Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

Penyakit kelamin (veneral disease) sudah lama dikenal dan beberapa


diantaranya sangat populer di Indonesia yaitu sifilis dan gonore. Dengan semakin
majunya ilmu pengetahuan, seiring dengan perkembangan peradaban masyarakat,
banyak ditemukan penyakit penyakit yang baru, sehingga istilah tersebut tidak
sesuai lagi dan diubah menjadi sexually transmitted disease (STD) atau penyakit
menular seksual. (1)

Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah infeksi yang ditularkan melalui


hubungan seksual, walaupun tidak ada gejala yang timbul di alat kelamin. Infeksi
menular seksual akan lebih berisiko bila melakukan hubungan seksual dengan
berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. IMS perlu
mendapatkan perhatian karena dapat menyebabkan infeksi alat reproduksi yang
serius. Bila tidak diobati secara tepat, infeksi dapat menjalar dan menyebabkan
penderitaan, sakit berkepanjangan, kemandulan, dan bahkan kematian. Untuk
remaja perempuan, resiko untuk terkena IMS lebih besar dari pada laki-laki sebab
alat reproduksinya lebih rentan. Seringkali berakibat lebih parah karena gejala awal
tidak segera dikenali, sedangkan penyakit menjadi lebih parah.(2)

Peningkatan insiden infeksi menular seksual (IMS) dan penyebarannya


diseluruh dunia tidak dapat diperkirakan secara tepat. Dibeberapa Negara
disebutkan bahwa pelaksanaan program penyuluhan yang insentif akan
menurunkan insiden IMS atau paling tidak insidennya relative tetap. Namun
demikian, disebagian besar Negara, insiden IMS relative masing tinggi, dan setiap
tahun beberapa juta kasus baru beserta komplikasi medisnya. (15)

Gonore ditemukan oleh Neisser pada tahun 1879 dan baru diumumkan pada
tahun 1882. Kuman Neisseria gonorrhoeae dimasukkan dalam kelompok
Neisseria. Selain spesies itu, terdapat 3 spesies lain, yaitu N meningitidis dan 2
lainnya yang bersifat komensal N, catarrhalis serta N. Pharyngis sicca. Keempat
ini susah dibedakan kecuali dengan tes fermentasi(3)
Gonore adalah penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri.
Neisseria gonorhoeae yang menginfeksi lapisan dalam saluran kandung kemih,
leher rahim, rektum, tenggorokan, serta bagian sklera. Penyakit gonore ini dapat
menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya terutama pada kulit dan
persendian.(4)

Gonore pertama kali ditemukan pada pertengahan tahun 1970-an dan dengan
cepat meluas keberbagai negara didunia. Di afrika barat dan timur, tempat pertama
kali ditemukan tetap merupakan endemik dan didapatkan pada lebih sepertiga
isolat. Survei di Filipina melaporkan sebanyak 30-40%, dan terutama ditemukan
pada pekerja seks komersial. Di Jakarta mulai dilaporkan pada tahun 1980 dan
sampai sekarang. Di kota besar NGPP (N. Gonorrhoeae penghasil penisillin
terdapat sekitar 40-60% sedangkan di kota-kota kecil sampai saat ini belum
diperoleh data mengenai hal itu. (1)

2
BAB II

LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : An. DA,
Umur : 18 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : kec. Gagar bitung
Status : Belum menikah
No. RM : 66835
Tanggal : 25-9-2017

2.2 Anamnesis
Keluhan Utama:
Kencing mengeluarkan nanah.
Riwayat penyakit sekarang:
Pasien datang dengan keluhan mengeluarkan nanah dari kemaluannya, nanah
berwarna putih kekuningan. Keluhan terjadi sejak 1 minggu yang lalu. Awalnya
kencing terasa panas dan nyeri. 4 hari yang lalu bengkak pada ujung penisnya.
Saat ini pasien mengeluh demam sejak 1 hari yang lalu, dan terdapat benjolan
pada selangkangan kiri. Pasien mempunyai riwayat hubungan seksual dengan
temannya 2 minggu sebelum keluhan. Hubungan seksual dilakukan sebanyak
lebih dari 5 kali dan Pasien sering berganti-ganti pasangan seksual. Keluhan
tersebut dirasakan baru pertama kali.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya.
Riwayat Pengobatan
Pasien hanya meminum obat warung keluhan berkurang, tetapi tidak sembuh.
Riwayat Perilaku Seksual
- Pasien melakukan hubungan seksual dengan dengan temannya lebih dari 5
kali.
- Terakhir melakukan hubungan 2 minggu yang lalu dengan temannya.
Riwayat Atopi
Pasien mengaku tidak ada riwayat asma, pilek-pilek saat terkena udara dingin dan
terkena debu ataupun biduran.
Riwayat keluarga:
Keluarga pasien tidak pernah ada yang menderita penyakit seperti ini.

