Anda di halaman 1dari 7

MyoRing pengobatan miopia

Abstrak

Pendahuluan: Koreksi Laser Vision tidak selalu memungkinkan untuk pengobatan


miopia. Tujuan makalah ini adalah untuk menyajikan hasil setelah implantasi
MyoRing pada mata rabun yang pada umumnya tidak memenuhi syarat untuk
LVC. Keselamatan, efektifitas dan pemilihan pasien dibahas. Tujuan pengobatan
adalah untuk menjadi mandiri dalam kehidupan sehari-hari.

Bahan dan metode: 19 mata rabun dari 12 pasien mulai dari -2,25 sampai -16,5
dioptres (D) di bola dan dari 0 sampai -4 D di silinder dianalisis.

Hasil: Setelah pengobatan, 84% dari mata mencapai jarak yang tidak dikoreksi
ketajaman visual (UDVA) dari 0,5 atau lebih baik, 42% mencapai UDVA dari 0,8
atau lebih baik dan 16% mencapai UDVA dari 1,0 atau memperbaiki. Sebelum
pengobatan, tidak ada mata mencapai UDVA dari 0,5 atau lebih baik. Ketajaman
penglihatan visual yang dikoreksi (CDVA) sebelum operasi dan pascaoperasi
tidak berbeda. Tindakan pengobatan merubah rata-rata keseimbangan bentuk bola
mata dari -10,27 D sampai -0,93 D. Indeks kemanan adalah 0,76 dan indeks
keamanan 1,02.

Kesimpulan: implantasi myoring untuk miopia aman dan efektif sangat


memuaskan pada pasien rabun jauh tertentu. Seleksi pasien adalah yang utama.

Pengantar

Laser Vision Correction (LVC) menawarkan dampak yang aman dan efektif pada
miopia.1 Namun, sebagian besar pasien yang ingin dilakukan tindakan LVC tidak
memenuhi syarat untuk pengobatan tersebut. Salah satu alasannya adalah risiko
komplikasi jangka panjang yang parah seperti ektasia kornea.2 Faktor risiko
meliputi kornea tipis dan miopia tinggi.3 Pada miopia tinggi, ektasia pascaoperasi
dapat berkembang hingga 2,5% dari kasus.4 Implantasi lensa intraokular phakic
(pIOL) sering dianggap sebagai pilihan alternatif pada banyak kasus miopia
tinggi. Komplikasi setelah pIOL termasuk pembentukan katarak yang signifikan
secara klinis pada sekitar 7%, glaukoma pada sekitar 7% dan dekompensasi
endotel.5-7

Operasi implantasi intrastromal kornea (CISIS) dengan implantasi


MyoRing ke dalam kantong kornea telah ditunjukkan untuk dapat mengobati
keratoconus 8-11 dan untuk memperbaiki kemungkinan miopia tinggi.12 Di sini
saya melaporkan tentang contoh kasus rabun ringan, sedang dan tinggi yang telah
saya alami melalui CISIS dengan MyoRing.
Bahan dan metode

Sembilan belas mata dengan miopia dari 12 pasien tanpa tanda dan gejala
keratokonus dalam penelitian ini. Ini adalah penelitian retrospektif yang
mendaftarkan pasien yang saya alami selama 8 tahun terakhir dan yang menjalani
pemeriksaan pasca operasi di pusat saya antara 1 Juli dan 31 Desember 2015.
Informed consent diperoleh dari setiap pasien sebelum operasi.

Delapan belas dari 19 mata tidak memenuhi syarat untuk LVC dan 1
terbuang hanya karena dia tidak menginginkan LVC maupun PIOL tapi
pengobatan yang aman dan reversibel. Enam belas dari 18 mata yang tidak
memenuhi syarat untuk LVC dirawat karena kornea tipis dan / miopia tinggi,
sementara 2 karena rheumatoid arthritis (RA). Meskipun RA juga disebut-sebut
sebagai kontraindikasi dalam penggunaan forin (IFU) MyoRing, Pasien yang
menjalani operasi dengan koreksi bedah dan kami berhasil dikirim untuk
melakukan implantasi MyoRing dengan periode follow up yang singkat untuk
dapat mendeteksi kemungkinan perubahan posisi cincin lebih awal dan segera
mengeluarkan cincin untuk menghindari rusaknya bagian kornea. Periode follow-
up dianalisis berkisar antara 2 bulan sampai 24 bulan (median 6 bulan). Usia
pasien berkisar antara 21- 46 tahun pada saat pengobatan (median 28 tahun).
Tabel 1 menunjukkan nomogram yang digunakan dalam penelitian ini.

Tindakan pengobatan dengan menggunakan Pocket Maker Ultrakeratome


(DIOPTEX GmbH, Austria) untuk pembuatan kantong kornea yang diikuti oleh
implantasi MyoRing (DIOPTEX GmbH, Austria) seperti yang dijelaskan di
tempat lain.8

Hasil

Sebelum operasi berkisar antara -2,25 sampai -16,5 D dan silinder sebelum
operasi berkisar antara 0 sampai -4,0 D. Tabel 2 menunjukkan perbandingan
antara persamaan sebelum operasi dan setelah operasi berhubungan dengan
kekuatan korektif untuk dimensi MyoRing yang digunakan. Daya korektif sesuai
dengan perubahan rata-rata pembacaan K. Tabel 3 menunjukkan cakupan pada
silinder sebelum dan sesudah operasi untuk setiap dimensi myoring yang
digunakan.

