Anda di halaman 1dari 57

ANOTASI BIBLIOGRAFI

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perbandingan Civic


Dosen Pengampu: Prof. Dr. H. Udin S Winataputra, MA.
Prof. Dr. H. Dasim Budimansyah, M.Si

JAGAD ADITYA DEWANTARA


NIM 1602739

DEPARTEMEN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2017
Quigley, Charles N, Buchanan Jr., and Bahmueller. (1991).Civitas: A Framework for Civic
Education.Calabasas: Center for Civic Education

The Center for Citizenship Education of the United States of America proposed the
three interrelated components of civic virtues, civic knowledge and civic skills as the
aims and/or framework for citizenship education.(Quigley, Buchanan Jr., and
Bahmueller, 1991)

Komentar:
CCE mengusulkan tiga komponen yang saling berinterrelasi kebajikan, pengetahuan,
dan keterampilan kewarganegaraan sebagai tujuan dan/atau kerangka Pendidikan
Kewarganegaraan

.
Pearce, N. dan Hallgarten, J. (2000) Introduction, in N. Pearce and J. Hallgarten (eds)
Tomorrows Citizens: Critical Debates In Citizenship And Education, London: Institute for
Public Policy Research

Citizenship thus becomes a subject with its own body of knowledge, understanding
and skills; for example, students learn about what they are entitled to from public
agencies, about the rights which the state guarantees to its citizens, and about the
corresponding obligations which it demands. The aim of fostering citizens who are
well informed or politically literate

Komentar:
Pendidikan Kewarganegaran merupakat mata pelajaran yang didalamnya mencakup
pemahaman dan kemampuan skil, misalnya siswa belajar tentang apa hak-mereka di
publik.Seain itu juga diimbangi dengan kewajiban mereka.
Walter Isaard (1992). Understanding Codflict and the Science of Peace Cambridge, MA:
Blackwell.

The history of humankind and the rise and fall of civilizations is unquestionably a
story of conflict. Conflict is inherent in human activities. It is omnipresent and
foreordained

Komentar:
Konflik merupakan suatu bentuk interaksi sosial ketika dua individu mempunyai
kepentingan yang berbeda dan kehilangan keharmonisan di antara mereka. Pada
dasarnya konflik adalah alami dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Fachruddin. (2005).
Educating for Democracy: Ideas and Practices of Islamic Civil Society Association in
Indonesia. Dissertation at University of Pittsburgh: Not published
Citizenship refers to an identity or an attribute that encourages individuals to think
of themselves as being part of a society or a state. Citizenship is also a fundamental
identity that helps situate individuals in society (sense of citizenship) (Hindess, 2003;
Lister, Smith & Middleton, 2003). Citizenship is also a status (full membership of a
state) conferred by nation states, which carries rights (the horizontal aspect) and
responsibilities or consequences (the vertical aspect) (Osler & Starkey, 2002;
Zilbershats, 2002: 3). Fachrudin (2005:31)

Komentar:
Fachrudin mengemukakan bahwa kewarganegaraan mengacu pada satu identitas atau
atribut yang mendorong individu untuk berpikir tentang diri mereka sebagai bagian
dari suatu masyarakat atau suatu negara. Kewarganegaraan adalah juga suatu identitas
fundamental yang membantu individu di dalam masyarakat (perasaan
kewarganegaraan). Kewarganegaraan adalah juga suatu status (keanggotaan penuh
dari suatu negara) yang dirundingkan oleh negara bangsa, yang membawa hak-hak
(aspek horisontal) dan tanggung jawab atau konsekuensi-konsekuensi (aspek vertikal).
Stevenson, N. (2003). Cultural Citizenship: Cosmopolitan Question. England. Open
University Press.

The main problem with the way in which citizenship has been constructed by the
public service tradition is that it is inattentive to the ways in which social movements,
events, lifestyles, consumer products, human rights abuses, religious ideas, risks,
hazards and ethical beliefs all struggle for visibility within a global media culture

Komentar:
Permasalahan utama kewarganegaraan adalah mengkonstruksikan tentang bagaimana
hidup bersama. Mencakup gaya hidup, hak asasi manusia dan bahkan kerukunan
antar umat beragama.
Naval, Concepcion; Print, Murray & Veldhuis, Ruud. (2002). Education for
Democratic Citizenship in the New Europe: Context and Reform. European Journal of
Education.
Vol. 37. No. 2.

Education for democratic citizenship aims at developing peoples capabilities of


thoughtful and responsible participation as democratic citizens in a political,
economic, social, and cultural life (Naval, Print & Veldhuis, 2002: 114).

