Anda di halaman 1dari 35

DOKUMEN SINERGISASI KADERISASI KM-ITB

Kementrian Sinergisasi Kaderisasi

Kementrian Koordinasi Pengembangan Sumber Daya Manusia

Kabinet Keluarga Mahasiswa ITB

2014/2015
PENDAHULUAN: PENJABARAN IDEALITA TEORITIK
PENDIDIKAN KARAKTER DAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN

Latar Belakang dan Analisis Kebutuhan


Pendidikan karakter merupakan salah satu isu strategis yang kerap kali diperbincangkan dalam
dunia pendidikan sebagai salah satu aspek yang tidak pernah dapat terpisahkan dalam proses
pendidikan itu sendiri. Dalam beberapa jurnal pendidikan internasional, urgensi
mengedepankan pendidikan karakter sebagai prioritas kian keras dimunculkan ke permukaan
mengingat terlalu dominannya aspek kognitif dalam pendidikan sehingga hal lain di luar
kognitif kadang dikesampingkan. Hal serupa juga terjadi di Indonesia, pendidikan yang begitu
dominan di aspek kognitif menyebabkan persaingan akademik begitu tinggi dan kesuksesan
sesorang diukur berdasarkan pencapaian akademik. Fenomena ini kemudian justru memicu
kepada hal yang lebih negatif sebagai indikasi degradasi karakter seperti persaingan tidak
sehat, cara-cara yang tidak layak, dan aktivitas lain yang menyimpang demi pencapaian
akademik yang tinggi.

Berkaca pada kondisi yang telah dipaparkan di atas terkait kondisi sistem pendidikan yang
telah dijalankan, maka aspek pengembangan karakter adalah salah satu hal yang perlu
diperhatikan untuk dilengkapi pada sistem pendidikan di Indonesia tidak terkecuali di jenjang
perguruan tinggi. Kemahasiswaan sebagai salah satu aspek pelengkap pelaksanaan pendidikan
bagi mahasiswa di perguruan tinggi tentu sudah semestinya melaksanakan analisis yang lebih
jauh untuk cita-cita pewujudan sarjana yang cakap dengan diawali dari pendidikan yang utuh.
Namun berbicara tentang pendidikan karakter tidaklah semudah yang dibayangkan walaupun
kian banyak menjamur lembaga-lembaga yang menjanjikan pendidikan, pengembangan,
ataupun modifikasi karakter lainnya. Menurut salah satu ahli psikologi pendidikan Lee J.
Cronbach dalam bukunya menyatakan bahwa karakter adalah kesatuan akumulasi antara
kepercayaan, perasaan, dan tindakan yang saling terintegrasi dan terstruktur sehingga untuk
melakukan perubahan pada karakter berarti melakukan upaya melakukan pengaturan kembali
seluruh aspek yang telah terintegrasi sebelumnya.

Akumulasi dari seluruh kepercayaan, perasaan, dan tindakan inilah yang kemudian diperjelas
pada sebuah penelitian terkait pengembangan karakter dimana dinyatakan bahwa karakter
seseorang setidaknya dipengaruhi dari beberapa aspek antara lain:
1. Internal yakni aspek yang berasal dari genetis dimana pengaruh faktor keturunan dapat
mempengaruhi karakter dari seseorang.
2. Eksternal yakni aspek yang berasal dari luar personal seseorang yang kemudian
mempengaruhi karakter seperti norma, peraturan, dan kepercayaan setempat.
3. Interaksi yakni aspek yang mempengaruhi karakter seseorang akibar internaksinya
dengan sosial masyarakat dan lingkungan pribadinya
4. Personalitas yakni aspek akumulasi dari aspek-aspek sebelumnya yakni aspek yang
terkait dengan bagaimana seseorang kemudian memberikan respon atas informasi yang
diterima dan kemudian mempengaruhi sikap serta berujung pada karakter.
Seperti halnya karakter itu sendiri, aspek-aspek yang mempengaruhi bagaimana terbentuknya
karakter juga kemudian saling terintegrasi dan mempengaruhi yang kemudian terakumulasi
seiring berjalannya waktu dan membentuk karakter seseorang.

Pengembangan karakter yang baik tentu saja belum cukup untuk menunjang pembangunan
bangsa. Skill atau kemampuan juga merupakan aspek penting yang perlu diperhatikan dalam
pendidikan seorang kader sebagai investasi menuju pembangunan bangsa. Sebuah penelitian di
Amerika Serikat menyatakan bahwa pendidikan yang didominasi oleh aspek kognitif
merupakan pendidikan yang ternyata hanya sesuai untuk mereka dengan kualifikasi potensi
akademik tinggi (IQ>120) dan ternyata hanya berjumlah kurang dari 15% dari populasi
penduduk. Sistem pendidikan ini adalah sistem yang kemudian akan mencetak ilmuan dan para
pemikir namun kurang di kemampuan aplikasi yang lebih kongkrit.

Pendidikan aplikasi dan beberapa kemampuan penunjang kemampuan kognitif yang dirasa
kurang tentu juga harus dilengkapi oleh sistem pendidikan di Indonesia demi menghasilkan
generasi yang cakap dan terampil serta memiliki kemampuan kerja yang mumpuni. Aspek ini
juga tentunya masih belum optimal dikembangkan di kehidupan pendidikan salah satunya
perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebut, sudah tentu pengembangan kemahasiswaan harus
juga kemudian meninjau aspek ini selain sebelumnya telah meninjau aspek pengembangan
karakter mengingat mimpi kemahasiswaan sebagai media yang turut serta mengusahakan
pendidikan mahasiswa menuju penciptaan sarjana yang utuh.

Kaderisasi Mahasiswa dalam Pendidikan


Kemahasiswaan adalah salah satu upaya mandiri mahasiswa yang diwujudkan dalam rangkaian
dan ragam aktivitas dalam rangka turut serta mewujudkan tujuan pendidikan demi
menciptakan seorang sarjana yang seutuhnya siap terjun ke masyarakat. Misi ini tentunya
secara sederhana ditejemahkan sebagai melengkapi pendidikan yang diperoleh di bangku
kuliah. Namun sebelum bergerak ke mekanisme untuk mejawab kebutuhan yang dipaparkan
sebelumnya, mari kita tinjau terlebih dahulu aspek pendidikan itu sendiri di Indonesia.
Menurut Undang Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dijabarkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serata peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan potensi peserta didik. Hal ini kemudian dijelaskan
secara lebih rinci khusus untuk perguruan tinggi dalam Undang Undang RI No 12 Tahun 2012
tentang pendidikan tinggi bahwa pendidikan tinggi memiliki funsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi
dan tetap memperhatikan nilai humaniora. Dua aspek konstitusional inilah yang kemudian
mendasari pembentukan turunan tujuan pendidikan yang kemudian diterjemahkan dan
diimplementasikan di kehidupan pendidikan khususnya di perguruan tinggi.

Mengingat penjabaran konstitusional yang diacu sebagai landasan gerak misi yang diemban
oleh kemahasiswaan yang kemudian dibenturkan dengan kebutuhan yang juga telah dijabarkan
pada subbab sebelumnya tentu menghadirkan suatu fokus tersendiri untuk pergerakan
kemahasiswaan dalam rangka pendidikan mahasiswa. Peningkatan skill dan penjaminan
karakter adalah dua aspek besar cita-cita pendidikan yang sangat mendasar untuk ditanamkan
pada seorang kader. Pemenuhan kebutuhan ini tentu kemudian membutuhkan sinergi dari
seluruh elemen pendidikan yang salah satu diataranya untuk perguruan tinggi adalah aspek
kemahasiswaan. Berdasarkan sistem pendidikan yang berkembang di Indonesia, kebutuhan
optimalisasi pendidikan karakter, pengembangan kemampuan aplikasi, dan penanaman skill
penunjang kognitif adalah pekerjaan rumah yang menjadi peluang untuk dipenuhi melalui
bantuan rangkaian kegiatan kemahasiswaan yang terstrutur dan terintegrasi.

Namun kemahasiswaan sebagai upaya mandiri mahasiswa yang menyelenggarakan pendidikan


oleh dari dan untuk mahasiswa itu sendiri harus meninjau secara bijak dalam pengambilan
peran pendidikan. Perlu ditekankan sekali lagi bahwa peran kemahasiswaan bukan sebagai
pelaku utama namun hanya pembantu penyelenggaran karena secara hakekat tanggungjawab
pemenuhan tujuan pendidikan akan selalu dibebankan kepada lembaga formal yang ditunjuk
negara. Kemahasiswaan juga harus cukup jeli dalam melihat peluang intervensi yang bisa
diberikan kepada seorang kader dalam pendidikan karakter dan penginkatan kemampuan
aplikasi dan softskill. Karakter yang pada dasarnya sudah terbentuk paling tidak kurang lebih 18
tahun tentu bukanlah hal yang mudah untuk dikondisikan secara menyeluruh, sehingga peran
kemahasiswaan harus ditilik kembali sehingga proses yang diupayakan dapat berjalan optimal.

Proses pendidikan yang dijalankan oleh kemahasiswaan yang merupakan upaya mandiri
kemudian akan lebih berujung kepada proses kaderisasi. Banyak khalayak menyatakan bahwa
proses kaderisasi adalah proses pendidikan itu sendiri. Namun nampaknya pengaitan secara
utuh kaderisasi dan pendidikan dirasa terlalu luas dari segi ruang lingkup. Dalam KBBI
dinyatakan bahwa secara umum kaderisasi adalah proses pembentukan seorang kader, dan
kader adalah seseorang yang diharapkan memegang tanggungjawab. Sehingga secara tekstual
kaderisasi diartikan sebagai proses pendidikan yang dilakukan dalam rangka regenerasi. Hal ini
tentu sesuai dengan proses pendidikan di keluarga, sekolah, kampus, dan juga kemahasiswaan
ataupun organisasi lain adalah sebuah kaderisasi mengingat adanya maksud untuk terjadinya
regenerasi.

