Anda di halaman 1dari 79

RESPIRASI

TB
Tuberkulosis
• Penyakit infeksi yang di sebabkan oleh
mycrobacterium tubercolosis dengan gejala yang
sangat bervariasi
• Kuman TB berbentuk batang, memiliki sifat tahan
asam terhadap pewarnaan Ziehl Neelsen sehingga
dinamakan Basil Tahan Asam (BTA).
Tuberkulosis
Tanda dan Gejala
 Gejala lokal/ gejala respiratorik
Ø batuk - batuk > 2 minggu
Ø batuk darah
Ø sesak napas
Ø nyeri dada
 Gejala sistemik
Ø Demam
Ø Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,
anoreksia, berat badan menurun
Tanda dan Gejala

Gejala respiratori: batuk ≥2 minggu, batuk darah,


Gejala Klinis sesak napas, nyeri dada. Gejala sistemik: demam,
malaise, keringat malam, turun berat badan

Kelainan paru di lobus superior (apeks & segmen posterior),


PF apeks lobus inferior: suara napas bronkial, amforik, suara
napas melemah, ronki basah, tanda penarikan paru,
diafragma, dan mediastinum

Lesi aktif: Bayangan berawan/nodular di apeks & posterior


Roentgen lobus superior, segmen superior lobus inferior, Kavitas,
Bayangan bercak milier, efusi pleura. Lesi inaktif: fibrotik,
kalsifikasi, schwarte/penebalan pleura.

Tuberkulosis: pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. PDPI: 2014.


Sputum BTA
• Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen
dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu -
pagi - sewaktu (SPS).
• Cara pengambilan dahak 3 kali, setiap pagi 3
hari berturut-turut atau dengan cara:
Ø Sewaktu/spot (dahak sewaktu saat
kunjungan)
Ø Pagi ( keesokan harinya )
Ø Sewaktu/spot ( pada saat
mengantarkan dahak pagi)
Klasifikasi Berdasarkan Riwayat
Pengobatan Sebelumnya: (TB 2014)
• Pasien baru TB: adalah pasien yang belum pernah mendapatkan
pengobatan TB sebelumnya atau sudah pernah menelan namun
kurang dari 1 bulan (< dari 28 dosis).
• Pasien yang pernah diobati TB: adalah pasien yang sebelumnya
pernah menelan selama 1 bulan atau lebih
 Pasien ini selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan hasil
pengobatan TB terakhir, yaitu:
– Pasien kambuh: adalah pasien TB yang pernah dinyatakan sembuh
atau pengobatan lengkap dan saat ini didiagnosis TB berdasarkan hasil
pemeriksaan bakteriologis atau klinis (baik karena benar- benar
kambuh atau karena reinfeksi).
– Pasien yang diobati kembali setelah gagal: adalah pasien TB yang
pernah diobati dan dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
– Pasien yang diobati kembali setelah putus berobat (lost to follow-up):
adalah pasien yang pernah diobati dan dinyatakan lost to follow up
(klasifikasi ini sebelumnya dikenal sebagai pengobatan pasien setelah
putus berobat /default).
– Lain-lain: adalah pasien TB yang pernah diobati namun hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
Klasifikasi Berdasarkan Hasil
Pemeriksaan Uji Kepekaan Obat
• Mono resistan (TB MR): resistan terhadap salah satu
jenis OAT lini pertama saja
• Poli resistan (TB PR): resistan terhadap lebih dari satu
jenis OAT lini pertama selain Isoniazid (H) dan
Rifampisin (R) secara bersamaan
• Multi drug resistan (TB MDR): resistan terhadap
Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) secara bersamaan
• Extensive drug resistan (TB XDR): adalah TB MDR yang
sekaligus juga resistan terhadap salah satu OAT golongan
fluorokuinolon dan minimal salah satu dari OAT lini kedua
jenis suntikan (Kanamisin, Kapreomisin dan Amikasin)
• Resistan Rifampisin (TB RR): resistan terhadap Rifampisin
dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain yang
terdeteksi menggunakan metode genotip (tes cepat) atau
metode fenotip (konvensional).
Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.
Pedoman nasional pengendalian tuberkulosis. 2014.
TB dan Hepatitis
 OAT pada TB + Hepatitis akut/klinis ikterik perlu ditunda
hingga klinis perbaikan/ hepatitis sembuh
 Hepatitis kronis : periksa fungsi hati sebelum pengobatan,
jika SGOT/SGPT meningkat >3x nilai normal, OBAT
HEPATOTOKSIK PERLU DIHINDARI