Ketidakmampuan penglihatan visual yang tidak dikoreksi (UDVA)


meningkat secara signifikan dari rata-rata 1,77 0,5 sampai 0,3 0,3 (logMAR).
Sebagai ukuran efektifitas pengobatan, UDVA setela operasi rata-rata 1,8 baris di
bawah CDVA sebelum operasi yang menghasilkan indeks keberhasilan 0,76.
Gambar. 1 menunjukkan distribusi UDVA pra operasi dan pasca operasi.
Sementara sebelum pengobatan hanya 21% pada mata ketidakmampuan
penglihatan visual yang tidak dikoreksi (UDVA) 0,05 atau pada mata yang sehat
dan (0%) tidak pada mata yang lebih baik 0,5 atau setelah pengobatan 84% pada
mata ketidakmampuan penglihatan visual yang tidak dikoreksi (UDVA) 0,5 atau
lebih baik dan bahkan 16% memiliki 1,0 atau lebih baik.

Ketajaman penglihatan visual yang dikoreksi (CDVA) tetap tidak berubah


antara pemeriksaan sebelum operasi dan setelah operasi sehingga menghasilkan
indeks keamanan 1,02. Sebelum operasi, semua mata (100%) memiliki CDVA 0,5
atau lebih baik, 80% memiliki 0,8 lebih baik dan bahkan 74% memiliki CDVA
1,0 atau lebih baik. Gambar. 2 menunjukkan distribusi sebelum operasi dan
setelah operasi pada CDVA. Hanya satu mata yang berubah dari CDVA (desimal)
kurang dari 0,8 sampai 0,8 atau lebih baik. Tabel 4 menunjukkan ketajaman visual
sebelum dan setelah pengobatan.

Tujuan perawatannya bukan untuk menjamin adanya peremajaan tetapi


untuk bisa mengatasi kehidupan sehari-hari, termasuk mengemudi mobil tanpa
memakai kacamata atau lensa kontak.
Pasien diberi tahu sebelum operasi yang mungkin terjadi bahwa mereka harus
memakai kacamata dioptri rendah utuk saat-saat tertentu seperti mengemudi
kendaraan pada malam hari.

Sebanyak 20% kasus melaporkan masalah penglihatan malam dan


lingkaran cahaya selama periode awal setelah operasi tanpa kacamata yang
biasanya hilang atau tidak dikenali lagi setelah 3 bulan.

Tidak ada komplikasi yang relevan selama atau setelah operasi. Kadang-
kadang terlihat lapisan di tepi implan namun tidak memiliki hubungan klinis.
Tidak ada penipisan stroma atau gejala mata kering.

Diskusi

Kisaran ideal pengobatan miopia dengan cara implantasi CISIS dengan MyoRing
adalah sekitar -10 D bola dengan nilai silinder kurang dari -2D. Pasien sangat
senang ketika dipilih secara sebelum operasi dengan cara yang benar. Pasien yang
terpilih berdasarkan pada harapan pasien. Jika pasien senang dengan lensa kontak
dan penting baginya untuk memiliki ketajaman visual 20/20 atau lebih baik di
kehidupan sehari-hari, pilihan pengobatan ini tidak memadai. Pasien ini tidak
akan senang sama sekali dan akan meminta pengangkatan MyoRing. Karena
implantasi sekaligus pengangkatan MyoRing sesederhana hampir menangani
lensa kontak tanpa memerlukan jahitan, mungkin bukan masalah dalam kasus
yang salah, karena solusi yang cepat, Cara mudah dan bebas dari penghilangan
MyoRing (reversibilitas) biasanya merupakan salah satu kriteria utama pasien
untuk memilih pilihan pengobatan tersebut. Melepaskan MyoRing hanya kurang
dari satu menit kerja dan dimulai dengan membuka terowongan kornea dengan
menggunakan kait Sinskey dan membuka kembali kantong dengan spatula.
Kemudian, Myoring dapat dengan mudah diekstraksi menghubungkan dengan
menggunakan sinskey. Terowongan kornea adalah tempat tertutup dan tidak
memerlukan jahitan.

Pasien yang memiliki CDVA bagus tetapi ingin dapat menangani


kehidupan sehari-hari, Termasuk pengemudi mobil tanpa memakai kacamata atau
lensa kontak namun ingin memakai kacamata dalam kisaran dioptri rendah untuk
keadaan tertentu seperti misalnya mengemudi di malam hari. Secara khusus,
pasien-pasien di luar kelompok yang sekitar -10 D (-8 sampai -13 D) setara bola
(SE) merasa puas dan tidak ada keluhan setelah operasi. Kelompok kedua adalah
pasien yang selalu menolak dengan baik pengobatan tanpa ada laporan efek
samping yang relevan adalah kasus miopia sedang dan tinggi yang sebelum
operasi tidak mencapai CDVA 0.8 atau lebih baik. Kemungkinan besar, ini karena
pasien ini kurang sensitif terhadap gangguan visual tambahan seperti halos.

