Anda di halaman 1dari 31

Post Op Laparatomi

Peritonitis e.c Apendisitis Perforasi

A. Konsep Dasar Medis Peritonitis

1. Definisi
Peritonitis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan
peradangan pada peritoneum. Peritoneum adalah lapisan tipis dari jaringan
yang melapisi organ-organ perut dan terletak di dalam dinding perut.
Peradangan ini disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur pada membran
ini (e.g. appendicitis, salpingitis), perforasi saluran cerna, atau dari luka
tembus abdomen. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme
yang hidup dalan colon (pada kasus rupture app) yang mencakup E.coli
atau bacteroides, sedangkan stafilokokus dan streptokokus seringkali
masuk dari luar.
Pada keadaan normal, peritoneum resisten terhadap infeksi bakteri
secara inokulasi kecil-kecilan. Kontaminasi yang terus menerus, bakteri
yang virulen, penurunan resistensi, dan adanya benda asing atau enzim
pencernaan aktif merupakan faktor-faktor yang memudahkan terjadinya
peritonitis.
Peritonitis merupakan suatu kegawatdaruratan yang biasanya disertai
dengan bakterecemia atau sepsis. Akut peritonitis sering menular dan
sering dikaitkan dengan perforasi viskus (secondary peritonitis). Apabila
tidak ditemukan sumber infeksi pada intraabdominal, peritonitis diketagori
sebagai primary peritonitis.
Peritonitis adalah keadaan darurat yang mengancam jiwa karena
memerlukan perawatan medis secepatnya. Infeksi menghentikan
pergerakan usus yang normal (peristaltik). Tubuh segera mengalami
dehidrasi, dan zat-zat kimia penting yang disebut elektrolit dapat menjadi
sangat terganggu. Seseorang yang menderita peritonitis dan tidak dirawat
dapat meninggal dalam beberapa hari.

2. Anatomi Fisiologi Peritoneum

1
Peritoneum merupakan membran yang terdiri dari satu lapis sel
mesothel yang dipisah dari jaringan ikat vaskuler dibawahnya oleh
membrane basalis. Ia membentuk kantong tertutup dimana visera dapat
bergerak bebas didalamnya. Peritoneum meliputi rongga abdomen sebagai
peritoneum parietalis dan melekuk ke organ sebagai peritoneum viseralis
(Marshall, 2003).
Luas permukaannya mendekati luas permukaan tubuh yang pada
orang dewasa mencapai 1,7m2. Ia berfungsi sebagai membrane
semipermeabel untuk difusi 2 arah untuk cairan dan partikel. Luas
permukaan untuk difusi seluas 1m2 (Heemken, 1997).
Pada rongga peritoneum dewasa sehat terdapat 100cc cairan
peritoneal yang mengandung protein 3 g/dl. Sebagian besar berupa
albumin. Jumlah sel normal adalah 33/mm3 yang terdiri dari 45%
makrofag, 45% sel T, 8% sisanya terdiri dari NK, sel B, eosinofil, dan sel
mast serta sekretnya terutama prostasiklin dan PGE2. Bila terjadi
peradangan jumlah PMN dapat meningkat sampai > 3000/mm3 (Marshall,
2003).
Dalam keadaan normal, 1/3 cairan dalam peritoneum di drainase
melalui limfe diafragma sedang sisanya melalui peritoneum parietalis
(Evans, 2001).
Relaksasi diafragma menimbulkan tekanan negatif sehingga cairan
dan partikel termasuk bakteri akan tersedot ke stomata yaitu celah di
mesothel difragma yang berhubungan dengan lacuna limfe untuk bergerak
le limfe substernal. Kontraksi diafragma menutup stomata dan mendorong
limfe ke mediastinum (Hau, 2003).
Oleh karena itu, sangat penting menjamin berlangsungnya pernapasan
spontan yang baik agar clearance bakteri peritoneum dapat berlangsung
(Evans, 2001).

3. Klasifikasi

a) Peritonitis Primer

2
Peritonitis primer disebabkan oleh penyebaran infeksi dari pembuluh
darah dan pembuluh limfe ke peritoneum. Penyebab peritonitis primer
yang paling umum adalah penyakit hati. Peritonitis tipe ini sangat
jarang ditemukan, insidennya + 1 % dari semua penyebab peritonitis.

b) Peritonitis Sekunder

Peritonitis sekunder adalah tipe peritonitis yang lebih umum. Hal ini
terjadi ketika infeksi yang berasal dari saluran pencernaan atau saluran
empedu menyebar kedalam peritoneum. Selain itu juga dapat terjadi
dari sumber eksternal seperti cedera atau trauma (Misal : luka tembak /
tusuk).

4. Etiologi
Peritonitis biasanya disebabkan oleh :
a) Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering
menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung
empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal
terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus,
tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami
penyembuhan bila diobati.

b) Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan


kegiatan seksual.

c) Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh
beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan
infeksi chlamidia)

d) Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di


perut (asites) dan mengalami infeksi

e) Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada


kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama

3
pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran
juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian
usus.

f) Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan


peritonitis. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran
yang ditempatkan di dalam perut.

g) Iritasi tanpa infeksi. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut)


atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat
menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.

5. Patofisiologi
Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya
eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah (abses) terbentuk di antara
perlekatan fibrinosa, yang menempel menjadi satu dengan permukaan
sekitarnya sehingga membatasi infeksi. Perlekatan biasanya menghilang
bila infeksi menghilang, tetapi dapat menetap sebagai pita-pita fibrosa,
yang kelak dapat mengakibatkan obstuksi usus (Fauci et al, 2008).
Peradangan menimbulkan akumulasi cairan karena kapiler
dan membran mengalami kebocoran. Jika defisit cairan tidak
dikoreksi secara cepat dan agresif, maka dapat menimbulkan kematian
sel. Pelepasan berbagai mediator, seperti misalnya interleukin,
dapat memulai respon hiperinflamatorius, sehingga membawa
ke perkembangan selanjutnya dari kegagalan banyak organ. Karena tubuh
mencoba untuk mengkompensasi dengan cara retensi cairan dan elektrolit
oleh ginjal, produk buangan juga ikut menumpuk. Takikardi awalnya
meningkatkan curah jantung, tapi ini segera gagal begitu terjadi
hipovolemia (Fauci et al, 2008).
Organ-organ didalam cavum peritoneum termasuk dinding abdomen
mengalami oedem. Oedem disebabkan oleh permeabilitas pembuluh darah
kapiler organ-organ tersebut meninggi. Pengumpulan cairan didalam
rongga peritoneum dan lumen-lumen usus serta oedem seluruh organ intra

