Anda di halaman 1dari 3

Likuidasi Perusahaan

Likuidasi perusahaan akan menghasilkan dua tipe keuntungan

1. Pendapatan dari kegiatan selama periode likuidasi


2. Keuntungan modal dari realisasi nilai pasar pada aset bisnis

Kebanyakan negara memajaki keuntungan perusahaan selama proses likuidasi normal,


tahunan atau ketika likuidasi selesai

Shareholder menerima proses likuidasi sebagai pembayaran kembali dari modal dan dividen
final atau keuntungan modal (atau kerugian). Pelunasan modal pada shareholder secara
normal bebas pajak. Jumlah ini mungkin atau mungkin tidak disesuaikan dengan inflasi pada
pelunasannya, sehingga tidak menggambarkan nilai saat ini. Beberapa negara memberikan
pajak yang rendah atas penilaian kembali modal dasar.

Perpajakan dari surplus pembayaran likuidasi kepada shareholder digunakan secara


bervariasi. Beberapa negara memperlakukan pembayaran dari surplus likuidasi sebagai
deviden, sementara negara lain memperlakukan nya sebagai keuntungan modal. Beberapa
negara menggunakan metode campuran dan pajak adalah bagian sebagai deviden dan
keseimbangan dari keuntungan modal. Terdapat negara yang membebaskan pajak pada
surplus likuidasi ketika dibayarkan pada shareholder non residen, terutama pada partisipasi
secara substansi.

Selanjutnya, economic double taxation meningkat ketika proses likuidasi didistibusikan pada
shareholder melebihi modal yang diinvestasikan. Surplus likuidasi dipajaki pada perusahaan
dan juga pada shareholder ketika dibagikan kepada mereka. Economic double taxation ini
dapat dihindari jika surplus likuidasi adalah bebas pajak. Juridical doube taxation juga terjadi
ketika surplus diperlakukan sebagai deviden pada negara sumber dan dipajaki sebagai
keuntungan capital di negara residen. double taxation ini dikurangi pada beberapa negara
dengan pengecualian bantuan atau kredit pajak. Atau reduksi dalam tax rate atau tax base.

Kerugian likuidasi terjadi ketika realisasinya kurang dibandingkan kemampuan dari


perusahaan yang dilikuidasi. Pada situasi ini, kerugian akhirnya ditanggung oleh shareholder.
Beberapa negara menerima kerugian ini untuk dikurangkan dari keuntungan modal pada
investasi yang sama dari keuntungan modal yang lain. Lagi-lagi kerugian likuidasi yang
dikeluarkan oleh shareholder seharusnya dikurangi jika keuntungan yang sama dikenai pajak.

Tax Treatment dalam proses likuidasi di Indonesia

Pada UU PPh maka akan terjadi kondisi sbb :

a. Pengalihan harta
i. Unsur yang merupakan penghasilan sebagai objek pajak adalah keuntungan
pengalihan harta karena likudasi (Pasal 4 ayat 1 huruf d), selanutnya
penjelasan pasal 4 ayat 1 huruf g menyebutkan bahwa pembayaran kembali
karena likuidasi yang melebihi nilai modal yang disetorkan merupakan
deviden (liquidating dividend) kena pajak.
ii. Nilai perolehan atau pengalihan harta yang dialihkan dalam rangka likuidasi,
penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan atau pengambilalihan usaha
adaah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga
pasar, kecuali ditetapkan lain oleh menteri keuangan (pasal 10 ayat 3)

b. Deviden

Pembayaran kembali likuidasi yang melebihi jumlah modal yang disetor kepada
pemegang saham adalah deviden yang merupakan objek pajak. Hal ini sesuai dengan
pasal 4 ayat 1 huruf g. Apabila kondisi ini terpenuhi, perusahaan terlikuidasi wajib
memotong PPh pasal 23. Apabila pemegang saham adalah subjek pajak luar negeri,
dilakukan pemotongan PPh Pasal 26 atau sesuai P3B.

Penagihan pajaknya terdapat pada pasal 20 ayat 2 UU KUP apabila terdapat tanda-tanda
perusahaan akan membubarkan perusahaan, dilakukan penagihan seketika dan sekaligus.

Contoh pemajakan atas likuidasi perusahaan

Mengutip buku Panduan Komprehensif Pajak Penghasilan (Gunadi 2013;361)

Misal : Neraca PT L nampak sebagai berikut :

Jumlah
Aktiva (total neto) 1.500
Utang 750
Modal saham @ 100 1.000
Agio Saham 100
Saldo rugi (350)
Pasiva 1.500
Rapat umum pemegang saham memutuskan untuk menjual semua aktiva, membayar PPh atas
keuntungan, melunasi hutang da membagikan sisa harta kepada pemegang saham.

Jika misalnya aktiva (Kas 250 + persediaan 150 + harta tetap 1.100) dijual dengan harga
1.750 (persediaan 100 + harta tetap 1.650). Apabila jumlah saldo rugi 200 masih berhak
kompensasi, maka keuntungan dai penjualan aset 500 (1.750 1.250) akan diperoleh
penghasilan kena pajak 300. Dengan tarif 25% menimbulkan utang PPh sebesar 75. Setelah
melunasi hutang 750 dan PPh 75 maka akan diperoleh sisa harta 1.175 yang dat dibagikan
kepada pemegang saham. Akibatnya dengan penyetoran modal saham 1.100, maka pemegang
saham memperoleh liquidating dividend 75.

Dg ketentuan :

Apabila pemegang saham adalah orang pribadi maka PPh final atas dividen sebesar 7,5
(10%)
Apabila Pemegang saham adalah perseroan maka dividen menurut PPh Pasal 4 ayat 3 huruf f
dapat dibebaskan dengan syarat ; dividen berasal dari cadangan laba ditahan dan jumlah
saham paling kurang 25% dari modal disetor. Pembebasan pajak ini sering disebut
participation exemption (pembebasan deviden partisipasi-pembebasan pajak atas dividen dari
kepemilikan sahan sejumlah tertentu)