Anda di halaman 1dari 170

Sejarah kelam wahabi salafi / Aliansi Wahabi dan

Dinasti Al-Saud I / Muasal Aliansi Wahabi-Sa`udi


Oleh: Syamsurizal Panggabean

Secara nominal, sebagian besar wilayah yang sekarang


dikenal sebagai Kerajaan Sa`udi Arabia (KSA) adalah
bagian dari Imperium Usmaniah atau Khilafah Usmaniah
(KU). Sebab bagaimanapun juga sejak ke-Khalifahan
yang pertama (masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq)
hingga Khalifah selanjutnya Kota Makkah dan Madinah
adalah merupakan bagian dari keKhalifahan Islam,
namun dalam perjalanannya sejarah keKhalifahan Islam
kota Makkah seringkali diserang dan dikuasai oleh
pihak-pihak musuh hingga terlepas dari kekuasaan
keKhalifahan Islam.

KU menjadi penguasa di wilayah tersebut setelah


Dinasti Mamluk melemah pada awal abad XVI. Raja
Mamluk terakhir menyerahkan kunci Mekkah kepada
Sultan Salim I dari KU pada 1517. Ini menandai
kekuasaan Sultan Usmaniyah di wilayah Hijaz.
Kemudian, pada 1534 KU menguasai Baghdad dan lembah
Eufrat sampai daerah Timur Jazirah Arabia.
Pemberontakan Banu Khalid pada 1670 berhasil mengusir
KU dan baru dua abad kemudian KU kembali mengguasai
wilayah Timur Arabia.

Akan tetapi, wilayah pedalaman Jazirah Arabia, yang


dikenal dengan Najd, tidak pernah dikuasai KU. Najd
tetap dikuasai Amir-amir setempat. Begitu pula,
konfederasi suku-suku yang ada di Najd tetap memiliki
otonomi dan kemerdekaan dari penguasa-penguasa luar,
apakah itu KU, penguasa Hijaz (Syarif), maupun Banu
Khalid di wilayah Timur Jazirah Arabia. Najd sendiri
tidak begitu menarik bagi penguasa-penguasa dari luar
ini. Selain karena daerahnya hanya menghasilkan
sedikit surplus korma dan ternak, perdagangan juga
tidak makmur.

Dir`iyyah dan `Uyaynah, Najd

Salah satu pemukiman di Najd adalah Dir`iyyah. Ini


pemukiman kecil paling-paling 70 keluarga yang
terdiri dari petani, pedagang, pekerja, tokoh agama,
dan budak. Sejak tahun 1727, Dir`iyyah diperintah
oleh Muhammad ibn Sa`ud (wafat 1765) dari klan Al-
Sa`ud. Klan ini menguasai oase, ladang pertanian, dan
sumur-sumur di Dir`iyyah. Selain itu, klan al-Sa`ud
juga berhasil mempertahankan pemukiman dari serangan
amir-amir oase atau konfederasi suku-suku lain.
Karenanya, penduduk membayar upeti kepada klan al-
Sa`ud.

Kendati demikian, klan al-Sa`ud bukanlah klan yang


kuat dan kaya. Malahan, menurut Madawi al-Rasheed,
penulis A History of Sa`udi Arabia, klan Sa`ud tidak
memiliki asal-usul kesukuan yang jelas. Salah satu
teori mengatakan klan al-Sa`ud hanyalah pendiri
pemukiman Dir`iyyah yang tidak memiliki ikatan yang
kuat dengan konfederasi suku-suku setempat. Selain
itu, surplus kekayaan mereka dari memungut pajak
dan upeti maupun dari perdagangan tidak seberapa
besar. Akibatnya, kemampuan mereka untuk menguasai
jalur kafilah perdagangan maupun pemukiman-pemukiman
lain terbatas.

Nasib mereka berubah setelah mereka bergabung dengan


Wahabiyah. Pendiri gerakan ini, Muhammad ibn Abd al-
Wahhab berasal dari Banu Tamim, salah satu suku di
Najd, yang menetap di `Uyaynah. Ia berasal dari
keluarga ulama, tetapi tidak kaya. Salah satu riwayat
menyebutkan ia mempunyai tiga istri, sebidang kebun
korma, dan sepuluh atau dua puluh lembu. Ia pernah
pergi ke Madinah, Basrah dan Hasa (di Timur Jazirah
Arabia, tempat Banu Khalid). Sepulang dari sekolah,
ia kembali ke `Uyaynah.

Amir `Uyaynah, Usman ibn Mu`ammar, pada mulanya


memberi ruang gerak bagi al- Muhammad ibn Abd al-
Wahhab dan ajaran barunya. Akan tetapi, tidak lama
kemudian, Muhammad ibn Abd al-Wahhab menimbulkan
keributan. Ia menghukum orang yang tidak mau shalat
jamaah, ikut merajam seorang perempuan yang
selingkuh, dan banyak ulama menentang aliran baru
tersebut dan kuatir ajarannya meluas. Amir `Uyaynah
tidak senang, begitu pula Banu Khalid yang berkuasa
di Hasa, dan banyak amir lain di Najd. Mereka meminta
Amir `Uyaynah supaya membunuh Muhammad ibn Abd al-
Wahhab. Akan tetapi, karena takut terjadi kerusuhan,
Amir hanya meminta Muhammad ibn Abd al-Wahhab dan
keluarganya supaya pergi. Muhammad ibn Abd al-Wahhab
pergi ke Dir`iyyah, kurang lebih 60 km dari `Uyaynah.

Aliansi al-Wahhab-al-Sa`ud

Muhammad ibn Sa`ud menerima Muhammad ibn Abd al-


Wahhab dan memberinya perlindungan dari musuh-
musuhnya.

Muhammad ibn Sa`ud menyambut Muhammad ibn Abd al-


Wahhab dan mengatakan, Oasis ini adalah milikmu,
jangan takut pada musuh-musuhmu. Demi Allah, walaupun
seluruh Najd berkumpul untuk mengusirmu, kami tidak
akan setuju. Muhammad ibn Abd al-Wahhab membalas,
Kamu adalah penguasa di pemukiman ini dan orang yang
bijaksana. Saya minta engkau bersumpah bahwa engkau
akan melaksanakan jihad terhadap orang-orang kafir.
Sebagai gantinya, engkau akan menjadi imam, pemimpin
masyarakat Muslim, dan aku akan menjadi pemimpin di
bidang agama. (Al-Rasheed, 2002: 17).

Pada tahun 1744, kemitraan al-Wahhab dengan Muhammad


ibn Sa`ud dimulai lewat upacara sumpah yang
menetapkan Ibn Sa`ud sebagai amir (pemimpin sekular)
dan al-Wahhab menjadi imam dan kemudian berubah
menjadi Syeikh al-Imam. Putra tertua Muhammad ibn
Sa`ud, Abd al-Aziz ibn Sa`ud dinikahkan dengan putri
al-Wahhab. Muhammad ibn Abd al-Wahhab mulai
menyebarkan ajarannya di masyarakat Dir`iyyah dan
yang malas mengikuti pengajiannya disuruh membayar
denda atau mencukur jenggot. Dinasti Sa`ud-Wahhabi
pun terbentuk, demikian pula dinasti yang nanti
menjadi penguasa Sa`udi Arabia (Allen, 2006: 52).

Al-Rasheed menyebutkan beberapa faktor di balik


keberhasilan Muhammad ibn Abd al-Wahhab mendapatkan
kepercayaan dari klan Al-Sa`ud. Ajaran baru tersebut
dapat menjadi sumber legitimasi bagi penguasa
Dir`iyyah. Selain itu, Muhammad ibn Abd al-Wahhab
menjanjikan mereka kekayaan lewat zakat yang
diperoleh seiring dengan perluasan pengaruh
Wahabiyah. Akhirnya, persaingan amir `Uyaynah dan
Dir`iyyah juga memainkan peran. Pemukiman Dir`iyyah
yang kecil dan tidak berpengaruh ingin menyaingi
`Uyaynah yang ketika itu lebih penting di bidang
ekonomi dan politik.

Gerakan Wahabiyah dan dinasti Sa`ud sejak


kemunculannya berusaha menundukkan suku-suku di
jazirah Arab di bawah bendara Wahabi/Sa`udi.
Menyamun, menyerang, dan menjarah suku tetangga
adalah praktik yang luas dilakukan suku-suku Badui di
Jazirah Arab sepanjang sejarahnya. Pada tahun 1746
Imam al-Wahhab mengeluarkan proklamasi jihad terhadap
siapa saja yang menentang al-Da`wa lil-Tauhid. Gazwah
mulai dilangsungkan ke daerah suku-suku yang sekarang
dinyatakan kafir biasanya dengan menyerang yang
lebih lemah terlebih dahulu dan mengadakan
kesepakatan nonagresi dengan suku yang kuat (Allen,
2006: 54-55).
Kelompok-kelompok suku di Najd yang bergabung dengan
sekte Wahabi tidak hanya berjihad menyebarkan paham
Wahabiyah. Melalui jihad, mereka juga memperoleh
pendapatan dan pampasan perang dari penaklukan,
penjarahan, dan pembunuhan yang mereka lakukan.
Sebanyak seperlima dari perolehan tersebut diberikan
kepada amir dan sisanya dibagi oleh suku-suku yang
ikut berjihad. Kaum ulama mendapatkan zakat
sebagaimana biasa. Jadi, semua mendapat bagian
(Allen, 2006: 55).

Pada tahun 1765, Muhammad ibn Sa`ud dibunuh ketika


sembahyang. Ia digantikan putranya, Abd al-Aziz ibn
Sa`ud. Abd al-Aziz melanjutkan, dan dalam banyak hal,
meningkatkan peperangan dan penyergapan yang dimulai
ayahnya, dengan bantuan mertuanya, Muhammad ibn Abd
al-Wahhab. Mertua dan menantu ini memperkenalkan
senjata api kepada para pengikut mereka, dan
mengajari mereka bagaimana menggunakannya sebagai
pengganti tombak dan pedang. Ia juga membentuk
pasukan elit dengan persenjataan yang lebih memadai.
Merekalah yang menjadi tulang punggung ghazwah yang
dilancarkan ke berbagai kawasan di Jazirah Arab.

Tentu saja, ghazwah bukan hanya urusan militer.


Muhammad ibn Abd al-Wahhab membekali setiap
mujahidnya dengan firman atau printah tertulis yang
ditujukan kepada penjaga pintu surga, yang memintanya
supaya langsung memperkanankan pemegang firman supaya
langsung masuk surga sebagai syahid. Kultus syahadah
yang banyak dikenal di kalangan Syiah diadopsi juga
oleh kalangan Wahabi dan menjadi salah satu daya
gerak di balik ghazwah. Dan dengan demikian mujahid
Amir Abd al-Aziz ibn Sa`ud berada dalam situasi
menang-menang: jika mereka menang di dalam perang,
mereka mendapatkan keuntungan harta benda; jika
mereka binasa, mereka langsung masuk surga (Allen,
2006, 59).

Setiap suku yang belum masuk Wahabi diberi dua


tawaran jelas: masuk Wahabi atau diperangi sebagai
orang-orang musyrik dan kafir. Yang setuju harus
mengucapkan bay`ah ketundukan dan menunjukkan
loyalitas dengan bersedia ikut berjihad dan membayar
zakat. Yang menentang akan diperangi dan dijarah.
Tidak banyak yang bisa bertahan menghadapi kekuatan
dan kebrutalan Amir Abd al-Aziz.. Pada 1773, tidak
ada lagi lawan berarti di Najd dan kota Riyadh sudah
menyerah. Hingga ia wafat pada 1806, Abd al-Aziz ibn
Sa`ud menebar teror ke banyak wilayah Jazirah Arab
sampai ke Oman dan Yaman di Selatan dan sampai ke
Baghdad dan Damaskus di Utara.

Serangan ke Karbala, Mekkah, dan Madinah

Pada tahun 1802, putra tertua Abd al-Aziz yang


bernama Sa`ud ibn Sa`ud menyerang Karbala tempat
paling suci umat Syiah. Mereka menjarah makam Imam
Husein cucu Nabi dan putra Ali bin Abi Talib,
membantai siapa saja yang merintangi jalan mereka.
Mereka banyak mendapatkan pampasan perang
seperlimanya menjadi bagian Sa`ud, sisanya bagi
pasukan dengan ketentuan pasukan berkuda mendapat dua
kali bagian pasukan yang berjalan kaki. Kurang lebih
lima ribu penduduk Karbala dibunuh, sehingga kabarnya
sampai ke wilayah-wilayah lain di Turki, Persia, dan
daerah Arab lainnya. Pemerintah Kekhalifahan Turki,
Khalifah Mahmud II, kemudian dikecam karena gagal
menjaga Makam Imam Husein (Allen, 2006: 63).

Pada tahun 1803-1804, pasukan Wahabi juga menyerbu


Mekkah dan Medinah. Mereka membunuh syekh dan orang
awam yang tidak bersedia masuk Wahabi. Perhiasan dan
perabotan yang mahal dan indah yang disumbangkan
oleh banyak raja dan pangeran dari seluruh dunia
Islam untuk memperindah banyak makam wali di seputar
Mekkah dan Madinah, makam Nabi, dan Masjidil Haram
dicuri dan dibagi-bagi. Pada 1804, Mekkah jatuh ke
tangah Wahabi. Dunia Islam guncang, lebih-lebih
karena mendengar kabar bahwa makam nabi telah dinodai
dan dijarah, rute jamaah haji ditutup, dan segala
bentuk peribadatan yang tidak sejalan dengan praktik
Wahabi dilarang (Allen, 2006: 64).

Abd al-Aziz, yang setelah kematian Muhammad ibn Abd


al-Wahhab memegang dua gelar amir dan imam sekaligus,
wafat pada 1806. Ia dibunuh ketika sedang sembahyang
di masjid Dir`iyyah. Pembunuhnya adalah pengikut
Syiah dari Karbala yang memburunya dalam rangka
membalas dendam terhadap perbuatan pasukan Wahabi di
Karbala. Ia digantikan oleh putranya, Sa`ud ibn Sa`ud
yang berkuasa sampai 1814, yang digantikan putranya
bernama Abdullah ibn Sa`ud.

Reaksi Konstantinopel

Dominasi Wahabi di tanah suci juga menjadi tantangan


langsung terhadap otoritas Khalifah di Turki.
Beberapa kali serangan dilancarkan oleh Khalifah dari
Baghdad tetapi gagal. Muhammad Ali Pasya, wazir atau
wakil Khalifah di Mesir, diserahi tanggungjawab
mengambil alih Hijaz dan tanah suci dan
mengembalikannya kepada Khalifah sebagai khadimul
haramayn. Setelah gagal di tahun 1811, pada 1812
pasukan kekhalifahan Usmani dari Mesir tersebut
berhasil menduduki Madinah. Pada tahun 1815, kembali
pasukan dari Mesir menyerbu Riyadh, Mekkah, dan
Jeddah. Kali ini pasukan Wahhabi kucar-kacir.

Ibrahim Pasya, putra sang penguasa Mesir, datang


dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavaleri dan
infantri dari Mesir, Albania, dan Turki. Ibrahim
menawarkan enam keping perak untuk setiap kepala
pengikut Wahabi yang berhasil dibunuh. Di akhir
pertempuran, lapangan di depan markasnya berdiri
piramida kepala pengikut Wahhabi. Pada 1818,
pertahanan terakhir Wahabi yang dipimpin Abdullah ibn
Sa`ud di Dir`iyyah diserbu dan setelah beberapa bulan
dikepung, mereka menyerah.

Ibrahim Pasya mengumpulkan semua ulama Wahabi yang


bisa didapat, kira-kira lima ratusan ulama, dan
menggiring mereka ke masjid besar. Di sana, selama
tiga hari, ia memimpin debat keagamaan dalam rangka
meyakinkan ulama Wahabi bahwa ajaran mereka sesat. Di
akhir hari keempat, kesabarannya habis dan ia
memerintahkan pengawalnya supaya membunuh mereka
sehingga masjid Dir`iyyah, dalam kata-kata pengelana
William Palgrave, menjadi kuburan berdarah teologi
Wahabi.

Abdullah ibn Sa`ud sendiri beserta beberapa anggota


keluarganya ditawan dan dibawa ke Kairo dan kemudian
ke Konstantinopel. Di ibukota Khilafah Usmani itu dia
dipermalukan, diarak keliling kota di tengah cemoohan
penonton selama tiga hari. Kemudian kepalanya
dipenggal dan tubuhnya dipertontonkan kepada
kerumunan yang marah. Sisa-sisa keluarga Sa`udi-
Wahabi menjadi tawanan di Kairo.

Kehancuran Wahabi disambut gembira di banyak negeri


Muslim. Seorang ulama mazhab Hanafi bernama Muhammad
Amin ibn Abidin yang hidup di awal abad XIX
mengatakan, Ia mengaku pengikut mazhab Hanbali, tapi
dalam pemikirannya hanya dia saja yang Muslim dan
semua orang lain adalah musyrik. Ia mengatakan bahwa
membunuh Ahlussunnah adalah halal, sampai akhirnya
Allah menghancurkannya pada tahun 1233 Hijriah (1818)
melalaui pasukan Muslim. (Allen, 2006: 68).

Demikianlah, fase pertama aliansi Wahabi-Saudi, yang


juga dikenal dengan Negara Saudi I, berhenti secara
brutal, sekejam serbuan dan penaklukan yang mereka
lakukan sejak aliansi terbentuk.[Oleh: Rizal
Panggabean]

Negara Wahabi/Saudi II (1824-1891)

Pada tahun 1924, Turki ibn Abdullah, putra dari


penguasa Saudi yang dipenggal di Istambul, mengambil
alih Riyad, sebuah pemukiman di sebelah selatan
Dir`iyyah yang dikemudian hari menjadi kota penting.
Ini dapat terjadi karena pasukan dari Mesir
mengundurkan diri Dari Najd pada 1821. Dari sana,
kekuasannya meluas ke daerah `Aridh, Kharj, Hotah,
Mahmal, Sudayr dan Aflaj. Pada 1830, ia juga berhasil
memperluas kekuasaan sampai ke wilayah Hasa, salah
satu medan perang saudara di antara faksi-faksi klan
Saudi. Amir Turki sendiri tidak mengutak-atik
kekuasaan Usmaniyah dan Mesir di wilayah Hijaz, yang
menjamin keamanan kafilah-kafilah haji. (al-Rasheed,
23).

Konflik internal di dalam negara Wahabi/Saudi kedua


sudah dimulai sejak masa Amir Turki, Salah seorang
musuhnya adalah Mishari, seorang saudara sepupu yang
ia angkat menjadi Gubernur di Manfuhah, berada di
balik komplotan yang membunuh Turki pada 1834,
selepas salat Jumat. Ia digantikan anaknya, Faisal,
yang dengan bantuan `Abdullah ibn Rashid, Amir dari
Hail, berhasil membalas kematian ayahnya pada tahun
yang sama. Tetapi, ia tidak lama berkuasa. Karena
menolak membayar upeti kepada pasukan Mesir yang
menduduki Hijaz, pada tahun 1837 ia ditangkap dan
dikirim ke Kairo. Perebutan kekuasaan terjadi lagi di
Riyad, di antara sesama keluarga Saud.

Pada 1840, Mesir meninggalkan Arabia dan pada tahun


1943, Faisal ibn Turki al-Saud melarikan diri dari
Mesir dan kembali ke Riyad dan menjadi amir kembali
sampai wafat pada 1865. Selama berkuasa, Faisal
mengakui kekuasaan Khilafah Usmaniyah dan membeyar
upeti kepada Khalifah. Setelah kematiannya, putra-
putranya (dari istri yang berbeda-beda) bertarung
memperebutkan kekuasanaan. Mereka adalah `Abdullah,
Sa`ud, Muhammad, dan `Abd al-Rahman. `Abdullah, anak
tertua yang menggantikan Faisal, bersaing dengan
saudara-saudaranya. `Abdullah bahkan pernah meminta
bantuan dari Midhat Pasya, Gubernur Usmaniyah di
Baghdad, supaya membantunya dalam pertarungannya
melawan saudara-saudaranya. Permintaan ini dipenuhi
dan invasi dari Bagdad terjadi pada 1870, walaupun
hanya berhasil menghentikan perang saudara sebentar.
Demikian pula, Sa`ud memerangi abangnya dengan
bantuan dari konfederasi suku-suku yang ingin bebas
dari kekuasaan abangnya, dan dari dominasi klan
Sa`udiyyah. `Abdullah menyerah dan Sa`ud praktis
berkuasa sejak 1871 sampai ia wafat pada 1875.
Setelah itu, perebutan kekuasan dilanjutkan `Abd al-
Rahman, `Abdullah, dan keturunan Sa`ud (Al-Rasheed,
2005: 24,36; Al-Fahad, 2004).

Pada tahun 1887, `Abdullah meminta Muhammad ibn


Rasyid, peguasa Hail, supaya membantunya
menyingkirkan keturunan Sa`ud yang juga keponakan-
keponakannya. Muhammad ibn Rasyid, pemimpin klan yang
sudah lama menjadi musuh klan Sa`udi, bersedia.
Setelah membasmi sebagian besar keponakan `Abdullah,
sisanya kucar-kacir melarikan diri. Akan tetapi, Ibn
Rasyid sendiri mengkhianati orang yang mengundangnya.
Ia menawan `Abdullah dan mengasingkannya ke Hail,
ibukota klan Rasyidi. Klan Rasyidi kemudian menguasai
Riyad dan banyak wilayah Najd lainnya, atas nama
Khalifah Usmani. Setelah `Abdullah wafat pada 1889,
`Abd al-Rahman, yang sempat menjadi gubernur di bawah
kekuasaan Rasyidi, masih berusaha merebut kekuasaan
dari keluarga Rasyidi akan tetapi gagal. Muhammad ibn
Rasyid mengalahkannya pada 1891 dan `Abd al-Rahman
harus melarikan diri ke beberapa tempat sampai
akhirnya, sejak 1893, ia menetap di Kuwait di bawah
perlindungan klan al-Sabah, penguasa Kuwait yang
ketika itu merupakan salah satu pelabuhan penting
yang di kawasan Teluk, tempat Khilafah Usmani dan
Inggris berebut pengaruh dan kekuasaan, dengan
kemenangan Inggris melalui traktat perlindungan yang
ditandatangani pada 1899.

Dimensi Agama pada Masa Negara Saudi II

Pada masa Negara Saudi II yang penuh pergolakan,


ulama Wahabi secara politik didukung oleh Amir Turki
dan Faisal. Setelah menguasai Riyad, Amir Turki
segera meminta `Abd al-Rahman ibn Hasan, cucu pendiri
Wahabiyah, supaya kembali ke Riyad dan menduduki
jabatan yang dulu dipegang kakeknya, yaitu menjadi
pemimpin agama dan penasihat penguasa.

Ulama Wahabi menjadi kadi dan guru agama, sambil


menyebarkan paham Wahabiyah di wilayah-wilayah yang
dikuasai Amir Turki dan Faisal. Para ulama Wahabi,
yang menguasai pengetahuan keagamaan yang bersumber
dari kitab suci, hadis, dan keteladanan al-salaf al-
salih. Selain itu, jika diingat bahwa banyak ulama
Wahabi adalah keturunan dari Muhammad ibn `Abd al-
Wahhab dengan julukan Al al-Syaikh, maka ulama Wahabi
juga memiliki status sosial yang terhormat.

Kadi, yang juga wakil resmi Wahabiyah, menjadi


arbitrator sengketa, khatib salat Jumat, imam salat,
dan guru agama di masjid agung kota-kota. Jika
dikaitkan dengan dukungan politik yang mereka peroleh
dan kaitan kelas ulama dengan Al al-Syaikh,
jelaslah tidak banyak ruang bagi penolakan terhadap
paham Wahabi. Salah satu di antaranya adalah kota
`Unayzah di wilayah Qasim. Wilayah Qasim, dengan dua
kota utama `Unayzah dan Buraidah, menentang Faisal,
memiliki kontak yang lebih sering dengan daerah
Usmaniyah melalui perdagangan, sebagai jalur utama
orang naik haji dari Irak dan negeri-negeri Muslim di
Timur ke Makkah dan Madinah, dan pendidikan, serta
kalangan ulamanya juga tidak pernah seluruhnya
menjadi Wahabi sehingga dapat mempertahankan tradisi
mereka. Kekuasaan dinasti Rasyidi di wilayah ini
turut menopang semangat menentang Wahabi (Al-Fahad,
2004: 505; Al-Rasheed, 2002: ).

Pembentukan Negara Wahabi/Saudi III (1902-1932

Pada tahun 1902, `Abdul Aziz, putra `Abd al-Rahman


ibn Sa`ud yang mengungsi ke Kuwait, memulai usaha
meraih kembali kejayaan dinasti Saudi yang hilang.
Dengan bantuan Syeikh Kuwait yang selama ini
melindunginya, Ibn Saud nama populer `Abdul Aziz
berhasil meraih Riyad dan mengumumkan pemulihan
kembali kekuasaan dinasti Sa`ud di sana. Klan al-
Sabah di Kuwait mendorong Ibn Sa`ud menaklukkan Riyad
karena mereka takut kekuasaan Rasyidi semakin kuat
dan luas terutama karena aliansi Rasyidi dengan
Khilafah Usmani sehingga mengancam Kuwait (al-
Rasheed, 40).

Pertarungan di Najd terjadi antara Ibn Sa`ud yang


dibantu Kuwait dan Inggris melawan Ibn Rasyid yang
dibantu Khilafah Usmani. Inggris ikut campur karena
kuatir dukungan Khilafah Usmani terhadap Ibn Rasyid
akan mengancam kepentingan mereka di Kuwait. Pada
tahun 1906, wilayah Qasim direbut sehingga kekuasaan
Ibn Sa`ud semakin dekat ke jantung klan Rasyidi di
Najd utara. Selain Qasim, Ibn Sa`ud juga menguasai
kota-kota penting lain seperti `Unayzah dan Buraydah.
Najd praktis terbelah dua: separuh dikuasai Ibn Sa`ud
dan separuh lagi dikuasai Ibn Rasyid.

Ibn Sa`ud mengalihkan sasaran ke Hasa, tempat di


kawasan timur Jazirah Arabia yang banyak didiami
masyarakat Syiah. Setelah Hasa akhirnya takluk pada
1913, Ibn Sa`ud mengadakan perjanjian dengan ulama
Syiah yang menetapkan bahwa Ibn Sa`ud akan memberikan
mereka kebebasan menjalankan keyakinan mereka dengan
syarat mereka patuh kepada Ibn Sa`ud. Pada saat yang
sama, Syiah tetap dianggap sebagai kalangan Rafidlah,
artinya yang menolak iman (al-Rasheed, 41).

Pada 26 Desember 1915, ketika Perang Dunia I


berkecamuk, Ibn Sa`ud menyepakati traktat dengan
Inggris. Berdasarkan traktat ini, pemerintah Inggris
mengakui kekuasaan Ibn Sa`ud atas Najd, Hasa, Qatif,
Jubail, dan wilayah-wilayah yang tergabung di dalam
keempat wilayah utama ini. Apabila wilayah-wilayah
ini diserang, Inggris akan membantu Ibn Sa`ud.
Traktat ini juga mendatangkan keuntungan material
bagi Ibn Sa`ud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang
20.000 begitu traktat ditandatangani. Selain itu,
Ibn Sa`ud menerima subsidi bulanan 5.000 dan bantuan
senjata yang akan dikirim secara teratur sampai tahun
1924. Sebagai imbalannya, Ibn Sa`ud tidak akan
mengadakan perundingan dan membuat traktat dengan
negara asing lainnya. Ibn Sa`ud juga tidak akan
menyerang ke, atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain,
Qatar, dan Oman yang berada di bawah proteksi
Inggris. Traktat ini mengawali keterlibatan langsung
Inggris di dalam politik Ibn Sa`ud (Nakash, 2006: 33-
34; Al-Rasheed, 2002: 42).
Sementara itu, saingan Ibn Sa`ud di Najd, Ibn Rasyid,
tetap bersekutu dengan Khilafah Usmaniah. Ketika
Kesultanan Usmani kalah dalam Perang Dunia I bersama-
sama dengan Jerman, klan Rasyidi kehilangan sekutu
utama. Selain itu, yang tidak kalah pentingnya,
Rasyidi dilanda persaingan internal di bidang
suksesi. Perang antara Ibn Sa`ud dan Ibn Rasyid
sendiri tetap berlangsung selama PD I dan sesudahnya.
Akhirnya, pada 4 November 1921 dan setelah berbulan-
bulan dikepung, Hail, ibukota Rasyidi, jatuh ke
tangan Ibn Sa`ud yang dibantu Inggris melalui dana
dan persenjataan. Penduduk oase subur di utara itu
pun mengucapkan bay`ah ketundukan kepada Ibn Sa`ud.

Sesudah menaklukkan Hail, Ibn Sa`ud beralih ke


Hijaz. Satu-demi-satu kota di Hijaz jatuh ke tangan
Ibn Sa`ud. `Asir, wilayah di Hijaz selatan, jatuh
pada 1922, disusul Taif, Makkah, dan Medinah di tahun
1924, dan Jeddah di awal tahun 1925. Pada tahun 1925
juga, di bulan Desember, Ibn Sa`ud menyatakan diri
sebagai Raja Hijaz, dan pada awal Januari 1926 ia
menjadi Raja Hijaz dan Sultan Najd dan daerah-daerah
bawahannya. Untuk pertama kali sejak Negara Saudi II,
empat wilayah penting di Jazirah Arabia, yaitu Najd,
Hijaz, `Asir, dan Hasa, kembali berada di tangan
kekuasaan klan Saudi. Pada tahun 1932, Ibn Saud telah
berhasil menyatukan apa yang sekarang dikenal sebagai
Kerajaan Saudi Arabia. Penemuan minyak di wilayah
padang pasir itu memberikan Ibn Saud kekayaan
berlimpah yang ia perlukan membangun negerinya. Pada
tahun 1953 ia wafat dan digantikan oleh Raja Saud dan
kemudian Raja Faisal.

Dua Ilustrasi Fatwa Wahabi

2. Fatwa yang menghalalkan permintaan bantuan


kepada Gubernur Usmaniyah

Ketika terjadi perang saudara di dalam tubuh klan


Saudi pada abad XIX, `Abdullah yang sedang diperangi
saudara-saudara dan keponakannya memutuskan untuk
meminta bantuan dari Gubernur atau Wali Khilafah
Usmaniyah yang berkedudukan di Bagdad, bernama Midhat
Pasya. Masalahnya, dilihat dari paham Wahabiyah,
adalah: apakah boleh meminta bantuan dan pertolongan
dari orang-orang kafir dan musyrik seperti gubernur
Khilafah Usmaniyah? Jawabannya, dalam situasi normal,
tentu saja tidak.

Akan tetapi, `Abdullah berhasil mendapatkan fatwa


dari salah seorang ulama,yaitu Muhammad ibn Ibrahim
ibn `Ajlan. Menurutnya, meminta bantuan kepada
Khilafah Usmaniyah tidak lebih berdosa dari tindakan
yang dilakukan Ibn Taymiyah ketika ia meminta bantuan
dari orang-orang Mesir dan Suriah dalam perang
melawan invasi pasukan Mongol di akhir abad ke-13 dan
awal abad ke-14. Jadi, menurut `Ajlan, boleh meminta
bantuan dari orang-orang kafir ketika ada darurah
(yaitu situasi genting dan darurat sehingga yang
tadinya dilarang menjadi diperbolehkan). Apalagi,
panglima dan perwira tinggi pasukan dari Bagdad juga
tampak soleh.
Fatwa di atas menyulut kontroversi di kalangan ulama
Wahabi. Sebagian mengatakan fatwa itu tidak sah dan
sebagian lagi, seperti Hamad ibn `Atiq, mengatakan
bahwa Ibn `Ajlan sudah murtad. Ulama besar Wahabi
saat itu, `Abd al-Latif ibn `Abd al-Rahman ibn Hasan
Al al-Syaikh, menghantam argumen `Ajlan walaupun ia
tidak memandangnya murtad. Ia bilang bahwa

Suriah dan Mesir masa Ibn Taimiyah bukanlah kafir


tapi muslim. Ibn Taimiyah sendiri pernah mengatakan
bahwa negeri-negeri tersebut adalah darul islam.

Argumen mengenai kesalehan komandan dan perwira tidak


dapat diterima karena banyak sekali orang-orang kafir
yang nyata (kafir mu`ayyan) seperti tokoh sufi
semacam Ibn `Arabi dan Ibn al-Farid, adalah orang-
orang yang terkenal kesalehannya.

Ada sebagian ulama yang membolehkan meminta bantuan


orang-orang kafir atau nonmuslim, akant tetapi itu
hanya dalam perang antara umat Islam melawan non-
Muslim. Dalam kasus fatwa `Ajlan, yang berperang
adalah pasukan Sa`ud melawan `Abdullah yang sama-sama
muslim walaupun yang satu yaitu pasukan Sa`ud,
masuk kategori pemberontak (bughah).

Argumen dlarurah tidak dapat digunakan dalam kasus


ini karena tidak terkait dengan agama dan iman dan
hanya dalam rangka mempertahankan kekuasaan.

Masalahnya bukanlah boleh-tidaknya meminta bantuan


Khilafah Usmaniyah. Sebab, penguasa Usmaniyah sendiri
ingin datang, bertahan, dan memerintah di wilayah
yang dikuasai Saudi/Wahabi (Al-Fahad, 2004: 501-504).

2. Fatwa membolehkan meminta pertolongan Amerika


dalam Perang Teluk 1990-1991.

Pada 1990, Alm Saddam Husein menginvasi Kuwait dan


menimbulkan salah satu krisis dan kemudian perang
penting setelah Perang Dingin. Dalam rangka menentang
agresi dan invasi tersebut, Raja Saudi Arabia meminta
bantuan terutama dari Amerika Serikat. Majelis ulama
senior Arab Saudi mengeluarkan fatwa yang membolehkan
tindakan tersebut dengan alasan dlarurah.

Beberapa peristiwa yang tidak ada fatwa yang


melarang/membolehkannya

- Traktat Ibn Sa`ud Inggris pada 26 Desember 1915


- `Abd al-Rahman, ayahanda Ibn Sa`ud, yang
mengungsi ke Kuwait, dilindungi klan al-Sabah,
dan mendapat insentif bulanan dari Khalifah
Usmaniyah.
- Penempatan pangkalan udara penting milik AS di
Dhahran, dari 1942 sampai 1962

MENGUNGKAP PERSEKONGKOLAN WAHABI DAN PENGUASA SAUDI


DALAM MENGHANCURKAN KHILAFAH
Pengantar

Gerakan Wahabi (al-harakah al-wahhabiyyah) dapat


dianggap salah satu gerakan reformasi Islam yang
berpengaruh besar terhadap umat Islam sejak abad ke-
18. (Al-Ja'bari, 1996). Gerakan yang dirintis oleh
Muhammad bin Abdul Wahhab (1703-1792) memang dinilai
banyak pakar memberi kontribusi positif bagi umat
Islam, misalnya membuka pintu ijtihad, memurnikan
tauhid sesuai pahamnya, dan memerangi apa yang
dianggapnya bid'ah dan khurafat. Bahkan Wahbah
Zuhaili dalam kitabnya Mujaddid Ad-Din fi Al-Qarn
Ats-Tsani 'Asyar, menganggap Muhammad bin Abdul
Wahhab adalah mujaddid abad ke-12 H. Syekh Abdul
Qadim Zallum dalam kitabnya Kaifa Hudimat Al-Khilafah
hal. 14, juga mengakui Muhammad bin Abdul Wahhab
adalah seorang mujtahid dalam mazhab Hambali.

Namun sisi gelap dari gerakan ini juga harus


diungkap, khususnya dalam aspek politik. Menurut
Abdul Qadim Zallum, gerakan Wahabi telah dimanfaatkan
oleh Muhammad bin Saud (w. 1765) untuk memukul
Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Namun tindakan yang
sudah dapat disebut pemberontakan ini, menurut Zallum
terjadi tanpa disadari oleh para penganut gerakan
Wahabi, meski disadari sepenuhnya oleh Muhammad bin
Saud. (Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 14).
Tulisan ini hendak mengkaji kitab Kaifa Hudimat Al-
Khilafah (hal. 13-20) yang mengungkapkan upaya
Muhammad bin Saud memanfaatkan gerakan Wahabi untuk
mengguncangkan Khilafah Utsmaniyah dari dalam. Kajian
akan dilengkapi dengan berbagai referensi lain yang
relevan.

Persekongkolan Negara-Negara Eropa

Gerakan Wahabi dan penguasa Saudi muncul pertama kali


pada abad ke-18 di tengah kondisi yang kurang
menguntungkan bagi Khilafah Utsmaniyah, baik internal
maupun eksternal.

Secara internal, kelemahan Khilafah mulai menggejala


pada abad ke-18 ini, disebabkan oleh buruknya
penerapan hukum Islam, adanya paham-paham asing
--seperti nasionalisme dan demokrasi-- yang
mengaburkan ajaran Islam dalam benak umat Islam, dan
lemahnya pemahaman Islam yang ditandai dengan
vakumnya ijtihad. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-
Islamiyyah, hal. 177).

Secara eksternal, negara-negara Eropa seperti


Inggris, Perancis, dan Italia telah dan sedang
berkonspirasi untuk menghancurkan Khilafah
Utsmaniyah. Negara-negara Eropa itu berkali-kali
berkumpul dan bersidang membahas apa yang disebutnya
Masalah Timur (al-mas'alah al-syarqiyyah, eastern
question) dengan tujuan untuk membagi-bagi wilayah
Khilafah. Meski tidak berhasil mencapai kata sepakat
dalam pembagian ini, namun mereka sepakat bulat dalam
satu hal, yaitu Khilafah harus dihancurkan. (El-
Ibrahimy, Inggris dalam Pergolakan Timur Tengah, hal.
27).

Agar Khilafah hancur, negara-negara Eropa itu


melakukan serangan politik (al-ghazwuz siyasi) dengan
menggerogoti wilayah-wilayah Khilafah. Selain Rusia
yang yang telah mencaplok wilayah Turkistan tahun
1884 dari wilayah Khilafah, Perancis sebelumnya telah
mencaplok Syam (Ghaza, Ramalah, dan Yafa) tahun 1799.
Perancis juga telah merampas Al-Jazair tahun 1830,
Tunisia tahun 1881, dan Marakesh tahun 1912. Italia
tak ketinggalan menduduki Tripoli (Libya) tahun 1911.
Sementara Inggris menguasai Mesir tahun 1882 dan
Sudan tahun 1898. (An-Nabhani, Ad-Daulah Al-
Islamiyyah, hal. 206-207).

Demikianlah serangan militer telah dilancarkan Eropa


untuk menghancurkan Khilafah dengan cara melakukan
disintegrasi wilayah-wilayahnya satu demi satu.
(Jamal Abdul Hadi Muhammad, Akhtha` Yajibu an
Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz
II/9).
Selain upaya langsung dari luar, berbagai cara juga
ditempuh oleh Eropa untuk menghancurkan Khilafah dari
dalam. Menurut Zallum ada empat cara yang digunakan,
yaitu :

pertama, menghembuskan paham nasionalisme.

Kedua, mendorong gerakan separatisme.

Ketiga, memprovokasi umat untuk memberontak terhadap


Khilafah.

Keempat, memberi dukungan senjata dan dana untuk


melawan Khilafah.

(Zallum, Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13; Abdur


Rauf Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi
ad-Daulah al-Utsmaniyah, hal. 91).

Di sinilah Inggris menggunakan cara-cara tersebut


untuk memukul Khilafah dari dalam, melalui antek-
anteknya Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud (w. 1830)
yang memanfaatkan gerakan Wahabi. Upaya ini mendapat
dukungan dana dan senjata dari Inggris. (Kaifa
Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).

Hubungan konspiratif segitiga antara Inggris, Abdul


Aziz bin Muhammad bin Saud, dan gerakan Wahabi ini
diuraikan secara detail oleh Abul As'ad dalam
kitabnya As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-Muslimun (hal.
15). Menurutnya, Abdul Aziz membangun ambisi
politiknya atas dasar dua basis.

Pertama, adanya dukungan internasional dari Inggris.

Kedua, adanya dukungan milisi bersenjata dari gerakan


Wahabi.