4
peritoneal dan oedem dinding abdomen termasuk jaringan
retroperitoneal menyebabkan hipovolemia. Hipovolemia bertambah
dengan adanya kenaikan suhu, masukan yang tidak ada, serta muntah.
Terjebaknya cairan di cavum peritoneum dan lumen usus, lebih lanjut
meningkatkan tekanan intra abdomen, membuat usaha pernapasan penuh
menjadi sulit dan menimbulkan penurunan perfusi (Fauci et al, 2008).
Bila bahan yang menginfeksi tersebar luas pada
permukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar, dapat timbul
peritonitis umum. Dengan perkembangan peritonitis umum,
aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik; usus
kemudian menjadi atoni dan meregang. Cairan dan elektrolit hilang
kedalam lumen usus, mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan
sirkulasi dan oliguria. Perlekatan dapat terbentuk antara lengkung-
lengkung usus yang meregang dan dapat mengganggu
pulihnya pergerakan usus dan mengakibatkan obstruksi usus (Fauci et al,
2008).
Sumbatan yang lama pada usus atau obstruksi usus
dapat menimbulkan ileus karena adanya gangguan mekanik
(sumbatan) maka terjadi peningkatan peristaltik usus sebagai usaha
untuk mengatasi hambatan. Ileus ini dapat berupa ileus sederhana yaitu
obstruksi usus yang tidak disertai terjepitnya pembuluh darah dan dapat
bersifat total atau parsial, pada ileus stangulasi obstruksi disertai
terjepitnya pembuluh darah sehingga terjadi iskemi yang akan berakhir
dengan nekrosis atau ganggren dan akhirnya terjadi perforasi usus dan
karena penyebaran bakteri pada rongga abdomen sehingga dapat terjadi
peritonitis (Fauci et al, 2008).
Tifus abdominalis adalah penyakit infeksi akut usus halus
yang disebabkan kuman S. Typhi yang masuk tubuh manusia
melalui mulut dari makan dan air yang tercemar. Sebagian
kuman dimusnahkan oleh asam lambung, sebagian lagi masuk ke
usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di
ileum terminalis yang mengalami hipertropi ditempat ini

5
komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi, perforasi
ileum pada tifus biasanya terjadi pada penderita yang demam
selama kurang lebih 2 minggu yang disertai nyeri kepala, batuk
dan malaise yang disusul oleh nyeri perut, nyeri tekan, defansmuskuler,
dan keadaan umum yang merosot karena toksemia (Fauci et al, 2008).
Perforasi tukak peptik khas ditandai oleh perangsangan
peritoneum yang mulai di epigastrium dan meluas keseluruh peritonium
akibat peritonitis generalisata. Perforasi lambung dan duodenum
bagian depan menyebabkan peritonitis akut. Penderita yang
mengalami perforasi ini tampak kesakitan hebat seperti ditikam di perut.
Nyeri ini timbul mendadak terutama dirasakan di daerah
epigastrium karena rangsangan peritonium oleh asam lambung, empedu
dan atau enzim pankreas. Kemudian menyebar keseluruh perut
menimbulkan nyeri seluruh perut pada awal perforasi, belum ada infeksi
bakteria, kadang fase ini disebut fase peritonitis kimia, adanya nyeri di
bahu menunjukkan rangsangan peritoneum berupa mengenceran zat asam
garam yang merangsang, ini akan mengurangi keluhan untuk sementara
sampai kemudian terjadi peritonitis bacteria (Fauci et al, 2008).
Pada apendisitis biasanya biasanya disebabkan oleh
penyumbatan lumen apendiks oleh hiperplasi folikel limfoid, fekalit,
benda asing, striktur karena fibrosis dan neoplasma. Obstruksi
tersebut menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa mengalami
bendungan, makin lama mukus tersebut makin banyak, namun elastisitas
dinding apendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan
peningkatan tekanan intralumen dan menghambat aliran limfe yang
mengakibatkan oedem, diapedesis bakteri, ulserasi mukosa, dan obstruksi
vena sehingga udem bertambah kemudian aliran arteri terganggu akan
terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan nekrosis atau ganggren
dinding apendiks sehingga menimbulkan perforasi dan
akhirnya mengakibatkan peritonitis baik lokal maupun general (Fauci et
al, 2008).

6
Pada trauma abdomen baik trauma tembus abdomen dan
trauma tumpul abdomen dapat mengakibatkan peritonitis sampai
dengan sepsis bila mengenai organ yang berongga intra
peritonial. Rangsangan peritonial yang timbul sesuai dengan isi dari
organ berongga tersebut, mulai dari gaster yang bersifat kimia
sampai dengan kolon yang berisi feses. Rangsangan kimia onsetnya paling
cepat dan feses paling lambat. Bila perforasi terjadi dibagian atas,
misalnya didaerah lambung maka akan terjadi perangsangan segera
sesudah trauma dan akan terjadi gejala peritonitis hebat sedangkan bila
bagian bawah seperti kolon, mula-mula tidak terjadi gejala karena
mikroorganisme membutuhkan waktu untuk berkembang biak baru setelah
24 jam timbul gejala akut abdomen karena perangsangan peritoneum
(Fauci et al, 2008).

6. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda biasanya berhubungan dengan proses penyebaran di
dalam rongga abdomen. Bertanya gejala berhubungan dengan beberapa
faktor yaitu: lamanya penyakit, perluasan dari kontaminasi cavum
peritoneum dan kemampuan tubuh untuk melawan, usia serta tingkat
kesehatan penderita secara umum (Cole et al,1970).
Manifestasi klinis dapat dibagi menjadi (1) tanda abdomen yang
berasal dari awal peradangan dan (2) manifestasi dari infeksi sistemik.
Penemuan lokal meliputi nyeri abdomen, nyeri tekan, kekakuan dari
dinding abdomen, distensi, adanya udara bebas pada cavum peritoneum
dan menurunnya bising usus yang merupakan tanda iritasi dari peritoneum
parietalis dan menyebabkan ileus. Penemuan sistemik meliputi demam,
menggigil, takikardi, berkeringat, takipneu, gelisah, dehidrasi, oliguria,
disorientasi dan pada akhirnya dapat menjadi syok (Doherty, 2006).
a) Gejala
1) Nyeri abdomen
Nyeri abdomen merupakan gejala yang hampir selalu ada pada
peritonitis. Nyeri biasanya datang dengan onset yang tiba-tiba, hebat

7
dan pada penderita dengan perforasi nyerinya didapatkan pada
seluruh bagian abdomen (Doherty, 2006).
Seiring dengan berjalannya penyakit, nyeri dirasakan terus-menerus,
tidak ada henti-hentinya, rasa seperti terbakar dan timbul dengan
berbagai gerakan. Nyeri biasanya lebih terasa pada daerah dimana
terjadi peradangan peritoneum. Menurunnya intensitas dan
penyebaran dari nyeri menandakan adanya lokalisasi dari proses
peradangan, ketika intensitasnya bertambah meningkat disertai
dengan perluasan daerah nyeri menandakan penyebaran dari
peritonitis (Schwartz et al, 1989).
2) Anoreksia, mual, muntah dan demam
Pada penderita juga sering didapatkan anoreksia, mual dan dapat
diikuti dengan muntah. Penderita biasanya juga mengeluh haus dan
badan terasa seperti demam sering diikuti dengan menggigil yang
hilang timbul. Meningkatnya suhu tubuh biasanya sekitar 38 OC
sampai 40 OC (Schwartz et al, 1989).
3) Facies Hipocrates
Pada peritonitis berat dapat ditemukan fascies Hipocrates. Gejala ini
termasuk ekspresi yang tampak gelisah, pandangan kosong, mata
cowong, kedua telinga menjadi dingin, dan muka yang tampak
pucat (Cole et al,1970).
Penderita dengan peritonitis lanjut dengan fascies Hipocrates
biasanya berada pada stadium pre terminal. Hal ini ditandai dengan
posisi mereka berbaring dengan lutut difleksikan dan respirasi
interkosta yang terbatas karena setiap gerakan dapat menyebabkan
nyeri pada abdomen (Schwartz et al, 1989).
Tanda ini merupakan patognomonis untuk peritonitis berat dengan
tingkat kematian yang tinggi, akan tetapi dengan mengetahui lebih
awal diagnosis dan perawatan yang lebih baik, angka kematian
dapat lebih banyak berkurang (Cole et al,1970).
4) Syok
Pada beberapa kasus berat, syok dapat terjadi oleh karena dua
faktor. Pertama akibat perpindahan cairan intravaskuler ke cavum