Kaderisasi sebagai proses pendidikan dalam aspek kemahasiswaan apabila ditinjau sebagai
metode pemenuhan kebutuhan pendidikan pada dasarnya hanya dapat melakukan intervensi
pada beberapa aspek sebagai berikut:
1. Aspek pengembangan karakter melalui aspek eksternal dengan mengembangkan kultur
kehidupan berkemahasiswaan dalam rangka pembentukan karakter
2. Aspek pengembangan karakter melalui aspek interakasi dengan memastikan pola
hubungan antar anggota dalam kegiatan kemahasiswaan
3. Aspek pendidikan kemampuan aplikasi melalui pendalaman terapan baik ilmu yang
bekaitan langsung dengan keprofesian ataupun penunjang keilmuan
4. Aspek pendidikan softskill dan bakat melalui pembiasaan ataupun pendidikan langsung
terkait kemampuan personal yang dapat membantu penerapan ilmu kognitif

Berdasarkan empat hal yang secara umum adalah aspek yang paling memungkinkan untuk
dilakukan intervensi pada seorang kader, tentu diperlukan suatu mekanisme terstruktur untuk
menjawab implementasi intervensi yang bisa dilakukan. Mengingat salah satu quotes John
Dewey bahwa pendidikan adalah kehidupan, maka konsistensi proses pendidikan juga harus
berjalan seumur hidup. Menimbang kaderisasi dalam kemahasiswaan sebagai pendidikan
mandiri oleh dari dan untuk mahasiswa, maka turunlah sebuah proses kaderisasi yang cukup
ideal untuk dilakukan pada kemahasiswaan yang menuntut peran dari setiap jenjang yakni
dengan melibatkan proses sebagai berikut:
1. Proses memberi contoh dimana pengkader seutuhnya menunjukkan suatu
nilai/kemampuan/cara kepada peserta kader untuk diamati dan diterima oleh peserta.
2. Proses membimbing dimana pengkader dan peserta kader melaksanakan
nilai/kemampuan/cara secara bersama-sama melalui interaksi intensif
3. Proses melibatkan langsung dimana pengkader mulai melepas peserta untuk
menerapkan nilai/kemampuan/cara secara mandiri
Ketiga proses di atas adalah suatu proses yang saling berkesinambungan dan haruslah berjalan
terintegrasi dengan baik sehingga menghasilkan output yang utuh. Namun kembali lagi perlu
kita ingat bahwa pendidikan karakter adalah upaya yang tidak mudah untuk dilakukan,
sehingga dapat dikatakan bahwa kaderisasi di kemahasiswaan hanya ibarat melakukan
modifikasi penyesuaian dan penambahan nilai pada seorang kader yang bahkan
keberterimaannya sangat bergantung kepada bagaimana karakter dasar kader yang telah
terbentuk sebelumnya. Ibarat menulis di atas kertas, sangat mudah menulis di kertas yang
kosong dibandingkan dengan menambah bahkan satu kata dalam rangkaian kalimat yang sudah
tertulis di atas kertas.

Organisasi Kemahasiswaan sebagai Instrumen Pendidikan


Kemahasiswaan sebagai upaya pemenuhan penddikan mahasiswa secara mandiri tentu
memerlukan suatu pengaturan dalam rangkaian struktru yang sistematis dan rasional sehingga
proses yang dijalankan dapat berlangsung lebih efektif dan efisien. Berdasarkan kebutuhan
tersebut dibentuklah suatu mekanisme kemahasiswaan yang teratur dan terlembagakan secara
formal dalam bentuk organisasi kemahasiswaan demi menoptimalkan pemenuhan kebutuhan
pendidikan bagi seluruh mahasiswa. Namun demi optimalisasi proses pendidikan, pada
dasarnya secar formal tugas organisasi kemahasiswaan bukan kemudian memastikan setiap
kadernya berkembang, karena kembali lagi tugas pendidikan dibebankan seutuhnya kepada
lembaga formal yang ditunjuk negara untuk melaksanakan sistem pendidikan. Tugas organisasi
kemahasiswaan adalah membuka seluas-luas dan seadil-adilnya kesempatan untun anggotanya
dapat mengembangkan diri.

Tentunya dalam menjalankan fungsi pembantu dalam melaksanakan pendidikan yang efektif,
efisien, dan optimal, pendidikan itu sendiri tidak dapat diwujudkan sebagai hal tunggal,
Diperlukan pemenuhan kebutuhan dasar sebagai prasyarat sebelum kader akhirnya dapat
terdidik serta ditambah dengan percobaan implementasi ilmu sebagai media pendalaman
pendidikan yang telah diperoleh. Maka dari hal tersebut, setidaknya dapat dirumuskan
beberapa tujuan utama dari organisasi kemahasiswaan yaitu:
1. Turut serta membantu memenuhi kebutuhan dasar mahasiswa sebagai prasyarat
dalam pelaksanaan pendidikan
2. Turut serta berperan dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang diamanahkan oleh
konstitusi kepada lembaga pendidikan
3. Turut serta mewujudkan aktualisasi mahasiswa secara mandiri dalam peran menata
kehidupan bermasyarakat
Berdasarkan ketiga hal tersebutlah diharapkan organisasi kemahasiswaan kemudian dapat
menjadi instrumen utuh yang dapat dimanfaatkan sesuai porsinya untuk mahasiswa
mengembangkan diri. Melalui pendidikan yang akan menjawab kebutuhan pengembangan
karakter dan kemampuan penunjang kognitif melalui proses kaderisasi juga diharapkan cita-
cita untuk melengkapi kemampuan seorang kader sebelum menjadi sarjana yang utuh juga
dapat diwujudkan secara bersama.

Mengingat kembali kepada kemahasiswaan yang diwujudkan adalah suatu bentuk kemandirian
dari, oleh, dan untuk mahasiswa, maka partisipasi mahasiswa tentu adalah hal yang lebih
mendasar untuk dipenuhi, Secara sederhana tantangan dan peluang justru ada pada partisipasi
anggota mengingat kemahasiswaan kita adalah kemahasiswaan yang berkegiatan. Tanpa
adanya aktivitas, tidak akan ada proses kaderisasi, yang berujung kepada tidak adanya
pendidikan karena hilangnya transfer nilai, Maka dari itu, analisis dalam optimalisasi partisipasi
massa sangat mendesak untuk dilakukan demi menjadikan pendidikan yang diidamkan dapat
berjalan dengan efektif, efisien, dan optimal,
REALITA: PENJABARAN ANALISIS KONDISI KEMAHASISWAAN
PELUANG DAN TANTANGAN DALAM IMPLEMENTASI SISTEM KEMAHASISWAAN

Setelah melakukan penjabaran mendalam terkait analisis kondisi sistem pendidikan yang
dikembangkan di Indonesia, beberapa kebutuhan untuk pelengkapan kualitas kader mulai
bermunculan. Analisis tersebut berujung kepada diperlukan mekanisme khusus yang
dilaksanakan secara mandiri oleh mahasiswa untuk menjawab sendiri kebutuhan pendidikan
melalui sistem terstruktur yang kemudian kita sebut sebagai kemahasiswaan. Kemahasiswaan
kemudian diimplementasikan dalam rangkaian kegiatan yang dikemas dalam mekanisme
proses kaderisasi dan dilembagakan dalam organisasi kemahasiswaan.

Pembentukan organisasi kemahasiswaan seperti yang telah dijabarkan sebelumnya tentu


merupakan upaya untuk menjadikan proses pendidikan menjadi lebih optimal, efektif, dan
efisien. Namun selain penyusunan sistem implementasi internal organisasi kemahasiswaan,
ternyata terdapat beberapa hal yang kemudian baik secara langsung maupun tidak langsung
berpengaruh terhadap kesuksesan implementasi sistem organisasi kemahasiswaan. Adapun
beberapa aspek tinjauan yang secara umum dapat mempengaruhi keberjalanan organisasi
kemahasiswaan terutama di ITB antara lain sebagai berikut:
1. Tinjauan Standar Pendidikan Pemerintah (Aspek Kebijakan Pemerintah)
Secara umum selain dokumen perundang-undangan yang telah dijabarkan dalam
penjelasan di bagian pertama sebelumnya, terdapat setidaknya satu dokumen yang
secara langsung akan mempengaruhi keberjalanan kemahasiswaan ITB yakni dalam hal
ini yang akan ditinjau secara dominan adalah Peraturan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan RI No. 49 Tahun 2014 tentang standar nasional pendidikan tinggi. Dalam
dokumen permen ini, dijelaskan beberapa aspek terkait standar dalam bagaimana
menjalankan pendidikan tinggi yang kemudian harus dilaksanakan oleh seluruh
institusi pendidikan tinggi di Indonesia. Selain penjabaran standar-standar minimal
dalam menyelenggarakan penddikan tinggi dan implementasi tri dharma perguruan
tinggi, salah satu pasal yang menarik adalah Pasal 17 Ayat 2 dan 3. Pada pasal ini
dijelaskan bahwa untuk program sarjana, beban akademik yang diberikan adalah
sejumlah 144 sks dengan waktu studi maksimal 10 semester (5 tahun).

Pembatasan masa studi yang didesain dengan rentang yang kian menyempit ini dan
dalam beban kuliah yang masih sama dan cenderung meningkat tentunya akan
mengurangi keleluasaan seorang kader dalam menjalani pendidikannya. Masa toleransi
yang diberikan hanya tambahan 1 tahun tentu adalah suatu tantangan tinggi yang
dikhawatirkan berujung kepada keengganan seorang kader untuk mengambil resiko
aktivitas di luar kehidupan akademik. Hal ini juga menjadi isu yang makin beresiko
mengingat ITB menerapkan masa TPB selama 1 tahun yang pada akhirnya akan
meningkatkan beban kerja seorang mahasiswa dalam menjalani pendidikan sarjana.
Peningkatan beban kerja akademik yang tinggi akan semakin memperkuat keengganan
mahasiswa dalam mengambil aktivitas ataupun mencoba kegiatan lain di luar kegiatan
akademik utama yang tentu akan salah satunya juga mengurangi partisipasi kader
dalam kegiatan kemahasiswaan. Tanpa adanya ataupun berkurangnya partisipasi dalam
kegiatan kemahasiswaan tentu akan mengurangi efektivitas pendidikan yang dicita-
citakan diterima oleh kader mahasiswa ITB termasuk kematian peran dan aktualisasi
kemandirian yang dapat dilakukan mahasiswa ITB diluar kehidupan akademik.

2. Tinjauan Rencana Pengembangan Kampus ITB (Aspek Kebijakan Rektorat)


Kemahasiswaan sebagai instrumen pelengkap pendidikan tentunya secara
implementasi akan bergantung kepada bagaimana rencana implementasi sistem
pendidikan ITB. Perkembangan arah gerak, kebijakan, dan rencana pembangunan
kampus pada akhirnya akan menjadi isu tersendiri yang harus seutuhnya diperhatikan
sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun strategi pelaksanaan kehidupan
kemahasiswaan di ITB. Berikut adalah arah rancangan kampus ITB 2025 menurut
dokumen Rencana Induk Pengembangan ITB antara lain:
a. ITB bersama-sama mewujudkan kekuatan ekonomi, kesejahteraan sosial, dan
kedaulatan melalui pengembangan sains, teknologi, dan seni
b. ITB sebagai perguruan tinggi riset dan tulang punggung bangsa dalam mengelola
sumberdaya Indonesia
c. ITB sebagai pencetak lulusan yang dapat diakui dunia dan mampu mewujudkan
teknologi guna kemandirian industri strategis
d. ITB sebagai simpul jaringan nasional dan internasional dalam pengembangan
kemandirian teknologi bangsa Indonesia
e. ITB sebagai penghasil karya pendidikan yang diakui dan dirujuk secara
internasional menuju worldclass university dengan wawasan budaya bangsa

Berdasarkan gambaran yang dijabarkan oleh rencana pengembangan kampus ITB dan
kemudian dilengkapi oleh program-program strategis rektorat ITB, dapat disimpulkan
bahwa arah pengembangan ITB adalah sebagai kampus yang mengedepankan riset
untuk dioptimalkan dalam pengabdian masyarakat dalam rangka peran serta
membangun bangsa. Arah pergerakan pengembangan kampus ini apabila ditinjau dari
rancangan program yang belakangan ini diterjemahkan pada pemilihan rektor ITB
periode 2015-2020 secara teknis berfokus pada pengembangan ITB di aspek lingkungan
akademik dan perbaikan manajemen organisasi ITB. Mahasiswa ITB akan cenderung
diarahkan untuk kemudian menjalankan peningkatan layanan akademik demi kemudian
salah satunya dapat turut serta mengembangkan jumlah riset pengembangan teknologi
yang juga ditargetkan meningkat secara jumlah.

