Anda di halaman 1dari 7

Laporan Kasus

Purnama

1
BERITA ACARA PRESENTASI PORTOFOLIO

Pada hari ini, tanggal .. Telah dipresentasikan oleh:

Nama Peserta :

Judul/Topik :

Nama Pendamping :

Nama Wahana :

Nama Peserta Presentasi :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Pendamping

dr. Rizqi Rifani

2
Kasus 16

Topik : Glaukoma
Tanggal kasus : 15 Oktober 2015
Presenter : dr. Purnama
Tanggal presentasi :
Pendamping : dr. Rizqi Rifani
Tempat presentasi : RS Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso, Banjarmasin
Obyek presentasi : Keterampilan, Diagnostik, Geriatri
Deskripsi : Laki-laki, 69 tahun, mata kanan kiri kabur sejak 3 tahun, jika
berjalan sering terjatuh karena lapang pandang menyempit.
Mata kanan tidak bisa melihat sama sekali sejak 2 minggu.
Mata kiri hanya melihat cahaya. Tidak ada riwayat hipertensi
atau DM. Tidak ada riwayat trauma pada mata. Pasien
didiagnosis glaukoma dan disarankan dokter spesialis mata
untuk operasi mata kiri.
Tujuan : Mencegah kebutaan akibat glaukoma
Bahan bahasan : Kasus
Cara membahas : Diskusi
Data pasien : Nama pasien: Tn. AR
Data untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis
Glaukoma
2. Riwayat pengobatan
Pasien belum mendapatkan pengobatan
3. Riwayat kesehatan/penyakit
a. Mata kanan dan kiri kabur sejak 3 tahun yang lalu
b. Pasien sering terjatuh jika berjalan karena lapang pandang menyempit
c. Mata kanan tidak bisa melihat sama sekali sejak 2 minggu yang lalu

3
d. Mata kiri hanya melihat cahaya
e. Tidak ada riwayat hipertensi dan DM
f. Riwayat katarak kedua mata
g. Pasien mempunyai riwayat asma
4. Riwayat pekerjaan
Pasien seorang pensiunan PNS
5. Kondisi lingkungan sosial dan fisik
Dalam satu rumah berukuran 10x10 m2, pasien tinggal dengan isterinya.
Pasien tinggal di komplek perumahan tidak terlalu padat. Biaya pengobatan
pasien ditanggung asuransi kesehatan.
6. Lain-lain:
a. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Sedang, kooperatif
Kesadaran : Composmentis
Vital sign : TD : 140/90 mmHg
N: 88x/m,
R: 22x/m,
S: 36 C
Berat badan : 60 kg
Tinggi badan : 170 cm
Pemeriksaan kepala leher
Mata : Edem palpebra (-/-), konj.anemis (-/-), sklera
ikterik (-/-), visus OD (0), visus OS (1/~),
lapang pandang mata (sde), bilik mata OD/OS
(sempit/sempit), pupil anisokor (3mm/1mm),
refleks pupil (-/-), lensa OD/OS (putih/putih),
TIO OD/OS (tidak dilakukan)
Mulut : Mukosa bibir lembab (+)

4
Pemeriksaan thoraks
Pulmo
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi interkostal (-),
ketinggalan gerak (-), jejas (-)
Palpasi : Vokal fremitus paru kanan sama dengan paru
kiri
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : Suara dasar : vesikuler
Rh(-/-), Wh(-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tampak pada SIC V 1 jari medial
LMC sinistra
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V 1 jari medial
LMCsinistra, kuat angkat (-), thrill (-).
Perkusi : Batas jantung
Kanan atas SIC II LPS dextra
Kanan bawah SIC IV LPS dextra
Kiri atas SIC II LPS sinistra
Kiri bawah SIC V 1 jari medial LMC sinistra
Auskultasi : S1>S2, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen:

Inspeksi : distensi (-), jejas (-)

Auskultasi : bising usus normal

Perkusi : timpani

Palpasi : hepar, lien dan massa tidak teraba. nyeri

tekan (-), ascites (-)

5
Pemeriksaan ekstremitas
Superior : Edema (-/-), hiperemis (-/-), ulkus (-/-),
sianosis (-/-)
Inferior : Edema (-/-), hipemis (-/-), ulkus (-/-), sianosis
(-/-)
b. Pemeriksaan Laboratorium
6-5-2015 Rujukan Satuan
Hasil
Gula Darah Sewaktu 103 <200 mg/dl

Hasil pembelajaran
1. Diagnosis kerja
Pasien mengeluh mata kanan kiri kabur sejak 3 tahun, jika berjalan sering
terjatuh karena lapang pandang menyempit. Mata kanan tidak bisa melihat
sama sekali sejak 2 minggu. Mata kiri hanya melihat cahaya. Tidak ada
riwayat hipertensi atau DM. Riwayat katarak pada kedua mata. Tidak ada
riwayat trauma pada mata. Disarankan dokter spesialis mata untuk operasi
mata kiri.
2. Dasar diagnosis
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis glaukoma.
Glaukoma adalah penyakit mata di mana terjadi kerusakan nervus opticus dan
mengakibatkan penurunan penglihatan perifer dan berakhir dengan kebutaan,
seperti gejala dan tanda yang dikeluhkan pasien.
Untuk menegakkan diagnosis glaucoma diperlukan pemeriksaan tekanan
intraokuler (TIO) yang menunjukkan tekanan >21 mmHg dan pemeriksaan
opthalmoskopi untuk melihat atrofi papil saraf optic dan menghitung cup-disk
ratio.
3. Etiologi
Kerusakan saraf mata ini disebabkan oleh peningkatan tekanan di dalam bola
mata sebagai akibat adanya hambatan sirkulasi atau pengaliran cairan bola

6
mata (cairan jernih yang membawa oksigen, gula dan nutrient/zat gizi penting
lainnya ke bagian-bagian mata dan juga untuk mempertahankan bentuk bola
mata). Pada sebagian pasien kerusakan saraf mata bisa juga disebabkan oleh
suplai darah yang kurang ke daerah vital jaringan nervus opticus, adanya
kelemahan struktur dari syaraf atau adanya masalah kesehatan jaringan saraf.
Glaukoma adalah salah satu penyebab utama kebutaan dan rusaknya
penglihatan di seluruh belahan dunia. 2 tipe glaukoma yang paling sering
adalah Primary Open Angle Glaucoma (POAG)/glaukoma sudut terbuka dan
Acute/chronic closed angle glaucoma/ glaukoma sudut tertutup. Tipe lain
termasuk diantaranya Normal Tension Glaucoma, congenital glaucoma,
pigmentary glaucoma dan secondary glaucoma.
4. Terapi
Jika diagnosis glaucoma sudah tegak dimana TIO >21 mmHg dan terdapat
kelainan lapang pandand dan papil maka diberikan pilokarpin 3% tetes mata
3 kali sehari. Bila pada kontrol tidak terdapat perbaikan ditambahkan timolol
0.25% 1-2 dd sampai 0.5%, asetazolamid 3x250 mg atau epinefrin 1-2% 2
dd.
Bila pengobatan tidak berhasil maka perlu dilakukan trabekulektomi laser
atau pembedahan trabekulektomi.
Pada pasien ini dilakukan trabekulektomi dengan anestesi lokal untuk
menyelamatkan visus mata kiri dan mencegah kebutaan.
5. Rencana monitoring
1) Awasi tanda vital
2) Pemeriksaan visus dan lapang pandang berkala post trabekulektomi
6. Edukasi
Menjelaskan pada pasien tentang penyakit, pengelolaan, komplikasi dan
prognosis trabekulektomi.