Anda di halaman 1dari 26

Makalah Seminar Studi Pustaka

1
TEMPERATUR INKUBASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP

PERKEMBANGAN TULANG AYAM RAS PEDAGING

ARISMAN
I11113503

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
Makalah Seminar Studi Pustaka

2
TEMPERATUR INKUBASI DAN PENGARUHNYA TERHADAP

PERKEMBANGAN TULANG AYAM RAS PEDAGING

ARISMAN
I11113503

Disusun sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan pada Mata Kuliah Seminar Studi
Pustaka Program Studi Peternakan Fakultas Peternakan

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
HALAMAN PENGESAHAN

3
Nama : Arisman

NIM : I11113503

Bagian : Produksi Ternak

Judul : Temperatur Inkubasi Dan Pengaruhnya Terhadap


Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging

Makassar, Maret 2017

Telah Disetujui :

Panitia Seminar Pembimbing

Muh. Rachman Hakim, S.Pt.,MP Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc


NIP. 19810207 201404 1 002 NIP. 19640503 199003 1 002

Mengetahui
Ketua Program Studi Peternakan

Prof. Dr. drh. Hj. Ratmawati Malaka, M.Sc


NIP. 19640712 198911 2 002
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan seluruh rahmat dan

hidayah-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan makalah seminar studi pustaka

tertulis yang berjudul Temperatur Inkubasi Yang Berbeda dan Pengaruhnya

4
Terhadap Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging. Shalawat serta salam juga

kami junjungkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai suri tauladan bagi umatnya.

Makalah studi pustaka ini disusun sebagai salah satu syarat kelulusan pada

Mata Kuliah Seminar Studi Pustaka. Dengan terselesaikannya makalah tertulis ini,

penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. Ir. Wempie Pakiding, M.Sc, selaku Pembimbing

2. Daryatmo, S.Pt, MP, selaku pembahas

3. Muhammad Rachman Hakim, S.Pt., M.P, selaku Pembahas sekaligus Panitia

Pelaksana Seminar Studi Pustaka Departemen Produksi Ternak

4. Serta semua pihak yang turut membantu terselesaikannya makalah seminar studi

pustaka ini yang tidak dapat kami sebutkan satu per-satu

Penulis menyadari bahwa gagasan ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena

itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan guna kebaikan bersama. Semoga

makalah tertulis ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan bagi kami

pada khususnya.

Hormat Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

5
HALAMAN PENGESAHAN
........................................................................................................................
........................................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR
........................................................................................................................
........................................................................................................................

iv

DAFTAR ISI
........................................................................................................................
........................................................................................................................

DAFTAR TABEL
........................................................................................................................
........................................................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR
........................................................................................................................
........................................................................................................................

vii

PENDAHULUAN
........................................................................................................................
........................................................................................................................

PERMASALAHAN
........................................................................................................................
........................................................................................................................

6
PEMBAHASAN
........................................................................................................................
........................................................................................................................

Gambaran Umum Ayam Ras Pedaging


...................................................................................................................
...................................................................................................................

Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging


...................................................................................................................

...................................................................................................................

Peranan Suhu Selama Penetasan


...................................................................................................................
...................................................................................................................

Pengaruh Suhu terhadap Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging


...................................................................................................................
...................................................................................................................

PENUTUP
.................................................................................................................

.................................................................................................................

13

DAFTAR PUSTAKA
.................................................................................................................
.................................................................................................................

14

7
DAFTAR TABEL

No.

1. Pengaruh Suhu terhadap Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging


............................................................................................................11

8
DAFTAR GAMBAR

No.

1. Tibia yang normal dan tibia dengan Tibial Dyschondroplasia........... 5

PENDAHULUAN

Ayam ras pedaging merupakan ayam yang memiliki genetik dapat

menghasilkan bobot badan yang tinggi dalam waktu singkat. Bobot badan ayam ras

pedaging pada umur 35 hari pada strain Cobb mencapai 1.970 g, strain Hubbard

1.976 g dan strain Hybro 1.898 g (Risjanati, D., 2012). Namun, hal ini tidak

9
diimbangi dengan perkembangan organ dalam serta struktur tulang yang baik.

Pertambahan berat badan yang besar dalam waktu yang cepat ketika tidak diimbangi

dengan kaki yang kokoh untuk menopang, pada akhirnya menyebabkan ayam

menjadi lebih mudah lumpuh (Leg Problem). Leg Problem pada broiler memiliki

prevalensi yang sangat tinggi dalam sistem produksi konvensional (Sanotra et al.,

2001).

