Anda di halaman 1dari 12

Pengantar Fisika Zat Padat

BAHAN SEMIKONDUKTOR

Dosen Pengampu :

Dr. Risdiana, M. Eng

Disusun oleh :

Sitti Hidayatul Hikma 140310130025

Rifqi Prima Roja 140310130045

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

BAB VI
BAHAN SEMIKONDUKTOR

Semikonduktor adalah bahan dengan konduktivitas listrik yang berada di antara


insulator dan konduktor. Konduktivitas semikonduktor berkisar antara 103 sampai 10-8
siemens per sentimeter dan memiliki dan celah energinya lebih kecil dari 6 eV. Bahan
semikonduktor adalah bahan yang bersifat setengah konduktor karena celah energi yang
dibentuk oleh struktur bahan ini lebih kecil dari celah energi bahan isolator tetapi lebih
besar dari celah energi bahan konduktor, sehingga memungkinkan elektron berpindah dari
satu atom penyusun ke atom penyusun lain dengan perlakuan tertentu terhadap bahan
tersebut (pemberian tegangan, perubahan suhu dan sebagainya). Oleh karena itu
semikonduktor bisa bersifat setengah menghantar. Semikonduktor merupakan material zat
padat yang memiliki harga resistivitas antara 10-2 109 .cm. Terdapat dua jenis tipe
semikonduktor yaitu semikonduktor intrinsik dan semikonduktor ekstrinsik.
Semikonduktor intrinsik merupakan semikonduktor murni tanpa atom
pengotor,sedangkan semikonduktor ekstrinsik merupakan semikonduktor yang telah
diberi atom pengotor. Pemberian atom pengotor pada semikonduktor dapat
menyebabkan munculnya dominasi muatan pembawa.Bila konsentrasi elektron lebih
banyak dari konsentrasi hole maka akan terbentuk semikonduktor tipe-n demikian
pula sebaliknya bila hole lebih banyak dari elektron maka akan terbentuk
semikonduktor tipe-p.

6.1. Material Semikonduktor


Bila ditinjau dari sifat listriknya, suatu bahan zat padat dapat dikelompokan
menjadi beberapa bagian:

1. Bahan isolator yang memiliki harga resistivitas antara 1014 1022 .cm

2. Bahan semikonduktor yang memiliki harga resistivitas antara 10-2 109 .cm
-5
3. Bahan konduktor yang memiliki harga resistivitas 10 .cm
Salah satu cara untuk menunjukkan perbedaan antara konduktor, semikonduktor,
dan isolator yaitu dengan penggambaran tingkat-tingkat energi dalam bentuk pita energi
untuk elektron-elektron dalam bahan. Penggambaran pita energi untuk masing-masing
material tersebut ditunjukkan pada gambar 1 berikut.

Gambar 1. Pita energi dari (a) isolator, (b) semikonduktor, dan (c) Konduktor
Ketiga jenis bahan tersebut banyak dimanfaatkan untuk bahan baku pembuatan
komponen- komponen elektronik, misalnya bahan isolator banyak digunakan sebagai
lapisan dielektrik pada kapasitor metal-oksida-semikonduktor, bahan semikonduktor
digunakan sebagai lapisan aktif pada komponen-komponen elektronik maupun
komponen optoelektronik sedangkan konduktor sering digunakan untuk pembuatan
kontak pada komponen elektronik.
Setiap bahan semikonduktor memiliki karakteristik fisis tertentu sehingga dalam
aplikasinya harus merujuk pada karakteristik fisisnya tersebut sebagai contoh untuk
aplikasi sensor sinar ultraviolet yang tingkat sensitifitasnya tinggi tentu kita harus
memilih bahan yang memiliki energi gap yang cukup lebar seperti semikonduktor
galium nitrida dengan energi gap sekitar 3,4 eV. Kita bisa juga menggunakan bahan
silikon untuk aplikasi sensor ultraviolet namun divais ini kurang sensitif dibandingkan
bahan galium nitrida.
Pada awal perkembangannya bahan semikonduktor yang pertama kali
dieksplorasi adalah Germanium, namun sampai saat ini bahan semikonduktor yang
banyak diteliti untuk bahan baku pembuatan divais elektronik maupun optoelektronik
adalah Silikon dengan pertimbangan bahan silikon cukup melimpah di alam ini dan
harganya relatif murah. Selain silikon material lain yang banyak dipelajari dan diteliti
adalah material paduan dari golongan II-VI atau III-V dalam tabel periodik (gambar 1)
baik binary (paduan 2 unsur) maupun ternary (paduan 3 unsur) seperti ZnO, GaN,
AlN, InN, GaAs, GaSb, AlGaN, AlGaSb, GaNAs dan sebagainya dimana material-
material paduan tersebut masing-masing memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri baik
dari sifat listrik maupun sifat optiknya yang aplikasinya dapat disesuaikan dengan
karakteristik fisisnya masing-masing.

