Anda di halaman 1dari 24

UJIAN AKHIR SEMESTER

COMPOUNDING AND DISPENSING

OLEH :
CHERISTIEN PINANGKAAN
1508515030

PROGRAM PROFESI APOTEKER


JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
I. RESEP
RESEP 30
Ny. Susi datang ke apotek mengajak anaknya, An. Yeni (6 th) sambil membawa
resep dari dokter. Pasien mengeluh pilek dan batuk berdahak sejak 7 hari yang
lalu dan sudah pernah diberikan obat batuk oleh ibu pasien, namun tidak kunjung
membaik. Batuk berdahak dengan lendir berwarna kehijauan dan kental. Pasien
sempat mengalami demam 3 hari yang lalu dan menghilang jika diberi obat
penurun panas. Pilek memberat sejak 2 hari yang lalu karena sempat minum es di
sekolah. Pasien mengalami pilek dengan lendir hidung berwarna kekuningan dan
kental. Menurut Ibu pasien, pasien cenderung rewel di malam hari karena
kesulitan bernapas akibat hidung tersumbat saat menjelang tidur.

II. HASIL PEMBACAAN RESEP


R/ Ancefa syr fl I
S 3 dd cth 1/2
R/ Mucera syr fl I
S 3 dd cth 1/2
R / Indexon
Trifedrin tab
m.f.l.a.pulv.dtd no X
S 3 dd pulv I
R/ Fenris syr fl I
S 3 dd cth
Pro an yeni 6 tahun

III. SKRINING RESEP


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 35
Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian Di Apotek, dinyatakan
bahwa skrining resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi :
1. Persyaratan administratif :
a. Nama dokter, nomor Surat Izin Praktik (SIP), alamat, nomor telepon dan
paraf.
b. Nama, umur, jenis kelamin, dan berat badan pasien.
c. Tanggal penulisan resep.
2. Kesesuaian farmasetik:
a. Bentuk dan kekuatan sediaan
b. Stabilitas
c. Kompatibiltas (ketercampuran obat)
3. Pertimbangan klinis:
a. Ketepatan indikasi dan dosis Obat
b. Aturan, cara dan lama penggunaan Obat
c. Duplikasi dan/atau polifarmasi
d. Reaksi Obat yang tidak diinginkan (alergi, efek samping Obat,Manifestasi
klinis lain)
e. Kontra indikasi
f. Interaksi

3.1 Skrining Administrasi Resep


Tabel 3.1. Hasil skrining administrasi resep
Kelengkapan Resep Ada Tidak Ada
Identitas dokter Nama
SIP
Alamat praktek
No. Telepon
Paraf
Identitas pasien Nama
Umur
Jenis kelamin
Berat Badan
Tanggal penulisan Resep

Berdasarkan hasil skrining tersebut, diketahui bahwa tidak terdapat tanggal


penulisan resep, paraf dokter, dan identitas pasien berupa jenis kelamin dan berat
badan.
Kota dan tanggal penulisan resep sangat penting dicantumkan. Resep yang
ditulis dalam jangka waktu yang sudah cukup lama, misalnya lebih dari seminggu
sebelumnya dapat dicurigai keasliannya dan juga alasan keterlambatan penebusan
resep dapat ditanyakan kepada pasien.
Tidak adanya paraf atau tanda tangan dokter penulis resep akan menjadikan
resep tidak otentik. Pencantuman paraf dokter diperlukan agar resep menjadi
otentik dan tidak disalahgunakan dilingkungan masyarakat (terutama bila
menyangkut resep narkotika dan psikotropika).
Identitas pasien penting diketahui untuk menjamin obat diberikan kepada
pasien yang tepat dan obat diserahkan dalam bentuk sediaan serta dosis yang tepat
sesuai umur dan berat badan pasien.
Berdasarkan hasil skrining administrative, resep di atas kurang lengkap
karena pada resep tidak terdapat tanggal pembuatan resep, paraf dokter, dan berat
badan pasien, maka perlu dilakukan penggalian informasi pasien dari pembawa
resep.