 Tanpa obat hepatotoksik : 18-24 SE + satu obat quinolon


selain siprofloxacin

 1 obat hepatotoksik : 2 HES/10 HE

 2 obat hepatotoksik : 2 RHSE/ 6 HR atau 9RHE


Drug Induced Hepatitis
 Bila Klinis (+) – ikterik, mual, muntah, stop OAT
HEPATOTOKSIK
 Bila Klinis (-) dan Sgot/SGPT >5x, stop OAT
HEPATOTOKSIK, tetap berikan obat non hepatotoksik
 Setelah klinis normal dan lab mendekati normal :
 Mulai pengobatan dri R, 3-7 hari kemudian berikan H.

 Jika R penyebabnya : 2HES/10HE


 Jika H penyebabnya : 6-9RZE
 Jika pasien mengalami gangguan fungsi hati yang berat
dan tidak dpat lagi menerima R/H maka :18-24 SE + 1
obat quinolon selain sipro
TB dalam kehamilan
 Tidak ada perbedaan regimen terapi. Semua OAT
aman kecuali golongan aminoglikosida (streptomisin)

TB dan DM
Tidak ada perbedaan, kecuali jika gula darah sangat tidak
terkendali, terapi OAT bisa diperpanjang sampai 9 bulan

TB dan HIV/AIDS
Dimulai dengan pemberian OAT, setelah 2-8 minggu terapi
berikan ARV.
ARV yang digunakan adalah Efavirens
TB pada Anak
TB pada Anak
 Regimen terapi 2RHZ/4RH

 Profilaksis Primer : Tes tuberkulin negatif, kontak TB


(+). INH 5-10 mg/kgbb selama 6 bulan
 Profilaksis sekunder : tes tuberkulin positif, dengan
gejala klinis lain. INH 5-10 mg/kgbb selama 9 bulan
ASMA
Asma
Definisi:
– Gangguan inflamasi kronik saluran napas
yang melibatkan banyak sel dan elemennya.
– Inflamasi kronik mengakibatkan
hiperesponsif jalan napas yang
menimbulkan gejala episodik berulang:
• mengi, sesak napas, dada terasa berat, dan
batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari.
– Episodik tersebut berhubungan dengan
obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi &
seringkali bersifat reversibel.
 PDPI, Asma pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia.
 GINA 2017
Tanda dan Gejala
• Anamnesis yang baik cukup untuk menegakkan diagnosis, ditambah dengan
pemeriksaan jasmani dan pengukuran faal paru terutama reversibiliti kelainan
faal paru, akan lebih meningkatkan nilai diagnostik.

• Riwayat penyakit / gejala :


– Bersifat episodik, seringkali reversibel dengan atau tanpa pengobatan
– Gejala berupa batuk , sesak napas, rasa berat di dada dan berdahak
– Gejala timbul/ memburuk terutama malam/ dini hari
– Diawali oleh faktor pencetus yang bersifat individu
– Respons terhadap pemberian bronkodilator

• Tanda klinis: sesak napas, mengi, & hiperinflasi. Serangan berat: sianosis, gelisah,
sukar bicara, takikardi, penggunaan otot bantu napas.
Tanda dan Gejala
• Pemeriksaan Fisik : retraksi intercostal, suara ekspirasi
yang memanjang dan wheezing dengan nafas
bronchial
• Pemeriksaan Gold Standar spirometri dengan
kombinasi bronkodilator
– Terjadi peningkatan FEV1 >12% dan 200ml setelah
pemberian bronchodilator.
– Terjadi peningkatan PEF >20% setelah pemberian
bronchodilator.
– Terdapat variasi nilai PEF secara diurnal >20% atau bila
dalam pembacaan 2x dalam sehari >10%.
Pemeriksaan Penunjang
• Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma :
– Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/ KVP < 75% atau VEP1 < 80%
nilai prediksi.
– Reversibilitas: perbaikan VEP1 ≥ 12% secara spontan, atau setelah inhalasi
bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-
14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/ oral) 2 minggu.
– Menilai derajat berat asma

• Manfaat arus puncak ekspirasi dengan spirometri atau peak expiratory


flow meter:
– Reversibiliti, yaitu perbaikan nilai APE > 20% setelah inhalasi bronkodilator (uji
bronkodilator), atau bronkodilator oral 10-14 hari, atau respons terapi
kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu
– Variabilitas, menilai variasi diurnal APE yang dikenal dengan variabiliti APE harian
selama 1-2 minggu. Juga dapat digunakan menilai derajat asma
Patient with
respiratory symptoms
Diagnosis Asma
Are the symptoms typical of asthma?
(GINA, 2016)
NO
YES

Detailed history/examination
for asthma
History/examination supports
asthma diagnosis?
Further history and tests for
NO alternative diagnoses
Clinical urgency, and
YES Alternative diagnosis confirmed?
other diagnoses unlikely

Perform spirometry/PEF
with reversibility test
Results support asthma diagnosis?

