Anda di halaman 1dari 8

TEORI AKUNTANSI

Pengukuran

Disusun Oleh:
Danang Satriawan 041411331216
Rina Nur C 041411331248
Indrianti Styorini 041411331260
Caesar Ganesha 041411331261
Antonius Agung Kurniawan 041511333215

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
A. Definisi Pengukuran
Menurut Campbell pengukuran adalah the assignment of numerals to represent
properties of material systems other than numbers, in virtue of the laws governing these
properties Sedangkan Stevens mendefinisikan pengukuran sebagai the assignment of
numerals to objects or events according to the rules. Dalam pengertian Campbell, The
System sama dengan object or events dalam pengertian Steven. Dalam hal ini
contohnya adalah: meja, manusia, aset, atau jarak perjalanan. Properties yaitu
spesifikasi atau karakteristik dari The System dalam perngertian Campbell. Dalam hal
ini maka Teori Pengukuran menurut Campbell lebih tepat.
Pengukuran dalam akuntansi biasanya diartikan sebagai pemberian nilai - nilai
numerikal kepada objek atau peristiwa perusahaan sedemikian rupa sehingga
memungkinkan penggabungan pos - pos (aggregation) seperti total nilai aset, atau
pemilahan (disaggregation) dari data sesuai dengan kebutuhan. Pengukuran juga meliputi
proses klasifikasi dan identifikasi, dan para akuntan sejak lama telah menyadari adanya
kebutuhan akan data non kuantitatif seperti disclosure yang terlihat dalam catatan kaki
atau catatan mengenai ikhtisar keuangan.
Ketika kita melihat hubungan antara pernyataan secara matematika yang
berkolerasi dengan hubungan dari objek atau kejadian, maka pengukuran atas objek atau
kejadian tersebut telah terjadi. Dalam Akuntansi, kita mengukur laba dengan langkah
pertama yaitu menghitung /menilai modal dan kemudian mengkalkulasikan laba sebagai
pertukaran dalam modal selama periode akuntansi untuk semua kejadian ekonomi yang
mempengaruhi perusahaan.
Pengukuran sangat penting dilakukan karena dengan mengukur suatu objek, maka
kita dapat mengetahui nilai suatu objek sehingga dapat menjadi acuan untuk dapat
menentukan kebijakan yang berkaitan dengan objek tersebut. Untuk memudahkan kita
melakukan suatu pengukuran sehingga memperoleh suatu hasil yang akurat dan dapat
diandalkan maka kita dapat menggunakan skala dan memilih tipe pengukuran yang
sesuai dengan karakteristik objek yang kita ukur.

B. Skala Pengukuran
Setiap pengukuran dilakukan diatas skala. Skala diciptakan saat aturan semantik
digunakan untuk menghubungkan antara pernyataan matematik dengan objek/peristiwa.
Menurut Steven skala dibagi menjadi:

1. Nominal
Dalam skala nominal, angka hanya digunakan sebagai sebuah label.
Contohnya yang diberikan oleh Stevens adalah penomoran pemain sepak bola.
Dalam akuntansi, contoh yang paling mendekati skala nominal adalah klasifikasi
aset dan kewajiban kedalam kelas-kelas yang berbeda.
2. Ordinal
Skala ordinal diciptakan ketika sebuah operasi memeringkatkan objek-objek
berkaitan dengan sifat yang diberikan. Contoh , seorang investor memiliki tiga
peluang untuk melakukan investasi dengan jumlah uang tertentu. Mereka
diperingkatkan 1, 2, 3 menurut NPV (Net Present Value) dengan peringkat 1
sebagai yang tertinggi dan terendah 3. Operasi itu (penghitungan NPV)
menciptakan skala ordinal, himpunan angka tersebut mengacu pada alternatif
investasi.
Kelemahan skala ordinal adalah interval antara angka-angka (1 sampai 2, 2
sampai 3 dan 1 sampai 3) tidak menceritakan hal-hal tentang perbedaan dalam
kuantitas sifat yang mereka wakili. Contoh, dalam hal (NPV), opsi 2 mungkin
sangat dekat dengan opsi 1, dan opsi 3 mungkin jauh kurang dari opsi 2. angka
tidak menunjukkan "berapa banyak/jumlah" atribut yang dimiliki objek.
Torgerson berpendapat bahwa beberapa skala ordinal memiliki "natural
origin", yaitu titik nol. Hal ini diterapkan pada peringkat alternatif investasi, titik
nol dapat menjadi titik netral yang terletak diantara sisi positif dan negatif, sisi
positifnya adalah alternatif yang menghasilkan keuntungan, dan sisi negatif adalah
alternatif yang menghasilkan rugi.