Leg problem adalah kelumpuhan yang terjadi pada ayam broiler.

Kelumpuhan yang sering terjadi pada ayam ras pedaging adalah Tibialis

Dyschondroplasia (TD) terjadi pada umur 3 sampai 8 minggu (Almeida et al., 2004).

Jika hal ini terjadi berkelanjutan, maka akan berdampak negatif yaitu menyebabkan

kerugian ekonomi bagi industri perunggasan, karena hal ini mengakibatkan jumlah

kematian yang lebih tinggi dari pada ayam afkir dan karkas ayam yang rusak.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau mengurangi

kejadian kelumpuhan pada ayam ras pedaging, salah satunya adalah dengan

penanganan sejak proses inkubasi (penetasan) melalui pengaturan suhu karena

menurut Church and Johnsosn, 1964; Applegate and Lilburn (2002) Perkembangan

tulang dimulai sejak masa pertumbuhan dan perkembangan embrio saat proses

inkubasi selama penetasan.

Usaha komersil peternakan pada dasarnya menggunakan suhu inkubasi

penetasan yaitu 36-380C. Namun, dengan suhu ini, perkembangan tulang pada masa

embrio tidak terlalu mendukung sehingga menyebabkan banyak terjadi kelumpuhan

pada ayam ras pedaging pada saat pemeliharaan. Maka dari itu, pengaturan suhu

2
inkubasi yang tepat dapat berdampak baik pada pertumbuhan tulang pada masa

embrio dan mengurangi tingkat kejadian kelumpuhan pada ayam ras pedaging.

PERMASALAHAN

Berbagai hasil penelitian melaporkan bahwa seiring perkembangan genetik

ayam ras pedaging dengan pertambahan bobot badan yang sangat cepat dalam waktu

yang singkat, dapat menyebabkan kelumpuhan pada ayam ras pedaging yang

berdampak negatif terhadap industri perunggasan. Untuk itu, dibutuhkan solusi untuk

mengatasi atau mengurangi kejadian tersebut yaitu dengan cara penanganan sejak

proses penetasan dengan mengatur suhu yang tepat dalam perkembangan tulang pada

saat embrio. Makalah ini akan menguraikan beberapa hasil studi mengenai

temperatur inkubasi dan pengaruhnya terhadap perkembangan tulang ayam ras

pedaging.

PEMBAHASAN

Gambaran Umum Ayam Ras Pedaging

3
Ayam ras pedaging merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam

Cornish dengan Plymouth Rock, yang mana memiliki karakteristik ekonomis,

pertumbuhannya yang cepat dalam menghasilkan daging, konversi pakan yang rendah,

waktu pemeliharaan hingga panen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai

penghasil daging yang serat lunak (Murtidjo, 1987). Ayam ras pedaging memiliki

pertambahan bobot badan per hari yang bervariasi berdasarkan strainnya. Dalam cobb-

vantress (2015) rata-rata pertambahan bobot badan per hari ayam strain cobb yang

dipelihara selama 35 hari yaitu jantan 65,7 g dan betina 59,5 g. Strain Ross jantan 65,2

dan betina 57,3 (Aviagen, 2014) dan Strain Lohmann jantan 60,7 g, betina 52,2 g

(Aviagen, 2007)

Jull (1978) mengemukakan bahwa, pertumbuhan ayam pedaging relatif lebih

cepat terjadi sampai umur enam minggu pertama. Pada umumnya setiap kenaikan umur

dua minggu akan menghasilkan berat badan dua kali lipat dari berat badan sebelumnya

sampai akhir minggu keenam. Selanjutnya dinyatakan bahwa pertambahan berat badan

ayam setiap minggunya tidak sama dan pertambahan berat badan akan lebih rendah

setelah dua belas minggu. Pertumbuhan juga dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu

lingkungan dimana ayam dipelihara, penyakit dan genetik.

Ayam ras pedaging yang performanya rendah mengakibatkan kekebalan

tubuhnya rendah terhadap penyakit, sehingga memungkinkan ayam mudah terserang

penyakit (Mulyana, 2008). Penyebab inti permasalahan performa ayam pedaging yang

rendah diakibatkan oleh asal bibit dan manajemen pemeliharaan, sarana dan prasarana

yang kurang, serta terlambatnya pemberian pakan dapat menyebabkan performa ayam

pedaging rendah. Pemecahan masalah untuk ayam pedaging yang performanya rendah

4
dan tidak memenuhi standar adalah dengan pemilihan bibit yang baik, pemilihan DOC

yang baik, mengetahui pertumbuhan dan standar produksi serta pemberian ransum

(Marjuman, 1995).

