Anda di halaman 1dari 11

TAHAP ANALISA MIKROFOSIL

Observasi

Observasi adalah pengamatan morfologi rincian mikrofosil dengan mempergunakan


miroskop. Setelah sampel batuan selesai direparasi, hasilnya yang berupa residu
ataupun berbentuk sayatan pada gelas objek diamati di bawah mikroskop. Mikroskop
yang dipergunakan tergantung pada jenis preparasi dan analisis yang dilakukan.
Secara umum terdapat tiga jenis mikroskop yang dipergunakan, yaitu mikroskop
binokuler, mikroskop polarisasi dan mikroskop scanning-elektron (SEM).

Determinasi

Determinasi merupakan tahap akhir dari pekerjaan mikropaleontologis di


laboratorium, tetapi juga merupakan tahap awal dari pekerjaan penting selanjutnya,
yaitu sintesis. Tujuan determinasi adalah menentukan nama genus dan spesies
mikrofosil yang diamati, dengan mengobservasi semua sifat fisik dan kenampakan
optik mikrofosil tersebut.

Deskripsi

Berdasarkan observasi yang dilakukan pada mikrofosil, baik sifat fisik maupun
kenampakan optiknya dapat direkam dalam suatu deskripsi terinci yang bila perlu
dilengkapi dengan gambar ilustrasi ataupun fotografi. Deskripsi sangat penting
karena merupakan dasar untuk mengambil keputusan tentang penamaan mikrofosil
yang bersangkutan.
Ilustrasi

Pada tahap ilustrasi, gambar dan ilustrasi yang baik harus dapat menjelaskan berbagai
sifat khas tertentu dari mikrofosil itu. Juga, setiap gambar ilustrasi harus selalu
dilengkapi dengan skala ataupun ukuran perbesarannya.

Penamaan

Seorang sarjana Swedia Carl Von Line (17071778) yang kemudian melatinkan
namanya menjadi Carl Von Linnaeus membuat suatu hukum yang dikenal dengan
Law Of Priority, 1958 yang pada pokoknya menyebutkan bahwa nama yang telah
dipergunakan pada suatu individu tidak dipergunakan untuk individu yang lain.

Nama kehidupan pada tingkat genus terdiri dari satu kata sedangkan tingkat spesies
terdiri dari dua kata, tingkat subspecies terdiri dari tiga kata. Nama-nama kehidupan
selalu diikuti oleh nama orang yang menemukannya. Contoh penamaan fosil sebagai
berikut:

Globorotalia menardi exilis Blow, 1998, arti dari penamaan adalah fosil hingga
subspesies diketemukan oleh Blow pada tahun 1969

Globorotalia ruber elogatus (DOrbigny), 1826, arti dari n. sp adalah spesies baru.

Pleurotoma carinata Gray, Var Woodwardi Martin, arti dari penamaan adalah Gray
memberikan nama spesies sedangkan Martin memberikan nama varietas.

Globorotalia acostaensis pseudopima Blow, 1969,s arti dari n.sbsp adalah


subspecies.

Dentalium (s.str) ruteni Martin, arti dari penamaan adalah fosil tersebut sinonim
dengan dentalium rutteni yang diketemukan Martin.
Globorotalia of tumd, arti dari penamaan ini adalah penemu tidak yakin apakah
bentuk tersebut betul Globorotalia tumida tetapi dapat dibandingkan dengan spesies
ini.

Spaeroidinella aff dehiscen, arti dari penamaan tersebut adalah fosil ini berdekatan
(berfamily) dengan sphaeroidinella dehiscens. (aff = affiliation)

Ammobaculites sp, artinya mempunyai bermacam-macam spesies

Recurvoides sp, artinya spesies (nama spesies belum dijelaskan)

Sampling

Sampling adalah proses pengambilan sampel dari lapangan. Jika untuk fosil mikro
maka yang diambil adalah contoh batuan. Batuan yang diambil haruslah batuan yang
masih dalam keadan insitu, yaitu batuan yang masih ditempatnya.

