Anda di halaman 1dari 20

Teori Konflik Lewis Alfred Coser

Ahmad yusuf
Romidah Dayen Putri Rezeky Septian F. Gultom Alendi

Biografi Coser
Lewis Alfred Coser adalah anak dari keluarga Yahudi borjuis, dilahirkan di Berlin, Jerman tahun 1913. Meskipun dari keluarga kaya dia lebih memilih anti kemapanan, sejak muda sudah bergabung dengan pergerakan sosialis. Setelah perang dunia ke 2, ia mengajar di Universitas Chicago dan Universitas Brandeis, namun gelar Ph.D-nya didapat dari Universitas Columbia tahun 1968. Gelar guru besar dia dapat dari Universita Brandeis, dan di universitas itulah ia banyak berkiprah di bidang sosiologi. 1975 ia terpilih menjadi Presiden ASA (American Scoiological Assocation) dan itulah kegiatan di luar kampus yang sangat mendukung academic performance Couser. Karya Couser yang sangat fenomenal dan monumental adalah The Function of Social Conflict. Dalam buku ini terdapat 16 proposional yang dikutip dari Georg Simmel dan kemudian dikembangkan menjadi penjelasan-penjelasan tentang teori konflik yang menarik

Coser banyak mengembangkan perspektif George Simmel dalam karya-karya sosiologinya. Karena itu Coser masuk ke dalam tokoh fungsionalisme konflik modern. Jika kaum fungsionalisme melihat konflik itu disfungsional, Coser melihat konflik secara fungsional, konflik merupakan bentuk interaksi yang tunduk pada perubahan, konflik dapat memperkuat identitas ingroup, sumber kohesi, dan dapat disalurkan lewat lembaga katup penyelamat (safety valve). Konflik adalah tanda-tanda kehidupan, konflik bisa berupa konflik realistis yang lahir dari kekecewaan atas tuntutan-tuntutan dari hubungan sosial, dan konflik non realistik yang merupakan kebutuhan untuk meredakan ketegangan, seperti lewat [i]pengkambinghitaman.

TEORI KONFLIK
Teori konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula.

Teori ini didasarkan pada pemilikan saranasarana produksi sebagai unsur pokok pemisahan kelas dalam masyarakat. Konflik juga memiliki kaitan yang erat dengan struktur dan juga konsensus. [1]

Selama dua puluh tahun Lewis. A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tekanan pada struktrul sosial. Pada saat yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Coser mengungkapkan komitmennya pada kemungkinan menyatukan pendekatan teori fungsional struktural dan teori konflik. Coser mengakui beberapa susunan struktural merupakan hasil persetujuan dan konsensus, suatu proses yang ditonjolkan oleh kaum fungsional struktural, tetapi dia juga menunjukkan pada proses lain yaitu konflik sosial.

Teori konflik yang dikemukakan oleh Lewis Coser sering kali disebut teori fungsionalisme konflik karena ia menekankan fungsi konflik bagi sistem sosial atau masyarakat. Lewis Coser memusatkan perhatiannya pada fungsi-fungsi dari konflik. Bahwa uraian Coser terhadap konflik bersifat fungsional dan terarah kepada pengintegrasian teori konflik dan teori fungsionalisme struktural. Tetapi sebetulnya kalau ia mau konsekuen dengan usahanya itu maka ia juga harus menguraikan akibat-akibat dari keteraturan (order) terhadap konflik atau ketidakseimbangan. Misalnya, penekanan yang terlalu banyak terhadap peraturan biasa menimbulkan ketidakstabilan. Pemerintahan yang totaliter misalnya, sekalipun menekankan aturan yang ketat bisa menimbulkan ketidakstabilan didalam masyarakat.[2]

GAGASAN-GAGASAN COSER
Pada sisi lain dalam pemikiran teori konflik, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Coser sepakat pada fungsi konflik sosial dalam sistem sosial, lebih khususnya dalam hubungannya pada kelembagaan yang kaku, perkembangan teknis, dan produktivitas, dan kemudian konsen pada hubungan antara konflik dan perubahan sosial.

Pokok teori konflik yang disampaikan oleh Coser antara lain adalah: 1. Mengenai fungsi-fungsi konflik sosial 2. Katup Penyelamat (Savety Valve) 3. Konflik Realistis & Non-Realistis 4. Permusuhan Dalam Hubungan Sosial-Sosial yang Intim 5. Isu Fungsionalitas konflik 6. Kondisi Konflik antara Kelompok Dalam (In-Group) dengan Kelompok Luar (Out Group)

FUNGSI-FUNGSI KONFLIK SOSIAL


Konflik pada dasarnya merupakan suatu pertentangan/pertikaian sosial . Tetapi konflik dapat juga merupakan suatu proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan struktur sosial. Konflik dapat menetapkan batas antara dua atau lebih kelompok. Fungsi positif dari konflik dapat dilihat dalam gambaran bilamana suatu kelompok itu mengalami konflik dengan out-group.