Repeat on another
NO
occasion or arrange
NO
YES other tests
Confirms asthma diagnosis?

Empiric treatment with YES NO YES


ICS and prn SABA
Review response
Consider trial of treatment for
Diagnostic testing most likely diagnosis, or refer
within 1-3 months for further investigations

Treat for ASTHMA Treat for alternative diagnosis

GINA 2016, Box 1-1 (4/4) © Glloball Iniitiiatiive for Asthma


Klasifikasi
Asma
Klasifikasi Serangan Asma
Terapi Maintenance

 Nilai selama 3 bulan, jika membaik step-down, jika


tidak terdapat perbaikan step-up
• STEP 1: As-needed SABA with no controller (this is indicated only if symptoms are rare, there is no night
waking due to asthma, no exacerbations in the last year, and normal FEV1).
– Other options: regular low dose ICS for patients with exacerbation risks.

• STEP 2: Regular low dose ICS plus as-needed SABA


– Other options: LTRA are less effective than ICS; ICS/LABA leads to faster improvement in symptoms and FEV1 than ICS
alone but is more expensive and the exacerbation rate is similar. For purely seasonal allergic asthma, start ICS
immediately and cease 4 weeks aVer end of exposure.

• STEP 3: Low dose ICS/LABA either as maintenance treatment plus as-needed SABA, or as ICS/ formoterol
maintenance and reliever therapy
– For patients with ≥1 exacerbation in the last year, low dose BDP/formoterol or BUD/formoterol maintenance and reliever
strategy is more effective than maintenance ICS/LABA with as-needed SABA.
– Other options: Medium dose ICS
– Children (6–11 years): Medium dose ICS. Other options: low dose ICS/LABA

• STEP 4: Low dose ICS/formoterol maintenance and reliever therapy, or medium dose ICS/LABA as
maintenance plus as-needed SABA
– Other options: Add-on tiotropium by mist inhaler for patients ≥12 years with a history of exacerbations; high dose
ICS/LABA, but more side-effects and li\le extra benefit; extra controller, e.g. LTRA or slow-release theophylline (adults)
– Children (6–11 years): Refer for expert assessment and advice.

• STEP 5: Refer for expert investigation and add-on treatment


– Add-on treatments include tiotropium by mist inhaler for patients with a history of exacerbations (age ≥12 years),
omalizumab (anti-IgE) for severe allergic asthma, and mepolizumab (anti-IL5) for severe eosinophilic asthma (age ≥12
years). Sputum-guided treatment, if available, improves outcomes.
– Other options: Some patients may benefit from low dose OCS but long-term systemic side-effects occur.
Inhaled corticosteroid Total daily dose (mcg)
Low Medium
High
Beclometasone dipropionate (CFC) 200–500 >500–1000 >1000
Beclometasone dipropionate (HFA) 100–200 >200–400 >400
Budesonide (DPI) 200–400 >400–800 >800
Ciclesonide (HFA) 80–160 >160–320 >320
Fluticasone furoate (DPI) 100 n.a. 200
Fluticasone propionate (DPI or HFA) 100–250 >250–500 >500
Mometasone furoate 110–220 >220–440 >440
Triamcinolone acetonide 400–1000 >1000–2000 >2000

– This is not a table of equivalence, but of estimated clinical comparability


– Most of the clinical benefit from ICS is seen at low doses
– High doses are arbitrary, but for most ICS are those that, with prolonged use, are
associated with increased risk of systemic side-effects
PNEUMONIA
Pneumonia
• Diagnosis pneumonia komunitas:
 Infiltrat baru/infiltrat progresif + ≥2 gejala:
1. Batuk progresif