Sering dialami dalam usaha ayam ras pedaging banyak yang mengalami

kelumpuhan. Menurut Nehad et al., (2015) kadang-kadang kelumpuhan ini bisa

mencapai 40-50% khususnya bagi ayam yang umurnya lebih dari satu bulan.

Kelumpuhan ini terjadi karena faktor pembawaan (bibit) atau tata laksana yang

keliru. Peebles et al., (2006) mengemukakan bahwa Secara genetik ayam ras

pedaging modern saat ini dibentuk agar mempunyai otot atau daging dada yang lebih

besar dengan pertumbuhan yang cepat. Targetnya, berat badan di minggu pertama

bisa meningkat 4-5 kali dari berat badan awal (berat badan DOC). Namun, hal ini

tidak diimbangi dengan perkembangan organ dalam serta struktur tulang yang baik.

Pertambahan berat badan yang besar dalam waktu yang cepat ketika tidak diimbangi

dengan kaki yang kokoh untuk menopang, pada akhirnya menyebabkan ayam

menjadi lebih mudah lumpuh.

Menurut Chawak et al., (2011) Tibialis Dyschondroplasia (TD) adalah

penyebab utama dari kepincangan/kelumpuhan pada ayam ras pedaging. TD dapat

menyebabkan kerugian yang sangat tinggi dalam industri perunggasan. Ayam ras

pedaging yang terkena TD dapat menyebabkan nekrosis pada bagian caput femur dan

menyebabkan osteomielitis.

Aspek yang unik dari TD adalah terjadi selama tahap awal pertumbuhan

sebelum terlihat perubahan yang terjadi pada struktur atau morfologi tulang. Hal ini

berhubungan dengan perubahan fisiologis disebabkan karena peningkatan

5
pertumbuhan yang relatif cepat pada ayam ras pedaging. Dalam populasi umur 36

hari atau lebih, 5-16% dari ayam mungkin terpengaruh. Ayam dengan abnormalitas

pada tulang akan mengalami kesulitan untuk berjalan (Alfonso-Torres et al.,2009).

Tibiotarsus proximal normal menunjukan pertumbuhan epifisis dan tulang

rawan secara merata pada persendian. Epifisis akan berkembang menjadi lapisan

tipis tulang rawan melalui kapiler-kapiler yang memanjang dari arteri pada epifisis

tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya trabeculas yang dipisahkan oleh pembuluh

metafisis yang muncul pada permukaan tulang. Sedangkan pada kejadian Tibial

Dyschondroplasia, terlihat lesi yang yang parah pada bagian tibiotarsus proximal.

Lesi pada tulang rawan menumpuk. Trabeculas memanjang dari tulang spons

memiliki ukuran yang normal tetapi tidak memiliki susunan yang teratur (Hargest et

al., 1985).

a b

Gambar 1. Tibia yang normal dan tibia dengan Tibial Dyschondroplasia (Hargest et al.,
1985)
Keterangan : a. Tibia normal, b. Tibia yang mengalami Tibial Dyschondroplasia, A=
epiphyseal plate, P= Proximal, M=Mid, D=Dista, -- = Daerah lesi, =
epiphyseal growth plate

Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging

6
Tulang merupakan jaringan peyokong utama tubuh yang struktur

pembentuknya terdiri dari unsur organik dan anorganik. Unsur organik terdiri dari

protein, mukopolisakarida (rantai protein dengan polisakarida berulang) dan

kondroitin sulfat, sedangkan unsur anorganik dalam tulang didominasi oleh ion

kalsium dan posfor. Selain kalsium dan posfor, didalam tulang juga terkandung ion

magnesium, karbonat, hidroksil, klorida, fluorida dan sitrat dalam jumlah yang lebih

sedikit. Sebanyak 65% berat tulang kering terbentuk dari garam-garam anorganik,

sedangkan 35% lainnya terbentuk dari substansi dasar organik dan serat kolagen.

Sebesar 85% dari seluruh garam yang terdapat pada tulang merupakan kalsium

fosfat, dan 10% dalam bentuk kalsium karbonat. Lebih kurang 97% kalsium dan

46% natrium yang ada dalam tubuh terdapat pada tulang (Murtidjo, 1987).

