Anestesi Umum untuk Tumor Mediastinum
Anestesi Umum untuk Tumor Mediastinum
Oleh :
Pembimbing :
dr. Nopian Hidayat, Sp.An
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan laporan kasus kelompok ini yang berjudul General Anestesi Pada
Pasien Tumor Mediastinum Dengan Tindakan Thoracotomy.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian laporan kasus kelompok ini. Terimakasih penulis kepada dr. Nopian Hidayat,
Sp.An yang telah membimbing, meluangkan waktu dan memberi saran dalam penulisan
laporan ini.
Penulis menyadari adanya kekurangan dalam penulisan laporanini, karena itu penulis
mengharapkan kritikdan saran yang relevan untuk kesempurnaan laporan ini. Semoga laporan
ini dapat menambah pengetahuan penulis dan pembaca.
Penulis
1
BAB I
PENDAHULUAN
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam rongga yang terletak di
antara paru kanan dan kiri. Mediastinum berisi jantung, pembuluh darah arteri, pembuluh
darah vena, trakea, kelenjar timus, syaraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan
salurannya. Rongga mediastinum ini sempit dan tidak dapat diperluas, maka
pembesaran tumor dapat menekan organ disekitarnya dan dapat menimbulkan kegawatan
yang mengancam jiwa. Kebanyakan tumor mediastinum tumbuh lambat sehingga pasien
sering datang setelah tumor berukuran besar yang disertai dengan keluhan dan tanda akibat
penekanan tumor terhadap organ sekitarnya.1
Tumor mediastinum disebabkan oleh berbagai variasi kista, tumor, usia dan lokasi
tumor di rongga mediastinum. Pada orang dewasa timoma dan limfoma merupakan jenis
tumor paling sering ditemukan di lesi anterior mediastinum. Pada mediastinum medial sering
ditemukan adanya tumor vascular dan pembesaran KGB. Tumor neurogenik dengan
abnormalitas esophagus paling sering terjadi di mediastinum posterior. Pada usia anak-anak,
tumor yang paling sering terjadi adalah tipe neurogenik dan kista.2
Data frekuensi tumor mediasinum di Indonesia antara lain didapat dari SMF Nedah
Toraks RS Persahabatan Jakarta dan RSUD Dr. Sutomo Surabaya. Pada tahun 1970 - 1990
di RS Persahabatan dilakukan operasi terhadap 137 kasus, jenis tumor yang ditemukan
adalah 32,2% teratoma, 24% timoma, 8% tumor syaraf, dan 4,3% limfoma. Data RSUD Dr.
Soetomo menjelaskan lokasi tumor pada mediastinum anterior 67% kasus, mediastinum
medial 29% dan mediastinum posterior 25,5%. Dari kepustakaan luar negeri diketahui
bahwa jenis yang banyak ditemukan pada tumor mediastinum anterior adalah limfoma,
timoma dan germ cell tumor.1
Pada pasien-pasien dengan tumor mediastinum yang dilakukan operasi,
penatalaksanaan anestesi memerlukan pemahaman mendalam mengenai sistem
kardiovaskular. Sumbatan total jalan nafas dan kolapsnya sistem kardiovaskular merupakan
komplikasi dari general anesteshia (GA) yang berhubungan dengan penekanan tumor
terhadap jalan nafas, paru-paru, jantung dan pembuluh darah sekitarnya. Pasien dengan tanda
dan gejala yang ringan bahkan tanpa gejala dapat berubah menjadi obstruksi jalan nafas dan
kardiovaskular yang berat selama induksi GA yang dapat mengancam nyawa.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Tumor mediastinum adalah tumor yang terdapat di dalam mediastinum rongga yang
berada diantara paru kanan dan kiri. Mediastinum berisi jantung, pembuluh darah arteri,
pembuluh darah vena, trakea, kelenjar timus, syaraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening.
Secara garis besar mediastinum dibagi atas 4 bagian penting yaitu mediastinum superior,
anterior, posterior dan mediastinum medial. Rongga mediastinum ini sempit dan tidak dapat
diperluas, maka pembesaran tumor dapat menekan organ di dekatnya dan dapat menimbulkan
kegawatan yang mengancam jiwa.1
2.2 Epidemiologi
Jenis tumor mediastinum sering berkaitan dengan lokasi tumor dan umur penderita.