8
peritoneum atau ke lumen dari intestinal. Yang kedua dikarenakan
terjadinya sepsis generalisata (Cole et al,1970).
Yang utama dari septicemia pada peritonitis generalisata melibatkan
kuman gram negative dimana dapat menyebabkan terjadinya tahap
yang menyerupai syok. Mekanisme dari fenomena ini belum jelas,
akan tetapi dari penelitian diketahui bahwa efek dari endotoksin
pada binatang dapat memperlihatkan sindrom atau gejala-gejala
yang mirip seperti gambaran yang terlihat pada manusia (Cole et
al,1970).
b) Tanda
1) Tanda Vital
Tanda vital sangat berguna untuk menilai derajat keparahan atau
komplikasi yang timbul pada peritonitis. Pada keadaan asidosis
metabolic dapat dilihat dari frekuensi pernafasan yang lebih cepat
daripada normal sebagai mekanisme kompensasi untuk
mengembalikan ke keadaan normal. Takikardi, berkurangnya
volume nadi perifer dan tekanan nadi yang menyempit dapat
menandakan adanya syok hipovolemik. Hal-hal seperti ini harus
segera diketahui dan pemeriksaan yang lebih lengkap harus
dilakukan dengan bagian tertentu mendapat perhatian khusus untuk
mencegah keadaan yang lebih buruk (Schwartz et al, 1989).
2) Inspeksi
Tanda paling nyata pada penderita dengan peritonitis adalah
adanya distensi dari abdomen. Akan tetapi, tidak adanya tanda
distensi abdomen tidak menyingkirkan diagnosis peritonitis,
terutama jika penderita diperiksa pada awal dari perjalanan
penyakit, karena dalam 2-3 hari baru terdapat tanda-tanda distensi
abdomen. Hal ini terjadi akibat penumpukan dari cairan eksudat
tapi kebanyakan distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik
(Cole et al,1970).
3) Auskultasi
Auskultasi harus dilakukan dengan teliti dan penuh perhatian.
Suara usus dapat bervariasi dari yang bernada tinggi pada seperti
obstruksi intestinal sampai hampir tidak terdengar suara bising

9
usus pada peritonitis berat dengan ileus. Adanya suara borborygmi
dan peristaltic yang terdengar tanpa stetoskop lebih baik daripada
suara perut yang tenang. Ketika suara bernada tinggi tiba-tiba
hilang pada abdomen akut, penyebabnya kemungkinan adalah
perforasi dari usus yang mengalami strangulasi (Cole et al,1970).
4) Perkusi
Penilaian dari perkusi dapat berbeda tergantung dari pengalaman
pemeriksa. Hilangnya pekak hepar merupakan tanda dari adanya
perforasi intestinal, hal ini menandakan adanya udara bebas dalam
cavum peritoneum yang berasal dari intestinal yang mengalami
perforasi. Biasanya ini merupakan tanda awal dari peritonitis (Cole
et al,1970).
Jika terjadi pneumoperitoneum karena rupture dari organ berongga,
udara akan menumpuk di bagian kanan abdomen di bawah
diafragma, sehingga akan ditemukan pekak hepar yang menghilang
(Schwartz et al, 1989).
5) Palpasi
Palpasi adalah bagian yang terpenting dari pemeriksaan abdomen
pada kondisi ini. Kaidah dasar dari pemeriksaan ini adalah dengan
palpasi daerah yang kurang terdapat nyeri tekan sebelum berpindah
pada daerah yang dicurigai terdapat nyeri tekan. Ini terutama
dilakukan pada anak dengan palpasi yang kuat langsung pada
daerah yang nyeri membuat semua pemeriksaan tidak berguna.
Kelompok orang dengan kelemahan dinding abdomen seperti pada
wanita yang sudah sering melahirkan banyak anak dan orang yang
sudah tua, sulit untuk menilai adanya kekakuan atau spasme dari
otot dinding abdomen. Penemuan yang paling penting adalah
adanya nyeri tekan yang menetap lebih dari satu titik. Pada stadium
lanjut nyeri tekan akan menjadi lebih luas dan biasanya didapatkan
spasme otot abdomen secara involunter. Orang yang cemas atau
yang mudah dirangsang mungkin cukup gelisah, tapi di
kebanyakan kasus hal tersebut dapat dilakukan dengan
mengalihkan perhatiannya. Nyeri tekan lepas timbul akibat iritasi

10
dari peritoneum oleh suatu proses inflamasi. Proses ini dapat
terlokalisir pada apendisitis dengan perforasi local, atau dapat
menjadi menyebar seperti pada pancreatitis berat. Nyeri tekan lepas
dapat hanya terlokalisir pada daerah tersebut atau menjalar ke titik
peradangan yang maksimal (Cole et al,1970).
Pada peradangan di peritoneum parietalis, otot dinding perut
melakukan spasme secara involunter sebagai mekanisme
pertahanan. Pada peritonitis, reflek spasme otot menjadi sangat
berat seperti papan (Schwartz et al, 1989).

7. Pemeriksaan Diagnostik
a) Laboratorium
Evaluasi laboratotium hanya dilakukan jika adanya hubungan
antara riwayat penyakit dengan pemeriksaan fisik. Tes yang paling
sederhana dilakukan adalah termasuk hitung sel darah dan urinalisis.
Pada kasus peritonitis hitung sel darah putih biasanya lebih dari
20.000/mm3, kecuali pada penderita yang sangat tua atau seseorang
yang sebelumnya terdapat infeksi dan tubuh tidak dapat mengerahkan
mekanisme pertahanannya (Cole et al,1970).
Pada perhitungan diferensial menunjukkan pergeseran ke kiri dan
didominasi oleh polimorfonuklear yang memberikan bukti adanya
peradangan, meskipun jumlah leukosit tidak menunjukkan peningkatan
yang nyata (Schwartz et al, 1989).
Analisa gas darah, serum elektrolit, faal pembekuan darah serta
tes fungsi hepar dan ginjal dapat dilakukan (Doherty, 2006).
b) Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada kebanyakan kasus peritonitis hanya
mencakup foto thorak PA dan lateral serta foto polos abdomen. Pada
foto thorak dapat memperlihatkan proses pengisian udara di lobus
inferior yang menunjukkan proses intraabdomen. Dengan
menggunakan foto polos thorak difragma dapat terlihat terangkat pada
satu sisi atau keduanya akibat adanya udara bebas dalam cavum

11
peritoneum daripada dengan menggunakan foto polos abdomen (Cole
et al,1970).
Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis, usus
halus dan usus besar mengalami dilatasi, udara bebas dapat terlihat
pada kasus perforasi. Foto polos abdomen paling tidak dilakukan
dengan dua posisi, yaitu posisi berdiri/tegak lurus atau lateral
decubitus atau keduanya. Foto harus dilihat ada tidaknya udara bebas.
Gas harus dievaluasi dengan memperhatikan pola, lokasi dan jumlah
udara di usus besar dan usus halus (Cole et al,1970).