2.3 Pemeriksaan fisik


2.3.1 Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos Mentis
Hiegene : Tampak terawat
Tanda Vital : Tensi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Nadi : Tidak dilakukan pemeriksaan
RR : Tidak dilakukan pemeriksaan
Tax : Tidak dilakukan pemeriksaan
Kepala/Leher : Pembesaran KGB (-)
Thorax : Cor/Pulmo : Tidak dilakukan pemeriksaan
Abdomen : Hepar/Lien : Tidak dilakukan pemeriksaan
Ektremitas : Edema -/-, Pembesaran KGB + di inguinal sinistra

Kelainan kulit Pada status dermatologis

2.3.2 Status Dermatologis

Gambar 2. Lokasi Ruam


Lokasi : Orificium uretra eksternum (OUE)
Distribusi : Lokal
Ruam : Tampak duh tubuh berwarna putih kekuningan, purulen, yang

2
keluar dari Orificium uretra eksternum (OUE), edema (-), eritem (-)

Gambar 3. Tampak Duh keluar dari OUE

2.3.3 Status Veneriologis


Lnn : Ditemukan pembesaran di inguinal sinistra
Corpus penis : tidak ditemukan kelainan
Preputium : (-) pasien telah disirkumsisi
Glans penis : tidak ditemukan kelainan
OUE : tidak ditemukan kelainan
Scrotum : tidak ditemukan kelainan
Epididimis : tidak ada nyeri tekan
Testis : tidak ada nyeri tekan
Discharge : purulen, berwarna putih kekuningan

2.4 Diagnosis Banding


1. Urethritis Gonorrhoe
2. Urethritis Non Gonorrhoe

3
2.5 Rencana Pemeriksaan Penunjang
- Pengecatan gram discharge
- Pemeriksaan Serologi
2.6 Diagnosis
Urethritis Gonorrhoe

2.7 Penatalaksaan
Terapi yang diberikan pada pasien yaitu:
1. Kausatif : - Cefixime 1x400 mg selama 5 hari
- Doxycyclin 2x100 mg selama 7 hari
2. KIE : - Obat diminum sesuai dosis
- tidak melakukan hubungan seksual dulu selama masa
pengobatan, atau menggunakan kondom bila
berhubungan seksual
- Pemeriksaan terhadap pasangan (istri) penderita

2.8 Prognosis
Quo ad Vitam : Bonam
Quo ad Sanam : Bonam
Quo ad Fuctionam : Bonam
Quo ad kosmeticam : Bonam

4
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Gonore adalah semua penyakit yang disebabkan oleh Neisseria
gonorrhoeae, infeksi purulen ini terjadi pada permukaan membran mucosa.
N. gonorrhoeae disebarkan oleh kontak seksual atau melewati transmisi
selama melahirkan. CDC (The Center for Disease Control)
merekomendasikan bahwa pasien dengan infeksi gonorrhea juga harus
diobati dengan infeksi yang menyertai misalnya Chlamydia trachomatis.(1,5)
Gonore adalah penyakit infeksi yang menular secara seksual yang
dapat menginfeksi pria dan wanita. Penyakit ini dapat menginfeksi genital,
rectum, dan tenggorokan. Ini merupakan infeksi umum, terutama pada anak
muda berumur 15-24 tahun, setiap orang yang aktif seksual dapat menderita
gonore. Banyak orang yang menderita gonore tidak menyadarinya
khusunya wanita yang tidak mempunyai gejala. Gonore dapat disembuhkan
dengan pengobatan yang tepat dan apabila tidak diobati maka dapat
menimbulkan masalah kesehatan yang serius.(6,7)

2. Etiologi
Gonore disebabkan oleh bakteri Gonococcus yang intraselular,
aerob dan mempunyai 4 spesies yaitu N. gonorrhoeae, N. menigitidis, N.
pharyngis,dan N. catarrhalis. Bakteri ini pertama kali ditemukan pada tahun
1879 oleh Albert Ludwig Sigismund Neisser. Gonokok termasuk golongan
diplococcus berbentuk biji kopi berukuran lebar 0,8u dan panjang 1,6u
bersifat tahan asam dan berpasangan. Pada sediaan langsung dengan
pewarnaan gram bersifat Gram negatif terlihat diluar dan didalam leukosit,
tidak tahan lama diudara bebas, cepat mati dalam keadaan kering, tidak
tahan suhu diatas 39C dan tidak tahan cairan desinfektan. (3,5)

5
Secara morfologik gonococcus ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan
2 yang mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak
mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Banyak faktor yang memediasi
virulensi dan patogenitas gonococcus. Pili akan melekat pada mukosa epitel
kuboid yang akan menimbulkan reaksi radang dan mencegah hancurnya
oleh neutrofil. Infeksi biasanya diikuti oleh inokulasi mukosa selama kontak
seksual anal, vaginal dan oral.OPA (Opacity-associated protein)
meningkatkan ikatan antara gonokok dan fagosit, mempromosikan invasi
ke sel host dan biasanya dapat menurunkan reaksi imun. (3,5)
Gonore juga dapat ditularkan secara vertikal dari ibu ke anak selama
proses kelahiran vaginal, karateristiknya akan menyebabkan infeksi mata
dan inflamasi. (ophthamia neonatorum).(8)