3. Interval
Skala interval tidak hanya memberi peringkat kepada objeknya, tetapi juga
jarak antara interval skala yang diketahui dan sama. Contohnya adalah pengukuran
suhu ruangan dengan menggunakan thermometer celcius. Jika kita mengukur suhu
dua buah ruangan, misal ruangan A dan B, dimana suhu ruangan A 22 derajat
celcius dan ruangan B 30 derajat celcius, maka selain kita dapat mengatakan bahwa
suhu di ruangan B lebih panas, kita juga mengetahui bahwa ruangan B lebih panas
8 derajat daripada ruangan A.Kelemahan dari skala interval adalah titik nol
sewenang-wenang ditetapkan.
Sebagai contoh, misalkan kita mengukur tinggi dari kelompok laki-laki pada
skala interval dan menetapkan nomor ke masing-masing sesuai dengan tinggi
badannya dibandingkan dengan rata-rata kelompok. Angka rata-rata mewaklili
angka nol pada skala. Jika A 3cm di atas rata-rata, kemudian kita memberi dia
nomor 3+. Dan jika B 5cm di bawah rata-rata, kita akan memberi dia nomor -5.
Dalam skala ini, kita tidak tahu berapa tinggi A atau B. B mungkin paling pendek
di kelompok, tetapi mungkin grup tersebut terdiri dari pemain-pemain basket yang
tinggi.
Contoh skala interval dalam akuntansi menurut Mattessich adalah
penggunaan standar biaya. standar bisa berdasar kapasitas teoritis, rata-rata, praktis
atau normal. Penghitungan standar dan varians dapat menciptakan skala interval.
jika varian nol maka ini menunjukkan netralitas, meskipun titik netral ini dipilih
secara seenaknya.
4. Rasio
Skala rasio adalah skala yang memberikan peringkat kepada objek atau
kejadian Interval antar objek diketahui dan sam asal yang unik, titik nol yang alami,
dimana jaraknya terhadap paling tidak satu objek lainnya diketahui.
Contoh skala rasio dalam akuntansi adalah penggunaan dolar untuk mewakili
biaya dan nilai. Jika aset A biayanya $ 10.000 dan aset B biaya $ 20.000, kita dapat
menyatakan bahwa biaya B dua kali lipat A. titik 0 ada, karena menunjukkan tidak
adanya biaya atau nilai, seperti 0 untuk panjang berarti tidak ada panjang sama
sekali.

C. Jenis Pengukuran
Proses pengukuran sama dengan pendekatan ilmiah pada teori konstruksi dan
pengujian. Pertanyaan tentang pengujian teori berhubungan dengan pertanyaan tentang
perbedaan jenis-jenis pengukuran. Campbell membaginya kedalam dua jenis:
fundamental dan turunan. Menurut Campbell, pengukuran bisa diakui hanya ketika ada
konfirmasi teori-teori empiric (hukum) untuk mendukung pengukuran. Tipe pengukuran
yang lebih jauh, pengukuran fiat, yang diungkapkan oleh Togerson, menjadi tambahan
atas pengukuran fundamental dan turunan yang didiskusikan Campbell.