Komentar:
Pendidikan untuk kewarganegaraan demokratis mengarah kepada pengembangan
kemampuan berpartisipasi dan tanggung jawab sebagai warganegara demokratis,
dalam kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Print, M dan Lange, D (2012)Civics and Political Education: Civic Education And
Competences For Engaging Citizens In Democracies. Sense Publisher

Civic Education is an indication of quality for successful schools. Many areas of living
and learning at schools affect central issues of a society based on democratic
participation, maturity, and enlightenment. Hence, knowledge of democracy, its
appreciation and the resulting willingness to promote tolerance, pluralism, democratic
participation, and human rights in daily life are core tasks of education at school
reaching far beyond Politics as a single subject (Print & Lange 2012:14).

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan adalah indicator dari keberhasilan sekolah. Disini bias
terlihat apakah siswa siswa aktif dimasyarakat dan memahami betul akan hak serta
kewajibanya sebagai warga Negara.
Aslan, E dan Hermenens, (2015) Islam and Citizenship Education.Springer

Citizenship education is currently not only limited to teaching political and legal
rights, but also includes its universal and cultural dimensions (Aslan & Hermanes,
2015:311).

Komentar:
Pendidikan Kewarganegaraan tak hanya terbatas mengajarkan politik dan hak asasi,
tetapi juga mengajarkan dimensi universal dan budaya.
Dobozy B, Eva. (2004).
Education in and for Democracy and Human Rights: Moving from Utopian Ideals
to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch University.

Dennis Banks. (2000). Notes that simply put, human rights education is all learning
that develops the knowledge, skills and values of human rights.

Komentar:
Dennis Banks mengemukakan bahwa pendidikan hak azasi manusia adalah semua
pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai dari
hak azasi manusia.
Kennedy, K.J. and Brunold, A. (2016). Regional Contexts And Citizenship Education In Asia
And Europe. Routladge Press.

The concept of citizenship has many components. In fact, during the discussion on
citizenship, each of us may be pondering a different aspect. A few may think of legal
status or legal rights, where as others would focus on national identity, patriotism, or
morality. Citizenship refers to membership in a political community, which involves
relationships between right and duties.

Komentar:
Konsep kewarganegaraan terdiri dari banyak aspek.Diantaranya berkaitan dengan
legal status, legal rights, identitas nasional, patriotisme atau
moralitas.Kewarganegaraan mengacu kepada keanggotaan dalam komunitas politik
yang didalamnya ada hubungan antara hak dan kewajiban.Di Indonesia, hak dan
kewajiban sama-sama penting. Harus ada keseimbangan diantara keduanya.
Branson dan Quigley. (1998).The Role of Civic Education. Center For Civic Education

Civic education in a democratic society most assuredly needs to be concerned with


promoting understanding of the ideals of democracy and a reasoned commitment to
the values and principles of democracy (Branson dan Quigley, 1998:4).

Komentar:
Pendidikan Kewarganegaraan pada masyarakat demokratis yaitu mefokuskan ajaran
dan pemahaman konsep ideal demokrasi dan alasan mengapa kita harus berkomitmen
nilai dan prnsip demokrasi.Demokrasi dan Pendidikan Kewarganegraan merupakan
satu kesatuan yang tidak dipisahkan.
Zajda dkk, (2009).Nation-Building, Identity and Citizenship Education: Cross-cultural
Perspectives. Springer

Civic education is not only taught in subjects like Social Sciences, History, and
Geography, but also mediated through the interaction of teachers and students in all
subjects (Zajda dkk 2009:64).

Komentar:
Pendidikan Kewarganegaraan tidak hanya mata pelajaran seperti halnya ilmu social,
sejarah dan geografi, tetapi juga merupakan sarana interaksi antara guru dan murid di
semua mata pelajaran.Konsep pengintegrasian ini di Indonesia sudah diterapkan pada
Kurikulum 2013.Dengan adanya KI (Kompetensi Inti) maka pendidikan
kewarganegaraan di Indonesia diharapkan lebih baik dari sebelumnya.
Isin, EF & Nyers, P. (2014).Handbook of Global Citizenship.New York. Routledge
.

The performance dimension of citizenship highlights two issues. First, rights and
duties that are not performed remain as inert or passive rights and duties. These rights
and duties are brought into being only when performed by citizens. Secondly, since
citizenship is brought into being by being performed, non-citizens can also perform
citizenship. (Isin & Nyers, 2014:3)

Komentar:
Dua isu pokok kewarganegaraan yang pertama, hak dan kewajiban yang bukan
berarti hak dan kewajiban pasif akan tetapi dengan pemuh kesadaran. Yang kedua
adalah menjadikan non-warga Negara menjadi warga Negara yang seutuhnya.
Kennedy, K.J. and Brunold, A. (2016).Regional Contexts And Citizenship Education In Asia
And Europe.Routlagde

The most important educational area for citizenship education, a subjectbroader


than civic education, is human beings and the society that hasmainly delivered school
subjects such as civic education, history, and geography.

