Anda di halaman 1dari 9

TEORI BELAJAR

KOGNITIF DAN
METAKOGNITIF
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Belajar adalah proses mental yang aktif untuk mendapatkan, mengingat, dan
menggunakan pengetahuan. Tingkah laku seseorang ditentukan oleh persepsi serta
pemahamannya tentang situasi yang berhubungan dengan tujuan belajarnya. Belajar
merupakan perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah
laku yang tampak. Belajar adalah aktivitas yang melibatkan proses berpikir yang sangat
kompleks dan saling berhubungan dengan seluruh konteks situasi tersebut. Memisah-misahkan
atau membagi-bagi situasi/materi pelajaran menjadi komponen-komponen yang kecil-kecil dan
mempelajarinya secara terpisah-pisah akan kehilangan makna. Teori ini berpandangan bahwa
belajar merupakan suatu proses internal yang mencakup ingatan, retensi, pengolahan
informasi, emosi dan aspek-aspek kejiwaan lainnya.
Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan
dengan pengertian (pengetahuan), aitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan
bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Selain itu juga dijelaskan
bahwa kognisi adalah konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenal, termasuk di
dalamnya mengamati, melihat, memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan,
memperkirakan, menduga dan menilai. Secara tradisional, kognisi sering dipertentangkan
dengan konasi (kemauan) dan dengan afeksi (perasaan).
Sementara perkembangan kognitif dianggap sebagai penentu kecerdasan intelektual
anak, kemampuan kognitif terus berkembang seiring dengan proses pendidikan serta juga
dipengaruhi oleh faktor perkembangan fisik terutama otak secara biologis. Perkembangan
selanjutnya berkaitan dengan kognitif adalah bagaimana mengelola atau mengatur kemampuan
kognitif tersebut dalam merespon situasi atau permasalahan. Tentunya, aspek-aspek kognitif
tidak dapat berjalan sendiri secara terpisah tetapi perlu dikendalikan atau diatur sehingga jika
seseorang akan menggunakan kemampuan kognitifnya maka perlu kemampuan untuk
menentukan dan pengatur aktivitas kognitif apa yang akan digunakan. Oleh karena itu,
sesorang harus memiliki kesadaran tentang kemampuan berpikirnya sendiri serta mampu untuk
mengaturnya. Para ahli mengatakan kemampuan ini disebut dengan metakognitif.
Saat ini, kajian tentang metakognitif telah berkembang bahkan telah diterapkan dalam
pembelajaran seperti matamatika dan bahasa. Misalnya, dalam memecahkan masalah
matematika, siswa perlu memiliki kemampuan metakognitif untuk mengatur strategi
pemecahan masalah, sedangkan dalam pembelajaran bahasa adalah siswa harus memiliki
kemampuan metakognitif dalam membaca buku.
Dengan berkembangnya berbagai teori tentang perkembangan kognitif dan metakognitif,
kami ingin membahas dan menganalisa tentang perkembangan kognitif dan metakognitif. Atas
dasar itulah kami menulis makalah ini tentang Perkembangan Kognitif dan Metakognitif.

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan teori kognitif?
b. Bagaimana strategi pengembangan kognitif?
c. Apa yang dimaksud dengan teori metakognitif?
d. Bagaimana strategi perkembangan metakognitif?
e. Bagaimana keterkaitan antara teori kognitif dan metakognitif?

1.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam makalah ini adalah sebagai berikut
a. Mengetahui apa yang dimaksud dengan teori kognitif?
b. Mengetahui bagaimana strategi pengembangan kognitif?
c. Mengetahui apa yang dimaksud dengan teori metakognitif?
d. Mengetahui bagaimana strategi perkembangan metakognitif?
e. Mengetahui bagaimana keterkaitan antara teori kognitif dan metakognitif?