Dukungan Inggris terhadap Abdul Aziz ini terbukti


misalnya dengan adanya berbagai perjanjian rahasia
antara Inggris dan Abdul Aziz tahun 1904. Abul As'ad
mengatakan,"Hubungan ini [Inggris dan Abdul Aziz]
semakin kuat dengan berbagai perjanjian rahasia
antara dua pihak tahun 1904, di mana Abdul Aziz
menerima dukungan materi, politik, dan militer dari
Inggris yang membantunya untuk meluaskan pengaruhnya
di Nejed serta menguasai kota Ihsa` dan Qathif tahun
1913." (Abu Al-As'ad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan al-
Muslimun, hal. 16).

Adapun dukungan milisi dari gerakan Wahabi kepada


Abdul Aziz, telah terbentuk sebelumnya sejak tahun
1744 ketika terjadi kontrak politik antara ayahnya
(Muhammad bin Saud) dengan Muhammad bin Abdul Wahhab.
Kontrak politik ini berlangsung di kota Dir'iyyah,
sehingga sering disebut "Baiah Dir'iyyah" (Tarikh Al-
Fakhiri, tahqiq Abdullah bin Yusuf Asy-Syibl, hal.
25).
Dengan kontrak politik itu, Muhammad bin Saud
mendeklarasikan dukungannya terhadap paham gerakan
Wahabi dan menerapkannya dalam wilayah kekuasaannya.
Sedang gerakan Wahhabi yang sebelumnya hanya gerakan
dakwah kelompok, berubah menjadi gerakan dakwah
kekuasaan. Implikasinya, paham Wahabi yang semula
hanya disebarkan lewat dakwah murni, kemudian
disebarkan dengan paksa menggunakan kekuatan pedang
kepada penganut mazhab lain, antara lain penganut
mazhab Syafi'i. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 16).

Pemberontakan Penguasa Saudi dan Wahabi Terhadap


Khilafah

Dengan dukungan dana dan senjata dari Inggris,


penguasa Saudi dan kaum Wahabi bahu membahu memerangi
dan menduduki negeri-negeri Islam yang berada dalam
kekuasaan Khilafah. Dengan ungkapan yang lebih tegas,
sebenarnya mereka telah memberontak kepada Khalifah
dan memerangi pasukan Amirul Mukminin dengan
provokasi dan dukungan dari Inggris, gembongnya kafir
penjajah. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal. 13).

Penguasa Saudi dan Wahabi telah menyerang dan


menduduki Kuwait tahun 1788, lalu menuju utara hingga
mengepung Baghdad, menguasai Karbala dan kuburan
Husein di sana untuk menghancurkan kuburan itu dan
melarang orang menziarahinya. Pada tahun 1803 mereka
menduduki Makkah dan tahun berikutnya (1804) berhasil
menduduki Madinah dan merobohkan kubah-kubah besar
yang menaungi kuburan Rasulullah SAW. Setelah
menguasai Hijaz, mereka menuju ke utara (Syam) dan
mendekati Hims. Mereka berhasil menguasai banyak
wilayah di Siria hingga Halb (Aleppo). (Muwaffaq Bani
Al-Marjih, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh, hal. 285).

Menurut Zallum, serangan militer ini sebenarnya


adalah aksi imperialis Inggris, karena sudah
diketahui bahwa penguasa Saudi adalah antek-anek
Inggris. Jadi, Inggris telah memanfatkan penguasa
Saudi yang selanjutnya juga memanfaatkan gerakan
Wahabi untuk memukul Khilafah dari dalam dan
mengobarkan perang saudara antar mazhab dalam tubuh
Khilafah.

Hanya saja, seperti telah disebut di depan, para


pengikut gerakan Wahabi tidak begitu menyadari
kenyataan bahwa penguasa Saudi adalah antek Inggris.
Mengapa? Karena menurut Zallum, hubungan yang terjadi
bukanlah antara Inggris dengan Muhammad bin Abdul
Wahhab, melainkan antara Inggris dengan Abdul Aziz,
lalu antara Inggris dengan anak Abdul Aziz, yaitu
Saud bin Abdul Aziz. (Kaifa Hudimat Al-Khilafah, hal.
14).
Mungkin karena sebab itulah, banyak para penganut
gerakan Wahabi --mereka lebih senang menyebut dirinya
Salafi-- menolak anggapan bahwa Muhammad bin Abdul
Wahhab telah memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah.
Banyak kitab telah ditulis untuk membersihkan nama
Muhammad bin Abdul Wahhab dari tuduhan yang menurut
mereka tidak benar itu. Contohnya kitab Tashih
Khathta` Tarikhi Haula Al-Wahhabiyyah karya Asy-
Syuwai'ir; lalu kitab Bara`ah Da`wah Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab min Tuhmah Al-Khuruj 'Ala Ad-Daulah
Al-Utsmaniyah karya Al-Gharib, juga kitab Kasyfu Al-
Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-Mushlih Al-Imam
Muhammad bin Abdul Wahhab karya Shalahudin Al Syaikh.
Termasuk juga kitab yang sudah diterjemahkan dalam
bahasa Indonesia, yang berjudul Bangkit dan Runtuhnya
Khilafah Utsmaniyah karya Ash-Shalabi. (Pustaka Al-
Kautsar, 2004).

Bahkan dalam buku yang terakhir ini, Ash-Shalabi


mencoba membangun konstruksi persepsi sejarah yang
justru mengaburkan fakta sejarah yang sesungguhnya.
Ash-Shalabi mengatakan bahwa perang antara Khilafah
(yang diwakili oleh Muhammad Ali, yakni Wali Mesir)
melawan gerakan Wahabi pertengahan abad ke-19, adalah
Perang Salib yang berbaju Islam. (Ash-Shalabi, Ad-
Daulah Al-Utsmaniyah Awamil An-Nuhudh wa Asbab As-
Suquth, hal. 623).
Maksudnya, Muhammad Ali dianggap representasi pihak
Salib karena dia dianggap antek Inggris dan Perancis,
sementara gerakan Wahabi dianggap representasi
tentara Islam. Subhanallah, hadza buhtanun 'azhim.

Padahal, Muhammad Ali meski benar dia adalah antek


Perancis menurut Zallum tapi dia memerangi Wahabi
karena menjalankan perintah Khalifah, bukan
menjalankan perintah kaum Salib. Jadi, perang yang
terjadi sebenarnya adalah perang antara Khilafah dan
kaum pemberontak yang didukung Inggris, bukan antara
kaum Salib melawan pasukan Islam.

Ada satu fakta sejarah yang diabaikan oleh para


penulis sejarah apologetik itu, yang mencoba membela
posisi Wahabi atau penguasa Saudi yang memberontak
kepada Khilafah. Mereka nampaknya lupa bahwa wilayah
Hijaz telah lama masuk ke dalam wilayah Khilafah
Utsmaniyah. Sejak tahun 1517 M, Hijaz telah secara
resmi menjadi bagian Khilafah pada masa Khalifah
Salim I yang berkuasa 1512-1520. Peristiwa ini
ditandai dengan pernyerahan kunci Makkah dan Madinah
kepada penguasa Khilafah Utsmaniyah. (Abdur Rauf
Sinnu, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-Islamiyah fi ad-
Daulah al-Utsmaniyah, hal. 89; Tarikh Ibnu Yusuf,
hal. 16; Abdul Halim Uwais, Dirasah li Suquth
Tsalatsina Daulah Islamiyyah, hal. 88).

Jadi, kalau Hijaz adalah bagian Khilafah, maka upaya


mendirikan kekuasaan dalam tubuh Khilafah, seperti
yang dilakukan penguasa Saudi dan Wahabi, tak lain
adalah upaya ilegal untuk membangun negara di dalam
negara. Lalu kalau mereka berperang melawan Khalifah,
apa namanya kalau bukan pemberontakan?

Para penulis sejarah apologetik itu semestinya


bersikap objektif dan adil, tidak secara apriori
berpihak kepada penguasa Saudi atau gerakan Wahabi.
Atau secara apriori membenci Khilafah atau aktivis
pejuang Khilafah saat ini. Allah SWT berfirman
(artinya) : "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu
terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku
tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih
dekat kepada takwa." (QS Al-Maaidah : 8).

Namun nampaknya justru bersikap adil sepertilah yang


paling sulit dilakukan oleh sejarawan, sejarawan
manapun, khususnya penulis sejarah sezaman
(l'histoire contemporaine, contemporary history).
Dalam ilmu sejarah, menulis sejarah sezaman ini
adalah paling sulit bagi ahli sejarah untuk tidak
memihak (non partisan). Namun meski sulit, sejarawan
seharusnya menulis secara obyektif, sekalipun menulis
tentang penguasa yang sedang berkuasa.
(Poeradisastra, 2008). Wallahu a'lam.

DAFTAR BACAAN

Aal Syaikh, Shalahudin bin Muhammad bin Abdurrahman,


Kasyfu Al-Akadzib wa al-Syubuhat 'an Da'wah Al-
Mushlih Al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, (ttp :
tp), tt.

Abu Al-As'ad, Muhammad, As-Su'udiyyah wa Al-Ikhwan


al-Muslimun, (Kairo : Markaz Ad-Dirasat wa Al-
Ma'lumat al-Qanuniyah li Huquq al-Insan), 1996.

Al-Fakhiri, Tarikh Al-Fakhiri, tahqiq Abdullah bin


Yusuf Asy-Syibl, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd),
1999.

Al-Gharib, Abdul Basith bin Yusuf, Bara`ah Da`wah


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, (Amman : tp), tt.

Al-Ja'bari, Hafizh Muhammad, Gerakan Kebangkitan


Islam (Harakah Al-Ba'ts Al-Islami), Penerjemah Abu
Ayyub Al-Anshari, (Solo : Duta Rohmah), 1996.
Al-Marjih, Muwaffaq Bani, Shahwah ar-Rajul Al-Maridh,
(Kuwait : Muasasah Shaqr Al-Khalij), 1984.

An-Nabhani, Taqiyuddin, Ad-Daulah Al-Islamiyyah,


(Beirut : Darul Ummah), 2002.

Ash-Shallabi, Ali Muhammad, Ad-Daulah al-Utsmaniyah


'Awamil an-Nuhudh wa Asbab as-Suquth, (ttp : tp), tt.

Asy-Syuwai'ir, Muhammad Saad, Tashih Khathta` Tarikhi


Haula Al-Wahhabiyyah, (Ttp : Darul Habib), 2000.

El-Ibrahimy, M. Nur, Inggris dalam Pergolakan Timur


Tengah, (Bandung : NV Almaarif), 1955.

Ibnu Yusuf, Tarikh Ibnu Yusuf, tahqiq Uwaidhah Al-


Juhni, (Riyadh : Maktabah Al-Malik Fahd), 1999.

Imam, Hammadah, Daur Al-Usrah As-Su'udiyah fi Iqamah


Ad-Daulah Al-Israiliyyah, (ttp : tp), 1997.
Muhammad, Jamal Abdul Hadi, Akhtha` Yajibu an
Tushahhah fi Tarikh Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah, Juz II,
(Al-Manshurah : Darul Wafa`), 1995.

Poeradisastra, S.I., Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan


Peradaban Modern, (Depok : Komunitas Bambu), 2008.

Sinnu, Abdur Rauf, An-Naz'at Al-Kiyaniyat al-


Islamiyah fi ad-Daulah al-Utsmaniyah 1877-1881,
(Beirut : Baisan), 1998.

Uwais, Abdul Halim, Dirasah li Suquth Tsalatsina


Daulah Islamiyyah, (ttp : tp), tt.

Yaghi, Ismail Ahmad, Ad-Daulah Al-Utsmaniyyah fi At-


Tarikh Al-Islami al-Hadits, (Ttp : Maktabah
Al-'Abikan), 1998.

Zallum, Abdul Qadim, Kaifa Hudimat Al-Khilafah,


(Beirut : Darul Ummah), 1990.

[by : KH. M. Shiddiq Al-Jawi]


GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA

UNIVERSITAS INDONESIA - PROGRAM PASCASARJANA

PROGRAM STUDI KAJIAN TIMUR TENGAH DAN ISLAMKEKHUSUSAN KAJIAN ISLAM -


JAKARTA 2006

Oleh: Muh. Ikhsan 7105090722

Dosen: DR. Muhammad Lutfi Zuhdi, MA

GERAKAN SALAFI MODERN DI INDONESIA

Sebuah Upaya Membedah Akar Pertumbuhan dan Ide-ide Substansialnya

Muhammad Ikhsan

Pengantar

Indonesia nampaknya memang akan selalu menjadi lahan subur lahir dan
tumbuhnya berbagai gerakan Islam dengan berbagai ragamnya; baik yang
hanya sekedar perpanjangan tangan dari gerakan yang sebelumnya telah ada,
ataupun yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang benar-benar baru. Dan
sejarah pergerakan Islam Indonesia benar-benar telah menjadi saksi mata
terhadap kenyataan itu selama beberapa kurun waktu lamanya.

Dan kini, di era modern ini, mata sejarah semakin dimanjakan oleh kenyataan
itu dengan tumbuhnya aneka gerakan Islam modern yang masing-masing
menyimpan keunikannya tersendiri. Jagat pergerakan Islam Indonesia modern
tidak hanya diramaikan oleh organisasi semacam Muhammadiyah dan NU, tapi
disana ada pemain-pemain baru yang juga secara perlahan namun pasti- mulai
menanamkan pengaruhnya. Mulai dari yang mengandalkan perjuangan politis
hingga yang lebih memilih jalur gerakan sosial-kemasyarakatan.
Salah satu gerakan Islam tersebut adalah yang menyebut diri mereka sebagai
Salafi atau Salafiyah. Salah satu peristiwa fenomenal gerakan ini yang sempat
menghebohkan adalah kelahiran Laskar Jihad yang dimotori oleh Jafar Umar
Thalib pada 6 April 2000 pasca meletusnya konflik bernuansa SARA di Ambon
dan Poso.[1]

Tulisan singkat ini akan mencoba mengulas sejarah dan ide-ide penting gerakan
ini, sekaligus memberikan beberapa catatan kritis yang diharapkan dapat
bermanfaat tidak hanya bagi gerakan ini namun juga bagi semua gerakan Islam
di Tanah Air.

Apa Itu Salafi?

Kata Salafi adalah sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf. Kata al-Salaf
sendiri secara bahasa bermakna orang-orang yang mendahului atau hidup
sebelum zaman kita.[2] Adapun makna al-Salaf secara terminologis yang
dimaksud di sini adalah generasi yang dibatasi oleh sebuah penjelasan
Rasulullah saw dalam haditsnya:

Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti


mereka, kemudian yang mengikuti mereka (HR. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan hadits ini, maka yang dimaksud dengan al-Salaf adalah para
sahabat Nabi saw, kemudian tabiin, lalu atba al-tabiin. Karena itu, ketiga kurun
ini kemudian dikenal juga dengan sebutan al-Qurun al-Mufadhdhalah (kurun-
kurun yang mendapatkan keutamaan).[3] Sebagian ulama kemudian
menambahkan label al-Shalih (menjadi al-Salaf al-Shalih) untuk memberikan
karakter pembeda dengan pendahulu kita yang lain.[4] Sehingga seorang salafi
berarti seorang yang mengaku mengikuti jalan para sahabat Nabi saw, tabiin
dan atba al-tabiin dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.[5]

Sampai di sini nampak jelas bahwa sebenarnya tidak masalah yang berarti
dengan paham Salafiyah ini, karena pada dasarnya setiap muslim akan
mengakui legalitas kedudukan para sahabat Nabi saw dan dua generasi terbaik
umat Islam sesudahnya itu; tabiin dan atba al-tabiin. Atau dengan kata lain
seorang muslim manapun sebenarnya sedikit-banyak memiliki kadar kesalafian
dalam dirinya meskipun ia tidak pernah menggembar-gemborkan pengakuan
bahwa ia seorang salafi. Sebagaimana juga pengakuan kesalafian seseorang
juga tidak pernah dapat menjadi jaminan bahwa ia benar-benar mengikuti jejak
para al-Salaf al-Shalih, dan menurut penulis- ini sama persis dengan pengakuan
kemusliman siapapun yang terkadang lebih sering berhenti pada taraf
pengakuan belaka.

Ala kulli hal, penggunaan istilah Salafi ini secara khusus mengarah pada
kelompok gerakan Islam tertentu setelah maraknya apa yang disebut
Kebangkitan Islam di Abad 15 Hijriyah. Terutama yang berkembang di Tanah
Air, mereka memiliki beberapa ide dan karakter yang khas yang kemudian
membedakannya dengan gerakan pembaruan Islam lainnya.

Sejarah Kemunculan Salafi di Indonesia


Tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan Salafi di Indonesia banyak dipengaruhi
oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn Abd al-
Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Menurut Abu Abdirrahman al-Thalibi[6], ide
pembaruan Ibn Abd al-Wahhab diduga pertama kali dibawa masuk ke kawasan
Nusantara oleh beberapa ulama asal Sumatera Barat pada awal abad ke-19.
Inilah gerakan Salafiyah pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal
dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku
Imam Bonjol. Gerakan ini sendiri berlangsung dalam kurun waktu 1803 hingga
sekitar 1832. Tapi, Jafar Umar Thalib mengklaim dalam salah satu
tulisannya[7]- bahwa gerakan ini sebenarnya telah mulai muncul bibitnya pada
masa Sultan Aceh Iskandar Muda (1603-1637).

Disamping itu, ide pembaruan ini secara relatif juga kemudian memberikan
pengaruh pada gerakan-gerakan Islam modern yang lahir kemudian, seperti
Muhammadiyah, PERSIS, dan Al-Irsyad. Kembali kepada al-Quran dan al-
Sunnah serta pemberantasan takhayul, bidah dan khurafat kemudian menjadi
semacam isu mendasar yang diusung oleh gerakan-gerakan ini. Meskipun satu
hal yang patut dicatat bahwa nampaknya gerakan-gerakan ini tidak sepenuhnya
mengambil apalagi menjalankan ide-ide yang dibawa oleh gerakan purifikasi
Muhammad ibn Abd al-Wahhab. Apalagi dengan munculnya ide pembaruan lain
yang datang belakangan, seperti ide liberalisasi Islam yang nyaris dapat
dikatakan telah menempati posisinya di setiap gerakan tersebut.

Di tahun 80-an, -seiring dengan maraknya gerakan kembali kepada Islam di


berbagai kampus di Tanah air- mungkin dapat dikatakan sebagai tonggak awal
kemunculan gerakan Salafiyah modern di Indonesia. Adalah Jafar Umar Thalib
salah satu tokoh utama yang berperan dalam hal ini. Dalam salah satu
tulisannya yang berjudul Saya Merindukan Ukhuwah Imaniyah Islamiyah, ia
menceritakan kisahnya mengenal paham ini dengan mengatakan:[8]

Ketika saya belajar agama di Pakistan antara tahun 1986 s/d 1987, saya melihat
betapa kaum muslimin di dunia ini tercerai berai dalam berbagai kelompok aliran
pemahaman. Saya sedih dan sedih melihat kenyataan pahit ini. Ketika saya
masuk ke medan jihad fi sabilillah di Afghanistan antara tahun tahun 1987 s/d
1989, saya melihat semangat perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan
mengunggulkan pimpinan masing-masing serta menjatuhkan tokoh-tokoh lain

Di tahun-tahun jihad fi sabilillah itu saya mulai berkenalan dengan para pemuda
dari Yaman dan Surian yang kemudian mereka memperkenalkan kepada saya
pemahaman Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah. Saya mulai kenal dari
mereka seorang tokoh dakwah Salafiyah bernama Al-Allamah Muqbil bin Hadi Al-
Wadii

Kepiluan di Afghanistan saya dapati tanda-tandanya semakin menggejala di


Indonesia. Saya kembali ke Indonesia pada akhir tahun 1989, dan padajanuari
1990 saya mulai berdakwah. Perjuangan dakwah yang saya serukan adalah
dakwah Salafiyah
Jafar Thalib sendiri kemudian mengakui bahwa ada banyak yang berubah dari
pemikirannya, termasuk diantaranya sikap dan kekagumannya pada Sayyid
Quthub, salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin yang dahulu banyak ia lahap
buku-bukunya. Perkenalannya dengan ide gerakan ini membalik kekaguman itu
180 derajat menjadi sikap kritis yang luar biasa untuk tidak mengatakan sangat
benci-.[9]

Di samping Jafar Thalib, terdapat beberapa tokoh lain yang dapat dikatakan
sebagai penggerak awal Gerakan Salafi Modern di Indonesia, seperti: Yazid Abdul
Qadir Jawwaz (Bogor), Abdul Hakim Abdat (Jakarta), Muhammad Umar As-Sewed
(Solo), Ahmad Fais Asifuddin (Solo), dan Abu Nida (Yogyakarta). Nama-nama ini
bahkan kemudian tergabung dalam dewan redaksi Majalah As-Sunnah majalah
Gerakan Salafi Modern pertama di Indonesia-, sebelum kemudian mereka
berpecah beberapa tahun kemudian.

Adapun tokoh-tokoh luar Indonesia yang paling berpengaruh terhadap Gerakan


Salafi Modern ini di samping Muhammad ibn Abd al-Wahhab tentu saja- antara
lain adalah:

1. Ulama-ulama Saudi Arabia secara umum.

2. Syekh Muhammad Nashir al-Din al-Albany di Yordania (w. 2001)

3. Syekh Rabi al-Madkhaly di Madinah

4. Syekh Muqbil al-Wadiiy di Yaman (w. 2002).

Tentu ada tokoh-tokoh lain selain ketiganya, namun ketiga tokoh ini dapat
dikatakan sebagai sumber inspirasi utama gerakan ini. Dan jika dikerucutkan
lebih jauh, maka tokoh kedua dan ketiga secara lebih khusus banyak berperan
dalam pembentukan karakter gerakan ini di Indonesia. Ide-ide yang berkembang
di kalangan Salafi modern tidak jauh berputar dari arahan, ajaran dan fatwa
kedua tokoh tersebut; Syekh Rabi al-Madkhaly dan Syekh Muqbil al-Wadiiy.
Kedua tokoh inilah yang kemudian memberikan pengaruh besar terhadap
munculnya gerakan Salafi ekstrem, atau meminjam istilah Abu Abdirrahman al-
Thalibi- gerakan Salafi Yamani.[10]

Perbedaan pandangan antara pelaku gerakan Salafi modern setidaknya mulai


mengerucut sejak terjadinya Perang Teluk yang melibatkan Amerika dan Irak
yang dianggap telah melakukan invasi ke Kuwait. Secara khusus lagi ketika Saudi
Arabia mengundang pasukan Amerika Serikat untuk membuka pangkalan
militernya di sana. Saat itu, para ulama dan duat di Saudi secara umum-
kemudian berbeda pandangan: antara yang pro[11] dengan kebijakan itu dan
yang kontra.[12] Sampai sejauh ini sebenarnya tidak ada masalah, karena
mereka umumnya masih menganggap itu sebagai masalah ijtihadiyah yang
memungkinkan terjadinya perbedaan tersebut. Namun berdasarkan informasi
yang penulis dapatkan nampaknya ada pihak yang ingin mengail di air keruh
dengan membesar-besarkan masalah ini. Secara khusus, beberapa sumber[13]
menyebutkan bahwa pihak Menteri Dalam Negeri Saudi Arabia saat ituyang
selama ini dikenal sebagai pejabat yang tidak terlalu suka dengan gerakan
dakwah yang ada- mempunyai andil dalam hal ini. Upaya inti yang dilakukan
kemudian adalah mendiskreditkan mereka yang kontra sebagai khawarij, quthbiy
(penganut paham Sayyid Quthb), sururi (penganut paham Muhammad Surur ibn
Zain al-Abidin), dan yang semacamnya.

Momentum inilah yang kemudian mempertegas keberadaan dua pemahaman


dalam gerakan Salafi modern yang untuk mempermudah pembahasan oleh Abu
Abdirrahman al-Thalibi disebut sebagai-: Salafi Yamani dan Salafi Haraki.[14]
Dan sebagaimana fenomena gerakan lainnya, kedua pemahaman inipun
terimpor masuk ke Indonesia dan memiliki pendukung.

Ide-ide Penting Gerakan Salafi

Pertanyaan paling mendasar yang muncul kemudian adalah apa yang menjadi
ide penting atau karakter khas gerakan ini dibanding gerakan lainnya yang
disebutkan sedikit-banyak terpengaruh dengan ide purifikasi Muhammad ibn
Abd al-Wahhab di Jazirah Arabia?

Setidaknya ada beberapa ide penting dan khas gerakan Salafi Modern dengan
gerakan-gerakan tersebut, yaitu:

1. Hajr Mubtadi (Pengisoliran terhadap pelaku bidah)

Sebagai sebuah gerakan purifikasi Islam, isu bidah tentu menjadi hal yang
mendapatkan perhatian gerakan ini secara khusus. Upaya-upaya yang mereka
kerahkan salah satunya terpusat pada usaha keras untuk mengkritisi dan
membersihkan ragam bidah yang selama ini diyakini dan diamalkan oleh
berbagai lapisan masyarakat Islam. Dan sebagai sebuah upaya meminimalisir
kebidahan, para ulama Ahl al-Sunnah menyepakati sebuah mekanisme yang
dikenal dengan hajr al-mubtadi atau pengisoliran terhadap mubtadi. [15] Dan
tentu saja, semua gerakan salafi sepakat akan hal ini.

Akan tetapi, pada prakteknya di Indonesia, masing-masing faksi salafi Yamani


dan haraki- sangat berbeda. Dalam hal ini, salafi Yamani terkesan membabi buta
dalam menerapkan mekanisme ini. Fenomena yang nyata akan hal ini mereka
terapkan dengan cara melemparkan tahdzir (warning) terhadap person yang
bahkan mengaku mendakwahkan gerakan salafi. Puncaknya adalah ketika
mereka menerbitkan daftar nama-nama ustadz yang direkomendasikan dalam
situs mereka www.salafy.or.id.[16] Dalam daftar ini dicantumkan 86 nama ustadz
dari Aceh sampai Papua yang mereka anggap dapat dipercaya untuk dijadikan
rujukan, dan uniknya nama-nama itu didominasi oleh murid-murid Syekh Muqbil
al-Wadii di Yaman.

Sementara Salafi Haraki cenderung melihat mekanisme hajr al-mubtadi ini


sebagai sesuatu yang tidak mutlak dilakukan, sebab semuanya tergantung pada
maslahat dan mafsadatnya. Menurut mereka, hajr al-mubtadi dilakukan tidak
lebih untuk memberikan efek jera kepada sang pelaku bidah. Namun jika itu
tidak bermanfaat, maka boleh jadi metode talif al-qulub-lah yang berguna.[17]

2. Sikap terhadap politik (parlemen dan pemilu).


Hal lain yang menjadi ide utama gerakan ini adalah bahwa gerakan Salafi
bukanlah gerakan politik dalam arti yang bersifat praktis. Bahkan mereka
memandang keterlibatan dalam semua proses politik praktis seperti pemilihan
umum sebagai sebuah bidah dan penyimpangan. Ide ini terutama dipegangi dan
disebarkan dengan gencar oleh pendukung Salafi Yamani. Muhammad As-Sewed
misalnya yang saat itu masih menjabat sebagai ketua FKAWJ mengulas
kerusakan-kerusakan pemilu sebagai berikut:

a. Pemilu adalah sebuah upaya menyekutukan Allah (syirik) karena menetapkan


aturan berdasarkan suara terbanyak (rakyat), padahal yang berhak untuk itu
hanya Allah.

b. Apa yang disepakati suara terbanyak itulah yang dianggap sah, meskipun
bertentangan dengan agama atau aturan Allah dan Rasul-Nya.

c. Pemilu adalah tuduhan tidak langsung kepada islam bahwa ia tidak mampu
menciptakan masyarakat yang adil sehingga membutuhkan sistem lain.

d. Partai-partai Islam tidak punya pilihan selain mengikuti aturan yang ada,
meskipun aturan itu bertentangan dengan Islam.

e. Dalam pemilu terdapat prinsip jahannamiyah, yaitu menghalalkan segala cara


demi tercapainya tujuan-tujuan politis, dan sangat sedikit yang selamat dari itu.

f. Pemilu berpotensi besar menanamkan fanatisme jahiliah terhadap partai-partai


yang ada.[18]

Berbeda dengan Salafi Haraki yang cenderung menganggap masalah ini sebagai
persoalan ijtihadiyah belaka. Dalam sebuah tulisan bertajuk al-Musyarakah fi al-
Intikhabat al-Barlamaniyah yang dimuat oleh situs islamtoday.com (salah satu
situs yang dianggap sering menjadi rujukan mereka dikelola oleh DR. Salman ibn
Fahd al-Audah) misalnya, dipaparkan bahwa sistem peralihan dan penyematan
kekuasaan dalam Islam tidak memiliki sistem yang baku. Karena itu, tidak
menutup mungkin untuk mengadopsi sistem pemilu yang ada di Barat setelah
memodifikasinya agar sesuai dengan prinsip-prinsip politik Islam. Alasan
utamanya adalah karena hal itu tidak lebih dari sebuah bagian adminstratif
belaka yang memungkinkan kita untuk mengadopsinya dari manapun selama
mendatangkan mashlahat.[19] Maka tidak mengherankan jika salah satu ormas
yang dianggap sebagai salah satu representasi faksi ini, Wahdah Islamiyah,
mengeluarkan keputusan yang menginstruksikan anggotanya untuk ikut serta
dalam menggunakan hak pilihnya dalam pemilu-pemilu yang lalu.[20]

3. Sikap terhadap gerakan Islam yang lain.

Pandangan pendukung gerakan Salafi modern di Indonesia terhadap berbagai


gerakan lain yang ada sepenuhnya merupakan imbas aksiomatis dari penerapan
prinsip hajr al-mubtadi yang telah dijelaskan terdahulu. Baik Salafi Yamani
maupun Haraki, sikap keduanya terhadap gerakan Islam lain sangat dipengaruhi
oleh pandangan mereka dalam penerapan hajr al-mubtadi. Sehingga tidak
mengherankan dalam poin inipun mereka berbeda pandangan.
Jika Salafi Haraki cenderung moderat dalam menyikapi gerakan lain, maka
Salafi Yamani dikenal sangat ekstrim bahkan seringkali tanpa kompromi sama
sekali. Fenomena sikap keras Salafi Yamani terhadap gerakan Islam lainnya
dapat dilihat dalam beberapa contoh berikut:

a. Sikap terhadap Ikhwanul Muslimin

Barangkali tidak berlebihan jika dikatakan Ikhwanul Muslimin nampaknya


menjadi musuh utama di kalangan Salafi Yamani. Mereka bahkan seringkali
memelesetkannya menjadi Ikhwanul Muflisin.[21] Tokoh-tokoh utama gerakan
ini tidak pelak lagi menjadi sasaran utama kritik tajam yang bertubi-tubi dari
kelompok ini. Di Saudi sendiri yang menjadi asal gerakan ini-, fenomena
kebencian pada Ikhwanul Muslimin dapat dikatakan mencuat seiring
bermulanya kisah Perang Teluk bagian pertama. Adalah DR. Rabi ibn Hadi al-
Madkhali yang pertama kali menyusun berbagai buku yang secara spesifik
menyerang Sayyid Quthb dan karya-karyanya. Salah satunya dalam buku yang
diberi judul Mathain Sayyid Quthb fi Ashab al-Rasul (Tikaman-tikaman Sayyid
Quthub terhadap Para Sahabat Rasul).[22]

Sepengetahuan penulis, fenomena ini bisa dibilang baru mengingat pada masa-
masa sebelumnya beberapa tokoh Ikhwan seperti Syekh Muhammad al-Ghazali
dan DR. Yusuf al-Qaradhawi pernah menjadi anggota dewan pendiri Islamic
University di Madinah, dan banyak tokoh Ikhwan lainnya yang diangkat menjadi
dosen di berbagai universitas Saudi Arabia. Dalam berbagai penulisan ilmiah
termasuk itu tesis dan disertasi- pun karya-karya tokoh Ikhwan termasuk Fi
Zhilal al-Quran yang dikritik habis oleh DR. Rabi al-Madkhali- sering dijadikan
rujukan. Bahkan Syekh Bin Baz Mufti Saudi waktu itu- pernah mengirimkan surat
kepada Presiden Mesir, Gamal Abdul Naser untuk mencabut keputusan hukuman
mati terhadap Sayyid Quthb.[23]

Terkait dengan ini misalnya, Jafar Umar Thalib misalnya menulis:

Di tempat Syekh Muqbil pula saya mendengar berita-berita penyimpangan


tokoh-tokoh yang selama ini saya kenal sebagai dai dan penulis yang menganu
pemahaman salafus shalih. Tokoh-tokoh yang telah menyimpang itu ialah
Muhammad Surur bin Zainal Abidin, Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, Aidl Al-
Qarni, Nasir Al-Umar, Abdurrahman Abdul Khaliq. Penyimpangan mereka terletak
pada semangat mereka untuk mengelu-elukan tokoh-tokoh yang telah
mewariskan berbagai pemahaman sesat di kalangan ummat Islam, seperti
Sayyid Qutub, Hasan Al-Banna, Muhammad Abduh, Jamaluddin Al-Afghani,
Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lainnya. [24]

Dan jauh sebelum itu, Jafar Umar Thalib juga melontarkan celaan yang sangat
keras terhadap DR. Yusuf al-Qaradhawy salah seorang tokoh penting Ikhwanul
Muslimin masa kini- dengan menyebutnya sebagai aduwullah (musuh Allah) dan
Yusuf al-Qurazhi (penisbatan kepada salah satu kabilah Yahudi di Madinah, Bani
Quraizhah). Meskipun kemudian ia dikritik oleh gurunya sendiri, Syekh Muqbil di
Yaman, yang kemudian mengganti celaan itu dengan mengatakan: Yusuf al-
Qaradha (Yusuf Sang penggunting syariat Islam).[25] Di Indonesia sendiri, sikap
ini berimbas kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dianggap sebagai
representasi Ikhwanul Muslimin di Indonesia.

Secara umum, ada beberapa hal yang dianggap sebagai penyimpangan oleh
kalangan Salafi Yamani dalam tubuh Ikhwanul Muslimin, diantaranya:

- Baiat yang dianggap seperti baiat sufiyah dan kemiliteran.[26]

- Adanya marhalah (fase-fase) dalam dakwah yang menyerupai prinsip aliran


Bathiniyah.[27]

- Organisasi kepartaian (tanzhim hizb).[28]

Berbeda dengan yang disebut Salafi Haraki, mereka cenderung kooperatif dalam
melihat gerakan-gerakan Islam yang ada dalam bingkai nataawan fima
ittafaqna alaih, wa natanashahu fima ikhtalafna fihi.[29] Karena itu, faksi ini
cenderung lebih mudah memahami bahkan berinteraksi dengan kelompok lain,
termasuk misalnya Ikhwanul Muslimin. Meskipun untuk itu kelompok inipun
harus rela diberi cap Sururi oleh kelompok Salafi Yamani. Yayasan Al-Sofwa,
misalnya, masih mengakomodir kaset-kaset ceramah beberapa tokoh PKS seperti
DR.Ahzami Samiun Jazuli.[30]

b. Sikap terhadap Sururiyah

Secara umum, Sururi atau Sururiyah adalah label yang disematkan kalangan
Salafi Yamani terhadap Salafi Haraki yang dianggap mencampur-adukkan
berbagai manhaj gerakan Islam dengan manhaj salaf. Kata Sururiyah sendiri
adalah penisbatan kepada Muhammad Surur bin Zainal Abidin. Tokoh ini
dianggap sebagai pelopor paham yang mengadopsi dan menggabungkan ajaran
Salafi dengan Ikhwanul Muslimin. Disamping Muhammad Surur, nama-nama lain
yang sering dimasukkan dalam kelompok ini adalah DR. Safar ibn Abdirrahman
al-Hawali, DR. Salman ibn Fahd Al-Audah keduanya di Saudi- dan Abdurrahman
Abdul Khaliq dari Jamiyyah Ihya al-Turats di Kuwait.

Dalam sebuah tulisan berjudul Membongkar Pikiran Hasan Al-Banna-Sururiyah


(III) diuraikan secara rinci pengertian Sururiyah itu:[31]

Ada sekelompok orang yang mengikuti kaidah salaf dalam perkara Asma dan
Sifat Allah, iman dan taqdir. Tapi, ada salah satu prinsip mereka yang sangat
fatal yaitu mengkafirkan kaum muslimin. Mereka terpengaruh oleh prinsip
Ikhwanul Muslimin. Pelopor aliran ini bernama Muhammad bin Surur.

Muhammad bin Surur yang lahir di Suriah dahulunya adalah Ikhwanul Muslimin.
Kemudian ia menyempal dari jamaah sesat ini dan membangun gerakannya
sendiri berdasarkan pemikiran-pemikiran Sayyid Quthub (misalnya masalah
demonstrasi, kudeta dan yang sejenisnya)[32]

Tulisan yang sama juga menyimpulkan beberapa sisi persamaan antara


Sururiyah dengan Ikhwanul Muslimin, yaitu:
- Keduanya sama-sama mengkafirkan golongan lain dan pemerintah muslim.

- Keduanya satu ide dalam masalah demonstrasi, mobilisasi dan selebaran-


selebaran.

- Keduanya sama dalam masalah pembinaan revolusi dalam rangka kudeta.

- Keduanya sama dalam hal tanzhim dan sistem kepemimpinan yang


mengerucut (piramida).

- Keduanya sama-sama tenggelam dalam politik.[33]

Hanya saja banyak tuduhan sebenarnya terlalu tergesa-gesa untuk tidak


mengatakan membabi buta. Ada yang tidak mempunyai bukti akurat, atau
termasuk persoalan yang sebenarnya termasuk kategori ijtihad dan tidak bisa
disebut sebagai kesesatan (baca: bidah).

4. Sikap terhadap pemerintah

Secara umum, sebagaimana pemerintah yang umum diyakini Ahl al-Sunnah


yaitu ketidakbolehan khuruj atau melakukan gerakan separatisme dalam sebuah
pemerintahan Islam yang sah-, Gerakan Salafi juga meyakini hal ini. Itulah
sebabnya, setiap tindakan atau upaya yang dianggap ingin menggoyang
pemerintahan yang sah dengan mudah diberi cap Khawarij, bughat atau yang
semacamnya.[34]

Dalam tulisannya yang bertajuk Membongkar Pemikiran Sang Begawan Teroris


(I), Abu Hamzah Yusuf misalnya menulis:

Tokoh-tokoh yang disebutkan Imam Samudra di atas (maksudnya: Salman al-


Audah, Safar al-Hawali dan lain-lain pen) tidaklah berjalan di atas manhaj Salaf.
Bahkan perjalanan hidup mereka dipenuhi catatan hitam yang menunjukkan
mereka jauh dari manhaj Salaf

Tak ada hubungan antara tokoh-tokoh itu dengan para ulama Ahlus Sunnah.
Bahkan semua orang tahu bahwa antara mereka berbeda dalam hal manhaj
(metodologi). Tokoh-tokoh itu berideologikan Quthbiyyah, Sururiyah, dan
Kharijiyah[35]

Dalam Mereka Adalah Teroris juga misalnya disebutkan:

Kemudian dilanjutkan tongkat estafet ini oleh para ruwaibidhah (sebutan lain
untuk Khawarij -pen) masa kini semacam Dr. Safar Al-Hawali, Salman Al-Audah
dan sang jagoan konyol Usamah bin Laden. Sementara Imam Samudra hanyalah
salah satu bagian kecil saja dari sindikat terorisme yang ada di Indonesia. Kami
katakan ini karena di atas Imam Samudra masih ada tokoh-tokoh khawarij
Indonesia yang lebih senior seperti: Abdullah Sungkar alias Ustadz Abdul Halim,
Abu Bakar Baasyir alias Ustadz Abdush Shamad.[36]
Pernyataan ini disebabkan karena tokoh-tokoh yang dimaksud dikenal sebagai
orang-orang yang gigih melontarkan kritik pedas terhadap pemerintah Kerajaan
Saudi Arabia terutama dalam kasus penempatan pangkalan militer AS di sana.
Sementara dua nama terakhir dikenal sebagai orang-orang yang gigih
memformalisasikan syariat Islam di Indonesia.