Pengembangan kampus berbasis riset pada akhirnya tentu juga akan difokuskan kepada
pemanfaatan hasil riset dalam peningkatan martabat bangsa melalui peningkatan
kualitas hidup masyarakat. Sehingga dapat disimpulkan secara umum pendidikan ITB
masa depan akan digerakkan kepada pengembangan keilmuan untuk terapan praktis
sesuai sektor masing-masing dalam rangka pengabdian masyarakat. Arah kebijakan dan
gerakan ITB ini kemudian harus ditanggapi bijak seutuhnya oleh penggerak
kemahasiswaan baik sebagai tantangan ataupun peluang untuk optimalisasi kegiatan
yang sinergis dan konstruktif dengan pihak regulator kampus.

3. Tinjauan Kondisi dan Karakter Kader ITB (Aspek Personal Kader)


Keberjalanan organisasi kemahasiswaan selain akan cukup bergantung kepada regulasi
dan kebijakan yang berlaku di ruang gerak dari kemahasiswaan, akan lebih jauh
bergantung kepada aktor penggerak dari kemahasiswaan itu sendiri. Seperti yang telah
dijabarkan hampir berulang di beberapa bagian sebelumnya, partisipasi anggota adalah
kunci utama dalam keberjalanan kemahasiswaan termasuk kemahasiswaan ITB. Oleh
karena itu, tinjauan terhadap kondisi kader terkini untuk kemudian menentukan
metode dalam menjalankan kemahasiswaan sudah seharusnya menjadi salah satu fokus
perhatian dari penggerak kemahasiswaan.

Tinjauan pada kondisi kader terutama mahasiswa ITB akan lebih baik apabila dimulai
dari kondisi kehidupan akademik yang berlaku di ITB. Sebuah penelitiaan yang
dilakukan oleh University of Oulu di Finlandia menjelaskan terkait relasi antar beban
akademik dan pola kebiasaan peserta didik. Dalam dokumen yang dipublikasikan untuk
mendukung sistem pendidikan di negara tersebut dinyatakan bahwa, terdapat korelasi
antara beban pendidikan dengan beberapa aspek dalam pendidikan sebagai berikut:
a. Peningkatan beban akademik secara simultan akan menurunkan tingkat
pemahaman dan kedalaman materi yang diterima oleh peserta didik. Dalam hal
ini, untuk beban pendidikan yang berlebih, peserta didik akan cenderung belajar
dalam ranah permukaan saja dalam rangka agar dapat melewati ujian.
b. Beban akademik yang terlalu tinggi akhirnya menyebabkan peserta didik tidak
mampu membedakan sesuatu yang relevan dan irrelevant yang terdapat dalam
pendidikan sehingga pemaknaan tidak dapat dilakukan dan akhirnya muncul
ketidakmampuan untuk mengkaitkan manfaat kuliah dengan kehidupan nyata
serta keterkaitan antar kuliah. Hal ini juga cenderung akan menyebabkan pola
belajar hanya menghafal tanpa pemaknaan.

Kedua aspek ini kemudian diterjemahkan dalam beberapa penelitian lanjutan yang
kemudian mengkorelasikan beban akademik ini kepada psikologi peserta didik dengan
beberapa keseimpulan utama yaitu:
a. Peningkatan beban akademik secara linear ternyata akan mempengaruhi
motivasi berprestasi dari seorang peserta kader. Pada beban tertentu,
peningkatan beban akademik akan meningkatkan motivasi, namun ketika beban
ini berlebih, peningkatan motivasi akan mencapai puncak dan kemudian turun
secara drastis yang salah satunya diindikasikan dengan pola belajar hanya demi
melewati ujian.
b. Peningkatan beban akademi yang secara tidak langsung mempengaruhi motivasi
berprestasi dari peserta didik kemudian akhirnya berpengaruh kepada tingkat
stress yang diterima peserta didik. Tingkat stress ini kemudian makin meningkat
secara eksponensial setelah melewati peak maksimum motivasi berprestasi
bukan hanya karena pengaruh beban akademik namun juga pengaruh
ekspektasi masa depan.

Kedua simpulan korelasi yang disampaikan sebelumnya, terutama tentang peningkatan


stress seorang kader dalam menjalani beban akademik yang meningkat secara
eksponensial dijelaskan dalam sebuah publikasi psychological science oleh Trzesniewski
dan Donnellan yang menjelaskan bahwa generasi 2000an adalah generasi yang memiliki
tingkat fokus kuliah sebagai pemenuhan kebutuhan untuk bekerja. Hal ini dikarenakan
bahwa generasi ini sangat berfokus kepada kehidupan masa depan sehingga bagi
mereka memiliki pencapaian akademik yang tinggi dan lulus dari kuliah adalah hal yang
sangat penting. Penelitian menunjukkan bahwa keinginan untuk lulus kuliah meningkat
sangat tinggi sejak generasi 80an hingga 2000an.

Berdasarkan penelitian tersebut, tentu dapat dinyatakan bahwa penurunan motivasi


berprestasi pada seorang kader akibat dari beban kuliah yang tinggi jelas akan
meningkatkan tingkat stress yang diterima secara drastic mengingat muncul kecemasan
atas pencapaian akademik. Pencapaian akademik yang bagi generasi terkini adalah hal
yang menjadi fokus akibat keinginan untuk lulus dan bekerja sehingga memiliki
kehidupan yang terjamin akhirnya meningkatkan stress tadi secara signifikan.

Berdasarkan penjabaran yang diberikan dari beberapa hasil penelitian, mari kita lihat
kondisi kader ITB. Hal yang paling mudah kita lakukan berdasarkan data lapangan
adalah berkembangnya indikasi bahwa kader ITB yang hidup di lingkungan akademik
kini secara umum belajar hanya demi melewati ujian dengan baik dan tidak jarang
memiliki motivasi yang tidak memadai untuk melakukan upaya pencapaian akademik
yang tinggi. Hal ini tentu kemudian dapat menjadi indikator bahwa beban akademik
yang diterima di ITB tergolong sangat tinggi. Beban akademik yang tinggi ini juga dapat
kita lihat secara eksplisit dari sistem kurikulum yang digunakan yakni konsep
perkuliahan untuk lulus menjadi sarjana di ITB secara umum kita habiskan dalam waktu
3 tahun (kurang setahun dari normal) karena 1 tahun TPB. Hal ini tentu meningkatkan
work rate mahasiswa ITB sesuai dengan rumus fisika sederhana yakni daya (work rate)
sebanding dengan usaha persatuan waktu. Ketika waktu yang disediakan semakin
sempit, dengan beban yang sama, work rate mahasiswa ITB sudah sangat tinggi.

Mengingat kondisi permasalahan tersebut, berdasarkan teori yang telah dijabarkan


sebelumnya, tentu untuk kondisi stress mahasiswa ITB sangatlah tinggi yang ternyata
akan sangat mempengaruhi sikap dan pola kegiatan mahasiswa ITB. Menurut salah satu
penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat tentang stress, seorang yang terkena
beban stress yang tinggi akan cenderung mencari kesetimbangan dengan melakukan
relaksasi dengan berbagai metode. Metode metode ini yang kemudian diteliti dan
menunjukkan bahwa generasi 2000an menggunakan tidur, bermain game, dan
mengembangkan hobby sebagai metode utama dalam menanggulangi stress.

Pilihan metode dan kondisi yang berkembang dalam kehidupan mahasiswa ITB tentu
akan menjawab sebab dari persoalan yang berkembang di kehidupan kemahasiswaan
antara lain di antaranya:
a. Tingkat stress mahasiswa ITB menyebabkan mahasiswa ITB cenderung
menggunakan waktu kosongnya untuk kembali ke zona nyamannya sebagai
metode dalam melepas stress. Hal ini juga dapat disimpulkan bahwa semua
orang sedang berkegiatan di zona nyamannya, termasuk mereka yang
berkemahasiswaan dengan aktif bisa jadi merupakan orang yang menjadikan
interaksi sosial adalah zona nyaman,
b. Beban akademik yang sangat tinggi menyebabkan mahasiswa ITB memiliki
waktu senggang yang sangat terbatas menyebabkan mahasiswa ITB akan
cenderung memilih kegiatan yang bervariasi namun tidak berani menjamin
komitmen dan tidak menginginkan adanya ikatan yang terlalu besar. Hal ini
diakibatkan keinginan untuk mencoba hal baru dan menjalankan hobby serta
menerima manfaat secara efisien merupakan cara yang mereka ambil dalam
menanggulangi stress yang diterima.
c. Beban akademik yang tinggi kemudian menyebabkan terjadinya kejenuhan atas
hal yang berhubungan dengan akademik sehingga terjadi penurunan motivasi
dalam menjalankan pengembangan keilmuan dan produksi karya dalam hal
keilmuan.

Penjelasan yang telah disampaikan di atas kemudian tentu akan memberikan gambaran
awal terkait penurunan partisipasi dari mahasiswa ITB dalam kegiatan kemahasiswaan
yang bisa jadi merupakan tantangan dan juga peluang bagi penggerakan kemahasiswaan
kini. Ketidakmampuan kemahasiswaan untuk bergerak secara progresif mengikuti
perkembangan zaman bisa jadi salah satu alasan dalam degradasi yang terjadi dalam
kegiatan kemahasiswaan.