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kognitif


Kognitif adalah sebuah istilah yang digunakan psikolog untuk menjelaskan semua
aktivitas mental yang berhubungan dengan persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan
informasi yang memungkin akan seseorang memperoleh pengetahuan, memecahkan masalah,
dan merencanakan masa depan, atau semua proses psikologis yang berkaitan dengan
bagaimana individu mempelajari, memperhatikan, mengamati, membayangkan,
memperkirakan, menilai dan memikirkan lingkungannya. (Desmita, 2006 :103).
Ranah kognitif juga merupakan ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut
Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya
kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan
kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses
berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup
kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah
tersebut. Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang
kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling
tinggi yaitu evaluasi.

2.2 Perkembangan Kognitif


Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan
dengan pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan
dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya. Sementara menurut
Chaplin (2001, Desmita, 2006 : 103), dijelaskan bahwa kognisi adalah konsep umum yang
mencakup semua bentuk pengenal, termasuk di dalamnya mengamati, melihat,
memperhatikan, memberikan, menyangka, membayangkan, memperkirakan, menduga dan
menilai. Secara tradisional, kognisi sering dipertentangkan dengan konasi (kemauan) dan
dengan afeksi (perasaan).
Perkembangan kognitif berlangsung sejak masa bayi walaupun potensi-potensi terutama
secara biologis sudah dimulai semenjak masa prenatal. Piaget (Desmita, 2006 : 104) meyakini
nahwa pemikiran seoarang anak berkembang melalui serangkaian tahap pemikiran dari masa
bayi hingga masa dewasa. Kemampuan bagi melalui tahap-tahap tersebut bersumber dari
tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui asimilasi dan akomodasi
serta adanya pengorganisasian struktur berpikir. Pada masa bayi (0 2 tahun), Piaget
menyebutnya tahap sensori motorik sementara masa anakanak awal (2 7 tahun) adalah tahap
pre operasional dan anak-anak akhir (7 12 tahun) disebut tahap operasional konkrit. Adapun
setelah itu adalah atahap formal operasional. Menurut Desmita (2006 : 107), pandangan-
pandangan kontemporer seperti teori pemrosesan informasi tentang perkembangan kognitif
berbeda dengan Piaget sebagai pendahulunya. Kalau Piaget meyakini bahwa perkembangan
kognitif bayi baru tercapai pada pertengahan tahun kedua, maka para pakar psikologi
pemrosesan informasi percaya bahwa perkembangan kognitif, seperti kemampuan dalam
memberikan perhatian, mencipatakan simbolisasi, meniru, dan kemampuan konseptual, telah
dimiliki oleh bayi. Perkembangan kognitif masa bayi kemudian berlanjut sampai dewasa
dengan sesuai dengan tahapan menurut Piaget dengan kualitas yang berbeda.
Seiring dengan meningkatnya kemampuan anak untuk mengeksplorasi lingkungan,
karena bertambah besarnya koordinasi dan pengendalian motorik yang disertsi dengsn
meningkatnya kemampuan untuk bertanya dengan menggunakan kata-kata dan dapat
dimengerti oleh orang lain, maka dunia imajinasi anak-anak pra sekolah terus bekerja, dan
daya serap mentalnya tentang dunia makin meningkat. Peningkatan pengertian anak tentang
orang, benda dan situasi baru diasosiasikan dengan arti-arti yang telah dipelajari semasa bayi
Seiring dengan masuknya anak ke sekolah, maka kemampuan kognitifnya turut
mengalami perkembangan pesat. Karena dengan masuk ke sekolah, berarti dunia dan minat
anak bertambah luas, dan dengan meluasnya minat maka bertambah pula pengertian tentang
manusia dan objek-objek yang sebelumnya kurang berarti bagi anak. Kalau pada masa
sebelumnya daya pikir anak masih bersifat imajinatif dan egosentris, pada usia sekolah dasar
ini daya pikir nak berkembang ke arah konkrit, rasional dan objektif. Anak mencapai
tahap stadium belajar.

