Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM ILMU LINGKUNGAN

PERSOALAN LINGKUNGAN LIMBAH RUMAH TANGGA

DISUSUN OLEH :

Fera Aulia (14308144001)

Lia Indraswati (15308141004)

Muhson Isroni (15308141012)

Prastuti Eka Mella Grynna (15308141016)

Saraswati Puji Astuti (15308141025)

Lanny Khotijah (15308141026)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS YOGYAKARTA

2017
A. POKOK BAHASAN
Persoalan Lingkungan Limbah Rumah Tangga di Pemukiman Padat Penduduk

B. TUJUAN
1. Mengidentifikasi macam-macam limbah rumah tangga.
2. Mengetahui proporsi masing-masing limbah rumah tangga.
3. Mengetahui ke mana muara arus masing-masing limbah rumah tangga.
4. Mengetahui di mana tempat akumulasi masing-masing limbah rumah tangga.
5. Menafsirkan bagaimana kemungkinan potensi limbah rumah tangga sebagai
masalah lingkungan.

C. TINJAUAN PUSTAKA
Limbah Domestik dan Sampah
Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif
terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik. Limbah rumah tangga atau
limbah domestik adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian,
limbah bekas industri rumah tangga, dan kotoran manusia. Limbah merupakan
buangan atau sesuatu yang tidak terpakai berbentuk cair, gas dan padat.
Sampah adalah semua barang atau benda atau sisa yang sudah tidak
berguna dan terbuang dari kegiatan sehari-hari. Jadi sampah merupakan produk
buangan yang pada umumnya berbentuk padat dengan komposisi organik dan
anorganik. Sedangkan limbah adalah produk akhir yang berupa material buangan
dari sebuah proses pencucian, dekontaminasi atau proses metabolisme tubuh,
yang dapat berbentuk cairan atau setengah padat. Beberapa pengertian air limbah
dan sampah menurut beberapa pendapat antara lain:
a. Azwar (1989), Air limbah adalah air yang tidak bersih dan mengandung
berbagai zat yang membahayakan kehidupan manusia atau hewan serta
tumbuhan, merupakan kegiatan manusia seperti limbah industri dan
limbah domestik atau limbah rumah tangga.
b. Sugiharto (1987), Air limbah (waste water) adalah kotoran dari manusia
dan rumah tangga serta berasal dari industri, atau air permukaan serta
buangan lainnya, yang demikian air buangan merupakan hal yang bersifat
kotoran umum.
c. Kamus Istilah Lingkungan (1994), Sampah adalah bahan yang tidak
mempunyai nilai atau tidak berharga untuk maksud biasa atau utama
dalam pemakaian barang rusak atau bercacat dalam pembuatan
manufaktur atau materi berkelebihan atau ditolak atau buangan.
d. Prof. Ir. Rasyastuti. W ( 1996), Sampah adalah sumber daya yang tidak
siap pakai.
e. Istilah Lingkungan Untuk Manajeman, Ecolink (1996), Sampah adalah
suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari sumber hasil aktivitas
manusia maupun hasil proses alam yang belum memiliki nilai ekonomis.

1
Sampah dapat digolongkan dalam beberapa kategori, penggolongan
sampah didasarkan pada sumber sampah, sifat sampah, dan bentuk sampah.
Penggolongan jenis sampah ini akan memudahkan dalam proses daur ulang atau
proses pemanfaatan sampah, karena dari penggolongan tersebut dapat dikenali
karakteristik serta kandungan yang terdapat dalam sampah yang akan diolah atau
daur ulang.
a. Berdasarkan sumbernya sampah dibedakan atas:
Sampah alam
Sampah manusia
Sampah konsumsi
Sampah nuklir
Sampah industri
Sampah pertambangan
b. Berdasarkan sifatnya sampah dibedakan oleh:
Sampah organik, dapat diurai (degradable)
Sampah anorganik, tidak terurai (undegradable)
c. Berdasarkan bentuknya sampah dapat dibagi sebagai:
Sampah padat
Sampah cair
Sampah gas