4. Tinjauan Sinergisasi Internal Organisasi KM-ITB (Aspek Interaksi Internal)


Keberjalanan sistem kemahasiswaan tentunya akan melibatkan beberapa elemen
kelengkapan yang akan bergerak bersama sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta
wewenangnya masing masing. Pergerakan sinergis dan terintegrasi adalah kunci
dalam mewujudkan sistem kemahasiswaan yang ideal. Maka dari itu diperlukan
tinjauan terkait pola hubungan dan koordinasi antar elemen di KM-ITB dalam
menjalankan sistem kemahasiswaan ITB. Adapun tinjauan peluang dan tantangan dalam
kemahasiswaan ITB dapat ditinjau dari berbagai aspek sebagai berikut:
a. Badan Kelengkapan KM-ITB
Masalah terkait kelembagaan dalam menjalankan kemahasiswaan berfokus
kepada tantangan terkait pembagian porsi dari tiap elemen KM-ITB. Hal ini
menyebabkan banyakanya kegiatan ataupun aktivitas yang tidak jarang
beririsan, tumpang tindih, bahkan kontraporduktif. Hal ini tentu menuntuk
tindak lanjut pola antar elemen KM-ITB yang diantaranya adalah:
i. Unit Kegiatan Mahasiswa
Unit kegiatan mahasiswa adalah lembaga yang memiliki wewenang di
tingkatan satuan minat mahasiswa ITB. Berdasarkan hal tersebut sudah
semestinya pergerakan unit adalah pergerakan yang melingkupi minat
dari anggotanya. Perkembangan minat mahasiswa yang kian beragam
menyebabkan perkembangan unit yang juga kian bervariasi dan dinamis.
Hal ini yang kemudian menyebabkan pertumbuhan unit yang kian
meningkat dari waktu ke waktu. Namun di sisi lain kondisi kader yang
mulai bergerak di bidang minatnya masing masing menyebabkan
potensi unit dalam keanggotaannya menyebabkan beberapa unit
menjadi basis dan kantong massa tersendiri. Kondisi ini tentunya tidak
dapat diabaikan bahwa terdapat potensi unit dalam melakukan
pendidikan bagi kader melalui aspek minat. Namun kadang kondisi yang
berkembang yakni anggapan bahwa unit sebagai ekstrakulikuler
menyebabkan prioritas pembahasan terkait porsi unit dalam
kemahasiswaan menjadi sangat terbatas.

ii. Himpunan Mahasiswa Jurusan


Himpunan mahasiswa jurusan adalah satuan kegiatan yang berfokus
kepada sekelompok mahasiswa di bidang keilmuannya masing masing.
Peran himpunan yang dijadikan sebagai poros utama dan pemeran besar
dalam kegiatan kemahasiswaan menjadikan himpunan begitu kuatnya
dalam keberjalanan KM-ITB terlepas dari kajian historisnya. Porsi
himpunan sebagai penggerakan kemahasiswaan yang dominan
menyebabkan basis massa KM-ITB kini adalah himpunan. Namun seiring
perkembangan kemahasiswaan, himpunan kini seolah menjadi lembaga
yang terkadang kesulitan dalam tingkat partisipasi. Beberapa regulasi
yang bersifat ketat juga menyebkan kejenuhan yang tinggi. Ditambah lagi
kurang progresif dan penurunan produktivitas dari himpunan
menyebabkan beberapa ekspektasi mahasiswa menjadi tidak terpenuhi.

iii. Lembaga Kemahasiswaan Terpusat


Unit kegiatan mahasiswa adalah lembaga yang memberikan pemenuhan
kebutuhan dasar, pendidikan, dan aktualisasi di bidang unit, sedangkan
untuk aspek keilmuan tertentu dipenuhi oleh himpunan, maka untuk
pemenuhan kebutuhan dasar seluruh mahasiswa ITB, pendidikan
holistik dan integrasi antar keilmuan dan beberapa minat, serta
aktualisasi yang melibatkan sinergi keilmuan dan minat tentu
memunculkan peran baru yang dilaksanakan oleh lembaga terpusat di
KM-ITB. Namun terkadang kendala penerapan sistem KM-ITB mulai
muncul justru dari ketidaktegasan pengaturan pelaksanaan wewenang
antar elemen KM-ITB yang tidak jarang memunculkan aktivitas yang
tumpang tindih. Tidak jarang kita jumpai ada beberapa aktivitas lembaga
sektoral justru malah melampaui wewenangnya dan begitu juga
sebaliknya dimana lembaga sentral justru melakukan aktivitas yang
seharusnya dilakukan di tingkat sektoral. Hal ini kemudian yang
menyebabkan tingginya aktivitas kemahasiswaan ITB menjadi tidak
efisien sehingga kebutuhan pengaturan kemahasiswaan secara terpusat
sangat perlu untuk lebih diperhatikan terutama terkait sinergi dan
integrasi antar elemen.

b. Konstitusi KM-ITB
Pemaknaan dalam beberapa konstitusi tertulis dalam KM-ITB secara tidak
langsung ternyata memberikan tantangan dan peluang tersendiri dalam
keberjalan KM-ITB. Penciptaan konpetensi kader yang sesuai dengan kebutuhan
keberjalanan sistem tentu tidak akan tercipta dari pemahaman sistem yang
kurang memadai. Hal ini yang kemudian menjadikan keberadaan dan
implementasi dokumen tertulis dalam KM-ITB serta perannya dalam
keberjalanan KM-ITB perlu ditinjau kembali untuk mengoptimalkan pergerakan
kemahasiswaan. Berikut beberapa dokumen yang memerlukan tinjauan:
i. Konsepsi dan AD/ART KM-ITB
Konsepsi dan AD/ART KM-ITB adalah landasan regulasi yang mendasari
mekanisme dalam implementasi kegiatan kemahasiswaan di ITB. Secara
sistem, penjalanan KM-ITB memerlukan pemahaman mendalam sebelum
akhirnya dapat melaksanakan sistem dengan baik. Pemahaman yang
mendalam diperlukan mengingat kompleksitas elemen yang terlibat
dalam keberjalan sistem sehingga untuk menuju kepada sinergisasi dan
integrasi yang ideal, pemahaman terkait konsep adalah prasyarat yang
harus dipenuhi. Namun kondisi terkini, keberjalan KM-ITB seolah tidak
dipahami dengan cukup mendalam sehingga kritik hanya di tataran
metode yang justru seolah memiliki mobil namun tidak bisa mengemudi
tetapi menyalahkan mobilnya. Hal ini tentu menjadi kendala tersendiri
apakah sistem ini tidak sesuai karena kader kita belum mencapai
kapabilitas yang diisyaratkan, atau justru kita tidak pernah
mengupayakan pemahaman yang baik terkait sistem yang berlaku.
ii. RUK KM-ITB
Rancangan umum kaderisasai KM-ITB adalah suatu dokumen yang
hingga kini terkadang masih memunculkan perdebatan dalam
implementasinya. Sebagai dokumen yang dimaksudkan menjadi acuan
terutama dalam proses pendidikan untuk melahirkan kader mahasiswa
ITB, penerapan RUK kadang masih belum setara. Berdasarkan hasil
survey yang dilakukan di akhir tahun 2014 terdapat beberapa jenis
penerapan RUK di lembaga KM-ITB yakni:
1. Penerapan adopsi langsung baik menyeluruh atau sebagian
2. Penerapan adaptasi baik menyeluruh atau sebagian
3. Tidak meninjau RUK dalam penerapan kaderisasi
Perbedaan penerapan ini tentunya menjadikan cita cita integrasi
kaderisasi menjadi sesuatu yang masih perlu diperhatikan bersama
sama mengingat arah pergerakan pendidikan yang kian melibatkan
banyak pihak. Perbedaan penerapan ini juga yang harusnya ditinjau
kembali oleh penggerak kemahasiswaan untuk analisis pengembangan
yang lebih baik. Selain penerapan, konten dalam RUK juga mungkin telah
mencapai masanya untuk dinilai bersama sebelum benar benar
diupayakan dalam pelaksanaan proses kaderisasi.

iii. Konstitusi Sektoral dan GBHP KM-ITB


Sinergisasi antar elemen KM-ITB baik di tataran pelaksanaan maupun
konsep juga tidak dapat seutuhnya terwujud sebelum terjadi koordinasi
yang utuh baik dalam konstitusi, kultur, dan mekanisme yang dijalankan
oleh masing masing elemen. Koordinasi ini sesungguhnya dapat
diwujudkan juga dalam konsep GBHP yang merupakan representasi arah
gerak kemahasiswaan ITB yang sampain saat ini masih digunakan
sebagai acuan kabinet KM-ITB dalam menentukan program. Dokumen
sejenis GBHP dapat menjadi media sinergisasi konstitusi sektoral baik
dalam aspek konsep hinggat teknis sehingga seutuhnya dapat
membangun gerakan yang sinergis dan konstruktif antar elemen KM-
ITB. Pembentukan GBHP yang merupakan kolaborasi antar elemen juga
dapat menjadi peluang sinergisasi antar elemen dan pengaturan yang
lebih sistemik menuju efesiensi gerakan dalam KM-ITB. Namun
kebutuhan untuk penurunan ego sektoran dan kesedian koordinasi yang
berkala tentu menjadi prasyarat penanganan tantangan ini.
5. Tinjauan Sinergisasi Eksternal Organisasi KM-ITB (Aspek Interaksi Institusi)
Selain dari aspek yang telah ditinjau berdasarkan regulasi yang mempengaruhi sistem
internal pelaksanaan kemahasiswaan, tinjaun kader sebagai aktor utama dalam
keberjalanan kemahasiswaan, dan sinergisasi elemen dalam KM-ITB baik secara teknis
maupun konstitusi, pertimbangan faktor eksternal kemahasiswaan ITB juga secara tidak
langsung akan mempengaruhi keberjalanan kemahasiswaan. Beberapa aspek yang
dapat menjadi peluang dan sekaligus tantangan dari luar KM-ITB sudah semestinya
menjadi fokus pertimbangan bagi perancang kemahasiswaan. Kemampuan melihat
peluang dan mengatasi tantangan dari eksternal juga bisa jadi menjadi kunci dalam
pelaksanaan kegiatan untuk pendidikan kader. Berikut adalah beberapa aspek yang
perlu dipertimbangkan:
a. Pemerintah adalah pihak yang secara langsung berpengaruh dan telah
dijabarkan secara umum di bagian sebelumnya akibat pengaruh peraturan dan
kebijakannya dalam keberjalanan pendidikan secara umum.
b. Rektorat adalah pihah yang melalui regulasinya telah dijelaskan juga pada
tinjauan sebelumnya. Sinergisasi dengan pihak rektorat dan otoritas di tiap
tingkatan otonom kegiatan kemahasiswaan perlu dilangsungkan secara intensif
dan berkala untuk membangun gerakan yang lebih konstruktif antar rektorat
dan mahasiswa. Hal ini diperlukan juga mengingat banyaknya aspek yang
beririsan dan penyedian sarana dan prasarana kemahasiswaan yang bergantung
pada pihak rektorat.
c. Alumni adalah pihak senior yang telah lulus lebih dahulu. Sinergi dengan pihak
alumni dalam menunjang keberjalanan kemahasiswaan juga perlu diperhatikan.
Dukungan pihak alumni baik dari sumberdaya serta informasi terkait dunia
pasca kuliah adalah suatu potensi yang dapat dioptimalkan.
d. Paguyuban dan komunitas internal adalah elemen yang mulai bermunculan
dalam KM-ITB namun tidak terformalkan. Kantung kegiatan ini biasanya
berafiliasi dengan unit kegiatan mahasiswa namun ada juga yang mandiri.
Namun keberadaan paguyuban ini juga menjadi potensi tersendiri yang harus
dipertimbangkan.
e. Organ ekstra dan komunitas luar kampus adalah elemen eksternal kampus yang
bergerak dengan dasar tujuan yang beragam. Kecenderungan kader untuk
mengikuti kegiatan dengan variasi tinggi menjadikan keberadaan alternatif
kegiatan ekstrakampus sebagai variasi baru. Namun keterlibatan pihak ini perlu
dicermati mengingat pengaruhnya dalam kemahasiswaan dan sifat serta
porsinya yang juga berbeda dengan kemahasiswaan.
Pertimbangan kondisi terkini dalam keberjalanan kemahasiswaan ITB tentu memainkan peran
yang penting untuk kemudian dibandingkan dengan kondisi ideal yang dicita - citakan.
Berdasarkan pertimbangan yang telah diberikan pada penjabaran diatas dapat disimpulkan
bahwa setidaknya terdapa minimal 5 aspek yang perlu ditinjau dalam pelaksanaan kegiatan
kemahasiswaan. Tiap aspek ini memiliki besar pengaruh masing masing yang kemudian harus
dipertimbangkan dalam keberjalanan kemahasiswaan.