Pada anak-anak tumor mediastinum yang sering ditemukan berlokasi di mediastinum
posterior dan jenisnya tumor saraf. Sedangkan pada orang dewasa lokasi tumor banyak
ditemukan di mediastinum anterior dengan jenis limfoma atau timoma.
Adapun frekuensi tumor mediastinum di kepustakaan luar berdasarkan penelitian
retrospektif dari tahun 1973 sampai dengan 1995 di New Mexico, USA didapatkan 219
pasien tumor mediastinum ganas yang didentifikasi dari 110-284 pasien penyakit keganasan
primer, jenis terbanyak adalah limfoma 55%, sel germinal 16% ,timoma 5%, neurogenik 3%
dan jenis lain.2
Sedangkan data frekuensi tumor mediastinum di Indonesia antara lain didapat dari
SMF bedah Thorak RS Persahabatan Jakarta dan RSUD Dr. Sutomo Surabaya. Pada tahun
1970-1990 di RS Persahabatan dilakukan operasi terhadap 137 kasus, jenis tumor yang
ditemukan adalah 32,2% teratoma, 24% timoma,8% tumor syaraf, 4,3% limfoma. D at a
R S U D D r. S o et o mo me n j e la s k an l ok as i tu mor p ad a me di a s t i nu m an t er i or
6 7% kasus, mediastinum medial 29% dan mediastinum posterior 25,5%.3
Kebanyakan tumor mediastinum tanpa gejala dan ditemukan pada saat dilakukan foto
toraks untuk berbagai alasan. Keluhan penderita biasanya berkaitan dengan ukuran da n
i nv as i at a u ko mp re s i t er h ad ap o rgan s e ki t a r, mi s al n ya s es a k n ap as b er at ,
s in dr o m vena kava superior (SVKS) dan gangguan menelan. Untuk melakukan prosedur
2
3
diagnostic tumor mediastinum perlu dilihat apakah pasien datang dengan kegawatan (napas,
kardiovaskuler atau saluran cerna) atau tidak. Bila pasien datang dengan kegawatan yang
mengancam jiwa, maka prosedur diagnostik dapat ditunda. Sementara itu diberikan terapi
atau tindakan untuk mengatasi kegawatan, bila telah memungkinkan prosedur diagnostik
dilakukan.3
2.3 Etiologi
Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab tumor mediastinum
adalah:
1. Penyebab kimiawi
Di berbagai negara ditemukan banyak tumor kulit pada pekerja pembersih
cerobong asap. Zat yang mengandung karbon dianggap sebagai penyebabnya.
2. Faktor genetik (biomolekuler)
Perubahan genetik termasuk perubahan atau mutasi dalam gen normal dan
pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan perkembangan tumor.
3. Faktor fisik
Secara fisik, tumor berkaitan dengan trauma/pukulan berulang-ulang baik
trauma fisik maupun penyinaran. Penyinaran bisa berupa sinar ultraviolet yang
berasal dari sinar matahari maupun sinar lain seperti sinar X (rontgen).
4. Faktor Nutrisi
Salah satu contoh utama adalah alfaktosin yang dihasilkan oleh jamur pada
kacang dan padi-padian sebagai pencetus timbulnya tumor.
5. Faktor hormone
Pengaruh hormone dianggap cukup besar, namun mekanisme dan kepastian
peranannya belum jelas. Pengaruh hormone dalam pertumbuhan tumor bisa dilihat
pada organ yang banyak dipengaruhi oleh hormon.
2.4 Patogenesis
Penyebab dari timbulnya karsinoma jaringan mediastinum belum diketahui secara
pasti, namun diduga berbagai faktor predisposisi yang kompleks berperan dalam
menimbulkan manifestasi tumbuhnya jaringan/sel-sel kanker pada jaringan mediastinum.
Adanya pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi dalam waktu yang relatif singkat
maupun timbul dalam suatu proses yang memakan waku bertahun-tahun untuk mnimbulkan
manifestasi klinik.