Sebagai konsekwensi dari prinsip ini, maka muncul kesan bahwa kaum Salafi
cenderung enggan melontarkan kritik terhadap pemerintah. Meskipun
sesungguhnya manhaj al-Salaf sendiri memberikan peluang untuk itu meskipun
dibatasi secara empat mata dengan sang penguasa.

Namun pada prakteknya kemudian, ternyata prinsip inipun sedikit banyak telah
dilanggar oleh mereka sendiri. Abu Abdirrahman al-Thalibi misalnya yang
menulis kritik tajam terhadap gerakan ini- menyebutkan salah satu
penyimpangan Salafi Yamani: Sikap Melawan Pemerintah. Ia menulis:

Dalam beberapa kasus, jelas-jelas Salafy Yamani telah melawan pemerintah


yang diakui secara konsensus oleh Ummat Islam Indonesia, khususnya melalui
tindakan-tindakan Laskar Jihad di masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Tanggal 6 April 2000, mereka mengadakan tabligh akbar di Senayan, tak lama
kemudian mereka berdemo di sekitar Istana Negara dimana Abdurrahman Wahid
sedang berada di dalamnya. Kenyataan yang sangat mengherankan, mereka
bergerak secara massal dengan membawa senjata-senjata tajam. Belum pernah
Istana Negara RI didemo oleh orang-orang bersenjata, kecuali dalam peristiwa di
atas. Masih bisa dimaklumi, meskipun melanggar hukum, jika yang
melakukannya adalah anggota partai komunis yang dikenal menghalalkan
kekerasan, tetapi perbuatan itu justru dilakukan oleh para pemuda yang
mewarisi manhaj Salafus Shalih. Masya Allah, Salafus Shalih mana yang mereka
maksudkan?[37]

Hal lain lagi adalah bahwa hingga kini mereka masih saja melancarkan kritik
yang pedas terhadap Partai Keadilan Sejahtera yang dianggap sebagai bagian
dari Ikhwanul Muslimin di Indonesia-. Namun kenyataannya sekarang bahwa
Partai ini telah menjadi bagian dari pemerintahan Indonesia yang sah. Beberapa
anggota mereka duduk sebagai anggota parlemen, ada yang menjadi menteri
dalam kabinet, bahkan mantan ketuanya, Hidayat Nur Wahid saat ini menjabat
sebagai Ketua MPR-RI. Bukankah berdasarkan kaidah yang selama ini mereka
gunakan, kritik pedas mereka terhadap PKS dapat dikategorikan sebagai
tindakan khuruj atas pemerintah?

Jafar Umar Thalib Telah Meninggalkan Kita

Kalimat mungkin dapat dijadikan sebagai bukti fase baru perkembangan gerakan
Salafi di Indonesia. Setelah sebelumnya dijelaskan bahwa dalam perjalanannya
gerakan ini terbagi menjadi setidaknya 2 faksi: Yamani dan haraki, maka
setidaknya sejak dewan eksekutif FKAWJ membubarkan FKAWJ dan Laskar Jihad
pada pertengahan Oktober 2002, ada hembusan angin perubahan yang sangat
signifikan di tubuh gerakan ini. Salafi Yamani ternyata kemudian berpecah
menjadi 2 kelompok: yang pro Jafar dan yang kontra terhadapnya.

Jafar Umar Thalib sejak saat itu dapat dikatakan menjadi bulan-bulanan
kelompok eks Laskar Jihad yang kontra dengannya. Apalagi setelah DR.Rabi al-
Madkhali ulama yang dulu sering ia jadikan rujukan fatwa- justru mengeluarkan
tahdzir terhadapnya. Pesantrennya di Yogyakarta pun mulai ditinggalkan oleh
mereka yang dulu menjadi murid-muridnya.

Uniknya, kelompok yang kontra terhadapnya justru dipimpin oleh Muhammad


Umar As-Sewed, orang yang dulu menjadi tangan kanannya (wakil panglima)
saat menjadi panglima Laskar Jihad. Jafar Thalib-pun mulai dekat dengan orang-
orang yang dulu dianggap tidak mungkin bersamanya. Arifin Ilham Majlis Az-
Zikra dan Hamzah Haz, contohnya.

Karena itu, Qomar ZA redaktur majalah Asy-Syariah yang dulu adalah murid
Jafar Umar Thalib- menulis artikel pendek berjudul Jafar Umar Thalib Telah
Meninggalkan Kita.[38] Di sana antara lain ia menulis:

Adapun sekarang betapa jauh keadaannya dari yang dulu (Jafar Umar Thalib,
red). Jangankan majlis yang engkau tidak mau menghadirinya saat itu, bahkan
sekarang majlis dzikirnya Arifin Ilham kamu hadiri, mejlis Refleksi Satu Hati
dengan para pendeta dan biksu kamu hadiri (di UGM, red), majlis dalam
peresmian pesantren Tawwabin yang diprakarsai oleh Habib Riziq Syihab, Abu
Bakar Baasyir Majelis Mujahidin Indonesia dan lain-lain. Kamu hadiri juga
peringatan Isra Miraj sebagaimana dinukil dalam majalah Sabili dan banyak
lagi

Apakah gurumu yang sampai saat ini kamu suka menebeng di belakangnya yaitu
Syekh Muqbil, semoga Allah merahmatinya, akan tetap memujimu dengan
keadaanmu yang semacam ini??

Asy-Syaikh Rabi berkata: Dan saya katakan: Dialah yang meninggalkan kalian
dan meninggalkan manhaj ini (manhaj Ahlus Sunnah)

Jafar sendiri belakangan nampak menyadari sikap kerasnya yang berlebihan di


masa awal dakwahnya. Dan nampaknya, apa yang ia lakukan belakangan ini
meski menyebabkannya menjadi sasaran kritik bekas pendukungnya- adalah
sebuah upayanya untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Dalam artikelnya,
Saya Merindukan Ukhuwwah Imaniyah Islamiyah , ia menulis pengakuan itu
dengan mengatakan:

Saya lupa dengan keadaan yang sesungguhnya mayoritas ummat di


Indonesia yang tingkat pemahamannya amat rendah tentang Islam. Saya saat
itu menganggap tingkat pemahaman ummatku sama dengan tingkat
pemahaman murid-muridku. Akibatnya ketika saya menyikapi penyelewengan
ummat dari As-Sunnah, saya anggap sama dengan penyelewengan orang-orang
yang ada di sekitarku yang selalu saya ajari ilmu. Tentu anggapan ini adalah
anggapan yang dhalim. Dengan anggapan inilah akhirnya saya ajarkan sikap
keras dan tegas terhadap ummat yang menyimpang dari As-Sunnah walaupun
mereka belum mendapat penyampaian ilmu Sunnah. Sayapun sempat
menganggap bahwa mayoritas kaum muslimin adalah Ahlul Bidah dan harus
disikapi sebagai Ahlul Bidah. Maka tampaklah Dakwah Salafiyyah yang saya
perjuangkan menjadi terkucil, kaku dan keras. Saya telah salah paham dengan
apa yang saya pelajari dari kitab-kitab para Ulama tersebut di atas tentang
sikap Ahlul Bidah. Saya sangka Ahlul Bidah itu ialah semua orang yang
menjalankan bidah secara mutlak.[39]

Penutup

Demikianlah paparan singkat tentang gerakan Salafi modern di Indonesia. Sudah


tentu masih banyak sisi gerakan ini yang belum tertuang dalam tulisan ini. Dan
di bagian akhir tulisan ini, ada beberapa catatan kritis yang perlu penulis
kemukakan atas gerakan ini:

1. Diperlukan kajian yang komperhensif tentang sejarah masa lalu ummat Islam,
dan termasuk didalamnya sejarah generasi As-Salaf Ash-Shalih yang menjadi
panutan semua gerakan Islam tentu saja dengan kadar yang berbeda-beda
antara satu dengan yang lain-. Dan khusus untuk pendukung gerakan Salafi ini,
ada banyak sisi kehidupan As-Salaf yang mungkin terlupakan; seperti:
kesantunan dan kearifan dalam menyikapi perbedaan yang masih mungkin
untuk ditolerir, serta bersikap proporsional dan adil dalam menyikapi kesalahan
atau kekeliruan pihak lain.

2. Salah satu kesalahan utama pendukung gerakan ini khususnya Salafi Yamani-
adalah ketidaktepatan dalam menyimpulkan apakah sesuatu itu dapat
dikategorikan sebagai manhaj baku kalangan As-Salaf atau bukan. Dalam kasus
di lapangan, seringkali karakter pribadi seorang ulama dianggap sebagai bagian
dari manhaj Salafi. Padahal kita semua memahami bahwa setiap orang memiliki
tabiat dasar yang nyaris berbeda. Jika Abu Bakr dikenal dengan kelembutannya,
maka Umar dikenal dengan ketegasannya. Berbeda lagi dengan Abu Dzar yang
keteguhan prinsipnya membuat dia lebih cocok hidup sendiri daripada terlalu
banyak melakukan interaksi sosial.

Dalam kasus Salafi misalnya, sebagian pendukungnya banyak mengadopsi


karakter Syekh Rabi atau Syekh Muqbil misalnya, yang memang dikenal dengan
karakter pribadi yang keras. Padahal masih banyak ulama rujukan mereka yang
cenderung lebih toleran dan elegan.

Akhirnya, memang tidak ada gading yang tak retak. Setiap anak Adam itu
berpotensi melakukan kesalahan, namun sebaik-baik orang yang selalu terjatuh
dalam kesalahan adalah yang selalu bertaubat dan menyadari kesalahannya,
kata Nabi saw. Setiap gerakan sudah tentu memiliki sisi positif dan negatif. Yang
terbaik pada akhirnya adalah yang mampu meminimalisir sisi negatifnya dan
semakin hari memiliki perubahan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Wallahul muwaqqiq!
Sumber: Salafy Indonesia

Sejarah berdirinya Wahabi berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab


yang dapat dipertanggung-jawabkan

Sejarah Wahabi

===========================

Sejarah berdirinya Wahabi sesuai dengan asal usul dan sejarah


perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan
rujukan kitab-kitab yang dapat dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul
Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Itirofatul Jasus AI-Injizy
pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya
Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain.

Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul
Wahab

(lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang
pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara
negara yang pernah disinggahi adalah Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian
pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris
bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah.
Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya.
Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di
tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Bahai. Bahkan Muhammad bin Abdul
Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan
alirannya Wahabi.

Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut


madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni
yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-
gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat
dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk
berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah
hal itu terbukti ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus
padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama besar
dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-
Sawaiqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu
gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman AI-Kurdi as-Syafii, menulis
surat berisi nasehat: Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah,
tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang
meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak
Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya bahwa selain Allah
tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah
dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul Azhom
(kelompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari
kelompok terbesar, orang yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat
dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin.

Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai hari ini adalah
kelompok terbesar. Allah berfirman : Dan barang siapa yang menentang Rasul
sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-
orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah
dikuasainya itu (Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami
masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat
kembali (QS: An-Nisa 115)

Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah
mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur,
maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah
wal jamaah berkaitan dengan tawassul, ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa
alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan
kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri.

Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab,
Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?
Dengan segera dia menjawab, Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu
orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan
orang yang telah dibebaskan dari awal sampai akhir RamadhanLelaki itu
bertanya lagi ,Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu person pun dari
jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut?
Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya
pengikutmu saja yang muslim? Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun
terdiam seribu bahasa. Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak
menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu.

Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya


di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim
banyak yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa
Dariyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri
dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara
penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas wilayah kekuasaannya. Ibn
Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia
menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera
melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik
selama 600 tahun lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga.
Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah
nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-
Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku nabi, ini tampak sekali ketika
ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan
pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi
pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian
harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu
pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama?
besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia
diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh.
Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih
pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di
hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : Tongkatku ini masih
lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh
ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama
sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya
seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah
kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi
yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur,
peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut
Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia.
Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad
cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib. Karena makam
tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua
tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada
di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.

Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. Mereka masuk ke Mekkah pada


1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka?bah yang terbuat dari sutra.
Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma?la, termasuk kubah tempat
kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali,
juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus
menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-
sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli
kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. Gerakan
kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani,
Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah
pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan
Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20,
Abdul Aziz bin Sa?ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia
berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan
kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga
kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini
pengaruh gerakan Wahabi bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS
setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia
Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok
ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii
yang sudah mapan.

Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di


atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma?la (Mekkah), di Baqi
dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan
mengunakan dinamit penghancur. Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW
dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan
dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan
kaum Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-
benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai
luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad
SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi
karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan
mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik
haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak
yang menentangnya maka diurungkan.

Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak


mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang
menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar
karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan sekarang, tempat kelahiran
Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya,
rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah
berulang-ulang menerima wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan
serta Khadijah meninggal.

Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil
dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa
mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami
Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut mengatakan bahwa beberapa
bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur
1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan
ziarah jamaah haji dan umrah.

Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian
bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir, katanya
kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300 bangunan bersejarah di
Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian
besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada
1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan
Keagamaan Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis,
Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim
pada penyembahan berhala.

Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka
banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul
SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi.
Sebaliknya mereka malah mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari
seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-
peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya
dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka menunjukkan
bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak
diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan
suatu keraguan di kemudian hari.

Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim,
mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang
cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan
mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan ahli bidah. Itulah ucapan yang selalu
didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para
ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka
menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang
menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini.

Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu
dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri
ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10% sisanya?
Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu,
apalagi mau menambah 10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya
mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika
bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk
berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum
wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme, penyembah berhala atau
masih kafir. (Naudzu billah min dzalik).

Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham
yang hanya berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah. Mereka berdalih
mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang
selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah
menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di
Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang
dinamakan Saudi). Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri
dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun
mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun
1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid'ah, padahal
bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bidah? Karena nama negeri
Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga kerajaan pendukung faham
wahabi yaitu As-Saud.

Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini
dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam
memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah
shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan
lainnya. Diantaranya: Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari
arah sana, sambil menunjuk ke arah timur (Najed). (HR. Muslim dalam Kitabul
Fitan)

Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Quran
namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati),
mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka
tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya,
tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul). (HR Bukhori no 7123, Juz 6 hal
20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu
Hibban

Nabi SAW pernah berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam
dan Yaman, Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau
berdoa: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada
yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: Di sana (Najed) akan ada
keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk syaitan, Dalam
riwayat lain dua tanduk syaitan.

Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah


bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada
para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan
setiap pengikutnya mencukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikuti
tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal
seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti
yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal: Tidak perlu kita
menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup
ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan
bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bidah
sebelumnya tidak pernah berbuat demikian?. Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad
bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya
Jalauzh Zholam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib
dari Nabi SAW: Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH
seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu
menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka
menghalal-kan harta kaum muslimin, diambil untuk berdagang dan
menghalalkan darah kaum muslimin (AI-Hadits)

BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad
bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang
yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai
sabda Nabi SAW yang mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah
timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang
dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-
Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab.

Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama?
mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: Ba'daa halaakul khobiits (Telah
nyata kebinasaan Orang yang Keji) (Masun Said Alwy)

================================================
=========

Sumber :http://sholawatan-harlen-geovanov.blogspot.com/2011/04/sejarah-
wahabi.html#more

Saksikan Bahwa Kami Bukan Para Algojo Yang Haus Darah

12 Agustus 2011 pukul 14:19

Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting
seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi
mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut,
santun dan penuh kasih sayang. (Ust. H. Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan
Majelis Zikir az-Zikra)

{Bukanlah maksud catatan ini dibuat untuk mencemooh, menghujat atau


menyesat-nyesatkan suatu golongan. Catatan ini dibuat agar terjalin diskusi di
anatara kita sesama umat islam yang beragam ini. Apakah BENAR isi buku ini
atau TIDAK! Kita menunggu-nunggu BUKU PEMBELAAN dari saudara kita
kalangan Salafi Wahabi. Semoga tak kalah ilmiahnya dalam mengkritisi buku ini.
Catatan ini saya sarikan dari buku: Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi. Buku
ini terbit tahun 2011, hingga detik ini telah mengalami cetak 9 kali. Cukup
Fenomenal bukan?}

1. Mereka Membunuh Semuanya, Termasuk Para Ulama.

Orang-orang Salafi Wahabi cenderung beringas dan ganas alias haus darah.
Telah terjadi pembantaian umat Islam di mana-mana. Anehnya mereka
melakukannya atas nama agama dan ajaran tauhid yang mereka bawa. Simak
bagaimana paparan Lotsky,Pada periode itu fenomena kepala-kepala terputus
dari umat Islam yang dituduh menolak faham wahabi sangat banyak
(bergelimpangan di mana-mana), belum lagi fenomena pemotongan tangan,
kaki, pemusnahan, dan penyiksaan jasmani dan rohani.[1]

Atau bagaimana mudahnya Muhammad ibnu Abdul Wahab (tuk selanjutnya


disebut MIAW) menuduh kafir orang yang tak mengikutinya. Seolah-olah Surga
dan Neraka milik kakek moyanganya.Semua yang ada di bawah tujuh lapis
langit ini benar-benar musyrik, dan barangsiapa yang membunuh orang musyrik
maka dia mendapatkan Surga. Siapa saja yang masuk ke dalam dakwah kami,
maka dia memilki hak dan kewajiban sama dengan kami, dan siapa saja yang
tidak masuk (ke dalam dakwah kami) bersama kami, maka dia kafir dan, halal
nyawa dan hartanya.[2]

Bahkan ketika itu MIAW jelas-jelas menuduh penduduk Najd yang bersyahadat
dengan sebutan kafir. Mereka semua (penduduk Najd) adalah kafir, darah
mereka halal. Begitu juga dengan wanita-wanita mereka, segala harta milik
mereka (adalah halal untuk dijarah). Karena, orang Islam adalah orang yang
percaya dengan sunnah Muhammad ibnu Abdul Wahab dan Muhammad ibnu
Saud.[3]

Oleh karena pernyataan-pernyatannya inilah maka terjadi pembantaian umat


Islam di mana-mana. Di Karbala, mereka mengepung rumah-rumah dan pasar-
pasar lalu merampas dan membunuhi para penduduknya yang berjumlah 2000
orang. Darah mengaliri ibarat aliran air sungai [4].

Di Thaif orang-orang MIAW lebih menggila. Mereka membunuh orang-orang tua


renta, anak-anak bahkan menyembelih hidup-hidup bayi-bayi yang masih
menyusu di pangkuan ibunya. Lalu mereka menuju masjid, di sana mereka
membunuh orang-rang yang mengkaji Al-Quran, sedang salat dan ruku.
Menginjak-injak mushaf Al-Quran, kitab Bukhari dan Muslim serta kitab-kitab
lain. Merobek dan menebarkannya di jalan-jalan dan gang. [5]

Keberingasan mereka berlanjut di Haramain, orang-orang MIAW membantai para


jamaah yang sedang berhaji yang jumlahnya ribuan.[6] Untuk lebih jelasnya
telaah kitab: Qishshas al-Maazdabahah as-Suudiyah li al-Hujjaj (Kisah
Penyembelihan Saudi terhadap Jamaah Haji) karya Fahd al-Qahthani.

Bagaimana mungkin orang kafir melaksanakan salat? Apakah-barangkali-dalam


kacamata Salafi Wahabi seseorang dapat dikatakan kafir meskipun dia salat,
puasa, zakat, bahkan haji sekalipun jika tida mengikuti paham mereka?

Membakar Puluhan Ribu Buku-Buku Perpustakaan.

Pembakaran buku-buku ini terjadi di Perpustakaan Maktabah Arabiyah .


Sedikitnya ada 60.000 buku-buku langka dan sekitar 40.000 manuskrip hasil
diktean dari Baginda Nabi saw. kepada para sahabatnya, dari Khulafaur Rasyidin
yang empat, dan para sahabat Nabi yang lain. Manuskrip itu berbentuk kulit
kijang, tulang-belulang, pelepah pohon, pahatan, dan lempengan tanah. [7]
(Sampai sekarang tradisi ini terus dilestarikan oleh anak cucu MIAW. Prof. Dr.
Said Agil Al-Munawwar, mantan menteri agama RI menceritakan perihal
penyetaan buku-buku perpustakan milik Syeikh Muhadist Yasin Al-Fadani setelah
beliau wafat.)

3. Peran Serta Wahabi dalam Menjadikan Palestina Terjajah

Sebuah perjanjian resmi antara pihak Wahabi (ditandatangani oleh Raja Abdul
Aziz) dan Kerajaan Inggris. Aku berikrar dan mengakui seribu kali kepada Sir
Percy Cox wakil Britania Raya, tidak ada halangan bagiku (sama sekali) untuk
memberikan Palestina kepada Yahudi atau yang lainnya sesuai keinginan Inggris,
yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan Inggris sampai hari kiamat.[8]
Wallahu warasuluhu alam bish shawab

BERSAMBUNG..

Notes :

[1] Vladimir Borisovich Lotsky: Tarikh al-Aqthar al-arabiyah al-Hadist, Dar al-
Farabi, Beirut 2007, h. 179

[2] Ahmad ibnu Zaini Dahlan: ad-Durar as-Saniyyah fil ar-Radd ala al-Wahabiyah,
h. 57

[3] Ibnu Ghannam: Tarikh Najd, h. 98 s/d 101

[4] Ibnu Bisyir;Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz, cet. Ke-4,
1982, jilid 1, h. 257

[5] Ahmad ibnu Zaini Dahlan: Umara al-Balad al-Haram, ad-Dar al-Muttahida Lin-
Nasyr, h. 297-298
[6] Ibnu Bisyir;Unwan al-Majd fi Tarikh Najd, Darat al-Malik Abdul Aziz, cet. Ke-4,
1982, jilid 1, h. 135-137

[7] Muhammad Awadh, Dr.:Shafahat min Tarikh al-Jazirah, h. 189

[8] Muhammad Awadh, Dr.:Shafahat min Tarikh al-Jazirah, h. 240-248

Cara Nabi Berdakwah Islam


Ada baiknya kita mempelajari cara Nabi dalam

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/11/30/cara-nabi-berdakwah-


islam/

berdakwah. Sebab banyak dakwah bukannya menyeru manusia ke dalam


Islam, justru akhirnya mengkafirkan sesama Muslim. Menjauhkan orang yang
sudah bersyahadah dan sholat dari Islam. Padahal dakwah Nabi adalah membuat
orang-orang kafir dan jahil menjadi Islam.

Pertama dakwah Nabi adalah Tauhid. Menyeru manusia agar menyembah Allah.
Membuat manusia bersaksi: Tidak ada Tuhan selain Allah.

Nabi Muhammad pertama-tama mendakwahi keluarga terdekatnya. Ini pun


secara sembunyi-sembunyi, agar tidak terjadi benturan dengan orang-orang
yang masih kafir.

Pada awal periode Mekkah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi,


mendatangi orang-orang dekat Beliau antara lain istri Beliau Khadijah,
keponakannya Ali, budak Beliau Zaid, untuk diajak masuk Islam. Ketika turun
surat al Muddatstsir : 1-2, Rasululah mulai melakukan dakwah di tengah
masyarakat, setiap bertemu orang Beliau selalu mengajaknya untuk mengenal
dan masuk Islam (masih dalam keadaan sembunyi-sembunyi). Ketika Abu Bakar
menyatakan masuk Islam, dan menampakkannya kepada orang-orang yang dia
percayai, maka muncullah nama-nama seperti Utsman bin Affan, Zubair bin
Awwam, Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abi Waqash dan Thalhah bin Ubaidillah
yang juga masuk Islam. Dan seterusnya diikuti oleh yang lain seperti Abu
Ubaidah, Abu Salamah, Arqom bin Abi al Arqom, dll. Beliau menjadikan rumah
Arqom bin Abi al Arqom sebagai pusat pengajaran dan sekaligus pusat kutlah
(kelompok) yang dalam bahasa kita tepatnya disebut sekretariat. Di tempat ini
Rasulullah mengajarkan hukum-hukum Islam, membentuk kepribadian Islam
serta membangkitkan aktivitas berpikir para sahabatnya tersebut. Beliau
menjalankan aktivitas ini lebih kurang selama 3 tahun dan menghasilkan 40
orang lebih yang masuk Islam.

Setelah 3 tahun, turun surat al Hijr : 94, yang memerintahkan Rasulullah untuk
berdakwah secara terang-terangan dan terbuka. Di tahap ini kaum kafir mulai
memerangi dan menganiayah Rasulullah dan para sahabatnya. Ini adalah
periode yang paling berat dan menakutkan di antara seluruh tahapan dakwah.
Bahkan sebagian sahabat yang dipimpin oleh Jafar bi Abi Thalib diperintahkan
oleh rasul untuk melakukan hijrah ke Habsyi. Sementara Rasulullah dan sahabat
yang lain terus melakukan dakwah dan mendatangi para ketua kabilah atau
ketua suku baik itu suku yang ada di Mekkah maupun yang ada di luar Mekkah.
Terutama ketika musim haji, dimana banyak suku dan ketua sukunya datang ke
Mekkah untuk melakukan ibadah haji. Rasulullah mendatangi dan mengajak
mereka masuk Islam atau minimal memberikan dukungan terhadap perjuangan
Nabi.

Saat kondisi amat membahayakan, para sahabat dan Nabi pun hijrah ke
Madinah. Ini agar tidak terjadi pertumpahan darah yang tidak perlu. Bisa saja
Nabi melawan/berontak karena beberapa sahabat seperti Abu Bakar,
Abdurrahman bin Auf, Umar, dsb adalah bangsawan yang terpandang dan juga
cukup disegani. Tapi itu akan menimbulkan korban jiwa baik di kalangan Islam
mau pun orang-orang kafir yang jadi target dakwah Nabi. Pada akhirnya, orang-
orang kafir ini akan masuk Islam dengan cara yang damai lewat Futuh Mekkah.
Jadi Islam amat menghargai nyawa manusia.

Saat orang2 kafir Musyrik di Thaif menolak dakwah Nabi bahkan menimpuki
Nabi, Malaikat menawarkan Nabi untuk melaknat dan membunuh mereka
dengan menjatuhkan gunung ke kaum tsb, Nabi menolaknya. Siapa tahu
keturunan mereka akan jadi Muslim yang baik.

Nabi melakukan dakwah dengan cara yang baik dan bijak.

Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi)


rahmat bagi semesta alam. (QS Al-Anbiyaa : 107)
Rasulullah SAW adalah sebaik-baiknya teladan bagi umat manusia. Dalam
berdakwah, Rasul SAW senantiasa mengajak umatnya dengan cara yang lembut,
sopan, bijaksana, kasih sayang, dan penuh keteladan.

Sebab, sejatinya dakwah adalah menyeru dan mengajak umat manusia untuk
menjadi lebih baik. Bukan menakut-nakuti mereka dengan berbagai ancaman.
Dalam Alquran, Allah SWT memberikan tuntunan berdakwah dengan tiga cara,
yakni bil hikmah, mauizhotil hasanah wa jaadilhum billati hiya ahsan.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang
baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS An-Nahl: 125).

Bahkan terhadap Firaun yang super Kafir karena mengaku Tuhan dan paling
zalim sekalipun Allah memerintahkan Nabi Musa untuk berdakwah kepada
Firaun dengan baik. Padahal Firaun ini zalimnya luar biasa karena sudah
membunuh banyak bayi lelaki dan ingin membunuh Nabi Musa dan pengikutnya.
Allah tidak memerintahkan Nabi Musa membunuh Firaun atau pun Bughot
karena kekafiran dan kezaliman Firaun. Jadi aneh jika zaman sekarang ada yang
membantai puluhan ribu manusia dengan alasan si Fulan yang sebenarnya
masih sholat sebagai Kafir dan Zalim. Itu bertentangan dengan AL Quran:

Apa firman Allah kepada Musa?

Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui


batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah
lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. [Thaahaa 43-44]

Lihat cara Nabi berdakwah di bawah. Jika kita ditanya, mungkin kita jawab
singkat: Tidak boleh. Zina itu haram! Tapi bisa jadi kurang efektif dan tidak
membekas.

Seorang pemuda pernah bertemu dan bertanya pada Rasul SAW. Ya Rasulullah,
izinkan saya berzina. Rasul memandangi pemuda tersebut dengan penuh kasih
sayang dan mengajaknya berdialog. Sukakah kamu bila itu terjadi pada
ibumu? tanya Rasul. Tidak, demi Allah, jawab anak muda itu.

Sukakah kamu bila itu terjadi pada saudara perempuanmu? tanya Rasul.
Tidak, demi Allah. Sukakah kamu bila itu terjadi pada anak perempuanmu?.
Tidak, demi Allah. Sukakah kamu bila itu terjadi pada istrimu? Anak muda itu
menjawab, Tidak, Demi Allah.
Rasulullah lalu berkata, Demikianlah halnya dengan semua perempuan, mereka
itu berkedudukan sebagai ibu, saudara perempuan, istri, atau anak perempuan.
Kemudian beliau meletakkan telapak tangannya di dada pemuda itu, lalu
mendoakannya.

Kalau ada kelompok Islam yang melakukan buruk sangka/suu zhon, melakukan
ghibah dan fitnah, tidak tabayyun/memeriksa berita dari orang fasik, melakukan
adu domba/namimah, maka itu bukanlah dakwah yang benar karena
bertentangan dengan surat Al Hujuraat dan hadits Nabi di bawah:

Rasulullah s.a.w. bersabda: Tidak dapat masuk surga seorang yang gemar
mengadu domba. (Muttafaq alaih)

Islam itu akan tergambar kepada kemuliaan akhlak:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu [Al Ahzab 21]

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu
[Ali Imran 159]

Saat para sahabat disiksa di Mekkah dan Nabi juga dihina seperti dilempari tahi
unta bahkan hendak dibunuh, Nabi tidak meminta para sahabat memerangi
mereka. Karena Nabi menghindari pertumpahan darah. Nabi memilih hijrah ke
Madinah dan menghindari peperangan.

Saat diserang kaum kafir Quraisy di Madinah pun Nabi memilih bertahan
membela diri pada perang Badar, perang Uhud, dan Perang Khandaq. Saat
musuh kalah dan mundur, beliau tidak mengejar dan menghabisi mereka. Tapi
membiarkan mereka lari menyelamatkan diri.

Setelah itu, baru Nabi menaklukkan kota Mekkah dengan Futuh Mekkah. Itu pun
tidak dengan peperangan. Dan nyaris tidak ada korban jiwa. Ini karena Nabi
bukanlah orang yang kejam dan haus darah.
Abu Sofyan dedengkot orang kafir yang jadi musuh bebuyutannya beliau hormati
dan dijadikan sahabat. Hindun yang membunuh paman Nabi, Sayyidina Hamzah,
dengan keji hingga tidak berbentuk lagi serta memakan jantungnya beliau
maafkan. Padahal bisa saja beliau jadikan dia sebagai penjahat perang yang
dihukum mati karena telah bertindak kejam melampaui batas. Nabi juga
memaafkan Wahsyi yang membunuh paman beliau. Sehingga Wahsyi bisa jadi
Muslim yang baik dan kelak tombaknya membunuh satu Musuh Islam yang
mengaku sebagai Nabi, yaitu Musailamah Al Kazzab.

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan
cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada
permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang


yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang
mempunyai keuntungan yang besar. [Fushshilat 34-35]

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-


bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat
maruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang
berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi
kepadanya pahala yang besar. [An Nisaa 114]

Dalam berdakwah, Nabi mengelola zakat sehingga uang bisa beredar dari yang
kaya ke orang-orang yang memerlukan seperti fakir miskin dan orang-orang
yang berjuang di jalan Allah.

Nabi juga hati-hati dalam menerima berita meski itu dari utusan kepercayaannya
sebagaimana diceritakan Allah dalam surat Al Hujuraat ayat 6. Saat ada berita
bahwa satu kaum tidak ingin membayar zakat, malah hendak membunuh
utusannya, Nabi tidak langsung percaya dan menyerang kaum tersebut. Tetapi
mengirim utusan yang lain untuk memeriksa kebenaran tersebut. Dan ternyata
memang berita itu bohong.

Nabi tidak suka berburuk sangka (suu zhon) dan juga tidak mudah mengkafirkan
seorang Muslim. Nabi meng-Islamkan orang kafir. Ini beda dengan sebagian
pendakwah yang justru menjauhkan orang dari Islam dengan mengkafirkan
orang Islam (Paham Takfiri).

Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya hai kafir, maka ucapan itu
akan mengenai salah seorang dari keduanya. [HR Bukhari]
Di saat Usamah, sahabat Rasulullah saw, membunuh orang yang sedang
mengucapkan, Laa ilaaha illallaah, Nabi menyalahkannya dengan sabdanya,
Engkau bunuh dia, setelah dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah. Usamah lalu
berkata, Dia mengucapkan Laa ilaaha illallaah karena takut mati. Kemudian
Rasulullah saw. bersabda, Apakah kamu mengetahui isi hatinya? [HR Bukhari
dan Muslim]

http://media-islam.or.id/2011/10/26/jangan-mudah-mengkafirkan-sesama-
muslim/

Nabi lemah-lembut dalam berdakwah:

Dari Aisyah ra, katanya: Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah itu
Maha Lemah Lembut dan mencintai sikap yang lemah lembut dalam segala
perkara. (Muttafaq alaih)

Saat seorang Arab kampung kencing di masjid, banyak sahabat yang ingin
memukulnya karena kurang ajar:

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: Ada seorang Arab -orang Arab dari daerah
pedalaman- kencing dalam masjid, lalu berdirilah orang banyak padanya dengan
maksud hendak memberikan tindakan padanya. Kemudian Nabi s.a.w. bersabda:
Biarkanlah orang itu dan di atas kencingnya itu siramkan saja setimba penuh air
atau segayung yang berisi air. Karena sesungguhnya engkau semua itu
dibangkitkan untuk memberikan kemudahan dan bukannya engkau semua itu
dibangkitkan untuk memberikan kesukaran. (Riwayat Bukhari)

Namun Nabi melarang mereka dan menyiramnya dengan air. Jika orang itu
dipukul, niscaya dia akan benci terhadap Islam dan mati sebagai orang kafir.
Namun kelembutan Nabi membuat orang itu tetap di dalam Islam.

Dari Jarir bin Abdullah r.a., katanya: Saya mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: Barangsiapa yang tidak dikaruniai sifat lemah lembut, maka ia tidak
dikaruniai segala macam kebaikan. (Riwayat Muslim)

Jika orang berdakwah dengan akhlaq yang kasar, selain tidak sesuai sunnah Nabi
juga justru menjauhkan manusia dari Islam:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap
mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka
menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah
ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu
[Ali Imran 159]

Read more http://media-islam.or.id/2012/09/23/akhlaq-nabi-muhammad-saw/

Meski demikian, terhadap orang-orang kafir yang memerangi Islam Nabi amat
tegas sehingga orang-orang kafir yang merupakan Super Power dunia saat itu
seperti Kerajaan Romawi dan Persia gentar menghadapi Nabi. Saat Kerajaan
Romawi memprovokasi ummat Islam, Nabi segera berangkat ke Tabuk bersama
30 ribu pasukan Muslim. Meski 1 bulan menunggu, tentara Romawi tidak berani
menyerang sehingga Nabi kembali ke Madinah.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia
adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka.Kamu lihat mereka ruku dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-
Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.
Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil,
yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan
tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya;
tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak
menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).
Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal
yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al Fath 29]

Nabi juga tidak mudah menuduh bidah/sesat kepada ummatnya yang


melakukan zikir/doa yang tidak pernah beliau ajarkan selama tidak bertentangan
dengan syarie:

Hadis pertama: Seseorang tiba di mesjid kemudian ia masuk kedalam shaf


shalat. Ia tergopoh-gopoh karena mengejar shalat. Kemudian ia
berkata:Alhamdulillah hamdan kathiron thayyiban mubaarokan fiihi.Ketika
sholat selesai Rasulullah bertanya:siapa yang mengucapkan kata-kata tadi?
Sahabat tidak ada yang menjawab. Kemudian Rasulullah saw mengulangi
pertanyaanya: Siapa yang mengucapkan kata-kata tadi, Ia tidak mengucapkan
sesuatu yang jelek. Seseorang menjawab: Saya tiba di masjid dan khawatir
tertinggal shalat, maka saya mengucapkannya. Rasulullah berkata: Saya
melihat dua belas malaikat berlomba siapa di antara mereka yang
mengangkatnya. (HR Muslim No. 600)

Hadis Kedua: Ibnu Umar berkata: ketika kami sedang shalat bersama Rasulullah
saw tiba-tiba ada seseorang yang mengucapkan: Allahu-akbar kabiroo,
walhamdu-lillahi katsiroo, wa subhanallahi bukrotaw-waashilaa. Kemudian
Rasulullah saw bertanya: kalimat zikir tadi, Siapa yang mengucapkannya ?
salah seorang menjawab; Saya wahai Rasulullah. Rasulullah berkata: Aku
mengaguminya, dibukakan pintu langit bagi kalimat tersebut!(HR Muslim
no.601)

Hadis Ketiga: Seseorang dari kaum Anshar menjadi imam di masjid Quba. Ia
selalu membaca surat al Ikhlas sebelum membaca surat lain setelah al-Fatihah.
Ia melakukannya setiap rakaat. Jamaah masjid menegurnya: Kenapa anda
selalu memulainya denga al-Ikhlas, bukankah surat al-Ikhlas cukup dan tidak
perlu membaca surat lain, atau engkau memilih cukup membaca al-Ikhlas atau
tidak perlu membacanya dan cukup surat lain. Ia menjawab: Saya tidak akan
meninggalkan surat al-Ikhlas, kalau kalian setuju saya mengimami dengan
membaca al-Ikhlas maka saya akan mengimami kalian, tapi kalau kalian tidak
setuju maka saya tidak akan jadi imam. Mereka tahu bahwa orang ini yang
paling baik dan tidak ingin kalau yang lain mengimami shalat. Ketika Rasulullah
datang mengunjungi, mereka menyampaikan hal ini kepada Rasulullah saw.
Rasulullah saw bertanya pada orang tersebut; Apa yang membuatmu menolak
saran teman-temanmu? Dan Apa yang membuatmu selalu membaca surat al-
Ikhlas setiap rakaat? Ia menjawab: Saya mencintainya (al-Ikhlas). Rasulullah
berkata: Kecintaanmu terhada surat al-ikhlas memasukanmu kedalam syurga!
(HR Bukhori no.741)

Meski Nabi tidak pernah mengajarkan itu, dan sahabat ada yang melakukannya,
Nabi tidak memaki mereka sebagai bidah sesat dan masuk neraka. Sebaliknya
memujinya bahwa mereka dapat pahala sehingga masuk surga.

Mungkin ada yang berdalih: Itukan sahabat yang sudah dapat persetujuan dari
Nabi. Sedang kita tidak. Harusnya mereka paham bahwa saat Nabi mengatakan
bahwa Setiap yang bidah itu sesat dan yang sesat itu masuk neraka, Nabi
mengatakan itu kepada para SAHABAT. Bukan kita. Kalau bukan kepada sahabat
kalimat itu diucapkan, kepada siapa lagi? Bukankah Nabi diutus kepada
kaumnya? Jadi saat ada Sahabat yang melakukan bidah, ternyata tidak semua
bidah itu sesat. Ada juga yang memang jika baik, dibolehkan oleh Nabi.

Ada hal-hal yang memang bidah misalnya sholat wajib 5 waktu itu sudah jelas.
Jika ada yang menambah sholat wajib ke 6 atau ada puasa wajib di bulan selain
Ramadhan, maka itu adalah bidah. Tapi jika bukan tentang hal yang qothi, kita
tidak bisa sembarang memvonis bidah dholalah. Harus ada fatwa dari Jumhur
Ulama. Bukan vonis segelintir ulama ekstrim yang picik dan dangkal ilmunya.

http://sabili.co.id/agama/memahami-bid-ah-dan-membangun-toleransi-antar-
pendapat

Referensi:
http://herminsyahri.wordpress.com/2008/12/05/metode-dakwah-rasulullah/

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/05/01/113860-
tiga-cara-berdakwah

http://media-islam.or.id/2012/04/24/nabi-senang-mendamaikan-bukan-mengadu-
domba-dan-menghindari-peperangan/

Baca selengkapnya di: http://media-islam.or.id/2012/11/30/cara-nabi-berdakwah-


islam/

Giliran Palestina dibantai Israel, mereka diam.