Gambar 2. Unsur-unsur yang banyak digunakan sebagai bahan semikonduktor


6.2. Model Ikatan Atom Pada Bahan Semikonduktor
Kristal semikonduktor tersusun dari atom-atom yang letaknya saling berdekatan
dan saling berikatan satu sama lain membentuk suatu ikatan kristal yang disebut ikatan
kovalen. Sebagai ilustrasi dari model ikatan kristal tersebut, di bawah ini digambarkan
terbentuknya ikatan kristal pada bahan Silikon. Gambar 3a menunjukan ilustrasi ikatan
kovalen dari atom Silikon pada kondisi temperature nol Kelvin, untuk kasus ini
setiap atom Silikon menyumbangkan satu electron untuk tiap pasangan ikatan
kovalen. Apabila kristal semikonduktor tersebut diberi energi termal dengan kata lain
temperaturnya dinaikan, maka penambahan energi termal tersebut dapat menyebabkan
putusnya ikatan kovalen, hal ini dapat membangkitkan pasangan elektron-hole
dimana elektron tersebut dapat bebas dari keadaan valensi ke keadaan konduksi
sedangkan kekosongan yang ditinggalkan elektron akan menjadi hole seperti nampak
pada gambar 3b.

(a)

(b)
Gambar 3. Gambaran ikatan kovalen atom silikon pada kondisi (a)
temperatur nol Kelvin, (b) pada temperatur di atas nol Kelvin
6.3. Model Pita Energi Semikonduktor
Setiap atom penyusun kristal semikonduktor memiliki sejumlah elektron valensi
pada kulit terluarnya yang menempati keadaan valensi (gambar 4b), keadaan elektron
valensi ini memiliki tingkat energi yang besarnya EV. Elektron valensi ini
berkontribusi pada pembentukan ikatan kovalen antara atom-atom penyusun kristal
semikonduktor. Sedangkan keadaan dimana elektron sudah terbebas dari ikatan
kovalen disebut keadaan konduksi dengan tingkat Energi EC (gambar 4a). Apabila
kristal semikonduktor tersebut temperaturnya dinaikan maka akan ada penambahan
energi termal yang menyebabkan terputusnya ikatan kovalen yang terbentuk.
Pemutusan ikatan kovalen ini akan menghasilkan elektron bebas yang sudah dalam
keadaan konduksi dengan tingkat energi EC. Pada gambar 4c diilustrasikan keadaan
elektron konduksi dimana setelah terjadinya pemutusan ikatan kovalen, elektron
valensi pada tingkat energy EV akan berpindah kekeadaan konduksi dengan tingkat
Energi EC. Selisih antara tingkat energi konduksi dengan tingkat energi valensi ini
dinamakan energi celah pita (energy gap) dimana energi gap tersebut merupakan
energi minimal yang
dibutuhkan untuk memutuskan ikatan kovalen pada kristal semikonduktor.

(a) (b) (c)


Gambar 4. Model pita energi bahan semikonduktor
Tabel 1. Energi gap bahan semikonduktor

6.4. Tipe Semikonduktor


Berdasarkan pergerakan pembawa muatan dalam semikonduktor ada tiga cara yaitu:
1. Eksitasi elektron (semikonduktor instrinsik),
2. Impurity (Semikonuktor ekstrinsik), dan
3. Semikonduktor nonstoikiometri.

1. Eksitasi Elektron (semikonduktor intrinsik).


Dalam semikonduktor besar celah pita terlarang (band gap) sedemikian rupa sehingga
elektron dapat melompati band gap dari pita valensi ke pita konduksi dengan energi
minimum yang dibutuhkan sama dengan energi gap.