3.2 Skrining Kesesuaian Farmasetis Resep


Table 3.2 Hasil Skrining Farmasetis
Kriteria Ancefa Mucera Indexon Trifedrin Fenris
Komposisi Cefadroxil Ambroxol Dexametaso Triprolidine HCl Ibuprofen
HCl n dan
Pseudroephedrin
e HCl
Bentuk Sirup kering sirup tablet tablet Sirup
Kekuatan 125 mg/5 15 mg/5 mL 0,5 mg Triprolidine HCl 100 mg/5
mL (60 mL) (60 mL) 2,5 mg dan mL (60 mL)
Pseudroephedrin
e HCl 60 mg
Stabilitas Simpan pada suhu ruang dan tidak terpapar sinar matahari langsung
Kompatibilitas Dalam resep ini terdapat dua sediaan yaitu sediaan sirup dan pulveres. Sediaan
Pulveres tidak terdapat inkompatibilitas karena sediaan pulveres terdiri dari
campuran obat yang berupa tablet. Sediaan sirup dalam hal ini juga tidak ada
inkompabilitas karena sediaan tersebut terdiri dari obat tunggal.
3.3 Skrining Pertimbangan Klinis Resep
Table 3.3 Hasil Skrining Klinis
Kriteria Ancefa Mucera Indexon Trifedrin Fenris
Cefadroxil Ambroxol HCl Dexametason Triprolidine HCl dan Ibuprofen
Komposisi
Pseudroephedrine HCl
Indikasi Antibiotic: infeksi bakteri, Agen mukolitik untuk Antiinflamasi Hidung tersumbat, antipiretik untuk
termasuk yang disebabkan gangguan saluran (Kortikosteroid) (Lacy et dekongestan, pilek, mengatasi demam
oleh kelompok A pernafasan akut dan kronis al., 2011). bersin, hidung tau (Lacy et al., 2011).
Streptococcus beta- yang berhubungan dengan tenggorokan gatal, mata
hemolytic (Lacy et al., lendir kental (Lacy et al., berair karena pilek,
2011). 2011). demam, atau alergi
pernafasan lainnya (Lacy
et al., 2011).

Aturan pakai 3 x sendok teh 3 x sendok teh 3x 1 bungkus 3 x sendok teh


Cara pemberian oral oral oral oral
Lama pemberian 8 hari 8 hari 3 hari 8 hari
Polifarmasi - - - - -
ROTD Gangguan gastrointestinal, Gangguan gastrointestinal
diare
Kontraindikasi Hipersensitivitas Ulcer lambung Hipersensitivitas
Cefadroxil dexamethasone,
Interaksi - - - - -
Tabel 3.4 Perbandingan Dosis Resep dengan Pustaka
Nama zat aktif Dosis Ket.
Resep Pustaka
Cefadroxil 1x: 62,5 mg Dosis anak: 30 Underdoses
1 hari: 187,5 mg mg/kg/hari max
2g/hari; BB anak: 15
kg, sehingga dosis
1x: 150 mg
1 hari: 450 mg

Ambroxol HCl 1x: 7,5 mg 1,2-1,6 mg/kg/hari, Sesuai


1 hari: 22,5 mg BB anak 15 kg
sehingga dosis
1x: 6-8 mg
1 hari: 18-24 mg
Dexamethasone 1x: 0,25 mg 0,08-0,3 underdoses
1 hari: 0,75 mg mg/kgbb/hari, BB
anak 15 kg sehingga
dosis
1x: 0,4-1,5 mg
1hari: 1,2-4,5 mg
Triprolidine HCl dan 1x: tablet Anak 6-12 th tablet Sesuai
Pseudroephedrine HCl 1 hari: 1 tablet tiap 4-6 jam, max 4x
Ibuprofen 1x: 50 mg Anak 6 bulan-12 th: underdoses
1 hari: 150 mg suhu <39C): 5
mg/kg/dose tiap 6-8
jam, max: 40
mg/kg/hari, BB anak
15 kg sehingga dosis
1x: 75 mg
1 hari: 225 mg