8. Penatalaksanaan
Tatalaksana utama pada peritonitis antara lain pemberian cairan dan
elektrolit, kontrol operatif terhadap sepsis dan pemberian antibiotik
sistemik (Doherty, 2006).
a) Penanganan Preoperatif
1) Resusitasi Cairan
Peradangan yang menyeluruh pada membran peritoneum
menyebabkan perpindahan cairan ekstraseluler ke dalam cavum
peritoneum dan ruang intersisial (Schwartz et al, 1989).
Pengembalian volume dalam jumlah yang cukup besar
melalui intravaskular sangat diperlukan untuk menjaga produksi
urin tetap baik dan status hemodinamik tubuh. Jika terdapat anemia
dan terdapat penurunan dari hematokrit dapat diberikan transfusi
PRC (Packed Red Cells) atau WB (Whole Blood). Larutan
kristaloid dan koloid harus diberikan untuk mengganti cairan yang
hilang (Doherty, 2006).
Secara teori, cairan koloid lebih efektif untuk mengatasi
kehilangan cairan intravaskuler, tapi cairan ini lebih mahal.
Sedangkan cairan kristaloid lebih murah, mudah didapat tetapi
membutuhkan jumlah yang lebih besar karena kemudian akan
dikeluarkan lewat ginjal (Schwartz et al, 1989). Suplemen kalium
sebaiknya tidak diberikan hingga perfusi dari jaringan dan ginjal
telah adekuat dan urin telah diprodukasi (Doherty, 2006).
2) Antibiotik

12
Bakteri penyebab tersering dari peritonitis dapat dibedakan
menjadi bakteri aerob yaitu E. Coli, golongan Enterobacteriaceae
dan Streptococcus, sedangkan bakteri anaerob yang tersering
adalah Bacteriodes spp, Clostridium, Peptostreptococci. Antibiotik
berperan penting dalam terpai peritonitis, pemberian antibiotik
secara empiris harus dapat melawan kuman aerob atau anaerob
yang menginfeksi peritoneum (Schwartz et al, 1989).
Pemberian antibiotik secara empiris dilakukan sebelum
didapatkan hasil kultur dan dapat diubah sesuai dengan hasil kultur
dan uji sensitivitas jika masih terdapat tanda infeksi. Jika penderita
baik secara klinis yang ditandai dengan penurunan demam dan
menurunnya hitung sel darah putih, perubahan antibiotik harus
dilakukan dengan hati-hati meskipun sudah didapatkan hasil dari
uji sensitivitas (Cole et al,1970).
Efek pemberian antibiotik pada peritonitis tergantung
kondisi-kondisi seperti: (1) besar kecilnya kontaminasi bakteri, (2)
penyebab dari peritonitis trauma atau nontrauma, (3) ada tidaknya
kuman oportunistik seperti candida. Agar terapi menjadi lebih
efektif, terapi antibiotik harus diberikan lebih dulu, selama dan
setelah operasi (Schwartz et al, 1989).
Pada umumnya Penicillin G 1.000.000 IU dan streptomycin 1
gram harus segera diberikan. Kedua obat ini merupakan
bakterisidal jika dipertahankan dalam dosis tinggi dalam plasma.
Kombinasi dari penicillin dan streptomycin juga memberikan
cakupan dari bakteri gram negatif. Penggunaan beberapa juta unit
dari peniillin dan 2 gram streptomycin sehari sampai didapatkan
hasil kultur merupakan regimen terpai yang logis. Pada penderita
yang sensitif terhadap penicillin, tetracycline dosis tinggi yang
diberikan secara parenteral lebih baik daripada chloramphenicol
pada stadium awal infeksi (Cole et al,1970).

13
Pemberian clindamycin atau metronidazole yang dikombinasi
dengan aminoglikosida sama baiknya jika memberikan
cephalosporin generasi kedua (Schwartz et al, 1989).
Antibiotik awal yang digunakan cephalosporin generasi
ketiga untuk gram negatif, metronidazole dan clindamycin untuk
organisme anaerob (Doherty, 2006).
Daya cakupan dari mikroorganisme aerob dan anerob lebih
penting daripada pemilihan terapi tunggal atau kombinasi.
Pemberian dosis antibiotikal awal yang kurang adekuat berperan
dalam kegagalan terapi. Penggunaan aminoglikosida harus
diberikan dengan hati-hati, karena gangguan ginjal merupakan
salah satu gambaran klinis dari peritonitis dan penurunan pH
intraperitoneum dapat mengganggu aktivitas obat dalam sel.
Pemberian antibiotik diberikan sampai penderita tidak didapatkan
demam, dengan hitung sel darah putih yang normal (Doherty,
2006).
3) Oksigen dan Ventilator
Pemberian oksigen pada hipoksemia ringan yang timbul pada
peritonitis cukup diperlukan, karena pada peritonitis terjadi
peningkatan dari metabolism tubuh akibat adanya infeksi, adanya
gangguan pada ventilasi paru-paru. Ventilator dapat diberikan jika
terdapat kondisi-kondisi seperti (1) ketidakmampuan untuk
menjaga ventilasi alveolar yang dapat ditandai dengan
meningkatnya PaCO2 50 mmHg atau lebih tinggi lagi, (2)
hipoksemia yang ditandai dengan PaO2 kurang dari 55 mmHg, (3)
adanya nafas yang cepat dan dangkal (Schwartz et al, 1989).
4) Intubasi, Pemasangan Kateter Urin dan Monitoring Hemodinamik
Pemasangan nasogastric tube dilakukan untuk dekompresi dari
abdomen, mencegah muntah, aspirasi dan yang lebih penting
mengurangi jumlah udara pada usus. Pemasangan kateter untuk
mengetahui fungsi dari kandung kemih dan pengeluaran urin.
Tanda vital (temperature, tekanan darah, nadi dan respiration rate)
dicatat paling tidak tiap 4 jam. Evaluasi biokimia preoperative

14
termasuk serum elektrolit, kratinin, glukosa darah, bilirubin, alkali
fosfatase dan urinalisis (Schwartz et al, 1989).
b) Penanganan Operatif
Terapi primer dari peritonitis adalah tindakan operasi. Operasi
biasanya dilakukan untuk mengontrol sumber dari kontaminasi
peritoneum. Tindakan ini berupa penutupan perforasi usus, reseksi
usus dengan anstomosis primer atau dengan exteriorasi. Prosedur
operasi yang spesifik tergantung dari apa yang didapatkan selama
operasi berlangsung, serta membuang bahan-bahan dari cavum
peritoneum seperti fibrin, feses, cairan empedu, darah, mucus lambung
dan membuat irigasi untuk mengurangi ukuran dan jumlah dari bakteri
virulen (Schwartz et al, 1989).
1) Kontrol Sepsis
Tujuan dari penanganan operatif pada peritonitis adalah untuk
menghilangkan semua material-material yang terinfeksi,
mengkoreksi penyebab utama peritonitis dan mencegah komplikasi
lanjut. Kecuali pada peritonitis yang terlokalisasi, insisi midline
merupakan teknik operasi yang terbaik. Jika didapatkan jaringan
yang terkontaminasi dan menjadi fibrotik atau nekrosis, jaringan
tersebut harus dibuang. Radikal debridement yang rutin dari
seluruh permukaan peritoneum dan organ dalam tidak
meningkatkan tingkat bertahan hidup. Penyakit primer lalu diobati,
dan mungkin memerlukan tindakan reseksi (ruptur apendik atau
kandung empedu), perbaikan (ulkus perforata) atau drainase
(pankreatitis akut). Pemeriksaan kultur cairan dan jaringan yang
terinfeksi baik aerob maupun anaerob segera dilakukan setelah
memasuki kavum peritoneum (Doherty, 2006).
2) Peritoneal Lavage
Pada peritonitis difus, lavage dengan cairan kristaloid isotonik (> 3
liter) dapat menghilangkan material-material seperti darah,
gumpalan fibrin, serta bakteri. Penambahan antiseptik atau
antibiotik pada cairan irigasi tidak berguna bahkan berbahaya
karena dapat memicu adhesi (misal: tetrasiklin, povidone-iodine).