1. Pengukuran Fundamental
Pengukuran fundamental merupakan pengukuran dimana angka-angka bisa
diterapkan pada benda dengan mengacu pada hukum alam dan tidak bergantung
pada pengukuran variabel apapun. Hal-hal seperti panjang, hambatan listrik, nomor,
dan volume merupakan hal-hal yang bisa diukur. Sebuah skala rasio bisa
diformulasikan pada tiap-tiap benda sebagai hukum dasar yang dihubungkan
dengan pengukuran yang berbeda (jumlah) pada benda-benda yang sudah ada.

2. Pengukuran Turunan
Menurut Campbell, sebuah pengukuran turunan merupakan pengukuran yang
bergantung dari pengukuran dua atau lebih benda lain. Contohnya adalah
pengukuran kepadatan, yang bergantung pada pengukuran massa dan volume.
Dalam akuntansi, contoh pengukuran turunan adalah keuntungan, yang diturunkan
dari penambahan dan pengurangan pendapatan denagn beban.

3. Pengukuran Formal
Ini adalah tipe pengukuran dalam ilmu sosial dan akuntansi, menggunakan
definisi yang dibangun secara acak untuk dihubungkan dengan hal-hal yang bisa
diamati dengan pasti (variabel) pada konsep yang telah ada, tanpa perlu teori
konfirmasi untuk mendukung hubungan tersebut. Sebagai contoh, dalam akuntansi
kita tidak tahu bagaimana cara untuk mengukur konsep keuntungan secara
langsung. Kita mengasumsikan variabel pendapatan, laba, beban, dan kerugian
dihubungkan dengan konsep keuntungan dan bagaimanapun bisa digunakan untuk
mengukur keuntungan secara tidak langsung.
Untuk mengukur validitas pengukurannya, ilmuwan sosial berusaha
menghubungkan hal-hal yang dipelajari dengan variabel lain untuk melihat
manfaatnya. Contohnya, jika kita ingin mengukur kemampuan aritmatik orang, kita
mungkin memilih untuk menguji mereka dalam suatu tes aritmatik. Bagaimanapun,
tidak adateori empiris yang konfirmasi untuk menilai tes yang kita lakukan, dan
kita membuat asumsi ketika kita membangun skala pengukuran. Kita bisa
memprediksikan bahwa pada kebanyakan orang, yang mempunyai nilai tes yang
tinggi juga akan berprestasi dalam kuliah matematika.

D. Akurasi Pengukuran
Untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan keandalan dari
suatu pengukuran atau keakuratan pengukuran, kita pertama harus menyatakan bahwa
tidak ada pengukuran yang bebas dari kesalahan kecuali counting. Kita bisa menghitung
jumlah kursi di ruang tertentu dan akan persis benar. Tapi kecuali untuk menghitung,
semua pengukuran melibatkan kesalahan.

1. Sumber Kesalahan
Sumber kesalahan dalam pengukuran adalah sebagai berikut, yang tidak
saling eksklusif.
a. Operasi pengukuran menyatakan imprecisely. Aturan untuk menetapkan
angka untuk properti tertentu biasanya terdiri dari satu set operasi. Satu set
operasi tidak dapat dinyatakan tepat dan karenanya dapat ditafsirkan salah
oleh pengukur.
b. Pengukur, pengukur mungkin salah menafsirkan aturan, akan bias, atau
menerapkan atau membaca instrumen dengan tidak akurat.
c. Instrumen, banyak operasi memperkenankan untuk menggunakan alat fisik,
seperti penggaris, atau termometer atau barometer, yang mungkin cacat
d. Lingkungan, tempat di mana operasi pengukuran dilaksanakan dapat
mempengaruhi hasil
e. Atribut yang tidak jelas, apa yang harus diukur mungkin tidak jelas, terutama
jika pengukuran melibatkan konsep yang tidak dapat diukur secara langsung
f. Resiko dan ketidakpastian, ini berkaitan dengan distribusi pengembalian aset
berwujud.