Konflik yang sedang berlangsung dengan out-group dapat memperkuat identitas dari anggota kelompok tersebut. Salah satu hal yang membedakan Coser dari pendukung teori konflik lainnya ialah bahwa ia menekankan pentingnya konflik untuk mempertahankan keutuhan kelompok. Padahal pendukung teori konflik lainnya memusatkan analisa mereka pada konflik sebagai penyebab perubahan sosial. Dan juga coser menyebutkan beberapa fungsi dari konflik yang antara lain adalah :

a. Konflik dapat memperkuat solidaritas suatu kelompok yang agak longgar. b. Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas didalam kelompok tersebut dan solidaritas itu bisa menghantarnya kepada aliansi-aliansi dengan kelompok-kelompok lain. c. Konflik juga bisa menyebabkan anggotaanggota masyarakat yang terisolir menjadi berperan secara aktif. d. Konflik juga bisa berfungsi untuk berkomunikasi

KATUP PENYELAMAT
Katup penyelamat/safety value ialah salah satu mekanisme khusus yag dapat dipakai untuk mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik sosial .Katup penyelamat mengatur bilamana terjadi suatu konflik tidak merusak semua struktur yang ada,katup penyelamat membantu memperbaiki keadaan suatu kelompok yang mengalami konflik. Dengan demikian praktek atau institusi katup penyelamat memungkinkan pengungkapan rasa tidak puas terhadap struktur. DPR atau DPRD, dapat berfungsi sebagai katup penyelamat,karena merupakan tempat untuk menyalurkan suara/aspirasi rakyat tetapi menurut saya sekarang realitanya sangat mengenaskan, bahwa para anggota DPR sekarang ini seakan tidak memperdulikan rakyatnya tetapi hanya peduli pada dirinya sendiri .

Menurut Coser, lewat katup penyelamat (safety-value) itu permusuhan dihambat agar tidak berpaling melawan obyek aslinya. Tetapi penggantian yang demikian mencakup juga biaya bagi sistem sosial maupun bagi indiviidu: mengurangi tekanan untuk menyempurnakan sistem untuk memenuhi kondisi-kondisi yang sedang berubah maupun membendung ketegangan dalam diri individu, menciptakan kemungkinan tumbuhnya ledakan-ledakan destruktif.[5]

KONFLIK REALISTIS & NONREALISTIS


Dalam membahas berbagai situasi Coser memberi perbedaan konflik menjadi 2 antara lain adalah konflik realistis & non-realistis . Konflik yang realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang yang terjadi dalam hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan,dan ditujukan kepada pihak yang dianggap mengecewakan. Contohnya adalah para mahasiswa yang mengadakan demo kepada pihak rektorat karena merasa tidak puas terhadap sistem pembelajaran yang selama ini telah dilaksanakan, dimana pihak rektorat memegang kekuasaan penuh atas semua sistem pembelajaran yang ada di dalam universitas

Konflik sosial yang tidak realistis adalah konflik yang bukan berasal dari tujuan saingan-saingan yang antagonis, tetapi berasal dari hubungan untuk meredakan ketegangan, minimal meredakan dari salah satu pihak. contohnya adalah pada saat pemilu ,bilamana salah satu calon merasa akan kalah dengan pesaingnya di pemilihan nanti mungkin ia akan melakukan cara yang ilegal/melakukan kecurangan pada saat pemilu yang sangat merugikan pada pihak lawan, mungkin saja dengan cara yang kejam yaitu dengan membunuh pesaingnya dengan membayar melalui pembunuh bayaran atau yang lainya.

Dengan demikian dalam satu situasi bisa terdapat elemen-elemen konflik realistis dan non realistis. Konflik realistis khususnya dapat diikuti oleh sentimen-sentimen yang secara emosional mengalami distorsi oleh karena pengungkapan ketegangan tidak mungkin terjadi dalam situasi konflik yang lain. Pemogokan melawan majikan, misalnya dapat berupa sifat-sifat permusuhan tak hanya sebagai akibat dari ketegangan hubungan antara rakyat dan penguasa, akan tetapi boleh jadi juga oleh karena ketidakmampuan menghilangkan rasa permusuhan terhadap figur-figur yang berkuasa. Dengan demikian energi-energi agresif mungkin terkumpul dalam proses-proses interaksi lain sebelum ketegangan dalam situasi konflik diredakan.[6]

ISU FUNGSIONALITAS KONFLIK


Konflik dapat secara positif fungsional sejauh ia memperkuat kelompok dan secara negatif fungsional sejauh ia bergerak melawan struktur. Coser mengutip hasil pengamatan Simmel yang menunjukkan bahwa konflik mungkin positif sebab dapat meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu kelompok dengan memantapkan keutuhan dan keseimbangan. Peningkatan konflik dalam kelompok dapat dihubungkan dengan peningkatan interaksi dengan dan ke dalam masyarakat secara keseluruhan.

Coser juga menambahkan bahwa masyarakat yang berstruktur longgar ,terbuka dan demokratis membangun perlindungan suatu nilai inti dengan cara dengan membiarkan konflik itu berkembang di sekitar masalah-masalah yang tidak mendasar. Amerika sebagai contohnya dari masyarakat berstruktur longgar dan terbuka dimana pada negara tersebut terdapat suatu konflik mengenai berbagai masalah, mulai dari abortus ,nuklir dan masalah perpajakan. Oleh karena masalah-masalah tersebut tidak menyangkut nilai-nilai inti ,maka konflik yang seperti ini tak membahayakan struktur sosial. Ini malah dapat meningkatkan solidarotas struktural di mana berbagai kelompok bisa memiliki pandangan yang berbeda tetapi dengan masalah yang berbeda pula.

KRITIK TERHADAP STRUKTURALISME KONFLIK


Coser lebih menganggap bahwa teori konflik itu sebagai teori persial daripada suatu pendekatan yang lebih dapat menjelaskan seluruh realitas sosial. Karya-karya couser juga mengandung kelemahan-kelemahan metodelogis dan di dalam teori couser terdapat suatu kesan penalaran yang berbeit-belit.

Syuron
By Ahmad Yusuf Alendi Dayen Putri Rezeky Romidah Septian F. Gultom