Komentar:
Civic education merupakan mata pelajaran dasar di sekolah yang dirancang untuk
mempersiapkan para pemuda warganegara untuk dapat melakukan peran aktif dalam
masyarakat.Sedangkan citizenship education lebih luas yakni mencakup pengalaman belajar di
sekolah dan di luar sekolah, baik di lingkungan keluarga, organisasi keagamaan, organisasi
kemasyarakatan, dan dalam media.Keduanya merupakan program pembelajaran yang
memiliki tujuan utama mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk menjadi
warganegara yang baik.
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison.England: National
Foundation for Educational Research-NFER

Citizenship is conceptualised and contested along a continuum, which range from a minimal
to a maximal interpretation (Mc Laughliin, 1992). Minimal: Thin, Exclusive, Elitist, Civics
education, Formal, Content led, Knowledge based, Didactic transmission, Easier to achieve,
and measure in practice. Maximal: Thick, Inclusive, Activist, Citizenship education,
Participative, Process led, Values based, Interactive interpretation, More difficult to achieve,
and measure in practice. (Kerr, 1999:14)

Komentar:
Pendidikan Kewarganegaraan minimal didefinisikan secara sempit, hanya mewadahi aspirasi
tertentu, berbentuk pengajaran kewarganegaraan, bersifat formal, terikat oleh isi, berorientasi
pada pengetahuan. Menitikberatkan pada proses pengajaran, hasilnya mudah diukur.
Pendidikan Kewarganegaraan maksimal didefinisikan secara luas, mewadahi berbagai aspirasi
dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kombinasi pendekatan formal dan informal,
dilabeli citizenship education, menitikberatkan pada partisipasi siswa melalui pencarian isi dan
proses interaktif di dalam maupun di luar kelas. Hasilnya lebih sukar dicapai dan diukur
karena kompleksnya hasil belajar.
UNESCO. (2015). Global Citizenship Education: Topic and Learning Objectives. United
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Paris
.

Global citizenship refers to a sense of belonging to a broader community and


common humanity. It emphasizes political, economic, social and cultural
interdependency and interconnectedness between the local, the national and the
global. (UNESCO, 2015:14).

Komentar:
Warga Negara global yaitu istilah yang menunjukan pada rasa kebersamaan karena
ada ikatan antar komunitas dan rasa kemanusiaan.Yang menekankan pada unsur
ketergantungan politik, social dan budaya dan hubungan baik ditingkat daerah,
nasional maupun global.Warga Negara global yaitu warga Negara yang memiliki
global awarenss artinya sadar bahwa dirinya bagian dari masyarakat global.
UNESCO. (2015). Global Citizenship Education: Topic and Learning Objectives. United
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization. Paris.

Core conceptual dimensions of global citizenship education, Cognitive, To acquire


knowledge, understanding and critical thinking about global, regional, national and
local issues and the interconnectedness and interdependency of different countries and
populations. Socio Emotional, To have a sense of belonging to a common humanity,
sharing values and responsibilities, empathy, solidarity and respect for differences and
diversity. Behavioral, To act effectively and responsibly at local, national and global
levels for a more peaceful and sustainable world. (UNESCO, 2015:15)

Komentar:
Empat core kompetensi warga Negara globa ini akan membantu siswa dimasa
depan.Pada konteks ke Indonesiaan maka tentu hal ini diperlukan mengingat MEA
telah dimulai dan persainagn semakin meningkat.
McIntyre-Mills, J J. (2005).Global Citizenship and Social Movements.Taylor & Francis e-
Library. Cape Town
.

The commonly held definition of global citizenship means (to some): 1) the freedom
to travel to economies with weak currencies; 2) to profit from the open markets; 3)
to use hedge funds to de-value weak currencies; 4) that it gives the freedom to the
educated and wealthy to create international careers or business opportunities; 5) the
power of rich nations and classes to blame poor nations and classes for environmental
problems and 6) the terrifying notion of one global state with ultimate power.
(McIntyre-Mills, 2005:10)
Komentar:

Kewarganegaran di era modern semakin berkembang dan tentu tantanganya semakin


besar. Teori-teori kewarganeraan saan ini belum menjawab semua hal akan
kebutuhan warga Negara.
Osler, A., & Starkey, H. (2003).Learning for cosmopolitan citizenship: Theoretical debates
and young peoples experiences.

In democratic states, citizens are constitutionally entitled to equal rights to participate


in and to influence government. However, in practice, this formal equality is
undermined by discriminatory practices and public discourses that exclude minorities
or which marginalize them within the imagined community of the nation(Osler &
Starkey, 2003:244)

Komentar:
Setiap orang memiliki tugas untuk menjadi warga negara yang bertanggung
jawab.Namun sayangnya, tidak semua orang mengambil tanggung jawab ini dengan
serius.Menjadi warga negara yang bertanggung jawab mencakup banyak bidang,
diantaranya, dalam bidang hukum, sosial dan moral.
Isin, E, F & Turner, B, S. (2002). Handbook of Citizenship Studies.Sagepub.