2. Pengukuran yang dapat diandalkan


Keandalan menggabungkan dua aspek yaitu ketepatan dan kepastian
pengukuran, dan kesetiaan perwakilan dari pengungkapan dalam kaitannya dengan
transaksi ekonomi dan peristiwa yang mendasarinya. Aspek pengukuran
menyangkut presisi pengukuran. Istilah presisi ini sering digunakan dalam dua
konteks. Pertama, mungkin merujuk ke suatu angka. Kedua, ia dapat merujuk ke
operasi pengukuran, dalam hal ini berkaitan dengan: suatu
a. Tingkat penyempurnaan operasi atau kinerjana
b. Kesepakatan dari hasil antara penggunaan berulang dari operasi pengukuran
yang diterapkan ke properti yang diberikan
3. Pengukuran Akurat
Meskipun prosedur pengukuran mungkin sangat handal, memberikan hasil
yang sangat tepat, namun itu tidak dapat menghasilkan hasil yang akurat. Sebuah
senapan tertentu di tangan penembak pakar olahraga mungkin sangat handal dalam
tembakan berturut-turut yang memungkinkan untuk ditempatkan berdekatan, tetapi
jika pemandangan itu tidak benar sejajar, tembakan mereka tidak akan berada
disekitar bullseye. Konsistensi hasil, presisi dan kehandalan tidak selalu mengarah
pada akurasi. Properti dasar, seperti panjang suatu objek dapat ditentukan
keakuratannya dengan membandingkan objek tersebut dengan standar yang
mewakili true value.