Tulang terdiri dari dua komponen yaitu tulang kortikal atau kompak dan

tulang trabekular atau spongiosa. Bagian-bagian tulang panjang terdiri dari diafisis,

metafisis dan epifisis. Diafisis atau batang adalah bagian tengah tulang yang

berbentuk silinder. Metafisis adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir

batang. Metafisis menopang sendi dan menyediakan daerah yang cukup luas untuk

perlekatan tendon dan ligamen pada epifisis. Lempeng epifisis adalah daerah

pertumbuhan longitudinal pada hewan yang berada pada masa pertumbuhan

(Farquharson et al., 2000).

Pembentukan tulang pada ayam ras pedaging dimulai sejak embrio yaitu

umur 4 sampai 7 hari (Hammond et al., 2007). Pada awal perkembangan embrio

ayam, kerangka seluruhnya terbuat dari tulang rawan. Tulang rawan yang relatif

7
lunak secara bertahap berubah menjadi tulang keras melalui osifikasi. Ini adalah

proses di mana deposit mineral menggantikan tulang rawan (Compston et al., 2001).

Ayam memiliki rangka tubuh ketika dalam tahap perkembangan embrio.

Rangka tubuh dalam masa embrio masih berupa tulang rawan (kartilago). Kartilago

dibentuk oleh sel-sel mesenkim. Di dalam kartilago tersebut akan diisi

oleh osteoblas. Osteoblas merupakan sel-sel pembentuk tulang keras. Osteoblas akan

mengisi jaringan sekelilingnya dan membentuk osteosit (sel-sel tulang). Sel-sel

tulang dibentuk secara konsentris (dari arah dalam ke luar). Setiap sel-sel tulang akan

mengelilingi pembuluh darah dan serabut saraf, membentuk sistem Havers. Selain

itu, di sekeliling sel-sel tulang ini terbentuk senyawa protein pembentuk matriks

tulang. Matriks tulang akan mengeras karena adanya garam kapur (CaCO 3) dan

garam fosfat (Ca3(PO4)2) (Carter, 1995).

Di dalam tulang terdapat sel-sel osteoklas. Sel-sel ini berfungsi menyerap

kembali sel tulang yang sudah rusak dan dihancurkan. Adanya aktivitas sel osteoklas,

tulang akan berongga. Rongga ini kelak akan berisi sumsum tulang. Osteoklas

membentuk rongga sedangkan osteoblas terus membentuk osteosit baru ke arah

permukaan luar. Dengan demikian, tulang akan bertambah besar dan berongga.

Proses pembentukan tulang keras disebut osifikasi. Proses ini dibedakan menjadi

dua, yaitu osifikasi intramembranosa dan osifikasi intrakartilagenosa. Osifikasi

intramembranosa disebut juga penulangan langsung (osifikasi primer). Proses ini

terjadi pada tulang pipih, misalnya tulang tengkorak. Penulangan ini terjadi secara

langsung dan tidak akan terulang lagi untuk selamanya. Contoh osifikasi

8
intrakartilagenosa adalah pembentukan tulang pipa. Osifikasi ini menyebabkan

tulang bertambah panjang (Whitehead, 2004).

Peranan Suhu Selama Penetasan

Berbeda dengan mamalia, embrio ayam bergantung pada nutrisi yang

disediakan oleh induknya dalam telur. Transfer nutrisi dari induk ke embrio selesai

sebelum diletakkan. Dengan demikian telur mengandung semua dari nutrisi yang

dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan embrio. Satu satunya bahan

ditukar kelingkungan adalah air (uap), oksigen dan karbon dioksida (Foye et al.,

2007).

Penetasan merupakan proses perkembangan embrio di dalam telur sampai

menetas. Penetasan telur dapat dilakukan secara alami atau buatan (Yuwanta, 1993).

Penetasan buatan lebih praktis dan efisien dibandingkan penetasan alami, dengan

kapasitasnya yang lebih besar. Penetasan dengan mesin tetas juga dapat

meningkatkan daya tetas telur karena temperaturnya dapat diatur lebih stabil tetapi

memerlukan biaya dan perlakuan lebih tinggi dan intensif (Jayasamudera et al.,

2005).

Temperatur dan kelembaban dalam mesin tetas harus stabil untuk

mempertahankan kondisi telur agar tetap baik selama proses penetasan (Ningtyas et

al, 2013). Parkust et al (1998) menyatakan bahwa telur akan banyak menetas jika

berada pada temperatur antara 94-104F (36-40C). Embrio tidak toleran terhadap

9
perubahan temperatur yang drastis. Kelembaban mesin tetas sebaiknya diusahakan

tetap pada 70%. Kemudian, wilson (1991) memperjelas bahwa berdasarkan beberapa

hasil penelitian temperatur inkubasi optimum untuk penetasan telur ayam yaitu 37 oC

sampai 38oC.