KESIMPULAN HASIL SKRINING RESEP


Berdasarkan skrining yang telah dilakukan pada skrining administratif,
skrining farmasetis dan skrining klinis, resep di atas masih sangat belum lengkap
sehingga untuk memastikan keabsahan dan kelengkapan resep maka perlu
dilakukan komunikasi dengan pasien/pembawa resep.Penelusuran identitas pasien
dapat dilakukan dengan komunikasi langsung dengan pasien atau pembawa resep.
Berikut percakapan yang dilakukan apoteker dengan pasien untuk
mengetahui kondisi pasien:
Apoteker :Selamat siang bu, saya Cheristien apoteker di apotek ini, ada
yang bisa saya bantu?
Ibu pasien :Selamat siang, saya ingin menebus resep untuk
anak saya
Apoteker :Maaf sebelumnya bu, saya mohon waktunya sebentar karena
ada beberapa informasi yang perlu saya tanyakan.
Ibu pasien : Iya mba, silahkan tanyakan saja kepada saya
Apoteker :Anak ibu siapa namanya dan umurnya berapa?
Ibu pasien :Nama anak saya yeni umurnya 6 tahun
Apoteker :Oh adik Yeni berat badan dan tinggi badannya sekarang
berapa bu?
Ibu pasien :Tadi ditimbang di dokter beratnya 15 kg bu dan tingginya 80
cm
Apoteker :Oh begitu. Maaf sebelumnya bu, apakah anak Ibu memiliki
tanggungan/asuransi kesehatan?
Ibu pasien :kami menggunanakan BPJS mba
Apoteker :Baik bu, apakah saya bisa meminta nomor telponnya ibu
mungkin setelah ini saya dapat menghubungi ibu untuk
memantau perkembangan terapi adik Yeni?
Ibu pasien :Baik Mba, no telepon 08123456789
Apoteker :Bagaimana penjelasan dokter tentang resep obat untuk
anak Ibu?
Ibu pasien : Begini mba, dokter bilang anak saya terkena infeksi di
saluran pernapasan dan. Kata dokter lagi anak saya dikasih 2
jenis obat, obat syrup dan puyer mba.
Apoteker :Bagaimana penjelasan dokter tentang cara penggunaan
obat yang diresepkan untuk anak Ibu?
Ibu pasien : Dokter tidak menjelaskan tentang cara pakai obat resepnya,
mba.
(Oleh karena itu, dalam hal ini apoteker berperan memberikan penjelasan
yang lengkap mengenai cara pemakaian obat tersebut)
Apoteker :Apa kata dokter mengenai harapan setelah menggunakan
obat-obat ini?
Ibu pasien : Dokter mengatakan setelah menghabiskan obat ini anak saya
akan sembuh. Kalau setelah obatnya habis tetapi masih
mengalami batuk dan berlendir saya harus membawa Yeni
kembali ke dokter
Selanjutnya digali informasi lagi dari pasien:
Apoteker :Maaf sebelumnya Bu, bagaimana sakit yang diperlihatkan
anak Ibu sebelum diperiksa kedokter? Sudah berapa lama
sakit itu dialami anak Ibu?
Ibu pasien :Anak saya batuk- batuk mengeluarkan lendir mbak sejak
7, sudah saya obati tapi tidak membaik. Anak saya sempat
demam 3 hari yang lalu dan menghilang setelah saya berikan
obat penurun panas. Pilek memberat sejak 2 hari yang lalu
karena sempat meminum es disekolah. lender hidung
berwarna kekuningan dan kental. Anak saya rewel di malam
hari karena kesulitan bernafas akibat hidung tersumbat saat
menjelang tidur.
Apoteker :Apakah tadi waktu di dokter dilakukan pemeriksaan suhu
badan Yeni?
Ibu pasien : iya ada Mba. tadi di dokter sempat diukur dan kata dokter
suhu badannya 380C.
Apoteker :Apakah sebelum-sebelumnya adik Yeni sering mengalami
sakit seperti ini?
Ibu pasien :kalau batuk sih sering mba, tetapi ini yang menurut saya
lebih serius sakitnya, biasanya tidak seperti ini.
Apoteker :Oh begitu ya Bu., Apakah anak Ibu sebelumnya pernah
mengalami alergi obat? Kalau pernah, apa nama obatnya?
Ibu pasien :Anak saya alergi Penisilin Mba.
Apoteker : apakah anak ibu mengalami penurunan nafsu makan?
Ibu pasien : iya mbak anak saya bilang gak mau makan gara2 sakit
tenggorokan kalo menelan makanan
Apoteker :Apakah anak ibu ada kesulitan meminum obat, misalnya
minum obat puyer?
Ibu pasien :Anak saya sudah biasa minum obat tetapi dia lebih mudah
menelan obat sirup atau saya gerus pakai sendok dulu kalau
obat tablet.
Apoteker :Baik terimakasih atas informasinya, saya siapkan dulu obat
anak ibu. Silahkan duduk ya bu, mohon untuk menunggu
Ibu pasien :Iya mba, terimakasih.