Giliran rakyat Palestina dicampakkan dan diusir dari negaranya oleh kaum
perusak (Israel Cs), mereka diam

Giliran skr kaum perusak (Israel Cs) menghadapi lawan seimbang, mereka
berseru Jihad

Apakah sebenarnya mereka bagian dari kaum tsb ? Allah maha tau segalanya
Saya jg heran zionis israel sangat jelas2 menjajah tp tidak ada
seruan jihad. Amerika yg seenaknya menyerang negara yang
sah dengan tuduhan yg tidak bisa di buktikan jg diam aja Kok
otak saya ngk bisa memahami ya!!!

TOPENG SAUDI TERBUKA


OLEH: DENNY S.

Strategi memancing keluar tikus dari sarangnya selalu

menjadi strategi efektif yang dimainkan Jenderal

Qassem Soleimani, Panglima perang Al-quds, divisi

luar negeri khusus Iran.

Jenderal yang mendapat banyak julukan dari lawannya

ini, diantaranya The Shadow Commander dan The

Nemesis , selalu dengan sabar memainkan orkestra

perangnya. Ia mengikuti dulu alur gerak pihak aliansi

dan lawannya sebelum melakukan skak.

Rusia sebelumnya banyak melakukan perundingan

dengan Arab Saudi dan Turki terkait penyelesaian

masalah konflik Suriah. Meski sudah diingatkan Iran

bahwa Saudi dan Turki pemain bertopeng, tetapi Iran

tetap memberi kesempatan Rusia melakukan

perundingan2. Ketika akhirnya Rusia merasa gagal,

barulah strategi koalisi digerakkan.

Masuknya koalisi Iran, Suriah dan akan ditambah

China dengan poin utama menggempur ISIS adalah

sebuah jebakan maut. Gempuran ini akan membuat

koalisi lawan berada pada dua pilihan sulit. Jika ikut

menggempur, maka mereka akan kehilangan asset


berharga-nya yang sudah mereka tanam bertahun-

tahun lamanya. Tetapi jika tidak, maka akan terlihat

bahwa mereka-lah sebenarnya yang mem-backup ISIS

dan pemberontak lainnya di Suriah, spt FSA.

Benar saja, Rusia tidak main2 dalam serangannya. 9

titik gudang militer FSA dibombardir habis tanpa

permisi. Seek and Destroy, begitu kata Metallica.

Hasilnya benar2 membuat FSA porak poranda.

Ratusan dari mereka tewas dan ratusan lainnya

menyerahkan diri.

AS dan Inggris pintar. Obama memperingatkan Rusia

agar mengajak mereka dalam penyerangan sarang2

teroris di Suriah. Sedangkan Cameron kerjaannya

mengutuk saja. Tetapi Putin tidak bodoh, bisa bocor

semua operasi sergap yang dilakukan Rusia jika AS

dan Inggris sampai tahu strategi mereka. Dan ketika

akhirnya Rusia memborbardir sendirian sarang teroris,

Obama hanya menyesalkan saja bahwa mereka tidak

diajak serta. Cara cuci tangan yang indah.

Sedangkan yang bahlul adalah Saudi. Reaksi yg tidak

diperkirakan malah datang dari sana. Alih-alih diam

saja, para ulama Saudi beramai2 membuat fatwa

supaya warganya menyerang Suriah. Ini malah

membuka mata banyak orang siapa pelindung dan

penyandang dana ISIS sebenarnya.

Tikus sudah keluar dari sarangnya. Topeng sudah

terbuka.

Membuka topeng siapa sebenarnya dibelakang para


pemberontak di Suriah termasuk ISIS, sangat penting

bagi Suriah.

Karena selama ini Bashar Assad dituduh sebagai rejim

yang kejam dan membunuh banyak rakyatnya yang

tidak berdosa hanya demi kekuasaan. Padahal Bashar

Assad melindungi warganya dari pembantaian yang

dilakukan teroris asing berbaju jihadis.

Ini bisa dibilang

pukulan balik bagi

koalisi AS, yang

menciptakan

kerusuhan di

Suriah.

Kekejaman ISIS

yang mendunia

malah menjadi

senjata makan

tuan bagi mereka.

ISIS menjadi

brand kejahatan dunia, dan kejahatan harus ditumpas.

Ketika akhirnya mereka tidak mau menumpasnya

dengan benar, bearti ada apa-apa dengan ini semua.

Yang dikhawatirkan adalah gesekan yang terjadi

antara NATO dan Rusia. Gesekan ini akan memicu

perang dengan skala yang lebih besar daripada

sekedar membasmi ISIS. Sebagai catatan, tahun 2013

lalu kapal2 perang Inggris sudah berhadap2an dengan

kapal perang Rusia. Ketakutan perang dunia ketiga


yang digambarkan ketika benturan itu terjadi,

untungnya tidak tercapai. Inggris memutuskan mundur

dan kembali ke pangkalannya. Meski begitu, sempat

terjadi bentrok di lautan antar mereka.

Bagaimana ? Makin menarik, kan perang Suriah ?

(Voa-i/disunting)

Jama'ah Tabligh
Jamaah Tabligh ("Kelompok Penyampai")[1](bahasa Urdu: , bahasa
Arab: , juga disebut Tabliq)[2] adalah gerakan transnasional dakwah
Islam yang didirikan tahun 1926 oleh Muhammad Ilyas di India.[3] Kelompok
Penyampai ini bergerak mulai dari kalangan bawah, kemudian merangkul seluruh
masyarakat muslim tanpa memandang tingkatan sosial dan ekonominya dalam
mendekatkan diri kepada ajaran Islam sebagaimana yang dibawa oleh
nabiMuhammad.[4][5]
Daftar isi [sembunyikan]

1 Sejarah Tabligh

2 Pengikut dari kalangan selebritis

3 Aktivitas Dakwah

4 Asas 6 Sifat

5 Referensi

6 Pranala luar

[sunting]Sejarah Tabligh

Jamaah Tabligh didirikan pada akhir dekade 1920-an oleh Maulana Muhammad
Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi diIndia. Nama Jama'ah Tabligh
hanyalah merupakan sebutan bagi mereka yang sering menyampaikan,
sebenarnya usaha ini tidak mempunyai nama tetapi cukup Islam saja tidak ada
yang lain. Bahkan Muhammad Ilyas mengatakan seandainya aku harus
memberikan nama pada usaha ini maka akan aku beri nama "gerakan iman".
Ilham untuk mengabdikan hidupnya total hanya untuk Islam terjadi ketika
Maulana Ilyas melangsungkan Ibadah Haji kedua-nya di Hijaz pada tahun1926.
Maulana Ilyas menyerukan slogannya, Aye Musalmano! Musalman bano (dalam
bahasa Urdu), yang artinya Wahai umat muslim! Jadilah muslim yang kaffah
(menunaikan semua rukun dan syariah seperti yang dicontohkan Rasulullah).
Tabligh resminya bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim
untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya
gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran
pengikutnya.

Dalam waktu kurang dari dua dekade, Jamaah Tabligh berhasil berjalan di Asia
Selatan. Dengan dipimpin oleh Maulana Yusuf, putra Maulana Ilyas sebagai
amir/pimpinan yang kedua, gerakan ini mulai mengembangkan aktivitasnya
pada tahun 1946, dan dalam waktu 20 tahun, penyebarannya telah mencapai
Asia Barat Daya dan Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan Amerika Utara. Sekali
terbentuk dalam suatu negara, Jamaah Tablih mulai membaur dengan
masyarakat lokal. Meskipun negara barat pertama yang berhasil dijangkau
Tabligh adalah Amerika Serikat, tapi fokus utama mereka adalah di Britania Raya,
mengacu kepada populasi padat orang Asia Selatan disana yang tiba pada tahun
1960-an dan 1970-an.

Jamaah ini mengklaim mereka tidak menerima donasi dana dari manapun untuk
menjalankan aktivitasnya. Biaya operasional Tabligh dibiayai sendiri oleh
pengikutnya.
Tahun 1978, Liga Muslim Dunia mensubsidi pembangunan Masjid Tabligh di
Dewsbury, Inggris, yang kemudian menjadi markas besar Jamaah Tabligh di
Eropa. Pimpinan mereka disebut Amir atau Zamidaar atau Zumindaar.

Ada yang mengatakan bahwa jamaah tabligh adalah penganut khurafat karna
katanya kuburan maulana Ilyas di Nizamudin di tawafkan. Tetapi hal itu hanyalah
kebohongan (dari orang-orang yang membenci dakwah) karena sebenarnya
disekitar tempat itu ada makam Hindu yang di tawafkan oleh orang-orang Hindu
India. Bukan makam Maulana Ilyas.

Usaha ini telah mengubah banyak kalangan mulai dari orang miskin, kaya,
pemulung, pejabat, polisi, tentara, bahkan preman dan pembunuh bayaran.

[sunting]Pengikut dari kalangan selebritis

Banyak terdapat pengikut Tabligh dari kalangan orang-orang penting dan


Ternama. Di Kalangan politisi, ada mantan Presiden Pakistan Rafiq Tarar, Menteri
kepala Sindh Dr. Arbab Ghulam Rahim, mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz
Sharif, dan mantan Jendral Pakistan Javed Nasir secara aktif mengikuti kegiatan-
kegiatan Tabligh. Di kalangan olahragawan, ada Shahid Afridi, Saqlain Mushtaq,
Mushtaq Ahmed, Mohammad Yousuf, Inzamam-ul-Haq dan Saeed Anwar.
Penyanyi terkenal seperti Junaid Jamshed dan Abrar-ul-Haq juga aktif dalam
gerakan dakwah revolusi Islam ini. Politisi Ijaz-ul-Haq (anak dari Jendral Zia-ul-
Haq) have juga terlihat beberapa kali bersama Jamaah Tabligh.

Di Indonesia, Tabligh juga telah menyentuh hati Sakti, personil band Sheila on 7.
Pada tahun 2006, dia telah keluar selama empat bulan ke Markas International
Tabligh di Nizzamudin, New Delhi, India. Dia telah berhenti bermusik, dan
memilih menjalankan amalan amalan maqami dan amalan intiqali dengan
sangat intensif.

dan setelah itu ada juga Vokalis dari Nineball band,Ray.selain itu pula ada
lukman hakim-gitaris Peterpan.dan banyak lagi yang bisa jadi
panutan.termasuknya pedangdut Saiful jamil.

[sunting]Aktivitas Dakwah

Markas internasional pusat tabligh adalah di Nizzamudin, India. Kemudian setiap


negara juga mempunyai markas pusat nasional, dari markas pusat dibagi
markas-markas regional/daerah yang dipimpin oleh seorang Shura. Kemudian
dibagi lagi menjadi ratusan markas kecil yang disebut Halaqah berbasiskan di
mesjid-mesjid dan mushalla-mushalla. Kegiatan di Halaqah dapat dibagi atas
kegiatan harian, minguan dan bulanan. Kegiatan ini bertujuan untuk meramaikan
mesjid dan mengajak kembali ummat ini agar mencintai mesjid. Kegiatan harian
antara lain adalah musyawarah harian, taklim harian, zikir pagi petang dan
amalan silaturrahmi. Kegiatan mingguan dapat berupa joula atau mengunjungi
sesama muslim dan berbincang tentang pentingnya iman dan amal, pentingnya
berusaha atas iman dan mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat. Kegiatan
bulanan dapat berupa khuruj selama tiga hari. Khuruj adalah meluangkan waktu
untuk secara total berdakwah memeprbaiki diri sendiri dan mengajak orang lain
agar berusaha atas iman, yang biasanya dilakukan dari masjid ke masjid dan
dipimpin oleh seorang Amir. Selama khuruj ada 4 hal yang diperbanyak, yaitu
dakwah Illallah, taklim wataklum, zikir dan ibadah, dan khidmad (melayani
sesama muslim). Ada lagi 4 hal yang dikurangi, waktu tidur dan makan, keluar
masjid dan boros. Tapi jika keluar mesjid atas seijin Amir Jamaah misalnya untuk
para karyawan diperbolehkan tetap bekerja, dan langsung mengikuti kegiatan
sepulang kerja, diperbolehkan.

Sewaktu khuruj, kegiatan diisi dengan ta'lim (membaca hadits atau kisah
sahabat, biasanya dari kitab Fadhail Amal karya Maulana Zakaria), jaulah
(mengunjungi rumah-rumah di sekitar masjid tempat khuruj dengan tujuan
mengajak kembali pada Islam yang kaffah), bayan, mudzakarah (menghafal) 6
sifat sahabat, karkuzari (memberi laporan harian pada amir), dan musyawarah.
Selama masa khuruj, mereka tidur di masjid.

Aktivitas Markas Regional adalah sama, khuruj, namun biasanya hanya


menangani khuruj dalam jangka waktu 40 hari atau 4 bulan saja. Selain itu
mereka juga mengadakan malam Ijtima' (berkumpul), dimana dalam Ijtima' akan
diisi dengan Bayan (ceramah agama) oleh para ulama atau tamu dari luar negeri
yang sedang khuruj disana, dan juga ta'lim wa ta'alum.

Setahun sekali, digelar Ijtima' umum di markas nasional pusat, yang biasanya
dihadiri oleh puluhan ribu umat muslim dari seluruh pelosok daerah. Bagi umat
muslim yang mampu, mereka diharapkan untuk khuruj ke poros markas pusat
(India-Pakistan-Bangladesh/IPB) untuk melihat suasana keagamaan yang kuat
yang mempertebal iman mereka.

[sunting]Asas 6 Sifat

1. Yakin terhadap kalimat Thoyyibah Laa ilaaha ilallah Muhammadur rasulullah.

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah.

Laa ilaaha ilallah

Maksudnya: Mengeluarkan keyakinan pada makhluk dari dalam hati dan


memasukkan keyakinan hanya kepada Allah di dalam hati.

cara mendapatkannya:

dakwahkan pentingnya iman

latihan dengan membentuk halakah iman

berdoa kepada Allah agar diberi hakikat iman.

Muhammadar rasulullah
Maksudnya: Mengakui bahwa satu-satunya jalan hidup untuk mendapatkan
kejayaan dunia dan akhirat hanya dengan mengikuti cara hidup Rasulullah s.a.w.

cara mendapatkannya:

dakwahkan pentingnya sunnah rasulullah

latihan dengan menghidupkan sunnah 1x24 jam setiap hari

berdoa kepada Allah agar dapat mengikuti sunnah rasulullah.

2. Salat khusyu' dan khudu'.

Artinya: Salat dengan konsentrasi batin dan rendah diri dengan mengikuti cara
yang dicontohkan Rasulullah.

Maksudnya: Membawa sifat-sifat ketaatan kepada Allah dalam salat kedalam


kehidupan sehari-hari.

cara mendapatkannya:

dakwahkan pentingnya salat khusyu' wal khudu'

latihan dengan memperbaiki zhahir dan bathinnya salat mulai dari wudhu,
ruku', gerakan serta bacaan2 dalam salat

berdoa kepada Allah agar diberi hakikat salat khusyu' dan khudu'.

3. Ilmu ma'adz dzikr

Ilmu

Artinya: Semua petunjuk yang datang dari Allah melalui Baginda Rasulullah.

Dzikir

Artinya: Mengingat Allah sebagaimana Agungnya Allah.

Maksudnya Ilmu ma'adz dzikr:

Melaksanakan perintah Allah dalam setiap saat dan keadaan dengan


menghadirkan ke-Agungan Allah mengikuti cara Rasulullah.

4. Ikramul Muslimin
Artinya: Memuliakan sesama Muslim.

Maksudnya: Menunaikan kewajiban pada sesama muslim tanpa menuntut hak


kita ditunaikannya.

cara mendapatkannya:

dakwahkan pentingnya ikramul muslimin

latihan dengan memberi salam kepada orang yang dikenal maupun yang
tidak dikenal menghormati yang tua, menghargai yang sesama, menyayangi
yang muda.

berdoa kepada Allah agar diberi hakikat ikrakul muslimin.

5. Tashihun Niyah

Artinya:

Membersihkan niat.

Maksudnya:

Membersihkan niat dalam beramal, semata-mata karena Allah.

cara mendapatkannya:

dakwahkan pentingnya tashihun niyah

latihan dengan mengoreksi niat sebelum, saat dan setelah beramal.

berdoa kepada Allah agar diberi hakikat tashihun niat.

6. Dakwah dan tabligh

Dakwah
Artinya: Mengajak

Tabligh

Artinya: Menyampaikan

Maksudnya:

Memperbaiki diri, yaitu menggunakan diri, harta, dan waktu seperti


yang diperintahkan Allah.

Menghidupkan agama pada diri sendiri dan manusia di seluruh alam


dengan menggunakan harta dan diri mereka.

cara mendapatkannya :

dakwahkan pentingnya da'wah wat tabligh.

latihan dengan keluar di jalan Allah minimal 4 bulan seumur hidup, 40


hari setiap tahun dan 3 hari setiap bulan. kita tingkatkan pengorbanan dengan
keluar 4 bulan setiap tahun, 10 hari setiap bulan dan 8 jam setiap hari.(ulama 1
tahun seumur hidup)

[sunting]Referensi

^ M. Jawed Iqbal (Saturday, June 9th 2007). "Inviting to Islam" (html).


www.askimam.org. Diakses pada Kesalahan: waktu tidak valid.

^ Rotar, Igor (June 23, 2007). "Pakistani Islamic Missionary Group Establishes
a Strong Presence in Central Asia". EurasiaNet. Diakses pada 20 November 2008.

^ Masud 2000, hal. xiii

^ Burton, Fred (2008-01-23). "Tablighi Jamaat: An Indirect Line to Terrorism".


Stratfor Intelligence. Diakses pada 10 Agustus 2009.

^ Dominic Kennedy and Hannah Devlin. "" Disbelief and shame in a


community of divided faith", The Times, 19 Agustus 2006. Diakses pada 8 Mei
2009.[pranala nonaktif]
SEJARAH RINGKAS MUHAMMAD ABDUL
WAHAB
Posted on June 16, 2008 by admin

SEJARAH RINGKAS MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Muhammad b. Abdul Wahab b. Sulaiman b. Ali b.

Muhammad b. Ahmad b. Rashid b. Barid b. Musaraf

an-Najdi at-Tamimi ( gambar) di lahirkan pada tahun (

1115H-1119 @ 1703-1787M ) di daerah Najd .Sebenarnya

ulama dan ahli sejarah berselisih pendapat tentang

kelahiran Muhammad Abdul Wahab. Tahun 1690M/1111H

merupakan pendapat Shaikh Zaini Dahlan Mufti Mekah

juga ahli sejarah sementara .Pada tahun 1694M/1115H

adalah Golongan Wahabi manakala pada 1703M/1124H

adalah ahli sejarah Barat. Muhammad Iqbal mengatakan

beliau lahir pada 1700M/1121H.

Ayahnya Abdul Wahab yang merupakan seorang qadhi pada

ketika itu telah mendapat firasat bahawa Muhammad

Abdul Wahab akan menyesatkan umat Islam, kita sendiri

telah sedia maklum hadis nabi yang berbunyi

Takutilah kamu akan firasat orang-orang mukminin


sesungguhnya mereka melihat dengan Nur Allah

(pandangan mata hati ) .Banyak hadis-hadis lain yang

menyentuh tentang firasat dan mimpi yang baik

merupakan sebahagian daripada kenabian, perstiwa

tersebut terbukti benar apabila berlakunya

pertentangan antara beliau dengan ayahnya sehingga,

membuatkan Muhammad Abdul Wahab menyampikan dakyahnya

secara tersembunyi. Kejahilan masyarakat dan kekuatan

politk, adalah antara faktor dakyah Muhamaad ,meresap

di kalangan masyarakat Badwi Najd.

ABDUL WAHAB MEMULAKAN PERGERAKAN DAN SERANGAN

Ahli Najd terbahagi kepada dua golongan , badwi dan

moden. Golongan moden mengamalkan perniagan manakala

golongan badwi kerap berperang dan bermusuhan sesama

kabilah bagi menguasai wadi,kawasan ternakan dan

sebagainya. Kabilah Najd pada ketika itu terdiri dari

Bani Khalid, Hawazin, Harb, Qahtani, al-Ajmani,

ad-Dawasir, Al Saud, Al Asobah ( Kuwait ) , Al

Khalifah ( Baharin ) Zafir dan banyak lagi. Kawasan

Najd ketika itu di luar kawalan Khilafah Daulah

Uthmaniah, besar kemungkinan kawasan tersebut

terpencil dan merupakan kawasan pendalaman.

Muhammad Abdul Wahab ke Iraq dan berbincang dengan

beberapa ulama fuqaha lalu memberikan dan menyatukan

beberapa pandangan baru dan lama., akan tetapi beliau


dimarahi dan diusir, kemudian beliau terus pulang ke

Najd, dan melahirkan pandangan baru yang mengakibatkan

penduduk Najd terbahagi kepada 2 puak, mereka yang

memerangi dan mereka yang menuruti. Kemudian Muhammad

Abdul Wahab melarikan diri ke al-Uyainah lalu

bersahabat dengan Amir al-Uyainah sehingga di akhiri

dengan perkahwinan dengan anak perempuannya ( Amir

al-Uyainah ).Ini secara tidak langsung memberi laluan

kepada beliau untuk menyebarkan ajarannya. Setelah

menetap di al-Uyainah kira-kira 8 bulan beliau

akhirnya diusir keluar. Apabila mengetahui

kedudukannya terancam, maka beliau cuba menemui

beberapa ketua-ketua kabilah dan pemimpin tertinggi

untuk mendapat perlindungan dan sokongan sehinggalah

ke ad-dariyah, lalu menemui Muhammad b. Saud.

Pertemuan yang membawa mala petaka pada umat Islam

ini, telah menjalinkan persepakatan dan persetujuan

bagi membentuk agama baru secara rasmi, di dalam

kekuatan politik, ketenteraan dan peperangan pada

1165H / 1744M.

ULAMA AL-HARMAIAN MENENTANG MUHAMMAD ABDUL WAHAB

Ketika mana Muhammad Abdul Wahab bersama pengikutnya

mengkafirkan kaum muslimin ,beliau telah mengutuskan

sekumpulan pengikutnya untuk merosakkan aqidah Ulama

al-Harmain serta memasukkan beberapa syubahat dan

muslihat. Kemudian Ulama al-Harmain (diantara mereka


ialah As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar

Abdul Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-Alawi ,

As-Shaikh Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin

al-Maghribi) bangkit lantas menolak dengan memberikan

beberapa keterangan dan hujjah sehingga melemahkan

mereka Akhirnya Ulama al-Harmain menegaskan bahawa

golongan Wahabi ini adalah jahil dan sesat, setelah

meneliti bahawa aqidah yang dibawa olehnya adalah

mengkafirkan umat Islam. Ulama Harmian pun menulis

sepucuk surat lalu diajukan perkara tersebut kepada

Qadhi as-Syare Mekah, yang akhirnya menjatukan

hukuman kepada mereka yang mulhid ini dipenjara,

malangnya ada segelintir daripada mereka telah berjaya

meloloskan diri ke ad-Dariyah ( sekarang ibu negeri

Wahabi yang pertama di Riyad ) dengan perasan sombong

dan angkuh. Peristiwa tersebut berlaku di bawah

pemerintahan As-Syarif Masud b. Said b. Saad b. Zaid

yang wafat pada 1153H/1732M.

Muhammad bin Abdul Wahab pula telah wafat pada tahun

1206H/1792M ketika berumur 90 tahun. Seterusnya

gerakan ini diambil alih oleh Sulaiman bin Abdullah

bin Abdul Wahab.

WAHABI MENYERANG MEKAH DAN TAIF

Apabila pembesar-pembesar Mekah menyekat kemasukan

golongan Wahabi untuk mengerjakan Haji, lalu mereka


menukar strategi dengan membahagikan kepada 2

kumpulan. Kumpulan pertama di bawah kesetiaan Amir

Mekah yang hanya bersedia untuk berperang sesama

mereka iaitu kumpulan kedua dan Amir Mekah As-Syarif

Ghalib b. Musaaid b. Said b. Saad b. Zaid. Lantaran

itu, berlakulah pertempuran yang mengakibatkan ramai

yang terkorban seterusnya golongan Wahabi dapat

menyebarkan dakyah mereka lalu membentuk tentera yang

terdiri daripada kabilah-kabilah badwi di bawah

pemerintahan Amir Mekah. Pada tahun 1217H / 1802M

tentera-tentera Wahabi sampai di Taif dan mengepungnya

pada bulan Zul Qaedah 1217H, lalu menawan dan

membunuh lelaki serta wanita termasuklah kanak-kanak

,sehingga tiada seorang pun yang terlepas daripada

kekejaman Wahabi. Setelah itu mereka merampas dan

merosakkan segala harta benda serta melakukan

keganasan yang tidak terkira dan seterusnya menuju ke

Mekah. Apabila mereka mengetahui pada bulan tersebut

ramai jemaah haji terutamanya dari Syam dan Mesir,

boleh jadi mereka akan diserang, lalu mereka bercadang

untuk menetap seketika di Taif, sehinggalah selesai

musim haji. Setelah jemaah haji pulang ke negara

masing-masing, golongan Wahabi pun menuju ke Mekah,

Amir Mekah as-Syarif Galib pada ketika itu tidak mampu

menyekat kemaraan bala tentera Wahabi yang pada ketika

itu telah tiba di Jeddah. Berita tersebut akhirnya

dihidu oleh penduduk Mekah sehingga mereka berasa

amat takut apa yang berlaku di Taif akan menimpa


mereka. Namun demikian, penduduk Mekahtidak dapat

membuat apa-apa persediaan untuk menghadapi mereka.

Pada Muharram1248H, golongan ini telah berjaya

memasuki Kota Mekah dan menetap di sana selama 14

hari. Dalam tempoh masa inilah mereka melakukan

kerosakan serta membuat ketetapan laranganmenziarahi

makam nabi-nabi dan solihin.

Kemudian tentera Wahabi menuju pula ke Jeddah untuk

membunuh Amir as-Syarif. Setibanya di sempadan Jeddah,

golongan Wahabi telah diserang olehtentera Amir mekah

yang menatijahkan mereka menerima kekalahan teruk.

Kegagalan untuk menawan kota Jeddah ini megakibatkan

mereka berundur dan pulang semula ke Mekah.

WAHABI MENAWAN MEKAH DAN MADINAH.

Selepas 8 hari, lalu golongan Wahabi mengumpulkan

bala tenteranya di sana (Mekah) dan melantik seorang

Amir as-Syarif Abdul Muain iaitu saudara as-Syarif

Ghalib, serta cuba berbaik-baik semula dengan penduduk

Mekah dan memburuk-burukan mereka.

Pada tahun 1220H mereka merompak dan mengepung

penduduk Mekah serta memutuskan segala bekalan makanan

sehingga menyebabkan penduduk Mekah kelaparan yang

mengakibatkan mereka terpaksa memakan daging anjing

akibat kebuluran yang bersangatan. Melihatkan keadaan


ini, Amir Mekah terpaksa mengadakan perjanjian dan

perdamian, antara syarat perjanjian tersebut hendaklah

berbaik-baik dengan penduduk Mekah. Setelah tempoh

perdamaian tamat maka sekali lagi pada akhir bulan Zul

Qaedah 1220H, mereka berjaya memasuki kota Mekah dan

Madinah. Setelah tiba di Madinah , mereka menceroboh

Bilik Nabi dan mengambil semua harta benda

termasuklah lampu dan bekas air daripada emas dan

perak, permata, zamrud yang tidak ternilai harganya,

lalu melakukan beberapa perkara keji dan jelek,

sehingga menyebabkan ramai dari kalangan ulama

melarikan diri antaranya Shaikh Ismail Al-Barzanji,

Shaikh Dandrawi dan ramai lagi .Kemudian mereka

menghancurkan semua qubah di perkuburan Baqe seperti

qubah Ahli Bait, Isteri-isteri Nabi, anak-anak Nabi ,

lalu mereka cuba pula untuk memusnahkan kubah baginda

Rasulullah s.a.w. , apabila mereka melihat di kubah

tersebut terdapatnya lambang bulan sabit yang

pada sangkaan mereka diperbuat daripada emas tulin,

mereka mereka menarik balik keputusan tersebut.

Sesungguhnya Maha Suci Allah yang telah memalingkan

mereka daripada perbuatan keji dan melampau itu.Mereka

juga telah memecahkan lampu-lampu di Madinah serta

membahagikan kepada beberapa pengikutnya yang setia

kepadanya. Kota Madinah akhirnya di tinggalkan dalam

keadaan sepi selama beberapa hari tanpa azan, iqamah

dan solat. ( Sila rujuk kitab ;Nuzhatul an-Nazirin fi

Tarikh Masjid al-awwalin wal akhirin oleh Jaafar bin


Syaid Ismail al-Madani al-Barzanji)

Mereka juga melarang kemasukan jemaah haji dari Mesir

dan Syam yang merupakan pekerja-pekerja seperti

menenun kelambu Kaabah dan seumpamanya. Mubarak b.

al-Mudayyiqi akhirnya telah dilantik menjadi Amir

Wahabi pemerintahan mereka berlalu selama kira-kira 7

tahun.

SERANGAN THOSON BASHA KE ATAS WAHABI

Sultan Muhammad Khan telah mengutus Muhammad Ali

Basha pemerintah kerajaan Mesir supaya menyediakan

seramai 8-10 ribu tentera untuk memerangi

pelampau-pelampau Wahabi pada tahun 1226H, lalu beliau

melantik anaknya Thoson Basha keluar dari negara Mesir

pada bulan Ramadhan 1226H melalui jalan laut dan

darat. Akhirnya berlakulah pertempuran yang maha

dahsyat di perkampungan Khif ( dari Madinah kira-kira

90km) sehingga mengakibatkan ramai daripada jumlah

tentera Mesir telah terkorban dan setengahnya pula

gagal pulang ke Mesir. Kemenangan yang dicapai oleh

golongan Wahabi ini, adalah disebabkan oleh sokongan

daripada beberapa kabilah badwi seramai 10 ribu orang

yang telah berpakat untuk mengalahkan tentera Mesir.

Peristiwa yang bersejarah lagi berdarah ini berlaku

pada bulan Zul Hijjah 1226H/1805M. Sebenarnya tentera

Thoson Basha juga terpaksa berhadapan seramai 30 ribu


tentera Wahabi yang telah mengepung di bahagian Barat

di bawah pimpinan al-Amir Faisal

SERANGAN MUHAMMAD ALI BASHA KE ATAS WAHABI

Keazaman Muhammad Ali Basha dengan sendirinya menuju

ke Hijaz pada tahun 1227H untuk menemui tenteranya.

Setelah itu beliau bersama tenteranya menguasai

as-Safra dan al-Hudidah pada bulan Ramadhan dan

memasuki kota Madinah pada akhir bulan Zul Qaedah .

Kemudian beliau menguasai pula di persisiran pantai

Jeddah pada awal bulan Muharram 1228H, lalu terus

menuju ke Mekah dan menguasainya di sana.Pada bulan

Rabiul Awal tahun 1228H Muhammad Ali Basha

memerintahkan para utusannya ke Darul Khilafah

Uthmaniah yang berpusat di Turki bersama mereka

anak-anak kunci kota Mekah, Madinah, Jeddah dan Taif.

Pada bulan Syawal 1228H Muhammad Ali Basha kembali

semula ke Hijaz, sebelum tiba di Hijaz ,as-Syarif

Ghalib telah menangkap Osman al-Mudayyiqi yang

merupakan Amir Wahabi di Taif, kemudian menghantarnya

ke Darul Khilafah Uthmaniah dan dihukum bunuh.

Setelah Muhamad Ali Basha tiba di Mekah pada bulan Zul

Qaedah, beliau menangkap pula as-Syarif Ghalib ibnu

Musad lalu menghantarnya ke Darul Sultanah , kemudian

beliau melantik pula anak saudaranya As-Syarif Yahya

bin Surur ibnu Musad untuk dilantik sebagai

pemerintah di Mekah Pada bulan Muharam tahun 1229H


Muhamad Ali Basha menangkap pula Amir Wahabi Madinah

lalu menghantarnya ke Darul Khilafah Uthmaniah lalu

dihukum bunuh, kepalanya di gantung di Bab As-Saraya

sebagaimana yang telah dilakukan terhadap Osman

al-Mudayyiqi ,adapun as-Syarif Ghalib beliau telah

dihantar ke Salanik di Turki dan tinggal di sana

dengan mendapat penghormatan sehingga beliau wafat

dan dikebumikan pada 1231H.

Pada bulan Syaban 1229H Muhamad Ali Basha sekali lagi

telah mengutus tenteranya ke Turbah, Bisyah, Ghamid,

Zahran dan Asir untuk mengesan dan menjejaki serta

memerangi golongan Wahabi lalu berhasrat untuk

membinasakannya sehingga ke akar umbi .Setibanya di

Darul Wahabi mereka terus memerangi golongan Wahabi

dan menawanya kemudian memusnahkan negeri mereka .Pada

bulan Jamadil Awal 1229H Amir Saud Wahabi meninggal

dunia lalu digantikan oleh anaknya Abdullah b. Saud.

Muhammad Ali Basha kembali semula ke Darul Wahabi

semasa mengerjakan haji dan tinggal di Mekah pada

bulan Rejab 1230H, kemudian pulang semula ke Mesir

setelah meninggalkan Hassan Basha di Mekah. Muhamad

Ali Basha tiba di Mesir pada pertengahan bulan Rejab

1230H, ini menjadikan tempoh beliau di Hijaz

kira-kira 1 tahun 7 bulan. Beliau pulang ke Mesir

setelah melaksanakan tanggugjawabnya dan tugasnya di

bumi Hijaz. Maka tinggalah beberapa golongan Wahabi

yang bertempiaran di setiap pelusuk kabilah badwi dan


selebihnya tinggal di Ad-Daryah kemudian melantik

Abdullah b. Saud sebagai peminpin mereka.

BERPERANG DENGAN IBRAHIM BASHA

Amir Wahabi Abdullah b. Saud cuba berbaik-baik dengan

Thuson Basha bin Muhamad Ali Basha (adik kepada

Ibrahim) ketika mereka berada di Madinah, sehingga

terjalin hubungan persahabatan di bawah pemerintahan

Muhammad Ali Basha yang membuatkan Muhammad Ali Basha

tidak menyetujuinya. Oleh kerana itu, Muhamad Ali

Basha telah memperlengkapkan tenteranya untuk

memerangi golongan Wahabi, di bawah pimpinan anaknya

Ibrahim Basha(abang suluong). Pada tahun 1232H Ibrahim

Basha bersama tenteranya tiba di Ad Daryah yang

merupakan ibu negeri Wahabi yang pertama di Riyad,

maka berlakulah pertempuran sengit yang berakhir pada

bulan Zul Qaedah 1233H dengan tertangkapnya Abdullah

b. Saud Amir Wahabi.

AMIR WAHABI DIHUKUM BUNUH

Setelah tertangkapnya Amir Wahabi, lalu beliau di bawa

bersama pembesarnya ke Mesir dan tiba di sana pada 17

Muharram 1234H. Mereka kemudianya diarak oleh beberapa

orang askar dengan penuh kehinaan, lalu

berbondong-bondonglah penduduk Mesir menyaksikan

perarakan yang bersejarah itu. Apabila Amir Wahabi


memasuki Istana, maka Muhamad Ali Basha dengan

tersenyum duduk disisinya seraya berkata ;

Muhammad Ali Basha : Apakah ini berterusan (

peperangan ) ?

Amir Wahabi : Ini adalah peperangan timbal balik

(sekali menang dan sekali kalah ).

Muhammad Ali Basha: Apa pendapat kamu tentang anakku

Ibrahim Basha ?

Amir Wahabi: Beliau seorang gigih dan kuat seperti

juga kami

Muhammad Ali Basha : Aku berharap pada kamu disisi

Maulana as-Sultan.

Lalu mereka pun menuju ke bilik Ibrahim Basha di Bulaq

,bersamanya terdapat sebuah kota kecil yang berbungkus

Muhamad Ali Basha : Apa ini ?

Amir Wahabi : Ini aku dapati daripada ayahku yang

beliau perolehi di sebuah bilik sahabatnya bersama

ku.

Kemudian Muhammad Ali Basha menyuruh agar kota


tersebut di buka, maka beliau dapati 3 lembaran Mushaf

daripada khazanah al-Muluk yang tidak pernah

dilihatnya lebih baik sebelum ini,di samping itu juga

terdapat 300 butir permata yang besar-besar daripada

zamrud.

Muhamad Ali Basha : Ini yang kamu ambil di Hujrah

as-Syarif ( di dalam maqam nabi)

Amir Wahabi : Aku dapatinya daripada ayahku, beliau

tidak mengambilnya di Hujrah as-Syarif ,bahkan

memperolehinya daripada penduduk Mekah dan Madinah dan

orang-orang as-Syarif.

Muhammad Ali Basha: Sah! Kamu ambil daripada as-Syarif

Kemudian Amir Wahabi pun di hantar ke Darul Khilafah

Uthaminah ,sementara itu Muhammad Ali Basha kembali

semula ke Hijaz dan seterusnya ke Mesir pada Muhaaram

1230H.,selepas beliau memusnahkan Negeri ad-Daryah

sehinggalah golongan Wahabi meninggalkan penempatan

mereka. Ketika Amir Wahabi tiba di Darul Khilafah

Utmaniah pada bulan Rabiul Awal, beliau bersama

pengikutnya diarak mengelilingi Kota Turki untuk

dipertontonkan oleh semua lapisan masyarakat. Akhirnya

Amir Wahabi dihukum bunuh di Bab Hamaayun manakala

para pengikutnya pula dihukum bunuh dari suatu sudut

yang berbeza-beza. Apa yang dapat kita fahami daripada


rentetan peristiwa tersebut golongan Wahabi Badwi ini

kerap mengamalkan sikap berperangan dan membuat

kekacawan di Semenanjung Arab, kemudian pula

bercita-cita untuk menguasai di seluruh Tanah Arab.

SERANGAN JIHAD TERHADAP WAHABI

Ramai di kalangan Ulama Mekah, Madinah, Qadhi dan

Mufti di seluruh pelusuk dunia berfatwa agar serangan

jihad dilancar ke atas golongan Wahabi, mereka terdiri

daripada kalangan ulama yang mutabar seperti

As-Shaikh Ahmad al-Ba Alawi, As-Shaikh Umar Abdul

Rasul, As-Shaikh Aqail b. Yahya al-Alawi , As-Shaikh

Abdul Malik dan As-Shaikh Hussin al-Maghribi.