2. Perubahan karakter dahak/purulen


3. Suhu aksila ≥38 oC/riw. Demam

4. Fisis: tanda konsolidasi, napas bronkial, ronkhi


5. Lab: Leukositosis ≥10.000/leukopenia ≤4.500

• Gambaran radiologis:
– Infiltrat sampai konsolidasi dengan “air bronchogram”, penyebaran
bronkogenik & interstisial serta gambaran kaviti.
– Air bronchogram: gambaran lusen pada bronkiolus yang tampak
karena alveoli di sekitarnya menjadi opak akibat inflamasi.
Pneumonia
• Cough, particularly cough productive of sputum, is the most
consistent presenting symptom of bacterial pneumonia and
may suggest a particular pathogen, as follows:
• Streptococcus pneumoniae: Rust-colored sputum
• Pseudomonas, Haemophilus, and pneumococcal
species: May produce green sputum
• Klebsiella species pneumonia: Red currant-jelly sputum
• Anaerobic infections: Often produce foul-smelling or bad-
tasting sputum
PNEUMONIA PADA PASIEN
RAWAT INAP

Pneumonia
pada pasien
rawat inap

Community Healthcare Hospital Ventilator


acquired associated acquired acquired
pneumonia pneumonia pneumonia pneumonia

CAP yang
Terjadi dalam terjadi karena
Onsetnya
48 jam kontak dengan Terjadi setelah
setelah 48-72
pertama petugas 48 jam pasca
jam masuk
masuk rumah kesehatan. intubasi
rumah sakit
sakit Mis: pasien HD
rutin
Community acquired pneumonia:
Pneumonia yang didapat di masyarakat

Hospital acquired pneumonia (HAP)


Pneumonia yang terjadi setelah pasien 48 jam dirawat di rumah
sakit dan disingkirkan semua infeksi yang terjadi sebelum masuk
rumah sakit.

Ventilator associated pneumonia (VAP)


Pneumonia yang terjadi lebih dari 48 jam setelah pemasangan
intubasi endotrakeal.

Healthcare associated pneumonia (HCAP), meliputi pasien:


Pernah dirawat di RS selama 2 hari/lebih dalam waktu 90 hari
sebelum awitan pneumonia,
Tinggal di panti atau fasilitas rawat jangka panjang ,
Mendapat antibiotik IV, kemoterapi, atau perawatan luka dalam
waktu 30 hari dari sebelum awitan pneumonia,
– Pasien hemodialisis.
Kriteria Pneumonia Berat (Salah satu atau lebih)
Kriteria mayor :
• Membutuhkan ventilasi mekanik
• Infiltrat bertambah > 50%
• Membutuhkan vasopresor > 4 jam (septik
syok)
• Kreatinin serum > 2 mg/dl atau peningkatan >
Indikasi ICU CAP:
2 mg/dI, pada penderita riwayat penyakit
ginjal atau • 1 dari 2 gejala mayor
• gagal ginjal yang membutuhkan dialisis tertentu (bold merah)
Kriteria minor: • 2 dari 3 gejala minor
• Frekuensi napas > 30/menit
tertentu (bold merah)
• Pa02/FiO2kurang dari 250 mmHg
• Foto toraks paru menunjukkan kelainan
bilateral
• Foto toraks paru melibatkan > 2 lobus
• Tekanan sistolik < 90 mmHg
• Tekanan diastolik < 60 mmHg
Terapi
• Rawat jalan
– Sebelumnya sehat atau tanpa riwayat antibiotik 3 bulan
sebelumnya:
• Makrolida Clarithromycin 500 mg bid / azitromycin 500 mg
PO SD, lalu 250 mg qd /doxycycline 100 mg PO bid

– Dengan komorbid atau riwayat antibiotik 3 bulan sebelumnya:


• Fluorokuinolon respirasi: levofloksasin 750 mg qd,
moksifloksasin 400 mg qd
• β laktam + anti β laktamase : amoxicillin 1g tid / amoxicillin
+klavulanat 2g bid
• β laktam ditambah makrolid

 Pneumonia komuniti, pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indoneisa. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2014.
Terapi
• Rawat inap non-ICU
– Fluorokuinolon respirasi: levofloksasin 750 mg PO /IV qd, moksifloksasin 400
mg PO/IV qd
– β laktam ditambah makrolid : cefotaxime 1-2 g IV qd, ceftriaxone 1-2 g IV qd,
ampicillin 1-2 g IV qd

• ICU, tanpa faktor risiko infeksi pseudomonas: β laktam ditambah makrolid baru
atau fluorokuinolon respirasi IV