Dalam kasus ini Apoteker sudah memiliki data administratif dari identitas
pasien dan identitas. Setelah mengumpulkan seluruh informasi yang kurang, maka
resep diatas dapat dilayani.
IV. MONOGRAFI OBAT
1. Ancefa
Komposisi : cefadroxil
Bentuk sediaan : sirup kering
Indikasi : antibiotik
Dosis : Dosis anak: 30 mg/kg/hari max 2g/hari
Cara pemberian : oral
Penyimpanan : simpan di suhu ruang terhindar dari cahaya matahari
langsung
Kontraindikasi : Hipersensitivitas Cefadroxil
Efek samping : gangguan gastrointestinal
(Lacy et al., 2011).

2. Mucera
Komposisi : Ambroxol
Bentuk sediaan : sirup
Indikasi : Agen mukolitik untuk gangguan saluran pernafasan
akut dan kronis yang berhubungan dengan lendir kental
Dosis : Dosis anak 1,2-1,6 mg/kg/hari, BB anak 15 kg
Cara pemberian : oral
Penyimpanan : simpan di suhu ruang terhindar dari cahaya matahari
langsung
Kontraindikasi : ulcer lambung
Efek samping : gangguan gastrointestinal

3. Indexon
Komposisi : Dexametason
Bentuk sediaan : tablet
Indikasi : antiinflamasi (kortikosteroid)
Dosis : Dosis anak 0,08-0,3 mg/kgbb/hari
Cara pemberian : oral
Penyimpanan : simpan di suhu ruang terhindar dari cahaya matahari
langsung
Kontraindikasi : Hipersensitivitas dexamethasone,

4. Trifedrin
Komposisi : Triprolidine HCl dan Pseudroephedrine HCl
Bentuk sediaan : tablet
Indikasi : Hidung tersumbat, dekongestan, pilek, bersin, hidung
tau tenggorokan gatal, mata berair karena pilek,
demam, atau alergi pernafasan lainnya
Dosis : Anak 6-12 th tablet tiap 4-6 jam, max 4x
Cara pemberian : oral
Penyimpanan : simpan di suhu ruang terhindar dari cahaya matahari
langsung
Kontraindikasi :
Efek samping :

5. Fenris
Komposisi : Ibuprofen
Bentuk sediaan : sirup
Indikasi : antipiretik
Dosis : Anak 6 bulan-12 th: suhu <39C): 5 mg/kg/dose tiap 6-
8 jam, max: 40 mg/kg/hari
Cara pemberian : oral
Penyimpanan : simpan di suhu ruang terhindar dari cahaya matahari
langsung
Kontraindikasi :
Efek samping :

V. PENGGUNAAN OBAT YANG RASIONAL


Penggunaan obat yang rasional adalah bila pasien menerima obat yang
sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dan dengan harga
yang paling murah untuk pasien dan masyarakat (WHO, 1985). WHO
memperkirakan bahwa lebih dari separuh dari seluruh obat di dunia diresepkan,
diberikan dan dijual dengan cara yang tidak tepat dan separuh dari pasien
menggunakan obat secara tidak tepat. Maka dari itu penting untuk menilai
penggunaan obat yang rasional guna menjamin pasien mendapatkan pengobatan
yang sesuai dengan kebutuhannya, untuk periode waktu yang adekuat dengan
harga yang terjangkau. Penggunaan obat dikatakan rasional apabila telah
memenuhi kriteria tepat diagnosis, tepat indikasi penyakit, tepat pemilihan obat,
tepat dosis, tepat cara pemberian, tepat interval waktu pemberian, tepat lama
pemberian, waspada terhadap efek samping serta sesuai dengan keadaan pasien
(KemenKes RI, 2011). Penilaian untuk penggunaan obat yang rasional dapat
dinilai dari salah satunya adalah metode SOAP.
5.1 Subyektif
Keluhan: pilek dan batuk berdahak sejak 7 hari yang lalu dan sudah pernah
diberikan obat batuk oleh ibu pasien, namun tidak kunjung membaik. Batuk
berdahak dengan lendir berwarna kehijauan dan kental. Pasien sempat
mengalami demam 3 hari yang lalu dan menghilang jika diberi obat penurun
panas. Pilek memberat sejak 2 hari yang lalu karena sempat minum es di
sekolah. Pasien mengalami pilek dengan lendir hidung berwarna kekuningan
dan kental. Menurut Ibu pasien, pasien cenderung rewel di malam hari karena
kesulitan bernapas akibat hidung tersumbat saat menjelang tidur.