Pengolahan dan Pengelolaan Sampah


Aspek lingkungan memiliki banyak tanggung jawab meliputi isu-isu
manajemen perumahan, perlindungan lingkungan, ekonomi air, sistem
penyediaan air, sistem pembuangan limbah, pengolahan limbah dan pembuangan
limbah, menjaga kebersihan dan ketertiban lingkungan, sanitasi, TPA dan limbah
penetral, penyediaan listrik, panas, dan energi gas, daerah hijau, dan aforestasi.
Masalah-masalah ini memerlukan operasi intensif dan ekstensif bekerjasama
dengan semua pihak menciptakan rantai nilai di bidang lingkungan (Karbownik,
2012). Menurut Karbownik (2012), pengelolaan lingkungan adalah sebuah
konsep luas yang mengacu pada menggunakan, melindungi, dan membentuk
lingkungan sesuai dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pengolahan
lingkungan yang terencana akan berdampak positif dari segi sosial masyarakat.
Pada pengolahan dan pengelolaan sampah, bak sampah dapat dipakai
untuk membuang kotoran seperti daun, plastik, kertas. Pembakaran kotoran dari
sampah untuk bak yang dibuat dari kayu diambil dahulu lalu dibakar di tempat.
Sampah kompleks perumahan biasanya diambil dengan gerobak sampah atau truk
sampah dan dibuang ke tempat lain. Dapat dibuat bak, bisa dari kayu bekas atau
batu bata, bisa juga dari porselin. Bak dari kayu lebih sederhana tetapi kotoran
tidak dapat dibakar, karena bak akan terbakar. Bak yang dari batu bata

2
kotorannya bisa dibakar. Agar supaya kayu bawah tidak terkena rayap dapat
dibuatkan kaki. Begitu pula pada bak batu bata, agar mudah memindahkan bak.
Bak sampah digunakan untuk membuang kotoran sampah seperti kertas,
daun, dan lain-lain. Agar tetap terawat, maka perlu diperhatikan hal, yaitu :
a. Bak kayu perlu dicat.
b. Setelah penuh diambil lalu dibakar.
c. Jangan membuang yang berbau busuk seperti bangkai, dan sebagainya.
Terdapat beberapa cara pengolahan dan pengelolaan sampah rumah tangga
diantaranya yaitu:
a. Mendaur ulang sampah rumah tangga.
b. Penerapan sanitary landfill dan tempat pembuangan akhir.

Sistem sanitary landfill adalah sistem pengelolaan sampah yang


mengembangkan lahan cekungan dengan syarat tertentu, antara lain jenis dan
porositas tanah. Dasar cekungan pada sistem ini dilapisi geotekstil. Lapisan yang
menyerupai plastik ini menahan peresapan lindi ke tanah. Diatas lapisan ini,
dibuat jaringan pipa yang akan mengalirkan lindi ke kolam penampungan. Lindi
yang telah melalui instalasi pengolahan baru dapat dibuang ke sungai. Sistem ini
juga mensyaratkan sampah diuruk dengan tanah setebal 15 cm tipa kali timbunan
mencapai ketinggian 2 meter.
Sistem Sanitary Landfill tentunya harus memenuhi desain teknis tertentu
sehingga sampah yang dimasukkan ke tanah tidak mencemarkan tanah dan air
tanah. Di sejumlah negara maju, sebelum dibuang ke tempat pembuangan akhir
(TPA), sampah dipilah terlebih dahulu antara sampah organik dan non-organik,
sampah yang mudah terdegradasi dan yang sulit. Sistem ini mampu mengontrol
emisi gas metan, karbon dioksida atau gas berbahaya lainnya akibat proses
pemadatan sampah.

Dampak Sampah dan Limbah Domestik


Dampak yang ditimbulkan sampah dan limbah antara lain:
1. Pencemaran Lingkungan
Sampah dari berbagai sumber dapat mencemari lingkungan, baik lingkungan
darat, udara, maupun perairan. Pencemaran darat yang dapat ditimbulkan oleh
sampah misalnya ditinjau dari segi kesehatan sebagai tempat bersarang dan
menyebarnya bibit penyakit, sedangkan ditinjau dari segi keindahan, tentu
saja menurunnya estetika. Macam pencemaran udara yang ditimbulkannya
misalnya mengeluarkan bau yang tidak sedap, debu gas-gas beracun. Macam
pencemaran perairan yang ditimbulkan oleh sampah misalnya terjadinya
perubahan warna dan bau pada air sungai, penyebaran bahan kimia dan
mikroorganisme yang terbawa air hujan dan meresapnya bahan-bahan
berbahaya sehingga mencemari sumur dan sumber air.