The core of radical democratic citizenship is an attempt to retain the egalitarian


impulse in the idea of citizenship as a means of belonging to a political community
without depoliticizing or excluding other elements of identity relevant to power
relations (Isin & Turner, 2002:184)

Komentar:
Kewarganegaraan demokrasi radikal yaitu menerima egalitarianism. Dan memahmai
arti hidup bersama
Kerr, David. et al. (2010). A Europe of Active Citizens: Assessment, Policy Responses and
Recommendations on Active Citizenship Education.

There are some characteristics of active citizenship:


o Is a response to pace of change in modern society and associated challenges;
o Is a key to vision of future society which is cohesive, inclusive, participative and
democratic
o Is an antidote to the challenges of democratic deficit
o Requires crucial role of lifelong education and learning in formation of active citizens.

Komentar:
Karakteristik warganegara abad ke-21 yakni memiliki kemampuan mengenal masalah sebagai
warga masyarakat global, kemampuan bekerjasama dengan orang lain dan memikul tanggung
jawab atas peran atau kewajibannya dalam masyarakat, kemampuan untuk memahami,
menerima, dan menghormati perbedaan-perbedaan budaya, kemampuan berpikir kritis dan
sistematis, memiliki kepekaan terhadap dan mempertahankan hak asasi manusia (seperti hak
kaum wanita, minoritas etnis).
Mossberger, Tolbert, & McNeal. (2008). Digital citizenship : the internet, society, and
participation. MIT Press. Massachusetts
.

Digital citizenship is facilitated by both technology access and skill. Social inequalities
such as poverty, illiteracy, and unequal educational opportunities, prevent all
Americans from enjoying full participation online and in society more generally
(Mossberger, Tolbert & McNeal, 2008:157)

Komentar:
Warga Negara digital haruslah di bekali dengan teknologi dan kemampuan
memahaminya.Cyber conflict merupakan ancaman terbesar pada era Negara digital.
Feith, D. (2011). Teaching America : The Case For Civic Education.Rowman & Littlefield
Education. Estovar Road.

The goal of civic education is to foster in students the will and capacity to reflect
deeply on the matter and spirit of public affairsand, ultimately, to act accordingly as
citizens (Feith, 2011:135)

Komentar:
Tujuan pendidikan kewarganegaraan adalah siswa dimasa depan akan memiliki
kemampuan untuk memecahkan masalah masalah bersama. Warga Negara yang
mampu berpartisipasi diranah public.
Print, M dan Lange, D (2013) Civics and Political Education: Civic Education And
Competences For Engaging Citizens In Democracies. Sense Publisher

The term civic competence refers to the knowledge, attitudes, values and skills
needed for a participation in civic and political life, that is, necessary to be able to
play the role of a citizen and that enables a person to become an active citizen (Print
& Lange, 2013:38).

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan mencakup, penegtahuan, sikap, nilai dan kemampuan
yang dibutuhkan untuk berparisipasi dalam kehidupan masyarakat dan politik.Penting
bagi setiap warga Negara memahami hal ini, sehingga bisa menjadikan setiap individu
yang dicita-citakan Negara.
Isin, E, F & Turner, B, S. (2002). Handbook of Citizenship Studies.Sagepub
.

Today, then, the core meaning of citizenship is membership with at least some rights
of political participation in an independent republic that governs through some
system of elected representatives parliamentary, presidential, bicameral, unicameral,
or some other variation (Isin, E, F & Turner, B, S).

Komentar:
Saat ini kajian kewarganegaraan adalah keanggotaan dari warga Negara yang
berkaitan dengan hak partisipasi politik dan kaitannya dengan pemerintahaan republic
dan membahas system pemilu yang representatif.
Kymlicka and Norman (Ed).(2003).Citizenship in Diverse Society.Oxford
University Press
some idealof 'good citizenship', which they see as reflecting a demand that
minoritiesshould quietly learn to play by the majority's rules. (Kymlicka and Norman,
2003:1)

Komentar:
Warga negara yang baik idealnya yaitu menghargai hak-hak minoritas dan bagimana
aturan sebagai mayoritas.
Bronson dan Quigley. (1998). The Role of Civic Education. Center For Civic Education

Good civic education seeks to develop competence in explaining and analyzing

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan merupakan yang baik adalah tak hanyanya
remembering tetapi explaningartinya siswa bisa menjelaskan dan analayzing atau
menganalisis isi konten kewarganegaraan.
Hoskins, B (2006) Active citizenship for democracy. Ispra: CRELL.