2.3 Pengembangan Strategi Kognitif


Strategi kognitif berkembang dalam waktu yang cukup lama dan panjang sebagai hasil
dari pendidikan. Dalam hal ini, proses belajar merupakan proses yang penting dalam
pengembangan strategi kognitif seseorang. Menurut Socrates dan John Dewey, belajar
merupakan suatu kegiatan atau sesuatu yang dilakukan secara mental dan/atau fisik yang
diikuti dengan kesempatan merefleksikan hal-hal yang dilakukan dari hasil perilaku tersebut.
Strategi kognitif dikembangkan melalui proses refleksi perilaku ketika mahasiswa menghadapi
masalah.
West, Farmer, dan Wolf (1991) mengatakan bahwa dosen dapat mengembangkan strategi
kognitif dalam proses penyampaian materi bidang ilmu (content), mengaktifkan strategi
kognitif mahasiswa dalam penyajian materi bidang ilmu, menggunakan strategi kognitif untuk
menyampaikan materi bidang ilmu ilmu. Strategi kognitif dikembangkan secara terpadu
dengan penyajian mata kuliah bidang ilmu, tidak secara terpisah.

2.4 Jenis-Jenis Strategi Kognitif


Gagne (1984) mengidentifikasi strategi kognitif berdasarkan alur proses instruksional
mulai dari memperhatikan (attending), mengolah stimulus (encoding), mencari kembali
informasi (retrieval), dan berpikir. Untuk setiap tahap mahasiswa dapat menggunakan strategi
kognitif yang berbeda-beda.
West, Farmer dan Wolff (1991) menjelaskan adanya 4 keluarga besar strategi kognitif,
yaitu Chunking, Spatial, Bridging, dan Multipurpose.
1. Chunking, merupakan strategi mengorganisasikan sesuatu secara sistematis melalui proses
mengurutkan (order), mengklasifikasi (classify, dan menyusun (arrange). Chunking dapat
membantu seseorang untuk mengolah data yang sangat banyak atau proses yang sangat
kompleks. Melalui chunking, seseorang memilah-milah materi kuliah atau masalah menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil, kemudian menyusun bagian-bagian tersebut secara berurut.
2. Spatial merupakan suatu strategi untuk menunjukkan hubungan antar hal yang satu dengan
yang lain. Dalam kategori ini termasuk frames (tabel) dan concept maps (peta konsep)
3. Bridging merupakan strategi untuk menjembatani pemahaman seseorang melalui metafor
(perumpamaan), analogi dan advance organizer. Metafor dan analogi merupakan strategi
pengandaian yang dapat menjembatani suatu konsep baru dengan menggunakan konsep yang
sudah dipahami sebelumnya. Advance organizer merupakan kerangka dalam bentuk abstraksi
atau ringkasan tentang konsep-konsep dasar materi yang harus dipelajari, hanya dapat dibuat
oleh dosen untuk memudahkan mahasiswa belajar.
4. Mulitpurpose merupakan strategi kognitif yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan,
antara lain rehearsal, imagery, dan mneumoncs (jembatan keledai). Rehearsal merupakan cara
untuk untuk mereviu materi, bertanya, mengansipasi pertanyaan dan materi, yang hanya dapat
dilakukan oleh mahasiswa, dosen dapat memberikan waktu agar mahasiswa dapat melakukan
rehearsal. Imagery (membayangkan) merupakan proses visualisasi suatu konsep, kejadian,
ataupun prinsip. Mneumonics merupakan alat bantu untuk mengingat, misalnya singkatan.