3
2. Penyebab Penyakit
Tempat-tempat penumpukan sampah dan air limbah dari air buangan rumah
tangga merupakan lingkungan yang baik bagi hewan penyebar penyakit
penyakit misalnya : lalat, nyamuk, tikus, dan bakteri patogen (penyebab
penyakit). Adanya hewan-hewan penyebar penyakit tersebut mudah tersebar
dan menjalar ke lingkungan sekitar. Penyakit-penyakit itu misalnya kolera,
disentri, tipus, diare, dan malaria.

3. Penyumbatan Saluran Air dan Pemicu Banjir


Sampah jalanan dan sampah rumah tangga sering bertaburan di jalan serta
sampah yang tidak dibuang pada tempatnya, jika turun hujan akan terbawa ke
selokan atau sungai, akibatnya sungai akan tersumbat dan timbul banjir.
Selanjutnya banjir dapat menyebarkan penyakit dan kemudaratan bagi
manusia sendiri. Kemudian banyak selokan di musim hujan menjadi mampet
karena penduduk membuang sampah disembarang tempat.

4. Gangguan Infrastruktur
Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak
memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika
sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung
membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih
sering dibersihkan dan diperbaiki.

4
D. METODE KEGIATAN
1. Tempat dan Waktu
Tempat : Pemukiman padat penduduk (Karangmalang)
Waktu : Selasa, 21 Maret 2017

2. Alat dan Bahan


a. Format tabulasi dan wawancara
(1) Keluarga sebagai responden tempat menggali informasi mengenai
sampah yang dihasilkan keluarga tersebut.
(2) Pengurus kampung (RT, RW, Kepala Dukuh, atau Kepala Desa) atau
seorang yang dianggap mengetahui staf kependudukan wilayah yang
dijadikan subjek studi.
b. Format tabulasi data untuk melaporkan informasi atau data hasil
pengamatan mengenai arus dan muara limbah rumah tangga.

3. Prosedur Kerja
Menetapkan satu lokasi (pemukiman padat penduduk) sebagai daerah studi

Karang Malang, Depok, Catur Tunggal, Sleman, Yogyakarta

Menentukan sampel rumah tangga yang mewakili semua tingkatan rumah


tangga yang ada pada daerah studi

Memperoleh informasi (data) dari masing-masing sampel rumah tangga

Mengidentifikasi sifat-sifat limbah (apakah termasuk dapat terurai atau tidak


dapat terurai)

Membuat tafsiran kemungkinan masing-masing limbah untuk berpotensi


menjadi masalah lingkungan

5
E. DATA HASIL PENGAMATAN
Macam limbah
No Keluarga
Padat Ket Jml Cair Ket Jml Gas Ket Jml
Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik
Bpk. Edi
Botol 8 Cuci
Suroso Dibuang Dibuang 2600 Tidak
mineral Kg/ baju/piring
(Ketua RT liter/ Kendara- tentu
1. Sisa Hari Dibuang
04) Dibuang hari an (4)
makanan Mandi Dibuang
Daun Dibuang

Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung

Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik

Botol 2 Cuci
Bpk. Dibuang Dibuang 500 Tidak
mineral Kg/ baju/piring
2. Jumio liter/ tentu
Sisa Hari Rokok Dibuang
Dibuang hari
makanan Mandi Dibuang
Daun Dibuang
Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung
Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik

Botol 8 Cuci Kendara
Bpk. Dibuang Dibuang 1900 Dibuang Tidak
mineral Kg/ baju/piring an (10)
3. Supardi liter/ tentu
Sisa Hari
Dibuang hari
makanan Mandi Dibuang Rokok Dibuang
Daun Dibuang
Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung
Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik

Botol 6 Cuci
Bpk. Dibuang Dibuang 2300 Tidak
mineral Kg/ baju/piring
4. Darmawan liter/ Kendara tentu
Sisa Hari Dibuang
Dibuang Mandi Dibuang hari an (9)
makanan
Daun Dibuang Laundry Dibuang
Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung
Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik 4
1000 Tidak
5. Ibu Tari Botol Kg/ Cuci Kendara
Dibuang Dibuang liter/ Dibuang tentu
mineral Hari baju/piring an (9)
hari
Sisa Dibuang Mandi Dibuang Rokok Dibuang

6
makanan
Daun Dibuang
Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung
Kantong
Dibuang Feses/ urin Dibuang Masak Dibuang
plastik

Botol 3 Cuci
Ibu Dibuang Dibuang 1000 Tidak
mineral Kg/ baju/piring
6. Margiati liter/ Kendara tentu
Sisa Hari Dibuang
Dibuang Mandi hari an (5)
makanan Dibuang
Daun Dibuang
Muara TPS Klebengan Saluran pembuangan Udara langsung

F. PEMBAHASAN
Acara II Praktikum Ilmu Lingkungan yaitu mengenai Persoalan
Lingkungan Limbah Rumah Tangga. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk
mengidentifikasi macam-macam limbah rumah tangga, mengetahui proporsi
masing-masing limbah rumah tangga, mengetahui ke mana muara arus dan di
mana tempat akumulasi masing-masing limbah rumah tangga tersebut, serta
menafsirkan kemugkinan potensi limbah rumah tangga sebagai masalah
lingkungan.
Kegiatan acara ini dilakukan dengan melakukan wawancara, dimana topik
bahasannya yaitu pada Pemukiman Padat Penduduk. Pengamatan dilakukan
pada Selasa, 21 Maret 2017 berlokasi di Karangmalang.

Gambar 1. Peta Padukuhan Karangmalang

7
Seperti yang terlihat pada gambar 1. memperlihatkan peta Karangmalang
yang berlokasi di perkotaan diapit oleh dua universitas besar di Yogyakarta yaitu
UGM dan UNY. Lokasi Karangmalang yang strategis tentunya menjadikan
Karangmalang sebagai daerah yang padat penduduk, utamanya yaitu para
mahasiswa. Penduduk yang padat di daerah ini berdampak pada kegiatan
ekonomi dan sosial misalnya yaitu banyaknya warung makan, usaha laundry, dan
kegiatan lainnya.
Pada kegiatan praktikum Ilmu Lingkungan kali ini, dilakukan wawancara
mengenai persoalan lingkungan limbah rumah tangga di Karangmalang, Depok,
Catur Tunggal, Sleman, DI Yogyakarta. Lokasi Karangmalang terdapat jumlah
rata-rata tiap RT yaitu 30 rumah. Pada pengamatan, terdapat enam (6)
narasumber yang diwawancarai yaitu Bapak Edi Suroso sebagai ketua RT 04
yang tinggal di Blok C 10 dengan jumlah anggota keluarga yaitu 6 orang dan 20
orang yang kos di rumah tersebut. Narasumber kedua yaitu Bapak Jumio yang
bertempat tinggal di Blok D16 dengan jumlah anggota keluarga 3 orang dan 3
orang kos di kediaman beliau. Narasumber ketiga yaitu Bapak Supardi yang
berada di Blok B19 dengan jumlah anggota keluarga 4 orang dan membuka kos
berisi 16 orang serta membuka warung makan seperti yang terlihat pada gambar 6
di lampiran. Narasumber keempat yaitu Bapak Darmawan dengan jumlah
anggota 3 orang dan membuka kos berisi 16 orang, serta membuka usaha
laundry. Narasumber selanjutnya yaitu Ibu Tari yang berlokasi di Blok A44
dengan jumlah anggota keluarga 3 orang dan membuka kos berisi 8 orang, serta
membuka toko kelontong. Narasumber terakhir yaitu Ibu Margiyati yang
berlokasi di Blok E14 dengan jumlah anggota keluarga 5 orang dan membuka kos
berisi 5 orang.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga rata-rata
adalah 4 orang. Dilihat dari jumlah anggota keluarga tersebut sebenarnya nilai
tersebut tidak begitu besar, namun terdapat penduduk pendatang yaitu orang yang
kos pada kediaman masing-masing narasumber. Adanya penduduk pendatang
tersebut menyebabkan padatnya penduduk daerah Karangmalang, hal tersebut
sangat mungkin karena lokasi Karangmalang yang diapit oleh dua universitas
besar di Yogyakarta.
Penduduk yang pada dengan aktivitas manusia yang bermacam-macam
menghasilkan berbagai macam limbah rumah tangga. Berdasarkan hasil
wawancara terdapat berbagai macam limbah yang dihasilkan oleh setiap rumah
tangga. Limbah padat misalnya yaitu kantong plastik, botol mineral, sisa
makanan, dan dedaunan dengan jumlah mencapai rata-rata 930 kg/bulan setiap
kepala keluarga. Nilai tersebut tentunya bukanlah nilai yang sedikit, apabila tidak
ada pengelolaan yang benar maka hal tersebut dapat menjadi suatu masalah bagi
lingkungan padat penduduk seperti Karangmalang.
Warga Karangmalang mengelola limbah padatnya dengan dikumpulkan
setiap rumah dan diambil setiap harinya oleh truk sampah yang kemudian