Active citizenship is defined as participation in civil society, community and/or


political life, characterized by mutual respect and non-violence and in accordance
with human rights and democracy

Komentar:
Konsep masyarakat sipil atau yang lebih dikenal masyarakat madani adalah
masyarakat yang mandiri, mereka tak terlalu bergantung pada pemerintahan,. Selai itu
pada masyarakat madani mereka memiliki rasa saling menghormati dan tidak suka
akan kekerasan.
Print, M dan Lange, D (2013) Civics and Political Education: Civic Education And
Competences For Engaging Citizens In Democracies. Sense Publisher

The first duty of citizenship is to exercise political rights, and second to do so in a


way that legitimizes democracy, i.e., reinforces democratic order.

Komentar:
Tugas utama warga Negara adalah menggunakan hak politik dan kedua adalah
melegitimasi dan memperkuat tatanan demokrasi.Demokrasi yang ideal adalah warga
Negara yang aktif.
Cogan dan Derricot (2000).Citizenship Education in 21ST Century. Kogan Page. London

The five attribute of citizenship : a sense of identity, the enjoyment of certain right,
the fulfillment of corresponding obligations, a degree of interest and involvement in
public affairs, and an acceptance of basic societal values"

Komentar:
Lima ciri dari kewarganegaraan yaitu kesadaran akan identitas, memahami dan
menikmati hak-haknya, melaksanakan kewajibanya, keterlibatan pada ranah publik
dan memahami nilai-niali dasar masyarakat.
Cogan dan Derricot (2000).Citizenship Education in 21ST Century. Kogan Page. London

The first element of citizenship - a sense of identity- is usually defined in national


terms, though not necessarily exclusively so, since most countries acknowledge the
existence of multiple and overlapping identities, be they local, ethnic, cultural,
religious or whatever).

Komentar:
Elemen pertama dari kewarganegaraan adalah memiliki kesadaran identitas, hal ini
diartikan sebagai kesadaran kepada nilai local, menghargai budayanya dan agamanya.
Cogan dan Derricot (2000).Citizenship Education in 21ST Century. Kogan Page. London
.

The second element of citizenship consists of the enjoyment of certain rights or


entitlements. To be a citizen is to be a member of a group and thus to be entitled to
the benefits that group membership confers. Citizens, for example, are entitled to the
protection of their government when they are travelling outside their own country.

Komentar:
Elemen kedua dari kewarganegaraan adalah menikmati hak-haknya dan menjadikan
kewarganegaraan. Menjadi warga Negara harus saling memahami satu sama lain.
Kubow, P. Grossman, D. & Ninomiya, A. (1998).
Multidimensional Citizenship: Educational Policy for the 21st Century,
in J.J. Cogan & R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An International
Perspective on Education,
Kogan Page, London, pp. 115-134

Kubow, Grossman and Ninomiya (1998) argued that only a citizenship education
that encompasses four interrelated dimensions, namely personal, spatial, social and
temporal, will equip students to meet the challenges of the twenty-first century..

Komentar:
Kubow, Grossman dan Ninomiya berpendapat bahwa hanya Pendidikan
Kewarganegaraan yang meliputi empat dimensi yang saling berhubungan, yakni
personal, spatial, sosial dan temporal, akan mempersiapkan siswa dalam menghadapi
tantangan abad ke-21
Cogan, J.J. (1998).
Citizenship Education for the 21st Century: Setting the Context,
in J.J. Cogan and R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An International
Perspective on Education,
Kogan Page, London, pp. 120.

Citizenship education has been described as the contribution of education to the


development of those characteristics of being a citizen (Cogan 1998:13), and the
process of teaching societys rules, institutions, and organizations, and the role of
citizens in the well-functioning of society (Villegas-Reimer 1997:235)

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan digambarkan sebagai kontribusi pendidikan untuk
pengembangan karakteristik-karakteristik warganegara' (Cogan 1998:13), dan 'proses
tentang aturan pengajaran masyarakat, institusi, dan organisasi-organisasi, dan peran
warganegara dalam masyarakat yang berfungsi secara baik'.
Gould, J. & Kolb, W.L. eds. (1964). A Dictionary of the Social Sciences.
New York: The Free Press

Gould and Kolb (1964:88) defined citizenship as a relationship existing between a


natural person and political society, known as a state, by which the former owes
allegiances and the latter protection.

Komentar:
Gould dan Kolb menggambarkan kewarganegaraan sebagai suatu hubungan yang ada
antara orang dan masyarakat politik secara alami, yang dikenal sebagai suatu negara,
dimana pembentuk berhutang kepada kesetiaan-kesetiaan dan perlindungan.
Banks, J. A., & McGee Banks, C. A. (Eds.). (1997).
Multicultural education: Issues and Perspectives (3rd ed).
Boston: Allyn and Bacon.