Setelah mereka selesai menunaikan solat lalu menuju ke

Bab as-Thani mereka dapati sekumpulan orang Islam

telah dizalimi dan diseksa dengan sengaja oleh

golongan yang ingin memasuki Masjidil Haram serta

diancam untuk dibunuh, maka bertempiaranlah mereka

melarikan diri dan memberitahu golongan Wahabi

bahawa mereka adalah penduduk Mekah. Setelah itu

berhimpunlah sekelian ulama di bahagian mimbar untuk

mendengar khutbah yang disampaikan oleh Khatib Abu

Hamid lalu beliau membaca Risalah Muhammad Abdul Wahab

an-Najdi al-Maluni. berbunyi : Wahai! Ulama,Qadhi,

Mufti adakah kamu dengar dan tahu akan perutusan

ini..
( Sila rujuk beberapa Risalah Muhamad Abdul Wahab

an-Najdi al-Maluni at-Tamimi al-Kadzabi )

Kemudian ada pula daripada Ulama, Qadhi, Mufti

bermazhab empat dari kalangan penduduk Mekah di

seluruh dunia yang datang untuk mengerjakan haji

bersidang dan bermusyawarah sementara menunggu 10

Muhaaram untuk memasuki Masjidil Haram. Akhirnya

ulama menghukumkan mereka kafir dan mengarahkan Amir

Mekah memaksa dan menyingkirkan mereka (golongan

Wahabi ) keluar daripada Masjidil Haram. Setelah itu

mereka mewajibkan semua orang Islam membantu dan

bersatu. Barang siapa yang melarikan diri tanpa uzur

adalah berdosa, dan barang siapa memeranginya jadilah

mujahid dan barang siapa yang dibunuh memperolehi

syahid. Akhirnya ijmak ulama bersepakat tanpa

berlaku sebarang kekhilafan, telah menulis surat

kepada Amir Mekah. Selepas menunaikan solat Maghrib

mereka pun mengadap Amir Mekah. Justeru itu, seluruh

penduduk Mekah bersatu serta mendokong kesatuan Amir

Mekah untuk melancarkan serangan jihad dan

menyingirkan mereka daripada Mekah (Sila rujuk

al-ajwibahtu al-Makkiyatu fi rad al ar-Risalati

an-Najdiyati m.s.84-86 )

Kesimpulan yang boleh saya paparkan disini, Muhammad

Abdul Wahab dan pengikutnya ditakrifkan sebagai Bughah


iaitu sekumpulan orang Islam yang bermusuh atau ingkar

kepada Pemeritah Tertinggi sehingga tertubuhnya sebuah

pasukan bersenjata dan berhasrat untuk menentang

Pemerintah Tertinggi, dan mereka ini wajib diperangi

setelah diberi amaran. Peristiwa seumpama ini pernah

berlaku di zaman sahabat. Antaranya ialah peperangan

antara Saidina Abu Bakr dengan Musilamatul Al-al-Kazab

yang mengaku menjadi nabi , setelah itu peperangan

Siffin antara golongan Saidina Ali dengan tentera

Muawiyah ,dan juga tentera Khawarij. ( lihat kitab

Qalyubi Wa Umairah .Bab Bughah m.s.171-174 Kitab

unggul Mazhab Sayafe)

Sejarah Kelam Salafi

Oleh: Abu Rifa al-Puari

Publikasi 28/03/2004

hayatulislam.net Dalam beberapa artikel sebelumnya,

kita telah memperoleh penjelasan bahwa salafi merasa

dirinya paling benar, selamat dan masuk syurga

(Karakter 1), sehingga hanya salafi saja golongan yang

boleh eksis didunia. Sedangkan golongan lain sesat,

bidah dan tidak selamat sehingga layak dicela dan

jangan diungkapkan secuil-pun kebaikannya (Karakater

2).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang golongan


yang selamat, dia berkata: Mereka adalah para ulama

salaf. Dan setiap orang yang mengikuti jalan para

salafush-shalih (lihat 1).

Tentu yang mereka maksudkan dengan jalan para

salafush-shalih adalah golongan SALAFI, bukan

golongan-golongan yang lain!

Tentu kita penasaran, darimana berasal golongan yang

demikian gencarnya mempromosikan dirinya paling benar

dan semua golongan yang lain salah, sesat dan bidah

sehingga layak dicela ini? Kapankah golongan ini

didirikan, siapa saja pendirinya dan bagaimana sejarah

berdirinya? Mari kita telaah satu persatu pertanyaan

yang mengganjal tersebut.

Salafi Sudah Ada Sejak Nabi Adam AS?

Salafi meyakini bahwa golongan mereka telah ada

semenjak manusia pertama, yakni Nabi Adam AS.

Dengan demikian, Dawah Salafiyyah adalah dawahnya

seluruh Nabi, mulai dari Nabi Nuh sebagai Rasul

pertama sampai dengan Nabi Muhammad yang merupakan

Nabi dan Rasul terakhir yang diutus kepada umat

manusia, semoga damai dan rahmat Allah selalu tercurah

bagi mereka semua. Maka sejarah dari Dawah Salafiyyah

dimulai sejak dari Nabi pertama. Hal ini bahkan ada


yang mengatakan bahwa dimulainya Dawah Salafiyyah ini

dimulai dari Nabi Adam alaihis Salam, sebab dawah

ini adalah dawah yang murni. Dan Dawah Salafiyyah

adalah dawah dalam rangka memahami Al Quran dan As

Sunnah, sebagaimana Allah dan Rasul-Nya telah

memerintahkan umat ini untuk melakukan hal tersebut.

Dawah ini dilakukan atas perintah dari Allah dan

Rasul-nya kepada kita guna mendapatkan pahala yang

akan diberikan oleh Allah. Dan dawah ini menjauhkan

kita dari apa-apa yang telah Allah dan Rasul-Nya

larang untuk dilakukan, karena takutnya pada siksa

dari Allah. Jadi, sejarah dimulainya Dawah Salafiyyah

ini adalah tidak hanya terjadi sejak satu abad, dua

abad atau lima abad yang lalu. Sedangkan dawah yang

dimulai pada periode waktu tertentu adalah dawah yang

dilakukan oleh berbagai kelompok-kelompok sesat,

seperti Ikhwanul Muslimin, Jamaah Tabligh, Hizbut

Tahrir, Sururiyyah/Qutubiyyah dan selainnya dari

berbagai macam kelompok dawah yang baru bermunculan.

Itulah hal pertama yang ingin saya jelaskan (lihat

2).

Dengan pernyataan salafi sebagai golongan yang telah

ada semenjak dawah Nabi Adam AS dan diteruskan para

Nabi sesudahnya maka inilah golongan tertua didunia,

golongan yang telah lahir semenjak Nabi Adam AS

dilahirkan dan diutus oleh Allah SWT sebagai manusia

pertama.
Mungkin anda akan tertegun sejenak, bukankah

pernyataan salafi yang menyatakan bahwa salafi telah

ada semenjak Nabi Adam AS menunjukkan sikap arogan

yang luar biasa. Dengan pernyataan keberadaan salafi

sebagai dawah awal para Nabi, sehingga salafi menjadi

golongan tertua dunia, maka tidak ada peluang sekecil

apapun golongan lain menyatakan bahwa golongan

merekalah yang benar. Karena salafi menyatakan bahwa

merekalah golongan yang paling benar, ajarannya murni

dan telah dimulai semenjak keberadaan Nabi Adam AS.

Sikap arogan salafi ini diperkuat lagi bahwa salafi

adalah Islam itu sendiri, artinya jika anda seorang

muslim maka anda harus mengaku sebagai salafi, jika

tidak maka mungkin keislaman anda diragukan. Anda

tidak cukup mengaku muslim, karena orang syiah juga

mengaku muslim. Anda tidak cukup mengaku muslim

berdasarkan Al-Quran dan sunnah, karena orang Asyari

juga mengaku hal yang sama. Maka anda harus mengaku

salafi, maka inilah yang benar, selamat dan masuk

syurga, sedangkan yang lain sesat dan bidah. Saya

tidak tahu persis, apakah Nabi Adam AS pernah mengaku

sebagai salafi atau bukan?

Dan diharuskan mempunyai penisbatan yang membedakan

pada zaman ini, sehingga tidak cukup kita katakan,

Saya muslim atau, Madzab saya muslim! Sebab semua


kelompok-kelompok mengatakan demikian, baik Rafidhi

(Syii), Ibadi (Khowarij), Qodyani (Ahmadiyyah) dan

firqoh-firqoh selain mereka! Maka apa yang membedakan

kamu dengan mereka (kelompok-kelompok ) tersebut?

Kalau engkau berkata, cSaya muslim berdasarkan Al

Quran dan As Sunnah maka pernyataan seperti itu

tidak cukup. Sebab orang-orang yang berada pada

kelompok, baik itu Asyari, Maturidy, dan

golongan-golongan lain mengaku mengikuti kedua dasar

tersebut (Al Quran dan As Sunnah).

Dan tidak diragukan lagi bahwa nama yang jelas dan

terang yang dapat membedakan dengan yang lainnya

adalah kita katakan, saya seorang muslim berdasarkan

Al Kitab dan as Sunnah, mencocoki dengan cara atau

metode (manhaj) salafus shalih. Yakni cukup engkau

katakan, saya salafi! (lihat 10).

Bukanlah tiap orang berhak-baik seorang alim ataupun

penuntut ilmu- untuk mengeluarkan ataupun memasukkan

seseorang kedalam salafiyyah. Karena salafiyyah

bukanah perusahaan, yayasan sosial, ataupun partai

politik. Salafiyyah adalah Islam itu sendiri (lihat

13).

Lantas betulkah salafi telah ada semenjak Nabi Adam

AS?, darimanakah sebetulnya salafi berasal?


Dimulai Dari Muhammad bin Abdul Wahab

Pemikiran para salaf dimulai pada abad ke-4 H, disaat

ulama-ulama Madzhab Hanbali yang pemikirannya bermuara

pada Imam Ahmad bin Hanbal. Madzhab ini menghidupkan

aqidah ulama salaf dan memerangi paham lainnya.

Golongan ini kemudian muncul kembali pada abad ke-7 H

dengan kemunculan Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, Ibnu

Taimiyah menambahkan beberapa hal pemikiran Hanbali

sesuai kondisi zamannya. Ibnu Taimiyah ditangkap dan

dipenjara beberapa kali, pada tahun 726 H beliau

dipenjara kembali karena perdebatan mendatangi kuburan

nabi dan orang-orang shalih, akhirnya beliau meninggal

dipenjara Damaskus pada tahun 20 Dzulhijjah 728 H dan

selama dipenjara ditemani murid beliau Ibnul Qayyim

Al-Jauziyah.

Selanjutnya pada abad ke-12 H pemikiran serupa muncul

kembali di Jazirah Arab yang dihidupkan oleh Muhammad

bin Abdul Wahab, yang selanjutnya disebut kaum Wahabi

(lihat 3, hal 225; lihat 4, hal 61; lihat 6).

Muhammad bin Abdul Wahab mempunyai nama lengkap

Muhammad bin Abdul Wahhab bin Sulaiman bin Ali bin

Ahmad bin Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid

bin Musyarraf, dilahirkan di negeri Uyainah pada tahun


1115 H. Daerah Uyainah ini terletak di wilayah Yamamah

yang masih termasuk bagian dari Najd. Letaknya berada

di bagian barat laut dari kota Riyadh yang jaraknya

(jarak antara Uyainah dan Riyadh) lebih kurang 70 km.

Beliau belajar kepada ulama bermadzhab Hanbali di

Bashrah ( lihat 5).

Sehingga diyakini dawah Salafi dimulai dengan

kemunculan Muhammad bin Abdul Wahab ini, aliran Wahabi

(Wahabiyyah) sebagai sumber pemikirannya. Wahabiyyah

muncul atas reaksi terhadap sikap pengkultusan dalam

bentuk mencari keberkatan dari orang-orang tertentu

melalui ziarah kubur, disamping bidah yang

mendominasi tempat kegamaan dan aktifitas duniawi.

Pada hakikatnya Wahabiyyah tidak membawa pemikiran

baru tentang aqidah, mereka hanya mengamalkan apa yang

telah dikemukan oleh Ibnu Taimiyah dalam bentuk yang

lebih keras, dibandingkan apa yang telah diamalkan

oleh Ibnu Taimiyah sendiri. Mereka menertibkan

berbagai hal yang tidak pernah disinggung oleh Ibnu

Taimiyah.

Kaum wahabi menghancurkan kuburan-kuburan sahabat dan

meratakannya dengan tanah, tindakan wahabi berdasarkan

sabda Nabi saw mengingkari tindakan Bani Israil yang

menjadikan kuburan para Nabi mereka sebagai mesjid.

Kaum wahabi juga melarang mengganti kain penutup

raudhah dengan alasan bidah, sehingga kain itu


menjadi usang, kotor dan tidak enak dipandang mata.

Kaum wahabi (yang berpusat di Riyadh) dengan bantuan

Inggris melakukan pembangkangan bersenjata

(peperangan) terhadap kekhilafahan Utsmaniyah, Inggris

memberikan bantuan dana dan senjata kepada kaum wahabi

dan dikirim melalui India. Mereka berusaha merampas

wilayah-wilayah yang dikuasai oleh kekhilafahan

Utsmaniyah agar mereka bisa mengatur wilayah tersebut

sesuai dengan paham wahabi, kemudian mereka

menghilangkan madzhab lain dengan kekerasan. Sehingga

kaum wahabi mengalami penentangan dan bantahan yang

bertubi-tubi dari para ulama, pemimpin dan tokoh

masyarakat yang menganggap pendapat wahabi

bertentangan dengan pemahamam kitabullah dan sunnah.

Dawah kaum wahabi ini tidak diterima oleh umat,

sehingga kata wahabi menjadi momok tersendiri di

tengah-tengah umat.

Apa sebenarnya Wahhabi itu? Mengapa mereka begitu

benci setengah mati terhadap Wahhabi? Sehingga

buku-buku yang membicarakan Muhammad bin Abdul Wahhab

mencapai 80 kitab atau lebih. Api kebencian mereka

begitu membara hingga salah seorang di antara mereka

mengatakan bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

bukan anak manusia, melainkan anak setan, Subhanallah,

adakah kebohongan setelah kebohogan ini? (lihat 11).


Sehingga dengan cara yang unik ulama wahabi

menjelaskan makna kata wahabi berasal dari asma

Allah SWT, meskipun awalnya memang wahabi berasal dari

kata Muhammad bin Abdul Wahab.

Orang-orang bodoh seperti mereka tidak mengetahui

bahwa wahabi dinisbatkan kepada Al-wahab. Adalah

salah satu dari asma Allah yang telah memberikan

kepada umat manusia ajaran tauhid murni dan

menjanjikan syurga kepada mereka (lihat 1, hal 85).

Kaum wahabi tahun 1788 M menyerang dan menduduki

Kuwait serta mengepung Baghdad, tahun 1803 menyerang

dan menduduki Makkah. Pada tahun 1804 menduduki

Madinah dan menghancurkan kubah besar yang digunakan

untuk menaungi makam Rasulullah saw, mempreteli

seluruh batu perhiasan dan ornamennya yang sangat

berharga. Setelah menguasai seluruh daerah Hijaz,

mereka begerak kedaerah Syam, tahun 1810 menyerang

Damaskus dan Najaf. Kekhilafahan Utsmaniyah

mengerahkan kekuatan menghadapinya tetapi tidakn, maka hendaklah

sabar dalam menaati mereka (lihat 8, hal 43-44).

Padahal Rasulullah Saw bepesan dalam hadits shahih

bahwa tidak ada ketaatan kepada makhluk selagi

bermaksiat kepada Allah SWT,


Tidak ada ketaatan kepada seseorang dalam hal

kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu

dalam hal kebaikan. [HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan

An-Nasai].

Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang maruf. [HR

Bukhari dan Muslim].

Sungguh bertentangan sikap salafi terhadap penguasa

sekuler dengan sikap yang diajarkan Rasulullah Saw

kepada kita. Sikap yang bertentangan dengan sunnah

Rasulullah Saw ini dilakukan salafi untuk kepentingan

dawah mereka, mereka lebih mengutamakan dunianya dari

pada akhiratnya. Mengaku ahlus-sunnah tetapi dengan

menentangnya, bagaimana bisa?

Adapun menyiarkan dan menyebarkan kesalahan-kesalahan

penguasa (walaupun mereka benar-benar berbuat salah)

diatas mimbar-mimbar serta memprovokasi masyarakat

baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan,

dapat menimbulkan fitnah (malapetaka) yang merugikan

dakwah Ahlus Sunnah wal-jamaah (lihat 9, hal 40).

Salafi juga merestui pemimpin wanita yang nyata-nyata

tidak direstui oleh Rasulllah Saw dalam sebuah hadits

shahih-nya, salafi memahaminya sebagai realita dan

mencoba-mencoba disesuaikan dengan syariat. Ini

sungguh sikap pramatis dan menyalahi kaidah dalam


menetapkan hukum syariat, yakni menjadi realitas

sebagai sumber hukum. Seharusnya, realitas adalah

objek hukum bukan sebagai sumber hukum. Mengaku

ahlus-sunnah tetapi dengan menentangnya, bagaimana

bisa?

Tidak akan berjaya suatu kaum yang dipimpin oleh

seorang wanita adalah hadis shahih, walaupun realita

sekarang kita lihat banyak wanita yang menjadi

pemimpin, dalam hal ini kita diperintahkan untuk

melihat realita dan menyesuaikan dengan syariat. Jika

pemimpin wanita ini memerintahkan untuk taat kepada

Allah maka dia wajib dipatuhi, sebaliknya jika dia

memerintahkan untuk kemaksiatan maka kita tidak akan

patuh kepadanya (ihat 12).

Sehingga dapat kita maklumi kenapa salafi aman-aman

saja dan aktifis dawah mereka tidak ditangkapi ketika

berdawah dinegeri-negeri sekuler, karena dawah

salafi yang tidak berani terang-terangan mengkritik

penguasa dan mengungkapkan kemaksiaatan mereka kepada

Allah SWT. Baik penguasa wanita yang menyalahi ajaran

Rasulullah Saw yang mulia, maupun kebijakan penguasa

yang menyalahi syariat Allah SWT. Ini sungguh sikap

yang tidak terpuji, pengecut dan menjauhkan umat dari

pemahaman Islam yang benar, karena penguasa-penguasa

itu telah bermaksiat kepada Allah ketika tidak

menerapkan hukum-hukum Allah swt. Bahkan jika salafi


mempunyai keberanian mengkritik penguasa dan

mengungkapkan kemaksiaatannya, kemudian penguasa

membunuhnya maka ia mati syahid, inilah puncak segala

amal ibadah karena syurga balasannya,

Seutama-utamanya jihad adalah ucapan/menyampaikan

(kata-kata) yang haq di hadapan penguasa yang zalim.

[HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Nasai].

Pemimpin para Syuhada adalah Hamzah, dan seseorang

yang berdiri di hadapan penguasa yang dzalim kemudian

(ia) menasehatinya, lalu penguasa tadi membunuhnya.

[HR Hakim].

Bukankah salafi telah mengabaikan sunnah Rasulullah

saw yang mulia dalam mengkritik penguasa dan

mengungkapkan kemaksiaatan yang telah dilakukannya?.

Bukankah terbunuhnya para ulama karena menasehati

penguasa semisal Al-Banna dan Qutb setara dengan

syahidnya Hamzah dalam perang Uhud. Lantas seperti

apakah salafush-shalih (salafi) yang asli?, membebek

kepada penguasa dengan membuat fatwa-fatwa yang sesuai

keinginan penguasa sekuler atau dengan tegas mengkrtik

penguasa secara terang-terangan? Berikut kita bahas

seperti apa salafush-shalih yang asli!

Siapakah Salafush-Shalih Yang Asli?


Dalam masa keemasan kekhilfahan Islam para ulama

sangat berpengaruh dan selalu dimintai nasehat oleh

penguasa, tidak mau menemui (mendekati) penguasa dan

tidak segan-segan mengkritik penguasa dengan keras.

Kita bisa saksikan ulama tabiin Said bin Musayyab

yang menolak menemui Khalifah Abdul Malik bin Marwan

(692-705 M) disaat Khalifah meminta nasehat, karena

orang yang membutuhkan nasehatlah seharusnya yang

mendatangi para ulama, begitu kata Said bin Musayyab.

Said bin Musayyab juga pernah menolak menikahkan

puterinya dengan Al-Walid bin Abdul Malik (putra Abdul

Malik bin Marwan), malahan beliau menikahkan puterinya

dengan seorang duda yang miskin tetapi taat yakni Abu

Wadaah. Alasan beliau menolaknya adalah: Puteriku

adalah amanat dileherku, maka kupilihkan apa yang

sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya lihat

7, hal 22-32 Tetapi kenyataannya, Muhammad bin Abdul

Wahab sendiri berbesanan dengan keluarga Ibnu Saud

(lihat 3, hal 251).

Dalam kisah lain, ulama Hasan Al-Basri yang tidak

segan-segan menentang dan mengecam dengan keras

penguasa Iraq Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi. Saat Hasan

Al-Basri dipanggil oleh Hajjaj untuk dihukum mati,

Hasan Al-Basri datang dengan tabah dan berwibawa,

sehingga Hajjaj membatalkan hukumannya dan malah

meminta beberapa nasehat kepada Hasan Al-Basri.


Penguasa (wali/gubernur) baru Iraq berikutnya adalah

Hubairah Al-Fazari (masa Khalifah Yazid bin

Abdulmalik, 720-724 M), Hubairah menjalankan perintah

Khalifah Yazid yang kadang-kadang melenceng dari

Islam. Hasan Al-Basri memberikan nasehat kepada

Hubairah: Ya Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah

atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah.

Sebab ketahuilah bahwa Allah SWT bisa menyelamatkanmu

dari Yazid, sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu

dari Allah (lihat 7, hal 53-56).

Khatimah:

1. Keyakinan salafi bahwa mereka telah ada semenjak

nabi Adam AS, maka inilah golongan tertua didunia.

Tetapi setelah ditelaah sejarah kemunculan salafi,

maka terungkap salafi bermula dari dawah Muhammad bin

Abdul Wahab yang mengambil madzhab Hanbali sebagai

sumber pemikirannya. Sehingga pernyataan bahwa salafi

telah ada sejak nabi Adam AS, merupakan sikap arogan

dan mau menang sendiri saja.

2. Kaum wahabi (yang merupakan awal dawah salafi)

telah melakukan pembangkangan (bughat) kepada

kekhilafahan Utsmaniyah yang syah, dengan bantuan dana

dan senjata dari Inggris. Sikap ini sungguh

bertentangan dengan ajaran Rasulullah saw yang mulia,


untuk taat kepada Amirul muminin.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan

taatilah Rasul, serta ulil amri diantara kalian. (Qs.

an-Nisaa [4]: 59).

3. Sikap kaum wahabi yang menentang kekhilafahan

Utsmaniyah, bertolak belakang dengan sikap salafi yang

tidak berani mengkritik dan mengungkapkan kemaksiaatan

penguasa sekuler yang tidak menerapkan hukum-hukum

Allah swt, hal ini dilakukan untuk kepentingan dawah

mereka. Mereka lebih mengutamakan dunia dari pada

akhiratnya, padahal memberikan kritik kepada penguasa

sekuler merupakan bagian dari jihad.

Seutama-utamanya jihad adalah ucapan/menyampaikan

(kata-kata) yang haq di hadapan penguasa yang zalim.

[HR Ahmad, At-Tirmidzi dan Nasai].

4. Para tabiin yang harus kita teladani kehidupannya,

mereka mengkritik penguasa dengan keras dan

terang-terangan, semisal kisah tabiin Said bin

Musayyab, Hasan Al-Basri, dll, merekalah

salafush-shalih yang asli. Sedangkan mereka-mereka

yang tidak berani mengkritik penguasa dan

mengungkapkan kemaksiaatan mereka, bermesraan, serta

membuat fatwa-fatwa yang sesuai dengan keinginan

penguasa, kemungkinan besar salafush-shalih (salafi)


palsu!

5. Saksikanlah aktifis dawah dari Ikhwanul Muslimin,

Hizbut Tahrir, FIS Al-Jazair, Refaah Turki, Jamaat

Islami Sudan dan berjuta-juta aktifis Islam lainnya

yang memperjuangkan tegaknya Islam secara kaffah

dimuka bumi dan mengkritik kebijakan penguasa-penguasa

sekuler secara tegas dan terang-terangan, tetapi

mereka ditangkapi dan dibunuhi diberbagai belahan

dunia, mereka mengalami hal yang sama seperti yang

dialami para tabiin yang tegas dan terang-terangan

mengkritik penguasa dizamannya. Kemudian bandingkanlah

dengan salafi yang berdawah diberbagai negara dunia

secara aman, tenteram dan damai dibawah ketiak

penguasa-penguasa sekuler. Manakah diantara mereka

yang meneladani para tabiin?, manakah yang mendekati

salafush-shalih?. Semakin jelaslah sekarang, mana yang

meneladani salafush-shalih yang dan mana yang bukan!

Wallahualam,

Maraji:

1. Golongan yang selamat, Muhammad bin Jamil Zainu

2. http://www.salafy.or.id, fatwa ulama: Kapankah dakwah

salafiyah dimulai?

3. Aliran politk dan aqidah dalam Islam, Imam Muhammad

Abu Zahrah

4. Zikir cahaya kehidupan, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah


5. http://www.salafyoon.online: Syaikh Muhammad bin Abdil

Wahhab, Cyber Muslim Salafy

6. http://www.salafyoon.online: Ibnu Taimiyah, Dai dan

Mujahid Besar, Cyber Muslim Salafy

7. Insan teladan dari para tabiin, Abdurrahman Rafat

Basya

8. Menepis penyimpangan manhaj dakwah, Abu Abdullah

Jamal bin Farihan Al-Haritsi

9. Bunga rampai fatwa-fatwa syariyah, Abul Hasan

Musthafa

10.www.salafyoon.online: Mengapa Harus Salafiyah, Imam

Al-Bani

11.www.salafyoon.online: Dakwah Wahhabiyyah, Abu

Ubaidah Al Atsari dan Abu Usamah

12.www.salafyoon.online: Soal-Jawab: Bagaimana Dengan

Umara Indonesia, Salim Al Hilali

13.www.salafyoon.online: Soal-Jawab: Salafi

PENGKHIANATAN PENGUASA SAUDI

Dalam pidato pembukaan KTT Liga Arab yang dilangsungkan di Riyadh


tanggal 28 Maret 2007, Raja Abdullah Ibnu Saud mengatakan bahwa
kesengsaraan yang dialami bangsa Arab adalah akibat perselisihan
yang kerap terjadi di antara para penguasa Arab. Padahal mereka
hanya dapat mencegah kekuatan asing untuk merumuskan masa depan
wilayah itu jika mereka bersatu. Kemudian dia melanjutkan
pidatonya tentang sejarah Liga Arab, Pertanyaannya adalah, apa
yang telah kita lakukan dalam tahun-tahun belakangan ini untuk
menyelesaikan semua permasalahan itu? Saya tidak ingin menyalahkan
Liga Arab karena ia adalah sebuah entitas yang mencerminkan kondisi
kita secara menyeluruh. Kita seharusnya menyalahkan diri kita
sendiri; kita semua; pemimpin bangsa-bangsa Arab. Perbedaan-
perbedaan kita yang permanen, penolakan kita untuk mengambil jalan
persatuan, semuanya itu menyebabkan negara-negara Arab kehilangan
kepercayaan diri dan kredibilitas serta kehilangan harapan pada masa
kini dan masa depan kita.

Dia lalu menggambarkan beberapa persoalan yang dihadapi oleh Dunia


Islam, Di Irak yang kita cintai, pertumpahan darah terjadi di
antara saudara-saudara kita, dibayangi oleh pendudukan asing yang
ilegal, dan kebencian sektarianisme yang menjurus pada perang
saudaraDi Palestina, banyak orang menderita karena penindasan dan
pendudukan. Sangat mendesak untuk mengakhiri blokade yang
diberlakukan atas bangsa Palestina sehingga proses perdamaian dapat
terus berjalan dalam kondisi tanpa penindasan.

Apa yang digarisbawahi oleh Raja Abdullah dalam pidato pembukaanya


tentang problem masa kini yang dihadapi kaum Muslim sudah sangat
dimengerti oleh kaum Muslim di seluruh dunia. Namun, Dia melupakan
peran yang telah dimainkannya, juga peran keluarga Saudi dalam
menciptakan dan memperpanjang isu-isu semacam itu. Keluarga Saudi
memiliki riwayat panjang terkait dengan pengkhianatan mereka
terhadap umat. Mereka justru telah memainkan peran pentingnya dalam
mencegah persatuan di Dunia Islam.

Mulai awal tahun 2006, Raja Abdullah telah mencetuskan inisiatif


perdamaian yang akan mengakui Israel jika negara itu mengembalikan
tanah yang dirampasnya pada perang tahun 1967. Untuk itu, Raja
Abdullah bersedia menjadi perantara pada perjanjian antara
Pemerintahan Hamas dan Fatah. Raja Abdullah menunjukkan sikap yang
sebenarnya ketika Israel menginvasi Libanon pada bulan Juli 2006.
Saat itu, pada pertemuan KTT Liga Arab dia bersama Yordania, Mesir,
beberapa negara Teluk dan Otoritas Palestina, menghukum Hizbullah
atas tindakannya yang dianggap tidak diharapkan, tidak pantas dan
tidak bertanggung jawab. Menlu Arab Pangeran Saud al-Faisal pada
saat itu mengatakan, Tindakan itu akan membawa keseluruhan wilayah
ini kembali beberapa tahun mundur ke belakang. Kami tidak bisa
menerima hal itu.

Saudi Arabia, bahkan meminta Sheikh terkemuka, Abdullah bin Jabrin,


untuk mengeluarkan fatwa yang menyatakan tidak sahnya dukungan,
bantuan dan doa bagi Hizbullah.
Keluarga Saudi sering dalam beberapa kesempatan, bersama dengan
kekuatan penjajah Barat, bahu-membahu dalam menyediakan dukungan
aktif. Dalam Perang Teluk yang pertama, Raja Fahd dengan resmi
memerintah-kan penggelaran pasukan Amerika di tanah Saudi. Kerajaan
itu menjadi tuan rumah bagi 600,000 pasukan Sekutu hingga kas negara
mengalami defisit. Amerika mengeluarkan $60 miliar pada Perang Teluk
pertama. Kuwait membayar separuhnya dari anggaran itu. Saat ini,
5000 tentara AS masih bercokol di kerajaan itu sejak akhir Perang
Teluk. Sejak 1999, kehadiran mereka telah menimbulkan kejengkelan
bagi warga Saudi hingga dikeluarkannya Memorandum Nasihat setebal
46 halaman oleh 107 pemuka kelompok Wahabi kepada Raja Fahd.
Memorandum tersebut mengkritik pemerintah atas korupsi dan
pelanggaran lainnya serta kebijakan pemerintah yang tetap
membiarkan kehadiran tentara AS di tanah Saudi. Namun, jawaban yang
diambil oleh Raja Fahd adalah menangkap mereka.

Sejarah Pengkhianatan al-Saud

Pengkhiatan telah berakar dalam di tubuh Kerajaan


Saudi, yakni sejak keluarga Saudi memainkan peran
langsungnya atas kehancuran Khilafah dan pembentukan
negara Israel. Kantor Kementerian Luar Negeri Inggris
melakukan kontak-kontak dengan Ibnu Saud tahun 1851
untuk berhubungan dengan pihak-pihak yang dianggap
pantas untuk menjadi penentang Khilafah yang
beribukota di Istanbul. Keluarga Saudi pada saat itu
adalah segerombolan bandit yang terlibat dalam
percekcokan kesukuan, namun dengan uang dan senjata
dari Inggris. Ibnu Saud mampu mengkonsolidasikan
posisinya di wilayah-wilayah kunci di semenanjung
Arab dan akhirnya di seluruh semenanjung itu. Ini
terlihat pada perjanjian yang ditandatangani oleh
Inggris tahun 1865. Ketika itu Inggris menginginkan
sekutunya di wilayah itu untuk memberikan pijakan
pada wilayah Kekhalifahan Usmaniah yang sedang
sekarat. Sebagai imbalannya, Ibnu Saud menginginkan
bantuan logistik dan militer Inggris untuk
mengacaukan Kekhalifahan dari dalam.

Inggris memberikan Ibnu Saud sedikit subsidi yang


dipakai untuk memperluas dan mempertahankan pasukan
Wahabi. Pasukan ini adalah tulang punggung pasukan
Ibnu Saud untuk melawan Khilafah. Ibnu Saud berusaha
untuk memperoleh legitimasi dengan memakai gerakan
Wahabi, pengikut Muhammad ibnu Wahab, yang
berkeyakinan bahwa tanah Arab perlu dibersihkan
dengan opini Islamnya. Ibnu Wahab menggunakan Wahabi
untuk memberikan kredibilitas agama atas kebijakan
pro-Inggrisnya. kaum Wahabi melihat kesempatan ini
untuk melihat interpretasinya atas Islam agar menjadi
mazhab yang dominan di wilayah itu.

Tahun 1910 keluarga al-Saud menjadi orang-orang yang


lebih penting lagi bagi Inggris ketika mereka
memberontak terhadap Kekhalifahan Usmani, dengan
dukungan Inggris, dengan menyerang saudara sepupunya
Ibnu Rashid yang mendukung Khilafah. Subsidi yang
tadinya kecil menjadi bertambah dan sekomplotan
penasihat dikirim untuk membantu gerakan Ibnu Saud.

Pemberontakan Arab (1916-1918) diawali oleh Syarif


Hussein ibnu Ali dengan restu penuh Inggris.
Tujuannya adalah untuk memisahkan semenanjung Arab
dari Istanbul. Perjanjian ini diakhiri pada bulan
Juni 1916 setelah dilakukan surat-menyurat dengan
Komisi Tinggi Inggris Henry McMahon yang mampu
meyakinkan Syarif Hussein akan imbalan yang
diterimanya atas penghianatannya terhadap
Kekhalifahan, yakni berupa tanah yang membentang dari
Mesir dan Persia; dengan pengecualian penguasaan
kerajaan di wilayah Kuwait, Aden, dan pesisir Syria.
Pemerintah Inggris di Mesir langsung mengirim seorang
opsir muda untuk bekerja bersama orang Arab. Orang
itu adalah Kapten Timothy Edward Lawrence, atau yang
dikenal dengan nama Lawrence dari Arab.

Setelah kekalahan Kekhalifahan Usmani tahun 1918 dan


keruntuhan sepenuhnya tahun 1924, Inggris memberikan
kontrol penuh atas negara-negara yang baru terbentuk,
yakni Irak dan Trans-Jordan, kepada anak laki-laki
Syarif Hussein yaitu Faisal dan Abdullah seperti yang
sebelumnya dijanjikan. Keluarga al-Saud berhasil
membawa seluruh Arab di bawah kontrolnya tahun 1930.
Pandangan Inggris atas nasib Arab menyusul kekalahan
Khilafah tercermin pada kata-kata Lord Crewe bahwa ia
menginginkan, Arab yang terpecah menjadi kerajaan-
kerajaan di bawah mandat kami. Untuk peran itu,
keluarga Saudi menerimanya dengan senang hati.

Keluarga Saudi langsung bersekongkol dengan Inggris


untuk menghancurkan Khilafah. Jika tidak terlalu
buruk keluarga Saud juga akan langsung bersekongkol
dengan Zionis untuk mendirikan Israel. Raja Abdullah
1 dari Trans-Jordan yang diciptakan Inggris
mempelajari kemungkinan itu dengan David Ben Gurion
(Perdana Menteri Israel yang pertama) di Istanbul
tahun 1930-an. Abdullah menawarkan untuk menerima
pendirian Israel. Sebagai imbalannya, dia akan
menerima Jordania di bawah kontrol penduduk Arab di
Palestina. Tahun 1946 Abdullah mengungkapkan minatnya
untuk menguasai wilayah Arab di Palestina. Dia tidak
berniat untuk menentang atau menghalangi pembagian
Palestina dan pendirian negara Israel, seperti yang
digambarkan oleh seorang sejarawan.

Saudaranya Raja Faisal dari Irak bahkan melebihi


pengkhiatan Abdullah. Ketika itu, pada tahun 1919
Faisal menandatangani Perjanjian Faisal-Weizmann,
dengan Dr. Chaim Weizmann, Presiden organisasi Zionis
Dunia; dialah yang menerima dengan syarat Deklarasi
Balfour berdasarkan janji yang dipenuhi oleh Inggris
pada masa perang untuk kemerdekaan Arab.

Sejak tahun 1995 Saudi Arabia telah mengimpor $64.5


miliar dalam bentuk persenjataan, yang jauh melebihi
pengimpor kedua terbesar, Taiwan, yang melakukan
transaksi hanya sebesar $20.2 untuk persenjataan.
Namun, tidak satu pun senjata-senjata itu yang
digunakan untuk pertahanan bagi kaum Muslim atau di
area konflik tempat kaum Muslim ditindas. Satu-
satunya saat bagi Saudi ikut terlibat perang adalah
ketika terjadi Perang Teluk. Saat itu, dia terlibat
dalam mendukung koalisi terhadap Irak dan selama PD
I. Pembatalan yang baru-baru ini dilakukan antara
Saudi dan Inggris menunjukkan, bahwa keluarga Saudi
tidak pernah berkeinginan untuk membela kepentingan
kaum Muslim. Mereka hanya membeli persenjataan untuk
memastikan berlanjutan industri persenjataan tuan-
tuannya di Barat, sementara mereka tetap mengkhianati
umat.
http://allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2012/03/pengkhianatan-penguasa-
saudi.html
SAUDI MEMBANGUN REZIM
ISRAEL DI KERAJAANNYA SENDIRI
MEMBONGKAR KONSPIRASI
YAHUDI - SAUDI

pegang saudi Sebuah studi baru-baru ini meneliti tentang kesamaan rezim Israel
dan kerajaan Arab Saudi dalam hal kejahatan, rasialisme dan ekstremisme
agama dan madzhab. Di mana kedua kekuasaan ini sama-sama didirikan oleh
para intelijen Inggris dengan menjadikan keberlangsungannya bergantung pada
keberlangsungan yang lain. Dan kerajaan Arab Saudi didirikan untuk menjadi
landasan proyek Zionis Israel di Palestina.

Studi yang dilakukan oleh DR. Walid Saed al-Bayati berjudul Arab Saudi dan
Israel Penjahat Terbesar Sejarah Modern menyatakan bahwa tujuan
pembentukan kerajaan Arab Saudi adalah faktor utama didirikannya rezim Israel
dan keberlanjutan rezim ini setelah kurang dari 16 tahun sejak berdirinya
kerajaan Saudi.

Studi ini menyatakan bahwa kedekatan historis dan gen antara rezim Israel dan
kerajaan Arab Saudi menguatkan adanya kemiripan bahkan sampai pada batas
kesamaan secara sempurna di antara keduanya (Silahkan baca pada posting
terdahulu dihalaman ini) :

Pertama: Landasan

Masing-masing kekuasaaan ini dibentuk berdasarkan perintah para intelijen


Inggris. Kerajaan Saudi yang ada saat ini dalam sejarahnya didirikan dan diatur
oleh Harry St John Philby, yang dikenal dengan Haji Abdullah Philby, salah satu
agen intelijen Inggris di Jazirah Arab kala itu. Dan Israel telah dipersiapkan sejak
adanya janji atau pernyataan Mantan Menteri Luar Negeri Inggris Leonid Arthur
Balfour pada November 1917 (untuk membentuk negara Israel) yang ia kirim ke
salah satu tokoh terbesar Yahudi, Lionel Walter de Rothschild.
Kedua: Sektarianisme agama dan madzhab

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, sebuah negara berdiri atas dasar
mitos dan legenda dengan dalih kitab suci Taurat telah mengabarkannya.

Dengan demikian, Israel murni berdasarkan sektarian agama. Israel yang


mengklaim sekularisme adalah sebuah negara agama hingga ke tulang
sumsum dan ideologi politiknya mengikuti kisah-kisah kitab Taurat dan Talmud
yang menyatakan berdirinya Israel untuk membangun Haikal Sulaiman (Istana
Nabi Sulaiman) sebagai dasar kerajaan Ratu Israel. Yahudisme meletakkan
prinsip permusuhan dan peperangan melawan semua orang yang bertentangan
dan tidak sesuai dengannya.

Juga menganggap dirinya sebagai satu-satunya bangsa termulia, mengabaikan


bangsa-bangsa mulia lainnya yang ada dalam rentang sejarah, terutama bangsa
Arab karena Nabi Ismail sebagai kakek moyang bangsa Arab lebih besar dari
pada Ishak sebagai kakek moyang bangsa Yahudi, sebagaimana disebutkan
dalam sumber-sumber Taurat dalam sejarah hidup Nabi Ibrahim as.

Di lain pihak kita melihat kerajaan Arab Saudi sama seperti Israel, didirikan atas
dasar sektarian sebagai hasil penyimpangan Muhammad bin Abdul Wahab dan
Ahmad bin Abdul Halim, yang dikenal dengan Ibnu Taimiyah. Seperti pengkafiran
terhadap semua umat Islam, penolakan mereka khususnya Muhammad bin
Abdul Wahhab terhadap madzhab-madzhab Islam, merubah keyakinan kaum
muslim di Jazirah Arab dengan memaksa mereka meninggalkan madzhab
mereka dan mengikuti madzhab Wahabi yang telah ditolak oleh semua madzhab
Islam dan dianggap keluar dari ajaran Islam.

Muhammad bin Abdul Wahab mengkafirkan siapa pun dari kalangan umat Islam
yang bertentangan dengannya tanpa memperhatikan apa pun. Para penganut
ajaran Wahhabi menganggap hanya diri mereka saja yang muslim dan selain
mereka adalah kafir dan harus dibunuh. Tindakan mereka sama seperti apa yang
dia lakukan penganut Yahudi terhadap penganut agama lain sebelum atau
sesudah mereka.

