unsur besi
kemungkinan masuk ke dalam rawa yang terbawa dalam material
lempung. Oleh karena itu, pada umumnya pirit ditemukan pada lapisan
lempung sebagai floor / roof maupun sisipan.
Sulfur yang bukan berasal dari material pembentuk batubara diduga
mendominasi dalam menertukan kandungan sulfur total. Sulfur inorganik
yang

biasanya

melimpah

dalam

lingkungan

marine

atau

payau

kemungkinan besar akan terubah membentuk hidrogen sulfida dan


senyawa sulfat dalam kondisi dan proses geokimia. Reaksi yang terjadi
adalah reduksi sulfat oleh material organik menjadi hidrogen sulfida (H 2S).
Reaksi

reduksi

ini

dipicu

oleh

adanya

bakteri

desulfovibrio

dan

desulfotomaculum (Trudinger dalam Mayers, 1982)


Unsur sulfur, hidrogen sulfida dan ion sulfida dapat bereaksi dengan
unsur atau molekul organik dari gambut menjadi sulfur organik. Unsur
sulfur (S0) kemungkinan mucul dari proses oksidasi hidrogen sulfida yang
terkena kontak dengan oksigen terlarut dalam kisi-kisi air, disamping itu
S0 juga bisa muncul karena adanya aktivitas bakteri. Unsur sulfur (S 0)
dapat berekasi dengan asam humik yang terbentuk selama proses
penggambutan. (Mayers, 1982)

Berdasarkan eksperimen dapat diketahui bahwa H 2S juga dapat


bereaksi

dengan

asam

humik

yang

terbentuk

selama

proses

penggambutan. Jenis interaksi antaea H2S dengan asam humik inilah yang
mempunyai peranan paling penting dalam mementukan kandungan sulfur
organik dalam batubara (Mayers, 1982). Disamping itu kandungan sulfur
organik yang tinggi hanya akan berasosiasi dengan lingkungan rawa
gambut yang minim suplai Fe (Gransh & Postuma, 1974, Bein, 1990,
Zaback & Pratt dalam Suits & Arthur, 2000)
Bukti-bukti kimia dan molekul menyatakan bahwa sulfur organik
pada sedimen muda dan purba terbentuk pada awal proses diagenesa
(Nissenbaum & Kaplam, 1972; Casagrande, 1979; Kohnen, 1990 dalam
Suits & Arthur, 2000). Bukti dari isotop sulfur memperkuat hipotesa
tersebut, pada sulfur organik isotop sulfur

34

S terkayakan relatif sama

pada sulfur pirit untuk batuan sedimen muda dan purba. Bukti isotop ini
juga sering membuktikan bahwa sulfur organik terbentuk setelah proses
presipitsi pirit (Kaplan, 1963, Price & Shieh, 1979, Francois, 1
http://geologiaway.blogspot.co.id/2010/03/batubara.html987,
Raiswell, 1993 dalam Suits & Arthur, 2000)