Secara umum adapun beberapa permasalahan utama yang perlu dicermati yakni yang pertama
adalah terkait sinergisasi baik internal maupun eksternal untuk perwujudan integrasi serta
sinergisasi yang konstruktif dalam kemahasiswaan. Permasalah kedua muncul dari mahasiswa
itu sendiri dalam hal ini keterlibatan mahasiswa perwujudan kemahasiswaan. Partisipasi
sebagai kunci utama hidupnya kemahasiswaan tentu menjadikan perumusan metode dalam
menjawab tantangan zaman demi peningkatan partisipasi adalah pekerjaan rumah yang sangat
mendesak. Sedangkan tantangan terakhir ada pada produktivitas dan keberadaan regulasi yang
memerlukan tingkat pemahaman yang proporsional dalam melihat perkembagan analisis
kondisi serta penetuan prioritas untuk pemenuhan ekspektasi mahasiswa sehingga
keberjalanan cita cita kemahasiswaan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
REKOMENDASI: PENJABARAN PENGEMBANGAN SISTEM KEMAHASISWAAN
TAWARAN MEKANISME KEBERJALANAN KADERISASI DAN KEMAHASISWAAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dijabarkan tentang keberjalanan kaderisasi dan


kemahasiswaan secara umum di bagian pertama dan beberapa aspek tantangan serta peluang
di bagian dua, berikut dalam bagian ini akan diterjemahkan beberapa rancangan rekomendasi
demi pengembangan sistem keberjalanan kemahasiswaan terutama kaderisasi di KM-ITB. Pada
dasarnya rekomendasi ini adalah pemicu awal yang harapannya dapat dikembangakan menjadi
mekanisme yang lebih rinci melalui hasil pembahasan lanjut yang lebih mendalam. Adapun
beberapa rekomendasi yang ditawarkan akan dibagi menjadi 3 kelompok utama mengacu
kepada jenis rekomendasi yaitu:
1. Rekomendasi Pengembangan Aspek Teknis dan Mekanisme
Aspek teknis dan mekanisme adalah pengembangan pergerakan kemahasiswaan dalam
ranah aplikasi langsung yang menyentuh di tataran keberjalanan keseharian dan
penerapan teknis lainnya. Adapun beberapa hal yang perlu dikembangkan dalam
terapan aspek ini antara lain:
a. Pemerataan Kesempatan Berkegiatan
Jaminan atas adanya keterbukaan akses yang sama dan adil bagi seluruh anggota
untuk berkembang adalah tugas dari sebuah organisasi kemahasiswaan. Namun
terkadang beberapa kendala muncul seiring dengan dinamisnya pergerakan
kemahasiswaan dan beragamnya fasilitas yang disediakan. Terkadang tak jarang
kita temui bahwa pelaku kegiatan kemahasiswaan kadang hanya beberapa
orang yang sama. Hal ini tentu memerlukan intervensi lebih oleh pihak
penggerak utama dimana upaya untuk pemerataan kesempatan berkegiatan
sebaiknya dapat diusahakan secara sistem. Adapun beberapa upaya yang dapat
diambil antara lain:
i. Basis Delegasi adalah aspek dimana pemerataan dapat kita lakukan
dengan mengikutsertakan kader dalam fasilitas pendidikan langsung
baik yang diselenggarakan secara internal maupun eksternal lembaga.
Pendelegasian ini tentunya harus disesuaikan terkait pemilihan delegasi
dalam rangka pemerataan kesempatan untuk belajar para kader.
Pembentukan fasilitas pendidikan internal, pemantauan fasilitas dan
peran serta dalam fasilitas eksternal adalah salah satu cara yang dapat
kita optimalkan dalam mendidik peserta kader yang dirasa belum
berkesempatan atau perlu mendalami suatu pendidikan.
#contoh: Pendelegasian dalam mengikuti diklat
ii. Basis Tanggungjawab adalah aspek dimana terjadi pemerataan
kesempatan dalam memegang tanggungjawab serta menjalankan suatu
proses. Tanggunjawab ini dapat berupa kepanitiaan internal maupun
eksternal lembaga serta kepengurusan internal ataupun eksternal
lembaga. Tentunya terkait pembebanan tanggungjawab, beberapa
pertimbangan lembaga akan mempengaruhi, namun untuk
mengembangkan kapasitas seseorang ada baiknya dilakukan
pemerataan kesempatan serta penyamarataan standar sehingga setiap
anggota dapat terdidik. Menghidarkan seorang kader memangku
tanggungjawab yang sama berulang dan melakukan rotasi peran
mungkin adalah upaya yang dapat dioptimalkan untuk pemerataan
kesempatan berkegiatan seorang kader.
#contoh: Pemerataan kesempatan menjadi kadiv atau ketua
iii. Basis Berbagi Manfaat adalah aspek optimalisasi potensi, kultur, dan
fasilitas yang ada di lembaga. Mengingat pada dasarnya kader akan
menjalankan pilihan kegiatan ataupun beberapa kegiatan maka harus
dilakukan penjaminan bahwa pendekatan pendidikan harus ada di setiap
proses persiapan dan pelaksanaan. Hal ini dapat berlaku pada persiapan
dan pelaksanaan program kerja, kepanitiaan, dan aspek fasilitas aktivitas
pada suatu lembaga. Penjaminan nilai dan aspek pendidikan dalam basis
ini adalah hal yang sangat efisien dilakukan karena akan melibatkan
banyak pihak dari berbagai tingkatan.
#contoh: Perumusan dan pelaksanaan ospek, pemilihan kahim, proker

Berdasarkan ketiga basis yang telah disampaikan di atas, tentunya kembali lagi
bahwa partisipasi adalah kunci dalam penjaminan terlaksanannya basis
manapun. Mengingat hal tersebut, maka diperlukan beberapa mekanisme yang
dapat melakukan optimalisasi partisipasi anggota. Menurut analisis teoritik pada
bagian sebelumnya, partisipasi ini dapat kita optimalkan dengan beberapa
tahapan:
i. Penjaminan Kualitas dan Konsistensi Masa Orientasi adalah prasyarat
yang perlu diperhatikan bahwa persepsi yang diterima oleh peserta
kader akan menentukan sikap dan pola kegiatan peserta dalam
kemahasiswaan. Konsistensi nilai dalam terapan di kehidupan
berlembaga juga menjadi penentu dalam penyikapan peserta kader
dalam berkegiatan di suatu lembaga
ii. Penjaminan Pemenuhan Kebutuhan Dasar adalah prasyarat berikutnya
yang perlu dipenuhi. Tanpa pemenuhan kebutuhan dasar, pendidikan
ataupun proses serta aktivitas lain akan terkendala untuk
dilangsungkan dengan optimal
iii. Penjaminan Kualitas Atmosfer yang Kondusif adalah prasyarat tentang
interaksi sosial dan pembangunan atmosfer berkegiatan. Jaminan
atmosfer ini adalah hal yang paling mendukung untuk peserta keder
mau ikut serta melangkah dari zona nyamannya. Dukungan lingkungan
sosial dan atmosfer yang kondusif untuk berkembang adalah faktor
yang perlu disiapkan sebelum memberikan tuntutan partisipasi.
Pemanfaatan potensi awal kader juga dapt dilakukan dalam tahapan
ini demi meningkatkan self esteem kader untuk lebih dihargai sehingga
makin siap dalam berkegiatan di lembaga.

Menurut hasil analisis yang dilakukan, ketiga tahapan di atas adalah hal yang
secara teoritik harus diperhatikan dalam peningkatan partisipasi massa. Apabila
ketiga proses ini telah dipastikan berjalan secara optimal namun tidak terjadi
peningkatan partisipasi massa, maka dapat dikatakan personal kader yang
memang seutuhnya tidak ingin untuk berkegiatan. Selain aspek partisipasi ini,
pemerataan kesempatan belajar juga memerlukan beberapa prasyarat yang
harus dipenuhi. Mengingat keinginan kader yang sangat beragam dan aktivitas
yang spesifik, maka diperlukan bahwa setiap ragam kegiatan harus efektif dan
efisien dalam melaksanakan pemenuhan kebutuhan dan optimal dalam
menyampaikan nilai. Kemudian setelah itu diperlukan juga kerapian dokumen
data kader sehingga dasar dalam pemerataan kesempatan menjadi lebih jelas.

b. Pembagaian Porsi Produktivitas dan Regulasi


Pada masa kondisi lingkungan akademik dan karakter kader, tidak dapat kita
pungkiri bahwa efisiensi dan efektivitas adalah isu yang begitu penting untuk
diperhatikan. Hal ini sudah semestinya diperhatikan lebih detail terkait
implementasi dalam kegiatan kemahasiswaan. Mengingat keterbatasan
ketersediaan waktu seorang kader serta pilihan kegiatan yang kian beragam
menjadikan pandangan efisiensi dan efektivitas kian menguat. Berdasarkan hal
ini, lembaga nampaknya harus melakukan beberapa pembenahan terutama
dalam pembagian porsi produktif dan pelaksanaan regulasi.
Pada dasarnya untuk kondisi sekarang, penerapan regulasi perlu lebih
diperhatikan untuk kemudian dapat ditinjau demi penerapan yang lebih optimal,
Sesungguhnya perlu dipahami juga bahwa pembatasan informasi serta
pembagian peran perlu lebih dioptimalkan. Penerapan regulasi yang kemudian
menghambat produktivitas nampaknya perlu ditinjau kembali. Peninjauan dapat
dilakukan baik dari aspek urgensi, kebutuhan, serta pemenuhan prasyarat,
sebagai solusi pengembangan metode metode pengganti yang lebih kreatif
mungkin dapat menggantikan regulasi ketat yang berlaku kini namun sudah
dirasa tidak relevan.

Kemudian sering dengan peninjauan kembali beberapa regulasi, produktivitas


harus dikejar seefektif dan seefisien mungkin terutama dalam pemanfaatan
waktu, pemberian produk, dan penjaminan nilai. Seiring dengan pendekatan
produktivitas yang tentunya akan beragam diharapkan kelestarian kegiatan di
lembaga dapat terjamin demi optimalisasi peran lembaga dalam menjalankan
fungsi dan wewenang sebagai wadah kemahasiswaan. Peningkatan
produktivitas ini kemudian mungkin di masa mendatang dapat dijadikan awal
baru untuk pelaksanaan regulasi yang dirasa dapat memberikan nilai tambah
yang jauh lebih tinggi.

c. Integrasi dan Sinergisasi Kelembagaan


Aspek partisipasi, pemerataan, dan peningkatan produktivitas yang telah
disampaikan sebelumnya secara umum juga belum cukup dalam memberikan
porsi pendidikan yang optimal dalam kegiatan kemahasiswaan. Aspek
berikutnya yang perlu diperhatikan adalah aspek terkait integrasi dan
sinergisasi kelembagaan. Perlu diingat bahwa banyaknya lembaga yang memiliki
peran serta dalam pendidikan kader ditambah dengan karakter kader yang
cenderung memilih variasi kegiatan yang tinggi membawa kita untuk melakukan
peningkatan kualitas pada setiap lembaga sebagai satu lembaga serta sinergisasi
semua lembaga dalam satu sistem yang teintegrasi.