Pengambilan sampel batuan di lapangan hendaknya dengan memperhatikan tujuan


yang akan dicapai. Untuk mendapatkan sampel yang baik diperhatikan interval jarak
tertentu terutama untuk menyusun biostratigrafi. Ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam pengambilan sampel di lapangan, yaitu :

1. Jenis batuan

2. Metode sampling

3. Jenis sampel

4. Jenis Batuan

Fosil mikro pada umumnya dapat dijumpai pada batuan berfraksi halus. Namun perlu
diingat bahwa jenis-jenis fosil tertentu hanya dapat dijumpai pada batuan-batuan
tertentu. Kesalahan pengambilan sampel berakibat pada tidak dijumpai fosil yang
diinginkan. Fosil foraminifera kecil dapat dijumpai pada batuan napal, kalsilutit,
kalkarenit halus, batupasir karbonatan halus. Fosil Foraminifera besar, dapat dijumpai
pada Kalkarenit, dan Boundstone

2. Metode Sampling

Beberapa prosedur sampling pada berbagai tipe sekuen sedimentasi dapat dilakukan
seperti berikut ini :

Splot sampling

Spot Sampling dalah dengan interval tertentu, merupakan metoda terbaik untuk
penampang yang tebal dengan jenis litologi yang seragam, seperti pada lapisan serpih
tebal, batu gamping dan batulanau. Pada metoda ini dapat ditambahkan dengan
channel sample (parit sampel) sepanjang 30 cm pada setiap interval 1,5 meter.

Channel Sampling (sampel paritan)

Dapat dilakukan pada penampang lintasan yang pendek (3-5 m) pada suatu litologi
yang seragam. Atau pada perselingan batuan yang cepat, channel sample dilakukan
pada setiap perubahan unit litologi. Splot Sampling juga dilakukan pada lapisan
serpih yang tipis atau sisipan lempung pada batupasir atau batu gamping, juga pada
serpih dengan lensa tipis batugamping.

Kriteria-kriteria yang digunakan dalam pengambilan sampel batuan, yaitu :

1. Memilih sampel batuan insitu dan bukan berasal dari talus, karena
dikhawatirkan fosilnya sudah terdisplaced atau tidak insitu.
2. Batuan yang berukuran butir halus lebih memungkinkan mengandung fosil,
karena batuan yang berbutir kasar tidak dapat mengawetkan fosil. Batuan
yang dapat mengawetkan fosil antara lain batulempung (claystone), batuserpih
(shalestone), batunapal (marlstone), batutufa napalan (marly tuffstone),
batugamping bioklastik, batugamping dengan campuran batupasir sangat
halus.

3. Batuan yang lunak akan memudahkan dalam proses pemisahan fosil.

4. Jika endapan turbidite diambil pada endapan berbutir halus, yang diperkirakan
merupakan endapan suspensi yang juga mencerminkan kondisi normal.

5. Jenis Sampel

Sampel permukaan adalah sampel yang diambil pada suatu singkapan. Sampel yang
baik adalah yang diketahui posisi stratigrafinya terhadap singkapan yang lain, namun
terkadang pada pengambilan sampel yang acak baru diketahui sesudah dilakukan
analisa umur. Sampel permukaan sebaiknya diambil dengan penggalian sedalam > 30
cm atau dicari yang masih relatif segar (tidak lapuk).

Berikut adalah cara-cara atau tahap-tahap yang digunakan dalam aturan sampling
batuan hingga pemisahan fosil dari material asing yang non-fosil.

Penguraian/pencucian

Langkah-langkah proses pencucian batuan adalah sebagai berikut :

Batuan sedimen ditumbuk dengan palu karet atau palu kayu hingga berukuran
dengan diameter 3-6 mm.
Larutkan dalam larutan H2O2 (hydrogen peroksida) 50% diaduk dan
dipanaskan.