 Pada pseudomonas
 Piperacilin/tazobactam 4,5 g IV qd
 Meropenem 1 g IV td

 Pneumonia komuniti, pedoman diagnosis & penatalaksanaan di Indoneisa. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2014.
• Indikasi rawat inap pneumonia
komuniti (PDPI):
– Skor PSI 70
– Skor PSI < 70 , tapi dijumpai
salah satu kriteria ini:
• Frekuensi napas > 30/menit
• Pa02/FiO2 <250 mmHg
• Foto toraks infiltrat
multilobus
• TD sistolik < 90 mmHg
• TD diastolik < 60 mmHg
– Pneumonia pada pengguna
NAPZA
PPOK
PPOK
• Definisi PPOK
– Ditandai oleh hambatan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel
– Bersifat progresif & berhubungan dengan respons inflamasi paru terhadap
partikel atau gas yang beracun/berbahaya
– Disertai efek ekstraparu yang berkontribusi terhadap derajat penyakit

• Karakteristik hambatan aliran udara pada PPOK disebabkan oleh gabungan antara
obstruksi saluran napas kecil (obstruksi bronkiolitis) & obstruksi parenkim
(emfisema) yang bervariasi pada setiap individu.

• Bronkitis kronik & emfisema tidak dimasukkan definisi PPOK karena:


– Emfisema merupakan diagnosis patologi (pembesaran jalan napas distal)

– Bronkitis kronik merupakan diagnosis klinis (batuk berdahak selama 3 bulan


berturut-turut, dalam 2 tahun)
PPOK
Anamnesis Pemeriksaan fisis (PPOK dini umumnya
• Riwayat merokok atau bekas perokok tidak ada kelainan)
dengan atau tanpa gejala pernapasan • Inspeksi
• Riwayat terpajan zat iritan yang – Pursed - lips breathing (mulut
bermakna di tempat kerja setengah terkatup mencucu)
– Barrel chest (diameter antero -
• Riwayat penyakit emfisema pada
posterior dan transversal
keluarga
sebanding)
• Terdapat faktor predisposisi pada
– Penggunaan otot bantu napas
masa bayi/anak, mis berat badan
lahir rendah (BBLR), infeksi saluran – Hipertropi otot bantu napas
napas berulang, lingkungan asap – Pelebaran sela iga
rokok dan polusi udara – Bila telah terjadi gagal jantung
• Batuk berulang dengan atau tanpa kanan terlihat denyut vena
dahak jugularis di leher dan edema
tungkai
• Sesak dengan atau tanpa bunyi mengi
PPOK

• Pink puffer
– Gambaran yang khas pada emfisema, penderita kurus, kulit
kemerahan dan pernapasan pursed – lips breathing
• Blue bloater
– Gambaran khas pada bronkitis kronik, penderita gemuk sianosis,
terdapat edema tungkai dan ronki basah di basal paru, sianosis
sentral dan perifer
• Pursed - lips breathing
– Adalah sikap seseorang yang bernapas dengan mulut mencucu
dan ekspirasi yang memanjang. Sikap ini terjadi sebagai
mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2 yang terjadi
sebagai mekanisme tubuh untuk mengeluarkan retensi CO2
yang terjadi pada gagal napas kronik.
Pemeriksaan penunjang
– Uji spirometri merupakan gold standar; akan
tampak
• FEV1 / FVC < 70 %
• Uji bronkodilator (saat diagnosis ditegakkan) :
FEV1 pasca bronkodilator < 80 % prediksi
– Uji coba kortikosteroid
– Analisis gas darah dilakukan pada pasien
dengan VEP1 < 40% prediksi dan secara klinis
diperkirakan gagal napas dan payah jantung
kanan.
Pemeriksaan penunjang
• Radiologi PPOK:
– Pada emfisema terlihat:
• Hiperinflasi
• Hiperlusen
• Ruang retrosternal melebar
• Diafragma mendatar
• Jantung menggantung (jantung pendulum)
– Pada bronkitis kronik:
• Normal
• Corakan bronkovaskular bertambah pada 21% kasus.
Klasifikasi
 Dalam penilaian derajat PPOK diperlukan beberapa penilaian
seperti
• Penilaian gejala dengan menggunakan kuesioner COPD Assesment
Test (CAT) serta The modified British Medical Research Council
(mMRC) untuk menilai sesak nafas;
• Penilaian derajat keterbatasan aliran udara dengan spirometri
– GOLD 1: Ringan: FEV1 >80% prediksi
– GOLD 2: Sedang: 50% < FEV1 < 80% prediksi
– GOLD 3: Berat: 30% < FEV1 < 50% prediksi
– GOLD 4: Sangat Berat: FEV1 <30% prediksi
• Penilaian risiko eksaserbasi
COPD Assesment
Test (CAT)
http://www.catestonline.org/
The modified British Medical Research
Council (mMRC)
Eksaserbasi
Kategori Karakteristik Spirometri per tahun CAT mMRC