3. Epidemiologi
Gonore adalah penyakit terbanyak kedua yang ditemukan di amerika
serikat, penyakit ini mempunyai prevalensi yang tinggi pada negara
berkembang.(8)
Gonore adalah penyakit yang hanya ditemukan pada manusia dan
mempunyai adaptasi paling tinggi pada ekologi setempat.(9)
Estimasi infeksi gonore baru di USA(United States American)
dengan kurang dari setengah dilaporkan. Pada tahun 2009, 301.174 kasus
gonore yang dilaporkan ke CDC(Center for Disease Control dan
Prevention) US. Rata-rata negara pada tahun 2009 adalah 99.1% kasus per
100.000 populasi, 10.5% menurun pada tahun 2008 dengan variasi antar
negara. Beberapa ahli mengestimasi biaya gonore dan komplikasinya
mencapai 1.1 milyar.Pada anak yang terlibat kekerasan seksual, rata-rata
penyembuhan gonore berkisar antara 1% sampai 30%. Pada wanita remaja
yang aktif seksual, asimtomatik gonore muncul 1-5%. Tapi jumlah ini
semakin menurun dengan adanya screening.(5,6)

Dengan estimasi 200 juta kasus baru gonore muncul. Pada tahun
1999, jumlah kasus baru infeksi gonore yang didiagnosa di amerika utara

6
adalah 1.56 juta, eropa barat 1.11 juta, asia selatan dan tenggara adalah 27.2
juta serta amerika latin dan Karibia adalah 7.27 juta.(5)
Walaupun data frekuensi tidak diketahui pada negara berkembang,
negara berkembang inilah yang mempunyai frekuensi tinggi infeksi gonore
dan komplikasinya. Infeksi gonore pada wanita hamil di Republik Afrika
dan Afrika selatan adalah 3.1% dan 7.8%. Semua populasi yang aktif
seksual mempunyai resiko infeksi gonore dan level resikonya bertambah
dengan jumlah patner seksual dan adanya Infeksi menular seksual lainnya.
(5)

Walaupun ras tidak mempunyai efek intrinsik terhadap infeksi


gonore, frekuensi di Amerika serikat bertambah pada individu dengan status
sosial ekonomi rendah, populasi yang minoritas. Ini mungkin karena
kurangnya akses dalam mendiagnosis dan terapi. Kurangnya pelayanan
kesehatan yang baik, yang membuat tingkat infeksi bertambah. Pada
kelompok suku lain, jumlah rata-rata dari 2002 sampai 2006 bertambah,
22.8% di Amerika Indian/ Alaska. 17.7% di whites dan 11.8% untuk suku
hispanik. Serta suku asia dengan 1.4%. (5)
Rasio antara pria dan wanita adalah 1:1.2, namun, wanita biasanya
asimtomatik. Wanita yang umurnya lebih muda dari 25 tahun mempunyai
resiko paling tinggi infeksi gonore. Pria yang melakukan hubungan seks
dengan pria biasanya telah terinfeksi oleh gonore dan mempunyai
kemungkinan rata-rata yang sangat tinggi dalam resistan antibiotik terhadap
bakteri. Pada tahun 1980, prevalansi antara pria dan wanita sudah hampir
sama pada semua kelompok umur. (5,8)

4. Patogenesis
Patofisiologi N. gonorrhoeae dan virulen lainnya berbeda subtipe
tergantung pada karateristik antigen pada permukaan protein masing-
masing. Beberapa subtipe dapat menghindari respon serum imun dan dapat
mengarahkan ke infeksi diseminata (sitemik). (5)
Pasien yang mengalami penyakit ini biasanya mempunyai masa
inkubasi 2-7 hari, tapi bisa lebih. (10)