Suhu inkubasi optimum biasanya didefinisikan sebagai yang diperlukan

untuk mencapai daya tetas yang maksimal. Namun, Ducuypere et al., (1992)

berpendapat bahwa kualitas anak ayam menetas harus dipertimbangkan. Pengaruh

suhu terhadap lama inkubasi (Michels et al, 1974) dan laju pertumbuhan embrio

(Romanoff et al, 1938) telah diamati dalam beberapa penelitian.

Kondisi suhu selama inkubasi diketahui mempengaruhi pemanfaatan kuning

telur, pematangan usus (Wineland et al., 2006a), metabolisme tiroid (Wineland et al.,

2006b), jantung, pengembangan otot, tingkat pertumbuhan termoregulasi dan

posthatch anak ayam yang menetas (Christensen et al., 2004). Ferguson (1994) telah

menyarankan bahwa suhu mungkin dapat mengubah seks fenotipik dari proporsi

embrio ayam. Wilson (1991) menjelaskan bahwa suhu optimum inkubasi untuk daya

tetas spesies unggas adalah antara 37oC dan 38oC

Studi terbaru menunjukkan bahwa suhu optimum mungkin berbeda antara

strain unggas atau ukuran telur yang berbeda (Christensen et al, 2004). Hormon

tiroid memainkan peran penting dalam diferensiasi pertumbuhan lempeng kondrosit

(Shao et al., 2006), dan lipid kuning telur, mineral, dan vitamin yang terlibat dalam

pembentukan dan perubahan bentuk tulang (Oviedo-Rondon et al., 2006). Akibatnya,

perubahan bentuk tulang disebabkan oleh kondisi inkubasi seperti suhu yang dapat

mempengaruhi perkembangan tulang. Sebenarnya, perbedaan kecil suhu inkubasi

10
yang diterapkan di dalam penetasan telah terbukti mempengaruhi pertumbuhan

tulang yaitu panjang tulang kaki ayam (Brookes et al., 1972).

Pengaruh Suhu Terhadap Perkembangan Tulang Ayam Ras Pedaging

Pembentukan tulang dimulai saat embrio umur 4 sampai 7 hari. Peningkatan

suhu inkubasi 1C, dari 37,5 ke 38,5C, mempengaruhi perkembangan embrio yaitu

dapat meningkatkan panjang tibia dan tulang tarsus di Leghorns (Hammond et al.,

2007). Oviedo-Rondn et al. (2008) menyimpulkan bahwa tibia broiler yang

terpanjang pada suhu 38C dibandingkan dengan suhu 36, 37, atau 39C. Mereka

juga menyimpulkan bahwa suhu lebih besar dari 37C harus dihindari untuk

memastikan pertumbuhan tulang yang optimal pada saat menetas. Suhu inkubasi

dapat mempengaruhi perkembangan otot dan tulang, tetapi mekanisme ini terjadi

tidak jelas (Maltby et al, 2004.).

Suatu studi yang dilakukan oleh Shim et al. (2011) percobaan dilakukan

selama 16 hari dengan strain broiler 450 Cobb, 500 ekor menetas dari 705 telur yang

telah diinkubasi pada suhu 36,5, 37,5 dan 38,5C pada umur embrio 4 sampai 7.

Pengaturan waktu telah disesuaikan berdasarkan Cobb-Vantress (2008), yang

berkaitan dengan suhu inkubasi sampai waktu menetas. Anak ayam dibagi dengan

rancangan acak kelompok 5 ulangan dari setiap perlakuan dan jumlah anak ayam per

ulangan yaitu 10 ekor. Prosedur umum yang digunakan dalam penelitian tersebut

yaitu anak ayam yang telah menetas diberi tanda dengan metal wing bands dan

dikandangkan selama 16 hari didalam Petersime battery brooders dengan pemanas

11
elektrik dan lantai kawat yang terangkat. Pada hari ke 16, anak ayam dibunuh dengan

pemberian karbondiokasida melalui pernafasan (carbondioxide asphyxiation).