8
dikumpulkan di tempat pembuangan sementara (TPS) Klebengan sebelum
akhirnya bermuara di tempat pembuangan akhir (TPA) Piyungan. Pengelolaan
sampah dengan truk sampah merupakan inisiasi dari warga Karangmalang
dengan kesepakatan iuran Rp 20.000 setiap rumah atau Rp 30.000 setiap rumah
yang membuka warung. Upaya pengelolaan yang dilakukan warga Karangmalang
tersebut sudah cukup baik namun masih perlu peningkatan dalam beberapa hal
misalnya truk sampah yang jumlahnya hanya satu apabila terkadang masih dirasa
kurang mencukupi kebutuhan, selain itu pada setiap hari Minggu karena truk
sampah libur maka terjadi penumpukan sampah di pemukiman Karangmalang
sehingga menyebabkan timbulnya sampah berserakan dan bau kurang sedap.
Sesuai teori bahwa sarana pengangkutan yang tidak tertutup dengan baik juga
sangat sangat berpotensi menimbulkan masalah bau di sepanjang jalur yang
dilalui, terutama akibat bercecerennya air lindi dari bak kendaraan.
Macam limbah lainnya yaitu limbah cair yang berupa feses atau urin, air
bekas cuci piring atau baju, dan air bekas mandi. Berdasarkan hasil wawancara
pada enam (6) narasumber rerata limbah cair yaitu 46.500 liter/bulan setiap
rumah tangga. Limbah cair yang ada di pemukiman Karangmalang dibuang
melalui saluran pembuangan yang bermuara di bagian barat Karangmalang (dekat
stadion UGM). Berdasarkan pemaparan Ketua RT 04 Karangmalang, limbah cair
yang terkumpul di saluran pembuangan apabila sudah penuh dengan total 8
tangki akan dibawa ke instalasi pengelolaan air limbah (IPAL) Sewon. IPAL
Sewon merupakan instalasi pengelolaan limbah terpusat yang berada di Jalan
Bantul KM 6, Dusun Cepit, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta. Limbah
cair yang dihasilkan dari pemukiman Karangmalang apabila tidak diolah dapat
menimbulkan masalah lingkungan misalnya tercemarnya air yang ada di daerah
tersebut. Jumlah laundry yang ada di kawasan ini juga terhitung tidak sedikit,
pada saat pengamatan kami melihat terdapat cukup banyak jumlah laundry. Air
bekas cucian laundry tentunya mengandung zat-zat kimia yang cukup berbahaya
apabila tidak dikelola. Salah satu hal positif dari kawasan Karangmalang yaitu
adanya sumur resapan, sesuai yang ada di gambar 1, terdapat beberapa titik
sebaran sumur resapan.
Limbah gas juga ditemukan di kawasan padat penduduk Karangmalang.
Rerata limbah gas yang ada tidak tentu jumlahnya karena sulit dalam
pengiraannya. Limbah gas tersebut misalnya berupa gas dari dapus saat
memasak, gas kendaraan, dan gas rokok. Meskipun limbah gas ini tidak begitu
terlihat dampaknya namun tentu adanya limbah gas juga dapat berpengaruh dan
dapat menjadi potensi masalah lingkungan, misalnya timbulnya penyakit
pernafasan, dan lain-lain.
Dari data hasil pengamatan dapat ditunjukkan peringkat limbah yang
dihasilkan oleh kawasan pemukiman padat penduduk Karangmalang yaitu secara
berturut-turut yang paling tinggi limbah padat, limbah cair, dan limbah gas
seperti yang terlihat pada gambar 2.