7
Karateristik plasmid baik biasanya membawa gen resisten
antibiotik, yang paling banyak ditemukan adalah penicillin. Gen plasmid
dan nonplasmid ditransmisikan secara bebas diantara subtipe berbeda.
Perubahan gen protein permukaan menghasilkan tempat infeksi yang baik.
perubahan gen resisten antibiotik telah mengarahkan ke resisten antibiotik
beta lactam. Resisten Fluoroquinolone telah didokumentasikan pada
beberapa pulau dan tersebar pada populasi di amerika serikat. (5)
Gonococcus mempunyai afinitas untuk epitelium
columnar.Epitelium berlapis dan pipih lebih resisten terhadap serangan.
Gonococcus mempenetrasi diantara sel epitelial, menyebabkan inflamasi
submucosa dengan reaksi leukosit polymorphonuclear (PMN) dengan
pengeluaran purulen. Rantai gonococcus yang menyebabkan infeksi
diseminata biasanya menyebabkan sedikit inflamasi genital dan biasanya
tidak ditemukan saat di deteksi. Kebanyakan tanda dan gejala infeksi
diseminata adalah manifestasi pembentukan dan penyimpanan imun
kompleks. Banyak infeksi yang tersebar biasanya dengan abnormalitas
faktor utama komponen komplemen. (11)
Infeksi gonore Diseminata (DGI/IGD) muncul diikuti sekitar 1%
dari infeksi genital. Pasien dengan DGI biasanya akan ada panas,
arthralgias, ruam, migratory polyarthritis, septic arthritis, tendonitis,
tenosynovitis, endocarditis dan meningitis. Organisme N. Gonorrhoeae
menyebar dari tempat awal seperti endocerviks, uretra, faring atau rectum
dan diseminata pada darah untuk menginfeksi organ lain. Biasanya,
beberapa tempat masuk, seperti kulit dan sendi telah terinfeksi. Organisme
neisseria diseminata pada darah karena beberapa faktor predisposisi seperti
perubahan fisiologi host, faktor virulen organisme sendiri, dan kegagalan
pertahanan imun host. Contohnya perubahan pH vagina selama menstruasi,
kehamilan dan periode puerperium membuat lingkungan vagina lebih
mudah untuk pertumbuhan organisme dan menyediakan akses tambahan ke
pembuluh darah (3 dari 4 kasus DGI muncul pada wanita, mudahnya
terinfeksi bertambah ketika infeksi primer mukosa muncul selama
menstruasi dan kehamilan.(5)

8
Gangguan pada imun tubuh juga dapat mempengaruhi patofisiologi,
dengan beberapa pasien akan mengembangkan bakterimia. Khusunya,
pasien dengan defisiensi komponen komplemen terminal yang tidak mampu
melawan infeksi, sebagai komplemen berperan penting dalam membunuh
organisme neisseria. Sebanyak 13% pasien dengan DGI mempunyai
defisiensi komplemen.(5)

5. Faktor resiko
Gonore lebih sering terjadi pada usia yang muda, aktif dalam
seksual, dan infeksi lebih umum pada laki-laki di ameriksa serikat, insiden
gonore paling banyak pada kulit hitam, terendah di asia. Di afrika,
prevalensi gonore pada wanita hamil adalah 10%.(11)
Insiden tertinggi pada infeksi gonore di amerika serikat adalah pada
umur 15-24 tahun. Ini terjadi karena beberapa hal sebagai berikut:(5)
Bertambahnya jumlah pasangan seksual
Menurunnya akses ke atau menggunakan pelayanan kesehatan
Fisiologi ektopik pada ikatan squamocolumnar pada wanita
Menurunnya pertahanan kontrasepsi
Infeksi pada anak adalah tanda bahwa anak tersebut mengalami
kekerasan seksual dan harus dilaporkan. Walaupun ada beberapa hal yang
mendukung bahwa transmisi bisa terjadi tanpa transmisi non seksual pada
anak dan transmisi dari dewasa ke anak yang berhubungan dengan tangan
kotor dan higienitas. Gonore tetap sebagai penyakit pada populasi remaja
dan dewasa muda dengan angka kejadian pada pria berumur 20-24 tahun
dan pada wanita berumur 15-19 tahun. (5)

6. Manifestasi Klinis
Masa tunas gonore sangat singkat, pada pria umumnya berkisar
antara 2-5 hari, kadang-kadang lebih lama. Pada wanita masa tunas sulit
untuk ditentukan karena pada umumnya asimtomatik. (1)

9
Gambar 1. Purulen, discharge uretra dari distal uretra(8)

Pada pria, presentasi paling umum adalah discharge uretra purulen,


90% akan berkembang menjadi urethritis dalam kurun waktu 5 hari
sedangkan pada wanita biasanya asimtomatik, ketika gejala muncul, ini
biasanya >14 hari setelah terpapar. Jika tidak di obati maka akan
menyebabkan pembentukan absses dan infeksi gonore diseminata.(11)

Masa inkubasi sangat singkat, pada laki-laki 2-5 hari, kadang


kadang lebih lama dan hal ini disebabkan karena penderita telah
mengobati diri sendiri, tetapi dengan dosis yang tidak cukup atau gejala
sangat samar sehingga tidak diperhatikan oleh penderita.pada wanita masa
tunas sulit ditentukan karena pada umumnya asimtomatik.(1)

Beberapa pria dengan gonorrhoeae biasanya tidak memiliki


sindrom, tapi ada beberapa gejala contohnya:(6)

10
- Sensasi terbakar diperiksa saat buang air kecil;
- Disharge putih, kuning atau hijau dari penis.
- Rasa sakit pada testis yang membengkak (walaupun agak jarang).