Mengenai pengelihatan visual, penting untuk dicatat bahwa setelah


tindakan implan MyoRing, Lebih dari 84% memiliki UDVA 0.5 dan lebih baik,
42% memiliki UDVA 0,8 atau lebih baik dan bahkan 16% memiliki UDVA 1,0
atau lebih baik sementara sebelum operasi 100% mata mencapai CDVA 0,5 atau
lebih baik, Namun hanya 84% yang mencapai CDVA 0,8 atau lebih baik dan
hanya 73% yang mencapai CDVA 1,0 atau lebih baik. Data ini ditunjukkan secara
grafis pada Gambar. 1 dan 2. Perlu dicatat bahwa data ini termasuk juga kasus-
kasus di mana koreksi anisometropia adalah tujuan dan tidak dekat dengan
emmetropia. (10%) kedua mata yang tidak mencapai UDVA 0,5 atau lebih baik
pasca operasi, mencapai UDVA 0,4. Mata ini memiliki bola sebelum operasi -
16.0 dan -0,5 silinder dan -13,5 bola dan -3,0 silinder. Kedua pasien tersebut
pasca operasi bahagia dan menolak untuk menghapus MyoRing.

Menariknya, bahwa ukuran pupil tidak begitu berperan dalam peilihan


pasien sebagai harapan pasien. Bahkan ada pasien dengan ukuran pupil relatif
besar yang bisa menggunakan myoring (jernih) dengan baik tanpa mengeluhkan
silau atau gangguan pengelihatan lainnya.

Keterbatasan analisis restrospektif adalah mempertimbangkan sekelompok


pasien yang dipilih secara acak yang datang ke tempat praktik pribadi untuk
tindak lanjut setelah operasi pada waktu tertentu (antara bulan juli 2015 dan
desember 2015) namun pengobatannya telah selesai sudah berhasil jauh lebih
awal. Karena banyak pasien yang diobati berasal dari daerah yang jauh, sulit
untuk merekrut kelompok besar pada pasien yang dirawat untuk ditindaklanjuti
setelah menyelesaikan pengobatan. Kasus yang disajikan dianggap sebagai
sampel acak pada mata yang dirawat sesuai kriteria yang dilaporkan. Oleh karena
itu, tidak termasuk kasus yang mengharuskan pemindahan implan karena tidak
mencapai hasil visual yang mereka harapkan. Jumlah pasien, dengan
bagaimanapun, dapat dijaga dengan sangat rendah jika pemilihan pasien yang
tepat dan pengajaran pasien yang tepat seperti yang dijelaskan di atas dilakukan
sebelum operasi. Oleh karena itu data yang disajikan menggambarkan hasil visual
yang dapat dicapai dengan metode tersebut jika pasien dipilih dengan benar sesuai
dengan kriteria yang dijelaskan di atas. Sesuai dengan pengalaman dengan
pengobatan katarak, tidak ada komplikasi didalam atau setelah operasi yang telah
diamati dalam pengobatan miopia. 8-11

Sebagai kesimpulan, pengobatan MyoRing adalah prosedur operasi


refraksi yang aman, efektif dan dapat dibalik sepenuhnya yang memberikan hasil
yang sangat baik pada kelompok pasien tertentu yang menderita miopia sedang
dan tinggi.
Critical Appraisal Journal

1. Penulis jurnal
Albert Dexter a,b,*

2. Institusi
GutSehen Eye Center, Ybbs, Austria
Departement of Ophthamology, Medical University of
innsburck, Austria.

3. Keterangan pendukung
Diterima 28 Februari 2016; Diterima 5 Juni 2016
Tersedia online 25 Juli 2016.
4. Tingkat kebenaran
Tidak ada penelitian sebelumnya yang membahas prevalensi
setelah tindakan implantasi MyoRing pada mata rabun.
5. Unsur pelengkap
Ada lampiran data pendukung statistik

6. Kelebihan jurnal
Penelitian yang dilakukan pada 19 pasien mata dengan miopia
di dapatkan 12 pasien mata yang tidak memiliki tanda dan
gejala keratokonus. Metode penelitian dengan menggunakan
retrospektif yaitu dilakukan periode follow up selama 6 bulan
antara 1 Juli samapai 31 Desember 2015.

7. Kelemahan jurnal
Pada penelitian ini memiliki keterbatasan yaaitu dengan
menggunakan sampel yang sedikit, tidak ada menggunakan
kelompok kontrol (pada pasien sebelum dan setelah operasi
dengan implantasi MyoRing).
Penelitian ini memiliki keterbatasan analisis retrospektif yaitu
mempertimbangkan sekelompok pasien yang dipilih secara
ajak yang datang ketempat praktik pribadi untuk tindak lanjut
setelah operasi pada wktu tertentu (antara bulan juni-desember
2015).