2.5 Pengertian Metakognitif


Menurut Suherman et.al. (2001 : 95), metakognitif adalah suatu kata yang berkaitan dengan apa yang
diketahui tentang dirinya sebagai individu yang belajar dan bagaimana dia mengontrol serta
menyesuaikan prilakunya. Seseorang perlu menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya.
Metakognitif adalah suatu bentuk kemampuan untuk melihat pada diri sendiri sehingga apa yang dia
lakukan dapat terkontrol secara optimal. Dengan kemampuan seperti ini seseorang dimungkinkan
memiliki kemampuan tinggi dalam memecahkan masalah, sebab dalam setiap langkah yang dia
kerjakan senantiasa muncul pertanyaan : Apa yang saya kerjakan ?; Mengapa saya mengerjakan
ini?; Hal apa yang membantu saya untuk menyelesaikan masalah ini?.
Flavel (Jonassen, 2000 : 14) memberikan definisi metakognitif sebagai kesadaran seseorang tentang
bagaimana ia belajar, kemampuan untuk menilai kesukaran sesuatu masalah, kemampuan untuk
mengamati tingkat pemahaman dirinya, kemampuan menggunakan berbagai informasi untuk mencapai
tujuan, dan kemampuan menilai kemajuan belajar sendiri. Sementara menurut Margaret W. Matlin
(Desmita, 2006 : 137), metakognitif adalah knowledge and awareness about cognitive processes or
our thought about thinking.
Anderson & Krathwohl (Sukmadinata & Asari, 2006 : 26) memberikan rincian dari pengetahuan yang
dapat dikuasi atau diajarkan pada setiap tahapan kognitif. Dalam lingkup pengetahuan tersebut,
pengetahuan metakognitif menempati pada tingkat tertinggi setelah pengetahuan faktual, pengetahuan
konseptual dan pengetahuan prosedural. Pengetahuan metakognitif meliputi pengetahuan strategik,
pengetahuan tugas-tugas berpikir dan pengetahuan pribadi. Sebagai contoh pengetahuan metakognitif,
yaitu pengetahuan tentang langkah-langkah penelitian, rencana kegiatan dan program kerja ;
pengetahuan tentang jenis metode, tes yang harus digunakan dan dikerjakan guru ; dan pengetahuan
tentang sikap, minat, karakteristik yang harus dikuasai untuk menjadi seorang guru yang baik.
Margaret W. Matlin (Desmita, 2006 : 137), metakognitif adalah knowledge and awareness about
cognitive processes or our thought about thinking. Jadi metakognitif adalah suatu kesadaran tentang
kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini
sangat penting terutama untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan
masalah.
Jadi metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita
bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama untuk keperluan
efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah. Secara ringkas metakognitif dapat
diistilahkan sebagai thinking about thingking

2.6 Perkembangan Metakognitif


Perkembangan dalam psikologi bidang pendidikan berjalan sangat pesat, salah satunya
adalah perkembangan konsep metakognisi (metacognition) yang pada intinya menggali
pemikiran orang tentang berpikir thinking about thinking. Konsep dari metakognisi adalah
ide dari berpikir tentang pikiran pada diri sendiri. Termasuk kesadaran tentang apa yang
diketahui seseorang (pengetahuan metakognitif), apa yang dapat dilakukan seseorang
(keterampilan metakognitif) dan apa yang diketahui seseorang tentang kemampuan kognitif
dirinya sendiri (pengalaman metakognitif).
Variabel lain yang terkait dengan metakognisi adalah variabel individu. Sebagai modal
dasar untuk menjadi seorang pebelajar mandiri (self-learner) yang baik, siswa harus memiliki
pengetahuan tentang kelemahan dan kelebihan dirinya dalam menghadapi tugas-tugas kognitif,
yang menurut Anderson & Krathwohl (2001) disebut pengetahuan-diri (self-knowledge).
Bahkan lebih jauh siswa harus mampu memilih, menggunakan, dan memonitor strategi-strategi
kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan gaya kognitif yang dimiliki dalam
mengahadapi tugas-tugas kognitif. Misalnya, seseorang dengan tipe belajar visual harus sering
menggunakan strategi elaborasi peta konsep dalam memahami materi yang sedang dipelajari.
Kemampuan seperti ini merupakan salah satu komponen metakognisi yang disebut
pemonitoran kognitif.