E. Pengukuran Dalam Akuntansi


Pengukuran yang paling fundamental dalam ilmu akuntansi adalah pengukuran
modal dan laba. Modal dinilai berasal dari transaksi dan penilaian ulang yang terjadi di
pasar modal. Laba berasal dari perbandingan dari beban dan pendapatan, juga perubahan
modal dalam satu periode akuntansi. Modal dapat dinilai dan dihitung dengan berbagai
cara yaitu biaya historis, operasional, keuangan, atau nilai wajar. Sejarah menunjukkan
pada kita bahwa konsep perhitungan atas modal dan laba telah berubah dan berkembang
dari waktu ke waktu dan menghasilkan beberapa konsep perhitungan yang fundamental.
Yang terkini, standar pelaporan keuangan internasional telah membuat konsep kebih
tepat yaitu konsep nilaiwajar.
Beberapa pengamat beragumen dan mengkritik konsep nilaiwajar ini. Bahwa
konsep ini merubah konsep alokasi kependekatan penilaian, di mana akan menunjukkan
perbedaan tergantung atas situasi dan interpretasi yang subjektif. Perubahan ini lebih
fokus pada penilaian Balance Sheet, mengalihkan akuntansi dari perhitungan alokasi
laba yang sederhana dan lebih menekankan pada relevasi pada realita komersil dan
pengambilan keputusan oleh investor dibadingkan kebenarannya.
Pengukuran dalam akuntansi masuk ke dalam kategori pengukuran turunan untuk
modal dan keuntungan. Laba akuntansi sekarang berasal dari standar akuntansi
internasional. Dari perubahan modal selama periode dari semua kegiatan termasuk
kenaikan dan penurunan fair value aktiva bersih tidak termasuk transaksi dengan pemilik.
Modal berasal dari 'net fair value' aktiva dan kewajiban.Berarti kita harus mengukur nilai
modal awal, pada jumlah penghasilan yang diterima, jumlah modal yang digunakan, dan
perubahan nilai fair value aktiva bersih. Peningkatan modal selama periode akan datang
akan mengukur jumlah laba dari berbagai macam sumber, termasuk dari operasional dan
penilaian kembali aktiva (setelah disesuaikan dengan pemasukan modal baru atau
pembayaran deviden). Nilai wajar aktiva bersih disajikan kembali maka akan merupakan
modalawal pada periode berikutnya (Godfrey, dkk. 2010).
Sebaliknya, pendekatan pengukuran dengan pendekatan yang dilakukan sebelum
pengenalan standar akuntansi internasional, pendapatan yang diterima disesuaikan
terhadap aset bersih yang digunakan dalam suatuperiode, dan jika pendapatan lebih besar
dari penggunaan modal bersih (atau biaya), maka kita mengalami peningkatan modal.
Keuntungan tidak diperoleh sampai modal awal dari biaya historis dipertahankan dan
laba direalisasikan. Sehingga, modal selalu dinyatakan sebesar harga perolehan dan
perubahan dalam aktiva bersih tidak dianggap sebagai keuntungan. Maka, kita dapat
melihat bahwa laba turunan sangat tergantung pada bagaimana kita mengukur modal
awaldan bagaimana kita mengukur biaya dan alokasi modal. Kita juga dapat melihat
bahwa konsep penilaian modal dalam akuntansi telah berkembang dari waktu ke waktu
dengan hasil bahwa kita miliki pengukuran atas modal secaraumumdan konsep laba.
Perspektif yang berbeda ini mencerminkan batas-batas berbagai akuntansi dan
kurangnya sebagai model konvensional dan dominan. Ditambahkan dalam hal ini adalah
sejumlah akademis secara signifikan menurun dari waktu ke waktu, tetapi item neraca
dan aktiva tidak berwujud menjadi lebih penting. Baru-baru ini, Akuntansi internasional
Standar Board (IASB) telah mengambil pandangan bahwa globalisasi bisnis mendukung
kebutuhan untuk suatustandar akuntansi yang akan digunakan di seluruh dunia untuk
menghasilkan informasi keuangan yang sebanding.
Hal ini menyebabkan dua perkembangan penting dalam standar akuntansi
internasional sebagai sinyal melalui standar akuntansi seperti IAS 39/AASB139
instrumen keuangan: Pengakuan dan Pengukuran dan IASB / FASB proyek bersama
mengenai pelaporan keuangan kinerja-(1) bahwa pengukuran laba dan pengakuan
pendapatan harus dihubungkan dengan pengakuan tepat waktu, dan (2) bahwa
pendekatan 'nilai wajar' harus diadopsi sebagai prinsip pengukuran kerja. Jadi, dari tahun
2005 kami melihat penggunaan (sebagian) dari suatu prinsip pengukuran yang berfokus
pada perubahan nilai aktiva dan kewajiban bukan penyelesaian proses pendapatan.
Singkatnya, ini berarti bahwa perubahan nilai wajar aktiva dan kewajiban diakui secara
langsung mereka terjadi dan dilaporkan sebagai komponen income.Lebihlanjut, fokus
telah bergeser ke arah konsep penilaian, dengan neraca repositori utama dari nilai yang
relevansebagai informasi, dan pengguna utama informasi akuntansi adalah pemegang
saham dan investor.