9
Peringkat Limbah Karangmalang

Limbah padat Limbah cair Limbah gas


Gambar 2. Peringkat Limbah Kawasan Padat Penduduk Karangmalang

Dari limbah yang dihasilkan oleh kawasan tersebut, sebenarnya terdapat


beberapa limbah yang dapat dikelola seperti limbah anorganik (botol air mineral,
plastik, kertas) dan limbah organik (sisa makanan), bisa dikelola ataupun didaur
ulang. Meskipun sudah ada beberapa kali penyuluhan mengenai pengelolaan
sampah, namun masyarakat Karangmalang belum dapat mengaplikasikan teori
yang didapatkan dari penyuluhan pengelolaan sampah sehingga sepenuhnya hasil
limbah dibuang. Semua limbah yang ada di kawasan Karangmalang dibuang ke
luar Karangmalang seperti limbah padat ke tempat pembuangan sementara (TPS)
Klebengan, limbah cair ke saluran pembuangan di daerah sekitar stadion UGM,
dan limbah gas terbuang langsung ke udara.
Adanya hasil limbah dari berbagai macam kegiatan manusia tentunya
memiliki potensi untuk menjadi masalah lingkungan. Limbah padat dari tiap
rumah diambil dan dibawa ke tempat pembuangan akhir sampah, namun sering
terjadi keterlambatan pengambilan sampah karena keterbatasan sarana
transportasi sehingga membuat sampah menumpuk dan menghasilkan bau tidak
sedap (busuk) yang akhirnya dapat mengganggu kesehatan manusia karena
banyaknya bakteri pada limbah tersebut yang tercemar melalui udara.
Limbah cair berupa hasil buangan laundry, karena air yang dibuang
mengandung bahan-bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan seperti fosfat
dan surfaktan. Menurut Gosolits,dkk (1999), kandungan limbah laundry yang
sangat kotor mengandung mineral oil, logam berat, dan senyawa berbahaya
dimana harga COD mencapai 1200-20000 ml O2/Liter. Selain itu, limbah bekas
cucian dapur sering dibuang di saluran irigasi yang mengalir ke sungai, sehingga
membuat sungai menjadi tercemar.
Limbah gas seperti asap kendaraan bermotor dan asap rokok yang sangat
banyak pada daerah studi, Karangmalang, menyebabkan udara tercemar karena
kandungan zat berbahaya yang ada didalamnya sehingga dapat menyebabkan
berbagai penyakit gangguan pernafasan pada manusia.
Pembuangan sampah yang tidak dilakukan dengan baik misalnya di lahan
kosong atau TPA yang dioperasikan sembarangan akan menyebabkan lahan
setempat mengalami pencemaran akibat tertumpuknya sampah organik dan

10
mungkin juga mengandung Bahan Buangan Berbahaya (B3). Apabila hal tersebut
terjadi maka akan diperlukan waktu yang sangat lama sampai sampah
terdegradasi atau larut dari lokasi tersebut. Selama waktu itu lahan setempat
berpotensi menimbulkan pengaruh buruk terhadap manusia dan lingkungan
sekitarnya.
Adapun dari pengamatan yang telah dilakukan terdapat beberapa saran
untuk kawasan Karangmalang yaitu pemisahan limbah organik dan anorganik
sehingga limbah dapat dikelola atau didaur ulang. Selain itu masyarakat
diharapkan membuang limbah cair sesuai saluran pembuangan yang telah diatur,
limbah cair tidak dibuang pada saluran irigasi yang mengalir ke sungai. Warga
juga dianjurkan untuk menghemat kantong plastik demi mengurangi limbah yang
dihasilkan dari berbagai kegiatan sehari-hari.