2.7 Strategi Perkembangan Metakognitif


Blakey & Spence (1990) mengemukakan strategi-startegi atau langkah-langkah untuk
meningkatkan keterampilan metakognisi, yakni:
a) Mengidentifikasi apa yang kau ketahui dan apa yang kau tidak ketahui
Memulai aktivitas pengamatan, siswa perlu membuat keputusan yang disadari tentang
pengetahuan mereka. Dengan menyelidiki suatu topik, siswa akan menverifikasi,
mengklarivikasi dan mengembangkan, atau mengubah pernyataan awal mereka dengan
informasi yang akurat.
b) Berbicara tentang berpikir (Talking about thinking)
Selama membuat perencanaan dan memecahkan masalah, guru boleh menyuarakan pikiran,
sehingga siswa dapat ikut mendemonstrasikan proses berpikir. Pemecahan masalah
berpasangan merupakan strategi lain yang berguna pada langkah ini. Seorang siswa
membicarakan sebuah masalah, mendeskripsikan proses berpikirnya, sedangkan pasangannya
mendengarkan dan bertanya untuk membantu mengklarifikasi proses berpikir.
c) Membuat jurnal berpikir (keeping thinking journal)
Cara lain untuk mengembangkan metakognisi adalah melalui penggunaan jurnal atau catatan
belajar. Jurnal ini berupa buku harian dimana setiap siswa merefleksi berpikir mereka,
membuat catatan tentang kesadaran mereka terhadap kedwiartian (ambiguities) dan
ketidakkonsistenan, dan komentar tentang bagaimana mereka berurusan/menghadapi
kesulitan.
d) Membuat perencanaan dan regulasi-diri
Siswa harus mulai bekerja meningkatkan responsibilitas untuk merencanakan dan meregulasi
belajar mereka. Sulit bagi pebelajar menjadi orang yang mampu mengatur diri sendiri (self-
directed) ketika belajar direncanakan dan dimonitori oleh orang lain.
e) Melaporkan kembali proses berpikir (Debriefing thinking process)
Aktivitas terakhir adalah menfokuskan diskusi siswa pada proses berpikir untuk
mengembangkan kesadaran tentang strategi-strategi yang dapat diaplikasikan pada situasi
belajar yang lain. Metode tiga langkah dapat digunakan; Pertama: guru mengarahkan siswa
untuk mereviu aktivitas, mengumpulkan data tentang proses berpikir; Kedua: kelompok
mengklasifikasi ide-ide yang terkait, mengindentifikasi strategi yang
digunakan;Ketiga: mereka mengevaluasi keberhasilan, membuang strategi-strategi yang tidak
tepat, mengindentifikasi strategi yang dapat digunakan kemudian, dan mencari pendekatan
alternatif yang menjanjikan.
f) Evaluasi-diri (Self-evaluation)
Mengarahkan pengalaman-pengalaman evaluasi-diri dapat diawali melalui pertemuan
individual dan daftar-daftar yang berfokus pada proses berpikir. Secara bertahap, evaluasi-diri
akan lebih banyak diaplikasikan secara independen.