Multiculturalism can be defined as, A philosophical position and movement that


deems that the gender, ethnic, racial, and cultural diversity of a pluralistic society
should be reflected in all of the institutionalized structures of educational institutions,
including the staff, the norms, and values, the curriculum, and the student body
(Banks & Banks, 1997: 435).

Komentar:
Multikulturalisme dapat digambarkan sebagai, "Suatu posisi dan gerakan yang filosofis yang
menganggap bahwa gender, kesukuan, rasial, dan keanekaragaman budaya dari suatu
masyarakat plural harus dicerminkan di dalam semua lembaga pendidikan, termasuk staf,
norma-norma, nilai-nilai, kurikulum, dan siswa".
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education A Forthcoming
Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network

Civic education in a democracy is education in self government. Democratic self


government means that citizens are actively involved in their own governance; they
do not just passively accept the dictums of others or acquiesce the demands of others.
(Branson, 1998:3).

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan dalam demokrasi adalah pendidikan untuk
mengembangkan dan memperkuat dalam atau tentang pemerintahan otonom (self
government). Pemerintahan otonom demokratis berarti bahwa warganegara aktif
terlibat dalam pemerintahan sendiri; mereka tidak hanya menerima didikte orang lain
atau memenuhi tuntutan orang lain.
Winataputra, U dan Budimansyah (Ed).(2012). Pendidikan Kewarganegaraan dalam
Prespektif Internasioanl (Konteks, Teori dan Pembelajaran).Widya Aksara Press. Bandung

Watak kewarganegaraan (civic disposition) yang mengisyaratkan pada karakter


publik maupun privat yang penting bagi pemeliharaan dan demokrasi konstitusional

Komentar:
Konsep kewarganegaraan memiliki arti keanggotaan, status, dan keterlibatan seorang
warga Negara dalam bidang hukum, politik, sosialdan budaya.Jadi, kewarganegaraan
bukan hanya sebatas status seseorang tetapi juga melekat hak-hak sipil di dalamnya.
L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). Civic Theater for Civic Education.
In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1, 2005 (p.83-108)

Civic virtues are the qualities of character and personal skills necessary to make the
exercise of citizenship meaningful. Civic virtues give us the capacity to exercise our
rights, promote our interests and meet our duties. (L. Bray, Bernard and Larry W.
Chappel, 2005:86)..

Komentar:
Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan adalah kualitas dari karakter dan keterampilan-
keterampilan pribadi yang diperlukan untuk kebermaknaan latihan kewarganegaraan.
Kebajikan-kebajikan kewarganegaraan memberikan kepada kita kapasitas untuk
berlatih hak-hak kita, mempromosikan minat kita dan kewajiban-kewajiban kita.
Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education: A Forthcoming
Education Policy Task Force Position Paper From The Communitarian Network

Character is ultimately who we are expressed in action, in how we live, in what we


do and so the children around us know, they absorb and take stock of what they
observe, namely us-we adults living and doing things in a certain spirit, getting on
with one another in our various ways. Coles (dalam Branson, 1998:14).

Komentar:
Pada dasarnya, karakter adalah kepada siapa kita mengekspresikan perbuatan kita,
bagaimana kita hidup, apa yang kita kerjakan dan demikianlah anak-anak di sekitar
kita mengetahuinya, merekapun kemudian menyerap dan menyimpan hasil
pengamatan mereka, yaitu kita para orang dewasa ini hidup dan melakukan sesuatu
dengan spirit tertentu, bergaul satu sama lain dengan berbagai cara.
DAgostino, Maria J. (2006). Social Capital: Lessons from a Service-Learning Program.
Center For Civic Engagement. Park University International

Citizen Participation is fundamental to democratic governance. The problem has


been addressed in the citizen participation literature in a myriad of ways, including
the use of technology to involve citizens in the decision making process. (DAgostino,
2006:2).

Komentar:
Partisipasi warganegara adalah hal fundamental dalam tata pemerintahan yang
demokratis. Masalah sudah ditujukan di dalam partisipasi warganegara dalam banyak
cara, termasuk di dalamnya pemakaian teknologi untuk melibatkan warganegara
dalam proses pengambilan keputusan.
Wahab A dan Sapriya (2012).Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan.Alfabeta.
Bandung

Kewarganegaraan berarti hal-hal yang menyangkut kehidupan warga negara baik


mengenai warga negara itu sendiri maupun negara dan hubungan antar keduanya
(Wahab dan Sapriya, 2012:22).