Gejala pada wanita adalah sebagai berikut:

- Rasa sakit dan sensasi terbakar ketika buang air kecil.


- Menambahkan discharge
- Perdarahan vagina diantara periode.

Infeksi Rectal biasanya tidak mermpunyai gejala dan


penyebabnya.

Gejala pada pria dan wanita:

- Gatal pada wanita


- Kering teggorongan:
- perdarahan;
- pergerakan usus yang sakit.

7. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang:
1. Sediaan langsung/ Pewarnaan gram(1.3)
Dapat ditemukan gram negatif diplococcus intraseluler dan
ekstraseluler dalam leukosit PMN pada eksudat. Bahan duh tubuh pria
diambil dari fossa navicularis sedangkan pada wanita diambil dari uretra,
muara kelenjar bartholin., serviks, untuk pasien dengan anamnesis
berisiko melakukan kontak seksual anogenital dan orogenital, maka
pengambilan duh tubuh dilakukan pada faring dan rektum. Sensitivitas
pemeriksaan langsung ini bervariasi, pada spesimen duh uretra pria
sensitivitasnya berkisar 90-95%, sedangkan pada endoserviks
sensitivitasnya hanya berkisar antara 45-65%, dengan spesifitasnya yang
tinggi yaitu 90-99%. GO dikatakan positif bila dijumpai adanya
diplokokus gram nrgatif dengan bentuk morfologinya yang khas dan

11
biasanya terdentifikasi di dalam sel leukosit polimorfonuklear
(intraselular) maupun dekat di sekitar sel leukosit (ekstraselular). (14)

Gambar 2. Gonococcus dengan leukosit PMN(8)

2. Kultur(1.3)
Identifikasi spesies perlu dilakukan pemeriksaan biakan
(kultur). 2 macam media yang dapat digunakan:
1. Media transport: Media stuart dan Transgrow
2. Media pertumbuhan: Mc Leods chocolate agar, Thayer Martin, dan
Modified Thayer Martin agar.
Media transgrow selektif dan nutritif untuk N. gonorrhoeaedan N.
meningiditis;dapat bertahan hingga 96 jam dan merupakan gabungan
media transport dan pertumbuhan sehingga tidak perlu ditanam kembali.
Media ini merupakan metode modifikasi Thayer Martin dengan
menambahkan trimetoprim untuk mematikan Proteus spp.

12
3. Tes Beta-Laktamse(1.3)
Pemeriksaan ini menggunakan cefinase TM dis. BBL 961192 yang
mengandung chromogenic cephalosporin akan menyebabkan perubahan
warna dari kuning menjadi merah

4. Tes Thomson(1.3)
Tes ini berguna untuk mengetahui sampai mana infeksi telah
berlangsung. Dahulu pemeriksaan ini perlu dilakukan karena pengobatan
pada waktu itu ialah pengobatan setempat. Pada tes ini ada syarat yang
perlu diperhatikan yaitu:
- Sebaiknya dilakukan setelah bangun pagi
- Urin dibagi menjadi 2 gelas
- Tidak boleh menahan kencing dari gelas I kegelas II

Syarat mutlak ialah kandung kencing harus mengandung air seni paling
sedikit 80-100 ml, jika air seni kurang dari 80 ml, maka gelas II sukar
dinilai baru menguras uretra anterior.

Hasil pembacaan:

Gelas 1 Gelas 2 Arti


Jernih Jernih Tidak ada infeksi
Keruh Jernih Infeksi uretritis anterior
Keruh Keruh Panuretritis
Jernih Keruh Tidak mungkin
Tabel 1. Rekomendasi pemeriksaan laboratorium

5. Tes Identifikasi presumtif dan konfirmasi(1.3)


1. Tes Oksidase
Reagen oksidasi yang mengandung larutan tetrametil-p-
fenilendiamin hidroklorida 1% ditambahkan kepada koloni
gonococcus. Semua N. gonorrhoeae memberi reaksi positif dengan
perubahan warna koloni yang semula bening menjadi merah muda
sampai merah lembayung.

13
2. Tes Fermentasi
Tes dilanjutkan dengan memakai glukosa, sukrosa dan maltosa. N.
gonorrhoeae hanya meragikan glukosa.
8. Diagnosis
Dalam mendiagnosis penyakit ini kita membutuhkan bukti klinis
dan salah satunya dari hasil laboratorium berupa pewarnaan serta kultur.
Hasil lab dapat kita dapatkan gram-negatif diplococcus pada cairan swab
urethrae.(10,11)

Gambar 3. Diagnosis pasien wanita dengan pendekatan sindrom(3)

14
Gambar 4. Diagnosis pasien wanita dengan pendekatan Mikroskop(3)

15
Gambar 5. Diagnosis pada pria dengan pendekatan mikrospkop(3)

16
Gambar 6. Diagnosis pria dengan pendekatan sindrom(3)

9. Diagnosis Banding
Beberapa DD untuk penyakit N. gonorrhoeae:(3,12,13)

1. Candidiasis

Penyakit ini akan memberikan manifestasi klinis berupa duh tubuh,


gatal digenital, panas, nyeri sesudah miksi dan dispareunia. Penyakit ini
disebabkan oleh candida albicans. Tanda yang khas adalah disertai
gumpalan-gumpalan sebagai kepala susu berwarna puitih kekuningan.