15
Antibiotik yang diberikan secara parenteral akan mencapai level
bakterisidal pada cairan peritoneum dan tidak ada efek tambahan
pada pemberian bersama lavage. Terlebih lagi, lavage dengan
menggunakan aminoglikosida dapat menyebabkan depresi nafas
dan komplikasi anestesi karena kelompok obat ini menghambat
kerja dari neuromuscular junction. Setelah dilakukan lavage,
semua cairan di kavum peritoneum harus diaspirasi karena dapat
menghambat mekanisme pertahanan lokal dengan melarutkan
benda asing dan membuang permukaan dimana fagosit
menghancurkan bakteri (Doherty, 2006).
3) Peritoneal Drainage
Penggunaan drain sangat penting untuk abses intra abdominal dan
peritonitis lokal dengan cairan yang cukup banyak. Drainase dari
kavum peritoneal bebas tidak efektif dan tidak sering dilakukan,
karena drainase yang terpasang merupakan penghubung dengan
udara luar yang dapat menyebabkan kontaminasi. Drainase
profilaksis pada peritonitis difus tidak dapat mencegah
pembentukan abses, bahkan dapat memicu terbentuknya abses atau
fistula. Drainase berguna pada infeksi fokal residual atau pada
kontaminasi lanjutan. Drainase diindikasikan untuk peradangan
massa terlokalisasi atau kavitas yang tidak dapat direseksi
(Doherty, 2006).
c) Pengananan Postoperatif
Monitor intensif, bantuan ventilator, mutlak dilakukan pada pasien
yang tidak stabil. Tujuan utama adalah untuk mencapai stabilitas
hemodinamik untuk perfusi organ-organ vital., dan mungkin
dibutuhkan agen inotropik disamping pemberian cairan. Antibiotik
diberikan selama 10-14 hari, bergantung pada keparahan peritonitis.
Respon klinis yang baik ditandai dengan produksi urin yang normal,
penurunan demam dan leukositosis, ileus menurun, dan keadaan umum
membaik. Tingkat kesembuhan bervariasi tergantung pada durasi dan
keparahan peritonitis. Pelepasan kateter (arterial, CVP, urin,

16
nasogastric) lebih awal dapat menurunkan resiko infeksi sekunder
(Doherty, 2006).

9. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial atau sekunder, dimana
komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut, yaitu:
a) Komplikasi dini
1) Septikemia dan syok septic
2) Syok hipovolemik
3) Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan
kegagalan multi system
4) Abses residual intraperitonial
5) Portal Pyemia
b) Komplikasi lanjut
1) Adhesi
2) Obstruksi intestinal rekuren

10. Prognosis
Tingkat mortalitas dari peritonitis generalisata adalah sekitar 40%. Faktor-
faktor yang mempengaruhi tingginya tingkat mortalitas antara lain tipe
penyakit primer dan durasinya, keterlibatan kegagalan organ multipel
sebelum pengobatan, serta usia dan kondisi kesehatan awal pasien. Tingkat
mortalitas sekitar 10% pada pasien dengan ulkus perforata atau apendisitis,
pada usia muda, pada pasien dengan sedikit kontaminasi bakteri, dan pada
pasien yang terdiagnosis lebih awal (Doherty, 2006).

B. Konsep Dasar Bedah Laparatomi

1. Definisi
Laparatomi adalah operasi yang dilakukan untuk membuka abdomen
(bagian perut). Kata "laparatomy" pertama kali digunakan untuk merujuk
operasi semacam ini pada tahun 1878 oleh seorang ahli bedah Inggris,
Thomas Bryant. Kata tersebut terbentuk dari dua kata Yunani, "lapara" dan
"tome". Kata "lapara" berarti bagian lunak dari tubuh yang terletak di
antara tulang rusuk dan pinggul (perut/abdomen). Sedangkan "tome"
berarti penyayatan. Sehingga laparatomi dapat didefenisikan sebagai

17
penyayatan pada dinding abdomen atau peritoneal. Istilah lain untuk
laparotomi adalah celiotomi (Fossum, 2002).
Laparatomi merupakan prosedur pembedahan yang melibatkan suatu
insisi pada dinding abdomen hingga ke cavitas abdomen (Sjamsurihidayat
dan Jong, 1997). Ditambahkan pula bahwa laparatomi merupakan teknik
sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang dapat dilakukan pada
bedah digestif dan obgyn. Adapun tindakan bedah digestif yang sering
dilakukan dengan tenik insisi laparatomi ini adalah herniotomi,
gasterektomi, kolesistoduodenostomi, hepatorektomi, splenoktomi,
apendektomi, kolostomi, hemoroidektomi dan fistuloktomi. Sedangkan
tindakan bedah obgyn yang sering dilakukan dengan tindakan laoparatomi
adalah berbagai jenis operasi pada uterus, operasi pada tuba fallopi, dan
operasi ovarium, yang meliputi hissterektomi, baik histerektomi total,
radikal, eksenterasi pelvic, salpingooferektomi bilateral.
Prosedur ini dapat direkomendasikan pada pasien yang mengalami
nyeri abdomen yang tidak diketahui penyebabnya atau pasien yang
mengalami trauma abdomen.

2. Tujuan Tindakan
Laparotomi dibutuhkan ketika ada kedaruratan perut. Operasi laparatomi
dilakukan apabila terjadi masalah kesehatan yang berat pada area
abdomen, misalnya trauma abdomen. Nyeri perut yang terus menerus atau
berulang membuat laparotomi perlu dilakukan. Alasan lain antara lain,
muntah yang berulang, mual, gangguan usus atau pembengkakan perut
yang tidak bisa dijelaskan yang bisa disebabkan oleh kanker. Bila perut
cedera parah, mungkin karena benturan hebat dalam kecelakaan lalu lintas,
kemungkinan terjadi adalah pendarahan dalam atau cedera serius pada
organ dalam. Pada situasi seperti ini, laparotomi sering dilakukan untuk
menaksir tingkat cedera, menutup pembuluh darah yang robek, dan
membuang jaringan yang rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi. Bila
penderita merasakan nyeri perut hebat dan gejala-gejala lain dari masalah
internal yang serius dan kemungkinan penyebabnya tidak terlihat, usus
buntu, tukak peptik yang berlubang atau kondisi ginekologi, perlu

18
dilakukan operasi untuk menemukan dan mengoreksinya sebelum terjadi
kerusakan lebih lanjut. Sejumlah operasi yang membuang usus buntu
berawal dari laparotomi. Beberapa kasus, laparotomi mungkin hanyalah
prosedur kecil. Pada kasus lain, laparotomi bisa berkembang menjadi
pembedahan besar, diikuti oleh transfusi darah dan masa perawatan
intensif.