Komentar:
Kewarganegaraan adalh bagaimana seseorang sebagai bagian Negara mempunyai
perananya sebagai individu yang mempunyai rasa tanggung jawab dan menyadari
bahwa dirinya bagian dari Negara.
Wahab A dan Sapriya (2012).Teori dan Landasan Pendidikan Kewarganegaraan.Alfabeta.
Bandung

Civics selain bertujuan membentuk warga negara yang baik yaitu warga negara yang
tahu dan mampu melaksanakan kewajibannya (Wahab dan Sapriya, 2012:22.

Komentar:
Sebagai global citizen selain dituntut untuk bisa mengedepankan toleransi dan
menghargai keragaman, juga harus mampu mengembangkan gerakan-gerakan sosial
sebagai karakter personal responsilibity dan memiliki tanggung jawab pribadi sebagai
global citizen.
Civic Education Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison.
England: National Foundation for Educational Research-NFER

Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of


young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role
of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process.
(Kerr, 1999:2)

Komentar:

Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan


generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara,
dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran.
dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut..
Kerr, David. (1999). Citizenship Education: An International Comparison.
England: National Foundation for Educational Research-NFER

Citizenship or Civics Education is construed broadly to encompass the preparation of


young people for their roles and responsibilities as citizens and, in particular, the role
of education (through schooling, teaching and learning) in that preparatory process.
(Kerr, 1999:2)

Komentar:
Pendidikan kewarganegaraan dirumuskan secara luas mencakup proses penyiapan
generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warganegara,
dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran,
dan belajar dalam proses penyiapan warganegara tersebut.
Taylor. 2013. A history of the Vietnamese. New York: Cambridge University Press.

nasional merupakan identitas yang melekat pada kelompok-kelompok yang lebih


besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama dan
bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita, dan tujuan. Identitas nasional
adalah suatu ciri yang dimiliki suatu bangsa, secara fisiologi yang membedakan bangsa
tersebut dengan bangsa lainnya

Komentar:
Berdasarkan pengertian tersebut maka setiap bangsa di dunia ini akan memiliki
identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter dari bangsa
tersebut.
Kymlicka, Will. (2002). Contemporary Political Philosophy : An Introduction. Oxford
University Press. England

Ethos of good citizenship that emphasizes the importance of voluntarily accepting


personal responsibility for our own choices, there may be few such cheaters.

Komentar:
Salah satu komponen utama dalam masyarakat informasi adalah perubahan sosial
yang besar yang merupakan dampak dari globalisasi pada bidang ekonomi modern,
politik dan budaya.
Sumantri. 2008. An Outline of Citizenship and Moral Education in Major Countries of
Southeast Asia. Bandung: Bintang Waliartika

Civic education dan citizenship education dalam kenyataan secara historis


epistemologis memang tidak bisa dipisahkan dari perkembangan pemikiran
tentang social studies atau social studies education, seperti dapat dilihat di USA..
Komentar:
Oleh karena itu ketiganya memiliki keterkaitan satu sama lain, pandangan
pertama melihat citizenship education dan civic education sebagai bagian dari
social studies, kedua citizenship education dan civic education sebagai esensi
atau inti dari social studies.
Winataputra, U.S dan Budimansyah (Ed), (2012).Pendidikan Kewarganegaraan Dalam
Perspektif Internasional (Konteks, Teori, dan Profil Pembelajaran).

Civic education juga dinilai sebagai dampak pengiring dari interaksi antar manusia
dalam kehidupan sehari-hari yang berkenaan dengan pengembangan tanggung jawab
warga negara

Komentar:
Civic education dalam hal ini artinya adalah sebuah dasar yang menjadikan warga
megara yang setengah jadi menjadi warga negara yang betul-betul mengerti arti
tanggung jawab dimasyarakat dan sekitarnya.
Winataputra & Budimansyah. (2012). Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Perspektif
Internasional (Konteks, Teori, dan Profil Pembelajaran)

civic education merupakan program pembelajaran yang memiliki tujuan utama


mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sehingga siswa menjadi warga
negara yang baik, melalui pengalaman belajar dan di organisasikan atas dasar konsep-
konsep ilmu politik .

Komentar:
Beberapa Komponen kewarganegaraan mungkin akan berbeda di setiap negara sesuai
dengan sistem politik dan konstitusi negara masing-masing. Seorang warganegara
hendaknya memiliki lima ciri utama yakni: jati diri, kebebasan untuk menikmati hak
tertentu, pemenuhan kewajiban, tingkat ketertarikan dan keterlibatan dalam urusan
publik, dan pemilikan terhadap nilai-nilai dasar kemasyarakatan.
Sumber