Ketiga: Merampas Tanah


Orang-orang Yahudi merampas tanah Palestina dengan dalih adanya ikatan
historis dengan tanah tersebut menurut kitab Taurat yang disimpangkan sebagai
upaya mengembalikan Haikal Sulaiman yang mereka klaim. Mereka terus
membunuh, mengusir penduduk asli, mencaplok tanah dan merusak
infrastruktur dalam rangka mewujudkan proyek Zionis di Palestina, sementara
ikatan mereka dengan negeri Palestina terputus sejak 134 Sebelum Masehi. Itu
berarti lebih dari dua ribu tahun dan dengan demikian tidak ada lagi apa yang
disebut dengan hak sejarah bagi mereka di Palestina.

Serupa dengan komplotan keluarga Saudi yang menyatu dengan pemikiran


Wahhabi Salafi untuk menduduki tanah Jazirah Arab dan memerangi suku-suku
Arab dengan memanfaatkan kekuatan militer sekutunya yaitu tentara Inggris,
dipimpin oleh Kapten Arthur William Shakespeare.

Umat manusia tidak mengenal kejahatan seperti yang dilakukan oleh komplotan
Ibnu Saud dan Ibnu Abdul Wahab dalam membunuh kaum perempuan, merobek
perut mereka yang hamil, memerangi siapa pun yang menentangnya,
membantai laki-laki dan anak laki-laki. Sama seperti yang mereka ulangi
sekarang di Irak.

Tetapi petaka yang terbesar adalah mereka telah meletakkan nama Ibnu Saud
untuk semua Jazirah Arab yang dipenuhi keberagaman suku dan ras, dan telah
merubah sejarahnya yang panjang. Bahkan Nabi Terakhir saw tidak pernah
menamakan wilayah-wilayah Islam di masanya dengan namanya sendiri
meskipun beliau menyandang kemulian insani. Sebagaimana penamaan kota
Yatsrib menjadi Madinah atas perintah ilahi yang dinyatakan dalam al-Quran.
Adapun Abdul Aziz bin Abdur Rahman Al-Saud (1876M 1953M) dan putra-
putranya tidak mempunyai hak merampok sejarah Jazirah Arab, sebagaimana
orang-orang Yahudi tidak mempunyai hak yang sama di Palestina, yang telah
mereka tinggalkan sejak tahun 1200 Sebelum Masehi.

Keempat: Penyimpangan kitab suci dan sunnah para rasul

Sejarah kaum Yahudi adalah sejarah yang tidak wajar dikarenakan penolakan
terus-menerus mereka terhadap perintah ketuhanan dan kekerasan hati mereka
di hadapan kehendak Tuhan. Karenanya mereka membunuh para nabi,
memutarbalikkan Taurat dan merubah sunah Nabi Musa as. Dari sini para nabi
orang-orang Yahudi adalah figur-figur yang luar biasa sesuai ukuran
penyimpangan dan kejahatan kaumnya, sehingga al-Quran mengabadikan
mereka dalam banyak ayat dan surat tentang para nabi mereka dan
penyimpangan mereka terhadap kitab suci dan klaim mereka atas Allah.

Allah SWT berfirman tentang mereka: Orang-orang Yahudi berkata: Uzair itu
putra Allah dan orang Nasrani berkata: Al-Masih itu putra Allah. Demikian itulah
ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang
kafir yang terdahulu. Mereka dilaknat Allah; bagaimana mereka sampai
berpaling? (At-Taubah : 30)

Di sisi lain, mirip yang dilakukan nenek moyang mereka yang yahudi, keluarga
Saud pun merubah risalah langit. Mereka secara langsung tidak bisa merubah
nash-nash al-Quran namun mereka memutarbalikkan artinya dan
menafsirkannya dengan hawa nafsu mereka seperti yang dilakukan Ibnu
Taimiyyah dan Ibn Abdul Wahhab dengan pernyataan mereka bahwa Allah
berjasad. Mereka menghina Nabi saw dengan menyandarkan kehinaan,
kesalahan, kelemahan, menyimpangkan sejarah dan riwayat hidupnya, dan
menyadarkan kepada beliau kekufuran serta hal-hal yang tidak boleh
disandarkan kepada manusia biasa, bagaimana boleh disandarkan kepada Nabi
Muhammad Saw. Dan secara khusus kami telah menulis tentang hal itu dalam
kajian-kajian yang telah dipublikasikan maka tidak perlu kami mengulanginya
lagi di sini.

Mereka memiliki watak munafik dengan klaim hanya mereka saja yang berhak
atas Islam karenanya mereka berbeda dengan kaum muslim dalam penampilan,
pakaian dan kebiasaan-kebiasaan yang membuat jijik manusia namun mereka
menganggapnya sebagai keindahan. Ironisnya sebagian orang-orang bodoh
tergoda akan hal itu.

Dalam hal ini Allah SWT berfirman: Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-
tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika kamu mendengarkan
perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka
mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka
itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga
Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari
kebeneran)? (Al- Munafiqun : 4)

Kelima: Penghancuran bekas peninggalan para nabi serta pemusnahan warisan


Islam
Di Palestina, khususnya di Yerusalem kita melihat orang-orang Yahudi berupaya
keras menghancurkan Masjidil Aqsha dengan terus menerus menggali
fondasinya dengan dalih penelitian atau pencarian bekas peninggalan Haikal
Sulaiman yang mereka klaim. Ini belum lagi penghancuran mereka atas
peninggalan kuno penganut agama lain, khususnya masjid-masjid Islam
bersejarah seperti yang dirilis dokumen resmi pusat-pusat penelitian sejarah.

Di lain pihak, sejarah kerajaan Saudi didasari pada penghancuran sistematis


seluruh bukti-bukti sejarah Islam di Jazirah Arab. Tidak tersisa di Mekah kecuali
Kabah dan Masjidil Haram yang mereka permainkan setiap tahun dengan dalih
pembangunan hingga hilang bentuk aslinya. Di Mekkah mereka pun
menghancurkan semua bekas peninggalan Nabi Muhammad Saw termasuk
tempat kelahiran beliau, rumah beliau, rumah Sayyidah Khadijah ra, tempat
kelahiran Sayyidah Fathimah Az-Zahra ra dan rumah-rumah Nabi Muhammad
yang lain serta rumah-rumah para sahabat mulia.

Di Madinah Munawwaroh tidak tersisa kecuali makam Rasulullah Saw setelah


mereka hancurkan semua peninggalan-peninggalan Islam khususnya yang
berhubungan dengan pemerintahan Rasul di Madinah. Mereka menghancurkan
rumah-rumah beliau, rumah-rumah Ahlul Baitnya yang suci, rumah-rumah Bani
Hasyim dan masjid-masjid Islam. Mereka juga menghancurkan dengan sengaja
Makam Baqi (Kuburan bersejarah umat Islam) setelah menghancurkan kubah-
kubahnya dan masjid-masjid khususnya yang berhubungan dengan para Imam
Ahlul Bait, di samping semua peninggalan yang ada pada masa Hijrah nabi.

Mereka juga telah berupaya menghancurkan kubah agung yang dibangun di atas
kuburan Rasulullah Saw dan andai ketika itu tidak ada upaya penghentian dan
penentangan umat Islam niscaya tidak ada lagi yang tersisa dari makam Nabi
Muhammad Saw.

Sesungguhnya semua penghancuran dan kejahatan yang telah terjadi atau yang
sedang terjadi pada mulanya adalah fatwa langsung dari Ibnu Abdul Wahhab,
kemudian dari para ulama suu mereka seperti Ibnu Utsaimin, Ibnu Jabran, Aali
Syaikh dan baru-baru ini Muhammad Al-Arifi (Ulama saudi yang akhir-akhir ini
terus menghina dan mengkafirkan umat Islam yang berbeda pemahaman
dengannya).

Kemiripan dan kesamaan antara kejahatan kaum Yahudi dan kaum Wahhabi
sampai pada tahap kesesuaian dalam kebencian mereka terhadap semua yang
datang dari langit dan kedengkian mereka terhadap Risalah Islam yang
representatif dari Ahlul Bait Nabi dan para pengikutnya.

Sebagaimana kerusakan dan pengrusakan adalah watak yang melekat pada


kaum Yahudi begitu juga halnya watak yang melekat pada kaum Wahhabi.
Mereka telah merusak keyakinan dan syariat Islam sebagaimana mereka telah
merusak kehidupan dan sejarah Islam.

Kerusakan anak-anak Saud dan kaum Wahhabi adalah bentuk lain dari kerusakan
kaum Yahudi jika kita mengetahui hubungan gen di antara mereka. Karena etnis
keluarga Saud ternyata kembali pada kakek mereka yang seorang Yahudi
bernama Markhan sebagaimana dinyatakan dalam silsilah keturunan mereka.
Walaupun kemudian para sejarawan mereka dengan berbagai upaya berusaha
memalsukan fakta sejarah ini. Namun, kemudian menjadi kebenaran tak
terbantahkan setelah ensiklopedia Israel sendiri menerbitkan adanya hubungan
etnis ini.

Setiap hari surat kabar Eropa dan Amerika tak henti-hentinya mengabarkan
kepada kita berita para pangeran dan putri dari keluarga Saud. Pengadilan di
Eropa dan Amerika Serikat dipenuhi dengan berbagai kasus perdata, pidana dan
kewarganegaraan. Beberapa dari mereka datang untuk membunuh,
memperkosa, menipu dan menyalahgunakan status diplomatik untuk
menyelundupkan, menjual dan membeli narkotika serta perdagangan wanita dan
organ manusia.

Kedua negara ilusi ini, Zionis Israel dan kerajaan Arab Saudi telah membawa
virus kehancuran mereka sendiri sejak awal didirikannya. Kerusakan,
ketidakadilan dan penyimpangan adalah bagian dari unsur-unsur kehancuran itu
dan unsur-unsur itu terkumpul dengan bentuk berbeda pada kedua negara ini.
Tetapi tidak berhenti di sini saja, ketika kita mulai mendengar laporan terbaru
dari sekutu terpenting mereka, AS yang mempertanyakan keuntungan
melanjutkan dukungan mereka atas Israel di Palestina dan keberlanjutan
hubungan mereka dengan Arab Saudi sebagai teman lama, khususnya di saat
minyak Saudi tidak lagi menjadi faktor yang mempengaruhi Amerika dalam
mengambil keputusan.

Di sisi lain para pakar militer AS menyakini Arab Saudi tidak layak menjadi pusat
komando militer AS di Teluk Persia, seperti yang diutarakan Donald Rumsfeld dan
Laksamana David Nichols, namun hanya dijadikan sebagai pusat penyimpanan
senjata.
Dari pendapat mereka kemudian pusat komando AS dipindahkan ke Qatar
beberapa tahun yang lalu. Kemudian terjadilah beberapa kesepakatan pembelian
peralatan militer seperti pesawat tempur, rudal, tank, amunisi dan berbagai jenis
senjata. Baru-baru ini juga terjadi kesepakatan pembelian rudal Patriot yang
dijual kepada Arab Saudi dengan harga miliaran dolar. Rencana penjualan
senjata ke Arab Saudi dan ke sejumlah negara Teluk adalah langkah
penyimpanan senjata sampai tiba saatnya peperangan melawan Iran.

Perbatasan Arab Saudi akan menjadi tempat peluncuran rudal zionis Israel untuk
menyerang Iran atau Hizbullah. Peperangan yang nantinya akan menghabiskan
peralatan militer AS yang disimpan di kawasan Teluk dan juga memusnahkan
peralatan militer Arab Saudi. Di saat itulah Arab Saudi akan menyaksikan dirinya
lebih kecil dari batu kerikil yang ditendang anak-anak.

Wallaahu Alam

http://allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/10/saudi-membangun-rezim-israel-
di.html

STANDARD GANDA TIGA VARIABEL -


WAHABI, SAUDI DAN AMERIKA

WSA Saudi, Wahabi dan Barat; ketiga variable ini memiliki keterkaitan yang
saling menguntungkan untuk mendukung kepentingannya masing-masing. Saudi
yang memiliki kepentingan penguasaan politik dan ekonomi membutuhkan
legitimasi agama dari Wahabi, pada satu sisi. Dan pada saat yang tepat Wahabi
menawarkan diri bekerjasama dengan Saudi untuk mengeluarkan fatwa-fatwa
keagamaan yang sesuai dengan fahamnya yang puritan dan konservatif (Salah
satu konservatisme ini diceritakan pada buku Ad Hussain The Islamist,
terpanggangnya hidup- hidup 15 siswi sebuah sekolah di Saudi saat kebakaran
melahap asrama putri tersebut. Gara-gara mutawwieen (polisi agama) melarang
para anggota pemadam kebakaran masuk ke asrama, karena beralasan di dalam
sana para siswi tidak memakai jilbab, hijab, dan semacamnya. Ad Hussain, the
Islamist, (New York, Penguin Book 2007), 245).

Sedangkan Wahabi memiliki kepentingan terhadap kebutuhan modal kepada


Saudi untuk melanggengkan ajarannya, pada satu sisi. Pada sisi lain, Wahabi
sadar bahwa Saudi tidak dapat ditangguhkan untuk melakukan penjaminan pada
kelompoknya, sehingga Wahabi kembali bekerjasama dengan Barat untuk
meminta jaminan perlindungan terhadap penyebaran paham
fundamentalismenya. Wahabi menggunakan dua strategi dalam jalinan
kerjasama dengan Barat yaitu menginginkan keuntungan dan jaminan
perlindungan masyarakat Amerika terhadap kelompoknya, walaupun pada saat
yang sama Wahabi menolak dan memberangus landasan kebebasan beragama
Amerika Serikat (Stephen sulaiman Schwartz, the two face of Islam; Saudi
fundamentalism and its role in terrorism, yang diterjemahkan oleh Hodri Ariev
dengan judul dua wajah Islam; moderatisme dan fundamentalisme dalam
wacana global, 330).

Bagi Saudi, paham purifikasi yang melekat pada Wahabi ini bisa menjadi pondasi
untuk melegalkan politiknya (Lihat : Noah Salomon, the salafi critique of
Islamism; doctrine, difference and the problem of islmic political action in
contemporary sudan, dalam Roel Meijer (ed), Global Salafism; Islams new
religious movement, (London, Hurst & Company 2009), 151). Pada sisi yang lain,
Saudi membutuhkan kerjasama dengan Barat untuk meneguhkan dan
melebarkan sayap ekonominya. Dan begitupun Amerika Serikat juga memiliki
motif ekspansi perekonomian di Arab Saudi. Dan oleh karena itu, Amerika Serikat
bekerjasama dengan Saudi untuk kepentingan ekonomi dan politik. Mereka
bekerjasama untuk melanggengkan kesatuan kekuatan politik dan ekonomi,
maka terciptalah ARAMCO dan pangkalan Militer Amerika di wilayah negaranya.

Legitimasi para ulama Wahabi memberikan stabilitas politik yang dipaksakan


buat Saudi, dan secara eksternal telah mendistorsi logika berfikir umat Islam
dunia yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam sejarah pemikiran Islam,
Wahabi sebenarnya tidak menempati posisi penting, bahkan secara intelektual
bisa dikatakan dengan jenis kelompok yang marjinal. Wahabi menjadi signifikan
karena dakwah extreem-nya dalam sisi gelap sejarah Islam, bukan karena
pemikirannya, tapi karena kekuasaan politik Ibn Saud dan penerusnya. Di
samping itu, para peneliti dan sejarawan Islam memandang Wahabi sebagai
fenomena khas yang terpisah dari aliran pemikiran maupun gerakan Islam
lainnya. Meskipun Wahabi dan Saudi berusaha menghapus sejarah lama dengan
menghancurkan situs-situs Islam dan mencipta sejarah baru menurut versinya,
namun sejarah dan track recordnya yang suram tetap menjadi suara terbanyak
dari ummat Islam itu sendiri maupum pemerhati barat

Ketiga variabel ini semuanya menggunakan teknik standard ganda.

http://allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/10/standard-ganda-tiga-variabel-
wahabi.html

PENGKHIANATAN RAJA SAUDI ATAS


PALESTINA
Sebuah dokumen rahasia terungkap mengenai hubungan pendiri kerajaan Arab
Saudi dengan Inggris dan pendapat mereka tentang pembentukan negara Israel.

Fars News hari ini (Rabu, 28/9) melaporkan, beberapa waktu lalu, terkuak
dokumen rahasia bersejarah yang mencantumkan pengkhidmatan Raja Abdul
Aziz, pendiri kerajaan Arab Saudi, terhadap pemerintah Inggris dan
pengkhianatannya terhadap bangsa Palestina.

Dalam dokumen yang untuk pertama kalinya dipublikasikan oleh majalah al-
Arabi terbitan Kuwait pada bulan Shawal 1329 Hijriah atau bertepatan pada
tahun 1972, Raja Abdul Aziz dengan tulisan tangannya menyatakan, "Saya
Sultan Abdul Aziz bin Abdul Rahman al-Faisal al-Saud, beribu-ribu kali
menyatakan kepada perwakilan Britania, Sir Percy Cox, bahwa saya tidak ada
masalah dengan pemberian [wilayah] Palestina kepada kaum Yahudi yang
terlantar atau bahkan kepada non-Yahudi dan dalam hal ini saya tidak akan
melanggar persetujuan saya sampai hari kiamat."

(IRIB/MZ/28/9/2011)
http://allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/10/pengkhianatan-raja-saudi-atas-
palestina.html

FAKTA-FAKTA ANEH DIBALIK


KERAJAAN SAUDI

Saudi Arabia mengalir dengan riak tenang yang mempunyai gelombang besar di
dalamnya, dan ditutup dengan arus kecil, seolah-olah semuanya baik-baik saja.
Dibandingkan dengan negara-negara Arab lainnya, dari segi apapun, Saudi aman
terkendali. Pemasukannya per tahun terus meningkat, atau paling tidak
cenderung stabil, dan untuk beberapa puluh tahun ke depan, mereka tak akan
terpengaruh dalam perangkap krisis ekonomi global. Jamaah haji yang sudah
dipastikan membanjir bagai air bah setiap tahun merupakan salah satu jaminan
besar, selain juga kekayaan minyak bumi yang berlimpah. Hingga tak heran,
anak muda Saudi mayoritas berpikiran tak perlu harus bekerja keras atau belajar
dengan susah payah.

Toh semua itu tak menyembunyikan gejolak yang semakin panas di negara itu.
Di satu sisi, para pemuda Saudi telah sedikit berani membuat riak-riak kecil.
Mereka telah sadar bahwa selama ini, sejak bertahun-tahun lamanya, raja
merekasiapapun yang sedang berkuasatelah mengebiri gerakan dan
perkembangan Islam yang justru mereka lihat di negara-negara lain.

Ada ketertarikan yang besar pada sebagian pemuda Saudi untuk belajar
mengenal gerakan Islam. Di negara itu, bayangkan, kerumunan lebih dari 10
orang akan selalu menjadi masalah. Apalagi di dalam masjid. Pada awalnya, para
pemuda ini masih mau mengunjungi ulama-ulama yang mereka percayai seperti
Shaykh 'Ali al-Khudhayr, Shaykh Nasir al-Fahd dan Shaykh Ahmad al-Khalidi.
Namun seiring perkembangan yang cenderung makin membesar, maka semua
ulama itu dibekuk pemerintah, dan dijebloskan ke dalam penjara dengan waktu
yang tidak ditentukan. Dalih penangkapan itu adalah ketiga ulama ini merupakan
pentolan kelompok Al-Muwahhidden, yang mempunyai banyak persenjataan dan
bom. Para Syeh ini sampai detik terakhir mereka diringkus, membantah tuduhan
tersebut.

Para pemuda Saudi berada dalam ketakutan dan kebingungan pada waktu yang
bersamaan. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengalaman menghadapi
opresi penguasa. Otomatis mereka tidak lagi mempunyai tempat yang layak
untuk bertanya. Mereka ketakutan karena peristiwa penangkapan itu bisa terjadi
pada mereka. Bingung karena tak ada pula pengalaman terhadap konspirasi
besar.

Mengapa Saudi sangat membatasi gerakan-gerakan Islam bahkan boleh dibilang


memberangusnya? Ada beberapa fakta yang menarik untuk disingkap:

Rejim Saudi, seperti juga sebagian besar negara-negara Arab lainnya, adalah
pemerintahan yang menyatukan antara yang benar (haqq) dan salah (batil).
Aspek Haqq Saudi hanya bisa kita lihat dari simbol-simbol yang mereka pakai;
bendera Saudi, klaim negara Islam, dan penerapan Syariah. Namun, di balik itu
sebenarnya Saudi juga tak berbeda dengan negara sekuler lainnya.

Beberapa tahun sebelumnya, Saudi menggandeng Inggris untuk sama-sama


memberantas gerakan Ikhwan di negaranya itu. Seorang anggota kerajaan
pernah mengungkapkan hal ini. Sekarang, bukan rahasia lagi kalau Saudi akrab
dengan AS. AS sudah dijadikan sebagai pelindung Saudi.

Komite Tetap Saudi (al-Lajnah ad-Da'imah) mengeluarkan fatwa: Siapapun


yang tidak membedakan antara Yahudi dan Kristen dan orang kafir lainnya
dengan bangsa Muslim kecuali karena kebangsaannya, dan menganggap semua
penguasa sama, maka dia adalah kafir. Sebuah fatwa yang sesungguhnya
membuat banyak orang berkerut dahi, namun efektif dalam meredam
masyarakat Saudi. Karena, bukankah pemerintah Saudi sendiri persis seperti itu?

Perempuan Saudi tidak boleh menikah dengan laki-laki yang bukan dari Saudi.
Dan seorang laki-laki Saudi tidak boleh menikah di luar Saudi kecuali sudah
memenuhi persyaratan umur. Sebuah peraturan yang dibuat-buat karena Islam
sendiri tidak cupat seperti ini.

Ribuan orang terbantai di negara-negara Muslim di wilayah Arab, tapi apa


yang dilakukan oleh pemerintah dan rejim Saudi? Tidak ada. Rejim Saudi hanya
menyuruh para Syeikh-nya untuk berdoa untuk umat Islam, dan masyarakatnya
dianjurkan untuk mengumpulkan dana bantuan yang disebarkan ke seluruh
dunia, utamanya untuk pembangunan masjid. Maka jangan heran, jika di sebuah
pelosok terpencil di Indonesia misalnya, bisa ada sebuah masjid besar yang
megah dengan tulisan di peresmiannya: "Sumbangan dari (kerajaan) Saudi..."

Saudi membangun hubungan diplomatik dan non-diplomatik dengan negara-


negara yang jelas telah membantai umat Islam dalam jumlah yang luar biasa
banyak. Dalam hal ini yang mempunyai hubungan harmonis dengan Saudi
adalah India, Russia, Filipina, Amerika (tentu saja!), Cina, dan Israel.

Amerika mempunyai basis militer di Saudi, dan pemerintah Saudi melarang


rakyatnya yang mendoakan keburukan untuk Amerika di masjid-masjid di negara
itu.

Rejim Saudi juga membantu dan mendirikan saluran-saluran TV yang banyak


sekali saat ini. Selain TV, mereka juga membantu pendanaan media-media
internasional.

Keluarga kerajaan Saudi tidak boleh dihina oleh siapapun. Jika ada yang
melakukannya, maka akan dikenakan hukuman yang berat, bahkan dihukum
mati. Tapi pemerintah Saudi tidak peduli kepada para pelaku yang menghina
Allah dan agamaNya. Misalnya saja, seorang Saudi zindiq, Turki al-Hamd menulis
sebuah buku berjudul al-Karadeeb dan di dalamnya terdapat kalimat Jadi,
Allah dan setan adalah dua wajah dengan satu penemuan, tidak dikenakan
hukuman apapun, dan bukunya yang penuh dengan cerita kekafiran beredar
bebas di negara itu.

Sumber : Era Muslim

SALAFI MELAWAN SALAFI -


PERKEMBANGAN SALAFI DI INDONESIA
DAN PERPECAHANNYA DIANTARA
MEREKA

Perkembangan gerakan salafi di Indonesia tidak mungkin dilepaskan dari


dinamika internasional sebagaimana disebutkan di atas. Bahkan boleh dikatakan,
dinamika gerakan salafi Indonesia sebagian besar merupakan perpanjangan dari
perkembangan internasional.

Sama seperti kecenderungan internasional, gerakan salafi baru muncul di


Indonesia pada awal dekade 1980-an. Dorongan utamanya adalah berdirinya
lembaga LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab) yang
merupakan cabang dari Universitas Imam Muhammad ibn Saud Riyad di
Indonesia. LIPIA pertama kali dipimpin oleh Syeikh Abdul Aziz Abdullah al-
Ammar, murid tokoh utama salafi Syeikh Abdullah bin Baz.

LIPIA menggunakan kurikulum Universitas Riyad, staf pengajarpun didatangkan


langsung dari Saudi. Salah satu yang membuat banyak mahasiswa tertarik
belajar di LIPIA, karena LIPIA menyediakan beasiswa berupa uang kuliah dan
uang saku. Lebih dari itu, LIPIA juga menjanjikan para alumninya untuk bisa
melanjutkan tingkat master dan doktoral di Universitas Riyad di Saudi.

Alumni LIPIA angkatan 1980-an, kini menjadi tokoh terkemuka di kalangan salafi.
Diantaranya adalah Yazid Jawwas, aktif di Minhaj us-Sunnah di Bogor; Farid
Okbah, direktur al-Irsyad; Ainul Harits, Yayasan Nida'ul Islam, Surabaya;
Abubakar M. Altway, Yayasan al-Sofwah, Jakarta; Ja'far Umar Thalib, pendiri
Forum Ahlussunnah Wal Jamaah; and Yusuf Utsman Baisa direktur al-Irsyad
Pesantren, Tengaran.

Sebagaimana ciri umum salafi, generasi 1980-an LIPIA tersebut sangat anti
terhadap kelompok Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jamaah Tabligh dan Darul
Islam. Jangankan untuk bergaul dengan mereka yang berorganisasi, dengan
sesama salafi yang berorganisasipun mereka menolak untuk dibantu secara
keuangan.

Dari generasi 1980-an lahir Jafar Umar Thalib. Dia adalah lulusan pertama LIPIA
dan menjadi perintis pertama gerakan dakwah salafi di Indonesia. Diantara
lulusan LIPIA, Jafar berangkat ke Yaman pada tahun 1991 untuk belajar pada
Sheikh Mukbil ibn Hadi al-Wad'i, di Dammaz, Yaman. Seperti sudah disinggung
sebelumnya, Mugbil adalah tokoh salafi puritan. Karakter ini akan menurun pada
Jafar. Sedangkan Yusuf Baisa, lulusan LIPIA lainnya, belajar langsung ke Arab
Saudi dan belajar dari kalangan syeikh sahwah Islamiyah. Karena as-sahwah
terpengaruh Ikhwanul Muslimin, maka pandangan Yusuf Baisa nantinya juga
sangat berbeda dengan Jafar.

Konflik Salafi

Perkembangan salafi di Indonesia ternyata rawan konflik. Sumber konflik


pertama adalah bias konflik di level internasional. Di Indonesia, hal ini
termanifestasikan dalam tindakan saling kecam antara mereka yang tergabung
dalam salafi puritan dan mereka yang terkait dengan jaringan Sururiah. Sedang
konflik kedua adalah ketegangan guru-murid karena ulah sang murid yang
dianggap melenceng oleh sang guru. Tipe konflik kedua inilah yang dialami oleh
Jafar Umar Thalib. Sedang konflik ketiga adalah konflik sesama ulama salafi.

Ada dua konflik besar yang terjadi dikalangan Salafi, pertama konflik antara
Jafar Umar Thalib dengan Yusuf Baisa. Kedua konflik Jafar Umar Thalib dengan
Muhammad Assewed, dan Yazid Jawwaz. Konflik ini berimplikasi pada jaringan
mereka yang terpecah-pecah. Muara dari pertikaian adalah munculnya dua
group besar mengikuti pembelahan di level internasional: sururi dan puritan.

Konflik pertama, antara Jafar Umar Thalib dengan Yusuf Baisa sampai pada
tahap mubahalah (beradu doa, siapa yang berbohong akan celaka). Yusuf Baisa
seperti juga Ja'far Umar Thalib merupakan alumni pesantren PERSIS Bangil.
Keduanya melanjutkan studi ke LIPIA. Namun, Yusuf Baisa meneruskan ke Riyadh
sedangkan Jafar meneruskan ke Yaman.

Sekembali dari Yaman, Ja'far Umar Thalib mendengar khabar bahwa Yusuf Baisa
mengkampanyekan pandangan yang berbeda dengan salafi. Yusuf Baisa
mengatakan agar dakwah menjadi efektif, maka harus mempunyai kemampuan
berorganisasi seperti kalangan Ikhwan al Muslimun, bijaksana seperti Jamaah
Tabligh, dan mempunyai ilmu pengetahuan seperti Salafi, dalam hal saling
memahami masalah aqidah. Sebagian pendengar menyampaikan pernyataan ini
pada Ja'far.

Ja'far mendengar berita ini sangat marah sekali pada Yusuf, karena menganggap
gerakan Salafi seperti gerakan Ikhwan yang terorganisir. Abu Nida coba
mendamaikan keduanya, berlaku sebagai mediator. Yusuf dan Jafar bertemu dan
untuk memberikan klarifikasi, hal ini terjadi di rumah Jafar dan dipimpn oleh Abu
Nida dan dihadiri oleh tiga pemimpin Salafi lainnya.

Yusuf mengakui kesalahannya dan berjanji tidak akan membicarakan manfaat


hizbiyah seperti Ikhwan al Muslimun. Pendeknya pertemuan itu menghasilkan
kesepakatan bahwa Yusuf Baisa akan kembali ke riil salafi. Yusuf juga setuju
untuk mengumumkan kepada para aktifis Salafi bahwa dia telah kembali ke jalan
yang benar, dengan demikian dia meyakinkan bahwa Salafi harus tetap bersatu.
Yusuf juga membuat pertemuan pada bulan Juni 1994 di masjid Utsman bin Affan
dekat rumah Ja'far, untuk menyelesaikan persoalan mereka.

Namun Yusuf beberapa bulan kemudian menyatakan hal sama kembali. Pada
sebuah ceramah tentang konsep keadilan, Yusuf merekomendasikan tulisan
beberapa kalangan Salafi dimana Jafar menyebut mereka sebagai Sururiyah.

Perkembangan pertengkaran antara keduanya semakin memburuk. Yusuf


mengadakan diskusi mengkritik buku Jafar. Jafar menuduh Yusuf melakukan
fitnah, karena itu Jafar menulis gerakan Sururi memecah belah Ummat. Yusuf
merespon pandangan Jafar dengan mengajak mubahalah.

Setelah diadakan Mubahalah perpecahan semakin tak bisa dihindari. Jafar


meminta semua kalangan salafi untuk ikut bersamanya atau berhadapan
dengannya. Semua guru-guru Salafi yang datang bersamanya yang umumnya
berasal dari FKASWJ.

Konflik kedua terjadi antara Jafar Umar Thalib dengan Muhammad Assewed dan
Yazid Jawwas. Kedua tokoh tersebut terbilang mantan murid-murid Jafar Umar
Thalib. Namun kini hubungan antara guru dengan murid terputus sudah, mereka
saling membidahkan satu sama lain.

Konflik antara Jafar Umar Thalib dengan Muhammad Assewed terjadi setelah
kembali dari jihad Ambon. Sepulang dari Ambon Jafar melakukan perenungan
dakwah. Diantara perenungannya adalah menyadari telah terjadi kesalahan yang
amat fatal dalam melakukan dakwah Salafiyah yaitu terlalu memprioritaskan
aqidah sementara itu dalam segi akhlaq tidak terlalu terperhatikan. Akibatnya,
para murid Jafar sulit untuk toleran terhadap orang lain yang tidak sepaham
dengan manhaj Salafi. Dengan demikian, dakwah manhaj Salafi menjadi ditakuti
orang lain, bukan malah sebaliknya dicintai kaum muslimin.
Padahal dalam ajaran Islam antara akhlaq dengan aqidah berdiri satu jajar dan
tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lain.

Memprioritaskan antara aqidah atau akhlaq akan menimbulkan kepincangan


dalam dakwah. Seperti yang dialami kalangan Salafi, masyarakat bukan tidak
mau menerima kebenaran ajaran, namun menjadi takut melihat akhlaq dai yang
tidak mempunyai jiwa toleran sama sekali.

Tak hanya itu, kuatnya doktrin dalam rangka membina aqidah berakibat pada
keengganan murid berbeda pendapat dengan gurunya. Hal ini berimplikasi tidak
adanya penelaahan terhadap kitab yang ada, sebab segalanya telah diserahkan
pada guru (syaikh). Sikap demikian, pelan namun pasti menimbulkan sikap
taqlid, dimana hal ini sangat ditentang dalam manhaj Salafi.

Refleksi pemikiran ini rupanya tak bisa diterima para muridnya. Diantaranya
yang menolak pemikiran Jafar adalah Muhammad Assewed. Menurut Assewed,
pemikiran Jafar ini dianggap sebagai melemahnya sikap Jafar terhadap ahlul
bidah. Padahal menurut Assewed, memperingatkan ummat dari ahlul bid'ah dan
mentahdzir ahlul bid'ah, membenci mereka, menghajar mereka, memboikot
mereka dan tidak bermajlis dengan mereka, adalah kesepakatan dalam ajaran
salafi.

Hasil perenungan Jafar dianggap sebagai sikap kompromi terhadap bidah,


karena itu aqidah Jafar patut dipertanyakan, apakah masih dalam manhaj Salafi
atau sudah keluar? Berita ini sampai juga ketelinga para guru di Timur Tengah.
Repotnya para guru hanya menerima informasi sebelah pihak, walhasil keluar
fatwa dari syaikh Rabi bin Hadi al-Madkhali bahwa Jafar Umar Thalib sudah
keluar dari manhaj Salafi. Tentu saja Jafar tidak menerima fatwa ini, sebab
menurutnya apa yang disampaikan pada para syaikh hanya kedustaan belaka.

Namun menurut Jafar, itulah persoalannya, kaum muslimin di Indonesia jangan


dibayangkan kalau mereka itu semua mengerti akan agama Islam secara
mendetail. Umat Islam di Indonesia, pada umumnya tidak tahu Islam secara
mendetail. Maka silang pendapatpun terjadi, yang berujung pada saling tuding.
Sampai tulisan ini diturunkan Muhammad Assewed sudah tak tinggal lagi di
Yogyakarta, melainkan di Cirebon kembali membina madrasah Al-Irsyad.
Silang pendapat yang cukup tajam juga terjadi antara Jafar Umar Thalib dengan
Yazid Jawaaz Perbedaan pendapat mengenai apakah kelompok Salafi perlu pergi
untuk berjihad ke Ambon. Yazid Jawaaz berpendapat bahwa kalangan Salafi tak
perlu berangkat ke Ambon, karena masih ada pemerintah yang bertanggung
jawab. Namun, Jafar dan Assewed berpendapat lain. Bahwa telah terjadi
pendhaliman terhadap umat Islam di Ambon dan memerlukan bantuan. Silang
pendapat ini berujung pada saling tuding, bahwa Jafar menganggap Yazid
enggan untuk berangkat Jihad, sementara Yazid menuduh Jafar hanya mencari
popularitas saja.

Tak hanya itu, perbedaan pendapat juga terjadi mengenai pemikiran para tokoh
Ikhwanul Muslimin, antara Yazid Jawwas dengan kalangan Salafi lainnya,
menyebabkan Yazid tidak lagi dianggap Salafi. Dalam pandangan Yazid, tidak
semua pendapat atau tindakan para tokoh Ikhwan bisa dikategorikan sebagai
ahlul bidah, sebab mereka adalah para pejuang Islam, yang rela berkorban demi
Izzul Islam wal Muslimin. Namun lain halnya dengan pandangan para syaikh
Salafi terutama yang berada di Timur Tengah, dimana mereka menganggap para
tokoh Ikhwanul Muslimun adalah orang-prang hizbiyyah (yang selalu
mendahulukan kelompoknya) dan itu termasuk dalam dosa besar.

Setelah terjadi konflik yang berterusan antara Jafar dengan yang lain, maka
gerakan salafi terpecah menjadi semakin jelas antara yang politik dan non politik
terjaring dalam FKASWJ.

Salafi Sururiah

Bagi kalangan Salafi yang mentolerir adanya kehidupan berpolitik lebih sering
disebut kelompok sururiyah. Di Indonesia sendiri, banyak sekali kalangan salafi
yang mendapat gelar sururiyah atau yang mempunyai pandangan yang berbeda
dengan kalangan salafi puritan. Mereka adalah Yusuf Baisa, Abu Nida Chomsaha
Sofwan dkk, Abu Sa'ad Muhammad Nur Huda, MA, Arif Syarifuddin, Lc, Abu Ihsan
Al Maidani Al Atsary, Afifi Abdul Wadud, Abul Hasan Abdullah bin Taslim, Lc, Abu
Abdil Muhsin Firanda, Asmuji (Imam Syafi'i, Cilacap). Umar Budiargo, Lc, Khudlori,
Lc, Aris Munandar, SS, Ridwan Hamidi, Lc , Muhammad Yusuf Harun, MA, dan
Farid Ahmad Okbah dari PP Al Irsyad.

Demikian juga dengan kelembagaannya, kalangan salafi politik, relatif bergerak


dalam kelembagaan dibandingkan dengan kalangan salafi non politik. Mereka
diantaranya adalah Yayasan al-Sofwah, kelompok Yazid Jawwas dan Abdul Hakim
Abdat, yang dekat tetapi tidak secara institusional berhubungan dengan al-
Sofwah.

Abu Nida', Ahmad Faiz, dan jaringan at-Turots. Kelompok Abu Nida' menerbitkan
majalah al-Fatawa, Ahmad Faiz's juga menerbitkan majalah as-Sunnah. Ketiga,
majalah, al-Furqon, yang diterbitkan oleh kelompok Annur Rofiq dari Mahad al-
Furqon al-Islami, Gresik, yang mempunyai jaringan yang sama.

Yusuf Baisa dan Farid Okbah jaringan al-Irsyad (sangat dekat dengan at-Turots
tetapi bukan bagian dari jaringannya). Yayasan al-Irsyad selalu dikritik karena
mempunyai acara muktamar tahunan, ini merupakan bukti dari kegiataan
hizbiyah.

PP Taruna Al Qur'an, Umar Budiargo, Lc, Khudlori, Lc, Aris Munandar, SS, Ridwan
Hamidi, Lc (alumni Madinah, disebut tokoh freeline). PP Taruna Al Qur'an alias L-
Data cabang Jogjakarta ini akrab dengan ikhwani dimanapun. L-Data pusat
dipimpin (aldakwah.org) Muhammad Yusuf Harun, MA, dai al Sofwa, penerjemah
al Al Sofwa Jakarta.

Para tokoh kalangan salafi politik tersebar di berbagai negara dan mereka
melakukan pembinaan dengan organisasi non profit (LSM) yang ada di Indonesia.
Di antara tokoh Salafi politik internasional adalah, Muhammad Surur Nayif Zainal
Abidin (kini tinggal di London), Abdul Karim Al Katsiri (Saudi Arabia), Syarif Fuadz
Hazza (Mesir), Musthofa bin Ismail Abul Hasan as Sulaimani Al Maribi al hizbi
(Yaman).

Mereka juga memberikan banyak bantuan pada LSM seperti, As-Sofwah, at-Turots
dan lain-lain dalam rangka penyebaran paham salafi politik.

Ketidaksukaan sebagian Salafi seperti as-Sewed (salafi puritan) kepada lembaga


at-Turots merupakan refleksi dari pendirian mentor mereka di Saudi Arabia dan
Yaman kepada Abdul Khaliq. Pertentangan ini semakin muncul ketika website
salafi memuat pemikiran Syeikh Muqbil bin Hadi al-Wadi, guru Jafar dari kaset
yang direkam tahun 1995. Syeikh Muqbil menuduh Abdul Khaliq mencoba untuk
memecah komunitas Salafi dengan secara terbuka membagikan uang dinar di
Kuwait, Indonesia, Yaman, dan Sudan.
Pertentangan kalangan Salafi diketahui Jafar sejak awal. Jafar selain mengenal
para Imam Salafi, Jafar juga mengenal para tokoh Salafi yang dianggap
menyimpang dari manhaj Salafi. Mereka adalah Muhammad Surur bin Zainal
Abidin, Salman Al-Audah, Safar Al-Hawali, Aidl Al-Qarni, dan Abdurahman Abdul
Khaliq. Penyimpangan mereka karena para tokoh ini menganggumi para tokoh
Ikhwanul Muslimin seperti Sayyid Quthb, Hasan Al-Banna, Muhammad Abduh,
Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Rashid Ridha dan lain-lain, yang dianggap
sesat oleh para Imam Salafi.