3. Indikasi Tindakan
Ada banyak indikasi dilakukannya laparatomi, dibawah ini akan
dipaparkan, diantaranya :

a) Trauma abdomen (tumpul atau tajam)

Trauma abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur


yang terletak diantara diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka
tumpul atau yang menusuk (Ignativicus & Workman, 2006). Dibedakan
atas 2 jenis yaitu : Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi
kedalam rongga peritonium) yang disebabkan oleh : luka tusuk, luka
tembak. Dan jenis kedua yaitu trauma tumpul (trauma perut tanpa
penetrasi kedalam rongga peritoneum) yang dapat disebabkan oleh
pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman
(sit-belt).

b) Peritonitis
Peritonitis adalah inflamasi peritoneum lapisan membran serosa rongga
abdomen, yang diklasifikasikan atas primer, sekunder dan tersier.
Peritonitis primer dapat disebabkan oleh spontaneous bacterial
peritonitis (SBP) akibat penyakit hepar kronis. Peritonitis sekunder
disebabkan oleh perforasi appendicitis, perforasi gaster dan penyakit
ulkus duodenale, perforasi kolon (paling sering kolon sigmoid),
sementara proses pembedahan merupakan penyebab peritonitis tersier.
c) Sumbatan pada usus halus dan besar (Obstruksi)
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun
penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi

19
usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan
perkembangannya lambat. Sebagian dasar dari obstruksi justru
mengenai usus halus. Obstruksi total usus halus merupakan keadaan
gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan
darurat bila penderita ingin tetap hidup. Penyebabnya dapat berupa
Perlengketan (lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh
secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen),
Intusepsi (salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain
yang ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus), Volvulus (usus
besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan
demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan
usus yang terjadi amat distensi), Hernia (protrusi usus melalui area
yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen), dan Tumor
(tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor
diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus).
d) Apendisitis
Apendisitis mengacu pada radang apendiks, suatu tambahan seperti
kantong yang tak berfungsi terletak pada bagian inferior dari sekum.
Penyebab yang paling umum dari apendisitis adalah obstruksi lumen
oleh feses yang akhirnya merusak suplai aliran darah dan mengikis
mukosa sehingga menyebabkan inflamasi.
e) Massa pada abdomen ( Tumor, cyste dll)

4. Cara-cara pembedahan
Ada 4 cara pembedahan yang dilakukan, antara lain (Yunichrist, 2008):
a) Midline incision, yaitu metode insisi yang paling sering digunakan,
karena sedikit perdarahan, eksplorasi dapat lebih luas, cepat dibuka dan
ditutup, serta tidak memotong ligamen dan saraf. Namun demikian,
kerugian jenis insis ini adalah terjadinya hernia cikatrialis. Indikasinya
pada eksplorasi gaster, pankreas, hepar, dan lien serta di bawah
umbilikus untuk eksplorasi ginekologis, rektosigmoid, dan organ dalam
pelvis.

20
b) Paramedian, yaitu ; sedikit ke tepi dari garis tengah ( 2,5 cm), panjang
(12,5 cm). Terbagi atas 2 yaitu, paramedian kanan dan kiri, dengan
indikasi pada jenis operasi lambung, eksplorasi pankreas, organ pelvis,
usus bagian bagian bawah, serta plenoktomi. Paramedian insicion
memiliki keuntungan antara lain : merupakan bentuk insisi anatomis
dan fisiologis, tidak memotong ligamen dan saraf, dan insisi mudah
diperluas ke arah atas dan bawah
c) Transverse upper abdomen incision, yaitu ; insisi di bagian atas,
misalnya pembedahan colesistotomy dan splenektomy.
d) Transverse lower abdomen incision, yaitu; insisi melintang di bagian
bawah 4 cm diatas anterior spinal iliaka, misalnya; pada operasi
appendectomy.

5. Tindakan keperawatan (intevensi keperawatan) Pre Op Laparatomi


a) Pertahankan pasien untuk bedrest sampai diagnosa benar-benar sudah
ditegakkan.
b) Tidak memberikan apapun melaui mulut dan beritahukan pasien
untuk tidak makan dan minum.
c) Monitoring cairan intravena bila diberikan.
d) Mencatat intake dan output.
e) Posisi pasien senyaman mungkin
f) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan.
g) Ajarkan pasien hal-hal yang perlu dilakukan setelah operasi selesai.
h) Monitoring tanda-tanda vital.

C. Post Op Laparatomi

1. Definisi
Post op atau post operatif laparatomi merupakan tahapan setelah proses
pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry &
Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2
tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah
fase post operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan
post laparatomi. Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan
perawatan yang di berikan kepada klien yang telah menjalani operasi
pembedahan abdomen.

21
2. Tujuan perawatan
a) Mengurangi komplikasi akibat pembedahan.
b) Mempercepat penyembuhan.
c) Mengembalikan fungsi klien semaksimal mungkin seperti sebelum
operasi.
d) Mempertahankan konsep diri klien.
e) Mempersiapkan klien pulang.

3. Manifestasi klinis
a) Nyeri tekan pada area sekitar insisi pembedahan
b) Dapat terjadi peningkatan respirasi, tekanan darah, dan nadi.
c) Kelemahan
d) Mual, muntah, anoreksia
e) Konstipasi

4. Perawatan pasca pembedahan


a) Tindakan keperawatan post operasi
1) Monitor kesadaran, tanda-tanda vital, CVP, intake dan output
2) Observasi dan catat sifat darai drain (warna, jumlah) drainage.
3) Dalam mengatur dan menggerakan posisi pasien harus hati-hati,
jangan sampai drain tercabut.
4) Perawatan luka operasi secara steril.
Makanan
Pada pasien pasca pembedahan biasanya tidak diperkenankan menelan
makanan sesudah pembedahan. makanan yang dianjurkan pada pasien
post operasi adalah makanan tinggi protein dan vitamin C. Protein
sangat diperlukan pada proses penyembuhan luka, sedangkan vitamin
C yang mengandung antioksidan membantu meningkatkan daya tahan
tubuh untuk pencegahan infeksi. Pembatasan diet yang dilakukan
adalah NPO (nothing peroral).
Biasanya makanan baru diberikan jika:
- Perut tidak kembung
- Peristaltik usus normal
- Flatus positif
- Bowel movement positif
c) Mobilisasi
Biasanya pasien diposisikan untuk berbaring di tempat tidur agar
keadaanya stabil. Biasanya posisi awal adalah terlentang, tapi juga
harus tetap dilakukan perubahan posisi agar tidak terjadi dekubitus.

22
Pasien yang menjalani pembedahan abdomen dianjurkan untuk
melakukan ambulasi dini.
Pemenuhan kebutuhan eliminasi
1) Sistem Perkemihan.
Kontrol volunter fungsi perkemihan kembali setelah 6 8 jam
post anesthesia inhalasi, IV, spinal. retensio urine. Anesthesia,
infus IV, manipulasi operasi abdomen bawah (distensi buli-buli).
Pencegahan : kaji warna, jumlah urine, output urine - Dower
catheter < komplikasi ginjal. 30 ml / jam.
2) Sistem Gastrointestinal.
a. 40 % klien dengan GA selama 24 jam pertama dapat mual
muntah menyebabkan stress dan iritasi luka GI dan dapat
meningkatkan TIK pada bedah kepala dan leher serta TIO
meningkat.
b. Kaji fungsi gastrointestinal dengan auskultasi suara usus. Suara
usus (-), distensi abdomen, tidak flatus.
c. Kaji paralitic ileus
d. Jumlah, warna, konsistensi isi lambung tiap 6 8 jam.
e. Insersi NG tube intra operatif mencegah komplikasi post
operatif dengan decompresi dan drainase lambung.
d) Meningkatkan istirahat.
e) Memberi kesempatan penyembuhan pada GI trac bawah.
f) Memonitor perdarahan.
g) Mencegah obstruksi usus.
h) Irigasi atau pemberian obat.