5.2 Objektif
Tidak terdapat data objektif

5.3 Assesment
Tahap selanjutnya adalah assesment.Pada tahap assesment, Apoteker dapat
melakukan penilaian kondisi klinis yang dialami pasien (anamnese) yang
disesuaikan dengan analisa 4T1W dan identifikasi drug related problem untuk
menganalisa penggunaan obat yang rasional untuk kondisi pasien tersebut.
i. Penilaian Pengobatan yang Rasional
1. Tepat Indikasi
Pasien diberikan obat dengan indikasi yang benar sesuai diagnose Dokter.
Indikasi yang digunakan adalah indikasi yang sesuai dengan kategori farmakologi
dari masing-masing obat. Penilaian kesesuaian kondisi klinis yang dialami pasien
(anamnese) dan obat yang diresepkan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Table 5.1. Hasil Anamnese Kefarmasian Apoteker


Indikasi / Use yang Anamnese
Analisa Subjektif dan
Jenis Obat DimungkinkanTerkait Kefarmasian
Objektif
Kasus Sementara
Cefadroxil antibiotik Keluhan: pilek dan batuk Terapi kausatif untuk
berdahak sejak 7 hari yang mengeradikasi
lalu Batuk berdahak dengan bakteri yang
lendir berwarna kehijauan dan menginfeksi
kental. demam 3 hari yang
lalu. Pilek memberat sejak 2
hari yang lalu pilek dengan
lendir hidung berwarna
kekuningan dan kental. hidung
tersumbat saat menjelang
tidur.

untuk
Ambroxol Mukolitik menghilangkan
dahak
Dexamethasone antiinflamasi Mengatasi inflamasi
Triprolidine HCl
dan untuk mengatasi
Dekongestan
Pseudroephedrin hidung tersumbat
e HCl
untuk mengatasi
Ibuprofen Antipiretik
demam

2. Tepat Obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar. Dengan demikian, obat yang dipilih harus yang
memiliki efek terapi sesuai dengan jenis penyakit (KemenKes RI, 2011).
Berdasarkan penilaian dari data subjektif yang ada, maka diduga anamnese
sementara diduga pasien mengalami infeksi saluran pernafasan atas, yaitu
faringitis.
Untuk memastikan penyakit pasien, perlu adanya konfirmasi kepada pasien
melalui three prime question dan pertanyaan lainnya untuk mendukung.
penegakan anamnese kefarmasian. Dari hasil penggalian informasi kepada pasien,
berikut adalah rangkuman informasi yang diperoleh:
- Pasien mengalami demam dengan suhu tubuh 38,5oC
- Pasien mengalami batuk berdahak dengan lender kehijauan dan kental sejak
7 hari yang lalu
- Pasien mengalami pilek dengan lender berwarna kuning dan kental sejak 2
hari yang lalu
- Pasien mengalami hidung tersumbat
- pasien mengalami nyeri saat menelan
- Pasien alergi Penisilin
Dari informasi tersebut, kemudian dilakukan pengecekan terhadap informasi
yang disampaikan oleh pasien dengan manifestasi klinik faringitis. Faringitis
dapat disebabkan oleh bakteri atau virus. Untuk menegakkan anamnese bahwa
pasien menderita faringitis oleh bakteri karena menerima antibiotik, maka dapat
dilakukan penilaian terhadap gejala pasien, apakah faringitis pasien disebabkan
oleh virus atau bakteri. Berikut adalah diagram penilaian faringitis:
Gambar 1. Diagram penilaian faringitis (Choby, 2009)

Dari keluhan dan informasi yang diperoleh dari pasien didapatkan total nilai sebesar 3
dengan kriteria bahwa pasien mengalami demam dengan suhu tubuh >38 oC (nilai 1). Hal
ini berarti bahwa pasien beresiko menderita faringitis yang disebabkan oleh bakteri
kelompok A hemolytic-Streptococcus / GABHS (Group A beta-hemolytic streptococcus)
sebesar 28%-35% (Choby, 2009). Oleh karena itu perlu dilakukan kultur bakteri atau
RADT (rapid antigen detection testing). Untuk mendapatkan hasil yang cepat dapat
digunakan RADT (Bisno et al., 2002). Dari hasil RADT dapat diketahui bahwa pasien
positif terinfeksi GABHS sehingga dapat diterapi dengan antibiotik. Diketahui bahwa
pasien memiliki alergi obat terhadap golongan penisilin, dengan demikian berikut adalah
guidelines terapi faringitis yang terinfeksi bakteri Streptococcus pada pasien dengan
alergi penisilin:

Dari tabel di atas, terapi antibiotik yang dapat digunakan bagi pasien alergi
penisilin adalah sefalosporin generasi pertama yaitu Cefadroxil yang dikonsumsi
selama 10 hari (Choby, 2009).
Selain itu pasien diduga mengalami infeksi saluran pernafasan akut pada
bagian atas ditandai dengan gejala demam, batuk, hidung tersumbat, tetapi tidak
disertai dengan sesak di dada dan susah bernafas. Tanda dan gejala yang
ditunjukan pada penderita sinusitis, antara lain demam, hidung tersumbat dan
batuk, oleh karena itu pasien diberikan Ambroxol untuk mengatasi pilek dan batuk
berdahak, Ibuprofen untuk mengatasi demam, dexametason untuk mengatasi
inflamasi, dan Triprolidin HCl dan Pseudoefedrin HCl untuk mengatasi hidung
tersumbat. Sinusitis merupakan peradangan pada mukosa sinus paranasal.
Peradangan ini banyak dijumpai pada anak dan dewasa yang biasanya didahului
oleh infeksi saluran napas atas. Sinusitis dibedakan menjadi sinusitis akut yaitu
infeksi pada sinus paranasal sampai dengan selama 30 hari baik dengan gejala
yang menetap maupun berat. Gejala yang menetap yang dimaksud adalah gejala
seperti adanya keluaran dari hidung, batuk di siang hari yang akan bertambah
parah pada malam hari yang bertahan selama 10-14 hari, yang dimaksud dengan
gejala yang berat adalah di samping adanya sekret yang purulen juga disertai
demam (bisa sampai 39C) selama 3-4 hari. Sinusitis akan mengalami gejala pilek
yang lebilama daripada flu biasa. Flu biasa akan mengalami gejala pilek yang
berlangsung selama 7-14 hari dan hilang tanpa adanya pengobatan (Depkes R1,
2005).

3. Tepat Dosis
Tepat dosis adalah jumlah obat atau dosis yang diresepkan kepada pasien
sesuai dengan kebutuhan individual dari pasien dan dosis yang diberikan berada
dalam rentang terapi. Berikut adalah perbandingan kesesuaian dosis resep dengan
dosis pustaka.

Tabel 5.2. Perbandingan Dosis Pustaka dan Dosis Resep


Nama zat aktif Dosis Ket.
Resep Pustaka
Cefadroxil 1x: 62,5 mg Dosis anak: 30 Underdoses
1 hari: 187,5 mg mg/kg/hari max
2g/hari; BB anak: 15
kg, sehingga dosis
1x: 150 mg
1 hari: 450 mg
Ambroxol HCl 1x: 7,5 mg 1,2-1,6 mg/kg/hari, Sesuai
1 hari: 22,5 mg BB anak 15 kg
sehingga dosis
1x: 6-8 mg
1 hari: 18-24 mg
Dexamethasone 1x: 0,25 mg 0,08-0,3 underdoses
1 hari: 0,75 mg mg/kgbb/hari, BB
anak 15 kg sehingga
dosis
1x: 0,4-1,5 mg
1hari: 1,2-4,5 mg
Triprolidine HCl dan 1x: tablet Anak 6-12 th tablet Sesuai
Pseudroephedrine HCl 1 hari: 1 tablet tiap 4-6 jam, max 4x
Ibuprofen 1x: 50 mg Anak 6 bulan-12 th: underdoses
1 hari: 150 mg suhu <39C): 5
mg/kg/dose tiap 6-8
jam, max: 40
mg/kg/hari, BB anak
15 kg sehingga dosis
1x: 75 mg
1 hari: 225 mg

4. Tepat pasien
Obat yang diresepkan mempertimbangkan kondisi individu yang
bersangkutan dan tidak kontraindikasi dengan kondisi pasien yang menerima
resep dan sebaiknya menimbulkan efek samping yang paling minimal. Pada resep,
bentuk sediaan yang diberikan kepada pasien sudah tepat yaitu dalam bentuk sirup
dan pulveres. Pasien adalah kategori anak-anak dan tidak ada keluhan dari pasien
kesulitan dalam penggunana bentuk sediaan tersebut.