11
G. KESIMPULAN
Berdasarkan data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa:
1. Limbah yang dihasilkan di rumah tangga yaitu limbah padat, limbah cair,
dan limbah gas dengan jumlah limbah padat yang paling banyak.
2. Limbah padat pada daerah studi bermuara di TPA Klebengan, limbah cair
bermuara di saluran pembuangan di daerah UGM, dan limbah gas
langsung ke udara.
3. Semua limbah pada daerah studi berpotensi menjadi masalah lingkungan.
4. Limbah padat diangkut setiap hari dan dibuang di TPA klebengan lalu
terakumulasi di TPA Piyungan, limbah cair terakumulasi di saluran
pembuangan dekat UGM, dan limbah gas terakumulasi di udara.

H. DISKUSI
1. Limbah apa saja yang dihasilkan pada daerah studi?
Limbah padat
Organik
Anorganik
Limbah cair
Air cucian piring
Air cucian baju/laundry
Air mandi
Limbah gas
Asap kendaraan
Asap rokok
Asap dapur

2. Buatlah peringkat limbah yang dihasilkan oleh daerah studi!


Peringkat 1 limbah padat
Peringkat 2 limbah cair
Peringkat 3 limbah gas
Peringkat Limbah Karangmalang

Limbah Limbah cair Limbah gas


padat

12
3. Limbah apa saja yang dapat dikelola di dalam daerah studi itu sendiri, dan
limbah apa yang terpaksa dibuang ke luar daerah studi?
>Limbah yang dapat dikelola
Limbah anorganik : botol air mineral, plastik pembungkus makanan, kertas.
Limbah organik : sisa makanan.
>Limbah di Karangmalang yang harus dibuang ke luar Karangmalang
Limbah cair: feses, urin, air bekas cuci pakaian.
Limbah gas: asap rokok, asap kendaraan.

4. Bagaimana potensi limbah rumah tangga pada daerah studi untuk menjadi
masalah lingkungan?
Limbah padat berupa sampah yang menumpuk dan menghasilkan
bau tidak sedap (busuk) yang akhirnya dapat mengganggu
kesehatan manusia karena banyaknya bakteri pada limbah tersebut
yang tercemar melalui udara.
Limbah cair berupa hasil buangan laundry, karena air yang dibuang
mengandung bahan-bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan
seperti fosfat dan surfaktan. Menurut Gosolits,dkk (1999),
kandungan limbah laundry yang sangat kotor mengandung mineral
oil, logam berat dan senyawa berbahaya dimana harga COD
mencapai 1200-20000 ml O2/Liter. Limbah bekas cucian dapur
sering dibuang di saluran irigasi yang mengalir ke sungai, sehingga
membuat sungai menjadi tercemar
Limbah gas seperti asap kendaraan bermotor dan asap rokok yang
sangat banyak pada daerah studi menyebabkan udara tercemar
karena kandungan zat berbahaya yang ada didalamnya sehingga
dapat menyebabkan berbagai penyakit gangguan pernafasan pada
manusia.
5. Bagaimana kesimpulan akhir dan saran untuk daerah studi?
Berdasarkan data yang kami peroleh, dapat disimpulkan bahwa:
1. Limbah yang dihasilkan di rumah tangga yaitu limbah padat, limbah
cair, dan limbah gas dengan jumlah limbah padat yang paling
banyak.
2. Limbah padat pada daerah studi bermuara di TPA Klebengan, limbah
cair bermuara di saluran pembuangan di daerah UGM, dan limbah
gas langsung ke udara.
3. Semua limbah pada daerah studi berpotensi menjadi masalah
lingkungan.
4. Limbah padat diangkut setiap hari dan dibuang di TPA klebengan
lalu terakumulasi di TPA Piyungan, limbah cair terakumulasi di
saluran pembuangan dekat UGM, dan limbah gas terakumulasi di
udara.