Diamkan sampai butiran batuan tersebut terlepas semua (24 jam) jika fosil
masih nampak kotor dapat dilakukan dengan perendaman menggunakan air
sabun, lalu dibilas dengan air sampai bersih.

Keringkan dengan terik matahari dan fosil siap untuk diayak.

Pemisahan fosil

Cara memisahkan fosil-fosil dari kotoran adalah dengan menggunakan jarum dari
cawan tempat contoh batuan, untuk memudahkan dalam pengambilan fosilnya perlu
disediakan air (jarum dicelupkan ke air terlebih dahulu sebelum pengambilan), pada
saat pengambilan fosil dari pengotor harus dilakukan dengan hati-hati, karena apabila
pada saat pengambilannya tidak hati-hati maka fosil tersebut bias jatuh dan bias juga
pecah, sehingga tidak bisa untuk dilanjutkan pendeskripsiannya. Alat-alat yang
dibutuhkan dalam pemisahan fosil antara laian adalah:

1. Cawan untuk tempat contoh batuan

2. Jarum untuk mengambil batuan

3. Kuas bulu halus

4. Cawan tempat air

5. Lem untuk merekatkan fosil

6. Kertas untuk memberi nama fosil

7. Tempat fosil
8. Mikroskop

1.3.4 Preparasi Fosil

Preparasi adalah proses pemisahan fosil dari batuan dan material pengotor lainnya.
Setiap jenis fosil memerlukan metode preparasi yang. Proses ini pada umumnya
bertujuan untuk memisahkan mikrofosil yang terdapat dalam batuan dari material-
material lempung (matrik) yang menyelimutinya.

Untuk setiap jenis mikrofosil, mempunyai teknik preparasi tersendiri. Polusi,


terkontaminasi dan kesalahan dalam prosedur maupun kekeliruan pada pemberian
label, harus tetap menjadi perhatian agar mendapatkan hasil optimum. Beberapa
contoh teknik preparasi untuk foraminifera & ostracoda, nannoplankton dan pollen
dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut :

Foraminifera kecil & Ostracoda

Untuk mengambil foraminifra kecil dan Ostracoda, maka perlu dilakukan preparasi
dengan metoda residu. Metoda ini biasanya dipergunakan pada batuan sedimen
klastik halus-sedang, seperti lempung, serpih, lanau, batupasir gampingan dan
sebagainya.

Caranya adalah sebagai berikut, yaitu:

1. Ambil 100 300 gram sedimen kering.

2. Apabila sedimen tersebut keras-agak keras, maka harus dipecah secara


perlahan dengan menumbuknya mempergunakan lalu besi/porselen.
3. setelah agak halus, maka sedimen tersebut dimasukkan ke dalam mangkok
dan dilarutkan dengan H2O2 (10 15%) secukupnya untuk memisahkan
mikrofosil dalam batuan tersebut dari matriks (lempung) yang melingkupinya.

4. Biarkan selama 2-5 jam hingga tidak ada lagi reaksi yang terjadi.

5. Setelah tidak terjadi reaksi, kemudian seluruh residu tersebut dicuci dengan
air yang deras diatas saringan yang berukuran dari atas ke bawah adalah 30-
80-100 mesh.

6. Residu yang tertinggal pada saringan 80 & 100 mesh, diambil dan kemudian
dikeringkan didalam oven ( 600 C).

7. Setelah kering, residu tersebut dikemas dalam plastik residu dan diberi label
sesuai dengan nomor sampel yang dipreparasi.

8. Sampel siap dideterminasi.

Foraminifera besar

Istilah foram besar diberikan untuk golongan foram bentos yang memiliki ukuran
relative besar, jumlah kamar relative banyak, dan struktur dalam kompleks.
Umumnya foram besar banyak dijumpai pada batuan karbonat khususnya
batugamping terumbu dan biasanya berasosiasi dengan algae yang menghasilkan
CaCO3 untuk test foram itu sendiri.