Gambar 5. Energi gap dalam golongan IV (skematik)


Pada Gambar 5 terlihat energi gap untuk C (intan), Si, Ge, dan Sn. Jumlah
pembawa muatan dalam bahan tersebut dalam satu golongan semakinnkebawah akan
semakin meningkat, akibatnya konduktivitas pun akan meningkat seperti yang ditunjukan
pada Tabel 2. konduktivitas ini merupakan sifat dari bahan dan tidak ditimbulkan oleh
ketidakmurnian (impurity). Oleh karena itu disebut semikonduktor intrinsic.
Tabel 2. Energi gap dalam semikonduktor elementer.
Elemen o o
Enegi gap (eV) T=20 C Konduktivitas (T=20 C)
C (intan) 6 -16
< 10

Si 1.1
-4
5 x 10

Ge 0.7
2

Sn (kelabu) 0.1
6
10

Ketiga unsur dalam golongan IV tersebut (Si, Ge, dan Sn) merupakan satu- satunya
unsur yang bersifat semikonduktor dan memiliki struktur Kristal yang sama. Selain itu ada
pula senyawa campuran golongan III ( B, Al, GA, In) dengan golongan V (N, P, As, Sb)
memiliki sifat sebagai semikonduktor dan memiliki srtruktur yang sama misalnya SiC,AlSb,
GaN,InAs, Zns dan contoh senyawa lainnya (van Vlack, 1994).
Pada material semikonduktor khususnya semikonduktor intrinsik, eksitasi elektron
terjadi melewati bandgap dari pita valensi ke pita konduksi. Contohnya pada pembentukan
ikatan atom Si (silikon). Senyawa silikon memiliki band gap sebesar 1,12 eV . Jika senyawa
silikon tersebut diberi energi termal atau diberi energi cahaya yang lebih besar atau sama
dengan 1,12 eV, maka elektron dari tingkat valensi akan tereksitasi ke tingkat konduksi.

Gambar 6. Diagram pita energi pada silikon

2. Impurity (semikonduktor ekstrinsik).


Ketidakmurnian dalam semikonduktor akan mempengruhi jumlah pembawa muatan
dalam semikonduktor sehingga akan mengubah konduktivitasnya. Pemberian pengotor
(dopant) dapat menyebabkan munculnya tingkat energi baru dalam energi gap. Perubahan
tingkat energi ini dapat digolongkan menjadi dua bagian tingkat energi yaitu tingkat
akseptor dan tingkat donor. Tingkat akseptor merupakan tingkat energi yang muncul di
ujung atas tingkat valensi, karena dapat menerima elektron yang meninggalkan pita
valensi. Sedangkan tingkat donor merupakan tingkat energi yang muncul di ujung bawah pita
konduksi, karena tingkat ini dapat memberikan elektron ke tingkat konduksi.

Gambar 7. Pemberian dopant pada struktur band gap semikonduktor memunculkan


tingkat energi baru yaitu tingkat donor dan tingkat akseptor

Adanya pengotor (dopan) dapat mengubah nilai konduktivitas dan resistivitasnya.

T ip e N
Jika ke dalam semikonduktor transisi (intrinsik) ditambahkan dengan atom dari
golongan V, maka dalam semikonduktor tersebut akan terdapat elektron yang berlebih,
sehingga elektron yang berlebih tersebut akan bertindak sebagai donor contohnya adalah SiP,
GeAs, ZnO dan yang lainnya. Oleh karena itu semikonduktor yang memiliki elektron
yang berlebih dikenal dengan semikonduktor tipe-n.
Gambar 8. semikonduktor tipe-n
Elektron bebas sebagian besar terjadi karena doping, dan sebagian kecil lainnya bersama
hole karena generation akibat agitasi termal. Elektron bebas menjadi pembawa muatan mayoritas
dan hole sebagai pembawa muatan minoritas.
Semikonduktor tipe P
Akan tetapi sebaliknya jika ke dalam semikonduktor transisi ditambahkan dengan
atom dari golongan III, hal itu akan mengakibatkan dalam semikonduktor menjadi kekurangan
elektron sehingga membuat semikonduktor menjadi lebi posistif contohnya adalah SiB,
GeAl dan yang lainnya. Semikonduktor jenis ini dikenal dengan semikonduktor tipe-p .