13
Saran untuk kawasan Karangmalang yaitu diadakan pemisahan limbah
organik dan anorganik sehingga limbah dapat dikelola atau didaur ulang.
Selain itu masyarakat diharapkan membuang limbah cair sesuai saluran
pembuangan yang telah diatur, limbah cair tidak dibuang pada saluran
irigasi yang mengalir ke sungai. Warga juga dianjurkan untuk menghemat
kantong plastik demi mengurangi limbah yang dihasilkan dari berbagai
kegiatan sehari-hari.

I. TANYA JAWAB
1. Penanya: Sholikhatun Mutmainah
Pertanyaan: Bagaimana jika limbah cair yang bermuara di penampungan
limbah cair dekat UGM telah penuh? Apa yang dilakukan untuk
menaggulanginya ?
Jawaban: Jika limbah cair yang ditampung pada saluran pembuangan telah
penuh, maka akan disedot dan diangkut menuju pembuangan akhir IPAL
Sewon untuk dilakukan proses pengelolaan pada air limbah tersebut.
2. Penanya: Tiara Lutfiana Sari
Pertanyaan: Apakah semua limbah cair dibuang di penampungan limbah
cair yang terletak di dekat UGM ?
Jawaban: iya, semua limbah cair dibuang di penampungan limbah cair
yang terletak di dekat UGM.
3. Penanya: Maelani Indaswari
Pertanyaan: Pernah ada penyuluhan tentang limbah dan pengelolaan limbah
untuk didaur ulang di Karangmalang, apakah benar di Karangmalang tidak
ada pengelolaan sampah untuk didaur ulang oleh masyarakat di
Karangmalang ?
Jawaban: di Karangmalang sudah ada rencana untuk mengelola sampah
agar didaur ulang, namun hal itu masih sebatas rencana dan teori, untuk
mempraktikkannya sangat susah karena banyak masyarakat yang belum
sadar sehingga di Karangmalang belum ada pengelolaan sampah untuk
daur ulang.
4. Penanya: Devi Lestari
Pertanyaan: Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pengambilan sampah di
Karangmalang?
Jawaban: Pembayaran pengambilan sampah dilakukan dengan sistem iuran.
Setiap rumah diwajibkan membayar Rp 20.000, sedangkan untuk setiap
rumah yang membuka warung diwajibkan iuran sebesar Rp 30.000.
5. Penanya: Ria Oktaviani
Pertanyaan: Untuk penghuni kos, bayar berapa untuk pengambilan
sampahnya?
Jawaban: Penghuni kos tidak membayar biaya pengambilan sampah, sistem
biaya pengambilan sampah yaitu setiap rumah.

14
DAFTAR PUSTAKA

Colink, Istilah Lingkungan Untuk Manajemen, 1996

Journal Of Environmental J. Environ. Stud, 21(4), 911921. Retrieved from


http://www.pjoes.com/pdf/21.4/Pol.J.Environ.Stud.Vol. 21.No.4.911
921.pdf

Karbownik, A. (2012). Value Chain Analysis of Environmental Management in


Urban AreasCase Study: Metropolitan Association of Upper Silesia.
Polish

Sugiharto, 1987. Dasar- Dasar Pengelolaan Air Limbah Cetakan Pertama.


Jakarta: UI Press

Sukirman & Djuwanto. 2008. Petunjuk Praktikum Ekologi. Yogyakarta: UNY

Tchobanoglous. 1993. Integrated Solid Waste Management. Mc. Grw Hill:


Kogakusha

15
LAMPIRAN

Gambar 3. Kawasan padat penduduk Gambar 4. Gang Karangmalang

Gambar 5. Proses wawancara Gambar 6. Warung Bapak Supardi

Gambar 7. Usaha laundry Gambar 8. Toko Kelontong Ibu Tari

Gambar 9. Truk pengangkut sampah Gambar 10. Kawasan Karangmalang

16