Di Indonesia foraminifera bentos besar sangat banyak ditemukan dan bisa digunakan
untuk menentukan umur relatif batuan sedimen dengan menggunakan zonasi
foraminifera bentos besar berdasarkan Adams (1970), dengan demikian untuk
menganalisanya dilakukan dengan mempergunakan sayatan tipis. Prosedurnya adalah
sebagai berikut :
1. Contoh batuan yang akan dianalisis disayat terlebih dahulu dengan mesin
penyayat/gurinda. Arah sayatan diusahakan memotong struktur tubuh
foraminifera besar yang ada didalamnya.

2. Setelah mendapatkan arah sayatan yang dimaksud, contoh tersebut ditipiskan


pada kedua sisinya.

3. Poleskan salah satu sisi contoh tersebut dengan mempergunakan bahan abrasif
(karbondum) dan air.

4. Setelah itu, tempel sisi tersebut pada objektif gelas (ukuran internasional 43 x
30 mm) dengan mempergunakan Kanada Balsam.

5. Tipiskan kembali sisi lainnya hingga contoh tersebut menjadi transparan dan
biasanya ketebalan sekitar 30-50 m.

6. Setelah ketebalan yang dimaksud tercapai, teteskan Kanada Balsam


secukupnya dan kemudian ditutup dengan cover glass. Beri label.

7. Sampel siap dideterminasi

Nannoplankton

Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop optik. Dapat dilakukan dengan dua


metode preparasi, yaitu:

Quick smear-slide/metode poles

Smear slide/metode suspense

1. Ambil satu keping contoh batuan segar sebesar 10 gr., bersihkan dari
kotoran yang menempel dengan sikat halus.
2. Cungkil bagian dalam dari sampel tersebut dan letakkan cukilan tersebut di
atas objektif gelas.

3. Beri beberapa tetes aquades untuk melarutkan batuannya dan ratakan.

4. Buang kerikil-kerikil yang kasar yang tidak larut.

5. Panaskan dengan hot plate objektif gelas tersebut hingga larutan tersebut
kering.

6. Setelah kering, bersihkan/tipiskan dengan cover glass supaya lebih homogen


dan tipis.

7. Biarkan mendingin, beri label, sampel siap dideterminasi.

Smear Slide / Metode suspensi

Membutuhkan waktu yang lama, namun hasilnya lebih baik.

1. Ambil contoh batuan dengan berat 10-25 gr. Bersihkan dan usahakan
diambil dari sampel yang segar.

2. Larutkan dalam tabung gelas dengan aquades dan sedikit Natrium bikarbonat
(Na2Co3).

3. Masukkan tabung tersebut kedalam ultrasonik vibrator 1 jam tergantung


pada kerasnya sampel.

4. Saring larutan tersebut dengan mesh 200, kemudian tampung suspensi dan
butiran halusnya kedalam bejana gelas.

5. Biarkan suspensi tersebut mengendap.


6. Teteskan 1-2 tetes pipet kecil dari larutan tersebut di atas gelas objektif dan
panaskan dengan hot plate.

7. Setelah kering teteskan kanada balsam dan dipanaskan hingga lem tersebut
matang dan tutup dengan cover glass.

8. Dinginkan dan beri label.

9. Sampel siap dideterminasi.

Polen

Untuk melepaskan pollen/spora dari mineral-mineral yang melimgkupinya, dapat


dilakukan dengan beberpa tahap preparasi yang mebutuhkan ketelitian dan ditunjang
oleh fasilitas laboratorium yang lengkap, seperti cerobong asap, ruang asam, tabung-
tabung reaksi, sentrifugal dan sebagainya. Beberapa larutan kimia yang dibutuhkan
adalah: HCl, HF, KOH, dan HNO3

Anda mungkin juga menyukai