Kunci utama dalam pelaksanaan integrasi dan sinergisasi ini tentunya harus
didasari oleh standar yang sama, koordinasi yang baik, dan yang paling pentiing
adalah pembagian peran yang spesifik dan jelas. Ketiga aspek ini yang kemudian
akan mendukung penerapan kegiatan kemahasiswaan apabila dilihat lebih utuh
akan menunjukkan suatu kelengkapan pendidikan yang terintegrasi, utuh, dan
konstruktif dalam kesatuan sistem yang terkoordinir dengan apik. Ketiga faktor
ini kemudian dapat kita detailkan dalam penjabaran sebagai berikut:
i. Koordinasi intensif adalah prasyarat utama yang perlu dipenuhi oleh
setiap lembaga dalam kesatuan sistem. Koordinasi ini yang kemudian
menjadikan terjalinnya komunikasi intensif dan pembangunan saling
percaya pada penjalannya tugas masing masing pada seorang kader.
ii. Kepemilikan standar bersama juga perlu diperhatikan mengingat kader
akan menjalani proses yang melibatkan beberapa lembaga. Demi
kelangsungan pendidikan yang terintegrasi, dokumentasi dan adanya
standar yang sama mutlak diperlukan demi efisiensi pendidikan.
iii. Kejelasan pembagian wewenang adalah prasyarat yang harus dipenuhi
untuk menjamin efisiensi pendidikan dan minimalisir konflik
sumberdaya. Pembagian basis dalam pemenuhan kebutuhan,
pendidikan, dan aktualisasi harus dirumuskan tidak hanya secara
kultural namun sedapat mungkin diatur secara sistem yang
diterjemahkan dalam aturan tertulis untuk disepakati bersama.

Selain sinergisasi secara internal, pengaruh dari pihak eksternal juga harus
diperhatikan terutama pihak yang secara langsung berpengaruh. Pihak utama
yang dimaksud tentu adalah pihak regulator kampus yang merupakan otoritas
tertinggi yang sah dalam ruang tempat kita beraktivitas. Perlu dipahami bahwa
keberjalan kemahasiswaan bukan lagi dapat digolongkan sebagai kepentingan
mahasiswa saja tanpa memerlukan intervensi ataupun memperhitungkan
intervensi langsung regulator. Aspek pendidikan kader adalah kepentingan
bersama sehingga komunikasi berkala harus dilakukan dengan syarat dan
ketentuan yang dikedepankan demi kelangsungan kehidupan kamahasiswaan.
Berikut adalah pola komunikasi dengan pihak regulator yang dapat didefinisikan
dalam beberapa golongan:
i. Komunikasi satu arah yaitu bentuk komunikasi dimana hanya
mahasiswa yang menyesuaikan dengan kebijakan regulator di tiap
tingkatan otonom. Hal ini sesungguhnya wajar terjadi mengingat
penyesuaian adalah esensi dasar dari kehidupan kemahasiswaan
ii. Komunikasi dua arah yaitu duduk bersama dalam suatu dialog
penentuan peran dan wewenang masing masing untuk membentuk
sinergi dalam pendidikan kader. Pola ini adalah pola ideal yang harus
dilakukan sehingga pendidikan kader dapat berjalan optimal.
Namun apapun kondisi yang terjadi, komunikasi berkala dan keterbukaan pada
standar tertentu perlu dilakukan antar lembaga kemahasiswaan baik di tingkat
mahasiswa dan regulator di tiap tingkatan otonom, Dukungan yang sinergis
antara kedua pihak ini akan memperluas jangkauan pendidikan dan optimalisasi
fasilitas yang lebih menyeluruh sehingga keberjalanan kemahasiswaan dapat
dilaksanakan lebih efisien.

2. Rekomendasi Pengembangan Aspek Konsep dan Esensi


Selain melakukan beberapa pembenahan dan penyesuaian dalam aspek terapan secara
teknis dan mekanisme, dukungan pemaknaan kembali beberapa esensi dan konsep yang
berlaku juga perlu diperhatikan. Beberapa pemakanaan sesungguhnya telah dijabarkan
dalam penjelasan penjelasan di bagian sebelumnya. Adapun beberapa tambahan
spesifik terkait pemaknaan yang perlu diperhatikan dalam keberjalanan organisasi
kemahasiswaan antara lain:
a. Pemaknaan Kekeluargaan sebagai Asas
Pemaknaan terkait kekeluargaan secara umum kini telah mengalami fase yang
mempengaruhi penurunan produktivitas kegiatan kemahasiswaan. Pemaknaan
kekeluargaan kini nampaknya mulai menyimpang dan kadang tidak relevan
dengan kebutuhan dan posisi nilai ini sebagai asas. Pada dasarnya memang
terdapat redaksi kekeluargaan tak jarang kita temui dalam kalimat salah satu
tujuan suatu lembaga kemahasiswaan. Namun hal ini bukan berarti
kekeluargaan ini menjadi aspek tujuan utama yang diprioritaskan terdepan
untuk pencapaian organisasi.

Pemaknaan yang menyimpang ini ternyata sudah berpengaruh terhadap


beberapa tingkat produktivitas himpunan. Pada dasarnya sangat sulit
mendefinisikan kekeluargaan sebagai suatu nilai. Namun pemaknaan sebagai
nilai memang tidak perlu dilakukan mengingat secara hakekat, kekeluargaan
diletakkan sebagai asas dalam hal ini bermaksud pada setiap kegiatan lembaga
yang dijalankan oleh lembaga tersebut harus dilangsungkan dengan pola dan
pendekatan yang digunakan di lingkungan keluarga. Hal ini yang menyebabkan
posisi kekeluargaan terdapat di asas ataupun sifat. Pemaknaan yang
menyimpang akan menjurus pada kegiatan kegiatan yang fokus untuk
mendatangkaan orang dan meningkatkan kedekatan. Hal ini tidak salah untuk
porsi tertentu, namun apabila hal ini berpengaruh terhadap tingkat
produktivitas lembaga, maka pada saat itu hal ini harus ditinjau kembali.
Dampak lain dalam pemaknaan yang kurang tepat atas aspek ini adalah prioritas
menarik orang yang tidak ingin dan mengesampingkan yang ingin. Hal ini kerap
terjadi bahwa kadang terjadi pembiaran pada mereka yang ingin belajar alih
alih berupaya mendatangkan mereka yang tak ingin. Pada kondisi tertentu,
penjaminan keterbukaan akses adahal hal minimal yang harus dipenuhi dan
kemudian setelah itu adalah pelayanan terhadap mereka yang memanfaatkan
fasilitas. Kerap juga terdapat kebingungan dalam memaknai kekeluargaan dalam
kondisi toleransi berlebih. Hal ini juga tentu tidak tepat karena kita dapat tinjau
kembali, pendekatan kekeluargaan diambil secara sederhana dalam lingkup
adanya komunikasi dan pemberian kesempatan serta bukan berarti tanpa
ketegasan dan konsekuensi. Keluarga sesungguhnya pun mengedepankan
aturan, konsekuensi, dan komitmen, sehingga pendekatan ini pada dasarnya
sangat sederhana untuk dimaknai.

Pendekatan kekeluargaan ini juga sering terkait kepada hubungan senior dan
junior yang terdapat di organisasi kemahasiswaan. Pola hubungan ini juga tidak
jarang menghasilkan konflik yang kontraproduktif. Walaupun perubahan dan
perbaikan dalam suatu organsasi tidak mungkin untuk dilakukan secara radikal,
namun pada batas batas tertentu, pelaku regenerasi dan juga proses
regenerasi itu sendiri akan berpengaruh besar dalam keberjalanan organisasi
terutama dalam penciptaan atmosfer berkegiatan yang kondusif. Pemaknaan
pola pikir senior junior dalam keberjalanan organisasi kadang tertukar dimana
dalam kondisi ini senior berpikir dalam pendekatan junior dan begitu
sebaliknya. Secara sederhana penjelasan hal ini dapat diterjemahkan dengan
analogi tamu dan tuan rumah sebagai berikut:

Tuan rumah dengan sudut pandangnya harus berpikir tentang melayani tamu
bukan justru berpikir pada sudut pandang tamu yang tidak berharap dilayani
begitu juga sebaliknya si tamu.

Hal ini apabila diterjemahkan dalam pendekatan senior junior akan menjadi
pendekatan yang lebih ideal. Senior harusnya fokus dalam menjalankan
perannya sebagai pembimbing dan pemberi contoh bukan melakukan tuntutan
berlebih terhadap junior dalam beraktivitas. Hal sebaliknya juga berlaku pada
junior harusnya fokus melihat tantangan dan peluang dalam lembaga dan
memberikan perbaikan serta pengembagan bukan justru melihat senior dan
menjadikan kesalahan senior sebagai izin untuk tidak melakukan perbaikan
ataupun pengembangan di organisasi.

Perbaikan dalam pendekatan ini tentu kemudian akan menciptakan suasanya


yang relatif kondusif dalam berkegiatan akibat fokusnya tiap pihak pada
tugasnya dan pada tahap tahap tertentu di batas tertentu juga kemudian
melakukan intervensi dengan pendekatan kekerluargaan.

b. Pemaknaan Kemahasiswaan adalah Berkegiatan


Kemahasiswaan adalah kegiatan mandiri oleh dari dan untuk mahasiswa.
Berdasarkan kalimat tersebut, sudah sewajarnya dapat dikatakan bahwa
kegiatan kemahasiswaan sangat bergantung pada peran serta dan partisipasi
anggotanya. Oleh dari dan untuk bukan sebuah slogan namun sebuah peringatan
bahwa matinya kegiatan kemahasiswaan dan juga majunya ada di tangan
mahasiswanya itu sendiri.

Kemahasiswaan sejatinya sangat berfokus kepada kegiatan di dalamnya. Tanpa


kegiatan tidak akan pernah ada manfaat yang bisa diperoleh. Namun perlu
dicermati pula, manfaat ini ada pada konteks berbagi manfaat bukan semata
hanya menerima manfaat. Berbagi manfaat yang dimaksud adalah aktivitas juga
diperlukan penggerak yang secara eksplisit memberi manfaat dengan
mengadakan aktivitas. Namun pihak ini bukan berarti tidak mendapat manfaat,
namun justru menerima manfaat dari sesuatu yang mereka persiapkan.
Sedangkan untuk pihak yang secara langsung menerima manfaat dengan keikut
sertaannya tentu langsung merasakan nilai tambah yang diterima. Berdasarkan
hal inilah konsep berbagi manfaat adalah kunci di kemahasiswaan.