2. Chlamydia

Infeksi Chlamydia merupakan infeksi paling umum yang


disebabkan oleh bakteri yang dapat disembuhkan. Manifestasi klinisnya
berupa pengeluaran duh tubuh disertai dengan urethritis pada pria
dan endocervicitis pada wanita. Jika tidak diobati maka dapat
menimbulkan epididymitis dan prostatitis. Walalupun pada wanita
biasanya asimtomatik tapi biasanya koimplikasinya akan berat yaitu
pelvic inflammatory disease (PID), kemandulan dan kehamilan ectopic.

17
3. Vaginosis Bakterial

Merupakan sidrom klinis, yang disebabkan oleh bertambah


banyaknya organisme komensal dalam vagina (yaitu Gardnerella
vaginalis, Preevotella, Mobiluncus spp) serta berkurangnya organisme
Lactobacillus yang menghasilkan hidrogen peroksida. Pada keadaan
normal bakteri ini yang mempertahankan suasana asam dan aerob di
vagina. Sebanyak 50% yang menderita penyakit ini tidak mengalami
keluhan atau asimtomatik. Bila ada keluhan, umumnya berupa duh
tubuh vagina normal, yang terjadi setelah hubungan seksual.

Pada pemeriksaan klinis duh tubuh berwarna abu-abu homogen,


viskositas rendah atau normal, berbau amis, melekat didinding vagina,
seringkali terlihat di labia dan fourchette. pH sekret vagina berkisar 4,5-
5,5.

4. Trikominiasis

Trikomoniasis pada saluran urogenital dapat menyebabkan


vaginitis dan sistitis. Walaupun sebagian besar tanpa gejala, tetapi dapat
menimbulkan masalah kesehatan yang cukup berat. Pada laki-laki
biasanya mengalami urethritis. Trikomoniasis pada wanita
asimtomatik. Pada kasus akut biasanya terlihat sekret vagina
seropurulen sampai mukopurulen berwarna kekuningan, sampai kuning
kehijauan, berbau tidak enak(malodor) dan berbusa.

Trikomoniasis pada laki-laki menyerang uretra, kelenjar


prostat, dan kadang-kadang preputium, vesika seminalis dan
epididimis. Pada umumnya gejala lebih ringan daripada wanita. Bentuk
akut gejalanya adalah mirip urethritis non-gonore, misalnya disuria,
poliuria, disertai sekret uretra mukoid dan mukopurulen.

10. Terapi

18
Insiden antibiotik resisten rantai N. gonorrhoeae telahmeningkat
sejak 1940. Hal yang sangat di khawatirkan adalah pertumbuhan dari kasus
penicillinase-producing N. gonorrhoeae. (5)
Pada pengobatan yang perlu diperhatikan adalah efektivitas, harga
dan sesedikit mungkin efek toksiknya. Dulu teryata pilihan utama ialah
penisillin+probenesid. Secara epidemiologis pengobatan yang dianjurkan
adalah obat dosis tunggal. (3)

Pengobatan lokal gonore tanpa komplikasi, infeksi cerviks, rectum,


faring dan uretra:(8)
-
Dosis tunggal intramuscular Ceftriaxone 125mg
-
oral cefixime 400mg 2 kali sehari

Alternatif dosis tunggal regimen cephalosporin:


-
Intramuscular Ceftriaxone 500mg
-
oral cefotaxime 500mg,
-
intramuscular cefoxitin 2g dengan oral probenecid 1g.
-
Jika Alergi penicillin, intramuscular spectinomycin 2mg.

Untuk pasien yang alergi dengan cephalosporin,


-
spectinomycin 2g dengan dosis tunggal IM.

Dalam terapi untuk chlamydia ditambahkan:


-
Azithromycin 1 g oral dosis tunggal,
-
doxycycine 100 mg oral 2 kali sehari dalam 7 hari.(8)

Pengobatan pada neonatus yang terinfeksi gonore:(8)


- Ceftriaxone, 2550 mg/kg/hari IV atau IM dosis tunggal sehari selama
7 hari, atau untuk 1014 hari jika meningitis ada
- Cefotaxime, 25 mg/kg IV atau IM setiap 12 jam untuk 7 hari, atau untuk
1014 hari jika meningitis ada diketahui.