Risiko
A rendah GOLD < 1 kali < 10 0-1
Gejala 1-2
minimal

Risiko
B rendah GOLD < 1 kali > 10 >2
Gejala 1-2
banyak

Risiko
C tinggi GOLD > 2 kali < 10 0-1
Gejala 3-4
minimal

Risiko
D tinggi GOLD > 2 kali > 10 >2
Gejala 3-4
banyak
Patient Other Possible
Group First Choice Alternative Choice Treatments

Long acting (LA) anticholinergik or


Short acting (SA) LA beta2-agonist
anticholinergic or or
A SA beta2-agonist SA beta agonis and SA anticholinergik Theophylline

SA beta2-agonist and/or
LA anticholinergic SA anticholinergic
or
B LA beta2-agonist LA anticholinergic and LA beta2-agonist
Theophylline

LA anticholinergic and LA beta2-agonist


ICS + LA beta2- or SA beta2-agonist and/or
agonist LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor SA anticholinergic
C or or
LA anticholinergic LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor Theophylline

Carbocysteine
ICS + LA beta2-agonist and LA anticholinergic
or N-acetylcysteine
ICS + LA beta2-agonist and PDE-4 inhibitor
ICS + LA beta2- or SA beta2-agonist and/or
agonist and/or LA anticholinergic and LA beta2-agonist SA anticholinergic
D LA anticholinergic or
LA anticholinergic and PDE-4 inhibitor Theophylline
• Tata Laksana oksigen terkontrol, melalui kanul
nasal atau venturi mask.
• Bronkodilator: inhalasi agonis β2 +
antikolinergik. Pada eksaserbasi akut berat:
+ Aminofilin ( 0,5 mg/ kgbb/jam )
• Steroid: Prednisolon 30-40 mg PO selama 10-
14 hari. SteroidIV: pada keadaan berat.
• Ventilasi mekanik. Indikasi: gagal nafas
akut atau kronik.
• Antibiotika terhadap S pneumonie, H
influenzae, M catarrhalis
ATELEKTASIS
Atelektasis adalah suatu keadaan paru atau sebagian paru yang
mengalami hambatan berkembang secara sempurna sehingga
aerasi paru berkurang atau sama sekali tidak berisi udara.

Etiologi
 Bronkus tersumbat
 Tekanan ekstrapulmoner
 Paralisis atau paresis gerak pernapasan
 Hambatan gerak pernafasan oleh kelainan pleura atau
trauma toraks yang menahan sakit
Gambaran Radiologi
 pengurangan volume paru baik lobaris, segmental, atau
seluruh paru, dengan akibat kurangnya aerasi sehingga
memberi bayangan densitas tinggi
 penarikan mediastinum ke arah atelektasis

 diafragma tertarik ke arah hemitoraks yang atelektasis


 Emfisema kompensasi yang terkadang bisa terjadi
herniasi hemitoraks yang sehat ke arah hemitoraks yang
atelektasis.
BRONKIEKTASIS
Bronkiektasis
Penyakit saluran napas kronik ditandai dengan
dilatasi abnormal yang permanen disertai
rusaknya dinding bronkus.
Bronkiektasis

Lynn Reid
Classification
Gejala Klinis

Batuk dan produksi


sputum mukopurulen
Dispneu dan Mengi Nyeri dada pleuritik
kronis (bulan-tahun)
terutama pagi hari

Lemah dan
Batuk darah Demam kehilangan berat
badan
Gejala Klinis

Kelainan yang ditemukan


pada pemeriksaan fisik Pada auskultasi sering
Sering dijumpai jari
tergantung pada luas, dijumpai ronki basah,
biasanya pada basal paru tabuh.
derajat dan ada tidaknya
obstruksi saluran napas.
Pemeriksaan Penunjang

Bronchiectasis three layers


phlegm
1.the upper for bubble-like, frothy, faomy
(partly from saliva)

2.middle-level for thin sero-mucus liquid

3.the underlying base = pus ,necrotic


tissue , cell debris
Pemeriksaan Penunjang
Terapi
– IN STABLE BRONCHIECTASIS
• Bronchodilators
• Mucolytics
• Inhaled corticosteroid
– In exacerbation
• PLUS Antibiotics

• Terapi utama adalah dengan reseksi bagian


broncus yang telah rusak
TERIMA KASIH
Dr. Fathul Yasin