Pemaknaan terkait berbagi manfaat ini harus terus ditekankan pada generasasi
yang fokus dalam mencari manfaat langsung. Penekanan nilai penunjang seperti
loyalitas dan rela berkorban juga harus dikedepankan untuk menjamin
kelangsungan proses ini. Hal ini juga yang membedakan kemahasiswaan dengan
organisasi lain, termasuk organisasi profit ataupun pergerakan. Kemahasiswaan
fokus kepada tiga aspek yaitu pemenuhan kebutuhan, pendidikan, dan
aktualisasi. Berbeda dengan organisasi profit yang memenuhi pendidikan
ataupun organisasi pergerakan yang dominan aktualisasi. Hal in menyebabkan
kemahasiswaan perlu berbagi manfaat bukan semata menerima manfaat.
c. Pemaknaan Identitas Mahasiswa
Dalam rangka perluasan peluang dalam optimalisasi pendidikan di
kemahasiswaan ITB, pemaknaan akan identitas mahasiswa pun harus menjadi
perhatian mengingat tidak jarang awal doktrinasi tentang aspek ini berpengaruh
dalam sikap seorang kader ITB dalam berkegiatan. Berikut adalah perumusan
kembali terkait identitas mahasiswa yang diterjemahkan dalam posisi, potensi
dan peran mahasiswa yakni:
i. Posisi Mahasiswa
Pada dasarnya, mahasiswa sendiri adalah posisi dimana dalam statusnya
sebagai mahasiswa berbaur dalam kehidupan masyarakat sebagai
anggota masyarakat biasa yang sedang menuntut ilmu memberikan
identitas tersendiri di kehidupan masyarakat. Sesungguhnya tidak ada
posisi spesifik yang menjelaskan letak mahasiswa di tatanan sosial
masyarakat, justru peran dan potensi yang kemudian dioptimalkan akan
memberi konsekuensi posisi khusus untuk mahasiswa dalam
masyarakat pada umumnya.
ii. Potensi Mahasiswa
Potensi mahasiswa kini sesungguhnya sangat beragam dan menunggu
untuk dioptimalkan lebih jauh. Setidaknya untu merangkum seluruh
potensi yang dimiliki mahasiswa, potensi potensi ini dapat digolongkan
menjadi 3 yaitu:
a. Potensinya sebagai manusia muda merupakan potensi yang
muncul dari statusnya sebagai manusia muda dengan karakter
muda dan sifat kemanusiaanya.
b. Potensinya sebagai mahasiswa terdidik merupakan potensi yang
muncul akibat latar belakangan tambahan kapabilitas pendidikan
spesifik yang diterima.
c. Potensinya sebagai anggota lingkungan akademik merupakan
potensi yang dapat dioptimalkan akibat akses mahasiswa
terhadap kampus dan asset pendukung kehidupan akademik
seperti dosen dan relasi informasi global dan ragam stakeholder.
iii. Peran Mahasiswa
Peran mahasiswa adalah konsekuaensi yang muncul atas potensi yang
dimiki dan harus dioptimalkan dengan pada batas batas tertentu
menjadi tanggungjawab moral atas kelebihan yang dimiliki ketika
menjadi seorang mahasiswa. Menimbang perluasan peran dan
pemaknaan kemahasiswaan yang lebih umum dan relevan, maka berikut
peran mahasiswa antara lain:
i. Regenerasi Bangsa sebagai perannya sebagai insan terdidik
untuk kemudian dapat melanjutkan roda keberjalanan
kehidupan berbangsa dan bermasyarakat
ii. Kontrol Sosial sebagai agen mandiri dan independen yang
memberikan pihak penyeimbang yang idealis dalam peranan
turut serta menata kehidupan masyarakat
iii. Pengembangan Masyarakat sebagai agen yang dapat
mengotimalkan potensi dalam rangka memberikan bantuan di
permasalahan kehidupan dan respon terhadap realita yang
berkembang di masyarakat
iv. Penerapan Riset sebagai agen akademik yang mengoptimalkan
potensinya dan peluang untuk mengembangkan keilmuan dan
sebagai sumberdaya pendukung terapan riset praktis sebagai
solusi permasalahan

Pemaknaan identitas mahasiswa ini diharapkan kemudian dapat mendobrak


eksklusivitas ataupun batasan kemahasiswaan yang selama ini berkembang
sebagai suatu yang dipandang lebih ke aspek sosial politik. Pemaknaan baru ini
juga diharapkan membuka cakrawala baru terkait luasnya kemahasiswaan yang
dimaksud dan optimalisasi proses yang berkembang meningat ragam kegiatan
yang dipilih kader kian meningkat. Pemaknaan ini juga diharapkan melepas
kotak penggolongan aktivitas mahasiswa sebagai langkah awal pengembangan
kader yang lebih optimal.

3. Rekomendasi Pengembangan Aspek Sistem dan Konstitusi


Pengembangan sistem kemahasiswaan setelah pengembangan dalam aspek teknis dan
esensi tentu harus didukung dalam sistem yang kondusif untuk kemudian seutuhnya
memastikan kelangsungan perbaikan keberjalanan sistem kemahasiswaan dari masa ke
masa. Pendekatan sistem dilakukan untuk memberikan perubahan yang relatif besar
dalam waktu singkat serta untuk memberikan pendekatan perubahan kondisi melalui
daya tawar tertinggi. Kontrol dalam sistem juga dilakukan untuk memberi perbaikan
secara menyeluruh di seluruh aspek secara simultan. Berikut adalah beberapa aspek
sistem yang perlu dipertimbangkan untuk dilakukan pengembangan dan penyesuaian
antara lain yakni:
a. Penyesuaian Periodisasi Organisasi Kemahasiswaan
Koordinasi dan sinergisasi antar elemen kemahasiswaan di KM-ITB adalah salah
satu syarat yang harus dipenuhi demi mewujudkan keberjalanan sistem yang
selaras secara utuh. Hal ini tentu kemudian memerlukan keselarasan tidak
hanya dalam komunikasi namun juga pada gerakan hingga isu yang sedang
berkembang dan menjadi pokok bahasan di lingkungan organisasi terkait. Kerap
kali kita temui, perbedaan isu dan dinamika organisasi dalam satu waktu yang
sama ternyata mempengaruhi kelacaran komunikasi lintas elemen dan akhirnya
mempengaruhi keberjalanan sistem KM-ITB.

Salah satu hal yang menjadi fungsi penentu keseragaman isu yang terbahas
hingga ke ranah dinamika keberjalanan suatu organisasi tentu adalah
pengondisian masa periodisasi. Masa periodisasi adalah masa dimana
kepenguruasan satu akan digantikan oleh kepengurusan berikutnya. Perbedaan
masa periodisasi tentu akan memberi perbedaan yang besar di kondisi
kepengurusan untuk waktu yang sama. Kondisi yang berkembang di lapangan
adalah terjadi perbedaan periode yang cukup signifikan antar kepengurusan
dalam hal ini masa periodisasi antar elemen di KM-ITB. Hal ini kadang menjadi
tantangan tersendiri dalam menjalankan sistem secara ideal mengingat tak
jarang isu internal menjadi kendala awal sebelum terjadi pergerakan yang lebih
besar.

Perbaikan terhadap masa periodisasi juga kian memerlukan perhatian yang


cukup intensif menjelang peraturan baru pemerintah tentang masa studi
maksimal mahasiswa sarjana dan besarnya biaya kuliah yang dijadikan uang
kuliah tunggal. Hal ini tentu kemudian menggiring kita kepada pilihan solusi
perbaikan mekanisme keberjalanan organisasi melalui perbaikan di masa
periodisasi. Kondisi terkini, untuk menjalankan kemahasiswaan terpusat,
seorang kader harus menginvestasikan paling sedikit satu semester tambahan
untuk berperan aktif menjalankan kemahasiswaan terpusat. Himpunan di
tingkat jurusan memiliki masa periodisasi yang berbeda beda sehingga
menyulitkan koordinasi dan unit di tingkatan minat juga memunculkan
dinamikanya sendiri dengan keragaman pola kepengurusan yang digunakan.

Berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang telah dipaparkan sebelumnya, dan


untuk menjawab tantangan masa depan dengan tanpa melakukan perubahan
sistem kemahasiswaan secara radikal, maka berikut adalah beberapa ajuan
solusi penyesuaian terkait periodisasi yang bisa dilakukan untuk setidaknya 2-3
tahun ke depan antara lain:
i. Pendekatan A merupakan pendekatan pembiaran kondisi terkini
berjalan seperti biasa dan melakukan perubahan radikal ketika masalah
benar benar telah di depan mata dimana masa periodisasi sunggu
mempengaruhi keberjalanan keseluruhan sistem.
Kelebihan: Tidak perlu melakukan pembahasan berdasarkan asumsi
Kekurangan: Tanpa persiapan dan perlu usaha perubahan radikal
ii. Pendekatan B merupakan pendekatan pembiaran untuk kondisi
periodisasi himpunan dan unit namun melakukan penyesuaian di
kepengurusan pusat dimana dilakukan penyesuaian bertahap hingga
kepengurusan pusat dimulai pada bulan juli (oskm adalah proker
terahir)
Kelebihan: Tidak perlu menambah masa studi untuk penggerak pusat
Kekurangan: Diperlukan penyesuaian di sistem secara bertahap
iii. Pendekatan C merupakan pedekatan pemunduran angkatan dalam
kepengurusan hingga satu tahun dimana anak tingkat 2 di semester
genap telah memegang kepengurusan di himpunan dan unit, dan anak
tingkat 3 telah memegang kepengurusan di pusat.
Kelebihan: Terjadi efisiensi penggunaan waktu yang besar
Kekurangan: Kesiapan sistem dalam menjawab perubahan generasi

Setiap pendekatan pada dasarnya memiliki kelebihan dan selalu ada solusi
terkait pengembangan dalam menanggapi kekurangan dari setiap pendekatan.
Namun pembahasan pendekatan ini perlu dilakukan lebih mendalam dan
melibatkan seluruh pihak yang mewakili tiap kepentingan untuk seutuhnya
menghasilkan kesepakatan yang bukan hanya disetujui bersama namun siap
digerakkan serentak.