19
Dalam sebuah jurnal ditemukan bahwa ceftriaxone telah menjadi
resisten untuk penyakit gonore, ini ditemukan di australia dengan beberapa
bakteri.(9)

Beberapa obat golongan kuinolon untuk pengobatan gonore yaitu:


- Ciprofloksasin 500 mg oral diberikan dosis tunggal.
- Ofloksasin 400 mg oral diberikan dosis tunggal.

Beberapa obat golongan sefalosforin untuk pengobatan gonore


yaitu:
- Ceftriakson 500 mg IM diberikan dosis tunggal
- Cefikxime 400 mg oral diberikan dosis tunggal

Rejimen yang dianjurkan oleh CDC adalah pilihan pertama adalah


sefriakson 125 mg IM dosis tunggal dan pilihan kedua adalahn cefixime 400
mg oral dosis tunggal kemudian sifroloksasin 500 mg oral dosis tunggal atau
ofloksasin 400 mg dosis tunggal.

11. Prognosis
Kebanyakan laki-laki yang terinfeksi mencari pengobatan karena
gejala awal yang muncul untuk mencegah masalah serius, tapi tidak
mencegah penularan ke orang lain. Kebanyakan infeksi pada wanita tidak
mempunyai gejala yang terlihat sampai komplikasi seperti PID (Pelvic
Inflamation Disease), infertilitas, timbulnya kehamilan ektopik, DGI lebih
umum pada wanita dengan asimtomatik cervical, endometrium, atau infeksi
tuba dan homoseksual dengan asimtomatik rectal atau gonore faring. (11)
Jika kau seorang wanita hamil yang terinfeksi N. gonorrhoeae maka
melahirkan seorang anak akan membuat dia terinfeksi maka pengobatan
yang baik akan menurunkan resiko pada bayi. (6)

12. Komplikasi

20
Gambaran klinis dan komplikasi gonore sangat erat hubungannya
dengan susunan anatomi dan faal genitalia. Oleh karena itu perlu
pengetahuan susunan anatomi genitalia pria dan wanita. (3)

Komplikasi gonore pada pria dan wanita:(1,3)


Infeksi Simtomatik pada pria: Uretritis

Infeksi ini akan menyebabkan beberapa komplikasi yaitu:


Lokal :
1. Tysonitis;
Kelenjar tyson adalah kelenjar yang menghasilkan smegma. Infeksi
biasanya terjadi pada penderita dengan preputium yang panjang dan
kebersihan yang kurang baik. diagnosis dibuat dengan ditemukannya
butir pus atau pembengkakan daerah frenulum yang nyeri tekan.
2. Litriasis;
Tidak ada gejala khusus, hanya pada urin ditemukan benang-benang
atau butir-butir. Bila salah satu saluran tersumbat maka akan terjadi
abses folikular.
3. Cowperitis;
Bila hanya duktus yang terkena biasanya tanpa gejala, sedangkan
infeksi yang mengenai kelenjar cowper dapat terjadi abses. Keluhan
berupa nyeri dan adanya benjolan pada daerah perineum disertai rasa
penuh dan panas, nyeri pada saat defeksi dan disuria.
4. Parauretritis;
Sering pada orang dengan orifisium uretra eksternum terbuka dan
hipospadia. Infeksi pada duktus ditandai dengan butir pus pada kedua
muara uretre.

Ascendens :
1. Prostatitis,
Ditandai dengan rasa tidak nyaman di daerah perineum dan
suprapubis, malaise, demam, nyeri saat berkemih, hematuri, spasme otot

21
uretra hingga terjadi retensi uri, tenesmus ani, sulit buang air besar, serta
obstipasi.
2. Trigonitis,
Infeksi asendens dari uretra posterior dapat mengenai trigonum
vesika urinaria. Trigonitis menimbulkan gejala poliuria, disuria terminal
dan hematuria.
3. Vesikulitis,
Merupakan radang akut yang mengenai vesikula seminalis dan
duktus ejakulatorius, dapat timbul menyertai prostatitis akut atau
epididimitis akut. Gejala subjektif menyerupai prostatitit akut yaitu
demam,polakisuria, hematuria terminal, nyeri pada saat ereksi atau
ejakulasi
4. Epididimitisdan Vas Deferentitis/ Funikulitits
Gejala berupa rasa nyeri pada daerah abdomen bawah sisi yang sama
dengan terjadinya infeksi.
5. Orkitis
Reaksi inflamasi akut yang terjadi pada testis yang
diakibatkan oleh bakteri dan merupakan infeksi sekunder. Hal ini dapat
menyebabkan strerilitas. Apabila dilihat maka terlihat testis membesar,
dan akan terasa nyeri ketika duduk.

Infeksi Simtomatik pada wanita: Uretritis dan servisitis

Infeksi ini akan menyebabkan beberapa komplikasi yaitu:


Lokal :

1. Bartholinitis
Labium minor sisi yang terkena membengkak, merah dan nyeri
tekan. Kelenjar bartholin membengkak, terasa nyeri sekali bila berjalan
dan pasien sukar duduk. Bila saluran kelenjar tersumbat maka akan
terjadi abses atau dapat pecah melalui mukosa dan kulit.