Dalam penentuan skor dan insiden TD, Shim et al. (2011) menggunakan

tibia kanan ayam untuk dievaluasi dengan metode yang di deskripsikan oleh Edwards

dan Veltmann (1983) dengan skor 1 (ringan) sampai 3 (parah) berdasarkan tingkat

abnormalitas tibia. Hasil penelitian tersebut dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1. Pengaruh suhu terhadap perkembangan tulang ayam ras pedaging


Temperatur Lama TD Score TD Incidence Bone Ash
Inkubasi penetasan (%) (%)
(0C) (jam)
36.5 525 0.140.09 6.004.00 39.540.18
37.5 508 0.420.12 10.000.00 39.920.36
38.5 498 0.840.55 14.004.00 39.880.32
Sumber : Shim, et al,. 2011.

Berdasarkan hasil penelitian Shim, et al (2011), memperlihatkan bahwa

temperatur inkubasi dengan suhu yang lebih tinggi dari suhu normal, ayam lebih

cepat menetas, sedangkan temperatur inkubasi dengan suhu yang lebih rendah dari

suhu normal, ayam lebih lama menetas. Yalcin et al (2007) menjelaskan bahwa Suhu

lebih tinggi menyebabkan proses perkembangan dan pertumbuhan sel lebih cepat.

Oviedo-Rondon et al (2008) menyatakan lama waktu menetas pada dasarnya

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu strain ayam, umur telur, ukuran telur dan

kondisi lingkungan (suhu dan kelembaban inkubator).

Penelitian shim et al (2011) diatas memperlihatkan setelah ayam dipelihara

16 hari, ayam yang lebih cepat menetas menunjukkan tingkat kejadian Tibialis

Dyschondroplasia (TD) lebih tinggi, sedangkan ayam lebih lama menetas

menunjukkan tingkat kejadian Tibialis Dyschondroplasia (TD) lebih rendah. Oviedo-

12
Rondon et al (2008) melaporkan bahwa suhu inkubasi mempengaruhi perkembangan

tulang. Selain pengaruh suhu inkubasi, menurut Chawak et al (2011) Tibialis

Dyschondroplasia (TD) juga dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor nutrisi.

Perkembangan tulang membutuhkan kalsium dan hormon pertumbuhan. Salah satu

hormon yang berperan dalam pembentukan sel (pertumbuhan) dan pengendali utama

metabolisme adalah hormon tiroid. Mekanisme kerja hormon tersebut dapat

dipengaruhi oleh rangsangan dari luar tubuh seperti suhu lingkungan. Kemudian

(Almeida et al., 2004) melaporkan Tibialis Dyschondroplasia (TD) terjadi pada umur

3 sampai 8 minggu.

Penelitian Shim et al (2011) juga memperlihatkan bahwa kadar abu tulang

pada ayam yang menetas dengan temperatur inkubasi yang tinggi, normal dan rendah

tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan walaupun lama penetasan berbeda.

Sudarmadji (2003) menjelaskan bahwa kadar abu ada hubunganya dengan

kandungan mineral dalam tulang, unsur kimia utama yang membentuk tulang yaitu

kalsium (Ca), fosfor (P) dan Magnesium (Mg).

13
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan uraian beberapa hasil penelitian diatas, maka dapat disimpulkan

bahwa temperatur inkubasi yang tinggi pada penetasan ayam ras pedaging dapat

menyebabkan skor dan insiden TD yang tinggi. Walaupun kadar abu tulang dari

setiap temperatur inkubasi sama.

Saran

Suhu inkubasi yang digunakan dalam penetasan telur ayam ras pedaging

disarankan menggunakan suhu normal atau lebih rendah 0,5-1oC untuk menunjang

perkembangan tulang dalam embrio sehingga dapat mengurangi kejadian

kelumpuhan utamanya Tibial Dyschindroplasia (TD) pada saat ayam menetas hingga

panen.

14
DAFTAR PUSTAKA

Alfonso-Torres, K.A, L.H. Gargaglioni, J.M. Pizauro, D.E. Faria Filho,


R.L. Furlan, and M. Macari. Breeder age and bone development in broiler
chicken embryos. Arq. Bras. Med. Vet. Zootec., 61 (1) :.219-226.

Almeida I.C.L.P., A.A. Mendes., T.S. Takita., L.C. Vulcano., P.C. Guerra., F.S.
Wescheler., and R.G. Garcia. 2004. Tibial Dyschondroplasia and Bone Mineral
Density. Brazilian Journal of Poult. Sci., 6 (4) : 207 212.

Applegate, T. J., and M. S. Lilburn. 2002. Growth of the femur and


tibia of a commercial broiler line. Poult. Sci. 81:1289-1294.

Aviagen. 2007. Lohmann Meat Broiler Stock Performance Objectives. Dalam


www.incubatricipadovan.it/allegati/Lohmann.pdf. Diakses pada tanggal 14
Desember 2016 di Makassar.