4
Dengan semakin meningkatnya volume massa sel-sel yang berproliferasi maka secara
mekanik menimbulkan desakan pada jaringan sekitarnya, pelepasan berbagai substansia pada
jaringan normal seperti prostalandin, radikal bebas dan protein-protein reaktif secara
berlebihan sebagai ikutan dari timbulnya karsinoma meningkatkan daya rusak sel-sel kanker
terhadap jaringan sekitarnya, terutama jaringan yang memiliki ikatan yang relatif lemah.3
Kanker sebagai bentuk jaringan progresif yang memiliki ikatan yang longgar
mengakibatkan sel-sel yang dihasilkan dari jaringan kanker lebih mudah untuk pecah dan
menyebar ke berbagai organ tubuh lainnya (metastase) melalui kelenjar, pembuluh darah
maupun melalui peristiwa mekanis dalam tubuh.
Adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara mekanik
menyebabkan penekanan (direct pressure/indirect pressure) serta dapat menimbulkan
destruksi jaringan sekitar; yang menimbulkan manifestasi seperti penyakit infeksi pernafasan
lain seperti sesak nafas, nyeri inspirasi, peningkatan produksi sputum, bahkan batuk darah
atau lendir berwarna merah (hemaptoe) melibatkan banyak kerusakan pembuluh darah. 1
Kondisi kanker juga meningkatkan resiko timbulnya infeksi sekunder sehingga manifestasi
klinik yang lebih menonjol mengarah pada infeksi saluran nafas seperti pneumonia,
tuberkulosis walaupun mungkin secara klinik pada kanker ini kurang dijumpai gejala demam
yang menonjol.
2.5 Diagnosis
2. 5.1 Manifestasi Klinis
Gejala yang dialami penderita yang mengalami tumor mediastinum adalah
Batuk, sesak atau stridor muncul bila terjadi penekanan atau invasi pada
trakea dan bronkus.
Disfagia muncul bila terjadi penekanan atau invasi ke esofagus
Sindrom Vena Kava Superior (SVKS) lebih sering terjadi pada tumor
mediastinum yang ganas dibandingkan dengan tumor jinak.
Suara serak dan batuk kering muncul bila nervus laringel terlibat, paralisis
diafragma timbul apabila penekanan nervus frenikus
Nyeri dinding dada muncul pada tumor neurogenik atau pada penekanan
sistem syaraf.
Dinding dada (tumor neurogenic dan penekanan system saraf)
5
2 .1 .6 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tumor mediastinum sangat bergantung pada sifat tumor, jinak atau
ganas. Tindakan untuk tumor mediastinum yang bersifat jinak adalah bedah, sedangkan untuk
tumor ganas tergantung dari jenisnya tetapi secara umum terapi untuk tumor mediastinum
ganas adalah multimodaliti yaitu bedah, kemoterapi dan radiasi.4
BAB III
LAPORAN KASUS
Identitas Pasien
Nama : Tn. Erman Tando
Umur : 55 Tahun
Jenis Kelamin : Laki-Laki
No. RM : 948930
Alamat : Jl. Yos Sudarso Gg. Musholla, Pekanbaru
Tanggal MRS : 3 Maret 2017
Tanggal Operasi : 4 Maret 2017
3.1 ANAMNESIS
Keluhan Utama:
Benjolan pada dada
7
8
Riwayat Operasi
Pasien belum pernah dioperasi sebelumnya
AMPLE
A : alergi makanan dan obat-obatan (-)
M : Riwayat operasi (-), Riwayat pengobatan (-)
P : Riwayat HT, DM, Asma, TB, penyakit jantung disangkal.
L : Pasien puasa sejak 6 jam sebelum operasi
E : Bengkak pada dada, gigi palsu (-), batuk (-), pilek (-), gigi goyang (-)
Penilaian LEMON
L (Look) : Tidak terdapat kelainan.
E (Evaluation) : Jarak antara gigi seri pasien 3 jari.
Jarak tulang tiroid dengan dagu 3 jari.
Jarak benjolan tiroid dengan dasar mulut 2 jari
M (mallampati Score) : Mallampati I
O (Obstruction) : Tidak ada sumbatan jalan napas. Trauma (-)
N (Neck Mobility) : Gerakan leher tidak terbatas.