6. Komplikasi
a) Syok
Digambarkan sebagai tidak memadainya oksigenasi selular yang
disertai dengan ketidakmampuan untuk mengekspresikan produk
metabolisme. Manifestasi Klinis :
1) Pucat
2) Kulit dingin dan terasa basah
3) Pernafasan cepat
4) Sianosis pada bibir, gusi dan lidah
5) Nadi cepat, lemah dan bergetar
6) Penurunan tekanan nadi
7) Tekanan darah rendah dan urine pekat.
b) Hemorrhagi
1) H. Primer : terjadi pada waktu pembedahan

23
2) H. Intermediari : beberapa jam setelah pembedahan ketika kenaikan
tekanan darah ke tingkat normalnya melepaskan bekuan yang
tersangkut dengan tidak aman dari pembuluh darah yang tidak
terikat
3) H. Sekunder : beberapa waktu setelah pembedahan bila ligatur slip
karena pembuluh darah tidak terikat dengan baik atau menjadi
terinfeksi atau mengalami erosi oleh selang drainage. Manifestasi
Klinis Hemorrhagi : Gelisah,, terus bergerak, merasa haus, kulit
dingin-basah-pucat, nadi meningkat, suhu turun, pernafasan cepat
dan dalam, bibir dan konjungtiva pucat dan pasien melemah.
c) Gangguan perfusi jaringan sehubungan dengan tromboplebitis.
Tromboplebitis postoperasi biasanya timbul 7 - 14 hari setelah operasi.
Bahaya besar tromboplebitis timbul bila darah tersebut lepas dari
dinding pembuluh darah vena dan ikut aliran darah sebagai emboli ke
paru-paru, hati, dan otak. Pencegahan tromboplebitis yaitu latihan kaki
post operasi, ambulatif dini dan kaos kaki TED yang dipakai klien
sebelum mencoba ambulatif.
d) Buruknya intergritas kulit sehubungan dengan luka infeksi.
Infeksi luka sering muncul pada 36 - 46 jam setelah operasi. Organisme
yang paling sering menimbulkan infeksi adalah stapilokokus aurens,
organisme; gram positif. Stapilokokus mengakibatkan pernanahan.
Untuk menghindari infeksi luka yang paling penting adalah perawatan
luka dengan memperhatikan aseptik dan antiseptik.
e) Buruknya integritas kulit sehubungan dengan dehisensi luka atau
eviserasi.
Dehisensi luka merupakan terbukanya tepi-tepi luka. Eviserasi luka
adalah keluarnya organ-organ dalam melalui insisi. Faktor penyebab
dehisensi atau eviserasi adalah infeksi luka, kesalahan menutup waktu
pembedahan, ketegangan yang berat pada dinding abdomen sebagai
akibat dari batuk dan muntah.

7. Fase-fase penyembuhan luka


Fase pertama

24
Berlangsung sampai hari ke 3. Batang leukosit banyak yang rusak /
rapuh. Sel-sel darah baru berkembang menjadi penyembuh dimana
serabut-serabut bening digunakan sebagai kerangka.
b) Fase kedua
Dari hari ke 3 sampai hari ke 14. Pengisian oleh kolagen, seluruh
pinggiran sel epitel timbul sempurna dalam 1 minggu. Jaringan baru
tumbuh dengan kuat dan kemerahan.
Fase ketiga
Sekitar 2 sampai 10 minggu. Kolagen terus-menerus ditimbun, timbul
jaringan-jaringan baru dan otot dapat digunakan kembali.
d) Fase keempat
Fase terakhir. Luka akan menyusut dan mengkerut.

8. Upaya untuk meningkatkan penyembuhan luka


a) Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c.
b) Menghindari obat-obat anti radang seperti steroid.
c) Pencegahan infeksi.
d) Pengembalian fungsi fisik.
e) Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan
latihan napas dan batuk efektf, latihan mobilisasi dini.
f) Mempertahankan konsep diri.
Gangguan konsep diri : Body image bisa terjadi pada pasien post
laparatomi karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan.
Intervensi perawatan terutama ditujukan pada pemberian support
psikologis, ajak klien dan kerabat dekatnya berdiskusi tentang
perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien
setelah operasi.

9. Kriteria Evaluasi
Hasil yang diharapkan setelah perawatan pasien post operasi, meliputi;
a) Tidak timbul nyeri luka selama penyembuhan.
b) Luka insisi normal tanpa infeksi.
c) Tidak timbul komplikasi.
d) Pola eliminasi lancar.
e) Pasien tetap dalam tingkat optimal tanpa cacat.
f) Kehilangan berat badan minimal atau tetap normal.
g) Sebelum pulang, pasien mengetahui tentang :
1) Pengobatan lanjutan
2) Jenis obat yang diberikan

25
3) Diet
4) Batasi kegiatan di rumah.

D. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Post Op Laparatomi Peritonitis

a) Pengkajian
Respiratory
Bagaimana saluran pernapasan, jenis pernapasan, bunyi pernapasan.
2) Sirkulasi
Tensi, nadi, respirasi, dan suhu, warna kulit, dan refill kapiler.
3) Persarafan : Tingkat kesadaran
4) Balutan
a. Apakah ada tube, drainage
b. Apakah ada tanda-tanda infeksi
c. Bagaimana keadaan penyembuhan luka pasien yang menjalani
Laparotomi
5) Peralatan
a. Monitor yang terpasang
b. Cairan infus atau transfusi.
6) Rasa nyaman
Rasa sakit, mual, muntah, posisi pasien, dan fasilitas ventilasi
7) Psikologis : Kecemasan, suasana hati setelah operasi.

b) Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada peritoneum
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
muntah, anoreksia dan tidak mampu dalam mencerna makanan
3) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, prosedur
tindakan invasif (bedah) yang akan dilakukan
Post Operasi
1) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya luka invasif
2) Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang berhubungan dengan adanya
rasa nyeri di abdomen.
3) Potensial terjadinya infeksi berhubungan dengan adanya sayatan / luka
operasi laparatomi.
4) Potensial kekurangan cairan berhubungan dengan adanya demam,
pemasukkan sedikit dan pengeluaran cairan yang banyak.
5) Gangguan mobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari
anggota tubuh.

c) Intervensi Keperawatan

26
Pre Op
1) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada peritoneum
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam
nyeri berkurang atau terkontrol.
Kriteria Hasil :
- TTV dalam batas normal
- Melaporkan nyeri hilang atau terkontrol
- Mendemonstrasikan penggunaan teknik relaksasi napas dalam
Intervensi :
a. Kaji tingkat nyeri, catat intensitas, dan karakteristik nyeri
Rasional : Merupakan pengalaman subyektif dan harus dijelaskan
oleh pasien atau identifikasi karakteristik nyeri dan faktor yang
berhubungan dengan kondisi penyakitnya serta merupakan suatu hal
yang amat penting untuk memilih intensitas yang cocok untuk
mengevaluasi keefektifan dari terapi yang diberikan.
b. Monitor TTV: TD, N, RR, S
Rasional : Untuk mengetahui adanya komplikasi lebih lanjut
sehingga dapat ditentukan tindakan selanjutnya
c. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi napas dalam
Rasional : Merupakan ketegangan otot yang dapat merangsang
timbulnya nyeri
d. Ciptakan lingkungan yang tenang
Rasional : Menurunkan stimulus yang berlebihan yang dapat
menurunkan nyeri.
e. Kolaborasi, pemberian analgesik; morfin, metadon.
Rasional : Membantu menghilangkan nyeri, meningkat
kenyamanan.
2) Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d muntah dan
anoreksia.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam
nutrisi tubuh adekuat.
Kriteria Hasil :
- BB dalam batas ideal
- Pasien dapat menunjukkan terpenuhinya kebutuhan nutrisi secara
adekuat, mempertahankan jalan nafas pasien.
Intervensi :
a. Ukur masukan diet harian dengan jumlah kalori.