b. Optimalisasi Fungsi Legislasi Kemahasiswaan Terpusat


Pada dasarnya, telah tersebutkan dalam konsepsi KM-ITB bahwa Kongres KM-
ITB adalah penentu arah gerak dari kemahasiswaan ITB secara terpusat.
Sejatinya pada frasa ini apabila kita maknai lebih dalam terdapat sejumlah
peluang yang dapat dioptimalkan untuk mengoptimalkan kerja dari sistem KM-
ITB. Optimalisasi baik dari segi sistem dan sumberdaya harus dilakukan untuk
merevitalisasi fungsi legislasi secara terpusat. Dalam beberapa analisis diperoleh
beberapa manfaat apabila keberjalanan fungsi legislasi kemahasiswaan terpusat
dapat berjalan dengan optimal antara lain:
i. Penentuan tugas dan wewenang yang tegas antar badan kelengkapan
KM-ITB seharusnya dapat dilakukan dengan baik melalui sistem legislasi
terpusat sehingga tidak terjadi tumpang tindih ataupun aktivitas yang
kontraproduktif antar lembaga kelengkapan
ii. Penentuan koordinasi di tataran perencanaan antar lembaga dapat
dilakukan sebagai tindakan preventif konflik kepentingan antar lembaga
di elemen KM-ITB
iii. Penyamaan standar dan integrasi beberapa proses serta sinergisasi
gerakan untuk seluruh elemen KM-ITB dapan dipermudah dalam forum
legislasi
iv. Penyesuaian periodisasi tidak terlalu sulit untuk dilakukan mengingat
fungsi legislasi di KM-ITB yang bersifat kontinu sehingga ketetapan yang
diberlakukan dapat dipegang secara berkelanjutan
v. Pengorganisasian pergerakan yang lebih efektif efisien dan optimal baik
dalam aspek pemenuhan kebutuhan, pendidikan, dan aktualisasi
menyesuaikan atas wewenang dan tugas di sektor masing masing

Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari optimalisasi fungsi legislasi


terpusat ini secara umu dapat disimpulkan disebabkan karena potensi lembaga
itu sendiri yang merupakan perwakilan kelengkapan di tingkat sektoral serta
sifat kelembagaan yang kontinu dengan amanah yang begitu tinggi. Oleh sebab
itu optimalisasi ini harus dilakukan dalam beberapa sektor utama yakni
revitalisasi terkait mekanisme kerja dan metode serta teknis pelaksanaan peran
tugas pokok dan fungsi yang dijalankan oleh lembaga legislasi pusat. Selain itu
peningkatan kualitas sumberdaya yang duduk dalam kelembagaan harus dapat
seutuhnya mewakili setiap badan kelengkapan di tingkat sektoral dan memiliki
kualitas yang mumpuni dalam mendukung perannya yang sangat strategis.

c. Penyesuaian Kurikulum Kaderisasi


Salah satu prasyarat lain dalam melaksanakan sistem kemahasiswaan yang
terintegrasi tentu diperlukan suatu standar bersama dalam sistem regenerasi
yang berlaku. Dalam hal ini, mengingat peserta kader yang akan melalui proses
pendidikan dengan memanfaatkan potensi fasilitas yang beragam baik akibat
motivasi ataupun kondisi kemahasiswaan, dengan didukung kelengkapan data
dokumentasi pencapaian kader tentu diperlukan standar pendidikan yang
diakui sebagai konstitusi kurikulum kaderisasi bersama satu KM-ITB.

Mimpin ini diwujudkan sebagai rumusan dokumen yang kemudian disepakati


sebagai Rancangan Umum Kaderisasi KM-ITB yang disahkan pada awal tahun
2010. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada pihak yang
berkecimpung langsung dalam perumusan RUK ini dinyatakan bahwa RUK
merupakan kajian simpulan atau benang merah yang ditarik dari esensi
perkembangan proses pendidikan di tingkat sektoral. Tarikan benang merah ini
kemudian dikaji dan dilengkapi dengan aspek aspek fundamental dengan
tujuan pembentukan standar pencapaian kader alumni ITB yang ideal.
Berangkat dari proses panjang ini, kemudian disahkanlah RUK KM-ITB sebagai
dokumen bersama.

Namun seiring perkembangannya, penerapan RUK KM-ITB tidak seperti yang


diimpikan. Beberapa lembaga ternyata menanggapi penerapan RUK KM-ITB
dalam level yang berbeda beda seperti dijelaskan pada bagian berikutnya.
Berdasarkan hasil survey terakhir yang dilakukan perbedaan ini muncul akibat
dari perbedaan pandangan dalam menanggapi RUK KM-ITB serta besarnya
pengaruh kultural di lembaga terkait. Tahun ketika tulisan ini ditulis, adalah
tahun kelima RUK KM-ITB berlaku, tentu berdarkan relevansi suatu dokumen
dalam usia ini sudah semestinya mengalami tinjauan ulang untuk memastikan
kesesuaian dokumen dengan kondisi realita yang berkembang. Proses yang
sama kemudian dilakukan dengan melakukan pemetaan kepada lembaga di
tingkat sektoral tentang nilai kaderisasi. Ditemui bahwa tidak terjadi perubahan
yang signifikan terkait konsep nilai dan cita cita kaderisasi yang tumbuh di
himpunan terutama sehingga dapat dikatakan untuk segi dokumen, RUK KM-ITB
dari segi dasar pembentukan masih dapat dikatakan relevan.

Namun berbeda dengan konsep, berbeda juga dengan apa yang


diimplementasikan di lapangan. Tataran nilai mungkin relatif statis, namun
tataran metode begitu dinamis sesuai dengan perkembangan zaman. Perubahan
ini kemudian memicu kepada urgensi untuk melaksanakan tinjauan kembali
terhadap detail profil yang ada dalam RUK KM-ITB. Namun sebelum melakukan
perubahan pada tataran profil, diperlukan penjaminan atas kelangsungan esensi
yang kita yakini belum mengalami perubahan secara drastis. Berdasarkan hal
tersebut berikut akan dijabarkan beberapa pendekatan penerjemahan RUK KM-
ITB di aspek esensi untuk menjadi dasar perumusan dokumen RUK KM-ITB baru
di masa mendatang. Penerapan esensi dalam RUK KM-ITB dalam beberapa nilai
dapat digolongkan dalam beberapa tahap antara lain:
i. Masa Orientasi
Merupakan masa pengenalan dalam lingkungan baru pada seorang kader
dengan beberapa profil utama antara lain:
a. Memaknai esensi keberlangsungan kegiatan dari aspek
pendidikan dan pembangunan bangsa
b. Memaknai identitas diri sebagai konsekuensi atas status di
lingkungan yang baru
c. Mampu merumuskan dan memiliki tujuan dan rancangan
pencapaian sebagai bagian dari kelansungan hidup
d. Mengetahui kultur dan budaya yang berlaku dalam lingkungan
serta memiliki standar kompetensi minimal sebagai calon kader
e. Mengetahui potensi dan peluang fasilitas dan ruang aktivitas di
lingkungannya untuk dioptimalkan kemudian
#contoh metode: masa orientasi anggota baru dan pengenalan
lingkungan baru

ii. Masa Berkarya dan Berkegiatan Aktif


Merupakan masa berkegiatan di lembaga masing masing untuk
mengenal lebih aktif terkait aktivitas kemahasiswaan dengan profil
sebagai berikut:
a. Mendukung program kerja dan visi serta keberjalanan
kepengurusan di lembaga
b. Mampu menilai dan mengapresiasi ragam kegiatan di kampus
baik secara kelembagaan maupun sistem
c. Mengembangkan pola pikir kritis dan keterbukaan komunikasi
dalam pelaksanaan kegiatan di lingkungan kemahasiswaan
d. Memiki karakter optimis dalam menganalisis permasalahan dan
memunculkan solusi konstruktif
#contoh metode: menjadi panitia di lembaga ataupun turut serta
sebagai anggota dalam kepengurusan
iii. Masa Eksekutif dan Penentu Kebijakan
Merupakan masa berkegiatan dalam jangka satu kepengurusan untuk
menjamin keberlangsungan kepengurusan suatu lembaga dengan profil
sebagai berikut:
a. Menjunjung dan bertanggungjawab atas tujuan dan memimpin
keberjalanan rumah tangga di lembaga masing masing
b. Mengaktualisasi nilai dan mengembangkan pola pikir terbuka
demi pengembangan organisasi
c. Mewujudkan lingkungan yang kondusif dalam menjalankan
pemenuhan kebutuhan dasar, kaderisasi, dan aktualisasi
d. Memiliki keterbukaan pemikiran optimalisasi potensi demi
berkontribusi dalam tatanan sosial masyarakat
#contoh metode: menjadi pengurus lembaga baik di eksekutif
ataupun legislatif ataupun ketua panitia besar

iv. Masa Penjaga Kelangsungan Nilai


Merupakan masa pasca melangsukan suatu tahapan sehingga telah
memaknai tahapan tersebut dan menerima pendidikan dari hasil proses
dengan profil sebagai berikut:
a. Memberi pertimbangan dan masukan konstruktif terhadap
dinamika kelembagaan
b. Memastikan kelangsungan dan penjaminan keberjalanan nilai
dalam proses kegiatan kelembagaan
c. Memahami potensi dan ragam kegiatan kampus secara lebih
mendalam dan menyeluruh
#contoh metode: pasca menjadi panitia inti ataupun badan
pengurus di lembaga

v. Masa Persiapan Alumni


Merupakan tahapan akhir persiapan sebelum seutuhnya terjun sebagai
anggota masyarakat dengan profil sebagai berikut:
a. Memaknai seluruh proses yang berjalan di kampus sebagai
bagian dari pendidikan
b. Memahami peran dan siap mengembangkan keilmuan dan bakat
serta siap memposisikan diri sebagai anggota masyarakat
c. Memiliki visi yang utuh menyongsong status barunya sebagai
alumni berpendidikan
#contoh metode: persiapan akhir dalam status mahasiswa
menjelang kelulusan

Secara mendasar, penjelasan profil di atas adalan tarikan makna dalam


berkegiatan yang dapat dilansungkan di seluruh badan kelengkapan KM-ITB.
Pada dasarnya, untuk penerapan yang lebih dinamis, pendekatan masa lebih
fleksible daripada pendekatan tahun mengingat perbedaan yang besar dalam
keragaman kegiatan yang berkembang di kampus, Hal ini juga memberikan
ruang yang lebih luas untuk analisis yang lebih mendalam di setiap lembaga
masing masing.

Meningat RUK masih dalam kondisi yang cukup revan untuk penerapan, tahapan
penarikan makna dari setiap profil diharapkan dapat menuntun perumusan
dokumen standar baru dalam aspek kaderisasi. Penjaminan esensi harus tetap
dilakukan demi kelestarian nilai yang berkembang di kemahasiswaan. Kritis
terhadap metode harus berkembang namun penggantian metode dengan
mengesampingkan esensi mungkin adalah sikap yang kurang bijak untuk
dilakukan di kemahasiswaan.

Pertimbangan rekomendasi di atas beberapa hanya merupakan pemicu awal permukaan untuk
kemudian dapat diperinci lebih jauh demi menunjang penerapan yang akan dilangsungkan di
lembaga masing masing. Penjelasan dan penerjemahan metode bersifat umum ditujukan demi
peluang untuk diadopsi dalam kegiatan yang beragam di lapisan elemen kemahasiswaan yang
sangat variatif. Berdasarkan dokumen yang disusun, partisipasi dan kesadaran bersama untuk
menjalin koordinasi yang intensif adalah kunci utama dalam keberlangsungan organisasi.
Dengan pertimbangan yang matang mulai dari aspek konsep yang berkembang dari masa ke
masa, pendekatan teroritik, dan data lapangan yang terjadi, diharapkan mampu menghasilkan
rumusan rekomendasi keberjalanan kemahasiswaan yang lebih efektif, efisien, dan optimal
melalui integrasi dan sinergisasi dalam kesatuan sistem.