Aviagen. 2014. Ross 308 Broiler Performance Objektives. Dalam


http://en.aviagen.com/ross-308/. Diakses pada tanggal 16 Desember 2016 di
Makassar.

Brookes, M., and K. U. May. 1972. The influence of temperature on bone growth in
the chick. J. Anat. 111:351363.

Carter, M. A. 1995. Anatomi dan fisiologi tulang dan sendi. In: Price, S. A., L. M.
Wilson., editor. Patofisiologi, konsep klinis proses-proses penyakit. Alih
bahasa, Anugerah, P.; editor, Wijaya, C.E.G.C.

Chawak, M.M., M. R. Reddy, M.V.L.N. Raju and S.V.R. Rao. 2011. Tibialis
Dyschondroplasia in Broilers - A Review. Project Directorate on Poultry,
Hyderabad.

Christensen, V. L., M. J. Wineland, I. Yildrum, D. T. Ort, and K. M. Mann. 2004.


Incubator temperature and oxygen concentration at the plateau stage affect
cardiac health of turkey embryos. J. Anim. Vet. Adv. 3:5265.

Church, L. E., and L. C. Johnson. 1964. Growth of long bones in chicken Rates of
growth in length diameter of humerus tibia metatarsus. Am. J. Anat. 114:521
538.

Cobb-Vantress. 2008. Cobb Hatchery Management Guide. Dalam


http://www.cobbvantress.com/contactus/brochures/Hatchery_Guide_2008.pdf.
Diakses pada tanggal 10 November 2016.

15
Cobb-Vantress. 2015. Cobb500 Broiler Performance & Nutrition Supplement. Dalam
http://www.cobb-vantress.com/academy/product-guides#cobb500. Diakses
pada tanggal 14 Desember 2016 di Makassar.
Compston, J., S. Bord, A. Horner, and S. Beavan,. 2001. Estrogen receptor alfa and
beta are differentially expressed in developing human bone. The journal of
clinical endocrinology & metabolisme. 86(5):2309-2314.

Decuypere, E., and H. Michels. 1992. Incubation temperature as a


management tool: A review. Worlds Poult. Sci. J. 48:2838.

Farquharson, C., and D. Jefferies. 2000. Chondrobytes and logitudinal bone growth:
The development of tibial dyschondroplasia. Poult. Sci. 79:9941004.

Ferguson, M. W. J. 1994. Temperature dependent sex determination and growth in


reptiles and manipulation of poultry sex by incubation temperature. Pages 380
382 in Proc. 9th European Poultry Conference. Vol. II. Worlds Poultry Science
Association, Glasgow, UK.

Foye, O.T., P.R. Ferket, and , Z. Uni. 2007. The effects of in ovo feeding arginine,
hydroxyl-methylbutyrate, and protein on jejunal digestive and absorptive
activity in embryonic and neonatal turkey poults. Poult. Sci. 86, 2343 - 2349.

Hargest, T.E., R.M. Leach, and C.V. Gay. 1985. Avian tibial dyschondroplasia. From
the Department of Molecular and Cell Biology and the Department of Poultry
Science, The Pennsylvania State University, University Park, Pennsylvania.
AJP.

Hammond, C. L., B. H. Simbi, and N. C. Stickland. 2007. In ovo


temperature manipulation influences embryonic motility and
growth of limb tissues in the chick (Gallus gallus). J. Exp. Biol.
210:26672675.

Jayasamudera, D. J dan B. Cahyono. 2005. Pembibitan Itik. Penebar Swadaya.


Jakarta.

Jull, M. A. 1978. Poultry Husbandry.4th Edition. Hill Company. Inc. Danvile, Illionis.

Marjuman, E. 1995. Pengaruh suhu kandang dan imbangan kalori-protein ransum


terhadap laju metabolisme, pertumbuhan, efisiensi, pengguna ransum, dan
deposisi lemak pada ayam broiler. Fakultas Peternakan. Universitas
Padjadjaran. Bandung.

16
Michels, H., R. Geers, and S. Muanbi. 1974. Effect of incubation temperature on pre-
hatching and post-hatching development in chickens. Br. Poult. Sci. 15:517
523.

Mulyana, Y. 2008. Manfaat suplementasi biakan murni chlorella terhadap performa


ayam broiler. [Skripsi]. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Surabaya.

Murtidjo, B.A., 1987. Pedoman Beternak Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.