27
Rasional : Memberikan informasi tentang kebutuhan
pemasukan/defisiensi
b. Timbang berat badan sesuai indikasi dan bandingakan dengan
perubahan status cairan dan riwayat badan
Rasional : Mungkin sulit untuk menggunakan berat badan sebagai
indikator langsung status nutrisi karena ada gambaran edema/asites.
Lipatan kulit trisep berguna dalam mengkaji perubahan massa otot
dan simpanan lemak subkutan.
c. Bantu dan dorong pasien untuk makan dan jelaskan manfaat diet.
Rasional : Diet yang tepat penting untuk penyembuhan
d. Berikan makanan sedikit tapi sering
Rasional : Buruknya toleransi terhadap makan banyak mungkin
berhubungan dengan peningkatan tekanan intra-abdomen/asites

e. Berikan tambahan garam bila diizinkan; hindari yang mengandung


ammonium.
Rasional : Tambahan garam meningkatkan rasa makanan dan
membantu meningkatkan selera makan
f. Berikan perawatan mulut sering dan sebelum makan.
Rasional : Pasien cenderung mengalami luka dan/atau perdarahan
gusi dan rasa tak enak pada mulut dimana menambah anoreksia
g. Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan khususnya sebelum makan
Rasional : Penyimpanan energi menurunkan kebutuhan metabolik
pada hati dan meningkatkan regenerasi seluler
h. Konsul dengan ahli gizi untuk memberikan diit tinggi kalori dan
karbohidrat sederhana, rendah lemak, dan tinggi protein sedang,
batasi cairan bila perlu
Rasional : Makanan tinggi kalori dibutuhkan pada kebanyakan
pasien yang pemasukannya dibatasi, karbohidrat memberikan energi
yang siap pakai
i. Berikan makanan dengan selang, hiperalimentasi sesuai indikasi
Rasional : Mungkin diperlukan untuk diet tambahan untuk
memberikan nutrien bila pasien terlalu mual atau anoreksia untuk
makan atau varises esofagus mempengaruhi masukan oral.
j. Berikan obat sesuai indikasi (tambahan vitamin, zat besi, asam folat,
enzim pencernaan, antiemetik)

28
Rasional : Pasien kekurangan vitamin karena diet yang buruk
sebelumnya.
2) Ansietas b.d perubahan status kesehatan, prosedur tindakan invasif
(bedah) yang akan dilakukan
a. Kaji tingkat ansietas klien
Rasional : Faktor ini mempengaruhi persepsi pasien terhadap
ancaman diri
b. Berikan informasi yang akurat dan jujur
Rasional : Menurunkan ansietas sehubungan dengan ketidaktahuan
c. Identifikasi sumber/orang yang menolong
Rasional : Memberikan kenyakinan bahwa pasien tidak sendiri
dalam menghadapi masalah
d. Jadwalkan istirahat adekuat
Rasional : Membatasi kelemahan dan dapat meningkatkan
kemampuan koping
Post Op
1) Kerusakan integritas kulit sehubungan dengan adanya luka invasif
Tujuan: klien menunjukkan integritas kulit dalam keadaan normal.
Kriteria hasil: tidak adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit.
Intervensi :
a. Berikan perawatan luka operasi yang bersih.
Rasional : mencegah terjadinya infeksi yang dapat membuat
terjadinya kerusakan integritas kulit lebih lanjut.
b. Latih alih baring
Rasional : mencegah terjadinya dekubitus
c. Berikan sandaran atau tahanan yang lembut pada daerah- daerah
yang mungkin terjadi luka dekubitus
d. Hindari terjadinya infeksi pada luka operasi yang dapat membuat
parahnya integritas kulit.
Rasional : adanya infeksi dapat membuat kerusakan integritas kulit
lebih parah.
e. Pemberian antibiotik sistemik.
Rasional : pemberian antibiotik dapat membantu membasmi bakteri
sehingga infeksi kulit tidak meluas
2) Gangguan rasa nyaman, abdomen tegang sehubungan dengan adanya
rasa nyeri di abdomen.
Tujuan : memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada klien.
Kriteria hasil: klien melaporkan nyeri abdomen berkurang
a. Ajarkan teknik relaksasi pada klien.
Rasional : untuk membantu mengalihkan nyeri yang dirasakan.
b. Berikan lingkungan yang nyaman

29
Rasional: agar pasien dapat beristirahat dengan baik.
c. Berikan analgetik
Rasional : mengurangi rasa nyeri akibat sayatan.
3) Potensial terjadinya infeksi sehubungan dengan adanya sayatan / luka
operasi laparatomi.
Tujuan : klien tidak terkena infeksi
Kriteria hasil: klien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi.
Intervensi :
a. Selalu cuci tangan setelah menyentuh klien atau benda-benda yang
kemungkinan terkontaminasi serta sebelum memberikan tindakan
kepada klien lain.
Rasional : mencegah infeksi silang antar pasien yang dapat
memperburuk keadaan pasien
b. Semua benda-benda yang terkontaminasi dibuang atau dimasukan
ke dalam tempat khusus dan diberi label sebelum dilakukan
dekontaminasi atau diproses ulang kembali
Rasional : mencegah penyebaran kuman
c. Pastikan luka sayatan dalam keadaan tertutup.
Rasional; mencegah terjadinya terpapar kuman dari luar.
4) Gangguan mobilisasi berhubungan dengan pergerakan terbatas dari
anggota tubuh.
Tujuan: klien dapat melakukan aktivitas dengan normal.
Kriteria hasil : klien dapat berpartisipasi dalam setiap kegiatan yang
biasa dilakukan secara mandiri.
Intervensi:
a. Bantu klien untuk melakukan aktivitas yang biasa dilakukan
Rasional : membantu memenuhi kebutuhan yang biasa di lakukan
secara mandiri.
b. Lakukan ROM pada anggota tubuh yang lain
Rasional : mencegah terjadinya kelemahan otot akibat pergerakan
terbatas.

30
DAFTAR PUSTAKA

Budi Santosa, Teguh. Peritonitis [Internet].


(http://health.detik.com/read/2009/11/26/140212/1249400/770/peritonitis, diakses pada
tanggal 13 Agustus 2014).

Dunia Alat Kedoketeran. Pengertian Peritonitis [Internet].


(http://www.duniaalatkedokteran.com/2010/10/pengertian-laparotomi.html, diakses pada
tanggal 13 Agustus 2014).

Informasi Seputar Penyakit Dalam. Peritonitis [Internet].


(http://penyakitdalam.com/pencernaan/peritonitis/, diakses pada tanggal 13 Agustus 2014).

Mata Berita Media Informasi Online. Tidak bisa kentut Hati-hati Kematian Mengancam !!
[Internet]. (http://www.mataberita.com/bahaya-tidak-bisa-kentut.html, diakses pada tanggal
13 Agustus 2014).

Persify Asisten Pribadi untuk Kesehatan Anda. Peritonitis [Internet].


(http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-diseases/peritonitis-_-
951000103799, diakses pada tanggal 13 Agustus 2014)

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2014. Peritonitis [Internet].


(http://id.wikipedia.org/wiki/Peritonitis, diakses pada tanggal 13 Agustus 2014).

Wikipedia Bahasa Indonesia. 2014. Laparatomi [Internet].


(http://id.wikipedia.org/wiki/Laparotomi, diakses pada tanggal 13 Agustus 2014).

31