5. Waspada Efek Samping


Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek tidak
diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi (KepmenKes RI,
2011). Efek samping yang dapat muncul pada penggunaan obat dapat dilihat pada
table di bawah ini :
Tabel 5.3. Efek Samping masing-masing Obat

Obat Efek samping


Ancefa Gangguan gastrointestinal
Mucera Gangguan gastrointestinal
Indexon
Trifedrin
Fenris
ii. Drug Related Problem (DRP)
Penggunaan obat yang tidak rasional sering dijumpai dalam praktek sehari-
hari. Peresepan obat tanpa indikasi yang jelas, penentuan dosis, cara, dan lama
pemberian yang keliru, serta peresepan obat yang mahal adalah beberapa contoh
dari penggunaan obat yang tidak rasional. Penggunaan suatu obat dikatakan tidak
rasional jika kemungkinan dampak negatif yang diterima oleh pasien lebih besar
daibandingkan manfaatnya. Dampak negatif dapat berupa:
a. Dampak klinik (contohnya terjadi efek samping dan resistensi kuman)
b. Dampak ekonomi (biaya tidak terjangkau)
(KepmenKes RI, 2011).
Analisa penggunaan obat yang rasional dapat dilakukan dengan identifikasi
DRP, yakni:
PROBLEM SUBYEKTIF dan TERAPI DRP
MEDIK OBYEKTIF
faringitis Subyektif: Ancefa sirup - Doses too low
Mucera sirup
Keluhan: pilek dan batuk
Indexon tablet
berdahak sejak 7 hari Trifedrin tablet
Fenris sirup
yang lalu Batuk berdahak
dengan lendir berwarna
kehijauan dan kental.
demam 3 hari yang lalu.
Pilek memberat sejak 2
hari yang lalu pilek
dengan lendir hidung
berwarna kekuningan dan
kental. hidung tersumbat
saat menjelang tidur.

Obyektif: -
iii. Pengatasan DRP
Untuk mengatasi masalah penggunaan obat yang tidak rasional diperlukan
beberapa upaya perbaikan dan intervensi. Pengatasan DRP dapat dilakukan
dengan cara:
- Intervensi pada penulis resep

5.4 Plan
Care Plan

Implementasi Care Plan

VI. COMPOUNDING AND DISPENSING


1. Compounding
a. Penyiapan Obat
Resep yang telah melewati proses skrining administratif, skrining farmasetik dan
skrining klinis serta ketersediaan stok obat yang diminta di apotek, selanjutnya
obat-obat dalam resep disiapkan. Obat diambil sejumlah yang diresepkan.
Sediaan yang akan diserahkan ke pasien masing-masing dimasukkan ke dalam
klip obat, diberikan label sesuai etiket yang telah dibuat (etiket putih untuk
sediaan oral dan etiket biru untuk sediaan topikal). Pada etiket diberikan
keterangan yang meliputi nomor resep, tanggal, nama pasien, frekuensi
penggunaan obat dan waktu pemakaian obat.

Apotek
Apotek Unud
Unud Pharma
Pharma

Jl.
Jl. Danau
Danau Beratan,
Beratan, Sanur
Sanur
b. Pelabelan Denpasar-Bali
Denpasar-Bali

Telp:
Telp: (0361)
(0361) 721343
721343

APA
APA :: Cheristien
Cheristien Pinangkaan,
Pinangkaan, S.Farm,
S.Farm, Apt.
Apt.

SIPA
SIPA :: 25/34/4120/DB/DP/2014
25/34/4120/DB/DP/2014
No. XX Sanur, 21-10-2015

TTD
TTD Apoteker
Apoteker

Apotek
Apotek Unud
Unud Pharma
Pharma

Jl.
Jl. Danau
Danau Beratan,
Beratan, Sanur
Sanur

Denpasar-Bali
Denpasar-Bali

Telp:
Telp: (0361)
(0361) 721343
721343

APA
APA :: Cheristien
Cheristien Pinangkaan,
Pinangkaan, S.Farm,
S.Farm, Apt.
Apt.