22
2. Parauretritis
Kelenjar dapat terkena tapi biasanya jarang terjadi abses.
Ascendens : Salpingitis, Penyakit radang pinggul (PRP) dan Pelvic
Inflammatory Disease (PID)

Peradangan bersifat akut, subakut atau kronis. Ada beberapa faktor


predisposisi, yaitu:
- Masa puerperium
- Dilatasi setelah kuretase
- Pemakaian IUD, tindakan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)

Cara infeksi dari serviks melalui tuba fallopi sampai pada daerah
salping dan ovarium, sehingga dapat menimbulkan Penyakit radang
pinggul (PRP). Infeksi ini dapat menimbulkan kehamilan ektopik dan
sterilitas. 10% wanita dengan gonore akan mengalami PRP. Gejala
subjektif berupa nyeri pada daerah abdomen bawah, keluarnya duh
tubuh vagina, disuria, dan menstruasi yang tidak teratur atau abnormal.

Kira-kira 1% penyakit gonore akan berlanjut pada komplikasi


gonore diseminata. Penyakit ini banyak didapat pada penderita dengan
gonore asimtomatik sebelumnya, terutama pada perempuan. Gejala yang
timbul bisa berupa: artritis (terutama monoartritis), miocarditis,
endocarditis, pericarditis dan meningitis.

13. Pencegahan
Beberapa pencegahan gonore adalah sebagai berikut: (4,6,7,10)
a. Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal, dan oral
dengan orang terinfeksi;
b. Edukasi Sex
c. Pemakaian kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat
menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini;
d. Hindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai;

23
e. Sarankan juga pasangan seksual agar diperiksa guna mencegah infeksi
lebih jauh dan mencegah penularan;
f. Wanita tuna susila agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur,
sehingga jika terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar
g. Pemberian preparat tetes mata antimikroba pada bayi yang baru lahir.
h. Berhubungan lama secara mutual dengan seorang wanita atau
hubungan monogami pada pasangan yang telah dites dan negatif
infeksi menular seksual.

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Fahmi DS. Gonore In: Zubier Farida(editor). Infeksi menular Seksual edisi
keempat. FKUI. Jakarta: 2015. Pp:65
2. Nyoman K, Ni. Infeksi Menular Seksual dan Infeksi Saluran Reproduksi.
Diskes Bali. Bali: 2011.
3. Fahmi, DS. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin edisi ketujuh. FKUI. Jakarta:
2015.
4. Clevere S,R dan Ari M, GA Made. Penyakit kulit dan kelamin. Nuha
medika. Yogyakarta:2013. Pp:131
5. Wong B. 2015. Drug & DiseaseGonorrhoeae. Medscape (Online). Diakses
pada tanggal 2 November 2015 dari (http:// emedicine. medscape.
com/article/218059-medication#showall)
6. Division of STD prevention. 2015. STDGonorrhoeae. CDC (online).
Diakses pada tanggal 2 November 2015 dari (http:// www. cdc. gov/ std/
gonorrhea/stats.htm)
7. MedlinePlus. 2015. Gonorrhoeae. Diakses pada tanggal 2 November 2015
dari (https://www.nlm.nih.gov/medlineplus/gonorrhea.html)
8. Goldsmith L. A. dkk. 2012. Fitzpatrick Dermatology in General Medicine
Eighth Edition. New York: McGraw Hill.
9. Tapsall, JW. 2005. AntibioticResistantein Neisseria gonorrhoeae. Diakses
pada tanggal 2 November 2015 dari
(http://cid.oxfordjournals.org/content/41/Supplement_4/S263.full)
10. Chandra B. Kontrol Penyakit Menular Pada Manusia. EGC. Jakarta: 2013.
Pp:42
11. Wolff K, Johnson R.A, Saavedra A.P. 2013. Fitzpatricks Color Atlas and
Synopsis of Clinical dermatologys Seventh Edition. New Yoark: Mc Graw
Hill.
12. Malik SR, et al. GonoreIn: Amiruddin, MD(editor). Penyakit Menular
Seksual. Makassar: Universitas Hasanuddin. 2004.
13. Malhotra M et al. 2013. Genital Chlamydia Trachomatis: An Update.
Diakses pada tanggal 2 November 2015 dari(http://
www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)

25
14. Afriana N. 2012. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian infeksi
gonore pada wanita penjaja sex komersial: An Update. Diakses pada
tanggal 14 januari 2016 dari(http://
www.lib.ui.ac.id.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)
15. Jawas FA, Murtiastutik D. 2008. Gonorrhoeae patient in sexually
transmitted disease division, dermato venerology departemen of Dr.
Soetomo general hospital in 2002-2006: An Update. Diakses pada tanggal
14 januari 2016 dari(http://
www.lib.ui.ac.id.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3818592/)

26