Permasalahan Pengukuran Bagi Auditor


Beberapa isu diciptakan untuk auditor oleh pergeseran fokus untuk pengukuran
keuntungan dari pendapatan dan beban yang cocok untuk menilai perubahan atas nilai
wajar aktiva bersih. Ketika keuntungan ditentukan dengan cara mencocokkan transaksi
pendapatan dan beban untuk periode auditor dapat berkonsentrasi pada pengumpulan
bukti bahwa transaksi tersebut telah ditangani dengan tepat oleh sistem akuntansi klien.
Namun, ketika keuntungan berasal dari perubahan nilai wajar pertanyaan yang lebih sulit
muncul untuk auditor sekitar mengumpulkan bukti pada perkiraan manajemen.
Sebagai contoh, salah satu aspek untuk mengukur keuntungan dengan menilai
perubahan nilai wajar aktiva bersih yang ditangani oleh standar akuntansi
IAS36/AASB136. Pernyataan ini mensyaratkan penurunan nilai aktiva diakui sebagai
rugi penurunan nilai. Manajemen entitas diperlukan untuk menilai pada tanggal laporan
apakah ada indikasi bahwa aset mungkin terganggu. Jika kondisi tersebut terjadi,
manajemen akan mengestimasi jumlah terpulihkan aktiva tersebut. Jika jumlah yang
dapat dipulihkan suatu aktiva kurang dari nilai tercatatnya, nilai tercatat aktiva harus
diturunkan menjadi sebesar nilai yang dapat diperoleh kembali. Pengurangan itu adalah
kerugian penurunan nilai. Kerugian penurunan nilai diakui segera dalam laba.
Audit bimbingan standar internasional untuk kerugian penurunan nilai audit dan
perkiraan nilai wajar terdapat dalam ISA 540. Auditor diharuskan untuk mengumpulkan
bukti untuk menilai jika manajemen telah mengikuti standar akuntansi yang tepat dan
jika jumlah yang diakui sebagai kerugian penurunan nilai wajar. Untuk melakukan hal
ini auditor harus menentukan apakah manajemen telah memilih metode penilaian yang
sesuai dan masuk akal dan asumsi. Jika standar akuntansi tidak meresepkan metode
penilaian untuk aset tertentu dan kewajiban yang consedered, auditor dapat menerima
metode penilaian yang wajar. Ini berarti bahwa sulit bagi auditor untuk tidak setuju
dengan pemilihan manajemen terhadap metode penilaian tertentu yang sedang digunakan
oleh entitas lain. Auditor harus mengumpulkan bukti bahwa metode ini diterapkan secara
konsisten, sehingga manajer tidak memilih dan memilih metode dari tahun ke tahun
tergantung pada hasil keuntungan yang diinginkan mereka. Auditor juga harus menilai
apakah nilai aktiva atau kewajiban dengan benar ditentukan dari asumsi signifikan
manajemen, model penilaian dan data yang mendasari relevan. Data tersebut akan
mencakup suku bunga yang digunakan untuk mendiskontokan arus kas, nilai pasar
digunakan oleh perusahaan perbandingan, data royalti, dan sebagainya.
Secara keseluruhan, mengingat adanya berbagai metode penilaian yang wajar dan
asumsi mungkin, adalah mungkin untuk jumlah diferent tapi masuk akal beberapa untuk
diakui oleh manajemen kerugian penurunan nilai. Jumlah ini berbeda karena itu akan
dapat diterima oleh auditor jika bukti audit menunjukkan bahwa manajemen telah
menerapkan model penilaian benar dan menggunakan data yang sesuai. Dalam situasi ini,
adalah mungkin bahwa auditor menghadapi tekanan dari manajer setuju dengan pilihan
penilaian mereka atau kehilangan audit agar auditor yang lain lebih menyenangkan.
Adanya berbagai alternatif metode penilaian atas aset yang menimbulkan masalah
tersendiri bagi auditor. Terdapat banyak cara penilaian aset yang dapat diterima oleh
auditor jika memenuhi persyaratan:
1. Metode penilaian diaplikasikan secara tepat dan konsisten,
2. Menggunakan asumsi yang beralasan,
3. Data yang digunakan untuk penilaian tersebut valid.
Padap rakteknya, Auditor kadang menerima tekanan dari manager perusahaan
auditee untuk menerima metode penilaian atas aset perusahaan tersebut jika tidak maka
auditee akan mencari auditor yang lain. Masalah lain yang muncul adalah audit atas
biaya historical seperti standar biaya persediaan. Seharusnya biaya atas persediaan
ditetapkan secara tepat, tapi biaya itu didasarkan atas asumsi proses produksi yang
dipengaruhi oleh kondisi yang berubah-ubah.