Gambar 9. semikonduktor tipe-p


Hole sebagian besar terjadi karena doping, dan sebagian kecil lainnya bersama elektron
bebas karena generation akibat agitasi termal. Hole menjadi pembawa muatan mayoritas dan
elektron bebas sebagai pembawa muatan minoritas.
Untuk semikonduktor ekstriksik baik tipe-n maupun tipe-p konduktivitas ekstrinsik
tidak akan naik terus menerus dengan kenaikan temperatur dan akan dijumpai pada suatu
keadaan dimana nilai konduktivitanya konstan. Hal itu diakibatkan karena proses
pengurasan donor dan penjenuhan akseptor.
3. Semikonduktor Nonstokiometri.
Pada keadaan ini hampir mirip dengan semikonduktor ekstrinsik, hanya saja
disebabkan oleh ketidakmurnian hal yang lainnya yaitu pengaruh dari cacat sebagai hasil dari
stoikiomeri. Elektron dan hole semikonduktor nonstoikiometri tereksitasi dalam pita konduksi
dan valensi sebagai hasil reduksi dan oksidasi.
Pada cacat yang diakibatkan oleh stoikiomerti kristal akan menimbulkan celah pita
terlarang antara pita valensi dan konduksi. Celah pita terlarang tersebut akan bertidak sebagai
perangkap elektron atau hole. Elektron dan hole yang berada pada celah pita terlarang
dapat loncat ke pita konduksi jika mendapat energi tambahan walaupun energinya lebih kecil
dari energi gap (Reka Rio, 1999)

6.5. Tipe Arus Listrik Pada Semikonduktor


Keberadaan elektron dan hole pada semikonduktor akan mempengaruhi karakteristik
listrik pada bahan tersebut. Ada dua jenis arus listrik yang terjadi pada semikonduktor yaitu
arus hanyut (drift) dan arus difusi.
1. Arus Hanyut (Drift)
Ketika semikonduktor diberi medan listrik E, maka partikel-partikel bermuatan
dalam semikonduktor tersebut akan bergerak (hanyut) dengan laju yang berbanding lurus
dengan medan listriknya.
2. Arus Difusi
Arus difusi terjadi akibat adanya perbedaan konsentrasi muatan pembawa. Arus difusi
akan mengalir dari daerah yang berkonsentrasi tinggi ke daerah yang memiliki konsentrasi
rendah

6.6. Penggunaan Bahan Semikonduktor


Semikonduktor merupakan terobosan dalam teknologi bahan listrik yangmemungkinkan
pembuatan komponen elektronik dalam wujud mikro,
sehingga peralatan elektronik dapat dibuat dalam ukuran yang lebih kecil. Beberapakomponen
elektronik yang menggunakan bahan semikonduktor yaitu:

1. Dioda
Diode merupakan peranti semikonduktor yang dasar. Diode memiliki banyak tipe dan
tiap tipe memiliki fungsi dan karakteristik masing-masing. KataDiode berasal dari Di (Dua) Ode
(Elektrode), jadi Diode adalah komponen yang memiliki dua terminal atau dua electrode yang
berfungsi sebagai penghantar aruslistrik dalam satu arah. Dengan kata lain diode bekerja sebagai
Konduktor bila beda potensial listrik yang diberikan dalam arah tertentu (Bias Forward) tetapi
diode akan bertindak sebagai Isolator bila beda potensial listrik diberikan dalam arah yang
berlawanan (Bias Reverse). Tipe dasar dari diode adalah diode sambungan PN.

2. Transistor
Transistor adalah komponen elektronik yang dibuat dari materi semikonduktor yang
dapat mengatur tegangan dan arus yang mengalirmelewatinya dan dapat berfungsi sebagai saklar
elektronik dan gerbang elektronik.
3. IC (Integated Circuit)
Integrated Circuit merupakan komponen elektronik yang terdiri
atas beberapa terminal transistor yang tergabung membentuk gerbang. Masing masing gerbang
dapat dioperasikan sehingga membentuk logika tertentu yangdapat mengendalikan
pengoperasian suatu perangkat elektronik. Gabungan dari beberapa buah IC dan komponen lain
dapat diproduksi dengan menggunakan bahan semikonduktor dalam bentuk chip.
Chip multifungsi ini kemudian dikenal sebagai mikroprosesor yang berkembang hingga
sekarang.

Tabel 3. Macam-macam Semikonduktor dan Kegunaannya


DAFTAR PUSTAKA

Risdiana.2014.Diktat Kuliah: Pengantar Fisika Zat Padat.Jurusan Fisika FMIPA : Universitas


Padjadjaran.
Rahma, Atika. 2016. Semikonduktor. https://www.academia.edu/5091092/SEMIKONDUKTOR.
(Diakses Pada Minggu 1 Mei 2016 Pukul 22.00 WIB)