SIPA
SIPA :: 25/34/4120/DB/DP/2014
25/34/4120/DB/DP/2014

2. Dispensing (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi)


Penyerahan
No.
No. XX
XX
obat yang diresepkanSanur,
kepada pasien disertai dengan pemberian
Sanur, 21-10-2015
21-10-2015
KIE mengenai indikasi obat, cara dan lama penggunaan obat, cara penyimpanan
obat dan efek samping yang mungkin timbul saat pemakaian obat. Penyerahan
Bapak
Bapak Putu(30
Putu(30 tahun)
tahun)
obat dan pemberian KIE kepada pasien meliputi:
Salep
Salep Hydrocortisone
Hydrocortisone
a) Terapi Farmakologi:
Oleskan
Oleskan 3xsehari
3xsehari
XXX
BUD
BUD 22 bulan
bulan
Indikasi :
TTD
TTD Apoteker
Apoteker
Cara penggunaan :
Penyimpanan :
ADR :

b) Terapi Nonfarmakologi

VII. MONITORING
Monitoring terhadap pasien bertujuan untuk memantau efektifitas terapi yang
disarankan dan efek samping yang mungkin muncul (Adverse Drug Reaction).
Monitoring dan evaluasi perlu dilakukan untuk melihat dan meningkatkan
keberhasilan terapi. Pelaksanakan kegiatan ini memerlukan pencatatan data
pengobatan pasien (medication record) (Lampiran 1). Monitoring akan
membantu untuk melakukan penanganan lebih lanjut kepada pasien dan
meningkatkan kualitas kesehatan pasien.
7.1 Efektivitas Terapi
7.2 Efek Samping
LAMPIRAN
Lampiran 1.Fomulir Monitoring Penggunaan Obat
FORMULIR MONITORING PENGGUNAAN OBAT
Nama Cheristien Nama zzzzzzzzzzzzzzzzz
Petugas Pinangkaan, Pasien
S.Farm., Apt.
Tanggal
Jam
Lama
Percakap
an
Penerima
Telepon x Pasien
Orang Tua
Pasien
Keluarga Pasien
Lainnya

Tgl Resep : 18/09/2015 No Resep : 6 Nama Dokter : dr. XXX Sp.KK

Tgl Obat Habis : Tgl Obat Habis :


Bagaimana kondisi pasien setelah menggunakan obat :
Sembuh Tambah Parah
Membaik Muncul Masalah
Baru
Tetap
Bila muncul masalah/pertanyaan baru deskripsikan ditempat yang disediakan

Kategori permasalahan
Dosis Kemungkinan Interaksi
Cara Pemakaian Kemungkinan Efek
Samping
Waktu Minum Obat Lainnya :
Frekuensi Minum Ketersediaan (lama)
Obat
Kepatuhan Harga
Kategori Terapi
Sistem Pencernaan
Sistem Kardiovaskular
Sistem Pernafasan
Sistem Saraf Pusat
Infeksi
Sistem Endokrin
Obstetri Genekologi, saluran
kemih
Penyakit Malignan
Pemecahan Permasalahan
Memberitahu Dokter Diberi Saran
Dirujuk Kedokter Ditawarkan Produk Yang
Membantu
Saran /Produk yang direkomendasikan

Saran/Informasi dari pasien


Lakukan kontrol setelah obat habis diminum
PATIENT MEDICATION RECORD
IDENTITAS PASIEN
Nama : Alamat :
Tempat/ Tgl Lahir : No. Telp :
Jenis Kelamin : Panggilan Darurat/ No.Telp : -
Berat / Tinggi Badan : Pekerjaan :-
Golongan Darah :- Kewarganegaraan / Agama : -
Nama Dokter yang menangani :
Nama Apoteker :
RIWAYAT PENYAKIT RIWAYAT PENGOBATAN
Riwayat Alergi Penyakit/kondisi lain yang Imunisasi
Obat BCG Tetanus Pneumonia
menyertai
Makanan DPT Hepatitis Influenza
Gangguan Hati
Debu/Serbuk sari Polio Varicella Lainnya
Gangguan Ginjal
Lainnya Kondisi medis lain Campak
Reaksi alergi
PENGGUNAAN OBAT
Tgl Keluhan Data Lab. Nama Obat Dosis Cara dan Tgl Catatan Penggunaan Obat ESO
Berhenti
Pasien atau Data waktu yang
Klinis Penggunaan timbul