Dalam penelitian ini model yang dikembangkan sebagai model pelatihan dan pembinaan
guru sains, dengan mengadaptasi konsep metakognitif Marzano dengan meliputi 3 (tiga)
tahapan strategi sebagai berikut:
1. Tahap proses sadar belajar (awareness), merupakan komponen yang paling dasar dari
metakognisi. Kewaspadaan ini termasuk dua cara apakah siswa biasanya melakukan
pendekatan pada tugas dan cara alternatif yang mungkin mereka lakukan. Pelajar yang baik
waspada akan bagaimana mereka berpikir dan dapat membuat pilihan yang cerdas megenai
strategi yang efektif.meliputi proses untuk menetapkan tujuan belajar, mempertimbangkan
sumber belajar yang akan dan dapat diakses (contoh: menggunakan buku teks, mencari buku
sumber di perpustakaan, mengakses internet di lab. komputer, atau belajar di tempat sunyi),
menentukan bagaimana kinerja terbaik siswa akan dievaluasi, mempertimbangkan tingkat
motivasi belajar, menentukan tingkat kesulitan belajar siswa.
2. Tahap merencanakan belajar (Planning), merupakan komponen rencana dari metakognisi
adalah bertanggung jawab untuk mengidentifikasi dan mengaktifkan kemampuan, taktik, dan
proses tertentu yang akan digunakan dalam mencapai cita-cita (Marzano, 1998, h. 60). Siswa
pada tahap ini memiliki dialog dalam dirinya mengenai apa yang dapat ia lakukan dan apa yang
paling efektif dalam situasi ini. Jika tugasnya sederhana, orang mungkin tidak waspada akan
pilihan apa yang ia buat. Dengan tugas yang kompleks, bagaimana pun, proses metakognitif
lebih terbuka saat siswa memilih pilihan yang lain di dalam pikirannyameliputi proses
memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas belajar, merencanakan
waktu belajar dalam bentuk jadwal serta menentukan skala prioritas dalam belajar,
mengorganisasikan materi pelajaran, mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk belajar
dengan menggunakan berbagai strategi belajar (outlining, mind mapping, speed reading, dan
strategi belajar lainnya).
3. Tahap monitoring dan refleksi belajar (monitoring and reflection), merupakan komponen
akhir dari metakognisi adalah pemantauan. Fungsi ini bekerja pada keefektifan rencana dan
strategi yang digunakan. Sebagai contoh, siswa kelas biologi tahun kedua memutuskan untuk
membuat peta dalam komputer untuk meninjau bab untuk sebuah tes. Setelah beberapa menit,
ia menyadari bahwa ia menghabiskan waktu yang lebih mencari tahu tentang software daripada
berpikir mengenai konten dan memutuskan untuk menggambar peta di atas kertas. Seorang
siswa kelas lima yang mengumpulkan data mengenai temperatur dan kelembaban mulai
menambahkan daftar angka yang panjang lalu menyadari bahwa pekerjaan akan menjadi lebih
cepat dan akurat jika ia menggunkan program lembar kerja. Pemantauan proses pemikiran yang
konsisten dan membuat perubahan yang diperlukan adalah komponenyang penting dari
metakognisi. Meliputi proses merefleksikan proses belajar, memantau proses belajar melalui
pertanyaan dan tes diri (self-testing, seperti mengajukan pertanyaan, apakah materi ini
bermakna dan bermanfaat bagi saya?, bagaimana pengetahuan pada materi ini dapat saya
kuasai?, mengapa saya mudah/sukar menguasai materi ini?), menjaga konsentrasi dan motivasi
tinggi dalam belajar.

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Pengertian kognitif adalah kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal,
memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi.
2. Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan dengan
pengertian (pengetahuan), yaitu semua proses psikologis yang berkaitan dengan bagaimana
individu mempelajari dan memikirkan lingkungannya.
3. Strategi pengembangan kognitif chunking, spatial, bridging, multipurpose.
4. Pengertian metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana
kognitif kita bekerja serta bagaimana mengaturnya. Kemampuan ini sangat penting terutama
untuk keperluan efisiensi penggunaan kognitif kita dalam menyelesaikan masalah. Secara
ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai thinking about thingking
5. Perkembangan metakognitif adalah siswa mampu memilih, menggunakan, dan memonitor
strategi-strategi kognitif yang cocok dengan tipe belajar, gaya berpikir, dan gaya kognitif yang
dimiliki dalam mengahadapi tugas-tugas kognitif.
6. Strategi mengembangkan metakognitif mengidentifikasi, berbicara tentang berpikir, membuat
jurnal berpikir, melaporkan hasil berpikir, evaluasi diri

Daftar Pustaka

Abdul, Dindin M. L., PERKEMBANGAN METAKOGNITIF DAN PENGARUHNYA PADA


KEMAMPUAN BELAJAR ANAK.
http://file.upi.edu/Direktori/KDTASIKMALAYA/DINDIN_ABDUL_MUIZ_LIDINILLAH_
(KDTASIKMALAYA)197901132005011003/132313548%20%20dindin%20abdul%20muiz
%20lidinillah/Perkembangan%20Metakognitif.pdf

Winarto, Joko. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget dan Implementasinya dalam Pendidikan.
artikel.

http://ml.scribd.com/doc/97024609/Makalah-Kognitif-metakognitif

http://edukasi.kompasiana.com/2011/03/12/teori-perkembangan-kognitif-jean-piaget-dan-
implementasinya-dalam-pendidikan/