1. Aslan, E dan Hermenens, (2015) Islam and Citizenship Education. Springer


2. Walter Isaard (1992). Understanding Codflict and the Science of Peace
Cambridge, MA: Blackwell.
3. Bronson dan Quigley. (1998).The Role of Civic Education. Center For Civic
Education
4. Banks, J. A., & McGee Banks, C. A. (Eds.). (1997). Multicultural education:
Issues and Perspectives (3rd ed).Boston: Allyn and Bacon.
5. Branson, Margaret Stimmann. (1998). The Role of Civic Education: A
Forthcoming Education Policy Task Force Position Paper From The
Communitarian Network
6. Cogan, J.J. (1998).Citizenship Education for the 21st Century: Setting the
Context,in J.J. Cogan and R. Derricott, eds. Citizenship for the 21st Century: An
InternationalPerspective on Education, Kogan Page, London, pp. 120
7. DAgostino, Maria J. (2006). Social Capital: Lessons from a Service-Learning
Program.Center For Civic Engagement. Park University International.

8. Dobozy B, Eva. (2004). Education in and for Democracy and Human Rights:
Moving from Utopian Ideals to Grounded Practice. Dissertation at Murdoch
University

7. Fachruddin. (2005) .Educating for Democracy: Ideas and Practices of Islamic


Civil Society Association in Indonesia. Dissertation at University of Pittsburgh: Not
published
9. Gould, J. & Kolb, W.L. eds. (1964). A Dictionary of the Social Sciences. New
York: The Free Press
8. Isin, E, F & Turner, B, S. (2002). Handbook of Citizenship Studies.Sagepub
7. Kennedy, K.J. and Brunold, A. (2016). Regional Contexts And Citizenship
Education In Asia And Europe. Routladge Press.
8. Kennedy, K.J. and Brunold, A. (2016). Regional Contexts And Citizenship
Education In Asia And Europe. Routladge Press.
9. Kerr, D. (1999). Citizenship Education: an International Comparison. Edisi
Digital
10. Kymlicka, dan Norman (Ed). (2003).Citizenship in Diverse Society. Oxford
University Press
11. Kymlicka, Will. (2002). Contemporary Political Philosophy : An Introduction.
Oxford University Press. England
12. L. Bray, Bernard and Larry W. Chappel. (2005). Civic Theater for Civic
Education.In Journal of Political Science Education. Volume 1, Number 1,
2005 (p.83-108)
13. McIntyre-Mills, J J. (2005). Global Citizenship and Social Movements. Taylor &
Francis e-Library. Cape Town
14. Naval, Concepcion; Print, Murray & Veldhuis, Ruud. (2002). Education for
Democratic Citizenship in the New Europe: Context and Reform. European
Journal of Education. Vol. 37. No. 2.
15. OSullivan. M dan Pashby, K (Ed). (2008) Citizenship Education in the Era of
Globalization: Canadian Perspectives, Rotterdam. Sense Publisher
16. Osler, A., & Starkey, H. (2003). Learning for cosmopolitan citizenship:
Theoretical debates and young peoples experiences.
17. Pearce, N. dan Hallgarten, J. (2000) Introduction, in N. Pearce and J.
Hallgarten (eds) Tomorrows Citizens: critical debates in citizenship and
education, London: Institute for Public Policy Research.
18. Print, M dan Lange, D (2012)Civics and Political Education: PoliticalSchools,
Curriculum and Civic Education for Building Democratic Citizens, Sense
Publisher
19. Print, M dan Lange, D (2013)Civics and Political Education: Civic Education And
Competences For Engaging Citizens In Democracies. Sense Publisher
20. Ricci, D M. (2004). Good Citizenship in America. Cambridge University Press.
United Kingdom
21. Stevenson, N. (2003). Cultural Citizenship: Cosmopolitan Question. England.
Open University Press
22. Sumantri. 2008. An Outline of Citizenship and Moral Education in Major
Countries of Southeast Asia. Bandung: Bintang Waliartika
23. Taylor. 2013. A history of the Vietnamese. New York: Cambridge University Press
24. UNESCO. (2015). Global Citizenship Education: Topic and Learning Objectives.
25. Wahab A dan Sapriya (2012). Teori dan Landasan Pendidikan
Kewarganegaraan. Alfabeta. Bandung.
26. Winataputra, U dan Budimansyah (Ed). (2012). Pendidikan Kewarganegaraan
dalam Prespektif Internasioanl (Konteks, Teori dan Pembelajaran). Widya
Aksara Press. Bandung
27. Winataputra, Udin. (2012). Pendidikan Kewarganegaraan Dalam Prespektif
Pendidikan Untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa : Gagasan, Instrumentasi
dan Praksis). Widiya Aksara Press. Bandung
28. Quigley, Charles N, Buchanan Jr., and Bahmueller. (1991).Civitas: A Framework
for Civic Education.Calabasas: Center for Civic Education
29. Zajda dkk, (2009).Nation-Building, Identity and Citizenship Education: Cross-
cultural Perspectives. Springer