Nehad, A.R., S.M. Shalash, K.E. Kloub, M.E. Moustafa, S.F. Youssef, and A.M.
Refaie. Incidence of tibial dyschondroplasia in broiler chicks at marketing age
as affected by the level of dietary chloride. Egypt. Poult. Sci., 35 (I) : 349-365.

Ningtyas, M.S., I.H. Ismoyati, dan Sulityawan. 2013. Pengaruh temperatur terhadap
daya tetas dan hasil tetas telur itik (Anas plathyrinchos). Jurnal Ilmiah
Peternakan 1 (1) : 347 352.

Oviedo-Rondn, E. O., J. Small, M. J. Wineland, V. L. Christensen, P. S. Mozdziak,


M. D. Koci, S. V. L. Funderburk, D. T. Ort, and K. M. Mann. 2008. Broiler
embryo bone development is influenced by incubator temperature, oxygen
concentration and eggshell conductance at the plateau stage in oxygen
consumption. Br. Poult. Sci. 49:666676.

Oviedo-Rondn, E. O., P. R. Ferket, and G. B. Havestein. 2006. Understanding long


bone development in broilers and turkeys. Avian Poult. Biol. Rev. 17:7788.

Parkust, C. R and Mountney. 1998. Poultry Meat and Egg Production. Van Nostrand
Reinhold. New York.

Peebles, E.D.,W.D. Berry, R.W. Keirs, L.W. Bennett, and P.D. Gerrard. 2006.
Effects of injected gluconeogenic supplementation on the performance of
broiler from young breeders. Poult. Sci., 85: 371-376.

Risnajati, D., 2012. Perbandingan bobot akhir, bobot karkas dan persentase karkas
berbagai strain broiler. Jurusan Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas
Bandung Raya. Sains Peternakan., 10 (1) : 11-14.

Romanoff, A. L., L. L. Smith, and R. A. Sullivan. 1938. Biochemistry and biophysics


of the developing hens eggs. 3. Influence of temperature. Mem. Cornell Univ.
Agric. Exp. Station 216:142.

Sanotra, G.S. J.D. Lund., A.K Ersboll,. 2001. Monitoring leg problems in broilers: A
survey of commercial broiler production in Denmark. World's Poult. Sci. J.,
57 :.55-69.

17
Shao, Y. Y., L. Wang, and R. T. Ballock. 2006. Thyroid hormone and the growth plate.
Rev. Endocr. Metab. Disord. 7:265271.

Shim, M. Y. and G. M. Pesti. 2011. Effects of incubation temperature on the bone


development of broilers. Poult. Sci. 90 :18671877.

Sudarmadji, S. 2003. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian (Edisi ke 2 ed., Vol.
III). Yogyakarta, DIY, Indonesia: Liberty Yogyakarta.

Whitehead, C. C. 2004. Overview of bone biology in the egg-laying hen. Poult. Sci.
83:193199.

Wilson, H. R. 1991. Physiological requirements of the developing embryo:


Temperature and turning. Pages 145156 in Avian Incubation. S. G. Tullett, ed.
Butterworth-Heinemann, London, UK.

Wineland, M. J., V. L. Christensen, I. Yildrum, B. D. Fairchild, D. T. Ort, and K. M.


Mann. 2006a. Incubator temperature and oxygen concentration at the plateau
stage in oxygen consumption affects intestinal maturation of broiler chicks. Int.
J. Poult. Sci. 5:229240.

Wineland, M. J., V. L. Christensen, I. Yildrum, B. D. Fairchild, D. T. Ort, and K. M.


Mann. 2006b. Incubator environment interacts with genetic line of broiler at the
plateau stage to affect embryo plasma thyroxine and triiodothyronine
concentrations. Int. J. Poult. Sci. 5:714722.

Yalin, S., H. B. Molayolu, M. Baka, O. Genin, and M. Pines. 2007. Effect of


temperature during the incubation period on tibial growth plate chondrocyte
differentiation and the incidence of tibial dyschondroplasia. Poult. Sci.
86:17721783.

Yunizal, Murtini,J.T., Dolaria,N., Purdiwoto,B., Abdulrokhim dan Carkipan.


1998. Prosedur Analisa Kimiawi Ikan dan Produk Olahan Hasil-Hasil
Perikanan. Instalasi Penelitian dan Pengembangan Perikanan; Jakarta.

Yuwanta. T. 1993. Perencanaan dan Tata Laksana Pembibitan Unggas. Inseminasi


Buatan pada Unggas. Fakultas Peternakan UGM. Yogyakarta.

18