Kalangan Salafi yang dianggap menyimpang ini juga mempunyai banyak murid
di Indonesia. Bahkan untuk mengkomunikasikan para murid Abdurahman Abdul
Khaliq mendirikan lembaga Ihyaut Turats. Untuk memperdalam komunikasi
dengan para murid Abdurahman Abdul Khaliq sering datang ke Indonesia.

Pada tahun 2004 Umar as-Sewed mengkritik ungkapan Abdul Khaliq yang telah
mendiskreditkan para pemimpin Saudi. Menurut as-Sewed, Abdul Khaliq pantas
juga diberikan gelar sebagai thaghut, sebagaimana juga diungkapkan oleh
semua syeikh Salafi termasuk bin Baz dan Utsaimin. As-Sewed juga mendorong
bahwa ketidaksukaan Abdul Khaliq pada Saddam terjadi baru-baru ini karena
adanya perang, karena itu Abdul Khaliq pada dasarnya adalah orang munafik
nomer satu.

Dengan demikian jelas, bahwa gerakan salafi di Indonesia sangat amat


dipengaruhi oleh situasi dan kondisi di Timur Tengah. Saling tuding dengan
mengatasnamakan agama, menjadi ciri khas dari gerakan salafi. Yang ironis dari
kelompok salafi ini adalah mereka mengajarkan doktrin anti taqlid kepada para
pengikutnya, namun pada kenyataannya, mereka juga taqlid kepada para syeikh
mereka di Timur Tengah. Hal ini terlihat dari apa yang terjadi konflik di Timur
Tengah maka di Indonesiapun terjadi konflik.

Melihat fenomena seperti ini, apakah para pengikut salafi ini tidak merasa aneh
mengikuti sebuah manhaj/aliran paham yang kemudian terpecah-pecah dan
saling menghujat, saling klaim saling adu fatwa ? ..begitulah Alloh
mengombang-ambing mereka.

http://allaboutwahhabi.blogspot.co.id/2011/12/salafi-melawan-salafi-
perkembangan.html
Wahabi Membunuh Para Ulama, Fakta

Sejarah Kelam Wahabi Salafy

===============

===========================

-Pada waktu kebangkitan wahhabi di

kota thoif mereka bertindak ganas terhadap ulama islam di kota thoif dan

ulama islam yang berada disekitarnya

termasuk ulama islam di mekah dan

madinah mati dibunuh oleh wahhabi

berdasarkan fakta sejarah valid.

Ketika itu wahhabi telah membunuh dan menyembelih banyak ulama islam,

diantara ulama islam yang dibunuh

oleh wahhabi adalah: 1- mufti mekah al-mukarramah (mufti

mekah dalam mazhab asy-syafiiyyah)

bernama syeikh abdullah az-zawawi

telah wafat dibunuh oleh wahhabi

dengan kejam didepan rumahnya

dengan cara menyembelih mufti tersebut.

2- seorang qodhi bernama abdullah

abu al-khoir.

3- syeikh jafar asy-syaiby dan

beberapa ulama islam bersamanya

dibunuh oleh wahhabi dengan cara penyembelihan keji oleh ketua dan

bala tentera wahhabi secara kejam

ketika itu. semua peristiwa kejam tadi terjadi pada


tahun 1217h atau 1802masehi. * (Silahkan rujuk fakta sejarah

kekejaman Wahhabi tersebut dalam

kitab sejarah yang mutadil berjudul Al-

Awroq Al-Baghdadiyyah Fi Al-

Hawadith An-Najdiyyah karangan

ulama sejarah bernama As-Said Ibrahim Ar-Rawi Ar-Rifaiy pada

halaman 2-4 cetakan An-Najah,

Baghdad Iraq Tahun cetakan

1345Hijriyyah ).

---------------------------------------------

--------------------------------- Fakta sejarah membuktikan kezaliman

wahhabi di mekah al-mukarramah

membunuh umat islam berdasarkan

buku sejarah wahhabi sendiri

---------------------------------------------

---------------------------------- setelah wahhabi menyerang kota thoif

dan membunuh umat islam dan

ulamanya disana. Wahhabi menyerang

tanah yang mulia mekah al-

mukarramah pula tahun 1803m :

1218h seperti yang dinyatakan oleh pengkaji sejarah abdullah bin asy-

syarif husain dalam kitabnya berjudul

sidqul akhbar fi khawarij al-qorni

thaniy asyar.

Manakala pengkaji sejarah wahhabi

bernama uthman ibnu basyir al- hambaly an-najdy menyatakan

kejadian tersebut terjadi pada tahun

1220h dalam kitabnya tarikh najad.


Dalam kedua kitab sejarah tadi

menceritakan kezaliman wahhabi di

tanah suci mekah antaranya: kezaliman dilakukan oleh wahhabi di

kota mekah:-

---------------------------------------------

-------------

- pada bulan muharram 1220h

bersamaan 1805m wahhabi di mekah membunuh umat islam yang

menunaikan ibadah haji. - ibu-ibu penduduk kota mekah

dipaksa menjual harta hak milik

masing-masing untuk menebus

kembali anak-anak mereka yang masih

kecil ditangkap oleh wahhabi. - penduduk mekah kelaparan kerana

keadaan begitu zalim dilakukan oleh

wahhabi sehingga anak-anak mati

kelaparan dan bergelimpangan mayat-

mayat mereka. - pengkaji sejarah & merupakan

golongan wahhabi juga (uthman an-

najdy) menyatakan bahwa wahhabi

menjual daging-daging keledai dan

bangkai kepada penduduk islam

mekah dengan harga yang tinggi dalam keadaan mereka kelaparan.

Sungguh terhina umat islam mekah

ketika itu. *)( Silahkan merujuk fakta sejarah di

atas yang dinyatakan tadi dalam kitab

pengkaji wahhabi sendiri bernama

uthman ibnu basyir al-hambaly an-

najdy dalam kitabnya berjudul inwan


al-majdy fi tarikh najad juz 1 halaman 135 ). Sejarah berdarah sekte salafy
wahabi

dan kerajaan saudi

Dalam sejarah perjuangan Wahabi,

tidak satu pun mereka melakukan

perjuangan menentang orang-orang

Yahudi dan Kristen yang kala itu datang menjajah Negara-negara

muslim dan berupaya menghancurkan

khilafah Islamiyah Turki Utsmani.

Perjuangan mereka hanya dipenuhi

dengan air mata dan darah umat Islam

melalui berbagai penyerangan dan pembunuhan yang mereka lakukan

kepada penduduk Makah, Thaif,

Madinah, Riyad, Qatar, Bashrah,

Karbala, Nejef, Qum, Omman, Kuwait,

negeri-negeri Syam, dan negeri-negeri

Islam lainnya. Namun ironisnya, mereka merasa bangga dengan

perjuangan membunuh umat Islam itu,

sebagaimana terangkum dalam buku-

buku sejarah resmi milik mereka.

Perbuatan seperti ini adalah akidah

teroris. Islam tidak pernah mengajarkan demikian. Inilah bidah

sesungguhnya. Ada beberapa efek samping yang

dikhawatirkan dari keberadaan faham

keras Salafi Wahabi ini terkait sikap

umat Islam. Secara garis besarnya ada

tiga kemungkinan, yaitu: Pertama, akan

dapat mengakibatkan seseorang kafir atau keluar dari Islam, karena menolak

akidah yang dianggapnya sesat ini, jika


dia meyakini bahwa ajaran itu benar-

benar mempresentasikan Islam itu

sendiri. Kedua, jika dia tidak meyakini

bahwa ajaran itu dari Islam, maka dia akan menolak faham Salafi Wahabi ini.

Efek selanjutnya yang mungkin

berkembang adalah, bisa jadi orang

tersebut akan membenci dan antipasti

terhadap Salafi Wahabi, sehingga

perpecahan umat kian meruncing. Ketiga, bisa jadi seseorang justru

menjadi pendukung dan pengikut setia

Salafi Wahabi, untuk kemudian

mengamalkan ajarannya. Yang ketiga

ini pun akan menjadi bumerang dalam

tubuh umat Islam, karena ada perebutan pengikut. Selain itu,

menjadi lengkaplah ketika tidak ada

titik temu antara ajaran Salafi Wahabi

dengan ajaran umat Islam mayoritas.

Oleh karena itu, para ulama harus

segera menyikapi fenomena Salafi Wahabi ini. Bukan hanya tega membunuh
umat

Islam, para pengikut Salafi Wahabi pun

merampas harta orang-orang muslim

yang mereka bunuh. Bahkan mereka

pun berani menyerbu tanah suci Makah

dan Madinah. Mereka membunuh para syaikh dan orang awam yang tidak

bersedia masuk Islam. Perhiasan dan

perabotan mahal nan indah yang

telah disumbangkan oleh para raja dan

pangeran dari seluruh dunia Islam


untuk memperindah Masjidil Haram, makam Nabi saw., makam-makam para

wali dan orang-orang shaleh di seputar

Makah dan Madinah dicuri dan dibagi-

bagikan di antara mereka, para tokoh

Wahabi. Maka, pada tahun 1804 M,

Makah pun jatuh ke tangan Wahabi. Setelah menguasai Makah, pada akhir

bulan Dzulqadah 1220 H, mereka juga

berhasil menguasai kota Madinah.

Setibanya di Madinah, mereka melabrak

dan menggeledah rumah Nabi saw.,

lalu mengambil semua harta benda yang ada di dalamnya, termasuk lampu

dan tempat air yang terbuat dari emas

dan perak yang dihiasi permata dan

zamrud yang tidak ternilai harganya. Di

sana mereka melakukan beberapa

perbuatan keji dan sadis, sehingga menyebabkan banyak dari kalangan

ulama melarikan diri. Kemudian,

mereka menghancurkan semua kubah

di Pekuburan Baqi, seperti kubah Ahlul

Bait (istri-istri Nabi, anak dan

keturunannya) serta pekuburan kaum muslimin. Mereka mencoba untuk

memusnahkan kubah makam baginda

Rasulullah saw., namun ketika mereka

melihat di kubah tersebut terdapat

lambang bulan sabit yang mereka

sangka terbuat dari emas murni, mereka mengurungkan niatnya.

Sungguh Mahasuci Allah yang telah

memalingkan mereka dari perbuatan


keji dan melampaui batas itu. Selama Wahabi berkuasa di Jazirah

Arab, sudah terlalu banyak

perpustakaan Islam yang mereka

bumi-hanguskan dan mereka bakar

buku-bukunya, seperti pembakaran

kitab-kitab para ulama klasik ketika mereka memasuki kota Makah. Di

antara buku-buku yang dibakar itu

adalah kitab Dalail al-Khairat, Raudh ar-

Rayyahin, buku-buku- mantiq,

tasawuf, akidah, dan lainnya yang

tidak sejalan dengan ajaran mereka. Inilah musibah besar ilmiah yang

terjadi untuk kesekian kalinya

menimpa umat Islam. Di antara pembakaran buku-buku

yang paling fenomenal adalah

pembakaran buku-buku yang ada di

perpustakaan Maktabah Arabiyah di

Makah al-Mukarramah. Perpustakaan

ini termasuk perpustakaan yang paling berharga dan paling bernilai historis.

Bagaimana tidak, sedikitnya ada

60.000 buku-buku langka dan sekitar

40.000 masih berupa manuskrip yang

sebagiannya adalah hasil diktean

baginda Nabi saw. kepada para sahabatnya, sebagian lagi dari

Khulafaur Rasyidin yang empat, dan

para sahabat Nabi yang lainnya. Sebagaimana berfungsi sebagai

penampungan ribuan buku-buku

klasik, perpustakaan Maktabah

Arabiyah itu juga menampung


peninggalan Islam dan peninggalan

sebelum Islam. Namun kini, semua itu hilang dan habis dibakar oleh para

Wahabi. Karena menurut mereka,

segala peninggalan itu akan

menyebabkan kemusyrikan, dan

ribuan buku warisan Islam tersebut

akan menjadikan umat Islam berfaham sesat (baca: tidak sesuai dengan faham

mereka). Oleh karenanya, buku-buku

itu harus dimusnahkan dan

dihilangkan jejaknya. Pada 1224 H, kembali musibah besar

dalam hal warisan ilmu para ulama as-

salaf ash-shalih. Tentara Salafi Wahabi

yang dipimpin oleh Ibnu Qamala

melenyapkan perpustakaan

Hadhramaut tanpa bekas, dengan membakar dan memberangus gedung

beserta ribuan kitab-kitab yang ada di

dalamnya. Menyerang dan Membunuh Umat Islam

atas Nama Jihad

Dalam merampas harta umat Islam,

menyandera wanita dan anak-

anaknya, memerangi dan membantai

nyawa mereka, Salafi Wahabi menamakan perjuangan itu sebagai

jihad fi sabilillah. Pernyataan di atas

bukan tuduhan, tetapi memang

demikianlah pernyataan pendiri Salafi

Wahabi. Dalam penyerangan-pen

yerangan yang mereka namakan futht ini, para serdadunya disiapkan

sendiri oleh Muhammad Ibnu Abdul


Wahab. Demikianlah. Padahal, agama Islam

mengajarkan, selagi seseorang percaya

tidak ada Tuhan selain Allah dan

Muhammad sebagai utusan-Nya, maka

nyawanya, kehormatannya, dan semua

yang dia miliki menjadi haram bagi muslim yang lain (tidak boleh

dirampas). Jangankan kepada orang

yang beriman, kepada orang kafir saja

seperti kafir dzimmy (non muslim

yang berdamai dan membayar jizyah/

pajak), kafir muahid (non muslim yang mengadakan kesepakatan) dan

mustaman (non muslim yang minta

perlindungan) kita tidak dibolehkan

untuk merampas dan menyakiti

mereka, melainkan wajib melindungi

mereka sama seperti halnya terhadap seorang muslim. Lalu, dengan alasan

apa mereka menghalalkan harta,

nyawa, dan kehormatan sesama

muslim tersebut ? Mengkafirkan Semua Umat Islam Yang

Tidak Sejalan

---------------------------------------------

-----------------------------

Dalam keyakian mereka, umat Islam

yang tidak mengikuti fahamnya dianggap sebagai umat yang sesat dan

kafir, yang dengan kata lain, darah,

harta, dan kehormatannya menjadi

halal untuk dinodai. Demikianlah

faktanya. Sebagian kecil dari bukti pengkafiran


mereka terhadap umat Islam adalah

pengkafiran penduduk Makah, Ahsaa,

Anzah, Dhufair, Uyainah, Diriyah,

Wasym, dan Sudair. Bersekongkol dengan Klan Saudi

---------------------------------------

Setelah Muhammad Ibnu Abdul Wahab

diusir dari Najd (tanah kelahirannya)

pada 1158 H karena dakwahnya yang

dianggap sesat dan onar, dia meminta bantuan emir Diriyah, Muhammad Ibnu

Saud, untuk melindungi dirinya. Atas permintaannya itu, Muhammad

Ibnu Saud menerima Muhammad Ibnu

Abdul Wahab dan memberinya

perlindungan dari musuh-musuhnya. Mereka berdua menemui banyak

kecocokan, untuk kemudian

bersekongkol memperjuangkan

kepentingannya masing-masing di

balik tameng agama. Mereka

bersumpah setia dan bersepakat untuk berbagio tugas: Ibnu Saud mengurusi

bidang kekuasaan, sementara Abdul

Wahab mengurusi bidang agama. Ada

tiga syarat yang mereka sepakati

bersama, yaitu: Pertama, Muhammad Ibnu Abdul

Wahab tidak menghalangi Ibnu Saud

dalam hal pengambilan harta (seperti

cukai, pajak, dan retribusi lain) dari

penduduk yang tunduk kepada

kekuasaan Ibnu Saud. Adapun yang tidak taat, maka harus diperangi atas

nama agama alias jihad, dan harta


rampasannya dinamakan ghanimah. Kedua, imarah yakni kerajaan dan

kekuasaan hanya dipegang oleh

keluarga Muhammad Ibnu Saud dan

keturunannya. Sedangkan keluarga

Muhammad Ibnu Abdul Wahab dan

keturunannya, cukup menangani urusan keagamaan. Ketiga, pihak Muhammad


Ibnu Abdul

Wahab memiliki kewajiban untuk selalu

berada di pihak keluarga Ibnu Saud,

konsisten dan selalu mendukung

kebijakannya, tidak boleh

meninggalkannya atau berpaling kepada yang lain. Pada tahun 1744, kemitraan
Ibnu

Abdul Wahab dengan Ibnu Saud

dimulai lewat upacara sumpah yang

menetapkan Ibnu Saud sebagai emir

(pemimpin sekular) dan Ibnu Abdul

Wahab sebagai imam (dan kemudian berubah menjadi Syaikh al-Imam).

Dinasti Saud-Wahabi pun terbentuk,

dinasti yang pada kemudian hari

menjadi penguasa Saudi Arabia. Gerakan Wahabiyah dan Dinasti Saud

sejak kemunculannya berusaha

menundukkan suku-suku di Jazirah

Arab di bawah bendera Wahabi/Saudi.

Menyamun, menyerang, dan menjarah

suku tetangga adalah praktik yang luas dilakukan suku-suku Badui di

Jazirah Arab sepanjang sejarahnya.

Pada 1746, Syaikh Ibnu Abdul Wahab

mengeluarkan proklamasi jihad


terhadap siapa saja yang menentang

ad-Dawa li at-Tauhid (seruan tauhid). Penyerangan mulai dilangsungkan ke

daerah suku-suku yang dinyatakan

olehnya sebagai suku kafir (biasanya

dengan menyerang yang lebih lemah

terlebih dahulu dan mengadakan

kesepakatan non-agresi dengan suku yang kuat). Setiap suku yang belum masuk
Wahabi

diberi dua tawaran jelas: masuk Wahabi

atau diperangi sebagai orang musyrik

dan kafir. Yang setuju harus

mengucapkan baiat (sumpah setia)

ketundukan dan menunjukkan loyalitas dengan bersedia ikut berjihad

dan membayar zakat. Yang menentang

akan diperangi dan dijarah. Bekerjasama dengan Inggris

Merongrong Kekhalifahan Turki

Utsmani

Tidak benar jika Salafi Wahabi

mengklaim bahwa mereka tidak

pernah merongrong apalagi memberontak terhadap Kekhalifahan

Islam yang sah saat itu, Turki Utsmani.

Kala itu, secara de jure maupun de

facto, Turki Utsmani memang

menguasai semenanjung Jazirah Arab

dan Timur Tengah secara umum. Mari kita buktikan dengan arsip sejarah

Kerajaan Inggris tentang kenyataan itu,

yang mana Inggris adalah sekutu Salafi

Wahabi dalam upaya merongrong

Kekhalifahan Turki Utsmani. Di bawah


ini adalah dokumen resmi pemerintah Inggris yang telah diterjemahkan oleh

pakar diplomat dan mantan Duta Besar

Irak, Najda Fathi Shafwa, yang dibundel

dalam 6 jilid buku tebal berjudul al-

Jazirah al-Arabiyah fi al-Watsa`iq al-

Barithaniyah; Najd wa Hijaz (Jazirah Arab dalam dokumen-dokumen

Britania; Najd dan Hijaz). Publikasi dan penerjemahan dokumen-

dokumen resmi ini atas ijin resmi

Kerajaan Inggris melalui Kantor

Kerajaan Inggris di bidang dokumen

dan arsip Ratu Inggris (Her Majestys

Stationary Office). Inilah di antara bunyi dokumen tersebut: Jazirah Arab secara
umum berada di

bawah kekuasaan Turki Utsmani,

Klan keluarga Syarif Hussein

(keturunan Rasulullah saw.) yang

menguasai kota suci Makah sejak 700

tahun lalu itu didirikan oleh Qatadah Ibnu Idris (1133-1220 M) yang

dilahirkan di Yanbu, Jazirah Arab. Dia

memanfaatkan fitnah pertikaian yang

terjadi di tengah masyarakat Makah

sebagai peluang untuk menguasainya.

Dia berhasil menjadi penguasa Makah pada tahun 1201. Kekuasannya

semakin meluas ke Madinah sebelah

utara, dan Yaman sebelah selatan.

Kemudian Sultan Turki Utsmani Salim I

menguasai Mesir dan semenanjung

Hijaz tahun 1517. Para syarif dari anak- anak cucu Qatadah it uterus memegang

kekuasaan (di Jazirah Arab ) di bawah


pemerintahan Turki Utsmani dari masa

ke masa, baik secara de jure maupun

de facto. Syarif Hussein ibnu Ali Ibnu

Muhammad ibnu Abd al-Muin ibn Awan merupakan penguasa terakhir

dari kalangan syarif tersebut. Dialah

yang mengumumkan revolusi Arab

tahun 1916 dan menjadi raja Hijaz.

Sampai akhirnya, dia lengser dari

kekuasaannya akibat keluarga Saud menguasai Hijaz tahun 1924. Lalu

diwarisi putranya, Raja Ali, namun

hanya berkuasa setahun. Ketika Makah berhasil direbut oleh

kelompok Salafi Wahabi dari tangan

Khalifah Turki Utsmani, maka dominasi

Wahabi di tanah suci menjadi

tantangan langsung terhadap otoritas

Khalifah di Turki kala itu. Beberapa kali serangan dilancarkan dari Baghdad

oleh Khalifah, tetapi gagal. Setelah

gagal di tahun 1811, pada 1812

pasukan Kekhalifahan Utsmani dari

Mesir berhasil menduduki Madinah.

Pada tahun 1815, kembali pasukan dari Mesir menyerbu Riyad, Makah, dan

Jeddah. Kali ini, pasukan Wahabi kocar-

kacir. Pada saat itu, Ibrahim Pasya,

putra sang penguasa Mesir sebagai

wakil pemerintahan Turki Utsmani,

datang dengan kekuatan sekitar 8000 pasukan kavelari dan infantry dari

Mesir, Albania, dan Turki. Muhammad Ibnu Saud sendiri beserta

beberapa anggota keluarganya


ditawan dan dibawa ke Kairo dan

kemudian ke Konstantinopel. Di

ibukota Khilafah Utsmani itu dia

dipermalukan, diarak keliling kota di tengah cemoohan penonton selama

tiga hari. Kemudian, kepalanya

dipenggal dan tubuhnya

dipertotonkan kepada kerumunan

yang marah. Sisa-sisa keluarga Saudi-

Wahabi menjadi tawanan di Kairo. Kehancuran Wahabi pun disambut

gembira di banyak negeri muslim. Pada tahun 1902, Abdul Aziz, putra

Abd ar-Rahman ibnu saud yang

mengungsi ke Kuwait, memulai usaha

meraih kembali kajayaan Dinasti Saudi

yang hilang. Dengan bantuan Syaikh

Kuwait yang selama ini melindunginya, Ibnu Saud demikian nama populer

Abdul Aziz berhasil meraih Riyad dan

mengumumkan kembali kekuasaan

Dinasti Saud di sana. Lahirnya Kerajaan Saudi Arabia

--------------------------------------

Pada 26 Desember 1915, ketika Perang

Dunia I berkecamuk, Ibnu Saud

menyepakati traktat dengan Inggris.

Pemerintah Inggris mengakui kekuasaan Ibnu Saud atas Najd, Hasa,

Qatif, Jubail, dan wilayah-wilayah yang

tergabung di dalam empat wilayah

utama ini. Traktat ini juga

mendatangkan keuntungan material

bagi Ibnu Saud. Ia mendapatkan 1000 senapan dan uang 20.000 begitu
traktat ditandatangani. Selain itu, Ibnu

Saus menerima subsidi bulanan 5.000

dan bantuan senjata yang akan dikirim

sampai tahun 1924, bersamaan

dengan runtuhnya Khilafah Islamiyah Turki Utsmani. Sebagai imbalannya,

Ibnu Saud tidak akan mengadakan

perundingan dan membuat traktat

dengan Negara asing lainnya. Ibnu

Saud juga tidak akan menyerang ke,

atau campur tangan di, Kuwait, Bahrain, Qatar, dan Oman (yang berada

di bawah proteksi Inggris). Setelah berbulan-bulan dikepung,

akhirnya pada 4 November 1921, Hail

(ibukota Klan Rasyidi) jatuh ke tangan

Ibnu Saud yang dibantu Inggris melalui

dana dan persenjataan. Sesudah

menaklukkan Hail, Ibnu Saud beralih ke Hijaz. Satu demi satu kota di Hijaz

jatuh ke tangan Ibnu Saud. Asir,

wilayah di Hijaz selatan, jatuh pada

1922, disusul Taif, Makah, dan Madinah

(di tahun 1924), dan Jeddah (di awal

tahun 1925). Pada tahun 1925 juga, di bulan Desember, Ibnu Saud

menyatakan diri sebagai Raja Hijaz, dan

pada awal Januari 1926 ia menjadi Raja

Hijaz sekaligus Sultan Najd dan daerah-

daerah bawahannya. Untuk pertama

kalinya sejak berdirinya Negara Saudi II, empat wilayah penting di Jazirah

Arabia, yaitu Najd, Hijaz, Asir, dan Hasa,

kembali berada di tangan kekuasaan


Klan Saudi. Dan pada tahun 1932, Ibnu

Saud telah berhasil menyatukan apa

yang dikenal sebagai Kerajaan Saudi Arabia. Peran Salafi Wahabi dalam
Menjadikan

Palestina Terjajah

---------------------------------------------

---------------------------

Bukan suatu yang aneh jika Salafi

Wahabi selama ini bungkam seribu bahasa dengan keberadaan Yahudi di

Palestina dan segala kejahatan yang

mereka lakukan terhadap umat Islam

di negeri yang terampas dan terjajah

itu. Sejak awal, Salafi Wahabi sudah

mengamini penggadaian negeri Palestina kepada Inggris untuk

diberikan kepada orang-orang Yahudi. Dalam Muktamar al-Aqir tahun 1341 H

di distrik Ahsaa telah ditandatangani

sebuah perjanjian resmi antara pihak

Wahabi dengan pemerintah Inggris.

Tertulis dalam kesepakatan itu kalimat-

kalimat yang ditorehkan oleh pimpinan Wahabi berbunyi: Aku beikrar dan
mengakui seribu kali

kepada Sir Percy Cox wakil Britania

Raya, tidak ada halangan bagiku (sama

sekali) untuk memberikan Palestina

kepada Yahudi atau yang lainnya

sesuai keinginan Inggris, yang mana aku tidak akan keluar dari keinginan

Inggris sampai hari kiamat. Surat perjanjian itu ditandatangani oleh

Raja Abdul Aziz. Selain itu, utusan

Wahabi juga telah datang menghadiri


Muktamar tentang Tempat Hijrah

Bangsa Yahudi ke Palestina. Dalam

muktamar itu, penasihat Wahabi, Syaikh Abdullah Philippi (Kolonel Jhon

Philippi) seorang orientalis penasihat

kerajaan Saudi mengusulkan untuk

memberikan Palestina kepada bangsa

Yahudi dengan imbalan kemerdekaan

bagi seluruh negara-negara Arab. Dalam muktamar itu, Wahabi

menyetujui kesepakatan rencana itu. Hujan Protes dari Negara-Negara

Muslim

---------------------------------------------

----

Pada tahun 1926 protes massal kaum

muslim mengalir dari seluruh dunia. Resolusi pun diluncurkan dan daftar

kejahatan Salafi Wahabi disenaraikan. Protes yang sama bermunculan di Iran,

Irak, Mesir, Indonesia, Turki, dan

negara-negara muslim lainnya.

Beberapa ulama menulis traktat dan

buku untuk mengabarkan kepada

dunia bahwa fakta-fakta yang terjadi di Hijaz pada dasarnya adalah konspirasi

karya Yahudi guna melawan Islam

dengan berkedok pemurnian tauhid.

Tujuan utamanya adalah menghapus

secara sistematis akar sejarah umat

Islam, sehingga nantinya kaum muslimin kehilangan jejak sejarah dan

asal-usul keagamaannya. ---------------------------------------------

ASTAGHFIRULLOH,,,,,
https://www.facebook.com/abunawasmajdub/posts/139704122842108
Sejarah Kerajaan Arab Saudi dan
Ajaran Wahabi
Seiring dengan semakin banyaknya radio-radio dan acara-acara tv yang ber-bau
wahabi, perlu kiranya kita selaku ummat islam mengetahui betul sejarah mereka
dan siapa mereka. Tidaklah heran perkembangan mereka ini karena dukungan
dana yang kuat dari kerajaan Arab Saudi, bahkan jamaah haj Indonesia yang
datang berhaji selalu di-beri gratis buku-buku faham wahabi.

Disamping itu sudah mulai banyaknya "korban" terutama kaum awwam dan
kaum muda yang tentu saja pasti akan tertarik dengan slogan marketing wahabi
yaitu "Kembali kepada Alqur'an dan As-sunnah" memang terdengar indah dan
suci namun diballk itu semua terdapat racun yang membuat hati menjadi buta,
tuli dan bisu

Islam adalah agama perdamiaan, persaudaraan, cinta kasih, bahkaan sesama


muslim bersaudara !

Berikut ini adalah fakta sejarah jadi bukan fitnah. sumber asli tulisan ini adalah
dari site sarkub.com.

Gerakan Wahhabisme mengawali kemunculannya di jazirah Arab pada abad ke-


18 dengan pertumpahan darah dan jatuhnya banyak korban. Ironisnya, ini terjadi
di antara kaum Muslim sendiri. Tak heran, sebab doktrin yang dogmatis,
intoleran, sangat literal dan kaku yang diusung kelompok ini telah melahirkan
penolakan total terhadap aliran pemikiran lain sampai ke tingkat yang membabi
buta, yakni doktrin takfiri, yang menganggap kelompok lainnya sebagai kafir.
Atas dasar klaim purifikasi, yaitu pemurnian ajaran untuk kembali kepada Islam
yang benar (menurut versi mereka), gerakan ini mengijinkan perlawanan
terhadap semua kaum Muslim yang dipandang tidak sejalan dengan ajarannya.
Maka perpecahan di tubuh Islam pun menjadi tak terelakkan. Peradaban Islam
pun menjadi semakin jauh tertinggal karena terlalu disibukkan dengan persoalan
internal yang sudah usang.

I. Wahhabi Sebagai Sekte Tersendiri


Istilah Wahhabi tidak diproklamirkan oleh pendiri ataupun pengikutnya,
melainkan datang dari orang-orang yang berada di luar. Nama tersebut diambil
dari perumus doktrin ajaran ini, yaitu Muhammad bin Abdul Wahhb (1115 H/
1703 M 1206 H/ 1791 M). Hingga saat ini, Wahhabi dijadikan mazhab resmi di
Arab Saudi yang pahamnya mendominasi berbagai aspek kehidupan di sana.

Pengikut aliran ini sendiri menolak sebutan Wahhabi, sebab sejak awal telah
menjadi stigma yang melahirkan kesan buruk, sehingga mereka lebih memilih
istilah al-Muwahhidn atau Ahl al-Tawhd, yang berarti orang-orang yang
mentauhidkan Allah. Namun justru nama yang mereka gunakan itu
mencerminkan keinginan untuk menggunakan secara eksklusif prinsip tauhid
yang merupakan landasan pokok Islam. Menurut Prof. Hamid Algar, tidak ada
alasan untuk menerima monopoli atas prinsip tauhid tersebut, sebab gerakan ini
merupakan hasil ijtihad seorang anak manusia yang bisa benar bisa juga salah.
Maka, cukup beralasan dan lazim untuk menyebutnya Wahhabisme dan kaum
Wahhabi.[1]

Para pengikut Wahhabi menyatakan diri bahwa tujuan mereka semata-mata


hanya untuk memurnikan tauhid. Tauhid harus dimurnikan sebab telah
bercampur dengan apa yang mereka namakan sebagai syirik, tahayul, bidah
dan khurafat. Islam yang sarat beban historis harus dirampingkan dan
dibersihkan dengan cara mengembalikan umat Islam kepada induk ajarannya,
Al-Quran dan Al-Sunnah.

Wahhabisme merupakan fenomena yang bersifat spesifik, yang mesti dipandang


sebagai mazhab pemikiran terpisah atau sekte tersendiri. Para pengamat,
khususnya non-Muslim, banyak yang melakukan deskripsi ringkas keliru tentang
mereka dengan menyebutnya sebagai kelompok Sunni ekstrim atau konservatif.
Padahal sejak awal, para ulama Sunni sendiri menganggap mereka bukan bagian
dari Ahl al-Sunnah wa al-Jamah. Hal itu disebabkan karena hampir seluruh
praktik, tradisi, dan kepercayaan yang merupakan bagian integral Islam Sunni,
dikecam oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Bahwa kaum Wahhabi kini
dianggap sebagai Sunni[2], hal itu mengindikasikan bahwa istilah Sunni telah
diberi makna yang sangat longgar, yakni sekadar pengakuan terhadap legitimasi
empat khalifah yang pertama. Bahkan istilah Sunni yang berkembang sekarang
tidak lebih berarti non-Syiah.[3] Karena itulah, penulis menganggap Wahhabi
merupakan sekte atau mazhab tersendiri dalam Islam.

II. Perjalanan Wahhabisme dalam Sejarah

Pendiri gerakan Wahhabi, Muhammad bin Abdul Wahhab, berasal dari keluarga
klan Tamim yang menganut mazhab Hambali, dan sangat terpengaruh oleh
tulisan-tulisan seorang ulama bermazhab Hambali bernama Ibnu Taimiyah yang
hidup di abad ke-14 M.

Sebelum menjadi mubaligh, ia banyak melakukan perjalanan ke berbagai


wilayah yang motifnya tidak begitu jelas[4]. Mekkah, Madinah, Baghdad dan
Bashrah (Irak), Damaskus (Syria), Qum (Iran), Afghanistan serta India adalah
wilayah yang sempat ia kunjungi. Setelah berkelana dan belajar di berbagai kota,
lantas ia pun membawa doktrin-doktrin yang kemudian dijadikan landasan
pemikiran dan keyakinannya, yang nantinya dinilai bermasalah oleh mayoritas
kalangan Sunni ataupun Syiah.

Sebagian peneliti meragukan motif utama Wahhabisme sebagai gerakan


keagamaan murni. Mereka mengajukan bukti yang mengarah kepada keraguan
tersebut. Salah satunya adalah bukti yang diajukan oleh Dr. Abdullah Mohammad
Sindi, seorang professor yang berasal dari Saudi Arabia. Dalam makalahnya yang
berjudul Britain and the Rise of Wahhabism and the House of Saud[5], ia
mengutip sebuah memoar yang ditulis seorang agen rahasia Inggris yang
berjuluk Hempher.

Dalam Confession of a British Spy[6], demikian judul memoar tersebut,


Hempher mengakui adanya sebuah konspirasi Inggris untuk menggoyang
kekuasaan Imperium Ottoman (Utsmaniyah) serta untuk menciptakan konflik di
antara kaum Muslim.

Hempher yang berpura-pura memeluk Islam itu menjalin persahabatan panjang


dengan Muhammad bin Abdul Wahhab. Hingga akhirnya berhasil melakukan
brainwash terhadap Muhammad bin Abdul Wahhab, sehingga mampu
meyakinkannya bahwa kebanyakan kaum Muslim saat itu telah menyimpang dari
ajaran yang benar. Dan Muhammad bin Abdul Wahhab adalah manusia terpilih
yang bisa menyelamatkan Islam dari berbagai penyimpangan.

Tentang kepribadian Ibn Abdul-Wahhab, Hempher menggambarkannya sebagai


seorang yang tidak stabil, berperangai buruk, gugup, sombong, dan bodoh.[7]

Jika memoar tersebut benar adanya, maka tak diragukan bahwa gerakan
Wahhabisme sejak awal sudah terlibat dalam konspirasi yang disusun oleh
kolonial Inggris. Namun karena adanya sebagian peneliti yang meragukan
memoar tersebut dengan menunjukkan beberapa kejanggalan, maka tidak
menutup kemungkinan bahwa gerakan Wahhabisme pada awalnya memang
merupakan gerakan keagamaan. Meskipun pada perkembangan berikutnya,
adanya campur tangan Inggris tak bisa dipungkiri lagi.

Untuk menarik berbagai analisa dari sebuah gerakan kontroversial ini, penulis
membagi perjalanan sejarah Wahhabisme dalam tiga periode:

Periode Pertama (1744-1818): Babak Awal Aliansi Wahhabi-Saudi

Huraymilah terletak di Najd, sebuah wilayah di bagian timur jazirah Arab. Di


sinilah dakwah Ibnu Abdul Wahhab dimulai setelah kembali dari
pengembaraannya. Ajarannya yang keras itu mengalami penolakan dari
masyarakat setempat, termasuk dari ayah dan saudaranya sendiri.

Pada periode ini, Ibnu Abdul Wahhab menyusun sebuah buku kecil sederhana
yang diberi judul Kitb al-Tawhd, sebuah rujukan yang miskin bobot intelektual,
sebab di dalamnya tidak ada penjelasan yang menunjukkan bangunan kerangka
berpikir sang penulis. Tentang kitab ini, simak komentar Prof. Hamid Algar:

Alih-alih menguraikan doktrin Islam yang paling fundamental seperti tercermin


dari judulnya, buku kecil itu hanya berisi kumpulan hadits tanpa diberi komentar,
yang disusun dalam enam puluh tujuh bab.

Adalah lebih mendekati kebenaran untuk mengatakan buku ini dan karya-karya
lain Muhammad bin Abd al-Wahhab merupakan catatan-catatan seorang pelajar.

Tampaknya para pelindung Wahhabisme merasa malu dengan ketipisan karya


Muhammad bin Abd Wahhab, sehingga mereka memandang karya itu perlu
dipertebal ukurannya.[8]

Setelah empat belas tahun menyebarkan ajarannya, ia kembali ke tempat


kelahirannya, Uyaynah, yang kini memiliki kondisi yang lebih menguntungkan.
Penguasa setempat, yaitu Utsman ibn Muammar memperluas perlindungannya
kepada Muhammad bin Abd al-Wahhab dan bersumpah untuk setia kepada
pemahaman tauhid yang didakwahkan oleh Ibnu Abdul Wahhab.

Perlindungan penguasa membuat Ibnu Abdul Wahhab semakin tak terkendali. Ia


semakin terang-terangan mengkafirkan semua kaum Muslimin yang
dianggapnya melakukan bidah. Ia mulai mengutuk berbagai tradisi dan akidah
kaum Muslimin serta menolak berbagai tafsir Al-Quran yang dianggapnya
menyimpang.

Namun ini tidak berlangsung lama. Penguasa saat itu, Utsman ibn Muammar,
menyerah kepada pimpinan suku yang kuat di wilayah itu, sehingga pada tahun
1744 ia diusir penguasa baru yang membuatnya pindah ke Al-Diriyyah (masih di
Najd), ibu kota keamiran Muhammad bin Saud, yang notabene bermusuhan
dengan amir Uyainah saat itu. Di sinilah Ibnu Abdul Wahhb mendapat
perlindungan. Selanjutnya terbentuklah sebuah aliansi permanen yang meliputi
tiga aspek: politik, keagamaan, dan perkawinan. Di bidang politik, sebagai amir
Ibnu Saud mendapatkan legitimasi keagamaan; dalam bidang keagamaan Ibnu
Abdul Wahhab diuntungkan dengan diangkatnya menjadi qadi serta ajarannya
dinyatakan sebagai mazhab resmi; dan dalam perkawinan Ibnu Saud mengawini
salah seorang putri Muhammad bin Abdul Wahhab. Sebuah aliansi yang tentu
saja menguntungkan kedua belah pihak. Prof. Abdullah Mohammad Sindi
menyebutkan bahwa lagi-lagi Inggris mengambil peran penting dalam rangka
terwujudnya aliansi tersebut. Melalui dukungan uang dan senjata, Inggris
semakin mudah menghasut mereka aliansi tersebut.[9]

Inilah babak awal lahirnya sebuah negara teokratik yang kelak mengontrol ketat
segala macam bentuk interpretasi keagamaan khususnya di Arab Saudi.