Breathing
Respiratory Rate (RR) : 26 kali/menit
Ronkhi (+/+), Wheezing (-/-)
Tidak ada retraksi iga
Tidak ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan
Circulation
Akral hangat, kemerahan
Heart Rate (HR) 92 kali/menit, tegangan volume kuat dan teratur.
Capillary refill time (CRT) < 2 detik
Tekanan darah : 110/70 mmHg.
Konjungtiva anemis
Disability : GCS E4 M6 V5, pupil isokor (2mm/2mm), reflek cahaya (+/+)
Exposure : Pasien diselimuti
B1 (Breath)
Respiratory Rate (RR) : 26 kali/menit
Ada suara ronkhi pada kedua basal paru
Tidak ada retraksi iga
Tidak ada penggunaan otot-otot bantu pernapasan
B2 (Blood)
Akral hangat, merah, kering
Nadi 92 x/ menit, kuat angkat dan pengisian penuh
CRT <2 detik
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Konjungtiva anemis (-/-)
Sklera ikterik (-/-)
B3 (Brain)
Kesadaran komposmentis
GCS 15
Pupil bulat, isokor, diameter 2mm/2mm. Refleks cahaya (+/+)
Kekuatan motorik
5 5
5 5
B4 (Bladder)
Tidak dipasang kateter
B5 (Bowel)
10
SGOT : 44 U/L
Albumin : 2,5 g/dL
Ureum : 29 mg/dL
Kreatinin : 1,35 mg/dL
Elektrolit
Tanggal 5 Maret 2017
Na+ : 139 mmol/L
K+ : 3,1 mmol/L
Cl : 104,5 mmol/L
CT- Scan
Kesan : Tampak massa pada mediastinum anterior.
Fiksasi interna ETT dengan mengembangkan balon ETT menggunakan udara dan
spuit 20 ml dan fiksasi eksterna dengan menggunakan plester.
Tutup mata pasien dengan plester
Pasang gudel pada pasien
Ubah setting mesin anestesi dari manual spontan ke IPPV spontan dengan 500 ml
dan RR 12x/ menit
Maintenance:
O2 2L/menit
N20 2L/menit
Sevoflurane 1,6 Vol %
Propofol 100 mg
Notrixum 100 mg
Asam traneksamat 1000 mg
Deksametason 10 mg
Ketorolac 90 mg
Aquadest 25 ml
NaCl 0,9% 2 fles
Ringer Laktat 3 fles
Gelofusin 1 fles
HES 6 % 1 fles
Terapi cairan
Kebutuhan cairan maintenance per jam (M):
4ml/kg/jam x 10 : 40 ml/jam
2ml/kg/jam x 10 : 20 ml/jam
1ml/kg/jam x 40 : 40 ml/jam
: 100 ml/jam
Kebutuhan cairan pengganti penguapan per jam (O):
8 ml x 60 kg x 1 jam : 480 ml/jam
Kebutuhan cairan pengganti puasa (P)
P= M x Lama Puasa : 100 ml/jam x 6 jam = 600 ml
Pemberian cairan durante operasi
Jam I : M + O + 1/2 P = 100 + 480 + 300 = 880 ml
14
Ekstubasi
Menutup aliran N2O
Alirkan oksigen 6 L/menit
Pastikan pasien bernafas spontan dan teratur
Melakukan suction slem pada airway pasien
Mengempeskan balon ETT, lepaskan plester fiksasi ETT, cabut ETT, dan segera
pasang face mask dengan oksigen 8 L/menit
Ekstensikan kepala pasien dan pasien dipindahkan ke ruang ICU
PEMBAHASAN
15
16
Sesuai dengan teori adanya pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara
mekanik menyebabkan penekanan (direct pressure/indirect pressure) serta dapat
menimbulkan destruksi jaringan sekitar yang menimbulkan manifestasi seperti penyakit
infeksi pernafasan lain seperti sesak nafas, nyeri inspirasi, peningkatan produksi sputum,
bahkan batuk darah atau lendir berwarna merah (hemaptoe) melibatkan banyak kerusakan
pembuluh darah.1
DAFTAR PUSTAKA
4. Sabiston, David C,. 1994, Buku Ajar Bedah, alih bahasa Petrus
Adriyanto, Edisi I, Jilid II, 704-724, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
18