Muhammad bin Saud kemudian menyatakan secara terbuka penerimaannya


terhadap berbagai pemikiran dan pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul
Wahhab. Tahun 1159 H/ 1746 M, aliansi Wahhabi-Saudi melakukan proklamasi
formal jihad melawan semua orang yang tidak sejalan dengan pemahaman
tauhid Wahhabisme, yaitu orang-orang yang dianggap sebagai kafir, musyrik,
dan murtad. Mula-mula mereka menyerang mazhab Syiah, kemudian kaum sufi,
lalu mulai menyerang orang-orang Sunni. Semua yang tidak mau mengikuti
mazhab mereka dianggap kafir dan halal darahnya.
Dalam kurun waktu 10 tahun, aliansi tersebut tumbuh pesat menjadi kekuatan
dominan di jazirah Arab. Wilayah kekuasaan Muhammad bin Saud berkembang
seluas 30 mil persegi.[10]

Tahun 1206 H/ 1791 M, tidak lama sesudah bentrokan dengan penguasa


Madinah, Muhammad bin Abdul Wahhab meninggal. Namun hal ini tidak
mengurangi motivasi untuk melakukan penaklukan dan pembantaian. Malah,
kekuatan mereka tumbuh semakin besar.

Pada bulan April tahun 1801, mereka membantai kaum Syiah di Karbala,
tercatat 4000 orang dibantai secara kejam. Secara brutal pula mereka
menghancurkan makam Imam Husain di sana. Tahun 1810 mereka membunuh
orang-orang tak bersalah di jazirah Arab. Di Makkah mereka menjarah orang-
orang yang menunaikan ibadah haji. Di Madinah mereka menyerang dan
menodai Masjid dan makam Nabi.

Menyadari kekuatan yang semakin besar, maka target selanjutnya adalah


melepaskan diri dari dari Imperium Utsmani. Tidak butuh waktu lama, ekspansi
Wahhabi berhasil menimbulkan instabilitas di wilayah kekhalifahan tersebut,
terutama di semenanjung Arabia, Irak dan Syam.

Periode Kedua (1818-1932): Kekalahan dan Kebangkitan Baru

Pendudukan kaum Wahhabi atas Haramain memaksa pewaris kekhalifahan yang


resmi, yakni Kerajaan Utsmaniyah, untuk bertindak tegas. Terlebih, berbagai aksi
teror yang dilancarkan kelompok Wahhabi itu telah membangkitkan kemarahan
kaum Muslim sedunia. Untuk menindaklanjutinya, Istanbul mengirim pasukan
Mesir untuk menumpas gerakan tersebut. Tahun 1818 M, Ibrahim Pasya dari
Mesir mengalahkan kelompok Wahhabi. Diriyyah pun diratakan dengan tanah.
Abdullah al-Saud, amir saat itu, beserta dua pengikutnya diseret ke Istanbul. Di
depan publik kepalanya dipenggal. Sebagian lagi dibawa ke Kairo untuk ditahan
di sana. Ini merupakan sebuah pelajaran yang hendak ditunjukkan Kerajaan
Utsmaniyah kepada orang-orang yang menggabungkan ambisi politik dengan
penyimpangan agama.

Kekalahan itu membuat kelompok Wahhabi yang tersisa semakin terbakar api
permusuhan terhadap kelompok Muslim lainnya. Tapi ironisnya, semakin
mendekatkan diri kepada kolonial Inggris. Ini terlihat ketika tahun 1851, Faisal
Ibn Turki al-Saud yang sebelumnya berhasil meloloskan diri dari tahanannya di
Kairo, kembali meminta dukungan Inggris. Sebagai tindak lanjut hubungan itu,
tahun 1865 Inggris mengirim Kolonel Lewis Pelly ke Riyadh untuk membuat suatu
perjanjian.

Di awal abad ke-20, tatkala kekuatan dan strategi Inggris semakin berhasil
merongrong kekhalifahan Utsmaniyah, kembali pemimpin Wahhabi saat itu,
Abdul Aziz, dimanfaatkan. Lagi-lagi, teror kembali dilakukan kelompok Wahhabi.
Dilaporkan, sekitar 1200 orang yang membangkang dibantai secara kejam.[11]

Berkat sokongan Inggris, perlahan tapi pasti aliansi Wahhabi-Saudi di bawah


kepemimpinan Abdul Aziz berhasil menaklukkan hampir seluruh jazirah Arab.
Puncaknya, tahun 1932 kerajaan Saudi Arabia terbentuk. Ini menandai periode
kebangkitan baru aliansi Wahhabi-Saudi.

Periode Ketiga (1932-Sekarang): Patron Baru dan Melemahnya Ikatan

Periode ini ditandai dengan perolehan atas kekayaan minyak dan peralihan dari
Inggris ke Amerika sebagai patron asing utama mereka. Kembali aliansi ini
dijadikan instrumen istimewa untuk kepentingan Amerika dan sekutunya di
Timur Tengah.

Melalui kucuran petrodollar, dalam beberapa dekade terakhir ini Saudi dan
Wahhabismenya itu berupaya tidak saja menghilangkan stigma buruk yang
melekat kepadanya, tetapi juga secara dramatis berusaha meningkatkan citra
diri di tengah dunia Islam. Oleh karena itu, Wahhabisme kini telah disajikan
sebagai gerakan reformis yang semata-mata bertujuan untuk melakukan
purifikasi di tubuh Islam. Sang pendiri, Muhammad Ibn Abdul-Wahhab pun
ditampilkan sebagai tokoh pembaharu yang telah berhasil memurnikan Islam
dari berbagai noda.

Hal-hal memalukan yang menjadi sorotan dunia pun berusaha dieliminasi.


Perlakuan diskriminasi terhadap kaum perempuan sebagai warga kelas tiga
semakin dikurangi. Tetapi isu-isu sektarian yang menyangkut perlakuan buruk
terhadap mazhab minoritas, terutama Syiah, tetap berlangsung.[12]

Namun seiring berjalannya waktu, gejala melemahnya ikatan antara kelompok


keagamaan Wahhabi dan keluarga Saudi pun semakin kentara. Pemicu utamanya
adalah maraknya korupsi, gaya hidup hedonis, serta mulai munculnya gejala
sekularisasi. Sejumlah kecil orang mulai berani mengecam dan berani
mengungkap penyimpangan-penyimpangan rezim Saudi.
Pemberontakan di Mekkah bulan November 1979, yang dipimpin oleh Juhaiman
Muhammad Utaibi, seorang mantan Kopral Garda Nasional Saudi, menjadi
peringatan awal adanya kekecewaan pada sebagian kalangan terhadap kerajaan
Saudi. Dikuasainya Masjidil Haram oleh sekelompok bersenjata cukup
mengejutkan dunia. Gejolak politik pun meledak. Lalu tentara Amerika dan Eropa
bersatu membantu pemerintah Saudi memulihkan situasi di tanah suci.[13]

Perang teluk 1991 dan ekspansi besar kehadiran Amerika semakin membuat
lebarnya jurang antara kelompok Wahhabi dan rezim Saud.

Sementara pemerintah Saudi semakin mesra dengan Amerika, para ulama


Wahhabi justru menganggap Amerika dan sekutunya adalah musuh yang harus
diperangi. Lantas orang bertanya, jika demikian, di mana ulama-ulama Wahhabi
ketika Irak diluluhlantakkan Amerika, ketika Hizbullah menahan gempuran Israel
selama 33 hari, juga ketika genosida terhadap rakyat Palestina berlangsung
hingga kini? Jawabnya sederhana: haram membantu perjuangan orang-orang
yang tidak seakidah dengan mereka.[14] Itu pula yang menyebabkan kerajaan
Saudi setengah hati ketika mendukung penyerangan Amerika terhadap tentara
Taliban di Afghanistan yang nota bene berpaham Wahhabi.

Maka ketika World Trade Center di New York luluh lantak pada tanggal 11
September 2001, ulama Wahhabi bernama Abdullah bin Jibrin mengeluarkan
fatwa yang tidak hanya membenarkan serangan terhadap WTC, tetapi juga
mengutuk orang-orang murtad dan kaum Muslim yang berkolaborasi dengan
Amerika, sebuah kategori yang jelas di dalamnya termasuk keluarga Kerajaan
Saudi.[15] Namun meski demikian, masih banyak jajaran ulama Wahhabi yang
tetap setia dengan rezim Saudi.

III. Salafisme: Wajah Baru Wahhabisme?

Ada pengertian yang agak kabur antara Wahhabisme dan Salafisme, apakah
keduanya sama atau berbeda. Pasalnya, kaum Wahhabi sering pula
mengatasnamakan diri sebagai As-Salaf. Namun jika ditinjau dari kategorisasi
historis, terdapat perbedaan di antara keduanya.

Sebagai respons terhadap berbagai perkembangan yang terjadi di dunia Islam,


berkaitan dengan makin luasnya dominasi kaum imperialis Barat, muncullah
tokoh-tokoh pembaharu seperti Jamal al-Din al-Afghani, Muhammad Abduh,
Rasyid Ridha, lalu dilanjutkan dengan Ikhwan al-Muslimin, dan singkatnya
diteruskan oleh berbagai tokoh dan gerakan yang dikenal sebagai Salafiyah.

Diantara tokoh-tokoh pembaharu di atas, Rasyid Ridha dikenal paling


fundamentalis dan konservatif. Seperti Ibn Abdul Wahhab, referensi langsungnya
adalah kepada masa lalu dan para pendahulu yang saleh (al-salaf al-shlih),
karena itu gerakan mereka disebut sebagai Salafiyah. Namun tidak seperti
Wahhabisme, gerakan ini berusaha merekonsiliasi ide-ide modern dan Islam
dengan menemukan (dan menafsirkan) kembali kebaikan-kebaikan yang
menurut mereka terdapat dalam agama.[16]

Akibat situasi politik di dunia Arab, era 1960-an tercipta hubungan yang lebih
erat antara Salafi dan Wahhabi ketika tejadi perang dingin antara kubu Mesir dan
Arab Saudi. Di bawah payung organisasi Liga Dunia Muslim yang dibentuk Arab
Saudi tahun 1962, kaitan lebih erat antara kaum Salafi dan Wahhabi terwujud.
Para anggota Ikhwan al-Muslimin di Mesir (dan belakangan di Suriah) hampir sulit
disalahkan jika mereka mendekatkan diri kepada Arab Saudi, mengingat
serangan-serangan yang mereka terima di negeri mereka sendiri. Padahal
kekhawatiran mereka sangat beralasan, yakni semakin prihatin dengan
cengkeraman imperialisme asing. Mungkin itulah sebabnya orang-orang dengan
kecenderungan Salafi seperti Rasyid Ridha, yang dengan perasaan kecewa
tengah mencari seorang pahlawan, mulai bersimpati pada Wahhabisme.

Di tengah transformasi Islam yang berkembang di Timur Tengah saat itu, salah
satu yang dikenal bercorak keras adalah yang lahir dari buah pemikiran Sayyid
Quthb (w.1960). Awalnya ia menggambarkan kondisi masyarakat kontemporer
sebagai neo-Jahiliyyah, namun kemudian ditafsirkan secara radikal oleh aliran
Islamis yang lebih muda dan ekstrem di Mesir (dan di beberapa tempat di Timur
Tengah). Implikasi paling serius yang telah dielaborasi adalah konsep takfir.
Muslim nominal (Islam KTP) telah menjadi kafir dan karena itu secara potensial
diperbolehkan dibunuh.[17]

Watak radikal itulah barangkali yang membuat sebagian orang menyamakan


Salafisme dengan Wahhabisme. Memang Salafisme memiliki sejumlah kesamaan
pandangan keberagamaan dengan Wahhabisme, tetapi perbedaannya cukup
mencolok. Adapun yang membedakannya adalah sebagai berikut:

Salafi lebih menekankan persuasi daripada pemaksaan dalam rangka mengajak


kaum Muslim untuk menerima pandangan mereka.
Salafi memiliki kesadaran dan pengetahuan mengenai krisis politik dan sosial-
ekonomi yang melanda dunia Islam.

Salafi merekonsiliasikan ide-ide modern dengan nilai-nilai dalam Islam.

Perbedaan di atas bisa ditarik ketikasekali lagiistilah Salafisme dikaitkan


dengan kategorisasi historis sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.
Mengingat saat ini agak kabur untuk membedakan keduanya, terutama yang
berkembang di Indonesia.

IV. Sekilas Ajaran Wahhabisme

Setelah memaparkan sejarah perkembangan Wahhabisme, penting kiranya


untuk sedikit menyinggung doktrin utama ajaran mereka.

Dari paparan sejarah sebelumnya, sebetulnya dapat terbaca bagaimana corak


ajaran mereka. Namun di bagian ini penulis akan mencoba meringkasnya seraya
menambahkan beberapa poin yang penulis anggap penting.

Kaum Wahhabi, seperti pendirinya, adalah orang-orang yang berpikir sangat


linier, literal, kaku, serta sangat denotatif dalam memahami ayat-ayat Al-Quran
maupun hadits. Umumnya mereka menolak majz (metafora). Bagi mereka,
semua inovasi itu sesat dan semua yang sesat itu masuk neraka. Sehingga
bidah hanyalah sebuah eufimisme, kata pelembut untuk kafir.[18]

Mereka juga menolak keberadaan seni dan budaya dalam Islam, serta tidak
mementingkan peninggalan sejarah Islam. Oleh karena itu, tempat-tempat
bersejarah Islam seperti rumah tempat kelahiran Nabi, rumah Ummul Muminn
Khadjah, serta tempat tinggal Nabi dihancurkan. Padahal, menurut Syaikh Jafar
Subhani, awalnya Muhammad ibn Abdul Wahhab memusatkan upayanya hanya
untuk menghancurkan kuburan-kuburan saja, bukan menghancurkan setiap
peninggalan yang ditinggalkan Rasulullah dan para sahabatnya yang mulia.
Tetapi para pengikutnya kini telah meluaskan usahanya dengan melakukan
pemusnahan setiap peninggalan Islam, dengan dalih perluasan kedua tempat
suci, Makkah dan Madinah.[19] Ini tentu sangat disayangkan dan penting untuk
diperhatikan kaum Muslim di seluruh dunia.
Kian hari umat Islam mengalami persoalan yang kian menumpuk. Namun bagi
Wahhabi, persoalan utama umat Islam terletak pada masalah tauhid, di mana
mereka membaginya menjadi tiga bagian:[20]

1). Tauhid al-Rububiyyah

Tauhid ini mengandung arti pengakuan bahwa hanya Allah semata yang memiliki
sifat rabb, penguasa dan pencipta dunia, yang menghidupkan dan mematikan.
Tauhid ini sekadar pengakuan verbal yang dengannya saja belum memadai
untuk mencapai kualitas sebagai Muslim.

2). Tauhid al-Asma wa al-Sifat

Mengandung pengertian hanya membenarkan nama dan sifat yang disebut


dalam Al-Quran. Tidak diperbolehkan menerapkan nama-nama tersebut kepada
siapapun selain Tuhan. Ini merupakan ulangan dari apa yang dirumuskan oleh
Ibn Taymiyyah yang mengecam antropomorfisme.

3). Tauhid al-Ibdah

Mengandung pengertian bahwa seluruh ibadah hanya ditujukan kepada Allah.


Tauhid inilah yang dianggap paling penting, yang membatasi secara tegas antara
Islam dan kufur, antara tauhid dan syirik. Di sini tauhd al-ibdah didefinisikan
secara negatif, dalam arti menghindari praktik-praktik tertentu; bukan secara
afirmatif. Inilah yang mengakibatkan perasaan takut terhadap apa yang
dianggap sebagai penyimpangan. Ini membantu menjelaskan mengapa
Wahhabisme memiliki watak yang sangat keras.[21] Maka segala macam bentuk
tawassul, ziyarah, tabarruk, syafah, hingga praktik-praktik yang telah menjadi
tradisi dalam Islam Sunni dan Syiah sepeti maulid, dianggap sebagai
pelanggaran atas tauhd al-ibdah.

Dalam pandangan Wahhabi, bidah dibagi menjadi dua: 1). Bidah dalam adat
dan tradisi; 2). Bidah dalam agama. Bidah yang pertama hukumnya mubah/
boleh, sedangkan yang kedua haram dan sesat. Bidah yang kedua kemudian
dibagi lagi menjadi dua: bidah qawliyyah itiqadiyyah dan bidah fi al-ibadah.
Bagi Wahhabi, kaum Syiah, Sufi, dan kebanyakan kaum Sunni telah melakukan
bidah baik bidah qawliyyah itiqadiyyah maupun bidah fi al-ibadah. Maka dari
itu boleh (bahkan harus) diperangi.

V. Refleksi

Wahhabisme pada awalnya memang merupakan sebuah gerakan keagamaan


murni hasil pemikiran seorang anak manusia sebagai respons terhadap praktik-
praktik lokal keberagamaan yang dipandang menodai kemurnian Islam. Bahwa
kemudian ia dijadikan alat oleh Inggris untuk menancapkan hegemoninya, ini
adalah hal lain yang memang tak dapat dipungkiri, bukti-bukti sejarah
menunjukkan demikian. Namun mengatakannya bahwa sejak awal memang
sudah diatur oleh Inggris, memerlukan bukti-bukti yang lebih kuat lagi. Adapun
memoar Confession of a British Spy tidak cukup kuat dijadikan bukti karena
mengandung beberapa kejanggalan, walaupun tetap patut dibaca untuk
meraba situasi jazirah Arab saat itu.

Jika saja aliansi Wahhabi-Saudi tak memiliki kekayaan berupa cadangan minyak
raksasa, gerakan Wahhabisme mungkin hanya tergores dalam catatan sejarah
sebagai gerakan pemikiran yang secara intelektual bersifat marjinal dan
berumur pendek saja. Namun nasib baik sebagai negeri kaya raya mampu
membuat mereka eksis hingga saat ini. Mereka memiliki modal kuat sehingga
mampu menyebarluaskan paham Wahhabisme di dunia Islam, hingga ke
Indonesia.[22] Dan penyebaran paham Wahhabisme di Indonesia terbilang cukup
pesat. Inilah salah satu sebab mengapa Indonesia yang sebelumnya sering
disebut sebagai contoh par excellence masyarakat Muslim yang lembut dan
sejuk, perlahan mengalami radikalisasi akibat pengaruh ideologi dan kebudayaan
luar.

Karakteristik Wahhabisme yang sangat kaku telah ikut membunuh tradisi


dialektika yang mewarnai peradaban Islam berabad-abad lamanya. Contoh
konkretnya bisa didapati di Makkah dan Madinah. Sangat disayangkan bahwa
Haramain yang telah berabad-abad lamanya menjadi pusat intelektual dunia
Islam, di tangan Wahhabi berakhir. Nyaris tak menyisakan apapun kecuali
lembaga-lembaga dakwah Wahhabisme yang secara absurd diberi label
Universitas. Padahal kegiatan intelektual menentukan perkembangan peradaban
suatu bangsa. Selama masih dalam genggaman kekuasaan Wahhabi, sulit
mengembalikan Makkah dan Madinah ke masa-masa awal ketika kedua kota
tersebut masih menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan di dunia Islam.

Imbas ekspansi Wahhabisme menyentuh pula aspek seni dan budaya. Fakta
yang ditemukan kini, nyaris tak ada peninggalan seni dan budaya Islam di Arab
Saudi. Maka menjadi sebuah ancaman serius ketika mereka berhasil mengekspor
pahamnya hingga berhasil memberangus seni dan budaya yang merupakan
muatan lokal suatu wilayah.

Memang sulit diterima ketika Wahhabisme menolak keragaman budaya dan


apresiasi terhadap seni. Sejak dulu kala keragaman seni dan budaya dalam Islam
begitu kaya, ekspresinya amat berwarna. Bahkan dalam pandangan sufistik, seni
merupakan manifestasi keindahan ilahiah yang mampu membangkitkan gairah
spiritualisme.

Hal lainnya yang patut menjadi sorotan adalah masalah persatuan Islam. Cara-
cara radikal yang mereka tempuh telah mengantarkan kepada tindakan kontra
produktif. Persatuan Islam yang selama ini telah dijaga utuh oleh berbagai
kalangan baik Sunni ataupun Syiah terancam secara serius akibat pandangan
sempit kelompok Wahhabi, yang sayangnya lagi, mudah dijadikan alat adu
domba oleh musuh Islam yang sesungguhnya.

Telah banyak sarjana, baik Muslim maupun non-Muslim, yang merasa prihatin
dengan implikasi negatif ekspansi Wahhabisme. Mereka cukup produktif
menghasilkan karya ilmiah untuk mengungkap sejarah kelam Wahhabisme.
Sayangnya, isu ini bukan sesuatu yang menarik bagi sebagian besar masyarakat
kita. Maka akibat sikap lalai, tak heran jika paham Wahhabisme dengan
mudahnya masuk ke sekolah-sekolah hingga ke Universitas.[23]

Mungkin membingungkan mengapa para mahasiswa dapat tertarik pada


pandangan Wahhabisme. Namun ketertarikan itu bisa jadi wajar, mengingat para
mahasiswa terbiasa dengan pandangan dunia rasionalistik yang didorong oleh
studi mereka di bidang teknologi, rekayasa dan ilmu alam. Lantas mereka
mendapati di dalam Wahhabisme ada Islam yang (seolah) telah dirasionalkan,
yakni Islam yang telah dibersihkan dari kompleksitas teologi dan kerumitan
sufisme, yang dinilai sebagai tambahan yang tergolong bidah. Singkatnya,
mereka menemukan bahwa Islam yang disajikan dalam bentuk sederhana dan
hitam-putih cocok bagi mereka.

Perlu dicatat bahwa tidak semua paham Wahhabi dan Salafi yang ada sekarang
setuju dengan cara-cara kekerasan. Ini seiring dengan dinamika kehidupan,
spektrum yang terbentuk menjadi semakin lebar dan melahirkan kategorisasi-
kategorisasi baru. Dalam hal ini, selama mereka tidak menggunakan cara-cara
kekerasan, dakwah mereka tidak dapat disalahkan. Justru ini menjadi PR besar
bagi kita untuk berusaha menyajikan ilmu-ilmu agama orisinil sebagai menu
yang mengundang selera anak-anak muda sejak dini. Sebab, bisa jadi mudahnya
mereka terdoktrin oleh ajaran Wahhabisme disebabkan karena kebanyakan dari
mereka belum menyadari betapa samudera keilmuan Islam sesungguhnya
begitu luas dan mempesona.[]

[1] Algar, Hamid. Wahhabisme, Sebuah Tinjauan Kritis, Jakarta: Paramadina,


2008, hal 28

[2] Kaum Wahhabi sendiri menganggap mereka sebagai representasi dari Ahl al-
Sunnah wa al-Jamah.

[3] Algar, Hamid, op. cit., hal 30

[4] Hamid Algar memandang motif perjalanan Ibnu Abdul Wahhab masih tanda
tanya. Sejarawan lainnya mengatakan untuk urusan bisnis atau sekadar
bersenang-senang. Ada juga yang mengatakan motif perjalanannya itu untuk
menimba ilmu.

[5] Abdullah Mohammad Sindi, Britain and the Rise of Wahhabism and the House
of Saud, e-Bulletin Vol.IV 16 January 2004, www.kanaanonline.org

[6] Meskipun catatan atau buku berjudul Confession of a British Spy ini diragukan
keasliannya oleh sebagian kalangan, termasuk Prof. Hamid Algar, namun cukup
layak dibaca untuk mengetahui gambaran situasi di jazirah Arab saat itu.

[7] Waqf Ikhls, Confession of a British Spy, Istanbul: Waqf Ikhlas Publications
No.14, Eight Edition, 2001

[8] Algar, Hamid, op. cit., hal 30, 44, 45, 47

[9] Dr. Mohammad Abdullah Sindi, op. cit.

[10] Ibid.
[11] Ibid.

[12] International Crisis Group, dalam jurnal tertanggal 19 September 2005,


melaporkan bahwa intimidasi terhadap kaum minoritas Syiah terus berlangsung,
bahkan di sekolah-sekolah guru-guru secara terbuka mengkafirkan Syiah di
depan para siswanya. Belum lagi fatwa ulama Wahhabi yang terang-terangan
menghalalkan darah kaum Syiah.

[13] Trofimov, Yaroslav, Kudeta Mekkah, eBook, Pustaka Alvabet,


http://books.google.co.id/books?
id=gPYcKbf6sxIC&printsec=frontcover&hl=en#v=onepage&q=&f=false

[14] Isu ini bisa dicek di beberapa website Wahhabi/ Salafi baik di luar maupun
dalam negeri. Sebagai contoh: http://www.salafy.or.id/salafy.php?
menu=detil&id_artikel=1086

[15] Algar, Hamid, op.cit., hal 119

[16] Fealy, Greg dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah, Pengaruh Radikalisme Timur
Tengah di Indonesia, Bandung: Mizan, 2007, hal 32

[17] Ibid, hal 41

[18] Muhsin Labib, Wahabisme Dan Teologi Penyesatan,


http://irfanpermana.wordpress.com/2007/02/28/wahabisme-dan-
%E2%80%98teologi-penyesatan%E2%80%99/

[19] Subhani, Jafar, Al-Milal wa Al-Nihal, Studi Tematis Mazhab Kalam,


Pekalongan: Penerbit Al-Hadi, 1997, hal 363

[20] Algar, Hamid, op.cit., hal 69


[21] Ibid, hal 72

[22] Greg Fealy dan Anthony Bubalo dalam bukunya, Jejak Kafilah, mengatakan
bahwa tiga organisasi di Indonesia secara khusus menerima dukungan dana
signifikan dari Arab Saudi. Mereka adalah DDII, Al-Irsyad, dan Persis. (Fealy, Greg
dan Anthony Bubalo, Jejak Kafilah, Bandung: Mizan, 2007)

[23] Baca tulisan Prof. Komaruddin Hidayat yang dipublikasikan di website


alamat berikut:
http://news.okezone.com/read/2009/10/23/58/268509/radikalisme-islam-
menyusup-ke-smu

Simak di: http://www.sarkub.com/2012/rekam-jejak-gerakan-


wahhabisme/#ixzz2i4zGuIxN

Salam Aswaja by Tim Menyan United

Follow us: @T_sarkubiyah on Twitter | Sarkub.Center on Facebook

http://modalusaha.com/akhir-zaman/23-sejarah-kerajaan-arab-saudi-dan-wahabi

Hizbut Tahrir Bukan Wahabi

Soal:
Siapa sebenarnya Wahabi? Benarkah Hizbut Tahrir Wahabi atau setidaknya mirip
Wahabi? Jika tidak, ada apa sebenarnya di balik tuduhan seperti ini?

Jawab:

Wahabi adalah gerakan Islam yang dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul
Wahhab (1115-1206 H/1701-1793 M). Muhammad bin Abdul Wahhab sebenarnya
merupakan pengikut mazhab Hanbali, kemudian berijtihad dalam beberapa
masalah, sebagaimana yang diakuinya sendiri dalam kitab, Shiynah al-Insn,
karya Muhammad Basyir as-Sahsawani.1 Meski demikian, hasil ijtihadnya dinilai
bermasalah oleh ulama Sunni yang lainnya.

Nama Wahabi sendiri telah dikubur oleh para pengikut dan penganutnya. Boleh
jadi karena sejarah kelam pada masa lalu. Namun, mereka mempunyai alasan
lain. Menurut mereka, ajaran Muhammad bin Abdul Wahbab adalah ajaran Nabi
Muhammad, bukan ajarannya sendiri. Karenanya, mereka lebih memilih untuk
menyebut diri mereka sebagai Salafi atau Muwahhidn, yang berarti orang-
orang yang mentauhidkan Allah, bukan Wahhbi.

Secara historis, gerakan Wahabi telah mengalami beberapa kali metamorfosis.


Mula-mula adalah gerakan keagamaan murni yang bertujuan untuk memurnikan
tauhid dari syirik, tahayul, bidah dan khurafat, yang dimulai dari Uyainah,
kampung halaman pendirinya tahun 1740 M. Di kampungnya, gerakan ini
mendapatkan penentangan. Muhammad bin Abdul Wahhab pun terusir dari
kampung halamannya dan berpindah ke Dariyyah. Di sini, pendiri Wahabi itu
mendapat perlindungan dari Muhammad bin Saud, yang notabene bermusuhan
dengan Amir Uyainah. Dalam kurun tujun tahun, sejak tinggal di Dariyyah,
dakwah Wahabi berkembang pesat.

Tahun 1747 M, Muhammad bin Saud, yang notabene adalah agen Inggris,
menyatakan secara terbuka penerimaannya terhadap berbagai pemikiran dan
pandangan keagamaan Muhammad bin Abdul Wahhab. Keduanya pun sama-
sama diuntungkan. Dalam kurun 10 tahun, wilayah kekuasaan Muhammad bin
Saud berkembang seluas 30 mil persegi. Muhammad bin Abdul Wahhab pun
diuntungkan, karena dakwahnya berkembang dan pengaruhnya semakin
menguat atas dukungan politik dari Ibn Saud. Namun, pengaruhnya berhenti
sampai di wilayah Ihsa 1757 M.

Ketika Ibn Saud meninggal dunia tahun 1765 M, kepemimpinannya diteruskan


oleh anaknya, Abdul Aziz. Namun, tidak ada perkembangan yang berarti dari
gerakan ini, kecuali setelah tahun 1787 M. Dengan kata lain, selama 31 tahun
(1957-1788 M), gerakan ini stagnan.

Namun, setelah Abdul Aziz, yang juga agen Inggris itu, mendirikan Dewan
Imarah pada tahun 1787 M, sekaligus menandai lahirnya sistem monarki, Wahabi
pun terlibat dalam ekspansi kekuasaan yang didukungnya, sekaligus
menyebarkan paham yang dianutnya. Tahun 1788 M, mereka menyerang dan
menduduki Kuwait. Melalui metode baru ini, gerakan ini menimbulkan instabilitas
di wilayah Khilafah Utsmani; di semenanjung Arabia, Irak dan Syam yang
bertujuan melepaskan wilayah tersebut dari Khilafah. Gerakan mereka akhirnya
berhasil dipukul mundur dari Madinah tahun 1812 M. Benteng terakhir mereka di
Dariyyah pun berhasil diratakan dengan tanah oleh Khilafah tahun 1818 M.
Sejak itu, nama Wahabi seolah terkubur dan lenyap ditelan bumi.2

Namun, pandangan dan pemikiran Wahabi memang tidak mati. Demikian juga
hubungan penganut dan pendukung Wahabi dengan keluarga Ibn Saud.

Metamorfosis berikutnya terjadi ketika mereka mengubah nama. Nama Wahabi


tidak pernah lagi digunakan, mungkin karena rentan. Akhirnya, mereka lebih
suka menyebut diri mereka Salafi. Namun, pandangan dan cara mereka
berdakwah tetap sama. Inilah fakta sejarah tentang Wahabi. Dari fakta ini jelas
sekali, bahwa Wahabi (Salafi) ikut membidani lahirnya Kerajaan Arab Saudi.
Karena itu, tidak aneh jika kemudian Wahabi (Salafi) senantiasa menjadi
pendukung kekuasaan Ibn Saud sekalipun Wahabi (Salafi) bukan merupakan
gerakan politik.

Ini jelas berbeda dengan Hizbut Tahrir. Hizbut Tahrir adalah partai politik yang
berideologi Islam. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kehidupan Islam
dengan mendirikan Khilafah yang menerapkan sistem Islam dan mengemban
dakwah Islam ke seluruh dunia. Politik adalah aktivitasnya.3 Meski begitu, Hizbut
Tahrir tidak pernah terlibat dalam pendirian rezim manapun yang berkuasa saat
ini di dunia. Hizb juga tidak pernah terlibat dalam dukung-mendukung
kekuasaan/negara manapun. Sebabnya, semua negara yang ada di seluruh
dunia saat ini bukanlah negara yang dibangun berdasarkan akidah Islam dan
memerintah berdasarkan hukum-hukum Allah. Dalam pandangan Islam, menurut
Hizb, satu-satunya negara bagi umat Islam di seluruh dunia adalah Khilafah,
yang notabene pernah dirongrong oleh konspirasi Inggris dan agennya, dinasti
Ibn Saud, termasuk di dalamnya menggunakan Wahabi.
Pandangan keagamaan Wahabi sebenarnya bukan hal yang baru. Dalam masalah
akidah, misalnya, Wahabi, banyak mengambil pandangan Ibn Taimiyyah dan
muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah. Tauhid, menurut mereka, ada dua yaitu:
tauhid rububiyyah wa asma wa shifat dan tauhid rububiyyah. Tauhid yang
pertama bertujuan untuk mengenal dan menetapkan Allah sebagai Rabb,
dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid yang kedua terkait dengan
tuntutan dan tujuan (at-thalab wa al-qashd).4 Syaikh Abd al-Aziz bin Baz,
kemudian membagi tauhid tersebut menjadi tiga: tauhid rububiyyah, tauhid
uluhiyyah dan tauhid al-asma wa as-shifat.5

Ini berbeda dengan Hizb. Dalam tauhid, Hizb tidak mengenal klasifikasi seperti
ini. Dalam pembahasan tentang sifat, misalnya, Hizb tidak membahas sifat dan
asma dalam konteks itsbt bil tahrf wa la tathl wa la takyf wa la tamtsl
(menetapkan sifat dan asma Allah, tanpa menyelewengkan, mengabaikan,
mendes-kripsikan tatacara-Nya dan menyerupakannya dengan yang lain),
sebagaimana lazimnya Wahabi.6 Hizb membahas sifat justru untuk meluruskan
perdebatan yang tidak berkesudahan, antara Muktazilah, yang menyatakan
bahwa sifat Allah sama dengan Dzat-Nya, dan Ahlussunnah, yang menyatakan,
bahwa sifat Allah tidak sama dengan Zat-Nya. Dalam pandangan Hizb,
perdebatan seperti ini tidak bisa dan tidak boleh dilakukan, karena tidak
berangkat dari fakta, melainkan didasarkan pada asumsi mantik.7

Bagi Wahabi, masalah utama umat Islam adalah masalah akidah; akidah umat ini
dianggap sesat, karena dipenuhi syirik, tahayul, bidah dan khurafat. Karena itu,
aktivitas dakwah mereka difokuskan pada upaya purifikasi (pemurnian) akidah
dan ibadah umat Islam. akidah dimurnikan dari syirik, baik syirik ashghar (syirik
kecil), akbar (syirik besar) maupun syirik khafi (syirik yang samar-samar); juga
tahayul dan khurafat. Ibadah juga harus dimurnikan dari bidah, yang
didefinisikan sebagai membuat metode yang tidak dicontohkan sebelumnya.
Dalam pandangan mereka, bidah ada dua: bidah dalam adat dan tradisi; bidah
dalam agama. Bidah yang pertama, menurut mereka, hukumnya mubah/boleh.
Bidah yang kedua semuanya haram dan sesat (dhalalah). Bidah yang kedua ini
mereka bagi menjadi dua: Bidah qawliyyah itiqadiyyah, seperti ucapan dan
pandangan Jahmiyah, Muktazilah, Rafidhah dan sebagainya; bidah fi al-ibdah.8

Ini berbeda dengan Hizb. Pandangan seperti ini, menurut Hizb, juga berbahaya
karena menganggap seolah-oleh umat Islam belum berakidah Islam. Ini tampak
pada pandangan mereka terhadap kaum muslim yang lain, selain kelompok
mereka, yang dianggap sesat. Bahkan mereka tidak jarang saling sesat-
menyesatkan terhadap kelompok sempalan mereka. Pandangan ini, menurut
Hizb, sebagaimana disebutkan dalam kitab Nid al-Hr, tidak proporsional.
Betul, bahwa ada masalah dalam akidah umat Islam, tetapi tidak berarti mereka
belum berakidah Islam. Bagi Hizb, umat Islam sudah berakidah Islam. Hanya
saja, akidahnya harus dibersihkan dari kotoran dan debu, yang disebabkan oleh
pengaruh kalam dan filsafat. Karena itu, Hizb tidak pernah menganggap umat
Islam ini sesat. Hizb juga menganggap, bahwa persoalan akidah ini, meski
penting, bukanlah masalah utama. Bagi Hizb, masalah utama umat Islam adalah
tidak berdaulatnya hukum Allah dalam kehidupan mereka. Karena itu, fokus
perjuangan Hizb adalah mengembalikan kedaulatan hukum Allah, dengan
menegakkan kembali Khilafah.

Bagi Hizb, akidah umat harus dibersihkan agar bisa menjadi landasan yang
kokoh dalam kehidupan pribadi, masyarakat dan negara. Setelah itu, akidah
yang hidup di dalam diri umat ini akan mampu membangkitkan mereka dari
keterpurukan, dan akhirnya mendorong mereka untuk memperjuangkan
tegaknya Khilafah dan hukum Allah di muka bumi.

Dengan pandangan Wahabi seperti itu terhadap akidah umat Islam, ditambah
ketidaktahuan mereka tentang konstruksi masyarakatyang terdiri dari
manusia, pemikiran, perasaan dan systemmaka wajar jika sejarah Wahabi
berlumuran darah kaum muslim. Situs-situs penting dan bersejarah di dalam
Islam pun mereka hancurkan. Semuanya dengan dalih membebaskan umat Islam
dari syirik dan khurafat. Ini jelas berbeda dengan Hizb. Hizb tahu persis
konstruksi masyarakat sehingga dalam dakwahnya tidak pernah menyerang
manusia atau obyek-obyek fisik, seperti situs-situs penting dan bersejarah;
melainkan menyerang pemikiran, perasaan dan sistem yang diyakini dan
dipraktikkan oleh manusia. Itulah yang menjadi fokus serangan Hizb. Karena itu,
dakwah Hizb dikenal sebagai dakwah fikriyyah l unfiyyah (intelektual dan non-
kekesaran).

Pendek kata, perbedaan Hizb dengan Wahabi begitu jelas dan nyata.
Menyamakan Hizb dengan Wahabi bisa jadi karena tidak mengerti tentang
kedua-duanya, atau sengaja untuk melakukan monsterisasi terhadap Hizb, agar
disalahpahami, dibenci dimusuhi dan dijauhi oleh umat. Inilah yang sebenarnya
hendak dilakukan. Lalu siapa yang diuntungkan dengan semuanya ini, tentu
bukan Islam dan kaum muslim, melainkan kaum kafir penjajah dan para boneka
mereka, yang tetap menginginkan negeri-negeri muslim, seperti Indonesia, ini
tetap terjajah. Nadzu billh. []

Catatan kaki:

1 Lihat, Muhammad Basyir as-Sahsawani, Shiynah al-Insn, hlm. 475.


2 Lihat, Abdul Qadm Zallm, Kayfa Hudimat al-Khilfah, Dr al-Ummah, Beirut,
1994.

3 Taqiyuddn an-Nabhni, Mafhm Hizb at-Tahrr, Min Mansyrat Hizb at-Tahrr,


cet. ke-6, edisi Muktamadah, 2001, hlm. 84.

4 Syaikh Abdurrahman bin Hasan Ali as-Syaikh, Fath al-Majd: Syarah Kitb at-
Tawhd, Muassasah Qurthubah, t.t., hlm. 25.

5 Syaikh Abdul Aziz bin Bz, Al-Ahkam al-Mulimmah ala ad-Durus al-Muhimmah
li Ammati al-Ummah, Makatabah al-Malik Fahd al-Wathaniyyah, cet. II, 1423 H,
hlm. 30.

6 Syaikh Abdurrahman bin Hasan Ali as-Syaikh, Fath al-Majd: Syarh Kitb at-
Tawhd, hlm. 25; Syaikh Abdul Aziz bin Bz, Al-Ahkam al-Mulimmah ala ad-
Durus al-Muhimmah li Ammati al-Ummah, hlm. 20.

7 Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah al-Juz al-Awwl,


Min Mansyrat Hizb at-Tahrr, cet. ke-6, edisi Muktamadah, 2003, hlm. 116-124.

8 Dr. Fauzan bin Abdullah Fauzan, Aqdah at-Tawhd, Mamlakah al-Arabiyyah as-
Saudiyyah, Muassasah al-Haramain al-Khairiyyah, Riyadh, hlm. 176-177.

http://hizbut-tahrir.or.id/2009/07/29/hizbut-tahrir-wahabi/

Setahu sy memang HT ataupun IM bukanlah


wahabi. Bahkan kaum wahabipun mencap
HT & IM adalah kelompok sesat, jd jelas
kalau HT & IM bukan wahabi

Fatwa Wahabi Kafirkan Sayyid Maliki